I Would

 

Title : I Would

Author : Zahra Fahridina

Main cast : Shin Zara,Henry Lau,Jang YongMi,Park Hye Sun,Song Mira,Kim Jaehyun

Genre : Romance,friendship

Lenght : oneshoot

Rating : 15+

 

Hallo semua??! author baru yang masih amatiran kayak saya ini mau menyalurkan hobi dan inspirasi nih Semoga coretan ini tidak mengecewakan kalian yah dan engga datar ceritanya. Yang mau komentar dan kritik tulisan saya ini, saya doakan masuk surga deh,amin.

Sorry for typo!

 

Happy Reading^^

 

 

 ***

 

Aku membetulkan ikat sepatu yang longgar,menatap langit sebentar dan melirik arloji kemudian mendesah pelan. Pantas saja sudah sepi,ini hampir senja. Siswa lain sudah banyak yang meninggalkan tempat ini 20 menit yang lalu dan pulang ke kediaman masing-masing.

 

Melanjutkan langkah menuju kelas, ku gerakkan kaki pelan. Pandangan ku menyapu permukaan sekolah ini. Benar-benar sepi,apa aku berani melanjutkan langkah menuju kelas di ujung sana untuk mengambil barang yang tertinggal? Sendirian pula! Bicara tentang barang yang tertinggal,aku benar-benar payah! Status ku sebagai salah satu siswa kelas unggulan sekolah ini perlu di pertanyakan,pasalnya ingatan serta fokus ku akhir-akhir ini benar-benar buruk. Entah karena banyak nya tugas sebagai siswa tingkat akhir atau karena hal lain.

Aku memicing,pandangan ku mulai menajam,menatap satu titk yang mampu menarik semua perhatian ku.

 

Deg!

 

Dia. Pria itu. Lagi.

 

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang. Aku melihatnya lagi, tepat di ujung koridor sana bersama gadis itu.Gadis yang berhasil menyeret perhatianya dariku. Mengunci setiap tatapanya untuk ku menjadi untuknya.

Langkah kaki ku terhenti. Bola mataku tak pernah lepas dari siluet yang samar-samar terlihat di depan dengan jarak +- 20 meter. Pandangan ku mulai mengabur,kepalaku berputar pening mengingat nya. Memori yang mati-matian aku hapus kembali berputar seperti tayangan sebuah film. Aku benci ini. Saat tidak bisa mengendalikan diri di dera rasa rindu dan menyesal.

 

Tepat 5 bulan yang lalu saat baru mengenal nya. Saat pria itu,Henry mengatakan, “aku mencintaimu” dengan gusar nya di depan ku. Dengan beberapa butir tetesan keringat di dahi,dengan ekspresi terperangah yang aku tunjukan dan dengan tindakan bodoh yang aku lakukan, – aku menerimanya. Menerima dia sebagai kekasihku.

Henry mulai memasuki kehidupan ku lebih dalam. Aku mencoba membuka hati secara perlahan. Aku masih takut dan ragu. Ia pria dengan umur 1 tahun di bawah ku,dan aku baru mengenalnya. Membatasi diri dari nya dengan bersikap tidak peduli,aku tidak sadar bahwa Henry tidak datang sendiri. Rupanya Henry ikut menggenggam gadis lain di belakang bahunya. Ia menyembunyikan gadis itu begitu rapat,rapi dan bersih. Menjalin suatu hubungan yang tidak aku mengerti awalnya bagaimana dan hubungan macam apa. Tanpa membuat aku curiga,sedikitpun. Semakin lama,aku menyadari sesuatu yang aneh. Meskipun selalu aku tepis,tapi rasa janggal itu kian menguat. Apalagi setelah timbulnya percikan pertengkaran antara aku dan Henry. Lalu kemudian berpisah,dan semua yang aku anggap janggal itu terkuak dengan sendirinya.

 

Tertawa getir,aku masih teringat semuanya. Seperti baru terjadi kemarin. Mataku meliriknya dari jauh,dia tersenyum. Bahkan meskipun hal itu di tunjukan bukan untuk ku,irama jantung ini tetap menggila. Berdetak tak kendali dan sedikit … lancang.

Hantaman sesak itu masuk dan memenuhi dadaku. Semakin sesak tatkala menyaksikan bagaimana manis nya Henry memperlakukan Yongmi,gadis barunya. Aku sampai di buat iri. Padaku saja dulu ia tidak seperti itu. Tidak sampai memegang tangan dan mengecup punggung tangan nya dengan manis.

Oh sial! Aku menangis mengingatnya!

 

“Zara..” punggung tanganku bergerak cepat menghapus anak sungai di pipi dengan kasar. Lalu ku tolehkan muka ke belakang. Hye sun di sana,di belakang ku dengan senyum sabit nya.

 

“Lama sekali. Kenapa masih di sini? Kau tidak lupa jalan menuju kelas kita bukan?”

 

“Tidak Hye”

 

“Lalu,kenapa masih disini?” Tanya nya. Ini yang aku takutkan,aku harus bilang apa?

Kepalaku tertunduk. Entah merasa bimbang, takut dan gemetar. Dari ekor mata,ku kulihat Hyesun mengernyitkan dahi. Ia menatapku dalam seolah-olah heran dan mencurigai sesuatu,seperti mengintimidasi. Mataku bergerak gelisah ke segala arah.

Hye Sun mendesah pelan setelah ekor matanya menemukan sesuatu. Tepat pada objek yang ku tatap semula. Aku merasa tidak punya muka sekarang. Tertangkap basah tengah menangis,meratapi Henry. Lagi.

 

“Padahal minggu lalu jelas sekali kau menyatakan, kau telah melupakan dia. Tapi…” kalimat nya menggantung. Semakin membuatku berdebar saja menantikan kata selanjutnya. Mungkin berupa kalimat tajam dan hina’an. Tapi aku siap menerimanya. Aku munafik padanya minggu lalu. Berkata dengan percaya diri tinggi padanya dengan kalimat, “aku tidak peduli. Lagi pula Hye,aku sudah melupakan nya.”

 

“- jangan menangis lagi” lirih nya kemudian. Aku terbelalak tak percaya. Apa katanya? Jangan menagis lagi? Ku kira ia akan mengatakan hal yang mampu menamparku dengan telak.

 

“Aku tidak menyangka akan menyadari perasaan ini begitu dalam padanya,bahkan saat dia sudah lelah,menyerah dan … pergi” aku sudah terisak di pelukan Hye sun. Aku ingin meluapkan semua padanya. Perasaan yang mengganjal,yang selalu membayang dan bersemayam menjadi sesal tak terlupakan.

 

“…”

“Aku merindukan nya Hye. Sangat! Bahkan masih merasa tak rela melihat dia bersama gadis sialan itu. Bisakah aku memutar waktu?” Itu hal yang tidak mungkin. Aku tahu itu. Namun dengan bodoh nya,lidah ini masih lancang bergerak membentuk suara demikian.

 

“Jangan begitu…….” Hye sun menegur,mengusap pundak lalu menyampirkan helaian anak rambutku. Rasanya nyaman. Hyesun salah satu sahabat yang mampu mengerti diriku,mampu membuatku nyaman dan tenang.

 

“Mungkin kepribadian diriku yang begitu acuh padanya dulu,membuat dia seperti itu. Aku tahu aku salah. Dan aku menyesal. Hye,aku menyesal. Dia pasti tersiksa karena sikap ku dulu makanya mencari yang lain” rasanya sesak,namun tidak seberapa dengan yang dulu. Saat berpisah dengan nya lalu tak lama mendengar kabar angin tentang Henry dan Yongmi berpacaran. Rasany kala itu aku begitu hancur,Henry membuat hati ini terbelah berkeping-keping.

 

“Menangis lah sekarang,sepuasmu. Lepaskan semua beban itu,aku akan menjadi pendengar dan sandaran mu saat ini”

 

“Namun setelah itu,lepas kan dia dari hatimu. Relakan dia pergi. Kau tidak akan bisa hidup tenang jika di hantui oleh Henry dari masa lalu” alunan suaranya terdengar seperti beludru.

 

Aku menyuarakan segala isi hatiku. Menangis sepuasnya dan melepaskan beban itu. Aku ingin melupakan Henry,membiarkan dia hanya hidup dalam sebuah kenangan yang tidak perlu aku ratapi. Aku ingin melakukan nya.

 

“Move on adalah sebuah proses. Dimana kau harus membiasakan suatu hal baru dalam hidupmu,kau masih ingat itu?” Suara Hyesun mengalun lembut di akhir isakan ku. Aku tertegun mendengar nya,lalu menatap dia dengan terkejut.

“Kau pernah mengatakan kalimat itu pada Jaehyun saat dia patah hati” Hyesun terseyum melihat ekspresiku.

 

“Kau benar. Aku sampai lupa kata-kataku dulu. Padahal jika kalian patah hati,aku yang paling banyak bicara ini itu. Mengomel agar kalian berhenti menangis” mengusap lelehan air mata dengan kasar lalu tertawa pelan. Rasanya itu menggelikan. Dulu aku memang begitu. Sebagai sahabat sekaligus penasehat cinta para sahabatnya. Memberi semangat,solusi maupun motivasi pada mereka yang patah hati. Sebelum aku mengalami nya sendiri,sebelum aku mengenal Henry,dan sebelum aku patah hati.

 

“Aku pergi dulu ke kelas” melepaskan pelukan Hyesun,aku berkata pelan. Ia terseyum padaku. Menarik suatu benda dari tas,aku menyadari tatapan Hyesun yang terbilang bingung.

 

“Kau kenapa?”

 

“Harus nya itu pertanyaan ku ,Zara. Kau yang kenapa tiba-tiba mengeluarkan ponsel dan headseat. Kau berniat karaoke ria setelah tadi mendrama dengan ku?” Kalimat nya terdengar mengelitik,aku tertawa mendengarnya.

 

“Kenapa malah tertawa? Yakk!” Ia bergerutu kesal,melihatku dengan tatapan sebal. Hyesun kembali menjadi gadis menyeramkan lagi. Kalau begini,aku harus segera pergi,menghindar sekejap dari amukan nya.

 

“Aku akan segera kembali ” setelah memasang headset pada telinga yang tersambung pada handphone,aku melangkah pelan.

 

“Mau ku temani?” Tawar Hye Sun. Gadis ini. Tadi sudah mau memarahi ku,bahkan sempat bersumpah serapah sendiri. Tapi detik ini,ia sudah berbicara halus lagi. Cepat sekali perubahan nya.

Aku berhenti sejenak. Aku tahu dia berniat baik padaku. Tapi rasanya itu tidak perlu. Aku tidak mau,aku ingin mencoba melewatinya sendiri,aku pasti bisa.

 

“Tidak perlu Hye.” Ku tolak ia dengan halus di ikuti sebuah senyuman. Hyesun nampak kecewa sesaat,namun ia cepat faham bahwa aku ingin mencoba nya sendirian.

 

“Aku tunggu di sini”

 

Ku mantapkan langkah kaki. Berjalan dibuat dengan langkah angkuh sambil memainkan handphone,itu tidak terlalu buruk bukan? Dan soal berjalan dengan ‘angkuh’,aku tidak peduli pendapat Henry dan Yongmi nanti saat melewatinya. Ini cara ku untuk menguatkan hati ku. Pura-pura saja tidak tahu keberadaaan mereka. Itu ide bagus juga.

Langkah pelan ku perlahan mengikis jarak dari posisi mereka. Aku kuat. Pasti.

Namun mencoba meyakinkan diri berapa kali pun,detakan jantung ini tetap kuat dan menggila. Memejamkan mata sebentar dan menarik nafas pelan,aku menyiapkan diri lebih. Tidak apa-apa Zara. Anggap mereka itu lalat,yah kurang lebih begitu.

 

“Dia ini tidak sopan sekali ya,lewat depan kita tanpa permisi. Jalan nya angkuh lagi. Menyebalkan sekali kan,sayang?” Deg. Suara manja Yongmi yang menggerutu terdengar. Aku sempat tersentak dan berhenti jalan sebentar.

 

“Tidak perlu kau fikirkan sayang. Anggap saja dia ini lalat lewat yang mengganggu acara kita yang sedang melepas rindu” timpal Henry. Aku tercekat,menahan nafas sebentar. Ini kali pertama aku mendengar suara nya lagi setelah 1 bulan yang lalu,saat berpisah. Oh sial,aku makin sesak saja saat ekor mataku melihat mereka yang tengah berpelukan.

Drrt..drrt. aku tersadar,lalu kembali berjalan biasa.

 

Pesan masuk dari Hyesun.

Aku tahu,kau tidak benar-benar sedang memutar lagu. Tapi… semangat! Kau pasti kuat! Jangan dengarkan ucapan mereka. Anggap saja mereka itu radio rusak yang perlu kamu tendang. Sialan kan!

 

Aku terseyum membacanya. Dia tahu dari mana?

“Ah radio rusak ya” tanpa sadar aku tertawa dan menyuarakan apa yang di katakan Hyesun padaku.

 

Hyesun mengirimi ku pesan lagi.

Jangan menoleh ke samping. Tatapan tajam mereka bisa membunuhmu,kau kencang sekali bicara nya tadi. Tapii… aku suka. Mereka mendengarnya.

 

Lagi-lagi aku di buat Hyesun terseyum. Sahabatku ini benar-benar. Langkah ku terhenti pada sebuah meja yang biasa aku duduki,lalu mengambil sebuah buku tebal dari bawah meja tersebut. Harlan Coben,sebuah novel terjemahan yang akhir-akhir ini sering aku baca. Aku kembali menuju Hyesun,setelah kulihat Henry dan Yongmi sudah tidak ada di tempat tadi. Syukurlah,setidak nya aku tidak perlu muntah muak karena melihat mereka.

 

“Ada yang aneh dengan mu Zara” Hyesun sudah berjarak 3 meter di depan ku. Lalu tatapan heran nya tertuju pada novel yang aku bawa.

 

“Apa yang aneh Hye?” Aku berkerut bingung. Maksudnya apa?

 

“Kau lebih sering membaca novel terjemahan hasil si penulis Harlan Coben itu. Bukankan kebanyakan Harlan coben itu menulis tentang suatu cerita misteri yang menegangkan?” Hyesun berujar dengan ekspresi meringgis yang ia buat.

Aku mengangguk , “Lalu?”

 

“Itu suatu hal yang tidak biasanya kau lakukan. Kau kan lebih sering membaca novel-novel dengan genre romance,itu yang kulihat selama 3 tahun bersama mu. Tapi akhir-akhir ini, ya Tuhan….” aku semakin bingung. Hyesun histeris tidak jelas.

 

“Hye bicara yang benar,aku tidak mengerti”

 

“Apa ini salah satu caramu untuk melupakan Henry?? Begini Zara,cerita romance itu selalu mengingatkan mu pada sosok Henry bukan?” Hyesun berujar dengan nada berapi-api. Aku terdiam mendengarnya.

 

“Kau akan selalu mengingat dia,mengenang dia,merindukan dia dan… astaga!!!”

 

“Zara,aku tidak bermaksud berkata seperti itu! Maaf kan aku” Hyesun berkata hati-hati setelah menyadari mimik muka ku yang berubah suram saat dia berkata panjang lebar. Aku rasa itu benar. Tanpa di sadari kebiasaan yang aku ubah itu memang memiliki tujuan tersendiri.

 

“Tidak apa-apa Hye!”

 

“Kau yakin tidak apa-apa? Sungguh aku minta maaf” Hyesun nampak panik dan ketakutan,cara berbicara nya saja sudah terlihat aneh. Aku terseyum melihatnya.

 

“Jangan hanya tersenyum,Zara! Katakan sesuatu”

 

“Jika sewaktu-waktu aku berkata menyesal dan merindukan Henry lagi ,pukul saja aku”

 

“Apa??” Hyesun mengerjap di tempat,seolah mencerna dengan tatapan bingung. Namun sedetik kemudian ia tersenyum setelah mengerti.

 

“Dengan senang hati aku melakukan nya..” Hyesun terkekeh sebentar,itu menular padaku. Detik berikutnya aku tertawa bersama dengan nya.

 

“Kau harus sadar. Pria lain masih banyak di dunia ini. Kau tinggal menunjuk salah satu dari mereka. Aku yakin,tidak akan ada yang menolak gadis secantik dirimu” ia mulai berkelakar,ku tepuk pundak nya pelan.

 

“Memangnya aku secantik itu ya?”

 

“Sebenarnya tidak juga,karena kecantikan mu masih jauh di bawah ku” Hyesun berujar santai,aku mendesah kecewa.

 

“Becanda,yak kau memang cantik. Ayo..!” Hyesun menarik ku pergi,menjauh.

Senti demi senti langkah ku ini,aku berharap,berdoa dan berusaha agar aku bisa benar-benar melupakan nya. Menghapus jejak rindu yang tak akan terobati ini.

Aku lagi-lagi tersenyum,melihat Mira dan Jaehyun yang masih setia menunggu di halaman depan.

“Kalian lama sekali” jaehyun angkat bicara. Bicara nya ketus,Hyesun melirik ku lalu tertawa.

 

“Kau tidak tahu apa yang kami lakukan di sana”

 

“Memang apa yang kalian lakukan?”

 

“Bermain drama” ujar Hyesun santai. Aku merasa lucu jika melihat ekspresi bingung Jaehyun. Wajah imut nya semakin menggemaskan.

 

“Apa drama yang kau maksud ada hubungan nya dengan pasangan sialan tadi yang baru lewat? Kau menangis lagi Zara? Ya Tuhan!” Jaehyun berteriak histeris. Oh anak ini.

 

“Jangan bilang kau masih belum bisa melupakan dia?!”

 

“Bingo! tepat sekali,tapi itu beberapa menit yang lalu. Sekarang sudah tidak ! Iya kan, Zara?” Hyesun menepuk pundak ku. Aku terseyum lalu mengangguk.

 

“Syukurlah kalau begitu” Jaehyun mendesah lega.

 

“Kalau kau ku dekatkan dengan pamanku,mau?” Mira angkat suara tanpa mengangkat dagu. Fokus nya masih tetap pada layar ponsel persegi panjang nya.

 

“Apa?!”

 

“Kau berniat menjodohkan Zara dengan seorang ahjushii???”

 

“Mira?! Kau gila” aku histeris mendengarnya. Yang benar saja?

 

“Kau sampai begini hanya karena tidak bisa melupakan Henry. Jadi ya apa salah nya jika ku tawarkan dengan paman ku”

Detik kemudian yang lain tertawa,termasuk Mira sendiri. Apa yang lucu?

Aku mengerjap beberapa kali,hati ku yang semula kesal padanya ikut menghangat mendengarnya. Tawa itu menular,aku ikut terlarut. Hanya hal kecil seperti ini dapat membuat ku nyaman dan begitu senang,aku baru sadar.

Aku menyadari sesuatu sekarang. Ternyata bahagia itu tidak harus berdua. Bahagia itu tidak harus sepasang pria dan wanita. Bahagia itu sederhana,cukup mensyukuri apa yang aku punya. Termasuk persahabatan yang tiada habisnya canda tawa. Aku mensyukuri nya Tuhan. Sekarang maupun selamanya.

 

FIN

 

 

 

Gimana oneshootnya? Gaje alurnya? Datar cerita nya? Maapkan saya,maklum masih amatiran. Need sequel? Kalo banyak yang mau,aku buat  thanks buat yang udah mau baca. Apalagi yang mau nyempetin buat komentar. See you next time!�

2 Comments (+add yours?)

  1. elskyu03
    Jun 23, 2015 @ 12:19:53

    Henry ngeselin sumpah😦 AKU MINTA SEQUELNYA YAH, EONNIE :*

    Reply

  2. fauziahdh
    Jul 15, 2015 @ 20:22:17

    hai manis, aku pernah membaca ini loh :v sepertinya salah satu tulisanmu yang sempat ku curi baca. aku juga tau, semuanya real. kejadian ini benar benar kau alami. ayok mupon cantekss, bener kata hyesun masih banyak kok yang ngantri diluaran sana 😚 lagipula aku pernah mengalaminya.
    ini hanya soal waktu, kunci nya cukup perbaiki diri, perbanyak ibadah, nati imam mu bakal nyamperin sendiri kok’-‘ hehe ini coment ngelantur aja😀 sorry. over all, bagus kok, rapih banget ini cerita. cuman di bagian “Harlan
    Coben,sebuah novel terjemahan yang akhir-akhir ini sering aku baca.” agak mengganggu. Harlan Coben sebuah novel? penulis novel sih iya. itu orang loh, kenapa di kalimat itu berasa sebuah judul novel-____- yaa emang sih ada bagian yang ngejelasin di akhirnya, tapi ini ganggu >.< betewe ini udah kepanjangan coment nya. berharap ada sequel sih, tapi yang asli. bukan ff. ditunggu kabar baiknya adek kamvret 😂😂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: