Trap in Your Apartment?! [1/?]

trapin

Trap in Your Apartment?! (Chapter 1)

Kiyomizu Mizuki’s Present

Main Cast : Park Yeonji or You [OC] – Cho Kyuhyun [Super Junior’s Kyuhyun]

// Genre : Comedy, Fluff, and Romance || Rating : PG-15+ || Length : Series //

Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to Krys’ @ Café Poster for amazing poster!

***

Wanita itu terlihat sangat terburu-buru. Raut wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan sesuatu. Tidak henti-henti ia melirik jam tangan berwarna biru laut yang melingkar dengan manis mengitari lengan putih nya. Ia sedikit membenarkan tatanan rambut nya yang sebelumnya berantakan, menatap dirinya di pantulan cermin besar di kamarnya. Dan juga sedikit membuat rapi kostum nya yang sedikit kusut tadi. tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan, memastikan kalau dia sudah dalam keadaan yang baik dan tidak berantakan seperti tadi.

Dia mengambil tas selempangan dengan warna putih dan menyampirkan nya di bahu nya. Tangan nya yang lain mengambil buku-buku nya dan mendekapnya, seakan tidak ingin melepas benda itu begitu saja. Matanya melirik kearah belakang, pandangan itu kemudian jatuh pada sebuah sepatu berwarna putih kesayangan nya. Oh, jangan lupakan benda itu juga. Ia langsung memakaikan sepatu putih itu pada kaki nya dan mengikat tali dengan simpul hidup.

Hari ini sudah pukul setengah Sembilan, dan sebentar lagi pelajaran di kampus nya akan di mulai. Dia kebagian masuk pagi, bodohnya semalam dia tidak ingat hal itu dan malah menghabiskan waktunya bersama kawan-kawan nya di sebuah pusat perbelanjaan sampai pulang larut malam. Hingga pagi menjelang, dia baru mengingat hal itu.

Ceroboh?

Mungkin itu komentar yang ada di benak kalian tentang wanita yang menjadi pemeran utama disini. Dia memang sangat ceroboh, entah itu karena ketidaksengajaan atau bagaimana. Yang pasti, dia juga mempunyai sifat pelupa yang berlebihan. Dia juga berusaha untuk menyingkirkan sifat jelek dalam dirinya itu, tapi tetap tidak bisa juga. Berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Tapi apa daya? Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Termasuk wanita ini.

Dia terbangun saat jam menunjukan pukul setengah delapan. Tidak bisa membersihkan diri lama-lama dan hanya dalam waktu singkat saja, belum lagi harus menyiapkan buku-buku yang akan di bawa nanti untuk jadwal hari ini. Semoga saja nanti dia datang tepat waktu, sebelum ada dosen yang mengajar di kelas nya nanti.

Dia baru teringat sesuatu. Pelajaran pertama hari ini adalah…..Fisika. Ya, jika dia telat, pasti akan di hokum oleh dosen killer di kampus nya. Semoga saja tidak, dalam beberapa waktu dekat ini sudah banyak siswa lain yang terkena hukuman nya. Biasanya, mendapat detensi, di suruh membersihkan toilet selama dua hari berturut-turut setelah waktu selesai. Yang paling lama itu selama seminggu, untunglah tidak ada yang mendapat jatah detensi selama seminggu penuh. Atau, siswa itu bisa mulai karena bau yang terpancar. Terkena omelan saja sudah membuat telinga mereka sakit!

Wanita itu mulai memasuki bus yang akan membawa nya ke kampus tujuan nya. SMTown University. Dialah salah satu siswa yang paling beruntung karena bisa masuk ke universitas yang paling di idamkan semua orang seluruh Seoul, bahkan seluruh Korea Selatan. Siapa yang tidak mau masuk ke sana? Sarana nya cukup terjangkau. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa masuk kesana, dan itu hanya  ber-modal kan otak yang pintar serta bakat yang mereka punya. Berbakat, pintar, dan kaya? Apa lagi yang kurang? Hampir seluruh siswa universitas ini mempunyai itu semua.

Wanita itu mempunyai ketiga nya. Dia pintar dalam semua segi pelajaran, berbakat menyanyi, dan berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Daya tangkapnya pun juga sangat cepat menerima pelajaran yang masuk, kecuali sifat pelupa nya itu yang terkadang membuat orang kesal. Sejauh ini, nilai-nilai nya juga cukup baik. Dia belajar dengan giat saat mempersiapkan untuk masuk ke dalam universitas ini.

Asal tahu saja, tidak mudah masuk ke universitas itu. Tapi, banyak juga yang masuk ke sini karena kepintaran mereka diatas rata-rata, dan itu terbantu oleh biaya beasiswa. Universitas itu bukan universitas biasa saja mengingat banyak calon siswa yang menangis meraung-raung karena tak berhasil masuk ke sekolah prestisius itu. Karena masuknya harus menjalani test yang ketat, jika hanya beasiswa hanya tinggal duduk manis saja karena kepintaran mereka sudah sangat terjangkau.

Jika memiliki kepintaran, SMTown University juga akan melakukan test bagi calon siswa nya yang memiliki bakat. Termasuk, wanita ini. Awalnya memang sangat melelahkan, tapi karena tekad yang kuat untuk masuk kesini. Ya, walaupun tidak sebanding juga dengan Harvard University yang terkenal itu, tapi tidak apalah. Dia lebih memilih melanjutkan pendidikan nya di Negara nya sendiri. Sebenarnya, dia bisa saja masuk ke dalam universitas ternama di dunia dan juga sangat di dukung orang tua nya. Sayang nya, dia menolak.

Bus itu berjalan dan berhenti di halte. Wanita itu untuk langsung beranjak dari tempat duduk nya kemudian berjalan keluar. Sebenarnya jaraknya cukup dekat, jika berjalan kaki malah akan menguras tenaga dan malah semakin membuatnya masuk terlambat. Untunglah, jalanan tadi cukup renggang jadi tidak memakan waktu yang lama untuk sampai di tempat ini. Dia kira jam segini jalan raya sudah macet karena penuh dengan mobil-mobil yang berlalu lalang disana. Syukurlah tidak.

Dari dekat, kita sudah bisa melihat gedung tinggi pencakar langit bercat putih. Itulah gedung kampus, SMTown University. Wanita itu memberhentikan langkahnya sejenak sebelum kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke halaman kampus nya. Dia kembali melirik jam tangan nya, sepuluh menit lagi jarum pendek itu akan terarah pada angka Sembilan dengan jarum panjang ke angka dua belas. Dia harus segera mengejar waktu.

Wanita itu bergegas menuju kelas nya. Dia harus mengejar waktu sekarang ini sebelum derap langkah dosen killer itu bergema di kelas yang ditempatinya.  Tidak memperdulikan banyaknya orang disana yang masih berkumpul di koridor bersama teman mereka. Terkadang, tubuh tinggi nya sedikit menabrak orang yang ada di depan nya, mengucapkan kalimat maaf, kemudian mempercepat langkahnya kembali.

Dengan nafas yang masih terengah-engah, dia masih setia berjalan menuju meja nya. Tadi kan dia sering menambah kecepatan laju lari nya. Menhempaskan tubuhnya pelan ke kursi kemudian menyandarkan punggung nya. Menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menstabilkan napas nya yang tadi tidak beraturan. Tangan nya kembali bergerak, meraba-raba tas nya mencoba untuk menemukan benda yang paling dia butuhkan sekarang ini.

Tap~!

Dia bersyukur dalam hati, setelah telapak tangan nya itu sudah menemukan benda yang dia cari sebelumnya. Minuman. Dari rumah, dia memang sudah menyiapkan botol minum yang dia isi dengan air putih. Insting nya mengatakan kalau dia pasti akan membutuhkan botol minum bening itu. Isi nya memang tidak seberapa, tidak sempat untuk membuat jus dan aneka minuman yang lain. Setidak nya ini sudah bisa menghilangkan rasa dahaga di tenggorokan nya yang sudah mengering agar tidak kekurangan cairan, takutnya nanti dia tidak berkonsentrasi.

Dia langsung meneguk rakus minuman nya, menyisakan nya sedikit untuk nanti jika perlu. Air itu terasa sangat nikmat baginya. Air itu terasa mengalir di kerongkongan nya, dengan cepat rasa dahaga itu hilang seketika, ketika di pertemukan oleh air. Setelah selesai meneguk nya, dia kembali menaruh nya di tempat asal nya tadi. Ke dalam tas nya.

“Yeonji!”

Wanita itu langsung menengok kearah suara yang memanggil nya. Yeah, Park Yeonji. Nama wanita itu atau kalian bisa memanggilnya dengan Yeonji. Pandangan matanya menampilkan seorang remaja tanggung dengan tubuh yang lebih tinggi darinya, Yeonji membalas senyuman wanita itu yang dilayangkan padanya.

Remaja tinggi itu langsung berlari kecil kearah Yeonji, wajah ceria nya tidak pernah hilang darinya. Itu sahabat Yeonji, namanya Choi Yoonmi. Kaki panjang nya berlari kecil, menghampiri sosok sahabatnya yang sudah merubah posisi nya menjadi berdiri, sehingga memudahkan dia untuk menarik lengan sahabatnya.

Kaki panjang Yoonmi melangkah dengan ringan, terlihat langkah-langkah itu seolah tanpa beban sama sekali. Dia langsung duduk di depan kursi yang ditempati Yeonji. Mengulum sebuah senyuman manis pada teman nya. Yeonji sendiri tidak tahu kenapa sahabat nya yang terkenal dengan wajah dingin plus jutek nya itu bisa mempunyai senyuman yang manis, tentunya hal itu tidak banyak diketahui orang bahwa Yoonmi masih mempunyai sebuah sisi yang hangat juga manis. Tentu nya hanya orang-orang yang berada di dekatnya, termasuk Yeonji.

Mereka bersahabat—Yoonmi dan Yeonji—sejak kelas tujuh sekolah menengah petama. Hal tersebut memang tidak sengaja, awalnya Yeonji yang sangat pemalu dan tidak banyak bersosialisasi oleh siswa-siswa di sekitarnya. Lain hal nya dengan Yoonmi, dia wanita yang pandai bergaul dan aktif serta mempunyai sifat mirip seorang laki-laki, atau kita bisa menyebutnya dengan tomboy. Awal mereka bertemu sangat singkat, di sebuah taman. Saat itu, Yeonji hanya duduk dengan manis sambil menjilat es krim yang di beli nya. Karena tidak ada tempat duduk yang lain—sudah penuh—mata Yoonmi tidak sengaja melihat kursi panjang yang hanya di duduki satu orang saja, dan kemungkinan tidak ada menempatinya lagi selain Yeonji saat itu, Yoonmi memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan mereka berkenalan.

Sebelum Yeonji beranjak, wanita bersurai coklat kehitaman itu memandang kearah pintu yang disesaki oleh mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang di depan pintu untuk masuk ke kelas mereka. Dia belum menemukan sosok dosen killer yang akan memulai pelajaran di kelas nya hari ini, tumben sekali. Biasanya dosen itu akan memulainya dengan tepat waktu dan menyuruh siswa nya yang mendapat jatah di kelas ini untuk segera masuk. Dahi nya mengerut, heran.

“Kau tahu?! Mr. Shin tidak masuk hari ini!” seru Yoonmi bersemangat. Tubuhnya berdiri dengan tegap, suaranya yang lantang, serta senyum senang dari wajahnya.

“A-apa?! Tumben sekali Guru itu tidak masuk hari ini. Dan itu yang tadi ingin aku tanyakan padamu,” sahut Yeonji. Dia tadi memang ingin bertanya kenapa Guru nya yang mengajar di kelas nya tidak kunjung masuk. “Berarti, percuma saja bagiku tadi untuk bergerak cepat tapi pada akhirnya Guru itu tidak masuk.” Yeonji menghela napas. Hatinya merasa dongkol, padahal sebelumnya di penuhi perasaan yang was-was sekali.

Yoonmi tertawa kecil. “Mungkin karena sifat mu yang selalu panik, saking tidak mau-nya terkena hukuman dari Mr. Shin. Harusnya kau menelpon ku dulu, jadi aku bisa bilang kalau sebenarnya Mr. Shin tidak masuk.”

“Sekarang kau ada jadwal kuliah yang lain? Sepertinya nanti sore aku mendapat jadwal yang lain dan mendapat tugas dari jadwal yang itu. Jadi, aku mempunyai banyak waktu senggang hari ini.” sorak Yeonji senang. Kalau sahabatnya tidak ada jadwal hari ini atau free, kecuali soal terlalu cepat masuk karena pelajaran Guru Shin tapi percuma. Kemungkinan dia bisa mengajak Yoonmi untuk bersenang-senang siang ini dulu dan sore nya hanya tinggal mengumpulkan tugas saja kemudian berbelanja lagi hingga larut malam. Yeah, semoga saja anak ini tidak telat lagi bangun nya.

I’m sorry Yeonji,” Yoonmi langsung tersenyum lagi mendengar ucapan Yeonji tadi. Pasti wanita Park itu alias sahabatnya akan mengajak untuk kembali berbelanja barang-barang atau pakaian seperti semalam, kemudian dia akan mendengar alasan akalu Yeonji terlambat bangun lagi. “Sama sepertimu di awalnya, tapi setelah ini aku ada jadwal yang lain. Dan akan sangat sibuk hari ini.” Yoonmi melanjutkan ucapan nya yang tertunda, kemudian tangannya terangkat, untuk mengelus bahu Yeonji.

Yeonji mem-pout ‘kan bibir plum nya. Hatinya yang tadi sempat berbunga-bunga merencanakan untuk kembali berbelanja di tempat kemarin, sekarang malah kembali menjadi dongkol sangat. Harapan nya pupus sudah, tidak ada teman lagi yang diajak Yeonji selain Yoonmi. Dan tidak ada enak di ajak mengobrol saat mereka beristirahat di café. Dia juga tidak bisa memaksa Yoonmi karena wanita yang berstatus sebagai sahabatnya itu memiliki jadwal kuliah yang sangat padat hari ini. Di saat dia ingin bersantai bersama sahabatnya, tapi sahabatnya itu memiliki halangan. Dan sebaliknya, saat sahabatnya free, dia malah kebagian jadwal padat.

“Kau ‘kan bisa mengajak Hyura atau Jihye untuk menemanimu, saat aku ke kelas mereka, mereka bilang tidak ada jadwal untuk nantii.” Saran Yoonmi dengan menepuk pundak Yeonji untuk sedikit menenangkan wanita Park itu yang kelihatan nya sudah pasrah duluan. Terlihat Yoonmi yang melirik kearah jam tangan yang di pakai di pergelangan tangan kanan nya itu, tangan itu berpindah pada tas nya kemudian menyampirkan di pundak nya. “Aku pergi dulu Yeonji, sampai bertemu nanti! See ya~” tidak lupa, Yoonmi mengambil beberapa buku yang dia bawa.

Benar saja.

Yoonmi benar-benar tidak akan mempunyai waktu kebersamaan nya dengan Yeonji har ini. Terus, bagaimana nasib nya nanti tanpa Choi muda itu di sampingnya? Sebenarnya, bisa saja dia mengikuti saran Yoonmi tadi untuk meminta Hyura atau Jihye untuk menemani nya. Hanya saja, Yeonji belum terlalu dekat dengan mereka dan terkadang mereka risih sendiri, kalau tidak ada Yoonmi. Dia juga bisa sendiri sebenarnya, masa dia harus berdiam diri di rumah dan hanya melakukan aktifitas yang membuat rasa bosan nya semakin besar?

“Sekali-kali sendiri? Sepertinya itu bukan ide yang terlalu buruk.”

Tentang Hyura dan Jihye. Mereka sebenarnya sahabat Yoonmi atau bisa dibilang kenalan nya, karena kedua nya tinggal di sebelah apartment yang di tempati oleh nya. Kemudian, Yoonmi memperkenalkan nya pada Yeonji sehingga mereka saling mengenal meski tidak terlalu dekat. Tak jarang memang saling mengobrol untuk mengetahui satu sama lain, memang sih tidak seakrab dengan Yoonmi. Menambah teman? Bukankah itu ide yang menakjubkan? Yoonmi berkata padanya, kalau kedua orang itu tidak sengaja bertemu dengan nya saat berjalan di sekitar koridor saat dia pulang malam hari.

Namanya Kang Jihye dan Song Hyura. Mereka tinggal berdua di apartment tersebut. Mereka memang berteman dengan sangat dekat sejak taman kanak-kanak dulu dan saking dekatnya mereka tinggal bersama di satu apartment. Awalnya mereka tinggal bertetangga saat masih sekolah sebelum masuk universitas dan akhirnya saat masuk ke perguruan tinggi, keduanya memutuskan untuk hidup mandiri di sebuah apartment. Terkadang, Yoonmi juga sering berbelanja dengan mereka, beda dengan Yeonji. Dia masih kurang akrab dengan mereka.

Yeonji menatap layar ponsel nya. Sebenarnya dia masih mempunyai teman yang lain, bukan hanya Yoonmi saja. Setelah dia menghubungi orang yang ingin diajaknya, ternyata alasan nya seperti yang di utarakan oleh Yoonmi. Memang seperti itu aslinya. Dia merengut, bibir plum nya maju beberapa centimeter. Kalau tidak ada teman, siapa yang ingin diajak olehnya untuk curhat bersamanya? Itu ‘kan gunanya seorang sahabat!

Tangan Yeonji terangkat, kemudian meletakan nya pada gelas yang berisi coklat panas pesanan nya. Menyesapnya dengan pelan, hanya minuman inilah yang bisa mengembalikan mood Yeonji kembali baik. Coklat cair itu mulai masuk ke kerongkongan nya, menimbulkan sebuah rasa tersendiri bagi Yeonji. Pasti rasa manis itu selalu menyertai sebuah coklat. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia selalu bergantung pada coklat panas ini untuk membuatnya kembali tenang dan mood nya kembali membaik. Jangan di tanya lagi kalau kulkas nya pasti banyak bubuk coklat.

“Memang sendiri. Tapi nanti siang sajalah, aku malas ke rumah,” monolog Yeonji pada dirinya sendiri. Mata beredar ke seluruh ruangan café yang sekarang menjadi tempat nya. Banyak beberapa mahasiswa dengan teman nya, tidak lupa ditemani dengan laptop yang mereka bawa. Memang café ini memiliki free wifi, jadi mereka bebas surving internet di sini.

Laptop.

Oh yeah! Dimana benda kesayangan nya itu? Perasaan nya mengatakan kalau sebelumnya dia sudah menyiapkan benda yang membantunya untuk mengerjakan tugas kuliah, seperti skripsi. Mungkin dengan benda itu bisa mengusir rasa bosan Yeonji yang sudah semakin meluap. Benda itu selalu berada di genggaman tangan Yeonji kalau sedang kuliah dan tidak pernah lepas dari sisi nya. Sekarang, dimana laptop itu berada? Kenapa daritadi dia tidak melihat benda itu?

Yeonji langsung menge-check tas nya. Siapa tahu dia hanya lupa menaruh dimana dan akhirnya malah ada di tas nya sendiri. Mengingat, dia mempunyai sifat pelupa yang terkadang sering berlebihan. Yeonji mengubek-ubek isi tas nya terus menerus, tunggu, sebelum itu dia merasakan kalau tidak merasakan berat pada pundaknya saat menyampirkan tas nya. Biasanya juga, buku-buku dan laptop nya dia letakan secara terpisah. Jadi, dia tidak mungkin menyimpan benda lebar itu pada tas nya yang bisa di kategorikan cukup sedang.

Sang anak bungsu Park langsung menepuk dahi nya secara pelan. Kenapa dia tidak bisa ingat kalau sebenarnya laptop nya itu tidak pernah dimasukan kedalam sini dan memang ditempatkan di tas khusus menaruh laptop? Yeonji memang bodoh, mungkin saking terburu-buru sampai tidak sadar kalau di genggaman nya itu tidak ada benda lebar itu. dia masih mengingat kalau sudah menyiapkan laptop nya untuk hari ini. Hasilnya malah tertinggal dirumah, dia juga masih mengingat kalau menyimpan nya itu tepat di atas meja belajar nya langsung. Benda itu ‘kan sangat besar dan di letakan di tempat yang sempurna. Sebenarnya Yeonji punya penyakit mata apa sampai tidak melihatnya?

Terdengar helaan napas kasar darinya. Mendengus untuk sedikit menghilangkan rasa kesal yang sudah membuncah di hatinya. Yeonji mengambil minuman nya seraya meminumnya dengan cepat. “Bodoh,” gumamnya merutuki dirinya sendiri. Siapa yang lamban sebenarnya? Dia atau otak nya saja yang terkadang tidak bisa di ajak kerjasama?

Yeonji melirik jam tangan biru nya. Jarum pendek itu menunjuk kearah angka dua belas. Sebuah senyum mulai terukir di wajahnya, inilah waktu jam yang sangat di tunggu olehnya. Jam dua belas tepat. Waktunya pulang ke rumah, hanya tinggal mengambil kunci mobil, dan langkah terakhir, pergi ke pusat perbelanjaan.

***

Yeonji mulai melangkahkan kaki nya pada pintu masuk sebuah mall yang sangat besar dan luas. Dengan tas yang tersampir di pundak, tidak lupa dengan gaya nya yang sangat modis, seperti bukan anak remaja yang ketinggalan zaman. Wajahnya juga terlihat sangat cerah. Mall ini memang terlihat ramai, seperti biasa. Rata-rata dari mereka usia nya tidak terpaut jauh dari Yeonji, kemungkinan seumuran.

Sekarang dia harus kemana? Sekarang pertanyaan itulah yang langsung muncul di otaknya. Nonton film? Itu bukan ide yang buruk, hal itu sering dia gunakan saat pergi kesini. Tapi, sepertinya hari ini tidak ada film yang enak untuk di tonton. Pergi ke pusat perbelanjaan? Tidak buruk. Dia bisa kembali melihat koleksi kostum-kostum yang bagus. Bukankah dia yang paling semangat kalau ke tempat itu? Aneh nya, sekarang Yeonji sepertinya tidak ingin kesana sementara.

Sekarang dia harus kemana lagi? Dia ingin bersantai sembari di temani oleh coklat panas—lagi—atau jika ada teman, bisa diajak mengobrol. Sekarang? Masa dia harus mengalami ke-jomblo-an lagi tanpa seorang teman. Yeonji tahu kalau di café pasti banyak sepasang kekasih, mungkin hanya segelintir orang saja yang ber-status jomblo seperti dirinya. Jika ada teman, pasti akan sedikit menyenangkan tidak tidak merasa kesepian.

Yeonji memutar otaknya, berusaha menemukan tempat yang cocok disini. Daripada harus berdiri terus menerus disini seperti anak hilang kesasar, lebih baik menemukan tempat sembari berjalan-jalan di sekitar sini.

***

Pria itu merengut. Persis seperti anak umur lima tahun yang tidak dibelikan balon oleh sang Ibunda. Tapi jika lebih dilihat, sebenarnya dia sangat imut ketika memasang wajah yang seperti ini. Dan, terlihat lebih hangat serta bersahabat.

Daripada dia harus memasang wajah stoic nya yang menyebalkan. Tanpa ekspresi dan dingin. Begitu pula dengan hatinya yang begitu dingin, sedingin salju. Jarang memang, eskpresi yang sekarang ini di tunjukan pada orang banyak. Mungkin, hanya segelintir orang yang tahu tentang ekspresi wajah ini. Entah itu keluarga atau orang-orang terdekatnya. Dengan tangan yang terkepal, dan dagu yang terletak di atas nya.

“Aku tidak mau di jodohkan Eomma. Aku bisa memilihnya sendiri!” sergah pria itu pelan. Wajahnya memelas. Jangan lupakan puppy eyes nya itu yang lebih terlihat sangat menggemaskan. Sepertinya dia lupa dengan umur nya yang sudah hampir dewasa ini. Tidak akan perkembangan. Karena, perkembangan dewasa nya itu hanya terlihat di luar sana daripada di rumah aslinya.

“Ingat usia mu Kyu. Kau itu memang tampan, tapi kenapa belum kunjung mendapatkan kekasih hatimu? Lagipula, Eomma membutuhkan seorang wanita yang bisa membuatmu lebih baik serta lebih dewasa,” sang Ibunda berkata dengan sangat tenang. “Kau itu masih terlihat kekanak-kanakan Kyu, padahal sebentar lagi kau akan wisuda. Apakah masih tidak sadar, uh?”

“Tenang Eomma. Aku berjanji, dalam waktu dekat. Aku akan mencari wanita yang cocok dengan kriteria ku dan juga Eomma, jadi tidak usah ada acara yang seperti ini,” sang pria masih menyakinkan sang Ibunda. “Aku ‘kan sudah dewasa, jadi aku bisa mencari wanita untuk ku sendiri. Aku berjanji, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan mencari wanita seperti itu.”

Sang Ibu tertawa pelan mendengar ucapan anak laki-laki nya tadi. “Sudah dewasa? Kalau kau sudah dewasa kenapa masih bergantung pada Eomma dan Appa? Bukan nya bersikap mandiri?” goda sang Ibu.

Pria itu semakin cemberut mendengar ucapan sang Ibunda tercinta nya yang terlalu meremehkan nya. Kalau soal wanita, itu terlalu mudah bagi nya. Siapa yang tidak mau hidup berdampingan dengan pria yang tampan, mapan, serta pintar seperti dia? Bukan kah itu idaman para wanita di dunia ini? Memang, dia belum bisa menemukan mana wanita yang cocok. Sebenarnya, sudah banyak wanita satu kuliah nya menyatakan perasaan mereka padanya tapi belum ada yang bisa merebut hati dingin pria ini yang seakan sudah beku. Mungkin suatu saat, hati itu akan kembali mencair.

Soal ucapan sang Ibunda nya tadi. Dia mengakui, kalau selama ini terlalu banyak bergantung pada kedua orang tua nya. Mengingat usia nya yang semakin bertambah tapi belum bisa hidup mandiri. Dia saja masih sering bermanja dengan Ibu nya, bagaimana ingin mandiri? Tapi tunggu, bermanja dengan orang tua masing-masing memang tidak apa-apa sebenarnya. Asal kita bisa bersikap dengan dewasa dan hidup mandiri tanpa terlalu banyak bergantung pada kedua orang tua kita. Dia masih ingin satu atap dengan Ibu dan Ayah nya. Tentang sikap nya, masih seperti anak kecil dan belum bisa berpikir secara dewasa. Kalau di luar? Jangan di tanya, dia pasti dengan senang hati menunjukan wajah stoic nya itu yang tidak pernah di tunjukan nya ketika berhadapan dengan anggota keluarga nya.

Eomma ingin menjodohkanmu hanya ingin kau bisa hidup mandiri serta berpikir dewasa serta tanpa banyak bergantung kepada kami. Makanya, kami ingin menemukan wanita yang cocok untuk kehidupanmu kelak agar bisa berubah lebih baik Kyu,” sang Ibunda menghentikan ucapan nya sebentar. “Tapi kalau kau masih bisa memilih wanita yang menurutmu sangat baik dan cocok sesuai dengan kriteriamu sendiri dan sama seperti Eomma dan Appa. Kami mendukungmu. Pilihkan yang benar-benar baik, jangan sampai kau menyesal!”

Dia langsung melepas bantal yang tadi dia dekap, dengan mata yang berbinar-binar mendengar lanjutakan kata-kata Ibu nya. Ini semua memang yang dia inginkan, memilih pujaan hatinya sendiri tanpa paksaan dari orang tua nya. “Baiklah! Aku berjanji Eomma, aku akan menemukan wanita yang cocok sesuai selera ku dan Eomma dan tidak akan main-main dalam urusan seperti ini lagi. Dalam waktu dekat seperti ini.” Dia langsung berhambur ke pelukan sang Ibu. Benar-benar masih seperti anak-anak bukan?

“Pilih yang benar-benar baik Kyu! Jangan sampai kau kembali bermain-main hanya karena hasrat mu belaka. Aku tahu sebenarnya kau itu memiliki banyak mantan wanita bukan?”

Tiba-tiba sebuah wanita lain mengagetkan mereka. Otomatis, wanita paruh baya dan anak laki-laki nya langsung menengok untuk mencari tahu darimana asal suara itu. Dari tangga sana. Berdiri sesosok wanita cantik yang sudah terlihat dewasa yang menuruni tangga, dia tidak sengaja mendengar ucapan Ibu nya dengan adik nya di ruang keluarga. Sebuah senyum jenaka dia tunjukan pada sang adik yang menatap nya tajam.

“Upsss… Aku keceplosan.” Wanita tersebut langsung mendekap mulutnya dengan telapak tangan, ucapan nya tadi benar-benar membuka kartu adik nya sendiri. Itu sengaja dan bukan tidak sengaja.

Noona! Kau menyebalkan!!” pekik sang adik. Mata itu langsung menatap tajam sang kakak yang masih melempar sebuah senyum samar. Dia tahu, kalau kakak nya itu memang sengaja membongkar kartu milik nya di depan sang Ibu.

 

To be Continue…..

4 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    May 16, 2015 @ 19:00:02

    mudh2hn kyu cpt ktmu sm yonjin…kayanya crtanya bkln seru nih authoor ak mau reques donk genrenya hrs comedinya jngn yng sdh2 ak ngga kuat bcnya klo yng sdih2mh..

    Reply

  2. B14FF
    May 16, 2015 @ 22:33:23

    yah… dikit banget -,-
    gak kebayang bgt ama kyunya tingkah begitu…
    and pas di noonanya itu… feel characternya itu paling dapet walopun baru nongol dikiiit bgt
    good job thor!

    Reply

  3. lieyabunda
    May 17, 2015 @ 14:01:04

    kira2 pertemuan mereka nanti seperti apa yaa,,,,,,
    lanjut

    Reply

  4. desy
    May 19, 2015 @ 08:55:21

    kecewa.. kecewa kurang panjang. keren banget ff nya (y). lanjutin yah thor jangan lama lama.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: