OCEAN-EYED WOMAN [2/?]

OCEAN-EYED WOMAN – Chapter 2

(IS IT YOU?)

Southern Ocean

 

Author             : Red

Cast                 : Lee Donghae

Park Hyura (OC)

The Ocean-Eyed Woman (I haven’t revealed her real name yet) (OC)

Genre              : Humor (untuk part ini dikhususkan ke sisi humor nya ^^)

Length             : Chapter

Disclaimer       : Everything in this FF is mine except Lee Donghae.

Note                 : This is the first sequel of Ocean-Eyed Woman. Read it first before reading this because if you don’t then you’ll get confused.

 

 

“If we’re meant to be together, you and I will meet again someday and on that day I’ll tell you my name, Lee Donghae.” – The Ocean-Eyed Woman

 

2011

Author’s POV

Matahari perlahan-lahan mulai menaiki tangga tembus pandang dilangit pagi ini. Burung-burung bersenandung merdu dan hembusan ringan angin menyebarkan wangi khas pagi hari. Orang-orang mulai bangun dari tidurnya untuk memulai harinya. Ada juga yang masih mengeliat enggan turun dari tempat tidur, termasuk pria satu ini. Tak dihiraukan weker yang masih terus bernyanyi disampingnya, pria ini menenggelamkan kepalanya dibawah bantal-bantal mencoba menghalau nanyian sang weker.

 

Cukup berhasil menghalau suara weker menusuk gendang telinganya, iapun kembali terlelap menuju alam mimpi lagi tapi sedetik kemudian serangkaian nada melantun dari ponselnya. Alarm.

 

Pria itu menggerutu sebal. Ia memang hampir setiap hari memiliki masalah dengan bangun pagi oleh karena itu ia sengaja memasang weker dan alarm ponsel dengan rentang waktu 5 menit jaga-jaga kalau ia ketiduran setelah mematikan weker.

 

Dengan penuh keengganan ia mematikan jam weker yang sedari tadi berbunyi memekakkan telinga dan juga mematikan alarm ponselnya. Sebal memang tiap hari harus bangun pagi dan pergi kekantor. Sebenarnya ia bisa saja datang jam 11 atau mungkin malah datang setelah jam makan siang, namun karena titelnya ia harus bisa menjaga sikap dan memberikan contoh teladan kepada bawahannya. Yea, benar. Pria ini adalah seorang Chief Executive Officer. Lee Donghae.

 

Donghae’s POV

At LeeFC

 

Sampai juga digedung pencetak uang keluargaku. Yeah inilah perusahaan yang ayahku berikan padaku untuk ditangani beberapa tahun yang lalu. Namanya LeeFC. ‘Lee’ dari nama keluargaku. ‘FC’ sebenarnya singkatan dari ‘Family Company’. Perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga maksudnya jabatan-jabatan penting diisi oleh anggota keluarga jadinya dinamakan Family Company. Terkadang rekan-rekan bisnisku memanggilku ‘Lee Donghae, CEO muda berbakat dari The LeeFC Company’ ahahah. Terkadang aku geli sendiri mendengarnya. Lee Family Company Company.

 

Kutekan tombol 16 disisi pintu lift. Lantai tertinggi, itulah lantai kantorku berada. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Segera saja kulangkahkan kakiku cepat-cepat keruanganku tanpa menghiraukan sapaan selamat pagi dari para bawahan. Maaf, tapi aku masih sangat-teramat-sungguh-mengantuk-sekali! Yang kuperlukan sekarang ialah sofa empuk yang ada diruanganku yang biasa kugunakan untuk menyambut rekan-rekan bisnisku.

 

Langsung kurebahkan punggungku ke sofa dan kucoba memejamkan mataku barang sebentar. Ingin rasanya aku tiduran disofa ini tapi bagaimana kalau ada karyawan yang masuk? Ah benar! Jangan tidur! Ah, tapi bosan juga. Pagi-pagi seperti ini sampai jam makan siang biasanya aku hanya memiliki sedikit sekali pekerjaan jadi coba bayangkan  betapa bosannya aku dan karena bosan kadar kantukku semakin menjadi-jadi.

 

Kuedarkan pandangan ke sekitar ruang kerjaku. Mataku terhenti pada lemari kaca yang memajang beberapa botol wine koleksiku. Aaah~  setiap kali melihat wine, kenangan-kenangan tentang wanita bermata samudera itu langsung mencekikku kencang. Walau sudah tak bertemu lebih dari dua tahun tapi rasanya kami baru bertemu kemarin. Kenangan mengenainya masih segar di otakku. Bayangannya terus saja melayang disisiku. Kekehan dan suaranya selalu menggangguku. Sosoknya terus-menerus memaksaku untuk menemukannya.

 

Kemana perginya dia selama ini?

Apa dia pernah walau sekali saja merindukanku?

Masihkan dia memikirkan aku?

Apa dia masih mengingatku?

Pernahkan sekali saja ia mencoba untuk mencariku?

Memikirkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini sungguh menyiksaku.

 

Hampir setiap malam aku pergi ke bar tempat kami bertemu. Duduk ditempat dimana takdir mempertemukan kami. Menelisir setiap jengkal bar mencoba mencari sosoknya. Kadang aku bahkan menegak wine sampai tak sadarkan diri berharap ia akan datang dan meciumku lagi sama seperti dua tahun yang lalu. Tapi nihil. Ia tak pernah datang menciumku lagi. Bahkan sosoknyapun sama sekali tak terlihat. Kau dimana?

 

~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~

 

“Donghae-ya kau hebat sekali! Kau mendapatkan kontrak besar itu! Tak salah kalau presiden menunjukmu menjadi CEO perusahaan ini.” ujar wanita disampingku.

“Oh tentu… aku Lee Donghae memang dilahirkan untuk menjadi CEO muda berbakat nan hebat.” Sombong sedikit tak apa, kan? Ayolah, aku baru saja menandatangani kontrak milyaran won!

 

Ah perkenalkan wanita disampingku ini adalah sekretarisku. Park Hyura, 25 tahun, 173 cm, 55 kg, putih, pintar, lulusan Seoul University, tipe wanita kuat tapi sayangnya selalu dingin. Walaupun kami ini CEO dan sekretaris tapi kami sudah seperti kakak dan adik. Kami sudah saling kenal sudah sekitar 5 tahun.

 

Banyak yang mengira kami sepasang kekasih. Kata mereka kedekatan kami tidak normal. Ia juga tak ku izinkan memanggilku dengan sebutan sajangninm. Hey! Mana ada adik yang memanggil kakaknya dengan sebutan itu! Aku juga suka mengacak-acak rambutnya dan ditambah sikap dinginnya pada semua pria, hanya padaku saja ia bersikap hangat, membuat gosip ini makin kencang saja. Ia menceritakan alasannya bersikap dingin pada semua pria. Aku mengerti posisinya. Sangat mengerti. Itulah mengapa aku sangat sayang padanya. Tapi tentu saja aku tidak menyukai Hyura sebagai seorang wanita. Ingat, aku menganggapnya sebagai adik yang harus kulindungi dan dia mengganggapku sebagai kakak yang melindunginya. Yea, walaupun orangtua kami terutama ommaku yang kepoh itu terus saja memaksa meminta kami berpacaran tapi maaf itu tak akan pernah terjadi.

 

Aku juga masih terikat dengan wanita bermata samudera itu. Orang-orang menganggapku gila karna masih mengharapkannya padahal aku tak tahu apa-apa mengenainya. Namanya pun tak tahu. Aarggh aku frustrasi setiap kali memikirkannya. Ke-frustrasi-an(?) inilah yang mengikatku padanya.

 

Aku juga sudah memberitahu Hyura tentang wanita itu. Hyura malah menceramahiku panjang lebar. Ia mengibaratkan kebodohanku seperti menunggu bulan februari memiliki 30 hari alias mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Dasar wanita tak memiliki perasaan! Oops, ia sungguh lembut sebenarnya.

 

Drett

Donghae-ya, ajak Hyura makan malam dirumah malam ini. Bawa ia kesini atau kau akan mendapatkan akibatnya – Omma

 

Uh omma! Untuk apa mengirimiku pesan singkat yang bisa diartikan sebagian ancaman seperti ini. Tanpa ancaman juga akan kubawa Hyura kerumah. Aku tak mau tidur dimobil lagi.

 

Yea, Ommaku termasuk omma yang lebih sayang pada anak orang lain ketimbang anaknya sendiri. Bayangkan saja waktu itu kurang lebih setahun yang lalu, aku lupa mengatakan pada Hyura kalau Omma mengajaknya makan malam bersama dirumah dan kalian tahu apa yang Omma lakukan padaku? Omma tidak memperbolehkanku masuk kedalam rumah dan menyuruhku tidur didalam mobil. Appa tak berani menentang Omma. Yea, Appa memang cemen /plak!/ Keesokan paginya aku merasa punggungku tidak bisa lurus lagi. Omma melihatku berjalan agak bungkuk bukannya meminta maaf malah menjitak kepalaku dan bilang, “Mana ada pria 25 tahun yang berjalan seperti ini? Aish umurmu berapa? 100 tahun? Bahkan harabojimu saja yang sudah 75 tahun lebih masih tegap jalannya.” Ommaku jahatkan? Ini baru satu, masih banyak lagi deritaku lainnya yang tidak mungkin aku ceritakan satu-satu karena banyaaaaaaak sekali.

 

“Hyura-ya, Omma mau kau kerumah nanti untuk makan malam.” Aku langsung saja mengatakannya pada Hyura mumpung dia masih disampingku. Takutnya aku kelupaan lagi. Aku tak mau berakhir naas lagi.

“Ah aku tak bisa malam ini. Aku harus menyelesaikan laporan.” Apa? Dia menolakku? Ooooh tidak bisa…

 

“Laporan itu sudah besok saja kau kerjakan. Aku tak mau tidur dimobil lagi kau tahu itu.” Ia malah tertawa. Aku memberitahunya perbuatan kejam ibuku. Ia juga sama teganya seperti ibuku. Bukannya menghiburku ia malah mengataiku bodoh. “Aishhh kau bodoh sekali, Donghae-ya! Kau kan bisa datang kerumahku dan menginap. Orangtuaku juga akan sangat senang. Bodoh!!”

 

“Aigoo uri CEO takut tidur dimobil lagi ternyata. Baiklah, aku akan datang. Aku kan ramah, baik hati dan tak bisa melihat orang lain menderita AHAHAHAH” Pletakk! Aku menjitak kepalanya keras.

 

“SAKIT!!!!!!” Ia meringis akibat jitakanku! Rasakan! “Kalau begitu aku tak mau pergi!”

“Ya! Apa kau bilang? Kalau kau tidak datang, aku akan mentransfermu ke bagian gudang biar kau mengangkut barang-barang berat dan kotor setiap hari.”

 

“Donghae-ya!!! Kau terlalu jahat!! Ia ia aku datang. Puas?? Tapi aku tak mau tahu kau harus mengantarku pulang nanti.”

“Tapi kalau terlalu malam aku tak mau. Maaf yah aku tak mau menunggu ahjumma ahjumma yang kalau mengobrol seperti kereta api.” Yea itu memang benar. Omma dan Hyura kalau bertemu pasti mengobrol terus seakan-akan mereka tak akan bertemu lagi besok. Belum lagi Hyura yang langsung bertransformasi menjadi ahjumma kalau melihat ibuku. Aku tidak mengerti mengapa wanita ini bisa mempunyai 3 kepribadian sekaligus. Kepribadiannya terhadap pria lain –dingin sekali-, kepribadiannya kepadaku –akrab sekali-, kepribadian kepada ommaku –ahjumma sekali-. Sebenarnya ia punya berapa kepribadian? Dasar wanita berkepribadian tripel!!

 

“Apa? Kalau aku ahjumma maka kau seorang haraboji!”

“Ya! Aku hanya lebih tua satu tahun darimu! Jangan sebut aku haraboji! Dasar nenek sihir!!!!” Aku mengacak acak rambutnya lalu langsung melesat masuk keruanganku. Aku tak mau ia balas mengacak-acak rambutku.

 

Oops, beberapa karyawan ternyata melihat tingkah kami. Artinya kejadian barusan akan menjadi topik yang wajib untuk diobrolkan satu gedung ini untuk beberapa hari kemudian.

 

~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~

 

Park Hyura’s POV

Ku regangkan otot leherku yang kaku akibat menatap layar komputer berjam-jam. Eung… jam berapa ini? 5:56 SORE!! Itu artinya aku dan Donghae harus cepat cepat melesat kerumahnya karna makan malam dimulai jam 6:30. Langsung saja aku masuk ke ruang kerja Donghae yang letaknya tepat dibelakang tempat kerjaku tanpa mengetuk pintu dulu. Toh, dia tak akan marah hehehe.

 

Eung.. gelap. Mengapa dia tak menyalakan lampu sama sekali padahal ia fobia kegelapan? Kutelusuri ruangnya yang minim cahaya itu sambil menelusuri dinding mencari tombol lampu dan tak lama kemudian akupun menemukannya. Kerena memang pekerjaanku sebagai sekretarisnya yang juga merangkap sebagai asisten pribadi jadi aku tahu betul setiap jengkal ruangannya dan tentu kepribadiannya juga.

 

Kini ruang kerjanya telah diterangi lampu dan akupun menemukan Donghae sedang tertidur dibangku kerja besarnya. Pantas lampu tak dinyalakannya, sedang tertidur rupanya.

 

Ku dekati dirinya yang tertidur pulas. Ku teliti wajahnya lekat. Ia… tampan juga. Pantas saja semua wanita dikantor ini menyukainya. Bahkan setiap kali ia ada meeting diluar kantor, meeting di kafe misalnya, semua wanita dikafe itu pasti akan terpaku padanya. Kadang aku melihat wanita-wanita itu dengan agak jijik. Bagaimana tidak, mereka menatap Donghae dengan tatapan seakan-akan mereka akan menerkamnya saat itu juga. Itulah alasannya aku benci menemaninya tiap kali ada meeting diluar tapi apa daya. Pekerjaanku menuntututku untuk bersikap profesional. Bahkan, walaupun aku bukan sekretarisnya aku yakin Donghae juga akan memaksaku untuk ikut. Terkadang kami juga menghabiskan waktu bersama. Dan wanita-wanita penggila pria akan selalu saja memberikan tatapan menjijikan itu. Aku rasa seluruh wanita didunia ini pasti akan tergoda akan ketampanan wajahnya. Well, terkecuali aku.

 

Pasti orang-orang diluar sana menganggapku gila karna aku tak menyukainya dalam artian jatuh hati padanya. Sama seperti orang-orang menggangap Donghae gila karena mengharapkan cinta dari wanita yang bahkan namanya saja ia tidak tahu.

 

Aku melihatnya sebagai seorang kakak bukan sebagai lelaki. Walau kedua orangtua kami telah berkali kali menyarankan kami untuk berpacaran tapi entahlah aku hanya tak mau menjadi pacarnya. Yea, panggil aku wanita gila karna aku tak mau menjadi pacar seorang Lee Donghae yang notabene adalah seorang CEO muda berbakat, kaya, baik dan tampan pula.

 

Orang yang pernah diselamatkan hidupnya oleh orang lain pasti merasa sangat bersyukur dan berterima kasih pada orang yang menyelamatkannya kan? Orang-orang yang diselamatkan tersebut pasti akan melakukan apa saja untuk membalas kebaikan penyelamatnya. Memenuhi semua permintaan penyelamatnya.

 

Dalam kasusku Donghae adalah penyelamatku. Penyelamat hidup dan nyawaku. Ia menarikku keluar dari mobilku yang hampir meledak selain itu ia juga menarik tubuhku kedepakapannya, menggagalkan aksi bunuh diriku diatap rumah sakit aku dirawat akibat kecelakaan itu.

 

Kami sama-sama anak tunggal. Oleh karena itu Donghae memintaku untuk membalasnya dengan menganggapnya sebagai kakak kandungku. Katanya ia ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai adik. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak jadi kuturuti saja keinginannya. Kami memang berbeda satu tahun. Dia 26 tahun dan aku 25 tahun. Ia sudah memintaku begitu maka aku hanya mengikutinya saja.

 

Walaupun ia tak memintaku untuk menganggapnya sebagai kakak aku juga akan tetap melihatnya sebagai kakak dan maaf yah aku tak mau menjadi pacarnya. Aku berfikir kalau kau menjadi kekasih orang yang menyelamatkanmu maka kesempatanmu membalas budinya akan terbatas karna sepasang kekasih bisa berpisah juga suatu hari, kan? Tetapi kalau kau membalasnya sebagai seorang adik maka sepanjang hidupmu kau akan bisa membalas kebaikannya. Ingat, hubungan kakak adik tak bisa diputuskan dengan cara apapun.

 

Agak lama aku meneliti wajah malaikat hidup ini tak sadar aku kalau sekarang sudah jam 6:19. Langsung ku bangunkan saja dia. Kalian berfikir kalian mentoel-toel (?) lengannya atau membisikan ‘Donghae-ya, bangun..’ ia akan bangun? Kalau kalian berfikir itu akan berhasil maka kalian salah. Walaupun ia adalah seorang malaikat tetapi kau perlu cara iblis untuk membangunkannya. Mencubit pipinya? Menarik rambutnya? Mempercik-percikan air dimukanya? Itu semua cara malaikat. Ingat, yang kita perlukan adalah cara iblis untuk membangunkannya. Mau tahu?

 

Kutarik 5 atau 7 -entahlah aku tak mau menghitung benda berkelok kelok ini- bulu kakinya secara bersamaan.

 

“AAAAAAAARRRRRGGGGGGGG!!!!!!!!!! SAKITTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!” Lihat ia langsung terbangun, kan? Hehehe inilah yang kusebut cara iblis.

 

“YA!! PARK HYURA!! Sakit sekali!!!” Ia meringis sambil mengelus-elus permukaan kulit kakinya dimana aku menarik buku kakinya tadi ahahaha.

 

“Siapa suruh kau tak bisa dibangunkan dengan cara manusiawi.” Aku hanya bisa menahan tawaku sampai tenggorokanku sedikit.

“Ayo, cepat! Ini sudah 6:19… oh ini 6:20 sekarang! Ayo cepat kerumahmu!!”

“IYAA!!!!!!” Ia langsung memakai jas yang tergantung di dekat meja kerjanya. Ia berjalan keluar dengan gagahnya seakan tak terjadi apa apa. Ah, bodoh!!

 

“Ya, Lee Donghae! Kau mau berjalan keluar dengan lautan besar disudut kanan bibirmu?” Kali ini aku tak kuat menahan tawaku jadi yah kelepasan ahahaha. Ia buru-buru menghapus lautan itu dengan tangan kirinya. Dia ini! Selalu saja begini. Apa benar pria ini berumur 25 tahun? Aku rasa ia baru berumur 5 tahun. Aku terus tertawa. Puas rasanya mempermalukannya. Tak sadar aku bahwa ia sekarang berdiri tepat didepanku. Wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun. Dan percayalah atmosfer diruangan ini tiba-tiba menjadi sangat… aneh?  Ia menelungkupkan tangan kirinya dipipi kananku. Ish mengapa atmosfer semakin aneh??

 

“Kenapa?” Tanyaku perlahan.

 

Sluuuuuuutttttt Ia menyapukan tangan kirinya tepat dipipi kananku dan langsung berlari menjauh. Tunggu! Pipiku jadi basah. Sebentar, tangan kiri? Ia menyapukan tangan kirinya dipipiku dan sekarang pipiku terasa agak basah? Tangan yang tadi ia gunakan untuk menghapus lautannya!!!

 

“YA!! LEE DONGHAE KAU MATI SEKARANG!!!!”

 

~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~O~~O~O~O~O~O~O~O~

 

Park Hyura’s POV

Lee’s House

9:48 pm

 

“Ommo! Sudah hampir jam 10 malam!! Hyura-ya, maaf yah ahjumma terlalu bersemangat mengobrolnya sampai lupa waktu.”

“Ah, tidak apa-apa ahjumma. Selama Donghae mau mengantarku pulang aku tak apa-apa. Sungguh” Jawabku ceria. Mengobrol dengan ibunya Donghae sampai malam memang salah satu hobiku. Tak perduli kalian anggap aku aneh karena suka mengobrol dengan ahjumma-ahjumma, tapi hey berbincang dengan ibu Donghae sama seperti berbincang dengan teman sebaya. Ibu Donghae sungguh komunikatif dan berwawasan luas. Yea, memang mereka sekeluarga komunikatif dan berwawasan luas.

 

“Ya! Kau pikir aku supirmu?! Kau tak keberatan pulang malam tapi aku keberatan!” Donghae menyembur saja. Dasar tukang ngiler!

“Ayo pulang sekarang! Mana ada wanita yang belum pulang jam segini. Kau tak punya rumah, hah?” Ish orang ini! Kalau tak ada ibunya disini akan kupastikan ia akan langsung menjadi pepes ikan teri. Ahjussi memang sudah tidur. Lelah katanya.

 

“Aigoo, uri Donghae perhatian sekali.” Ahjumma memujinya? Ah tentu, ikan ini kan memang anaknya.

“Omma! Bukan begitu. Aku malas mengantarnya malam-malam. Aku capek omma. Omma tak melihat mataku sudah bertransformasi menjadi mata panda. Aku juga semakin kurus.” Ia menunjukkan aegyonya. Aegyo!!!!

 

“25 tahun dan masih menyogok Ommamu dengan aegyo? Apa kau bocah umur 5 tahun yang terperangkap ditubuh pria umur 25 tahun?” Celotehanku langsung disambut tawa-dan-tepuk-tangan-macam-habis-menang-panjat-pinang dari ahjumma.

 

“Benar kata Hyura. Donghae-ya, kau yakin kau tak merasa jiwamu terjebak ditubuhmu yang sekarang ini, nak?” Ahjumma menggodanya. Wajahnya sekarang tak bisa dijelaskan. Sungguh sangat-sangat-sangat lucu!!!! Aku hanya bisa terbahak-bahak. Ini kali pertamanya ahjumma bersikap kejam padanya dihadapanku. Maklum selama ini aku hanya mendengarnya saja dari Donghae atau ahjussi saja.

 

“OMMA!!!! OMMA PIKIR AKU JIWA ANAK KECIL YANG TERJEBAK DI TUBUH INI??!!! AISHH OMMA YANG BENAR SAJA!!!!”

“Ne ne ne ne. Maaf.” Jawab ahjumma tidak sepenuh hati.

 

“Yasudah antarkan Hyura pulang, sudah malam juga. Tapi, sebentar….” Ahjumma berlari kecil menuju laci pantry mengambil sesuatu yang ternyata dua lembar kertas.

 

“Ambillah. Pergilah berdua. Kalian sekali-kali perlu bersenang-senang.” Ahjumma memberikanku selembar kertasnya dan memberikan satu lagi untuk Donghae. Ahjumma menyunggingkan senyuman iblisnya. Eung… mendengar kata ‘bersenang-senang’ ditambah evil-smirk ahjumma membuatku sedikit was-was. Ku lihat lembar kertas ditanganku. Jangan sampai yang aneh-aneh.. ahhhh tidak!!!! Tapi tunggu! Oh, ternyata ini tiket masuk Lotte World.

 

“Omma, yang benar saja. Omma menyimpan tiket Lotte World di laci pantry? Jangan-jangan Omma menyimpan uang juga disana ya?” tanya Donghae.

“Donghae-ya, kalau kau nanti memiliki anak yang sikapnya mirip denganmu, maka kau akan mengerti mengapa Omma sering menyimpan barang ditempat-tempat yang tidak terduga.”

“Omma pikir aku suka mencuri barang?!” Donghae terlihat kesal. Ahahah aku benar-benar menyukai saat-saat seperti ini dimana Ahjumma menyerang Donghae habis-habisan dan Donghae hanya bisa memasang wajah kecutnya.

 

THE NEXT NOON

Park Hyura’s POV

 

Sudah hampir 4 jam kami mengitari Lotte World. Hampir semua wahana sudah kami naiki. Sepertinya sudah tak ada wahana tersisa lagi. Donghae kelihatan sudah sangat kelelahan. Ia menarikku ke food court. Aku juga sebenarnya agak lelah tapi tak selelah Donghae. Dia memang tipe orang yang cepat kelelahan. Payah. Lelaki macam apa ini. Difood courtpun kami duduk disembarang tempat. Terlalu lelah untuk memilih-milih.

 

“Hyura-ya! Belikan aku jus disana. Aku haus.” Katanya sambil menunjuk juice shop yang letaknya tepat disebrang kami. Jujur, aku juga haus. Sangat haus malah. Aku juga mau jus yang dijual disana tapi Tuhan…. Antriannya panjang sekali, tentu saja aku tak mau mengantri disana kecuali ia ikut mengantri.

 

“Ayo kau juga ikut. Aku tak mau mengantri sendirian disana.”

“Hyura-ya.. aku sudah tak kuat berjalan lagi.” Ia memasang wajah memelasnya dan dipadu dengan aegyo mautnya. Mengapa makhluk seperti ini kau ciptakan Tuhan?? Hampir saja aku mengikuti kemauannya tapi untungnya kesadaranku muncul lagi.

 

“Tidak. Mau.”

“Park Hyura-ssi, aku menyuruhmu sebagai seorang atasan. Kalau kau masih tak mau membelikanku jus disana maka aku akan mentransfermu kebagian gudang dan juga menurunkan jabatanmu menjadi kuli panggul.”

“IYA IYA AKU BELIKAN. Kau tunggulah aku disini. Jangan pergi kemana-mana. Aku tak mau berlari kepusat infomasi hanya untuk memohon pada mereka membuat pengumuman orang hilang.”

 

PLETAAAKKKK dia menjitakku tepat dikening.

 

“Kau pikir aku anak kecil!!!!” Aku meringis kesakitan. Dia kejam sekali orang ini. Aku langsung pergi meninggalkannya saja dari pada kepalaku menderita lagi.

 

Lee Donghae’s POV

“IYA IYA AKU BELIKAN. Kau tunggulah aku disini. Jangan pergi kemana mana. Aku tak mau berlari kepusat infomasi hanya untuk memohon pada mereka untuk membuat pengumuman orang hilang”

 

PLETAAAKKKK aku menjitaknya tepat dikening.

 

“Kau pikir aku anak kecil!!!!” Ia meringis. Dia pikir aku anak kecil?! Ia langsung melesat menjauhiku, pasti karna tak mau kujitak lagi ahaha.

 

Kupijit betis dan pahaku yang terlalu pegal ini. Bayangkan saja 4 jam mengelilingi Lotte World apa tak pegal. Rasanya berdiripun aku sudah tak sanggup. Untung Hyura bisa aku paksa pinta membelikan jus disebrang sana ya walaupun harus kuancam terlebih dahulu hehehe terkadang menjadi bosnya memberikanku kesenangan tersendiri.

 

Ku regangkan seluruh bagian tubuhku walau tak banyak membantu tapi setidaknya dapat mengurangi rasa pegal ini. Kuedarkan pandanganku ke stand-stand yang letaknya tak jauh dari tempatku duduk sekarang.

 

Eung… PATBINGSU!!!!!!! Mengapa aku baru melihat ada yang menjual patbinsu? Kalau aku melihat patbingsu itu terlebih dahulu aku tak akan memaksanya memintanya untuk membelikan aku jus disana. Apa aku harus memaksanya memintanya untuk membeli  patbingsu itu? Tapi aku kasihan padanya. Aku yakin dia juga pegal sekali sama sepertiku.

 

Ku terus menelusuri setiap toko difood court ini juga pembeli-pembelinya. Pandanganku terhenti disebuah toko yang menjual wine. Bukan karna berbagai merek wine yang pedagang itu pajang dietalasenya. Melainkan salah seorang pembelinya yang berdiri membelakangiku.

 

Dari jarak yang tak terlalu jauh ini aku dapat dengan cukup jelas penampilan pembeli itu yang merupakan seorang wanita. Rambutnya diikat kuda rapi, ruffle dress selutut berwarna peach yang dipadu dengan pumps berwarna senada yang aku yakin tingginya tak kurang dari 10 cm.

 

Wanita itu pasti gila. Tak ada yang datang ke Lotte World dengan menggunakan dress. Terlebih lagi, ia mau kehilangan kakinya? Pengunjung Lotte World selalu memakai sneakers atau setidaknya footwear yang normal untuk dipakai disini bukan sepasang pumps. Ia sungguh berbeda.

 

Tak lama kemudian ia selesai memilih wine dan membayarnya. Ia pun membalikkan badannya sehingga tak lagi membelakangiku, mengekspos wajahnya. Nafasku tercekat. Tubuhku bereaksi aneh. Jantungku berdetak tak terkontrol. Wajah itu… wajah yang kucari selama 2 tahun belakangan ini. Wajah wanita bermata samudera itu. Itu dia… itu… benarkah dia wanita bermata samudera itu?

 

TBC~

 

With Love,

Red

4 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    May 19, 2015 @ 05:54:01

    Ketemu lg….
    Tapi tuh cewek msh kenal gak sih sm donghae???

    Reply

  2. tabiyan
    May 20, 2015 @ 06:12:09

    Aih aih ketemu sama cinta pd pandangan pertama nya lagi hehehhehehe, berasa jodoh dh hehehe

    Reply

  3. jees
    May 20, 2015 @ 11:22:57

    Ngakak banget part ini yg bagian pas dirumah donghae itu ngakak bgt! Ditunggu kelanjutannya….

    Reply

  4. Elva
    Nov 13, 2015 @ 06:07:37

    Akhirnya ketemu juga …
    Tp siapa sebenernya cewek itu . Knp misterius bgt .
    Apa bener klo ga ada sama sekali perasaan hyura ke donghae ? Dia kan nyaris perfect !😀
    Makin seru ceritanya .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: