Breakable Heart [4/?]

BREAKBLE

Author : FitOsyin

Tittle : Breakable Heart Part 4

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Tiffany, Jung Hyo Rim (OC)

Genre : Angst, Romance

Rate : PG 13

Length : Chapter

My Note : Cerita ini pure ide author, kalo nemu ff ini di wp lain itu bukan plagiat, author orang nya senang menebar kebahagiaan, jadi disini senang disana senang hhe ^^

“Nyonya, Tuan menunggu anda untuk makan malam di bawah.”

Hyo Rim berbalik memunggungi cermin dan tersenyum pada perempuan paruh baya yang beberapa jam lalu mengenalkan diri sebagai Lee Ahjumma, kepala pelayan rumah ini. Hujan kembali turun sore ini, dan Hyo Rim lupa menutup pintu kaca yang memisahkan kamar dengan beranda. Lee Ahjumma menghampiri pintu itu dan menutupnya tanpa suara, Hyo Rim memperhatikan gerak-gerik Lee Ahjumma, ada pertanyaan besar yang bersarang di benaknya sejak menginjakan kaki di sini, Hyo Rim tengah mempertimbangkan untuk menanyakannya pada Lee Ahjumma.

“Ahjumma ada yang ingin kutanyakan—“

“Maaf Nyonya, kenapa anda belum berganti pakaian? Apakah perlu saya bantu?” Potong Lee Ahjumma segera, merujuk pada Hyo Rim yang masih mengenakan hanbok.

“Ah, tidak-tidak perlu. Aku hanya terlalu lelah hingga lupa mengganti pakaian, sebentar lagi aku akan bersiap-siap dan turun. Tapi, apakah—“

“Kalau begitu, saya mohon diri kembali bekerja Nyonya.”

Sangat jelas Lee Ahjumma sedang menghindar dari pertanyannya, Hyo Rim yakin itu. Setiap kali Hyo Rim hendak bertanya, Lee Ahjumma segera memotong kalimat Hyo Rim, seakan Lee ahjumma tahu jelas apa yang akan Hyo Rim tanyakan dan membuat ia yakin, Lee Ahjumma mengetahui jawabannya. Atau mungkin di rumah ini hanya Hyo Rim yang tak mengetahui siapa gadis yang menghadang mobil mereka di gerbang tadi? Bahkan gadis itu nampak akrab dengan penghuni rumah ini, menandakan gadis itu sering datang ke sini. Apakah ia kerabat Kyuhyun? Atau mungkin…

Apapun itu, ia harus mencari tahu sendiri. Jika Lee Ahjumma atau orang-orang di sini tak ingin memberitahunya maka ia akan mencari tahu sendiri.

000ooo000

Suara tawa menyambut kedatangan Hyo Rim di ruang makan, bahkan derai tawa itu terus berlanjut hingga Hyo Rim duduk di kursi dan mulai menyantap makanannya. Bagus, Hyo Rim merasa menjadi makhluk astral, tak terlihat sama sekali. Baik Kyuhyun maupun gadis itu larut dalam perbincangan mereka, perbincangan yang tak dapat ia tangkap sama sekali karena mereka menggunakan bahasa inggris dan mungkin sedikit Perancis. Melalui sudut matanya, Hyo Rim meneliti gadis itu. Demi apapun, jika Hyo Rim menjadi seorang pria ia pasti sudah jatuh bertekuk lutut di depan perempuan ini. Tak perlu disebutkan bagaimana sempurna fisiknya karena tanpa fisik yang sesempurna itu, ia memiliki senyum memikat, membuat orang yang melihat tanpa sadar ikut tersenyum ketika ia tersenyum.

“Mi Young-ah, kuharap kau tak benar-benar melakukannya.” Kata Kyuhyun akhirnya dengan bahasa korea.

Ah, akhirnya Hyo Rim tahu nama gadis itu Mi Young, cantik secantik orangnya. Hyo Rim mengaduk sup dengan sedikit kasar, entah kenapa panas dari sup itu menular ke dalam hatinya sekarang. Hyo Rim tak ingin makan lagi, ia meraih jeruk dan berharap dapat meredakan rasa panas itu.

“Tentu tidak Oppa, aku tak mungkin sekejam itu.”

Oppa? Usia Kyuhyun dan Mi Young nampaknya tak terpaut jauh, tapi kenapa ia memanggil Kyuhyun dengan sebutan Oppa?

Trang!

Tak tahu bagaimana caranya, jeruk yang tengah Hyo Rim kupas meloncat dan jatuh di tepi mangkuk sup Kyuhyun mengakibatkan isinya tumpah.

“Oppa!” Teriak Mi Young panic, beberapa pelayan segera membantu Kyuhyun membersihkan diri

Sementara Hyo Rim, ia masih kaget dan tetap pada posisinya, “Aneh sekali, kenapa tiba-tiba meloncat?” Hyo Rim menoleh ke samping, “Kau tak apa? Maafkan aku.”

“Maaf? Setelah menumpahkan kuah panas kau hanya mengatakan maaf?” Tanya Mi Young berang, mukanya merah padam.

Hyo Rim mengerutkan alisnya, kenapa perempuan ini yang marah?

“Sudahlah, ini hanya kuah sup.” Kata Kyuhyun menengahi, ia berdiri, “ Mi Young kau selesaikan saja makan malamnya, aku akan membersihkan diri. Hyo, setelah kau selesai ada yang ingin kubicarakan.”

 

 

“Meskipun aku tak setuju, tapi selamat untuk penikahan kalian.” Desis Mi Young sepeninggal Kyuhyun.

Hyo Rim mengangguk, “ Aku mengerti, lagipula kau tak sendiri. Banyak orang yang tak menyetujui pernikahan ini.”

                Termasuk diriku sendiri.

Mi Yong mengibaskan rambut ikalnya, “ Kau tak mengerti, bagaimanapun kau tak akan pernah mengerti.”

“Bagian mana yang tak kumengerti—“ Hyo Rim berhenti untuk memastikan harus memanggil apa pada Mi Young,

“Hwang Mi Young.”

“Bagian mana yang tak kumengerti Hwang Mi Young-ssi. Semua orang beranggapan sama, kami tak sepadan. Kau tak perlu ragu untuk mengatakannya. “

“Bodoh,” Decak Mi Young kesal, ia menaruh sendoknya dan meneguk segelas air.

Lihat, bahkan gadis itu tetap nampak anggun meski tengah marah. Hyo Rim meremas ujung kausnya, entah kenapa ada rasa cemburu ketika melihat Hwang Mi Young. Rasa cemburu yang lebih besar dibanding dulu, ketika Kyuhyun memacari gadis-gadis popular di sekolah. Ini tidak benar, tak seharusnya ia masih memiliki perasaan itu, seharusnya ia membenci Kyuhyun.

“Kudengar kau berhasil menikah dengan Oppa setelah mengejarnya sejak sekolah menengah? Kuakui kau cukup hebat.”

“Ne?” Hyo Rim terperangah, kata mengejar nampaknya terlalu berlebihan.

Benar jika semasa SMA ia menyatakan perasaannya pada Kyuhyun, tapi hanya sebatas itu. Ketika mereka berpisah dan Kyuhyun menghilang,  Hyo Rim bahkan berusaha setengah mati menghilangkan perasaan sepihak nya.

“Tunggu sebentar, informasi yang kau dengar itu tak sepenuhnya benar. Aku memang sempat menyukai Kyuhyun dulu, tapi mengejar-ngejar? Informan mu sepertinya kurang berpengalaman. Perlu kutambahkan, bahkan pernikahan ini di luar rencana kami. Baik aku ataupun Kyuhyun tak pernah mengira akan menikah.Jadi—“ Hyo Rim mengigit bibirnya kaget, ia hampir saja kelepasan bicara menceritakan asal muasal pernikahan ‘aneh’ mereka.

“Sudahlah,” Mi Young beranjak bangun, ia menaruh serbet ke atas meja, “Aku datang ke sini untuk mewujudkan mimpiku bukan untuk mendengar curahan hatimu.”

“Benar, kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakannya pada perempuan itu?” Tanya Hyo Rim pada dirinya sendiri, tapi di dasar hatinya Hyo Rim merasa memang sudah seharusnya ia mengatakan kebenaran itu pada Mi Young, meski ia tak tahu karena apa.

000ooo000

“Berhenti! Dasar pencuri sialan, berhenti!” Pekik Hyo Rim di tengah usahanya mengejar pria yang mencuri tas nya.

                Tetes air mata kini bercampur dengan keringat yang melaju dengan deras, paru-parunya pun terasa sangat kering sekarang, pandangannya perlahan mengabur. Gadis itu sadar tubuhnya tak mampu lagi untuk berlari, tapi ia tak mungkin menyerah begitu saja. Kelengahannya membiarkan penjambret itu mengambil tasnya akan menjadi kekecewaan gadis itu hingga tua. Hyo Rim menguatkan derap langkah kakinya, namun tenaganya benar-benar habis, dan kemudian ia hanya melihat kegelapan.

                “Jemarinya bergerak!” Teriakan Lee Hae Ri yang pertama kali menyambut Hyo Rim.

                Selanjutnya, ia melihat seberkas cahaya. Hyo Rim berusaha bangun meski kepalanya terasa teramat ringan. Ia tahu sedang berada di sebuah perpustakaan langganannya, namun ia lupa bagaimana ia bisa tertidur di salah satu bangku panjang dengan Hae Ri berjongkok di sampingnya.

                “Kyu, dia sadar.” Kata Hae Ri, Hyo Rim menyadari kini mereka bertiga menjadi bahan tontonan seisi perpustakaan.

                Bertiga? Hyo Rim mengurut pelipisnya yang berdenyut-denyut karena menghantam trotoar. Bagaimana murid baru ini bisa ada di sini?

                “Igeo.” Kata Kyuhyun sambil menyerahkan tas selempang Hyo Rim, “Cek isinya, apa masih lengkap? Aku tak tahu apa pencuri itu sempat mengambil sesuatu atau tidak ketika kabur tadi”

                Hyo Rim mengikuti saran Kyuhyun dan menghembuskan nafas lega, sama sekali tak ada yang hilang.

                Hyo Rim menggeleng, “Semuanya lengkap,”

                “Eiyy, mana kata terima kasihmu Hyo, andai saja tadi kau tak jatuh pingsan kau pasti akan kagum melihat aksi Kyuhyun menghadang penjambret tadi.” Jelas Hae Ri,

Hyo Rim membelalak kaget, “Mwo? Terima kasih banyak.”

“Bukan masalah, melihat teman kesulitan mana mungkin aku diam saja.”

Ah, benar meski di sekolah mereka tak pernah bertegur sapa mereka tetap teman, kan?

“Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membelikanmu jjajangmyeon.” Usul Hyo Rim, selain karena kedai makanan terdekat adalah penjual  jjajangmyeon, jjajangmyeon  adalah makanan pertama yang melintas di pikirannya saat itu.

 

“Kepalamu masih sakit?” Tanya Hae Ri ketika mereka tengah menyantap jjajangmyeon,

“Sedikit.” Hyo Rim menurunkan tangan, tanpa sadar ia kembali memijat pelipisnya.

“Apanya yang sedikit, kau jatuh dengan bunyi ‘duk!’ keras tadi. Kalau sempat kusarankan periksakan ke dokter, aku takut kepalamu kenapa-kenapa.” Kata Kyuhyun dengan mulut penuh jjajangmyeon, ia nampak lahap sekali.

Hyo Rim mengangguk, dan teringat.” Bagaimana kau mengalahkan penjambret tadi, padahal larinya sangat cepat.”

“Ketika kalian berlari melewati salon di sana, kebetulan aku sedang menemani temanku. Dan ikut mengejar, sepertinya ia juga sama kelelahannya denganmu, hanya dengan beberapa pukulan ia menyerah, tidak begitu menyenangkan sebenarnya.” Jelas Kyuhyun tak ayal membuat Hyo Rim dan Hae Ri menganga.

Menyenangkan? Kyuhyun bilang mengejar penjambret itu menyenangkan?

“Um, tadi kau bilang sedang  berada di salon bersama temanmu, sekarang dimana dia?” Tanya Hae Ri, pipinya bersemu merah Hae Ri berharap teman yang Kyuhyun maksud adalah Kim Myung Soo, bertemu dengannya di luar jam sekolah tentu keajaiban sendiri bagi Hae Ri.

“Entahlah,” Kyuhyun mengangkat bahu acuh,” Mungkin masih berada di salon, kalian para perempuan selalu menghabiskan waktu berabad-abad di dalam sana, kan?”

“Perempuan, jadi kau sedang berkencan?”Tanya Hyo Rim,”Dan kau meninggalkannya sendirian? Ya Tuhan, aku tak mau kena masalah di sekolah besok.”

Hyo Rim tahu bagaimana kesan Kyuhyun di sekolah, idola para siswi dan tak jarang terjadi pertempuran sengit di antara kaum hawa hanya karena orang ini, baik itu satu sekolah ataupun dari luar sekolah. Hyo Rim tidak mau jadi salah satu dari mereka, hidupnya sudah cukup menderita tanpa tambahan konyol seperti itu.

“Kami belum tentu akan berkencan, masih banyak yang harus ku nilai. Karena itu tenang saja kau aman.”

                “Tetap saja, aku harus segera pergi sebelum teman kencanmu melihat. Hae Ri-ah, kita pergi sekarang.” Ujar Hyo Rim tergesa-gesa sambil menarik dompet dari saku jaket, dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana.

                “Tunggu!” Hae Ri menahan lengan Hyo Rim, “Kukira dompet mu ada dalam tas?”

                “Memang tidak,” Jawab Hyo Rim

                “Biasanya orang panic ketika tas nya di curi karena di sana ada dompetnya, jadi sebenarnya apa isi tasmu?” Tanya Hae Ri tak dapat menyembunyikan emosinya, asal tahu saja tadi ia sedang berebut pakaian diskon ketika insiden itu terjadi, dan harus merelakan dress incarannya lepas dari genggaman.

                Hae Ri yang tak sabar akhirnya menarik tas Hyo Rim dan membongkar isinya, “Hanya sebuah buku? Kita berlari berkilo-kilo meter hanya mengejar sebuah buku?”

                Hyo Rim menyeringai, “Maafkan aku, aku belum selesai membacanya. Aku bisa mati penasaran kalau buku ini hilang sebelum selesai kubaca.”

                “Ya Tuhan!” Mati-matian Hae Ri berusaha tak memaki sahabatnya yang satu ini, sementara Kyuhyun tersenyum melihat mereka, sepertinya keputusannya pindah sekolah memang benar, tahun ini akan menjadi tahun yang menyenangkan.

000ooo000

Hyo Rim ingat Kyuhyun mengatakan akan membicarakan sesuatu dengannya, tapi ia tak ingat apakah Kyuhyun mengatakan dimana mereka akan bicara. Rumah ini begitu luas, dan Hyo Rim belum tahu kebiasaan pria itu. Akhirnya, ia berdiri seperti orang bodoh di bawah tangga. Mungkin Kyuhyun akan kesal menunggu dan akhirnya mencari Hyo Rim.

“Apa ada yang bisa saya lakukan, Nyonya?”

“Ya Tuhan, kau mengagetkanku!” Kata Hyo Rim, Lee Ahjumma tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. “Apa kau tahu Kyuhyun berada di mana?”

Lee Ahjumma tersenyum, dan entah kenapa Hyo Rim merasa risih dengan senyuman itu.

“ Tuan sedang berada di ruang kerjanya di lantai dua,”

“Apakah ruangan itu yang berada di depan kamarku?”

Lee Ahjumma mengangguk patuh lalu mengikuti Hyo Rim naik,

“Maaf Nyonya, Tuan tidak suka seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya.” Kata Lee Ahjumma ketika Hyo Rim hendak meraih handle,

“Bahkan kami para pelayan dilarang untuk membersihkan ruangan ini, Tuan mengurus semuanya sendiri.” Lanjut Lee Ahjumma, “Lebih baik Nyonya menunggu di kamar.”

“Begitu?” Tanya Hyo Rim ragu,

Sekali lagi Lee Ahjumma mengangguk dan kembali tersenyum, senyuman yang membuat Hyo Rim  menggaruk kepalanya salah tingkah dan berlari kecil kembali ke kamarnya.

Hyo Rim menutup pintu kamar pelan-pelan dan berjalan menuju pintu kaca. Hujan turun semakin deras, hanya langit gelap yang terlihat dan sesekali petir membelah permukaan hitam, membuat Hyo Rim teringat pada Nenek di rumah. Apa yang sedang nenek lakukan sekarang? Hyo Rim takut Nenek menangis merindukannya. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu sebelum Hyo Rim bekerja di Cho Corps. Saat itu, Hyo Rim menjadi seorang talent coordinator yang membuatnya jarang berada di rumah. Pekerjaannya sebagai talent coordinator memang memberi penghasilan yang lumayan besar, namun dengan resiko sebanding yaitu rela untuk lembur di waktu tak terduga. Dan ketika hal itu terjadi, Hyo Rim akan menemukan ponselnya penuh dengan panggilan dan pesan dari Sa Eun yang isinya sama, Nenek ingin ia pulang.

Tapi hari ini, ponselnya masih tak bersuara. Ada kecewa menghinggapi, ia merasa benar-benar diasingkan oleh keluarganya sendiri. Hyo Rim duduk dan memeluk kakinya sendiri di balik pintu kaca, ia memandang satu-persatu titik hujan yang berjatuhan. Bagaimana ia ke depannya? Pernikahan ini? Perempuan tadi? Alasan utama bagi Hyo Rim menerima pernikahan ini karena ia ingin menyelamatkan keluarganya dari jerat kemiskinan, sementara bagi Kyuhyun… Hyo Rim mendesah lelah. selain karena Kyuhyun tak ingin ia melihat Hyo Rim sebagai ibu tirinya, Ia tak tahu pasti apa alasan pria itu menerima semua ini. Tapi jika mempertimbangkan alasan itu, hati kecil Hyo Rim mengatakan kemungkinan lain, Kyuhyun menyayanginya. Di satu sisi alasan itu sangat logis namun di sisi lain sangat tak masuk akal.

“Tidak, aku pasti kehilangan akalku.” Kata Hyo Rim sambil mengerjap dan menepuk-nepuk pipinya pelan.

“Akhirnya kau menyadarinya.” Timpal Kyuhyun, “Hanya orang yang kehilangan akalnya yang bersedia menikah denganku.”

“Boleh kuganti kata bersedia dengan kata terpaksa?”

000ooo000

Hyo Rim menatap bekal makanannya kesal. Hari ini pembukaan Stadion Olahraga terbesar di Asia dan kelasnya mendapatkan kehormatan sebagai pengunjung pertama hari itu. Ketika teman-temannya yang lain asik menikmati penganan yang dihidangkan, Hyo Rim terpaksa memakan bekal buatan Sa Eun apalagi kalau bukan karena uang sakunya yang terbatas. Air liur Hyo Rim rasanya sudah mengumpul di ujung lidah ketika melihat teman-temannya yang lain sibuk makan. Seandainya Hae Ri tidak sedang mengunjungi kakeknya, mungkin ia tak akan makan sendiri. Lee hae Ri sama sepertinya, ia selalu membawa bekal sendiri namun dengan alasan yang berbeda, Nyonya Lee seorang ahli gizi sehingga ia lebih merasa aman membuatkan anak-anaknya makanan sendiri.   

 

“Ah, akhirnya aku duduk juga.”

Dengan santainya Kyuhyun duduk di samping Hyo Rim dan mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas.

“Apa yang kau lakukan?”

“Makan, kau juga kenapa tak mulai makan dari tadi hanya menusuk-nusuknya dengan sumpit.”

“Bukan itu, kenapa kau memakan bekal mu disini?”

Masih dengan mulut yang mengunyah Kyuhyun menjawab,”Di kelas ini, hanya kau yang selalu membawa bekal ke sekolah jadi kupikir memakan bekal bersamamu paling nyaman.”

Hyo Rim menatap Kyuhyun dengan pandangan menyelidik, sejak kapan pria ini memperhatikannya?

“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Kyuhyun, ia mengikuti arah pandang Hyo Rim, “Kau mau bekalku? Baiklah ini.”

Kyuhyun menaruh sebagian bekalnya di kotak Hyo Rim, “Cobalah, itu aku buat sendiri.”

000oooo000

Kami kemudian hanya duduk diam tak mengatakan apapun, memandang hujan di luar. Pikiranku masih penuh dengan kemungkinan-kemungkinan tadi, terutama mengenai Hwang Mi Young. Jika gadis itu memang kerabat Kyuhyun, seharusnya ia datang di pesta pernikahan kami tapi sebaliknya ia malah datang ke rumah ini. Meski belum memiliki cukup bukti aku yakin, Hwang Mi Young bukan saudara atau kerabat Kyuhyun, ia tak lebih dari itu.

“Aku tak pernah mengira semuanya akan jadi seperti ini,” Kyuhyun akhirnya memecah kesunyian, aku mendongak menemukan Kyuhyun masih memandang lurus ke depan ia tersenyum

“Maafkan aku. Seharusnya itu yang kukatakan karena secara tak langsung memaksamu masuk ke dalam duniaku.” Lanjut Kyuhyun, “Kau berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ini, kau seharusnya menikah karena kau dan suami mu saling mencintai. Seandainya saja kau tak pernah bertemu ayahku, semua ini takkan terjadi.”

Aku merenungkan semua ucapan Kyuhyun, entah kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah. Alasanku menerima pernikahan ini juga tak sepenuhnya paksaan, alasanku menikah dengannya bahkan lebih buruk dari alasan Kyuhyun. Aku menikah karena uang, dan aku tak menyembunyikan hal ini sama sekali. Rumah orang tuaku, pagi itu dengan gamblang kukatakan aku ingin ia menebus rumah orang tuaku.

“Kurasa hubungan kita lebih tepat disebut simbiosis mutualisme, kau menikahiku untuk menghindari rasa malu sementara aku, kau tahu apa yang membuatku akhirnya tunduk. “ Aku menunuduk menatap jari-jari kakiku, “Mengenai kemungkinan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kurasa bukan hanya aku yang kehilangan kemungkinan itu. Kau juga.”

“Aku?” Tanya Kyuhyun yang nampak sangat meragukan pernyataanku, aku mengangguk tegas sebagai jawaban.

Sejak bertemu dengan Hwang Mi Young di depan gerbang aku tahu ada yang berbeda dari gadis itu, tapi aku baru menyadarinya saat makan malam tadi. Aku seakan melihat diriku lima tahun lalu pada sosok Mi Young, gadis itu mencintai Kyuhyun. Hanya pria buta yang berani menolak gadis sesempurna Hwang Mi Young, dan Kyuhyun tidak buta sama hal nya sepertiku yang tak buta pada tanda-tanda yang ada. Seluruh penghuni rumah ini mengenal Mi Young, mereka menyapa Mi Young seakan Mi Young memang sudah sering berkunjung, artinya Kyuhyun mengijinkan Mi Young memasuki kehidupannya satu. Perbedaan yang mencolok jika semua hal itu dibandingkan dengan kondisiku lima tahun lalu, selalu ada sisi tersembunyi dari kehidupan Cho Kyuhyun yang tak bisa kumasuki. Dan semua tanda itu mengarah pada satu titik, Kyuhyun membalas perasaan Mi Young.

Perih. Sungguh aku tak berbohong, aku memang berusaha untuk membenci pria ini tapi menghapus seseorang yang pernah mengisi hatimu sama saja dengan berusaha mengembalikan kaca yang telah pecah agar kembali utuh, tetap meninggalkan bekas.

“Kau salah menilaiku, Hyo.”

Aku mengangguk, “Aku selalu ragu untuk menjatuhkan penilaianku. Sejak dulu kau selalu membuatku bingung—“

Kenapa kau dulu membantuku dan akhirnya mau menjadi temanku. Kenapa dulu kau selalu ada di sisiku kemudian menjauhiku?

“Tapi aku bersyukur orang yang kunikahi itu Jung Hyo Rim.”

“Nde?”

“Kau teman lamaku, dan bukankah dalam pernikahan seorang suami dan istri mereka juga sepasang teman? Jadi, kupikir ini tak ada salahnya untuk di coba. Kita akan berhasil selama kita mampu untuk berusaha dan mengembalikan hubungan kita seperti dulu.”

“Maksudmu?” Otakku bekerja lamban ketika Kyuhyun mengatakan ia mensyukuri pernikahan ini.

“Ck,” Kyuhyun mendecak tak sabar lalu mengulurkan tangannya menjabat paksa tanganku“Mari kita ‘kembali’ berteman Hyo Rim-ah.”

Hyo Rim menarik rets jaket nya hingga hampir menyentuh dagu, ia menekan keras-keras earpiece yang menyumpal telinganya membuat tak ada suara lain yang ia dengar selain music dari ponsel di sakunya. Langkah kakinya sengaja ia buat lebar-lebar agar ia cepat menjauh dari rumah itu, Hyo Rim butuh udara segar setelah apa yang dilihatnya tadi pagi. Karena itu, Hyo Rim kini memilih olahraga pagi mengelilingi lingkungan rumah.

“Berteman? Inikah maksud laki-laki gila itu berteman lagi? buah memang tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, mereka berdua sangat mirip. Aku saja yang bodoh menganggap kalimatnya semalam ia akan berubah, terlalu jauh! Ekspektasiku terlalu jauh! Ia hanya ingin merasa nyaman dan tak terbebani olehku!” Racau Hyo Rim,

Beberapa saat yang lalu, setelah selesai membersihkan diri Hyo Rim keluar dari kamarnya berniat mencari Kyuhyun untuk meminta ijin keluar rumah, ia ingin kembali mencari pekerjaan.  Jelas tak mungkin bagi Hyo Rim untuk bekerja kembali di Cho Corps. Selain karena Kyuhyun tak akan mengijinkan Hyo Rim juga belum siap mental untuk bertemu Tuan Cho setelah pertemuan di restoran tempo hari, meski sebagai menantu. Tapi tetap, Hyo Rim membutuhkan kegiatan, ia bukan perempuan yang tahan berdiam diri seharian di rumah tanpa melakukan apa-apa karena jelas pekerjaan rumah tangga telah ada Lee Ahjumma dan anak buahnya yang mengerjakan. Keputusan Hyo Rim sudah bulat, ia akan mencari pekerjaan apapun itu, dan ia membutuhkan ijin Kyuhyun.

Namun, apa yang Hyo Rim lihat kemudian mengendurkan niatnya. Tepat ketika Hyo Rim menutup pintu kamar, ia melihat Mi Young keluar dari ruang kerja Kyuhyun. Hyo Rim tahu Kyuhyun ada di dalam sana, karena pria itu yang mengatakannya sendiri. Ia tak pernah tidur di kamar, ia selalu menempati ruang kerjanya, ruang kerja yang tak ada satupun yang boleh memasukinya dan sepagi ini  Mi Young keluar dari sana.

“Selamat pagi.” Sapa Mi Young kemudian berlalu meninggalkan Hyo Rim yang masih mematung di depan pintu,

Sapaan yang lebih mirip sebuah sindiran bagi Hyo Rim, dengan tergesa Hyo Rim kembali masuk ke kamar dan mengganti kostum dengan pakaian olahraga, ia perlu menyegarkan pikirannya, berlari hanya satu-satunya cara yang ampuh baginya. Dan Hyo Rim tak merasa perlu meminta ijin pada Kyuhyun. Bahkan para pelayan pun hanya mampu membuka mulut kaget ketika Hyo Rim  melesat  bagaikan peluru keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun.

“Berteman lagi! Jung Hyo Rim, kembalikan akal sehatmu!” Desis Hyo Rim lalu menambah kecepatan kakinya hingga akhirnya ia tak dapat menghindar menabrak seorang perempuan yang tiba-tiba muncul dari belokan.

“Kyaaaaa!!!” Teriak mereka bersamaan, kertas-kertas berhamburan seketika.

Hyo Rim terburu-buru bangkit dan memunguti kertas-kertas tadi meski beberapa terlanjur kotor karena jalanan yang basah sisa hujan semalam.

“Ya Tuhan, maafkan aku! Aku sungguh tak sengaja aku tak melihatmu tadi.” Ujar Hyo Rim sambil membungkuk berkali-kali ketika menyerahkan kertas tadi.

“Aigoo…bagaimana ini? Siwon-ssi pasti marah besar.”

Hyo Rim mendongak mendengar suara yang tak asing juga nama yang disebut perempuan tadi.

“Kim In Joo?” Tegur Hyo Rim, “Kau In Joo, kan?”

Kim In Joo membelalak tak percaya melihat Hyo Rim berdiri di depannya, “ Eonni!” Hambur In Joo memeluk Hyo Rim.

“Apa yang kau lakukan di sini dan sepagi ini?” Tanya Hyo Rim setelah In Joo melepaskan pelukannya,

In Joo memberengut lalu perlahan air matanya meleleh, akhirnya In Joo menemukan orang yang tepat orang yang memahami benar apa yang ia rasakan dan tak akan menghakiminya, selama ini In Joo harus mengunci mulutnya rapat-rapat dari semua keluhan, tapi tidak pada Hyo Rim. Hyo Rim akan mengerti karena sebelumnya Hyo Rim yang berada di posisi In Joo.

“Kami baru selesai syuting setelah dua hari dua malam aku hanya tidur selama satu jam, akhirnya hari ini datang juga. Oenni, kenapa Oenni harus berhenti dan membiarkanku menangani monster itu sendirian. Selain kau, tak ada yang tahan menghadapi sikapnya itu. Parahnya semenjak Oenni pergi, tawaran untuknya semakin banyak dan ia seperti robot yang gila uang. Semua tawaran yang masuk ia terima, Han sajjang tentu saja senang dengan semua ini, tapi imbasnya aku sama sekali tak mendapat waktu istirahat.”

In Joo kembali memeluk Hyo Rim dan menangis sesenggukan, “Oenni kembali saja ya, setidaknya ketika Oenni ada dalam tim ia lebih mirip manusia.”

Hyo Rim menghembuskan nafas pelan sambil mengusap punggung In Joo. Ia mengerti kenapa In Joo nampak frustasi seperti ini, pertama kali menjadi talent coordinator Hyo Rim juga mengalami hal yang sama terlebih ketika menghadapi artis yang tengah In Joo bicarakan. Artis multi talenta, bintangnya tengah bersinar terang, ia merajai iklan selama dua tahun berturut-turut. Semua drama tv yang dibintanginya selalu mendapat rating tertinggi dan tak terhitung penghargaan yang didapatnya dari layar lebar. Jadi bayangkan saja jadwal yang harus ia atur ditambah mengatur mood artis itu sendiri.

“Tenanglah, ini hanya sementara. Ia tak semenyeramkan yang terlihat, kau baru melihat salah satu sisinya, nanti juga kau akan menemukans isinya yang lain In Joo-ya.” Hibur Hyo Rim sembari menghapus air mata In Joo dengan ibu jari, “Kalian syuting di sini?”

In Joo mengangguk, “Oenni ikut sebentar denganku, ya….aku membutuhkanmu menjelaskan ini.” Tunjuk In Joo pada kertas dalam genggamannya.

Hyo Rim berpikir sejenak, tak ada salahnya juga bertemu rekan kerja terdahulu. Lagipula ia membutuhkan pengalih perhatian dari kejadian tadi pagi.

“Ok, kita buktikan perkataanmu In Joo-ya, kalau aku dapat merubah monster itu menjadi manusia.”

 

 

 

Mereka berjalan tak begitu jauh dari kediaman Kyuhyun, bahkan mungkin sebenarnya dari lokasi tabrakan tadi Hyo Rim malah seperti sedang berjalan pulang ke rumah. Karena syuting di lakukan di rumah yang berjarak dua atau tiga rumah dari rumah Kyuhyun. Dari luar, rumah itu tak nampak berbeda dibanding rumah-rumah di sekitarnya, tapi ketika mereka berjalan memasuki halaman belakang nampaklah kesibukan yang dulu akrab bagi Hyo Rim. Kru-kru berjalan ke sana kemari membereskan perlengkapan syuting, artis-artis pendukung tengah duduk beristirahat dan beberapa yang lainnya memilih menghapal naskah drama mereka yang lainnya.

Beberapa kru dan artis yang mengenal Hyo Rim menyapanya sekilas, Hyo Rim tersenyum membalas dan mengedarkan matanya mengamati halaman belakang, ia merasa tak asing dengan dekorasi halaman belakang rumah ini. Gazebo, patung cupid serta tanaman merambat semuanya ditata mirip seratus persen dengan halaman belakang di rumah Kyuhyun! Ini seperti duplikasi rumah Kyuhyun. Hyo Rim yakin benar dengan apa yang dilihatnya, ia memiliki ingatan visual yang sempurna hingga tak mungkin melakukan penilaian yang salah.

“In Joo-ya, halaman ini apa memang sengaja di atur seperti ini untuk keperluan syuting atau memang ini dekorasi aslinya?” Hyo Rim merasa perlu memastikan, rasa penasaran mendorong Hyo Rim melakukannya karena sepengetahuannya, di perumahan mewah seperti ini jarang ditemukan dua rumah yang memiliki kesamaan. Setiap rumah sengaja di desain sesuai dengan cita rasa pemiliknya.

“Penulis scenario yang meminta, Ya Tuhan… Oenni tanganku gemetar, temani aku bicara kepadanya.” Kata In Joo,

“Ye? Kebetulan yang aneh.” Bisik Hyo Rim,

“Sudahlah pikirkan itu nanti saja, sekarang kita harus menemuinya sebelum ia meledak.”In Joo menggenggam erat pergelangan tangan Hyo Rim dan menarik Hyo Rim menuju pria yang duduk di sebuah kursi dengan jaket menutupi seluruh wajah.

“Siwon-ssi, ini naskah yang kau minta. Aku sudah mengopinya.” Tutur In Joo dengan suara bergetar yang kentara sekali.

Pria itu hanya menadahkan tangannya meminta naskah di tangan In Joo. In Joo menarik nafas dalam-dalam seraya menaruh kertas setengah basah itu di tangan Siwon. Merasa ada yang aneh, Siwon menurunkan jaket yang menutupi wajahnya. Mukanya merah padam menyadari benda lembab di tangannya tak lain naskah yang sebelumnya baik-baik saja kini berubah menjadi sampah. Siwon siap menyemburkan api, tapi Hyo Rim segera maju dan membungkuk dalam-dalam di hadapan pria itu.

“Mohon jangan salahkan In Joo, Siwon-ssi. Aku tadi tak sengaja menabraknya dan membuat naskahmu jatuh. Ini kesalahanku,”

“Jung Hyo Rim, kau kembali?” Tanya Siwon, tanpa sadar ia kini yang menjatuhkan naskah tadi membuat In Joo semakin pucat pasi karena sebelum jatuh naskah itu menyenggol kaleng kopi dan membuat  naskah itu kini sepenuhnya basah dan kotor.

000ooo000

“Jadi, kau sekarang tinggal disini?” Tanya Siwon tak percaya,

“Ya! Kau meragukanku dapat tinggal di lingkungan seperti ini?”

“Mwo? Bukan begitu, hanya saja kurasa kau lebih nyaman tinggal di lingkungan yang ramai, dimana kalian lebih mirip seperti sebuah keluarga besar dibanding tetangga. Sementara di sini, aku ragu kau bahkan tahu siapa pemilik rumah di samping rumah mu.” Siwon meneguk diet cokenya, sementara In Joo yang duduk di samping Siwon menghembuskan nafas lega berkali-kali karena tak satu kalipun pria ini menyinggung soal naskahnya.

“Banyak hal terjadi disana-sini, membuatku akhirnya tinggal disini.” Ujar Hyo Rim, ia memainkan gantungan ponselnya, setelah ini kecil kemungkinan mereka akan kembali bertemu sehingga Hyo Rim merasa tak perlu menceritakan alasan yang sebenarnya pada Siwon.

Mereka kini duduk di dalam gazebo, menunggu kru selesai membereskan perlengkapan. Hyo Rim menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengalihkan pikirannya, meski ketika bekerja Choi Siwon orang yang menyeramkan karena ke-perfeksionisannya dibalik itu pria ini orang yang nyaman untuk diajak bicara, bagi Hyo Rim ia seperti seorang kakak yang tak pernah dimilikinya.

“Jadi, apa kesibukanmu akhir-akhir ini?”

Hyo Rim menggeleng, “Aku pengangguran sekarang.”

Siwon mengangguk, “Lalu apa rencanamu?”

“Tentu saja mencari pekerjaan—“

“Oenni, sudahlah kembali saja bersama kami!”Potong In Joo yang segera menekap mulutnya sendiri,

Hyo Rim tertawa hambar, bukannya tidak mau namun ia belum dapat memutuskannya sendirian. Kali ini ada pertimbangan pihak lain yang harus ia pikirkan, meski mungkin orang itu tak akan peduli tapi setidaknya menurut Hyo Rim, meminta persetujuan Kyuhyun terlebih dulu merupakan tindakan yang benar.

“Apa tidak mungkin?” Tanya Siwon, “Kau tahu, anak ini masih saja belum hafal berapa scene yang kulakukan di setiap episodenya, itu kan merugikan.”

In Joo mendelik tak terima lalu menggerakan bibir tanpa suara sehingga hanya Hyo Rim yang dapat memahami apa yang ia katakan.

Itu karena drama yang kau bintangi overdosis!

“In Joo dapat melakukan lebih baik dariku, ia hanya membutuhkan waktu. Mohon pengertiannya.” Ujar Hyo Rim menengahi,

“Kau ini.” Siwon mendelik In Joo, lalu kembali menghadap Hyo Rim,” Tapi apa memang kau tak ingin kembali?”

“Akan kupertimbangkan.” Hyo Rim tersenyum, namun masih belum mampu menghapus raut kecewa di wajah Siwon juga In Joo, Hyo Rim memutar otak berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ah, bagaimana keadaan Hoonie?”

“Hoonie?”Tanya In Joo

“Kucing hitam yang kemarin ekornya tak sengaja kau injak.”Desis Siwon kesal

“A!”In Joo menunduk malu juga bersalah,

“Kucing itu kucing liar yang kami temukan dulu, ia hampir mati kedinginan saat kami menemukannya di antara tumpukan sampah, karena kasihan Siwon-ssi merawatnya.”Jelas Hyo Rim mencoba membuat In Joo mengerti kalau Siwon juga memiliki sisi putih agar In Joo tak lagi gugup dan melakukan kesalahan ketika menghadapi pria ini.

“Dia semakin gemuk dan pemalas, sepanjang hari kalau tidak makan maka ia hanya akan tidur.”

“Itu karena Hoon kucing jantan. Beruntung Hoon bukan kucing betina, mungkin apartemen mu sudah penuh dengan anak kucing.” Tegas Hyo Rim

“Ah, apa kau tak merindukan Hoon? Setelah ini kita tak ada jadwalkan In Joo-ssi, kita pulang saja dan melihat Hoon ia pasti senang melihatmu, Hyo” Ajak Siwon antusias.

“Ne?”

“Itu sepertinya tak mungkin,” Cicit In Joo yang membuat Siwon memberikan tatapan tajam untuknya, “Sutradara ingin semua tim ikut pesta perpisahan karena hari ini hari terakhir syuting.”

“Pesta perpisahan?”

“Hanya pesta kecil, makan bersama lalu ke karaoke.”

“Tapi aku tak pernah tahu sutradara merencanakan apapun.”Selidik Siwon, ia tahu ada yang salah disini.

“Itu—maafkan aku.”Lagi-lagi In Joo membungkuk rambut ikalnya meloncat-loncat setiap kali In Joo bergerak, “Aku lupa tak memberitahumu sebelumnya.”

Baik Siwon maupun Hyo Rim memalingkan wajah dari In Joo. Bedanya jika Siwon memasang wajah kesal sementara Hyo Rim merasa prihatin, kali ini ia lebih kasihan pada Siwon bukan pada In Joo. Siwon memang orang yang menuntut kesempurnaan tapi ia juga memiliki toleransi yang cukup pada kekurangan orang lain, sementara kini wajar menurut penglihatan Hyo Rim jika Siwon terus memarahi In Joo karena In Joo seperti tak juga kunjung belajar dari kesalahan.

“Sudahlah aku bisa mengunjungi Hoonie lain kali,”  Ujar Hyo Rim, ia melirik jam tangan dan melihat matahari yang perlahan meninggi, sepertinya ini sudah waktunya untuk pulang. “Siwon-ssi, In Joo-yaa sepertinya aku harus segera pulang.”

“Oenni, ikut bersama kami ke acara perpisahan ya.”

“Benar, lagipula setengah dari orang disini mengenalmu, mereka tentu juga merindukanmu.” Tambah Siwon, membuat Hyo Rim geli karena ini pertama kalinya Siwon dan In Joo satu pendapat.

“Terima kasih, tapi aku benar-benar harus pulang.” Tolak Hyo Rim, ia memang masih kesal tapi sepertinya bukan hal yang baik baginya keluar rumah terlalu lama tanpa sepengetahuan siapapun.

 

Akhirnya Siwon mengantar Hyo Rim hingga pintu gerbang, sementara In Joo masih menyusun barang-barang Siwon di belakang.

“In Joo anak yang mudah gugup karena itu pekerjaannya selalu salah karena kau terlalu mengintimidasi, kumohon sedikit lunak kepadanya Siwon-ssi.” Bujuk Hyo Rim ketika mereka hampir tiba di depan pintu

“Akan lebih mudah kalau kau yang mengambil alih, Jung Hyo Rim-ssi.” Bantah Siwon sambil mencubit ujung hidung Hyo Rim

“Yak! Sakit!” Hyo Rim menepis halus tangan Siwon, keduanya kemudian tertawa meski tak tahu apa yang sebenarnya pantas ditertawakan.

“Jung Hyo Rim!”

“Penulis Han!”

Dua seruan itu terjadi bersamaan, Hyo Rim menoleh ke kiri dan melihat Kyuhyun berjalan menghamprinya dengan membawa aura kelam, tapi Hyo Rim tak peduli bagaimana caranya Kyuhyun dapat menemukannya atau kenapa Kyuhyun nampak sangat marah. Hyo Rim saat ini penasaran setengah mati kenapa Sutradara No –orang yang menyerukan Penulis Han –berlari tergopoh-gopoh keluar seakan sedang menyambut seseorang, sementara di luar hanya ada mereka bertiga.

“Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa tak ada satu orang pun yang tahu kemana kau pergi, setidaknya biarkan Lee Ahjumma menemanimu, lingkungan ini masih asing untukmu Jung Hyo Rim!”

Hyo Rim mengabaikan cecaran Kyuhyun untuknya, ia  kini menjulurkan leher berusaha melihat kalau-kalau Penulis Han memang datang.

“Hyo Rim, kau dengar?” Kyuhyun mencekal kedua lengan Hyo Rim, sebaliknya Hyo Rim berbalik bermaksud melihat Sutradara No, tapi anehnya sekarang Sutradara No tiba-tiba seperti sedang asyik meneliti tanaman gantung di atas kepalanya.

“Hyo!”Bentak Kyuhyun,

“Sakit!”Teriak Hyo Rim

“Maaf Tuan, lepaskan anda menyakitinya” Siwon menengahi dan melepas paksa genggaman Kyuhyun di lengan Hyo Rim yang justru bertambah sakit karena Kyuhyun mengabaikan kalimat Siwon.

“Tuan—“Ulang Siwon

“Cho Kyuhyun, dan aku suaminya jadi ini urusan kami, kau tak perlu ikut campur.”

“Suami?” Seru Sutradara No dan Siwon bersamaan, Hyo Rim menggeram kesal apa tidak ada cara yang lebih kekanak-kanakan yang dapat Kyuhyun lakukan untuk mengumumkan pernikahan mereka?

 

TBC

14 Comments (+add yours?)

  1. Raemun Jung
    Jun 22, 2015 @ 12:59:56

    Penasaran binggo…. lanjut lagi dund …. siwon suka Hyorim ya? Woahhhh…. Kyu rasain tuch da saingannya….

    Reply

  2. shoffie monicca
    Jun 22, 2015 @ 13:32:53

    ak msih bngun ko dips nyo rim ngingt msa lalu ko ngga ada tlisan plas back

    Reply

  3. changtaeupy
    Jun 22, 2015 @ 13:59:01

    Hahahaha cemburu? Kyu slalu aj eg0is .. Next part

    Reply

  4. blackjackelfsone
    Jun 22, 2015 @ 16:25:01

    aih aih pasti siwon jealous. Kyuhyun pun begitu. Ditunggu next partnya. Mkin srru ajaaa😀

    Reply

  5. meynininx90
    Jun 22, 2015 @ 20:18:11

    Aduh…….mlh smkin rmit gtu…..

    PNgenny ma siwon oppa ae

    Reply

  6. Novita Arzhevia
    Jun 23, 2015 @ 11:29:48

    penasaran eonnie cepet dilanjut ya jangan lama2. Seneng deh kalo liat kyuhyun lagi cemburu. . .huaaa ceritanya makin seru!! Aku suka

    Reply

  7. imey
    Jun 23, 2015 @ 11:32:04

    penasaran bgt authorr.. cpett di lanjut ya..
    ceritanya sungguh menarik..

    spertinya kyuhyun memang mencintai hyorim dri duLu… hehe cuma asal nebakk

    Reply

  8. aryanahchoi
    Jun 23, 2015 @ 20:21:48

    blg aja lho jealous ma wonpa dsr kyu tu miyoung pcr lho ya

    Reply

  9. ana
    Jun 24, 2015 @ 00:02:37

    kyaknya kyu oppa tuh cinta deh sm hyorim smpe cemburu bget ngeliat hyo sm siwon oppa.. bkin kyu oppa cemburu berat ya thor.. lgian kyu oppa nyia2in perasaannya hyorim sh.. dtggu ya chap slnjutnya

    Reply

  10. lieyabunda
    Jun 24, 2015 @ 08:19:55

    kyu cemburu,,,,,
    lanjut

    Reply

  11. sisri91
    Jul 16, 2015 @ 15:55:53

    Ish kyu klo cemburu jgn gt.

    Reply

  12. shenaa29
    Oct 07, 2015 @ 18:44:40

    Wow, bikin penasaran lanjutannya! Menarikkkk! Tp agak bingung itu dialognya siapa, ._.v

    Reply

  13. shenaa29
    Oct 07, 2015 @ 18:45:39

    Demi apa, gua langsung baca yang ke 4nya tanpa baca ke 1,2,3 ._.

    Reply

  14. Monita yemo
    Oct 07, 2015 @ 22:05:57

    Kyuhyun selalu gitu…
    Selalu melakukan apa yg dya mau tanpa memikirkan bagaimana keadaan org itu.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: