OCEAN-EYED WOMAN – Epilogue [4-END]

OCEAN-EYED WOMAN – Epilogue

(Running – Prologue)

 

Southern Ocean

Author             : Red

Cast                 : Lee Donghae

Jang Eun Soo (OC)

Genre              : Romance, AU

Length             : Chapter

Disclaimer       : Everything in this FF is mine except Lee Donghae.

Note                : Please read the first 3 chapters before reading this ^^ And this is also the prologue of a brand new series called “Running” and also the end of this “Ocean-Eyed Woman” series.

Pada akhirnya mereka bertemu lagi. Kedai kopi ditengah kota sibuk itu menjadi saksi pertemuan ketiga dua insan manusia yang sudah cukup lama tidak bertemu. Wangi khas kopi melengkapi momen tersebut, memperkuat kesan pertemuan mereka dan  akan sulit untuk melupakan kejadian ini. Mata keduanya terus memandangi satu sama lain, mencoba mengecek apakah pengelihatanan mereka berbohong atau tidak. Keterkejutan tidak bisa dipungkiri dilihat dari wajah masing-masing. Paru-para mereka seperti kehilangan kemampuannya, sesak sekali disana.

 

Setelah beberapa saat berlalu wanita itu lalu tersenyum kearah pria dihadapannya tanda ia mengenalnya. Pria yang dimaksud pun membalas senyum tulus dari wanita itu tanda ia juga mengenalnya. Seperti oksigen kembali dipompa keseluruh tubuh mereka lagi, rasa sesak itu berangsur menghilang. Sang paru-paru kembali bekerja.

 

Shift-ku sudah selesai. Mau mengobrol?” Senyuman wanita itu akhirnya mengembang. Itulah kalimat pertama yang terucap dari wanita itu. “Ah, tapi sepertinya kau mau memesan terlebih dahulu.” Si pria tersadar. Ia awalnya memang mau membeli segelas besar americano, pencegah kantuk paling efektif untuknya.

 

~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~~o~~

 

“Jadi kau bekerja disini?” Lelaki itu mengesap americano-nya. Wanita yang duduk dihadapannya mengangguk tegas. Senyumannya tetap sama. Ia masih seceria dulu dan samudera dimatanya masih dalam. Donghae -pria itu- masih terhipnotis dengan samudera hitam pekat kedua bola mata wanita itu. Iris hitam itu seperti memiliki mantera hebat yang tak bisa dipatahkan. Donghae, untuk ketiga kalinya, terikat jangkar kasat mata dan tenggelam ke palung terdalam samudera itu.

 

Akhirnya mereka bertemu lagi. Untuk sesaat Donghae melupakan semua penat dan masalahnya. Wanita yang diidamkannya sekarang duduk tepat dihadapannya dan hanya itulah yang ingin Donghae ketahui. Rasa frustrasinya menguap ke udara. Mata sedihnya kini terisi kembali dengan kehidupan. Donghae telah mencari wanita itu sekian lama. Mencari, mencari dan terus mencari. Dalam kurun waktu empat tahun mereka baru bertemu tiga kali. Apa yang bisa diperbuat, Donghae telah jatuh hati pada iris indah kedua mata wanita itu dan oleh karenanya Donghae terus mencari wanita yang dimaksud. Seperti anjing gila.

 

“Baru bekerja? Aku sering ke kedai ini tapi baru melihatmu hari ini.” Sekali lagi, wanita itu hanya mengangguk tanpa meninggalkan senyuman indah dibibirnya. Senyuman itu terlalu memabukkan untuk seorang Donghae. Hatinya payah untuk hal seperti ini. Wanita dihadapannya membuatnya gila. Mata dan senyuman itu, Donghae terjerat oleh keduanya.

 

“Kau tinggal disekitar sini?” Donghae bertanya lagi. Kedua pupil hitam sempurna itu menatap pupil kecoklatan Donghae untuk beberapa saat.

“Begitulah.” Ia menjawab setelah beberapa saat. Matanya tidak lepas dari mata Donghae.

“Baguslah,” Donghae kembali tersenyum lebar. Kebahagiaan begitu terpancar dari senyuman itu. Tak bisa terbayangkan  kebahagiaan yang pria itu rasakan sekarang. Pengorbanannya terbayarkan. Ia menemukan wanitanya dan mengetahui bahwa wanita itu berada didalam jangkauannya membuatnya ingin berteriak kencang untuk mengekspresikan rasa senangnya.

 

“Jadi kita bisa saling bertemu mulai saat ini. Diseberang sana,” Donghae menunjuk sebuah gedung tinggi diseberang mereka. Tidak tepat diseberang kedai kopi tempat wanita itu bekerja tapi beda beberapa gedung. “itu gedung tempat aku bekerja. Jadi kita bisa sering bertemu.” Donghae tidak bisa menutupi rasa senangnya. Ia yakin senyumannya tidak karuan lagi sekarang.

 

“Dekat sekali.” Wanita itu menanggapi. Senyuman bulan sabit  masih terbentuk sempurna dibibirnya seperti sudah tercetak permanen disana.

 

“Ah, aku harus pergi. Ada rapat yang harus kuhadiri sebenatar lagi. Eun Soo-ssi, ayo bertemu lagi! Bagaimana dengan besok?” Raut wajah Donghae terlihat sangat menyesal. Ia menyalahkan jabatan dan pekerjaannya. Sang wanita yang tadi dipanggil Eun Soo terlihat menimbang sebentar. Entah ia sedah berusaha menenangkan jantungnya berdetak terlalu cepat atau sedang mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya, itulah yang Donghae pikirkan.

 

“Kita lihat saja besok.” Senyuman kembali menghiasi wajah setelah melepaskan atribut itu beberapa detik tadi.

“Baiklah. Ayo bertemu lagi besok di jam dan tempat yang sama.” Donghae mengembangkan senyum lebarnya lagi. Rasa senang tidak bisa terbendung lagi. “Aku benar-benar harus pergi sekarang. Sampai besok, Eun Soo-ssi.”

 

Dengan kopi ditangan kirinya dan telpon genggam tangan kanannya, Donghae berlari kecil membelah kerumunan, meninggalkan Eun Soo disana. Wanita itu terus memandangi punggung Donghae yang mulai menjauh dan akhirnya menghilang memasuki gedung yang tadi pria itu tunjuk. Beberapa menit setelah Donghae pergi, Eun Soo masih duduk disana. Tanpa bergerak sedikitpun. Wajahnya tanpa  ekspresi, sangat  berbeda dengan saat ia berada dengan Donghae. Arus samudera dimatanya seperti sangat tenang, tanpa ombak, tanpa angin sama sekalipun.

 

Ia tidak sedang memikirkan apa yang Donghae pikirkan.

 

Setelah beberapa menit, langsung saja ia kembali masuk kedalam kedai kopi tempat ia bekerja. Matanya mencari manajer yang bertanggungjawab atas kedai tersebut. Dan ia menemukannya!

 

Salah satu keuntungan bekerja paruh waktu adalah kau tidak harus menulis surat pengunduran diri dan tidak harus berhadapan dengan mekanisme yang rumit saat kau ingin berhenti bekerja. Dan itulah yang wanita bermata samudera itu ingin lakukan sekarang. Ombak disamudera matanya bergemuruh begitu kencang.

 

“Manajer Oh, saya ingin berhenti bekerja.”

 

THE END

 

Please don’t ask me why it turns out like this because I tbfh also don’t know why. This is the result of my two year hiatus. I wrote the first 3 chaps back in 2012 2013 and only last month (April 2015) I started writing again. DH-ES story won’t stop here. Like what I stated above, this chapter is also the prolog of a brand new series(?) of these two people called “Running”.

Ps, this is my birthday present for yall!!!!!! Yes, my comeback lol (like anybody even care).

 

With Love,

Red

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    May 22, 2015 @ 21:12:39

    Yak… Kok berhenti kerja sih??
    Kenapa sampai eunso gak mau bertemu lg dgn dongha ya??

    Reply

  2. idealqueen
    May 23, 2015 @ 07:59:12

    Laaaah kelar??? Gitu aja???

    Reply

  3. tabiyan
    May 25, 2015 @ 22:20:59

    Ih dy kenapa sih? Kok begitu bgt sama donghae, jahat bgt pdahal hae udah mau tungguin dy, dy punya rahasia apa sih sampe harus menjauh dr hae, kasian tau dy tggu bertaun2 buat ketemu kamu. Tp apa yg didpt!

    Reply

  4. kimjongbrother
    Jul 11, 2015 @ 05:14:07

    eunsoo kenapa sh? Kok kayaknya nyusaahin donghae banget. Ngehindarin banget

    Reply

  5. Elva
    Nov 13, 2015 @ 12:56:39

    Eunso ini kenapa sih .. kok aneh bgt dia. dikejar2 cowok ganteng dan kaya tp gak mau …
    kayanya hidupnya complicated bgt ..
    trus ini mana kelanjutannya? tulisannya “end” tp masih tbc .. huwaaa !!!😥

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: