DEAR DIARY

DEAR DIARY

 

Author: Ve Hyun Ae

Genre: Romance, first-love, one-shot

 ***

Mungkin, seandainya aku seusia dengan oppa, ia akan paham, bahwa perasaanku padanya ini nyata.

 

—Kamis, 1 Januari —

 

Dear Diary.

Hai, my new diary, namaku Hyunshi. Aku membelimu di toko buku kesukaanku di Busan. Sekarang aku sedang di kereta, dalam perjalanan ke Seoul. Aku pindah ke Seoul setelah ayahku membeli apartemen disana. Bukan apartemen besar, hanya kecil saja. Dan kau tahu? Ayahku membangun café kecil tepat di lantai 1 apartemen itu. Aku senang sekali. Aku bisa mimum cokelat hangat tiap hari.

 

Oh, ya, usiaku 12 tahun sekarang. Aku baru saja berulang tahun sebulan yang lalu, dan aku siap menjalani kehidupanku setahun kedepan. Jadi teman yang baik ya, diaryku!

—Selasa, 6 Januari—

 

Hai, diaryku, apa kabar?

 

Maaf sudah lama tidak menyentuhmu. Aku sibuk membantu orang tuaku mengangkat kardus dan barang-barang ke apartemen baru kami. Aku yang adalah anak tunggal ini, mendapatkan kamar baru dengan cat berwarna pink kesayanganku. Oh, ya, besok adalah hari pertama aku masuk sekolah. Semoga aku bertemu dengan teman-teman hebat ya.

 

—Rabu, 7 Januari—

 

Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. Aku mendapatkan teman baru, sebangkuku, namanya Minah. Ia pemalu, sama sepertiku. Tapi ketika kita sudah dekat, ia menjadi lebih terbuka. Aku senang punya teman baru seperti dia.

 

—Jumat, 9 Januari—

 

Diaryku, hari ini ayah meresmikan café baru kami. Café ini lucu sekali. Ia tidak besar tetapi sangat nyaman. Desainnya juga unik. Dindingnya sengaja dibuat dengan batu bata. Dan yang membuatku senang adalah akulah yang pertama kali boleh menyicipi segelas coklat hangat!

 

Ayah juga mengenalkanku dengan beberapa pekerja di café. Karena café ini kecil, jadi pekerjanya hanya ada 4 orang saja. Dua laki-laki dan dua perempuan. Aku senang punya teman baru.

 

—Senin, 12 Januari—

 

Aku kehujanan. Bodoh sekali aku hari ini tidak membawa payung. Ibu sudah bilang bahwa minggu ini kemungkinan akan turun hujan lebat. Aku lupa.

 

Lain kali tidak boleh lupa.

 

—Kamis, 15 Januari—

 

Dear diary.

 

Aku menulis di atas kertasmu ini sambil menatap rintik hujan di jendela di hadapanku. Kau melihat aku tersenyum ya? Iya. Aku tersenyum. Mungkin lebih tepatnya tersipu malu.

 

Perasaan macam apa ya ini?

Ku ceritakan padamu.

 

Sore ini aku pulang kehujanan. Lagi-lagi aku lupa membawa payung. Bodoh ya aku. Aku berlari ke apartemen, sampai di depan pintu apartemen aku terpeleset. Aku jatuh. Jangan tanya poseku seperti apa ketika jatuh itu. Aku meringis sambil memegangi lututku yang ternyata sedikit berdarah, sampai ada seseorang datang menghampiriku.

 

‘Kau tidak apa-apa?’

 

Katanya sambil meraih tanganku, membantuku berdiri. Aku mendongak menatap wajahnya.

 

Oppa.

 

Seorang lelaki berusia 20-an memakai kaos putih dengan rambutnya yang sedikit basah.

Aku tidak bisa membuka mulutku karena malu.

 

‘Lain kali hati-hati ya’

 

katanya lagi sambil menyunggingkan senyum yang hangat dan mengusap lembut rambutku. Aku yang tersipu ini hanya tersenyum kecil, lalu bergegas membuka pintu.

 

Kenapa hatiku berdebar-debar?

Sungguh, aku tidak bisa melupakan wajahnya. Dan suaranya.

 

—Jumat, 16 Januari—

 

Langit sangat cerah pagi ini.

Aku berjalan ke sekolah dengan perasaan sangat gembira.

Bahkan bunga kecil yang tidak pernah kulihat di pinggir jalan terlihat sangat cantik sekali.

 

Ku harap perasaan seperti ini akan terus ada dihatiku.

 

—Sabtu, 17 Januari—

 

Diary!

Kau harus tahu!

 

Sore tadi aku mampir ke café, hendak memesan cokelat hangat. Ketika aku duduk, seseorang mendatangiku, sambil berkata.

 

‘Bagaimana lututmu? Sudah baikan?’

 

Aku kaget. Tentu saja aku kaget. Aku tahu suara itu. Wajah itu.

Oppa itu!

 

Perlahan kubuka mulutku, mungkin suaraku sedikit serak.

 

‘I..iya.. aku sudah baik-baik saja’

 

Ia tersenyum hangat. Lebih hangat dari senyumnya ketika menolongku dulu.

 

‘Syukurlah kalau begitu. Lain kali kau harus hati-hati. Jadi, apakah coklat hangat akan membuatmu menjadi lebih baik?’

 

Aku suka pertanyaannya itu! Dan dengan semangat aku menjawab, ‘Tentu!’

 

Sambil menyunggingkan senyum itu lagi, ia beranjak ke arah dapur, membuatkan secangkir coklat hangat untukku. Oppa itu, ternyata bekerja di café ini, bersama empat orang lainnya. Saat café ini dibuka beberapa hari lalu, ia tidak bisa datang karena sedang ada urusan lain.

 

Diary, akankah aku selalu merasa bahagia seperti ini?

Kuharap begitu.

 

—Minggu, 18 Januari—

 

Diary, hari ini aku mampir ke café lagi untuk belajar. Aku membawa buku-bukuku.

Hujan rintik-rintik di luar sana. Aku masuk ke café hati-hati, takut terpeleset.

 

Kau tahu? Sampai di dalam, oppa datang menyambutku, bahkan menarikkan satu kursi kecil di samping jendela untukku.

 

‘Belajar?’ tanyanya hangat.

 

Aku mengangguk kecil sambil tersenyum.

 

‘Belajar apa?’ tanyanya lagi penasaran setelah melihat buku-bukuku.

 

‘Bahasa Inggris’ jawabku malu.

 

Ah. You have to be smart’ katanya lagi, sembari menyunggingkan senyuman tentunya. Aku yang tidak begitu tahu apa katanya barusan, hanya mengangguk dan membalas senyumnya.

 

‘Coklat hangat lagi?’ tanyanya, dan tanpa aku iyakan, ia langsung beranjak ke dapur.

 

Beberapa saat kemudian, ia datang dengan segelas cokelat hangat. Tapi coklat ini special. Ia memberi marshmallow berwarna pink dan putih didalamnya. Bahkan marshmallow itu berbentuk beruang kecil. Lucu sekali, bukan?

 

—Senin, 19 Januari—

 

Minah berkali-kali mengatakan bahwa setiap pelajaran aku melamun.

Apakah aku melamun? Apa yang aku lamunkan?

 

Ku lihat buku pelajaranku.

Ah, aku tidak melamun, kok.

 

Aku hanya menggambar segelas coklat hangat dan beruang. Itu saja.

 

—Selasa, 20 Januari—

 

Dear Diary.

Diary, aku senang sekali. Hari ini oppa mengantarkanku ke toko buku. Awalnya aku meminta ayah yang mengantarkanku, tapi ayah sedang ada rapat, sehingga oppa yang kebetulan sedang tidak menjaga café mau menemaniku.

 

Aku senang ketika ia bilang mau menemaniku.

 

Setelah membeli beberapa buku Bahasa Inggris, oppa mengajakku makan es krim gelato di sebuah café ala Italia.

 

‘Hyunshi, oppa memilih rasa green tea. Kau mau rasa apa?’

‘Strawberry!’ jawabku riang sembil menunjuk-nunjuk etalase ini.

‘Apakah itu rasa kesukaanmu?’ tanyanya lagi.

‘Iya. Aku suka es krim strawberry’ jawabku. Oppa tersenyum kecil, lalu memesan dua cone es krim untuk kami.

 

Sambil duduk dan menikmati es krim gelato itu, aku bertanya pada oppa.

 

‘Oppa, sekarang oppa kelas berapa?’

Oppa tertawa kecil. ‘Oppa sudah kuliah Hyunshi. Tidak ada kelas-kelas lagi. Oppa sudah semester terakhir. Yang berarti bahwa oppa akan lulus sebentar lagi’ jawabnya menjelaskanku pelan-pelan.

Aku mengangguk sambil menikmati es krim strawberryku yang enak sekali ini.

‘Hyunshi kalau sudah besar ingin jadi apa?’ tanya oppa yang seketika membuatku menghadap ke langit, membayangkan kalau sudah besar nanti aku akan jadi seperti apa.

‘Hmmm..aku ingin jadi seperti ayah. Punya café sendiri’ jawabku tegas.

Oppa tersenyum lalu bertanya lagi, ‘Kau ingin punya café seperti ayah? Kenapa?’

Aku memiringkan kepalaku, berpikir lagi. ‘Hmmm.. karena aku suka coklat hangat dan kopi!’

Oppa tertawa kecil lagi lalu mengusap lembut rambutku, ‘Kalau begitu, berjanjilah pada oppa, suatu saat nanti kau harus meraih mimpimu itu’

‘Tentu!’ seruku yakin.

 

Setelah makan es krim, oppa mengantarkanku pulang.

Terima kasih, oppa, telah membuat hariku menyenangkan!

 

—Rabu, 21 Januari—

 

Dear diary.

Tadi di sekolah, Minah mengajakku berjalan-jalan mengelilingi danau di belakang sekolah kami. Kami berbicara banyak hal. Minah bercerita bahwa ia sedang jatuh cinta pada seseorang di kelas kami. Lalu, ia bertanya, apakah aku pernah jatuh cinta. Aku diam saat itu, mencoba berpikir, sampai aku sadar bahwa aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun.

 

Aku bahkan tidak tahu, apa itu jatuh cinta.

 

—Jumat, 23 Januari—

 

Diary, hari ini hujan turun deras sekali.

Aku takut petir.

 

—Minggu, 25 Januari—

 

Diary, kau tahu? Aku senang sekali hari ini.

 

Aku sedang jogging di taman. Sendirian, karena ayah dan ibu sedang pergi keluar kota. Minah sedang ada acara bersama keluarganya.

 

Saat aku mengelilingi kolam besar di tengah taman, seseorang yang kukenal memanggilku dari jauh. Saat aku menoleh, kudapati sosok oppa disana, ternyata ia juga sedang jogging bersama teman-temannya. Ia lalu berlari ke arahku, setelah melambaikan tangan ke arah teman-temannya.

 

‘Kau sendiri?’ tanyanya dengan senyum yang sangat kusukai itu.

‘Iya’

‘Kau mau kita lomba lari?’ tanyanya lagi penuh semangat.

Lomba lari dengan oppa? Pasti itu sangat menyenangkan. Aku tentu saja bisa mengalahkannya!

‘Tentu!’ jawabku yakin.

‘Satu, dua, tiga!’ katanya semangat, lalu melangkahkan kakinya.

 

Ah, sial, aku tertinggal beberapa meter darinya. Ia berkali-kali membalikkan badannya menghadapku, tertawa kecil, menungguku sampai setara dengannya, lalu berlari kecil lagi.

 

Yah, aku kalah.

 

‘Aku kalah..’ kataku sambil mencoba mengatur nafasku. Kulihat ia hanya tertawa sambil mengusap lembut rambutku.

‘Tunggu disitu’ katanya, lalu pergi ke suatu tempat.

 

Setelah beberapa menit, ia datang membawakan dua cone es krim. Satu rasa vanilla, satu rasa strawberry. Ia memberiku rasa strawberry. Aku senang oppa ingat rasa kesukaanku.

 

‘Ini, es krimmu. Jangan sedih karena aku bisa mengalahkanmu ya.’ katanya hangat memberikan es krim itu padaku dan tentu saja, menyunggingkan senyumnya itu.

Aku mengangguk saat ia mengusap lembut rambutku.

 

‘Oppa harus pergi. Ada hal yang harus oppa kerjakan’ ucapnya lagi, lalu pergi sambil melambaikan tangannya.

 

Ku lambaikan tanganku dan melihat punggungnya dari kejauhan.

 

Oppa, terima kasih, kataku dalam hati.

Tapi, kenapa aku sempat sedih melihatnya pergi memunggungiku?

 

—Rabu, 28 Januari—

 

Diary, tolong aku, PR-ku banyak sekali.

—Jumat, 30 Januari—

 

Diary. Hari ini ayah meliburkan café. Ayah bilang ayah akan menraktir semua pegawai café menonton di bioskop sebagai hadiah telah bekerja keras selama sebulan ini di café ayah. Kami menonton film action.

Aku tidak begitu suka menonton film action.

 

Tapi satu hal yang kusuka. Aku duduk di antara oppa dan ayah.

 

Oppa tidak bosan menjelaskan padaku jalan cerita film itu. Kami juga berbagi satu dus besar popcorn. Aku tidak bisa menghabiskannya sendirian.

 

Oppa makan popcorn itu dengan cara yang lucu. Tangannya yang besar bisa mengambil puluhan popcorn, sedangkan jariku yang kecil hanya bisa mengambil beberapa saja. Oh, ya, saat aku tersedak, oppa memberikan minumannya padaku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih, tapi mungkin dia tidak begitu mendengarnya karena suara di bioskop ini keras sekali.

 

Seusai menonton film, kami berkaraoke. Aku tidak bisa menyanyi, dan kau tahu? Suara oppa bagus sekali! Ia bisa menyanyi dengan suara lembut dan syahdu. Ia pasti bisa jadi artis terkenal suatu saat nanti.

 

—Rabu, 4 Februari—

 

PR-ku menumpuk.

Ada beberapa ujian yang aku kerjakan beberapa hari lalu.

 

Akhir-akhir ini aku susah berkonsentrasi. Tapi aku harus bisa, supaya nilai raporku bagus.

 

Oh, ya, minggu depan aku libur beberapa hari. Ibu mengajakku pergi ke Busan mengunjungi saudara kami. Aku juga rindu Busan beberapa hari ini. Aku ingin kesana lagi.

 

—Kamis, 5 Februari—

 

Diary, hari ini aku dan Minah berjalan-jalan di taman, melihat bunga-bunga bermekaran. Oh, ya, Minah bilang, minggu depan adalah hari Valentine.

Setahuku, setiap Valentine, aku bertukar coklat dengan ayah dan ibu.

 

Tapi Minah bilang, ia ingin memberi coklat untuk seseorang yang ia suka sebagai tanda cinta. Minah juga bilang, bahwa saat Valentine, banyak pasangan pergi berkencan. Minah ingin merasakan berkencan. Saat ia tanya padaku, apakah aku ingin berkencan, aku menggeleng tidak tahu jawabnya. Minah bilang, saat berkencan , kita bersama orang yang kita sukai dan merasa bahagia. Bahagia karena kehadiran orang itu.

 

Entah kenapa saat itu aku teringat oppa. Aku bahagia ketika bersama oppa.

 

—Sabtu, 7 Februari—

 

Diary.

Aku sedang makan siang di kantin bersama Minah. Kami mengamati kakak kelas kami yang perempuan berdandan cantik sekali. Bibir mereka merah merona. Kulit mereka terlihat putih. Rambutnya dibiarkan terurai namun terlihat rapi. Mereka juga memakai sesuatu yang membuat bulu mata mereka lentik.

Apa itu ya? Kata Minah, itu namanya mascara.

 

Sepulang dari sekolah, aku dan Minah mampir ke toko kosmetik kecil di pojok ruko dekat sekolah. Minah membeli benda bernama mascara itu, sedangkan aku membeli lipstick berwarna merah strawberry.

 

Aku suka lipstick ini!

 

—Minggu, 8 Februari—

 

Malam ini aku ke café sambil membawa buku-buku Bahasa Inggrisku lagi untuk belajar karena besok ada tes Bahasa Inggris. Aku masuk dan melihat oppa berdiri disana, tapi tidak memakai pakaian kerjanya. Mungkin ia sudah selesai bekerja. Saat aku mengamatinya, ternyata ia membalikkan badan dan melihatku. Aku yang kikuk ini langsung mencari tempat duduk, dan kau tahu, karena grogi beberapa bukuku jatuh. Bodoh sekali ya aku ini.

 

‘Hati-hati’ suara yang ku kenal itu sangat dekat denganku, tangannya mengambil beberapa buku dan memberikannya padaku.

‘Bahasa Inggris lagi?’ tanyanya setelah melihat judul buku itu. Aku yang malu hanya bisa mengangguk.

‘Are you going to study this right now?’ tanyanya, tapi setelah melihat mukaku yang tidak memahami pertanyaannya barusan, ia tertawa kecil sambil berkata lagi, ‘Mau aku ajari?’

Aku mengangguk sambil tersenyum. Senang.

 

Oppa duduk disampingku, membuka halaman per halaman, lalu mengajariku beberapa kata. Ia menyuruhku menghafal dan mengucapkan beberapa kata. Aku malu karena lafalku berantakan. Tapi

oppa tidak menertawaiku, ia mengajariku dengan sabar.

 

Saat aku mengucapkan beberapa kata, tiba-tiba oppa mendekatkan wajahnya, mengamati sesuatu diwajahku. Hatiku berdebar. Aku mundur sedikit.

 

‘Kau pakai lipstick?’ tanyanya penasaran.

 

Seketika kurasakan wajahku memanas, sepertinya mukaku memerah. Aku malu. Malu sekali ketika oppa bertanya seperti itu.

‘I..iya..’ jawabku terbata-bata.

Ia tertawa kecil. Oppa bilang aku lucu. Aku masih merasa malu. Oppa menyuruhku melanjutkan mengucapkan beberapa kata. Suaraku lebih lirih sekarang. Mungkin oppa tahu kalau aku malu.

 

Setelah beberapa menit berlangsung, oppa tiba-tiba berkata, ‘I will teach you again someday’

Sebenarnya, aku tidak begitu paham apa katanya barusan. Tapi sepertinya ia ingin aku menyudahi belajarku ini karena hari sudah mulai malam. Aku harus beranjak tidur karena besok tes di pagi hari.

 

‘You can do it!’ katanya menyemangatiku.

‘I can!’ kataku bersemangat.

 

Terima kasih oppa, telah menemaniku belajar malam ini.

 

—Senin, 9 Februari—

 

Tes Bahasa Inggris pagi ini berjalan lancar.

Aku bisa mengerjakan semua soal.

Aku senang karena oppa mengajariku kemarin. Besok aku harus beritahu oppa bahwa ujianku berhasil!

 

—Selasa, 10 Februari—

 

Diary.

Aku ke café hari ini. Hendak mengucapkan terima kasih kepada oppa dan bilang padanya bahwa ujianku lancar.

 

Tapi aku tidak melihat oppa.

Oppa tidak ada.

 

—Kamis, 12 Februari—

 

Diary, hari ini aku iseng ke café untuk belajar sambil mebawa buku-buku Bahasa Inggrisku, berharap oppa bisa mengajarkanku belajar Bahasa Inggris lagi.

 

Ketika aku masuk, oppa tidak ada. Pegawai lain bilang, oppa tidak masuk hari ini.

Akhirnya aku belajar sendiri.

Mengapa aku sedih?

 

—Jumat, 13 Februari—

 

Diary.

Hujan lebat mengguyur Seoul seharian ini.

Aku berdiam diri di kamar semalaman.

 

Aku tidak bisa tidur.

 

—Sabtu, 14 Februari—

 

Diary.

Ada yang mengganggu pikiranku.

 

Sore tadi, aku berbelanja dengan ibu ke supermarket, mempersiapkan beberapa barang yang harus kami bawa ke Busan besok pagi. Sesudah belanja, kami makan malam bersama di restoran. Aku memesan roasted chicken.

Setelah makan malam, kami pulang melewati jalan besar. Ibu menyetir mobil dengan hati-hati. Saat

sampai di lampu merah, aku melihat sesuatu.

 

Aku melihat oppa, berjalan dengan seorang gadis. Mereka bergandengan tangan.

 

Kulihat wajah oppa dari balik jendela mobil ini. Wajahnya berseri. Tampak sangat bahagia.

Tiba-tiba aku sedih, aku ingin membuka kaca jendela dan memanggilnya. Tapi ia sudah pergi menjauh.

 

Selama perjalanan, lampu-lampu kota yang dihias tampak tidak menarik bagiku. Ibu mengamatiku dari kursi kemudi, mungkin khawatir mengapa aku diam saja dari tadi.

 

Oh, ya, hari ini hari Valentine.

 

Pikiran ini menggangguku lagi.

Seharusnya aku memanggil oppa tadi.

 

—Minggu, 15 Februari—

 

Diary. Hari ini aku dan ibu berangkat ke Busan. Kami akan menghabiskan tiga hari disana. Ayah tidak ikut karena ada rapat penting dan harus menjaga café. Café menjadi lebih rame akhir-akhir ini.

Aku belum sempat mengunjungi café.

Ada yang aku rindukan dari café itu.

 

—Selasa, 17 Februari—

 

Diary.

Tolong aku. Aku tidak bisa tidur.

Besok aku pulang ke Seoul.

 

—Rabu, 18 Februari—

 

Perjalanan pulang ke Seoul.

Kenapa hatiku berdebar?

 

—Kamis, 19 Februari—

 

Dear Diary.

Diary, maaf aku menangis. Maaf aku mengotori kertasmu.

 

Diary, oppa sudah pergi.

Aku tidak bisa melihat oppa di café lagi.

Mereka bilang, kontrak oppa sudah habis. Oppa hanya satu bulan saja bekerja di café, sampai kuliahnya selesai. Oppa sudah selesai kuliah. Oppa sudah lulus sehingga harus kembali ke Amerika. Aku tidak tahu kalau oppa dari Amerika. Aku sedih. Korea dan Amerika sangat jauh.

 

Yang membuatku bertambah sedih adalah, oppa tidak sempat berpamitan padaku karena aku sedang ke Busan saat itu. Ia hanya menitipkan salam untukku melalui ayah.

Diary, maaf aku harus berhenti menulis.

Aku terlalu sedih.

 

—Jumat, 20 Februari—

 

Diary.

Aku masih sedih.

Aku menangis seharian.

Aku merindukan oppa.

 

—Sabtu, 21 Februari—

Diary. Apa yang harus aku lakukan?

 

—Senin, 23 Februari—

 

Diary.

Aku sedih. Tapi aku tidak bisa sedih berlama-lama, membuat orang tuaku khawatir, karena aku jarang bermain ke café lagi akhir-akhir ini. Aku berniat mengirim surat untuk oppa.

 

Dear Oppa.

 

Oppa, apa kabarmu disana? Kenapa oppa tiba-tiba pergi? Oppa belum sempat mengajariku Bahasa Inggris. Oppa, aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena nilai Bahasa Inggrisku bagus. Oppa, apakah oppa akan ke Seoul lagi? Kuharap oppa selalu sehat disana.

 

Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku lagi. Aku terlalu sedih.

Aku akan ke kantor pos besok pagi.

—Jumat, 27 Februari—

 

Diary, belum ada surat balasan dari oppa.

Mungkin oppa sibuk.

Aku selalu berdoa supaya oppa selalu sehat disana.

 

—Minggu, 1 Maret—

 

Tidak ada surat untukku.

Diary, oppa tidak lupa padaku kan?

 

—Rabu, 3 Maret—

 

Diary, bisakah kau membelikanku es krim strawberry?

Atau membuatkan coklat hangat dengan marshmwallow beruang didalamnya?

 

—Minggu, 8 Maret—

 

Diary. Maaf aku meninggalkanmu beberapa minggu ini.

Maaf aku menangis lagi.

 

Diary, mereka bilang, oppa akan menikah dan tinggal selamanya di Amerika bersama istrinya. Entahlah, aku harus merasa sedih atau bahagia. Tapi aku menangis.

Oppa akan hidup bahagia selamanya, tapi tidak bersamaku.

 

Diary, bisakah kau hentikan air mataku ini?

Aku berharap rasa sakitku ini berhenti.

 

Diary, aku ingin merasa bahagia lagi.

 

—Senin, 9 Maret—

 

Dear diary.

Hari ini sepulang sekolah, ibu memberiku secarik kertas, surat dari oppa. Aku langsung berlari menuju kamar dan membaca suratnya.

 

Dear Hyunshi.

 

Hyunshi yang lucu, apa kabarmu? Kabar oppa baik-baik saja. Oppa baru saja membeli apartemen baru, hampir mirip dengan apartemen kecilmu. Kau berhasil menaklukkan tes Bahasa Inggris? Oppa tahu kau

pasti bisa melakukannya!

 

Maaf, oppa tidak sempat mengucapkan salam perpisahan padamu. Oppa tidak ingin Hyunshi bersedih karena oppa pergi. Oppa hanya ingin Hyunshi bahagia.

 

Hyunshi, oppa sepertinya tidak bisa ke Seoul lagi dalam waktu dekat ini. Oppa memiliki banyak sekali pekerjaan disini. Tapi tenang saja, oppa akan selalu mendoakan Hyunshi dari sini. Jika Hyunshi merindukan oppa, coba lihat bintang di langit, bilang pada bintang itu untuk menyampaikan salammu untuk oppa. Kita masih dalam satu langit yang sama, kan?

 

Hyunshi, oppa akan sangat senang suatu saat nanti ketika tahu bahwa Hyunshi punya café sendiri. Hyunshi ingin jadi seperti ayah yang punya café sendiri kan? Maka kejarlah mimpi itu. Jangan mudah menyerah. Ingat, oppa mendoakanmu dari sini.

 

Disini sudah sangat malam. Oppa harus tidur sekarang.

 

Jaga kesehatanmu, Hyunshi. Jangan ceroboh lagi ya! Hati-hati jangan sampai terpeleset atau menjatuhkan buku-bukumu (haha).

 

Sampai bertemu lagi suatu saat nanti.

 

Aku tidak bisa membendung tangisanku.

Oppa ingin aku bahagia.

Dengan air mata masih mengalir dipipiku, kututup mataku perlahan dan tertidur, berharap bertemu oppa dalam mimpiku malam ini.

 

—Selasa, 10 Maret—

 

Diary.

Selamat pagi.

Walaupun hatiku masih sakit, tapi aku harus tetap bahagia, karena aku tahu oppa ingin aku bahagia, tidak menangis setiap pagi, menangisi kepergiannya.

 

Kuangkat pandanganku perlahan, ke arah langit biru di atas sana.

Oppa, Hyunshi berjanji tidak akan sedih lagi. Hyunshi masih punya mimpi. Hyunshi ingin mimpi Hyunshi terkabul ketika Hyunshi sudah besar nanti.

 

Aku selalu berdoa supaya oppa baik-baik saja disana.

Jika waktu memperbolehkan, kita pasti akan bertemu lagi,

suatu saat nanti.

 

=====12 tahun kemudian=====

 

[Author’s PoV]

 

Hyunshi berdiri menghadap sebuah jendela, mengamati pemandangan yang sangat ia hafal sejak kecil itu. Ya, bagian luar café yang menghadap langsung ke jalan raya. Rintik hujan di luar sana membuat pemandangan semakin menakjubkan baginya. Ia beralih, melihat meja kerja ayahnya yang sekarang menjadi meja kerjanya. Ayah Hyunshi sudah pensiun, sehingga ia lah yang menggantikannya memimpin café itu.

 

Ia senang, salah satu mimpi besarnya terkabul.

 

Café itu berbeda, tidak kecil lagi seperti dulu. Hyunshi membeli tiga flat disampingnya untuk membuatnya semakin lebar. Kursi dan meja bertambah banyak, begitu pula dengan pelanggannya. Desainnya ditambah supaya terlihat vintage. Café itu juga merupakan salah satu café terpopuler di Seoul. Hyunshi bersyukur, usaha ayahnya selama ini tidak sia-sia, dan sekarang ini tugasnya, untuk memperbesar café itu.

 

Ketukan di pintu mengalihkan lamunannya. Seorang pekerja café membuka pintu.

 

‘Nona Hyunshi, ada yang hendak menemui Anda’ katanya.

 

Hyunshi mengangguk, menyuruh orang itu untuk masuk. Hari ini adalah hari wawancara kerja. Café itu membuka lowongan untuk menambah jumlah pekerja mengingat perkembangan café yang semakin besar. Hyunshi sendiri yang harus mewawancari pelamar satu per satu.

 

Beberapa detik kemudian, seorang lelaki masuk. Dari parasnya, ia terlihat seusia dengan Hyunshi. Ia mengenakan kemeja putih rapi.

 

‘Silakan duduk’ kata Hyunshi mempersilakannya duduk.

 

‘Terima kasih’ jawabnya ramah sambil tersenyum. Senyum hangat, yang sudah lama sekali tidak Hyunshi lihat.

 

Hyunshi dan lelaki itu saling memperkenalkan diri. Setelah itu, Hyunsi membaca resume dan surat lamarannya, sembari memberi beberapa pertanyaan untuknya.

 

‘Jadi, apa motivasi Anda bekerja di café ini?’ tanya Hyunshi pelan-pelan.

 

Lelaki itu mengangguk sebentar lalu menjawab dengan yakin, ‘Saya sudah bekerja sebagai barista di salah satu café di Amerika selama enam tahun. Saya memiliki pengalaman luar biasa ketika bekerja disana, mulai dari menjelajahi kehidupan dapur, sampai mengurus dan menjadi supervisor atas pegawai-pegawai lainnya. Saya sempat ingin membuka café sendiri, namun saya harus pergi ke Seoul untuk melanjutkan sekolah dan mencari pengalaman baru disini. Oleh karenanya, dengan bermodal pengalaman saya, dan cita-cita saya untuk membangun karir disini, saya termotivasi untuk melamar di café Anda. Saya tahu, café Anda sangat terkenal di kota ini. Saya berharap dapat berkontribusi bagi pengembangan café Anda.’

 

Impressive, jawab Hyunshi dalam hati. Ia melihat ada kemauan dan keyakinan di dalam diri lelaki itu. Beberapa waktu lalu, saat tes pertama, yaitu tes membuat kopi, lelaki itu mendapat nilai tertinggi, karena kopi buatannya yang luar biasa enak dan unik.

 

Tanpa pikir panjang, Hyunshi menerimanya sebagai salah satu pegawai disini. Mereka bersalaman. Hyunshi menyuruhnya datang lagi besok pagi untuk briefing.

 

Saat lelaki itu hendak pergi dari ruangan, ia membalikkan badannya, menghadap Hyunshi lagi, lalu membuka mulutnya.

 

‘Mungkin Anda tidak tahu, tapi kakakku pernah bekerja di café ini. Sekitar dua belas tahun yang lalu’

 

Hyunshi mengerutkan keningnya, mencoba mencerna kata-katanya barusan.

 

‘Kakakmu?’ tanya Hyunshi penasaran.

 

‘Cho Kyuhyun,’ jawabnya. ‘Ia yang merekomendasikan café ini padaku, sehingga saya tertarik untuk bekerja disini.’

 

Hyunshi tercengang, terutama setelah mendengar nama yang ia sebutkan tadi.

Cho Kyuhyun, cinta pertamanya itu. Ia tersenyum kecil mendengar namanya. Beribu pikiran menyerangnya. Apakah harus ia tanyakan apa kabar kakaknya? Atau, berapa anak yang ia miliki sekarang? Apakah ia baik-baik saja disana? Bagaimana dengan pekerjaannya?

 

Tapi ia mengurungkan niatnya.

 

‘Iya, tentu saya mengenal kakakmu. Ia salah satu pekerja yang hebat di café ini’ katanya mengenang kembali.

 

‘Saya harap saya bisa sehebat kakak saya’ ucap lelaki itu yakin.

 

‘Tentu’ kata Hyunshi sama yakinnya.

 

Sedetik kemudian, lelaki itu menyunggingkan senyum yang..sangat hangat dan ramah, senyuman yang lebih hangat dari senyum siapapun itu. Begitu pun tatapannya. Tatapan yang dalam dan penuh keyakinan. Hyunshi mengalihkan pandangannya, tidak dapat melihat tatapan itu lama-lama.

 

Lelaki itu lalu beranjak dan membuka pintu sambil menatap Hyunshi sekali lagi sambil menyunggingkan senyumnya.

 

‘Dear diary, apakah aku harus menuliskan sesuatu lagi di atas kertasmu malam ini?’ kata Hyunshi dalam hati sambil tersenyum kecil.

 

=====end======

 

Terima kasih sudah membaca ff ini. Semoga menghibur. Maaf ya jika rada baper kkk.

Ingin sekuelnya? Request ya🙂 gomawo.

Fight against plagiarism!

#np IU-Good Day

10 Comments (+add yours?)

  1. soofiatj
    Jun 02, 2015 @ 12:43:48

    Would you like to write the sequel of this story??

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Jun 02, 2015 @ 14:25:20

    Aduh nyesek ye jadinya. Knapa ga diungkapkan? Aduh ditinggal nikah😥 sakit thor sakit. Aku mengerti perasaanmu kok hyunshi. Ditunggu sequelnya yah!!!😀

    Reply

  3. fishy2115
    Jun 02, 2015 @ 18:06:21

    Gue kira cowonya si Donghae😀 tapi ternyata si Kyuhyun😀 Tapi ini bagus! keren! berasa kek baca Buku Diary sungguhan ^^ Keep writing thor^^

    Reply

  4. idealqueen
    Jun 02, 2015 @ 23:43:59

    Suuuukkkaaaaaaaa >.< sequel pliiiiiisss

    Reply

  5. Jung hye min
    Jun 03, 2015 @ 03:12:23

    Sequel thorr>.< !!!*maksa*
    Berharap si hyunshi pacaran sm adek ny kyu kalau nggak ketemu sm kyu lagi:):)

    Reply

  6. novioci
    Jun 03, 2015 @ 19:08:07

    Oppa disini yg aku bayangin itu eunhyuk loh.. hahaha sweet nih.. bnr” first love nya anak anak bngt #plakk hehehe

    Reply

  7. peperokyu
    Jun 03, 2015 @ 23:51:59

    Yaaah mau diungkapin pun umurnya hyunshi msh 12 th msh anak2 hahahhaa
    cinta pertama emang selalu berakhr menyakitkan
    Ceritanya menarik thor simpel tp berkesan mungkin jg krn pengaruh konsep penulisan
    kalo sekuel nama laki2nya cho siapaaa???

    Reply

  8. tabiyan
    Jun 04, 2015 @ 22:49:56

    Hehehehe ternyata kyuhyun yg dipikiran keluar malah tampang song jong ki oppa heehhehehe sih ganteng senyumnya itu loh ga kuat! Sequel ya ketemuin kyu sma hyunshi

    Reply

  9. Monika sbr
    Jun 06, 2015 @ 20:17:52

    Ahhhh…. Penasaran sama kehidupan kyuhyun yg sekarang. Apa dia sdh benar2 menikah?? Semoga aja belum, biar mereka bisa bertemu dan bersatu deh….
    Sequel dong thor, plissss!!!

    Reply

  10. nurihandyn
    Jun 08, 2015 @ 03:30:43

    Thor ini sweet bgt. Berarti gap umur mereka 8 tahun? Ahh just like me and cho kyuhyun. Gap umur ku sama kyuhyun juga 8 thn. Berasa baca diary sendiri.
    Tapi thor pas di ending aku kurang dpt feelnya. Kayak buru2 maksa finish. Gitu hehe. Overall ceritanya manis.
    Keep writing thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: