Memories [1/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Heechul (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

***

Part 1

Usia hanyalah sebuah angka, bukan patokan. Usia hanya melambangkan seberapa lama seseorang hidup. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada seorang wanita berusia 34 tahun yang masih suka bermain boneka layaknya anak-anak. Ada seorang pria renta yang suka menggoda remaja. Ada pula Vitaly Nechaev, anak lelaki yang sudah bisa mengajar sejarah di kampus bergengsi. Atau Bashaer Othman yang menjadi walikota Allar, Tulkarm, tepi barat Palestina selama dua bulan di usia 16 tahun. Ia tidak melihat sesuatu yang salah. Mereka sama-sama sepakat bahwa usia bukanlah halangan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Hanya karena mereka masih muda, bukan berarti mereka tak pantas diberi sebuah kepercayaan.

Sampai titik ini, ia masih percaya akan hal itu. Ia tak ingin mengoreksinya. Hanya saja, ia baru menemukan kesalahpahaman dalam diri mereka saat itu. Semangat mereka terlalu menggebu-gebu kala itu. Jiwa muda mereka berkobar seperti api yang berhasil melalap segala akal sehat yang mereka punya. Ia sadar, bukan usia yang menjadi tembok antara mereka, melainkan mental dan kemampuan mereka. Mereka tak siap kehilangan masa muda. Tak siap menghadapi kerikil yang menggelinding pelan di kaki-kaki mereka. Mereka belum memiliki mental yang cukup dalam menjalani segala hal yang masih sangat baru bagi mereka. Ia tak menyesali apa yang sudah mereka lalui. Satu-satunya yang ia sesalkan adalah……..karena ia terlalu lemah untuk menjaga apa yang sudah ia raih.

Segalanya masih tergambar jelas dalam ingatannya. Tak ada yang tertinggal satu pun. Setiap hari –sesekali dalam kegiatannya- ia seperti kembali mengalami semuanya satu persatu. Mengulang semua peristiwa sakit dan senang itu bersamaan.

Casey selalu mengatainya tidak bisa maju. Casey tidak suka jika ia menutup hati rapat-rapat. Jika ada gadis yang mendekatinya, maka Casey akan berkata pada gadis itu, “Kau hanya buang-buang waktu. Hatinya digembok dan kuncinya dibuang ke Sungai Mersey.”  Ia tak masalah Casey berkata seperti itu. Tapi ia agak terganggu ketika Casey mengatakan bahwa kepergiannya dimalam hari saat tak bekerja adalah untuk berkumpul dengan teman-teman  gay.

Casey adalah orang yang paling tahu tentangnya melebihi siapapun, termasuk kakaknya sendiri yang tinggal seatap dengannya. Dan Casey juga orang yang paling keras berusaha agar ia melupakan masa lalu dan cepat-cepat berburu pengganti. Kadang ia iri dengan sahabatnya yang masih bisa menjaga pernikahannya hingga usia lima tahun ini. Meski sampai sekarang mereka belum memiliki anak, ia tak pernah dengar mereka bertengkar. Kalau sekedar adu mulut hingga saling mengumpat dengan kata kasar, itu tidak termasuk dalam kamus bertengkar yang dimaksud dalam hubungan mereka. Itu sudah menjadi makanan sehari-hari dan itu cukup menyenangkan bagi orang yang suka keramaian sepertinya.

Ia sangat membenci keheningan. Ia senang berkumpul dengan banyak orang dan Ia memiliki banyak teman yang tersebar di seluruh area Merseyside. Namun, dari sekian banyak orang yang ditemuinya setiap hari, tak ada satupun yang mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan ceritanya. Ia sempat berpikir bahwa mereka hanya tak mau membuatnya merasa tidak nyaman dengan membahas tentang masa lalu. Atau itu adalah intruksi dari Casey supaya tak ada satu orangpun yang mengingatkannya akan hal itu. Ia hargai itu. Tapi ia tak menyukainya. Sekalipun ia berusaha untuk membiasakan diri dengan semua itu, rasanya tetap ada yang mengganjal.

Namun, mereka hanyalah teman-temannya, ia masih bisa mentolerir ketidakpedulian mereka, tapi ia hampir tak percaya bahwa kakaknya lebih parah dari itu. Mereka tinggal bersama tapi ia merasa sendirian jika berada di rumah. Anehnya, ia tetap betah tinggal disana meski setiap hari ia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak ada siapapun di rumah itu selain kakaknya. Hal yang paling tak ia sukai didunia ini adalah sendiri. Dan ia mengalaminya selama 10 tahun ini.

“Jerome!! Sudah berapa kali aku bilang, bawa mobilmu! Apa gunanya parkir di garasi?”

Itu adalah kakaknya. Namanya Leeteuk. Ia tak menghiraukannya. Ia lebih memilih langsung mengenakan kemeja yang baru dibeli sore tadi di butik langganannya. Warnanya hijau muda dengan jenis kain yang lembut, tidak kasar seperti hadiah ulang tahun dari Casey bulan lalu.  Casey memang tidak pandai memilih. Seleranya payah.

Malam ini adalah malam minggu dimana Ia bersama Vincent dan Donghae akan memberikan pertunjukan kecil bagi pengunjung cafe milik Casey. Karena jarak antara rumah dan cafenya tidak begitu jauh, seperti biasa ia tetap berjalan kaki kesana, mengindahkan perintah kakaknya yang menyuruhnya membawa mobil. Ia tahu maksudnya. Kakaknya hanya memastikan bahwa mobil antik itu menganggur lagi malam ini. Kakaknya pasti akan menggunakannya untuk  menjemput kekasihnya yang berambut pirang itu keliling kota, atau pergi ke De Phil. Sebenarnya ia prihatin padanya. Di usianya yang sudah kepala empat, kakaknya itu belum menemukan seseorang yang bisa menjaganya hingga tua. Justru masih bersikap seperti anak muda yang kerap gonta ganti kekasih.

“Hey, pernahkah kau paham tentang kepedulianku?”

Ia memakai sepatu dan mengambil jaket lalu menatap kakaknya dengan letih, “Itu adalah mobil pemberian ayah. Bukan mobilku. Kau tidak perlu terus bertanya jika ingin memakainya.”

“Tapi secara tertulis itu milikmu. Jadi kau harus memakainya.”

Ia menarik nafas panjang, menahan tangannya yang nyaris menggerakkan handle pintu. “Hyung….jika kau terus memaksa….baiklah, aku akan gunakan mobil malam ini.”

“Ah, bu….bukan itu maksudku. Aku tidak bermaksud memaksamu. Kalau kau tak suka, sebaiknya kau tidak memaksakan dirimu,” sergah Leeteuk  cepat dengan muka panik luar biasa. “Dan….itu….kenapa kau masih saja memanggilku hyung? Bagaimana kalau ada yang mendengarnya?”

Tanpa menghiraukan lagi perkataannya, ia lekas-lekas pergi karena Donghae sudah mengiriminya pesan yang menyebutkan bahwa café sudah penuh dan menunggunya. Omong-omong, ia bisa mendengar helaan nafas lega dari Leeteuk. Padahal sudah berkali-kali ia mengatakan, silahkan pakai mobil itu sesuka hati. Itu adalah satu-satunya warisan dari ayah mereka yang ia bawa jauh-jauh dari Korea. Bukan jenis mobil mewah. Itu hanyalah mobil biasa keluaran tahun 90-an. Tapi baginya itu sudah cukup bagus dan yang pasti berguna.

Mobil itu dipercayakan padanya karena ia terus bersama ayahnya sebelum meninggal. Dan mungkin karena itu Leeteuk selalu meminta ijin padanya untuk meminjam mobil tersebut. Ketika Leeteuk sudah kehilangan muka untuk minta ijin, ia akan berpura-pura memarahinya seperti tadi. Dan untuk masalah panggilan, Leeteuk sama sekali tak suka dengan panggilan dalam bahasa Korea. Sejak mengganti kewarganegaraannya, Leeteuk juga mengganti namanya menjadi Dennis. Entah apa nama lengkapnya. Ia bahkan tidak tahu asal muasal dari nama Jerome yang ditujukan padanya.

Sekarang  ia berjalan sendirian menuju café menyusuri Duke Street. Udaranya cukup dingin. Tadi ia sempat menonton berita dan perkiraan cuaca Liverpool malam ini mencapai 14˚. Dean, si pengamen berpenampilan necis di pinggir jalan tampak kebanjiran uang. Sapu tangannya penuh. Ia menyapanya dan beberapa saat ikut bernyanyi bersama.

“Lanjutkan kegembiraanmu.”

Setelah itu ia melanjutkan perjalanan. Berpapasan dengan banyak pasangan yang tengah berkencan, bahkan ia melihat sepasang remaja yang tengah berciuman di balik tembok dengan cahaya remang-remang. Sepertinya semangat mereka sedang menggebu-gebu. Jika ia adalah Casey,  ia pasti akan melemparkan sesuatu ke arah pria itu lalu lari terbirit-birit atau memasang wajah tanpa dosa.

Ia jadi rindu suasana itu. Dulu, ketika ia dan Casey hanyalah pekerja serabutan, Casey adalah sahabatnya yang menemaninya membeli bunga untuk Jeany. Casey yang menekan bel rumah Jeany kemudian melesat pergi sebelum pintu terbuka dan ayah Jeany yang menyeramkan itu mendelik ke arahnya. Casey juga yang meminjamkannya kemeja terbaiknya ketika ia harus makan malam bersama keluarga Jeany. Meski yang dimaksud terbaik oleh Casey adalah kemeja biru yang warnanya sudah pudar, ia sangat menghargai itu.

Hm..Jeany. Jeany. Jeany.

Akhir-akhir ini ia terlalu sering menyebut nama itu. Sayangnya, tidak ada yang pernah bertanya. Tidak ada yang mau tahu. Atau mungkin pura-pura tidak tahu. Bahkan Leeteuk sekalipun yang lebih sibuk dengan kekasihnya yang berganti tiap bulan itu ketimbang bertanya ada apa dengan adiknya. Mungkin karena mereka jarang bersama, Leeteuk jadi tak begitu mengerti tentang adiknya sendiri dan tak bisa bedakan mana adiknya yang biasanya dan mana asiknya yang tidak biasanya. Kadang ingin sekali ia mengajaknya duduk bersama di teras, minum bersama lalu ia akan menumpahkan segala perasaannya. Sayangnya itu tak pernah terjadi. Pernah satu kali mereka melakukannya, tapi bukan ia yang bercerita, ia justru harus merelakan telinganya dikotori oleh cerita Leeteuk tentang bagaimana gaya bercinta yang menyenangkan. Untuk orang yang sebenarnya tak pandai menyimpan sesuatu rapat-rapat sepertinya, ia merasa cukup tersiksa.

“Yesung, kau melamun lagi. Pengunjung sudah berdatangan sejak tadi.”

Ia tersadar saat Mickey mengguncang bahunya. Mickey adalah salah satu pelayan di café Casey. Yesung pun melihat ke dalam dan rupanya memang sudah banyak pengunjung yang datang.  Donghae sedang memainkan gitarnya seorang diri sambil menunggu kedatangannya. Langsung  ia lepas jaket,  menggantungkannya dikepala Mickey kemudian berjalan tenang ke meja. Dengan cepat segelas kopi susu muncul di hadapannya.

“Thanks, Marc.”

Ini adalah rutinitasnya jika kemari. Menghabiskan secangkir kopi susu buatan Marcus, lalu tampil bersama dua temannya.  Ia yakin waktunya pas dengan selesainya Donghae bersama solo gitarnya.

“Ah, ini enak sekali. Kau adalah pembuat kopi susu paling hebat yang ada di separuh kota ini.”

Marc sedang membuatkan pesanan yang dibawa oleh Mickey. Ia tersenyum lalu menatap Yesung sejenak dengan sinis. “Rayuanmu tak cukup ampuh malam ini. Berikan  5 pounds pada Nathan.”

“Kenapa begitu?”

Marcus meletakkan dua sedotan ke dalam dua gelas besar berisi minuman yang entah apa namanya, menyerahkannya pada Mickey kemudian mendekatkan wajahnya pada Yesung. “Yesung, aku baru menyadari bahwa aku sudah membuat banyak kesalahan selama ini. Dengan fakta bahwa kau adalah sahabat dari Casey, kurasa itu tak lagi membantu.”

Yesung menghirup lagi kopinya, ia sempatkan melirik ke arah Donghae yang sepertinya akan segera selesai. “Ada apa denganmu, kawan? Dalam setiap malam ada puluhan orang datang kemari dan jika aku tidak membayar secangkir kopi, itu tidak akan membuatmu tiba-tiba jadi rugi.”

“Iya jika itu hanya satu kali. Sedangkan kau! Sekalipun jadwalmu bernyanyi hanya seminggu sekali, tapi kau kemari hanya untuk kopi susu gratis hampir setiap hari kemudian pergi begitu saja. Aku sudah menghitungnya.”

Yesung tak diberi kesempatan menyela ketika Marcus buru-buru mengambil handphonenya, sibuk menekan angka kemudian memperlihatkannya tepat ke depan wajahnya. “Lihat! 35 pounds perminggu. Itu sangat berharga.”

Yesung kembali tercengang. “Marc? Sejak kapan kau jadi begitu perhitungan? Itu bukan jumlah uang yang besar.”

Marcus melepas celemek putihnya lalu memperlihatkan tanda pengenal yang digantung disaku seragamnya. Yesung bisa melihat fotonya yang berukuran 3×4 cm, namanya, usianya, dan jaba………tannya. Oh…..sejak kapan?

“Sejak Casey mempercayaiku mengurusi masalah keuangan, aku memutuskan untuk menghilangkan pengecualian untukmu. Minggu depan, yang ada dibalik meja ini adalah Mickey dan Jordan.”

Mickey? Yang kerjanya hanya berganti model rambut tiap bulan? Lalu Jordan? Pelayan bertubuh kekar yang juga merangkap sebagai security? Bulu kuduknya berdiri. Langsung ia ambil lagi gelasnya untuk menghabiskannya. Namun, gelas itu tahu-tahu berpindah tangan.

“Marc, aku hanya ingin menghabiskannya.”

“Bayar dulu, baru kau boleh habiskan.”

Ia tahu kalau Marcus memang punya background yang cukup bagus karena pernah menjadi  mahasiswa fakultas ekonomi sampai semester 3. Tapi ia tak setuju dengan ide itu. Marcus pelit, bukan pandai mengatur keuangan. Segera setelah ia membayar 5 dollar pada Nathan,  ia naik ke atas podium menyusul Donghae dan Vincent yang sudah bersiap lebih dulu.

Ia  berdehem. Mengucapkan selamat datang kepada pengunjung kemudian menarik nafas untuk memulai nyanyiannya. Ia sudah memilih beberapa buah lagu malam ini. Salah satunya adalah lagu lawas milik Extreme yang berjudul more than words. Namun, saat Vincent baru akan menekan tuts piano, seorang pengunjung wanita berseru.

“Ya?” tanya Yesung.

“Aku sudah sering kemari mendengar suaramu. Bisakah kau lakukan sesuatu yang lain malam ini?”

Ia tak mengerti. “Maksudmu?”

“Yeah, kau bisa melakukan apapun selain bernyanyi.”

Aneh. Sejauh ini, Yesung cukup yakin kalau orang-orang suka dengan suaranya. Ia dan dua temannya selalu berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda setiap minggu. Minggu lalu mereka justru memperdengarkan lagu-lagu Korea agar pengunjung tidak bosan. Tidak pernah ada yang mengeluh padanya. Casey juga senang ia bisa menghibur secara gratis disini. Lalu kenapa tiba-tiba ada yang memintanya melakukan hal lain selain bernyanyi? Apa ia harus bermain sulap?

“Aku….”

Sementara semua mata terlihat setuju dengan usulan wanita kurus itu, Yesung masih tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Ini benar-benar aneh.

“Apa kau punya sebuah kisah cinta?”

Kisah cinta?

Ia tak mengangguk ataupun menggeleng. Wanita itu tersenyum penuh arti lalu melanjutkan, “Semua orang pasti memiliki kisah cintanya masing-masing. Ceritakan pada kami tentang itu.”

“Aku tak punya kisah yang kau maksud. Maksudku….kisahku tak menarik,” jawab Yesung mencoba untuk menghentikan harapan wanita aneh itu. Ia tak yakin kalau orang-orang bisa duduk nyaman dan betah dikursi jika hanya untuk mendengarnya berdongeng. Sekalipun ia sangat suka bicara, tidak untuk saat ini, di depan banyak orang.

“Jika tak menarik, silahkan kau bernyanyi dan aku akan diam.”

Oke, ia semakin tak paham kenapa semua orang diam seolah mengiyakan permintaan wanita tersebut. Wanita itu seperti pemilik tempat ini yang memerintah sesuka hati. Tapi sebelum ia semakin bingung, ia langsung bisa mencium bau tak sedap disini. Di sana, diujung pintu menuju ruang belakang, Casey berdiri sambil cekikikan dan memberikan jempolnya pada wanita itu. Oh, Ia paham sekarang siapa yang sebenarnya punya kerjaan. Bukan suaranya yang jelek atau membosankan, bukan pula karena wanita aneh itu yang rasanya tak pernah  ia lihat ada disini.

Baiklah, jika ini yang orang-orang ingin dengar, ia akan menceritakan sebuah kisah. Kisah yang disimpan rapat dan hanya diketahui oleh Casey. Kisah yang sebenarnya ingin ia bagi pada semua orang tapi tak pernah ia temukan orang yang mau mendengarnya. Ia tersenyum pada Casey. Casey tahu ia sedang mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena akhirnya sudah mengerti apa yang ia inginkan.

“Oke, aku tak yakin apakah semua orang setuju dengan usulan ini. Tapi jika kalian diam, artinya kalian akan mendengarkanku.”

Ia menunggu reaksi dari mereka dan sejauh ini semua tampak aman. Ia jadi bersemangat. Sudah lama sekali ia menantikan saat-saat dimana orang mendengarkan ceritanya. Ia menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya.

“Aku punya sebuah kisah yang mungkin cukup menarik untuk kalian dengar. Jika kalian mulai mengantuk, aku persilahkan untuk pergi. Tapi jangan paksa aku untuk berhenti. Karena sekali aku buka mulut, akan sangat sulit menghentikannya.”

Ia merapikan cara duduknya. Dilihatnya Donghae dan Vincent yang sepertinya tak keberatan. Dan setelah beberapa saat kemudian, ia mulai bercerita.

“Kisah ini dimulai tiga belas tahun lalu. Saat itu umurku baru menginjak dua puluh dua tahun. Aku belum punya pekerjaan tetap setelah lulus kuliah meskipun aku sangat ingin bekerja di bank. Tapi mendapatkannya tak semudah itu. Selagi kesempatan itu belum ada, aku melakukan apa saja. Aku mengantar pizza, kadang menjadi pelayan restoran, menjadi kasir supermarket yang berakhir di pecat karena menyerahkan semua uang pada seorang nenek-nenek tua yang kelaparan, aku juga pernah bekerja di stadion Anfield sebagai penjual tiket. Jika bosan, aku kembali ke pekerjaan lama. Banyak pekerjaan yang kulakukan saat itu.”

Yesung memulainya dengan cukup baik. Beberapa orang yang tadinya cuek mulai mendengarkan. Masih ada yang sibuk mengobrol dengan temannya. Tapi ia cukup senang karena sekarang banyak orang yang sedang menatapnya, menunggu akan kelanjutan ceritanya. Ia pun tersenyum tenang. Hingga dengan perlahan, tiba-tiba saja semua pengunjung di hadapannya menghilang. Semua kursi merapat. Tidak ada suara musik. Kegelapan diluar café berubah terang dengan cahaya yang merembes melalui jendela. Awalnya tak ada apa-apa lagi. Namun, pintu terbuka dan seseorang muncul.

Ia merasa hatinya menghangat. Seseorang itu mendekatinya hingga ia bisa menemukan banyak hal. Matanya yang hitam, alisnya yang tipis, hidungnya yang mancung, dagu yang lancip, serta bibir yang indah. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya ini.

Namanya Jeany Hanks. Dan ia adalah………………..

***

“Yesang! Yesang! Dimana kepalamu yang besar itu?”

Oh, shit! Si gendut itu berteriak seperti orang pelupa. Bukankah ia baru mengantarkan pesanan? ia bahkan belum sempat melepas helmnya. Dan satu hal, kapan namanya dipanggil dengan benar?

“Aku disini, bos.”

Ia berdiri tegak dengan helm yang agak miring. Pria bertubuh besar seperti Hulk itu memandangnya seperti seorang guru yang sedang mencari kesalahan muridnya.

“Kau sudah mengantarkan pesanan nyonya Carly?”

Yesung mengangguk. “Aku sudah mengantarnya dengan cepat dan tanpa kerusakan sedikitpun.”

Kumisnya yang hitam tebal bergerak menggelikan. Tanpa senyum, pria itu mengeluarkan setumpuk pizza lagi beserta selembar kertas yang berisi alamat pemesannya.  Yesung melihat daftar itu dan ia menemukan kejanggalan.

“Bos, aku sudah menghabiskan setengah hari untuk mengantar banyak pesanan. Aku hampir terjebak dalam tawuran antara Kopites dan Evertonian. Lagipula ini langganan Jeremy. Ini adalah bagiannya.”

“Jeremy sedang cuti. Jangan banyak tanya dan cepat antarkan pesanan ini sekarang juga! Bukankah kau juga menunggu bonus dari mereka?”

“Cuti?”

Ia tak percaya mendengarnya. Sejak awal kemunculannya, ia memang tahu bahwa Jeremy adalah anak emas dari si gendut kumisan ini.

“Jeremy baru satu bulan disini dan kau sudah memberinya cuti? Aku sudah bekerja disini selama delapan bulan dan kau tak memberiku ijin satu hari  saat kakakku kecelakaan bulan lalu.”

“Lalu sudah berapa banyak pizza yang kau antarkan dalam keadaan rusak? Sudah berapa kali pelanggan mengeluh karena kau salah mengantar? Sudah berapa kali pelanggan menelponku karena pizzanya tidak utuh? Dan sudah berapa pelanggan yang membatalkan pesanannya karena kau terlambat? Kau tahu? Jeremy baru satu bulan disini dan aku tak menerima satu keluhanpun. Ia tak selalu ribut minta naik gaji dan ia anak yang baik. Aku tidak menggajimu untuk protes setiap hari. Kalau kau masih berpikir aku tak punya hati, aku sudah memecatmu sejak dulu! Tunjukkan kemampuanmu lalu kau meminta sesuatu.”

“Kau tidak perlu mengatakannya seperti itu. Kau bukan bos sebuah perusahaan besar. Ini hanya usaha kecil.”

“Dan kau adalah bagian dari usaha kecil ini.”

Yesung terdiam. Ia sering adu mulut dengan bosnya, tapi baru kali ini kehabisan kata-kata. Pria itu mendekatkan lagi wajahnya, membiarkan Yesung untuk melihat lebih jelas pori-pori kulitnya.

“Dengar, anak muda. Jangan lagi meremehkan apapun yang kau lakukan. Sekecil apapun itu, sekalipun hanya menjadi pengantar pizza, lakukan dengan sungguh-sungguh.”

Yesung merasa risih dengan tangan bosnya yang hinggap dibahunya. Rasanya menggelikan. Dan sentuhan itu langsung menyadarkannya bahwa ia bukanlah karyawan penurut disini. Ia singkirkan tangan itu, lalu menarik tumpukan pizza dari atas meja.

“Kau tidak perlu berubah jadi pengkhotbah hanya untuk menahanku supaya tidak mengundurkan diri. Aku tahu aku masih butuh pekerjaan ini dan kau pun masih sangat membutuhkanku. Tapi aku tak berani jamin kalau aku masih memakai seragam setelah aku mengantar semua pizza ini.”

Yesung berlalu dari hadapan bosnya, mengindahkan tatapan lelah dan gelengan kepala dari beberapa orang yang ia lewati. Sepertinya ini memang hari terakhirnya bekerja. Ia sudah cukup lama bekerja disana. Selama ini, rekor terlamanya di suatu tempat hanyalah enam bulan, dan tidak pernah ia berhenti dengan baik-baik. Bahkan terakhir kali ia dipecat tanpa uang seperserpun. Dan sekarang tekadnya sudah bulat, setelah mengantar pizza terakhir dan menyerahkan uang pada si gendut itu, ia resmi berhenti. Lihat saja, pria itu pasti akan memohon supaya ia tidak berhenti karena ia tahu sudah tak ada yang mau bekerja disana, kecuali orang yang sudah sangat putus asa.

Ting Tong

Yesung menekan bel rumah terakhir.

Ting Tong

Ia tekan sekali lagi. Namun, pintunya belum juga terbuka.

“Hello!! Aku adalah pengantar pizza!!! Apa ada orang di dalam?”

Ia menekannya berkali-kali dan hasilnya tetap sama. Sepertinya tidak ada siapa-siapa disini. Sayang sekali. Untuk apa memesan pizza kalau ingin bepergian?  Ia pun memutuskan untuk duduk di teras rumah itu sambil melepas lelah. Punggungnya tegang, tangannya sakit dan kakinya pegal. Ini lebih melelahkan dibanding pekerjaan – pekerjaan sebelumnya. Lebih tragis lagi karena perutnya berbunyi. Diliriknya kotak pizza di sebelahnya. Tanpa pikir panjang, ia buka kotak pizza tersebut lalu mengambil satu potong saja untuk mengganjal perut. Ini bukan salahnya. Ini tuntutan kesehatan dan ini kesalahan si pelanggan.

“Jeany Hanks?” Ia membaca kertas yang ada di tangannya. Ada enam orang yang sudah ia antar dan nama Jeany Hanks adalah yang terakhir. Hm, sepertinya ia adalah seorang gadis. Apakah cantik?

“Ehem…”

Suara deheman seseorang terdengar dibalik punggungnya. Lekas ia menoleh ke belakang.

“Jadi begini cara kerja pengantar pizza? Memakannya hanya karena pintu terlambat terbuka?”

Yesung menelan potongan terakhir dengan sangat susah. Memaksa semua kunyahannya meluncur melalui tenggorokan lalu berdiri menatap wanita kurus  itu yang berdiri di ambang pintu.

“Maaf, tapi aku pikir….tidak ada orang disini.”

“Aku sedang berada di kamar mandi saat bel berbunyi. Dan itu bukan alasan untukmu memakan pizza pesananku. Dimana Jeremy? Kenapa bukan ia yang mengantar?”

Wanita ini tak semuda yang ia bayangkan. Memang bukan seorang ibu-ibu, tapi ia lebih berharap kalau yang bernama Jeany Hanks itu adalah gadis remaja High School berambut pirang dengan kulit agak kecoklatan yang seksi. Sedangkan wanita ini…..ia tak tahu warna rambutnya. Wanita itu membungkusnya dengan handuk. Kulitnya terlalu putih. Dan wajahnya….ah, ia  rasa yang sedang menatapnya ini bukan Jeany Hanks.

“Apa yang kau lihat?”

Srettt

Kotak pizza yang ada ditangannya langsung direbut. “Aku tak mau membayarnya. Aku akan mengeluhkan pelayanan payah ini pada atasanmu.”

Blamm

Pintu tertutup. Yesung malah merasa takjub. Tanpa rasa bersalah ia tekan lagi belnya. Pintupun terbuka.

“Ada apa lagi? Sudah kubilang aku tidak mau bayar!”

Ia tersenyum santai lantas menyandarkan bagian samping tubuhnya ke dinding. “Apa kau yang bernama Jeany Hanks?”

Alis wanita itu naik sebelah. Dengan malas ia menjawab, “Ya. Kau punya masalah dengan namaku?”

“Tapi kau tidak terlihat seperti orang-orang disini. Maksudku….kau seperti…..sepertiku. Kau orang Asia, kan?”

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu.”

Yesung semakin senang bertanya. “Tebakanku pasti benar. Kau orang Asia. Kau darimana? China? Hongkong? Jepang? Thailand? Atau Korea?”

“Apa pedulimu?”

“Jika kau berasal dari Korea, berarti kita sama.” Ia mengulurkannya tangannya tapi cepat-cepat ia menjilat jari-jarinya lebih dulu lalu mengelapnya ke celana untuk menghilangkan bekas pizza yang ia makan. “Namaku Yesung. Aku berasal dari Korea.”

Wanita itu menatap tangannya dengan bingung dan Yesung tak peduli. Segera  ia raih tangannya hingga mereka berjabatan. “Senang berkenalan denganmu. Jadi, kenapa orang tua mu memberi nama Jeany Hanks? Bahkan nama itu tak cocok dengan wajahmu. Kau juga-“

“Bisa kau pergi?” Wanita itu memotong ucapannya, tapi ia  sama sekali tidak terpengaruh. Ia justru semakin penasaran.

“Baiklah, mungkin kau marah karena pizza itu sudah ku makan. Jadi aku minta maaf dan aku tidak masalah kalau kau tidak mau bayar. Aku sudah sering dimarahi oleh bosku. Jika kau meneleponnya untuk mengeluhkan ini, mungkin ia hanya akan mengatakan terima kasih. Bertambah satu kesalahanku, tidak ada gunanya.”

“Apa kau begitu suka bicara? Sekarang cepat pergi dari sini!”

Dengan tegas wanita itu kembali menutup pintu. Berita buruknya, bagi Yesung itu adalah tanda supaya ia menekan bel lagi.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau belum pergi juga?”

“Hm, kelihatannya kau sama cerewetnya denganku. Kurasa kita cocok. Bagaimana kalau kau mempersilahkanku masuk kemudian-“

Blammmmm

Kali ini pintu tertutup sangat sangat keras. Yesung tak kapok juga. Dengan iseng ia menekan lagi bel rumahnya lalu lari sekuat tenaga, melompati pagar rumahnya yang sebenarnya  bisa saja dibuka. Saat ia sudah melesat dengan motornya, bisa ia lihat wanita itu keluar dari rumahnya dengan muka sangat marah. Entah kenapa ia senang mengerjainya. Semoga saja besok wanita itu memesan pizza lagi.

Ia  pun kembali ke kantor untuk menyerahkan uang pelanggan. Si gendut menaikkan alisnya saat menghitung. Sebelum ia bertanya, Yesung lebih dulu menjelaskan bahwa ada satu pelanggan yang tidak mau membayar. Tak masalah kalau ia akan dimarahi lagi. Ia sudah siap dengan penutup telinga atau jurus lari seribu bayangannya. Satu hal, meski ia adalah orang yang tidak bisa serius dan mungkin menyebalkan dimata beberapa orang, ia adalah orang yang sangat jujur. Kalau ia mau main aman, ia bisa saja mengarang alasan. Uangnya hilang. Pizzanya sudah rusak sejak awal. Atau apapun itu. Tapi ia tidak akan melakukannya.

“Yesang, bisakah kau tidak membuatku sakit kepala satu kali saja?”

Yesung cuek. Ia lepas helmnya, lalu meninggalkan bosnya untuk berganti pakaian, kemudian bersiap-siap pulang. Namun, ia menunda langkahnya ketika berpapasan lagi dengan bosnya. “Ah, apakah besok Jeremy masih cuti? Aku bersedia kembali menggantikannya,” katanya dengan ceria. Si gendut itu menatapnya keheranan.

“Kupikir kau sudah berhenti.”

Yesung tersenyum, berpikir keras tentang kata berhenti yang dimaksud. “Kapan aku mengatakannya? Kau pasti bercanda.”

Sambil tertawa pelan, ia pergi meninggalkannya dengan wajah begitu polos. Jam kerjanya habis hari ini. Sekarang, saatnya bersenang-senang bersama Casey. Ia berani taruhan, besok wanita asia bergaya eropa  itu pasti akan kembali memesan pizza.

*******TBC*******

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. vannyradiant
    Jun 14, 2015 @ 00:04:32

    Wow! Seperti baca novel terjemahan. Bahasanya baku, padat dan mengalir. Nice ff, di tunggu lanjutannya 🙂

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Jun 14, 2015 @ 20:11:13

    wow seru. . . Daebakk

    Reply

  3. inggarkichulsung
    Jun 25, 2015 @ 06:29:17

    Jeany ternyata org asia juga dan pastinya dia kesal krn yesung oppa si pengantar pizza mengambil satu potong pizza pesanannya hny krn ia lama keluar, Yesung oppa org nya bandel sich jd nya bos nya marah terus

    Reply

  4. sssaturnusss
    Apr 29, 2016 @ 07:41:53

    Ahhh baca dari awal aku udh jatuh cinta sama FF ini .. Apalagi dengan Yesung sebagai cast utama ;;)

    Aku suka cara penyampaian sama tulisannya .. Udah kaya Novel terjemah ~ hanya tempat dan waktunya kurang detail tapi gpp .. Aku baca ini kaya udh bukan lewat hp, berasa baca dibuku novel langsung kekekeke ~

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: