Angel

ANGEL

Author            : gluu

Title                : Angel

Genre                         : Romance

Rating             : PG 15

Length            : Oneshot

Cast                :

  • Kang Hyu Won (OC)
  • Cho Kyu Hyun of Super Junior
  • Lee Hyukjae of Super Junior

Notes               : Assalamualaikum, hallo semua! Ini FF kesekian yang aku kirim ke sini. Sebelumnya makasih buat all admin yang udah publish cerita aku. Makasih juga buat readers di sini yang udah baca, komen, like. FF ini baru dipublish di sini sama blog pribadi aku. Sekalian mau promosi buat dateng ke alamat blog aku yg baru, www.gluuarea.wordpress.com hehe. Oke deh langsung aja, happy reading!

 

***

Dia adalah angel…

“Ke mari,” suara Kyu Hyun terdengar penuh penekanan. Hyu Won menundukan kepalanya lalu berjalan pelan menuju pria itu. Tangan gadis itu mengepal ujung-ujung rok seragamnya, ia berharap lantai tempatnya berjalan terbelah dua sehingga bisa menelan tubuhnya masuk.

“Ne,

Kyu Hyun mendengus kesal melihat tubuh gemetar gadis itu, “Eommanim dan Abeonim masih di Busan?” tanya pria itu.

“Ya, mereka masih di Busan,” jawab gadis itu, kali ini suaranya terdengar sedikit santai.

Kyu Hyun menegakan tubuhnya hingga membuat punggungnya sedikit menyandar santai pada sandaran kursi. “Ke marilah, mengapa kau takut sekali denganku? Aku terlihat seperti monster?”

Sejujurnya, iya. Jawab gadis itu di dalam hati.

Hyu Won melangkahkan kakinya lagi, Kyu Hyun menyeringai tipis lalu dengan sekali tarikan pria itu membuat Hyu Won terduduk tegang di atas pahanya.

“Aa…pa yang kau lakukan, oppa?”

Kyu Hyun merenggangkan kedua kakinya sehingga gadis itu bisa meletakan kakinya dengan leluasa di antara kedua paha pria itu. “Bersikaplah santai sedikit Kang Hyu Won, setelah kau lulus kita akan menikah. Tapi mengapa kau selalu tegang dan gemetar bila berada di sampingku?” tanya Kyu Hyun dengan senyum ringan, ia berusaha menahan rasa geli karena tubuh gadis itu begitu tegang di atas pangkuannya.

“It…tu…” Hyu Won tak yakin ia harus menjawab pertanyaan pria itu.

“Wae?” tanya Kyu Hyun, tangan pria itu bergerak santai menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah manis gadis itu. Hyu Won semakin menegang.

“Kau lapar?” Hyu Won bertanya tiba-tiba. Kyu Hyun menaikan sebelah alis matanya, pria itu tahu Hyu Won sedang berusaha mengalihkan situasi canggung di antara mereka.

“Tidak,” jawab Kyu Hyun santai. Hyu Won memejamkan matanya sekilas, ia menggigit bibir bawahnya sebagi bentuk rasa frustrasinya. Usahanya gagal.

“Malam ini kau menginap di tempatku,” ucap Kyu Hyun kemudian. Hyu Won membulatkan matanya terkejut.

“Wae? Mengapa aku harus menginap di tempatmu?” tanya gadis itu gusar.

“Karena kau sendirian di rumah. Dan aku sudah meminta ijin pada abeonim dan eommanim,” ucap Kyu Hyun seperti serangan yang bertubi-tubu untuk gadis itu. Ia tahu gadis itu akan menolak permintaannya.

“Keundae…”

“Tidak ada penolakan. Aku sangat khawatir tunanganku sendirian di rumah,” ucap Kyu Hyun dengan aksen menggombal. Hyu Won mendengus di dalam hatinya.

“Aku sudah dewasa, kau tak perlu khawatir.”

“Tidak-tidak,” Kyu Hyun menggoyangkan jari telunjuknya. “Kemasi barang-barangmu, aku akan menunggu di mobil.” Ucap Kyu Hyun dengan tegas. Hyu Won tahu pria itu tak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.

Eottohkae?

****

Hyu Won memandang interior rumah Kyu Hyun. Mulut gadis itu masih menganga lebar meskipun ini ketiga kalinya ia berkunjung ke rumah pria itu. Ia tak mengerti mengapa pria sekaya dan sedermawan Kyu Hyun tiba-tiba mengajukan permohonan pertunangan padanya tiga bulan yang lalu. Ayahnya hanya pegawai rendahan di perusahaan pria itu. Ibunya bahkan tak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga pria itu. Keluarga mereka memiliki status sosial yang jelas sangat jauh dari keluarga Kyu Hyun.

“Rumah ini akan menjadi milikmu kelak setelah kita menikah,” ucap Kyu Hyun memotong lamunan gadis itu.

“Nde?” pekik Hyu Won. Pipinya merona merah.

“Tepatnya setelah kau lulus,” Kyu Hyun menambahkan lagi. Hyu Won menatap pria itu dengan dahi berkerut. Ia memilih untuk menyimpan semua pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya. Ia tak memiliki keberanian untuk bertanya pada pria itu.

“Ah… kau bisa menggunakan kamar di ujung sana untuk mandi,”

“Gomawo,” balas Hyu Won cepat. Dengan gugup ia membalikan tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar tersebut.

Kyu Hyun mengusap tengkuknya, rasa lelah seketika hilang. Ia punya hiburan malam ini. Hyu Won begitu manis dan mudah sekali bersemu merah. Kyu Hyun tahu ia sedikit keterlaluan karena mempermainkan mental gadis itu, tapi ia menyukainya.

****

Hyu Won mengikat tali kimono yang ia kenakan, ia membuka pintu kamar mandi. Tubuhnya terasa lebih ringan dan segar. Setidaknya ia bisa menghindari Kyu Hyun untuk beberapa saat. Gadis itu baru saja akan menarik nafas saat matanya membulat dengan lebar.

“OMMO!” Hyu Won menjerit keras saat melihat Kyu Hyun tengah berdiri membelakanginya. “Apa yang kau lakukan di sini, oppa?” Hyu Won bertanya gusar, tangan gadis itu bergerak cepat mencengkram kimononya. Ia melakukan gerakan mengantisipasi.

“Ah wae?” tanya Kyu Hyun santai.

Wae?

“Ini kamarku, aku mau mengambil pakaian ganti.” Balas Kyu Hyun seolah tahu apa yang ada dalam benak Hyu Won. Pria itu tersenyum puas di dalam hatinya.

Hyu Won mengusap dahinya kesal, ia tak bisa bertingkah kasar pada pria itu. Kalau dia bukan Kyu Hyun melainkan Hyukjae, Hyu Won sudah pasti menjitak kepalanya dengan keras.

“Mian, aku lupa  ini kamarmu…” balas Hyu Won akhirnya. “Tapi seharusnya kau tidak masuk, maksudku kau tahu aku sedang mandi seharusnya kau tidak masuk… kau tahu maksudku privasi,” tambah Hyu Won dengan gugup. Ia benar-benar ingin menyampaikan pada Kyu Hyun agar pria itu bisa sedikit menghormati privasinya. Ia tidak bermaksud menggurui pria itu.

Kyu Hyun menolehkan kepalanya ke samping menghindari tatapan Hyu Won, bibirnya tersenyum puas. Ia akhirnya mendengar kalimat lain dari bibir gadis itu selain kalimat patuh dan ketakutan seperti biasanya.

“Tak akan terulang lagi,” Kyu Hyun mengangkat bahu tak acuh seolah merasa bersalah padahal ia tak merasa seperti itu sama sekali, ia benar-benar menahan rasa tawanya saat melihat rona merah dari wajah Hyu Won.

****

Keduanya duduk canggung di depan banyaknya makanan. Sebenarnya hanya Hyu Won yang duduk canggung. Mata gadis itu sejak tadi mencuri pandang ke arah Kyu Hyun. Kyu Hyun terlihat lebih muda dalam balutan kaos dan celana jeans biru. Pria itu terlihat seribu kali lebih santai, tak seperti biasanya bila memakai jas dengan dasi yang mencekik lehernya setiap saat.

“Jadi mengapa kau hanya melihat makanannya saja? Kau tidak lapar? Makanannya tidak sesuai seleramu?” tanya Kyu Hyun santai, tangan pria itu terlipat di atas meja makan.

Hyu Won menggelengkan kepalanya pelan, “Anniyo, kurasa ini terlalu berlebihan. Kita hanya berdua tapi kau menyiapkan makanan seolah kita sedang mengadakan pesta penyambutan, oppa.”

Kyu Hyun tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu, “Saat kita menikah nanti, kau akan terbiasa dengan hidangan yang begitu banyaknya.”

Hyu Won selalu berubah kesal dan takut bila pria itu mulai membicarakan tentang “akan menikah”, “mau menikah”,”calon istri”. Ia bahkan belum memasuki usia 20 tahun dan pria itu selalu berbicara seperti itu. “Bukankah itu tindakan pemborosan, ada banyak orang yang tak makan tapi kau justru menghamburkan makanan di sini, di rumah megahmu.” Hyu Won berbicara dengan tajam. Ia sedikit terbawa emosi bila mengingat kondisi keluarganya.

“Whoa… tahan Hyu Won-ah, kau pikir aku suka menghamburkan makanan? Kau pikir aku membuang semua makanan yang tidak termakan? Kami bekerja untuk mendapatkan uang, dan makanan adalah sebuah anugrah. Jadi untuk urusan makanan kami memiliki pengaturan sendiri, ada banyak pengemis di luar sana yang selalu makan setiap saat ketika kami kelebihan makanan.” Ucap Kyu Hyun tak kalah tajam walaupun senyuman tetap menempel di bibirnya. Hyu Won bisa merasakan nada tersinggung di sana.

Hyu Won menundukan kepalanya, ia merasa malu karena terbawa emosi dan menuduh pria itu dengan sembarangan. “Mianhae oppa, aku tak tahu. Aku tak berpikir ke arah sana,” Balas Hyu Won masih dengan menundukan kepalanya.

“Gweanchanna, inilah mengapa aku sangat menyukaimu.” Balas Kyu Hyun kemudian. Hyu Won mengangkat kepalanya dan menatap Kyu Hyun dengan bingung.

“Ayo makan,” ucap Kyu Hyun mempersilahkan Hyu Won.

****

Hyu Won berdiri di balkon rumah Kyu Hyun. Dari atas sini ia bisa melihat sebuah taman bunga yang begitu luas, ia membanyangkan bila kelak ia menjadi istri pria itu ia akan mengurusi taman bunga itu. Ia sangat suka berkebun, terlebih itu bunga.

“Astaga apa yang kupikirkan?” Hyu Won memekik kesal pada dirinya sendiri, ia tak mengerti mengapa ia bisa berpikir selancang itu.

“Anniya! Aku akan melanjutkan ke Universitas, kita tidak akan menikah secepat apa yang ada di dalam otak pria itu!” ucap Hyu Won keras.

“Ehmm…”

“OMMO!” Jantung Hyu Won seperti akan melompat saat melihat Kyu Hyun berdiri di belakangnya. Ia merutuki bibir lancangnya. Rasa panik menggelayutinya.

“Op…oppa? Sejak kapan kau di sana?” tanya Hyu Won gugup.

“Baru saja,” balas Kyu Hyun datar tapi Hyu Won bisa melihat ada sisa senyuman di bibir pria itu. Mengapa pria itu selalu mendapati dirinya sedang bertingkah bodoh?

“Wae?”

“Ini ponselmu, tadi eommanim menelpon. Sepertinya kau harus menelpon balik,”

“Ne, gomawo.” Balas Hyu Won singkat. Kyu Hyun memberikan ponsel gadis itu lalu berjalan kembali masuk ke dalam.

Hyu Won menarik nafas dengan bebasnya, mengapa ia selalu menahan nafas setiap kali bersama pria itu? Tak bisakah ia lebih santai sedikit? Ia membalikan tubuhnya lalu menelpon ibunya.

“Yeobboseo eomma?” ucap Hyu Won, suaranya terdengar manja.

“Sayang, kau baik-baik saja? Kau tak mengangkat telepon tadi.”

“Mian, ponselku di dalam. Tuan muda yang memberitahuku eomma menelpon.” Ucap Hyu Won. Sejujurnya ia lebih nyaman memanggil Kyu Hyun sebagai tuan muda daripada oppa, eommanya selalu mengingatkan dirinya bahwa Kyu Hyun adalah orang yang begitu tinggi kedudukannya. Tapi Kyu Hyun tak akan suka bila mendengar ia memanggil pria itu seperti itu. Hanya ia dan keluarganya yang memanggil Kyu Hyun seperti itu, tentunya tanpa sepengetahuan Kyu Hyun.

“Kau jadi menginap bersama tuan muda?” suara ibunya terdengar begitu antusias.

“Ne, mengapa eomma mengijinkanku menginap bersama Tuan Muda? Kau tahu aku takut sekali,” balas Hyu Won dengan suara lemah. Ia benar-benar senang karena akhirnya ia bisa bercerita pada seseorang.

“Wae? Aku yakin ia tak melakukan apapun padamu,”

“Iya memang, hanya saja kami tak pernah dekat sama sekali lalu tiba-tiba ia datang ke rumah saat aku pulang sekolah dan memintaku menginap di tempatnya. Ini aneh bagiku, terasa aneh. Ia selalu mengintimidasiku setiap saat, aku tak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Dan mengapa ia mau bertunangan denganku? Aku ingin pulang, ini membuatku sakit kepala.”

“Aigoo! Putriku, kau hanya harus menikmati apa yang ada di depanmu. Ia pria baik, aku percaya pada instingku bahwa ia akan menjagamu. Ia tak akan menyentuh atau berbuat kurang ajar padamu sebelum ada ikatan pasti. Ia sudah berjanji pada ayahmu. Kau hanya harus bertingkah manis di depannya, buat dia terkesan padamu dan segera menikah dengannya. Dengan begitu ekonomi keluarga kita akan membaik.” Terdengar suara tawa dari seberang telepon. Hyu Won tahu kedua orang tuanya sedang menertawakan ketakutannya. Kedua orang tuanya sangat terobsesi menjadi orang kaya. Astaga yang benar saja!

“Aishhh! Mengapa eomma menelpon kalau hanya untuk mengolok-olokku? Kalian menyebalkan sekali. Dia tidak akan menyentuhku… dan aku sangat yakin ia tak akan menyentuhku. Jadi jangan berbicara menjijikan seperti itu. Dan eomma… mengapa tidak kau saja yang bertunangan dengan Tuan Muda!?” Hyu Won berteriak kesal lalu mematikan ponselnya. Ibu dan ayahnya tak banyak membantu dalam mengatasi ketakutannya. Tapi ia tahu kedua orang tuanya sangat bahagia dengan pertunangan ini. Kyu Hyun seperti dewa dari langit yang datang memberikan pertolongan pada keluarganya.

Hyu Won memejamkan matanya lalu kembali membuka matanya. Bersamaan dengan itu deringan dari ponselnya membuatnya terkejut.

Lee Hyukjae?

“Yeobboseo Hyuk-ah?”

“Wonnie-ahhhh…” suara Hyukjae terdengar begitu menyebalkan. Pria itu merengek seperti bayi.

“Mwo?”

“Kau tidak di rumah? Aku ke rumahmu dan kau tidak ada. Kau ke mana?”

“Aku memang tidak di rumah, aku…” Hyu Won memutar otak untuk mencari jawaban. Ia tak mungkin mengatakan ia sedang berada di rumah Kyu Hyun. “Ahh… Aku di Busan bersama eomma dan appa. Wae? Mengapa kau ke rumahku?”

“Aigoo! Aku sangat membutuhkanmu sekarang!” Ucap Hyukjae lagi.

“Membutuhkanku? Kau bertingkah seperti seorang kekasih.” Cibir Hyu Won.

“Aishhhh, Sun Mi marah lagi. Ia memutuskanku, aku ingin memintamu membuatkannya cake.” Ucap Hyukjae terdengar putus asa.

Cake lagi, Hyu Won memutar matanya bosan.

“Astaga Lee Hyukjae, kau tak harus datang ke rumahku dan memintaku melakukan hal seperti itu. Kau bisa membelinya!” sergah Hyu Won kesal.

“Rasanya tak akan sama. Aku sekarang sedang di kamarmu, tadi aku terus mengetuk dan tak ada orang. Jadi aku memanjat pohon kamarmu,” ucap Hyukjae meminta maaf.

“Kau di kamarku? Kau benar-benar tak sopan! Jangan menyentuh apa pun, atau kau akan terima akibatnya saat aku kembali!”

“Aishhh tidak, aku hanya sedang mencari resep buatnmu. Di mana?”

“Kau tidak akan menemukannya di kamar Lee Hyukjae, itu milik eomma.” Balas Hyu Won.

“Aishhh bilang dari tadi, aku jadi tidak usah bertingkah seperti pencuri. Ah… Wonnie, mianhae.” Suara pria itu tiba-tiba berubah menjadi lirih.

“Wae? Apa lagi? Kau melakukan apa?” tanya Hyu Won curiga.

“Aku tidak sengaja membuka lemari kamarmu dan melihat banyak pakaian dalam di sini, sama seperti milik Sun Mi!” suaranya terdengar seolah menyesal tapi Hyu Won tahu pria itu sedang menahan tawa.

“Yakkk! Lee Hyukjae kau tak bisa membuka lemari pakaianku seperti itu! Kau benar-benar tidak sopan! Aku akan-…”

“Saranghae Hyu Won-ah, mianhaeee…” Hyukjae merengek meminta maaf cepat-cepat.

Hyu Won mendesah frustrasi, ia benar-benar frustrasi dengan keadaan saat ini. Hyukjae dan orang tuanya benar-benar kombinasi yang baik untuk menghancurkan mood-nya, belum lagi Kyu Hyun yang selalu membuatnya merasa terintimidasi di setiap saat.

“Cepat keluar dari kamarku… dan AKU TIDAK MENCINTAIMU!”

“Aku akan keluar bila aku sudah menemukan resepnya,”

“Cepat kel-…”

SRETTT

“Mwo?” pekik Hyu Won tertahan saat ponselnya terlepas dari pegangannya.

“Siapa pun kau di sana! Cepat keluar dari kamar Hyu Won, atau kau akan terima akibatnya!” Kyu Hyun membentak Lee Hyukjae dengar keras. Telinga pria itu terasa panas sejak tadi karena mendengar obrolan Hyu Won. Ia tak tahan lagi bila hanya berdiri dan mendengar obrolan akrab gadis itu.

KLIK

“Opp…ppa?” ucap Hyu Won gugup.

“Siapa pria itu?” tanya Kyu Hyun datar. Wajah pria itu terlihat murka. Hyu Won sedikit bergidik menatap wajah Kyu Hyun. Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan seolah ia baru saja ketahuan melakukan sebuah kesalahan.

“Ini… ini tidak seperti apa yang ada di dalam pikiranmu,” ucap Hyu Won terbata-bata. Ia bingung dengan ucapan yang ia keluarkan. Mengapa ia harus berkata seperti itu? Ia hanya harus mengatakan itu Lee Hyukjae sahabatnya daripada harus berkata seperti itu. Seolah mereka adalah sepasang kekasih saja.

“Siapa pria itu?” suara Kyu Hyun terdengar meninggi walaupun wajahnya tak menunjukan ekspresi yang sama dengan nada suaranya.

Hyu Won menarik nafasnya yang tiba-tiba menjadi sesak, “Dia… chankkaman, sejak kapan oppa berada di sini?” tanya Hyu Won tiba-tiba. Dia khawatir Kyu Hyun sejak tadi berada di belakangnya. Ya, itu memang benar!

“Sejak kau dan mulut kecilmu memanggilku Tuan Muda,” ucap Kyu Hyun dingin. Hyu Won menahan nafasnya. Pria itu sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia tak boleh memanggilnya Tuan Muda.

“Mianhae…” ucap Hyu Won pelan dengan kepala tertunduk.

“Apa kau hanya bisa mengatakan kata maaf dan iya bila bersamaku? Berapa kali aku mengatakan padamu agar tak memanggilku seperti itu? Sekali lagi aku mendengar kau dan mulut kecilmu memanggilku Tuan Muda, kau akan tahu apa yang bisa kulakukan terhadap mulut kecilmu itu,” ucap Kyu Hyun dengan suara mengancam.

“Ini,” Kyu Hyu melempar ponsel gadis itu, dengan reflek Hyu Won menangkapnya.

“Cepat tidur, kita punya rencana bagus besok pagi.”

Hyu Won mengangguk patuh lalu berjalan mengekori Kyu Hyun. Ia memandang punggung datar pria itu. Pipinya merona merah saat memikirkan bahwa dirinya adalah gadis yang begitu beruntung karena memiliki tunangan setampan Kyu Hyun. Walaupun pria itu selalu bertindak sesuka hatinya.

Ya Tuhan, dasar lancang! Batinnya berteriak mencemooh.

****

“Ayo bangun Hyu Won…” Kyu Hyun membujuk Hyu Won agar segera bangun. Gadis itu masih terus bergelung dengan malas di dalam selimut tebalnya.

“Nghh… tidak mau.” Balas Hyu Won serak. Gadis itu lalu bergumam tak jelas saat Kyu Hyun menarik bantal guling dari pelukannya.

“Astaga, kau harus bangun. Ini sudah pagi,” ucap Kyu Hyun lagi. Kali ini pria itu duduk di tepi ranjang lalu mulai menggoyang-goyangkan pipi gadis itu.

“Shirreo,”

“Asaga  Kang Hyu Won! Kau sulit sekali bangun,” geram Kyu Hyun. Dengan sekali tarikan, Kyu Hyun menyentak Hyu Won hingga gadis itu terbangun. Wajahnya mengkerut tak senang tapi tak sampai beberapa detik, wajahnya berubah tegang setelah melihat Kyu Hyun-lah yang telah menariknya.

“Oppa!” jerit Hyu Won. Tubuhnya langsung menegak seolah ia tak pernah tidur. Kyu Hyun tertawa di dalam hati. Ia suka sekali melihat wajah terkejut gadis itu. Wajahnya benar-benar seperti iblis tampan menurut Hyu Won. Ada jejak-jejak senyuman di sana.

“Cepat bersiap-siap dan jangan tidur lagi kalau kau tak mau mendapat masalah di pagi buta,” ucap Kyu Hyun lalu keluar dari kamar gadis itu.

“Ne,” balas Hyu Won lemas. Ia kembali tertidur tapi teriakan Kyu Hyun membuatnya terlonjak lagi. Ia segera berlari menuju kamar mandi dengan gusar.

****

Sementara Kyu Hyun sibuk memasukan barang ke bagasi, Hyu Won berdiri menyender pada sisi mobil dalam keadaan mata tertutup. Ia bersyukur karena ia bisa melanjutkan tidurnya.

“Kau benar-benar mengantuk ya,” ucap Kyu Hyun lalu menarik resleting jaket Hyu Won hingga ke atas. Gadis itu tersentak dari kantuknya dan segera berdiri tegak, pipinya bersemu merah saat Kyu Hyun mengeratkan syal hijau di lehernya.

Hyu Won segera masuk ke dalam mobil setelah Kyu Hyun memberi isyarat padanya untuk masuk. Selanjutnya Kyu Hyun masuk dan mulai menyalakan mesin mobil.

“Pakai sabuk pengamanmu,” perintah Kyu Hyun. Hyu Won memakai dengan cepat. Setelah yakin semua pengamanan telah terpasang, Kyu Hyun menjalankan mobil meninggalkan garasi rumahnya.

“Bukankah ini masih gelap? Mengapa kita bangun sepagi ini, oppa?” tanya Hyu Won pelan tapi ia tak bisa meninggalkan nada jengkel dari suaranya. Pria itu membangunkannya seolah matahari sudah bertengger di jendela kamarnya.

“Kau benar-benar ratu tidur, benar kan?” ucap Kyu Hyun dengan nada mencibir. Ia menginjak rem mengurangi kecepatan.

“Aku bukan ratu tidur, kau membangunkanku sepagi ini. Siapa pun akan mengantuk bila dibangunkan sepagi ini,” balas Hyu Won tak mau kalah.

“Sepertinya aku harus banyak bertanya pada eommanim tentang kebiasaanmu,” ucap Kyu Hyun masih dengan nada mencibir. Hyu Won menjadi semakin kesal karena nada yang dilontarkan pria itu seolah ingin mengolok-olok kebiasaan buruknya.

“Aku benar-benar bisa bangun pagi!” kesal Hyu Won.

“Ahh…benarkah? Aku harus berteriak sampai tiga kali untuk membangunkanmu, dulu saat aku seusiamu aku langsung terbangun hanya dengan satu teriakan.” Balas Kyu Hyun menyombongkan diri.

Hyu Won melipat tangannya di depan dada, “ Ya, kau tak akan sesukses dan sekaya  ini kalau bangun pagi saja harus diteriaki sampai tiga kali! Kau dan aku berbeda!” balas Hyu Won tajam. Nada suaranya terlihat sekali sedang menyindir kesempurnaan Kyu Hyun.

“Whoo… jaga mulut kecilmu Kang Hyu Won, mengapa tampaknya kau mengungkit status sosial di sini?” Balas Kyu Hyun dengan datar. Suaranya seketika itu menghilang dari humor menjadi serius dan marah. Ia tak suka bila Hyu Won mulai mengungkit status sosial mereka.

Apakah aku merusak moodnya? Ada apa dengan bangun pagi dan berteriak tiga kali? Bagus Kang Hyu Won! Kau pandai sekali merusak suasana, Hyu Won meringis di bangkunya. Gadis itu mengubah posisi duduknya menjadi tegak.

“Itu… aku benar-benar tidak bermaksud ke sana. Kau memancingku jadi aku-…”

Drrt Drrt Drrt

Hyu Won merogoh ponselnya dan mengucapkan terima kasih di dalam hati pada siapa pun yang baru saja menelponnya.

“Bolehkah aku mengangkat telpon?” tanya Hyu Won pelan.

“Ya,” balas Kyu Hyun kasar.

“Yeobboseo eomma?” ucap Hyu Won pelan. Mengapa eommanya menelpon sepagi ini? Gadis itu mencuri pandang ke arah Kyu Hyun. Ia ingin mengukur sebesar apa emosi yang telah ia ciptakan untuk pria itu.

 

“Tuan Muda bilang ia akan mengajakmu pergi berwisata pagi? Benarkah?”

“Ya…” Hyu Won melirik ke arah Kyu Hyun. “Aku sedang bersama Tuan Mud-…maksudku Kyu Hyun oppa,” ucap Hyu Won semakin pelan, ia meringis pelan mengutuk ucapannya. Ia melirik ke arah Kyu Hyun dan seketika itu juga tubuhnya berubah lemas. Tangan pria itu mengepal erat pada setir mobil.

“Sekali lagi aku mendengar kau dan mulut kecilmu memanggilku Tuan Muda, kau akan tahu apa yang bisa kulakukan terhadap mulut kecilmu itu,”

“Oh, geurae. Nikmati wisatamu, aku tak tahu ia akan membawamu ke mana. Tapi kurasa itu hal romantis Hyu Won-ah,” Hyu Won bisa mendengar suara senang ibunya.

“Nde…” Hyu Won menjawab dengan lemas. Ia tak tahu fase apa yang akan ia lewati setelah mematikan ponselnya.

KLIK

“Kau sepertinya sangat suka membuatku kesal ya, mengapa semua ucapanmu selalu membuatku mendidih?” Hyu Won mendengar suara Kyu Hyun seolah berada dekat di telinganya. Gadis itu hanya terdiam menatap pola garis-garis lurus pada celananya. Lidahnya kelu tak bisa berbicara. Ia tahu ia benar-benar sudah membuat pria itu kesal, mungkin marah.

“Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak memanggilku seperti itu?” Kyu Hyun menambah kecepatan seolah menyentak gadis itu dari sikap diamnya. Hyu Won segera meremas ujung kursi dengan takut, ia meminimalis rasa cemasnya. “Tak bisakah kau benar-benar menganggapku tunanganmu?” tanya Kyu Hyun sedikit meninggi. Ia mulai kesal dengan sikap diam gadis itu.

“Apa kau tak punya mulut?” sentak Kyu Hyun. “KANG HYU WON!” Teriak Kyu Hyun marah.

Hyu Won mengangkat kepalanya lalu memberanikan diri menatap Kyu Hyun.

“Jangan berteriak-teriak padaku. Kau membuatku takut,” suara Hyu Won terdengar hampir menangis. Sebenarnya ia tidak ingin menangis sama sekali. Ia benar-benar takut sekarang, Kyu Hyun tak pernah marah padanya. Ya, pria itu selalu berbicara dalam nada humor bahkan selalu menjahilinya meskipun terkadang nada datar dan dingin juga ia tunjukan.

Kyu Hyun menurunkan kecepatan mobilnya, ia merasa bersalah karena sudah membentak gadis itu. Hyu Won merasakan tubuh Kyu Hyun tak setegang tadi, gadis itu menarik nafas lalu mulai mengatur pita suaranya.

“Maafkan aku oppa, maaf karena selalu membuatmu kesal. Aku hanya tak terbiasa memanggilmu oppa. Tiga bulan lalu kau adalah orang asing yang datang ke rumah. Dan kami tahu kau adalah atasan appa, kau mengajukan permohonan untuk bertunangan. Itu seperti sebuah petir di siang bolong. Yang benar saja, kau sangat asing dan baru dan… aku tak tahu lagi.” Hyu Won menarik nafasnya cepat.  “Aku sangat terkejut. Apa yang bisa kucerna saat itu? Aku takut sekali karena kau selalu mengintimidasiku di setiap saat, aku takut bila sikap lancangku padamu membuat posisi appa di perusahaanmu terancam. Aku tak tahu seperti apa dirimu. Aku tak tahu bagaimana kepribadianmu, aku takut karena sikapku semua akan hancur. Kami hidup dari usaha kecil eomma dan gaji appa selama bekerja di perusahaanmu.” Ucap Hyu Won dengan nada sedih. Ia sedih karena harus membicarakan semua ini.

Ada jeda lama di antara keduanya, Kyu Hyun mengusap dagunya dengan liar. Dia sangat takjub dengan apa yang baru saja dilontarkan Hyu Won.

“Wow,” itu tanggapan yang Kyu Hyun keluarkan akhirnya setelah pidato panjang Hyu Won. Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan, ia cemas bahwa kejujurannya mungkin membuat Kyu Hyun semakin kesal.

“Kau bisa berbicara panjang juga, Kang Hyu Won?” Balas Kyu Hyun dengan suara ringan. Ia senang karena akhirnya Hyu Won mulai terbuka padanya.

Hyu Won mengerutkan dahinya bingung, nada suara Kyu Hyun benar-benar berbeda dari beberapa menit lalu. “Kau tak marah?” tanya Hyu Won pelan.

Kyu Hyun menatap Hyu Won seolah ia berkata dengan lantang, mengapa harus marah?

“Tadinya ya, tapi sekarang tidak. Akhirnya kau bicara banyak Kang Hyu Won. Kau sangat tertutup padaku, kau bisa berbicara begitu keras dan terbuka pada siapa pun itu yang bernama Lee Hyukjae. Tapi bersamaku, kau seolah tenggelam di dalam air. Apakah aku benar-benar mengintimidasimu?”

“Sejujurnya ya,” balas Hyu Won lebih pelan lagi.

Kyu Hyun menyeringai tipis mendengar suara gadis itu, bagaimana tidak? Nafas gadis itu bahkan terdengar berat sekali saat mengatakan kejujurannya.

“Bisakah kau sedikit lebih terbuka lagi denganku? Aku butuh banyak infomasi tentang dirimu. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menemukanmu, dan saat aku menemukanmu kau begitu banyak berubah. Kau semakin cantik dan dewasa. Aku benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa padamu, aku sangat senang hingga membuatku ingin menjagamu. Aku tak mau menderita lagi karena tak bersamamu. Sikap intimidasiku ini terbentuk karena aku adalah pemimpin sebuah perusahaan besar di Korea. Maaf kalau aku sangat mengintimidasimu.”

Hyu Won membeku mendengar penuturan pria itu, dahinya berkerut. Wajahnya kaku seolah syaraf fasialis di wajahnya tak berfungsi dengan baik.

“Butuh waktu bertahun-tahun? Apa maksudnya oppa?” tanya Hyu Won. Suaranya berubah menjadi kaku. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Memikirkan fakta seperti itu membuatnya gelisah.

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak menyangka fakta seperti ini harus diungkapkan sekarang juga. Ia benar-benar tak tahan ingin memberitahu semuanya.

“Kau tidak mengingatku?” tanya Kyu Hyun. Senyum ringan menempel pada bibir pria itu. Ia tersenyum seolah menikmati rasa penasaran Hyu Won. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban gadis itu.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Hyu Won lagi.

“Belum ingat rupanya,” ucap Kyu Hyun. Kali ini nada suaranya berubah sedikit sendu. Rasa kecewa menghinggapinya, tapi ia tahu itu bukan kesalahan Hyu Won.

“Baiklah, aku akan mengingatkanmu. Kau ingat anak laki-laki yang duduk di lorong Rumah Sakit dengan kepala tertunduk dan menangis dalam diam?” suara Kyu Hyun terdengar begitu penuh penekanan walaupun wajahnya tak menunjukan reaksi yang sama.

“Anak laki-laki? Rumah Sakit?” tanya Hyu Won tak mengerti.

“Sepuluh tahun lalu, di lorong Rumah Sakit. Kau menggunakan dress selutut berwarna hijau.” ucap Kyu Hyun lagi. Bibirnya tersungging memuji kehebatannya dalam mengingat memori tentang Hyu Won.

Hyu Won membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun seolah itu akan membantunya untuk memanggil memori yang berusaha ia ingat.

“Kau masih tak mengingatnya?” tanya Kyu Hyun lagi. Kali ini suaranya berubah khawatir. Bagaimana bila Hyu Won benar-benar tak mengingatnya?

Rumah Sakit?

Dress Hijau?

Menangis?

Anak laki-laki

“Ah… bagaimana dengan sap-…”

APPA!

“ANDWAE!” ucap Hyu Won dengan suara bergetar. Ingatannya seolah mulai mendapat pencerahan. Kyu Hyun terkejut mendengar teriakan gadis itu. Kyu Hyun mengernyit lalu menatap Hyu Won dengan penuh harap.

“KYUNIE?!” Hyu Won menjerit lagi saat kilasan memori saat dirinya berusia delapan tahun muncul di kepalanya. Ia ingat… ia mengingat semua ucapan Kyu Hyun. Ia ingat anak laki-laki yang duduk tertunduk menyedihkan di sebuah lorong Rumah Sakit. Iya ingat appanya masuk di Rumah Sakit yang sama.

Kyu Hyun memejamkan matanya seketika lalu kembali membuka matanya kembali, ia seolah menahan emosi dalam dirinya. Rasa senang tak bisa lagi ia gambarkan.

Ckiittt

Kyu Hyun menepikan mobilnya dan menatap Hyu Won dengan pandangan yang sulit diartikan, “Kau mengingatku?” tanya Kyu Hyun tak bisa meninggalkan rasa tak percaya dari suaranya. Ia berharap penuh. Sangat berharap.

“Anak laki-laki dengan jas hitam yang menangis sambil menunduk di lorong rumah sakit karena Ayahnya baru meninggal,” ucap Hyu Won masih tidak percaya dengan kenangan di antara mereka berdua. Kenangan yang baru saja muncul di dalam kepalanya.

“Ya, benar. Demi Tuhan, kau mengingatnya?” Kyu Hyun berkata seolah ia sedang menjerit tertahan.

“Aku masih tak percaya,” Hyu Won membalikan tubuhnya dan berhambur ke pelukan Kyu Hyun dengan cepat. Ia melingkarkan tangannya pada leher pria itu. Ia bertingkah seolah Kyu Hyun tak pernah mengintimidasinya. Ia tak tahu mengapa ia bisa sesenang ini. Tapi sekilas ia kembali mengingat kenangan indah antara keduanya. Sejak pertama kali ia melihat Kyu Hyun menangis di lorong itu, ia sangat ingin menjaga anak laki-laki itu walaupun ia tahu usia mereka terpaut jauh. Dia ikut merasakan kesedihan anak laki-laki itu.

“Kau mengingatku,” ucap Kyu Hyun berbisik. Ia menenggelamkan kepalanya pada leher gadis itu. Menghirup aroma manis yang menguar dari campuran sampo dan aroma  tubuh Hyu Won.

“Ya, aku ingat. Kyunie. Anak laki-laki yang bersikap kuat padahal ia tak bisa menahan kesedihannya,” ucap Hyu Won lagi. Tangan gadis itu bergerak semakin mengeratkan pelukannya seolah melepas rindu setelah lama tak bertemu. Kyu Hyun tersenyum dalam diam. Ia sangat bersyukur.

“Bagaimana bisa?” Hyu Won melepas pelukannya lalu menatap Kyu Hyun.

“Apa?”

“Bagaimana bisa kau menemukanku? Kau tak punya apa pun yang bisa membuatmu menemukanku.” Balas Hyu Won.

Kyu Hyun tersenyum, “Kau tak akan percaya apa saja yang sudah kulakukan untuk menemukanmu. Aku bersyukur karena kau mengatakan namamu padaku saat itu. Dan aku tak pernah melupakan wajahmu, wajah kecilmu.”

Hyu Won menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya, matanya berubah berkaca-kaca. “Kau mencari semua gadis bernama Kang Hyu Won? Di Korea?” tanya Hyu Won setengah menjerit.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu tersenyum menenangkan keterkejutan Hyu Won. Dalam hati ia merasa bangga dengan keberhasilannya menemukan Hyu Won tiga bulan lalu. Tuhan sepertinya sudah menakdirkan mereka bertemu. Ayah gadis itu adalah salah satu karyawan tetap di perusahaannya. Ia mengetahui fakta itu saat berhasil menemukan Hyu Won.

“Wae? Mengapa kau mencariku?” tanya Hyu Won kemudian, ia benar-benar ingin tahu mengapa Kyu Hyun mencarinya. Jantungnya seketika berdegup kencang.

Kyu Hyun mengangkat tangannya lalu mengusap lembut pipi gadis itu, Hyu Won merona seketika. Kyu Hyun suka dengan setiap reaksi yang ditunjukan gadis itu.

“Karena…karena kau seperti Angel saat itu. Kau datang dan duduk menemaniku menangis di lorong rumah sakit. Saat itu aku sangat malu karena ketahuan menangis di depan seorang gadis kecil, aku sudah bertindak kasar padamu tapi kau tetap duduk dan menemaniku. Itu membuatku tenang dan merasa tidak sendiri. Kau tetap menemaniku meskipun aku tidak menghiraukanmu. Asal kau tahu saja, kau seperti Angel.” Kyu Hyun terkekeh mengingat kenangan itu, ya ini sangat klise tapi ia memang mengalami kejadian seperti itu. Hyu Won balas tersenyum.

“Kau sangat marah saat itu,” balas Hyu Won berusaha mengingat tingkah Kyu Hyun.

“Ya, aku marah karena appa meninggalkanku. Aku marah karena semua orang sibuk mengurusi harta dan pemimpin perusahaan selanjutnya. Aku marah karena tak ada yang peduli padaku saat aku menangis di lorong Rumah Sakit. Aku takut karena orang yang sangat kucintai sudah pergi meninggalkanku. Lalu tiba-tiba kau datang… dan pergi setelahnya. Aku sadar bahwa aku selalu memikirkanmu setelah perpisahan kita sore itu,” ucap Kyu Hyun. Nada suaranya berubah sendu. Ia merasa jantungnya seolah diremas keras saat mengingat dirinya begitu merindukan Hyu Won dulu.

“Itu kenangan yang sangat manis. Hari itu appa masuk rumah sakit karena penyakit Jantung. Perusahaanya mengalami kebangkrutan hingga ia tidak bisa menerima semuanya. Aku menemani eomma menjaga appa di rumah sakit, dan aku melihatmu sedang menangis. Kau mengatakan appamu meninggal dan hal itu membuatku sangat takut, aku takut kalau appa akan meninggal juga. Aku berusaha memahami kesedihanmu, aku takut bila hal itu terjadi padaku. Satu hal yang kudapatkan adalah appa belum meninggal jadi aku masih bisa berdoa untuk kesembuhannya. Sedangkan kau, kau sudah kehilangan appamu. Aku menjadi sedih dan ingin menghiburmu walaupun kita tak pernah kenal satu sama lain. Itu lucu sekali,” Ucap Hyu Won mengingat kenangan saat mereka berdua di Rumah Sakit.

Kyu Hyun menarik kembali Hyu Won lalu memeluknya lebih dalam lagi, ia mengusap lembut punggung gadis itu. “Gomawo,” ucap Kyu Hyun. Ia senang karena akhirnya ia bisa mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak pernah sempat ia ucapkan dulu.

“Mianhae… mianhae karena melupakanmu,” ucap Hyu Won merasa bersalah.

 

“Gweanchanna. Walaupun kau melupakanku, aku akan tetap mencarimu. Setidaknya salah satu di antara kita tak melupakan kenangan itu…” ucap Kyu Hyun. Hyu Won menganggukan kepalanya bersyukur.

Kyu Hyun melepas pelukannya lalu menatap kedua bola mata Hyu Won. Wajahnya perlahan semakin dekat, ia mengahapus jarak di antara mereka. Rasanya ia tak tahan untuk tak mengecup gadis itu. Saat bibirnya semakin dekat, ia melihat Hyu Won memejamkan matanya. Tangan Hyu Won meremas ujung jaketnya dengan keras. Seolah paham dengan kegugupan Hyu Won, Kyu Hyun hanya mengecup lembut pipi gadis itu. Hyu Won membuka matanya lalu tersenyum lega. Hyu Won bahkan bisa merasakan senyum Kyu Hyun merekah di pipinya.

“Aigoo! Jadi aku membuatmu gugup?” cibir Kyu Hyun saat ia melepas kecupannya, rasa humornya telah kembali. Tubuh Hyu Won bereaksi sama seperti biasanya saat ia berada dekat dengan Kyu Hyun. Tapi Kyu Hyun tahu ini adalah rasa gugup yang gadis itu rasakan karena ciumannya bukan karena sikap intimidasinya.

“Aishh…” kesal Hyu Won, pipinya merona semakin merah.

Kyu Hyun mengacak gemas rambut gadis itu lalu menyalakan mesin mobil. Ia memang ingin menikmati moment di mana ia akhirnya berhasil membuat gadis itu mengingatnya tapi ia tak ingin rencana yang sudah ia atur terlewati begitu saja.

“Lihat ini hampir waktunya, kita tidak mau ketinggalan matahari terbit.” Ucap Kyu Hyun lalu menancap gas. Ia menahan diri agar tidak menggoda gadisnya lagi.

****

Tok Tok Tok

“Masuk,” Kyu Hyun mengerutkan dahinya saat mendengar pintu ruangannya diketuk.

“Annyeong,” kepala Hyu Won menyembul dari sela pintu. Kyu Hyun melempar senyuman pada gadis itu.

“Kau baru pulang sekolah?” tanya Kyu Hyun saat melihat seragam gadis itu masih menempel pada tubuhnya.

“Ne,” balas Hyu Won.

“Masuklah, kau seperti pencuri kecil…” ejek Kyu Hyun.

Hyu Won mendengus sebal lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan pria itu. Ia selalu mengagumi ruangan kerja Kyu Hyun. Benar-benar seperti ruangan CEO muda yang sering ia lihat dalam film Hollywood.

“Sepertinya akhir-akhir ini kau sering ke kantorku, mengapa kau tak belajar saja untuk ujian Universitasmu?” tanya Kyu Hyun tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di atas meja.

Hyu Won melempar tas ranselnya pada sofa kulit di ruangan pria itu. Ia lantas berjalan menuju meja Kyu Hyun. Kyu Hyun tampak menyeringai lalu mengangkat kepalanya menatap gadis itu.

“Ke marilah,” panggil Kyu Hyun. Hyu Won berjalan melewati meja pria itu. Ia mengerti dengan maksud pria itu.

Kyu Hyun mendorong kursinya ke belakang lalu meraih tangan Hyu Won, ia lantas menarik gadis itu untuk di atas pahanya. Sekarang tak ada lagi Hyu Won yang gemetar dan ketakutan berada dekat dengan pria itu. Gadis itu duduk santai di atas paha Kyu Hyun.

“Kau sangat diam hari ini, wae?” tanya Kyu Hyun khawatir.

Hyu Won terdiam lama, wajahnya berubah kesal. Ia lantas menatap Kyu Hyun dengan marah. “Oppa, kau merubah tanggal pernikahan kita?” tanyanya.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu menatap gadis itu dengan wajah waspada. Ia tahu Hyu Won sedang dalam mode marahnya. “Jadi kau berubah pendiam karena tanggal pernikahan kita?” tanya Kyu Hyun berusaha terlihat santai.

“Kau tidak bisa mempercepat pernikahan kita tanpa berunding dulu denganku. Yang akan menikah bukan hanya kau, tapi aku juga!” sembur Hyu Won.

“Apa yang salah dengan mempercepat tanggal pernikahan kita?”

“Oppa, aku baru lulus lalu baru mulai untuk masuk ke Universitas tapi kau sudah mengikatku seperti itu, bukankah ini terlalu cepat. Ini sangat mengekangku, aku merasa ini terlalu cepat. Bukankah kita sudah sepakat, kita menikah setelah aku masuk Universitas. Kau merubah tanggal pernikahan menjadi sebelum masuk Universitas.” Ucap Hyu Won lagi, nadanya berubah sedih. Ia merasa bila ia menikah dengan kyu Hyun maka masa mudanya akan segera tersenggut begitu saja.

“Kau tak ingin menikah denganku?” tanya Kyu Hyun singkat. Hyu Won menolehkan kepalanya cepat mendengar nada sedih dari suara Kyu Hyun. Pria itu sebenarnya tak terlalu sedih dengan penolakan gadis itu, ia hanya sedang menggoda tunangannya itu.

“Aa…anniyo. Bukan itu maksudku, oppa.” Hyu Won berubah menjadi merasa bersalah. Niat awalnya adalah membuat Kyu Hyun menyesali keputusannya mempercepat tanggal pernikahan, sekarang justru keadaan berbalik menjadi Hyu Won yang menyesali tindakan protesnya.

Gadis itu melingkarkan tangannya dengan manja pada leher Kyu Hyun, ia lantas memasang wajah menyesalnya. “Mianhae, aku hanya merasa terlalu cepat. Aku bukannya menolak menikah denganmu, oppa.” Ucap Hyu Won.

“Menikah nanti atau sekarang bukankah sama saja? Kau tak kasihan padaku? Aku sudah tak muda lagi, aku ingin segera mengikatmu agar diriku tenang.”

“Aku tak akan ke mana-mana, jadi kau tak perlu khawatir mengikatku secepat itu.” Balas Hyu Won.

“Kau tenang saja, setelah kita menikah aku tak akan membatasi pergaulanmu. Kalau yang kau takutkan adalah aku akan membatasi kehidupan remajamu, maka kau salah besar. Aku akan tetap membiarkanmu bebas seperti remaja lainnya. Hanya yang membedakannya adalah kau bukan lagi Nona Kang tapi Nyonya Cho…” ucap Kyu Hyun ringan. Hyu Won menarik nafasnya lalu memutuskan untuk menyerah mendebat pria itu.

“Ya, kau benar. Menikah nanti atau sekarang itu sama saja. Aku tetap menjadi milikmu.” Ucap Hyu Won menyerah. Ia diam-diam tersenyum di dalam hati mendapati fakta seperti itu. Ia benar-benar sudah jatuh dalam pesona pria itu.

Kyu Hyun tersenyum senang dengan kemenangannya, “Aku selalu berhasil mempengaruhimu, kan?” ucap Kyu Hyun. Hyu Won mendengus sebal lalu berdiri dari pangkuan Kyu Hyun. Kyu Hyun membiarkan gadis itu berdiri.

“Geurae. Karena pernikahan kita dipercepat tanpa sepengatahuanku, kau tidak akan bertemu denganku sampai hari pernikahan kita!” ucap Hyu Won merasa menang.

“Mwo? Apa yang kau bicarakan?” tanya Kyu Hyun bingung. Ia tahu gadis itu sedang mengancamnya sekarang. Ia sadar ia memang mampu mempengaruhi Hyu Won tapi ia selalu lupa kalau gadis itu bahkan memiliki kecerdasan dan kelicikan yang setara dengan dirinya.

“Ya, kita tak akan bertemu sampai hari pernikahan! Kau harus menanggung risiko dari keputusan tiba-tibamu!” Ucap Hyu Won lalu mengambil tas ranselnya. Ia lantas berjalan menuju pintu keluar.

“YAK! Kang Hyu Won jangan main-main, aku tak tahan untuk tak bertemu denganmu!” teriak Kyu Hyun kesal.

Hyu Won berjalan ringan tak memperdulikan teriakan pria itu. Sejujurnya ia merasakan hal yang sama tapi ia sudah terlanjur masuk dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. Ia tak bisa mundur.

“Aku mau menikmati kebebasanku sebelum menikah denganmu, dan kau tak boleh mengangguku. Aku tak percaya kau akan menepati janjimu. Jadi sampai jumpa calon suamiku,” ucap Hyu Won lalu melambaikan tangannya dengan riang.

“Kau beruntung karena aku sangat mencintaimu, Kang Hyu Won. Tapi lihat saja setelah menikah, kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk sikap menyebalkanmu itu. Jadi silahkan nikmati kebebasanmu, sayang…” Teriak Kyu Hyun frustrasi pada pintu yang baru saja tertutup. Ia yakin Hyu Won pasti mendengarnya berteriak.

“Astaga…” Kyu Hyun mengacak-acak rambutnya kesal, ia masih tak percaya dipermainkan tunangannya sendiri. Hyu Won selalu punya cara untuk menjalankan rencananya, Kyu Hyun tahu benar.

 

The End

 

20 Comments (+add yours?)

  1. blackjackelfsone
    Jun 01, 2015 @ 19:46:41

    Qduhghhh bagus bgttttt ada lanjutannya ga nih?????

    Reply

  2. citraarum96
    Jun 01, 2015 @ 20:48:17

    Jdi krn alasan itu kyuhyun mau menikahi hyuwon…
    Manis bget, cnta masa kecil…kkk

    Reply

  3. centhiarooroh40
    Jun 01, 2015 @ 21:07:25

    jadi senyum2 sendiri baca ffnya
    deabak thor ffnya , feelnya terasa banget

    Reply

  4. v.febry
    Jun 01, 2015 @ 21:55:50

    Bagus banget crtanya… please buat sequel nya hhi

    Reply

  5. renikyu
    Jun 02, 2015 @ 01:13:39

    Omg!!! Bener2 suka sama ffnya , ringan terus kyu nya biasanya dingin tapi disini jail romantis yang gak terlalu berlebihan sukaaaa! Keep writing kakak!

    Reply

  6. Monika sbr
    Jun 02, 2015 @ 06:48:19

    Ahahahaha….. Manis dan lucu.
    Sebenarnya udah pernah baca diblognya autor sih, cm msh pengan baca ulang.
    Galuh, kmu ganti nama blognya ya?? Pantesan saat msk ke bloq yg biasanya gak jadi masuk karena terkunci. Jadi makasih ya untuk info nama blognya

    Reply

  7. esakodok
    Jun 02, 2015 @ 13:45:36

    pantesan kyu kok kliatan bener2 cinta sama hyuwon…aigooo
    hehehe
    asik bgt hyuwon..nikah sama abang ganteng plus plis lagi

    Reply

  8. zuniespakyu
    Jun 02, 2015 @ 15:34:12

    Thour ksih sequel z. Gumawo

    Reply

  9. ririnsetyo
    Jun 02, 2015 @ 15:40:38

    bagus, cuman ak kurang sreg di scene Hyuwon nyeritain lagi ketemuan mereka 10 tahun lalu. ada kalimat “Itu kenangan yang sangat manis” sama “Itu lucu sekali”

    agak kurang pas gimana gtu, kan itu Kyuhyun bapaknya meninggal masa iya “Manis” dan “Lucu” ya walo ak tahu itu cuman pemikiran dari Hyuwon yang menganggap apa yg dia lakuin itu “terlihat lucu” itu aja sechhh

    Semangat ^^

    Reply

  10. han gi
    Jun 02, 2015 @ 18:11:14

    aaaa…sukaaa. ada sequelnya ga nihhh

    Reply

  11. devi
    Jun 02, 2015 @ 19:20:03

    Sequel eon
    After story deh
    Pokonya lanjut ><

    Reply

  12. anggraeni
    Jun 02, 2015 @ 21:18:29

    gak ngebosenin critany klw bsa d buat part aj jgn oneshot gini… .. seru thor ..

    Reply

  13. Jung Haerin
    Jun 03, 2015 @ 00:25:04

    Aigoooo, ini sweet bangetttt….. Bacanya sambil senyam senyum sndri. Untung sndrian d kmar, hahaha…..
    Keep writing eonni….. Ff’y keren ^^

    Reply

  14. Yulia
    Jun 03, 2015 @ 20:55:00

    keren banget FF_nya… sukaaa….
    ada squel ga thor..??

    Reply

  15. Lulu cho
    Jun 04, 2015 @ 14:58:47

    Oohh ternyata ada alesan dibalik kyuhyun yg dateng minta tunangan. Aku suka ceritanya thor. Good job. Aku merasa terintimidasi waktu bacanya.
    Oh ya kyu aku juga baru lulus sma terus mau gimana? Kekekek (abaikan)
    Tetap semangat buat author.

    Reply

  16. elfishysme
    Jun 04, 2015 @ 17:49:52

    duh kyu buru2 bener pengen nikahin anak orang.

    Reply

  17. nanakyu
    Jun 05, 2015 @ 16:22:08

    Niceee ff of the week dech
    Keep writing😀
    Sequel please

    Reply

  18. Naya Wijaya
    Jun 06, 2015 @ 02:15:59

    udah baca berulang-ulang dan masih aja sukaa, so sweet tapi konfliknya ada dan komplit lahh. Selalu suka samaa tulisannya Gluu!

    Reply

  19. Naya Wijaya
    Jun 06, 2015 @ 02:16:53

    Reblogged this on Naya Wijaya.

    Reply

  20. ayu diyah
    Jun 13, 2015 @ 11:40:20

    ceritanya kerennn…
    ada sequel kaga,author-nim?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: