OCEAN-EYED WOMAN [3/?]

OCEAN-EYED WOMAN – Chapter 3

(I DON’T WANT YOUR PROMISE, I WANT YOU)

 Southern Ocean

 

Author             : Red

Cast                 : Lee Donghae

Park Hyura (OC)

The Ocean-Eyed Woman

Genre              : Romance

Length             : Chapter

Disclaimer       : Everything in this FF is mine except Lee Donghae.

Note                : The 1st story is called Ocean-Eyed Woman, 2nd is Is It You? And this is the  3rd story. Read the other 2 first before reading this. Don’t bash don’t plagiarize don’t be a silent reader. ENJOYYYYYY

 

 

 

…..Nafasku tercekat. Tubuhku bereaksi aneh. Jantungku berdetak tak terkontrol. Wajah itu… wajah yang kucari selama 2 tahun belakangan ini. Wajah wanita bermata samudera itu. Itu dia… itu… benarkah itu dia…

 

 

LEE DONGHAE’S POV

Belum sempat aku mencerna apa yang sedang terjadi, aku melihatnya mulai meninggalkan toko wine itu. Tanpa perintah dari otakku, kakiku sudah berlari kearahnya. Lariku bisa dibilang agak sempoyongan karna aku masih syok dan tak bisa mengerti semua ini.

 

Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengejarnya karna memang jarak kami tak begitu jauh dari awal aku memperhatikannya. Kini aku tepat berada dibelakangnya, berjalan perlahan mencoba mengikuti derap langkahnya. Nafasku makin tercekat dengan jarak diantara kami yang begini dekat. Bisa kurasakan juga kalau kepalaku mulai berputar. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sungguh, otakku tak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan ini.

 

Kuberanikan diriku untuk menyentuh bahu kanannya perlahan dengan tangan kiriku. Sadar ada yang menyentuh bahunya ia pun menghentikan langkah kakinya. Perlahan ia menolehkan kepalanya menatapku. Jiwaku seperti melayang di udara. Wanita ini.. Kedua bola samudera itu langsung menarik seluruh perhatianku. Benar, ini dia.

 

Ia menatapku lekat, tampak mencari jawaban diwajahku. Aku hanya terus memandanginya. Memandangi samudera dimatanya. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya pita suaraku sudah diikat kuat.

 

Keningnya berkerut sedikit, seperti sedang mengingat atau malah menuntut jawaban. Tak ku perdulikan tatapan menuntutnya, terus saja aku menatapnya tepat dibola matanya. Mengarungi samudera dibaliknya.

 

Mr. Wine?” Ucapnya lembut sambil tersenyum lembut. Ia mengingatku! Sebersit perasaan senang menyelimutiku.

“Kau… kau mengingatku?” Tanyaku tak percaya.

“Tentu.” Senyumannya merekah, makin memabukkanku. “Kau pikir aku melupakan orang keempat?” Tanyanya retoris sambil tekekeh pelan.

 

Aku langsung menarik tubuhnya kedalam pelukanku. Kupeluk ia erat… sangat erat seakan akan menyaratkan kalau ia hanya miliku seorang.

 

“Aku merindukanmu, sangat… Apa kau merindukanku?” Dua tahun tanpa mengetahui dia berada dimana membuatku seperti tak memiliki nyawa. Orang lain menganggapku gila karna merindukan sosok wanita ini. Sosok yang bahkan aku tak tahu namanya. Aku mengeratkan pelukanku. Persetan dengan pandangan orang orang sekitar yang memandang kami aneh seakan kami ini aktris aktor yang mereka lihat di drama-drama tv.

 

I missed you as bad as you missed me.” Seulas senyum terbentuk diwajahku. Aku pun makin memeluknya erat namun ia melepaskan pelukanku dengan lembut. “Aku tidak bisa bernafas.” Ia terkekeh. Aku merasa malu menatapnya.

 

“Mau menemaniku?” tanyanya sambil memamerkan senyuman terbaiknya.

“Tentu.”

 

~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~

 

“Kita mau main apa lagi?” tanyanya.

“Mmmm… aku tak tahu sebenarnya. Pilih saja permainan yang kau anggap bagus aku pasti akan setuju.”

 

“Apa kau tak pegal? Kau bilang kau sudah mengelilingi Lotte World ini selama 4 jam sebelum kau melihatku. Aku tak mau kehilangan kakimu.” Ia tertawa pelan. Yea, memang aku merasa akan kehilangan kakiku tapi seiring aku berjalan dengannya rasa pegalku tiba-tiba saja menguap entah kemana.

 

“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Kau memakai pumps 10 cm itu. Kau tak pegal?“

Correction, 12-cm pumps.” Ia membanggakan dirinya sambil tersenyum entahlah~ senyuman itu terlihat begitu menawan dimataku.

 

“Ah tunggu! Dimana temanmu? Kau bilang kau kesini dengan temanmu, dimana dia? Kau sudah menelponnya? Sudah lebih dari sejam kita bersama.” Ah, benar! Hyura! Aku melupakannya. aku sudah bersama wanita ini lebih dari sejam yang artinya aku sudah meninggalkan Hyura difood court tadi selama lebih dari 60 menit. Ish, mengapa aku bisa lupa menelponnya.

 

Call her. I also want to buy a cup of ice coffee there, want a cup?” Aku hanya mengangguk pelan.

 

Langsung saja kurogoh kantong celanaku mengambil handphoneku. Issshhh mengapa aku lupa kalau handphoneku aku matikan??!! Ia pasti sudah menelponku berkali-kali. Ku hidupkan handphoneku dengan segera. Tak lama kemudian handphoneku ready to use dan benar saja ia sudah menelponku sebanyak 17 kali dan ada 1 pesan singkat darinya.

 

Aku pun langsung menelponnya dan tak perlu waktu lama untuk Hyura mengangkat panggilanku.

 

YA LEE DONGHAE KAU MAU MATI?! DIMANA KAU!!”  Ku jauhkan handphoneku dari telingaku. Issh mengapa kau teriak-teriak.

 

“Hyura-ya, jangan teriak. Aku belum tuli tahu.”

Kau tahu aku sudah menelponmu berkali-kali tapi tak kau jawab!! Kau kemana?? Sudahku bilang jangan kemana-mana!! Aku berlari ke pusat informasi memohon-mohon pada petugas untuk membuat panggilan melalui pengeras suara!! Ya, kau bosan hidup?!”

 

“Tapi itu belum terjadi, kan?” Ucapku santai.

YA!! MEREKA SUDAH MELAKUKAN PENGUMUMAN 4 KALI LEE DONGHAE!”

“A apa? Tapi aku tak mendengar apa-apa Hyura-ya.”

KAU TULI?! YA DONGHAE  KATAKAN KAU DIMANA SEKARANG!!”

 

Aku.. aku masih di Lotte World, kok. Hyura-ya, kau pulang saja duluan ok. Aku bertemu dengan wanita bermata samuderaku. Aku mau menghabiskan waktuku dengannya dulu ok. Hyura-ya sekali ini saja, ya ya?”

TERSERAH KAU SAJA AKU MALAS!”

‘Hy.. Hyura-ya? Hyura!!!” Aish mengapa ia mematikan panggilannya. Maafkan aku Hyura-ya, tapi aku benar-benar ingin bersama wanita ini seharian. Sekali ini saja.. maafkan aku.

 

Aku tidak bermaksud melupakan keberadaan Hyura tapi aku benar-benar lupa. Aku benar -benar lupa akan segalanya semenjak mataku menangkap sosok wanita ini tadi difood court.

 

Mr. Wine…” Wanita itu menginterupsiku sambil menyodorkan segelas ice coffee.  

Thank you.” sahutku seraya mengambil gelas itu dari tangannya.

“Kau sudah menghubunginya? Dimana dia sekarang?”

“She… mmmm…. She met her old friend while buying juice. They spent the last one hour eating and now she’s heading home. Yea.. she’s… she’s heading home.” ucapku berbohong. Maafkan aku Hyura-ya.

 

“Good. So I don’t have to be worried because I wanna kidnap you.”

“Kidnap me?”

“Yea, you don’t mind, do you?” ucapnya sedikit seduktif dan aku hanya tersenyum bodoh. “Ok, now let’s go to Insadong. Where did you park your car?” Ia menarik tanganku sambil terkekeh.

 

@Insadong

Ku parkirkan mobilku disembarang tempat karna tak sabar untuk melihat street performance. Sebenarnya yang tak sabar adalah wanita bermata samudera ini. Sepanjang jalan ia terus menceritakan pertunjukan seniman jalanan disepanjang jalan Insadong. Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya karena memang aku tak mau banyak bicara. Aku hanya ingin merekam suaranya didalam otak dan hatiku.

 

Ia bercerita street performance biasanya dimulai dari jam 6 sore sampai malam. Ia juga bercerita kalau ia sering datang ke Insadong hanya untuk menonton street performance dari artis-artis jalanan. Ia juga memuji para performers yang menyuguhkan aksinya didepan orang orang tanpa meminta sedikitpun bayaran atas aksinya.

 

Kami berjalan mengikuti barisan-barisan manusia lainnya yang sedang berjalan menelusuri jalanan Insadong. Insadong bisa dibilang pusatnya para turis berkumpul. Dari tadi aku bisa melihat banyak turis berlalu lalang. Disepanjang jalanpun banyak toko-toko yang menjual mulai dari barang antik hingga makanan. Ditambah dengan street performance, Insadong memang surganya para turis yang berkunjung ke Seoul.

 

“Ayo beli itu.” Ia menunjuk sebuah kedai ice cream tak jauh dari posisi kami sekarang.

 

Setelah membayar ice cream kami, kami pun kembali menelusuri jalanan Insadong.

“Oh liat itu,” Ia menunjuk orang orang yang sedang berkerumun tak jauh di depan kami. “ternyata sudah ada yang beraksi.” lanjutnya. Ia menarik tanganku menuju gerombolan orang-orang itu dan menerobosnya.

 

Ah ini yang disebut street performance. Cukup sederhana sebenarnya. Kelompok ini terdiri dari 5 orang dimana 2 orang dari mereka bernyanyi. Sedangkan 3 yang lainnya memainkan instrumen. Lagu yang mereka bawakan juga enak didengar dan sepertinya mereka menciptakannya sendiri.

 

Tak lama kemudian penampilannya berakhir. Kami semua yang bergerombol disini bertepuk tangan meriah. Performers tadi membungkukkan punggung mereka 90 derajat kesegala arah sambil tersenyum lebar. Mereka sangat sopan dan terlihat ramah. Kami pun berjalan mencari performances lainnya. Ternyata tak sulit mencarinya. Kearah manapun matamu memandang kau bisa melihat para street performers memamerkan bakat mereka. Mulai dari seorang kakek tua yang memainkan klarinetnya, pesulap  hingga penari. Pemandangan yang sangat indah menurutku. Aku dan wanita disampingku begitu terbuai dengan pertunjukan yang disuguhkan oleh banyak seniman disini hingga kami tak menyadari kalau sudah jam 8 lewat. Time does fly so fast, right?

 

“Ayo naik ke atas Ssamzie. Itu, itu Ssamzie.” Ia menunjuk sebuah gedung tinggi tepat didepan kami. Gedung itu bercat hitam gelap dengan tumbuhan rambat disekeliling temboknya.

 

“Ayo masuk. Kita makan dulu. Didalam sana selain toko-toko yang menjual berbagai macam barang, banyak sekali kafe dan restoran. Setelah itu baru ke rooftop.”

“Rooftop? Untuk apa? Kau mau bunuh diri?” Entahlah aku selalu bergidik ngeri setiap kali mendengar kata ‘rooftop’ semenjak Hyura mencoba bunuh diri di rooftop rumah sakit waktu itu.

 

“Hahaha tidak! Aku memang pernah berfikir untuk bunuh diri tapi tidak dengan cara melompat dari rooftop gedung Ssamzie.” Aku bisa melihat bahwa tawanya sekarang bukan merupakan tawa yang lepas. Lebih terlihat seperti tawa miris. Tawa yang penuh dengan penderitaan. Ia terlihat seperti seorang wanita lemah yang harus dilindungi dengan sangat padahal selama ini ia terlihat seperti wanita kuat.

 

“Ka..” Ucapanku langsung saja dipotongnya

“Diatas sana ada taman kecil dan juga bangku taman. Aku ingin kau menemaniku menikmati langit Seoul malam ini.” Tawa mirisnya kini sudah digantikan dengan senyuman lembut. Ia langsung menarik tanganku memasuki gedung bernama Ssamzie ini.

 

00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~00~~~

 

Kami duduk santai dirooftop Ssamize. Ia mengatakan kalau melihat langit malam Seoul dari sini langitnya lebih indah dari pada melihatnya di Namsan Tower dan memang ucapannya benar. Langit Seoul terlihat lebih indah disini. Banyak sekali bintang yang terlihat disini berbeda dengan yang di Namsan. Kami mengamati langit malam Seoul dalam diam. Tenggelam dalam keindahannya.

 

“Bagus, kan?” tanyanya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari lautan bintang diatas kami. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum. “Dulu, aku benci sekali tenpat ini.” lanjutnya. Aku menatap wajahnya dalam. Wajahnya menyaratkan kesedihan ditambah dengan adanya senyuman getir dibibirnya

 

“Mengapa?”

“Karena tempat ini yang membuat hidupku berantakan. Membuat aku menangis setiap hari. Membuatku membenci hidupku sendiri.” katanya tetap memandang langit dan tetap memasang senyuman itu.

 

“Mengapa? Ceritakan padaku…” Aku menyapu lembut pipinya dengan jemariku.

 

“Dulu… hidupku penuh dengan masalah. Hingga disatu titik aku merasa sangat sedih dan ingin bunuh diri disini. Bunuh diri ditempat dimana semua penderitaanku berawal,” Sebulir air mata mengalir dipipinya. Kuseka segera air mata itu.

 

“Tapi.. setelah sampai disini tujuan awalku untuk bunuh diri menguap entah kemana,” Ia menolehkan kepalanya memandangku. Air matanya turun lagi dikedua matanya. Kuseka lagi dengan segera. Ia hanya tersenyum. Senyuman itu tak kunjung lepas dari pertama kami berada diatap Ssamize. Lalu ia memandang bintang-bintang lagi.

 

“Itu… bintang-bintang itu… mereka menyelamatkanku,” ucapnya seraya menunjuk langit. “Sesaat aku memandangnya, niatanku untuk bunuh diri langsung sirna. Mereka menyerap niat burukku. Mereka ajaib, bukan?”

 

Aku tak mengerti dengannya. Saat pertama kami bertemu ia terlihat seperti wanita bebas yang kuat dan sempurna tetapi ternyata hidupnya rumit dan berliku. Ia tidak lagi wanita yang kuat melainkan wanita lemah yang butuh perlindungan.

 

“Kau pasti berfikir kalau aku adalah wanita kuat, sempurna, memiliki segalanya dan menikmati hidup sesuka hatiku bukan?” Ia membaca pikiranku!

“Mmm… yea…” Wanita itu hanya terkekeh pelan mendengar jawabanku.

“You don’t know anything about me, Mr. Wine.”

“Then, tell me the whole thing about you.” pintaku. Ia menoleh menatapku dalam. Kedua bola mata samuderanya menarikku hingga kedasar jurangnya. Seakan menjeratku dengan tali-tali tembus pandang, dasar samuderanya tak melepaskan jeratannya.

 

“It’s not the right timing…”

“2 years ago you left me with nothing but this crazy feelings. I kept that alive until now. Don’t you know that I love you?? I love you… I’ve never been this crazy over a woman. This is the right timing.” ujarku gusar seraya mengenggam kedua tangannya erat mencoba menyakinkannya. Aku tak mau kehilangannya lagi kali ini.  2 tahun mencarinya bukanlah waktu yang singkat. Terlebih lagi aku mencintainya padahal aku tak tahu apapun tentangnya. Namanya saja aku tidak tahu.  Kalau kalian mengatakan aku gila, benar, mungkin aku gila. Tapi kalian tidak mengerti. Ini tentang hatiku yang telah tenggelam disamudera wanita ini. Aku ini sandera.

 

“I don’t want anyone to tangle me,” Ia melepaskan genggamanku “I’m not ready yet..” gumamnya pelan. Aku tak mengerti ini semua.

 

“I can convince you..”

“How? Mr. Wine, I’m here just because I want to fulfill my promise from 2 years ago.” Ia menyapukan jemarinya lembut diwajahku.

 

“DON’T!!!” teriakku. Karena aku tahu setelah ia memenuhi janjinya 2 tahun lalu ia akan langsung pergi meninggalkanku oleh sebab itu aku tak ingin ia memenuhi janjinya. Tak apa kalau aku selamanya tak tahu siapa namanya, asalkan ia terus berada disisiku, setidaknya aku dapat melihat dan membelainya, maka tak apa kalau selamanya aku mencintai seorang wanita tanpa nama.

 

“I don’t want your promise! I want you! Don’t you get it?! I want you!” Aku menaikkan sedikit nada suaraku mencoba memberikan penekanan pada setiap kata.

 

“You don’t know anything about me..” Ia tersenyum getir.

 

“YET!! I don’t know anything about you YET! Gimme time and let me know you inside out. I wanna be your man. I wanna be right beside you every single time. Wanna be the first person you call if you’re happy or sad. I wanna be there!! I wanna be the one!! I wanna be in your heart!!” ucapku tambah gusar. Tak bisa kujelaskan tapi perasaan ini sungguh tak kumengerti. Antara marah dan sedih… perasaan macam apa ini? Apa karena aku takut kehilangannya lagi? Mengapa ia tidak mengerti dengan hatiku? Mengapa ia hanya tersenyum getir lagi? Mengapa?? Bisakah seseorang menjawabnya?

 

“I don’t need one. My soul is my guardian.”

 

Tidak.

 

“I’m here for nothing but just to tell you my name.”

“I SAY DON’T!” Aku meremas kasar kedua pergelangan tangannya. Aku kalut. Takut kalau aku kehilangannya lagi. Keningku berkerut, aku bisa merasakannya. Kutahan amarahku, aku tak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya. Ia melepaskan genggamanku lalu mengangkat daguku agar sejajar dengan pandangannya mencoba mengendalikan api dikedua mataku.

 

“I think I should call you Mr. Wrinkle from now on,” Ia terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana namun tidak berhasil.

 

“Eun Soo. Jang Eun Soo.” Ia mengucapkan namanya, sedetik kemudian ia berjalan meninggalkanku. Tanpa perintah otakku, tanganku langsung menarik lengannya dan mendekapnya erat. Sangat erat.

 

“Don’t go…” ucapku meminta tapi dia hanya membalas dengan tawa pelannya.

“I should go… if you’re really my guardian angel sent by God, I’m sure we’re gonna meet again someday.”

“But I don’t want to wait for the second time. 2 years, I waited for you that long and what I got? Only your name. Not even your number or anything else.” Ia melepaskan pelukanku pelan dan mensejajarkan pandangan kami.

 

“Don’t hold me back… We have to believe the destiny. If we’re meant to be together, doesn’t care how far we go we’re gonna be running back to find each other.” Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk bulan sabit sempurna. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuruni tangga. Meninggalkanku… lagi….

 

Otakku berontak. Otakku sudah memerintahkan kedua kakiku untuk mengejarnya tapi mengapa tidak mau bergerak barang seincipun? Apa setelah menenggelamkan hatiku ia juga menenggelamkan kakiku? Otakku juga rasanya membeku, tak bisa mencerna semua ini. Apa dayaku, sepertinya bahkan kalau aku tahan ia akan tetap pergi. Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah merekam seksama punggungnya dengan teliti. Aku… harus menemukan punggung itu lagi.

 

Jang Eun Soo… Namanya Jang Eun Soo. Akan kupastikan kita akan bertemu. Dan saat hari itu tiba, aku akan menjadikanmu sebagai wanitaku dan aku menjadi priamu.

 

~~~~~~ TO BE CONTINUED ~~~~~

 

With Love,

Red

1 Comment (+add yours?)

  1. Elva
    Nov 13, 2015 @ 12:48:13

    Kasian bgt Donghae . Di php in mulu . Wkwk …
    Sebenernya ada apa dgn eunso . Kok kayaknya hidupnya rumit bgt .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: