Memories [7/?]

memories 17

Author : Rizki amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*******************

“Rumahku sangat sederhana. Kuharap kau betah.”

Sampai beberapa detik lalu, kata sederhana yang ada dalam benak Jeany adalah sepadan dengan rumah pribadinya di Liverpool, atau paling tidak sepertiga dari rumah orang tuanya di London. Standar sederhana yang dipakainya adalah rumah beton dengan tiga kamar, satu kamar mandi serta toilet, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, juga dapur dimana semuanya memiliki tempat masing-masing sekalipun dalam ukuran kecil. Semuanya persis seperti itu dan jumlahnya pun sama. Rumah suaminya yang terletak di pemukiman padat itu memiliki semua yang ada dikepalanya. Tapi…………ini jauh berbeda dengan apa yang ia bayangkan. Bahkan taksi tak bisa masuk mengantar mereka kemari. Mereka perlu berjalan kaki, menaiki tanjakan sambil menenteng semua koper mereka.

Memang ada tiga kamar, dua kamar di lantai bawah, dan satu di lantai atas. Namun, semuanya sangat sempit. Yesung mengatakan bahwa ayahnya memiliki beberapa rumah kontrakan sebagai penghasilan tetapnya perbulan. Jeany pikir itu cukup bagus dan dengan hasil seperti itu, rumah mereka pasti bisa lebih baik dari ini. Apalagi ia ingat bahwa sebelumnya Yesung berkata ayahnya punya sebuah mobil.

“Mobil itu disimpannya disuatu tempat.” Begitu jawaban yang diberikan oleh Yesung saat Jeany bertanya dimana mobilnya. Menurut Yesung lagi, ayahnya adalah tipe orang yang jika sudah merasa segalanya cukup, maka ia takkan menambah apapun. Ayahnya lebih gemar menyimpan uangnya di bawah kolong tempat tidur dibanding di bank. Ayahnya lebih suka menabung dibanding menggunakannya untuk memperbaiki kualitas hidup. Dan sebenarnya, Yesung serta ayahnya masih punya satu rumah yang lebih layak. Namun, sejak kepergian ibunya, ayahnya memutuskan untuk tidak meninggali rumah itu lagi. Tidak dijual, ayahnya hanya tidak mau hidup di tempat dimana istrinya pergi.

Jeany menahan keterkejutannya dengan tetap bersikap sopan di depan ayah mertuanya. Meski saat pertama bertemu ia tidak memberi kesan baik dengan menawarkan sebuah jabat tangan sebagai perkenalan, akhirnya Ayah mertuanya itu tetap tersenyum dan membawanya ke dalam.

“Kamar kalian di atas. Sebaiknya kau istirahat. Kau sangat lelah, bukan?”

Jeany menunduk sopan seperti yang diajarkan oleh Yesung. Yesung mengantarnya ke atas dan ia bersyukur ayah mertuanya sudah menyiapkan satu tempat tidur king size. Tapi yang paling membuatnya bersyukur adalah fakta bahwa ayah mertuanya tidak menginterogasinya. Ia, sang menantu yang belum pernah bertemu sebelumnya, dengan mudahnya sekarang sudah ada di atas tempat tidur. Sepertinya ayah mertuanya sangat berbeda dengan ayahnya.

“Well, ini memang jauh dari harapanmu. Tapi untuk sementara hanya ini yang bisa kuberikan.”

Jeany melepas jaketnya untuk kemudian dilempar sembarangan. Ia benci melakukan itu, tapi ia benar-benar lelah dan butuh waktu untuk menenangkan diri dari keterkejutannya.

“Kau tidak apa-apa jika sementara kita tinggal disini?”

Jeany ingin sekali menjawab, ‘Memangnya aku bisa menolak?’, tapi ia tak kuasa mengatakannya. Ia hanya diam, berpura-pura tidur supaya Yesung segera pergi.

“Baiklah, aku keluar dulu. Aku takkan mengganggumu.”

Yesung meninggalkan istrinya sendirian. Ia paham bahwa Jeany masih terkejut dan mungkin sulit menerima semua ini. Tapi ia janji akan membuat Jeany cepat terbiasa. Ia pun turun ke bawah untuk melihat ayahnya. Sebelum itu, ia pergi ke halaman belakang dan ia takjub masih menemukan banyak bunga disana. Ia pikir ayahnya sudah tidak bisa merawat bunga-bunga itu lagi. Ia pikir kecintaan ayahnya terhadap tanaman sudah luntur.

Sejenak ia berdiri, menghirup aroma malam di Kota Seoul yang sudah sangat lama tak dirasakannya. Terlalu lama di negeri orang, ia belum lupa rasanya.

“Berapa lama kau pergi? Aku tahu tidak akan ada yang bisa menandingi udara malam di tengah tanaman Park Jinho.”

Ayahnya memang suka sekali berbangga. Ia lalu masuk ke dalam, tertarik melihat foto-foto yang ada di atas meja tepat di bawah tangga. Ada foto keluarganya yang masih utuh di depan sungai Han. Saat itu adalah hari valentine dan ayahnya mengajak mereka semua ke sana sambil bersepeda. Ada foto ayah serta ibunya di bawah pohon. Dan yang menarik perhatiannya adalah foto kelulusan kakaknya yang nampak dibingkai paling besar di antara yang lain.

“Apa anak nakal itu masih hidup?” Yesung menoleh ke belakang. Ayahnya datang membawa dua gelas teh lantas duduk dilantai, menyilakan kedua kakinya.

“Dia benar-benar anak durhaka. Menelpon saja tidak pernah.”

Yesung tahu ayahnya hanya bercanda. Bagaimana pun ayahnya kerap menjelek-jelekkan Leeteuk, kenyataannya, kakaknya itu yang akan dicari pertama kali saat membuka mata. Yesung bahkan ingat bagaimana ia pernah cemburu karena ayahnya hanya mencari keberadaan kakaknya, bukan dirinya. Tapi kakaknya itu tak begitu suka diperlakukan demikian. Dan itu juga menjadi salah satu alasan bagi kakaknya untuk pindah jauh ke luar negeri. Ia ingin membuat ayahnya sadar bahwa ia sudah dewasa dan tidak perlu dimanja lagi.

“Leeteuk hyung masih hidup dan dia sangat sehat.”

“Kalaupun dia sudah mati aku tidak akan peduli.”

Yesung hanya tersenyum kecil. Andai bisa, ia pasti akan menyeret kakaknya kemari. Ia penasaran apa yang akan terjadi antara kakak dan ayahnya jika ia berhasil melakukannya. Pasti sangat aneh dimana ayahnya begitu ingin memeluk tapi tertahan oleh gengsi. Sedangkan kakaknya yang memang tidak suka dimanja akan berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk ayahnya sekalipun ia juga rindu.

“Lupakan. Aku lebih penasaran dengan istrimu. Apa yang ada dikepalamu saat ingin menikahinya? Berapa usiamu, huh?”

“Appa, kita sudah membicarakan ini ditelepon dan appa sudah setuju.”

“Aku tidak lupa. Aku hanya ingin memastikan. Apa akau yakin dengan keputusanmu?”

“Sudah sampai disini, sangat aneh appa masih bertanya seperti itu. Appa sama saja dengan Leeteuk hyung yang sempat menanyakan keyakinanku saat aku sudah ada di gereja.”

“Dia sepemikiran denganku?” Yesung bisa merasakan bahwa ayahnya masih cukup bangga dengan kesamaan tak penting itu. Ia pun segera mengubah topik pembicaraan. Tak jauh melenceng. Masih seputar Jeany, tapi kali ini tentang awal pertemuan serta bagaimana ia begitu sulit mendapatkan restu dari Mr.Hanks.

“Wow, aku tidak percaya itu keluar dari mulut anakku yang dulu menangis karena ditinggal oleh kakaknya.”

“Appa….berhenti mengingatkanku akan hal itu.”

Ayahnya tertawa keras sekali. Yesung sendiri tak yakin apa yang sebenarnya membuat ayahnya itu sampai terpingkal-pingkal. Tidak ada yang lucu. Hingga pada akhirnya, seperti biasa ia harus kembali mengubah topik pembicaraan jika tidak ingin ayahnya akan bicara yang tidak-tidak.

“Besok aku akan mengajak Jeany ke makam Eomma.”

Ayahnya diam. Meneguk tehnya kemudian tersenyum.

“Aku tidak akan ikut.”

“Aku tahu.”

Segera setelah percakapan itu, suasana berubah beku. Yesung sadar sudah salah memilih arah pembicaraan. Tapi sudah terlambat untuk membangun keceriaan seperti sebelumnya atau sekedar melupakannya. Kalau sudah begini, ia hanya bisa menunggu. Menunggu ayahnya pergi atau ia sendiri yang akhirnya akan pergi menyusul Jeany.

“Aku tahu aku bukan orang yang bisa bicara dengan bijak.”

Yesung melirik sekilas pada ayahnya yang tiba-tiba saja angkat bicara.

“Kau pasti tertawa kalau mendengarnya. Tapi…….”

“Ne?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakan saja.”

Yesung menunggu dalam diam. Sesekali dihirupnya teh yang sudah menghangat itu. Kali ini ia tak bisa menebak arah pembicaraan ayahnya.

“Aku, hanya jatuh cinta satu kali dan menikah satu kali. Itu prinsipku. Saat pertama kali melihat ibumu, aku tak memikirkan apa-apa selain menikahinya. Kami saat itu juga masih sangat muda. Penuh gairah, semangat dan tidak peduli dengan hal lain.”

Yesung sudah tahu akan cerita itu. Tapi ia tetap mendengarkan.

“Tapi menyatukan dua orang berbeda bukan perkara mudah. Kau bisa mengatakan kau dan Jeany punya banyak kesamaan, tapi tidak ada orang yang benar-benar sama di dunia ini. Aku tidak sedang menakutimu. Aku hanya berharap apa yang kau lakukan ini bukan ide sepintas yang muncul di kepalamu yang besar itu tanpa dasar yang jelas. Pernikahan bukan tentang kebahagiaan saja, tapi juga kesedihan dan luka. Kesabaran kalian akan sama-sama diuji.”

Yesung memperbaiki duduknya. Ia tahu kekhawatiran ayahnya. Apalagi ia sudah mengambil langkah begitu berani sendirian. Tapi kalimat terakhir ayahnya justru menggelitik. Kesabaran? Ia rasa ia sudah mahir menghadapi sikap Jeany yang suka berubah-ubah.

“Aku memang menikahinya karena tiba-tiba saja ide itu muncul dikepalaku. Tapi setelah kami mengucapkan janji dihadapan Tuhan, aku akhirnya tahu bahwa memang inilah yang kuinginkan. Aku tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya.”

“Aku lega mendengarnya langsung darimu. Jadi, jangan pernah kecewakan Jeany. Dia gadis yang baik. Tapi….”

Ayahnya jadi lebih serius setelah sebelumnya nampak santai. Mau tak mau Yesung ikut serius mendengarkan.

“Untuk urusan tanggung jawab dan yang lainnya, kurasa itu akan muncul dengan sendirinya seiring dengan waktu. Tapi satu hal yang paling penting.”

Tanpa sadar jarak tubuh mereka makin dekat, ayahnya berbisik. “Jaga cinta kalian baik-baik. Jika terjadi sesuatu, ingatlah bahwa kau mencintainya. Buat setiap hari seolah-olah kalian adalah pengantin baru.”

Yesung tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Ada bagusnya ia duduk berlama-lama disini. Dan memang ia patut menjadikan ayahnya sebagai contoh yang masih setia dengan ibunya sekalipun ibunya sudah meninggal. Sekalipun diluar sana ia tahu ada seorang wanita yang menyukai ayahnya.

“Kau juga harus banyak mengajarinya. Aku tidak mungkin lagi menjabat tangannya seperti tadi.”

Yesung terkekeh. Ya, meski Jeany memilki separuh darah Korea, nyatanya semua yang ada pada dirinya sangat berbeda.

“Eropa, Asia. Aku juga tidak mungkin mengucapkan good morning padanya setiap pagi. Dan…..ah! kau harus segera memberiku cucu!”

“Untuk itu, appa tidak perlu khawatir. Kami sudah sepakat untuk tidak menundanya.”

****

Seperti janjinya, Yesung membawa Jeany ke makam ibunya di Shindaebang-dong. Menggunakan kereta, mereka menempuh setengah jam perjalanan. Ayahnya memang tidak ikut. Yesung tahu itu. Ayahnya tak pernah sekalipun ingin mengunjungi ibunya. Ia sendiri tak pernah menanyakan kenapa. Ia takut itu akan menyakitinya. Tapi dari pengamatannya, mungkin ayahnya hanya tak mau mengingat bahwa orang yang paling ia cintai sudah tidak ada.

“Kau serius? Appa belum pernah kemari? Harusnya kau membantu Appa supaya bisa menerima kenyataan.”

“Ah, percuma. Appa lebih keras kepala lagi dibanding denganku dan juga Leeteuk hyung.”

“Tapi eomma pasti sedih karena tidak pernah dikunjungi oleh suaminya. Aku akan mencekik dan menghantuimu kalau aku mati lebih dulu dan kau tidak pernah datang ke makamku.”

“Memangnya aku akan mengijinkanmu mati lebih dulu?”

Jeany nyaris menimpali perlawanan suaminya kalau saja tak sadar bahwa mereka masih berada di area pemakaman dan rasanya sangat mengerikan jika membicarakan kematian. Ia pun mengajak Yesung segera pulang. Mereka sudah cukup lama berada disana.

Diperjalanan, mereka singgah di rumah makan langganan Yesung dimasa lalu. Pemiliknya berasal dari China. Yesung terbiasa memanggilnya Gege. Pria itu lebih tua dari kakaknya, tapi ia tak pernah melihatnya semakin tua sejak pertama kali mengenalnya. Tadinya ia ragu masih menemukan tempat itu karena melihat begitu banyak perubahan yang terjadi. Semuanya berubah terlalu banyak. Bahkan ia sempat berpikir ia berada di tempat yang salah sampai akhirnya sipemilik rumah makan itu menyapanya.

“Yesung? Yesung sikepala besar?”

Jeany tertawa. Pria bertubuh tinggi itu memandangnya bingung.

“Ah, maaf. Aku Jeany.” Jeany mengulurkan tangannya. Kebiasaannya belum juga hilang. Untungnya pria itu mengerti dan tanpa ragu membalasnya.

“Hangeng, atau kau bisa memanggilku Gege.” Hangeng beralih pada Yesung. “Jadi? Kapan kau kembali dari Liverpool? Bagaimana kabar Leeteuk? Dan…………siapa gadis ini? Aksennya sedikit berbeda.”

Dengan bangga Yesung menarik pinggul Jeany lalu menjawab, “Dia Jeany, istriku.”

“Mwo?????? Kau…….sudah menikah?”

Percakapan mereka berlanjut hingga waktu makan siang. Jeany yang untungnya sudah cukup bisa berbahasa Korea tidak kesulitan bergabung. Sesekali ia menimpali dan membuat Hangeng tertawa. Jeany juga cukup terhibur setelah mendengar cerita keduanya. Termasuk saat Hangeng mengatakan bahwa ia baru saja merekrut pelayan baru hanya karena kasihan, padahal ia sudah kelebihan pekerja. Menurut Yesung, Hangeng adalah orang yang begitu mudah tersentuh hatinya. Melihat kucing mengeong di pinggir jalan, mungkin ia akan memungutnya atau dibawa ke dokter hewan.

Sejenak Jeany tak mendengarkan mereka lagi. Ia memandang keluar. Sejak kecil, ibunya memang sudah mengajarkannya Hangul dan tata cara serta budaya di Korea. Hanya saja, baru kali Jeany benar-benar merasakan atmosfernya. Ia perhatikan kegiatan serta kebiasaan orang-orang diluar sana. Semua nampak sibuk berjalan kaki. Gaya rambut para pria yang sedikit panjang seperti sebuah trend. Tak sengaja pula matanya melihat pada papan iklan di depan rumah makan Hangeng yang begitu besar ukurannya. Memperlihatkan segerombolan pria dengan model rambut serta style pakaian yang membuatnya geleng-geleng kepala.

Ia adalah orang yang cukup pandai beradaptasi dalam suasana baru. Meski separuh hidupnya lebih banyak dihabiskan dengan buku serta perpustakaan, ia punya hubungan sosial yang bagus. Tapi kali ini, ia rasa semua tak semudah yang dilihat. Ia terbiasa dengan kehidupan bebas, sebagai seorang mahasiswa yang punya banyak teman dan bisa melakukan apapun. Sekarang, ia berada di negeri orang –begitu ia masih menyebutnya- dengan segala budaya serta tata cara hidup yang jauh berbeda. Ia terbiasa memanggil seseorang dengan menyebut nama, sedangkan disini, ia harus lebih sopan terutama pada orang yang lebih tua. Entah sudah berapa kali ia membungkuk hari ini hanya untuk berkenalan dengan orang-orang disekitar suaminya. Dan satu lagi, selain masalah itu, tentu yang paling penting adalah soal ia dan suaminya. Masih janggal rasanya ia menyebut kata suami melalui lidahnya. Kadang ia masih terheran-heran dan tak habis pikir bahwa ada seseorang tidur di sebelahnya, bahwa ada yang menciumnya sebelum tidur serta saat bangun. Ada yang menggandeng tangannya seperti saat ini.

“Kau tampak sedang berpikir.” Yesung memulai percakapan saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sambil mencari taksi, mereka berjalan kaki. Suasananya masih cukup ramai. Jeany juga mencium aroma makanan yang tak begitu enak. Sama seperti saat tadi Hangeng menyajikan Gejang, ia rasa ia akan menemukan kendala dalam hal lidah dan perut. Korea memang terkenal dengan makanannya yang unik serta baik bagi kesehatan, tapi jujur saja, ia benci makanan mentah seperti pilihan Hangeng tadi. Ibunya juga kerap memasak masakan Korea, tapi masih berada dalam tahap wajar untuk lidahnya.

“Aku masih tak percaya aku ada disini. Di Seoul, Korea Selatan denganmu.”

“Sudah berapa kali kau mengatakan itu? Ini kenyataan, ini kehidupan kita.” Yesung tertawa kecil, merangkul mesra istrinya.

“Mungkin aku butuh lebih banyak waktu untuk beradaptasi. Bisa kau membantuku?”

“Apa bayarannya? Tidak ada yang gratis disini.”

Jeany membalas pelukan Yesung lebih erat. Tanpa perlu dijawab, suaminya tahu apa bayaran yang setimpal yang mungkin akan mulai diterima begitu mereka tiba di kamar malam ini. Merekapun melanjutkan perjalanan tanpa memperhatikan apakah ada taksi atau tidak. Sepertinya tak masalah mereka harus berjalan kaki. Anggaplah nostalgia pada masa mereka harus bersembunyi dibalik penglihatan Mr.Hanks. Mereka juga ingin memuaskan diri sebelum memulai perjuangan mereka esok hari. Mereka sepakat untuk sama-sama mencari pekerjaan mulai besok.

Yesung menyiapkan rekaman suaranya, lagu-lagu hasil ciptaannya dan juga kesiapan mentalnya untuk mengikuti audisi. Sedangkan Jeany menyiapkan diri untuk melamar ke berbagai stasiun televisi sebagai reporter. Ayah Yesung pun tidak tinggal diam. Ia menghubungi teman-temannya semasa sekolah yang kini sudah sukses dan bertanya apakah ada lowongan untuk anak serta menantunya. Sayangnya, belum ada yang memberi kabar baik.

Awan mendung masih menutupi keduanya. Senyum yang mereka ukir dipagi hari akan lenyap diganti oleh tekukan tak bersahabat ketika pulang dimalam hari. Jeany sendiri tak habis pikir kenapa ia terus ditolak dengan pengalaman dan kemampuan yang ia miliki. Ia cukup percaya diri dengan apa yang ia punya. Bahkan dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, ia yakin ia lebih bagus dibanding reporter lain. Sayangnya rata-rata menolak karena alasan tak masuk akal.

“Kau sudah menikah. Kurasa kami tak bisa menerimamu.”

Selalu seperti itu yang ia dengar. Yesung pun demikian. Jeany terkejut saat suaminya itu menceritakan bahwa agensi menolaknya hanya karena ia sudah menikah dan tidak muda lagi. Ia memang masih dua puluh tiga tahun, tapi untuk ukuran seorang penyanyi pendatang baru, ia tak pantas lagi. Ia sempat ditawari untuk memanipulasi data dirinya. Berstatus single dengan usia dua tahun lebih muda, salah satu agensi yang cukup besar sempat ingin menariknya untuk menjalani traine selama tiga bulan, tapi Yesung menolaknya tanpa perlu berpikir dua kali. Meski demi kebaikan, ia tak mau menyembunyikan apapun termasuk statusnya.

“Apakah semuanya berjalan seperti itu disini? Bukankah yang terpenting itu kualitasnya?”

Yesung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. “Itu bukan hal baru lagi. Ada banyak hal berbeda disini. Dan apa yang kita alami ini adalah salah satunya.”

Yesung duduk menyilakan dua kakinya, menarik Jeany untuk duduk disebelahnya. “Kualitas bisa dicari, bisa diasah. Tapi yang terpenting adalah kesediaanmu untuk menahan diri. Bagi artis laki-laki, menikah adalah sesuatu yang terlarang selagi ia masih aktif.”

“Sangat aneh.”

“Tapi kau tenang saja. Aku akan berusaha menemukan tempat yang mau menerimaku. Siapa yang bisa menolak pesonaku? Seorang Jeany Hanks dan ayahnya saja bisa kukalahkan.”

Esok harinya mereka kembali melakukan rutinitas yang sama. Bangun pagi, Jeany membuat sarapan bersama ayah mertuanya, lalu pergi dengan Yesung hingga malam hari. Kegiatan itu dilakukan selama satu bulan lebih dan mereka belum akan berhenti sampai mendapatkan pekerjaan.

“Aku lapar.” Jeany mengusap perutnya. Ia dan Yesung duduk di ruang tunggu sebuah stasiun televisi khusus berita. Kemarin Jeany mendapat panggilan untuk melakukan interview siang ini.

Jika sebelumnya mereka masih bisa membeli makan siang ditengah kegiatan mereka mencari pekerjaan, tidak untuk hari ini. Setelah satu bulan lebih, tabungan Yesung semakin menipis dan ia tak punya uang untuk makan siang lagi.

“Maaf. Setelah ini kita akan langsung pulang dan kau bisa makan sepuasmu.”

Jeany mencoba sabar. Demi interview ini, ia rela menahan laparnya. Hingga akhirnya namanya dipanggil, ia mengusap perutnya, berharap bisa diajak kompromi setidaknya sampai interview selesai.

Yesung pun menunggu di luar dengan berdebar. Ia merasa bersalah karena bahkan tidak bisa membelikan istrinya makan siang. Sangat memalukan. Harusnya, sekarang ia sudah punya pekerjaan tetap. Tapi ia dan istrinya terlalu sibuk dan lupa bahwa persediaan uang mereka pasti akan terus berkurang. Jeany sendiri masih punya tabungan pribadi tapi Yesung bersikeras tidak mau menggunakannya. Ia ingin Jeany tidak mengeluarkan sepeserpun uang pribadinya dan biarkan ia berusaha sendiri sebagai seorang suami.

Minggu lalu, Ia sempat memergoki istrinya yang ingin pergi ke mesin atm untuk mengambil uang. Setelah sempat ribut, akhirnya Jeany setuju untuk tidak menggunakan uangnya dulu. Tapi melihat keadaannya saat ini, ia rasa begitu jahat sudah menahan Jeany untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan uangnya.

Setengah jam berikutnya, ia melihat ke arah lift yang tiba-tiba terbuka dan menampakkan tubuh istrinya. Ia bangkit.

“Bagaimana?”

Jeany keluar dari lift, wajahnya tak begitu bersahabat dan tidak seyakin saat ia masuk tadi.

“Kau diterima?”

Jeany hanya diam. Menundukkan kepala tanpa semangat. Dari ekspresi yang ditunjukkan Jeany, sepertinya ia tahu hasilnya. Yesung segera memeluk istrinya itu dengan hangat. Ia tahu ini pasti sangat berat, apalagi mengingat Jeany sudah menerima banyak penolakan pada percobaan sebelumnya.

“It’s ok. Kita coba lagi ke tempat lain.”

Namun, Jeany tiba-tiba mencium pipinya, merangkul lehernya hingga wajah mereka nyaris tak berjarak.

“Aku diterima.”

“He?”

Sekali lagi Jeany mengecup pipinya kemudian mengulang perkataan sebelumnya. “Aku diterima.”

“Mwo?? Kau serius? Kau diterima?”

“Yes, aku diterima dan bisa mulai bekerja besok,” terang Jeany dengan wajah berbinar. Yesung langsung mengangkat tubuhnya, berputar-putar ditengah keramaian.

“Thanks God. Aku pikir kau ditolak. Berani sekali kau mengerjaiku?”

“Aku sendiri masih tidak yakin. Jadi aku perlu memelukmu dulu untuk meyakinkan diriku sendiri. Dan ternyata, aku tidak sedang bermimpi. Kau tahu tanggapan mereka? Mereka mengatakan aku sangat berbakat dan sangat sesuai dengan kriteria mereka.”

“Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Ah, tapi…mereka tidak mengajukan syarat apa-apa?”

Jeany yang sudah hendak mendorong pintu seketika berhenti. Lalu kemudian berjalan lagi, menggandeng tangan Yesung dengan kuat.

“Tidak ada syarat apapun. Mereka menerimaku karena kemampuanku.”

“Benarkah? Kalau begitu kita harus merayakan ini.”

Entah perayaan bagaimana yang ada dikepala Yesung sedangkan didalam dompetnya tidak ada uang sama sekali. Ia juga bisa mendengar suara rengekan pasukan yang ada disalam perut istrinya. Hingga mereka tiba di depan rumah makan Hangeng, barulah Jeany tahu perayaan macam apa yang mereka lakukan.

“Gege, kau harus memberi kami makanan gratis hari ini.”

*****

Casey berjalan disisi kiri jalan dengan lunglai. Ia tahu siapa yang baru saja dilihatnya. Wajahnya hanya mengalami sedikit perubahan. Meski matanya mulai minus, ia belum buta. Dan meski kondisinya sedang gelap, ia yakin tidak salah menebak.

Sejenak ia berhenti. Menatap ke dalam café miliknya dimana pengunjung semakin banyak berdatangan dan memandang ke atas podium. Dipandangnya wajah Yesung yang begitu sumringah dan nampak semangat bercerita. Sudah lama ia tak melihat senyum itu. Senyum yang datang tanpa paksaan dan tulus. Jika ia mengatakan apa yang ia lihat barusan, apakah senyum itu masih ada? Ia membuka pintu, duduk di tempat semula lalu kembali melihat ke depan.

“Ada apa? Siapa yang kau kejar?” Marcus memberondongnya dengan pertanyaan. Tapi ia tak menjawabnya. Ia lebih tertarik dengan perkataan Yesung pada pengunjung.

“Saat itu kami disebut-sebut sebagai pasangan muda yang penuh gairah. Kami selalu bersama. Kami terlalu bersemangat seakan tidak ada tempat bagi orang lain. Kami mencari pekerjaan bersama-sama, saling mendukung, saling menguatkan jika hasil yang kami dapat tidak sesuai harapan. Ayahku sampai mengatakan bahwa ia jadi teringat dengan Ibuku karena melihat kebersamaan kami.”

“Semua nampak baik-baik saja sampai saat ini.”

Yesung menunduk sebentar. Memang semuanya nampak baik-baik saja. ia pun saat itu berpikir demikian. Bahwa selamanya mereka akan seperti itu, hanya terus tertawa. Tapi seperti kata ayahnya. Pernikahan bukan tentang kebahagiaan saja.

Ia dekatkan micnya lalu menarik nafas. “Ijinkan aku menyanyikan sebuah lagu untuk kalian sebelum aku melanjutkannya. Aku memilki lagu yang kubuat khusus untuknya. Dan andai sekarang ia ada disini, aku harap ia bisa mendengarnya.”

Ia memberi kode pada Donghae yang kemudian langsung mengambil tempat di sebelah kanannya, siap memetik gitar.

Musikpun mulai mengalun. Yesung memejamkan matanya lama. Meresapi tiap petikan gitar Donghae. Ia ingin mengingat sesuatu sebelum tiba pada bagian dimana kebersamaan itu tidak lagi ada.

We used to love during the many days we were together We used to hurt together- making each other’s pain our own

Where are you? Can’t you hear my voice?

My pained heart is looking for you Is calling out to you- crazily

My heart, my tears, my memories of you Drop by drop, they are falling against my chest Though I cry and I cry, the memories won’t erase And again today, I drench my empty heart

We used to like each other- you laughed at my smile We used to cry together- you were pained by my tears

Where are you? Can’t you see my tired body?

My pained heart is looking for you Is calling out to you – crazily

My heart, my tears, my memories of you Drop by drop, they are falling against my chest Though I cry and I cry, the memories won’t erase And again today, I drench my empty heart

Please come back to me- I call out your name every night And in my exhausted waiting, I wander around and look for you

My love, my tears, our memories Drop by drop, they are falling against my chest Though I cry and I cry, the memories won’t erase And again today, I drench my empty heart

Casey menghela nafas. Tanpa ia beritahu, sepertinya senyum itu akan pudar dengan sendirinya.

***

“Istrimu belum pulang?”

Yesung duduk di ruang tengah sambil terus mengganti channel televisi. Siaran istrinya baru saja usai, maka sekarang ia tidak tahu harus menonton acara yang mana.

“Yesung, aku bertanya padamu.”

“Ah, Appa menanyakan sesuatu?”

Ayahnya menggeleng, kemudian duduk di dekatnya sambil menyodorkan segelas teh. Dari helaaan nafasnya, sepertinya Yesung tahu apa yang akan disampaikan.

“Sudah cukup larut. Dan sebenarnya aku kurang nyaman jika istrimu terus pulang lebih dari jam ini. Kenapa kau tidak menjemputnya? Diluar sana tidak aman.”

“Appa, aku selalu ingin melakukannya, tapi ia selalu melarang. Ia ingin aku fokus pada tujuanku saja dan tidak mau aku terbebani lagi.”

“Hah, kau suaminya, kenapa kau yang diatur olehnya?”

Setelah kepergian ayahnya, Yesung menatap meja makan yang masih penuh dengan banyak makanan. Sebenarnya ia sedang rindu dengan masa-masa awal dulu saat mereka akan duduk bersama dimeja makan dan saling menyuapi. Yesung juga harus mengajari istrinya itu menggunakan sumpit.

Di awal-awal Jeany bekerja, ia masih sempat pulang sore dan mereka akan makan malam bersama, bahkan meski lelah, Jeany tetap memasak. Namun, sejak seminggu ini jam siarannya sudah berubah, salah satunya pindah ke waktu tengah malam. Yesung tahu harusnya ia tetap makan seperti biasa tanpa menunggu Jeany. Tapi ia tidak mau melakukannya. Ia tetap menunggu Jeany pulang agar momen makan malam itu tidak hilang.

Tak lama, ia bisa mendengar suara langkah seseorang yang kemudian membawa Jeany muncul dihadapannya.

“Ah, kau sudah pulang.” Yesung menyambut Jeany. Setelah memeluknya singkat dan mencium keningnya, ia membantu Jeany melepaskan jaket.

“Hari yang berat?”

Jeany nampak lusuh dan lelah. Ia hanya tersenyum kecil lantas berjalan begitu saja melewati meja makan.

“Hey, kau belum makan, kan? Kita makan dulu.”

Jeany berbalik dan berujar singkat. “Aku sudah makan bersama teman-teman di kantor.” Yesung hanya bisa diam sejenak untuk mencerna maksud perkataan itu. Kemarin, saat ia melakukan hal yang sama, Jeany bersedia makan bersamanya. Tapi sekarang istrinya itu terus berjalan menaiki anak tangga hingga terdengar suara pintu yang ditutup agak keras. Ia paham. Sepertinya hari ini Jeany begitu kelelahan dan dalam mood yang tidak bagus. Ia pun merapikan semua makanan yang ada di atas meja terlebih dahulu tanpa menyantapnya. Ia lapar, tapi takkan sama jika ia makan sendirian. Setelah itu ia naik ke atas untuk menemui Jeany.

“Jeany.”

Dilihatnya Jeany sedang melepas pakaian kerjanya untuk diganti menjadi piyama. “Kau tidak mandi dulu?”

“Aku benar-benar lelah.”

“Setidaknya kau mencuci mukamu. Kau tampak buruk sekali.”

“Apa maksudmu tampak buruk?”

Yesung terdiam beberapa saat. Jeany berbalik cepat sambil memandangnya tak terima. Aneh.

“Kenapa tiba-tiba kau marah? Aku hanya…”

“Fine! aku akan mencuci muka.”

Yesung hanya diam melihat istrinya itu pergi ke kamar mandi lalu tak lama kembali tanpa menatapnya. “Hey, sebenarnya apa yang terjadi?”

Jeany berhenti melangkah, menghela nafas lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop coklat ia lemparkan yang langsung ditangkap oleh Yesung.

“Apa ini?”

“Itu adalah gaji pertamaku. Aku ingin besok kau mencari apartemen untuk kita.”

Jeany sudah melempar tubuhnya ke atas tempat tidur sebelum Yesung merespon.

“Jeany, sebenarnya aku ingin mengatakan padamu bahwa sebaiknya kita tinggal disini lebih lama. Aku tak tega melihat appa sendirian.”

“Lalu bagaimana denganku? Jarak dari sini ke kantorku cukup jauh. Aku ingin kita mencari apartemen yang lebih dekat.”

“Tapi appa………..”

“Appa sudah menjalaninya bertahun-tahun tanpa kau dan juga Dennis. Kenapa kau harus khawatir jika kita hanya pindah rumah dan bukan meninggalkannya?”

Cara Jeany mengatakannya, mengingatkannya ke masa saat ia pertama kali mengenal gadis itu. Jeany terus bicara dan tidak mau mengalah. Ia pun mengambil tempat tepat di sebelah kirinya. Ia merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuh istrinya mendekat. Jari-jari mereka bertautan erat. Yesung menyingkirkan helaian rambut Jeany yang basah sehabis mencuci muka tadi. Ia lalu mengelus pipinya, membuat Jeany yang semula tampak emosi kini mulai melunak. Jeany menahan tangannya, membiarkannya terus ada dipipinya.

“Sepertinya ada yang sedang datang bulan,” kelakar Yesung dengan hati-hati. Antisipasi kalau ternyata candaannya justru memperkeruh suasana.

“Berhenti menganggapku sedang melucu!”

Benar, kan? Yesung refleks membungkam mulutnya dengan satu ciuman.

“Kalau begitu pasti ada masalah. Katakan saja.”

“Tidak ada. Aku hanya…………”

“Kau bisa mengatakannya padaku. Katakanlah.”

“Tidak ada. Aku hanya terlalu lelah. Pekerjaan ini lebih berat dari yang kubayangkan. Sulit bagiku untuk beradaptasi.”

Yesung mengangguk paham. Pasti sangat susah bagi Jeany untuk berbaur dengan situasi. Hanya dengan modal bisa bicara dengan yang lain, bukan berarti semua berjalan lancar. Mungkin ada hal-hal yang masih tak bisa diterima oleh Jeany.

“Dengar, mungkin terlalu mudah untuk kukatakan. Tapi aku yakin kau pasti bisa melaluinya.”

Yesung mengecup keningnya. Untuk sejenak, ia bisa merasakan bahwa Jeany yang tidak biasa selama beberapa menit ke belakang sudah kembali seperti semula.

“Dan untuk apartemen, aku setuju. Besok aku akan mencari apartemen yang dekat dengan kantormu.”

“Benarkah?”

Yesung mengangguk. Memangnya…….bagaimana mungkin ia bisa menolak? Berani melakukannya seperti menyerahkan leher ke mulut singa. Ia baru menyadari itu belakangan ini. Ia tahu Jeany temperamental dan mood buruk itu bisa berubah kapanpun, ia sudah merasakannya jauh sebelum mereka menikah. Tapi belakangan ini adalah yang terburuk. Dan sejujurnya ia tak begitu suka. Tapi ia belum merasa tepat untuk menegurnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia mengantar Jeany ke kantor dengan taksi. Seperti biasa, ia tak diperbolehkan turun apalagi memberikan ciuman selamat pagi di pinggir jalan seperti pasangan lain. Dari balik jendela, ia hanya bisa melambai dan menyemangati istrinya. Setelah itu, barulah ia berpetualang dengan kedua kakinya untuk mencari apartemen.

Sebenarnya, ia masih penasaran kenapa Jeany tidak pernah ingin ia mengantar atau menjemputnya secara langsung di kantor. Jeany beralasan tak mau merepotkan, tapi ditelinganya terdengar seperti ia dilarang keras untuk muncul ke permukaan. Pasti ada alasannya dan ia sudah malas menanyakannya lagi pada Jeany. Jawabannya tak pernah berubah.

Dulu, Jeany begitu bangga jika ia menggamit pinggangnya di depan semua orang. Tapi sekarang, jangankan untuk itu, untuk waktu makan malam saja mereka sudah sulit mendapatkannya, apalagi pergi berdua untuk pamer kemesraan. Pagi-pagi mereka sama-sama pergi. Jeany bekerja sedangkan ia baru mencari pekerjaan itu sambil terus mendatangi berbagai macam agensi yang mungkin mau menerimanya. Ia akan pulang sore hari, sedangkan Jeany baru akan pulang tengah malam.

“Bagaimana tuan? Anda menyukainya?”

Ia tersentak. Sejenak mengelilingi apartemen ke empat yang ia datangi hari ini. Sepintas ia menyukainya. Tidak terlalu mewah, tidak juga buruk. Dan selain lokasinya yang hanya berjarak dua ratus meter dari kantor Jeany, harganya juga terjangkau. Ia tahu Jeany punya gaji yang cukup untuk membayarnya. Tapi hanya untuk kali ini ia akan menggunakannya. Dibulan-bulan berikutnya, ia akan menggunakan uangnya sendiri. “Baiklah, aku ambil tempat ini.”

Tinggal di apartemen memang merupakan rencana mereka sejak awal. Namun, sebenarnya Yesung berubah pikiran begitu tinggal dengan ayahnya. Ia baru sadar ayahnya tak lagi muda. Bukan cuma dilihat dari kepalanya yang begitu lapang dengan hanya beberapa helai rambut saja, tapi juga dari tindak tanduknya. Jika terlalu lama duduk, ayahnya akan kesulitan untuk bergerak lagi dan butuh beberapa menit untuk menghilangkan nyerinya. Ayahnya juga masih suka tidak teratur untuk urusan makan. Tadinya ia tak masalah karena memang begitulah sifat ayahnya. Tapi sekarang ia tahu bahwa semua itu akan berdampak pada kesehatannya. Ayahnya tidak lagi bugar meski tetap ceria seperti biasa.

Itu yang membuatnya ragu untuk pindah. Namun, ia juga tak mungkin menolak kemauan Jeany ataupun menundanya hingga waktu yang tepat. Karena ia sendiri juga tak tahu kapan tepatnya waktu itu akan datang. Semakin lama, mungkin ia akan semakin tidak mau pindah.

Pertama kali ia mengutarakan keinginannya itu, seperti tebakannya, ayahnya tampak tak suka sekalipun tetap tersenyum. Dibalik kalimat, ‘itu bagus untuk kalian’ yang diberikan padanya, ia tahu ada kesedihan yang disembunyikan. Ayahnya adalah tipe orang yang tidak pandai menunjukan isi hatinya tapi juga tidak pandai menyembunyikannya. Apa yang ia katakan dan rasakan terkadang bertolak belakang. Hal itupun justru menambah rasa bersalahnya sebagai seorang anak.

“Sudahlah, kau jangan berpikir aku akan menangis semalaman seperti dulu saat kau pergi ke Liverpool. Sekarang kau hanya pergi ke Myeongdong. Aku bisa mengunjungimu kapan saja.”

“Memangnya dulu Appa menangis?”

“Memangnya aku belum mengatakannya?”

Ayahnya juga sangat pelupa. Satu minggu pertama ia tinggal disini, hampir setiap hari ayahnya akan mengulang cerita yang sama seakan ia belum pernah mendengarnya. Dan ia pasti akan merindukan saat-saat seperti itu setelah pindah nanti.

*****

“Jadi kau sudah pindah ke apartemen?” Yesung mengangguk seakan Casey bisa melihatnya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak jelas. Setelah setengah hari memasuki berbagai tempat untuk melamar pekerjaan, ia lelah lalu menghubungi Casey. Ini adalah perbincangan pertama mereka setelah hampir tiga bulan berpisah.

“Aku belum juga mendapat pekerjaan. Aku mulai khawatir kalau bulan depan lagi-lagi Jeany harus membuka kantongnya untuk keperluan kami sehari-hari.”

“Memangnya kenapa? Selama Jeany tak masalah dan dia mengerti kondisimu, tak ada yang salah.”

“Tapi aku malu. Aku sudah berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Dan kau lihat hasilnya? Selama ini dia yang mengeluarkan uang, bukan aku. Aku benar-benar bingung.”

“God, apa aku sedang berbicara dengan Jerome alias Yesung? Seorang Yesung sedang stress?”

Yesung menyesal sudah menelpon Casey. Bukannya merasa lebih baik. Ia malah merasa semakin buruk.

“Kau tidak akan bisa menertawakanku lagi jika kau ada diposisiku saat ini.”

“Bukan. Maksudku….kau adalah Yesung. Aku mengenalmu lebih dari siapapun dan kau tidak pernah sekhawatir ini.”

Yesung menghela nafas sambil mengeluarkan koin untuk mesin minuman. Omongan Casey memang ada benarnya. Ia selalu santai dan cuek selama ini. Tapi sekarang, tepatnya setelah memiliki Jeany, banyak hal yang berubah pada dirinya.

“Kurasa rasa tanggung jawab itu muncul dengan sendirinya karena aku tak mau menyakiti Jeany.”

“Ah, dan sekarang kau berkata seperti seorang pujangga. Aku jadi penasaran rasanya jatuh cinta. Seindah itukah? Lalu apa gunanya menikah? Kau sudah tahu jawabannya?”

Ingin rasanya Yesung menutup mulut Casey dengan sepatunya. Pria itu benar-benar tak pernah berpikir sebelum bertanya. Ia tak menjawabnya. Ia berhenti sejenak untuk meminum colanya. Tak dihiraukannya Casey yang terus berceloteh diujung sana. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara kakaknya, ia tertarik mendengar.

“Kau bersama Leeteuk hyung?”

“Dennis memang bersamaku. Apa kau perlu tahu soal itu? Ah, tapi Dennis juga aneh akhir-akhir ini. Dia terus menanyakanmu. Apakah kau sudah menelponku atau belum. Apa kalian tidak punya nomor handphone masing-masing?”

Yesung tersenyum mendengarnya. Ia bisa mendengar suasananya menjadi gaduh seakan kakaknya tak terima Casey berkata seperti itu. Tak lama, suara Casey pun berubah.

“Yesung! Jangan percaya apapun perkataan Casey. Aku tak pernah menanyakanmu. Dia hanya mengarang cerita dan aku-“

“Aku juga merindukanmu, hyung…”

“What??”

Yesung terkekeh geli. Setelah sekian lama tinggal diluar negeri, ia yakin kakaknya belum kehilangan seratus persen jati diri sebagai seorang Korea. Bahkan jika bisa, ia akan mengatakan ‘saranghae’ padanya. Tapi mengingat bagaimana hubungan mereka yang cukup kaku dan bagaimana selama ini hanya ia yang begitu ingin tinggal dengan kakaknya, ia mengurungkan niat tersebut.

“Sebaiknya kau menelpon appa. Aku rasa ada banyak hal yang bisa kalian bicarakan.”

“Aku…..aku….ah, aku harus pergi.”

Setelahnya, ia bisa mendengar tawa Casey yang membahana seakan mengejek kakaknya. Ia pun menutup sambungan telepon. Matanya tertuju pada sebuah café yang ada di hadapannya. Ada kertas yang menempel pada kaca pintu. Disitu tertulis bahwa café tersebut sedang mencari seorang penyanyi. Sejenak ia memandang tulisan itu dengan serius. Jika kemampuannya tak cukup mampu menarik perhatian para produser, setidaknya ia cukup pantas untuk menghibur beberapa orang. Pasti tidak ada syarat aneh apapun untuk masuk ke dalam tempat ini. Dengan satu tarikan nafas, ia membuka pintu. Berharap keberuntungan menaunginya saat ini.

“Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?” Seorang pelayan wanita menyambutnya dengan sopan. Yesung menunjuk kertas pengumuman didepan lalu dengan cepat pelayan itu mengerti maksudnya. Ia dibawa ke sebuah ruangan dimana ternyata ada beberapa orang pria dan wanita disana. Pelayan itu menuntunnya dengan baik. Ia menyuruh Yesung untuk mengisi biodata lengkap terlebih dahulu lalu duduk menunggu giliran untuk dipanggil. Setelahnya, ia pergi.

“Park Jong woon.” Yesung berdiri. Menyerahkan biodata kemudian bermaksud memperkenalkan diri secara langsung. Tapi belum juga dilakukan, pria bertubuh besar yang duduk di hadapannya menyela dengan cepat.

“To the point. Biarkan aku mendengar suaramu.”

Yesung menghembuskan nafasnya. Sebenarnya ia tak menyiapkan apa-apa. Ia tadi hanya tak sengaja lewat. Tapi jika ini adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki, ia tak akan menyia-nyiakannya.

Ia pun mulai bernyanyi. Adalah lagu ciptaannya sendiri yang ia tampilkan. Namun, hanya sekitar empat kalimat ia ucapkan, pria itu sudah menyuruhnya berhenti. Ia bisa mendengar suara gaduh dibelakangnya seakan menertawakannya.

“Tuan, aku belum selesai.”

“Tidak perlu. Kau diterima dan kau bisa menemui Jinhye yang ada di dalam ruangan tepat di sebelah kiri ruangan ini untuk mengurus kontrak serta gajimu.”

“Eh?”

Bukan cuma Yesung yang terpaku. Beberapa orang dibelakangnya tak kalah shock. Baru saat pria itu berdiri dari kursinya, ia sadar bahwa ia tak sedang bermimpi.

“Tuan! Kau….kau serius?”

Pria itu tak menjawab, terus berjalan hingga tak terlihat lagi. Yesung segera keluar menemui wanita yang disebutkan tadi. Semua berjalan cepat dan ia keluar dari tempat itu dengan senyum lebar. Untuk pertama kalinya sebagai seorang suami, ia bisa pulang membawa kabar baik.

“Tuan!”

Ia berbalik. Pelayan yang tadi menyambutnya memanggil.

“Oh, kau?”

“Maaf, sepertinya handphone anda tertinggal.”

Wanita itu menyerahkan handphonenya dengan sangat sopan. Yesung sampai sulit melihat wajahnya karena terus menunduk.

“Handphone itu tertinggal di ruangan Nyonya Jihye. Ia menyuruhku untuk memberikannya padamu.”

Yesung mengambil handphonenya. Ia sama sekali tak sadar benda itu tertinggal. Untunglah ada wajahnya yang tampan itu terpampang sebagai layar depan, jadi mudah bagi pelayan ini untuk mengembalikannya. Matanya pun melebar kala menemukan ada empat panggilan tak terjawab.

Dan itu dari Jeany!

Segera ia berbalik, menekan tombol hijau untuk menghubungi sang istri.

“Honey? Kau menelponku? Maaf, aku…”

Ia mulai berjalan meninggalkan pelayan itu. Ia lupa. Ia benar-benar lupa bahwa ia belum mengucapkan terima kasih.

***

Tidak ada salahnya melakukan semacam perayaan kecil. Begitu tahu bahwa istrinya akan pulang lebih awal malam ini, Yesung menyiapkan makan malam spesial. Meja makan disulapnya menjadi lebih romantis dengan mengganti tapklaknya menjadi warna merah. Ada dua buah lilin ditengahnya. Ada banyak kelopak bunga mawar yang ia hamburkan di sekitar lilin. Sedang setangkai bunga mawar yang masih utuh dan harum, ia siapkan khusus untuk diberikan pada Jeany nanti. Ia juga membuatkan masakan kesukaan Jeany.

Tak lama, bel pintu berbunyi. Ia harus bergerak cepat karena ia tahu Jeany sedang marah, sebab tidak biasanya ia mengunci pintu. Begitu pintu terbuka, tangannya yang masih bisa menggapai letak sakelar lampu segera mematikannya.

Cup

Ia mendaratkan ciumannya tepat di bibir Jeany dalam cahaya yang terbatas. Jeany terdiam sambil berusaha mencerna situasi,“Yesung? Kau?”

“Terkejut? Ini belum seberapa.” Yesung menuntun istrinya untuk masuk, lalu di dudukkan di kursi.

“Kau…………..”

Yesung tak menjawab apapun pertanyaan Jeany. Ia menyiapkan segalanya termasuk memberikan setangkai bunga mawar untuknya. Ia bersimpuh untuk memberikan bunga itu sampai Jeany tak bergerak karena terkejut. Setelahnya, ia mulai menyiapkan makan malam mereka dengan tidak membiarkan Jeany mengambil semua menu seorang diri.

“Kau pasti lelah seharian ini. Aku juga senang kau mengabariku, jadi aku sempat bersiap-siap.” Dalam cahaya yang remang-remang, wajah Jeany tampak merah. Ia belum paham apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.

“Ok. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau mengatakannya. Kurasa tidak ada yang berulang tahun hari ini.”

“Memang tidak ada.”

“Lalu?”

Yesung meletakkan garpu lalu menghentikan sejenak kesibukannya di atas meja. Ia pandang wajah Jeany yang baginya tetap cantik sekalipun dalam gelap, sekalipun wajah itu mungkin sangat lusuh karena kelelahan.

“Aku minta maaf karena merepotkanmu tiga bulan ini. Kau bekerja sedangkan aku belum bisa memberikan apa-apa.”

“Lalu? Aku tak pernah mempermasalahkannya. Justru aku merasa bersalah karena jarang berada di rumah.”

Yesung meraih tangannya, dielusnya dengan sangat lembut. “Aku diterima bekerja di sebuah café. Mungkin ini tidak sehebat pekerjaanmu dan mungkin bukan menjadi penyanyi seperti impianku. Tapi setidaknya, untuk sementara ini akan berguna dan aku tetap bisa menghibur orang dengan suaraku seperti keinginanku selama ini.”

Jeany membekap mulutnya. “Kau sudah mendapat pekerjaan?”

Yesung mengangguk. Mereka hampir saja berpelukan kalau saja tak ingat ada dua buah lilin yang sipa membakar mereka ditengah-tengah.

“Selamat! Jadi, besok kau mulai bekerja?”

“Aku akan bekerja sejak sore hingga malam. Tapi khusus akhir pekan, aku hanya akan bekerja malam hari. Kau senang?”

“Bahkan jika kau tidak melakukan apa-apa, aku akan tetap senang selama kau ada disisiku.”

Yesung menyeringai. Ia berdiri lantas mendekati kursi istrinya. ”Bahkan jika semalaman ini aku disisimu, kau keberatan?” Wajah mereka begitu dekat. Jeany menyunggingkan senyum tak biasa yang langsung ditanggapi dengan sebuah ciuman oleh Yesung. Mereka berpagutan lembut untuk waktu beberapa lama.

Ada banyak hal yang akan terlupakan jika rasa rindu itu sudah menyeruak keluar. Ada banyak hal yang sepertinya menjadi tidak perlu lagi jika rasa itu unjuk diri. Detak jantung mereka bekerja lebih cepat, nafaspun beradu. Semua bekerja dengan sendirinya tanpa bisa dikendalikan. Seperti mobil yang tak bisa berhenti. Mereka berpacu dengan waktu. Entah bagaimana caranya ruangan itu sudah tak lagi gelap dan mereka bukan berada di depan meja makan.

Yesung mencurahkan kerinduannya dan melakukan tugasnya dengan baik. Tangannya bermain seakan sedang memetik gitar kesayangannya. Mulutnya bekerja seakan sedang bernyanyi untuk menghibur sang istri. Dan ia tidak berencana untuk berhenti, apapun alasannya. Namun, tangan Jeany mendorong dadanya yang sudah tak dilapisi kain penutup.

“Kenapa?”

Lama Jeany tak menjawabnya. Yesung hampir melanjutkannya saat tangan itu kembali menahan.

“Ada apa?”

Jeany berpaling, seperti berusaha keras untuk mengatakan sesuatu.

“Aku tidak tahu. Aku hanya………..lupakan. Lanjutkan saja.”

Jeany sudah siap menarik tengkuk suaminya saat pria itu justru menjauh.

“Kau yakin?”

“It’s ok. Kita bisa melanjutkannya.”

Namun, mulutnya tak bisa sejalan dengan apa yang dirasakan oleh Yesung. Belum beberapa saat, Ia melepaskan diri.

“Ada yang salah denganmu. Kau melakukannya tapi kau tak tampak menginginkannya.”

“Tidak. Aku juga menginginkannya. Hanya saja….”

“Jika kau memang tidak ingin, kau cukup mengatakannya.”

“Maafkan aku. Aku hanya sulit untuk mengosongkan pikiranku. Terlalu banyak yang kupikirkan dan kutakutkan. Aku…”

Yesung bisa merasakan tubuh Jeany sedang dilingkupi ketakutan. Itu bukan pertanda baik, dan ia tak mengerti kenapa. Mereka sering melakukannya dan semua nampak baik-baik saja. Kecuali………..sejak istrinya diterima bekerja. Mereka sudah jarang berhubungan.

Segera Yesung meraih jemari istrinya itu. Ia pegang erat lalu dikecupnya.

“Apa yang kau takutkan?”

Ada yang coba untuk dijelaskan oleh istrinya. Yesung tahu itu. Tapi ia sudah tak sabar menunggu. Jeany terlalu lama berpikir. Ia tidak marah karena ‘kegiatan’ mereka terhenti, itu sudah lumayan bagus.

“Jeany……”

Tak mau menunggu lebih lama, Yesung menarik dagu istrinya itu agar menatapnya.

“Katakan.”

Kali ini ia tak main-main. Ia tegas dan ingin tahu apa yang sebenarnya mengganggu Jeany belakangan ini. Susah payah ini berusaha membuat mala mini sempurna. Ia tak mau semuanya jadi berantakan hanya karena sifat bungkam Jeany yang tak biasa. Mereka selalu mengatakan apapun, tak ada yang disembunyikan antara mereka. Hingga akhirnya, Jeany membuka mulutnya, menelurkan satu kalimat yang cukup membuatnya untuk keluar dari ruangan itu.

“Aku rasa………kita harus menunda rencana kita sebelumnya.”

***TBC***

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Novita Arzhevia
    Jun 26, 2015 @ 09:16:59

    bikin penasaran, , daebakk

    Reply

  2. sssaturnusss
    Apr 30, 2016 @ 00:09:31

    Aku rasa ……….. Aku mempunyai sesuatu keanehan dari Jeany hahaha hmmm tapi emg bener. Aku kaya sedikit curiga sama dia. Aku ngerasanya waktu Yesung berdialog sama ayahnya tentang jam pulang Jeany. Dan yah aku langsung mikir kemana-mana .. Yang aku curigakan adalah. Pertama, Jeany selingkuh!!! Kedua, Jeany nutupin statusnya, yang berarti dia nutupin keberadaan Yesung. Karna tingkah lakunya yang terkadang mendukung buat di curigai -_- dan apa rencana mereka ? Rencana punya anak kah ?
    Btw aku kasihan sama Yesung di part ini .. Ngga di part ini ajh sih, di part sebelumnya jugaa .. Cuma disini tuh berasa dia kecil ajh gitu klo udh di sandingin sama sang istri huhuhu apalagi sikap Jeany yang kadang klo sintingnya keluar kaya gak ngehargai Yesung T_T oke next part😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: