Comeback Home, Dong-Hae-ya

Author : Aryn
Judul : Comeback Home, Dong-Hae-ya
Tag (tokoh/cast) : Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae

Genre : Sad, Romance
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

Comebak Home, Dong-Hae-ya…

***

The light that is fading in the clouds

Falling at the window is too noisy

The cooling memory is just like the sound of the rainwater

Capture my heart, refuse to leave

***

Awal bulan Mei, april terlah berlalu namun bunga-bunga masih sibuk bermekaran. Aku selalu suka musim semi, juga musim gugur. Tidak ada yang aneh dengan jalanan ini, pun begitu dengan udaranya yang masih sama segar seperti biasanya. Matahari bersinar hangat dan harum daun muda di udara, jalanan aspal hitam agak basah karena hujan semalam. Semuanya masih sama, sama seperti bertahun-tahun selama aku melewati jalan ini.

Hanya mungkin bedanya kini aku berjalan sendiri. Atau mungkin dia ada tapi aku tidak tahu.

Aku melewati sebuah toko bunga dipinggir jalan yang dulu selalu aku jelajahi sepulang sekolah. Aku tidak membelinya karena uangku habis, hanya melihat-lihat. Lalu bunga itu akan datang dengan sendirinya ketika sore hari ke rumah.

Aku tidak tahu mengapa aku begitu cepat menyusuri jalanan siang yang hangat itu, aku sampai di rumah dan duduk di ruang tengah. Aku menatap vas bunga kaca yang kosong. Biasanya di sana selalu ada bunga segar, sungguh.

Sekarang, Daisy atau Baby’s breath yang tadi sempat kulihat di toko bunga tidak akan datang ke rumah dengan sendirinya. Bodoh, sekarang aku menyesal karena tidak membelinya.

“Sun-Ae-ya, aku mau dagingnya digoreng kering!”

Aku tersenyum kecil, di luar mulai hujan. Aneh, padahal tadi matahari bersinar terik. Aku berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan melongokkan kepala ke arah kamar mandi.

“Tidak ada daging, ikan saja, ya?”

Tidak ada jawaban.

Aku tahu dia pasti setuju.

Dong-Hae tidak boleh terlalu banyak makan daging.

Dia harus makan ikan juga, dan sayur.

“Handukmu sudah ada di depan pintu,” kataku lagi sambil meremas plastic putih berisi dua potong salmon segar. Dadaku bergetar sakit, si Lee Dong-Hae itu memang aneh, sudah berapa kali kuingatkan membawa handuk. Dia bilang malas, ah, itu hanya alasan. Dia suka aku menjadi pesuruhnya. “Kalau sudah selesai mandi makan dulu, jangan langsung main gitar.” Dia suka lupa makan kalau sudah berkencan dengan gitarnya. Aku tahu semua kebiasaan buruknya itu.

Atau tidak juga, Dong-Hae yang seperti itu… dia dengan segala kepolosan dan ketulusan hatinya itu bagiku sangatlah manis. Dia yang penyayang, Dong-Hae, seorang sahabat yang kini telah menjadi tunanganku, kami akan menikah minggu depan, seharusnya minggu depan.

Tapi aku mungkin tidak akan pernah memiliki Lee Dong-Hae.

Aku sungguh sangat mencintainya, dia juga begitu.

Walaupun kami sering bertengkar, walau aku sering mengomel padanya tentang kebiasaannya yang suka memelukku ketika tidur, dia tidak pernah mengeluh. Tidak tidak pernah lelah denganku, padahal aku sendiri kadang merasa lelah dengan sikapku yang begitu buruk, yang terkadang terlalu manja dan tidak pengertian. Tapi Lee Dong-Hae itu… dia benar-benar memahamiku. Katanya aku adalah manusia, jadi aku pasti pusnya sifat buruk, kalau tidak punya, ya jadi malaikat saja. Dia berkata begitu dan aku mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih karena telah mengerti aku. Karena telah bersamaku selama belasan tahun ini.

Harusnya bisa menjadi puluhan, atau ratusan tahun jika dia masih di sini.

Malam itu Dong-Hae bilang dia akan lembur kerja, padahal itu adalah hari jadi kami yang ke tujuh, aku menunggunya begitu lama di rumah makan langganan kami, dia tidak datang. Aku marah padanya dan tidak mengangkat telepon darinya semalaman. Tepat keesokan harinya ada seikat besar mawar merah muda yang datang padaku, persis seperti yang ia lakukan dulu di tahun-tahun awal kami menjadi sepasang kekasih, dia menyiapkan cincin dan mengirimiku sebuah pesan suara ketika aku membuka ponselku. Dengan suaranya yang rendah namun manis, dia melamarku. Aku pikir dia lupa, tapi dia menyiapkan segalanya.

Aku baru saja meletakkan bunga itu di vas kaca setelah menyiapkan makan siang, Dong-Hae akan pulang dan aku akan memeluknya erat-erat.

Tapi Dong-Hae tidak pulang.

Dia tidak pernah pulang.

Sampai hari ini,

Dong-Haeku tidak pulang.

Dia tidak pulang ke rumah kami.

That increasingly strong

Lock in the nostalgia

Couldn’t I step back in time

Back to the time when you give me a hug

Everything now doesn’t matter

 

I follow the tortuous path that is wet

Look back at our memories together

In the rain that obscures the vision, I think of you

In my tears , you emerge in my mind

Aku tidak pernah tahu bahwa itu adalah bunga terakhir yang kuterima dari Dong-Hae.

Terakhir kali aku mendengar suara manisnya di ponsel, pesan yang manis, dia memintaku menjadi pengantinnya dengan cara sederhana, namun mendamaikanku.

Aku kadang sebal karena dia terus sibuk dengan gitarnya, tapi biar kuberitahu satu hal, Dong-Hae itu mempunyai suara yang indah. Tawanya juga indah. Rambutnya biasanya dibiarkan berantakan dan dia suka mengenakan kaos putih di rumah. Dia suka duduk di sofa dan bermain gitar. Walaupun dia suka usil, tapi dia adalah orang yang baik. Oleh karena itu Tuhan memanggilnya begitu cepat. Tuhan ingin pulang, ke rumah asalnya. Bukan ke rumah kami.

Itu bukan lagi rumah kami karena tidak ada Dong-Hae di sana, tidak ada suara sengau manis miliknya ketika aku memasuki rumah. Hanya Dong-Hae yang bisa membuat tulisan-tulisan dan kata-kata biasa menjadi lirik luar biasa indah, tapi hanya Dong-Hae pula yang dapat membuat lagu musisi terkenal jadi begitu mengerikan ketika ia berteriak-teriak di kamar mandi.

Dong-Hae membuat balkon apartemen itu menjadi tempat kesukaanku, biasanya kami melihat bintang bersama di sana, berdua. Balkon itu… Dong-Hae menciumku di sana. Dia menyentuhkan bibirnya ke bibirku saat itu.

Hanya Dong-Hae yang bisa menjagaku dengan baik, hanya dia satu-satunya. Dong-Hae itu adalah sosok ayah yang mengayomi, seorang kakak yang melindungi, seorang adik yang harus disayangi, seorang kekasih yang manis, teman yang menyebalkan namun begitu mudah dirindukan tawanya. Dia adalah manusia aneh yang begitu aku cintai.

Setelah kehilangan seseorang seperti Dong-Hae, aku sungguh tidak bisa memercayai orang lain lagi.

Sunk in the longing that gets heavier as time passes

Can I travel back time?

If you hug me just like you did before

Then I will be better

Aku tahu cintaku pada Dong-Hae mungkin tidak lebih besar dari kasih Tuhan padanya, oleh karena itu Tuhan membawanya pulang. Dunia ini terlalu kejam untuk Dong-Hae yang begitu putih. Dia harus segera pulang setelah menyelesaikan tugasnya, yaitu mencintaiku.

Dong-Hae-ya, bagaimana di sana? apa kau bahagia?

Kenapa tidak pernah mengunjungiku di rumah?

Kau benar-benar tidak ingin pulang lagi?

Aku merindukanmu.

Pulanglah sesekali,

Nyanyikan aku beberapa lagu pengantar tidur seperti dulu lagi,

Kalau kau menjahiliku, aku tidak akan marah, Sungguh.

Kau tidak sedih meninggalkanku sendiri?

Aku sedih. Di rumah sepi.

Kalau kau bisa mendengarku, tolong beritahu pada Tuhan bahwa aku punya permintaan. Jangan sampai lupa, kau harus menyampaikannya, ya? Lee Dong-Hae?

Tolong jaga Dong-Hae-ku baik-baik, Tuhan. Dia kadang cengeng, tapi aku mencintainya. Bahagiakan dia Tuhan, jangan sampai dia menangis, dan ya, tolong beri ijin Dong-Haeku untuk datang padaku walau hanya sesekali, walau hanya dalam mimpi, tidak apa-apa, aku sungguh ingin mendengar tawa Dong-Haeku lagi. Yang terakhir, kalau aku terlahir di kehidupan berikutnya, tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengan seseorang seperti Dong-Hae lagi, beri kami kesempatan untuk saling mencintai sekali lagi dan biarkan kami bersatu, bersama selamanya. Tuhan, ketika saat itu tiba, berilah kami kesempatan untuk mulai lagi.

***

It scatters – the times you were with me, the memories you were with me

 

Can I travel back time and hug you just like before?

 

Just for once, even if it’s last

 

I’ll be better

 

9 Comments (+add yours?)

  1. QB
    Jun 23, 2015 @ 20:06:17

    asli sedih! feelnya dapet bangettt T___T

    Reply

  2. ongewife
    Jun 23, 2015 @ 20:22:49

    Kirain donghae nya kemana gitu, yahh ternyata donghae ceritanya udah berpulang ke rumah tuhan, sedih 😥 nyesek juga pasti itu rasanya 😥

    Reply

  3. esakodok
    Jun 24, 2015 @ 14:22:41

    hya…sedih banget…feelnya q suka….trs maknanya juga dalem..kata katanya juga…

    Reply

  4. teukieduck
    Jun 24, 2015 @ 22:33:04

    ini sequelnya haesun’s flower bukan? sequelnya ya thor??
    astaga thor feel ya dapet banget thor nysek nyeseknya dapet thor 😥
    bagus banget thor serius daebak!!!

    Reply

  5. DewiLestari
    Jun 26, 2015 @ 10:19:23

    Hari ini baca 2ff yang bnr” mnguras air mata,,, feelnya dpt bngt… keren bngt

    Reply

  6. fairyuspark
    Jun 27, 2015 @ 11:39:44

    feelnya dapat. aku terbawa suasana.. untung gak sampe nangis hahah.uh ff mu keren!!

    Reply

  7. wafa
    Jul 04, 2015 @ 11:39:29

    kereeen.. Feel nya dapet banget.

    Reply

  8. fatimatus19
    Jul 23, 2015 @ 22:00:26

    Ceritnya sedih banget 😥 😥

    Reply

  9. sweet Dandelion
    Aug 13, 2015 @ 20:24:54

    jadi donghae.nya meninggal.,.,hhuuee

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: