Memories [4/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Heechul (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG – 15

************

Ceritanya belum selesai. Yesung menarik nafasnya dengan pandangan menerawang. Itu adalah malam terbaik yang pernah mereka lewati. Tapi semuanya menjadi buyar ketika Jeany memberikan sebuah pengakuan yang sebelumnya tak pernah ia sangka.

“Aku belum pernah melakukan itu sebelumnya.”

Yesung masih ingat bagaimana raut wajah serta intonasi dari Jeany ketika mengatakannya. Dan satu kecupan di dahi menjadi penutup malam indah itu.

“Biar kutebak, masalah kalian terletak pada ayah Jeany, benar?” seru salah seorang pengunjung wanita. Yesung memegang stand micnya, memberikan jeda cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Tadinya aku sama sekali tidak merasa begitu. Ayah Jeany bukanlah sesuatu yang berat untukku. Tapi tak lama setelah itu, kami menyadari bahwa ayah Jeany memang membuat segalanya menjadi rumit. Namun, pada akhirnya masalah bukan terletak pada ayah Jeany atau siapapun orang yang ada di luar kami. Tembok paling besar yang berdiri diantara kami adalah diri kami sendiri.”

“Masalah apa yang kau maksud? Kau dan Jeany kedengarannya baik-baik saja.”

Yesung menggeleng. Ingatannya melayang ke malam-malam panjang yang harus ia lalui dimasa kelam itu. Ia takkan menceritakannya sekarang. Tiba-tiba ia merasa tak lagi nyaman duduk disini dan menyelesaikan ceritanya. Memang ini yang ia inginkan, yakni membagi segala perasaannya. Tapi semakin ia kembali ke masa itu, maka rasa sakit itu juga datang bersamaan dengan rasa senang.

Ia melirik jam. Sudah dua jam ia berada di sini dan ia tak mau membuat beberapa pengunjung mengantuk lagi.

“Maaf, aku tak bisa melanjutkannya,” tutupnya singkat kemudian pergi begitu saja. Ia lewati Marcus yang berdiri kebingungan memandangnya, Jordan dan Mickey yang sepertinya ingin bertanya kelanjutannya. Dan sbelum ia keluar dari pintu, matanya sempat bertemu pandang dengan Casey. Ia tak perlu berpamitan. Ia hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya.

Diperjalanan ia mengenakan jaketnya, lalu merapatkan tubuhnya. Langkahnya beradu dengan angin dari arah selatan. Ada yang salah dengan dirinya. Ada yang tak beres dengan tubuhnya.

Jeany adalah sebuah nama yang selalu bisa meningkatkan semangat dan segala indera dalam tubuhnya. Seperti vitamin yang seketika mengusir bakteri serta virus ditubuhnya. Berbagi tentang wanita itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan baginya. Namun, ia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dadanya sakit, sesakit apa yang ia alami dimasa lalu. Air matanya jatuh beberapa tetes, membuat dadanya cukup sesak.

Ia terus berjalan ditengah padatnya pejalan kaki. Tak tahu kemana kakinya akan berlabuh, ia menurut saja. Otaknya terasa membeku dan terlalu kaku untuk berpikir jernih dan kesulitan mensinkronkannya dengan hati. Sampai saat ini,  ia tak merasa lebih baik dibanding sebelumnya. Dan ketika ia berhenti di depan bekas rumah Jeany, perasaannya semakin tidak karuan.

Selama ini, mengenangnya adalah sesuatu yang indah, tapi kali ini semua terasa seperti ia sedang menancapkan tombak ke dadanya.

Sakit.

****

“Well, aku bekerja disana bukan untuk menjadi pembaca ramalan cuaca.”

Biasanya Yesung bukan hanya seorang pendengar yang baik, ia juga pensehat yang cukup handal seperti Casey. Ia bisa menasehati bosnya yang nyaris tergoda wanita idaman lain. Ia pernah menyelamatkan Jeremy dari tipu seorang penjual obat untuk membesarkan otot. Ia juga pernah memberikan pencerahan bagi ayahnya ketika dulu ayahnya bermasalah dalam pekerjaan. Tapi selama bersama Jeany, ia tak berdaya lagi. Jika Jeany datang padanya untuk mengeluhkan sesuatu, maka percuma saja ia mengeluarkan pendapatnya. Akhir-akhir ini Yesung baru menyadari itu. Jeany mengomel, maka dengarkanlah. Cukup dengarkan lalu biarkan ia melakukan apapun yang ia suka. Apapun nasehatnya tak digubris. Yesung sudah berusaha untuk mengatakan pendapatnya senormal mungkin, tapi jika apa yang dikatakannya itu tidak berpihak padanya, Jeany takkan mau mendengar lagi. Jeany sangat mempercayai dirinya sendiri. Ia percaya pada apa yang ia lihat dan dengar. Ia punya kesimpulan sendiri.

Sudah setengah jam Yesung mendengarkan Jeany yang tak terima kalau selama enam bulan ia bekerja dan ia tetaplah seorang pembaca ramalan cuaca. Ia hampir yakin bahwa itu hanya berlangsung satu bulan, tapi sudah sejauh ini, ia merasa gagal. Ia merasa dirinya tak cukup mampu untuk naik pangkat.

Selama itu Yesung duduk di sofa, membuatkan sirup jeruk yang segar dari kulkas dan hanya sesekali menanggapi. Ia tahu Jeany hanya butuh didengarkan, setelah itu Jeany akan merasa jauh lebih baik.

“Sudah cukup?” tanya Yesung seusai Jeany duduk disebelahnya. Nampak Jeany menghela nafas kemudian memandangnya sengit. Sepertinya ia salah bicara. “Kau tidak suka aku bicara?”

Benar, kan?

“Tidak, Jeany. Aku sangat suka kalau kau percaya padaku untuk menjadi pendengarmu. Aku hanya bertanya apa kau sudah puas menumpahkan semuanya.”

“Kau berbohong. Aku tahu kau lelah mendengarkanku.” Jeany sudah berdiri dan hampir melangkah pergi, tapi Yesung sigap menarik lengannya hingga ia kembali ke posisi semula. Jeany pun dibuat mati kutu. Sepertinya perlu diralat. Bukan posisi semula, ini lebih dekat dari sebelumnya.

“Apa mataku mengatakan aku sedang berbohong?”

Jeany menelan ludah. Yesung menatapnya intens. Wajah mereka sangat dekat hingga ia takut menghembuskan nafas. Ia pun menggeleng.

“Dengar, aku tidak peduli kalau kau mau menghabiskan waktu sebanyak apapun untuk marah, mengeluh atau apalah namanya. Aku tidak akan bosan mendengarnya. Kau tahu kenapa? Karena aku adalah fans beratmu. Seorang fans akan rela melakukan apapun demi idolanya.”

Jeany menahan senyumnya. Rasa gugupnya lenyap lalu ia menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap pria dihadapannya itu lekat-lekat.

“Casey dan Dennis sudah terlalu banyak meracunimu. Tidak mempan.”

“Hey, kenapa harus bawa mereka? Seperti kasus bunga mawar, apa yang aku katakan bukan ajaran siapapun. Dan lagi kenapa kau masih memanggilnya Dennis? Namanya Leeteuk alias Park Jung So.”

“No, Dennis jauh lebih enak ditelingaku.”

Yesung memang sudah beberapa kali mempertemukan Jeany dengan Leeteuk. Pertemuan pertama, Leeteuk mengenalkan diri sebagai Dennis. Saat itu kakaknya sengaja berlama-lama berjabatan tangan sekalipun Yesung lebih setuju agar mereka saling membungkukkan badan saja. Ia pun sudah memerintahkan Jeany supaya tidak membesarkan kepala kakaknya dengan memanggil nama bekennya, tapi Jeany tak setuju.

“Terserah apa katamu. Aku menyerah,” ujarnya sambil mengangkat kedua tangan seperti ia sedang melakukan gencatan senjata. Jeany tersenyum melihatnya. Secara tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya dipipi Yesung lalu berlari keluar.

Yesung terpaku disofa. Ia tahu ia tidak sedang bermimpi dan itu bukanlah kecupan pertama yang diberikan oleh Jeany. Tapi ia suka reaksi gadis itu yang seperti baru pertama kali melakukannya. Ia pun sama. Bagaimana semua sudah berlangsung cukup lama, tiap kali Jeany melakukan itu, maka ia merasa itulah yang pertama. Rasanya masih sama. Dan satu hal! Ia tak perlu buang-buang tenaga untuk menenangkannya yang sedang gundah. Pada akhirnya Jeany akan merasa tenang dengan caranya sendiri.

Setengah tahun ini merupakan bulan-bulan terindah dalam hidupnya. Ia bangun setelah memimpikan Jeany, dari yang baik seperti mereka berjalan-jalan keliling Eropa sampai yang tak menyenangkan seperti melihat Jeany tercebur ke kubangan. Setelah itu, handphonenya yang tidak keren itu akan menyala dan nama Jeany akan muncul dilayarnya. Ia suka ada yang mengingatkannya makan dengan teratur, ia suka diperhatikan supaya tidak mudah sakit. Selama ini Leeteuk tidak pernah mau tahu kondisinya. Ia terkena flu saja ia harus ke apotik seorang diri. Kakak mana yang tega membiarkan itu?

Jeany bukan hanya perhatian luar biasa, tapi merupakan teman yang menyenangkan. Kesamaan dalam banyak hal membuat mereka tidak kaku jika mengobrol. Mereka suka Aerosmisth dan lagu favorit mereka adalah I don’t wanna miss a thing. Mereka suka mendengarkan lagu-lagu lama dari Cliff Richard atau Bryan Hyland. Yesung pernah menyanyikan sealed with a kiss dari Bryan Hyland di depan Jeany saat mereka sedang pergi ke devlov’s cafe. Yesung maju ke depan dan mengumumkan pada semua orang bahwa ia punya kekasih yang sangat cantik di ujung sana, tepat di dekat jendela.

Yang paling penting adalah bahwa mereka sama-sama begitu suka saling berbagi cerita. Mereka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran. Nyaris tak ada yang tak mereka ketahui satu sama lain. Yesung hampir dipecat karena membuat lima pelanggan menolak untuk membeli pizza lagi, Jeany tahu. Yesung ditampar oleh seorang ibu-ibu di jalan karena tak sengaja menyentuh bokongnya, Jeany juga tahu. Yesung mengencingi pagar rumah bosnya, Jeany pun tahu. Begitupun sebaliknya, Yesung tahu apa-apa saja yang terjadi di kantor Jeany, termasuk bagaimana menyebalkannya bagi Jeany berdiri dilayar kaca hanya untuk memberitahu warga supaya waspada akan cuaca.

Namun tentu saja mereka juga punya hal-hal yang bertentangan. Yesung bukan orang yang rapi, Jeany benci itu. Yesung tak peduli ia dipecat, Jeany sangat peduli akan itu. Yesung tak bisa bertahan lama dengan janji yang diucapkannya dan Jeany paling tidak suka dengan itu. Pernah Yesung berjanji untuk tidak suka menunda pekerjaan lagi. Ia menepati itu, tapi satu minggu berikutnya, ia mengulang kesalahannya. Pernah mereka berjanji untuk bertemu di Sefton Park. Jeany sudah pergi ke salon sore harinya dan menyiapkan sesuatu untuk Yesung. Tapi Yesung tak datang hanya karena ia begitu mengantuk setelah mendapat pesanan pizza yang menggunung. Jeany menangis kala itu. Yesung hanya meminta maaf dan berkata bahwa ia tidak tahu jika itu adalah kencan spesial. Ia pikir itu hanya pertemuan biasa yang bisa ditunda kapan-kapan. Ia rasa itu hanya masalah sepele dan Jeany tidak perlu menanggapinya dengan menangis.

Sebuah tamparan pelan pun mendarat dan mereka tidak bicara selama satu minggu setelahnya. Berita baiknya, mereka sama-sama tak bisa tahan jika tak bertemu lebih lama dari itu. Tepat dihari ketujuh, secara tak diduga mereka bertemu ditengah jalan. Saat itu Jeany baru akan mengunjungi rumah Yesung, begitupun sebaliknya. Tanpa ada kata-kata maaf lagi, mereka menghabiskan malam itu dengan makan pizza di pinggir Sungai Mersey lagi.

Dengan segala persamaan dan perbedaan itu, Yesung merasa hidupnya semakin lengkap. Ia rasa tak semua lelaki muda pekerja biasa seberuntung dirinya. Jeany adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan hadir dalam hidupnya. Meski belakangan pantangan datang dari ayah Jeany, ia tak takut.

Mr. Hanks memang kini lebih giat menyeruarakan penolakannya soal hubungan mereka. Saat ia memohon ijin untuk membawa Jeany ke bioskop, Mr. hanks menggagalkannya. Karena itu Jeany harus rela melompat dari jendela dan membohongi orang tuanya. Semakin sering Mr.Hanks mengunjungi Jeany, maka semakin banyak kebohongan baru yang dibuat mereka.

“Sebenarnya apa masalah ayahmu? Aku kurang tampan, aku kurang sopan atau……aku kurang punya uang?”

Jeany menoleh cepat pada Yesung. Mereka duduk bersebelahan di depan Anfield Stadium setelah menonton Liverpool melawan Tottenham Hotspurs. Hari sudah malam, tapi Yesung belum mau mengantar Jeany pulang. Ada hal penting yang harus mereka bicarakan.

“Ayahku tidak mata duitan.”

“Lalu apa? Satu bulan ini, sudah empat kali orang tuamu datang dan empat kali juga aku dilarang menemuimu.”

“Kurasa…ayahku hanya butuh waktu, juga butuh keyakinan sedikit lagi tentangmu.”

Yesung melempar kacang ke udara yang mendarat tepat ke dalam mulutnya. “Sudah kubilang ayahmu berlebihan. Dia bersikap seperti aku ingin menikahimu sekarang juga dan hanya karena aku seorang pengantar pizza, dia tidak mau menerimaku.”

Ia kunyah kacangnya, terus memakannya dengan cara yang sama tanpa tahu seperti apa wajah Jeany di sebelahnya. Cahayanya temaram. Ia hanya tahu Jeany diam, lalu menghela nafas.

“Ayahku hanya tidak mau aku disakiti. Aku anak satu-satunya.”

“Sudah kukatakan berkali-kali padanya kalau aku bahkan tidak akan membiarkan nyamuk singgah dikulitmu. Kurasa memang ada hal lain.”

Yesung kehabisan kacang. Ia buang bungkusnya sembarangan lalu meminum cola yang tadi ia beli untuk Jeany. Jeany tak mau, katanya tidak suka.

“Apa aku harus datang dengan mercy terlebih dahulu supaya ayahmu tertarik? Di keluargaku hanya ada satu mobil, itupun ada di korea bersama ayahku dan itu bukan mercy.”

Ia pikir tak ada yang salah pada perkataannya. Hingga ia menoleh ke arah Jeany, ia tahu ada hal yang harusnya tak ia katakan.”Aku salah bicara lagi?”

Jeany memandangnya dengan serius. Yesung tak suka itu. Ia pun mulai bisa menebak apa yang membuat Jeany seperti itu.

“Ayahku tidak seperti itu. Dan satu hal, sepertinya kau tidak sungguh-sungguh denganku.”

“Jeany……sudah berapa kali kukatakan ka-“

“Cukup jawab dengan ya atau tidak.”

Yesung diam untuk beberapa saat. Ini bukan situasi yang ia harapkan ada diantara mereka. Untuk pergi kencan sudah cukup sulit, harusnya Jeany tak merusaknya dengan pertanyaan semacam itu.

“Aku tidak akan menjawab ya atau tidak. Kata-kata tetaplah kata-kata. Apa yang sebenarnya bisa kau lihat sendiri disini.” Yesung menunjuk kedua matanya. Tapi Jeany bergegas dari duduknya, merapikan pakaiannya lantas memakai jaket.

“Kau tahu apa masalahmu? Kau tidak mengerti bagaimana bersikap pada seorang wanita.”

Jeany pergi. Yesung menghempas kaleng minumannya lalu mengejar Jeany hingga ujung jalan sebelum belokan.

“Jeany, dengarkan aku.”

“Lepaskan tanganku. Lepaskan!”

“Oke, oke, aku tak menyentuhmu.”

Yesung menyerah. Jeany bertingkah seperti gadis yang dikejar perampok hingga beberapa mata pria yang lewat di dekat mereka melirik dengan penasaran. Ia biarkan Jeany menenangkan diri sejenak lalu menjelaskan.

“Jadi apa yang ingin kau dengar dariku? Kau ingin aku mengatakan aku sangat mencintaimu? Ya, aku akan berteriak di depan semua orang disini bahwa aku sangat mencintaimu.”

Yesung tak main-main, ia ke tengah jalan, berteriak kepada semua orang bahwa ia mencintai gadis yang sedang berdiri di depan gereja itu. Namun, itu justru membuat Jeany semakin menjauh.

“Jeany! Jeany! Hey!”

Yesung berhasil menahan Jeany. Kali ini ia pegang erat kedua tangannya supaya gadis itu tidak pergi lagi. Tapi tak sampai satu menit Jeany berhasil melepaskannya.

“Jeany, katakan padaku dimana kesalahanku. Jika kau mengatakannya, pasti akan kuperbaiki. Kau mau aku berdiri ditengah jalan lagi membiarkan tubuhku ditabrak mobilpun aku rela.”

Jeany mendecakkan lidahnya. “Yesung, bersikaplah dewasa, berhenti menganggap semua ini hanya permainan. Aku tidak begitu bodoh memanfaatkan perasaan kita untuk memintamu melakukan hal gila. Pikiranku tidak sependek itu.”

“Lalu apa?” Yesung menunggu beberapa detik. Ia masih tak paham apa yang membuat mereka yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba ada dalam situasi seperti ini. “Apa yang membuatmu pergi?”

Jeany menarik nafasnya. “Pertama, aku mengenal ayahku. Dia mungkin bukan pria yang begitu baik. Dia tak cocok denganmu. Dia mungkin juga tak menyukaimu,’ ujar Jeany dengan penekanan dikata mungkin. “Tapi bisa kupastikan dia bukanlah pria yang memandang sesuatu hanya dari uang. Oke, percakapan kita saat dimeja makan saat itu mungkin membuatmu menciptakan kesimpulan seperti itu. Tapi sekali lagi kutegaskan, ayahku tidak begitu dan aku tidak suka orang lain menjelek-jelekkannya.”

“Oke, aku minta maaf.”

Seperti yang ia duga, jawaban macam itu takkan cukup memuaskan Jeany. Jeany pergi lagi dan untuk beberapa saat ia tak mengejar. Seperti tebakannya lagi, Jeany berhenti lalu menoleh padanya.

“Kau memang tidak pernah serius. Seperti kau yang menganggap semua hal adalah mainan, maka hubungan kitapun kau anggap begitu.”

Yesung terdiam beberapa detik. Bukan itu yang ingin ia dengar. Jeany sempat berjalan semakin jauh dan tubuhnya makin kecil di tengah jalan hingga akhirnya ia setuju bahwa ia harus menghentikan pikiran konyol gadis itu.

“Jeany! Berhenti! Dengarkan aku!”

“Apa yang harus kudengar? Kau mau bilang kalau kau hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkanku seperti gadis lainnya?”

Yesung mengusai tubuh itu dan mencoba menyalurkan ketenangannya pada Jeany dengan diam cukup lama. Ia biarkan orang-orang lewat begitu saja. Ia biarkan waktu berlalu tanpa suara dan perlahan Jeany menemukan akal sehatnya. Ia bebaskan Jeany berpikir sendiri seperti kebiasaannya yang tak pernah butuh bantuan orang lain.

“Kau berpikir aku serendah itu? Kau pikir aku hanya ingin menikmati tubuhmu lantas membuangmu?”

Jeany merasa tenggorokannya tercekat. Yesung mengencangkan pegangannya, membuat bahunya sedikit sakit.

“Jika aku hanya ingin bermain-main, dari awal aku ke kamarmu, kau sudah kutiduri lalu kau kutinggalkan. Jika aku tidak pernah serius, aku sudah membuangmu dari dulu dan hubungan kita tidak akan bertahan hingga sekarang.”

Jeany menahan air matanya agar tidak tumpah. Yesung mulai memelankan suaranya dan lebih dekat lagi dengan wajahnya. Ia melanjutkan, “Kau bukan gadis pertama yang ku cium, tapi kau adalah yang pertama dan satu-satunya yang bisa membuatku tak mengenali diriku sendiri. Kau yang membuatku berpikir aku tak butuh apapun lagi selain melihatmu ada di hadapanku. Maaf jika sebelumnya aku telah menghina ayahmu.”

Yesung melepaskan bahu Jeany. Dengan jari-jarinya, ia menyisir rambut Jeany dengan lembut, lantas merapikan pakaiannya yang sempat sedikit berantakan karena emosi. Ia pelankan lagi suaranya hingga nyaris tak terdengar. “Kau tahu apa masalahmu? Kau melihat segala hal bukan dengan mata dan hatimu, tapi hanya dengan telingamu.”

Yesung mundur satu langkah. “Sekarang aku antar kau pulang.”

Ia menunggu Jeany berjalan lebih dulu dan ia akan mengekor di belakang. Ia tak mau mengatakan apa-apa lagi. Ia biarkan Jeany berpikir tentang apa yang sudah ia katakan.

Setelah menunggu beberapa saat, Jeany pun mulai membelakanginya, berjalan tenang tanpa suara. Yesung menepati janjinya. Ia berjalan sekitar dua meter di belakangnya. Bagaimana pun juga mereka tidak sedang dalam kondisi yang baik, ia tidak akan seenaknya pergi lantas lepas tanggung jawab. Ia akan meyakinkan dirinya bahwa Jeany selamat sampai di depan pintu rumahnya.

Ia rasa tak perlu ada penjelasan lagi untuk malam ini. Ia sudah mendengar apa yang selama ini mengganjal dalam pikiran Jeany dan ia pun sudah mengatakan yang sesungguhnya pada wanita itu. Sekarang, terserah pada Jeany apakah masih berpikiran yang sama tentangnya. Ia serahkan keputusan padanya.

Sekitar setengah jam kemudian mereka sampai ke depan pintu rumah Jeany. Karena malam ini lagi-lagi ayah Jeany ada di rumah, harusnya Jeany masuk melalui jendela, tapi Yesung menahannya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia menggenggam tangan Jeany lalu ia tekan bel. Ia abaikan tatapan Jeany yang mungkin tak mengerti dengan apa yang ia lakukan.

“Kalian?”

Yesung tersenyum simpul. Seperti dugaannya, Mr.Hanks yang membukakan pintu. Matanya yang semula tampak baru bangun dari tidur nyenyaknya seketika melotot.

“Selamat malam Mr.Hanks. Aku kemari untuk mengantar anak anda. Aku minta maaf kalau aku mengajaknya keluar tanpa ijin anda. Aku yang memaksa Jeany untuk pergi sekalipun tadinya ia menolak.”

Jeany masih menatap pria di sampingnya itu dengan kaget saat ia merasakan tangan mereka tak lagi bersentuhan. Yesung masih tak mau menatapnya.

“Aku sadar kesalahanku. Lain kali aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan hanya akan bertemu Jeany jika anda menginjinkan.”

Yesung membungkukkan badannya seperti yang biasa dilakukan di negara asalnya sebagai permintaan maaf. Ia tahu Mr.Hanks tidak serta merta memaafkan kelakuannya selama ini dengan fakta bahwa ini bukanlah yang pertama. Tapi ia ingin membuktikan pada Jeany bahwa ia tidak sedang main-main.

“Aku permisi.”

Yesung melenggang pergi tanpa menatap mata Jeany barang sedetik. Setelah malam itu, mereka tak bertemu lagi selama satu bulan.

*****

Leeteuk baru akan membuka kulkas saat pintu terbuka dan derap langkah seseorang terdengar mendekat. Ia menoleh sebentar hingga menemukan Yesung pulang dengan wajah ditekuk, jaketnya dilempar sembarangan ke lantai kemudian naik ke kamarnya di lantai dua.

“Kenapa kau pulang lebih awal?” Ia coba bertanya meski Yesung tak menggubrisnya dan terus menaiki anak tangga. “Kau tidak bertanya kenapa aku tidak jadi pergi dengan mobilmu?” Ia pikir pertanyaan itu akan menarik perhatian adiknya, tapi Yesung justru sudah tiba di depan pintu lantas membantingnya.

Ia terkejut bukan main. Yesung seperti anak muda kemarin sore yang mengambek tak dibolehkan pergi. Padahal tadi Yesung berpamitan ke café untuk bernyanyi. Dan sekarang belum begitu larut, harusnya Yesung belum pulang. Apa ada sesuatu yang terjadi di café? Ada yang aneh. Rasanya ia tak pernah melihat Yesung bersikap seperti itu padanya. Meski mereka nyaris tak pernah punya waktu berdua, tapi ia rasa Yesung tidak mungkin melakukannya. Apakah….soal Jeany lagi?

Lama ia termenung di meja dapur sambil menghabiskan sebotol air dingin. Ia teringat perkataan Casey beberapa tahun lalu saat Yesung kembali kemari tanpa membawa Jeany. Saat itu sebenarnya ia ingin bertanya, tapi Casey langsung menahannya dan memintanya untuk membiarkan Yesung seorang diri lebih dulu. Setelah itu barulah ia tahu semuanya dari mulut Casey. Ia tahu apa tujuan Yesung kemari.

“Lakukan apa yang harus kau lakukan sebagai seorang saudara, tapi tidak saat ini. Dia hanya butuh sedikit waktu.”

Ia dan Casey tahu bahwa Yesung adalah orang yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Yesung akan mengatakan apa yang ingin ia katakan. Seperti kasus ini, ia sadar bahwa beberapa kali Yesung ingin mengajaknya bicara berdua. Tadinya ia mengabaikan semua itu demi kesenangan dan ketenangannya sendiri. Baginya, hidup sendiri di kota ini sudah cukup menyenangkan tanpa harus diubah dengan kehadiran adiknya dari Korea. Karena itu selama ini ia dan Yesung seolah hidup dalam dunia yang berbeda meski mereka tinggal di atap yang sama. Ia sudah terlalu nyaman dengan kehidupannya. Ia bekerja di sebuah bar sebagai bartender. Ia juga seorang fotografer freelance. Ia punya waktu libur dua hari setiap minggu yang bisa membuatnya bepergian bersama banyak gadis. Ia suka berburu hal-hal gratis yang ada di sekitarnya, termasuk saat ia mendapat tiket gratis ke USA dua tahun lalu. Untuknya, hal-hal seperti itu sudah membuatnya senang.

Ia bukannya tak peduli dengan Yesung. Hanya saja kebiasaannya yang sulit diubah. Apalagi dengan kenyataan bahwa mereka sudah tinggal berjauhan sejak ia remaja dan tidak pandainya ia memecah kekakuan dalam suatu interaksi, semua semakin rumit. Buat orang lain, menepuk bahu saudara sendiri lantas saling membagi rahasia adalah hal lumrah, tapi baginya itu sedikit susah. Pernah ia mencoba mengetuk kamar Yesung disuatu malam tak lama setelah Yesung kembali dari Korea. Begitu pintu terbuka, bukan ajakan untuk bicara berdua yang ia lakukan, ia justru menawarkan masakannya. Karena Yesung tak pernah percaya dengan masakan kakaknya itu, maka jelas tawaran itu ditolak.

Ditengah-tengah pikirannya, suara pecahan benda kaca sampai ke telinganya. Ia yakin itu berasal dari kamar Yesung. Meski ragu, pada akhirnya ia berdiri, meminum seperempat botol air lagi lantas mulai berjalan ke atas.

Sepanjang perjalanan ia terus menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kencang. Ia harap kali ini usahanya tidak sia-sia dan tidak melenceng lagi dari rencana. Begitu tiba di depan pintu, ia sempat mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi kemudian ia berubah pikiran. Semakin banyak waktu yang ia habiskan diluar, maka semakin menciut nyalinya. Jadi ia langsung memegang handle pintu, mendorongnya cepat. Tapi yang dilihatnya di dalam kamar membuat kedua kakinya lemas.

“Yesung!”

***

Casey berlari bersama Marcus dan Mickey di belakangnya. Mereka melewati lorong dengan banyak pintu yang mana hampir semua pintu terisi pasien. Para perawat hilir mudik hingga beberapa orang menabraknya. Ia tak sempat minta maaf. Matanya tertuju pada satu titik di ujung sana yang sedang duduk sambil menutup muka.

“Dennis!”

Pria itu menoleh padanya, seketika berdiri lantas memeluknya.

“Dennis, tenangkan dirimu.”

“Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Aku takut.”

“Tapi dia baik-baik saja, kan?” sambar Mickey yang belum sempat berganti pakaian dari café. Leeteuk duduk kembali bersama Casey lalu menceritakan semuanya. Bagaimana ia melihat Yesung pulang dalam keadaan tak bersahabat. Lalu tak lama terdengar suara pecahan kaca, kemudian…

“Aku tak habis pikir dia senekat itu.” Leeteuk meremas rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi. Sejak ia melihat Yesung terbaring dilantai dengan beling tertancap di siku kanannya, ia tak bisa tenang. Sepanjang perjalanan membawa Yesung ke rumah sakit, pikirannya sudah liar kemana-mana. Ia menelpon Casey pun dengan suara bergetar.

“Aku tidak menyangka dia akan melakukannya.”

Casey memandangnya heran. “Kau pikir dia melukai dirinya sendiri?”

“Kondisinya tidak begitu baik sejak kembali dari café. Apakah terjadi sesuatu disana?”

Casey, Marcus dan Mickey berbagi pandangan. Casey sadar ide untuk membuat Yesung mencurahkan isi hatinya adalah miliknya. Ia yang mengatur segalanya untuk menuntaskan perasaan sahabatnya yang mengganjal itu. Tapi ia berani jamin dan ia mengenal Yesung lebih baik dari siapapun termasuk kakaknya sendiri. Ia tahu betul bagaimanapun frustasinya Yesung karena Jeany, Yesung tak pernah punya niat mengakhiri hidup. Yesung bukan pria seperti itu. Lagipula Yesung sudah kelewat dewasa untuk melakukan hal sebodoh itu.

“Jadi benar terjadi sesuatu di cafe?” Leeteuk bertanya lagi. Kali ini Marcus yang menjawab dengan singkat, “Malam ini ia menceritakan kisah cinta kepada kami, bukan bernyanyi.”

“Kisah cinta? Maksudmu dia….”

Leeteuk baru akan bertanya lebih detail saat pintu ICU terbuka, dokter keluar lantas mendekati mereka.

“Dia baik-baik saja, hanya butuh beberapa jahitan dan kami sudah menanganinya. Dia kehilangan kesadarannya bukan karena luka. Sepertinya ada hal yang membebani pikirannya.”

Ke empat orang yang berdiri di depan dokter itu saling pandang.

“Tapi semuanya baik-baik saja. Sebentar lagi kalian bisa menjenguknya.” Dokter itu berlalu sambil menepuk bahu Leeteuk. Semua yang ada disitu kompak menghembuskan nafas lega mendengarnya, terutama Leeteuk yang menyaksikannya. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak.

Begitu Yesung dipindahkan ke ruang perawatan, mereka berempat menyerbu kesana, menunggu hingga Yesung sadar dan mendengar penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Casey sendiri masih yakin dengan tebakannya bahwa ini hanya sebuah kecelakaan yang entah bagaimana caranya bisa terjadi. Hanya waktunya yang tepat saat suasana hati Yesung tengah tidak baik, tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan kebodohan itu.

Selama menunggu Yesung sadarkan diri, Leeteuk kembali menanyakan perihal apa yang dilakukan Yesung selama di cafe. Casey menceritakan bahwa ia yang mengatur segalanya agar Yesung punya kesempatan untuk membagi kisahnya. Ia tahu selama sepuluh tahun ini Yesung menyimpannya seorang diri dan menderita. Harusnya itu bisa membuatnya lega. Tapi ceritanya sudah terputus meski belum mencapai setengahnya.

“Aku rasa dia merindukan Jeany. Lalu dia…….” Leeteuk mengalihkan pandangannya pada Yesung yang masih tertidur dengan lengan dibalut perban.

“Dennis, berhenti berpikir kalau Yesung melakukan percobaan bunuh diri.”

“Tapi..”

“Apapun pendapatmu, aku mau tidur. Kau juga sebaiknya tidur di dekatnya.”

Casey tertidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala tertunduk. Marcus di sebelahnya dengan kepala ditangan sofa dan kaki di atas pahanya, sedangkan Mickey memilih tidur dilantai sambil bersandar didinding. Leeteuk sendiri memutuskan untuk tidur dikursi dekat tempat tidur Yesung.

Ketika jam menunjukan hampir pukul satu malam, Leeteuk terbangun karena merasa ada gerakan ditangannya. Awalnya ia pikir ia hanya bermimpi, tapi setelah mengucek mata berkali-kali, ia senang karena Yesung sudah sadar dan sedang berusaha membuka mata.

Leeteuk mendekatkan kursinya, menunggu dengan sabar Yesung terbangun sepenuhnya. Hingga beberapa detik kemudian ia bisa tersenyum lega melihat Yesung menatapnya.

“Bingung?”

Yesung memang tak bisa menutupi keterkejutannya. Leeteuk bisa melihat bagaimana mata sipit itu seketika membulat melihatnya ada disini. Mungkin Yesung bukan terkejut karena ia ada di tempat asing, melainkan karena kehadirannya.

“Kau pasti akan lebih bingung jika kukatakan bahwa sejak tadi aku disini, memegang tanganmu.”

Yesung seperti akan mengangkat tangannya untuk memastikan perkataan Leeteuk, tapi kemudian ia meringis.

“Aw…”

“Tanganmu terluka. Maksudku….kau yang melukainya.”

Yesung semakin bingung dibuatnya. “Aku?”

“Ya, aku melihatnya.” Leeteuk menghembuskan nafasnya dengan berat. Setelah menguap cukup lebar ia pun menjelaskan, “Aku paham apa yang kau rasakan. Kau mungkin tersiksa apalagi aku tak pernah ada untukmu. Tapi…,itu bukan alasan untuk melukai dirimu sendiri.”

“Hyung, kau pikir aku mau bunuh diri?”

Leeteuk mengangguk polos. “Yesung, mulai saat ini kau bisa mengatakan apapun padaku. Kalau perlu malam minggu nanti aku tidak akan berkencan dan kita bisa minum bersama.”

Yesung tersenyum geli.”Kau benar-benar tak mengenaliku, hyung. Dan kau memanggil namaku dengan benar?”

“Yeah…kurasa begitu.”

Yesung menggerakan kepalanya, berusaha melihat wajah kakaknya dengan benar. “Jadi kau pikir aku yang membuat tanganku seperti ini?”

Untuk kesekian kalinya Leeteuk mengangguk saja.“Aku salah? Tapi aku melihatnya.”

“Melihat apa?”

Leeteuk diam. Ia memang hanya melihat kejadian sesaat setelah bunyi pecahan itu. Dan ia tak punya bukti bahwa Yesung melukai tubuhnya sendiri.

“Hyung, aku menumpahkan minumanku dan saat berjalan aku terjatuh karena licin, gelasku pecah kemudian……..” Yesung menggali ingatannya dan sejauh ini hanya itu yang ia ingat selain rasa sakit di bagian siku tangannya.”Aku tidak tahu apalagi yang terjadi setelahnya.”

“Jadi kau bukan melakukan percobaan bunuh diri?”

Yesung mengangguk. Leeteuk pun langsung mengelus dada saking leganya. Dan tanpa sadar mengacak rambut Yesung. Ia tak tahu bagaimana Yesung begitu merindukan perlakuan semacam itu dari kakaknya. Dengan fakta bahwa mereka adalah lelaki dewasa yang mungkin bisa dikatakan hampir tua, itu tidak membuat hal tersebut jadi tabu dilakukan.

“Tapi aku serius dengan perkataanku sebelumnya.”

“Maksudmu……kau memegang tanganku sejak tadi?”

Leeteuk memutar bola matanya. Ia sandarkan tubuhnya ke kursi lantas bersedekap. “Aku serius bahwa mulai saat ini aku akan lebih memperhatikanmu.”

“Kedengarannya kau terlambat mengatakan itu. Aku menunggunya sejak pertama kali aku menyusulmu kemari.”

“Ya, aku mengaku salah. Kau tidak perlu mengulangnya lagi.”

Untuk pertama kali sejak beberapa tahun belakangan, mereka melalui percakapan panjang dan menyenangkan. Meski ini sudah begitu terlambat, Yesung tetap menikmatinya. Ia sangat lega jika akhirnya ia tidak merasa tinggal sendirian lagi. Setidaknya, ketika ia pulang kerja dari kantor, ia punya teman bicara untuk menumpahkan apapun.

“Hyung, berapa usiamu saat ini?” tanyanya tiba-tiba. Leeteuk sampai heran mendengarnya. “Kau tahu usiaku. Kenapa kau menanyakannya?”

Yesung tersenyum jahil.”Segeralah menikah dan punya anak. Kau sudah cukup tua.”

Wajah Leeteuk merah. Ia perbaiki letak duduknya lalu berlagak merapatkan jaket. Sementara Yesung cukup menikmati pemandangan tersebut. Ia tahu kakaknya sangat sensitif jika menyangkut masalah ini. Kakaknya selalu menghindar.

“Kita hidup di negara yang bebas. Dan aku senang bisa pergi dengan siapa saja.”

“Tapi kau tidak boleh lupa negara asal kita. Dan aku yakin jika ayah dan ibu masih hidup, mereka akan merasa sedih karena belum menimang cucu.”

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?  Aku tahu kau sudah menikah lebih dulu, tapi kau tidak bisa seenaknya memaksaku jika pernikahanmu sendiri berantakan.”

Leeteuk langsung menutup mulutnya. Kaget ia bisa hilang kontrol dan mengatakannya begitu gamblang. Ia bisa melihat perubahan raut wajah Yesung. Tapi kemudian Yesung tersenyum kembali seakan tidak mendengar apa-apa.

“Yesung, aku…”

“Tidak apa-apa. Itu kenyataan dan aku tidak bisa menolaknya.”

Leeteuk menyentil bibirnya sendiri yang sudah lepas kendali. Situasi yang cukup menyenangkan yang susah payah dibangun harus runtuh hanya karena sebuah kalimat bodohnya. Sekarang ia hanya bisa diam, menunduk karena tak enak hati. Sementara Yesung memandang keluar jendela. Ia punya kenangan manis dengan penghubung antar ruang itu. Disana ia meletakkan mawar pertama untuk Jeany. Disana ia sering menyelinap masuk ke kamar Jeany. Dan masih banyak lagi kenangan yang tak pernah ia lupakan. Sekarang, semua jauh berbeda. Ia hanya menatap hampa ke arah jendela. Tak ada siapa-siapa di luar sana yang menunggunya. Hanya ia yang menunggu. Hanya ia yang mencari.

Disudut lain Casey diam-diam memperhatikannya. Selama ini ia selalu yakin dengan apapun yang ia lakukan. Namun, untuk kali ini ia merasa sudah salah langkah. Karena idenya, sekarang Yesung seperti sedang menyelami masa-masa itu dari awal. Ia tak tahu sekarang cerita itu sudah tiba dititik mana. Tapi ia tahu itu bukan bagian yang baik.

******

Sekitar dua minggu setelah pertengkaran malam itu, Yesung sengaja tak menghubungi atau menemui Jeany lagi. Ia bukan sedang merajuk karena tak sepenuhnya ini adalah salah Jeany. Ia sadar karena telah seenaknya menilai Mr.Hanks. Ia juga akui tak cukup handal bersikap didepan gadis setipe Jeany. Ia hanya sedang memberi waktu pada diri mereka untuk berpikir tentang semuanya. Setelah setengah tahun yang luar biasa ini, mungkin mereka butuh ruang dan waktu untuk sendiri serta saling memahami lagi.

Ia sendiri tak tahu apakah Jeany sudah bisa mengerti dan percaya padanya atau belum. Tapi dua hari lalu handphonenya berdering menampilkan nama Jeany dilayarnya. Sengaja ia tak mengangkatnya. Ia rasa belum saatnya untuk bicara. Dan hari ini ia hanya bisa tersenyum ketika bosnya memberikan daftar pelanggan dan ada alamat Jeany disana. Ia tidak merasa perlu untuk bertanya kenapa bukan Jeremy lagi yang mengantarnya. Tanpa bantahan, ia pergi kesana dan berhadapan lagi dengan Mr.Hanks untuk pertama kalinya sejak kejadian itu. Ia sendiri tadinya yakin bahwa ini hanya cara Jeany supaya mereka bisa bertemu. Tapi dengan fakta bahwa Mr.Hanks ada disana, ia tak mengerti sebenarnya ini semua ulah siapa dan atas dasar apa. Mungkinkah Mr.Hanks hanya ingin menegaskan siapa dirinya dengan perbandingan nyata seperti saat ini? Mereka berdiri berhadapan dengan Mr.Hanks yang mengenakan kemeja rapi, kacamata seperti sehabis membaca koran dan jam tangan bermerk. Sedangkan ia memakai helm serta seragam kerjanya dengan sekotak pizza ditangannya.

Ia teringat perkataan Jeany malam itu dan sebisa mungkin ia meyakininya. Ini hanya suatu kebetulan dan tidak perlu disangkut pautkan ke arah yang terlalu jauh. Langsung ia serahkan kotak pizza itu lengkap dengan tagihannya. Setelah mendapat bayaran, ia berpamitan pulang dengan sangat sopan kemudian pergi. Saat itu ia bisa menemukan Jeany berdiri dibalik jendela kamarnya. Ia tak bisa munafik bahwa ia pun merindukan gadis itu. Ia pun bisa dengan mudah menyelinap ke dalam atau menarik paksa Jeany dari sana, tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk tak melakukan itu lagi. Dengan menahan segala perasaan serta pandangannya agar tak menatap Jeany, ia pergi begitu saja.

Dengan keadaan mereka yang seperti ini, ia sendiri tak tahu lagi harus menamakan hubungan mereka dengan apa. Tidak tahu mau dibawa kemana hubungan mereka. Apalagi dengan sikap ayah Jeany seperti itu, jelas sekali hubungan mereka belum mendapat restu. Artinya, masa – masa untuk tidak saling melihat itu akan bertambah panjang. Tadinya ia merasa baik-baik saja. Tapi hingga nyaris satu bulan lamanya, ia nyaris saja menyerah dan menyambangi rumah Jeany. Namun, niat itu ia urungkan kembali begitu teringat wajah ayah Jeany. Bukannya takut. Tapi ia merasa perlu melakukan sesuatu yang lebih untuk meyakinkannya dan hingga saat ini ia belum juga menemukannya. Jika benar yang dikatakan Jeany bahwa ayahnya hanya butuh sedikit diyakinkan dan bukan dengan uang, berarti ia masih punya kesempatan.

Disuatu malam ia berpikir panjang hingga tak tidur. Apa yang ia rasakan saat ini? Apa yang membuatnya seperti ini?

Ia tak pernah begitu serius menyikapi suatu masalah. Termasuk soal ayah Jeany, ia hampir yakin bahwa ini hanya soal sepele. Tapi sekarang saat kenyataannya tak semudah itu, ia justru dibuat pusing dengan memikirkan cara agar ia mendapat restu. Ia berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Belajar bersikap sopan santun dan masih banyak lagi. Sulit dipercaya jika itu semua dilakukan hanya demi satu nama yang ia bahkan tak ingat kapan tepatnya ia jatuh cinta pada gadis itu. Jika disebut cinta pada pandangan pertama, ia rasa tidak. Apakah cinta itu muncul beberapa saat setelah pertemuan? Atau saat ia nekat mencium pipi Jeany di rumahnya? Atau saat mereka pergi ke sungai Mersey? Ia tak bisa memastikan kapan cinta itu datang. Yang akhirnya bisa ia simpulkan bahwa ia memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta yang sebenarnya dan ia tidak main-main seperti yang dituduhkan Jeany sebelumnya.

Malam ini ketika ia tak bisa tidur, ia membuat mie instan sambil menonton televisi. Dan saat ia mengganti channelnya, ia tersedak melihat wajah Jeany ada disana sedang membawakan breaking news. Terakhir kali mereka bertemu, Jeany masih mengeluh soal tugasnya. Jadi….Jeany sudah bukan reporter ramalan cuaca lagi?

Diam-diam ia tersenyum memandang wajah itu melalui layar kaca. Satu bulan tak bertemu, wajah Jeany tampak lebih kurus. Tapi Jeany masih cantik. Rambutnya nampak menjadi lebih pendek meski tetap melebihi bahu seperti yang ia suka. Andai saja mereka bisa bertatapan secara langsung, Jeany pasti akan memeluknya dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana caranya ia bisa naik pangkat. Kemudian………….

Ah!

Matanya membulat. Ia habiskan minumnya, meninggalkan mie instannya lalu menyambar jaket dan tanpa mengganti sandalnya berlari keluar. Ia melihat jam tangannya. Jika perkiraannya tidak meleset, masih ada waktu sekitar satu jam baginya untuk bisa melihat Jeany. Meski Jeany hanya membacakan berita dengan durasi yang sangat singkat, ia tahu Jeany pasti mempersiapkan dirinya begitu lama. Sama halnya dengan persiapan pulang. Jadi ia cukup percaya diri untuk berlari dari rumahnya ke kantor utama stasiun tv DLB.

Ia tak mungkin menyetop taksi. Selain karena sudah sangat malam dan jumlah taksi menipis, ia juga tak bawa uang. Lagipula ia menikmatinya. Angin malam yang berhembus kencang menembus jaketnya seperti tiupan semangat untuknya agar lari lebih cepat lagi. Ia bisa tertawa sepanjang perjalanan. Seperti burung liar yang dikurung dalam kandang tanpa makan, kini ia bebas dan bisa terbang kemanapun yang ia inginkan. Meski kakinya mulai pegal dan ia harus berkali-kali berhenti untuk mengelap peluh serta mengatur nafas, ia tak menyerah. Inilah yang harus ia lakukan untuk pembuktian didepan Jeany. Ia memang gila dan Jeany yang membuatnya lebih gila!

Sekarang ia hanya perlu berlari sedikit lagi, melewati sedikit orang yang masih berkeliaran di kota, melewati tempatnya bekerja, mengacuhkan suara seseorang yang memanggilnya hingga menyetop mobil yang hampir menabraknya di tengah jalan.

“Hey! Kau sudah bosan hidup?” teriak seorang pengemudi dari mobil yang dihentikannya secara mendadak. Yesung hanya tersenyum lantas melanjutkan larinya. Tinggal beberapa meter lagi dan senyumnya semakin mengembang ketika ia bisa melihat Jeany keluar dari gedung kantornya. Gadis itu sedikit merapikan rambutnya kemudian berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. Yesung menambah lajunya hingga akhirnya ia tiba di hadapan Jeany.

Ia sungguh kelelahan. Ia hampir ambruk kalau saja Jeany tak menoleh dan memandangnya dengan terkejut. Ia tak mengerti bagaimana bisa satu wajah bisa mengubah banyak hal dan menaikkan semangatnya. Seketika Ia bisa berdiri tegak meski masih dengan memegangi dadanya.

“Aku tahu kau belum pulang.”

Ia perkecil jarak dengan Jeany. Untuk beberapa menit kemudian mereka diam dan ia menggunakannya untuk menetralkan nafasnya yang sempat berantakan. Ia sadar sekarang bahwa olahraga itu sangat penting dan akan berguna disaat-saat genting begini.

“Huh…Katakan sesuatu. Setidaknya buat perjuanganku berharga.”

Jeany memandangnya dari ujung rambut yang berantakan, turun ke piyama yang dilapis jaket hingga sampai ke bawah pada sandal jepit berbulu dikakinya. Ia tersenyum simpul.

“Kau tahu? Aku hampir gila satu bulan ini. Jadi begitu aku melihatmu di tv, aku langsung kemari dan………” Ia penasaran dengan senyum Jeany yang tak juga luntur. “Apa arti senyumanmu itu? Kita sudah baik-baik saja?”

“Memangnya kita habis bertengkar?”

Yesung menggaruk kepalanya. Terbayar lunas usahanya malam ini berlari hampir empat kilometer dengan piyama dan sandal jepit untuk bertemu Jeany.

“Aku minta maaf,” ucap Jeany pelan. Yesung mendekatinya lagi hingga jarak antara mereka hanya berkisar setengah meter. Satu bulan adalah waktu yang cukup untuk menenangkan segalanya. Ia sudah tahu perasaannya sendiri dan ia juga yakin Jeany tak punya alasan untuk meragukannya lagi.

“Aku juga minta maaf.”

Mereka sama-sama tersenyum. Secara tak terduga Jeany maju lebih dulu kemudian mengecup bibirnya cukup lama. Dan tanpa bisa ditahan lagi, Yesung membalasnya, tak membiarkan Jeany berhenti begitu saja.

Beberapa taksi tampak lewat tapi tak ada yang dihentikan oleh mereka. Jeany lupa ia harus pulang. Tapi Yesung tahu bahwa gadis di depannya itu harus segera tiba di rumah. Ia genggam tangannya, mengajaknya berjalan kaki sambil menunggu taksi. Tangan mereka tak pernah lepas hingga mereka naik ke dalam taksi dan sampai ke rumah Jeany. Bahkan saat pintu terbuka dan Mr.Hanks yang membukanya, Yesung enggan melepaskannya.

“Kau lagi?”

Yesung membungkukkan badannya. Mr.Hanks tampak semakin tak nyaman memandangnya dan itu justru lebih buruk dari sebelumnya. Ia tak tahu kenapa. Yang ia tahu, Mr.Hanks menyuruh Jeany untuk masuk yang artinya ia harus melepaskan tangan Jeany.

“Masuklah. Aku akan bicara dengan ayahmu.”

Jeany menurut kemudian masuk ke dalam mendekati ibunya. Sementara Mr.Hanks menutup pintu seakan tak memberi ruang bagi siapapun untuk menguping pembicaraan mereka. Yesung berusaha tenang dan tidak panik. Ia yakin bisa mengatasi semuanya.

“Kupikir kau menepati janjimu dengan tidak menemui Jeany tanpa ijinku.” Mr.Hanks membuka percakapan. Ia berjalan ke halaman lantas berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Yesung tersenyum kecil, pelan-pelan berdiri di belakangnya.

“Aku merindukannya. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”

“Bagaimana jika aku memintamu untuk meninggalkan Jeany?”

Tanpa merasa terancam sedikitpun, Yesung menatap Mr.Hanks yang baru saja membalik badannya. Tak menunggu waktu lama ia langsung menjawab, “Akan kulakukan jika kau punya alasan masuk akal.”

Mr.Hanks tersenyum dibuatnya. Matanya bisa menemukan Jeany yang mengintip melalui tirai jendela, tapi ia fokus pada Yesung.

“Aku orang tuanya. Aku tahu apa yang terbaik untuknya. Dan menurutku kau tidak bisa memberikan itu.”

“Atas dasar apa kau mengatakan aku tidak bisa memberikannya yang terbaik? Jeany meyakinkanku bahwa kau bukanlah pria mata duitan dan aku percaya itu. Jadi, apa yang sebenarnya masih mengganjal?”

Mr.Hanks meraih bahunya, menariknya untuk menjauh dan berusaha terlihat dekat dimata Jeany dari posisinya. Begitu tirai jendela sudah tertutup, ia tepuk bahunya cukup kuat.

“Tebakanku tak pernah meleset dan aku tidak punya firasat yang bagus untukmu.”

“Tapi bukan berarti kau selalu benar.”

Mr.Hanks menarik nafasnya, mulai kesal dengan Yesung yang selalu menjawabnya dengan cepat bahkan sebelum ia selesai bicara.

“Anak muda, aku tidak menghancurkan rahangmu, itu adalah suatu keberuntungan. Jangan buat aku melakukan kekerasan.”

Yesung menjauhkan tangan Mr.Hanks dari bahunya. Berdehem dua kali lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan sikap Mr.Hanks.

“Aku yakin kau adalah orang berpendidikan dan kekerasan bukan pilihan terakhirmu. Sekali lagi kukatakan, aku akan menjauhi Jeany jika kau memberiku satu alasan yang masuk akal. Jika hanya karena firasatmu yang katanya tidak pernah meleset itu, aku rasa aku masih punya kesempatan.”

Yesung menarik kedua ujung bibirnya lebih lebar untuk dipamerkan pada Mr.Hanks. Ia tidak merasa salah, jadi ia tidak takut.

“Aku sangat mengerti kau hanya tidak mau Jeany tersakiti. Dan aku bukan pria sempurna. Aku punya banyak kekurangan atau bahkan aku terlihat begitu meragukan. Tapi aku berani pastikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya. Aku tidak pernah merasa seperti ini dengan seorang gadis. Hanya Jeany yang…………” Ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan perasaannya terhadap Jeany. Ia diam sejenak dan bersyukur karena Mr.Hanks tak menyela.

“Entahlah. Aku merasa lengkap bersamanya. Seperti………..inilah tujuan hidupku.”

Tawa Mr.Hanks menyembur. “Kau bercanda? Aku yakin usiamu tak lebih tua dari anakku dan kau bicara soal tujuan hidup? Kau bilang kau merasa lengkap? Dengar anak muda, ada banyak hal yang harus disatukan dalam tubuh dua orang berbeda.”

“Ya, aku tahu itu. Aku sadar kami punya banyak perbedaan. Kami sering bertengkar bahkan kami baru saja berbaikan, tapi aku yakin kami bisa melaluinya. Mr.Hanks, aku akan buktikan padamu aku tidak main-main.”

“Silahkan. Lakukan apapun yang menurutmu benar. Aku akan menunggu dan lihat apakah kau bisa mengubah pikiranku.”

Mereka sama-sama tersenyum. Yesung takkan mundur meski sejujurnya ia tak punya ide apa-apa. Yang ia tahu, ia sedang ditantang dan pantang baginya untuk mundur. Sudah sejauh ini, tanggung sekali jika ingin berhenti.

Sebagai penutup, ia membungkukkan badannya kemudian pergi tanpa melirik sebentar ke jendela kamar Jeany. Dalam diam, tangannya mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

“Yesung vs Mr.Hanks. Siapa pemenangnya?”

***

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. spring
    Jun 19, 2015 @ 20:41:14

    chapter ini bkin tegang.
    sbnrnya sdh baca dri chap 1, tpi baru smpt review. maaf ya ;).
    ga sabar nunggu cerita selanjutnya

    Reply

  2. spring
    Jun 19, 2015 @ 20:41:56

    chapter ini bkin tegang.
    sbnrnya sdh baca dri chap 1, tpi baru smpt review. maaf ya ;).
    ga sabar nunggu cerita selanjutnya. judulnya memories lagi. lagu paling favoritku di super junior

    Reply

  3. Novita Arzhevia
    Jun 23, 2015 @ 12:24:41

    Entah kenapa karakter Yesung di sini benar2 keren, pantang menyerah, dan bener2 sikap laki2 yg bertanggung jawab. #hugyesung

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: