Cho Jina Story – My Dad’s Birthday

choj

Judul         : Cho Jina Story – My Dad’s Birthday

Author       : Ririn_Setyo

Cast            : Cho Kyuhyun, Song Jiyeon, Cho Jina.

Other Cast : Kim Heechul, Lee Xiumin, Park Chanyeol.

Genre         : Romance, Family ( PG – 15)

FF ini juga Publish di Blog pribadi Saiiya https://ririnsetyo.wordpress.com

*

*

*

Cho’s Mansion

Kyuhyun’s Room

Dengan cekatan Jiyeon membantu Kyuhyun mengancingkan kemeja putih yang dikenakan laki-laki itu, sesaat setelah jari lentiknya yang dihias nail polish biru muda selesai menata penampilan rambut hitam Kyuhyun. Menyambar dasi hitam di atas bahu kanannya, seraya melilitkannya di sekeliling leher Kyuhyun dengan sekali gerakan cepat.

Namun selang detik berlalu Jiyeon terlihat menghentikan jarinya di leher Kyuhyun, mengerjabkan mata beningnya dan menatap Kyuhyun dengan mata yang memicing. Menaikkan satu alis tebalnya yang tertata rapi, memberi perintah tanpa suara pada pria yang sudah menikahinya sejak 8 tahun lalu itu untuk menghentikan kegiatannya saat ini. Kegiatan menarik pinggang wanita cantik itu semakin rapat dalam pelukannya, hingga memangkas habis jarak di antara mereka.

Kyuhyun tak bergeming saat Jiyeon menajamkan tatapannya, laki-laki dengan predikat sebagai pengusaha tersibuk dan berada diperingkat ke 2 sebagai orang terkaya yang ada di Korea Selatan, justru semakin menarik pinggang Jiyeon hingga hidung mereka kini bersentuhan. Terkekeh pelan yang terdengar sangat menyebalkan untuk Jiyeon, wanita berkulit putih bersih dengan pahatan wajah yang nyaris sempurna itu mengerang karena Kyuhyun tak mengindahkan perintahnya.

“Kyu—-“

Satu kecupan hangat Kyuhyun di bibir membuat ucapan Jiyeon terputus, kembali menahan kata-katanya di ujung lidah saat Kyuhyun kembali menciumnya saat Jiyeon baru saja hendak melanjutkan kalimatnya. Terus seperti itu hingga ke 5 kalinya, Kyuhyun mulai hilang kendali dan tak mau beranjak dari bibir manis Jiyeon, hingga mengubah kecupan ringannya menjadi sedikit lumatan lembut yang membuat Jiyeon hampir saja ikut terhanyut.

Jiyeon mendorong bahu Kyuhyun dengan wajah marah yang terlihat dibuat-buat, melepaskan pelukan Kyuhyun di pinggangnya dengan dengusan sebal yang membuat Kyuhyun kembali terkekeh. Mata bening Jiyeon melirik jam besar berbentuk bintang yang mengantung di dinding yang ada di depan mereka, memperingatkan sekali lagi jika Kyuhyun sudah hampir terlambat pagi ini.

“Lihat! Kau sudah hampir terlambat,” Jiyeon meraih jas hitam di atas ranjang, memasangkannya ke tubuh Kyuhyun dan merapikannya. “Jadi— berhentilah menciumku dan cepat sarapan. Jina pasti sudah menunggumu sejak tadi.” Jiyeon berkacak pinggang seraya berlalu dari hadapan Kyuhyun.

Namun baru 2 langkah Jiyeon terlihat berhenti, berbalik lalu kembali mendekati Kyuhyun. Wanita cantik itu tersenyum lebar hingga membuat kening Kyuhyun mengeryit, mulai menerka-nerka jika mungkin saja saat ini Jiyeon ingin melanjutkan ciuman mereka barusan di atas ranjang.

Ah! Dasar wanita, berpura-pura menolak padahal menginginkan lebih. Pikir Kyuhyun dalam benaknya.

Kyuhyun pun menaikkan satu alis tebalnya, tersenyum miring yang terlihat sedikit menggoda. Merasa tidak begitu peduli jika pagi ini, dia ada pertemuan dengan rekan bisnis yang sangat penting dari Manchester. Kyuhyun bahkan berfikir jika dia tidak akan jatuh bangkrut, hanya karena membatalkan satu pertemuan penting demi menyenangkan sang istri tercinta.

 

Benar begitu kan?

 

Hey! Ayolah, Golden Cho Enterprise adalah 3 dari perusahan terbesar yang ada di Korea Selatan dan masuk dalam 20 perusahaan paling berpengaruh di dunia.

Jiyeon yang tidak menyadari niat Kyuhyun, hanya kembali tersenyum cantik, merengkuh wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya, seraya mengecup kening Kyuhyun dengan hangat. Mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Kyuhyun memukul keningnya sendiri, tertawa terbahak-bahak hingga membuat Jiyeon terlihat binggung.

“Selamat ulang tahun suami-ku sayang, semoga selalu sehat dan selalu mencintaiku hingga akhir.”

Kyuhyun menarik tubuh langsing Jiyeon ke dalam pelukannya, memeluknya dengan begitu erat dan hangat.

“Ya Tuhan! Aku bahkan lupa jika hari ini aku berulang tahun, aku justru berfikir yang lain-lain Jiyeon-aa.”

“Yang lain-lain?”

“Eoh! Aku fikir kau mau menahanku di atas ranjang pagi ini.”

Nde? Dasar mesum!”

Kyuhyun kembali tertawa, mengerak gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri, hingga tubuh Jiyeon ikut bergoyang. “Terima kasih untuk ucapannya Jiyeon-ku sayang.”

Kyuhyun meletakkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, menciuminya bertubi-tubi dengan luapan cinta yang tak bertepi. Jiyeon pun sudah memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di dada hangat Kyuhyun seraya membalas pelukan Kyuhyun di tubuhnya.

“Kau mau aku memberimu hadiah apa, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mengeleng pelan. “Tidak perlu.”

Nde?”

“Aku sudah mendapatkan hadiah ku sejak 13 tahun yang lalu dan 6 tahun yang lalu, kau bahkan sudah menambahkan satu hadiah lagi untukku. Jadi sekarang— aku sudah tidak membutuhkan hadiah apapun lagi.”

Sarangae, Kyuhyun-ah.”

Tanpa perintah senyum bahagia Jiyeon merekah, menghiasi wajah cantiknya yang kini bahkan sudah bersemu merah muda. Jiyeon melepaskan pelukannya, kembali merengkuh wajah Kyuhyun seraya mengecup lembut kening, hidung dan bibir Kyuhyun dengan senyum bahagia yang kian mengembang.

“Aku sudah membuatkan Pancake kesukaanmu, kajja… Jina pasti sudah mengomel karena menunggumu terlalu lama.”

Jiyeon melangkah lebih dulu keluar dari kamar, berjalan cepat menelusuri beranda kamar untuk selanjutnya menuju meja makan, dimana Jina sudah duduk manis di sana bersama Xiumin dan beberapa pelayan lainnya. Dengan langkah pasti Kyuhyun ikut melangkah keluar dari kamar, mengembangkan senyum hangatnya saat menatap Jina yang sudah asik dengan roti panggang keju kesukaannya, di depan Jina Jiyeon tengah sibuk menyiapkan pancake dengan taburan banyak raspberry kesukaannya.

“Selamat pagi Jina sayang,”

“Selamat pagi ayah,”

“Apa ada yang kau lupakan pagi ini?”

“Tidak ada! Aku sangat ingat jika hari ini ayah bertambah tua,”

Seketika Jiyeon dan Xiumin tertawa pelan, membuang pandangan mereka saat Kyuhyun mendelikkan matanya ke arah Jiyeon dan Xiumin. Namun sesaat kemudian Kyuhyun sudah tersenyum, terlihat tidak kesal dengan ucapan Jina barusan. Membuat Jiyeon dan Xiumin mengeryit dan merasa heran, karena biasanya Kyuhyun pasti akan kesal jika Jina sudah mengeluarkan kalimat hinaannya.

“Hari ini ayah tidak akan marah, karena ayah sedang sangat senang,“

Wuah! Ini sesuatu hal yang langka.” Jina tersenyum seraya bertepuk tangan.

Satu kecupan hangat Kyuhyun berikan di puncak kepala Jina seraya duduk di samping putri tersayang itu, menerima uluran sepiring pancake dari Jiyeon yang duduk di seberang tempat duduknya. Tersenyum pada sosok malaikat hati yang terlihat semakin cantik ditiap harinya, hingga selalu mampu membuat Cho Kyuhyun semakin jatuh cinta pada malaikat-nya itu ditiap harinya.

Satu potongan  pancake kini sudah ada di mulut Kyuhyun, mengunyahnya dengan senyum bahagia yang tak lepas dari wajahnya sedari tadi. Menikmati sarapan hangat bersama istri dan putrinya, adalah hal yang sangat membahagiakan untuk laki-laki sibuk itu ditiap harinya. Karena hanya disaat pagilah Kyuhyun bisa berkumpul, dengan 2 wanita yang sangat dicintainya di dunia ini.

Ah! Kyuhyun benar-benar bahagia.

“Bagaimana kabarmu pagi ini ayah? Apa ayah benar-benar senang pagi ini?”

“Heemm—“

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tentu saja Jina sayang, apa yang ingin kau tanyakan?” Kyuhyun memiringkan tubuhnya, menanti pertanyaan Jina dengan tetap tersenyum lebar.

“Apa ukuran lemak di perut ayah kembali bertambah pagi ini?”

Seketika Kyuhyun menghentikan gerakan tangannya yang baru saja hendak kembali memasukkan potongan pancake ke dalam mulutnya, memutar kepalanya dalam satu tarikan dengan aura kesal yang langsung naik ke permukaan.

Yak! Haruskah kau merusak suasana hati ayahmu sepagi ini, Cho Jina?”

Jina menaikkan satu alisnya seraya memicing menatap Kyuhyun, melirik Jiyeon yang terlihat sudah menahan senyum dengan tetap menikmati menu sarapannya dengan santai— salad buah dengan siraman yougort—- dan menunggu perdebatan sengit Kyuhyun dan Jina yang akan dimulai sebentar lagi.

“Merusak suasana hati? Ayah aku hanya bertanya. Memangnya ada yang salah dipertanyaanku barusan?”

“Jelas sekali ada yang salah,”

“Di bagian mananya?”

“Di bagian lemak.”

“Benarkah? Lalu maksud ayah aku harus menganti pertanyaanku?’

Kyuhyun mengangguk cepat. “Tentu saja.”

“Baiklah kalau begitu, berapa jumlah jerawat yang kembali tumbuh di pipi ayah hari ini?”

Mwo??”

Jina melirik ke arah pipi lalu beralih pada perut Kyuhyun yang tiba-tiba terlihat mengempis saat Kyuhyun menarik nafasya, mengerakkan tangan mungilnya seraya mengusap perut Kyuhyun yang memang sudah terlihat seperti seorang wanita yang sedang mengandung 4 bulan dengan gelengan pelan di kepalanya.

“Ya Tuhan! Ayahku ter-sayang, perut ayah benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin dia membuncit hingga sebesar ini.” Jina kembali menggeleng. “Sulit dipercaya. Dan mulailah menggunakan cream jerawat yang diberikan ibu, gunakan juga cream malam sebelum tidur hingga wajah ayah tidak semakin terlihat tua.”

Jina kembali memalingkan wajahnya, kembali menikmati sarapannya dengan tertawa pelan bersama Xiumin yang sejak tadi sudah menahan tawa bersama Jiyeon. Gadis berusia 6 tahun itu tidak peduli sama sekali, dengan Kyuhyun yang tidak terima dan sudah mengomel panjang kali lebar, tidak begitu peduli saat Kyuhyun mengadu pada Jiyeon untuk semua kata-kata Jina barusan.

Kyuhyun mulai merenggek, mengadukan masalahnya pada Jiyeon selayaknya Jina yang terkadang mengadu padanya tentang teman-temanannya di sekolah. Laki-laki itu memajukan bibirnya, menganti nada bicaranya menjadi sangat manja. Kyuhyun benar-benar terlihat sama persis dengan Jina, jika sudah begini Jiyeon kadang berfikir jika dia memiliki 2 anak, 1 anak laki-laki berukuran besar dan 1 anak perempuan berukuran mini.

“Jiyeon lihat, bagaimana mungkin Jina menghinaku, menghina ayahnya sendiri.”

Jina memutar bolamatanya dengan malas, mengerakkan bibirnya mengikuti kata-kata yang Kyuhyun ucapkan dengan gaya acuhnya. Jina terlihat seperti sedang men-dubbing ucapan Kyuhyun dan Kyuhyun melihatnya, membuat laki-laki itu semakin merenggek tidak terima.

“Lihat? Dia bahkan meniru ucapanku, kau harus memarahinya Jiyeon-aa.”

“Kyuhyun sudahlah jangan berlebihan.”

“Aku sudah bersabar, tapi dia terus menghinaku.”

“Jina tidak menghinamu,”

“Lalu?”

“Jina hanya bertanya.”

“Iya hanya bertanya tuan Cho Kyuhyun yang terhormat, lagipula aku bertanya setelah ibu bilang padaku, jika sekarang tangan ibumulai kesulitan saat memeluk ayah dari belakang.”

Rengekkan Kyuhyun terhenti, terdiam sesaat lalu menatap Jiyeon seketika, menjerit tertahan dan merasa tidak percaya jika Jiyeon ada dibalik kekejaman pertanyaan Jina barusan. Kyuhyun terlihat kecewa lengkap dengan wajah sedih ala actor telenovela yang biasa mereka tonton di akhir pekan, merasa tidak percaya jika saat ini dia telah dihianati oleh wanita yang sangat dicintainya.

MWO? YAK! CHO JIYEON!!!”

“Aku hanya bercanda.”

“Kau menghianatiku!”

Eoh! Cho Kyuhyun, ayolah?”

Kyuhyun tidak terima, tetap menekuk wajahnya, menyambar jus jeruk dan meminumnya dengan brutal. Memasukkan potongan besar pancake ke dalam mulutnya, seraya bergumam tidak jelas dan mengabaikan saat jemari Jiyeon bergerak membersihkan sisa pancake yang tertinggal di ujung bibirnya.

Kyuhyun telah di hianati!

 

Apa? Di Hianati? Yang benar saja.

Ayolah Cho Kyuhyun, umurmu sudah 34 tahun dan kau adalah salah satu pengusaha yang ditakuti di dunia bisnis, jadi— haruskah kau bersikap seperti anak berumur 6 tahun?

Sulit di percaya!

Kyuhyun menarik nafasnya, terlihat kesal pada Jiyeon yang justru hanya tertawa dengan mengelengkan kepalanya, namun saat Kyuhyun baru saja ingin melanjutkan kekesalannya seorang pelayan paruh baya datang dan memberi kabar jika ada seorang tamu di pintu depan.

“Siapa?” Jiyeon bertanya.

“Pengemis?” Jina ikut bertanya.

“Jina.“

Sorry.

“Seorang pemuda, nyonya Cho.” sang pelayan menjawab dengan nada sopannya yang terprogram.

“Kau punya simpanan seorang laki-laki muda dibelakangku Jiyeon?” kini Kyuhyun ikut bertanya.

“Sepertinya begitu.”

“Nde?”

Jiyeon terlihat hanya kembali tertawa pelan seraya bangkit dari kursi yang di dudukinya, mengulurkan tangannya, mengusap wajah kesal Kyuhyun dengan lembut, hingga rasa kesal pria konglomerat itu perlahan menguap tanpa sempat Kyuhyun  menyadarinya.

“Bukan Kyuhyun, laki-laki itu asisten pribadi Jina yang baru. Teman lama Lee Xiumin, benar begitu Xiumin?” tanya Jiyeon yang kini sudah melinggarkan tangannya di sekeliling bahu Kyuhyun, membuat laki-laki dengan pipi yang semakin membulat itu tersenyum senang seraya menciumi lengan dan jari-jari Jiyeon dengan lembut.

Xiumin yang sejak tadi masih menikmati sarapannya hanya mampu mengangguk, bergumam tak jelas karena mulutnya terlalu penuh dengan makanan. Laki-laki yang berpredikat sebagai supir pribadi untuk Jina dan sudah dianggap sebagai anggota keluarga oleh keluarga Cho itu, tampak meminum segelas air guna mendorong makanan yang ada di mulutnya, hingga matanya membelalak saat beberapa potongan makanan sedikit tertahan di kerongkongannya, sebelum melaju menuju lambungnya.

Eoh! Iya benar sekali Jiyeon noona, dia temanku saat masih di high school.”

Seketika Jina berseru seraya bergegas turun dari sofa yang di dudukinya, terlihat antusias pada sosok asisten pribadi yang sudah di tunggu Jina sejak satu minggu yang lalu. Mengantikan Asisten pribadinya yang lama —Seo Minna— gadis muda yang menyerah dalam menghadapi sikap dan kata-kata Jina yang kerap kali membuatnya tersinggung.

“Biar aku saja yang melihatnya, ibu.”

Tanpa menunggu jawaban Jiyeon, Jina sudah berlari kecil meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Xiumin yang terlihat kembali menguyah roti dan Kyuhyun yang sudah menyuapi Jiyeon dengan potongan Pancake. Berlari melewati beberapa ruangan super luas, tangga besar di tengah ruangan, sebelum akhirnya berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.

Mata bening Jina yang terlihat sama indahnya dengan mata ibunya itu memicing, memandang dingin dengan tatapan menilai yang Jina pelajari dari pamannya Kim Heechul, pada sosok seorang laki-laki muda dengan tubuh yang sangat tinggi. Jina bahkan tidak bisa mengira berapa tinggi laki-laki di depannnya ini, laki-laki yang kini bahkan sudah tersenyum lebar hingga memperlihatkan keseluruhan gigi putihnya yang berukuran besar-besar yang tertata rapi.

Mengenakan kemeja biru kotak-kotak yang di kancing hingga kancing paling atas, berlapis Coat coklat sepanjang lutut sebagai luaran. Rambutnya berwarna coklat kemerahan, wajahnya tampan dengan mata bulat yang terlihat memandang Jina dengan hangat. Senyum laki-laki itu semakin mengembang saat laki-laki itu memberi salam, membungkukkan tubuh tingginya di depan Jina yang masih berkacak pinggang, lengkap dengan pandangan menilainya yang terasa begitu mengintimidasi.

“Selamat pagi, aggashi.”

Jina tidak menjawab hanya mengalihkan kedua tangannya, dari pinggang kini di lipat rapat di depan dadanya seraya bertanya satu pertanyaan, yang seketika membuat laki-laki tinggi di depan Jina membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit mengangga.

“Apa paman menggunakan penyangga kaki?”

Nde? Penyangga kaki?” laki-laki itu mengeleng pelan dalam kebinggungan yang terbaca mata. “Tidak, waeyo?

“Tinggi paman tidak normal.”

****

Living Room

“Park Chanyeol, teman lama Lee Xiumin, benar begitu?”

Jiyeon bertanya pada Chanyeol yang duduk di seberangnya dengan tersenyum hangat, menyerahkan sebuah memo kecil bersampul biru muda pada Chanyeol  seraya menjelaskan jadwal Jina selama satu minggu penuh.

“Aku sudah terlalu sering mengganti asisten pribadi untuk putriku, 20 asisten pribadi Jina terdahulu semuanya perempuan, mereka semua hanya bertahan selama 2 atau 3 minggu saja.”

“Benarkah?”

“Iya benar sekali. Maka dari itu aku mengantinya dengan seorang laki-laki dan aku sangat berharap kau akan bisa bertahan lama bersama Jina. Cho Jina! Kau jangan sampai salah menyebutkan namanya, putriku sangat perfeksionis dan cerewet persis seperti ayahnya.” Jiyeon tertawa anggun seraya melanjutkan kalimatnya. “Dia juga sangat manja, tidak bisa berkata manis dan selalu terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, Jina juga sangat sombong dan angkuh sama seperti ayahnya.” Jiyeon kembali tertawa pelan, menyadari jika semua sifat dan prilaku Jina benar-benar seperti Cho Kyuhyun.

“Ah! Ne sepertinya putri nyonya sangat mirip dengan tuan Cho.”

“Sama persis! Tidak ada yang terlewat, satu versi laki-laki dan satu nya lagi versi perempuan.” Kali ini Chanyeol ikut tertawa, mengeleng pelan dengan penuturan Jiyeon.

 

Sebegitu miripkah Jina dengan ayahnya? Tapi wajah Jina jauh dari kata menyebalkan, sulit di percaya! Pikir Chanyeol dalam benaknya.

 

“Jadwal Jina sangat padat, dia off hanya diakhir pekan. Pastikan kau menghafalnya dan jangan sampai tertukar, karena jika itu terjadi Jina pasti akan membunuhmu.”

“Nde?”

Seketika Chanyeol mengangguk mengerti dengan aura seram yang tiba-tiba saja sudah meremangkan bulu kuduknya, tak menyadari jika kini Jiyeon sudah tertawa pelan akan reaksi Chanyeol yang terlihat takut dan cemas.

Hey! Aku hanya bercanda.”

Ah! Iya nyonya, aku juga berfikir seperti itu. Bagaimana mungkin nyonya secantik anda, memiliki putri seorang psycopat.” Chanyeol tertawa sumbang guna menutupi gundahnya yang belum mau beranjak, mata bulatnya yang sejak tadi menyisir kemewahan ruang tamu, terlihat semakin tak mampu berpaling seraya berdecak kagum.

Ruangan ini sangat luas beralas permadani halus sewarna gading yang menutupi hampir seluruh lantai, berhias lukisan indah di bagian plafon dengan lambu crystal berbentuk bulat, berukuran sangat besar di bagian tengah plafon. Di sepanjang pinggiran plafon di hiasi ukiran dari emas yang berkilau, hingga menambah kesan mewah dan elegant di ruangan besar namun terasa hangat.

Saat baru saja tiba di kediaman keluar Cho ini, Chanyeol sempat melihat jejeran mobil mewah di garasi terbuka di beranda samping dan jika Chanyeol tidak salah lihat, laki-laki itu juga melihat 2 buah Jet pribadi terparkir tak jauh dari parkiran mobil. Belum lagi dengan kolam renang besar di bagian depan, Chanyeol pasti akan semakin terperangah jika laki-laki itu berjalan ke beranda belakang, di mana taman bermain super lengkap dan sangat luas milik Jina berada, lengkap dengan sebuah rumah pohon yang bisa di huni hingga 10 anak.

Keluarga ini benar-benar kaya raya. Pikir Chanyeol dalam benaknya.

“Semua yang di butuhkan Jina hari ini, sudah aku siapkan di koper besar yang ada di bagasi mobil. Segera hubungi aku jika kau menemukan kesulitan, atau jika Jina membuat masalah, kau mengerti Park Chanyeol?”

Chanyeol mengeleng pelan. “Aku tidak begitu mengerti nyonya, tapi aku akan berusaha keras untuk pekerjaan ini, nyonya tenang saja.”

****

Jiyeon merapikan sekali lagi penampilan Kyuhyun, tersenyum saat Kyuhyun mencium keningnya sesaat sebelum laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Jina yang sudah berdiri di depan mobil mewahnya tepat di depan mobil Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum pada Chanyeol yang membungkuk ke arahnya, berjongkok di depan Jina seraya mencium pipi putri kecilnya dengan sayang.

“Selamat ulang tahun ayah-ku, presiden direktur Cho Kyuhyun yang terhormat.” Jina tertawa lalu menghambur memeluk Kyuhyun dengan erat, membuat Kyuhyun kembali menciumi pipi dan kepala Jina berulang-ulang.

“Bekerjalah dengan baik dan cepatlah kembali.” Kyuhyun tertegun sebentar, merasa jika nada terakhir Jina berbeda. Terdengar sedih, cemas dan penuh harap, nada yang baru pertama kalinya Kyuhyun dengar sejak Jina lancar bicara 5 tahun yang lalu.

Ya selama ini Kyuhyun memang sangat sibuk dalam bekerja, mereka tidak pernah bertemu karena Kyuhyun selalu pulang saat Jina sudah tertidur. Hanya bertemu saat sarapan dan di liburan akhir pekan. Jika di hari biasa? Hanya sesekali saat Kyuhyun bisa pulang lebih cepat.

Kyuhyun mengusap punggung Jina dengan mata yang sedikit mengabur, merasa bersalah pada putri kecilnya karena tidak bisa memberikan waktunya lebih banyak. Sungguh Kyuhyun ingin sekali menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, tapi tanggung jawabnya untuk perusahaan dan untuk kehidupan karyawannya, menuntutnya professional hingga sedikit mengabaikan keluarga kecilnya.

Tapi demi Tuhan, Kyuhyun benar-benar selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, hingga bisa pulang lebih cepat ditiap harinya. Kyuhyun melepaskan pelukannya, membelai wajah Jina dengan senyum lebarnya, memaikan kepangan kuda di rambut panjang Jina seraya berucap kalimat yang membuat Jina, berteriak dan kembali memeluk Kyuhyun, mencium pipi ayah sibuknya itu dengan tawa lebarnya.

“Hari ini ayah akan pulang lebih awal, kita akan makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun ayah, bagaimana? Apa kau setuju?”

“Dan perayaan karena aku mendapatkan asisten pribadi yang baru.”

Nde?”

“Ayah aku sudah menunggu asistenku selama 1 minggu, ayah lupa?” Jina melepaskan pelukannya.

“Iya ayah tahu itu. Dan ayah mohon bersikap manislah Jina, karena jika Chanyeol mengundurkan diri dalam beberapa minggu ke depan, maka kau tidak akan pernah mendapatkan asisten pribadi yang baru lagi, arrachie?

“Bersikap manis? Manis yang seperti ini?”

Seketika Kyuhyun tertawa dengan keras hingga menyisakan cairan bening di ujung matanya, mencubit pipi Jina yang terlihat gembul seperti pipinya. Kyuhyun bahkan tidak menyadari jika Jiyeon sudah berdiri di sampingnya, hingga wanita cantik itu mengusap bahunya.

Hey! Kalian berdua sudah sangat terlambat.” Kyuhyun menoleh, mengangguk mengerti seraya menegakkan tubuh tingginya.

“Ibu ayahku adalah pendonor dana terbesar di sekolahku, jadi tidak akan ada yang berani memarahiku jika aku datang terlambat.”

“Jina! Berhenti menggunakan kekusaan, untuk menutupi kesalahan.”

“Mianhae,” Jina langsung mengangguk mengerti, sejak dulu Jina sangat patuh pada sang ibu. Tidak pernah membantah, apa lagi beradu argument seperti yang biasa Jina lakukan pada sang ayah.

Kyuhyun hanya tersenyum, mengusap kepala Jina sekali lagi, lalu memerintahkan Chanyeol membuka pintu mobil untuk putrinya. Kini Kyuhyun beralih pada Jiyeon, membelai wajah wanita itu dengan lembut sesaat sebelum ikut masuk ke dalam mobilnya. Kyuhyun membuka kaca mobil, melambaikan tangannya pada Jiyeon lalu pada Jina yang sudah duduk manis di balik kursi mobilnya.

“Jina jangan lupa untuk bersikap manis, arrachie?”

Yupp! Sangat dimengerti tuan Cho.”

Dan sesaat kemudian mobil Jina dan Kyuhyun pun mulai bergerak meninggalkan pelataran rumah, dengan arah yang berlawanan. Meninggalkan Jiyeon yang hanya bisa tersenyum bahagia, untuk semua hadiah terindah yang sudah Tuhan berikan di dalam hidupnya.

****

In The Car

“Bersikap manislah Jina sayang,”

Jina menirukan gaya bicara Kyuhyun dengan begitu fasih, membuat Xiumin tertawa di balik kursi kemudi dan membuat Chanyeol yang duduk di sebelah Jina mengerutkan keningnya.

“Bersikap manis?” ulang laki-laki tinggi itu pelan, namun bisa didengar oleh Jina.

“Ya. Ayah memintaku untuk bersikap manis padamu, haruskah?”

Nde?

Wae? Kau tidak mengerti ucapanku?”

Chanyeol mengeleng pelan membuat Jina memutar bolamatanya dengan malas, Jina pun memutuskan untuk tidak melanjutkan ucapannya dan melirik memo biru di tangan Chanyeol.

“Apa paman—-“ Jina menggantungkan kalimatnya, memandangi wajah Chanyeol dengan seksama. Pandangan yang membuat Chanyeol mengeryit, dengan bulu-bulu halus di tengguknya yang mulai meremang. Entahlah Chanyeol hanya merasa tatapan Jina saat ini sangat suram.

“Sepertinya kau terlalu muda jika dipanggil paman, baiklah aku akan menyapamu seperti aku menyapa Xiumin oppa. Chanyeol oppa apa kau sudah menghafal jadwalku hari ini?”

“Ne! Hari ini Jina aggashi sekolah hingga pukul 2 siang, lalu pukul 2.30 les matematika, lalu 3.30 les bahasa inggris, lalu pukul 4.30 les piano di lanjutkan dengan les mengambar hingga pukul 5.30 sore. Cemilan yang harus aku berikan, susu 250 ml selesai les matematika, 1 buah pisang setelah selesai les bahasa Inggris, 1 bungkus cookies setelah les mengambar.”

“Lalu?”

“Pukul 5.30 kita pulang, mandi lalu makan malam, pukul 7 aggashi akan kembali les private piano di rumah dan pukul 7.30 malam les bahasa mandarin. Pukul 8.00 hingga pukul 9 malam mengerjakan PR dari sekolah dan dari tempat les.”

“OK!”

“Jina aggashi, bolehkan aku bertanya?”

Eoh!”

“Untuk apa kau melakukan banyak sekali les tambahan setelah pulang sekolah, senin hingga jumat jadwal mu sangat padat. Dari les matematika, bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Prancis, balet, berenang, basket, biola, piano, golf, tenis, menggambar, les vocal, memasak, yoga hingga taekwondo.”

“Chanyeol oppa yang sangat tinggi tanpa penyangga kaki,” Chanyeol langsung melirik ke arah kakinya. “Aku ini adalah putri tunggal dari keluarga terkaya nomor 2 di Korea Selatan, di kalangan konglomerat seperti kami, sangatlah di perlukan keahlian lebih dan beragam dari orang kebanyakan, supaya aku bisa bergaul dengan siapapun dan di manapun, kau mengerti oppa?

Chanyeol hanya mengerjap pelan, tanpa tanda-tanda mengerti tentang semua yang di katakan Jina padanya.

“Ya Tuhan!” Jina mengerang kesal, namun di detik berikutnya gadis kecil itu sudah terlihat berfikir. “Xiumin oppa, bukankah seharusnya aku les private biola hari ini bukan piano?”

“Nona Kim Nana , guru private biola mu mengundurkan diri minggu lalu Jina sayang, apa kau lupa?”

Eoh?”

“Kau menumpahkan segelas susu di bajunya, lalu kau tidak mau melakukan latihan dan hanya terus bicara menilai tentang wajah dan penampilannya. Kau bahkan mengatakan jika hidungnya palsu, cat kukunya murahan dan bajunya sangat kuno.”

Ah! Iya aku ingat. Wanita itu sangat antusias saat menceritakan ayahku, semua asisten pribadi terdahulu selalu bersikap berlebihan padaku jika ayah datang, aku tidak suka oppa,”

“Semua guru private perempuan dan 20 asisten pribadimu terdahulu, selalu mengeluh dengan kelakuan dan kata-kata mu sayang, kau ingat itu kan?”

“Iya! Aku ingat.” Jina menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Aku melakukannya karena—-“ Jina menghentikan ucapannya sejenak, menimang sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.

“Kalian harus berjanji untuk tidak mengatakannya pada ayah dan ibuku, arrachie?

Xiumin dan Chanyeol mengangguk setuju.

“Aku melakukannya karena—- karena aku tidak mau mereka mengambil ayahku dari ibu.”

“Nde?” Xiumin dan Chanyeol terlihat terkejut.

“Wae?” Jina balas menatap 2 laki-laki itu dengan wajah tak sukanya. “Ada yang salah diucapan ku? Aku sudah menggunakan kata-kata yang sangat sopan yang aku pelajari dari ibuku, apa masih kurang?”

”Bukan begitu,” Xiumin bergumam.

“Untuk apa mereka mengambil ayahmu?” kini Chanyeol bertanya.

“Tentu saja untuk semua harta ayahku,”

“Harta?” Chanyeol bertanya.

“Bagaimana kau bisa berfikir seperti itu, Jina sayang?”

Samcheon yang memberitahuku,”

Samcheon?” Chanyeol kembali bertanya.

“Ne! Heechul samcheon.”

“Apa dia juga kaya raya?”

“Tentu saja! Dan kau tahu kan Chanyeol oppa, jika ayahku sangat kaya. Ayahku bisa membeli apapun, dengan lembaran kertas sahamnya yang bernilai ratusan juta dollar. Jadi mereka semua mengincar ayahku.”

“Kertas saham? Kertas apa itu? Kertas ajaibkah hingga bisa membeli apapun?”

Nde?” Jina melipat tangannya di depan dada. “Chanyeol oppa, aku tahu kau bukan anak orang kaya ataupun pengusaha. Tapi aku rasa usia mu seharusnya bisa mengerti yang aku maksud, kau sudah menghabiskan hidup mu selama—“ Jina melirik Xiumin.

“Hampir 25 tahun.”

Yupp! Hampir 25 tahun. Setidaknya jika kau tidak mengerti, kau pasti tahu jika lembaran saham itu bernilai uang kan?”

Chanyeol menggeleng, memiringkan kepalanya ke arah samping kanan, terlihat berfikir keras tentang kertas yang di maksud Jina.

Mungkinkah kertas itu berasal dari negeri sihir Harry Potter? Tapi seingat Chanyeol, tidak ada cairan ajaib yang bisa mengubah kertas menjadi uang di serial favoritnya itu. Buktinya, keluarga Weasley masih saja miskin di serial itu, lalu kertas itu berasal dari mana?

Ah! Kertas saham? Terdengar rumit. Pikir Chanyeol dalam benaknya.

Jina mendesah pelan seraya memajukan lehernya, hingga berada di samping wajah Xiumin yang menatap lurus jalanan ramai di depannya.

Oppa! Sebenarnya temanmu ini berasal dari galaxy mana? Kenapa dia terlihat sangat bo—-“

“Lamban dalam berfikir sayang, ingat jangan menggunakan kata-kata yang bisa membuat ibumu menjadi murka.”

“Iya lamban dalam berfikir,” Jina mengulang kata-katanya dengan malas.

“Kau bisa melatihnya Jina, agar Chanyeol menjadi lebih cepat berfikir nantinya.”

“Melatih? Memangnya dia Blue yang bisa di latih untuk berlari ke toilet, jika ingin buang air kecil.” Xiumin tertawa pelan.

Blue adalah kucing jenis Scottish Fold dengan harga 100 juta won. Kucing dengan bentuk daun telinga yang mengatub, serta mempunyai hobi duduk dalam posisi Budha dan termasuk salah satu kucing paling mengemaskan di dunia. Berbulu coklat abu-abu dan bermata biru yang menjadi peliharaan sang ibu di rumah, kucing yang Kyuhyun hadiahkan diulang tahun sang istri 3 tahun yang lalu.

“Tapi—“

“Jina aggashi!”

“Apa?”

“Kenapa tidak ada jadwal makan siang?”

“Aku makan di kantin sekolah.”

Eoh!”

“Tunggu dulu—-“ Jina menatap Xiumin dengan wajah yang tiba-tiba sudah berseri gembira, mengingat satu hal yang hampir saja dia lupakan.

“Apa aggashi?”

“Hari ini ayahku akan pulang cepat,”

“Lalu?”

“Batalkan semua jadwalku hari ini, setelah selesai sekolah kita akan langsung pulang,”

“Mwo?”

Jina berseru senang dengan mengecup pipi Xiumin yang juga terdengar sudah tertawa, mereka terlihat bernyanyi lagu ulang tahun dalam hiporia bahagia hingga mengabaikan Chanyeol. Laki-laki yang terlihat sibuk membuka daftar telephone dan menelphone semua tempat les Jina, guna membantalkan jadwal les nona besar itu hari ini.

Ternyata pekerjaan sebagai asisten pribadi dari nona kaya raya seperti Cho Jina, bukanlah pekerjaan mudah. Ini bahkan lebih sulit dari yang pernah Chanyeol bayangkan sebelumnya.

Benar-benar menguras pikiran!

****

Cho’s House

Living Room – 06.00 pm

Jina berdiri diam di dinding kaca tepat di depan garasi mobil, tempat dimana semua mobil mewah sang ayah terparkir. Gadis kecil itu mendesah gelisah, merasa kesal dan tak sabar menunggu kepulangan Kyuhyun yang hari ini, berjanji akan pulang lebih cepat untuk makan malam bersama. Mata bening Jina mengerjab pelan, menatap putus asa jam besar dengan tinggi yang hampir menyamai tinggi ayahnya, berdiri kokoh di tempatnya tepat di hadapan Jina. Jam besar dengan jarum pendek yang hampir mengapai angka 6. Itu berarti Jina sudah berdiri di sana selama hampir 60 menit yang lalu, Jina mengusap matanya yang sedikit berembun, mengubur keinginan tak masuk akal yang dia harapkan dari sang ayah.

Sejak kapan ayahnya punya waktu luang di hari selasa? Bukankah Senin hingga kamis adalah hari tersibuk ayahnya? Hanya di hari jumat Kyuhyun pernah sesekali pulang lebih cepat.

Satu usapan lembut di bahu membuat Jina berpaling, mendapati sosok sang ibu —Cho Jiyeon— sudah berdiri di sampingnya dengan tersenyum hangat.

“Kau merindukan ayahmu?”

“Tidak!”

“Benarkah?”

Jina kembali mengeleng, berusaha menyembunyikan rasa yang sebenarnya pada sang ibu yang sayangnya terbaca jelas di mata Jiyeon.

Ya Jiyeon tahu jika ditiap harinya, Jina sangat berharap Kyuhyun bisa pulang lebih awal.

“Mobil ayahmu terjebak macet di jalan bebas hambatan, jadi—-“

“Sejak kapan jalanan kota Seoul menjadi macet, ibu?”

Jiyeon membungkukkan tubuhnya, mengusap wajah kecewa Jina dengan sayang. “Ada kecelakan beruntun terjadi beberapa jam yang lalu, hingga membuat di sepanjang jalanan bebas hambatan menjadi padat.”

“Kecelakaan? Bagaimana dengan ayah?”

“Ayahmu baik baik saja, hanya terkena imbas kemacetan. Dan apa kau tahu, jika sekarang ayahmu bahkan sedang mengomel panjang lebar, hingga migran Seunghyun ahjussi kambuh.”

Seketika tawa Jina pecah seketika, membuat Jiyeon ikut tertawa terbahak, membayangkan wajah kesal Cho Kyuhyun saat ini

“Ayah pasti sedang menelphon Perdana Mentri Korea untuk masalahnya ini, atau mungkin ayah sedang menelphone pilot pesawat keluarga kita untuk menjemputnya sekarang juga.”

“Eoh! Dan sayangna tidak ada landasan pesawat dan jalananpun tak menyisakan lahan yg bisa di pakai untuk mendaratkan Pesawat Jet. Jalanan benar-benar penuh, kasian sekali.”

Jina dan Jiyeon terlihat semakin tertawa senang hingga memegangi perut masing-masing, tak menyadari jika ada sosok pria tinggi dengan badan yang sedikit mengemuk, sudah berdiri di dekat mereka. Berkacak pinggang dengan aura dingin yang meremangkan, bulu-bulu halus di  tengkuk siapa saja yang sempat melihatnya.

Yak! Apa kalian sedang membicarakanku?”

Seketika Jina dan Jiyeon menoleh, terlihat terkejut sekaligus senang bahkan mereka berdua langsung menghambur memeluk Kyuhyun. Membuat Kyuhyun lupa dengan niatnya yang ingin memarahi Jina dan Jiyeon, karena tertanggap basah sedang menertawakan dirinya. Kini Kyuhyun bahkan sudah membawa Jina dalam gendongannya di tangan kanan, dengan tangan kiri yang sudah merangkul bahu Jiyeon dengan erat.

Hey! Apa kalian berdua sangat merindukanku?”

Wajah Kyuhyun terlihat sangat sombong, merasa besar kepala kala mendapati jika 2 malaikat-nya itu sangat menanti kedatangannya. Namun sayangnya Jina dan Jiyeon sama-sama mengeleng, membuat Kyuhyun mengeryit, menurunkan Jina dari gendongannya dengan alis yang sama-samar terlihat menyatu.

“Lalu?”

“Kami senang kau datang bukan karena merindukan mu,” Jiyeon menatap Jina dengan senyum tertahan, sesaat sebelum menjawab berbarengan dengan Jina.

“Kami senang karena kami sudah lapar.”

Nde?”

Yupp! Ibu bilang aku baru bisa makan jika ayah sudah pulang, dan sekarang— Yeyy! Aku bisa makan sepuasnya.”

Jiyeon dan Jina bersorak kegirangan, Jina bahkan sudah berteriak memanggil Xiumin dan Chanyeol untuk bergabung bersamanya di meja makan, meninggalkan Kyuhyun begitu saja di belakang sana. Meninggalkan Kyuhyun yang terlihat sudah berkacak pinggang, terlihat kesal sebelum akhirnya berteriak kencang hingga Jina, Jiyeon, Xiumin dan Chanyeol menutup telinga mereka.

“YAK! KALIAN KETERLUAN!!!”

****

Jina terlihat senang saat menyantap makan malamnya yang terasa sangat istimewa, bersama sang ayah, ibu, Xiumin dan asisten pribadinya yang baru. Menyantap makanan buatan sang ibu, bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi di sekolahnya kepada Kyuhyun, Jina juga menceritakan tentang kelambatan jalan berfikir Chanyeol hingga membuat kening Kyuhyun mengeryit, seraya mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang duduk di seberang tempat duduknya.

“Benarkah?”

Kyuhyun menatap Chanyeol lekat dengan tatapan menilai yang terasa begitu mengintimidasi, hingga Chanyeol merasa sulit untuk sekedar menelan makanan yang sudah ada di rongga mulutnya. Chanyeol juga merasa jika tatapan menilai Kyuhyun saat ini, terlihat sangat mirip dengan tatapan Jina tadi pagi.

“Memangnya kau tidak makan bangku kuliah, Chanyeol-aa?” Chanyeol mengerjab, sedikit binggung dengan kata-kata Kyuhyun barusan.

 

Makan bangku kuliah? Memangnya bangku kuliah bisa di makan?

Bukankah hanya rayap atau serangga lainnya yang punya hobi makan benda-benda seperti itu?

 

Nde? Makan bangku kuliah?”

Kyuhyun mengangguk.

“Tidak tuan Cho, gigi ku tidak kuat jika harus memakan bangku kuliah, bangkunya—- sangat keras.”

Seketika semua mata yang ada di meja makan membulat, menatap Chanyeol yang hanya memasang wajah polosnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Kyuhyun membulatkan matanya seraya berteriak, dengan nada yang terdengar sangat berlebihan. “MWO???”

Jiyeon hanya mengeleng dengan senyum tertahan.

Xiumin menutup wajahnya dengan serbet makan, sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak.

Dan Jina??

Jina???

Memutar bolamatanya dengan komentar yang membuat semua mata menatap ke arahnya, bahkan membuat Jiyeon berteriak dengan kencang seraya menyerukan nama putri tunggalnya itu.

“Chanyeol oppa! Apa Cerebrum-mu tertinggal di dalam mobilku?”

“JINA!!!”

“CHO JINA SAYANG! HAPPY BIRTHDAY!!!”

Kali ini semua mata beralih pada suara yang tiba-tiba saja memenuhi ruang makan, suara yang membuat Jiyeon menahan kata-kata nasihat untuk Jina.

“SAMCHEON!!!”

Jina menjerit seraya turun dari bangku yang di dudukinya, berlari menghambur pada sosok laki-laki yang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun panjang ala Princess Anna, di cerita Disney Frozen lengkap dengan jubah merahnya.

Laki-laki sibuk yang selalu mengunjungi Jina setiap 3 hari sekali, terbang menggunakan Jet pribadinya yang mewah dari negeri Queen Elizabeth, hanya untuk menghilangkan rasa rindunya pada Cho Jina. Laki-laki yang merupakan sepupu jauh Jiyeon dan mengenal Jina saat datang di perayaan ulang tahun Jina yang ke 4, laki-laki yang memberikan sebuah Jet mewah, sebagai hadiah di ulang tahun Jina yang 5 tepat satu tahun yang lalu.

“Kau merindukanku?” laki-laki itu berjongkok di depan Jina.

Hemm—- sangat.” Jina tertawa pelan saat laki-laki itu menciumi pipinya. “Tapi Heechul Samcheon, hari ini yang berulang tahun bukan aku, tapi ayahku.”

“Ah! Jinjjayo?”

Heechul memasang wajah terkejut dengan ekspresi yang terlihat berlebihan, menegakkan tubuhnya saat mendapati Kyuhyun dan Jiyeon sudah berdiri di samping tubuhnya. Laki-laki cantik itu tersenyum tersipu ke arah Jiyeon seraya mengibaskan poninya, mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun dan saat itu juga baik Kyuhyun dan Heechul sama-sama mendegus sebal dengan wajah yang sama-sama berpaling.

Ya! Sejak bertemu Heechul 2 tahun silam dan sejak Heechul selalu datang dan mengambil seluruh perhatian Jina, sejak Heechul sering mengajari hal-hal aneh pada Jina, Kyuhyun menjadi sangat kesal tiap kali Heechul datang ke rumahnya. Dan sejak itu pula Heechul adalah rekan berdebat Kyuhyun versi orang dewasa.

“Ne! Benar sekali Kim Heechul!” Kyuhyun menarik sudut bibirnya saat menatap penampilan cantik Heechul.

Berlebihan! Pikir Kyuhyun dalam benaknya.

“Happy—-,” ucap Heechul dengan malas.

Samcheon harus menjabat tangan ayah, saat mengucapkan kata-kata selamatnya.”

Kyuhyun dan Heechul tertawa sumbang sesaat sebelum saling berjabat tangan. Dan tentu saja tanpa kata selamat.

“Aku pikir Jina yang berulang tahun, jadi aku hanya membawa nail polish biru ini sebagai hadiah.” Heechul memperlihatkan botol nail polish 7 ml berbentuk bulat di tangan kanannya.

“Nde?”

“Wae? Ini nail polish Frozen limit edition, dengan butiran mutiara dan emas putih yang berkilau.”

“Kau pikir aku laki-laki pemakai nail polish sepertimu!”

“Ya Tuhan kenapa kau pemilih sekali, Cho Kyuhyun.”

“Dasar aneh!”

“Dasar pemilih!”

Kembali Jiyeon hanya bisa mengelengkan kepalanya, merasa sudah terbiasa dengan perdebatan Kyuhyun dan Heechul yang tidak pernah surut sejak dulu.

Samcheon, ulang tahun ku tanggal 2 Maret bukan 3 February.”

“Iya Jina sayang, sepertinya aku salah mengingat.”

Ah! Laki-laki pikun.”

“Laki-laki gendut.”

“Bisakah kalian berhenti,” Jiyeon menyela dengan menghembuskan nafasnya. “Baiklah nail polish ini untukku saja, besok aku akan memakainya.” Heechul langsung mengangguk setuju dan menyerahkan botol nail polish pada Jiyeon.

“Lupakan tentang hadiah ulang tahun untukku Heechul, karena aku tidak membutuhkannya.”

Kyuhyun membalikkan tubuhnya sesaat setelah menyambar jemari Jiyeon ke dalam genggamannya, berjalan kembali menuju meja makan di mana Xiumin dan Chanyeol masih duduk menikmati makanan mereka dengan hikmat. Tidak merasa terganggu sama sekali, dengan perdebatan Kyuhyun dan Heechul. Dengan menggandeng Jina Heechul ikut berjalan menuju meja makan, menatap menilai pada sosok Chanyeol yang sudah menunduk ke arahnya.

“Siapa dia, Jiyeon-aa?”

“Park Chanyeol, asisten pribadi Jina yang baru Heechul oppa.” Heechul mengangguk sekilas, kembali menatap Kyuhyun yang tengah kembali menikmati makanannya.

“Tidak membutuhkan hadiah? Cih! Sombong sekali.” Heechul bertanya pada Kyuhyun dengan mencibirkan bibirnya.

“Itulah kenyataannya, Kim Heechul! Aku sudah memiliki 2 hadiah istimewa yang takkan pernah bisa tergantikan oleh apapun, aku sudah punya 2 malaikat cantik yang membuat hidupku sangat sempurna. Lalu jika sudah begini, apa aku masih membutuhkan hadiah yang lain lagi?”

Heechul terdiam sesaat, merasa tak punya kata sanggahan jika Kyuhyun sudah membahas tentang 2 malaikatnya. 2 hal dari Kyuhyun yang tidak bisa Heechul kalahkan hingga saat ini, 2 hal yang membuat Heechul merasa jika hidup ini terlalu kejam untuk dirinya.

“Tapi tenang saja Heechul, kau bisa meminjam 2 malaikat ku kapan pun kau mau,” Kyuhyun tersenyum, laki-laki itu sangat tahu jika Kim Heechul desainer dan pengusaha sibuk itu sangat kesepian.

“Karena kau adalah salah satu sumber dari senyum bahagia malaikat u dan sialnya, senyum 2 malaikatku adalah sumber terbesar dari kebahagianku di dunia ini.”

Jiyeon yang duduk di samping Kyuhyun langsung merangkul lengan Kyuhyun dan bersandar manja di sana, Jina terlihat tertawa senang seraya mencium pipi Heechul berulang. Sedangkan Xiumin terlihat terharu hingga mata sipitnya berembun saat mendengar kata-kata manis Kyuhyun yang langka, hanya Chanyeol yang terlihat biasa saja dengan raut wajah tidak mengerti tentang sosok malaikat yang dimaksud Kyuhyun.

Ah! Daya pikir Chanyeol benar-benar payah.

Dan selanjutnya di meja makan yang sangat besar dengan hidangan makanan lezat yang memenuhi hampir di seluruh bagian meja, hanya terdengar rangkaian cerita Heechul pada semua orang tentang semua kegiatannya di Inggris. Di tambah dengan cerita-cerita Jina tentang teman-temannya di sekolah, menyisakan suasana hangat yang membahagiakan dengan hiporia kebahagian yang membalut hati mereka semua hingga ke bagian terdalam.

Karena sejatinya dapat berkumpul dan menceritakan semua hal menajubkan yang terjadi di dalam hidup mu, pada orang-orang yang kau cintai adalah kebahagian paling sempurna yang ada di dunia ini.

By the way… Happy Birthday, Cho Kyuhyun!”

~ THE END ~

FF ini dibuat untuk ultah Kyuhyun 3 February lalu… layakkah untuk di baca? Hahaha Enjoy

 

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. @erna_nena_rin
    May 29, 2015 @ 18:42:11

    Haha. .Sarangraheyo kim Heechul. daebak ni crta. Cho kyuhyun olang kaya.

    Reply

  2. Niken ayu
    May 29, 2015 @ 20:10:08

    kkkkk~ replika kyuhyun dan tertular virus keren(?) heechul

    cerita yg lain dong ^^

    Reply

  3. missrumii
    May 30, 2015 @ 12:18:27

    Sweet bangeeetttt….
    Mbul. Kamu ngga di FF ga di kehidupan nyata tetep aja di ceritain gendut😀

    Reply

  4. blackjackelfsone
    May 31, 2015 @ 03:42:52

    NgAkakakkkkk banget bacanya !!! Kerennnn

    Reply

  5. ayu diyah
    Jun 06, 2015 @ 08:34:50

    keluarga yg mnis…
    tp ya ga bisa bayangin kaya nya mreka😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: