Memories [2/?]

memories 17

Part 2

“Jadi, apa esoknya gadis itu memesan pizza lagi?”

Yesung tersenyum. Bukan karena pertanyaan itu, melainkan karena ia baru sadar bahwa tidak ada Jeany di hadapannya seperti beberapa menit lalu. Kursi tidak merapat dan semua orang masih setia di tempatnya. Ada dua meja yang kosong, tapi ada seorang lagi yang baru datang. Ia juga tidak tahu sejak kapan Donghae memetik gitarnya mengiringi ceritanya.

Lama ia menarik nafas, mengingat kembali kejadian sehari setelah pertemuan pertamanya dengan Jeany. Ia membuat bosnya kebingungan karena terlalu bersemangat dan terus menanyakan siapa lagi yang memesan pizza hari itu. Tapi yang terjadi tidak seperti yang ia harapkan.

“Ia tidak pernah memesan lagi,” jawabnya yang entah kenapa membuat suasana tiba-tiba lebih hening lagi. Yesung semakin nyaman dengan posisinya,  hingga pelan-pelan bayangan itu datang lagi. Dan kali ini…semua terasa sangat nyata.

****

“Jeremy? Kau sudah masuk? Kenapa tidak cuti lebih lama?”

Jeremy memandang Yesung dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukan apa-apa, tapi rasanya inilah kali pertama Yesung menyapanya. Pertama kali ia bekerja, Yesung hanya berkenalan dengannya dan setelah itu mereka tak pernah bicara. Ia juga tidak mengerti kenapa. Padahal sejauh pengamatannya, Yesung adalah orang paling ‘ramah’ disini. Semua orang dijadikannya teman, kecuali dirinya.

“Satu minggu ini aku menggantikan tugasmu dan mengambil alih langgananmu,” ujar Yesung lagi sambil mengenakan jaket dan helmnya. Ia bersiap-siap mengantar pesanan, dan tidak ada nama Jeany Hanks di dalamnya.

“Kenapa kau diam saja sejak tadi? Apa kau bisu?”

Jeremy tersadar setelah Yesung menepuk bahunya. “Ah, maaf. Aku hanya….hm…aku tidak menyangka kau mau menyapaku. Aku senang sekali.”

Yesung menaikkan alisnya heran sekaligus geli. Sepertinya bosnya sudah salah menilai pria berkacamata ini. Jeremy bukan anak baik, melainkan anak yang terlalu polos.

“Kau tidak perlu terlalu gembira. Ini bukan apa-apa.” Yesung nyaris keluar dari pintu saat ia baru menyadari sesuatu. Ia tarik lengan Jeremy.

“Jeremy, minggu lalu aku mengantarkan pizza ke tempat langgananmu dan aku bertemu dengan Jeany Hanks. Keliatannya kau cukup mengenalnya. Dia bahkan menyebut namamu.”

“Oh, dia adalah seniorku di High School. Memangnya ada apa?”

Yesung sudah akan buka mulut saat dari kejauhan bosnya berkacak pinggang dengan tatapan paling mengerikan. Ia tidak takut. Tapi ia malas sekali harus berurusan dengannya. Ia sudah sudah cukup merasa bahagia karena satu minggu ini tak membuat keributan, jadi ia tak mau merusaknya. Ia pun pasang langkah seribu. “Tidak apa-apa. Aku pergi dulu.”

Yesung bersyukur saat itu ia hanya bertaruh dengan dirinya sendiri. Kalau ia bertaruh dengan orang lain apalagi Casey, ia pasti akan kalah telak. Ya! Jeany tidak pernah memesan pizza lagi. Gadis itu benar-benar menepati janjinya. Sudah satu minggu sejak hari itu dan tak pernah ada nama Jeany Hanks di dalam daftar. Kemarin ia sengaja melenceng dari rute agar bisa melewati rumah gadis itu, tapi seperti sudah ia prediksi, ia tidak melihat siapa-siapa, tidak ada kegiatan yang terlihat di rumah itu.

Ia lalu melanjutkan pekerjaannya mengantar pesanan ke sebuah minimarket di Kingsway. Ia tak berniat lama-lama di tempat itu karena ia masih punya empat kotak lagi yang harus diantarkan ke dua tempat berbeda, tapi seorang kasir yang menerima pizzanya justru mengeluarkan uneg-uneg padanya.

“Kau terlambat dua menit. Aku sudah hampir mati kelaparan karena tak bisa keluar untuk makan siang. Kau tahu? Disini aku harus datang pagi dan pulang tengah malam tapi aku bahkan tak punya waktu untuk mengisi perutku sendiri. Aku sudah mengatakan pada atasanku untuk menambah karyawan baru. Dan kau tahu jawabannya? Dia bilang itu hanya akan membuang uangnya yang sebenarnya tidak akan ada tanpa bantuanku.”

Yesung mengucek telinganya. Pria ini nampak sekali merupakan seorang Liverpudlian. Aksen scousenya begitu kental. Kalau saja ia tidak menunggu uang pembayarannya, ia pasti sudah pergi sebelum pria itu buka mulut. Ia tak dengarkan apapun, ia memilih melihat-lihat ke arah lain dan menyingkir sejenak ketika seorang wanita menaruh belanjaannya di atas meja. Ironisnya, kasir tersebut justru melayani pembelinya lebih dulu, bukan membayarnya.

“Hey, hey, kau belum membayarku. Aku berdiri disini selama 5 menit untuk mendengarkanmu.”

“Kawan, kalau aku tak melayani pembeli, bosku akan marah dan dia akan semakin………”

Yesung tak lagi peduli dengan sikasir yang minta dikasihani itu. Tak sengaja matanya melihat ke arah wanita di sebelahnya yang sedang menunggu barang belanjaannya dihitung. Matanya melebar. Diperhatikannya gerak gerik dan raut wajah wanita tersebut. Dan seketika itu juga matanya melebar. Ia tak mungkin salah. Wanita itu adalah Jeany.

“Thanks.” Jeany mengambil satu kantong belanjanya kemudian pergi. Yesung pun sudah berniat untuk mengejarnya kalau saja ia tak ingat belum menerima uang pesanan.

“Berikan uangnya sekarang!”

“Santai kawan, aku masih ing…”

Sretttt

Yesung merebut uang ditangannya lalu pergi secepat kilat. Begitu tiba diluar, ia mencari keberadaan Jeany yang rupanya sudah berjalan cukup jauh ke sebelah kiri. Ia kembali berlari, melupakan sepeda motornya yang masih diparkir di depan minimarket.

“Jeany!”

Diantara banyaknya pejalan kaki, ia mencoba menerobos dan memanggil-manggil gadis itu. Tapi Jeany tak kunjung berhenti atau sekedar melihat ke belakang.

“Jeany!”

Ia terus berusaha mengejar hingga perlahan ia tiba di belakangnya lalu mendahuluinya.

“Stop!”

Ia gunakan kedua tangannya untuk menghentikan langkah Jeany. Sebelum bicara, ia berusaha menetralkan nafasnya lebih dulu.

“Oke, kau harus ta……Jeany?” Jeany sudah tak ada dihadapannya saat ia berdiri tegak sehabis memijit lututnya sejenak. Ia melihat ke belakang dan ternyata Jeany melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia tak mau ketinggalan lagi. Dengan lari lebih cepat, ia pegang bahunya, menutup jalannya dan tidak berpaling sedikitpun.

“Aku berlari dari supermarket tadi untuk mengejarmu dan aku tidak menyangka kau sangat marah sampai tak mau memesan pizza lagi pada kami.”

Jeany memandangnya bingung. “Maaf? Aku berada di London selama satu minggu ini. Tapi….siapa kau? Aku mengenalmu?”

Yesung tak percaya mendengarnya. Apa wajah dan namanya begitu mudah dilupakan? Masih sambil mengatur nafasnya, ia menjawab,”Ingatanmu tak begitu bagus. Aku pikir tidak ada pengantar pizza lain yang berani memakan pesanan pelanggan.”

Setelah beberapa saat, akhirnya Yesung bisa melihat ekspresi Jeany yang menjelaskan bahwa gadis itu sudah mengingatnya. Sayangnya, wajahnya baru teringat saat ia mengulang kejadian itu. Sipemakan pizza pelanggan, kedengarannya bukan kesan yang bagus.

“Oh, jadi ini kau? Ada apa mengejarku? Kau mau bayaran waktu itu?”

Yesung menggembungkan pipinya. Ia mencari-cari alasan yang tepat untuk mulai bicara lebih panjang. Jujur saja, ia sendiri tak tahu tujuannya mengejar Jeany. Otaknya tahu-tahu memerintahkan kedua kakinya untuk berlari.

“Aku….”

“Ya?”

“Aku….aku hanya……” Ia kehilangan kemampuannya berimprovisasi seperti biasa. Dan sepertinya Jeany sudah lelah menunggu. Gadis itu nyaris berjalan lagi, tapi Yesung tiba-tiba mengambil botol air mineral dari tangannya lalu meminumnya hingga hampir habis.

“Kau?” Jeany memandangnya tak percaya. “Jangan bilang kau mengejarku hanya untuk mengambil minumanku!”

Yesung tersedak. “Kenapa kau suka berburuk sangka pada orang? Aku kemari untuk….”

“Untuk apa?”

“Untuk……untuk…..”

“Jika kau tidak punya sesuatu yang penting, aku harus pergi.” Jeany mulai melangkah hingga berjalan cukup jauh.  Dan sebelum semua semakin terlambat, Yesung langsung melontarkan sesuatu. “Mau makan siang denganku?”

Jeany berbalik dengan senyum tipisnya.“Kau mengajakku kencan?”

“Apalah namanya. Aku hanya ingin mentraktirmu makan sebagai permintaan maaf waktu itu.”

Jeany tampak berpikir dan itu sudah merupakan sinyal yang cukup bagi Yesung. Menurutnya, jika seorang wanita berpikir cukup lama untuk menjawab tawaran seorang pria, artinya tujuh puluh persen dalam dirinya ingin mengatakan ya, hanya saja terbentur seperangkat gengsi dan hal-hal sepele lain. Namun, jawaban yang ia dapatkan adalah sebuah gelengan kepala. “Aku harus pulang.”

“Tak masalah. Bisa lain kali. Besok, lusa, besok lagi, atau kapanpun kau siap.”

Jeany tersenyum semakin lebar lantas mengibaskan tangannya. Ia pergi, sementara Yesung terus mengajaknya.

“Jika kau benar-benar sibuk, aku bisa membawakan pizza ke rumahmu dan kau tidak perlu bayar!” serunya dari kejauhan. Ia tahu Jeany masih mendengarnya sekalipun gadis itu tak berbalik. Dan ia tidak merasa ditolak. Jeany hanya mengatakan bahwa ia harus pulang, bukan tidak mau. Lihat saja sekarang, ia akan coba memanggilnya sekali lagi. Jeany pasti menoleh kali ini.

“Jeany!!!”

Tebakannya benar! Jeany seketika membalik badannya.

“Bersiaplah untuk melihat wajahku setiap hari!!” serunya lebih nyaring lagi. Tak peduli dengan tatapan beberapa orang di sekitarnya. Ia hanya tak bisa sembunyikan kegembiraannya ketika gadis yang berada beberapa meter di depan sana sedang mengumbar tawa. Ia terus perhatikan langkah Jeany yang semakin lama semakin tertutup oleh langkah-langkah lain. Tubuhnya yang mungil itu dalam sekejab tertimbun lautan manusia. Hingga ia tak lagi melihatnya, ia baru sadar bahwa ia meninggalkan motornya di belakang sana.

“Jadi, kau berhasil mengejarnya?” si kasir menyebalkan tadi bertanya setelah ia kembali. Yesung tak menjawab karena ia lebih bersyukur motornya masih utuh. Selama berlari kembali ke tempat ini, ia sempat berpikir sisa pesanannya hilang atau motornya di curi orang. Saat ini pencurian sepeda motor sedang marak.

“Kawan…” kasir itu menepuk bahunya. Yesung menatap tangan itu yang menempel beberapa detik ditubuhnya. Jujur saja, ia bukan pria yang nyaman dengan hal-hal yang membuat para pria saling bersentuhan.

“Dengar saranku. Jika kau menyukai seorang gadis, kejar dia lantas katakan, kau adalah bidadari yang diturunkan Tuhan untuk menemaniku. I love you.”

Yesung merasa ada jangkrik berbunyi di telinganya. Ia pikir ia akan mendapatkan sebuah pencerahan yang akan membantu. Ternyata….

Pria itu pun tersenyum lebar dan sekali lagi menyentuh bahunya.”Bagaimana saranku? Bagus?”

Yesung berusaha menemukan kalimat yang pas supaya pria ini tidak sakit hati dengan perkataannya. Semua juga tahu apa jadinya jika seorang Yesung membiarkan lidahnya beraksi seorang diri. Namun, ia tak menemukan satu kata halus pun selain, bodoh, aneh dan tidak lucu. Jadi ia putuskan tak memperpanjangnya. Kabur adalah pilihan tepat.

Ia menghilang bersama motornya dan hanya mengatakan terima kasih banyak. Itu adalah ucapan yang tulus karena pria itu punya andil besar dalam mempertemukannya dengan Jeany. Kalau saja tadi pria itu tidak mencurahkan isi hatinya, pasti ia sudah pergi sebelum bertemu Jeany. Kebetulan yang sangat indah.

Setelah itu, ia melanjutkan pekerjaannya dengan menyelesaikan semua pesanan yang tersisa. Ia melakukan tugasnya dengan baik dan untuk pertama kalinya sejak bekerja, ia tersenyum manis pada bosnya saat ingin pulang. Bosnya sampai perlu memeriksa kepalanya kalau-kalau sedang gegar otak karena terhantup aspal atau tiang listrik selama perjalanan.

“Aku baik-baik saja, bos. Aku hanya baru menyadari bahwa kau adalah atasan terbaik yang pernah ada.”

Hari itu ia bekerja sangat giat hingga larut malam. Jika biasanya ia akan mengeluh macam-macam, kali ini ia hanya terus menganggukkan kepalanya persis seperti apa yang dilakukan oleh Jeremy.

“Yesung!” Jeremy memanggilnya ketika ia baru akan pulang. Sudah jam dua belas malam dan mereka memang tak menerima pesanan lagi lewat dari jam itu.

“Kau memanggilku? Ada apa? Jeany memesan pizza?”

“Bu…bukan itu. Aku ingin menyerahkan ini.”

Yesung menerima selembar kertas kecil, seperti bekas sobekan dari buku. Disana terdapat nomor handphone.

“Milik siapa?”

“Itu milik Jeany. Aku ingin memberimu sejak tadi tapi kau terlalu sibuk.”

“Kau tidak sedang mengerjaiku?”

Jeremy menggeleng dengan sangat yakin yang disambut dengan pekikan tertahan dari Yesung. Ia sama sekali tak menyangka bahwa anak polos bodoh seperti Jeremy sangat berguna disaat seperti ini. Rupanya Jeremy paham sikapnya beberapa hari ini. Ia pun langsung menyimpan nomor tersebut dihandphonenya lalu mengucapkan terima kasih pada Jeremy. Sepertinya malam ini ia punya kerjaan baru.

“Ah, tunggu!” Jeremy lagi-lagi menahan kepergiannya.

“Ada apa? Kau tahu hal lain tentangnya? Nomor sepatunya? Hobinya? Apalagi?”

“Ti…tidak. Aku hanya ingin bertanya. Boleh?”

Yesung menghela nafasnya. Baru kali ini ia menemukan seorang pria yang bahkan butuh ijin untuk bertanya. “Apa yang mau kau tanyakan?”

Jeremy memperbaiki kacamatanya, lalu tersenyum kaku. “Apakah…sekarang kita berteman?”

Yesung melongo. Tak paham maksudnya.

“Aku…ingin berteman dengan semua orang disini. Dan aku pikir….kita….”

Yesung enggan mendengar kelanjutannya. Tanpa basa basi ia raih tubuh kurus Jeremy dalam pelukannya. Ia tepuk bahunya meski dibalik itu ia benar-benar ingin muntah. Dosa apa ia hingga harus dipertemukan dengan makhluk macam Jeremy ini.

“Ya, ya. Kita teman. Kau sangat baik padaku. Kau adalah teman yang sangat baik,” pujinya berlebihan. Sebelum Jeremy bereaksi lebih menggelikan, ia langsung berpamitan pulang. Kalau saja Jeremy tak memberi nomor handphone Jeany, mungkin ia butuh berpikir seribu kali untuk memeluk pria itu.

Dan sekarang, saatnya beraksi.

****

20 Agustus 2000. Jeany melingkari kalender didinding kamarnya dengan spidol merah. Dua minggu lagi adalah hari kelulusannya dari University of Liverpool. Setelah itu, ia akan menjadi reporter seperti yang ia idamkan selama ini. Ia sudah tak sabar menunggu hari itu datang. Melihat senyum orang tuanya yang begitu bangga pada dirinya.

“Yes, Mom. Aku juga tidak sabar. Apa kalian sudah menyiapkan hadiah untuk kelulusanku?”

Sejak sepuluh menit yang lalu, ia tersambung via telepon dengan Ibunya di London. Mereka terus membicarakan seputar kelulusannya yang tinggal menghitung hari.

“Mom, aku sudah berkali-kali bilang aku tidak mau bekerja di kantor Dady. Jika menjadi manager disana adalah hadiah kelulusanku, lebih baik aku tidak lulus saja.”

Jeany melempar tubuhnya ke tempat tidur. Topik semacam ini sudah dibahas berulang-ulang oleh orang tuanya. Dan ia sudah lelah mendengar tawaran yang sama. Sampai kapanpun, ia tidak mau menjadi bagian dari perusahaan ayahnya. Tidak sama sekali. Itu bukan bidangnya. Sejak kecil, ia begitu tergila-gila dengan dunia televisi dimana ia ada di dalamnya, bicara sebagai seseorang yang menyampaikan informasi. Ia merasa itu adalah pekerjaan yang mulia diantara banyak pilihan yang ditawarkan orang tuanya.

“Baiklah, aku juga sudah mengantuk. Good Night, Mom. I love you.”

Sambunganpun terputus. Namun, sebuah pesan langsung masuk.

“Lihat keluar jendela dan kau akan temukan sesuatu.”

Keningnya berkerut. Ia tak kenal nomor pengirimnya. Lalu…apa yang ada dibalik jendela? Tanpa rasa curiga ia langsung turun dari tempat tidur kemudian membuka jendela kamarnya. Ia menemukan setangkai mawar merah tersangkut di sisi jendela.

Pesan barupun muncul.

“Kudengar kau suka bunga mawar.  Simpanlah, jangan sampai layu.”

Jeany mencium aroma dari bunga itu. Ia memang sangat menyukai bunga mawar. Tak peduli siapa yang berbaik hati mengiriminya, ia tidak akan membuangnya. Ia letakkan di dalam pot kosong kecil di atas meja tepat di samping tempat tidur.

“Siapapun dirimu, aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku suka bunganya.” Jeany mengetikkan balasan kemudian menutup jendela kamarnya. Belum sampai ia ke tempat tidur, ada pesan baru lagi dari nomor tak dikenal itu.

“Kau tidak bertanya siapa diriku?”

Jeany tersenyum. Jari-jarinya bergerak lincah. “Yang jelas kau seorang pria.”

“Dan kau tidak merasa perlu untuk tahu?”

“Jika kau ingin mengatakannya, katakan saja.”

Setelah itu, pesan berikutnya belum masuk dalam hitungan satu menit seperti percakapan mereka sebelumnya. Kali ini Jeany nyaris berpikir bahwa pria itu tak akan membalas lagi. Namun, handphonenya langsung berdering tepat sebelum ia menarik selimut.

“Sipemakan pizza pelanggan.”

Tak sadar sejak tadi ia terus tersenyum. Ia pandangi bunga mawar di sampingnya dan ingatannya melayang ke peristiwa beberapa hari lalu saat mendapati pria itu memakan pizza miliknya. Sedang beberapa meter dari sana, Yesung berdiri dibalik pohon sambil memandangi jendela kamar Jeany yang sudah tertutup. Lama ia berpikir, tak percaya dengan ulahnya sendiri. Ia bukanlah orang yang suka basa basi. Selama ini, ia lebih suka langsung menelpon gadis incarannya lalu mengajak kencan. Singkat, padat dan jelas. Namun kali ini….ia tidak memahami jalan pikirannya sendiri. Mengirim bunga? Itu bukanlah gayanya. Tapi berhadapan dengan Jeany…..semua terjadi diluar kebiasaannya. Bahkan ia hampir akan menuruti saran Casey supaya ia mengirimi pesan romantis pada Jeany tanpa nama. Katanya supaya Jeany penasaran. Untung ia tak melakukannya.

Karena tak mendapat balasan setelah ia memberitahu identitasnya, ia bergegas pergi. Tapi pada langkah ketiga, handphonenya berbunyi. Pesan balasan dari Jeany.

“Terima kasih.”

Singkat dan jelas. Ia suka itu. Casey mengatakan padanya, bahwa tipe gadis seperti Jeany hanya mengerikan diluarnya saja. Asal sudah mengetahui titik lemahnya, maka ia akan luluh seperti coklat panas.

Ia bisa tidur nyenyak malam itu dan malam-malam selanjutnya. Meski rencananya untuk terus menemui Jeany tak bisa terlaksana, setidaknya mereka bisa berkomunikasi lewat ponsel.

Beberapa hari ini ia memang dihadapkan pada banyaknya pesanan hingga larut malam. Seperti sedang memanfaatkan kewarasannya, bosnya terus memberikan tugas. Ia harus pergi ke Lodge Ln hingga ke Rocky Ln. Satu-satunya yang bisa meredam emosinya ketika akan marah adalah wajah Jeany. Dengan membayangkan senyumnya, ia akan lupa bahwa ia sedang marah. Sebelum tidur, ia akan mengucapkan selamat tidur pada gadis itu. Jika ada balasan, maka itu adalah pengantar tidur yang sangat mujarab.

“Aku rasa kau sedang jatuh cinta.”

Ia bersama Casey baru pulang dari bioskop menonton film Gladiator. Dan pernyataan Casey barusan cukup menggelitiknya.

“Aku tidak bisa bilang seperti itu. Aku hanya merasa senang akhir-akhir ini,” ungkapnya sambil menendang kaleng minuman yang tergeletak di jalan. Suasana di Rocky Ln lebih sepi dari biasanya. Hampir semua lampu di hotel yang mereka lewati sudah mati.

“Apa dia begitu spesial untukmu?” tanya Casey lagi.

“Pertanyaanmu terlalu jauh. Sampai saat ini, aku masih dalam tahap menyukainya, aku tertarik padanya.”

“Tapi kau terus membicarakannya di depanku dan mungkin juga di depan Dennis.”

“Sudahlah, jangan mencecarku lagi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sekarang, cari taksi karena aku ingin cepat pulang.”

Casey berhenti, memandang Yesung dengan wajah penuh keraguan. “Sejak kapan kau tidak mau cerita? Lagipula, apa itu? maksudmu aku yang membayar taksi? Maaf, kawan. Aku sudah berbaik hati membayar tiketmu dan kau sendiri yang tadi menolak pergi dengan motorku.”

“Aku tidak mau kita dikira pasangan gay. Nonton berdua sudah cukup mencurigakan tanpa harus dilengkapi dengan berboncengan.”

Casey tersenyum kecil. “Kenapa kau malu pergi denganku? Bukankah….” Tanduk isengnya muncul. Tatapan matanya berubah genit dan pelan-pelan mengelus lengan Yesung dengan manja. “Bukankah kau nyaman berada didekatku?”

“Casey! Kau sudah gila?” Yesung segera menjauh dan berjalan lebih cepat lagi. Sementara Casey tertawa terbahak-bahak. Ia tak menyusulnya. Melihatnya seperti itu saja ia sudah cukup punya bukti bahwa sahabatnya itu memang jatuh cinta pada Jeany. Yesung memang paling anti jika harus terlihat begitu dekat dengan pria, bersentuhan tanganpun tidak. Tapi khusus dengannya, biasanya Yesung justru menikmati dan kadang itu bisa digunakan untuk mengusir fans fanatiknya. Jadi dulu pernah ada seorang lelaki tampan berjas yang datang ke tempat kerjanya. Ia bekerja di sebuah tempat laundry. Awalnya tak ada yang aneh. Namun, lama kelamaan, Casey bisa mencium gelagat tak sedap dari pria itu. Dan untuk mengusirnya, dengan senang hati Yesung sengaja pamer kemesraannya dengan Casey hingga pria itu gigit jari.

Yesung pun terus berjalan sambil mengomel sendiri. Begitu sadar keadaan sekitarnya begitu sepi, ia berhenti bicara dan menoleh ke belakang.

“Casey?” Tak ada Casey di belakangnya. Hanya ada beberapa orang pejalan kaki. Ada sebuah mobil lewat dari depan dan sekarang suasananya sangat lengang.

“Casey!!”

Tak kunjung mendapat respon, ia putuskan untuk berjalan. Casey sudah sering seperti ini. Tiba-tiba menghilang, tiba-tiba muncul kemudian pergi lagi. Dan begitu ia berjalan lebih jauh, ia juga menyadari satu hal bahwa ia sedang berada di daerah rumah Jeany. Ia menoleh ke kiri, kanan dan belakangnya. Aneh sekali, kenapa ia kemari? Kalau ia ingin pulang, harusnya di persimpangan jalan tadi ia belok kiri.

Ia lalu membenarkan topinya. Sudah ada disini, kenapa tidak lengkapi saja dengan sebuah pertemuan? Ia berjalan lagi, melompati pagar besi rumah Jeany kemudian berjinjit supaya tidak membuat suara apapun yang mencurigakan. Ini sudah sangat malam, kemungkinan penghuni rumah tersebut sudah tidur. Tapi ia melihat pintu garasi masih terbuka. Langsung saja ia ke sana, memeriksa pintu di dalam garasi yang mungkin merupakan akses untuk ke dalam. Pintu itu terkunci.

Jeany benar-benar teledor. Biarpun pintu untuk ke dalam terkunci, tapi di luar masih terbuka, bagaimana kalau ada yang mencuri? Ia sudah akan memberi tahu Jeany soal ini saat matanya tertarik untuk melihat mobil itu lebih jeli. Ia perhatikan bodynya, warnanya, kacanya yang bening serta simbolnya yang ada di bagian depan. Seketika matanya melebar. “Wow, Mercedez-Benz E320.”

Ia hampir menyentuh mobil tersebut kalau saja tak takut mobil ini akan berbunyi dan semua orang akan berpikir dia adalah pencuri. Jadi ia putuskan untuk masuk ke dalam untuk memberitahu Jeany. Bukan pintu depan yang dipilihnya, melainkan jendela kamarnya.

Ia mengirimkan pesan singkat. “Lihat keluar jendela dan kau akan terkejut.”

Ia harap Jeany belum tidur sekalipun itu sedikit mustahil. Namun, tak sampai beberapa menit kemudian, jendela di depannya terbuka.

“Kau?”

“Surprise!!” seru Yesung dengan pelan. Jeany mendekat. “Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kalau…”

Yesung langsung melompat masuk, mengabaikan pertanyaan Jeany. Ia duduk di ujung tempat tidur. “Kau tenang saja. Aku tidak akan lama.”

“Tolong jangan membuat kekacauan. Aku tidak mau…”

“Jangan khawatir, aku hanya ingin mengatakan kalau garasimu belum tertutup. Kalau aku punya alatnya, mungkin Mercedesmu sudah kubawa keliling kota.”

“Kenapa kau suka sekali memotong ucapanku?” Jeany keluar dari kamarnya. Yesung tak bertanya untuk apa, tapi ia yakin kalau Jeany sedang menutup pintu garasinya. Tak lama, Jeany kembali. Namun, terdengar suara seorang wanita dari luar sebelum Jeany masuk ke kamarnya.

“Jeany? Kau belum tidur?”

“Ah, Mom. Aku…”

Yesung segera menyingkir dan bersembunyi di balik tempat tidur. Meski jaraknya jauh, tak menutup kemungkinan ibunya itu akan masuk.

“Aku dari toilet.”

“Oh, cepatlah tidur. Besok kita akan pergi.”

“Baik, Mom.”

Jeany masuk ke dalam lantas mengunci pintunya. “LIhat! Hampir saja ketahuan!”

Jeany panik sedangkan Yesung tertawa tertahan sambil melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia pejamkan matanya sejenak. Menikmati empuknya tempat tidur Jeany. Tidak seperti tempat tidurnya yang hanya merupakan kasur tipis dan kecil.

“Sebaiknya kau pulang. Aku sangat berterima kasih kau memberitahuku soal pintu garasi. Tapi ayah dan ibuku ada disini. Mereka bisa memotong leherku kalau melihat seorang pria asing ada di kamar anaknya.”

Yesung bangkit lantas merapikan lagi topinya. Ia memandang Jeany dan beberapa tangkai bunga mawar yang ada di atas meja. Ia senang karena Jeany benar-benar menjaganya.

“Baiklah, aku akan pulang. Senang bisa melihatmu lagi.”

Yesung keluar melalui jendela. Tapi ia tak langsung pergi.

“Tunggu!”

“Ada apa lagi?” bisik Jeany. Ia takut orang tuanya terbangun.

“Kau belum menerima ajakan makan siangku.”

“Yesung, kau dengar sendiri perkataan ibuku. Besok kami akan pergi.”

“Kemana?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kau bisa tidak ikut. Kau bukan bayi.”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Kenapa kau penurut sekali?”

“Yesung…”

“Ah, kau sudah dua kali menyebut namaku. Good point.”

Jeany menghela nafasnya dengan tenang. Ia tak mungkin marah-marah kalau tidak mau Ayahnya muncul membawa tongkat baseball.

“Maaf, aku tidak bisa kalau besok.”

“Tapi hanya hari ini dan besok aku mendapat libur kerja. Ah, bagaimana kalau malam harinya?”

Jeany menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin.”

“Berarti kau mau?”

“Aku tidak bilang begitu,” sanggah Jeany cepat. Yesung mencondongkan tubuhnya.”Besok, datanglah ke Teater Empire. Aku tunggu.”

“Tapi…”

Cup

Yesung mendaratkan kecupan singkat di pipinya. Jeany shock, terdiam tak bisa berkata-kata.

“Oh, iya. Aku rasa kau tidak cocok dengan rambut seperti ini. Aku pergi. Sampai jumpa besok!!!”

Yesung berlari, melompati pagar lagi kemudian menjauh dari depan rumah Jeany. Ia tak tahu kenapa ia melakukan itu. Ia bahkan masih tak percaya ia begitu lancang. Tapi semua sudah terjadi. Dan rasanya….ia takkan cuci mulut sampai besok.

********

Yesung menghentikan sejenak ceritanya. Donghae masih mengiringinya. Vincent sudah tidak ada di belakangnya dan duduk bersama Marcus di salah satu meja. Mickey dan Jordan berdiri di depan pintu memandangnya dengan pandangan yang tak ia pahami. Lalu Casey sudah tak terlihat. Sementara para pengunjung masih setia di tempat duduk masing-masing.

“Apakah dia datang?” salah seorang pengunjung pria bertanya. Yesung menunduk sejenak dengan senyum tipisnya.

“Sepulang dari rumah Jeany malam itu, aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa tidur. Aku yakin ia akan datang tapi yang muncul dalam benakku ketika aku mencoba menutup mataku adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah datang. Aku benar-benar tidak paham dengan diriku sendiri. Rasanya….sangat aneh aku tidak bisa tidur hanya karena seorang gadis.”

“Jadi?” pria itu bertanya lagi. Sepertinya ia begitu penasaran. Yesung pun melanjutkan, “Esok malamnya aku pergi ke Teater Empire seorang diri. Aku datang satu jam lebih awal dan menunggunya di depan pintu. Aku terus menunggunya. Sesekali aku melhat ke jalan untuk menemukan tanda-tanda kehadirannya. Namun, setengah jam berikutnya, ia belum datang. Tapi aku tidak lelah. Hingga setengah jam lagi, aku tetap di tempatku berdiri.”

“Kau ingin mengatakan bahwa dia tidak datang?” seorang wanita menimpali. Yesung sepertinya cukup menikmati wajah-wajah penasaran itu.

“Aku terus menunggunya. Menunggu hingga jam tanganku menunjukkan berapa lama aku berdiri disana. Teman-temanku sudah bergantian masuk dan keluar untuk menonton pertunjukan itu. Sedangkan aku…..masih diam menunggu kehadirannya dan kita masuk bersama. Hingga semua orang sudah pulang, aku mulai merasa bahwa untuk kedua kalinya aku salah menebak.”

Kali ini tak ada yang menimpali perkataannya. Ia diam, semua ikut diam. Ia menarik nafasnya kemudian tersenyum untuk kesekian kalinya dimalam ini.

****

“Kau yakin akan tetap disini?” Andy menepuk bahunya. Yesung hanya mengangkat bahu. “Pergilah. Aku masih menunggunya.”

Begitu semua orang sudah keluar dari gedung, ia mulai kehilangan kepercayaan diri. Dilihatnya gedung itu dan sepertinya ia harus merelakan bahwa malam ini semua rencana indahnya buyar. Sebenarnya menonton pertunjukan drama musikal di dalam bukanlah keinginannya. Ia sama sekali tak menyukai hiburan seperti itu. Jika bisa, ia lebih suka menonton konser musik Rock. Tapi ia melakukan ini demi Jeany. Di tempat semacam ini biasanya para pria berusaha merebut hati gadis yang disukainya. Banyak gadis yang kemari dan mungkin Jeany adalah salah satu yang menyukainya juga.

“Apa pertunjukannya sudah selesai?”

Ia mendengar suara seseorang di belakangnya. Dan rasanya kali ini ia tak mau menebak-nebak lagi. Maka ia pun berbalik dan ia hampir tak percaya apa yang dilihatnya.

“Kau?”

“Yes, ini aku. Kenapa?”

Yesung tertawa lega. Nyaris saja ia pergi dari sini.

“Aku pikir kau tidak akan datang.”

“Uh, aku kira kau orang yang gigih. Ternyata kau mudah menyerah.”

Yesung diam. Ada hal lain yang membuatnya lupa untuk marah sekalipun ia memang tak mungkin marah pada Jeany. Jeany tampak…….sangat cantik. Rambutnya berubah hitam lurus, tak lagi bergelombang dan berwarna kuning. Sangat pas dengan wajahnya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa…ada yang salah dengan penampilanku?” Jeany memperhatikan penampilannya sendiri. Ia sangat buru-buru saat kemari, jadi ia hanya mengenakan tshirt dengan sweater biru muda favoritnya. Rasanya tak ada yang salah. Yesung pun sudah akan memuji penampilannya yang dimatanya sangat berbeda. Tapi ia berubah pikiran.

“Kau sangat……entahlah. Aku rasa warna pakaianmu terlalu cerah untuk saat ini. Kau bisa mengenakannya saat kita ke taman pagi hari atau…ya…sejenisnya.”

Jeany nampak panik. Yesung tak bisa menahan tawanya melihat gadis itu seperti akan melepas pakaiannya atau kabur dari hadapannya.

“Jeany, tunggu!” Yesung menahan lengannya.

“Sebaiknya aku pulang.”

Yesung tak melepaskannya. Ia diam beberapa saat lantas mengatakan hal yang sejujurnya. Sebenarnya ia belum puas melihat ekspresi bingung sekaligus malu dari gadis itu. Tapi ia tak mau merusak kebahagiaannya malam ini. Jeany bisa hadir disini sudah merupakan suatu keajaiban. Kalau Jeany malu karena merasa penampilannya buruk, bukankah artinya ia ingin tampil baik didepannya?

“Oke, aku berbohong.”

“Bohong?”

“Ah, sudahlah, lupakan apa yang kukatakan tadi. Sekarang, kau harus bertanggung jawab.”

Yesung menunjuk gedung dibelakangnya dimana seorang pria bertubuh besar baru keluar dan nampak mengunci pintunya. Pertunjukan sudah selesai, sudah jam dua belas malam.

“Lihat apa yang sudah kau lakukan.”

Jeany ikut memandang gedung itu. Tampangnya sama sekali tak bersemangat.  Dengan cuek ia berjalan lebih dulu.

“Ya! Kau mau kemana?”

“Aku memang kemari bukan untuk menonton pertunjukan itu.”

“Maksudmu?”

Yesung berhenti di depan Jeany. “Jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak!”

“Kau mengajakku ke pertunjukan itu? Asal kau tahu, aku sudah pernah menontonnya dan aku tertidur sepanjang acara. Jadi………aku rasa itu bukan tempat yang tepat untuk kita.”

Yesung bukan tertarik dengan apa yang akan dijelaskan oleh Jeany. Entah kenapa ia tertarik dengan kata terakhirnya. Kita. Ditelinganya itu seperti sebuah hubungan yang tidak biasa, apalagi diucapkan oleh Jeany.

“Masih berminat untuk mengganti pizza yang kau makan? Aku sedang berusaha membuat semuanya impas.”

Yesung mengangkat bahunya. Ia lihat jam tangannya dan ia sama sekali tak masalah dengan itu. “Well, jika kau memaksa. Apa boleh buat. Aku yang baik hati ini bersedia melunasi semua hutang-hutangku.”

Jeany sudah siap untuk berjalan lagi, tapi Yesung lagi-lagi menahannya. Awalnya Jeany pikir Yesung akan bertanya lagi, tapi pria itu tak banyak bicara. Ia berdiri di sampingnya, meletakkan tangan kirinya dipinggang lantas memberi kode. Jeany tak butuh waktu lama untuk memahami itu. Ia lingkarkan tangannya lalu mereka berjalan beriringan.

Yesung menarik nafasnya sepanjang perjalanan. Ia kira ini tidak akan berjalan begitu sulit. Ia sudah sering berkencan dengan gadis-gadis bawaan Casey dan kakaknya. Ia baik-baik saja. Ia masih bisa tersenyum, masih bisa tertawa. Jantungnya tidak ada masalah, pernafasannyapun normal. Ia selalu pandai berkata-kata dan mengendalikan situasi. Sekarang, ia justru merasa situasi yang mengendalikannya.

Semakin intens ia berhubungan dengan Jeany, semakin bertambah ilmunya. Kemarin, ia jadi tahu cara masuk ke kamar seorang gadis tanpa ketahuan. Setelah bertemu dengannya, ia jadi tahu bahwa banyak hal-hal menyenangkan yang dimulai dari pertemuan tak mengenakkan. Kemarin lagi, ia belajar cara mencuri satu kecupan. Dan beberapa waktu lalu, ia jadi paham bahwa buah dari kesabaran adalah sesuatu yang sangat indah.

Jeany bukan gadis luar biasa. Ia mungkin sama seperti gadis lain yang akan panik jika disinggung soal penampilan. Ia mungkin sama seperti gadis kebanyakan yang senang diperlakukan baik. Tapi sejauh ini, hanya Jeany yang mampu membuatnya merasa berbeda. Bersama Jeany, ia merasa bahwa tak sulit untuk menjadi orang yang bahagia.

“Kita sudah sampai.”

Yesung berhenti. Ia pandangi sekelilingnyi lalu menatap Jeany. “Sungai Mersey?”

“Ya, aku memang ingin membawamu kemari.”

****TBC****

 

1 Comment (+add yours?)

  1. inggarkichulsung
    Jun 25, 2015 @ 06:43:44

    Ternyata Jeany sebetulnya sama seperti Yesung oppa tdk menyukai pertunjukan musikal, opera dan sejenisnya.. Jeany datang wlpn benar2 sgt terlambat dan akhirnya mrk bergandengan tangan menuju sungai Mersey, so sweet

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: