Memories [3/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Heechul (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG -15

************

“Kami duduk di pinggir sungai. Jeany menyuruhku untuk melepas sepatu lalu mencelupkan kaki ke dalamnya. Aku pikir dia sudah gila karena saat itu udaranya lumayan dingin sekalipun sudah masuk musim panas. Aku tidak suka tersentuh air di malam hari. Tapi Jeany meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Awalnya aku tak banyak bicara. Aku berusaha menahan rasa dingin yang langsung menjalar dan seperti menusuk kakiku. Kalau bukan karena Jeany, aku pasti sudah pergi.”

Yesung tak mengerti kenapa ada satu tetes air mata yang jatuh di celananya. Ia mengusapnya diam-diam, membiarkan petikan gitar Donghae mendominasi seisi café.

“Kau menangis?”

Yesung tak tahu siapa yang bertanya. Ia tersenyum tipis, meyakinkan semua pengunjung bahwa ia baik-baik saja. Ia ingat benar jika malam itu adalah salah satu malam terbaik yang pernah mereka lewati. Malam dimana semua cerita tersalurkan. Mereka membicarakan banyak hal, membagi banyak kisah yang membuat mereka sama-sama tertawa. Mereka punya satu kesamaan. Mereka sama-sama suka bercerita.

“Ada satu hal yang kucatat dari Jeany malam itu. Ia suka menirukan seseorang dan caranya itu benar-benar konyol. Kalian mungkin tak percaya, tapi ia bahkan bisa menirukan suara Mickey Mouse. Aku rasa ia bisa menjadi dubber tokoh Minie.”

Tawa Jeany yang nyaring terbayang-bayang dalam benaknya. Jika tertawa keras, Jeany akan memukul bahunya. Tapi begitu menyadari kebodohannya itu, ia akan menarik tangannya lalu tertunduk malu. Seperti yang ia jelaskan sebelumnya. Jeany tak luar biasa. Ia memilki sifat-sifat umum seorang gadis kebanyakan. Tapi gadis biasa seperti Jeanylah yang berhasil membuatnya seperti ini. Duduk di kursi ini untuk menceritakan semuanya dan ia bangga mengatakan bahwa ia masih ingat segalanya.

***

“Kau tahu? Aku cukup penasaran apa yang membuatmu memenuhi ajakanku. Sudah tengah malam, aku ragu orang tuamu memberikan ijin.”

Yesung melompati sebuah botol minuman yang tergeletak di jalan. Jeany berjalan disisinya. Mereka baru saja pulang dari menikmati keindahan sungai Mersey diwaktu dini hari. Sekitar satu jam mereka ada disana. Melewatinya dengan terus bicara dan bicara hingga Jeany sadar bahwa ia tak mungkin pulang lebih larut dari ini.

“Jika kukatakan aku kabur dari rumah diam-diam, apa kau percaya?”

Yesung menghentikan langkahnya. “Kau melakukannya?”

Jeany mengangguk. Wajahnya tampak malu-malu untuk mengakui hal itu. Selama ini ia adalah anak yang penurut. Apapun yang orang tuanya katakan dianggapnya sebagai undang-undang yang haram dibantah. Jangankan kabur dari rumah, selama ini ia selalu berkata jujur kemana ia akan pergi sekalipun mata dan telinga orang tuanya ada di London. Ia tinggal di Liverpool hanya untuk kuliah. Tak pernah ia melawan kemauan orang tuanya. Hanya untuk urusan kuliah dan pekerjaannya saja ia tak mau menurut lagi. Orang tuanya ingin ia bekerja di perusahaan keluarga, sedangkan ia sangat ingin menjadi seorang reporter terkenal seperti Rudi Bakhtiar dari CNN Amerika.

“Sepulang dari rumah pamanku, aku menyelinap keluar dan….yah seperti yang kau lihat. Aku disini.” Jeany mengatakan itu dengan suara yang menjelaskan bahwa ia sendiri tak percaya dengan apa yang ia lakukan.

“Kau membuatku merasa begitu berharga. Sekarang tingkat kepercayaan diriku naik.”

“Bukankah sebelumnya kau memang begitu percaya diri?”

Mereka tertawa sejenak. Lagi-lagi Yesung harus mengakui bahwa ia suka tawa renyah dari Jeany. Tak masalah bahunya akan dipukul lagi jika Jeany tertawa, ia rela.

“Lalu apa yang membuatmu mau menemuiku? Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa aku masih ada?”

Jeany memelankan langkahnya, kedua tangannya terlipat didada. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin pergi dan aku tidak berharap begitu besar kalau kau masih menungguku.”

“Aku sangat berterima kasih karena kau mau datang. Dan aku lebih berterima kasih lagi karena kau datang terlambat. Aku pikir kau menyukai pertunjukan itu.”

“Ya, aku memang ragu kalau kau akan menyukainya. Itu adalah pertunjukan membosankan dan aku lebih baik tidur.”

Yesung setuju sekali dengan pendapat Jeany. Satu lagi kesamaan mereka. Mereka punya selera yang sama dalam beberapa hal. Tapi mereka juga punya perbedaan dalam banyak hal. Dari percakapan panjang mereka selama berada di pinggir sungai, ia bisa melihat bahwa Jeany adalah orang yang sangat serius. Jeany punya prioritas dan tujuan yang jelas dalam hidupnya. Semuanya teratur dan tertata rapi. Bahkan mulai dari bangun pagi hingga tidur, semua seperti jadwal pejaran yang harus dilaksanakan tepat saat bel berbunyi. Tak seperti dirinya yang kadang sesuka hati. Ia melakukan banyak hal tanpa tujuan pasti. Ia bangun kesiangan. Ia ribut dengan bosnya. Ia dipecat lalu mendapat pekerjaan baru dan melakukan kesalahan lagi di tempat ia bekerja. Ia hanya ingin bahagia. Tak peduli pandangan orang. Tak peduli dengan aturan. Semenjak ia pindah ke Liverpool lima tahun lalu, sifat itu semakin menjadi-jadi karena ia hanya hidup berdua dengan kakaknya. Ia bebas melakukan apa saja yang ia mau.

“Udaranya cukup dingin.”

Yesung bisa melihat bagaimana Jeany tidak berbohong dengan perkataannya. Jeany mengusap-usap tangannya kemudian menarik lengan sweaternya supaya telapak tangannya tertutupi. Untuk satu detik Yesung berpikir untuk menarik tangannya dan menghangatkan tangan itu dalam saku jaketnya. Tapi satu detik berikutnya ia mengurungkan niat tersebut. Hampir dua jam bersama, entah kenapa ia merasa Jeany terlalu berharga untuk disakiti. Oke, ia tahu menyentuh tangannya bukan sesuatu yang salah atau bahkan menyakitkan kecuali tangannya terbuat dari pisau. Hanya saja….ia jadi merasa takut salah bertindak. Seperti ia yang lancang mencium pipi Jeany kemarin malam. Kelihatannya Jeany tidak masalah dan ia pun senang melakukan itu, tapi sekarang tiba-tiba ia merasa bersalah.

“Jadi…….apa rencanamu selanjutnya?” Yesung memulai topik baru setelah beberapa saat mereka saling diam. Ia bukannya tak peduli, tapi ia tak mau melakukan kesalahan lagi.

“Rencana apa?”

“Tadi kau mengatakan baru lulus kuliah dan kau ingin menjadi seorang reporter.”

Jeany kembali tersenyum. Ini adalah topik pembicaraan yang selalu membuatnya lebih bersemangat.

“Aku sudah pernah magang di DLB. Dan nanti aku akan melamar pekerjaan lagi disana. Dengan fakta bahwa aku pernah bekerja disana, aku cukup mengenal para karyawannya, kurasa itu adalah modal yang menjanjikan.”

Yesung suka mendengar dan melihat ekspresi Jeany jika sedang bicara seperti ini. Sangat aktif dan menggemaskan. Ia tidak ragu kalau Jeany memang punya bakat untuk menjadi seorang reporter. Ia jarang sekali berdoa. Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun belakangan, ia berdoa pada Tuhan supaya Jeany bisa mewujudkan mimpinya. Ia melihat ke atas, mengedipkan matanya. “Tuhan, jangan kecewakan aku.”

“Sepertinya kita sudah sampai.”

Yesung berhenti berjalan. Ia menghembuskan nafasnya. Jika biasanya ia ingin sekali waktu cepat berlalu, sekarang justru ia berharap satu detik itu sama lamanya dengan sepuluh menit. Ia belum ingin ini selesai. Ia belum ikhlas malam indahnya berakhir. Dan ia belum mau berpisah dengan Jeany. Mungkin kedengarannya berlebihan. Ia tahu masih ada hari esok. Bahkan ketika ia sudah pulang, ia bisa saja menelpon Jeany dan mengajaknnya mengobrol lagi hingga pagi. Tapi ia takkan melakukannya. Ia tidak mau mengganggu tidurnya.

“Hm….apa aku harus pulang sekarang?”

“Aku rasa begitu.”

Yesung kebingungan dengan sikapnya sendiri. Di depan pagar rumah Jeany, mereka berhadapan. Yesung mencoba melihat ke objek lain untuk melenyapkan rasa gugupnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Disuruh pulang, ia belum mau.

“Hm…..aku….” Yesung tak tahu juga harus mengatakan apa. Dilihatnya jam ditangan dan ini sudah hampir jam setengah tiga pagi. Ia ketuk-ketuk sepatunya di aspal. Sesekali melirik Jeany yang juga mungkin sama bingungnya.

“Sebaiknya kau pulang.”

Yesung menimbang-nimbang apakah ia harus melakukan ini atau tidak. Maksudnya…..melakukan apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan pria saat pulang bepergian dan akan berpisah dengan gadisnya. Dalam dirinya sungguh ia ingin maju selangkah, menyentuh kedua tangannya lantas melakukannya. Namun, ia seketika sadar bahwa itu bukanlah hal yang ingin ia lakukan. Tidak sekarang, tidak harus saat ini, di tempat ini. Ia juga tidak yakin kalau Jeany sudah siap. Mungkin ini terlalu cepat. Ia lalu menggaruk kepalanya. Mencuri pandang pada Jeany yang sepertinya juga sudah mengantuk.

“Terima kasih untuk malam yang sangat indah.”

“Kita hanya duduk di pinggir sungai, jangan berlebihan.”

“Tapi inilah acara bincang-bincang di pinggir sungai yang paling menyenangkan bagiku.”

Jeany mengumbar senyum paling manis malam ini. Yesung mempersiapkan dirinya untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Oke, aku akan pulang. Masuklah.”

Jeany menganggukkan kepalanya, tapi ia tak beranjak.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau masuk.”

“Kita lakukan itu bersama-sama,” sambar Jeany. Mereka lagi-lagi tertawa pelan. Pada akhirnya, mereka benar-benar melakukan itu. Jeany mulai melangkah memasuki pekarangan rumahnya sedangkan Yesung mulai melangkah mundur untuk menjauh. Ditatapnya punggung gadis itu. Jeany pun berbalik.

“Selamat malam.”

Yesung membalas,”Selamat malam.”

Jeany sudah tiba di depan pintu. Tangannya mendorong pintu hingga tubuhnya masuk ke dalam rumah. Yesung berhenti melangkah, menikmati detik-detik terakhir itu tanpa mata berkedip. Jeany tersenyum tipis padanya. Meski hanya wajahnya yang terlihat dibalik pintu, ia sangat senang. Dan sebelum pintu benar-benar tertutup, ia melambaikan tangannya.

“Mimpi yang indah.”

****

“Kau sungguh penakluk wanita yang handal,” puji Casey dengan sungguh-sungguh. Yesung mampir di bengkel tempat kerja Casey yang baru dan ia sudah menceritakan segalanya, termasuk hal konyol apa yang terjadi sebelum berpisah. Kejadiannya sudah berlalu cukup lama tapi Yesung masih bisa membayangkannya seperti baru terjadi kemarin. Bahkan senyum terakhir Jeany sebelum pintu tertutup itu masih menghiasi isi kepalanya.

“Aku rasa kau benar. Aku jatuh cinta padanya.”

Casey yang sedang memperbaiki motor pelanggan turut membenarkan. “Tebakan Casey tak pernah salah. Kau catat itu.”

Yesung duduk di atas motornya, ia tak peduli dengan tumpukan pizza di belakangnya yang harus segera diantar. Masih banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Casey. Malah sejujurnya malam itu ia ingin langsung menyambangi Casey kalau saja tak terbentur keadaan. Hampir dua minggu ia menahan mulutnya, akhirnya bisa tersampaikan juga. Ia lega.

“Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

Yesung memandang jauh ke depan, berusaha menjadi Jeany yang selalu bisa memikirkan masa depannya. Ia mencoba membayangkan dirinya dan Jeany di ujung sana, masuk ke dalam sebuah gereja, kemudian….

“Ah, aku tidak tahu. Yang jelas sekarang aku sangat bahagia. Untuk sementara aku hanya ingin menikmati waktu bersamanya. Terserah apa yang akan terjadi nanti.”

Casey berdiri, mengelap tangannya yang kotor lalu menepuk pipi Yesung. “Karena aku tak pernah melihat kau sebahagia ini, aku takkan mengacaukannya, aku mendukungmu. Tapi mendengar sifat Jeany darimu, aku berpesan agar kau tidak mempermainkannya.”

Yesung menatapnya tenang. “Apa kau pernah mendapat aduan dari teman-temanmu yang pernah berkencan denganku? Aku rasa semua baik-baik saja.”

“Aku tahu. Aku hanya mengingatkan.”

Ia tak paham maksud Casey. Selama ini Casey tak pernah begitu peduli dengan urusan asmaranya. Casey hanya sibuk mengenalkannya pada banyak gadis, setelah itu ia memberikan kebebasan, tak masalah dengan hasil akhir perkenalan itu. Baru kali ini Casey mengingatkannya. Apa Casey takut ia menyakiti Jeany? Rasanya itu tidak akan terjadi. Awal mula memang ia hanya tertarik pada gadis itu. Seperti ia yang pernah tertarik pada beberapa gadis, ia akan melakukan pendekatan lalu menjalin hubungan. Dan semua hanya berlangsung untuk memberinya kesenangan lain. Tak sampai tiga bulan, gadis-gadis itu akan diputuskannya dengan baik-baik. Namun, setelah melalui waktu hampir satu bulan dengan Jeany, ia merasa ini adalah hal paling indah yang pernah ada dalam hidupnya. Baru kali ini ia berdoa untuk seseorang. Baru kali ini ia mengkhawatirkan seseorang dan takut untuk melukainya. Banyak hal baru yang ia lakukan selama sebulan ini dan itu diluar kebiasaannya. Ia bukan ingin bilang Jeany mengubah hidupnya, apalagi membawa pengaruh buruk. Ia masihlah Yesung yang cuek dan santai. Tapi dalam beberapa hal ia merasa agak berbeda. Dan yang paling tidak ia mengerti adalah ketika ia sangat merindukannya.

Malam itu adalah terakhir kali mereka bertemu. Setelahnya mereka belum bisa memiliki waktu yang tepat. Jeany sibuk dengan kelulusannya dan sedang melamar pekerjaan, sedangkan Yesung tetap pada kegiatannya. Ia memang tidak punya lagi hari libur seperti hari itu. Tapi jika Jeany mengiriminya pesan dan berkata ingin bertemu, maka ia pastikan akan meninggalkan semua pekerjaan lantas berdiri dihadapannya dalam hitungan menit. Ia pegang janjinya. Namun, janji itu belum juga terealisasi karena Jeany belum menghubunginya. Jeany tak pernah memulai suatu percakapan. Selalu Yesung yang punya inisiatif. Untuk itu ia sempat ragu dengan perasaan gadis itu. Tapi kemudian ia teringat senyum tipis sebelum Jeany menutup pintu kala itu. Ia yakin tak salah mengartikannya.

“Sebaiknya kau selesaikan pekerjaanmu, lalu kau ke rumahnya, bawakan ia pizza.”

Tak butuh waktu lama baginya untuk mengiyakan saran Casey. Ia langsung tancap gas, mengantar semua pesanan lalu menyetorkan uangnya. Berita baiknya, ia tak perlu repot-repot membawakan pizza gratis ke rumah Jeany, karena Jeremy menghampirinya dan berkata bahwa Jeany memesan pizza.

“Kau serius?”

Jeremy menganggukkan kepala. Ia serahkan sekotak pizza padanya. “Aku akan mengatakan pada bos bahwa kau sendiri yang ingin mengantarkannya.”

Yesung memeluk Jeremy cukup erat seakan lupa bahwa ia sangat anti melakukan itu sebelumnya. Ia kecup pipi Jeremy lantas mengatakan, “Aku mencintaimu. Thanks.”

Jeremy membeku di tempatnya sementara Yesung sudah pergi. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia tiba di depan rumah Jeany. Ia lepas topinya, ia rapikan lebih dulu rambutnya dan juga seragamnya yang agak kusut. Dalam satu tarikan nafas ia pencet belnya. Pintu pun terbuka.

“Selamat malam, saya kemari untuk mengantarkan pizza pesanan anda.”

Jeany tersenyum melihat tingkah lakunya. Ia juga senang melihat Jeany. Kali ini gadis itu mengenakan rok mini berbahan jeans dengan blouse putih yang entah kenapa membuatnya lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Warna putih sepertinya sangat pas dengan Jeany. Ia juga menyukasi fakta bahwa Jeany tak mengubah lagi gaya rambutnya. Masih sama seperti malam itu.

Jeany pun mengambil pizza pesanannya, kemudian memberikan uangnya. Tanpa berkata apa-apa ia masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan pintu tetap terbuka. Yesung terpaku sesaat. Apakah ini sebuah sinyal?

“Kau mau terus disitu?”

Pertanyaan Jeany menyadarkannya. Segera ia masuk ke dalam, mengikuti langkah Jeany yang berhenti di depan lemari dapur.

“Orang tuaku sudah kembali ke London. Sekarang mereka mempercayaiku untuk mengurus diriku sendiri.”

Yesung tak begitu menanggapinya. Ia langsung duduk di sofa berwarna krim dengan meja persegi panjang di tengahnya. Terdapat televisi ukuran 31 inc yang sedang menyala memperlihatkan konser musik Aerosmith. Yesung mengambil remot lalu menaikkan volumenya sedikit.

“Kau menyukai Aerosmith?”

Jeany mendekatinya dengan dua gelas sirup. Mereka duduk bersebalahan. “Ya, aku sudah menyukai mereka sejak dulu.”

“Berarti kau punya koleksi kasetnya? Tidak begitu mudah mendapatkan kasetnya selama di Korea.”

“Mau kuperlihatkan koleksiku?”

Sekitar dua jam Yesung berada di rumah Jeany malam itu. Seakan tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, mereka terus mengobrol hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Yesung baru pulang saat ia menyadari belum kembali ke tempat kerjanya untuk menyerahkan uang. Tapi pertemuan mereka berlanjut setelah hari itu. Jika Yesung tak sempat mengunjungi rumahnya, maka Jeany yang tiba-tiba muncul di tempat kerjanya, membuat semua orang terkejut. Dihari minggu lalu, mereka bersepeda mengelilingi kota dan menghabiskan sisa hari itu bersama. Beberapa hari setelah itu, Jeany bahkan memintanya untuk ditemani melewati wawancara di DLB, salah satu stasiun televisi. Yesung menunggu dilobi sekitar setengah jam dan ia tak peduli dengan bunyi telepon dari bosnya. Ia tak mau meninggalkan Jeany.

“Yesung!”

Ia menoleh. Dari dalam lift, Jeany keluar dengan gembira. Yesung sudah akan bertanya, tapi Jeany lebih dulu mengejutkannya dengan memeluknya.

“Aku diterima! Aku diterima bekerja disini!” Jeany menjerit-jerit kesenangan tanpa melepaskan pelukannya. Yesung pun bingung. Kedua tangannya terangkat dan hampir membalas pelukan itu. Namun, seolah sama-sama baru menyadari semua itu, mereka sama-sama menjauhkan diri. Jeany mundur satu langkah, sesekali tersenyum malu dengan pipi merona. “Maaf.”

Yesung berusaha mati-matian menenangkan dadanya yang tiba-tiba saja terasa campur aduk. Ia seperti habis dibawa melaju kencang dengan mobil balap salah satu teman kakaknya. Ia kemudian menarik nafas. Ia tak mau kegembiraan ini berubah kaku. Dan ia tahu selama beberapa bulan ini, atau setelah aksinya mencium pipi Jeany malam itu, ia belum pernah lagi lancang untuk menyentuhnya selain pelukan yang baru saja ia terima. Sekarang, mungkin sudah saatnya ia sedikit lebih maju.

“Kau harus mentraktirku untuk merayakan ini.” Yesung memberanikan diri menyentuh telapak tangan Jeany, perlahan-lahan menggenggamnya lalu menuntunnya berjalan. Ia tak tahu apakah tangan Jeany memang sedingin ini atau tidak, tapi seperti apa yang ia rasakan, ini terlalu mustahil untuk ia lepaskan.

***

Yesung menyisihkan setengah dari gajinya untuk disimpan di dalam sebuah celengan yang disimpannya di bawah tempat tidur. Ia sudah melakukan itu sejak dulu. Ayahnya yang mengajarkan. Apalagi dengan kenyataan ia hidup berdua dengan kakaknya disini. Ia harus punya tabungan masa depan untuk berjaga-jaga. Namun, ia baru saja berpikir, kira-kira untuk apa uang itu ia gunakan? Ia sudah mendiskusikan itu dengan kakaknya. Dan dengan setengah bercanda kakaknya berkata untuk membeli cincin pernikahan. Kakaknya memang tak begitu menyenangkan diajak bicara. Padahal sudah sejak lama ia ingin mengajaknya duduk berdua lantas menceritakan hubungannya dengan Jeany. Kakaknya tidak tahu kalau ia sedang jatuh cinta. Kakaknya sama sekali tidak tahu kedekatannya dengan Jeany.

Sebenarnya ia sudah berniat untuk mengenalkan Jeany pada kakaknya dimalam natal kemarin. Tapi Jeany lebih dulu meminta maaf karena selama natal sampai tahun baru, ia akan berada di London bersama keluarga besarnya. Ia mencoba memahami itu. Jeany memang gadis yang begitu taat pada orang tuanya. Keluarganya juga adalah orang-orang yang sepakat bahwa dihari yang spesial seperti hari natal mereka harus berkumpul. Ia menyukai kenyataan itu sekalipun ia harus merelakan malam natalnya lagi-lagi dilewati bersama Casey dan teman-teman yang lain. Jalan-jalan ke pusat kota, melihat parade kembang api lalu bernyanyi di pinggir jalan. Biasanya itu akan jadi malam yang menyenangkan karena mereka mendapatkan uang dari orang-orang yang melihat penampilan mereka, tapi khusus hari itu, semua terasa hambar.

Ia jadi teringat cerita Jeany tentang keluarganya. Ayah Jeany bernama Shawn Hanks. Pria asli Inggris yang merupakan mantan pemain baseball tahun tujuh puluhan. Ia adalah orang yang tegas dan paling dihormati dalam keluarganya. Lirikan matanya sudah mampu membuat orang yang melihatnya merasa begitu kecil. Itu yang Yesung dengar dari Jeany. Sedangkan dalam bayangannya, ayah Jeany tak lebih menyeramkan dibanding mantan-mantan bosnya.

Kemudian Ibu dari Jeany bernama Lee Gyuri yang merupakan wanita asal Korea. Ia sejak kecil tinggal di London dan pertemuan pertamanya dengan ayah Jeany adalah saat mereka mengantri didepan loket untuk menonton konser The Beatles. Sama seperti ibu lain didunia, ia merupakan wanita yang baik, ramah dan penyayang. Tak seperti ayahnya yang  begitu protektiv, ia lebih bisa mengerti kemauan Jeany. Jeany mengatakan bahwa tak ada masakan yang lebih enak dari masakan ibunya. Dan satu hal lagi yang sempat membuat Yesung terbahak-bahak mendengarnya. Ibunya itu adalah mantan penari cheerleaders. Itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi karena Yesung tak tahu bagaimana rupa ibunya ketika muda, jadi yang muncul dalam bayangannya saat Jeany mengatakan itu sangatlah lucu.

Jeany juga mengatakan ia memilki empat orang paman dan semua merupakan adik dari ayahnya. Dua orang yang paling muda belum menikah dengan alasan tidak mau terikat hubungan dengan siapapun. Mereka ingin bebas. Bukan hanya soal pasangan hidup, mereka juga kompak soal selera makan, hobi dan waktu yang mereka habiskan untuk mandi. Mereka seperti saudara kembar yang beda kelahirannya mencapai dua tahun.

Selain itu, Jeany masih punya tiga keponakan yang rata-rata terpaut enam tahun lebih muda darinya. Ia juga punya seorang nenek dari ayahnya yang masih hidup. Neneknya itu merupakan orang yang tidak suka disebut tua. Ia selalu merasa wajahnya masih kencang dan bahkan ia pernah merajuk minta dibelikan pakaian renang.

Dimata Yesung, Jeany sangat mencintai keluarganya. Jeany bahagia berada di dekat keluarga sehingga ia tak melarangnya untuk pergi ke London. Meski tak bisa bertemu selama satu minggu, mereka tetap berkomunikasi dengan handphone, termasuk saat malam pergantian tahun. Saat itu Yesung menghubunginya, mengucapkan selamat tahun baru yang diselingi suara kembang api yang melesat dilangit.

Sekarang harusnya Jeany sudah pulang. Apalagi ia harus bekerja kembali besok. Tapi kenapa Jeany belum juga bisa dihubungi sejak pagi?

Ia sedang duduk di teras rumahnya melihat salju yang turun dan menyulap pekarangan rumahnya yang hijau menjadi rumah penguin. Ia tahu bukan pilihan tepat untuk duduk disana dengan cuaca seperti ini, tapi ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dari kejauhan, ia bisa melihat seseorang berjalan. Sepintas ia seperti melihat Jeany, tapi cepat-cepat ia tepis pikiran itu. Jeany tidak mungkin muncul dihadapannya tanpa memberi kabar. Jeany bukan Casey yang suka memberi kejutan. Namun, semakin lama seseorang itu semakin dekat ke arahnya, memasuki pekarangan rumahnya dan tahu-tahu sudah ada di depannya. Ia masih duduk kebingungan saat orang itu membuka tudung kepalanya.

“Boleh aku masuk?”

Yesung tak berkedip. Baru saat wanita itu mengulang pertanyaannya, ia sadar.

“Jeany?”

“Kau tak mengenaliku?”

Yesung hampir saja memeluknya kalau saja ia tak menahan diri. Yesung lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya, memberinya selimut dari kamarnya.

“Kenapa kau tak menghubungiku dulu kalau mau kemari? Diluar sangat dingin.”

“Kau sendiri kenapa duduk diluar?”

Yesung membalut tubuh Jeany dengan selimut lalu menyalakan perapian. Jeany tampak menggigil. Yesung pikir secangkir teh akan membantu. Ia ke dapur, membuat dua cangkir teh untuk mereka.

Yesung tak pernah tahu kalau Jeany bisa melakukan hal lebih nekat dari kaburnya ia saat mereka gagal menonton drama musikal kala itu. Berjalan kaki dari rumahnya kemari ditengah cuaca dingin bukan hal gampang. Harusnya ada hal penting. Ia sudah cukup mengenal gadis itu yang tidak suka menunda segala hal. Jika ia berkehendak, maka akan ia lakukan saat itu juga. Jeany juga lah yang membuatnya tak lagi telat mengantar pesanan.

“Jadi apa yang membuatmu kemari? Dan kapan kau kembali dari London? Kenapa tidak membawa mobil saja?”

Jeany menyibak rambutnya, lalu disampirkan ke bahu kanan. “Aku baru pulang pagi tadi dan aku kemari untuk menyampaikan sesuatu.”

“Tak bisa menyampaikannya lewat telepon?”

“Jadi kau tidak suka aku disini?”

Yesung menyela dengan cepat, “Jangan salah paham. Aku hanya khawatir karena diluar cuacanya sangat dingin.”

Jeany diam sejenak, seperti berpikir dan itu membuat Yesung merasa gugup. Apa kiranya yang akan disampaikan oleh Jeany sampai bisa membuat gadis super optimis itu kelihatan ragu? Tak sadar ia ikut-ikutan menarik nafas. Hingga kemudian, ia bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku sudah menceritakan hubungan kita pada orang tuaku.”

Yesung terhenyak. Ia tak tahu apakah dadanya masih bergerak naik dan turun saat ini. Ia terlalu terkejut.

“Maksudmu?”

“Tentang kita. Aku sudah menceritakan semuanya. Bagaimana kita bertemu, bagaimana kita pergi kencan dan……”

Yesung tak percaya jika Jeany benar-benar melakukannya. Oke, ia tahu kalau Jeany akan selalu terbuka pada keluarganya. Tapi ia rasa tak perlu seperti ini dengan membuka semuanya secara detail. Pertemuan mereka dan apa yang mereka lakukan cukuplah menjadi pengetahuan mereka saja. Itu menurut pendapatnya. Dan ia cukup kaget mengatahui bahwa Jeany berani mengatakan itu. Ia tidak yakin ini akan berjalan lebih baik dari sebelumnya jika hubungan mereka sudah diketahui. Pergi diam-diam melalui jendela jika orang tuanya datang terasa lebih menyenangkan dibanding berpamitan resmi bahkan memohon ijin.

“Lalu reaksi mereka?”

Jeany tampak lebih antusias. Ia mengatakan bahwa awalnya orang tuanya tak setuju. Mereka menjabarkan seribu alasan yang intinya Jeany belum saatnya untuk menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Ayahnya takut ia dipermainkan. Takut ia terjerumus ke jalan yang sesat. Takut anaknya berubah. Dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang ditelinga Yesung sama berlebihannya dengan sikap Jeany. Sekarang ia tak heran sifat itu turunan dari siapa.

“Berita baiknya, mereka mengundangmu makan malam.”

“Apa?”

“Kenapa? Kau terlalu senang?”

Ia yang tadinya akan bertanya langsung mengubah ekspresi begitu melihat Jeany. Justru gadis itu yang paling semangat dengan semua ini, sedangkan ia…….bingung. Ia tahu bukan sesuatu yang salah jika memenuhi undangan tersebut. Hanya makan malam untuk saling mengakrabkan diri, kenapa harus takut? Ia tak takut dan ia berani kalau hanya harus berhadapan dengan ayah Jeany. Ia hanya tak bisa prediksi maksud dan tujuan makan malam itu jika kenyataannya yang mengundangnya adalah sekumpulan orang yang berpikir sangat serius.

Pada akhirnya ia tak mungkin menolak. Selain karena tak mau menyakiti Jeany, ia juga tak mau disebut pengecut. Ia berani. Sekaku dan semenyebalkan apapun situasinya nanti, ia pasti bisa mencairkannya dan tidak kehilangan jati diri. Jadi Casey meminjamkannya kemeja terbaiknya. Ia tak menemukan kemeja yang dimaksud dalam lemari pakaian kakaknya. Maka tepat jam delapan malam, ia muncul di teras rumah Jeany. Casey yang menekan bel kemudian pergi begitu saja tanpa tanggung jawab. Sisanya, adalah urusannya sendiri. Ia yakin dengan dirinya.

Tak lama pintu terbuka. Jeany muncul dengan senyum terbaiknya lagi. Yesung sempat terpana dan tidak membalas sapaan Jeany. Jeany begitu berbeda malam ini. Ia mengenakan dress selutut berwarna putih dengan sedikit renda dibagian bawahnya. Dibagian atas, Jeany menutupinya dengan sweater tebal warna pink. Rambutnya digerai dengan penjepit kecil di sebelah kiri. Ia tak pernah melihat Jeany mengenakan make up, tapi kali ini Jeany sangat cantik dengan lipstick tipis. Melihat pakaian yang dipakai Jeany, ia tahu ini bukan makan malam biasa dan ia bersyukur karena ia tak salah mengenakan pakaian. Tadinya ia ingin memakai kaos biasa seperti tampilannya sehari-hari. Untung Casey mengingatkan.

“Masuklah.”

Ia pun masuk dengan menggandeng lengan Jeany. Mereka tiba di ruang makan yang sudah tersedia berbagai macam hidangan. Seperti kata Jeany beberapa waktu lalu, masakan ibunya adalah yang terhebat.

“Mom, Dad.”

Yesung tak menyangka perasaannya semakin menjadi-jadi kala orang tua Jeany membalik badan dan menatapnya. Ia menelan ludah. Orang tua Jeany tidak tampak istimewa, sama seperti orang tua lainnya. Ibunya cantik dan kelihatan awet muda. Ayahnya bertubuh tegap besar dengan beberapa helai rambut mulai memutih. Bentuk wajahnya begitu tegas, setegas rautnya yang belum juga tampak ramah.

“Oh, jadi kau yang bernama Yesung?”

Yesung mengangguk. “Selamat malam Mr. Hanks.” Ia membungkukkan badan seperti tradisi dinegara asalnya. Kemudian membungkuk lagi pada ibu Jeany. “Selamat malam Ny.Hanks.”

Ny.Hanks tampak senang melihatnya. Mungkin karena mereka berasal dari tempat yang sama. Yesung pun berusaha tenang. Ini belum apa-apa.

“Silahkan duduk. Mari nikmati masakanku.”

Jeany menarikkan satu kursi untuknya. Pertama-tama Mr.Hanks mengambil tempatnya dikursi utama, disebelahnya duduk Ny.Hanks yang tak henti mengumbar senyum. Ia dan Jeany duduk bersebelahan.

“Jadi benar kau berasal dari Korea? Sejak kapan kau tinggal disini?”

Ny.Hanks kembali membuka percakapan disela-sela kegiatan makan mereka. Yesung tersenyum sopan tapi tetap santai. Lama kelamaan ia bisa mengendalikan kegugupannya.

“Benar, aku berasal dari Korea. Aku kemari sejak lima tahun lalu karena ingin tinggal dengan kakakku.”

“Oh, kau tinggal dengan kakakmu saja? Bagaimana dengan orang tuamu?” Seperti halnya Jeany yang cukup cerewet, Ny.Hanks pun hampir sama. Tapi Yesung menyukainya karena artinya Ny.Hanks tak masalah dengan hubungan anaknya.

“Orang tuaku tinggal di Korea, tapi ibuku sudah lama meninggal. Aku kuliah disini dan lulus tahun lalu.”

“Berapa usiamu?”

“Dua puluh tiga tahun.”

Yesung terus menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari Ny.Hanks. Ia menikmati itu meskipun ia yakin kalau semua pertanyaan itu sudah dijawab oleh Jeany sebelumnya. Sesekali Jeany juga mengajaknya bicara dan mengambilkannya potongan daging sapi dari Cukkumi Jeon Jol serta kuah sup yang rasanya sangat lezat. Sudah lama ia tak makan masakan korea. Namun, dalam rentang waktu beberapa menit itu, Mr.Hanks belum juga mengajukan pertanyaan. Wajahnya masih kaku sekaku meja makan yang mereka pakai.

“Kau tahu? Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke Korea. Kalau tidak salah saat Jeany masih kecil.” Ny.Hanks terus menemukan topik baru yang tak ada habisnya. Yesung menanggapi dengan tenang.

“Korea sudah banyak berubah,” ujarnya singkat. Ia sudah akan melanjutkan saat tak sengaja matanya bertemu pandang dengan Mr.Hanks. Ia berusaha tidak tegang, lantas tersenyum.

“Apa pekerjaanmu?” Sebuah pertanyaan dari Mr.Hanks memaksanya menerima tawaran air putih dari Jeany. Ia tahu pertanyaan ini akan keluar dan inilah bagian paling penting. Ia menenangkan debaran jantungnya yang ia yakini sebelumnya tak ada, kemudian menjawab, “Aku adalah pengantar pizza. Kurasa Jeany sudah mengatakan itu.”

Mr.Hanks menyunggingkan bibirnya. Ia menyuapkan sayuran ke dalam mulutnya dengan tenang. “Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau pantas bersama putriku?”

Yesung meletakkan sendok dan garpunya sejenak. Ia putuskan untuk fokus menjawab pertanyaan Mr.Hanks. “Aku mungkin bukan pria kaya. Pekerjaanku berubah hampir setiap enam bulan sekali. Tapi aku bahagia. Aku senang dengan apa yang kulakukan. Dengan banyak mencicipi pekerjaan berbeda, pengalamanku bertambah.”

“Jadi menurutmu pekerjaan kecil seperti itu cukup berharga dan bisa membuatmu pantas ada disini?”

Yesung bisa melihat tatapan tak terima dari Jeany. Ny.Hanks juga tampak tak begitu suka dengan pertanyaan tersebut. Namun, Mr.Hanks seolah tak terpengaruh, ia terus makan dengan lahap.

“Aku diajarkan oleh kedua orang tuaku untuk tak malu melakukan apapun asalkan bukan mencuri atau melukai seseorang. Aku pernah bekerja menjadi penjaga tiket, badut taman, pelayan, kasir dan masih banyak lagi. Aku senang melakukannya. Selagi cukup untuk kehidupanku sehari-hari, tak masalah. Ah, tapi sekarang aku harus menyisihkan uangku juga untuk mentraktir Jeany,” selorohnya sambil tersenyum. Jeany pun membalas senyumnya, diam-diam menindih telapak tangannya di bawah meja. Yesung cukup bangga dengan apa yang ia katakan. Ia lalu melanjutkan, “Aku sendiri sebenarnya punya satu mimpi, menjadi penyanyi.”

Jeany langsung memandangnya heran. Yesung tahu ia tak pernah mengatakan itu sebelumnya. Tapi ia janji akan memamerkan keahliannya dalam olah vocal suatu saat nanti.

“Aku tidak akan bicara soal mimpimu itu. Aku juga sebenarnya tak masalah dengan pekerjaanmu. Hanya saja…” Mr.Hanks menggantung kalimatnya. Ia dan Yesung saling pandang untuk beberapa saat yang membuat Jeany meremas tangan Yesung semakin kuat.

“Jeany adalah putriku satu-satunya. Aku tidak mau ia salah jalan, aku tidak mau ia disakiti. Aku mau ia bahagia. Hanya itu.”

Yesung membalas pegangan Jeany. Dadanya seakan lapang mendengar itu. “Kau tenang saja, Mr.Hanks. Aku janji tidak akan menyakiti Jeany.”

“Dan aku tidak suka main-main. Kalau hanya ingin berkencan dan bersenang-senang, sebaiknya lepaskan anakku. Aku tidak punya toleransi untuk orang yang hanya menjadikan anakku sebagai bagian dari kesenangannya.”

Kata-kata Yesung tersendat. Inilah hal yang paling anti ia dengar sejak awal. Kedengarannya seolah ia dan Jeany adalah pria dan wanita dewasa di atas tiga puluhan yang sebaiknya lekas menikah. Mereka masih muda dan ia tak punya pikiran yang begitu jauh. Ia memang mencintai Jeany. Ia juga berani jamin bahwa tak pernah terbesit dipikirannya untuk menyakiti gadis di sampingnya ini. Tapi ia tak nyaman jika hubungan mereka yang sedang hangat ini harus ditekan dengan peringatan semacam itu. Ia lebih suka menikmati apa yang sedang terjadi, menjalaninya dengan santai dan biarkan waktu menjawab apakah mereka memang akan bertahan lama atau tidak. Untuk sementara, Jeanylah yang terbaik. Dan jika suatu saat terjadi hal yang tak diinginkan, itu bukan salahnya.

Jadi ia tak memperpanjang obrolan. Disisa waktu itu ia gunakan untuk menyantap semua makanan yang ada di atas meja. Ia memang lapar dan orang tuanya mengajarkan untuk tidak menyisakan makanan. Setelah itu Mr.Hanks juga tidak lagi bertanya. Setelah makan ia memilih masuk ke kamar dengan alasan ada sesuatu yang harus dilakukan. Sementara Ny.Hanks mengajaknya duduk bersama di ruang keluarga lantas menceritakan banyak hal, termasuk soal puji-pujian untuk Jeany. Jeany anak yang pandai di sekolah. Jeany anak yang mudah bergaul. Jeany anak yang patuh. Jeany anak yang tidak hanya cerewet dalam bicara tapi juga dalam hal makanan. Jeany tak suka sayur sawi dan anti memakan daging bebek. Jeany begini dan begitu. Yesung mencatat semuanya dalam memorinya yang besar itu. Hingga tiba waktu baginya untuk pulang, Ny.Hanks membiarkan Jeany untuk mengantarnya hingga depan.

“Ayahmu lumayan juga.”

Tangan mereka masih berpagutan. Mereka tak menyadari itu. Mereka begitu menikmatinya seperti lupa bahwa beberapa waktu sebelumnya mereka begitu jarang melakukan kontak fisik.

“Ya, ayah memang tegas. Tapi aku yakin dia akan cocok denganmu. Kau bisa bermain catur dengannya lain kali, atau mengajaknya nonton Liverpool di Anfield.”

“Aku bukan the kopytes dan aku tidak yakin akan berjalan semulus itu, bukankah kau bilang besok mereka akan kembali ke London?”

Jeany tertunduk lesu. Memang sedikit kesempatan bagi Yesung supaya dekat dengan keluarganya. Tapi tak apa. Malam ini adalah langkah pertama yang cukup sukses.

“Maaf jika aku lancang, tapi aku rasa ayahmu terlalu berlebihan menganggap hubungan kita.”

Jeany berhenti berjalan tepat di depan pagar rumahnya, bukan karena mereka telah tiba pada waktu perpisahan, melainkan karena perkataan Yesung barusan.

“Tapi tadi kau bilang….”

“Oke, aku mengatakan bahwa aku mencintai, aku akan menjagamu dan aku berani jamin tak ada satu gorespun luka jika kau bersamaku. Tapi menakut-nakutiku seperti itu membuatku merasa…….entahlah, rasanya kurang nyaman. Aku ingin kita jalani ini dengan tenang tanpa paksaan dari pihak manapun, termasuk orang tuamu. Kita saling mencintai dan akan saling menjaga. Untuk saat ini hanya itulah yang terpenting.”

Jeany melepaskan tangannya dengan pelan. Yesung coba mencari-cari raut bahagia yang sebelumnya terpancar jelas diwajah itu. Apakah ada yang salah dengan perkataannya? Oh, jangan bilang kalau Jeany pun sudah berpikir kemana-mana.

“Aku pikir kau dan aku…”

Yesung segera memegang kedua bahunya. Ia tahu mereka sudah melewati cukup waktu penjajakan dan sekarang ia tak mau Jeany salah kaprah.

“Jeany, keseriusan datang bukan melalui kata-kata. Bukan berarti aku ingin main-main denganmu, tapi kita masih muda. Aku juga yakin kau masih ingin mengejar mimpimu. Jadi biarkan hubungan kita menjadi lebih berguna saat ini. Kita saling mendukung, saling menyemangati dan selalu hadir disaat membutuhkan. Itu cukup. Kau mengerti?”

Yesung memegang dagu Jeany dan saat itu juga ia merasa dadanya berdesir. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekatkan wajahnya. Untuk beberapa saat ia hampir yakin akan melakukannya, tapi kesadarannya kembali dan ia menjauhkan wajahnya. Ia tak yakin, ia belum yakin. Namun, apakah ini hanya perasaannya saja atau memang benar Jeany tampak kecewa?

“Sebaiknya kau pulang. Aku masuk dulu.” Jeany menyerongkan tubuhnya ke kiri lalu mulai melangkah melewati pagar rumahnya. Tak tahu perintah darimana, Yesung menarik lengannya. Dan saat Jeany memalingkan wajah ke arahnya, ia menyatukan bibir mereka. Yesung membiarkan instingnya bekerja hingga tak lama ia sadar kedua tangan mereka sudah berpagutan erat. Pagar besi kecil setinggi pinggang itu tak menghalangi. Semua berlangsung cukup lama.

Itu bukanlah ciuman yang menggila dan penuh gairah seperti yang ada dalam benak kalian. Dengan cara sederhana, itu adalah ciuman pertama dan sangat berkesan bagi mereka. Dan bagi Yesung sendiri, itu adalah malam yang takkan terlupakan bahkan hingga kulitnya mengeriput nanti.

***TBC***

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. inggarkichulsung
    Jun 25, 2015 @ 07:00:33

    Aigoo Yesung oppa mulai berani kissue Jeany, wajar kalau Jeany beranggapan bhw ayahnya benar dan mengira bhw yesung oppa akan benar2 serius dgn hub ini dan akan membawanya ke sebuah tahta pernikahan.. Mgk mnrt yesung oppa terlalu cepat tpmmenurut Jeany sbg pihak wanita ia pantas u berharap seperti itu di hub mereka skrg, meskipun blm lama

    Reply

  2. sssaturnusss
    Apr 29, 2016 @ 10:11:18

    Nah kaannn FF begini yang bikin aku suka baper hahaha suka kebawa suasana wkwkwk

    Aku ngga tau apa harus membenarkan pemikiran Yesung, atau pemikiran Jeany dan ayahnya ~
    Seruuu .. FF nya bikin aku pengen terus baca dan tau kelanjutannya .. Karena di part awal Yesung cerita tiba-tiba ada Jeany di dalem cafe. Nah aku langsung banyak menerka nereka tentang mereka dan memang ngga ketebak bakal gimana selanjutnya hihihi

    Reply

  3. Lalala
    Jun 26, 2016 @ 00:28:01

    Ff nya bikin penasaran, feel nya dapet.. Trimakasih udh nulis

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: