Casta [2/?]

Author: Ghina

Title: Casta (Part 2)

Cast: Lee Sungmin, Han Jinhye (OC), Lee Hyukjae, Park Hyemi (OC)

Length: Series

Rating: PG-1

(Casta Part 1:  https://superjuniorff2010.wordpress.com/2014/08/28/casta-1/)

Note: Silahkan berkunjung ke blog pribadi saya macaronstories.wordpress.com

.

.

.

BAB 2 — Bertemu Kembali

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore dan itu artinya Jinhye terlambat sejam dari waktu kerjanya yang biasa.

Tadi Jinhye berinisiatif menggantikan tugas Song Eunhee yang tidak masuk lantaran sakit dan mengantarkan pesanan ke salah satu pelanggan. Akan tetapi, sang tuan rumah malah pergi dan meminta Jinhye untuk menunggu sebentar disana. Jinhye yang lupa membawa mantel terpaksa harus menahan dinginnya terjangan angin musim gugur dan duduk di depan pintu sembari mengusap-usap tangannya. Saat tubuhnya nyaris membeku, pemilik rumah baru datang dan mengambil pesanannya. Tentu saja dengan ucapan maaf yang terlontar terus-terusan.

Jinhye mengayuh sepedanya dengan kencang. Dia harus sampai di kafe lima belas menit dari sekarang atau dia akan menjadi sumber masalah karena membiarkan kafe dalam keadaan tidak teroganisir. Ibunya sedang menjemput Jin-Ah di sekolah dan menitipkan satu-satunya tempat penghasilan mereka itu pada Jinhye. Tentu saja sebagai pemilik sekaligus penjaga kasir, Jinhye merasa memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Dia tidak mau merepotkan pegawai lain karena kelalaiannya ini.

Jinhye sampai di kafe empat belas menit kemudian, lebih hemat semenit dari waktu yang ia tentukan. Gadis itu menaruh sepedanya di sebelah pintu depan kafe lalu menguncinya. Lantas segera masuk ke dalam, mendengar sapaan Boram yang ia balas sekedarnya saja dan berjalan menuju singgasananya.

Jinhye masuk melalui pintu kecil yang berada di sudut meja konter lalu buru-buru merapikan barang bawaannya. Gadis itu melepas tasnya, membungkuk dan mencampakkannya ke dalam salah satu laci.

“Apa ada orang?”

“Disi—aw,” jerit gadis itu saat kepalanya terbentur ujung meja.

“Anda tidak apa-apa?”

Suara yang Jinhye perkirakan berasal dari seseorang di hadapannya membuat gadis itu kontan menegakkan tubuhnya sembari mengusap-usap kepalanya. Wajahnya memerah menahan malu sedangkan kepalanya menunduk, menyapa pelanggannya dengan sopan.

Annyeonghaseyo,” ucap gadis itu lalu hendak menanyakan pesanan pria tersebut ketika indera penglihatannya menangkap sosok lelaki tinggi nan tampan yang selama ini ia hindari. Dengan lemas Jinhye menurunkan tangannya yang masih setia bertengger di helaian rambutnya dan menatap pria itu kaku.

Jinhye berharap ia salah lihat, namun pria itu malah mengerutkan keningnya dengan mata yang menyipit curiga. Telunjuk pria itu terulur tepat di depan hidung Jinhye, mengintimidasi gadis tersebut.

“Kau—”

Jantung Jinhye berdetak tidak karuan menunggu pria itu mengatakan kalimat selanjutnya.

“Han Jin—hye?”

Tanpa sadar Jinhye menahan napasnya. Pria itu sekarang sudah memajukan tubuhnya dan menatap Jinhye intens sehingga gadis itu tidak dapat berkutik. Memiringkan kepalanya ke kanan, meminta jawaban gadis itu tak sabaran. Jinhye menelan ludahnya dengan susah payah. Mendadak merasa kelumpuhan sudah menggerogoti setiap inci urat saraf di tubuhnya.

Gadis itu membuka mulutnya dan menutupnya kembali di detik selanjutnya. Dia ingin menjawab pertanyaan pria itu tapi otaknya tiba-tiba tidak bisa diajak berpikir.

Jinhye menarik napas dalam-dalam saat paru-parunya berontak minta diisi. Gadis itu menundukkan kepalanya sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Matanya berkedip berulangkali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sudah berceceran dimana-mana.

Gadis itu melakukan olah pernapasan untuk beberapa saat sampai ia merasa sedikit tenang. Barulah ia memberanikan diri menatap pria di hadapannya yang kini tengah mengeraskan rahangnya sembari menghujaminya dengan pandangan tajam.

“A—aku—“

“Benar,” potong pria itu cepat. “Kau Han Jinhye. Si Gadis Paris.”

Kali ini pria itu mengeluarkan seringaiannya yang membuat Jinhye benar-benar kehabisan kata-kata. Jinhye ingin sekali berbohong dan mengatakan sebaliknya. Gadis itu ingin pria di hadapannya ini enyah dari kehidupannya. Dia sudah hidup bahagia selama tujuh tahun ini tanpa adanya kehadiran pria tersebut.

Han Jinhye sudah menerima kenyataan bahwa ia harus menjadi ibu di usianya yang tergolong muda dan mengurus anaknya seorang diri. Tapi, mengapa tiba-tiba Tuhan mempertemukan mereka? Di saat semua keinginannya sudah berada di genggaman keluarga kecil ini, kenapa pria itu kembali?

“Bisa kita bicara sebentar?”

Jinhye tidak tahu yang dimaksud sebentar itu beberapa menit atau malah berjam-jam. Namun, raut penasaran yang tergambar di wajah pria itu membuat hati kecilnya tergerak dan memaksanya untuk menurut. Jinhye membuang napasnya dengan lelah, menatap pria itu sekali lagi lalu menganggukkan kepalanya.

Gadis itu berjalan menuju salah satu meja kosong—yang berada di sudut ruangan sehingga cukup sepi dan aman dari pendengaran pelanggan lainnya—dengan pria tersebut yang mengikutinya dari belakang. Jinhye memanggil Dae-Ho dan meminta salah satu pegawainya itu membuatkan dua cangkir hazelnut chocolate sebelum kemudian Jinhye ikut duduk di hadapan pria tersebut.

Posisi seperti ini benar-benar menguntungkan Sungmin. Dia bisa melihat wajah gadis itu dengan lebih leluasa.

Oh, baiklah.

Gadis itu memang nampak cantik sekali dengan sweater selutut lengan panjang berwarna merah tua dan legging hitam yang membalut tubuh sempurnanya. Rambut sepunggungnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja, menambah nilai tambah bagi gadis tersebut. Bohong jika Sungmin bilang kalau penampilan gadis itu yang tergolong sederhana tak bisa membuatnya takjub. Dia terpesona. Dan ini untuk pertama kalinya terjadi dalam hidupnya—berdebar hanya karena menatap seorang gadis di pertemuan awal.

Jinhye yang sadar ditatap sedemikian mengerikannya langsung menolehkan kepalanya ke arah lain, berusaha menghindar dari sorot mata Lee Sungmin yang menghujam dan mengintimidasinya. Jinhye menunduk sambil sesekali melirik ke arah pria itu yang masih belum mau mengalihkan pandangannya dari dirinya. Lalu gadis itu mengigiti bibir bawahnya, benar-benar gugup akan sikap yang ditunjukkan pria tersebut.

Mungkin ada baiknya Jinhye memulai percakapan duluan, tapi kecanggungan terasa mendominasi sampai berlanjut pada sepuluh menit kemudian. Sepasang anak manusia itu masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sungmin dengan keterpesonaannya dan Jinhye dengan rasa panas yang menjalar di wajah putihnya.

Oraenmaniya,” ujar Sungmin, memecah keheningan yang terasa mencekam. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menatap gadis itu datar.

Jika seseorang melihat bagaimana kelakuan Sungmin sekarang, mereka pasti bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa pria itu adalah orang yang dingin dan tak acuh terhadap sekitar. Tapi, lihatlah lebih dekat, maka kau akan menemukan tatapan memuja itu dimata hitamnya yang menawan. Dan anehnya, tatapan itu ditujukan pada gadis di hadapannya.

Jinhye mendongakkan kepalanya, menatap Sungmin ragu-ragu. “Ya, sudah lama sekali,” ucap gadis itu gugup namun berusaha menghilangkannya. Dia memberikan segaris senyum pada pria itu lalu meraih cangkir kopinya yang baru sampai diantar oleh Dae-Ho dan menyeruputnya pelan.

“Delapan tahun itu terlalu lama. Aku frustasi memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dari perbuatan yang tidak kita kehendaki.”

Jinhye nyaris tersedak dan memuntahkan minuman yang sudah berada di mulutnya. Gadis itu menelannya dengan cepat, meletakkan cangkir pada tempatnya lalu melihat pria di hadapannya itu. Jinhye mendapati rahang mengeras itu lagi dan hal tersebut membuatnya merinding. Bulu kuduknya serasa berdiri dan dia lebih memilih untuk kabur dari sini seandainya diberi kesempatan.

Pria itu tertawa sumbang lalu melanjutkan ucapannya. “Aku menunggu kabar darimu asal kau tahu saja. Dan kau malah menghilang.” Suara pria itu dibuat seriang mungkin, menutupi amarah yang perlahan mulai merasukinya.

Selama ini Sungmin sudah memotivasi dirinya sendiri agar tidak mudah terbawa emosi dan dia tidak boleh kalah. Dia harus menjaga imejnya dan membuat gadis itu nyaman—Sungmin tahu dia yang menyebabkan raut ketakutan itu terpancar di wajah oval gadis itu.

Sungmin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia menopangkan dagunya pada kedua punggung tangan lalu membuka mulutnya. “Han Jinhye ssi,” panggilnya lirih sehingga kedua bola mata coklat gadis itu beralih ke arahnya.

Untuk sejenak, Sungmin memuaskan penglihatannya pada wajah gadis itu dan membiarkan dirinya terkagum-kagum, sebelum mengucapkan sesuatu dengan nada ringan tanpa beban seolah sesuatu yang akan dikatakannya nanti bukanlah sebuah masalah besar.

“Apa kita memiliki anak?”

Jinhye membulatkan kedua matanya, menatap pria di hadapannya tidak percaya. Mulutnya terbuka sedikit sedangkan wajahnya mendadak memucat dan dibasahi keringat dingin. Pertanyaan itu sederhana dan mudah dijawab bagi sebagian orang. Tapi, tidak dengan Jinhye.

Dia belum siap jika harus membahas masalah delapan tahun yang lalu. Jinhye belum bisa menjelaskan segalanya—bahwa insiden itu membuat hidupnya tak lagi sama; bahwa benar, ia pernah mengandung anak pria itu. Jinhye tidak siap. Gadis itu tidak pernah merasa siap.

“Ada yang salah?” tanya Sungmin hati-hati menyadari diamnya gadis itu.

Jinhye tersentak lalu menjilat bibirnya, menyemangati dirinya sebentar dan menatap pria itu dengan senyuman paksa yang hadir di bibir mungilnya. Gadis itu menggeleng singkat.

“Tidak. Aku hanya merasa geli saja.”

“Apa?”

Kali ini Jinhye bisa menguasai dirinya dan berakting dengan baik. “Tidak semua yang dilakukan berhasil pada percobaan pertama, Lee Sungmin ssi. Sebagai orang dewasa, kurasa kau juga pernah mendengar hal ini. Jadi, tidak. Aku tidak pernah memiliki anak denganmu.”

Kebohongan yang dilontarkan Han Jinhye berhasil membuat Sungmin terdiam dengan kepala yang mengangguk berulangkali, membenarkan ucapan gadis itu. Ada rasa lega yang menyusup dihatinya ketika mengetahui kalau gadis itu baik-baik saja. Kalau gadis itu tidak menanggung dampak dari kecerobohannya. Raut wajah Sungmin berubah tenang dan hal itu membuat Jinhye semakin ingin menangis. Jinhye bahkan harus meremas kedua tangan yang berada di pangkuannya agar air mata sialan itu tidak jatuh dan mempermalukannya disini.

“Syukurlah. Jadi, aku bisa melanjutkan pertunanganku ke jenjang yang lebih serius.”

Sejak semalam berita di televisi memang sibuk membicarakan masalah Lee Sungmin yang belum juga melamar tunangannya setelah tiga tahun berpacaran. Jinhye yang orang awam juga tidak mengerti akan keputusan pria itu. Dan setelah berbicara panjang lebar, Jinhye jadi tahu alasannya. Pria itu bertahan pada statusnya sebagai orang yang bertunangan karena masih dihantui oleh bayang-bayang Han Jinhye yang mungkin mengandung anaknya.

Yah, pria itu cukup baik. Dia memiliki niat untuk bertanggungjawab. Tapi, sayangnya Jinhye belum mau menguak kebenaran dan menghancurkan hubungan pria itu dengan tunangannya. Dia juga seorang wanita yang memiliki perasaan dan dia tidak mungkin setega itu. Meskipun itu artinya ia harus menyakiti anaknya dan membiarkan gadis kecilnya menua tanpa mengetahui siapa ayah biologisnya.

Jinhye tersenyum miris. Menyadari keberadaannya dan anaknya hanyalah sebuah parasit bagi sepasang kekasih itu membuat hatinya berdenyut menyakitkan. Seandainya Jinhye memiliki mesin waktu, dia ingin kembali ke malam itu dan mengulang semuanya.

Tidak, Jinhye tidak pernah menyesal mengandung dan membesarkan Jin-Ah—gadis mungil itu adalah sumber kebahagiaannya. Satu-satunya hal yang ia sesali adalah menjadikan anaknya yang tak berdosa itu sebagai korban dari keteledoran mereka.

Eomma.”

Jinhye menoleh dan mendapati anaknya tengah berlari ke arahnya. Gadis mungilnya itu langsung memeluk kakinya dan tertawa riang, membuat Jinhye menyunggingkan sebuah senyum kecil.

Gadis itu bangkit dari duduknya lalu mengelus bekas es krim yang menempel di pipi anaknya dengan sayang. Anaknya itu, tidak peduli cuaca sedingin apapun, nasehat sebanyak apapun, pasti akan selalu merengek meminta es krim. Tipikal keras kepala seorang Han Jinhye yang menurun dengan sangat baik.

“Nenek membawaku mengunjungi salah seorang temannya. Dan dia memberiku es krim coklat terenak sedunia.”

Jinhye mendengus pelan. “Tentu saja karena kau memaksanya, Jinnie Sayang”  ujar Jinhye sinis yang dibalas anaknya dengan satu cengiran lebar sehingga membuat sudut matanya tertarik ke samping, menunjukkan eyes smile-nya yang begitu menggemaskan.

Jinhye merapikan rambut panjang anaknya dengan senyum yang mengembang. Mendengar celotehan anaknya yang selalu terdengar lucu benar-benar berhasil membuat mood Jinhye naik pada tingkatan tertinggi. Meskipun anaknya melanggar aturannya untuk tidak memakan es krim ketika angin berhembus kencang, Jinhye akan memaafkannya kali ini.

Astaga, Han Jinhye, kau memang mudah sekali dibujuk oleh anakmu!

Eomma, siapa Paman itu?”

Jinhye terdiam lalu menoleh ke arah Sungmin yang kini menatap anak gadisnya dengan raut wajah tak terbaca. Mendadak Jinhye merasa takut. Gadis itu menarik Jin-Ah mendekat ke arahnya sehingga anak itu menempel padanya. Perlahan-lahan, mata hitam pekat itu naik ke atas dan menghujam manik mata coklat miliknya.

“Anak itu—“

“Dia bukan anakmu,” potong Jinhye cepat—terlalu cepat sampai-sampai kening Sungmin berkerut mendengarnya. Gadis itu menelan ludah sembari menyembunyikan anaknya di balik tubuhnya. “Dia benar-benar tidak ada hubungannya denganmu, Lee Sungmin ssi,” ungkap Jinhye lalu membungkuk, meraih anak gadisnya untuk ia gendong dan mengucapkan sesuatu yang membuat Sungmin terkejut.

Pria itu kini sudah berdiri demi bisa melihat dengan jelas gadis mungil yang berada dalam dekapan Jinhye. “Kau sudah mengetahui apa yang ingin kau ketahui. Jadi, kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu. Permisi.”

Dan Jinhye pun meninggalkan Sungmin dalam keadaan bingung luar biasa.

***

Jinhye menaruh baju ganti Jin-Ah di dalam loker miliknya lalu memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia dengan wajah lelah luar biasa. Seharian ini Jinhye tidak fokus dalam melakukan pekerjaannya sehingga Kim In-Jung menyuruhnya beristirahat sejenak dan membiarkan Eunhee menggantikannya. Jinhye menghela napas dengan berat dan memijat keningnya berulangkali.

Sejak dia bertemu pria itu tiga hari yang lalu, Jinhye selalu merasa tidak tenang. Cemas kalau-kalau pria itu tiba-tiba datang dan memborbardirnya dengan pertanyaan seputar Jin-Ah. Atau jika Jinhye tidak seberuntung itu, pria itu lebih memilih menyewa seorang detektif swasta demi mengorek informasi mengenai keluarga dan anak gadisnya.

Pria itu kaya dan bisa melakukan apa saja dengan uangnya, termasuk meminta hak asuh Jin-Ah di pengadilan. Tidak boleh. Pria itu tidak bisa mengambil anaknya begitu saja—Jinhye tidak akan mengijinkannya.

Jinhye mengkerut sendiri di tempatnya. Berbagai spekulasi buruk yang menghinggapi kepalanya membuatnya pusing sendiri. Jinhye sadar, cepat atau lambat pria itu akan mengetahui segalanya. Kata-kata dusta yang ia lontarkan tidak akan berarti apa-apa jika pria itu memiliki bukti yang jelas mengenai hal ini. Parahnya, Jinhye bisa langsung terkena masalah hukum dengan tuduhan menyembunyikan seorang anak dari ayah kandungnya. Dan tentu saja hal itu bermakna buruk karena ia harus berpisah dari Jin-Ah untuk waktu yang tidak ditentukan.

Jinhye menelan ludah dan mendadak merasa gemetaran. Gadis itu bangkit berdiri dan mondar-mandir di depan loker. Kedua telapak tangannya yang terasa dingin ia remas kuat-kuat, berusaha meredakan ketakutannya.

Dia tidak boleh membiarkan Lee Sungmin tahu soal Jin-Ah. Dia tak mau memberikan Jin-Ah pada Sungmin seandainya pria itu meminta. Tapi, Lee Sungmin sudah mengetahui tempat dimana ia mencari nafkah sehingga mudah bagi pria itu untuk mencarinya serta merebut Jin-Ah dari tangannya.

Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Jinhye mengelilingi ruangan dengan pandangannya, mencari sebuah solusi yang bisa melepaskannya dari jeratan pria itu. Tidak perlu waktu yang lama karena otaknya yang cerdas itu langsung mendapatkan apa yang ia cari sedari tadi.

Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah menghilang seperti delapan tahun yang lalu. Jinhye bisa pergi dari Seoul dan pindah ke tempat lain—negara tetangga tidak begitu buruk. Dia memiliki tabungan yang lebih dari cukup untuk mereka bertiga dan memulai semuanya dari awal lagi.

Mengganti kewarganegaraan adalah ide yang bagus. Kebetulan ia memiliki seorang kenalan lama di Jepang yang bekerja di pemerintahaan. Pria itu pasti bersedia membantunya. Dia hanya tinggal memberitahu ibunya dan menentukan tanggal pindahan. Lebih cepat menjauh dari pria itu jelas lebih baik bagi kehidupannya.

Gagasan itu membuat Jinhye tenang dan menghembuskan napas lega. Gadis itu memegangi jantungnya yang berdetak di luar batas normal akibat rasa senang sekaligus ragu yang perlahan merasukinya.

Dia mengangguk sekali, memantapkan hatinya dan berjalan keluar ruang ganti ini. Berniat membicarakan hal ini dengan sang ibu saat matanya langsung menemukan sosok paruh baya yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Napas ibunya memburu dan raut cemas tercetak jelas di wajah cantiknya yang sudah dilapisi keriput halus.

Eomma, ada apa?” Jinhye memegangi kedua pundak ibunya agar bisa berdiri tegak.

“Jinnie…”

Mendengar nama anaknya disebut, kekhawatiran langsung menyusup di hati Jinhye.

“Kenapa dengan Jinnie?”

“Dia tidak ada di sekolah.”

“Apa?!”

Jinhye luar biasa kaget. Ibunya memang terlambat menjemput anaknya tadi tapi sekarang sudah jam empat sore dan anak gadisnya tidak ada di sekolah. Apa ini ada hubungannya dengan kemungkinan yang ia pikirkan beberapa saat lalu?

Jinhye panik seketika. Gadis itu berbalik ke belakang untuk menyambar mantelnya dan memegang tangan ibunya yang berkeringat.

“Kita akan cari Jinnie sama-sama.”

Setelah ibunya mengangguk, Jinhye memanggil Boram dan Eunhee, meminta tolong pada kedua gadis itu agar memberi tumpangan dan menjaga kafe sembari berjaga-jaga jika Jin-Ah pulang. Tanpa memikir dua kali, gadis-gadis tersebut langsung mengangguk dan bersiaga.

“Aku akan berkeliling di sekitar sekolah Jinnie. Eomma lihat-lihatlah daerah sini. Boram akan mengantarmu menggunakan motornya. Kita berpencar.”

Kim In-Jung mengangguk lalu membiarkan Jinhye melepaskan genggaman tangan gadis itu di tangannya. Dia melihat punggung Jinhye yang perlahan menjauh sebelum meneriakkan nama anaknya. “Jinhye-ya.” Gadis itu menoleh, menatap ibunya dengan raut wajah takut yang kentara sekali, membuat perasaan bersalah itu bergumul di hati In-Jung. “Maafkan aku,” ucapnya lirih, sarat akan penyesalan.

In-Jung bisa melihat anaknya kembali kepadanya dan memeluknya lembut. Satu kecupan manis mendarat di pipinya. In-Jung mendongak dan mendapati senyum Jinhye yang menghangatkan hatinya.

“Berhenti menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salahmu, Eomma,” ujar Jinhye menenangkan In-Jung sehingga wanita paruh baya itu menjadi sedikit lebih rileks.

Anak gadisnya ini selalu berhasil meluluhkan hatinya dan membuat dirinya luar biasa beruntung. Kim In-Jung benar-benar bersyukur Tuhan masih mau memberikan anugerah berupa seorang anak cantik nan lembut yang rela mengorbankan segalanya bagi kebahagiaan ibunya. Dia menyayangi gadis yang ada di hadapannya ini. Han Jinhye-nya.

“Ayo, kita cari cucumu.”

***

Lee Corporation, Seoul

7:26 PM

Lee Sungmin memainkan pulpen yang berada di tangannya dan menatap kosong layar laptopnya. Dia sedang tidak berada dalam mood yang baik untuk menyelesaikan semua tugasnya. Padahal dia hanya perlu membaca dan mempelajari bahan meeting itu, tapi semangat kerjanya mendadak menguap entah kemana.

Dia bahkan menolak ajakan makan malam dari Park Hyemi dan memilih mendekam di ruangannya yang dingin tanpa merasa perlu melakukan kewajibannya sebagai seorang CEO. Salahkan Han Jinhye karena gadis itu terus-terusan datang ke dalam pikirannya dan membuatnya tidak fokus seperti sekarang.

Ini sudah hari ketiga dan dia masih disibukkan akan pertemuan pertama mereka setelah delapan tahun tak saling bertatap muka, terutama Si Gadis Mungil dipanggil Jinnie oleh Jinhye—nama mereka mirip. Ada sesuatu yang familiar pada anak gadis Jinhye dan Sungmin tidak tahu apa. Dia hanya merasa ada sebuah magnet tak kasat mata yang menariknya mendekat pada gadis kecil itu dan membuat kedua bola matanya betah berlama-lama mengamati wajahnya yang menenangkan.

Mendadak spekulasi itu melintasi otaknya, membuatnya berpikir sejenak sebelum kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak mungkin. Gadis itu sudah mengatakan kalau Sungmin tidak memiliki hubungan apapun dengan gadis mungil itu. Sungmin bukan ayah biologis Jinnie—seperti yang ia pikirkan tadi. Tapi, bisa saja kan gadis itu berbohong?

Sungmin mengusap bibir bawahnya menggunakan salah satu telunjuknya. Keningnya berkerut samar, menandakan kalau dia sedang berpikir keras. Yah, gadis itu memang bisa membohonginya, tapi untuk apa? Bukankah justru akan menguntungkannya jika Sungmin berniat bertanggungjawab? Bukannya sombong atau pamer, tapi tak ada seorang gadis pun yang mampu menolak pesonanya. Bahkan ada seorang wanita berusia akhir kepala tiga yang tidak ia kenal mendatanginya ke kantor dan menuntut untuk dinikahi. Jadi, kenapa gadis itu malah bersikap sebaliknya?

Berbagai pertanyaan yang melintas di kepala Sungmin membuat pria itu mendesah keras. Dia tidak mengerti mengapa ia begitu memusingkan masalah ini—maksudnya, hai, bukankah diluar sana banyak sekali lelaki yang hanya menginginkan kenikmatan semata tanpa merasa harus mengambil andil jika ada sesuatu tak terduga terjadi pada pasangan mereka? Mereka tidak peduli dan memilih melepaskan tanggung jawabnya.

Tapi, berbeda dengan Sungmin disini yang malah repot-repot memikirkan hal itu, bahkan bertindak aneh seolah berharap bahwa ia memang memiliki anak dengan gadis itu. Terdengar memaksa, eh?

Oke, Sungmin tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Atau Gadis Paris itu. Atau anaknya—Ya Tuhan lihatlah bagaimana melanturnya ucapannya sekarang. Mungkin karena Sungmin kelelahan akibat tidak beristirahat dengan baik selama beberapa hari. Apalagi segala hal yang terjadi baru-baru ini terasa berlangsung begitu cepat, membuat Sungmin cukup pusing menanganinya. Perusahaan, Park Hyemi, Han Jinhye, dan gadis kecil. Dia bahkan baru sadar kalau sebagian besar beban pikirannya adalah ketiga gadis tersebut.

Sungmin bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah jendela besar yang mengarah langsung pada jalanan Seoul. Pria itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana, memandang Namsan Tower yang nampak megah dengan pandangan lurus tanpa kedip.

Percaya atau tidak, tapi Sungmin benar-benar belum pernah mengunjungi gedung kebanggaan Korea Selatan itu berdua dengan Park Hyemi. Dia begitu menyukai tempat tersebut sampai-sampai ingin mendatanginya bersama seseorang yang sangat penting bagi hidupnya.

Bukan berarti Sungmin tidak menganggap Park Hyemi istimewa, hanya saja gadis itu tidak menyambut baik gagasannya. Tunangannya itu lebih suka hal-hal berbau ekstrem dibandingkan sesuatu yang mainstream. Satu-satunya designer unik yang pernah Sungmin temui.

Sungmin mengulum senyum lalu menarik napas lega. Memikirkan tingkah laku Park Hyemi sama saja seperti menonton acara komedi. Gadis itu lucu dengan caranya sendiri dan Sungmin menyukainya.

Pria itu melangkah ke arah meja kerjanya, membereskan dokumen-dokumennya untuk kemudian dikerjakan di rumah. Ini sudah nyaris jam delapan malam dan dia tidak mau sekertarisnya terpaksa harus lembur juga hanya demi menemaninya. Sungmin tidak sekejam itu.

Pria itu meraih kunci mobilnya dan mengenakan jasnya sebelum keluar dari ruangannya, memberi ucapan terima kasih pada wanita muda yang langsung berdiri memberinya hormat lalu masuk ke dalam mobilnya yang berada di parkiran.

Dia menekan klakson pada sang satpam lalu melajukan Bugatti hitamnya memasuki jalanan Seoul yang padat. Dia harus pergi ke supermarket dulu dan berbelanja bahan makanan di rumahnya yang mulai menipis. Perutnya sudah berteriak dan dia tidak suka jika harus menikmati makan malam sendirian diluar. Akan jauh lebih baik kalau Sungmin membuat makanannya sendiri.

Sungmin memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesin. Dia baru akan melangkah masuk ke dalam saat kedua penglihatannya mendapati seorang gadis kecil lengkap dengan pakaian sekolah dan rambut kuncir kuda yang mulai nampak acak-acakan, tengah berjongkok di dekat tempat sampah sembari terus-terusan mengusap matanya.

Sungmin sedikit berlari menuju ke arah gadis kecil itu dan mengambil posisi yang sama dengan gadis mungil yang berada di hadapannya tersebut. Lantas menyentuh bahu kanannya lembut sehingga anak itu mendongak, menampakkan wajah ovalnya yang pucat dan berurai air mata.

Bukankah ini adalah anak Han Jinhye?

***

Eomma!

Jinhye mencampakkan sepedanya begitu saja lalu berlari menghampiri Jin-Ah. Dia menubruk tubuh mungil anaknya dan membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya punggung Jin-Ah sembari berulangkali memberikan kecupan di rambutnya yang lepek.

Jinhye merasakan kelegaan meresapi hatinya, membuat ketakutan yang sempat mampir memilih pergi dan meninggalkannya tanpa bekas.

Jinhye tadi sedang mendatangi rumah teman-teman sepermainan Jin-Ah, berharap menemukan anaknya disana. Tapi, ponselnya berbunyi dan ternyata anaknya yang menggemaskan itulah yang menelepon. Jin-Ah memberitahu kalau dia sudah ada di kafe karena bantuan dari seorang Paman yang ia kenal beberapa hari lalu. Jinhye yang sedang panik tidak memedulikan ocehan anaknya dan langsung melesat pergi, membawa sepedanya menerjang dinginnya angin malam di musim gugur. Dan disinilah dia sekarang, memeluk anaknya erat-erat sebagai bentuk kebahagiaannya.

Eomma, sesak.”

Protes yang keluar dari Jin-Ah membuat tawa ringan Jinhye meluncur bebas. Gadis itu melepaskan pelukannya pada anaknya lalu menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir turun membasahi kedua belah pipinya.

Jinhye memegang pundak Jin-Ah, menatap anaknya itu, sedangkan yang ditatap malah menunjukkan raut bersalah seolah kalimat Eomma-maafkan-aku tercetak jelas di wajahnya. Gadis itu mengecup kening Jin-Ah dan memegang kedua tangannya yang kecil.

“Kemana saja Jinnie seharian ini?” tanya Jinhye lembut sehingga kepala anaknya yang tadinya menunduk kini mendongak menatapnya.

“Membeli es krim, Eomma. Nenek lama sekali datang menjemputku, jadi aku pergi sendiri. Aku sudah mendapatkan rasa cokelat kesukaanku dan berniat kembali ke sekolah, tapi aku melihat balon warna-warni yang dibawa seorang Eonni. Aku mengikuti Eonni tersebut, Eomma, dan aku malah tersesat,” jelas Jin-Ah panjang lebar, membuat Jinhye merasa iba.

“Apa Jinnie menangis?”

Jin-Ah mengangguk pelan. “Eo. Suasananya sepi sekali,” ucap Jin-Ah sembari menahan isakannya sehingga Jinhye kembali membawa anaknya ke dalam pelukannya, yang dibalas gadis mungil itu dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Jinhye. Ketika tangisan anaknya sedikit mereda, Jinhye menghapus bulir air mata anaknya dengan sayang lalu mencium ujung hidung Jin-Ah.

Eomma, aku janji tidak akan melanggar perkataanmu lagi.”

“Sudah, tidak apa-apa,” hibur Jinhye saat dilihat anaknya itu akan membuat kelenjar air matanya berproduksi lagi. Gadis itu tersenyum, merogoh saku celana belakangnya dan mengambil sebatang lolipop dari sana. “Ini hadiah khusus untuk anak Eomma karena berani mengakui kesalahannya.”

Jinhye menyodorkan permen itu ke depan wajah Jin-Ah sehingga ekspresi sedih itu tergantikan oleh wajah antusias. Jin-Ah mengambil salah satu makanan favoritnya itu dari tangan ibunya, melompat-lompat dan berteriak gembira lalu memberikan satu kecupan manis tepat di bibir Jinhye.

Gumawoyo, Eomma,” kata Jin-Ah, membuka bungkusnya dengan semangat dan langsung melahapnya. Jinhye mengacak rambut anaknya dengan gemas dan tertawa renyah.

Ini alasan mengapa Jinhye begitu menyayangi Jin-Ah. Anaknya itu polos dan lucu sekali. Selalu ada saja tingkah Jin-Ah yang membuat siapa saja terhibur karenanya. Meskipun terkadang ucapan Jin-Ah terkesan dingin terhadap orang yang baru dikenal, Jin-Ah tetap menjadi anak gadisnya yang ramah dan baik hati.

Jinhye menggendong Jin-Ah di depan, berniat membawa anaknya masuk ke dalam kafe saat suara seseorang menginterupsinya.

“Hai.”

“Oh, Paman Sungmin.”

Jin-Ah yang berada dalam gendongan Jinhye langsung merengek minta turun dan beralih masuk ke dalam dekapan Sungmin. Pria itu tertawa menyambut Jin-Ah, mengabaikan kemeja putihnya yang terkena noda hitam dari sepatu Jin-Ah. Dengan ringan dia menggendong Jin-Ah seolah itu adalah kegiatan rutin yang sudah biasa ia lakukan.

Jinhye berdiam di tempat saat kaki-kaki besar Lee Sungmin berjalan mendekatinya. Lelaki itu kini sudah berjarak beberapa meter di hadapannya, menatapnya dengan raut wajah aneh.

“Kita bertemu lagi,” ucap Sungmin, berusaha memulai obrolan. Tapi, Jinhye sepertinya menolak karena gadis itu hanya membalasnya dengan sabuah senyuman sopan. Lalu mata coklatnya beralih ke anaknya dan Sungmin secara bergantian, menatap kedua orang itu dengan kening berkerut.

“Aku yang membawa Jin-Ah kemari,” kata Sungmin tiba-tiba, menjawab pertanyaan yang berseliweran di kepala Jinhye.

Jinhye tersentak dan mendadak merasa gugup. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menundukkan kepalanya. Dia menatap ujung flat shoes yang ia kenakan, benar-benar tidak berani bertatap muka dengan pria tersebut. Ada sensasi menggelegar yang menyusup tiap kali mata hitam pekat itu bertuburukan dengan mata coklat miliknya. Dia tidak tahu apa itu, tapi Jinhye—hmm, menyukainya.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara berat lelaki itu membuyarkan lamunan Jinhye. Gadis itu mengangguk cepat, tersenyum singkat lalu melirik Sungmin takut-takut.

Saat Jinhye memberanikan diri menatap pria itu sepenuhnya, dia terheran-heran melihat betapa tampannya pria itu dengan kemeja kerjanya yang terlihat berantakan. Apalagi ditambah dengan rambutnya yang memang acak-acakan dan janggut tipis yang mulai tumbuh di dagunya, Jinhye berani bersumpah kalau lelaki yang ada di hadapannya ini tidak kalah seksinya jika dibandingkan dengan vokalis Maroon 5, Adam Levine.

Jinhye menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran kotor yang merasuki otaknya.

Demi Tuhan, Han Jinhye. Kau sudah menjadi seorang ibu!

“Kau benar tidak apa-apa?”

Emm, ya. Dimana Jin-Ah?” tanya Jinhye ketika menyadari kalau Jin-Ah sudah tidak bersama Sungmin. Jinhye bisa mendengar kekehan tertahan Sungmin yang membuatnya menatap pria itu bingung.

“Anak itu tadi mengatakan kalau dia ingin ke kamar mandi,” ujar Sungmin dengan nada menyindir yang kentara sekali. Matanya kini sudah berkilat-kilat geli melihat betapa salah tingkahnya gadis itu. Ternyata menggoda gadis itu jauh lebih menyenangkan. Ekspresi malu-malu dan rona merah yang muncul tiap kali Sungmin menjahili gadis itu, berhasil membuat Sungmin merasa terhibur.

Sungmin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap ribuan bintang yang ada di langit sana dengan pikiran yang menerawang kemana-mana. Dia teringat percakapannya bersama Jin-Ah ketika di mobil tadi.

Sungmin menghela napas. Anak sekecil Jin-Ah sudah mengerti akan perasaan orang lain. Tentu saja ini juga karena campur tangan sang ibu yang mampu mengajarkan anaknya dengan baik sehingga ia bisa berpikiran sedewasa itu. Namun, dibalik rasa kagum Sungmin pada anak itu, dia tetap merasa ada suatu keganjalan.

Jika semua yang dikatakan Jin-Ah adalah benar, maka bisa ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, Han Jinhye pernah menikah lalu bercerai—atau suaminya meninggal. Kedua, sebenarnya Sungmin lebih yakin pada poin ini, kalau Jin-Ah sebenarnya adalah anaknya.

“Dia anakku,” gumam Sungmin tanpa sadar, membuahkan tatapan bingung dari Jinhye.

Mwo?”

Sungmin menoleh, menatap Jinhye lekat. “Jinnie, dia anakku.”

TBC

2 Comments (+add yours?)

  1. AnnA
    May 21, 2015 @ 12:53:17

    woooppsss aku baca lagi hehe
    aku gabisa komen apa apa cuma ini tuh ff nya bahasanya gampang dipahami aja jadi bacanya ngalir gitu.. btw itu wordpress nya kok beda sama yg dicantumin di part 1 nya?
    Semangat nulis yaaaaaa😀

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    May 22, 2015 @ 18:53:00

    Wow, , kerennn. Iye umin Jin ah anakmuu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: