Breakable Heart [3/?]

BREAKBLE

Author : FitOsyin

Tittle : Breakable Heart Part 3

Cast : Cho Kyuhyun, Jung Hyo Rim (OC)

Genre : Angst, Romance

Rate : PG 13

Length : Chapter

My Note : Cerita ini pure ide author, kalo nemu ff ini di wp lain itu bukan plagiat, author orang nya senang menebar kebahagiaan, jadi disini senang disana senang hhe ^^

 

 

Gadis itu mendecak kesal ketika hembusan angin membuat helaian rambutnya terlepas dari ikatan, dengan tergesa-gesa ia mengikat ulang ikat ekor kudanya sambil berlari dan berusaha agar ia tak sampai terjatuh mengingat kakinya kini memakai sepatu high heels.

                “Hyo, palliwa!” Teriak Hae Ri dari puncak tangga, Hae Ri bersama empat temannya yang lain menunggu Hyo Rim tak sabar untuk mengambil gambar bersama.

                Hari ini upacara kelulusan Hyo Rim dan Hae Ri dari universitas, dan kesemua sahabat-sahabat mereka sengaja meluangkan waktu untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu, hanya satu yang tak ada. Sejak pembukaan acara, Hyo Rim terus berdoa agar pria itu  datang sebentar atau meskipun kini ia sibuk, setidaknya pria itu mengiriminya ucapan selamat. Hanya itu, Hyo Rim rasa wajar baginya mengharapkan ucapan selamat dari pria yang ia cintai.

                Ketika menapaki anak tangga pertama, ia merasakan kehadiran pria itu. Tak memedulikan lehernya yang berderak ketika menoleh terlalu cepat, Hyo Rim segera berbalik dan ia bersorak dalam hati ketika menemukannya di antara kerumunan orang yang hadir, Cho Kyuhyun berdiri di sana. Tatapan mereka bertemu, dan tak sampai satu menit pria itu berbalik menghindar, tertelan keriuhan acara. Hyo Rim tak mau kehilangan kesempatan ini, ia segera berlari mengejar jejak Kyuhyun. Nafasnya terengah, ikatan rambutnya pun terlepas membuat rambutnya berkibar tertiup angin. DI gerbang universitas, Hyo Rim menyisir seluruh sudut jalanan. Nihil, pria itu kembali menghilang. Ia tahu sia-sia mengejarnya, selain karena langkah nya tak sepanjang Kyuhyun jarak yang terbentang di antara mereka juga terlampau jauh.

                “Kau kenapa, Hyo?” Tanya Kim Myung Soo, ia ikut terengah di belakang Hyo Rim.

                Di saat Hyo Rim tiba-tiba berbalik dan berlari seperti orang kesetanan, sontak keempat sahabatnya mengikuti Hyo Rim meski tak mengerti apa yang membuat Hyo Rim bertingkah aneh.

                “Kau menakuti kami, tahu! Tadi kau mirip seperti orang gila tiba-tiba berlari kencang seperti itu.” Cecar Dong Hee,

                “Aku melihatnya, tadi dia ada di sana.” Kata Hyo Rim gugup, ia masih berusaha menormalkan pernafasan juga detak jantungnya.

                Hae Ri menghampiri Hyo Rim dan meraih kedua tangannya, sedikit menyentak seakan dengan itu dapat mengembalikan kesadaran Hyo Rim. Di mata teman-temannya kini Hyo Rim nampak seperti orang linglung.

                “Dia tak ada di sini, Hyo. Kita semua tahu, ia tak mungkin datang. Tak satu pun  dari kita yang dapat menghubunginya, jadi bagaimana mungkin ia tahu tentang hari ini.”

                Kalimat Hae Ri benar, Hyo Rim tak menyangkal itu. Sejak lulus sekolah menengah pria itu menghilangkan jejaknya. Tak ada yang tahu dimana keberadaanya saat ini. Hyo Rim sempat putus asa, menghilangnya pria itu lebih parah dibanding penolakannya dulu. Tapi ia yakin dengan apa yang dilihatnya tadi. Kyuhyun benar-benar ada di sana.

`               “Kau hanya berhalusinasi Hyo Rim-ah, kau terlalu merindukannya.” Hwa Young menepuk lembut pundak Hyo Rim menenangkan.

                Mungkin benar apa yang teman-temannya katakan, ia hanya berhalusinasi. Hyo Rim terlalu merindukan Kyuhyun, membuat otaknya tanpa sadar membentuk bayangan Kyuhyun di depan matanya.

 

000ooo000

Aroma kental kopi menyambut hidung Hyo Rim keesokan harinya. Gadis itu membuka mata dan menemukan langit-langit kamar yang tak asing, ia mengerjap berkali-kali sambil berdoa semoga ia baru saja mengalami mimpi buruk. Ia keluar kamar dan merenggangkan badan di depan pintu, mulutnya menguap lebar-lebar. Rasa kantuk yang sempat hilang karena disergap was-was kini datang lagi setelah melihat keadaan rumah masih normal seperti hari-hari kemarin. Nenek tengah duduk di beranda menatapnya sambil tersenyum.

“Tidurmu nyenyak, Nona?”

“Hmm..”Gumam Hyo Rim, Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Tak ada penampakan sedikit pun pamannya, Jung So. Hyo Rim menghembuskan nafas lega, mereka tak akan pindah ke Thailand dan yang paling penting tak ada tawaran aneh dari dua cho. Hari masih berjalan normal seperti sebelumnya, artinya apa yang ia alami kemarin hanya mimpi buruk. Hyo Rim mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar harus melepaskan perasaannya pada pria itu,ia mudah sekali berhalusinasi dan buruknya halusinasinya kini bercerita. Ini lebih parah dari halusinasinya saat upacara kelulusan dulu.

 

Hyo Rim berjalan menuju dapur, ia mengambil segelas air dan hampir menjatuhkan satu gelas lagi jika tak ada tangan yang menahan laju gelas dari tangan Hyo Rim.

“Aku tahu aku tetap tampan meski belum mandi, tapi cobalah untuk terbiasa dengan itu Hyo.”

“Aku bermimpi!aku masih bermimpi!” Pekik Hyo Rim seraya berlari kembali masuk kamar.

Tepat ketika membuka pintu kamar, pintu kamar Sa Eun terbuka menampilkan Sa Eun dengan balutan gaun silver. Di susul Jung So yang memakai setelan senada.

“Hyo Rim-ah, bagaimana menurutmu?” Tanya Sa Eun, menahan Hyo Rim di ambang pintu.

Hyo Rim tanpa sadar membiarkan mulutnya menganga lebar, “Kalian akan pergi kemana sepagi ini?”

“Ini untuk pesta pernikahanmu besok, bagaimana kau suka?”

“Pernikahan?”Pekik Hyo Rim merenggut rambutnya frustasi, lalu meracau dan masuk ke dalam kamar ”Ini pasti mimpi, aku masih bermimpi.”

Sa  Eun mengikuti Hyo Rim dan menutup pintu kamar Hyo Rim pelan namun tetap membuat gadis itu tersentak kaget mendengar suara pintu tertutup.

“Ko-mo, tinggalkan aku sendiri. “

Tapi Sa Eun sama sekali tak mengindahkan permintaan Hyo Rim, Hyo Rim dapat mendengar langkah kaki Sa Eun yang semakin mendekat. Perempuan yang hanya terpaut usia sepuluh tahun dengannya itu perlahan meraih bahu Hyo Rim membuatnya berbalik menghadap Sa Eun.

“Maafkan aku, Hyo.”

“Aku tahu apa yang akan kau katakan, Hyo tapi biarkan aku dulu yang bicara.”

Hyo Rim tak mengangguk tak juga membantah, ia menatap bingung Sa Eun. Di matanya kini bibinya nampak aneh, selain perpaduan gaun mahal dengan sandal rumah murahan, Hyo Rim menangkap ekspresi aneh di wajah Sa Eun. Sa Eun nampak tengah mempertimbangkan sesuatu, ada kebingungan bergolak dalam pikiran Sa Eun.

“Kami berbohong tentang bisnis pamanmu yang berkembang di Thailand. Pamanmu tak mendapatkan apapun dalam perjalanannya selama satu tahun ini. Sebaliknya, keluarga kita tanpa sepengetahuanmu menuai hutang di sini. Kau tahu, bagi perempuan tak berpendidikan sepertiku berapa penghasilan yang dapat kudapatkan setiap bulannya. Sama sekali tak mencukupi kebutuhan keluarga ini, terutama untuk pengobatan Nenek. Maka, akhirnya kami memilih jalan terakhir yang ada di depan mata.”

Sa Eun menghembuskan nafas berat, ia menengadah menghalau air matanya yang menggenang.

“Maafkan aku, Hyo. Aku tahu rumah ini milikmu dan satu-satunya peninggalan kedua orang tuamu. Tapi inilah satu-satunya cara yang terpikirkan olehku dulu. Aku putus asa, pamanmu hampir mati dikejar-kejar lintah darat. Aku menjual rumah ini sebagai tebusan nyawa suamiku, maafkan aku.” Rintih Sa Eun jatuh bersimpuh di depan Hyo Rim.

Hening mencekam melingkupi kamar kecil itu, hanya isak tangis sesekali yang terdengar. Hyo Rim ikut terduduk di lantai di dekat Sa Eun. Ia masih bisu, tak tahu apa yang harus dikatakan meski di otaknya banyak sekali pertanyaan yang muncul. Rumah ini, sejak dalam ingatan pertamanya rumah ini menjadi saksi bisu kehidupannya. Hyo Rim memang tak begitu mengingat jelas bagaimana sosok ayah dan ibunya. Namun setiap kali mencium harum aroma pedas, ia selalu teringat ibu. Ibunya senang memasak masakan pedas untuknya, dan setiap kali mendengar bunyi dengungan dari tayangan sepak bola di tv Hyo Rim mengingat bau asap rokok yang dikepulkan ayahnya. Hal-hal sederhana itu, semuanya terjadi di rumah ini. Dan Sa Eun telah menjual rumah ini, menjual kenangan Hyo Rim.

“Jadi, kepindahan kita ke Thailand hanya alasan agar aku tak tahu rumah ini sudah di jual?”

Sa Eun mengangguk lemah, ia beringsut mendekati Hyo Rim, “Maafkan aku, Hyo.”

“Tapi, kau tak perlu mengkhawatirkan itu lagi jika kau mau mengikuti keinginannya.” Lanjut Sa Eun.

Hyo Rim tercenung, ia paham apa yang Sa Eun maksud. Keinginan’nya’. Tidak, Hyo Rim menggeleng keras. Tidakkah Sa Eun sadar, ia kini sedang berusaha menjual keponakannya sendiri? Hyo Rim marah pada Sa Eun, ia merasa tak jauh berbeda dengan barang dagangan.

“Jual saja rumah ini, kita pindah. “ Hyo Rim bangkit dan meraih koper lalu mengeluarkan seluruh pakaiannya dari lemari,

“Hyo Rim-ah, tak ada yang menjamin kehidupan kita akan membaik di luar sana. Kau tak tahu bagaimana kehidupan yang sebenarnya itu.”

Tidak, aku baru saja tahu bagaimana hidup itu. Kehidupan nyata adalah seperti ini, dimana keluargamu sendiri bahkan rela menukar mu dengan uang

                “Dimana pun lebih baik dibanding harus bersama dengan pria itu.”

“Ingatlah kondisi nenek, Hyo. Kita tak mungkin membuatnya lebih menderita di banding sekarang.” Kata Sa Eun menghentikan gerakan Hyo Rim menumpuk pakaian di atas koper.

Nenek. Hyo Rim memejamkan mata, ia tak mungkin mengabaikan Nenek begitu saja. Sama seperti Nenek yang tak pernah mengabaikannya dulu. Nenek bukanlah perempuan lemah, sejak muda ia telah berjuang menjadi orang tua tunggal membesarkan anak-anaknya. Belum selesai di sana, di usia yang telah renta nenek juga masih harus merawat Hyo Rim hingga akhirnya jatuh sakit. Inikah akhir yang harus neneknya terima setelah berjuang demi keluarga seumur hidupnya? Hidup sungguh tak adil.

Hidup memang tak pernah adil bagi orang seperti kita Jung Hyo Rim.

000ooo000

Aku merasa sedang berada dalam roaller coaster. Tadi pagi aku terbangun di sebuah kamar hotel dan beberapa perempuan cantik masuk membawa perlengkapan yang tak kutahu apa namanya. Hal yang kusadari berikutnya, aku berdiri di tengah ball room hotel mengenakan gaun yang tempo hari kucoba dengan paksa. Pria itu mengamit lenganku erat membuatku bahkan tak dapat berjalan jika ia juga tak berjalan. Intinya aku hanya akan bergerak jika ia yang menggiringku. Dan sialnya, ia menggiringku kesana-kemari mengucapkan salam dan terima kasih pada setiap orang yang hadir, sebagian besar tak ada yang kukenal dan mengenaliku. Bahkan tak sedikit yang menggumamkan pertanyaan aneh ketika melihatku. Tentu, mereka heran bagaimana perempuan biasa sepertiku yang akhirnya berhak berdiri di sampingnya.

Dan ketika kesadaranku belum sempurna, aku kini memakai hanbok merah muda menatap kosong pemandangan di luar mobil. Kyuhyun duduk di sampingku, ia menyumpal telinga dengan earphone sejak masuk mobil tadi. Han Ahjussi sopir keluarga Cho juga fokus mengemudi, membuat suasana di dalam mobil semakin sunyi. Seharusnya kami kini menuju rumah besar keluarga Cho, tapi Kyuhyun menolak tradisi itu membuat orang-orang yang membantuku mengganti pakaian dengan hanbok sambil memegang sekotak besar kue beras, merenggut tak suka.

Akhirnya, mobil membawa kami menuju rumah pria ini. Aku memandangi gedung-gedung yang kami lewati. Mereka nampak berlari menjauh, kakiku gatal ingin melompat keluar dan mengikuti mereka berlari. Aku bosan, dan akhirnya teringat pada buku baru yang kubeli minggu lalu. Aku belum pernah membacanya, dan kalau tak salah kemarin malam aku memasukan buku itu ke dalam tas ransel di bawah kaki ku.

“Apa yang kau baca?” Tanya Kyuhyun ketika aku tiba di halaman kesepuluh.

Tanpa mengatakan apapun dan tak beranjak dari kalimat yang kubaca, aku mengangkat buku dan membiarkan Kyuhyun melihat sampul buku.

“Kau menyukai buku itu?”

Aku mengangkat bahu acuh, “Entahlah, aku baru mulai membacanya. Aku hanya penasaran karena melihat sampul bukunya yang menarik.”

“Sampul buku?”

Aku mengangguk,

“Kau sama sekali tak tertarik pada ide ceritanya?”

“Hum, aku tak terlalu memerhatikannya saat membeli.”

Melalui ekor mataku, kulihat Kyuhyun melepaskan earphonenya dan memasukan ipod ke dalam tas. Ia duduk tegak dan memalingkan wajah ke luar jendela seperti yang kulakukan beberapa menit yang lalu.

“Kau tahu siapa penulisnya?”

“Mark Han? Entahlah aku baru membaca yang ini.” Jawabku acuh, “Tapi kalau boleh kukatakan, tulisannya terlalu cengeng untuk ukuran penulis pria.”

“Itu karena kau hanya menyukai novel yang mengandung darah dan pisau di dalamnya.”

Lagi-lagi aku mengangkat bahu, tapi mulai merasa terhanyut dalam pembicaraan ini. Aku merasa seperti kembali ke lima tahun lalu.

“Mungkin juga.” Aku membalik buku sampai ke halaman terakhir, “Tapi sepertinya Mark Han memang penulis cengeng. Lihat, ada berapa kalimat rengekan di dalam buku ini.”

“Yak! Kalau kau mengejeknya untuk apa kau membelinya.” Bentak Kyuhyun marah

“Aku kan tertarik pada sampul bukunya.”

Kyuhyun mengangguk, “Benar, kau memang selalu melihat semua dari permukaan. Tak berubah sama sekali.”

“Apa yang salah? Lagipula kenapa kau begitu peduli pada bacaanku?” Tanyaku tak terima.

“Aku? Siapa bilang aku peduli. Aku hanya ingin mencairkan suasana, tadi itu terlalu sepi.”

Aku mendengus, lihat siapa yang bicara. Siapa pula tadi yang menyumpal telinga dan mengacuhkanku.

Aku baru akan kembali membuka buku namun Kyuhyun lebih cepat merampas buku itu dan memasukan ke dalam tasnya.

“Yak! Pria gila kembalikan bukuku, aku belum selesai membacanya.”

“Bukankah kau bilang buku ini cengeng?”

“Tapi aku masih mau membacanya!”

Mobil berhenti dan kami sontak melirik pada Han Ahjussi.

“Kenapa berhenti?” Tanya Kyuhyun

“Ada seseorang di depan gerbang tuan.”

TBC

10 Comments (+add yours?)

  1. Raemun Jung
    Jun 20, 2015 @ 19:07:13

    Hebat, cerita ini mungkin biasa tapi di bawa dengan bahasa yg bagus dan bersahabat… aku penasaran. Knp part yg ini terasa pendek?

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Jun 20, 2015 @ 20:26:23

    Aduhh ini makin seru ya. Kira2 siapa tuh org yg disana? Ditunggu next partnya 😀

    Reply

  3. shoffie monicca
    Jun 20, 2015 @ 20:37:06

    pnsrn siapa orng yng didkt krbng apa dia nunggu hyo apa nunggu kyu..prsan part ini pndek nya…

    Reply

  4. ana
    Jun 20, 2015 @ 23:05:23

    ceritanya makin seru.. sblumnya maaf ya thor bru comment aku bru slesai bca part 1-3.. penasaran deh apa sh mksudnya kyu oppa” kau memang selalu melihat semua dari permukaan. tak berubah sama sekali”.. dtggu ya chap slnjutnya..

    Reply

  5. aryanahchoi
    Jun 21, 2015 @ 06:43:15

    siapa yg didepan gerbang ya? hyo jdi nikah ma kyu ya kira2 gmna khdpan mrka sehari ya :O

    Reply

  6. Novita Arzhevia
    Jun 21, 2015 @ 06:51:42

    aduh tbcnya bikin penasaran, , cepet lanjut ya thor. . Ceritanya makin seru

    Reply

  7. Anna
    Jun 21, 2015 @ 15:46:55

    Ceritanya keren banget thor, suka sama alur ceritanya, bahasanya bagus, kalau bisa diperpanjang ya part selanjutnya^^. Semangat thor!!!^^
    Maaf ya thor baru komen di part ke 3 hehehe

    Reply

  8. Jung Haerin
    Jun 22, 2015 @ 00:09:03

    Good ff, cerita’y ringan n bikin kepo…..
    Author”y hebaatt……

    Reply

  9. lieyabunda
    Jun 22, 2015 @ 06:40:28

    siapa yg ngalangi jalan mereka yaa,,,,
    lanjut

    Reply

  10. tabiyan
    Jun 22, 2015 @ 12:51:13

    Siapa kah itu? Apa kekasih dr cho kyuhyun? Dasar cwok pemaksa klo ga mau yaudah ga usah dipaksa klo cuma bisa sakitin ja.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: