FATE [3/?]

FATE

Author : Daisy, Flower

Title       : FATE part 3

Genre   : Romance, Comedy, Mystery

Length : Series

Rated    : +13

Cast       :  ~ Lee Dong Hae

~  Cho Kyu Hyun

~  Kim Hana

~ Kim Hyesa

Disclaimer : Kyuhyun dan Donghae adalah milik kedua orang tua mereka, ELF dan SM. We own nothing kecuali OC yang gaje.Ini hanyalah Fanfiction belaka. Don’t plagiat, Don’t Bash dan RCL ya Guys… Gomawo^^

Happy Reading…..

 

***

“Kyu, kemarin kau kemana?”

Kyuhyun sedang menghisap ‘Fanta’ yang warnanya jauh lebih gelap warna aslinya. Ya, inilah ‘Fanta’ edisi Kyuhyun yang dikhususkan hanya untuknya.

“Hanya ke supermarket,” Jawabnya dengan cepat.

“Hanya?”

Kyuhyun tersenyum, giginya dinodai warna merah, “Aku menemukan ‘sesuatu’ku.”

Donghae tertawa, “Baru kali ini aku melihatmu dengan mata lapar seperti itu.” Donghae berhenti saat menyadari tatapan Kyuhyun yang tertuju padanya.

“Kau sendiri?”

Donghae memalingkan wajah, “Sama.”

“Memang, sesuatumu ini siapa?” Tanya Donghae yang mengubah topik, “Apakah dia adik kelas baru kita?”

Kyuhyun memiringkan kepalanya, “Iya, dia dekat dengan seseorang yang bernama Kim Hana.”

Donghae sempat terlihat seperti kesetrum.

“Kau mengenalinya?”

Donghae yang masih memalingkan wajahnya merasa seolah bolongan di dadanya semakin mendalam dam membesar saat ia mengangguk.

Kyuhyun menyengir, “Ah begitu…”

Donghae yang tidak ingin kalah mengangkat dagu, “Aku juga tahu perempuan yang kau incar, aku tidak sebodoh itu, Kyu.”

“Begitu juga denganku Hae, “ Kyuhyun kembali menikmati ‘Fanta’-nya, “Aku tahu segalanya.”

“Kau bukan dewa.”

“Iya,” Kyuhyun menyeringai, gigi taringnya seakan bertambah panjang, “Tetapi, aku kebalikannya.”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Hari pertama kuliah seakan hari pertama di akhirat.

Panas, menegangkan dan semuanya merasa telanjang karena telah dipermalukan oleh senior-senior tercinta.

Apalagi Hyesa dan Hana yang sedikit-sedikit telah diberi julukan ‘Hyorin’ dan ‘Bora’ dari kampus.

“Na~yaa, aku tidak ingin menemuinya hari ini.”

“Hye-chan, jangan menjauh dari takdir nak, “ Hana yang mulutnya deipnuhi oleh snack choco-banana menepuk bahu temannya, “Kalian kan di fakultas yang berbeda, seharusnya kau tenang.”

Hyesa menggelengkan kepala, mukanya yang panas ditambah lagi oleh panasnya matahari terasa gosong, “Ah tapi bagaiman cara memulai percakapan? Aku takut jika menemuinya secara tidak sengaja!” Hyesa memegang pipinya, “Temani aku hari ini!”

Hana tertawa dan bersiap meninggalkan Hyesa, “Kau sudah besar Hye-chan! Ganbatte!”

Hyesa mengangguk dan melihat ke arah Hana, “G-Ganbarimasu…” Katanya dalam bahasa Hana.

“Kita akan bertemu saat makan siang!”

“Iya! Annyeong!”

Hyesa menelusuri lorong-lorong panjang kampus untuk sampai di kelasnya. Banyak wajah yang tidak ia kenal yang sedang asyik mengobrol atau melakukan kegiatan masing-masing, tetapi suatu hal yang membuat mereka sama adalah tas yang dipenuhi tumpukan kerjaan.

Yak, Pikir Hyesa, Menjadi anak tehnik ada pro dan con-nya. Tetapi senior-seniornya terlihat keren…

“Hai anak baru!” Panggil seorang senior yang sedang berdiri di depannya, ia cukup pendek dibandingkan senior yang lain di sekelilingnya tetapi terlihat ramah dengan senyumannya.

Hyesa membungkuk sopan, “S-sunbae, ada apa?”

Senior itu mengeluarkan sebuh botol yang berisi air putih, “Kami telah menemukan jenis air baru yang sangat berkhasiat untuk tubuh dan sangat bagus untuk melangsingkan tubuh!” Ia menyodorkannya ke Hyesa, “Cobalah!”

Dengan lugu dan senang hati, Hyesa mengambil botol itu dan membungkuk untuk mengatakan terima kasih.

Saat masuk ke dalam ruangan Hyesa duduk di kursi yang kosong. Tidak ia sangka anak yang berada di sebelahnya akan langsung ingin berkenalan dengannya.

“Hei, namamu siapa?” Tanya mahasiswi itu, rambutnya yang ikal digerai, alis matanya tebal, ia terlihat sangat cantik dengan kaus polos dan jeans-nya, “Aku Haru.”

“Hyesa imnida,” Jawabnya dengan senyuman, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Hyesa,” Panggilnya, matanya berbinar, “Kau tahu lelaki yang baru saja memberimu air khasiat itu?”

Hyesa menggelengkan kepalanya.

Haru tersenyum lebar, “Namanya Lee Donghae, ia adalah anak paling populer di sini!”

Hyesa hampir teriak dengan girang. Jadi inikah Donghae yang dimaksud oleh Hana?

“Dan rumornya, dia sedang pacaran dengan anak fakultas kedokteran satu angkatan dengan kita!”

Hyesa tersenyum sangat lebar sepanjang pembelajaran hingga pipinya sakit.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Tidak terasa ternyata sudah waktunya makan siang. Hyesa buru-buru menuju kantin dengan bawaan tugas yang banyak.

Hana tidak membawa apapun kecuali tas dan laptopnya tetapi wajahnya menunjukkan ketakutan.

“Na~yaa!”

“Hye~chan!”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Hyesa dengan semangat menyantap sandwich yang telah disiapkannya dari rumah, ia menyadari bahwa Hana tidak menyentuh makanannya sedikitpun dan langsung menawarkan sandwichnya.

“Kau tidak makan? Jangan sok diet lagi Na~ya.”

Hana menggelengkan kepalanya, ia terlihat seperti ingin muntah, “Aku tidak nafsu.”

Hyesa tetap menyodorkan sandwich buatannya, “Ayolah! Nanti sakit.” Hyesa menggonyangkan sandwich itu di hadapan Hana, “Apa ini karena Donghae sunbae?”

Hana terlihat kaget, “Jangan mengungkit-ungkit itu lagi Hye~chan!”

Hyesa tersenyum, “Wae? Padahal semua anak-anak di fakultasku mengetahui bahwa Donghae sunbae mengajak kencan seorang anak fakultas kedokteran angkatan kita.”

“Hyesa. Kita akan membahas ini di rumah.” Hana menatap Hyesa dengan ancaman, “Kalau kau mengungkit ini lagi akan kusita semua snack choco-bananamu.”

Hyesa tertawa dan menggigit sandwichnya lagi, “Oke, oke. Lalu mengapa kau tidak nafsu?” Hyesa menunjuk makanan di kotak Hana yang masih hangat, “Itu kan enak!”

Muka Hana menjadi suram, “Ini baru hari pertama.”

“Lalu?”

“Aku belum dijelaskan apapun tentang apapun dan tiba-tiba sudah disuruh praktek.”

Hyesa tetap mengunyah dengan semangat, “Praktek? Seru dong!” Hyesa menelan, “Aku malah diberi banyak tugas. Memang praktek apa yang harus dilakukan?”

“Bedah mayat.”

Dalam hitungan detik Hyesa sudah menjauh 1 meter dari Hana.

*~**~*~~*~**~*~~*~*~~*

Jam pulang

Hana membawa tumpukan buku menuju ruang dosen. Hana bukan orang yang kuat tetapi ia cukup bisa membawa setumpuk buku campuran 2 kelas walau sering jatuh jatuhan. Ya. Inilah hukuman dosen karena mendengar rumor bahwa Donghae berkencan dengan seorang gadis dan langsung menunjuk gadis yang berada di kursi paling belakang.

Semua anak fakultas kedokteran hanya mengira itu sebagai lelucon tetapi Hana merasa sedikit terganggu bahwa dosennya telah tepat memilihnya untuk membawa buku sebanyak itu dengan dua tangan lemahnya.

Melelahkan.

Apalagi saat seseorang tidak sengaja menabraknya dan Hana harus mengurutkannya dari absen lagi.

Di sisi lain Hyesa sedang menunggu Hana di depan gerbang tepat dibawah perlindungan pos satpam. Hujan turun dengan DRAS sekali. Rasanya seperti butiran es keras yang jatuh tanpa henti, membuat tubuhmu biru biru dan kedinginan.

Hyesa baru saja ingin menyamakan udara di sekitar dengan udara di kutub utara saat mobil dari neraka yang paling panas muncul di hadapannya.

“Hei.”

Terkadang Hyesa ingin bunuh diri.

“S-sunbae.” Hyesa membungkuk, “Sore yang indah ya.”

“Indah?” Kyuhyun yang melihatnya dari jendela mobilnya yang terbuka mengangkat satu alis, “Kau ini mabuk ya?”

“Jangan mengolok-olok alam sunbae,” Hyesa yang sedang sok bijak itu menggoyangkan telunjuknya, “Ini semua ciptaan Tuhan.”

Entah kenapa Hyesa merasa seperti ingin menceramahinya.

“Ternyata benar, kau benar benar mabuk.” Kyuhyun menghela nafas dan membuka pintu kiri mobilnya, “Masuklah, orang-orang tehnik telah meracunimu dengan tugas gila gilaan.”

Hyesa, tanpa rasa bersalah atau malu langsung menutup pintunya, “Tidak” Katanya tanpa penjelasan. Ia tetap berdiri di tempatnya.

“Kau mau pulang basah kuyup? Hujan ini terlalu DRAS untuk orang lemah sepertimu.”

“Aku kuat.”

“Mukamu merah seperti itu,”Kyuhyun terlihat kesal, “Pasti seniormu mengganti minumanmu dengan alcohol. Dasar anak tehnik.”

Hyesa terdiam dan malah memainkan rambutnya. Entah kenapa ia merasa senang tetapi marah pada saat yang bersaamaan. Ia tidak ingin memenui Kyuhyun tetapi sekarang, mendengar lelaki itu berbicara, Hyesa malah merasa senang.

Dengan kesal Kyuhyun membuka pintunya dan menarik paksa Hyesa yang hampir teriak saat merasakan tarikan kuat senior iblisnya.

Sudah menjadi tradisi bagi senior fakultas tehnik untuk mengerjai juniornya dengan memberi mereka minuman beralcohol dengan menyatakan bahwa itu minuman berkhasiat dan melangsingkan.

Mobil Kyuhyun bergerak bersamaan dengan saat Hana telah menaruh buku di meja guru.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Entah kenapa, Hana merasa sendirian. Padahal ia tahu Hyesa sedang menunggunya di depan gerbang fakultas tehnik.

Hana melihat ke luar jendela ruang guru.

“Ah… Hujan…”

Hana merapikan buku kembali sebelum meninggalkan ruangan. Awan yang gelap membuat suasana di fakultas kedokteran menjadi jauh lebih menyeramkan daripada yang biasanya.

Hana bergegas untuk turun, tidak ingin berlama-lama di tempat yang mengandung aura-aura buruk seperti gedung fakultasnya.

Saat kau melihat wanita bermulut sobek, buanglah permen kepadanya agar dia kebingungan lalu lari.

Jika ada yang menanyakan apakah kau ingin ‘merah’ atau ‘biru’ saat kau di kamar mandi, jangan jawab.

Jangan menanyakan tentang kutukan di daerah setempat.

Segala kenangan buruk seakan muncul kembali, seakan Hana kembali mengalami segalanya. Saat matahari terbenam, saat ia sendirian, saat ia baru mengetahui ia telah melihat sesuatu yang seharusnya ia tidak lihat.

“Hei gadis kecil, apakah aku cantik?” Tanya seorang perempuan yang menunjuknya, bagian hidung dan mulutnya tertutupi oleh masker.

“Kau mau yang merah atau yang biru?”

Hana merasakan dirinya jatuh ke dalam amukan ombak ketakutan yang membuatnya berlari bergegas ke luar gedung.

Ia berhenti tepat di depan gedung fakultasnya. Atap yang berada di atasnya tidak akan melindungi dirinya dari kebasahan jika ia melangkah lebih lanjut.

Hana tahu Hyesa dan dirinya tidak membawa payung hari ini karena terlihat begitu cerah tadi pagi.

Ia mengambil hp dari dalam kantongnya dan dengan cepat menelfon Hyesa.

Semuanya akan baik-baik saja, Batin Hana yang dadanya terasa akan hancur karena degupan jantungnya yang begitu keras, Mereka tidak ada di sini.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Ada alasan mengapa aku begitu takut. Aku tahu mereka benar-benar ada.

*~*~*~*~*~*~*~**~*~*~*~*

“Oi, Kyu, kau sudah pergi begitu saja?”

Dari hp-nya terdengar suara Kyuhyun yang tenang, “ Iya, aku pergi dengan seseorang, kasihan dia kebasahan.”

Donghae mendengus kesal, “Ah, pasti dengan wanitamu ya? Payah.”

Dari hp-nya terdengar suara seorang perempuan yang terus bertanya-tanya pada Kyuhyun.

“Sunbae, aku tidak bisa meninggalkan Hana, bolehkah kita kembali?”

“Sunbae, itu siapa?”

“Sunbae, sunbae, sunbae?”

Donghae tertawa keras, “Hoi, ya sudah, akan kutinggalkan kalian berdua.”

Dari belahan dunia yang lain Kyuhyun sudah tidak mendengarkan Donghae lagi, tangannya yang bebas menutup mulut Hyesa.

“Selamat bermesra ria!” Ujar Donghae yang langsung menutup telfon dan memasukkannya ke dalam saku.

Donghae menutup payungnya, masuk ke dalam mobilnya sendiri, mengenakan sabuk pengaman dan menyalakannya.

Bagaimana dengan anak yang satu lagi?

Lelaki itu menjalankan mobilnya, ia akan berputar kampus satu kali untuk melihat jika perempuan itu masih ada lalu akan pergi secepatnya.

Fakultas tehnik, seni, kedokteran.

Tidak ada siapapun.

Jam 5 sore, tentulah dia sudah pulang. Tidak ada orang yang akan berlama-lama di fakultas kedokteran, apalagi Hana yang sedikit-sedikit teriak mendengar suara aneh.

Baru saja Donghae akan keluar dari gerbang dan pergi saat ia melihatnya.

Duduk memeluk kedua kakinya, kepalanya berada di antara lututnya. Ia sendirian di halte bus. Hujan hampir membasahi tubuhnya.

Donghae menghentikan mobilnya, dadanya terasa tercabik-cabik.

*~*~*~*~~*~*~*~*~*~*

Jung Soohyun gemetar, kedua tangannya memeluk lututnya, ia menyembunyikan wajahnya yang pastinya telah dibasahi oleh air mata.

“Soohyun, tidak apa apa,” Donghae memeluknya yang ketakutan, mengelus kepalanya dengan lembut seraya terus berkata,

“Oppa ada di sini, Oppa ada di sini.”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Payung merahnya melindungi badannya agar tidak terkena hujan yang deras. Di depannya seorang gadis yang masih dalam dunianya sendiri tidak menyadari kedatangannya. Wajahnya ia sembunyikan dan tangannya yang pucat tetap memeluk erat kedua kakinya.

“Hana.”

Perempuan itu tidak bergerak sedikitpun, “Sunbae,” Sapanya kembali, suaranya tersaring oleh celana jeans yang dia pakai.

“Aku membawa mobilku.” Ucap Donghae. Matanya tidak lepas dari tubuh Hana yang sudah tidak lagi bergetar.

Hana membenarkan posisi duduknya, membiarkan kakinya jatuh ke lantai. Kepalanya masih ia tundukkan dan dia menggunakan tangannya untuk mengusap wajahnya.

“Aku menunggu hujan berhenti saja.”

Donghae menggenggam payungnya lebih erat, “Kalau begitu aku juga.”

Hana tidak mengangkat kepalanya tetapi Donghae dapat mendengar tawaan kecil. Tawaan yang dimaksudkan agar terlihat kuat.

“Tidak usah, sunbae, aku hanya ingin di sini lebih lama,” Hana akhirnya mengangkat wajahnya, tetapi ia tidak menghadap ke arah Donghae, “Aku…ketiduran.”

Donghae memasuki area yang terlindung dari hujan dan menutup payungnya.

Tidak mungkin kau ketiduran, matamu merah dan bengkak seperti itu.

“Oh, begitu.”

Mereka berdua terdiam.

“Aku tahu sunbae tidak ingin berada di sini. Sunbae tidak perlu memaksakan diri.”

Donghae merasa bibirnya bergetar. Tangannya masih memegang payungnya yang basah, gemas ingin membukanya lalu pergi dari tempat ini daripada harus melihat sebuah gadis menangis sendirian.

“Kencan itu tidak berarti apa-apa.”

Lagi-lagi perempuan itu mengucapkan sesuatu yang selalu ingin diucapkan oleh Donghae.

“Sunbae boleh pergi.”

Itulah yang dilakukan oleh Donghae. Ia membuka payungnya dan bergegas untuk pergi dari hadapan perempuan itu.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

“Sunb-“

“Ya?”

Hyesa kaget. Reaksi Kyuhyun sebegitu cepat hingga sebelum Hyesa menyelesaikan kata-katanya.

Heran, mengapa kyuhyun mau mengantarnya? Ini sudah kali keduanya.

“Kau mau mengatakan apa?”

“S-sunbae,sudah mengantarku dua kali…”

Kyuhyun langsung berkata dengan nada ketus,”Lalu? Kau tidak suka aku antar? Daripada kau kehujanan.”

“A-aniyo sunbae. t-tapi…” Hyesa semakin takut mendengar nada Kyuhyun yang begitu kasar. Padahal barusan dia baik sekali.

“Tapi?”

“A-aniyo sunbae” hyesa menggeleng – gelengkan kepada dan mengibaskan tangannya

“Ck.. Dasar aneh”

Hyesa langsung terdiam. Ia merasa tegang. Ternyata moodnya sangat cepat berubah, seperti perempuan yang PMS.

Hyesa mengeluarkan gelang kenangannya dari saku dan memainkannya. Ia meraba-raba hiasan setengah hati yang memiliki magnet di ujungnya.

Kyuhyun menyadari ini dan langsung menanyakan, “Kau beli itu di mana?”

Hyesa melihatnya, sedikit kaget bahwa senior moody, galak dan setengah setan itu memulai percakapan, “N-nde?”

“Ck… Gelang itu, kau beli dimana?”

Hyesa memerhatikan gelangnya kembali, “A-ah ini waktu di jepang saat aku jalan-jalan bersama Hana saat homestay. Kita membelinya di toko antik.”

Hyesa tersenyum lembut, “Hana memiliki setengah hati yang satu lagi tetapi walaupun kita membelinya bersama, magnetnya tidak menyatu.”

“Jadi, Hana membuat lelucon bahwa pasanganku akan memiliki setengah hati yang satu lagi.”

Hyesa tertawa kecil, “Kami memang gila-gilaan.”

Ah, berarti benar.

Kyuhyun hanya mengangguk, “Gelang yang indah.”, katanya. Suara terdengar  lebih lembut dari biasanya.

Hyesa tidak akan pernah mengerti mengapa mood sang setan sangat cepat berubah. Tetapi ia menyukai Kyuhyun yang tenang dan sedikit lembut ini.

Mobilnya berhenti.

Tetapi  tempat pemberhentian mereka bukan di depan apartemen Hyesa.

Hyesa yang kebingungan membaca tulisan yang tertera di atas gedung, “Kona… Beans?”

“Sunbae?”

“Aku lapar,” Ucapnya, “Kita makan dulu.”

Hujan rintik-rintik. Hyesa tidak dapat menghitung berapa cepat degupan hatinya saat Kyuhyun keluar dan membukakan pintu untuknya, layaknya seorang pangeran untuk putrinya.

“Kau tidak keberatan kan?”

Tentu saja tidak.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Perempuan itu duduk sendirian. Hujan sedikit lagi akan selesai.

suara mesin mobil di depannya membuatnya mengangkat wajahnya.

Dongahae menurunkan kaca mobilnya, “Pulanglah bersamaku.”

Hana menggeleng, “Sunbae tidak usah a-”

“Kau hanya menunggu hujanberhenti kan?” Donghae memiringkan kepalanya, “Sedikit lagi akan berhenti, jadi kau harus pulang.”

Hana tertawa, “Aku bisa jalan.”

“Dan aku membawa mobil.” Ucap Donghae, membunyikan klaksonnya, “Cepatlah, aku akan mengantarmu.”

Dengan malu Hana membuka pintu mobil dan masuk, mengenakan sabuknya dengan perlahan.

Rasanya aneh berada di tempat sendirian dengannya tanpa gangguan dunia luar. Saat Donghae menjalankan mobilnya Hana masih tidak bisa berkata. Kejadian yang sebelumnya membuat Hana tidak berani menghadapi Donghae.

“Ne… Rumahmu dimana?”

Hana yang mukanya merah menjawab dengan terbata-bata, “D-di apartemen starlight, s-sunbae…”

Donghae mengulurkan tangan kirinya untuk menyentuh bahu Hana, “Kau… tidak perlu memanggilkau sunbae,” Katanya, mengusap bahu Hana yang masih terlhat tegang, “Cukup… Oppa saja.”

Hana merasa sedikit tersentuh bahwa sunbae-nya telah mengeluarkan waktu untuk mengantarnya pulang.

Tetapi ada rasa yang aneh ketika Donghae menyentuhnya.

Degupan jantung mempercepat.

Muka memerah.

Mata melebar.

“Iya, Oppa.”

*~*~**~*~*~*~*~*~*~*

Aku ingin di sisinya. Mengapa hal itu terasa begitu mustahil?

*~*~*~*~*~*~**~*~*~*

Keheningan meluas di dalam dalam mobil.

Bukan keheningan yang terasa janggal atau aneh. Tetapi tenang dan begitu memuaskan hanya berada di dekat Donghae.

Hana melihat ke luar jendela, menggumam lagu yang telah lama ia tidak pernah nanyikan saat hujan rintik-rintik seperti ini.

~~~~

Bukan keheningan yang terasa janggal atau aneh. Tetapi tenang dan begitu memuaskan hanya berada di dekat Donghae.

Hana melihat ke luar jendela, menggumam lagu yang telah lama ia tidak pernah nanyikan saat hujan rintik-rintik seperti ini.

 

Ame ame fure fure kaasan ga

Janome de o-mukai ureshii na

Pitchi pitchi chappu chappu ran ran ran

 

“Aku tahu lagu itu.” Ucap Donghae yang sudah melepaskan tangannya dari bahu Hana.

Hana tersenyum, “Ibu mengajariku saat kami masih di jepang. Aku merindukannya.”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Ibu bertepuk tangan sebagai irama dan mencoba menghibur Hana yang masih ketakutan dan terlilit oleh selimut dengan matanya yang merah.

“Hana-chan tidak usah takut, ayo kita nyanyi bersama,” Ibu bernyanyi lagi,

 

Kakemasho kaban wo kaasan no

Ato kara iko iko kane ga naru

Pitchi pitchi chappu chappu ran ran ran

 

“Ibu ada di sini, ibu tidak akan meninggalkanmu, jadi ayo kita bernyanyi…” Ajaknya dengan lembut, memeluk erat tubuh kecil Hana yang masih berumur 4 tahun.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Donghae memerhatikan Hana sejenak, “Memang… Orang tuamu ada dimana?”

“Mereka ada di Jepang,” Jawab Hana dengan nada yang lembut, tentu kerinduanya sudah tidak dapat dihentikan lagi saat dia merasakan matanya berair,“Ayah memiliki perusahaan di Jepang, jadi harus menetap di sana.”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Terakhir kali melihat ayah adalah saat ingin kembali ke korea. Tidak akan pernah lupa wajahnya yang sekarang sudah tua tetapi hatinya yang sangat muda dan bersemangat, matanya yang abu-abu dan lelah tetapi tetap terbuka untuk melihat kedua anaknya datang untuk memeluknya dengan erat. Badannya yang gemuk dan enak untuk dipeluk. Suaranya yang lucu dan menyebalkan saat bernyanyi.

 

Ayah.

 

“Hana, Hyesa, jaga diri kalian baik-baik ya, jangan bertengkar. Kembalilah ke Jepang kalau sempat.” Ia memeluk kembali kedua anaknya seakan ini terakhir kalinya ia akan melihat mereka,

 

“Ayah mencintai kalian, ingat itu selalu, ya?”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Donghae tersenyum melihat Hana yang mengusap air mata kerinduannya dengan tawaan malu, “Lalu kenapa kau kuliah di Korea?” Tanyanya.

“Karena Hyesa, dia kurang mahir dalam bahasa Jepang,” Hana mengingat betapa susahnya untuk mengajari bahasa Jepang kepada Hyesa dan tertawa,

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

“Apel bahasa jepangnya…?”

Hyesa menggaruk-garuk kepalanya, “Ah.. a-anu.. Ganbatte!”

Hana menghela nafas, “Hyesa ini sudah ke-delapan kalinya, apel itu ‘ringo’.”

“Ah iya!” Hyesa tertawa, “M-maksud aku ringo!”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Karena itu aku memilih kuliah di Korea”

Donghae mengerutkan keningnya, “Hyesa? Dia saudaramu?”

“Tidak..”, Hana menggeleng,  wajahnya berubah menjadi sendu “Dia adalah anak angkat orang tuaku. Orang tuaku mengangkat dia saat aku masih SMP, kebetulan dia adalah teman sebangku di SMP dan ternyata dia yatim piatu,” Bibir Hana membentuk senyum kecil, “Aku meminta orang tuaku mengankat Hyesa dan mereka setuju.”

Donghae terlihat sedikit terganggu dengan informasi baru ini, “Jadi dia yatim piatu…”

Hana mengangguk, “Dia sudah tinggal di panti asuhan sejak kecil.”

Hana menggosokkan tangannya, Donghae melihat getaran tubuhnya dan dengan satu tangan yang lincah ia dapat membuka jaketnya (entah bagaimana caranya itu) dengan mudah. Ia melempar jaketnya ke wajah Hana dan tersenyum, “Kalau kedinginan bilang saja, pakailah itu.”

Hana yang melihat itu terkisap, “Ahh… Tidak apa-apa Oppa!” Hana menyodorkan jaket itu kembali ke pemiliknya, tetapi Donghae menolak dan mendorongnya kembali ke Hana.

“Sudah, pakai sajalah,” Mata lelaki itu masih fokus ke jalanan di depannya tetapi ia dapat melihat pipi Hana yang makin memerah, “Lagipula, bajumu basah semua.”

“Gomawo sunbae…” Pipi Hana merona saat ia memakai jaket itu sebagai selimut di depan tubuhnya. Bau Donghae. Bau parfum lelaki dicampur dengan hujan yang mendominasi indra penciumnya membuatnya tenang.

“Ne, cheonma.”

Donghae hampir saja ingin mengelus kepala Hana, tetapi ia berubah pikiran. Entah kenapa bentuk tubuh Hana yang ketakutan terlintas di benaknya. Donghae mengira bahwa perempuan yang duduk di sebelahnya adalah permainan takdir yang begitu keji sehingga ia dibuat sangat mirip dengan Jung Soohyun.

Tetapi Donghae tidak mengetahui apapun.

Ia tidak sadar bahwa perempuan ini mengetahui sesuatu yang bahkan tidak diketahui dirinya sendiri.

Sesuatu tentang Jung Soohyun dan seluruh isi hatinya.

tbc

3 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Fate [7/9] | Superjunior Fanfiction 2010
  2. Trackback: Fate [8/9] | Superjunior Fanfiction 2010
  3. Trackback: Fate [9-END] | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: