[FF Of The Week] Rain in My Heart

kyu

Nama                          : Summer Song
Judul Cerita                  : Rain in My Heart
Tag (tokoh)                  : Cho Kyuhyun, Aku
Genre                          : Romance
Rating                          : Pg 17
Length                         : Oneshot
Catatan Author            : Haaaaaaiiiiiii…….. Ini ff kedua yang saya kirim ke SJFF. Udah pernah di publish di blog lain tapi saya tetep mau kirim kesini… Dan FF ini murni hasil imajinasi saya… Jangan lupa main ke blog saya yang super ancur di http://songsummer.wordpress.com/. Kamsahamnida…

 

Rain in My Heart

Taman itu Nampak tak jauh beda dengan taman taman lain di kota Seoul. Pohon, bunga, kolam, air mancur. Nampak teduh dan menyenangkan terlebih karena ini musim semi. Namun tak ada pengunjung yang terlihat betul betul bahagia disana meskipun sebagian dari mereka berusaha tersenyum. Mereka tampak muram. Aku bisa memahaminya. Tak ada orang yang bahagia berada di Rumah Sakit. Termasuk aku.

Aku mendorong pelan kursi roda itu dan berhenti di bangku panjang dekat kolam ikan.

“Kau ingin duduk disini?” tanyaku sambil bersiap membantunya turun.

Pria itu mengangguk namun menolak ku bantu.”Aku bisa sendiri…” katanya lembut. Dan dia membuktikannya. Dia duduk di bangku panjang itu. Aku menirunya.

Sunyi.

Perih itu kembali menggurat ulu hatiku. Aku menatapnya sekilas. Dia Nampak tenang. Nampak lapang. Nampak tak terbebani oleh penyakit mengerikan yang terus menggerogoti usianya hari demi hari.

“Kau lelah?” Tanyanya memecah keheningan.

“Eh?” Aku tak mengerti.

“Apa kau lelah bersamaku setiap hari?” Dia memperjelas pertanyaannya.

Aku menatapnya sakit.

“Kau pasti lelah…” Katanya lagi. “Kau telah melakukan begitu banyak untukku…”

Aku menggeleng pelan. Aku memang  lelah. Namun bukan karena aku harus  setiap hari bersamanya. Aku lelah karena setiap hari selalu dibayang bayangi kenyataan bahwa dia, seseorang yang begitu berarti untukku, telah divonis dokter kalau sisa usianya hanya tinggal hitungan bulan.

Dia merangkulku, seakan mengerti sakit yang kurasakan, mengabaikan sakitnya sendiri yang sebenarnya berkali kali lipat lebih nyata. Aku bersandar di bahunya.

***

Musim gugur hampir dua tahun lalu, di minggu minggu pertamaku di Cambridge,  aku pertama  bertemu dengannnya. Pertemuan yang sungguh tak romantis karena  diwarnai cekcok kecil gara gara masalah antri. Di sebuah kedai kopi beberapa hari kemudian kami kembali bertemu. Dia  minta maaf dan aku sebenarnya juga sudah memaafkannya, bahkan sejujurnya aku telah melupakan kejaadian tersebut, namun perkataannya “Kau pasti seorang Indonesia” yang terdengar menyelidik, curiga dan cari masalah di telingaku sukses berat membuatku panas.  Memangnya kenapa kalau aku orang Indonesia? Dia mau menghinaku? Dia mau mengatai aku bodoh? Dia mengira aku tak bisa berbahasa Inggris? Dia mau bilang aku pemalas? Atau dia mengira aku teroris? Aku sudah banyak membaca dan mendengar  betapa orang Indonesia sering dipandang sebelah mata dan ditertawakan di dunia internasional karena berbagai permasalahan yang terjadi di Tanah Air tecintaku tersebut, tapi aku sungguh tak mengira kalau itu benar benar akan kualami dan bahkan menimpaku sebelum genap satu bulan aku berada di benua ini. Aku sudah siap menyemburkan kemarahanku kepada pemuda tak bermoral itu namun beberapa detik sebelum aku meledak dia melanjutkan kalimatnya yang rupanya belum selesai dan cukup membuatku tercengang …  “Aku suka sekali Indonesia, aku pernah tinggal disana waktu kecil, jadi anggap saja aku saudara sebangsamu…”

Kami kemudian berkenalan. Sama sepertiku dia mahasiswa Cambridge, hanya saja beda fakultas dan dia berada tiga tingkat di atasku. Dia berkebangsaan Korea Selatan dan sempat 5 tahun tinggal di Indonesia saat dia masih kecil. Hari dimana kami resmi berkenalan itu, dia sibuk memamerkan kebisaannya berbahasa Indonesia kepadaku sementara aku sibuk terpesona pada wajahnya, pada dirinya; matanya yang tajam, hidungnya yang tinggi, rambutnya yang tebal, pendeknya aku terpesona pada keseluruhan dia. Bagiku dia seakan mahakarya yang khusus dipahat Tuhan untuk menjadi sempurna. Dia seperti pangeran tampan di dongeng-dongeng yang sering kubaca dan kudengar saat kecil. Dalam hitungan menit aku segera sadar, bahwa padanya, aku akan dengan mudah jatuh cinta.

Kami akhirrnya menjadi teman baik sebelum aku benar benar akrab dengan siapapun. Maka kemudian dialah satu satunya orang terdekat yang kumiliki. Dia memperkenalkan ku pada berbagai sudut Cambridge, membantuku menghafal jalan dan bangunan-bangunan penting. Menunjukkan padaku dimana wadah orang-orang melayu sering berkumpul, mengajakku bertemu ayah ibunya yang sedang berkunjung.  Dia juga menemaniku pergi ke took buku, bermain basket, melihat bunga saat musim semi, menonton pertunjukan. Dia menghiburku saat aku sedang sedih atau bosan. Dia menyanyi dan bermain piano untukku. Dia seperti mewakili segalanya; teman, saudara, keluarga. Dia pengobat segala kerinduan dan kesepianku  yang akut karena merasa sendiri dan jauh dari kampung halaman.

Dua bulan lalu dia melamarku dan aku menerimanya. Tanggal resepsi telah ditetapkan. Aku pun telah mengabari orang tuaku dan mereka memesan tiket sejak jauh jauh hari. Tiga  hari sebelum hari H dia pingsan dan dokter memvonisnya kanker otak stadium lanjut. Kalimat kalimat dokter sesudahnya tak sedikitpun ku mengerti — kanker agresif, menyerang saraf pusat— yang kumengerti hanyalah bahwa seketika  dunia terasa gelap bagiku.

Aku shock, terpukul, menyalahkan diri sendiri karena sebelumnya tak pernah tanggap. Tak tanggap saat dia mengeluh kalau kepalanya sering sakit, tak tanggap saat dia sering  muntah tanpa alasan yang jelas, saat dia semakin cepat lelah, dan saat berat badannya turun dari hari kehari. Selama tiga hari lamanya aku mengasingkan diri di kamar, menangis sejadi jadinya, menyesali keadaan — menolak makan, menolak mengangkat telpon dari semua orang. Sampai akhirnya aku sadar bahwa dialah yang  menanggung beban dan sakit yang sebenarnya. Dan betapa egoisnya aku meninggalkannya saat mungkin dia benar benar membutuhkanku.

Hari itu aku nekat menyusul dia yang ternyata telah terbang ke Seoul. Orangtuanya yang juga terpukul berpendapat bahwa akan jauh lebih baik kalau dia pulang ke negaranya dan berada di tengah keluarga dan kerabat sambil terus menjalani pengobatan. Mereka kaget saat aku tiba-tiba datang setelah tiga  hari menghilang tanpa kabar berita. Kukatakan aku tetap ingin pernikahannya di laksanakan. Dua hari setelahnya  kami melangsungkan pernikahan yang sangat sederhana. Hanya dihadiri teman dan kerabat dekat. Orang tuaku tak bisa hadir, atau mungkin tak ingin hadir, entahlah. Saat aku meminta izin lewat telpon dan menjelaskan keadaannya, ayah dengan lembut dan sabar menyampaikan pemikirannya tentang mengambil keputusan untuk menikah dengan penderita kanker stadium lanjut,  hal hal berat yang akan kuhadapi resiko yang harus kutanggung, dan apa saja yang mungkin harus rela ku korbankan, sementara ibu hanya memintaku mempertimbangkannya masak masak dengan suara yang kentara sekali mengandung tangis. Aku mengerti, teramat mengerti, bahwa, dibalik semua itu mereka tak rela. Namun bagiku sendiri aku seperti merasa tak punya pilihan lain. Di hari pernikahan itu aku menatapnya dalam, dan aku pun  mengerti bahwa tak ada yang berubah hanya karena dia sakit, bagiku dia tetap sosok pangeran dari negeri dongeng yang selalu sukses mempesonaku setiap aku menatap matanya.

Aku kemudian mengambil cuti kuliah untuk tinggal di Seoul bersamanya. Menghabiskan setiap hariku untuk menemaninya, mengurus semua keperluannya, menguatkannya  dan kemudian berdo’a untuk kehidupan kami sebisaku. Aku melepaskan kehidupan normal yang seharusnya kujalani untuk bertahan  dan mendampinginya menghadapi  penyakit mengerikan itu.

***

Mentari perlahan bergerak ke arah barat, melukis semburat jingga keperakan di langit. Kami masih duduk di bangku taman. Aku bersandar di bahunya. Menggenggam erat jemarinya. Merasakan tiap tarikan  nafasnya. Menikmati kenyataan bahwa saat ini kami duduk berdampingan dan hidup. Miris memang, tapi aku yang terus disadarkan bahwa tubuhnya digerogoti penyakit mematikan yang bisa mengambil nyawanya kapan saja,  telah terbiasa untuk mensyukuri dan merayakan sekecil apapun momen kebersamaan kami. Aku diam, tak menatap kemana mana dan tak mencoba melakukan apa apa selain mengumpukan sebanyak mungkin kenangan yang kami lalui  untuk ku simpan  dalam memori terdalamku nanti. Aku menggigit bibirku. Perih. Tuhan bisakah kau berikan kejaiban. Hanya agar dia tetap menemaniku seperti ini. Tak apa meskipun dia tak bisa bekerja, tak apa meskipun aku yang harus mencari nafkah untuk kami. Tak apa meskipun aku yang harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah setiap hari.  Aku tak akan protes. Aku bahkan tak akan keberatan  seandainya aku benar benar harus melupakan kuliahku agar aku bisa mengurusnya. Aku mau melakukan semuaanya asalkan dia tetap ada di sampingku.

Dia mengusap rambutku. Bibirnya mengecup lembut kepalaku. Aku memeluknya. Berusaha menahan airmata yang terasa telah membasahi sekujur tubuh. Ini tak pernah mudah bagiku. “Aku tau kau kesakitan, tak apa kalau kau ingin menangis, tak apa kalau kau ingin mengeluh…” Kataku mencoba  menguatkannya.

Dia diam sesaat, mengambil nafas dengan susah payah kemudian menjawab dengan suara yang lembut “Aku merasa tak pantas untuk mengeluh…”. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya. “Tuhan memberiku hidup yang luar biasa selama ini… kaya, pintar, tampan…” Dia berhenti sebentar dan  balas menatapku. Menunggu reaksiku. Sebelumnya  aku selalu protes bila dia sudah mulai menggodaku dengan membanggakan dirinya. Namun kali ini aku hanya diam sambil menatap  mata indahnya.  Dia melanjutkan, “aku diberkahi dengan segala kemudahan sejak aku lahir, dan aku tak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘kenapa harus aku yang menerimanya?’  Aku tak pernah bertanya kenapa saat aku sekolah aku selalu mendapatkan nilai terbaik tanpa pernah susah susah belajar. Aku tak pernah bertanya kenapa aku bisa selalu mendapatkan apa yang kumau tanpa perlu susah payah berusaha. Aku tak pernah bertanya kenapa aku terlahir di tengah keluarga yang selalu mencintaiku meski kadang aku sangat nakal dan merepotkan…” dia berhenti lagi sesaat, suaranya melembut. “Aku juga tak bertanya saat seorang bidadari dari tempat yang tak pernah kubayangkan datang dan menjadi bagian hidupku, dan tetap mau menjadi bagian hidupku  bahkan disaat aku hanya bisa membuatnya bersedih dari hari ke hari…” Dia mengusap airmataku yang jatuh tanpa  kusadari. Tangannya mengusap bahuku. Mencoba menenangkanku. “Aku merasa tak pernah pantas untuk mengeluh kepada Tuhan sementara Dia telah memberikan 23 tahun kehidupan yang luar biasa untukku…” Katanya pelan. Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahunya. Berusaha menahan isak. Kenapa dia begitu ikhlas menerima penyakitnya?

“Maaf karena aku kau harus sering menangis seperti ini…” Dia berbisik lemah di telingaku.

Aku menggeleng, mengusap airmataku dan menatap matanya. Dokter bilang aku harus selalau kuat agar aku juga  bisa menguatkannya. Tapi bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya. Bagaimana bisa aku berlagak kuat, berlagak ceria dan bertingkah seolah semua baik baik saja sementara setiap harinya aku selalu dihantui oleh pertanyaan ‘akankah hari ini jadi hari terakhirnya? Akankan hari ini menjadi hari terakhir kami?’ Aku tak akan pernah kuat menghadapi semua ini.

“…maaf  aku tak bisa menjadi suami yang baik untukmu …”

“Tolong berhenti berbicara seperti itu…” Potongku serak sambil mencoba tersenyum untuk meyakinkannya bahwa aku tak pernah sedikitpun menyesali pilihanku untuk bertahan di sisinya,  “kau jauh lebih baik dari yang bisa aku pinta. Aku sungguh beruntung memilikimu di hidupku, Tuhan sungguh baik hati memilihku untuk menjadi pendampingmu…” kataku jujur. Aku hanya berharap kau bisa hidup dan menemaniku lebih lama. Tetap ada di sampingku hingga usiaku menua…

Angin musim semi berhembus pelan. Membawa aroma bunga bunga yang bermekaran. Hingga senja jatuh aku masih disana bersamanya. Menatap kolam ikan, menatap air mancur, menatap langit, menatap matahari terbenam, menatap apa saja yang akan berarti sebuah kenangan indah saat waktunya telah tiba nanti.

“Pernahkah aku memberitahumu betapa aku mencintaimu?” Tanyaku sambil menggenggam tangannya.

Dia menoleh.

“Aku sangat mencintaimu. …” Kataku lagi sebelum dia sempat menjawab. “Aku sungguh mencintaimu…”

Dia tersenyum. “Aku tau…” katanya sambil kembali menyandarkan kepalaku di bahunya. “Kau tak akan berada disini seandainya kau tak mencintaiku. Terimakasih karena sudah datang ke dalam hidupku… Bagiku kau hal paling menakjubkan yang pernah terjadi…”

Aku mengangguk pelan sambil terus bersandar di bahunya. Menonton sinar emas matahari yang perlahan menghilang terhalang bangunan rumah sakit.  Tuhan, tak bisakah Kau hentikan waktu untuk kami?

***

Hari ini dokter mengijinkannya pulang. Sejak seminggu terakhir kesehatannya memang mengalami perbaikan dan dokter bilang tak apa kalau kami ingin meninggalkan rumah sakit untuk sementara, hanya saja dia tetap tak boleh kelelahan dan tetap harus mengkonsumsi obat secara teratur. Ibunya menjemput kami ke rumah sakit dan mengantarkan kami pulang ke rumah sebelum kemudian beliau pergi lagi karena ada urusan bisnis yang benar benar tak bisa ditinggalkan. Aku tak mengeluh. Aku senang menghabiskan waktu berdua bersamanya.  Terlebih di rumah kami. Rumah yang nyaman di sudut kota Seoul, hadiah pernikahan dari orangtuanya.

“Apa yang ingin kau lakukan? Pokoknya hari ini kita akan bersenang senang dan aku akan melakukan apapun yang kau mau…” Katanya ceria, aku tersenyum menatapnya, seharusnya aku yang mengucapkan kalimat tersebut.

Aku mengangkat bahu ragu. Telah lama aku tak pernah benar benar menginginkan apapun darinya selain agar dia bisa terus  hidup bersamaku.

Kami sedang berada di ruang santai. Aku membaringkan tubuhku di sofa, sedikit kelelahan. Harus kuakui bahwa semenjak dia sakit aku jadi banyak kehilangan waktu istirahatku. Kanker otak yang dideritanya membuatku lebih sering terjaga,  bahkan saat dia nampak baik baik saja aku tetap susah tidur karena terbebani dengan berbagai macam pikiran dan ketakutan. Ditambah lagi tanpa sepengetahuanku sebelumnya, sejak dua tahun terakhir dia ternyata telah memegang posisi penting di beberapa  bisnis keluarganya. Dan karena saat ini dia tak bisa mengurusnya, tanggung jawabnya banyak yang dialihkan kepadaku selaku istrinya. Aku menarik nafas panjang. Baru kusadari ternyata sudah lama aku melupakan apa itu beristirahat dengan tenang.

Maka, alih alih menanggapi ajakannya untuk bersenag senang aku malah memejamkan mata. Maaf sayang, aku benar benar kelelahan saat ini.

Aku telah setengah terlelap saat alunan music yang begitu menenangkan menyapa telingaku. Lagu milik Yiruma yang berjudul River Flows in You, aku sangat mengenal lagu itu. Dia sering memainkan lagu tersebut untukku sebelum dia sakit dulu. Aku pun mengangkat wajah, mencari asal bunyi, dan mendapatinya sedang memainkan piano dengan syahdu.  Aku bangun dan beranjak mendekatinya. Dia menghentikan permainannya dan menatapku, “apa aku membangunkanmu?” tanyanya nampak merasa bersalah. “Aku kira aku bisa membuatmu tidur lebih nyenyak dan bermimpi indah dengan memainkan lagu ini…” Dia menambahkan dengan polos.

Aku menggeleng. “Tak apa… aku sangat menyukai lagunya, aku tak ingin mendengar nya  sambil tidur…” kataku, “tolong mainkan lagi lagu itu untukku…”

Dia tersenyum dan menggeser duduknya. “Duduklah disampingku.” Pintanya. Aku menurut.

Dia mulai kembali bermain dan aku terbawa kedalam denting yang seakan mewakili semua perasaan itu. Bagi kami lagu itu seakan bercerita tentang kami, tentang hidup, tentang pertemuan, tentang ratusan hari yang telah kami bagi bersama dan masih ingin kami bagi hingga puluhan ribu hari lainnya. Tentang betapa kami saling membutuhkan, tentang betapa kami saling memuja, tentang betapa kadang takdir benar-benar berputar diluar kendali kami. Aku menatap wajahnya yang menenangkan dan aku tak bisa menahan diriku. Aku mendekatkan wajahku dan mengecup pipinya. “Aku mencintaimu…” bisikku pelan. Dia masih terus bermain namun kali ini dengan mata terpejam. Aku bersandar di bahunya dan terhanyut.

***

Besoknya, sekita pukul tiga pagi aku terbangun dari tidurku. Aku hampir selalu terbangun pada jam-jam sekitar itu untuk berdoa, kebiasaan baruku semenjak dia divonis sakit. Entahlah, aku hanya merasa nyaman dan lebih bebas berbicara kepada Tuhan karena pada saaat seperti itu orang-orang sedang tidur, tak ada yang memperhatikanku, tak ada yang menggangguku, tak ada yang melihatku. Aku bebas berlama lama curhat dan memohon kepada Tuhan. Memohon agar dia bisa sembuh dari sakitnya dan kami bisa hidup bersama sampai tua. Walaupun dokter terus memperingatkanku untuk perlahan belajar mengikhlaskannya namun aku tak peduli. Aku percaya Tuhan lah yang menentukan umur manusia, dan selama dia masih bernafas, aku rela melakukan apapun untuk mempertahankan nafas tersebut.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku untuk mengumpulkan kesadaran dan saat aku menoleh kudapati tangannya melingkar di pinggangku. Dia Nampak amat tenang dan itu membuatku sedikit khawatir. Pelan ku dekatkan jariku ke hidungya. Masih bernafas. Dan hal tersebut cukup bagiku untuk mengucap syukur pertamaku di hari itu.

Namun kali ini, hari kami telah dimulai dengan indah. Bagiku yang setap kali bangun tidur  telah terbiasa mendapati ruangan beraroma obat dan dia yang disekujur tubuhnya dipasangkan brebagai alat bantu medis, mendapati kali ini kami terbangun di rumah, berpelukan,  layaknya pasangan suami istri lain, aku lagi lagi mengucap syukur kepada Tuhan.  Kusentuh wajahnya yang terlelap. Sungguh indah. Bagaimana mungkin aku mampu berpaling dari wajah seindah  ini. Jemariku menelusuri tiap inci wajahnya dan tiba tiba dia membuka mata.

Aku tersenyum menatapnya. “Selamat pagi, maaf membangunkanmu…”

“Selamat pagi…” jawabnya membalas senyumku. Tangannya masih melingkar di pinggangku dan dia menatapku dalam jarak yang sangat dekat. Jantungku berdegup kencang.

“Tidurlah lagi,” pintaku, “ini masih terlalu pagi untuk bangun…”

Dia menggeleng, “aku tau kau selalu bangun sepagi ini, aku sering melihatmu berdo’a sambil menangis…” Katanya membuatku terdiam. Tiba tiba suasana terasa hening dan aku takut hari indah kami akan segera berakhir karena topik pembicaraan yang tak kusukai.

“Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti menangis?” Ternyata dia memang ingin membahas itu. Tak cukup jelaskah baginya aku menangis karena aku mencintainya dan tak mau kehilangannya. Tak mengertikah dia bahwa cita cita terbesarku adalah memiliki hidup yang panjang bersamanya namun kanker otak yang di deritanya menghancurkan itu semua. Dan aku tak pernah tau aku harus memprotes pada siapa? Maka apa lagi yang mampu kulakukan selain menangis?

“Jangan menangisiku…” katanya lagi, “Kau masih muda dan cantik. Kalau aku mati nanti menikahlah dengan lelaki lain, apa susahnya? Akupun di surga nanti akan dikelilingi bidadari-bidadari, jadi jangan mengira aku tak bahagia. Kalau nanti kita semua sudah sama-sama di surga dan tiba tiba kita bertemu, jangan lupa untuk mengenalkan suami barumu kepadaku… haha…” Katanya diiringi tawa garing. Kalau dia mengaggap itu sesuatu yang lucu dia salah besar. Itu sama sekali tidak lucu.

Aku menatapnya tajam dengan bibir bergetar karena emosi. Dia kira aku seperti itu? Dia kira semudah itu bagiku untuk berpaling kepada orang lain. Dia kira selama ini aku tak pernah merasa sakit saat melihat dia kesakitan. Dia kira aku tak akan merasakan kehilangan kalau dia pergi. Tidakkah dia berpikir buat apa selama ini aku susah payah merawatnya, meninggalkan kuliahku,  melupakan masa muda yang harusnya masih kunikmati dengan bersenang-senang, kalau ternyata perasaanku padanya sedangkal itu? Aku benar benar marah namun tak mengucapkan sepatah katapun. Aku takut jika aku mencoba membuka mulut maka yang keluar adalah jeritan bercampur tangisan.

Tiba tiba dia mengeratkan pelukannya di pinggangku. Membenamkan wajahku ke dadanya. Aku terisak tanpa mampu kutahan. Marah, kecewa, lelah, sakit. Dia mengusap rambutku pelan lalu menjauhkan wajahku dari dadanya. Dia menatapku lekat lalu kemudian mencium keningku, pipiku, hidungku dan terakhir bibirku. Pelan, lembut dan lama. Saat bibir kami terpisah kudengar isakanku yang masih tersisa sepotong-sepotong. Dia mengusap bibirku pelan dan kembali mengecupnya sebentar. Kutatap matanya dengan penuh rasa jatuh cinta. Semua kegalauanku telah hilang entah kemana.

“Berjanjilah untuk bahagia…” Pintanya, “demi aku… kau kira seperti apa perasaanku melihatmu terus menangis karena aku?

Aku masih terdiam tanpa berniat mengatakn apapun. Kepalaku di dadanya. Tangannya kembali melingkar di pinggangku. Beginikah hidup seharusnya? Damai.

“Berjanjilah untuk bahagia…” dia mengulang permintaannya. “Jangan buat aku merasa seperti seorang penjahat karena terus terusan menyakiti bidadari sepertimu…” Aku mengangguk dalam pelukannya.

“Terimakasih…” katanya. Aku mengangkat wajahku sedikit dan kudapati dia tersenyum. “Sekarang bantu aku bangun. Kita akan berdo’a sama-sama…”

Aku sedikit terperangah sebelum kembali membenamkan wajahku di dadanya dan mengangguk. Perlu beberapa saat bagiku untuk mengangkat wajah demi menyembunyikan airmata haru  yang meleleh tanpa mampu kutahan.

Maka hari itu, saat pagi masih gelap dan mentaripun belum terbangun, kami telah terhanyut dalam hening yang panjang, tenggelam dalam suara hati, keluhan, pengaduan dan permohonan tulus  pada Sang Pencipta kehidupan.

***

Hari-hari sesudanya adalah hari-hari terindah yang pernah kami lalui sepanjang pernikahan kami. Kami menghabiskan waktu kami dengan melakukan segala sesuatu yang kami mau. Aku senang memasak maka setiap hari aku memasak untuknya, mengajarinya memakan berbagai masakan Indonesia dan membuat kue kue  kesukaannya. Sementara dia senang menggangguku atau kalau tidak dia menunggu dengan bermain piano dan menyanyikan lagu lagu gombal tahun 80an. Kami tetap rutin  pergi ke rumah sakit untuk berobat namun aku senang karena tak pernah sampai menginap. Di lain waktu kami senang pergi keluar untuk sekedar menghabiskan waktu di taman kota atau ke danau buatan di dekat rumah atau mengunjungi orang tuanya. Rasanya seperti menjalani kehidupan normal milik orang lain.

Namun sayang, semua itu tak berlangsung lama. Tak selama yang kami mau. Dihari ke 27 berada di rumah, saat  aku sedang mencuci piring sesaat setelah kami makan siang, dia tiba tiba berteriak kesakitan dan saat aku mendatanginya dia telah pingsan. Kami kembali ke rumah sakit dan betapapun aku telah berjanji untuk tak lagi mennagisinya, demi melihatnya yang tergeletak pucat dengan semua alat bantu yang terpasang di tubuhnya, aku terpaksa melanggar janjiku sendiri.

***

Semenjak itu kami tak lagi pernah pulang ke rumah. Kondisinya yang semakin menurun dari hari ke hari mengharuskan kami untuk selalu berada di rumah sakit. Ibu dan ayahnya setiap hari datang menjenguk namun jarang sampai menginap. Dokter sering memanggilku, memberiku pengertian tentang penyakitnya yang sebenarnya tak pernah ingin kumengerti. “Waktunya tak lagi lama, secara perlahan dia akan kehilangan banyak kemampuannnya. Kemampuan melihat, gangguan berbicara dan berfikir. Kau harus mulai mempersiapkan dirimu untuk menghadapi semua itu… ” Kata kata dokter tempo hari kembali terngiang di benakku.

Aku menggigit bibir menahan perih.

“Ehhh…” tiba tiba dia mengeluarkan suara dan aku mendekati tempat tidurnya dengan gugup. Dia membuka mata dengan susah payah. Aku menunggunya mengumpulkan kesadaran dan menyapanya “Hai…”

“Hai…” dia menjawab dengan suara yang sangat lemah. Beberapa saat dia terdiam sambil mengamatiku dengan matanya yang setengah tertutup. “Kau setiap hari bangun pagi pagi dan berdandan untuk menungguku bangun? Hmmm?” Tanyanya pelan.

Aku mengangguk dan tersenyum menatapnya, “Apa aku cantik?” Aku balik bertanya.

“Kau tak perlu berdandan hanya untuk membuatku terpesona…” jawabnya, “kau yang terindah yang pernah kulihat di muka bumi …”

Aku tak bisa menahan diri untuk tersipu. Kugenggam jemarinya. Kucium perlahan. “Suamiku pandai merayu…” bisikku di telinganya.

Dia tertawa parau.

Hening sesaat. Dia memejamkan matanya. Nampak letih meski dia tak sedikitpun mengeluh. Ketakutan kembali menyergapku. Melihat dia begitu lemah. Melihat hidupnya begitu tergantung pada berbagai alat bantu yang melekat di tubuhnya, apakah dia akan segera pergi seperti yang sering dikatakan dokter. Aku menahan tangisan yang tiba tiba terasa begitu mendesakku.

“Bagaimana kalau suatu pagi, setelah kau berdandan, aku tak lagi bangun dan membuka mata untuk melihatmu?” dia bertanya dengan mata yang masih terpejam. Genggamanku di jemarinya bertambah erat tanpa ku rencanakan. Mataku terasa panas dan perih.

“Kita akan hidup bersama sampai tua…” kataku bergetar. Dia menggeleng.

“Aku akan mati tak lama lagi…” Suaranya semakin lemah, aku ingin memintanya untuk tak usah melanjutkan bicara lagi menyadari betapa lemah suaranya namun aku merasa tak lagi mampu mengucapkan apapun tanpa menangis, maka aku memilih diam. “Aku akan mati, bukankah dokter selalu mengingatkanmu itu? Aku akan pergi,,,  dan,,,  meninggalkanmu…” Suaranya putus putus. Aku mengangkat wajahku dan menemukan dia menangis dengan mata terpejam. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Dan rasanya ini jauh lebih menyakitkan dibanding jika hanya aku yang menangis. Aku menyapu airmata yang bergulir di pipinya, mengabaikan airmataku sendiri yang telah mengalir deras tanpa mampu kutahan. Aku memeluknya erat.

“Kita akan hidup bersama sampai tua…” Aku mengulang ulang kalimat tersebut dengan perih yang menusuk. “Kita akan bersama sampai tua…”

***

Aku menatap kertas biru muda itu bergetar. Mataku telah basah bahkan sebelum aku membacanya. Melihat rangkaian tulisan tangan yang sangat kukenal itu, aku tak lagi mampu menahan airmata. “Dia jauh-jauh hari menulisnya dan menitipkannya untuk diserahkan pada hari ulang tahunmu…” Jelas ibunya dengan suara yang dikuat kuatkan. Aku menghapus airmataku dan perlahan membacanya.

Untuk satu Satunya cinta dalam hidupku…

Kuharap saat kau membaca surat ini aku belum dipanggil Tuhan.

Sungguh aku ingin bisa berada di sana untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Memelukmu, menemanimu mengucap permohonan dan kemudian menghabiskan waktu bersama. Tapi aku telah belajar mengerti bahwa waktu yang disediakan Tuhan untukku tak lagi banyak dan mungkin aku akan segera kehilangan segala dayaku. Apakah dokter mengatakan padamu bahwa nanti, sebelum aku mati, perlahan lahan aku akan kehilangan banyak kemampuanku — kemampuan melihat, berbicara, mengingat, dan entah apa lagi yang lainnya. Dokter tak mengatakannya padaku, tak mau kurasa. Namun aku mengetahuinya. Dan kenyataan itu sungguh menyiksaku. Kenyataan bahwa suatu hari nanti aku hanya bisa terbaring tanpa bisa melihat dan mengingatmu, seseorang yang telah mengorbankan begitu banyak hal untukku.

Maka tak ada yang bisa kulakukan selain ini. Selain menulis surat ini sejak jauh jauh hari, saat aku masih mampu mengungkapkan semuanya.

Aku minta maaf karena aku harus meninggalkanmu terlalu cepat. Andai aku bisa sungguh aku ingin terus berada di sisimu, mendampingimu hingga kita sama sama tua. Namun inilah takdir Tuhan dan tak ada yang bisa kulakukan selain berusaha menerimanya dengan ikhlas. Aku minta maaf karena aku tak mampu memberikan kehidupan seperti yang kau cita citakan. Aku minta maaf karena aku tak pernah bisa menjagamu selayaknya seorang suami menjaga istrinya. Aku minta maaf karena selalu merepotkanmu dan sering membuatmu menangis. Aku minta maaf karena aku tak lagi bisa menghiburmu, bermain piano ataupun menyanyi untukmu. Aku minta maaf karena aku, kau harus melepas banyak senyuman, tawa, dan kesempatan  berharga dalam hidupmu yang harusnya bisa kau nikmati saat ini.

Aku sungguh mencintaimu. Hanya saja tak banyak hal yang mampu kulakukan untuk membuktikannya. Dulu, sebelum aku divonis kanker, aku selalu membayangkan bahwa setelah menikah aku akan selalu membahagiakanmu,  setiap hari aku akan membuatmu tersenyum, membuatmu berbunga bunga, menciptakan kehidupan terbaik untuk kita jalani bersama. Aku akan bekerja keras dan kau ratunya, kau cukup tinggal di rumah yang nyaman dan menghabiskan uang untuk shopping. Haha…

Sayang sekali Tuhan punya rencana lain. Dia menitipkan penyakit ini untukku, namun sungguh luar biasa, saat rasanya aku telah kehilangan semua, Dia Mengirimkan padaku seorang malaikat penjaga yang tak pernah lelah bertahan dan memberikan hidupnya untukku.

Terima kasih.

Terima kasih karena telah dengan tulus mencintaiku. Terima kasih karena kau tetap selalu menemaniku bahkan saat kau punya alasan yang masuk akal untuk pergi. Terima kasih karena bersedia terus berada disisku pada masa masa sulit. Sungguh, apapun yang kulakukan tak akan pernah cukup untuk membalas semua yang telah kau berikan.

Kuucapkan selamat ulang tahun yang ke 20 untukmu. Kadang aku lupa kalau sebenarnya kau masih sangat muda. Segala yang kau lakukan telah jauh melampaui batas usiamu. Aku selalu mendoakanmu yang terbaik, aku mendoakanmu setiap saat, semoga kau dilimpahi hidup yang panjang dan penuh berkah. Semoga sepeninggalku tak ada lagi yang membuatmu sedih dan menangis. Hiduplah dengan bahagia, temukan orang yang benar benar mencintaimu dan mau menghabiskan hidupnya untuk membuatmu tersenyum, dan terimakasih karena telah membuat hidupku yang singkat ini terasa menakjubkan.

Yang terakhir, seandainya saat kau membaca surat ini, aku masih hidup, aku mohon peluklah aku. Mungkin aku tak lagi mampu membalasnya, mungkin aku tak lagi bisa mengingat dan melihatmu, namun aku berharap kau mau mengerti dan tak marah kepadaku. Andai aku dibolehkan memilih satu hal saja untuk bisa selalu kuingat hingga akhir usiaku, maka itu adalah kau, tapi kukira tak akan ada yang menawariku hal tersebut. Semoga kau masih mau menemani dan memelukku hingga di hari tearkhir hidupku.

Yang selalu memujamu

Cho Kyuhyun

 

Aku menghapus airmata yang dengan deras bergulir di pipiku bersamaan dengan kalimat terakhir suratnya . Sungguh betapa dalam Tuhan menciptakan dan mengasah kedewasaan kami melalui perasaan ini. Aku tak pernah menyesal mengenal dan jatuh cinta kepadanya. Menghabiskan waktuku untuk mengurus dan menemaninya, karena jiwa dan hati yang tersimpan di balik tubuh yang sakit itu adalah hal terindah yang Tuhan berikan kepadaku.

Aku beranjak menuju ranjangnya. Dia tidak tidur. Matanya terbuka, menatap kosong ke depan. Dia benar, dokter benar. Dia telah kehilangan banyak kemampuannya. Dia tak lagi bisa melihat, dan mengingat. Dia juga kehilangan kemampuan berpikir dan mengalami gangguan berbicara. Dia tak lagi memberikan respon terhadap semua yang terjadi di sekitarnya. Jika ada yang mengajaknya berbicara, dia hanya  akan mengulang apa yang orang itu katakana tanpa mengerti maksudnya .

Aku menyentuh wajahnya. Wajah yang selalu berhasil membuatku terpesona. Wajah yang mengajariku begitu banyak tentang ikhlas dan bersyukur. “Aku sangat mencintaimu…” bisikku parau di telinganya. Tubuhnya diam. Tak memberi respon apapun. Matanya masih menatap kosong ke depan, namun mulutnya berujar, “aku sangat mencintaimu…” datar, lirih, tanpa intonasi apapun, namun cukup untuk membuatku tersenyum. Aku kemudian memeluknya seperti yang dia inginkan, merasakan jantungnya yang berdetak lemah di dadaku. Tenanglah, aku akan selalu memelukmu sampai waktu yang Tuhan berikan untuk kita benar benar habis…

 -THE END-

137 Comments (+add yours?)

  1. choi nara
    Jun 25, 2013 @ 08:30:45

    Huwaaa,kalo sendiri bcanya pasti dh mewek!ne krena lgy ntn breng ma adk ddpn tivi jd ga2l dh!kan malu!tp sumpah daebakkk thor!

    Reply

  2. yazelf
    Jun 25, 2013 @ 08:45:44

    Nangis kejer thoorrr😦
    Sisi luar biasa seorang perempuan😥
    Bahasanya ringan tapi kena banget
    KEREN banget😀 beneran
    pesannya sampe dan wowww

    Reply

  3. Choi EunHae
    Jun 25, 2013 @ 08:51:06

    Bener-bener sedih thor..T____T

    Reply

  4. @saroh407
    Jun 25, 2013 @ 09:04:44

    wahh..Daebak !!
    nyesek pokoknya?!

    kenapa gak bikin kyu mati thor?#plakk
    kasian lho dia menderitaa bget keliatannya😦

    Reply

    • songsummer
      Jun 26, 2013 @ 12:01:51

      Errrr, Iya kasian sih ya menderita banget, tapi emang kayak gitu ceritanya… ^^ V, makasih udah baca dan komen…

      Reply

  5. ChiesHee
    Jun 25, 2013 @ 09:32:25

    uahhhh keren bgt dlm bgt kta”X aku ska

    blh mnta ijin buat insprasi g thour ??

    Reply

  6. chodwi
    Jun 25, 2013 @ 10:09:03

    Daebak thor,feelnya dpt banget
    Huaaaa nangis beneran nih thor T.T

    Reply

  7. Arshalina
    Jun 25, 2013 @ 10:37:17

    Aihh haaa nagis aku bca FF nya. Ngena bngt.

    Reply

  8. kage
    Jun 25, 2013 @ 10:47:25

    ya ampun ffnya daebak bgt thorr…
    ngena bgt sampe nangis bcanya…
    daebak dech pokonya…

    Reply

  9. kyumin Ryeclouds
    Jun 25, 2013 @ 11:07:39

    sedih banget ceritanya…
    tapi bagus kok..

    Reply

  10. tiararaa
    Jun 25, 2013 @ 11:22:18

    sedih pake banget nihh
    ga kebayang pengorbanannya
    good story thor🙂

    Reply

  11. Agis
    Jun 25, 2013 @ 11:28:41

    daebakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    Reply

  12. iz Kim
    Jun 25, 2013 @ 12:47:21

    Huuuaaaaaaaa…..hiks hiks hiks.. T_T Aq brlinang air mata bca’y.
    Sumpah thor ini ff pling sedih yg prnh aq bca.
    Crita’y bgus bgd,bnyk pljaran yg bs d ambil dr ff ini.
    Gumawo untk karya’y..

    Reply

  13. ninanina
    Jun 25, 2013 @ 12:47:28

    NANGIS SAYA!! kereeenn..

    Reply

  14. Park Kyu Ri
    Jun 25, 2013 @ 12:53:09

    sumpah sedih banget min😥 nangis gue baca nya😥

    Reply

  15. Nieza Kim
    Jun 25, 2013 @ 13:01:42

    nangis.. T.T nyesek banget.. sumpah.. T.T

    Reply

  16. desifitriyani
    Jun 25, 2013 @ 13:06:41

    sumpah. Ak nangis bacanya. Author jago bgt sich bkin nangisnya .

    Reply

    • songsummer
      Jun 26, 2013 @ 12:13:16

      Wahhh… Aku gak tau kalo ternyata aku jago bikin orang nangis… ^^V. Makasih udah baca dan komen

      Reply

  17. Kim HyeRim
    Jun 25, 2013 @ 13:29:34

    Huwaaaaaaaaaaaaa Daebaaaaak banget ff nya thor.Terharu sama cerita nya😥

    Reply

  18. Kim HyeRim
    Jun 25, 2013 @ 13:31:47

    Huwaaaaaaaaaaaaa Daebaaaaak banget ff nya thor.Berhasil buat nangis😥.Terharu banget sama cerita nya😥

    Reply

  19. zi_
    Jun 25, 2013 @ 14:51:52

    mantap T.T ohmygod tenggorokkan gue serasa dicekek. Nyesek x(

    Reply

  20. Myeverlasting
    Jun 25, 2013 @ 15:42:50

    Ini ceritanya ngena abis thor😦
    Sedih banget thor😦
    Two thumbs up buat author :’)

    Reply

  21. Choi Eun Kyung
    Jun 25, 2013 @ 16:06:09

    Huwaa sedih thor ak smpe nangis baca’nya ….

    Reply

  22. pom
    Jun 25, 2013 @ 17:10:02

    nyesek banget thor…huhuhu😦

    Reply

  23. Esa
    Jun 25, 2013 @ 19:48:13

    feel tulus ma cinta kasihnya berasa. bahasanya enak

    Reply

  24. Fanabiko
    Jun 25, 2013 @ 21:35:57

    Kereeen .. susah payah ini nahan nangis .. soalnya aku punya janji untuk gk nangis .. hehe
    Terharu bgt sama ceritanya .. bahasanya juga gampang dimengerti .. Feel nya udh gausah ditanya .. pokoknya DAEBAKK !! :’)

    Reply

  25. yulia
    Jun 25, 2013 @ 21:45:49

    Thor ceritanya bagus banget,sampe bikin aq berlinang airmata… keep writing thor!!

    Reply

    • songsummer
      Jun 26, 2013 @ 12:17:36

      Wah makasih ya… Aku bakalan keep writing selama masih ada yang mau keep reading and commenting…🙂

      Reply

  26. cizziekyu
    Jun 25, 2013 @ 22:16:02

    aaaaaaaaaa sedih tragis ironis

    *mewekdipunggungKyu*

    Reply

  27. song jina
    Jun 26, 2013 @ 01:28:51

    T.T bener2 tragis dari awal sampe akhir ga berhenti2 menitikan air mata*plakk
    tp bener2 daebak ceritanya , 2 thumbs up for author
    keep writing..

    Reply

  28. Warnengsih
    Jun 26, 2013 @ 02:16:59

    Mewek saya jam 2 pagi…apa-apaan ini…CHO KYUHYUN KAJIMA!!! Hbt author’y ff’y dpt bgt feel’y,ampe nangis bca’y. .0. . .

    Reply

    • songsummer
      Jun 26, 2013 @ 12:19:22

      Ahhh, hebat banget bangun jam 2 pagi buat baca ff… Makasih ya… Aku tersanjung dan terharu nih…

      Reply

  29. lutkyu
    Jun 26, 2013 @ 07:02:02

    huaaa😥 nyeseekk bgt ! Nice ff .. Feel dpet bgt .. Kalo ada sequel plis ..

    Reply

    • songsummer
      Jun 26, 2013 @ 11:35:53

      Makasih udah baca dan komen… Makasih banget… Kalo sequel, kita liat nanti aja ya.. Tapi seandainya ada mungkin aku bakalan postnya di WP aku aja…

      Reply

  30. Niken Utami
    Jun 26, 2013 @ 09:36:18

    awesssssooooooooooooome…
    sungguh, ini FF terbaik yang pernah ku baca…
    GOOD JOB THOR..
    -___-

    Reply

  31. rebeccavania
    Jun 26, 2013 @ 14:10:06

    Aigoo.
    Akuu mewek ga brenti nih thor.
    Ngena banget rasanya!
    Daebak thor😉
    Keep writing!

    Reply

  32. haekyujaemin
    Jun 26, 2013 @ 18:11:28

    nangis sumpah sampe banjir :””

    Reply

  33. ervinahtan
    Jun 26, 2013 @ 20:15:30

    BAGUS BANGET THOR !!!!
    SEDIH (╥﹏╥)
    Daebakkkkkk :))

    Reply

  34. Septhi Giovani Puspha
    Jun 26, 2013 @ 21:16:48

    haaa~ author harus tanggung jawab !! aku sampe nangis gini !! (╥﹏╥)
    daebak thor .. daebak.. keep writing yaa ^^

    Reply

  35. Alfira Nisrina
    Jun 26, 2013 @ 21:48:47

    Nyeseeeeeeek TT.TT
    ff nya keren thor……

    Reply

  36. ddangkyuma
    Jun 26, 2013 @ 21:50:30

    Sukses nangis… :”(
    Rada gantung ya :”(
    Tapi keren bgt, ff yg bisa bikin gue nangis bener2 keren..
    Salut

    Reply

    • songsummer
      Jun 27, 2013 @ 13:02:38

      😦,🙂
      Makasih udah baca… Makasih udah komen… komen kalian semua bikin author makin semangat…

      Reply

  37. Amalia
    Jun 27, 2013 @ 05:48:27

    ahh sedih bangeet😦 tpi ini makna dan pelajaran yg didapat bener bener ngenaaaa nyess bangeet bacanya. beda banget sm ff lain, moral value bener bener kerasa dan tajam huhuu ff kereenn banget deh pokoknyaa :”) keep writing yaa kak author!! lovee ~

    Reply

  38. Mrs Choi
    Jun 27, 2013 @ 09:09:17

    Damn! gue nangis pagi” gara” ni ff tanggung jawab thor! Elo udah bikin gue tampak aneh di depan Tab mewek ga jelas huaaa ampe ade gue heran ngeliat gue anyway udah lama gue ga baca ff yg menyentuh kya gini Debak!

    Reply

    • songsummer
      Jun 27, 2013 @ 13:05:39

      Waaa gimana dong saya harus melakukan pertanggungjawabannya.😛, btw makasih banyak. Main-main ke WP author ya…

      Reply

  39. Lala SparKyu
    Jun 27, 2013 @ 12:17:49

    Huwa T.T
    bner2 mewek…kata2 d surat kyuhyun bner2 bkin sdih…mnguras emosi…
    Author memang tega..😦
    tp ff.nya daebak thorr…

    Reply

  40. minrakyu
    Jun 27, 2013 @ 13:07:45

    waw kekuatan seorang wanita..
    bener2 keren ceritanya n menyentuh banget ini..
    huwaaaa….. ampe menggenang nih aer mata…

    Reply

    • songsummer
      Jun 27, 2013 @ 15:36:34

      Hai, makasih ya udah komen… Semoga saya bisa bikin yang bisa lebih bagus dari ini ke depannya…🙂

      Reply

  41. Jessicakyu
    Jun 27, 2013 @ 14:17:08

    Kece banget dah ini cerita. Feelny dapet banget apalagi ditambah sam lagu yang sedih. Good job deh thor!!! Like you.😀

    Reply

  42. miss chokyu
    Jun 28, 2013 @ 01:06:43

    dan di tengah malam aku nangis sesenggukan😦
    bener2 pengorbanan dan perjuangan seorang wanita .
    nyesek bacanya . .
    makasih ya author , bikin lagi ffnya

    Reply

    • songsummer
      Jun 28, 2013 @ 16:27:49

      Iya, makasih juga ya… Main-main ke WP nya author ya… Disana ada (baru) beberapa FF yang lain. Fighting!!!

      Reply

  43. Drei_Kyu
    Jun 28, 2013 @ 09:34:18

    Hiks.. Hiks.. Huwaa!!😥 knapa critax hrus kya gini?? Gak koment pnjang ya thor, mau lnjutin nangis dulu, huwaa… *peluk kyu*

    Reply

  44. yejinnn23
    Jun 28, 2013 @ 16:57:23

    one of the best ff ever. keren!

    Reply

  45. sherviin (@she_won337)
    Jun 28, 2013 @ 18:15:32

    nyesek min. sumpeh!!! mana gue baca sambil denger musik instrumen lagi. nangis kan T.T

    Reply

  46. shappire
    Jun 29, 2013 @ 01:18:52

    Aduh gue nangis udah kayak di putusin pacar tanpa sebab ㅠㅠㅠㅠㅠ gilaaaaa kereeeeennn bangeeettttt !!!! Boleh gak sih di kasih keajaiban gitu kyu-nya sehat lagi terus mereka bisa hidup bahagia ah gila tanggung jawab thor bikin gue sedih tengah malem ㅠㅠ kereeennnnn !!!!

    Reply

    • songsummer
      Jul 01, 2013 @ 10:40:26

      T.T
      Pasti sedih banget diputusin tanpa sebab ya… ^^V, makasih udah baca… Dan masalah ‘keajaiban’ nya aku belum mikir sampai kesana sih… Hehe…

      Reply

  47. hyexo
    Jun 29, 2013 @ 10:58:01

    Huwaaaaa… Sampe nangis bacanya….. Pemakaian katany jga bgus bgt…

    Reply

  48. Safira
    Jun 30, 2013 @ 01:45:46

    Dear, Author: Summer Song.
    Tanggungjawab buat aku nangis di jam 01.50 pagi! Serius deh, nangisku kejer banget, Thor. Kenapa feel dalam cerita ini ngena banget, sih? Rasanya pasti kehilangan banget. Ya ampun, niatnya mau tidur, tapi jadi susah tidur gini T.T airmataku seriusan banjir, Thor. Hiks.

    Tadinya mau aku komen pakai akun wp-ku, cuma ini bacanya lewat hp jadi susah… Ya udah pakai e-mail biasa aja ya, Thor. Hehehe.

    Aku suka eksekusinya! Orang-orang pasti berpikir bahwa Kyuhyun akan ‘langsung’ meninggal. Tapi, di sini, Author nggak menuliskan itu yang justru memaparkan kondisi Kyuhyun yang terlihat lebih ‘sakit’. Intinya, aku suka banget sama ini cerita. Meski tema tentang sakit parah itu udah cukup banyak, tapi pembawaan alur dan narasi-dialog yang seimbang membuatku puas. Mungkin untuk koreksi hanya di beberapa tanda baca yang kurang pas. Selebihnya, great job! Setelah hiatus sekian lama baca ff, ternyata ff pertama yang kubaca malah bikin aku nangis. Hahaha. Sukses terus, ya!

    Oh ya, Author lines berapa?😀

    Reply

    • songsummer
      Jul 01, 2013 @ 10:52:43

      Dear Safira,
      Wow, asli baca komen kamu nih bikin tersanjung banget. Aku jadi speechless mau bilang apa. Tapi aku seneng banget karena ff ini dapat tanggapan yang bagus2, semoga kedepannya aku bisa lebih baik lagi dan makin banyak yang mau main dan komen2 di blog pribadiku. Hehe… Dan masalah pertanggungjawaban itu, tolong jangan paksa, saya masih kuliah. haha… Ayo tebak, line berapa?😀

      Reply

  49. Lee Hana
    Jun 30, 2013 @ 10:08:18

    parahhhh kerennn bnget ff nyaa!!!!!!huaaa aku sampe nangiss kejerr T-T sedih bnget. nyesek parah bacanya T_______________T *ambil tissue 20 box* /lebay/ kyuhyun bner2 beda bgt disini…..aduh udah deh pokoknya keren banget!!sukses bikin readernya nangis😀

    Reply

  50. Amanda Aura
    Jul 01, 2013 @ 00:53:16

    huaaa, nangis mewek aku thor *ngelap ingus*😥

    Reply

  51. dwie
    Jul 01, 2013 @ 19:33:38

    Kyaaaa baca ff ini gak sadar air mata tiba2 mengalir…
    Menyentuh bgt…
    Sampai2 pcr nanya knpa nangis. *Malubgtkepergoksamapcrnangisgara2bacaff

    hahahaha

    thanks chingu

    Reply

  52. cho inhyeong
    Jul 02, 2013 @ 06:52:47

    crying…

    Reply

  53. puspitasarielf
    Jul 02, 2013 @ 19:24:25

    omo! ff oneshoot paling nyentuh..gomawo bgt buat authornya. daebak bgt sama bahasanya yg ringan tapi kaya punya spell wordsnya.. bisa buat orang sesenggukan dan mata bengkak.. wish bgt slalu bisa buat ff yg sad romance maincast Kyuhyun…🙂 daebakk!

    Reply

    • songsummer
      Jul 03, 2013 @ 15:48:47

      Makasih ya… Wah kenapa seneng Kyuhyun dijadiin main cast sad romance? kan kasian juga kalo keseringan😀

      Reply

  54. Maya
    Jul 20, 2013 @ 16:41:01

    keren, feelny dapet banget, salut dengan perjuangannya

    Reply

  55. fifin
    Aug 25, 2013 @ 23:15:33

    hah mewek bcanya apalagi bca endingnya..:'( hah feelnya dpet bnget keren thor,,,

    Reply

  56. yua
    Nov 09, 2013 @ 10:41:13

    tisu dirumah abis buat lap ingus T.T
    ngena banget.ceweknya hebat banget
    authornya keren nih.penjabaran kata2nya beneran berasa🙂

    Reply

  57. Nur Arzaqina
    Jun 22, 2015 @ 01:07:28

    Nangis saya dibuatnya T…T ini ff keren banget

    Reply

  58. ine kyu
    Jun 22, 2015 @ 04:27:19

    daebak😥 sedih banget

    Reply

  59. inalee
    Jun 22, 2015 @ 07:11:20

    nangis dobg bacanya😥

    Reply

  60. salsakyu
    Jun 22, 2015 @ 14:32:44

    Oh my, sumpah ini nyesek . BANGET. Aku nangisnya sampe sesegukan.
    Dari awal sebenarnya udah pengen nangis, tapi karena si kakak duduk tepat disampingku jadi aku tahan, tapi pas udah bagian klimaksnya aku bener2 udah ngga bisa nahah, tenggorokan juga udah sakit karna menahan tangis dari tadi, jadinya aku lari kekamar trus baca sambil nangis parah. Hehe.
    Surat Kyu bener2 bikin mewek, huhu
    keren banget thor, bahasanya ringan jadi enak bacanya.

    Reply

  61. elfishysme
    Jun 22, 2015 @ 17:06:29

    pernikahan mereka memang sangat singkat, tp waktu singkat itu benar2 berharga. keren banget. aku mewek bener nih.huhuhu

    Reply

  62. imey
    Jun 22, 2015 @ 19:32:18

    sumpahh keren bgt ff’nya.. di baca ampe dua kali tetep az nangiss.. nyesekk bgtt sebuah cinta yg bgitu besar. jg tulus

    Reply

  63. diancant
    Jun 22, 2015 @ 23:18:02

    keerrreenn..
    sering baca ff cwekny yang sekarat ehh ini cowoknya.. daebaakk..
    tulisannya bagus, rapi and apa adanya..
    suka sama ending nya klimaks bingit ^^
    keep writing and fighting🙂

    Reply

  64. esakodok
    Jun 24, 2015 @ 14:19:36

    kerennn…q kira endingnya sampai d kyu meningga. tp lebih menyakitkan lagi..harus melihat org yg kau sayangi menderita…nice ff

    Reply

  65. uchie vitria
    Jun 25, 2015 @ 10:47:49

    huwaaaaa pengen nangissssss tapi gk bisa inget kalo lagi puasa
    hahhhhhhh walaupun akhirnya kematian memisahkan mereka berdua tapi Tuhan udah begitu baik memberikan kenangan” indah dan manis buat mereka

    asli jlebbbb banget rasanya ditinggal orang yang bener” kita cintai dan mencintai kita

    Reply

  66. kimfannyy
    Jun 25, 2015 @ 15:33:54

    Gw nangis hwaaa T_T~ Sedihbanget ini cerita.

    Reply

  67. Maulidya sabila
    Jun 25, 2015 @ 22:01:57

    Wkt mau baca liat kolom komen, dan pada bilang sedih. Jd langsung pindah ke kamar biar waktu baca lbh ngena. Dan ini lebih dr ngena. Nyesek banget kakak. Aku nangis cegukan ini di kamar. Di tambah wkt baca ngga tau kenapa lagu2 yg diputer pas lagu yg sedih. Tambah mewek ;(

    Reply

  68. Nur Azizah
    Jun 26, 2015 @ 03:55:25

    bikin kebawa sedih banget ini ff😦
    keren keren

    Reply

  69. DewiLestari
    Jun 26, 2015 @ 09:52:17

    Gila aku nangis deras baca nie,,, sedih bngt dan terhru dngn kesetiaan istrinya kyu,,, air mtaku smakin deras pas baca surat dri kyu and bca nya sambil dngrin lagu kyu yg mellow” hah banjir deh…
    Daebbak lah ff …

    Reply

  70. kim rin hyo
    Jun 28, 2015 @ 06:46:37

    wahh..Daebak !!
    nyesek pokoknya?! bener-bener bikin mewek. ampe ngebayang T_T
    bacanya sambil denger lagus edih..klop bget… di tunggu karyanya yg lain chingu…

    Reply

  71. chingublogplace
    Jun 28, 2015 @ 16:16:11

    Waaaaa
    Sumpah ini keren
    Smp mewek baca nya hahaha
    Sisi luar biasa dr cinta yg sederhana
    Waaaaa
    Ngomong apa ini
    Keren pokok nya lah

    Reply

  72. HyenaSan
    Jun 28, 2015 @ 16:42:40

    So touched….
    wahh keren bgt ff nya, aku bener” pengen nangis bacanya
    tpi inget lgi puasa U.U
    di tunggu yaa ff lainnya🙂

    Reply

  73. Arum
    Jun 29, 2015 @ 12:38:24

    Waaww ini bagus banget, bikin terharu. Bahasa yg di pake juga baguss. Hebat deh authornya

    Reply

  74. centiasyafira
    Jun 30, 2015 @ 19:02:29

    omg!! ceritanya simple tapi feelnya dpt bgt asfghkl;;A;; mana sambil denger lagu ballad, doohh ㅠㅠ cuman thor.. kalo aku boleh saran, ini kurang kerasa kekoreaan-nya/? hehe. Tp ini udh bagus bgt kok^o^ hwaiting!;)

    Reply

  75. Angelica SparKyu Sakurada
    Jun 30, 2015 @ 21:26:53

    huwaaa T-T
    Mana tissue mana tissue
    Daebak thor ff nya bisa bkn saya mewek😥

    Reply

  76. joyers
    Jul 01, 2015 @ 06:13:37

    Ini ff nya keren! Feelnya bener2 dapet. Saya skip surat dr kyuhyun. Yaampun kalo saya baca saya meweknya kayak apa-___- pesannya sampe. Dan karakter kyuhyun disini benar2 hidup banget. Kerasa kayak beneran dia sakit.
    Keren thor.

    Reply

  77. wiwiex lee
    Jul 01, 2015 @ 14:24:38

    buset dah, lama ga main kesini sekali baca dpt yg mello kyk gini. Nyesek bgt…suer ga boong… bener2 cinta sejati. aq ga bisa ngomong apa2 lagi….. ff ini bener2 SESUATU bingiiiiitz

    Reply

  78. Nana Abadi
    Jul 01, 2015 @ 20:30:37

    Anjirrr gua nangis!! >_<
    Keren gila!

    Reply

  79. manisa
    Jul 06, 2015 @ 04:23:36

    Sukses nangis gara2 ini fanfic 😂😂😂

    Reply

  80. ghefirasaras010298
    Jul 09, 2015 @ 18:28:13

    Feel-nya dapet banget. Kasian mereka T.T
    Keren Thor😀 Bingung mau komentar apa lagi ._.

    Reply

  81. dwi
    Jul 13, 2015 @ 23:37:49

    huaaa…. T_T tisu mana tisu!!!!!

    Reply

  82. joe
    Jul 25, 2015 @ 11:09:57

    huwaaa… sumpah sedih n nyesek banget. nangis bombay sampek sesegukan. it’s so sad😥

    Reply

  83. dita ayu
    Jul 26, 2015 @ 10:16:14

    Ya ampun ceritanya sedih banget sampai bikin aku nangis. gomawo

    Reply

  84. Niyachokobi
    Aug 05, 2015 @ 12:26:03

    Tidak bisa ngomong apa”. Nyesek banget ceritanya

    Reply

  85. KimRa
    Feb 15, 2016 @ 17:46:21

    Huwaa, entah kenapa aku rasanya jadi orang yg cengeng. Keren thor ^^

    Reply

  86. vivinmutia
    Feb 28, 2016 @ 12:05:18

    Mewekkk baca nya. Tuhan memberkati cinta sejati
    Puji Tuhan yg selalu memberi cinta kepada kita semua.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: