Memories [5/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Heechul (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

**************

Dalam beberapa hal, Yesung merasa lebih senang berada di rumah Casey ketimbang di rumahnya sendiri. Rumahnya sepi, suara Leeteuk hanya akan terdengar sesaat dimalam hari. Kadang ia hanya mendengar suara jangkrik ketimbang suara kakaknya sendiri. Berbeda jika ia minggat ke rumah Casey. Ada Nyonya dan Tuan Laverty yang menerimanya dengan baik. Seperti sebuah insting, kedatangannya kesana pasti disambut dengan sepiring kue muffin. Ia juga bisa bermain catur dengan Mr.Laverty hingga larut malam. Namun, sudah beberapa bulan belakangan, tepatnya sejak ia mengenal Jeany, ia tak pernah lagi berkunjung ke rumah itu. Casey pernah bilang orang tuanya rindu dengannya. Ayahnya juga rindu sekali meneriakkan skak mat. Karena tak ada lawan yang lebih mudah dari Yesung, maka kehadirannya selalu ditunggu.

Malam ini ia putuskan untuk tidak pulang dan menginap di rumah Casey. Seperti yang ia duga, bau yang menyengat dan mengundang selera langsung menyambutnya ketika melewati pintu.

“Yesung? Kaukah itu?”

Yesung tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Casey yang melihat itu memilih langsung ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

“Casey, mandillah dulu, lalu kita makan sama-sama,” seru Ny.Laverty setelah memeluk Yesung singkat. “Apa yang membuatmu kesini? Kupikir kau sudah lupa dengan rumah ini.”

“Bibi, mana  mungkin aku lupa. Kalau aku lapar dan kekurangan makan, aku pasti akan kemari.”

Mereka tertawa kemudian larut dalam obrolan panjang. Yesung mulai menceritakan hubungannya dengan Jeany yang sedang dalam masa sulit. Sambil membantu menyiapkan dan mencuri potongan-potongan daging, Yesung tak melewatkan satu ceritapun tentang Jeany.

“Jadi gadis itu yang membuatmu melupakan rumah ini?” sambar Mr.Laverty yang baru turun dari kamarnya di lantai dua. “Kau tahu kan tidak ada lawan yang bisa membuatku senang selain denganmu.”

Yesung tersenyum masam. Kedengarannya ia begitu payah bermain catur. Selama menunggu Casey bergabung, mereka bertiga mengobrol dengan akrab. Mr.Laverty menceritakan atasannya yang menikah untuk ketiga kali dengan seorang gadis muda. Entah kenapa Yesung tertarik mendengarnya. Ia terus bertanya mengenai bagaimana awalnya pasangan beda usia itu bisa bersatu.

“Apa gadis itu hanya melihat uangnya?” tanya Yesung cepat. Mr.Laverty meminum segelas air putih yang baru dituangkan istrinya sebelum menjawab. “Well, jangan menghakiminya begitu. Kurasa dia tulus. Maksudku, cinta mereka tulus.”

“Aku sangat percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pasangan beda usia yang jauh, pasangan beda derajat atau apalah itu, jika mereka berjodoh, kenapa tidak?”

Yesung sibuk berpikir. Dilihatnya sekilas Casey yang keluar dari kamar dan duduk di sebelahnya.

“Ah, jika Casey adalah anak gadismu, lalu ada pria sepertiku yang menyukainya. Apa kau akan setuju jika kami berkencan?”

Casey melotot, menaikkan alisnya dengan geli dan langsung pindah posisi, duduk di sebelah ibunya. Sementara Mr.Laverty menunda gerakan tangannya yang baru ingin menyuapkan satu sendok sayur.

“Yesung, aku tahu arah pembicaraan ini.”

“Kalau begitu beritahu aku pendapatmu.”

Mr.Laverty menyelesaikan satu suapannya lebih dulu, menikmatinya hingga kunyahan terakhir lantas menelannya. Ia tahu Yesung sedang menunggunya, tapi masakan istrinya terlalu lezat untuk dinikmati saat dingin.

“Hm, setiap orang berbeda-beda. Jika kau menanyakan pendapatku, aku tidak masalah Casey ingin berkencan dengan siapapun, bahkan jika benar kalian berkencan, aku juga tidak apa.”

Uhuk!

Casey tersedak hingga beberapa butir nasinya keluar. Sementara ketiga orang di hadapannya tertawa bahagia.

“Berhenti membicarakan hal konyol seperti ini.”

Yesung acuh, “Jadi Paman tidak menuntut kekasih Casey untuk punya derajat yang bagus?”

Mr.Laverty menaruh sendok dan garpunya, menyatukan kedua tangannya sambil berpikir. “Hm, sebenarnya aku mengenal Mr.Hanks yang kau maksud.”

“Paman mengenalnya?”

“Ya, dulu aku pernah bekerja di perusahaannya di London, tepat saat Casey masih dalam kandungan.”

“Lalu?”

“Yesung, bisa kau menunda percakapan ini? Aku butuh makan dengan tenang tanpa takut akan tersedak lagi.”

Yesung terpaksa mulai makan setelah diperingati oleh Casey. Bagaimanapun juga ia tahu kalau yang sedang memberinya makan ini adalah orang tua Casey. Tapi Mr.Laverty sepertinya paham sekali apa yang ia pikirkan. Saat makan malam telah usai, ia tidak ikut Casey ke kamarnya, melainkan duduk bersama di teras rumah sambil bermain catur.

“Skak mat!!!”

Yesung tahu itulah yang dicari-cari oleh Mr.Laverty sejak tadi, yakni mengalahkannya dan meneriakkan dua kata itu dengan nyaring supaya tetangga mendengar dan berpikir dia begitu handal. Padahal kali ini Yesung hanya mengalah agar pembicaraan mereka segera dilanjutkan.

“Jadi bagaimana percakapan kita yang tadi?”

“Maksudmu soal Mr.Hanks?”

Yesung mengangguk. Ia ingin dengar pandangan Mr.Laverty tentang ayah Jeany. Apakah sama seperti pikirannya?

“Hm, aku tidak tahu bagaimana ia sekarang. Tapi dulu saat aku masih bekerja dengannya, aku rasa dia pria yang baik. Dia memang tegas. Sekali dia mengambil keputusan, tak peduli itu akan menyakitkan atau menyulitkan, dia tidak akan menariknya. Sangat susah untuk mendapatkan hatinya. Tapi terlepas dari itu semua, ia adalah atasan yang baik. Ia adalah orang yang sangat menghargai sebuah usaha.”

“Apakah dia mata duitan?”

Mr.Laverty hampir menyemburkan tawa mendengarnya.”Yesung, aku tahu kau frustasi karena dia tidak menyetujui hubunganmu dengan anaknya. Tapi bukan alasan untukmu mengatakan demikian.”

“Aku hanya bertanya. Sejak awal melihatnya, aku sudah merasa bahwa alasan utamanya adalah karena aku bukan orang berada.”

“Dari ceritamu yang kudengar tadi, sebenarnya aku setuju dengan Jeany.”

Yesung mengerutkan dahinya.

“Dia hanya butuh diyakinkan. Bukan dengan uang.”

“Lalu dengan apa? Aku berusaha sopan didepannya, dan aku berani menerima tantangannya. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Kalau kau membawa mobilpun belum tentu dia menerimamu. Karena dia bukan melihat apa yang kau punya, tapi apa yang bisa kau berikan pada Jeany. Maksudku, bukti keseriusanmu. Jeany anak satu-satunya, wajar kalau dia begitu selektif. Kau mungkin butuh sedikit perubahan sikap dan dia butuh waktu untuk lebih mengenalmu.”

“Jadi apa itu adalah solusi untukku? Aku ingin dia menerimaku seperti ini, tanpa ada perubahan apapun.”

Mr.Laverty kembali menyusun buah caturnya. Senyumnya mengembang. “Aku tidak punya solusi apa-apa. Yang bisa kukatakan adalah bersikap baik bukan berarti harus kehilangan jati dirimu. Berjuanglah lebih keras lagi.”

Yesung terus memikirkan semua itu hingga larut malam dan tak sadar sudah berapa kali ia dikalahkan oleh Mr.Laverty. Ia hanya tersadar sesekali saat mendengar suara Mr.Laverty kegirangan. Hingga ia tidur dan bangun keesokan paginya, ia terus memikirkan perkataan itu.

“Lain kali akan kupertimbangkan permintaanmu untuk menginap.” Casey berlalu pergi dari hadapannya setelah mengantarnya ke tempat kerja. Yesung tak begitu peduli dan kembali disibukkan dengan urusan antar mengantar pizza. Kali ini ia tak banyak bicara, ia juga menutup telinga saat bosnya bertanya kemana ia kemarin hingga tidak menyelesaikan pekerjaan hingga malam. Ia diam saja. Menerima tumpukan kotak pizza kemudian mengantarnya tepat waktu.

Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu segera ke rumah Jeany. Entah apa yang akan ia lakukan, tapi ia merasa harus kesana dan bertemu dengan Mr.Hanks. Ketika jam masih menunjukkan pukul tujuh, ia meninggalkan pekerjaannya, pulang ke rumah, mandi dan berpakaian rapi. Ia tetap mengenakan kaos dan celana jeans, tapi kali ini ia menyemprot tubuhnya dengan parfum milik Leeteuk. Pakaiannya tidak kusut, sepatunya adalah sepatu terbaiknya yang tak pernah ia pakai, ia juga menyisir rambutnya. Ia pinjam sepeda motor Casey lalu tiba di rumah Jeany hampir pukul delapan. Tak lupa ia membawa seikat bunga hasil hutang dari toko sahabatnya, Fred.

Ia sengaja tak mengabari Jeany, biarlah jadi kejutan untuknya. Apalagi jika Jeany sendiri yang muncul dibalik pintu, mungkin ia akan langsung menciumnya seperti yang biasa ia lihat di film-film. Kenyataannya yang membukakan pintu adalah Ny.Hanks. Wanita itu tersenyum lebar dan nampak begitu senang dengan kedatangannya. Dalam hati Yesung berandai-andai jika Mr.Hanks juga akan seantusias istrinya saat menyambutnya.

Ia pun di minta masuk. Sebelumnya ia memberikan bunga yang ia siapkan itu pada Ny.Hanks. Ia memang bukan akan memberikannya pada Jeany. Tapi sebenarnya juga bukan untuk ibunya. Ia pikir itu bagus untuk ayahnya. Namun ketika masuk ke dalam rumah dan melihat penampakan Mr.Hanks yang duduk di depan televisi sambil membaca buku, ia sadar sudah berpikir tolol. Mana mungkin ia menyogok Mr.Hanks dengan bunga? Otaknya memang agak ngawur. Akhirnya bunga itu diletakkan dalam pot oleh Ny.Hanks di atas meja tepat di bawah tangga.

Selagi menunggu kehadiran Jeany, Yesung mencoba duduk di hadapan Mr.Hanks. Ia berkali-kali berdehem, berharap mendapat perhatiannya, atau setidaknya pria itu sadar bahwa ia ada disini. Tapi nampaknya Mr.Hanks terlalu fokus dengan bukunya sampai-sampai tidak mengangkat kepala atau menyapanya.

“Hey, aku pikir harusnya kau masih bekerja.” Jeany muncul dari dalam kamarnya. Sampai tahap ini, Yesung tahu bahwa Mr.Hanks bukannya tidak menyadari kehadirannya, melainkan memang belum sudi melihatnya. Suara Jeany cukup untuk membawanya ke alam nyata. Dan buku dari Agatha Christie yang ia baca pasti kalah menarik dibanding bertatap muka dengannya.

“Honey, ku rasa lampu kamar kita mati.”

Yesung melihat Ny.Hanks yang berusaha mengajak suaminya berdiri. Ia dan Jeany paham maksudnya yang ingin memberikan ruang bagi mereka berdua. Tapi ia tak masalah kalau Mr.Hanks tidak pergi. Ia justru memang ingin lebih mengakrabkan diri dengannya. Siapa tahu mereka punya kesamaan dan akhirnya bisa terkoneksi.

Karena Mr.Hanks tak juga menanggapi, akhirnya Yesung berdiri, menawarkan dirinya untuk membantu memperbaiki lampu kamar yang dimaksud. Belum juga ia masuk ke dalam kamar, Mr.Hanks buru-buru ikut berdiri.

“Tidak ada orang asing yang boleh masuk ke dalam kamarku.”

Yesung mengerem kakinya tepat sebelum pintu kamar itu terbuka. Mr.Hanks menutup bukunya, melepas kacamata lantas masuk ke dalam kamar bersama istrinya tanpa menyapa. Ia sempat berpikir akan menahannya, tapi ia urungkan niat tersebut dan kembali pada Jeany.

“Kejutan sekali kau berani kemari.”

“Memangnya apa yang bisa membuatku takut?”

Jeany hanya mengangkat bahu kemudian mengajaknya untuk duduk di teras rumah. Jeany mulai menceritakan bagaimana awal mula ia bisa naik pangkat dan tidak lagi sekedar membacakan ramalan cuaca. Meski itu bukan tugas yang buruk dan sangat berguna dimata Yesung,  tapi Jeany merasa itu sudah cukup ia terima dan sudah saatnya ia selangkah lebih maju. Akhirnya sekarang ia punya jadwal tetap sendiri di malam hari setiap dua hari sekali atau sesekali membacakan breaking news seperti yang pernah dilihat oleh Yesung.

Yesung senang mendengarnya. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding bisa melihat Jeany terus tersenyum dihadapannya. Kalau sudah begini, ia sangsi bahwa ia bisa menahan diri seperti beberapa waktu lalu untuk tidak menemuinya.

“Yesung, sebenarnya aku penasaran apa yang kalian bicarakan malam itu.”

Yesung menindih telapak tangan Jeany lalu mengelusnya dengan lembut. Ia sebenarnya sedang dalam mood yang baik. Kepercayaan dirinya meninggi dan yakin bisa meluluhkan hati ayah Jeany yang mungkin tak sekeras yang ia duga sebelumnya.

“Kau tidak perlu tahu. Aku justru ingin minta bantuanmu.”

“Apa itu?”

“Hm…” Yesung mendekatkan wajah mereka, membuat Jeany melakukan hal yang sama.”Ceritakan padaku tentang ayahmu.”

****

Yesung sudah mendapatkan kartu AS Mr.Hanks. Jeany membuka semuanya dan ia sangat terkejut mendengar semua itu. Andai Jeany menceritakan semuanya sejak awal, ia pasti tidak akan dibuat pusing begini.

Jeany mengatakan bahwa meski ayahnya adalah mantan atlit baseball, tetapi sangat menggemari klub Manchester United dan mengidolakan Roy Keane serta Ryan Giggs. Karena Roy Keane sudah lama pensiun, maka tersisa Giggs yang menjadi pemain yang paling ingin ditemui oleh ayahnya saat ini. Katanya, ayahnya begitu ingin bertemu dengan Giggs serta berfoto bersamanya. Banyak kesempatan untuk merealisasikan keinginan itu, tapi selalu terbentur pekerjaan. Yesung semakin yakin bahwa Tuhan memihak padanya. Ia punya koneksi yang bagus untuk ukuran seorang pengantar pizza. Ia kenal salah satu kerabat Ryan Giggs yang tinggal di Liverpool dan ia punya nomor ponselnya. Karena pria itu berhutang budi padanya setelah ia pernah menyelamatkannya dari reruntuhan gedung yang kebakaran, maka sekarang saatnya ia meminta sesuatu. Dulu ia menolak apapun imbalan yang ditawarkan padanya, tapi sekarang ia rasa sangat membutuhkan itu.

Jadi ia pergi ke tempat tinggal pria itu, menjelaskan maksudnya dan dengan senang hati pria itu bersedia membantu. Kebetulan lagi MU akan menjalani pertandingan tandang melawan Liverpool di Anfield lusa nanti, pria itu berjanji akan mengatur segalanya supaya Mr.Hanks bisa bertemu dengan sang idola.

Malam harinya ia ke rumah Jeany dengan membawa dua lembar tiket nonton pertandingan tersebut. Awalnya ia dan Jeany hanya mengobrol seperti biasa, tapi saat Mr.Hanks keluar dari kamar dan sengaja duduk dihadapan mereka, Yesung mengubah topik pembicaraan.

“Ah, jadi besok kau tidak bisa pergi denganku?”

Yesung tersenyum dalam diam. Ia tahu pasti tujuan Mr.Hanks duduk di depannya agar bisa mendengar percakapannya dengan Jeany. Dan ia yakin bahwa pertanyaannya barusan langsung membangkitkan rasa penasarannya lebih besar lagi.

“Maaf, tapi aku ada jadwal siaran dan sejak sore aku harus ada di kantor.”

Yesung dan Jeany mengerling, sesekali melirik Mr.Hanks yang berlagak sibuk membaca buku. Yesung melihat kesempatan itu. Ia bertanya, “Mr.Hanks, sebenarnya aku kemari untuk memohon ijin padamu mengajak Jeany ke Anfield besok sore, tapi ternyata Jeany tidak bisa ikut.”

“Sekalipun ia bisa, aku mungkin tidak akan memberikan ijin,” sahut Mr.Hanks dingin. Tapi Yesung tak peduli. Ia melanjutkan, “Ah, sayang sekali. Sebenarnya aku tidak begitu ingin menontonnya, tapi tiket gratis ini sayang kalau dibuang. Apalagi temanku yang memberikan tiket ini mengatakan dia akan mempertemukanku dengan Giggs.”

Yesung bisa melihat perubahan ekpresi pada Mr.Hanks. Duduknya yang biasa tegap tak bergerak kini tampak gelisah. Matanya berusaha untuk melihatnya meski masih malu-malu.

“Maksudmu….Ryan Giggs?”

“Ya, lusa ada pertandingan antara MU dan Liverpool. Temanku ingin mempertemukanku dengan Giggs karena sebelumnya aku tidak percaya kalau dia adalah kerabat dari pemain terkenal itu. Jadi aku terima tantangannya. Tapi kalau Jeany tidak bisa, mungkin aku akan buang saja tiket ini.”

Yesung mengeluarkan tiket tersebut dari saku jaketnya, lantas menimang-nimangnya seakan siap melemparnya ke tong sampah. Dalam hati ia berhitung mundur. “5, 4, 3, 2,…..”

“Sebenarnya aku mengunjungi Jeany karena ingin berlibur. Kurasa menonton pertandingan bisa sedikit membantu.”

Yesung dan Jeany mati-matian menahan senyum mereka. Yesung semakin merasa menang. “Apa anda mau pergi denganku?”

“Aku rasa….” Lama Mr.Hanks berpikir. Ia menghela nafas kemudian berdiri dari duduknya. “Sepertinya aku mengantuk.”

Semangat dan kegembiraan Yesung bersama Jeany seketika lenyap. Kenapa ia tidak menjawabnya dan seperti menarik kata-kata sebelumnya?

“Kau tenang saja, ayah cuma gengsi. Aku tahu seberapa besar ia mengagumi idolanya itu dan aku berani bertaruh didetik-detik terakhir nanti dia akan setuju.”

Yesung menatap dua lembar tiket ditangannya itu lalu memasukkannya ke dalam saku jaket kembali. Ia harap perkataan Jeany bukan sekedar tebakan tak terbukti.

“Omong-omong, aku sedang banyak pekerjaan. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama,” ujar Jeany setelah beberapa saat suasana menjadi hening. Ia memperlihatkan tumpukan kertasnya di atas meja kamarnya yang terlihat dari posisi mereka.

“Tak masalah. Aku yang akan menemanimu sampai kau menyelesaikannya.”

Mata Jeany nampak berbinat-binar.”Kau serius?”

“Kenapa tidak?”

Jadilah malam itu Yesung menemani Jeany menyelesaikan tugasnya dari kantor. Karena ia sadar dirinya tak bisa melakukan apa-apa, ia hanya melihat dan sesekali mengajaknya mengobrol untuk menunda rasa kantuk dan membunuh kebosanan. Mereka duduk bersila di lantai dengan Jeany yang sibuk pada kertasnya yang berserakan di atas meja. Yesung menyalakan televisi, menonton siaran tunda konser grup vocal yang sedang naik daun, Vengaboys. Yesung tersenyum sendiri melihatnya.

“Kau kenapa?”

“Lagu mereka sebenarnya bagus, tapi aku tak suka dua pria di belakang gadis-gadis itu.”

Jeany melihat ke televisi sebentar, “Maksudmu Yorick Bakker dan Roy den Burger?”

“Ya, kurasa mereka tidak melakukan apa-apa selain menari.”

Jeany tak begitu menanggapinya dan kembali tenggelam dalam kesibukan. Dan karena tak begitu suka dengan atmosfer di ruangan itu, Yesung kembali buka mulut.

“Di Korea, grup penyanyi pria pernah cukup fenomenal.  Kau tahu HOT dan Shinhwa?”

Pembicaraan berlanjut ke berbagai topik. Mulai dari membicarakaan bos masing-masing di tempat kerja, membandingkan titanic dan romeo and Juliet, sampai ke masalah asal muasal John Titor sang penjelajah waktu. Mereka berdebat tentang kebenaran semua perkataan pria yang mengaku datang dari masa depan itu. Jeany mengaku sedikit percaya dengannya, sedang Yesung berani bertaruh bahwa pria itu hanya orang biasa yang terobsesi untuk diekspos. Bagaimanapun sengitnya mereka beragumen, pada akhirnya Jeany tak begitu menanggapi karena pekerjaannya yang belum tuntas.

Hingga waktu menunjukan hampir pukul satu malam, Yesung merasa sudah tak kuat menahan kantuk. Ia rentangkan kedua tangannya sembari menguap lebar. Dan ketika ia menoleh ke sampingnya, rupanya Jeany sudah tertidur lebih dulu dengan kepala menempel pada meja dan kedua tangan menindih kertas-kertasnya. Ia tersenyum melihatnya.

Ia tahu Jeany adalah tipe wanita pekerja keras, dan apa yang sedang dilakukannya adalah tahapan menuju impiannya. Ia senang bisa menjadi bagian dari perjalanan itu, meski masih terhitung singkat, ia cukup bangga dengan dirinya sendiri.

Untuk sejenak ia terus memperhatikan wajah Jeany yang tengah terlelap. Jeany tampak seperti bidadari. Tak ada noda diwajahnya. Begitu tenang dan damai. Ia lalu bertopang dagu di atas meja, memandangnya lebih dekat hingga ia bisa mendengar helaan nafasnya. Dan untuk sesaat ia terkejut dengan apa yang tiba-tiba melintas dalam benaknya.

Sebelumnya ia tak pernah begitu ambil pusing dengan apa yang akan terjadi dimasa depan. Tapi melihat Jeany seperti ini, entah kenapa ada sekelabat bayangan yang membuatnya semakin merasa beruntung bertemu Jeany. Ia bisa melihat ia dan Jeany sedang mengucap janji di hadapan Tuhan sebagai suami istri. Ketika ia kembali ke alam sadar, tawanya menyembur pelan. Rasanya sangat aneh seorang Yesung membayangkan hal semacam itu. Tapi rasanya juga menyenangkan dan seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat benar akan terjadi.

Dilihatnya lagi wajah itu dengan teliti. Ia sudah akan menciumnya saat ekor matanya menemukan siluet tubuh Mr.Hanks keluar dari kamar. Mungkin karena terkejut dan tidak ingin ketahuan, Mr.Hanks menunda langkahnya dan tak terlihat ketika Yesung melihat ke arah kamarnya. Yesung tersenyum. Mr.Hanks seperti anak kecil yang sedang mengintip orang tuanya bermesraan. Tahu apa yang ada dipikiran Mr.Hanks, segera ia mengecup dahi Jeany cukup lama.

“Maaf karena hanya ini yang bisa kulakukan untuk sementara.”

Setelahnya, dengan hati-hati ia mengangkat tangan Jeany, membopong tubuh itu ke atas sofa lantas membaringkannya. Ia mengambil selimut yang kebetulan sebelumnya sudah dibawa Jeany dan tergeletak dilantai lalu menutupi tubuh Jeany sebatas dada. Kemudian ia merapikan pekerjaan Jeany di atas meja, mematikan televisi, dan yang terakhir meletakkan gelas bekas minumnya ke dapur.

Ia tak tahu apakah Mr.Hanks masih di tempatnya memperhatikan semua yang ia lakukan. Yang jelas sudah saatnya ia pergi dan berpamitan. Sekali lagi ia kecup dahi Jeany.

“Tidurlah yang nyenyak.”

Ia memutar tubuhnya dan tepat saat itu Mr.Hanks menampakkan tubuhnya. Ia tersenyum. “Jeany sudah tidur, jadi aku harus pulang.”

Mr.Hank tak menjawab apapun. Ia hanya melirik sebentar pada anaknya yang tampak begitu kelelahan.

“Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih karena sudah menginjinkanku masuk dan menemani Jeany.”

Ia pun membungkukkan badannya dan sudah melangkah pergi. Namun sebelum ia menggapai pintu, suara Mr.Hanks terdengar.

“Apa kau sudah membuang tiketnya?”

*****

Yesung memang punya kepercayaan diri yang tinggi. Tapi duduk satu mobil dengan ayah Jeany tidak termasuk dalam daftar hal yang akan terjadi dalam benaknya. Mereka dalam perjalanan menuju Anfield stadium untuk menonton pertandingan itu. Bagi Yesung sendiri, yang menjadi perjalanan ini berharga adalah bukan tentang siapa yang akan mereka temui nanti, tapi tentang dengan siapa ia pergi.

Mr.Hanks tak banyak bicara atau bahkan memang tak bicara apapun. Setelah mengajaknya masuk ke dalam mobil, pria itu melaju dengan normal lantas menyalakan radio. Meski selama setengah jam pertama kehadirannya seperti tak dianggap, ia tetap menikmatinya. Dan yang paling membuatnya lebih exited adalah kenyataan lain bahwa mereka naik Mercedes.

Ini adalah mobil yang dilihatnya malam itu di garasi rumah Jeany.  Mobil yang sudah ia idamkan sejak lama dan bermimpi bisa duduk di dalamnya dengan tenang. Ia tak bisa menyembunyikan antusiasnya dengan tidak berhenti mengelus dan memperhatikan tiap detil mobil tersebut. Sesekali Mr.Hanks menatapnya risih, tapi tak juga bertanya.

“Aku bermimpi suatu hari nanti bisa membeli mobil ini dengan hasil keringatku sendiri,” akunya jujur. Ia masih dilingkupi rasa takjub. Lalu ia melihat radio, ia hidupkan lantas mencari-cari channel yang bagus. Begitu menemukan lagu yang ia suka, sontak ia berseru, “BILLIE JEAN!!!”

Ia terdiam sesaat ketika menyadari bahwa bukan hanya ia yang berteriak, melainkan Mr.Hanks.

“Anda menyukai lagu ini?”

Mr.Hanks mengubah rautnya lagi kembali seperti semula. Seperti menyesal karena sudah  kelepasan. Dengan dingin ia menjawab sekedar saja, “Ya, lagu ini sangat bagus.”

Yesung mengangguk, mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik.

“Aku tidak begitu menyukai Michael Jackson, tapi aku sangat suka lagu ini.”

Kembali tak mendapat respon, Yesung acuh saja lantas terus menikmati lagu. Hingga mereka tiba di stadion, tetap tak ada kata yang keluar dari mulut Mr.Hanks. Dan sampai malam hari pertandingan dimulai, mereka tetap tak terlibat satu percakapanpun. Topik yang coba dibuka oleh Yesung, akan ditolak dan tak mau dijawab oleh Mr.Hanks. Hanya saat Yesung berhasil mengajaknya ke ruang ganti dan mempertemukannya dengan Ryan Giggs beserta pemain lainnya, pria itu tersenyum bahkan menepuk bahunya sesaat sebelum pulang.

“Jangan menganggap ini berlebihan. Kita hanya pergi nonton,” ujarnya kala itu setelah kegembiraan terlewatkan dan mereka tiba di depan pagar rumah. Yesung tetap merasa bahwa usahanya tak sia-sia. Ia bisa melihat kebahagiaan itu diraut wajah Mr.Hanks.

Setelah hari itu, secara berkala Yesung mengunjungi rumah Jeany untuk melakukan berbagai hal. Selain menyukai sepakbola, Mr.Hanks juga suka berkebun. Ada banyak tanaman di rumah Jeany akhir-akhir ini. Yesung selalu datang tepat waktu dan sesekali membantu Mr.Hanks merawat tanaman-tanaman itu. Meski ia di acuhkan, ia tak pernah menyerah. Pernah juga ia membuat kejutan dengan membantu Ny.Hanks membuat kue kesukaan pria itu. Hasilnya cukup bagus, Mr.Hanks menepuk bahunya lagi dan berkata, “Aku tahu maksudmu, tapi aku juga bosan melihatmu setiap saat ada disini. Datanglah sesekali dan kita pergi nonton lagi.”

Yesung tersenyum. Sepertinya golden ticket sudah ada ditangannya.

***

“Aku rasa separuh dari pengunjung yang datang malam ini adalah pengunjung minggu lalu. Dan kau tahu apa pertanyaan mereka ketika masuk? Bukan memesan minuman atau apapun, melainkan Yesung. Dimana pria korea itu? Apakah dia akan datang lagi?” Jordan yang sekarang sudah ada dibalik meja sibuk mengelap gelas. Casey ada di depannya sambil minum wine.

“Aku tidak bertanya padanya apakah dia akan datang. Kalau memang tidak, kita masih punya Donghae dan Sungmin malam ini,” jawab Casey sambil memperhatikan podium dimana Donghae baru saja naik ke atas. Sepertinya pria itu akan melakukan solo malam ini.  Dan ketika matanya mengarah pada pintu depan, ia terkejut melihat siapa yang datang.

“Kau?”

Yesung tersenyum padanya, melepas jaketnya kemudian melemparnya pada Nathan. Seakan wajah-wajah disana tak memandangnya, ia bersikap cuek dan mengambil gelas minuman milik Casey.

“Kenapa?”

Casey tak menjawab, hanya mengembalikan pandangannya ke podium kala mendengar petikan gitar Donghae. Suara pria itu tidak buruk. Meski masih berada di bawa Yesung, tapi ia bisa diandalkan disaat seperti ini.

“Bagaimana keadaan tanganmu?”

Yesung tak langsung menjawab pertanyaan Jordan. Ia mengikuti Casey yang sedang melihat penampilan Donghae. Suaranya yang khas memenuhi ruangan. Sejenak suasana berubah hening dan sepertinya pengunjung terhipnotis dengan suaranya yang lembut.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya entah kepada siapa. Jordan sudah tak mendengarnya, sibuk dengan melayani pengunjung. Casey pun tak bicara apa-apa padanya sejak tadi. Percakapan terakhir mereka terjadi saat Casey menjemputnya di rumah sakit sehari setelah kejadian sial itu. Dan sebenarnya ia memang tidak punya niat untuk kemari. Hanya saja…….didadanya seperti ada yang mengganjal begitu berjalan dan melihat tempat ini. Seolah ada yang tertinggal.

“Meski banyak yang mengharapkan kau melanjutkannya, aku takkan memaksa. Donghae akan mengambil alih malam ini.”

Yesung teringat malam itu saat ia pergi dengan sangat tidak bertanggung jawab. Sejenak ia menatap Casey. “Saat itu aku terlalu terbawa perasaan. Aku hanya……..entahlah.”

Donghae hampir menyelesaikan nyanyiannya saat tanpa direncana mereka sama-sama menoleh dan melempar senyum tipis.

“Kau masih menjaga perasaanmu?”

Yesung merasa perlu menekan dadanya begitu pertanyaan itu terlontar.  Sebagian orang yang pernah mendengar ceritanya, mungkin berpikir ia bodoh, buta atau sebagainya. Tapi mereka tidak tahu apa yang ia rasakan yang ia sendiri tidak bisa pahami hingga detik ini. Jeany hanya gadis biasa pelanggan pizzanya, tapi Jeany adalah hal luar biasa yang pernah hadir dalam hidupnya, sekalipun kebersamaan mereka tergolong singkat.

“Kira-kira apa yang sedang ia lakukan saat ini?”

Ia tak berharap Casey akan menjawabnya karena memang tidak ada yang tahu jawabannya. Dan meski selama ini Casey tak begitu banyak komentar soal Jeany, ia tahu dalam pikirannya bahwa Casey sangat ingin ia melepaskan semua itu dan segera memulai hidup baru. Dengan jalan membiarkannya menceritakan kisahnya minggu lalu, ia pikir Casey melakukannya supaya ia lega dan bisa menutup cerita itu. Tapi satu hal yang tidak Casey tahu, bahwa itu semua justru menumbuhkan segalanya. Bunga yang tidak pernah layu itu malah semakin berkembang, tumbuh cepat seperti tanaman rambat yang enggan berhenti.

Ia pun bangkit, menatap Casey sejenak dan berkata, “Aku akan menyelesaikannya malam ini.”

Ia melewati beberapa meja dan kursi yang terisi oleh pengunjung. Diacuhkannya ekspresi terkejut dari Donghae lalu tanpa basi-basi duduk dikursi kebanggannya jika berada disini. Ia pandang semua wajah yang sebagian nampak tersenyum melihatnya. Ia begitu bersemangat jika orang lain pun semangat. Dengan satu tarikan nafas, ia pun memulainya kembali.

***

BUG

Yesung melempar tasnya dengan keras. Ia sedang kehilangan mood hari ini. Tidak ada sesuatu yang buruk. Hanya saja, sesuatu terjadi yang membuatnya tidak bisa lupa.

“Argh, kenapa aku terus memikirkannya?”

Bahkan sekarang Leeteuk perlu menyembulkan kepalanya dari dapur karena melihat adiknya bicara sendiri sambil mengacak-acak rambut. Yesung bangkit sejenak dari duduknya, lalu kemudian kembali telentang.

“Kau kenapa? Kau seperti gadis yang sedang datang bulan.”

Yesung memang tak pernah bisa menahan mulutnya. Melihat kesempatan dimana Leeteuk mendekatinya, segera saja ia duduk tegap dan menatap kakaknya serius.

“Aku rasa aku ingin menikah.”

“WHAT???”

Yesung menghempas tubuhnya untuk kesekian kali melihat reaksi kakaknya. Kedengarannya memang aneh dan sangat mendadak. Tapi itulah yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Dan itu berawal dari rentetan kejadian yang ia alami hari ini.

“Kau demam? Oke, aku tahu kau sedang jatuh cinta, tapi jatuh cinta dan menikah adalah perkara yang berbeda.”

Yesung menghembuskan nafasnya. “Jika kau mengenalku, kau tahu aku bukan orang yang bisa memikirkan masa depan. Aku tak  pernah punya pikiran untuk berhubungan serius dengan seorang wanita. Tapi seharian ini…………….”

“Apa yang terjadi?”

“Diperjalanan, aku melihat seorang pria yang sedang melamar kekasihnya dipinggir jalan. Lalu aku melihat pengantin baru keluar dari gereja, mereka pergi dengan mobil sambil berciuman. Kemudian aku mengantarkan pizza yang ternyata pemesannya juga merupakan pengantin baru. Dengan percaya dirinya mereka pamer kemesraan di depanku. Belum lagi saat aku pulang, aku melihat sebuah gaun pengantin yang baru dipajang. Sungguh, bagiku itu hanya kebetulan. Tapi sepanjang jalan yang ada dikepalaku adalah bayanganku dan Jeany yang sedang menikah. Aku pikir aku sudah gila.”

Leeteuk tertawa sekeras-kerasnya. Jarang sekali mereka punya waktu bersama seperti ini. Ia sungguh baru tahu kalau adiknya sangat menggemaskan.

“Hanya karena itu kau jadi ingin menikah?”

“Bukan keinginanku, hyung. Tapi sejak tadi aku tidak bisa melenyapkan pikiran itu.”

Setelah berusaha keras meredam tawanya, Leeteuk menepuk bahunya pelan.”Kalian masih muda. Masih banyak yang harus dipikirkan dibanding menikah. Apa gunanya menikah? Aku rasa tidak ada.”

“Tapi hyung…”

“Ah, sudahlah. Aku mau tidur. Malam ini aku tidak mau kemana-mana.”

Yesung hanya mendesah malas melihat kepergian kakaknya. Ia beralih mengambil handphonenya lalu mengetikkan pesan singkat pada Casey. Isinya simple. Sama seperti apa yang ia ucapkan pada Leeteuk.

“Aku rasa aku ingin menikah.”

Dan balasannya pun lebih cepat dari perkiraan.

“KAU GILA? Ayah Jeany ingin bukti keseriusanmu, bukan berarti dia meminta kau menikahi anaknya besok!”

Yesung seperti mendapat lampu di atas kepalanya. Ia sama sekali tak terpikirkan ke arah sana. Yang mengganjalnya sejak tadi adalah perasaannya yang tidak tenang melihat kumpulan pasangan pengantin baru. Kenapa ia tak terpikirkan sejak awal? Langsung ia melompat ke kamarnya. Ia bongkar tabungannya dengan palu dan sempat terpana melihat hasilnya. Senyumnya pun mengembang.

“Aku tidak main-main.”

*****

Yesung berusaha menembus kerumunan orang. Ia tak tahu kenapa hari ini jalanan begitu penuh. Padahal tidak sedang ada festival the beatles atau perayaan apapun. Tapi ia tak menyerah. Setelah susah payah menyiapkan semuanya selama dua hari ini, sengaja tak menghubungi Jeany dan berlari dari tempat kerjanya, ia tak mungkin berhenti.  Dan meski ia gagal meminjam motor kerjanya dari bos, akhirnya ia tak merasa kekurangan karena masih punya dua kaki yang kuat. Ia berlari sekuat tenaga hingga akhirnya tiba di depan gedung kantor Jeany.

Ia berhenti, mengantur nafas cukup lama lantas menjatuhkan tasnya yang besar. Dilihatnya sepintas keadaan sekitarnya yang cukup mendukung. Ia pandang gedung tinggi itu lantas senyumnya langsung mengembang. Begitu siap, ia keluarkan helicopter mainan milik Jeremy yang dipinjamnya secara paksa kemarin malam dari dalam tas. Kertas berwarna sudah menempel di bagian bawahnya. Tanpa buang waktu lagi, ia terbangkan pesawat itu menggunakan remote control. Kalau tidak salah, ruang kerja Jeany terletak dilantai 7. Ia mengira-ngira posisinya lebih dulu. Saat dirasa sudah pas, langsung kirimkan pesan pada Jeany.

“Lihat keluar jendela dan jangan berteriak di muka umum.”

Ia tersenyum lebar. Sebenarnya ia merasa sangat gugup menghadapi reaksi Jeany nantinya. Tapi sekarang ia merasa lebih takut kalau-kalau Jeany tak melihat pesannya. Atau Jeany sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau Jeany mengambek dan tidak mau membuka pesannya. Pikiran-pikiran buruk itu datang semakin cepat seiring dengan tidak adanya tanda-tanda bahwa Jeany ada di depan jendela, melihat kejutan darinya. Perasaannya mendadak tak tenang.

1 menit…

2 menit…

3 menit…

Helikopter itu hanya dimainkannya berputar-putar di disekitar jendela ruang kerja Jeany dan gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia sudah hampir menyerah. Tapi  tiba-tiba ia melihat penampakan Jeany di balik jendela. Gadis itu melihat tulisan yang ada pada kertas yang menempel di helicopter tersebut. Dalam sekejab Jeany membekap mulutnya, melihat ke arahnya.

Ia tersenyum tipis, membalas tatapan tak percaya dari gadis itu, lantas berteriak. “WOULD YOU MARRY ME???”

Jeany langsung menghilang dan ia segera menurunkan helikopternya. Tak sampai hitungan menit, tubuh Jeany sudah ada dihadapannya dengan nafas memburu. Yesung tahu dirinya cukup berantakan saat ini. Seragam kerjanya sangat kusut, ia tak sempat mandi apalagi berdandan karena waktu yang sangat sempit. Maka sebelum Jeany mendekat, ia rapikan rambutnya. Namun semua itu menjadi percuma ketika Jeany tiba-tiba berlari dan mencium bibirnya.

Wuuuuuuuuuuuu

Dalam keengganan mereka untuk berhenti, Yesung bisa mendengar seruan dari orang-orang disekelilingnya. Ada yang bertepuk tangan dan itu seperti debukan drum yang membuatnya lebih semangat. Ia balas permainan Jeany lebih handal dengan memegang pinggul gadis itu erat. Hingga berlalu beberapa menit, ciuman itupun berhenti dengan sendirinya, menyisakan senyum keduanya.

Yesung lalu mundur satu langkah, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. Diiringi tepukan tangan orang-orang, Yesung segera berlutut dihadapan Jeany, membuat gadis itu membekap mulutnya untuk kedua kalinya.

“Jeany…”

Ia hembuskan nafas kencang. Ia sama sekali tak menyiapkan kata-kata. Yang menyita waktu dan pikirannya selama dua hari ini adalah benda yang ada di dalam kotak ditangannya. Sekarang, ia akan mengeluarkan apapun yang memang ingin ia katakan.

“Jeany Hanks, aku tahu ini terlihat gila. Aku…aku bahkan tak pernah membayangkan kalau dihari ini, detik ini, aku sedang berlutut di depanmu. Aku hanya…………melakukan apa yang harusnya aku lakukan. Kau tahu bagaimana diriku dan aku tak bisa menahannya lagi ketika tiba-tiba saja aku berpikir untuk ada disini.”

Yesung meraih tangan Jeany dengan lembut. Ia tahu gadis itu sedang mati-matian menahan tangisnya. Ia pun melanjutkan, “Sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Menyayangi seseorang melebihi rasa sayang pada diriku sendiri dan merasa begitu kehilangan ketika satu detik saja aku tak melihatmu. Aku tidak mau merasakannya lagi. Aku tidak mau kebingungan lagi jika tak melihatmu. Aku….ingin kau terus ada didekatku.”

Jeany melepaskan pertahannya dan air matanya jatuh satu persatu. Yesung mengeratkan pegangannya, ia atur nafas sejenak untuk mengatakan kelanjutannya. Jujur saja, ia tak tahu jika ini akan begitu panjang. Ia pikir ia cukup akan mengatakan kembali apa yang sudah ia teriakan sebelumnya. Tapi ini tak semudah itu. Jeany terlalu berharga untuk empat kalimat saja.

“Jeany, aku tak pernah memikirkan apapun yang akan terjadi padaku setahun, dua tahun atau sepuluh tahun ke depan. Tapi bersamamu, aku merasa bisa melihat masa depanku. Aku seperti diajak berjalan menyusuri jalan yang panjang yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya. Mungkin kau tak percaya kalau semalam aku bermimpi memakaikan popok anak kita.”

Tawa Jeany menyembur pelan. Ia pun demikian dan ia tidak sedang mengarang cerita.

“Aku pikir aku sudah gila. Tapi membayangkan semuanya, aku rasa ini semua adalah wajar. Kita bangun bersama, kau memasak untukku, aku berangkat ke kantor dan kau menungguku di rumah. Kita akan mengurus anak kita bersama, menenangkannya jika menangis, mengajarinya berjalan dan bicara. Aku juga akan mengajarinya bernyanyi dan kau bisa membuatnya pandai  bicara di depan tv.” Ia tarik nafas panjang sekali lagi, lantas menghembuskannya. “Maukah kau melewati semua itu bersamaku? Aku sadar aku adalah lelaki brengsek yang bahkan tidak punya apa-apa untuk kebanggakan dihadapanmu. Dan aku juga tahu kita masih sangat muda. Masih banyak mimpi yang belum tercapai. Tapi aku ingin kita berjuang bersama untuk mendapatkannya. Aku akan mendampingimu dan kau mendampingiku. Maukah kau berjalan bersamaku menggapai mimpi-mimpi kita?”

Jeany sudah tak tahan lagi dan tangisnya semakin menjadi. Sementara Yesung semakin yakin dengan apa yang akan ia katakan. Ia buka kotak kecil ditangannya, memperlihatkan sebuah cincin sederhana tanpa hiasan apapun. Ia keluarkan cincin tersebut lalu menatap Jeany lebih serius.

“Maukah kau menikah denganku? Hidup bersamaku? Menjadi tua dan keriput denganku hingga maut menjemput?”

Tepuk tangan lebih meriah menyadarkannya bahwa ternyata ia tidak sendiri. Ia benar-benar lupa dan berpikir bahwa semua orang sudah kembali ke aktifitas masing-masing. Ia edarkan pandangannya pada semua orang yang tengah menjadikan mereka sebagai tontonan dan perasaannya semakin tidak karuan. Ia yakin seribu persen Jeany akan menerima, tapi entah kenapa menunggu kata ‘iya’ dari mulutnya begitu menyiksa. Ini lebih parah dibanding menunggu vonis keputusan hidup matinya dihadapan hakim pengadilan. Hingga semua orang terus berteriak untuknya, ia bisa melihat Jeany menganggukkan kepala lantas menawarkan jari manisnya.

“Aku mau.”

Wuuuuuuu

Ia hampir melompat kegirangan kalau saja tak ingat dengan cincinnya. Segera ia pakaikan ke jari manis Jeany. Dan tanpa bisa ditahan lagi, mereka kembali berciuman. Tak peduli apa yang terjadi disekitar mereka, acuh dengan situasi. Mereka melalui beberapa menit itu dengan perasaan lega. Terutama bagi Yesung yang dua hari ini menjalani hari seperti orang gila. Ia lega. Sangat lega.

“Jadi, inikah yang membuatmu mengabaikanku?”

Yesung tersenyum setelah Jeany melepas pagutan antara mereka.

“Ya, aku ingin membuatnya sempurna. Bagaimana menurutmu?”

Jeany melingkarkan lengannya ke leher Yesung, mendekatkan wajahnya. “Sangat sempurna.”

Dan mereka berciuman lagi.

*****

Marcus mengambil tempat di sebelah Casey. Pandangannya tak lepas dari temannya yang tengah duduk di atas podium dan sibuk berkisah. Setelah minggu lalu Yesung pergi dengan seenaknya dan meninggalkan banyak pertanyaan dikepala pengunjung, malam ini pria itu tiba-tiba muncul tanpa diharapkan dan sekarang raut wajahnya begitu gembira.

“Aku rasa dia punya bakat untuk menjadi seorang penulis. Aku tadinya ragu kalau orang-orang akan betah dengan ceritanya.”

Casey hanya tersenyum menanggapi.

“Aku kira dia itu gay. Aku hanya tahu dia pernah menikah.”

Marcus menatap Yesung dan Casey bergantian. Untuk satu detik ia merasa bahwa keduanya memiliki kemiripin fisik. Padahal mereka berbeda darah dan negara.

“Jadi kau tahu semuanya sejak awal? Dia berkali-kali menyebut namamu. Sepertinya kau punya andil besar dalam kisah mereka.”

Casey meresapi pertanyaan itu. Ia memang tahu segalanya. Ia lah saksi tak berguna yang melihat apa yang terjadi antara Yesung dan Jeany. Ia yang melihat bagaimana bahagianya Yesung selama berhubungan dengan Jeany. Ia bisa melihat bagaimana bingungnya Yesung karena tak juga mendapat restu dari ayah Jeany. Ia masih merekam senyum dan tawa Yesung dalam memorinya tanpa cela. Tapi ia jugalah yang melihat tangis dan sakit itu. Ialah orang pertama yang mendapat telepon dari Yesung ditengah malam itu. Ia yang mengetahui bahwa Jeany sudah pergi. Ia juga yang menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Yesung yang ia kenal sampai menangis dihadapannya.

Sekarang, ia bisa melihat sahabatnya itu tersenyum karena kisahnya sedang berada dalam tahap yang menyenangkan. Untuk sesaat, ia abaikan kemungkinan yang akan terjadi nanti ketika ceritanya sudah berbeda haluan. Yang ia tahu, ia senang melihat senyum itu lagi dari Yesung. Pria itu pantas merasakan kembali bahagianya.

Andai ia bisa melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Tapi kenyataannya ia tak punya kuasa apa-apa untuk mengubah apa yang sudah terlanjur terjadi. Diam-diam ia mencari informasi soal keberadaan Jeany dan sesungguhnya ia sudah mencium baunya. Ada info penting yang ia dapatkan. Namun, itu bukan berita baik yang bisa ia sampaikan sambil minum kopi dengan Yesung. Ia tak yakin bagaimana caranya memberitahukan hal tersebut pada Yesung. Meski itu bagus untuk membuat Yesung menutup kisahnya, tetap saja itu akan jadi bagian yang sangat sulit diterima oleh Yesung.

“Sebenarnya aku penasaran dengan kisah ini meski aku sudah tahu akhirnya.”

Casey meliriknya sebentar. “Sejak kapan kau jadi mudah tersentuh? Kemarin ada gadis yang mendekatimu dan mengatakan kisahnya yang dramatis, tapi kau sama sekali tak melihatnya.”

Marcus mengambil minumnya yang baru dibuatkan oleh Jordan, ditenggaknya hingga habis lalu menatap Casey. “Gadis itu tidak memenuhi kriteria dan jangan membahasnya lagi. Aku sudah cukup malu membayangkan malam itu saat ia kemari dan menyatakan cinta padaku.”

Casey tersenyum mengingat kejadian mendadak dan memalukan itu. Ia pusatkan lagi perhatiannya pada Yesung yang sedang rehat sejenak untuk menghela nafas.

“Jadi, seperti apa sebenarnya Jeany itu? Kenapa ia tega meninggalkan Yesung?”

Casey diam. Tak langsung menjawab. Dilihatnya Yesung yang sepertinya siap untuk melanjutkan ceritanya.

“Dia adalah gadis yang baik. Tapi dia hanya manusia biasa. Mereka tidak bersalah. Satu-satunya kesalahan mereka adalah…..bahwa mereka sebenarnya belum siap untuk semua hal baru yang akan mereka lalui.”

****

Yesung berdiri di depan cermin. Di belakangnya, Leeteuk memandangnya tak percaya, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya.

“Kau serius ingin melamarnya?”

“Aku sudah melakukan itu tadi sore.”

“Tapi sekarang kau akan ke rumahnya? Bertemu orang tuanya?”

Yesung berbalik, menatap Leeteuk dengan tenang. “Kau kenapa, hyung? Aku sungguh-sungguh dengan Jeany dan inilah pilihanku.”

Leeteuk baru sadar kalau adiknya adalah orang yang keras kepala. Ia angkat tangan. Setelah meminjamkan kemeja, jas serta sepatu miliknya, ia memilih pergi ke club.

Yesung pun kembali meyakinkan penampilannya malam ini. Dengan sebuket bunga ditangan, ia merasa sangat siap untuk berhadapan dengan orang tua Jeany, terutama Mr.Hanks. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Setelah hubungan mereka berjalan baik akhir-akhir ini, inilah puncak dari bukti keseriusannya pada Jeany. Ia tak pernah merasa seyakin ini dalam melangkah.

Setelah dirasa tak ada yang kurang, ia berangkat ke rumah Jeany tentu dengan motor Casey. Sebelumnya ia juga sudah meminta dukungan dari Casey, terlepas dari rela atau tidak, Casey harus mendukungnya.

Sepanjang perjalanan ia seperti orang tidak waras. Ia bersiul, menyenandungkan beberapa lagu romantis dan mendadak ramah pada warga kota. Langkahnya begitu ringan saat tiba di rumah Jeany dan melewati pagarnya. Ia begitu yakin semua akan berjalan sesuai prediksi. Ia merasa semuanya sempurna sampai akhirnya ia nyaris menggapai pintu dan mendengar keributan di dalam sana.

“Yesung?”

Tangannya yang hendak mengetuk pintu menggantung di udara. Ia mendengar namanya disebut.

“Kalian berdua sudah gila?”

Perasaannya mendadak tak nyaman. Tubuhnya kaku di depan pintu dan kini ia lancang mendengarkan semuanya.

“Dad, aku mencintainya dan kami…”

“Jangan bicarakan masalah cinta didepanku. Semua orang pernah jatuh cinta dan itu hanya akan berlalu seperti musim panas yang akan segera berakhir.”

Yesung menelan ludahnya dengan agak kesulitan. Dari posisinya, ia bisa melihat sekilas tubuh Jeany melalui jendela di dekat pintu.

“Dad, sebenarnya apa masalahnya? Aku pikir hubungan kalian membaik akhir-akhir ini. Dan dia akan kemari untuk…”

“Untuk melamarmu? Kau sudah mengatakannya dan aku hampir terkena serangan jantung. Dengar! Aku menerimanya bukan berarti aku merestui rencana pernikahan kalian.”

“Mom, kau setuju dengan kami kan? Kau menyukainya kan?”

“Sayang, aku memang menyukainya. Tapi untuk sebuah pernikahan…………”

“Mom…..”

Yesung membalik tubuhnya secara perlahan. Ia bisa mendengar semuanya sementara ia hanya berdiri dititik yang sama. Ia tak bisa berkutik dengan rentetan kalimat yang sampai ke telinganya. Bunganya jatuh. Tangannya mengepal menahan emosi.

“Lihat dirinya! Dari bagian mana kau yakin dia bisa menjadi suamimu?”

“Dad, berhenti mengatakan apapun tentangnya. Aku tak peduli. Kami akan tetap menikah!”

“Oh, dan dia berhasil membuatmu kehilangan jati diri. Jeany Hanks bukan orang bodoh seperti ini! Kau menolak bekerja di perusahaanku demi karir jurnalismu. Tapi sekarang kau melepas semuanya hanya demi seorang tak berguna sepertinya?”

“Dady, STOP!!”

“Jeany, jangan melawan ayahmu.”

“Aku benar-benar kecewa dengan kalian.”

Yesung menjauhkan diri dari hiruk pikuk rumah itu. Meski samar-samar ia masih mendengar ‘pujian’ lain untuknya, ia merasa sudah cukup. Dadanya sudah cukup terkoyak mendengar semua itu.

“Yesung!”

Sepasang tangan melingkari tubuhnya. Ia pejamkan mata, lantas menarik nafas panjang. Ia melepaskan tangan itu untuk menatap Jeany yang sedang tersedu-sedu.

“Hey, kau menangis?”

Jeany menatapnya dengan penuh rasa bersalah. “Kau mendengar semuanya?”

Dengan menahan rasa sakit itu, Yesung menyisir rambut Jeany dengan lembut, membersihkan sisa air mata dipipinya. “Aku mendengar banyak hal dan terima kasih karena kau membelaku. Aku hargai itu.”

“Jangan memikirkannya. Aku bahkan tidak peduli lagi pendapat mereka.”

“Sssttt…”

Yesung meletakkan jari telunjuknya dibibir Jeany. Ia kecup bibir itu singkat.

“Jika bersamaku membuatmu melupakan mereka, sebaiknya tidak kita lanjutkan.”

“Tidak, jangan katakan itu!”

“Tapi aku tidak punya alasan lagi untuk melanjutkannya. Kau dengar sendiri kata ayahmu? Aku hanya orang tak berguna.”

“Yesung, kumohon…”

“Jeany!!” Suara berat ayahnya terdengar. Jeany berusaha sekuat tenaga memeluk Yesung tapi Yesung menolaknya. Ia tahu diri. Ia melepaskan semua sentuhan Jeany dan berusaha tidak menatap matanya.

“Jeany, kumohon lepaskan tanganmu!”

Tangan itu terlepas dengan sendirinya begitu perintah itu terasa begitu menohok.  Jeany memandang dua pria di dekatnya itu bergantian.

“Kalian semua tidak ada yang mengerti.”

Ia pun melesat pergi, berlari meninggalkan mereka. Mr.Hanks tak tinggal diam dan bergegas mengejarnya.

“Jeany!!”

Sementara Yesung masih mematung ditempat. Untuk sesaat ia berpikir tidak perlu melakukan apa-apa dan hanya perlu lenyap dari sini. Tapi kemudian ia tak bisa berbohong bahwa ia sangat khawatir dengan kondisi Jeany. Dan masalah ini bermula dari aksi nekatnya melamar Jeany. Ia tak mungkin lepas tangan. Ia pun menyusul mereka yang sudah berlari entah kemana.

Ketika berada di persimpangan, ia melihat Mr.Hanks berhasil menangkap tubuh anaknya di tengah jalan lantas menamparnya. Ia sudah bersiap untuk berlari mendekati mereka saat baru menyadari bahwa ada sebuah truk berkecepatan tinggi datang dari atah berlawanan.

“Jeany! Mr.Hanks!!!”

Seolah tak merasakan apa-apa, dua orang itu masih sibuk adu mulut. Yesung menambah laju larinya, beradu kecepatan dengan truk yang entah kenapa tidak bisa berhenti dan tak juga membunyikan klakson itu. Detik terakhir sebelum truk itu menghantam tubuh Jeany dan ayahnya, ia mendorong tubuh mereka  sekuat tenaga hingga terlempar ke pinggir jalan. Tapi kemudian………….

BUG

Sepertinya ia terlambat menghindar.

***TBC***

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Dewi ratih
    Jun 21, 2015 @ 18:32:40

    0MG … yesung tertabrak yaa ….. ?????
    Makin penasaran sama ceritanyaaa ..
    Ditunggu lanjutannya th0r😀

    Reply

  2. spring
    Jun 21, 2015 @ 21:08:30

    aduh tmbh deg2an. ga sabar nunggu lanjutannya

    Reply

  3. Novita Arzhevia
    Jun 23, 2015 @ 13:25:28

    terlalu terpesona dg karakterter Yesun. Bener2 laki2 yg bertanggung jawab

    Reply

  4. sssaturnusss
    Apr 29, 2016 @ 19:17:15

    Part ini .. Lebih tepatnya sepenggal part terakhir menyita duniaku #cieilah hahaha tapi serius loh aku ampe ngerasain beberapa ekspresi di wajah aku di part 5 ini .. Dari senyum senyum gila sendiri ampe melotot mengo gak percaya trus kerutin dahi kayak org kelilit hutang belum lagi gigit bibir bawah ampe bilang (omo, aigo, wow, ahhhh) begitulah yang aku temukan di part ini ..

    sebelumnya aku kedapetan leeteuk yg nyinggung soal pernikahan yesung yang ancur .. Aku ampe mikir ini authornya yang typo atau emg yesung duda sebelumnya .. Penasaran aku tambah baca .. Dan ternyata, dia ngelamar Jeany ? Apa mungkin dia bener nikahin jeany pada akhirnya ? Lalu pernikahannya …. Hancur ? Jeany ninggalin yesung ?

    Ahhhh sueerrr aku suka ff ini hahaha ceritanya bener-bener ala novel, kehidupannya nyata bgt, ngga mengada ngada dan jauh dari drama sinetron wkwkwkwk

    Ceritain flashback yang bener-bener ngga ngebosenin .. Cuma 1 kurangnya. Sama kaya koment aku sebelumnya, ini kurang detail waktu dan keterangan sekarang atau flashback nyaa .. Karna kan terkadang ada reader yang gak paham alias kebingungan hehehe untung aku sih paham kekekekeke

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: