OCEAN-EYED WOMAN [1/?]

Southern Ocean

OCEAN-EYED WOMAN

Part 1

 

Author             : Red

Cast                 : Donghae

Genre              : Romace

Length             : Chapter

Disclaimer       : Everything belongs to me except the guy cast.

Note                : Pas dapet ide ini endingnya gak seharusnya kaya gini. Ide awalnya si cowonya itu naas banget kisahnya eh tapi pas ngetik malah jalan ceritanya beda 180o -_-

 

 

“Strange
I barely know you,
But yet I feel deeply connected to you
Crave
I never had you,
But yet I feel so lonely without you….”

Beautiful Stranger – Nell

 

2009, Unknown Place

The Guy’s POV

 

Kuteguk segelas lagi wine keluaran 1980-an ini tanpa kuperdulikan tagihan yang pasti membengkak nanti. Uang yang akan ku keluarkan toh tak sebanding dengan penderitaan hatiku ini. Bisakan kau bayangkan pedihnya melihat wanitan yang kau cintai dengan seluruh hidupmu tengah asyik bertukar saliva dengan begitu mesranya dengan lelaki lain yang ternyata adalah teman baikmu sendiri?? Sakit? Daripada sakit aku lebih merasa perih. Rasanya seperti dikuliti lalu garam ditaburi diatasnya.

 

Dan disinilah aku, duduk seorang diri di bar sambil meneguk berbotol-botol wine. Pengaruh alkohol mulai melucuti kesadaranku tapi itu tak menghentikanku untuk tetap minum. Aku tak pernah minum lebih dari 1 botol wine selama 24 tahun hidupku. Bahkan saat aku ditipu oleh seorang investor sialan yang mengakibatkan aku harus melepas hampir 20% total kepemilikanku di perusahaan kepasar aku tak separah ini. Padahal jelas waktu itu aku rugi besar. Aaaarghhh! Wanita murahan itu!! Aku hanya bisa mengutuk kebodohanku sendiri karna terlalu mempercayainya! Wanita penghianat!!!

 

Keadaanku parah -sekali- saat ini. Bukan hanya hatiku saja yang berantakan tapi juga penampilanku. Dasi hilang entah kemana, rambut acak-acakan, noda wine menghiasi kemeja putihku yang memang sudah tak beraturan. Benar-benar kacau keadaanku.

 

Ku pejamkan mataku dan  sekali lagi meneguk segelas penuh wine untuk kesekian kalinya tapi kenapa bibir gelasnya tidak dingin malah… hangat? Dan melumat… bibirku?? Walau terkejut tapi tetap ku tutup mataku dan mulai membalas ciuman ini. Ciuman ini berbeda dari ciumanku dengan pacar mantan pacarku. Ciuman ini seperti menuntutku untuk terus melumatnya.

 

Aku bukan tipe orang yang bisa langsung mencium wanita. Bahkan dengan mantan pacarku saja aku memerlukan waktu 4 bulan untuk benar-benar bisa memiliki bibirnya. Aku juga bukan a great kisser tapi aku tahu pemilik bibir ini adalah a great kisser. Wine, terima kasih banyak!

 

Kami makin terbawa nafsu tapi untungnya ia kehabisan nafas jadi ia melepaskan ciumannya kalau tidak aku yakin akan langsung merobek apapun yang melekat ditubuhnya detik itu juga.

 

Perlahan kubuka mataku dan mendapati seorang wanita yang baru saja melumat habis bibirku membersihkan sisa-sisa lipsticknya dibibirku sambil terengah mungkin efek ciuman panas kami tadi. Karena ia membersihkan bibirku otomatis jarak kami dekat sekali. Dengan jarak sebegini dekat pria dalam keadaan mabuk beratpun bisa mengetahui bahwa ia adalah wanita yang cantik dan…. menggoda.

 

Aku meneliti wajahnya lekat-lekat. Hidungnya mancung, pipinya tirus, bibirnya berbentuk cherry hingga mata kami saling bertemu. Aku bisa melihat samudera tak berujung terbentang di kedua bola matanya. Aku jatuh hati padanya pada pandangan pertama. Gila! Bahkan ini belum semenit aku melihat wajahnya! Tapi samudera itu. Samudera yang membentang di kedua matanya berhasil melumpuhkan akal sehatku. Mataku yang sedari tadi berat kini terbuka sempurna seperti aku tak pernah minum wine sebelumnya Ia menyihirku. Ku peringatkan! Aku bukan pria lemah yang dengan mudahnya ditaklukan wanita tapi sedetik aku menatapnya, detik itu juga ia menaklukkanku dan membuatku berhasil melupakan wanita penghianat itu. Aku ingin memiliki wanita bermata samudera ini. Sepenuhnya.

 

You need to stop.” ujarnya sambil menarik sudut bibirnya anggun. Kini aku hanya bisa melihat satu sisi wajahnya yang masih sama cantiknya kalau dilihat dari depan.

That why you kissed me?” Ia tak menjawab hanya semakin menyunggingkan senyumannya -tetap dengan sangat anggun- tanpa memutar kepalanya menatapku.

 

Aku memperhatikannya lagi kali ini tak hanya wajahnya tapi keseluruhan tubuh dan apa yang ia kenakan. Ia menawan sekali dengan rambut panjang yang dikuncir kuda dan mengenakan ruffles top berpotongan perut yang dipadu dengan denim hotpants yang memperlihatkan kakinya yang jenjang. Sesuatu menarik perhatianku.

 

Ruffles top and hotpants with Louboutin Stiletto?” tanyaku retoris.

I like something different, darl.”

So you kissed me because you found me different?” Ku pasang senyum mautku yang sukses membuat beberapa wanita melirik nakal kearahku.

 

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya terkekeh pelan. Kekehan itu membuat otakku bekerja seperti aku seseorang yang nakal padahal aku bukan tipe orang yang seperti ini. Ia menolehkan kepalanya lalu tersenyum lembut dan menatapku dalam. Bisa kurasakan gelombang samudera dimatanya kini telah menenggelamkanku ke dasar samuderanya yang paling dalam. Aku tertawan olehnya. Oleh matanya yang indah itu.

 

Ia hanya menatapku dalam dan tak menjawab apa-apa. Lalu ia memalingkan wajahnya lagi menatap orang-orang yang menari liar dilantai dansa. Aku kini hanya bisa memandangi wajah indahnya dari samping lagi.

 

Kusapukan lembut jemariku dipipi tak bercacatnya. Aku bukan pria nakal, aku tekankan sekali lagi. Tapi aku tidak mengerti semua ini. Aku hanya merasakan dorongan kuat untuk menyapukan jemariku dipipinya. Pengaruh alkohol, mungkin?

 

Ia menoleh menatapku lagi.

 

You’re drunk.” ujarnya lembut namun terdengar tegas.

Don’t girls like drunk guys? So they can take advantages from us?” godaku sambil terus menyapukan jemariku dipipi lembutnya.

It’s not my type, Mr. Wine.” Ia menjawabnya sambil menjauhkan tanganku dari pipinya lembut tanpa melepaskan senyumannya.

 

Then… What type of a guy you like? What type of a woman are you?” tanyaku. Kali ini jemariku tak menyapu pipinya lagi tapi bermain-main dengan rambut kuncir kudanya.

You want to know what kind of a woman I am?” Ia memperliharkan senyuman nakalnya sambil memainkan kancing kemejaku.

 

Yang aku ingat selanjutnya adalah membawanya ke apartemenku dan yea aku yakin kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya.

 

 

THE NEXT MORNING

Still The Guy’s POV

 

“OMO!! LEE DONGHAE!! YA LEE DONGHAE!!!!”

 

Ku dengar sayup-sayup suara teriakan seorang wanita. Siapa itu? Ku coba membuka mataku tapi aaarrrghhh kepalaku ini sakit sekali. Kupejamkan lagi mataku karna tak kuat menahan sakitnya. Mataku juga tak mau terbuka, terlalu berat. Semalam aku benar-benar mabuk.

 

SREEETT  *suara gorden dibuka*

 

Kurasakan sinar matahari menerpa tubuh dan wajahku. Bisa kurasakan juga sinarnya mencoba menusuk retinaku.

 

“LEE DONGHAE!! BANGUN!!! YA! KAU TULI??” Suara itu berteriak lagi. Aaarrgh siapa sih? Apa ia tak tahu kalau kepalaku sakit sekali?! Perlahanku buka kelopak mataku dan…. oh OMMA!!

 

“Om.. omma!! Kenapa disini? Arrgh kepalaku..” Ringisku sambil menekan kasar pelipisku. Bukannya usapan lembut malah pukulan yang kudapatkan tepat ditengah kepala membuat kepalaku semakin ingin meledak. Aghhh! Omma!

 

“OMMA!!!!” Teriakku karna tak terima kepalaku dipukul. Walaupun usianya sudah memasuki kepala lima, tapi pukulannya malah semakin keras melebihi pukulannya saat aku masih kecil. Dulu, aku pernah dipukul omma karena nilai tugasku yang jelek dan sampai saat ini aku masih mengingat dengan jelas rasa sakitnya. Dan pukulan omma barusan terasa lebih keras daripada pukulan waktu itu. “Kepalaku sudah sakit akibat mabuk semalam omma jangan pukul juga kepalaku!!!” Lanjutku setengah berteriak.

 

“Ya, kau sudah gila? Kau mau mati? Kenapa kau bawa wanita ke apartemenmu?!!” Apa? Wanita? Aku… tidak ingat aku membawa wanita…

 

Ku tolehkan kepalaku ke sisi kiriku dan ARRRGH SIAPA WANITA INI???  Kesadaran menyergapku seketika. Kuedarkan pandanganku ke sekitar tempat tidurku dan APA YANG TERJADI SEMALAM?? Baju, celana, sepatu kami berserakan dimana-mana. Dan yang lebih mengerikan adalah aku mendapati kami berdua tidur seranjang NAKED!! NAKED!!! NAKED!!!!

 

“Om.. omma.. aku tak tahu wanita ini siapa omma. Aku tak ingat apa yang terjadi. Omma bagaimana ini?”

“Benar! Bagaimana kau bisa mengetahui wanita itu siapa kalau kau mabuk berat semalam, anak kurang ajar! Bahkan sekarangpun masih tercium kuat aroma wine-mu itu!! Anak kurang ajar kau!!” Omma lagi-lagi memukul kepalaku. Kali ini lebih kuat dan nada suaranya sangat rendah, memberikan kesan superior.

 

“Lalu… bagaimana ini omma? Aku benar-benar tak ingat. Omma, kita berikan saja ia uang tutup mulut. Kita pastikan dia tidak akan buka mulut. Omma, reputasiku bisa hancur, omma, tolong aku…” Omma memukul kepalaku untuk ketiga kalinya.

 

“Kau. Laki. Laki. Kurang. Ajar. Lee. Donghae” Omma memberikan penekanan pada setiap katanyanya. Ia pasti sedang menahan emosinya bisa kulihat wajahnya merah padam sekarang, urat-urat dileher dan dahinya juga terlihat dengan jelas. Omma tidak pernah semarah ini walau apapun yang aku lakukan, omma tidak pernah semarah ini, tidak pernah. Tapi aku harus apa? Aku benar-benar tak ingat apapun yang terjadi semalam. Tuhan….

 

“Nikahi dia.” Seru omma. Dari nadanya, omma seperti mengontrol dirinya agar amarahnya tidak meledak-ledak lagi.

 

“Omma!!!!” Aku menahan agar suaraku terdengar serendah mungkin.

“Kenapa? Nasi sudah menjadi bubur. Kau sudah meniduri dia. Omma tak mau kejadian ini membuat sekeluarga malu. Omma akan bertahu appa dan keluarga besar. Bangunkan dan beritahu dia. Bawa wanita itu beserta orang tuanya kerumah malam ini.”

“Tapi omma…” BRUKKK omma sudah menghilang dibalik pintu. Aaarrgggh bagaimana ini. Tak mungkin aku menikahi dia. Dan… tak mungkin semalam aku menidurinya!! Aku belum pernah melakukannya sama sekali dalam 24 tahun hidupku ini.

 

Aku terus menarik-narik rambutku frustasi. Citraku di keluarga besar sudah hancur. Aku hanya berharap bahwa omma dan appa –nantinya- tidak akan membocorkan alasan mengapa kami menikah. Ini diluar rencanaku. Aku masih muda, masih banyak impian yang harus kukejar sebelum menikah. Aku masih ingin mengalahkan sepupu-sepupuku dalam dunia bisnis. Aku masih harus membawa perusahaan appa menjadi perusahaan nomor satu di Asia sebelum aku menikah. Ini benar-benar gila.

 

Tak lama kemudian ia menggeliat. Sontak aku langsung menyambar celana dan kemeja yang aku pakai semalam.

 

“Ini… dimana?” tanyanya masih belum sadar dengan apa yang terjadi.

“Emmm… kau.. di apartemenku… maaf… aku tak tahu mengapa kau bisa ada disini.”

Ia mulai mengedarkan pandangannya kesekeliling dan berhenti pada pakaiannya yang berantakan sana-sini. Sontak ia membulatkan matanya langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang memang tak terbalut apapun.

 

“Kau?? Kau pria mabuk di bar semalam, kan?” Tanyanya. Kini mata kami saling berpandangan. Ah! Ah ah!! Ah!! Aku ingat!! Dia!! Dia wanita bermata samudera itu!! Ia wanita yang berhasil membakar sempurna kenangan burukku dengan mantan pacarku. Langsung saja memori semalam berputar diotakku. Kini aku ingat yea walau aku tak ingat apa yang terjadi setelah ia bermain dengan kemejaku tapi aku ingat dia adalah wanita bermata samudera itu.

 

“Ini apartemenmu? Kau tinggal sendiri, kan?” tanyanya.

“Mmm begitulah.. Kenapa?”

“Tidak…” Ia memunculkan senyuman yang kuartikan sebagai senyuman kelegaan.

“Emmm.. bisakah kau memutar tubuhmu? Aku ingin berpakaian.” lanjutnya.

“Oh kalau begitu aku akan keluar dan menunggumu di ruang tamu.” saranku.

“Ah itu terdengar jauh lebih baik, Mr. Wine.” Dia tersenyum seakan akan tidak terjadi apapun semalam. Demi Tuhan sudah berapa kali ia melakukan aktivitas itu –yea aku yakin kalian tahu apa- dengan pria lain? Menggoda pria mabuk lalu beraktivitas lalu paginya ia tersenyum tanpa dosa seakan-akan pria itu tak menyentuhnya? Wanita macam apa ini? Aku menunggunya dia ruang tamu sambil terus memikirkannya. Memikirkan ini membuat efek alkohol yang kutegak gila-gilaan semalam tersulut lagi.

 

Pintu kamarku terbuka setelah aku menunggu beberapa menit. Untuk wanita, waktu yang ia perlukan untuk memakai baju dan merapikan rambut dan penampilan keseluruhannya termasuk singkat.

 

“Mmmm maaf…”

“Donghae. Lee Donghae.” jawabku.

“Ah, Donghae-ssi maaf semalam aku terbawa suasana. Maaf.” Ia memasang muka bersalahnya. “Oh, Donghae-ssi, kau pasti bingung apa yang terjadi sebenarnya, bukan? Semalam kau mabuk sekali dibar lalu..”

“Lalu kau menciumku.” potongku cepat.

 

“Ah.. iya, itu benar. Maaf,” Ia tak memasang wajah bersalahnya lagi. Ia malah tertawa? Tertawa???? Harus kukatakan, walaupun ini terdengar gila tapi yakinlah kalau aku menyukainya. Walaupun ia sudah mmm kau tahu… dengan pria lain… kau pasti tahu apa itu, tapi walaupun itu benar, kurasa aku akan tetap menyukainya. Menyukai tiap ekspresinya dan makin menjatuhkan diriku ke kedalaman samudera dimatanya itu.

 

“Lalu kau menarik kasar tanganku kesini. Kau hampir sepenuhnya mabuk jadi aku yang mengendarai mobilmu kesini. Soal alamat aku mengetahuinya dari kartu pengenal di dompetmu. Selama dimobil kau terus-terusan bersumpah serapah dan benar-benar diluar kendali, kau tahu. Sampai disini kau.. mmm… menggila… aku terbawa suasana emmm.. jadinya…”

“Kita melakukannya?” potongku lagi

“Maaf?”

“Melakukan.. mmm.. itu… ak.. aktifitas itu, itu.. maksudku,” ucapku terbata-bata. Jangan salahkan kemampuan lidahku tapi salahkan pengalamanku yang sama sekali belum pernah melakukan ini sebelumnya.

 

“Maaf? Ah, tidak Donghae-ssi. Tidak tidak. Yang kau maksud adalah itu, kan? Kita tidak melakukannya.” ucapnya sambil tersenyum. Ada sedikit perasaan lega menyelimutiku tapi…

 

“Lalu mengapa kita….?” Aku menggunakan bahasa tubuh untuk menyelesaikan kalimatku. Tuhan, aku benar-benar gugup.

“Oh itu..” Dia menganggap enteng masalah ini? Dia tak keberatan kalau pria asing melihat tubuhnya tanpa sehelai benangpun dari ujung rambut sampai ujung kaki?

 

“Sesampainya disini aku memopongmu ketempat tidur. Saat aku berniat pulang kau menarik tanganku dan langsung melumat bibirku…” Ia terdiam sejenak. Apa luka kecil dibibir bawahnya itu hasil aksi gilaku semalam? Aku cukup hebat juga ternyata … Oh well…

 

“Aku berontak tapi lama-lama aksimu makin menggila dan aku… terbawa suasana.. maaf… tapi kita benar-benar tak melakukannya semalam. Sesaat setelah kita mmm…” Ia juga mengisyaratkan kalimat itu dengan bahasa tubuh, “kau langsung jatuh tertidur. Karna terlalu lelah aku juga jatuh tertidur dan lupa memakai pakaianku kembali. Itulah yang terjadi sebenarnya, Donghae-ssi.” Ia kembali memasang senyum manisnya. Aku lega karna ternyata aku masih perjaka hihihi tapi tetap saja kau bangun dipagi hari dan mendapati seorang wanita yang tidak kau kenal tidur bertelanjang bulat tidur disebelahmu, itu sangat mengejutkan.

 

“Kalau begitu, Donghae-ssi, aku pulang dulu.”

“Ah tunggu!!” Aku langsung berlari ke wardrobeku dan menarik mantel terbaik yang aku punya. Pakaian yang ia kenakan sekarang sangat mini dan aku tak mengerti aku hanya tak ingin tatapan-tatapan nakal menatapnya.

 

“Ini, pakai ini.”

“Ah tidak. Aku tak terbiasa memakai matel. Lagi pula ini bukan musim gugur atau dingin, ini musin panas.” Ia tertawa lepas. Suara tawa paling indah yang pernah aku dengar. Gila! Aku tahu aku terdengar gila saat ini! Tapi wanita ini membuatku gila dan aku tak keberatan.

 

“Kalau begitu, aku pergi. Maaf kalau membuatmu bingung.” Ia berbalik dan berjalan menuju pintu utama. Aku langsung menarik tangannya tidak mengizinkannya pergi.

 

“Ommaku tadi melihat kita…” Yea ommaku memang menyebalkan. Aku kan malu ketahuan naked didepannya.

 

Ia terkejut. Dahinya berkerut dan sepertinya ia menahan nafasnya.

 

“Lalu  ia bilang apa?”

“Kita harus menikah.” ucapku santai. Tapi ia tidak santai. Semua orang pasti akan menolak untuk menikahi orang yang tidak ia kenal, ini reaksi alami.

 

“Tid.. tidak bisa! Kita tak melakukan apapun. Aku tak mau!” Dahinya berkerut  dan nada

suaranya terdengar cemas. “Aku juga yakin kau memiliki pacar. Jadi, apa aku harus ke rumah orangtuamu dan menceritakan semuanya?” Hatiku berkecamuk hebat. Bukan karna ia mengatakan aku memiliki pacar tapi karna aku bimbang. Aku tidak mau ia memberitahu omma yang sebenarnya karna aku ingin memilikinya seutuhnya. Aku tahu ini egois dan benar-benar gila untuknya. Aku baru bertemunya semalam dibar, itupun saat keadaanku memprihatinkan. Tapi aku terbius dengan matanya. Pupil dan iris mata hitam legam dengan samudera dibaliknya. Bagaimanapun juga ia wanita pertama yang ingin aku miliki seutuhnya dan ingin kulindungi. Lebih dari perasaanku pada mantanku. Aku menyukainya dari detik pertama mata kami saling bertaut. Ia membuat jantungku tidak karuan sejak semalam. Rasanya jantung ini kelelahan berdetak karna aku tak bisa berdetak dengan normal kalau disampingnya.

 

“Aku tak tahu… Aku hanya ingin bersamamu.” ucapku polos.

C’mon dear, I don’t know you and so do you. We are strangers, complete strangers. And you want to marry a stranger? And.. we did nothing last night. Well, we kissed but nothing more. Tell your mom we’re fine. I’m not gonna sue you or something ahaha.” tawanya amat kikuk.

 

Dan ia berjalan menuju pintu utama. Meninggalkanku lagi. Aku hanya bisa mengekor tanpa mampu melakukan apapun. Apa yang ia katakan barusan langsung membuatku patah arang.

 

Ia berjalan menelusuri lorong apartemenku. Baru beberapa langkah ia berjalan ia langsung berlari kecil kembali ke arahku. Mengalungkan tangannya disekitar leher dan punggungku. Memelukku… hangat. Ia berhasil membuat jantungku kembali kelelahan untuk kesekian kalinya. Ia memelukku lebih erat dan  membisikan sesuatu tepat ditelingaku.

 

In 22 years of my life you’re the 4th person who sees my body wearing nothing head to toe.” ungkapnya. Ia mulai membuat jarak diantara kami tapi kutahan punggungnya memaksanya untuk tetap mendekapku.

Who are the other 3?” godaku.

My mom, my dad  and my baby sitter. Well, it was long time ago, the last time was when I was only 5 or so. So, you’re the first  person who sees my grown-up body, you Naughty Boy.” kekehnya dengan nada menggoda. Ia mencoba melepaskan dekapanku lagi tapi aku tahan lagi. Aku tak mau dekapan ini berakhir.

 

Can’t we just lie to my parents and get married?” ajakku. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya tanpa filter otakku.

I don’t want to. I hate status. I don’t want status to tangle me. I’m a free woman..” ucapnya santai.

 

Ia melepaskan dekapanku. Aku tak berniat untuk mendekapnya lagi. Ia sudah mengatakannya kalau ia adalah wanita yang bebas. Aku tak mau menjeratnya tak perduli sebesar apa aku menginginkannya. Okay, aku sudah mengatakan ‘gila’ lebih dari seribu kali sejak aku bangun tadi, tapi.. ini benar-benar gila.

 

Tangannya meluncur dari punggungku menuju lengan lalu jemariku. Jemari kami bertautan satu sama lain seakan tak ingin berpisah lagi. Ia menundukan kepalanya. Bertahan dengan posisi itu selama 5-10 detik. Lalu perlahan ia menatapku dengan tatapan yang menyiratkan ia memang wanita yang ingin bebas dan tak mau terikat dengan status atau apapun.

 

Not even be my girlfriend?” tanyaku lagi. Ayolah, aku tak mau kehilangan dirimu.

 

Ia tak menjawab hanya menggeleng pelan sambil membuat senyum tulus di bibirnya. Berbeda dengan senyuman-senyuman sebelumnya yang seperti menyiratkan maksud tertentu. Senyumannya kali ini benar-benar tulus dan murni. Senyuman yang sangat berharga dan aku akan menyerahkan apapun hanya untuk mendapatkan senyuman itu lagi.

 

What if I beg you?”

On your knees?

If I have to…” Ia terkekeh kecil.

It’s not the right timing, Mr. Wine.” jawabnya lembut sambil mengecup lembut pipi kananku. Perlahan ia melepaskan tautan tangan kami, membelakangiku dan berjalan menjahuiku. Perlahan.. perlahan.. perlahan. Aku tak rela ditinggalkan dengan cara seperti ini. Bahkan ini sejuta kali lebih menyakitkan dari pada mengetahui kelakuan busuk mantan pacarku kemarin. Oh hey, aku lupa menanyakan sesuatu!!

 

Hey, what’s your name?” Tanyaku setengah berteriak karena memang jarak diantara kami sudah agak jauh.

If we’re meant to be together, you and I will meet again someday and on that day I’ll tell you my name, Lee Donghae.” Ia terkekeh lagi. Walau sudah agak jauh tapi entah mengapa aku masih bisa mendengar kekehan indahnya yang telah menjadi canduku hanya dalam waktu semalam.

 

Then we have to meet again.

But I’m not sure about  that.” Ia pun melambaikan tangannya padaku tanda perpisahan. Ia langsung berbalik dan kembali menelusuri lorong apartemenku. Aku harus menemukan wanita ini lagi oleh karena itu aku merekam dengan seksama punggungnya. Mengamati bagaimana rambutnya dan memperhatikan kakinya yang jenjang itu. Perlahan, punggungnya pun tak terlihat lagi. Meninggalkanku dengan satu misteri besar.

 

Akankan kita bertemu lagi ocean-eyed woman?

 

~~~~TBC~~~~

 

With Love,

Red

5 Comments (+add yours?)

  1. fairyuspark
    May 16, 2015 @ 23:40:27

    no no no!!! it’s very nice fanfiction!! ocean eyed woman dia mistery banget.. ditunggu kelanjutan nya. jangan terlalu lama. LEE DONGHAE BIKIN GREGET ***** # # ######

    Reply

  2. Monika sbr
    May 19, 2015 @ 05:34:14

    Semoga cepat bertemu kembali deh….

    Reply

  3. Elval
    Nov 13, 2015 @ 05:44:24

    Wahh … aq suka sekali ff ini . Suka bgt sama karakter ceweknya . Misterius dan bikin penasaran. Awalnya aq pikir dia kupu2 malam .
    Bagus thor ceritanya … kereeen !

    Reply

  4. nana.kim
    Nov 22, 2015 @ 22:44:28

    Ceritanya kerenn!!! Ceweknyaa bikin penasaran. Dan heyy Hae langsung love at first night? 😀

    Reply

  5. putriLee
    Dec 14, 2015 @ 19:01:37

    omo omoo,harus baca lanjutannya xD

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: