Marry Sun [Sequel from Haesun’s Flower]

Author : Aryn
Judul : Marry Sun (sequel from )
Tag (tokoh/cast) : Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae, Cho KyuHyun
Genre : Romance, Family
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

Marry Sun

***

Being someone’s first love may be great,

but to be their last is beyond perfect.

***

A sequel from

***

Orang bilang, kalau seseorang sampai datang ke dalam mimpimu tanpa disangka, mungkin dia sedang mengingatmu, mungkin dia rindu. Mungkin dia ingin kau, mungkin dia memikirkanmu seharian ini.

Mungkinkah dia rindu? Mungkinkah dia masih ingat?

Pria pemilik sinar mata terlembut itu berderap dan menyibak tirai, mempersilahkan sinar matahari membanjiri seluruh ruangan apartemennya yang didominasi warna putih dan biru pupus. Ia tersenyum kecil saat matahari April bersinar-sinar. Baginya matahari dibulan April adalah matahari terhangat sepanjang tahun. Matahari yang ditunggu-tunggunya.

Jam sembilan pagi saat ia melirik beker. Dan ia kembali menatap langit New York, ini adalah tahun ke tujuh. Bukan, dua bulan lagi baru menjadi tahun ketujuh. Dua bulan lagi. Dulu dia berjanji, dua bulan lagi akan kembali. Tapi setelah gadis itu datang padanya semalam rasanya ia tidak bisa menunggu lagi. Tidak, dadanya sudah berdebar-debar tidak karuan terlebih seonggok iblis jahat meneleponnya merecokinya dan berkata omong kosong. Setidaknya itu adalah omong kosong yang mampu membuatnya uring-uringan.

Kau harus cepat, siapa tahu dia berubah? Dia itu keras kepala, tapi dia menurut saja saat Si Jong-Hyun Jong-Hyun itu menyuruhnya makan. Wah, bagaimana ini? kau akan diam saja? Haha!

Diam saja? Bodoh namanya kalau ia benar-benar akan diam saja.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan hatinya. Ah, bukan tujuh tahun, ini berarti tahun ke sepuluh ia mencintai gadis itu. setidaknya sepuluh tahun ia menyimpan hatinya baik-baik untuk gadis batu itu.

“Adikmu perempuan?”

Tahun pertama mereka di sekolah menengah atas, Dong-Hae masih ingat betul saat pertama kali ia berkunjung ke kediaman Kyu-Hyun dan keluarganya di Seoul dulu. Saat itu kedua orang tua mereka berada di Nowon dan ia belajar bersama Kyu-Hyun ketika Sun-Ae pulang dan mengomel karena Kyu-Hyun tidak menjemputnya di toko kue.

“Ya, bentuknya memang perempuan. Tapi dia bukan perempuan.”

Dong-Hae menggeleng-geleng dan ikut tertawa saat tawa Kyu-Hyun menggelegar. Di tangga paling bawah, gadis mungil yang masih terlalu kecil itu memberengut dan menatap Kyu-Hyun dengan tatapan mengerikan, sedetik kemudian Dong-Hae sadar tawa Kyu-Hyun berubah menjadi teriakan-teriakan memohon ampun yang memilukan, tidak sampai empat detik setelahnya, keping-keping kaset game milik Kyu-Hyun tidak berbentuk lagi dan berceceran di lantai. Lalu tawa Sun-Ae menggantikan tawa Kyu-Hyun, gadis itu berderap tanpa dosa naik ke lantai dua di susul Kyu-Hyun yang seperti ingin menangis, meratapi kaset-kaset game terbarunya, meratapi kenyataan, meratapi adik kecilnya.

Dong-Hae selalu mendengar dari Kyu-Hyun bahwa dia punya seorang adik yang menyebalkan. Adiknya selalu bertengkar dengannya dan mereka jarang akur, hampir tidak pernah mengungkapkan kasih sayang, dari segala cerita Kyu-Hyun Dong-Hae beranggapan bahwa adik Kyu-Hyun adalah laki-laki tangguh yang mampu menghadapi makhluk sejenis Kyu-Hyun, tapi ternyata dia salah, adik Kyu-Hyun itu adalah peri manis yang usil. Ah, tawanya indah sekali. Jahil, tapi menyenangkan. Dan tanpa sadar sejak saat itu Dong-Hae menyisihkan perhatiannya untuk gadis bermata bulat besar itu.

“Kau menyukainya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau menyukainya. Kau menyukai adikku, Lee Dong-Hae.”

“Jangan bercanda.”

“Jangan ganggu dia.”

“Aku tidak mengganggunya.”

“Dia memang menyebalkan, tapi aku sayang padanya. Kalau dia sampai menangis gara-gara kau—walau kau sahabatku—maafkan aku kalau aku sampai membuatmu babak belur.”

“Baiklah, aku menyukainya.”

“Aku sudah tahu, karena itu aku menemuimu. Untuk memberi peringatan.”

“Kau tidak suka aku menyukainya?”

“Tidak.”

“Kau ingin aku berhenti menyukainya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Jangan ganggu dia.”

“Kau ingin aku membenturkan kepalamu ke tembok? Sudah kubilang aku tidak mengganggunya.”

“Dia bilang dia tidak mau menjalin hubungan khusus dalam waktu dekat ini, dia bilang dia ingin sekolah dan membahagiakan ibu. Kau mengerti maksudku, bukan?”

“Tentu.”

“Aku tahu bagaimana kau, Lee Dong-Hae. Dan aku berharap banyak padamu.”

“Kau bicara apa, eh? Aku tidak akan langsung menikahinya setelah aku bilang aku suka padanya. kau sedang berperan sebagai kakak yang protektif atau apa?”

“Walau terlihat tidak demikian, kenyataannya begitu. Aku belum siap gadis bontot itu tiba-tiba kauambil.”

“Aku tidak akan mengambilnya, tenang saja.”

“Baiklah, aku percaya padamu.”

“Oke,”

“Aku bilang aku percaya, bukan menyerahkannya padamu. dengar?”

“Iya, aduh kau cerewet sekali! Aku juga tidak berniat memberitahunya sekarang. Aku masih punya Hyora, masih punya Seunil, masih punya…”

“Aku jadi ragu memercayakan Sun-Ae padamu…”

“Hey, tidak begitu. Aku hanya memberi waktu. Untuk diriku dan untuknya. Kami butuh waktu, Kyu. Dan ketika pada akhirnya saat itu tiba, aku berjanji akan menjadikannya yang terakhir. Dan satu-satunya.”

***

“Kenapa cemberut?”

Hyun-Hae meletakkan donat tabur gula halus yang masih panas dan susu strawberry dingin di atas meja, lalu melirik Sun-Ae yang duduk termangu.

“Tempat kerja tidak sesuai? Bosmu galak? Jong-Hyun tidak bersamamu?”

“Tidak,” jawab Sun-Ae dengan suara kecil. “Bukan begitu.”

Baru dua minggu ini Sun-Ae diterima bekerja di salah satu Badan Hukum di seoul, Hyun-Hae, teman sekolahnya memilih untuk membuka toko roti yang tersebar hampir diseluruh kota, dan Jong-Hyun, dia adalah pria yang ia temui di Universitas saat sama-sama menempuh ilmu hukum, dia pria baik, dan mereka berteman.

“Lalu kenapa wajahmu muram begitu?”

“Wajahku tidak muram,” Sun-Ae menatap keluar jendela dan memerhatikan pejalan kaki. “Semalam aku bermimpi tentangnya.”

“Eh? Siapa? Dia lagi?”

Harusnya Hyun-Hae tidak perlu bertanya, Harusnya Hyun-Hae sudah tahu, tapi… mungkin saja gadis di hadapannya ini berubah haluan? Walau mungkin mustahil mengingat sudah beberapa tahun lamanya, tapi yah, bisa saja.

“Iya, dia, lagi.”

Ternyata tidak.

Gadis itu masih berharap.

“Hmm, baiklah.”

Hyun-Hae bergumam dan Sun-Ae menoleh, “Menurutmu apakah aku harus tetap menunggu? Maksudku… haruskah aku tetap bertahan?”

Hyun-Hae mengerutkan kening tak percaya, “Wah, tunggu dulu,” katanya sambil melipat tangan. “Kau menyerah? Setelah sejauh ini, kau… benar-benar menyerah?”

“Aku rasa aku tidak menyebut kata ‘menyerah’ barusan.”

“Sepertinya kau ingin menyampaikannya.”

“Hmm,”

“Apa maksudmu dengan ‘Hmm’?” Hyun-Hae melebarkan mata, sama sekali tidak percaya teman batunya ini akan melepas cinta pertamanya yang membuatnya menolak ajakan kencan para pria-pria tampan selama ini. “Kau sudah tidak mencintainya?”

“Bagaimana kalau dia lupa padaku?”

“Melupakanmu?”

“Kalau dia lupa janjinya, bagaimana?”

“Dia tidak akan lupa.”

“Ini sudah enam tahun.”

“Lalu kenapa kalau ini sudah enam tahun?”

Sun-Ae menghela napas berat. “Aku takut dia lupa. Aku takut dia tidak ingat padaku, tidak ingat janjinya.” Detik-detik berikut diisi kekosongan, lalu Sun-Ae bergumam. “Aku bodoh, ya? Itu kan hanya janji konyol lewat selembar kertas, bisa saja bukan dia yang menulisnya.”

“Lalu kenapa kau percaya?”

Sun-Ae mengangkat wajah dan menatap Hyun-Hae yang tersenyum sinis padanya. Kenapa ia percaya?

“Karena dulu aku mencintainya.”

“Sekarang tidak lagi?”

“Masih,”

“Lalu?”

“Hanya… sedikit ragu.”

“Kenapa ragu di tahun-tahun terakhir? Katanya dia akan kembali setelah tujuh tahun, ini tahun ke enam dan kenapa kau goyah begini?”

Sun-Ae menelan ludahnya lalu memalingkan wajah, tidak berani menatap Hyun-Hae. “Enam tahun, Hyun-Hae-ya,” gumamnya singkat dengan nada sedih. “Enam tahun aku menunggu, enam tahun aku tidak tahu bagaimana kabarnya, enam tahun… aku percaya padanya walau kami tidak pernah saling bicara, tidak mengirim pesan atau surat, benar-benar tidak ada komunikasi nyata di antara kami, apakah itu wajar? Maksudku, apakah itu masuk akal untuk dijadikan alasan agar tetap bisa bertahan?” Sun-Ae mengambil jeda, lalu tersenyum kecut. “Itu hanya janji remaja ingusan yang sedang kasmaran, dan aku? Aku adalah gadis bodoh yang percaya dengan janji bocah playboy yang sedang kasmaran itu. Sebenarnya siapa yang tidak waras?”

Hyun-Hae, hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan prihatin, tapi matanya menyala-nyala saat ia berkata, “Kalau kau lelah, lepaskan saja. Kenapa menyiksa diri?”

Sun-Ae menoleh dan menggeleng, “Tidak semudah itu.”

“Apanya yang sulit?”

“Kau pernah jatuh cinta, bukan?”

“Tentu!”

“Kalau begitu kau pasti tahu apa itu cinta pertama.”

“Cinta pertama hanya omong kosong.”

“Omong kosong kalau kau tidak memercayainya.”

Hyun-Hae mendengus, “Jadi kau percaya?”

“Kalau aku tidak percaya aku tidak akan menunggu selama enam tahun.”

“Kalau begitu hubungi dia, kenapa kau buat hidupmu sendiri jadi rumit?” Hyun-Hae tersenyum saat Sun-Ae serius mendengarkan. “Kakakmu yang brengsek itu, kenapa kau tidak memintanya membantumu? Aku yakin tiga ratus persen dia tahu dimana dan bagaimana kabar pangeranmu itu, kenapa tidak tanya saja?”

“Kyu-Hyun? Oh bunuh saja aku kalau aku sampai bertanya padanya.”

“Gengsi?”

“Dia akan mengejekku dari matahari terbit hingga tenggelam.”

“Kalau begitu usaha sendiri.”

Sun-Ae memberengut sejenak, meneguk susu strawberry miliknya lalu teringat sesuatu. “Tiga hari yang lalu aku bertemu dengan ibunya di toko bunga.”

“Ibu Dong-Hae? Lalu?”

“Ya, lalu kami berbincang-bincang singkat.” Sun-Ae menopang dagu. “Aku diajak ke rumah keluarga Dong-Hae, dan memasak, dan aku mempermalukan diriku sendiri.”

“Harusnya kau menolak.”

“Lututku lemas bahkan hanya sekedar untuk bicara, bagaimana aku menolak?”

“Katamu keluarga kalian berhubungan baik?”

“Ya, tapi mana aku tahu? Aku hanya menguping sesekali, selebihnya aku benar-benar tidak mengerti. Ayahku dan ayahnya membahas hal-hal yang tidak masuk dalam kepalaku.” Sun-Ae memiringkan kepala bingung. “Kalau ternyata surat itu bukan darinya, bagaimana ya? Wah, aku dibodohi habis-habisan! Bagaimana kalau surat itu Kyu-Hyun yang buat? Atau bagaimana kalau kau yang membuatnya?”

“A-apa? Aku? Yang benar saja! Aku masih punya banyak kerjaan lain!”

“Kim Hyun-Hae-ssi, aku sungguh tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai melakukan hal-hal konyol, ya? Aku bersumpah akan menutup pintu surga dan neraka untukmu kalau kau sampai membodohiku!”

“Aku tidak sejahat itu,” Hyun-Hae tertawa dan mengangkat bahu. “Satu-satunya orang yang patut kau curigai adalah orang itu, kakak kesayanganmu yang tidak sehat akal itu, mungkin dia iseng dan lupa memberitahumu kalau dia sedang mengerjaimu, yah, mungkin saja, apa yang tidak bisa dilakukan iblis kelas kakap sepertinya?”

Sun-Ae menutup matanya dan mengatur napas. Tidak boleh. Semoga apa yang Hyun-Hae katakan tidak benar. Kalau sampai benar… Cho Kyu-Hyun! Kaset game limit miliknya akan Sun-Ae bakar, kamarnya akan Sun-Ae hancurkan, Sun-Ae akan mengganggu hubungan kakaknya itu dengan siapapun, dia akan mencekik Kyu-Hyun hidup-hidup!

“Aku pulang dulu.”

Sun-Ae beranjak dari kursinya dan meraih tas dengan sebelah tangan memijit kening.

“Kenapa pulang?”

“Kepalaku sakit. Aku butuh tidur. Nanti kuhubungi lagi.”

Hyun-Hae terkekeh, “Ya, hubungi aku kalau kau sudah tahu kebenarannya. Dan eh, iya, jangan gila, Han Sun-Ae. Ingat kau harus tetap waras kalau ternyata semua ini bohong dan kau ditipu! Hahaaa, relakan saja waktumu enam tahun kalau benar kakakmu yang tampan itu mengerjaimu.”

“Diam kau atau kubakar toko ini!”

“Baik, aku diam.”

“Bagus.”

“Oh, Ya, Han Sun-Ae!”

“Apalagi?!”

“Tidak usah emosi begitu, aku hanya ingin bilang, kalau kau tidak tertarik pada Jong-Hyun, boleh kau lempar dia padaku, aku siap sedia.”

Sun-Ae tersenyum miring khas Kyu-Hyun. “Bermimpi saja, kalau ini semua bohong, aku akan menikahi Jong-Hyun besok.” Lalu ia berlalu keluar dari toko roti itu dengan perasaan tidak tentu, meninggalkan Hyun-Hae yang menggeleng, tersenyum kecil lalu menggerutu tentang kebodohan sahabatnya itu. Menikahi Jong-Hyun? Besok? Coba saja kalau bisa.

***

“Hoi, bangun! Bangun! Kubilang bangun!”

Sun-Ae merasakan gerakan tidak karuan di tempat tidurnya. Kamarnya gelap gulita dan ia yakin ini belum menyentuh pagi. Lalu kegaduhan apa itu?

“Kau tidak berubah, masih saja tidur seperti babi. Ayo bangun!”

Sun-Ae murka ketika bokongnya di tendang, sialan, tidak ada yang membangunkannya seperti itu. Tidak ada yang berani mengusik tidurnya. Tidak ada, kecuali…

“Jangan menendang adikmu seperti itu, Kyu.”

“Dia tidak akan bangun kalau dibangunkan baik-baik, harus seperti ini…”

Kedua mata Sun-Ae masih berat, tapi ia mendengar suara ibunya, kekehan ayahnya dan… oh astaga, kaki panjang sialan milik siapa yang mengusik tidurnya? Kyu-Hyun? Bukankah pria itu sedang di luar negeri? Tidak mungkin dia di sini.

“Astaga, kubilang bangun!”

Sun-Ae merasa tubuhnya di tarik paksa, ketika ia terduduk bersila di atas tempat tidur dan membuka matanya, semuanya kacau. Iblis dari dunia hitam itu ada di hadapannya dan menepuk jidatnya hingga terasa pusing.

“Selamat ulang tahun, Bontot!”

“Kenapa kau di sini?”

Sun-Ae mengusap matanya dan menguap, lalu memandang berkeliling, ada ayah dan ibunya juga, sedang berdiri dan tersenyum padanya. Sementara kakaknya, pria seratus delapan puluh senti meter itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi, malah seperti orang idiot di mata Sun-Ae.

“Hey, Cho Sun-Ae! Kau menunggu salju turun di bulan juli baru akan meniup lilinnya? Ayo tiup!”

Dasar pemaksa! Sun-Ae memberengut lalu tersenyum kecil, pria ini datang untuk merayakan ulang tahunnya. Manis? Ah, menjijikan.

“Apa permintaanmu?”

Kyu-Hyun mencomot kue dan krim mengotori tangannya, lalu ia meletakkan telapak tangannya yang lebar di wajah Sun-Ae.

“Ya ampun! Kau ini! aku tidak mau mandi jam dua belas malam, astaga, pergi sana!”

Kyu-Hyun tertawa, tapi tidak berhenti mengerjai adiknya.

“Kakakmu jauh-jauh pulang hanya untuk menemuimu, kau tidak rindu padanya?”

Sun-Ae mendengus. “Tentu,” katanya. “Tentu tidak.”

“Hey!”

Kyu-Hyun baru saja akan menepuk jidat Sun-Ae namun gadis itu dengan gesit melarikan diri kepelukan ayah dan ibunya.

“Selamat ulang tahun sayang, terima kasih telah menjadi putri kami yang manis.”

Sun-Ae memeluk kedua orang tuanya. Kebahagiaan sesungguhnya adalah karena Sun-Ae lahir di tengah-tengah keluarga ini, karena dia begitu banyak memperoleh cinta dari mereka.

“Mana hadiahku?”

Sun-Ae duduk di atas tempat tidurnya ketika ayah dan ibunya keluar dari kamar. Kyu-Hyun masih betah menghabiskan kue tart yang harusnya menjadi milik Sun-Ae.

“Kau mau apa dariku?” sahut Kyu-Hyun enteng dengan wajah menyebalkan, “Oui, aku tidak menerima permintaan boneka Kkuma lagi, kau sudah punya banyak.”

“Tahu saja kau aku ingin minta itu,”

Kyu-Hyun menjawil hidung Sun-Ae dengan tangannya yang penuh krim. “Yang lain. Akan kukabulkan.”

Sun-Ae menelan ludah, sejak kapan bicara dengan Kyu-Hyun membuatnya gugup?

“Itu… eum, kau masih ingat…”

“Ingat,”

“Apa? Aku bahkan belum selesai bicara, jangan sok tahu.”

“Lee Dong-Hae, bukan? Iya, aku ingat, lalu kenapa?”

“Kau… pernah…”

“Tentu, aku sering bicara padanya.”

Sun-Ae mengerutkan kening, kakaknya pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah bisnis atau peramal?

“Lalu?”

“Apa?” Kyu-Hyun menatap adiknya dengan tatapan datar. “Kau ingin aku meneleponnya?”

“Tidak.”

“Lalu? Kau ingin aku menyuruhnya datang sekarang?”

“Tidak.”

“Baiklah, sekarang aku yang bertanya.” Kyu-Hyun meletakkan kuenya, membersihkan tangan dan duduk bersila menghadap Sun-Ae. “Kau sudah dewasa sekarang, pertanyaanku sederhana, apa yang kau inginkan?”

Sun-Ae mendengus tiak percaya. Kenapa Kyu-Hyun jadi terlalu melow, benar-benar bukan dirinya. “Aku ingin menikah, haha!”

“Serius! Kenapa kau mendadak gila, eh? Kau lelah menunggunya atau apa?”

Sun-Ae berhenti tertawa dan menatap Kyu-Hyun. “Kau tahu?”

Giliran Kyu-Hyun yang tertawa, “Tentu bodoh, mana mungkin aku tidak tahu?”

“Kalau begitu kau pasti tahu dimana dia sekarang, ayo mengaku saja!”

“Tentu aku tahu.”

Sun-Ae ragu sejenak, dia tidak boleh mundur sekarang, “Dimana dia?”

“Akhirnya kau bertanya.”

Sun-Ae semakin tidak mengerti, apa yang Kyu-Hyun pikirkan sebenarnya? “T-tentu, aku ingin tahu. Cepat katakan dimana dia berada, ayolah, ini ulang tahunku.”

“Baiklah, ini ulang tahunmu, bontot.” Kyu-Hyun mencubit pipi Sun-Ae lalu mengangkat bahu. “Dong-Hae sedang berada di rumahnya, katanya sedang sibuk. Sudah kan?”

Sun-Ae melongo, Choco pun tahu kalau Dong-Hae sedang berada di rumahnya di New York, pria ini gila atau apa?

“Harusnya aku tahu bicara padamu tidak akan ada hasilnya,” Sun-Ae turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi, berusaha bersikap cuek padahal ia kesal setengah mati. “Pergi sana, aku mau lanjut tidur setelah ini.”

Kyu-Hyun, yang kembali mencomot kue hanya tersenyum simpul melihat wajah adiknya yang semerah apel. Gadis itu bukanlah gadis kecil Kyu-Hyun yang dulu berteriak ketakutan saat ia bonceng naik sepeda, bukan Sun-Ae kecil lagi yang sering Kyu-Hyun gendong dibahunya, dia bukan si kecil cengeng yang menangis saat Kyu-Hyun terlalu lama pergi membeli permen kapas untuknya. Dia, sekarang menjadi Sun-Ae manis yang tumbuh memesona.

“Sun-Ae-ya, kau… serius ingin menikah di usia muda?”

Kyu-Hyun mendengar kekehan Sun-Ae, lalu gadis itu berteriak dari dalam kamar mandi.

“Menikah muda tidak ada salahnya.”

Kyu-Hyun mengangkat bahu, “Memangnya siapa yang mau padamu? Si Dong-Hae yang kau banggakan itu bahkan tidak muncul hingga hari ini! cari pria lain saja, atau kau ingin aku mencarikan satu untukmu?”

“Ah, sialan. Aku ini banyak yang suka, tahu?” Sun-Ae pura-pura marah, tapi nada geli terdengar jelas dalam suaranya. “Kalau dia tidak kembali, aku akan menunggu lagi. Hanya menunggu apa susahnya?”

Senyum Kyu-Hyun melebar, ia melangkah menuju pintu kamar mandi yang tertutup, lalu berteriak. “Kau menikah dan akan meninggalkanku? Aku jadi tidak punya teman bertengkar, bagaimana ini?” Kyu-Hyun bersandar pada pintu, lalu memainkan saklar lampu. “Sun-Ae yang galak akan menikah dan aku akan kesepian.”

“Nyalakan lampunya! Ah, mataku perih, Cho Kyu-Hyun! Kubunuh kau!”

“Nah, nanti tidak akan ada yang berteriak seperti itu lagi padaku.”

Dari dalam kamar mandi, Sun-Ae tertawa walau ia kesal, Kyu-Hyun sedang kemasukan atau apa?

“Nyalakan lampunya! Astaga, aku tidak akan menikah besok! Jangan terlalu mendramatisir begitu. Itu hanya bertahan sebentar, besok pagi kau pasti akan merecokiku lagi. Tenang saja, aku masih jadi adikmu walau aku jungkir balik ingin mengingkarinya.”

“Heum, benar. Kau Sun-Ae si bontot yang menyebalkan.”

“Nyalakan lampunya!”

“Ah, aku kenyang, dan mengantuk.”

“Cho Kyu-Hyun nyalakan lampunya!”

“Aku tidur di sini, ya, jangan bangunkan aku sampai besok pagi.”

Sun-Ae membuka pintu kamar mandi dengan dongkol, wajah dan rambutnya penuh busa, ia menyalakan lampu dan samar-samar mendengar dengkuran Kyu-Hyun yang sedang tidur di atas kasurnya. Ia tersenyum kecil, walau Kyu-Hyun seperti itu, dia tetap menjadi kakak terbaik yang pernah Sun-Ae punya. Dia yang sering merecokinya itu adalah kakak dan tumpuan Sun-Ae yang paling sempurna, yang paling mengerti dirinya juga yang paling ia sayangi dalam hidupnya. Cho Kyu-Hyun adalah pelindung Sun-Ae, walau Sun-Ae tidak pernah mengakui hal itu dihadapannya.

***

“Siapa yang tidur seperti Babi?”

Sun-Ae menatap nanar tempat tidurnya yang kacau akibat ulah Kyu-Hyun. Dan semalam ia harus rela tidur di sofa karena kakaknya membentang menghabiskan tempat di atas kasur. Sekarang pria buncit itu malah terlentang dan mendengkur dengan keras, dengkurannya bahkan mengalahkan bunyi jam beker.

“Bangun! Aduh, air liurmu kemana-mana, bantal kkuma-ku bau, awas saja kau.” Sun-Ae memunguti bantal-bantalnya yang tidak lagi harum, kakaknya tampan namun jorok sekali, siapa gadis kurang beruntung yang akan mendampinginya nanti? “Cho Kyu-Hyun, ini sudah pagi! Ayo naik sepeda di sekitar sungai Han, ini sudah lama sekali kita tidak jalan-jalan, bukan? Ayo, aku sedang berbaik hati dan akan membelikanmu air mineral kalau kau haus. Tenang, aku yang bayar airnya. Cepat bangun!”

“Sun-Ae-ya…”

“Eomma!” Sun-Ae berlarian pada Ibunya dan merengek seperti anak kecil. “Bangunkan dia, dia menyebar liur di kasurku, dia mendekur dan buang angin sembarangan, Eomma… kenapa dia harus tidur di kamarku?Eomma.. suruh dia bangun.” Sun-Ae rasanya ingin menangis saja ketika Kyu-Hyun membalik posisi, memeluk guling dan menarik selimut, kemudian melanjutkan tidur damainya dengan dengkuran memekakkan telinga. Bahu Sun-Ae lemas seketika.

“Biarkan saja, kakakmu pasti lelah sekali.”

Kalau bukan karena ibunya, Sun-Ae pasti akan melompat-lompat di pundak Kyu-Hyun dan mematahkan tulang-tulangnya.

“Ya ampun, gadis ini belum mandi, belum sikat gigi!” Ibu Sun-Ae mencubit pipi putrinya, wajahnya merona-rona. “Pergi mandi sayang, kita punya janji penting jam sepuluh.”

Kedua mata Sun-Ae langsung berbinar-binar. “Wah, janji Appa yang kemarin itu? memancing dan berkemah di Busan?” Sun-Ae melompat-lompat sambil meraih handuk, ibunya hanya tersenyum lebar sembari meletakkan kotak silver di nakas putrinya, sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Sun-Ae menjambak rambut Kyu-Hyun hingga kakaknya itu memekik dan membuka mata. “Bangun kakakku sayang, kau tidak ingin ketinggalan memancing bukan? Akan banyak wanita sexy! Ayo bangun!”

Kyu-Hyun menatap ibunya saat mendengar Sun-Ae bersenandung kecil dari dalam kamar mandi.

“Dia senang sekali pergi memancing,” sungut Kyu-Hyun sebal sambil memerhatikan rambutnya yang rontok.

“DNA ayahmu,” kata Ibunya sambil berseri-seri. “Kau sudah bilang padanya?”

Kyu-Hyun tersenyum, “Belum, tapi dia tidak akan menolak. Aku jamin.”

Sang ibu menyentuh pundak putranya. “Bagaimana perasaanmu?”

Kyu-Hyun menarik napas, “Tentu saja bahagia.” Katanya dengan nada rendah. “Sun-Ae sudah besar ya sekarang. Nanti aku tidak bisa menjahilinya lagi.”

“Pergi mandi, Cho Kyu-Hyun! Aku tidak ingin terlambat karena menunggumu!”

Mereka tertawa mendengar suara Sun-Ae dari daam kamar mandi, lalu ayah Kyu-Hyun muncul dengan setelan rapi.

“Sudah siap?”

“Dia baru mandi.”

Ayah Kyu-Hyun menepuk pundak Kyu-Hyun. “Kau juga, bersiaplah. Mereka sudah menunggu.”

***

“Kau gugup?”

“Ini gila.”

“Kau cantik.”

“Cho Kyu-Hyun, tolong pegang aku,” Sun-Ae menatap Kyu-Hyun dengan ragu, kakaknya itu terlihat luar biasa tampan dengan setelan formal yang pas ditubuhnya. Tidak ada perut buncit, tidak ada air liur yang membuat Sun-Ae sebal, kakaknya malah terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng. “Kau… kalian semua benar-benar tahu bagaimana cara membuatku ingin menangis.”

“Menangis saja.” Kyu-Hyun tersenyum usil, tapi masih menggenggam erat jemari adiknya yang kini berbalutkan busana pengantin putih bersih. “Kau bilang ingin menikah muda, sekarang benar-benar terkabul, bukan? harusnya kau senang.”

“Tapi ini terlalu cepat.”

“Kau bilang kau mencintainya?”

“Iya, benar. Tapi… aku… aku akan meninggalkan Eomma dan Appa, meninggalkanmu juga, lalu bagaimana?”

Kyu-Hyun menghirup udara dalam-dalam, lalu berjalan pelan dan mengiringi adiknya menuju ke depan cermin besar di ruang tunggu pengantin wanita itu.

“Lihat, harusnya pengantin wanita terlihat bahagia, kenapa kau menangis?”

“Kau bilang aku boleh menangis kalau aku ingin menangis.”

Kyu-Hyun berusaha tersenyum walau dadanya sesak. “Kalau begitu kau tidak boleh menangis. Aku tidak punya adik jelek.”

Kyu-Hyun menarik Sun-Ae ke dalam pelukannya. Lalu mencium rambut adiknya yang berhiaskan mahkota berlian kecil yang berkilauan. Adiknya akan menikah, hari ini, tepat dihari ulang tahunnya, adiknya itu akan meninggalkan rumah dan pergi bersama orang yang dicintainya.

“Kau sayang aku, kan?”

Sun-Ae mengangguk dalam pelukan Kyu-Hyun, ia memeluk kakaknya erat-erat.

“Kalau begitu berbahagialah.”

Sun-Ae mengangguk lagi, namun air matanya tidak mau berhenti mengalir.

“Kau tidak boleh menjahilinya, ya? Little Sun? Berjanjilah.” Kyu-Hyun terkekeh, ia mengusap punggung Sun-Ae dengan lembut. “Dia mungkin tidak setangguh aku menghadapi kekejamanmu.” Dan hanya aku yang boleh kau perlakukan seperti itu, hanya aku yang boleh kau jahili dan hanya aku yang boleh berteriak kesal dan memelukmu lalu diam-diam bahagia karena kau juga membalas pelukanku. Hanya aku, kakakmu yang tampan ini yang boleh kau perlakukan seperti itu.

“Astaga, itik buruk rupa. Riasanmu jadi berantakan.”

Kyu-Hyun menghapus air mata Sun-Ae dan gadis itu tersenyum padanya.

“Aku sayang kau, Cho Kyu-Hyun.”

Senyum Kyu-Hyun mengembang, “Walau aneh mendengarnya langsung darimu, tapi terima kasih. Aku juga sayang padamu. kau akan menikah sebentar lagi dan aku akan tetap menyayangimu, sampai kau memberiku keponakan, sampai keponakanku menikah dan sampai kapanpun itu, aku akan tetap menyayangimu, jadi berhenti menangis, dan temui calon suamimu.”

***

Semua gadis di dunia pasti sangat menantikan hari ini. Menjadi seorang pengantin dan menjadi ratu sehari. Menjadi yang tercantik dan menjadi pusat perhatian yang dituju. Semasa kecil, Sun-Ae pernah berkata pada Kyu-Hyun bahwa ia akan lebih dulu menikah dari kakaknya itu. itu hanya lelucon, namun terjadi hari ini.

Tangannya digenggam erat oleh Mr. Cho yang gagah dan penuh wibawa. Mars wedding itu mengalun merdu di sekitar tempat berlangsungnya pernikahan. Semuanya terlihat putih bersih. Bunga mawar putih dengan sejumput kecil Baby’s breath di atur sedemikian rupa di sekitar ruangan mewah itu. Lilin-lilin harum menambah kesan hikmat satu hari bahagia di bulan april itu. Calla putih, Eldelberry dan white daisy berserakan dimana-mana sejauh mata memandang, padahal mereka hanya diletakkan biasa saja, namun membawa pengaruh besar pada Sun-Ae. Ia merasa masuk ke negeri dongeng, ke taman bunga dan pangeran impian.

Di ujung perjalanannya, setelah melewati para tamu dan kerabat dekat, seorang pria yang tidak pernah ia temui dalam hampir tujuh tahun terakhir berdiri gagah dan menatapnya dengan mata teduh yang begitu ia rindukan.

Lee Dong-Hae.

Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak pria itu memutuskan melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan meninggalkan Sun-Ae hanya dengan sepucuk surat kuning dan pohon bunga matahari. Dia pergi begitu saja dan Sun-Ae menunggunya hanya dengan secuil harapan. Sekarang dia kembali, memberikan Sun-Ae segudang besar harapan baru, harapan kebahagiaan mereka kelak.

“Hai,”

Sun-Ae menoleh dan matanya memanas, pria itu menggenggam erat tangannya dan tersenyum lemah, amat lemah hingga mampu membuat Sun-Ae kehilangan napasnya.

“Kau cantik,” kata Dong-Hae pelan. “Dan indah.”

Sun-Ae tidak mengatakan apa-apa hingga selesai mengucap janji bahwa akan menjadi pendamping pria itu selama hidupnya dan hingga maut memisahkan. Semuanya terjadi begitu cepat, ia tidak tahu jika hari ini akan datang dengan cara yang tidak pernah ia duga. Hadiah ulang tahun, itu kata ayah dan ibunya.

“Aku harusnya mengatakan ini padamu tujuh tahun lalu, tapi kupikir tidak ada salahnya aku mengatakannya sekarang, aku sungguh ingin mengatakannya sebelum aku tidak sanggup mengatakannya lagi kepadamu, Aku mencintaimu.”

Bibir tipis itu mengecupnya lama, bersamaan dengan riuh tepuk tangan yang membahagiakan. Sun-Ae seakan baru tersadar bahwa ini bukanlah sekedar mimpi. Pria ini nyata. Dia nyata, mencintainya dan benar-benar telah menjadi miliknya. Mereka menikah. Menjadi satu. Berjalan bersama. Menantang dunia bersama. Dan Sun-Ae bersumpah ini menjadi hadiah terindah sepanjang hidupnya.

***

“Kenapa mencintaiku?”

Sun-Ae tersenyum kecil menatap bintang pertama yang muncul di langit Busan. “Aku tidak boleh mencintaimu?”

“Tentu boleh,”

Dong-Hae mengeratkan pelukannya. Setelah menikah, mereka langsung menempati sebuah rumah putih yang cukup nyaman di Busan, di dekat pantai, yang pekarangannya luas dan ditumbuhi banyak bunga warna warni, benar-benar sama seperti harapan Sun-Ae.

“Ini terlalu tiba-tiba, aku mengira aku bermimpi sejak Eomma menyuruhku mengenakan baju pengantin pagi tadi. Semuanya mulai aneh saat aku tahu bahwa kami tidak akan pergi memancing. Lalu aku melihat ibumu, melihat ayahmu dan,”

“Bagaimana perasaanmu setelah melihatku?”

Sun-Ae menelan ludahnya. Bagaimana rasanya melihat seorang Lee Dong-Hae setelah tujuh tahun? Rasanya ia ingin meledak saking bahagianya.

“Cukup senang.”

Dong-Hae memberengut. “Hanya cukup senang? Padahal aku merindukanmu setengah mati.”

“Pembohong,” Sun-Ae terkekeh, “Kalau kau rindu padaku harusnya kau menghubungiku dalam tujuh tahun ini, bukannya membuatku menunggu tanpa kepastian.”

“Maaf membuatmu menunggu selama itu.”

“Aku pikir kau tidak akan kembali.”

“Aku kembali,” Dong-Hae mengecup Sun-Ae. “Dan aku menikahimu.”

“Omong-omong, kapan kau menyiapkan semua ini?”

Sun-Ae membalik tubuhnya untuk menatap Dong-Hae. Pria itu terlihat jauh lebih tampan, lebih dewasa dan satu yang pasti, pesonanya tidak pernah luntur, bahkan sekarang kadar pesonanya harus dijaga agar tidak melewati batas.

“Sejak aku mengantarmu pulang hari itu.”

Kedua mata Sun-Ae melebar, sejak hari itu?

“Saat itu kita masih di sekolah menengah atas, aku mungkin sudah gila karena berpikir akan menikahimu. Tapi aku mengatakannya pada kedua orang tuaku, orang tuamu dan Kyu-Hyun. Kami menyiapkannya hingga hari ini. alasan aku tidak menghubungimu, aku ingin kau fokus dengan pendidikanmu dan meraih cita-citamu dulu, dan aku ingin mengujimu. Ah ya, yang paling penting, aku tidak ingin kau merasa terlalu terbebani, ketika pada akhirnya nanti kau tidak lagi menungguku atau tidak lagi mencintaiku, aku akan melepasmu.”

Sun-Ae merasa tubuhnya luruh ke tanah. Oh astaga pria ini, bagaimana bisa ia memikirkan itu semua sejak jauh-jauh hari? Perasaan Sun-Ae bukanlah perasaan sepihak, kenyataan bahwa Dong-Hae telah mencintainya jauh sebelum ia menaruh hati pada pria itu.

“Terima kasih, Lee Dong-Hae.”

Sembari tersenyum, Sun-Ae mengecup pipi Dong-Hae membuat pria itu memerah.

“Untuk?”

“Terima kasih telah mencintaiku selama ini. Terima kasih banyak.”

Dong-Hae memeluk Sun-Ae, mengecup kepalanya dan menghela napas lega. Gadis ini telah menjadi miliknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sun-Ae hanya miliknya.

“Omong-omong, Sun-Ae-ya…”

“Heum?”

“Aku ingin punya anak empat.”

“Ngg? Empat?”

Dong-Hae mengangguk polos ketika Sun-Ae mengangkat wajah dan menatapnya serius. “Kau ingin tujuh? Aku tidak keberatan.”

“Yang benar saja,” Sun-Ae tersenyum kecil dan wajahnya semerah apel. “Itu tidak sedikit. Kau mau hamil dan membantuku melahirkan mereka?”

Dong-Hae terkekeh, “Kau bisa membuatku hamil?”

Tawa Sun-Ae meledak dan Dong-Hae ikut tertawa, mereka mulai terlihat idiot. “Kau gila, kudengar melahirkan itu mengerikan, aku takut.”

Dong-Hae mengangguk serius namun masih tertawa, “Kalau kau bisa membuatku hamil, aku janji akan membantumu. Aku melahirkan dua anak dan kau dua anak. Bagaimana?”

Sun-Ae tidak habis pikir mengapa ia mencintai pria ini. “Sepertinya kau lelah, bicaramu mulai aneh, ayo tidur.”

“Dan buat anak.”

“Tidak, nanti saja, aku belum siap.”

Sun-Ae meninggalkan Dong-Hae, namun pria itu mengejarnya dan menarik-narik ujung bajunya. Persis seperti apa yang dilakukan Sun-Ae pada ibunya ketika ia sebal dengan Kyu-Hyun.

“Buat sekarang, ya? ya?”

“Tidak.”

“Ayolah,”

“Aku janji aku akan bersikap baik.”

Sun-Ae hampir tersedak air liurnya sendiri mendengar kata-kata Dong-Hae. “Bersikap baik apa maksudmu? Pokoknya jangan malam ini.”

Dong-Hae memberengut, “Kalau tidak dimulai sekarang lalu kapan?”

“Nanti saja.”

“Tapi aku akan mengikuti tes masuk camp militer besok, Sun-Ae-ya…”

Sun-Ae menoleh dan keningnya berkerut samar, “Camp militer?”

Dong-Hae mengangguk kecil, “Sudah waktunya aku menjalankan kewajibanku sebagai Pria Korea, kita tidak punya waktu banyak.”

Sebersit kesedihan melintas di kedua mata Sun-Ae, pria ini baru datang dan akan pergi lagi?

“Nah, ayo mulai sekarang. Mem-program mereka agar lahir tepat waktu tidak semudah yang kau bayangkan, Sun-Ae-ya.”

Sun-Ae menggeleng, ah dasar pria. Dimanapun sama saja.

Sun-Ae baru akan mengelak ketika ponselnya berbunyi nyaring.

“Kyu-Hyun, dia ingin bicara padamu.”

Sun-Ae menyerahkan ponselnya pada Dong-Hae dan melihat berbagai macam ekspresi menggelikan di wajah pria itu.

“Ayo tidur.”

Sun-Ae menatap heran Dong-Hae yang langsung berderap melangkah dan berbaring di tempat tidur.

“Kau kenapa?”

Dong-Hae cemberut dan menenggelamkan kepalanya di tumpukan bantal.

“Kau marah padaku?”

Dong-Hae menggeleng dan menghela napas. “Kyu-Hyun bilang tidak perlu membuat keponakan malam ini.”

Sun-Ae terkekeh, astaga pria itu bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu pada Dong-Hae? Sedekat apa sebenarnya hubungan mereka?

“Apa lagi yang Kyu-Hyun katakan padamu?”

“Dia bilang tidak perlu buru-buru memberinya keponakan.”

Sun-Ae menahan tawanya karena ekspresi Dong-Hae yang terlampau menggemaskan,mana mungkin pria ini kesal hanya karena gertakan Kyu-hyun.

“Baiklah, tapi Kyu-Hyun tidak melarangmu untuk memelukku, bukan?” Sun-Ae memeluk Dong-Hae, meletakkan lengan pria itu di sekitar tubuhnya. Lalu segaris senyum menghiasi wajah pria itu. “Sini peluk aku, kita tidur malam ini dan bicarakan itu nanti. Kau lelah, kan?”

“Eum, kalau aku tiba-tiba tidak sadarkan diri sepanjang malam ini jangan slaahkan aku ya.”

“Dasar kau, mana ada tidak sadarkan diri direncanakan?”

Dong-Hae terkekeh, lalu ia menutup mata. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya, melihat Sun-Ae yang tertidur pulas dipelukannya. Gadis itu masih manis seperti pertama kali Dong-Hae jatuh cinta padanya. dia masih sama. Dong-Hae mengecup bibir Sun-Ae singkat dan memeluknya erat-erat.

“Selamat ulang tahun, Sun. Selamat menjadi isteriku dan selamat datang dalam hidupku. Aku mencintaimu.”

 

8 Comments (+add yours?)

  1. ichul
    Jun 24, 2015 @ 21:45:34

    aaaahhhh, Dongdong romantis bgt…
    Suka bgt sama karakter Kyu di sini..hahahaa menghibur bgt dia.

    Makasih ceritanya, ini menghibur🙂

    Reply

  2. okliocha
    Jun 24, 2015 @ 22:19:22

    Kereen… So sweet bgt…

    Reply

  3. teukieduck
    Jun 24, 2015 @ 23:19:54

    ah ff yg author buat feel ya dapet mulu thor astaga… aku kira yg come back home donghae-ya itu sequelnya eh ternyata ini senquelnya wkwk tp ini sweetnya dapet banget thor suka suka😄

    Reply

  4. evi
    Jun 25, 2015 @ 12:46:26

    manis ny😀

    Reply

  5. fuzi98
    Jun 25, 2015 @ 13:48:45

    Kyaa.. lumer lumer dehh aku, Dongek so sweet banget. . Pngen dehh punya oppa kya Kyu oppa .. Author-nim jjang🙂

    #Newreader

    Reply

  6. ongewife
    Jun 25, 2015 @ 21:48:15

    Asdfghjkhjkl donge sweet dehh :3 bukan cuma mereka yg kasmaran tapi aku juga merasa kasmaran :3 ahh donge mahh gitu orang nya, bikin hayati gak kuat bang :3

    Reply

  7. sapphiree
    Jun 26, 2015 @ 18:34:40

    Ini mah romantic idiots apa coba haha

    Reply

  8. fairyuspark
    Jun 27, 2015 @ 12:20:57

    duh kelewatan manisnya!!! hubungan kyuhyun sama Sun ae buat saya greget!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: