Haesun’s Flower

Author : Aryn
Judul :
Tag (tokoh/cast) : Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae, Cho KyuHyun
Genre : Romance, Family
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

HaeSun’s Flower

***

My slow footsteps
Are struggling to chase after you
Your shadow against the sunset on that street
Looked sad for some reason

***

Itu dia.

Seorang pria manis yang sedang duduk berkumpul bersama teman-temannya di bawah pohon rindang di taman sekolah.

Siang ini matahari bersinar terik dan aku mau saja menemani Hyun-Hae duduk di bangku taman sekolah untuk menemaninya makan siang. Ini adalah hari ke enam puluh tiga aku menikmati senyuman dan tawa lepasnya itu secara diam-diam.

Namanya Lee Dong-Hae. Pria pendek menyebalkan karena selalu membuatku terlihat idiot bahkan hanya karena mendengar suaranya dari jauh. Bahkan saat dia lewat di depanku dengan jarak yang lumayan jauh aku merasa lututku lemas. Aneh, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku sama sekali belum pernah merasakan perasaan menyebalkan yang mengusikku seperti saat ini. Perasaan ini menyebalkan karena membuatku susah tidur, membuatku selalu ingin tahu apa yang ia lakukan setiap jam. Kepala kecilku membentuk banyak cabang yang seluruhnya diisi oleh pria yang terlampau imut itu. Menyebalkan. Tapi aku tetap bertahan.

“Hey! Bontot!”

Makhluk yang tak kalah menyebalkan itu datang. Setelah mengagetkanku dan menepuk keras jidatku yang lebar ia duduk di atas meja taman dan menutup pandanganku untuk melihat Dong-Hae. Sial. Dia merecokiku lagi.

“Oui, melihatnya lagi?” Ia membalik tubuh dua detik lalu menghadapku lagi. “Mau kupanggilkan? Tidak usah membayarku mahal-mahal, kau cukup mengatakan pada Eomma kalau aku akan terlambat pulang karena mengikuti les matematika sore ini. Aku ingin bermain game bersama Hyuk-Jae, kami taruhan!”

Aku mendongak dan melihatnya yang sedang menyodorkan es krim padaku. Tidak ada manis-manisnya kakakku yang satu ini walau ia berusaha jungkir balik untuk membuat dirinya terlihat manis. “Pergilah sekarang atau kau akan menemukan abu kaset-kaset gamemu di rumah nanti malam.”

Aku mendengarnya tertawa keras. Tidak ada yang lucu. Sungguh. Kata-kataku bukan hanya sekedar ancaman, dan Kyu-Hyun tahu itu. Dia, Cho Kyu-Hyun, kakak lelaki tersayangku yang kelakuannya mendekati makhluk sejenis iblis itu sering mendapati kaset-kaset gamenya patah, hancur, hilang atau bahkan benar-benar menjadi abu seperti yang kukatakan.

Tentu saja hanya aku yang berani melakukan semua itu. Terakhir kali aku membakar kaset-kaset gamenya karena Kyu-Hyun mengunciku di dalam kamar. Saat itu kedua orang tua kami sedang keluar negeri dan aku demam. Aku benar-benar ingin makan es krim bersama Hyun-Hae. Kyu-Hyun mengusir Hyun-Hae saat aku bersiap-siap, saat aku keras kepala dan tetap ingin pergi, dia berteriak-teriak padaku dan langsung mengunci kamarku dari luar.

Aku tidak bicara padanya selama satu minggu setelah kejadian itu. Dia juga tidak berusaha membujukku atau meminta maaf. Dan aku akan heran kalau dia melakukannya. Kyu-Hyun itu tidak punya perasaan. Bahkan sebesar kuku kakinya, tidak punya. Jadi aku kesal dan membakar kaset gamenya. Keesokan harinya Kyu-Hyun masuk ke dalam kamarku dan memeluknya yang sedang berbaring.

Dia bilang terima kasih karena telah membakar kaset game yang telah bosan ia mainkan. Dia bilang dia baru saja akan membuang kaset-kaset itu sebelum aku membakarnya. Malam itu darahku mendidih dan aku menendangnya dari tempat tidur. Dia tertawa keras sampai ayah dan ibuku bangun. Lalu dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Kami berdua selalu seperti itu, bertengkar, berbaikan, bertengkar, berabaikan… aku bosan punya kakak yang tidak pengertian seperti Kyu-Hyun. Bosan…

“Dong-Hae!!! Dong-Hae-ya,”

Aku kelabakan ketika Kyu-Hyun melambaikan tangannya pada Dong-Hae dan memanggil pria itu mendekat. Astaga. Dong-Hae benar-benar datang ke tempat kami duduk. Dong-Hae adalah teman Kyu-Hyun, mereka berada di kelas yang sama sementara aku satu tingkat di bawahnya.

“Aku akan mengikuti taruhan bersama Hyuk-Jae itu,” kata Kyu-Hyun saat Dong-Hae berdiri di sampingnya. Syukurlah. Kupikir mulut lebarnya itu akan membeberkan semuanya pada Dong-Hae. “Bisa kauantar Sun-Ae pulang?”

Huh? Apa katanya?

“Bisa tidak?” tanya Kyu-Hyun sekali lagi dan aku gemetar.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Aku memicing pada Kyu-Hyun agar pria gila itu mengerti.

“Tidak. Kau tidak boleh pulang sendiri.”

“Aku akan pulang sendiri.”

“Jangan keras kepala dan dengarkan aku!”

Nah, si Setan berkepala batu itu mulai lagi. Tidak mungkin aku bertengkar di hadapan Dong-Hae. “Baiklah, aku akan pulang bersama Hyun-Hae saja.”

“Aku masih harus les bahasa Inggris, Sun-Ae-ya.”

“Hah? Kau bilang jadwal lesmu sama denganku? Kita tidak ada jadwal hari ini!”

Entah apa yang terjadi hari ini hingga semuanya terasa sudah diatur.

“Aku menggantinya. Aku mengganti jadwalku agar masih bisa membantu Eomma di toko kue sepulangnya. Maafkan aku tidak memberitahumu.” Aku mendesah dan Hyun-Hae tersenyum. “Pulanglah bersama Dong-Hae Sunbae, dia tidak akan menculikmu, kok.”

“Tapi aku—“

“Benar, Sun-Ae-ya, kenapa kau takut begitu?” Aku menoleh dan aku meleleh saat melihat senyum Donghae beserta matanya yang bersinar-sinar itu. “Setelah selesai kelas aku tunggu di dekat taman, ya? Kita pulang bersama.”

Wajahku panas bahkan saat melihat punggungnya menjauh.

Kyu-Hyun menepuk jidatku lagi sebelum ia meninggalkanku yang berdiri konyol. Aku tersenyum kecil. “Hey, Jelek!” panggilku dan Kyu-hyun menoleh. “Aku akan bilang kau mengikuti les hari ini. Hati-hati dijalan dan jangan pulang terlalu malam, oke?!”

Kyu-Hyun seperti orang kesetanan berlarian ke arahku, ia menepuk jidatku tiga kali lalu mengecupnya lama seperti orang sakit jiwa. “Terima kasih! Kau memang anak bontot terbaik!”

Aku berusaha mengenyahkan Kyu-Hyun dari hadapanku saat aku mendengar Hyun-Hae tertawa, Aku menoleh dan melihat Dong-Hae dan teman-temannya juga menertawakan kami. Kakakku memang memalukan, tahu begitu aku tidak akan memanggilnya tadi.

“Sudah selesai,” kata Kyu-Hyun sumringah sambil melihat jidatku yang entah mengapa sangat disukainya. Sambil tersenyum seperti bibi-bibi aneh ia mengelus jidatku yang merah karena ulahnya. “Ah~~~ jidat yang cantik!”

Lalu aku melihat Kyu-Hyun berlarian dan menuju teman-temannya yang duduk bersama Dong-Hae di bawah pohon rindang. Mereka menertawakan Kyu-Hyun. Dong-Hae juga tertawa, namun sedetik kemudian mata kami bertemu. Aku melihat Dong-Hae menatapku. Dan dia tersenyum. Aku pergi untuk menyelamatkan jantungku.

***

Like that hurt heart, in that dark sky
There’s one star shining
My foolish dream, the love I want to protect
Is engraved upon that star

***

“Panggil Dong-Hae saja, tidak perlu terlalu formal begitu.”

Aku berusaha tersenyum saat Dong-Hae mengusap gemas kepalaku. Pria itu benar-benar tahu caranya membuat aku semakin menyukainya. Bahkan saat Kyu-Hyun menciumku terasa hambar. Tapi berada di mobil yang sama dan mencium wangi tubuhnya membuatku sakit kepala. Sakit kepala karena terus mencari alasan agar bisa berlama-lama di dekatnya.

“Kau juga memanggil Kyu-Hyun dengan namanya, bukan? Nah, kalau begitu mulai sekarang kau juga bisa memanggilku dengan namaku.”

Aku berusaha tersenyum manis tapi bibirku tidak mau tersenyum. Aku tahu wajahku datar kembali saat aku menatapnya. “Tapi Kyu-Hyun akan memarahiku kalau tahu aku memanggilmu dengan nama saja. Dia bilang itu tidak sopan, jadi aku memanggil semua temannya dengan formal.”

“Aku yang menyuruhmu melakukannya, jadi tidak apa-apa.” Dia tersenyum lagi. Aku menahan napas. Apa pria ini tidak lelah tersenyum? “Aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi.”

Aku menangguk pelan lalu tersadar sesuatu. “Eh, itu, sunbae.. maksudku, Dong-Hae, terima kasih.”

Wajahnya terlihat lucu menahan tawa, namun karena aku tidak tertawa, maka ia berusaha untuk tidak tertawa. Dia tersenyum setelahnya.

“Hati-hati di jalan,” kataku. Dia tersenyum lagi. Dong-Hae baru saja akan masuk ke dalam mobilnya saat Eomma melihat dan memanggilnya.

“Dong-Hae-ya, kaukah itu?”

Eomma tidak melihatku atau aku yang menjadi tembus pandang? Eomma berlarian melewatiku dan memeluk Dong-hae lalu meremas-remas lengannya. O-Oh, Eomma! Dia untuk putrimu!

“Sudah lama sekali tidak berkunjung dan kau akan langsung pulang?” Eomma memandang Dong-Hae dengan bangga, seperti seorang ibu yang anaknya baru saja wisuda dan mendapat nilai terbaik dari yang terbaik. “Ayo masuk! Ayahmu dan Ayah Sun-Ae bertemu di sebuah hotel di Swiss kemarin. Mereka bercerita banyak. Nah, sekarang kita masuk sekalian makan malam.”

Aku melihat Eomma dan Dong-Hae berbincang-bincang seru dan berjalan meninggalkanku yang mematung. Saat sampai di depan pintu rumah mereka menghentikan langkah, Eomma berbalik dan menatapku, lalu berteriak, “Oh, Sun-Ae-ya, kau sudah pulang? Astaga! Kenapa hanya berdiri saja di situ? Kita punya tamu! Ayo masuk dan bersiaplah untuk makan malam.”

Aku mendesah kecil dan menggeleng. Eomma, anakmu itu sebenarnya siapa?

***

Have you forgotten, those times that I’m missing now
That song we listened to together
Your smiling face brightened my heart
That little miracle

Please remember that all of it was love
Whenever your heart feels tired and lonely
Remember that you’re not truly alone anymore

***

Aku baru tahu kalau ayah Dong-Hae adalah seorang komposer, dan aku baru tahu kalau ayahku dan ayah Dong-Hae adalah teman saat sekolah dulu. Klise sekali, apakah setelah ini aku dan Dong-Hae akan dijodohkan?

Klise, tapi sungguh tidak buruk.

Aku melihatnya lagi, di taman dan duduk sendiri sambil memegang gitar. Dia tampan sekali dengan gitar itu di pangkuannya. Nah, ayo bernyanyi, aku mau dengar.

“Kau sendiri? Mana temanmu itu?”

Surga duniaku berakhir ketika Kyu-Hyun datang dan duduk di atas meja.

“Kenapa kau tidak pergi saja sebelum aku mengamuk?”

“Oh, Dong-Hae lagi,” katanya sambil lalu. “Kenapa kau bisa menyukai pria pendek itu, huh? Dibandingkan dia, aku ini pria dengan tinggi seratus delapan puluh senti yang menawan, sementara dia tidak ada apa-apanya.”

“Dia itu istimewa, tidak sepertimu yang dijual obral di pasaran.”

Aku merasakan pukulan di jidatku sampai aku merasa pusing. Aku memejamkan mata saat semuanya terasa aneh, saat aku membuka mata aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Oh jangan katakan…

“Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak duduk di sini? di sini panas, Sun-Ae-ya, astaga, lihat, kau berdarah lagi.”

Aku merasakan tangan Kyu-Hyun gemetar saat membersihkan hidungku. Ah, tidak tepat sekali waktunya. Mana bisa aku mimisan ketika Dong-Hae sedang bernyanyi dengan merdunya di depan sana.

“Sudah, aku tidak apa-apa.” Aku menepis tangan Kyu-Hyun dan membersihkan hidungku. Kadang Kyu-Hyun terlalu over, walau aku tahu sebenarnya niatnya baik, dia itu peduli, tapi ini hanya mimisan biasa. “Geser sana! Aku jadi tidak bisa melihatnya.”

Aku benar-benar melihat Kyu-Hyun bergeser. Ia masih duduk di atas meja di hadapanku dan mengangkat pantatnya untuk berpindah tempat sejauh sejengkal. Ia lalu mulai berceloteh bagai angin. Pria itu, pria yangsedang bernyanyi pelan dengan gitarnya… Kapan Eomma akan masuk ke dalam kamarku dan bertanya tentang kesediaanku untuk menikahinya? Kapan?

“Woi! Aku bicara panjang lebar kau dengar tidak?”

Aku memberengut dan menatap Kyu-Hyun. “Kau benar-benar tidak bisa tenang, ya?” Aku melihat Kyu-Hyun tertawa. “Apa yang bisa kulakukan agar kau segera pergi dari sini? Cepat katakan.”

“Aku ingin kau bilang pada Eomma—“

“Tidak,” Aku menghela napas saat Kyu-Hyun menatapku tajam. “Apa? Aku tidak ingin berbohong lagi. Aku akui kemarin bukanlah yang pertama kalinya aku berbohong pada Eomma, tapi setelah aku berbohong rasanya begitu buruk. Aku takut, Kyu. Kau sudah sering pulang larut karena bermain game, sebenarnya game apa yang kau mainkan dengan pria dengan gusi tebalnya yang bodoh itu, huh? Kau tidak puas dengan ribuan game-mu di rumah?” Aku memandangi Kyu-Hyun, entah apa lagi yang dipikirkan kakakku yang cerdas ini, dia memang maniak game, tapi dia paling benci jika seseorang berbohong, dan akhir-akhir ini dia menyuruhku berbohong. “Pulanglah bersamaku, Appa akan ke Nowon malam ini. Kita temani Eomma di rumah.”

Aku tidak ingin mendengar penolakan apapun dari Kyu-Hyun, oleh karena itu aku bergegas meninggalkannya. Dia menyebalkan. Pasti setelah ini dia melarangku keluar, kalau Appa tidak di rumah dia selalu begitu. Dia selalu marah-marah kalau aku pulang terlambat, bahkan terlambat lima atau sepuluh menit dia akan berteriak-teriak. Ah, aku benci dia. Kenapa dia tidak mencoba membuatku senang? Membuka jalan atau membantuku lebih dekat dengan Dong-Hae misalnya?

***

Kyu-Hyun tidak pernah membantuku. Tidak pernah.

Jadi aku memutuskan untuk berusaha sendiri.

Ini adalah minggu-minggu akhir sebelum kelulusan Kyu-Hyun, yang berarti kelulusan Dong-Hae juga. Sejak saat itu bisa kusimpulkan hubunganku dengan Dong-Hae membaik. Sedikit. Sedikit saja.

Kalau Kyu-Hyun sedang ada urusan Dong-Hae akan mengantarku pulang. Kami juga pernah bertemu di sebuah pameran seni, akhirnya kami makan malam bersama. Dong-Hae sangat baik, dia memperlakukanku dengan sopan dan aku suka matanya yang bersinar-sinar ekspresif. Suara tawanya indah… suaranya juga indah. Selain bermain gitar dia juga senang memotret. Dia memiliki sebuah kamera antik pemberian ayahnya yang ia tunjukkan padaku saat makan malam.

Dong-Hae baik. Terlampau baik malah. Perlahan-lahan aku jadi sadar diri bahwa dia hanya terlalu baik, mungkin karena aku adalah adik Kyu-Hyun dan orang tua kami saling mengenal, jadi dia bisa bersikap semanis itu padaku. Aku ragu, dulu aku sempat bahagia karena merasa Dong-Hae menaruh perhatian lebih padaku. Ternyata tidak demikian. Dong-Hae baik pada Hyun-Hae. Baik pada adik-adik kelasnya yang lain, baik pada setiap gadis, dia tersenyum manis pada setiap gadis, bukan hanya padaku, kadang aku hanya merasa… tidak rela. Terlebih saat gadis pindahan bernama Han Haerin yang gencar mengejarnya dua bulan belakangan ini, Dong-Hae itu sama sekali tidak menolak! Dia seakan menikmati perhatian yang diberikan Haerin padanya. mereka berada di kelas yang sama dan aku sering melihat mereka di sekitar sekolah berdua. Yah, aku tahu aku bukan orang yang berharga baginya, tapi aku menyukainya, jadi aku tidak rela jika setiap gadis bisa menikmati senyumannya yang rasanya hanya aku yang berhak melihatnya. Terlebih Han Haerin! Aku tidak rela. Oke, baiklah. Aku cemburu.

“Kau sendirian?”

Aku menoleh dan mendapati Dong-Hae duduk di bangku taman yang sama denganku. Hari ini aku malas pulang, lagi pula aku masih harus menunggu Kyu-Hyun dengan segala urusannya di ruang guru.

“Kau bisa lihat sendiri,” kataku. Aku mengalihkan pandangan dan menatap langit sore itu di sekolah. Di sekolah ini, aku menghabiskan masa remajaku di sini. Meja dan kursi batu di sana, di dekat lapangan basket adalah tempatku biasanya duduk diam menikmati angin siang yang membuatku mengantuk. Atau menemani Delfelia makan siang sambil melirik Dong-Hae yang duduk-duduk di depanku bersama teman-temannya, lalu Kyu-Hyun akan datang merecokiku. Ah, sekolah ini pasti akan sepi tanpa Kyu-Hyun dan Dong-Hae. Kyu-Hyun ingin melanjutkan sekolahnya di Inggris. Menyebalkan, aku jadi tidak punya teman bertengkar. “Kenapa belum pulang?”

“Oh, itu, aku menunggu Haerin.”

Aku mengangguk dan menelan ludah kasar. Harusnya aku tidak boleh berharap lebih dengan pria ini. Harusnya aku tidak berharap dia bisa menatapku.

“Kau akan diam di sini sampai kapan?” tanyanya lagi karena aku hanya diam.

“Aku menunggu Kyu-Hyun,” kataku datar. Aku tidak tahu akan sesakit ini bicara pada orang yang kusukai, orang yang kusukai telah menyukai orang lain. Bukan aku. “Kau—“

“Aku akan pindah ke New York.”

Aku menoleh cepat saat mendengar suara Dong-Hae. Apa katanya?

“Aku akan berangkat besok, Sun-Ae-ya.” katanya lagi dan aku mengejap bingung. Berangkat besok? Besok? Meninggalkanku? Jangan… “Jaga dirimu baik-baik.”

Menit-menit berikutnya terasa sangat lambat. Aku membiarkan suara angin mengisi kesunyian di antara aku dan Dong-Hae. Pria ini akan pergi. Dia pergi… kenapa aku sedih? Untuk apa aku sedih? Dia mungkin tidak pernah tahu kalau aku menyayanginya. Kalau aku menyukainya. Jadi untuk apa aku menangis?

“Jangan menangis,” katanya. Aku baru tersadar ternyata air mataku turun. “Tahun depan kau akan mengikuti ujian bukan? Mulai sekarang jangan duduk di kursi batu di depan itu, di sana panas… kau bisa mimisan. Duduklah di tempat yang dingin. Jangan terlalu sering belajar di perpustakaan. Kau bisa botak. Pulanglah ke rumah sebelum jam delapan kalau kau tidak ingin Kyu-Hyun mengamuk. Jangan makan es krim banyak-banyak kalau kau sedang demam.” Dong-Hae berhenti sejenak lalu memandangiku. Ia menyentuh jidatku dan tersenyum. “Menurutku lebih baik kau memakai poni, kasihan jidatmu, Kyu-Hyun selalu menepuknya dengan keras, seperti ini,”

Plak!

“Hei, sakit!” aku mengusap jidatku yang baru saja ditepuk Dong-Hae dengan amat, sangat keras, sementara pria itu tertawa. Tawanya menggelegar di area sekolah yang sepi sore itu, sinar matahari yang mulai terbenam membentur wajah Dong-Hae hingga pria itu terlihat berjuta-juta lebih memesona. “Kau akan pergi?” tanyaku pelan, lalu kekosongan yang aneh mulai mengusikku. Kalau Dong-Hae pergi dari negara ini, bagaimana nanti aku bia menemukannya?

“Hmm,” gumamnya singkat. “Di sini tidak banyak gadis-gadis cantik,” lanjutnya sambil terkekeh. Aku melihatnya yang seperti itu… aku jadi tidak ingin dia pergi. Haruskah kukatakan padanya jangan pergi? Haruskah kukatakan perasaanku padanya? Sekarang?

“Aku—“

“Dong-Hae-ya!”

Aku dan Dong-Hae menoleh ke asal suara. Di sana, Han Haerin berdiri dan melambaikan tangan. Aku memberengut, ada apa dengan wajahnya itu? Kenapa ia sumringah sekali melihat Dong-Hae? Dan kenapa Dong-Hae terlihat bahagia sekali? Dong-Hae bahkan langsung melompat dan berlari menuju gadis itu, meninggalkanku…

“Oh, ya,” aku mengangkat wajah saat melihat Dong-Hae menghentikan langkah dan menoleh padaku. “Sampai jumpa lagi, Han Sun-Ae!” dengan ragu, aku tersenyum padanya. Aneh, dulu aku tidak pernah ragu saat aku tersenyum padanya. mungkin karena sekarang Dong-Hae telah menjadi milik orang lain, makanya senyumku tidak selebar dulu saat melihatnya.

Aku melihat Dong-Hae merangkul Haerin, mereka tertawa bersama hingga menghilang di belokan. Aku melihat matahari terbenam sore itu seorang diri. Sekolah ini pasti akan terasa berbeda sekali tanpa pria itu. Tidak akan ada lagi seorang pria yang diam-diam kupandangi dari jauh, tidak ada lagi petikan gitar di bawah pohon rindang itu, tidak ada lagi tawanya yang membuat pipiku hangat… aku tidak akan melihat wajahnya lagi. Pasti aku akan merindukannya. Lee Dong-Hae, cinta pertamaku. Dia pergi. Selamat tinggal…

“Hey, ayo pulang!”

Untuk pertama kalinya aku bahagia dengan kedatangan Kyu-Hyun, setidaknya aku tidak perlu berlama-lama duduk diam sendiri dan bersedih karena Dong-Hae.

“Kyu, tunggu sebentar, aku akan mengambil pakaian olah ragaku di loker. Tunggu ya, aku tidak akan lama.”

Kyu-Hyun tersenyum lemah dan mengusap kepalaku. Tumben dia tidak menepuk keras jidatku. Syukurlah. Ah, tepukan sayang dari kakakku ini juga pasti akan kurindukan.

“Apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?” Kyu-Hyun bingung mengapa aku tidak juga pergi dari hadapannya menuju kelas untuk mengambil pakaian olahragaku. “Hey, kau baru sadar kalau kakakmu ini tampan, ya? eh, jangan gila, Sun-Ae-ya… kau tidak boleh menyukaiku, astaga, tidak boleh!”

Aku mendesah muram dan menggeleng. Kakakku yang sakit jiwanya sudah kembali. “Tampan jidatmu!” Dia tertawa, ah aku juga akan rindu tawa itu. Aku melangkah satu, dua langkah meninggalkan Kyu-Hyun, lalu aku berhenti, membalik tubuh dan menatapnya. “Apa kau juga harus pergi sejauh itu, Kyu? Kau juga akan meninggalkanku?”

Kyu-Hyun terlihat bingung. Keningnya berkerut samar dan aku meninggalkannya. Aku menangis saat benar-benar melangkah meninggalkan Kyu-Hyun menuju kelas.

***

“Hai, ini agak aneh memang. Maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu, jadi aku menulis ini. Bertahanlah satu tahun lagi dan kau akan bebas!

“Han Sun-Ae. Semangatlah!

“Mari bertemu tujuh tahun dari sekarang. Saat bertemu nanti kupastikan aku sudah memiliki apa yang tidak kumiliki saat ini. Kupastikan aku akan memberikan apa yang tidak bisa kuberikan padamu saat ini. Sampai saat itu tiba, berjuanglah! Buat aku dan kakakmu yang cerewet itu bangga. Kau harus menjadi perempuan hebat, yang bisa selalu kubanggakan. Kurasa aku tidak bisa menunggu tujuh tahun lagi untuk mengatakan ini—aku mencintaimu—itu saja. Aku ingin mengakui hal itu padamu. Juga… aku suka matamu. Matamu indah.”

Tanganku gemetar saat membaca sebuah pesan yang ditulis di kartu berwarna kuning yang kutemukan di dalam loker. Di sana juga ada setangkai bunga matahari besar yang dicabut bersama akarnya dan masih ada sisa-sisa tanahnya. Lalu ada sebuah pick gitar. Pick gitar yang biasanya pria itu gunakan… tanpa sadar air mataku meleleh. Apa artinya semua ini? perasaanku bukanlah perasaan yang kurasakan secara sepihak. Pria itu juga merasakan hal yang sama, entah bagaimana. Aku kembali menangis. Harusnya aku tidak perlu menangis. Harusnya akujangan sedih, apa yang harus kutangiskan? Bukankah dia juga mencintaiku? Dia bilang kami akan bertemu lagi, maka kami akan bertemu lagi. Nanti… Tujuh tahun lagi…

“Han Sun-Ae! Mari bertemu lagi di masa depan dan menikahlah denganku! Aku sungguh tidak ingin mendengar penolakan, ketika saat itu tiba kau sudah harus siap dan menikah denganku, mengerti? Sekarang hapus air matamu. Hapus… dan jangan menangis lagi. Calon istriku tidak boleh menangis. Atau kau tidak akan terlihat cantik lagi, haha~

“Kita akan bertemu, percayalah. Aku akan menjemputmu, jadi bersiaplah dan lakukan yang terbaik saat kau menungguku, oke?”

Salam sayang,

Aku, satu-satunya calon suamimu,

-Lee Dong-Hae-

***

My miserable self, this heart
Can no longer take it anymore
I want to watch over the courage and honesty that you can’t show

 

Wait until I find my way to you
Our stars will not
Miss each other again
Wait a little while, until I reach your star

 

5 Comments (+add yours?)

  1. dedestiyana
    Jun 23, 2015 @ 14:24:28

    Bagusss banget ff nya feel nya dapet!! Butuh sequel nyaa😭😭

    Reply

  2. Monika sbr
    Jun 24, 2015 @ 18:55:34

    Semoga aja mereka nikah beneran deh dimasa depan

    Reply

  3. teukieduck
    Jun 24, 2015 @ 22:00:52

    astaga sweet banget… donghaenya juga… wah daebak deh pokonya thor, sequel ya thor sequel harus pokonya #maksa

    Reply

  4. evi
    Jun 25, 2015 @ 12:18:06

    daebakkk

    Reply

  5. fairyuspark
    Jun 27, 2015 @ 11:29:03

    ada salah satu alur nya mirip kisah saya aduhhhh… menganggumi pria perfect dikelas, yang banyak dinaungi oleh wanita2 lain itu menyakitkan sekali.
    ceritanya bagus… semakin penasaran dg lelanjutannya!! ❤❤❤❤

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: