FATE [6/?]

FATE

Author : Daisy, Flower

Title       : FATE part 6

Genre   : Romance, Comedy, Mystery, Fantasy

Length : Series

Rated    : +13

Cast       :  ~ Lee Dong Hae

~  Cho Kyu Hyun

~  Kim Hana

~ Kim Hyesa

Disclaimer : Kyuhyun dan Donghae adalah milik kedua orang tua mereka, ELF dan SM. We own nothing kecuali OC yang gaje.Ini hanyalah Fanfiction belaka. Don’t plagiat, Don’t Bash dan kami mengharapkan komen dan likenya ya Guys… Gomawo^^

Happy Reading…..

 ***

Pilihan pertama tentunya wahana-wahana kecil karena Hyesa takut ketinggian dan apapun yang terlalu eksrtim.

 

Hingga pada akhirnya Donghae memaksanya ikut untuk naik roller coaster (Kyuhyun tidak memperbolehkannya pergi tanpa persetujuan Hyesa).

 

Donghae menarik lengannya, “Ayo! Aku mau naik!”

 

Hyesa yang berjuang hingga matanya berair menggeleng, “Tidak!! Aku bilang tidak!!”

 

“Ayolah Hyesa!”

 

Perempuan itu menahan dirinya, “Sunbae! Lepaskan!!”

 

Donghae melihat Hana yang sedang sibuk menghadang Kyuhyun agar tidak melihatnya ‘menyakiti’ kekasihnya tersayang.

 

Tahan sebentar Hana! Aku hampir sampai di antreannya!

 

Di sisi lain Hana sudah mulai kehabisan ide. Hyesa meminta Kyuhyun untuk membelikan makanan kecil dan Hana berusaha untuk mengimprovisasi dari titik itu.

 

“Popocorn sunbae!”

 

“Es krim sunbae!”

 

“Sunbae, Hye-chan minta gulali juga!”

 

Kyuhyun menatap perempuan yang panik itu dengan kesal, “Apa ada lagi yang kau inginkan, putri Kaguya?” Tanyanya dengan sarcasme.

 

Terdengar suara teriakan Hyesa yang masih berjuang sampai titik darah penghabisannya dan dengan cepat Hana mendorong Kyuhyun ke arah toko mainan kecil.

 

“H-HYE-CHAN KATANYA JUGA MINTA MAINAN!”

 

10 menit kemudian setelah Hana benar-benar kehabisan ide untuk menghentikan sunbe iblis akhirnya ia harus menyerah juga dan keluar dari toko mainan dengan boneka beruang, Elsa dan Anna.

 

Hana membeku saat melihat Kyuhyun terdiam melihat ke arah antrean roller coaster.

 

Tuhan, aku mohon semoga Donghae sunbae dan Hyesa sudah ada di antrean depan!

 

Kyuhyun memutar badannya dan menatap adik kelasnya sinis, terlihat matanya yang sekejam mata seorang pembunuh, “Hyesa ingin naik roller coaster?”

 

Hana menengok ke antreannya dan terlihat Donghae yang sedang memegang lengan seseorang dengan kuat di antrean paling depan sambil memberinya acungan jempol.

 

Hana tersenyum lebar, “Iya! Ayo kita ikut sunbae!”

 

Hana baru saja ingin beranjak saat tangan besi Kyuhyun menghentikannya. “Jaga ini.” Katanya seraya memberi semua barang belian dan pergi.

 

Hana hanya dapat menatap Donghae dengan ekspresi terkhianat.

 

10 menit kemudian….

 

Donghae kembali dengan memar di kepalanya dan menghampiri Hana yang menunggu di tempat duduk tidak jauh dari wahananya.

 

Saat menyadari kehadiran seniornya yang tersakiti Hana kaget melihat tanda jasanya yang sangat biru ke-unguan.

 

“Apa yang terjadi?”

 

Air mata menetes dari pipi Donghae ke tanah, “Dia.” Katanya sambil menunjuk Iblis yang sedang jalan menuju mereka.

 

Di dalam pelukan Kyuhyun terdapat seorang Kim Hyesa yang masih lemah setelah dipaksa 2 kali naik oleh Donghae. Akhirnya diketahui juga oleh Kyuhyun.

 

Hana tersenyum kesal, “Karma kan.” Bisiknya.

 

Donghae yang tadinya ingin membalasnya langsung membeku saat merasakan Kyuhyun lewat.

 

Lelaki itu pelan-pelan mendudukkan kekasihnya di samping Hana dan mencium keningnya dengan sayang sebelum menarik Donghae untuk ‘berbicara’ dengannya.

 

Hyesa yang masih lemah menepuk bahu Hana.

 

“Hye-chan?”

 

“Na~ya… Pelukan Kyuhyun oppa hangat…” Ucap Hyesa dengan lemah sambil menggenggam erat kaus Hana.

 

Hana menyilangkan tangannya, “Jadi kau lemah seperti ini bukan karena roller coaster?”

 

Hyesa menggeleng dan kembali tersenyum lebar, “Dia juga harum.”

 

“Wah…”

 

“Badannya juga putih.”

 

“Eh…”

 

“Bibirnya juga lembut.”

 

“Hye-chan kau menakutkan…” Ucap Hana yang mencoba menjauh dari temannya.

 

Hyesa tertawa, “Aku jatuh cinta Na~ya!” Teriaknya.

 

Hana melihat bahwa semua orang di sekitar mereka berhenti sejenak saat mendengar suara Hyesa.

 

Perempuan berambut se-bahu itu berbisik, “Kau sakit jiwa!”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Setelah bertengkarnya Kyuhyun dengan Donghae rasanya perjalanan menuju wahana-wahan berikutnya seperti perang dunia dua.

 

Sekali-kali Donghae menumpahkan minumannya di sepatu Kyuhyun dan sang iblis akan membalasnya dengan geraman atau dengan pukulan keras.

 

Tidak jarang juga mendengar Hyesa berkata “Aish!” kepada mereka berdua hingga mereka langsung kembali ‘damai’ selama kurang lebih 7 menit.

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Katanya ada wahana baru loh, di luar.” Ucap Donghae yang sedang menikmati es krimnya yang ketiga, (Karena ia mengamuk seharian dengan Kyuhyun akhirnya oleh persetujuan Hyesa ia di manjakan)

 

Hana bergidik, “E-eoh, aku sedikit lelah, jadi kalian saja yang masuk kalau mau coba…” tawaan yang terkesan sedikit ‘awkward’ keluar dari bibirnya.

 

“Wahana apa?” Tanya Hyesa yang menyatukan alisnya melihat temannya yang terlihat sedikit terganggu.

 

“Rumah Hantu.” Jawab Kyuhyun mantap.

 

Mereka terdiam.

 

Donghae tidak komentar karena masih menjilat eskrim.

 

Kyuhyun tidak berkata karena ia merasa tidak perlu mengatakan apa-apa.

 

Dan Hyesa terdiam karena memerhatikan Hana yang terlihat shock berat dengan senyuman licik di wajahnya.

 

Ia menepuk bahu Hana keras-keras, “Na~ya, kau kan suka rumah hantu!”

 

Hana terkagetkan, Ia melihat Donghae dan Kyuhyun yang memerhatikannya dengan wajah yang serius. Tentu ia bisa mengatakan bahwa dirinya sebenarnya penakut, tetapi di depan sunbae-nya yang sedang menatapnya dengan wajah seakan ingin men-judge dirinya? Tentu saja tidak!

 

“I-itu, tapi aku lelah Hye-chan, nanti kita tidak bisa pulang.”

 

“Aku bisa mengantarnya pulang.” Ucap Kyuhyun, wajahnya yang bosan menunjukkan ekspresi sedikit terhibur dengan perilaku adik kelasnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

 

“Eh?” Hana merasa dirinya dikhianati, “Lalu bagaimana denganku sunbae!”

 

Hyesa menjawab dengan cepat, “Donghae sunbae kan bisa.”

 

“Lalu mobilku?”

 

Giliran Kyuhyun untuk memojoki Hana, “Setelah mengantarmu, Donghae bisa kembali untuk mengambil mobilmu denganku.”

 

“M-mana bisa seperti itu!”

 

Bergilir kembali ke Hyesa, “Bisa saja.” Kyuhyun memberinya senyuman kecil.

 

“Nanti tidak ada yang mengawas mobilku! Bisa dirampok!”

 

“Titip keamanan.”

 

“Kalau keamanannya jahat?”

 

“Atasannya keamanan!”

 

“Kalau atasan sama bawahan bekerjasama?”

 

“Office boy.”

 

“Office boy lebih tidak terpercaya!”

 

Donghae memecah percakapan yang hot itu dengan batuk kecil, “Oi, kita ke sana sajalah dulu, lihat-lihat, katanya terkadang suka buka-tutup tanpa alasan yang jelas -rumah hantunya.”

 

“Kalau tutup kita pulang saja, gampang kan?” Ucap Donghae yang mengambil tasnya dari bangku.

 

Hyesa mengangguk dan memegang lengan Kyuhyun untuk berdiri, “Iya, begitu saja!” Ia merasakan Kyuhyun menariknya untuk jalan lebih dulu.

 

Donghae menatap Hana, “Kau takut kan? Tidak usah ikut.”

 

Hana merasa terhina, “E-eh? Tidak! Aku tidak takut kok!”

 

“Ya sudah, jangan ikut.”

 

Hana terlihat bingung, “Kan aku bilang aku tidak takut…”

 

Donghae tersenyum, “Jadi kau mau ikut?”

 

Hana menyadari kesalahannya, AKU DITIPU!

 

Donghae tertawa dan membiarkan adik kelasnya memukul lengannya dengan kesal sambil berjalan mengikuti couple yang mesra di depan mereka.

 

Lagipula pukulan Hana lemah.

 

*~*~*~*~*~**~*~*~*~*~*

 

“Kita untung! Lagi buka!” Teriak Hyesa dengan senang.

 

Hana yang tadinya memejamkan mata sambil berdoa-doa agar tempatnya tertutup merasa badannya melemas.

 

Hana memejamkan matanya untuk berdoa lagi.

 

Semoga antreannya panjang!

 

“Antreannya hanya 3 orang pula!”

 

Semoga sebentar lagi tutup!

 

“Kata petugasnya baru buka!”

 

Hana menahan dirinya agar tidak mencoba menyekik Hyesa yang mempercepat tempo jalannya agar cepat sampai di rumah hantu.

 

Kyuhyun menarik Hyesa dengan semangat menuju antrean, “Ayo, chagi.”

 

“Hana, kalau tidak mau masuk tidak usah.” Ucap Donghae datar, melihat kegelisahan adik kelasnya yang sudah mulai berjalan mundur.

 

“A-aku tidak takut.” Ulang Hana dengan tegas walau rasanya kakinya diberi gaya gravitasi sebanyak 1000 newton.

 

“Aku bilang kalau kau tidak mau, bukan kalau kau takut.”

 

Hana mengangguk, merasa bodoh, “Ya sudah, aku tidak mau.”

 

“Karena takut ya?”

 

Sebuah gunung berapi telah meledak tidak jauh dari mereka.

 

Hyesa yang tidak sabar langsung meneriaki mereka, “Cepatlah! Nanti tempat kita diambil!”

 

Ambil saja… aku tidak mau masuk, Batin Hana yang merinding mendekati bangunan yang gelap di depan mereka.

 

Rumah hantu yang besar dan hitam penuh dengan dekorasi darah-darah dan gambar hantu-hantu yang berpakaian putih dan mata yang menatap mereka membuat Hana merasa seakan mengecil.

 

Saat mendekat, Hyesa menarik lengan Donghae dan berbisik di telinganya, “Tinggalin Na~ya,tinggalin Na~ya.”

 

Hana yang menyaksikan tingkah laku mereka yang aneh dengan cepat mengambil kesimpulan dan merangkul lengan Hyesa yang kiri dengan erat.

 

Dengan cepat Kyuhyun menegurnya, “Hey, kenapa kau pegang-pegang kekasihku?”

 

Hana menatap kakak kelasnya dengan memelas, “Sunbae, dia kan temanku juga…”

 

“Tapi aku sudah mereservasi lengan itu. Carilah lengan yang lain.”

 

Donghae yang berada di sisi kanan Hyesa juga ikut merangkul lengannya, “Lengan yang ini juga sudah aku ambil!”

 

Kesalahan fatal.

 

Kyuhyun langsung mendekati temannya yang wajahnya yang tak berdosa.

 

Plak!

 

“Lepaskan.”

 

Tangan Donghae langsung meraba-raba tanda jasa yang sudah mulai menghitam di keningnya, “Yak! Kyu, kenapa harus di situ lagi!!”

 

Detik itu juga, petugas yang sudah standby di depan pintu rumah hantu membuka pintunya dan melambaikan tangannya kepada mereka berempat, “Silahkan masuk!”

 

Jantung Hana terasa akan copot, badannya merinding saat hawa dingin menyentuh kulitnya.

 

“Sendiri-sendiri?” Tanya petugasnya saat menunjukkan jalan ke dalam ruang luar sebelum memasuki  ruangan ‘start’ rumah hantu.

 

“Iya!” Teriak Donghae dengan antusias, Hyesa memukul lengannya dan menggelengkan kepalanya.

 

“Berdua-dua!”

 

Donghae tidak bisa komplain karena Kyuhyun sudah pasti setuju dan begitu pula dengan Hana yang sedang gemetar tidak jauh darinya.

 

Petugasnya membukakan pintu, memperlihatkan betapa gelapnya di dalam, seperti menatap ke dalam terowongan tanpa akhir.

 

Senter yang dipegang oleh petugas tidak lama lagi akan berada di tangan mereka masing-masing. “5 menit jangka waktunya, jangan menunggu temanmu yang lain.”

 

Ia memberi 2 senter pertama kepada Hyesa dan Kyuhyun yang sudah bersiap di depan pintu.

 

“Semoga selamat.” Ucapnya sebelum mendorong couple itu dan menutup pintu dengan pelan.

 

Hana yang sudah berwajah pucat pasi hampir ingin muntah saat melihat sosok wanita cantik yang sedang menatapnya dari dalam sebelum pintu di tutup.

 

Rambutnya yang ikal seperti benang wol membuatnya semakin merinding.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Oppa, gelap sekali…”

 

“Mm…”

 

Mata Hyesa masih belum bisa beradaptasi dengan kegelapan di sekitarnya. Tangannya dengan cepat mencari-cari lengan Kyuhyun yang besar.

 

Tetapi ia tidak menemukannya.

 

“Oppa! Oppa dimana?!” Seru Hyesa dengan kencang, ia tidak berani menyalakan senternya karena takut akan mengarahkan lampunya ke arah salah satu hantu.

 

“Oppa disini.”

 

Hyesa merasakan kain baju Kyuhyun menyentuh tangannya dan dengan cepat ia merangkulnya, “Aah! Oppa, jangan tinggalkan aku!”

 

Hyesa langsung bergerak, menarik Kyuhyun yang terasa sedikit berat, “Oppa, jalannya lebih cepat dong, aku tidak mau berlama-lama disini.”

 

Tiba-tiba ada lampu yang menyorot wajah Hyesa dan ia langsung menyipitkan mata.

 

Saat melihat wajah orang yang menyorotnya.

 

Ternyata Kyuhyun.

 

Ia menyeringai, tampaknya terhibur dengan ekspresi shock Hyesa.

 

“Kau sedang apa di situ? Aku kan di sini.”

 

Refleks Hyesa langsung mengaliri darahnya dan ia menengok ke arah pemilik lengan yang sedang ia rangkul sekuat tenaga itu. Mukanya berdarah-darah, matanya lebar dan merah, rambutnya kumal dan senyumannya mengerikan. Terdengar suara tawaan lembut sang hantu.

 

“OPPAA!!!!!!!”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Dari luar Hana dan Donghae yang mendengar tidak dapat menahan tawa, suara Hyesa yang terdengar seperti tikus terjepit pintu memarah-marahi Kyuhyun membuat mereka merasa geli.

 

“Sepertinya mereka sudah mulai…” Gumam Donghae dengan senyuman yang lebar. Tangannya gatal ingin mencoba merangkul perempuan yang sedang sibuk menenangkan diri di sebelahnya.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Hyesa memilih untuk terus memegang lengan Kyuhyun dan tidak membiarkannya pergi atau bergerak yang aneh-aneh. “Gatal” Atau “Lelah” apapun itu alasan yang diberi Kyuhyun untuk mencoba melepaskan diri tidak dihiraukan oleh perempuan berambut panjang itu.

 

“Oppa jangan kemana-mana.” Ucap Hyesa kesal, walaupun jantungnya berdebar ketakutan dan ia bisa merasakan dirinya melemah ia tetap menguatkan pegangannya.

 

Kyuhyun menghela,”Iya, iya. Aku di sini, chagi.”

 

Hyesa menatapnya, tidak percaya, “Janji Oppa tidak akan meninggalkanku?”

 

Iblis itu membalas tatapannya. Ekspresinya sudah tidak terbaca lagi oleh Hyesa, tetapi entah kenapa ia merasa perutnya seperti tergelitik. Tangan kanannya membalas pegangan Hyesa, dengan lembut meremas tangannya yang kecil.

 

“Janji.”

 

Tepat saat itu pipa di atas kepala mereka mengeluarkan suara jeritan yang membuat keduanya hampir loncat.

 

“OPPAA!!!!”

 

Hyesa melepaskan pegangannya yang sekuat baja dari lengan Kyuhyun dan lari menjauh.

 

“OI! KATANYA GAK MAU DITINGGAL!!” Teriak Kyuhyun yang lari pelan untuk mengikuti kekasihnya.

 

Hyesa yang sudah lari jauh langsung berbalik arah dan berlari ke arah Kyuhyun, “OPPA LAMA SIH!” Teriaknya kembali, “OPPA LARI!!”

 

Hyesa menarik narik bahan jaket Kyuhyun dengan cepat, “Ayo oppa!! Oppa!!” Tetapi rasanya badan Kyuhyun terbuat dari batu. Badannya tidak bergerak sedikitpun.

 

Wajahnya berubah, seperti shock. Nafasnya pun berubah, seperti berhenti. Matanya tidak berpindah fokus, dan tetap memandang sesuatu di depannya.

 

Hyesa memutar badannya pelan, mencari alasan bekunya Kyuhyun.

 

Di hadapan mereka ada seorang wanita cantik yang berkulit sepucat salju. Matanya terlihat melankolis dan rambutnya seperti benang-benang kusut, sangat berantakan.

 

Tetapi ia tetap saja terlihat cantik, saat ia melangkahkan kakinya terlihat seperti seorang ballerina yang anggun. Setiap gerakannya menuju mereka seperti dansa lama yang hati-hati dan penuh keanggunan.

 

Hyesa tidak dapat bergerak. Ia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari perempuan di hadapannya, ia melihat mata perempuan itu yang tertuju pada lantai.

 

Perempuan itu mendekat hingga hanya berjarak satu kaki dari Hyesa. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap perempuan yang ketakutan itu. Tidak ada tawaan seram, aura jahat atau cekikikan yang keluar dari bibirnya.

 

Ia hanya menatap.

 

Sampai akhirnya ia memindahkan perhatiannya ke Kyuhyun. Mulutnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu.

 

Hyesa merasakan tangan Kyuhyun yang memegang tangannya dengan erat menariknya. Badannya bergerak menjauh, “Kajja.” Ucapnya dengan bisikan lemas.

 

Hyesa mengikutinya, mempercepat jalannya agar menjauh dari perempuan itu.Tidak berani memutar kepalanya untuk melihat ke belakang.

 

Ia memberanikan diri sekali untuk melihat.

 

Tetapi perempuan itu sudah tidak ada.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Yak, giliran kalian.” Ucap petugas di depan pintu rumah hantu seraya membukanya.

 

Donghae melihat kesempatan ini dan ide jahat muncul dalam benaknya, ia membalikkan badan untuk melihat Hana yang semakin tidak tenang, “Kita sendiri-sendiri saja yuk!”

 

Ia melihat ekspresi Hana yang berubah menjadi shock, “APA?? OPPA JANGAN!” Hana memegang tangan Donghae dan menariknya, “KAN KATANYA BERDUA-DUA!!”

 

Donghae menarik ke arah yang berlawanan, menuju pintu menuju dunia lain, “Tapi kan Kyuhyun dan Hyesa sudah tidak ada!!”

 

“OPPA PENGKHIANAT!!” Mata Hana mulai berair, tangannya masih mencoba menahan Donghae yang jauh lebih kuat dan menyeretnya sampai ke depan pintu.

 

“Aku akan masuk loh!” Ucap makhluk keji yang mengambil senter dari petugasnya dan menginjakkan kakinya ke dalam portal dunia yang hitam itu.

 

Donghae menarik dan dengan cepat dapat menyeret Hana sampai masuk. Pintu di belakang mereka segera tertutup.

 

Donghae memutar badannya untuk melepaskan pegangan Hana yang sekarang sedang menangis.

 

Tawaan geli keluar dari mulut lelaki itu, “Hoi! Aku hanya bercanda! Bercanda!!”

 

Mereka tidak bergerak satu inci pun dari posisi mereka di belakang pintu. Donghae menyalakan senternya dan mengarahkan lampunya ke lorong di depan mereka.

 

“Mau tahu sesuatu?” Tanya sang senior.

 

Hana menatapnya, “Apa?”

 

“Sebenarnya aku juga takut…”

 

Mata Hana kembali berair, “M-mwo..?”

 

Donghae yang melihat langsung panik, rasa bersalah langsung membuatnya tertawa aneh, “Ah… t-tidak, aku hanya bercanda!” Ia memberikan senyuman selebar-lebarnya dan mengitari tubuh Hana dengan lengan kirinya.

 

“K-kajja!”

 

“Oppa… Tanganmu bergetar…”

 

Seketika itu tumpukan box di depan mereka terjatuh dan terdengar suara teriakan hantu yang keras.

 

Dengan insting seorang binatang buas Donghae langsung lari sprint, membawa senternya, meninggalkan Hana yang teriak-teriakan sambil jongkok di depan pintu sambil menutup matanya.

 

“OPPAAAAAAAAAA!!!!”

 

*~*~*~*~*~*~**~*~**~*~*~*

 

Hyesa dan Kyuhyun yang menunggu di luar tertawa cekikikan.

 

“Oppa,” Hyesa menarik-narik lengan jacket kekasihnya, “Apa rencana mencomblangi mereka akan berhasil?”

 

Kyuhyun menaikkan bahunya, “molla, chagi.”

 

Di benaknya muncul wanita cantik yang hanya diam menatapnya dalam dengan matanya yang kosong. Rambutnya yang ikal seperti tidak disisir. Bibirnya yang merah.

 

Aku… benar-benar tidak tahu..

 

Tiba-tiba suara pintu yang terbuka mengagetkan kedua mahasiswa itu.

 

“Donghae sunbae?” Ucap Hyesa yang mendekati kakak kelasnya yang ngos-ngosan, “Na~Ya  dimana?”

 

Donghae seperti berhenti bernafas, dan menggumam sesuatu yang tidak terdengar.

 

“Apa?” Tanya Hyesa.

 

Kyuhyun menatap Donghae tajam, tangannya mengepal. Darah merah mengalir dari telapak tangannya akibat kukunya.

 

“A-aku…” Donghae mengangkat wajahnya untuk melihat Hyesa, “Aku meninggalkannya!”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Hana!!”

 

Donghae berlari menuju pintu depan, mencoba menghafal rute awal yang diambil. Tetapi sangat susah untuk melakukannya karena begitu gelapnya scenario di sekitarnya.

 

Entah kenapa hantu-hantu sudah tidak bermunculan lagi. Tetapi sang lelaki tidak memerdulikannya. Yang ada di isi kepalanya hanya sosok seorang perempuan yang menangis sendiri di halte bus.

 

“HANAAA!!!!”

 

Saat berlari Donghae merasa kakinya tertahan dan jatuh terpuruk di atas benda yang tidak sengaja ia sandung.

 

“Aakh…” Donghae mendudukkan diri, dan menyalakan senter ke arah polisi tidur yang menghentikan kecepatan 180 km/jamnya.

 

Badan seorang perempuan yang memeluk dirinya seperti bola.

 

“Hana?”

 

Donghae mengulurkan tangannya untuk melepaskan pelukan perempuan pada kakinya untuk melihat wajahnya. Matanya merah dan bengkak, pipinya basah dan wajahnya lengket. Pupilnya bergerak untuk menatapnya.

 

“Opp..aa..”

 

Dengan instingnya yang begitu melekat kepada pertarungan ia tidak melarikan diri, tetapi malah teriak dan melempar senternya ke arah Hana dan mengenai wajahnya. Suara yang dihasilkan begitu keras dan menyakitkan.

 

Hana jatuh tergeletak dan meraung kesakitan sambil memegang dahinya yang sudah mulai memar.

 

“Oppa!!” Teriak Hana dengan suara yang lemas dan lirih, “appo, oppa!”

 

Donghae (yang telah sadarkan diri bahwa orang yang telah ia lempar dengan senter menggunakan skill shurikennya yang mengerikan adalah orang yang ia coba selamatkan) langsung mendekati Hana dan menolongnya agar kembali ke posisi duduk.

 

“Mian, mian…” Ucapnya sambil mengusap jidat Hana, “A-aku tidak bermaksud-“

 

Kata-katanya terpotong. Apapun proses yang sedang berlangsung dalam otaknya seakan dihentikan saat melihat air mata yang jatuh ke telapak tangannya.

 

“Oppa selalu meninggalkanku…” Suara Hana yang lembut dan begitu lemah tidak menggema di lorong. Hanya dapat didengar oleh Donghae yang membatu.

 

Hana mengusap kedua matanya dengan lengan, “Selalu menjauhiku, lalu saat merasa bersalah baru datang lagi.”

 

Dada Donghae terasa semakin tercabik-cabik.

 

“Maaf, aku mengerti kenapa kau marah.”

 

Hana menggeleng, matanya tetap mengarah ke lantai, “Aku tidak marah.”

 

“Aku tidak bisa marah jika oppa ada di sini. Karena kalau ada oppa aku hanya merasa senang. Saat oppa berbicara denganku, aku merasa seperti orang yang penting, seperti idola.”

 

“Bahkan jika oppa tidak berbicara juga aku merasa senang, karena oppa ada di sampingku saja sudah cukup.”

 

Saat itu Donghae merasa seperti satu-satunya hal yang berharga di dunia adalah perempuan di depannya.

 

Tidak ada lagi wajah Jung Soohyun di benaknya.

 

Tidak ada lagi rasa tercabik-cabik.

 

“Karena oppa memiliki warna yang beda.”

 

Dengan tangan yang masih gemetar, lelaki itu mendekati tubuh Hana dan memeluknya. Ia meletakkan dagunya di bahu Hana, mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan itu.

 

“Warna apa?”

 

“Putih. Putih cerah.”

 

Donghae tertawa, “Seperti susu atau seperti bulan?”

 

Hana tersenyum, “Seperti bintang kedua!”

 

(Bintang kedua maksudnya yang di cerita peter pan, bintang itu yang isinya neverland)

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Sebulan

 

Hyesa berjalan pelan menyusuri jalan sambil melihat aliran sungai di sebelahnya. Sungainya tidak begitu bersih tetapi Hyesa merasa nyaman mendengar suara air.

 

“Aku ingin memiliki Hyesa.”

 

Kata-kata itu saja yang terulang di benak Hyesa. Membuat pipinya merona, nafasnya terhenti. Senyumannya melebar. Ia mengayunkan plastik yang berisi bahan-bahan cake cokelat yang akan ia buat.

 

Dengan hati yang berdegup kencang dengan antusias Hyesa melakukan ‘skip’ kecil-kecilan.

 

Aku menyukaimu juga, Oppa.

 

Melewati gang-gang kecil, Hyesa baru saja menyadari bahwa matahari tenggelam. Tetapi ia tidak merasa ketakutan sedikitpun. Dengan bayangan Kyuhyun yang menatapnya dengan matanya yang lembut dan kedua tangannya yang terbuka, siap untuk memeluknya.

 

Srak srak

 

Hyesa menengok ke arah gang. Suaranya membuatnya bergidik tetapi saat ia tidak mendengar apa-apa ia terus berjalan.

 

“Tolong… Tolong…”

 

Hyesa terhenti. Apa aku salah dengar?

 

“Aku gak bisa nafas!! A-“

 

Hyesa memutar, Tidak mungkin aku salah dengar.

 

Dengan langkah pelan ia beranjak menuju gang yang baru saja ia lewati. Jantungnya berdegup kencang. Matanya mulai berair dan bulu kuduknya naik.

 

Ia menyentuh dinding bangunan dan mengintip ke dalam gang yang gelap. Rembulan yang ditutup dengan awan tidak memberikan cahaya sedikitpun pada area dalam gang itu.

 

Tidak. Tidak ada apa-apa.

 

Hyesa hendak berputar balik saat ia merasakan tarikan di bajunya dan teriak kesakitan.

 

Seorang wanita yang wajahnya dilumuri darah dan bajunya kumal dengan luka yang begitu besar di

lehernya menariknya hingga jatuh.

 

“TOLONG AKUUU!!” Jerit wanita itu, menggaruk-garuk baju Hyesa. Tangisan penuh kesakitan terekam di dalam benak Hyesa.

 

Hyesa teriak ingin melepaskan diri dan akhirnya dapat menendang wanita itu menjauh sedikit darinya. Wanita itu menggapai kaki Hyesa dan memegangnya erat.

 

“DIA ADA DI SINI!! DIA ADA DI SINI!” Tangis perempuan itu.

 

Hyesa tidak ingin tahu siapa tetapi ia merasa matanya memanas ketakutan.

 

Tiba-tiba ia merasa wanita itu melepaskannya dan ia melihatnya tertarik kembali ke dalam kegelapan gang.

 

Hyesa gemetar hebat. Ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri kembali.

 

Suara jeritan yang sangat keras.

 

Itulah yang didengar oleh Hyesa sebelum ia menjauhi dirinya dari posisi awal dan merangkak keluar.

 

Bau darah. Suara jeritan.

 

Ia mendengar suara langkah kaki yang lembut. Crescendo.

 

Hyesa berputar dan melihat bayangan yang tidak lagi asing di matanya. Bayangan yang begitu terekam di dalam benaknya.

 

Kyuhyun.

 

Berdiri di hadapannya.

 

Wajahnya kosong. Wajahnya dilumuri darah, terlebih lagi di bagian mulutnya. Pupilnya membesar seperti hewan buas yang lapar.

 

Tangannya mencoba menggapai badan Hyesa yang masih terududuk di tanah tetapi Hyesa yang ketakutan berdiri dan menjauhi dirinya.

 

Bukan! Ini bukan Kyuhyun Oppa!

 

Lelaki itu mendekatinya, berjalan dengan pelan. Matanya berubah. “Chagi…” Bisiknya.

 

Suaranya sudah terlalu menggema di telinga Hyesa. Sudah terlalu sering ia mengulang suaranya di benaknya.

 

Hyesa sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia ketakutan.

 

“A-aku tidak mengenalmu…” Bisik Hyesa sambil menggelengkan kepalanya, tatapannya masih belum beralih dari lelaki di hadapannya.

 

“Chagi,” Ucapnya lagi, ia menatap Hyesa, “Chagi… A-“

 

“AKU TIDAK MENGENALMU!!”

 

Hyesa berlari pergi, menarik perhatiannya menuju jalan di depannya.

 

Pulang.

 

Aku hanya ingin pulang.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Dengan pukulan yang kuat ia menghancurkan satu dinding setinggi 2 meter di sebelahnya. Tidak perduli dengan rasa nyeri pada buku-buku jarinya.

 

Matanya berwarna merah darah penuh dengan kemarahan. Sekali lagi ia memukul, menghasilkan suara yang begitu keras dan guncangan yang hebat.

 

Ia membiarkan dirinya berdarah. Membiarkan badannya membiru.

 

“HYESAAAAA!!!”

 

Sudah berapa kali dia meneriakkan nama itu?

 

Langit-langit dari gedung yang ia ingin hancurkan retak dan bagian-bagiannya sudah jatuh. Salah satunya jatuh dan mengenainya tepat di kepala hingga ia jatuh terduduk.

 

Kyuhyun merasakan wajahnya memanas, matanya berair, badannya melemas. Ia menatap ke langit dan tertawa.

 

“Inikah cinta?” Ucapnya, suaranya yang terdengar seperti raungan anjing gila membuat hewan apapun di sekitarnya melarikan diri.

 

“Apa Cho Kyuhyun ini begitu tidak pantas untuk mencintai?” Tanyanya lagi.

Ia menyeringai, “Ataukah memang seperti ini rasanya?” Ia menaruh tangannya di dada, “Sakit.”

 

Bayangan wajah Hyesa yang ketakutan, seakan Kyuhyun adalah makhluk yang paling keji di dunia ini. Padahal aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, bukankah begitu, chagi?

 

Kyuhyun berhenti tertawa, tangannya yang masih berada di dadanya mengepal dan ia menekan dadanya, “Bagaimana rasanya untuk hidup bertahun-tahun seperti itu? Aku saja tidak tahan satu jam.”

 

Ia mengeluarkan kalung dari dalam bajunya dan memainkannya. Mengingat saat Hyesa memainkan gelangnya.

 

“Bagaimana rasanya…Hae?”

 

To be continue

Gimana??? Di tunggu like dan komennya

Maaf typonya bertebaran dimana – mana ^^V

 

9 Comments (+add yours?)

  1. ika
    Jun 20, 2015 @ 14:51:16

    aduh thor ….. jadi bikin tambah penasaran deh. ‘bagaimana rasanya .. hae?’ itu apa maksudnya thor?! cerita nya bagus deh

    Reply

  2. meynininx90
    Jun 20, 2015 @ 21:37:11

    Kyu tu sbnrny mkhluk ap sich

    Kyk gtu….pmgen scene hae n hana rada bnyk

    Reply

  3. frila91
    Jun 20, 2015 @ 21:53:52

    aku ketawa pas dibagian awal
    aku takut thor ngebayangin kyuppa kayak gitu
    mereka nggak apa apakan thor?
    apa yg terjadi sama donghae oppa dulu?

    author FIGHTING ^^

    Reply

  4. Dewi ratih
    Jun 20, 2015 @ 23:38:07

    Semakin lama semakin seruu ceritanyaa😀 makin penasaran !!!!!!
    Ditunggu kelanjutannya th0r😀

    Reply

  5. cho haneul(tia)
    Jun 21, 2015 @ 13:49:24

    Ya ampun Hyesan melihat kyuhyun sedang berburu kah???
    mengerikan sekali nyampe nyesan ketakutan seperti itu..
    di tunggu next part nya ya..

    Reply

  6. bubblesilr7
    Jul 10, 2015 @ 14:23:16

    ditunggu kelanjutannya thor oke

    Reply

  7. Trackback: Fate [7/9] | Superjunior Fanfiction 2010
  8. Trackback: Fate [8/9] | Superjunior Fanfiction 2010
  9. Trackback: Fate [9-END] | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: