Daddy Wanna Be

Author : Aryn
Judul : Daddy Wanna Be
Tag (tokoh/cast) : Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae, Lee Ha-Ru
Genre : Romance, Family
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

Daddy Wanna Be!

***

 

Are you sleeping, are you sleeping, brother Dong! Brother Dong! Ups!”

“Ya~ Lee Haru!”

“Wake up, Dad…”

Lee Haru, yang masih usil menggerayangi wajah ayahnya tertawa memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil. Sepuluh jemarinya sedang sibuk menepuk-nepuk wajah ayahnya, mencubit hidung ayahnya dan menarik bulu mata ayahnya lalu membuka kelopak mata ayahnya secara paksa. Kalau ayahnya tidak mau bangun, maka ia akan terus duduk dan meloncat-loncat di atas perut ayahnya.

“Oke, ayo bangun sekarang,”

Dong-Hae bangkit, Ha-Ru pikir ayahnya yang tampan itu akan segera bangun dan mengajaknya bermain di taman, tapi tidak. Dong-Hae malah membekap Ha-Ru dan memasukkan tubuh mungil itu ke dalam selimut.

“Siapa yang senang menggangu ayahnya tidur harus dihukum, haha! Rasakan! Lee Ha-Ru, setelah ini masih berniat mengganggu tidur Appa?”

“Eung~ Dad!”

“Lee Dong-Hae! Kau apakan anakmu?”

Sun-Ae yang baru selesai menyiapkan sarapan masuk ke dalam kamar mereka dan menemukan Dong-Hae memeluk selimut yang tebalnya bukan main, sementara suara rengekan Ha-Ru terdengar samar.

“Lepaskan dia, kau mau anakmu kehabisan napas?”

“Ah, Ibumu tidak seru sekali, ya? Lee Ha-Ru?”

Dong-Hae cemberut dan melepaskan Ha-Ru, wajah anaknya itu telah memerah. Sialnya Ha-Ru memiliki ayah kekanakan seperti ini, anaknya pun disiksa tanpa perasaan.

Are you sleeping, are you sleeping, brother Dong! Brother Dong!”

“BROTHER JOHN! Kenapa kau menyebut Brother Dong?”

“Daddy is My Dong, Mommy’s Dong!”

Ha-Ru tertawa, ia juga tidak boleh kalah usil dengan Ayahnya, Ha-Ru yang hanya menggunakan popok tanpa busana menarik selimut dan berlarian keluar kamar mencari ibunya dengan tawa terbahak-bahak karena teriakan ayahnya yang menggelegar. Anak dan ayah sama saja. Selalu ribut dan suka tertawa tidak waras bahkan ketika hari masih belum sepenuhnya terang.

***

“Ha-Ru-ya, pakai baju, ya? Tidak dingin?”

Ha-Ru mengemut roti selainya, lalu bernyanyi lagi. Lalu mengemut rotinya, lalu menatap Ibunya.

“Anio,” katanya dengan suara kecil yang menggemaskan. Lee Ha-Ru memang baru empat tahun, tapi percayalah, malaikat mungil empat tahun itu telah mampu membawa jutaan warna dalam rumah tangga Dong-Hae dan Sun-Ae. “Mom, why Daddy’s screaming?” tanyanya dengan suara santai.

Sun-Ae mencubit pipi Ha-Ru, “Kau tidak tahu mengapa ayahmu berteriak? Biasanya kau yang membuatnya berteriak-teriak, bukan?”

Ha-Ru nyengir, tapi ada senyum tersembunyi di balik wajahnya. Ia melanjutkan manikmati roti selai dan susunya sampai habis, bahkan meminta bubur daging lagi.

Ketika Sun-Ae berada di dapur untuk mengambil bubur milik Ha-Ru, ketika itulah makhluk tidak tahu malu itu muncul dan membuat kacau apa yang Sun-Ae kerjakan.

“Kemana celanamu?!”

“Ha-Ru…”

“Pakai celana! Kenapa kalian ayah dan anak suka sekali berkeliaran tanpa busana? Kalian itu sedang fashion show atau apa?”

Dong-Hae terkikik melihat Sun-Ae yang mengomel tapi wajahnya memerah.

“Kenapa kau merona-rona seperti itu, Sun-Ae-ya?”

Bodoh. Masih bertanya lagi.

“Ini kan bukan pertama kalinya kau melihatku tanpa celana.”

Plak!

“Oh astaga kau ini, pakai celana sekarang atau kubakar semua celanamu.”

“Bakar saja. Ah, mengakulah itu hanya alasan, kau lebih suka aku seperti ini kan?”

Sun-Ae ingin sekali memasukkan Dong-Hae ke panci bubur, pria itu berdiri di hadapannya dengan polosnya dan membuat Sun-Ae mendidih sekaligus geli. Setiap hari disetiap pagi Dong-Hae maupun Ha-Ru selalu membuat ribut, selalu kacau di pagi hari namun Sun-Ae menyukainya. Sun-Ae menyukai apapun yang dilakukan dua orang aneh yang begitu ia cintai ini.

“Baiklah, kau tampan tanpa celana.” Sun-Ae melihat sebaris senyum Dong-Hae. Dasar tidak waras. “Dan aku tidak suka kalau orang lain melihatmu seperti itu. Hanya aku yang boleh melihatnya.”

Tawa Sun-Ae meledak ketika wajah Dong-Hae memerah. Payah. Baru digoda begitu saja pria itu sudah kalah telak. Ia tidak berkutik dan akhirnya mengekori Sun-Ae kemana pun ia melangkahkan kaki. Seperti anak hilang.

“Kau belum juga pakai celana!” Nah, Sun-Ae melotot lagi dan Dong-Hae terkesiap. Lalu keduanya tertawa. “Pakai celanamu, Dong-Hae-ya… aku ini punya anak Lee Ha-Ru atau Lee Ha-Ru dan Lee Dong-Hae, sih? Kenapa kau susah sekali diberitahu? Pakai celana!”

“Tidak mau! Sudah terlanjur nyaman!”

Dong-Hae berlarian dan menemui Ha-Ru di meja makan, anak itu malah sibuk terkikik melihat tingkah ayah dan ibunya. Kekanakan? Oh, itu judul mereka setiap hari. Sudah biasa. Ha-Ru tahu ayahnya memang lucu, dan Ha-Ru sangat tahu jika ayahnya bertemu dengan ibunya pasti akan seru.

“Ya, inom! Kau yang membawa lari celanaku, kan? kembalikan!”

Dong-Hae menjitak kecil kepala bulat Ha-Ru namun anak itu tetap menyendok buburnya.

“Kau tidak dingin, Ha-Ru-ya? Kenapa suka tidak pakai baju?”

Ha-Ru hanya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, bernyanyi kecil dan tertawa. “Daddy choreom.”

Ah, Dong-Hae hanya membentuk huruf ‘A’ dengan bibirnya, Dong-Hae memang tidak suka pakai baju kalau di rumah apalagi ketika ia pulang dari luar negeri dan lelah. Ha-Ru ternyata memerhatikannya dan mengikutinya. Padahal itu kurang baik untuk kesehatannya.

“Besok-besok kalau Appa tidak di rumah, kau harus mendengar apa kata ibumu, ya? Lee Ha-Ru? Jangan membantahnya atau kau akan ditelan hidup-hidup, Appa kan masih ingin menemuimu ketika pulang nanti. Jangan membuatnya kesal. Repotkan dia boleh, asal jangan sampai dia kelelahan, nanti dia jadi galak padaku.”

Ha-Ru tersenyum geli, ia mendengar curahan hati Appanya yang kekanakan, Appanya itu mulai bercerita panjang lebar mengenai ibunya yang bisa sangat galak bahkan menolak tidur bersama jika sedang kelelahan.

“Makanya, Lee Ha-Ru, kasihanilah Appamu ini, eo? Appa rindu Eomma-mu tapi dia begitu cuek dan Appa ditinggal tidur kalau dia lelah seharian mengurusmu, aku jadi tidak dapat jatah. Jadi… tolong sisakan tenaganya untukku, oke?”

Ha-Ru menyambut High Five Dong-Hae tanpa mengerti apa yang dijelaskan ayahnya itu panjang lebar sejak tadi. Yang Ha-Ru tangkap, kalau ia mendengarkan ibunya, maka ayahnya akan pulang dengan satu set mainan robocar polli kesukaannya. Maka ia akan bersikap baik.

“Sudah selesai edisi curhatnya, Lee Dong-Hae?”

Sun-Ae duduk di dekat mereka dan ikut menyantap sarapan.

“Sudah,” kata Dong-Hae sambil nyengir bocah, dan Ha-Ru mengangguk-angguk bahagia.

“Done.”

Sun-Ae memberengut, “Ah, kalian… senang sekali mengkhianatiku. Awas saja.” Sun-Ae mencomot rotinya, sesekali membersihkan sudut bibir Ha-Ru ketika bubur mengotori wajahnya, ia juga membersihkan bibir Dong-Hae dengan jari-jarinya.

“Morning Kiss~”

“Huh?”

“Morning Kiss~”

Dong-Hae dan Sun-Ae menunjukkan reaksi berbeda ketika tiba-tiba Ha-Ru mengatakan dua kata itu. Dong-Hae tentu bahagia bukan main, ia bahkan hampir lupa meminta ciuman selamat paginya pada Sun-Ae. Sementara Sun-Ae merasa geli sekaligus takjub, anak sekecil Ha-Ru mengatakan hal itu.

“Nah, cepat, beri aku morning kiss!”

Dong-Hae menarik-narik baju Sun-Ae sementara Sun-Ae masih lebih tertarik pada Ha-Ru.

“Ha-Ru-ya, darimana belajar mengatakan itu?”

Ha-Ru hanya menggerakkan sendoknya diudara dengan senyum mengembang. “Daddy selalu mengatakannya setiap pagi. Morning Kiss~ Morning Kiss~ Sun-Ae-ya, Give me Morning Kiss~ Like that Mom,”

Sun-Ae tertawa, ia terlalu takjub pada Ha-Ru yang sangat cepat menirukan apa yang Dong-hae lakukan setiap harinya.

“Cepat, Ha-Ru saja memintamu untuk memberiku Morning Kiss, ayo lakukan!”

Sun-Ae baru akan mencium Dong-Hae ketika Ha-Ru bergegas turun dari kursinya dan naik kepangkuan Sun-Ae. “Not for Dad! Morning Kiss for me,” Ha-Ru melompat-lompat senang dan ia tertawa menggemaskan. Oh, bukan untuk Appa? Morning Kiss untuk Ha-Ru? Ha-Ru masih tertawa lebar ketika ia menirukan rengekan manja khas Dong-Hae, “Sun-Ae-ya~ Morning Kiss, please…”

Sun-Ae dan Dong-Hae tertawa, mereka tidak menyangka Ha-Ru akan belajar secepat ini. Baiklah, “Come here, sweetheart. Let me give you a morning kiss,” Sun-Ae memajukan tubuhnya. Ha-Ru memajukan bibirnya ke depan dan menutup mata, ketika Sun-Ae mengecupnya ia membuat suara kecupan yang keras dan terkikik geli.

Lee Ha-Ru tertawa dan menutup wajahnya yang memerah. Ia lalu berlari-lari mengitari meja makan dan membuat Sun-Ae dan Dong-Hae tertawa. Ha-Ru berhenti di depan kursi Dong-Hae dan Sun-Ae, Ha-Ru menatap mereka berdua bergantian lalu menutup wajahnya malu-malu. Ia lalu berlarian menuju kamar dengan wajah memerah.

“Oh My God!”

Suara kecil Ha-Ru itu masih bisa didengar Dong-Hae dan Sun-Ae dari ruang makan, anak mereka baru saja tersipu malu karena kecupan pagi dari ibunya. Malu-malunya sama persis seperti Dong-Hae setelah mendapat kecupan itu setiap pagi.

Ha-Ru, di dalam kamar bersembunyi di balik selimut. Ah, ternyata Morning Kiss sebaik itu. Pantas saja Ayahnya selalu ribut ketika meminta Morning Kiss. Baiklah. Ha-Ru akan meminta Morning Kiss lagi besok.

***

“Jangan cemberut begitu.”

“Emm,”

“Sini peluk aku.”

Dong-Hae memeluk Sun-Ae. Satu minggu ini ia dan grup musiknya akan melakukan konser di luar negeri. Itu berarti ia harus meninggalkan rumah. Meninggalkan Sun-Ae, meninggalkan Ha-Ru.

“Kau sering marah-marah, tapi kalau aku pergi kenapa selalu menangis?”

Sun-Ae memeluk Dong-Hae erat, menghirup wangi tubuhnya. Satu minggu ia akan hidup berdua saja dengan Lee Ha-Ru, tanpa pria jahil ini.

“Aku pergi dulu, ya? Mereka telah menunggu. Jaga dirimu baik-baik, aku titip Lee Ha-Ru.”

Ketika Sun-Ae melepas pelukan, ia masih belum bisa mengatakan apa-apa pada Dong-Hae. Satu setetes air matanya bergulir turun. Itu sudah cukup mewakili perasaannya ditinggal pergi Dong-Hae.

“Kau membuatku berat meninggalkan kalian.”

Mendengar itu, Sun-Ae lantas tersenyum dan mengelus lengannya. “Tidak apa-apa. Pergilah. Aku hanya sedikit sedih, setiap pagi rumah kita mungkin tidak akan ribut lagi.”

Dong-Hae terkekeh, ia mencium Ha-Ru yang ada digendongan Sun-Ae, sementara anak itu sibuk menyayikan lagu polli yang ia hapal di luar kepala.

“Tenang saja, Ha-Ru asti ribut, aku telah meninggalkan ilmuku padanya. Kau masih akan tetap merasa aku ada di rumah selama ada Ha-Ru.”

Sun-Ae tersenyum, ia ikut mengecup Ha-Ru, benar. Anak ini kan titisan hidup ayahnya.

“Pergilah, apa yang kau tunggu?”

Dong-Hae sebenarnya berat meninggalkan rumah. Ia takut besok ia tidak disambut tawa anak dan istrinya. Tapi itu sudah tanggung jawabnya, dan ia harus pergi.

“Hati-hati di jalan,” kata Sun-Ae ketika Dong-Hae menuju pintu rumah mereka.

“We’ll miss you, Dad.” Dong-Hae berbalik dan tersenyum pada Ha-Ru. Akhirnya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali dan memeluk putranya itu. “My Polli, don’t forget that…”

Dong-Hae tertawa, ah anak ini benar-benar. “Arraseo. Ha-Ru-ya, kau juga punya janji padaku, ya? Jaga ibumu dan jangan buat dia lelah. Sampai ketemu minggu depan!”

Ketika Dong-Hae benar-benar pergi, Sun-Ae dan Ha-Ru langsung tidur. Besok mereka punya jadwal yang padat. Ha-Ru belum masuk taman kanak-kanak atau play grup, Dong-Hae bilang anaknya suka bermain musik, jadi hampir dua bulan ini Ha-Ru kursus musik yang memang bisa untuk anak seusianya. Pokoknya besok Sun-Ae dan Ha-Ru ingin jalan-jalan dan bemain di luar rumah. Agar mereka tidak terus bersedih karena tidak ada Dong-Hae di rumah.

***

Ternyata apa yang telah Sun-Ae dan Ha-Ru rencanakan tidak berjalan mulus. Dua hari ini hujan terus mengguyur dan guru yang mengajar kelas Ha-Ru pergi ke luar negeri sehingga mereka hanya berdiam diri dan membuat kue kering di rumah.

Malam itu sedang hujan deras dan Ha-Ru bermain di ruang tengah sementara Sun-Ae sedang membuka album foto dan duduk di sofa. Baru dua hari, berarti ada lima hari lagi tanpa Lee Dong-Hae. Sun-Ae menemukan foto Dong-Hae ketika berada di sekolah menengah atas, dulu kalau ia bisa bertahan selama tujuh tahun, kenapa sekarang tujuh hari terasa sangat berat?

Twinkle Twinkle little star

How I wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

Sun-Ae tersenyum haru ketika Ha-Ru bernyanyi dan menggerak-gerakkan tangannya di udara. Walau di luar hujan, tapi suara manis Ha-Ru masih bisa terdengar jelas. Sun-Ae meninggalkan album foto dan ikut duduk di dekat Ha-Ru. Malihat ibunya, Ha-Ru tersenyum dan duduk bersila di hadapan Ibunya. Ha-Ru meraih tangan Sun-Ae, menuntunnya membentuk kerlipan bintang-bintang kecil setiap malam yang selalu Dong-Hae tunjukkan padanya sebelum tidur.

Twinkle twinkle little star

How I wonder what you are

When the blazing sun is gone

When he nothing shines upon

Then you show your litttle light

 

Twinkle twinkle all the night

Twinkle twinkle little star

How I wonder what you are

Sun-Ae tersenyum melihat Lee Ha-Ru yang bahagia itu. Dia, Lee Ha-Ru, yang tingginya tidak sampai selutut Dong-Hae, dia yang katanya masih kecil namun sangat pintar membuat ibunya tersenyum, dia, Lee Ha-Ru yang selalu kalah setiap bermain sepak bola di taman dengan ayahnya, namun selalu menang merebut perhatian ibunya dan membuat ayahnya senewen. Dia, Lee Ha-Ru, yang senyumnya semanis Dong-Hae dan sepolos Sun-Ae itu adalah bintang kecil yang bergemelapan di langit malam ketika matahari pergi dan menyelesaikan tugasnya sebagai penerang hari. Sun-Ae sekarang sadar mengapa Tuhan begitu baik mengiriminya malaikat kecil bernama Lee Ha-Ru ini, karena jika Matahari tidak ada, ketika Dong-Hae tidak di dekatnya, ia masih punya sebuah bintang kecil yang bersinar, yang akan terus menemaninya menghadapi gelapnya langit malam tanpa matahari, dia, di sebut Lee Ha-Ru. Si bintang kecil yang akan terus mengantikan posisi ayahnya untuk menjaga ibunya. Si bintang jagoan yang akan melindungi ibunya. Si kecil manis pengganti Dong-Hae yang akan selalu membawa tawa ibunya kembali, dia, adalah kebanggaan Dong-Hae dan juga Sun-Ae. Namanya, Lee Ha-Ru.

***

“Hey, kau menepati janjimu. Sudah menjaga Eomma dengan baik. Terima kasih, ya? Lee Ha-Ru!”

Dong-Hae duduk di atas ayunan di taman dan memangku Ha-Ru, sementara Sun-Ae ada di toko bunga seberang jalan melakukan hobbynya membeli bunga yang akan di simpan dalam vas dekat dapur.

“Kau suka hadiahmu?”

Ha-Ru tersenyum lebar. “Eung!” Ha-Ru masih ingat, bagaimana senyum ibunya saat ia menyanyi Twinkle-twinkle malam itu. Dan sejak malam itu, Ha-Ru selalu bernyanyi twinkle-twinkle untuk ibunya. Ada atau tidak bintang di langit malam, Ha-Ru akan terus bernyanyi. Karena ibunya tersenyum saat ia bernyanyi dan ia senang melihat sneyum ibunya. “Mom melihat Daddy di ponsel, kami melihat Dad bernyanyi…”

Ah, Sun-Ae pasti melihat menampilan mereka melewati saluran internet. Dasar gadis itu, katanya dia tidak melihatnya. Tinggi sekali gengsinya.

“Benarkah?”

“Hemm,”

“Mommy terlihat sedih. Lalu Ha-Ru bernyanyi twinkle-twinkle.”

Baru Dong-Hae akan membuka mulutnya, Sun-Ae telah berdiri di hadapan mereka.

“Mana bunganya?”

“Ini bunga.” Sun-Ae memperlihatkan satu kantung biji-bijian hitam.

“Itu bibit.”

“Ya, ini bibit yang akan menjadi bunga. Ha-Ru suka bunga matahari, ayo tanam di rumah.”

Ha-Ru langsung meraih kantung biji bunga matahari yang dibawa Sun-Ae. Anak itu lalu berlarian menuju mobil sementara Dong-Hae dan Sun-Ae tertinggal di belakang.

“Apa yang Ha-Ru lakukan padamu?”

“Apa?”

“Kau sama sekali tidak sedih dan tidak senewen ketika aku terlambat menelpon.”

“Ha-Ru melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan untukku.”

Dong-Hae memberengut. “Apa yang anak kecil itu lakukan yang tidak bisa kulakukan untukmu?”

Tentu, Dong-Hae tidak bisa melakukannya. Hanya Lee Ha-Ru yang bisa.

Sun-Ae tersenyum manis, memerhatikan Ha-Ru yang berlarian di depan sana dan melompat-lompat bahagia. “Anakmu itu melakukannya dengan baik. Ia menirukan segalanya yang kau lakukan untukku. Dia membuatku harus berteriak ketika ia tidak mau keluar dari bak mandi, dia membuatku geli ketika ia memegang pengering rambutdan berjoget-joget di depan cermin, ia memainkan piano dengan asal-asalan, jadi rumah tidak sepi. Dan dia selalu memelukku ketika tidur, dan diabernanyi twinkle twinkle untukku.” Sun-Ae berhenti, ia memandang Dong-Hae yang tersneyum padanya, lalu mereka memandang Ha-Ru yang tersenyum melambaikan tangan. “Anak itu, dia menggantikan posisimu untuk mencintaiku. Dan dia melakukannya dengan sangat baik.”

“Dia bintang kecilmu yang manis…”

“Dia bintang kecil kita yang selalu bersinar-sinar. Dia, namanya, Lee Ha-Ru.”

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Kwan Menzel
    Jun 25, 2015 @ 22:02:00

    aq agk kgt pas diawl si haru msih pke popok pdhl udh 4 thun hehe, selebihnya keren bgt, feelnya itu nyampeeeee bgt..

    Reply

  2. @erna_nena_rin
    Jun 26, 2015 @ 14:17:46

    keren dah. iya rada aneh aja 4tahun msh pake popok. tp slbhnya tetap bgus kok. Keep writing bwt authornya.

    Reply

  3. medundudun
    Jun 30, 2015 @ 11:12:41

    Ga byang abang donghae lari” ga pke celana 😄 kluarga bahagia disaat has adaa suami ada anak yg gantiin bapanyaa😆

    Reply

  4. dalhaenim
    Apr 01, 2016 @ 22:16:09

    Aaaa~ kalo punya keluarga gini rasanya ga rela dah ninggalin rmh, org isinya kebahagiaan semua 😂😂 feel romance sama family-nya ngena bikin org kesemsem sendiri 😂😂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: