Edelweis

Author : Aryn
Judul : Edelweis
Tag (tokoh/cast) : Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae,
Genre : Romance
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

Edelweis

***

 

And then, I love you.

***

“Tidak secantik mawar atau anggrek memang, tapi bunga ini lambang keabadian.”

Aku menatap paras manis di hadapanku ini. Dia punya suara yang jernih, punya senyum lemah lembut dan punya mata melengkung bagai bulan sabit.

“Hmm, jangan lupa makan ya.”

“Kau sudah mengatakan itu dua belas kali dalam setengah jam terakhir.”

Aku tersenyum kecil, benarkah? Rasanya aku baru mengatakannya satu kali. Aku hanya khawatir ia lupa. Jadi aku akan terus mengingatkan. Aku mengingatkannya sekarang karena tahu bahwa aku tidak akan bisa mengingatkannya sesering dulu. Bahkan hanya untuk makan atau tidur sebelum pukul sebelas.

“Hey, apakah Yuki akan baik-baik saja?”

Dia bertanya dengan suara kecil. Dasar gadis cengeng! Lihat? air matanya mulai menggenang saat aku mencuri pandang ke arahnya. Dia berusaha menahan tangis karena takut aku akan mengejeknya. Tapi kalau dia menangis sekarang, aku berjanji aku tidak akan mengejeknya seperti hari-hari kemarin, sungguh.

“Kau lebih mencemaskan anak anjing dari pada aku?”

Aku melihatnya terkekeh dan ia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Di sekitar kami ramai. Hiruk pikuk ruang tunggu itu terasa menyebalkan bagiku. Sebal karena gadis ini tidak akan kembali ke rumah bersamaku. Ah, dia juga tidak akan menemaniku membeli kue beras dan duduk berlama-lama di tepi sungai han setelah ini. Curang, padahal aku selalu menemaninya kemana pun ia pergi.

“Karena aku tahu kau pasti akan baik-baik saja,” katanya tanpa memandangku. “Kau bilang aku ini cerewet. Kau bilang aku jahil dan menyebalkan. Setelah ini pasti hidupmu lebih tenang tanpaku. Jadi, bukan masalah.”

Masalah.

“Bagaimana kalau aku rindu kau?”

“Kau tidak akan rindu aku.”

Ya. Tidak rindu. Tapi sangat rindu.

Gadis ini telah berada di sisiku belasan tahun lamanya. Dari saat giginya belum utuh kami sudah berteman. Dia telah tidur di kamarku sejak di taman kanak-kanak hingga sekarang. Tidak pernah mempermasalahkan kami yang berbeda jenis atau takut aku akan berbuat macam-macam padanya. Aku juga tidak berniat melakukan apapun, faktanya dia bisa berubah menjadi rubah ekor sembilan setiap kali ia kesal. Hujan badai akan turun kalau dia menangis, jadi lebih baik aku cari aman dengan tidur di sofa setiap kali kedatangannya ke rumah.

“Berhentilah bermain dengan gadis-gadis bodoh itu. Pilihlah satu yang terbaik dan jalin hubungan yang serius. Hati wanita sulit ditebak, sulit dimengerti apa maunya, jadi kuperingatkan kau, Lee Dong-Hae. Berhentilah bermain-main.”

Dia, gadis ini, memang selalu tahu aku sama baiknya seperti ibu.

Tapi sayang, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah perempuan yang selalu ingin kulindungi dalam hidupku setelah ibu.

“Jangan pulang larut malam, kasihan ibumu menunggu.”

“Kau juga menunggu. Kau pulang diam-diam setelah mendengar suara mesin mobilku.”

Dia terkekeh, tapi wajahnya datar. Sama sekali tidak terkejut dengan rahasia kecilnya yang sudah kuketahui sejak lama. Rumah kami berdekatan. Kebun mawar yang dikelilingi pagar kayu rendah yang dicat putih menjadi batasan pekarangan rumah kami. Akau bebas keluar masuk rumahnya, begitu pula dengannya. Kami ini sahabat. Dia sahabat terbaik.

“Tiga bulan terakhir aku merasa kau berubah,” katanya. “Aku ragu mengatakan ini, tapi kau berubah.”

“Aku tidak berubah.”

“Ya, kau jadi lebih sering keluar. Tidak ada di studio musik atau di cafe tempat biasa kita membeli kue. Juga tidak ada di kedai Tteok Bibi Kim di dekat sungai Han. Pokoknya kau tidak ada dimana-mana! Aku kesal mencarimu.”

Aku tersenyum tipis. Ah, aku pasti akan rindu suara nyaringnya ini. Kapan lagi Han Sun-Ae akan mengomeliku? Aku pasti rindu dirinya yang selalu ribut.

“Kenapa kau mencariku?”

Dia menggeleng kaku. “Hanya ingin mencarimu.”

Aku tertawa. “Kenapa mencariku?”

Dia mendengus. “Aku khawatir.”

“Kenapa?”

Dia menyerah. “Kau itu bodoh atau apa? Ya aku khawatir saja. Kau belum pulang padahal sudah pukul sembilan malam, dulu kau berjanji padaku kalau kau akan sampai di rumah sebelum jam sembilan. Tiga bulan terakhir ini kau juga jarang makan malam bersamaku. Jarang keluar bersama dan jarang memberi kabar. Kau jahat sekali, kan? Dasar, tidak sadar lagi!”

Aku tersenyum lebar dan aku memandanginya. Dulu, saat pertama kali aku melihatnya yang berlarian di taman dekat rumah, aku menganggapnya gadis kecil yang bodoh karena pakaiannya yang kotor terkena lumpur. Namun aku sadar bahwa aku sama bodohnya karena aku berdiri tolol dan terus memandanginya tanpa sempat berkedip. Rambutnya yang dikuncir dua dan pipi gembul merah mudanya itu lucu, sekarang dia malah menawan. Menyebalkan.

“Apa kau senyum-senyum?”

Aku tersenyum dan mencubit pipinya. “Kalau mau menangis, menangis saja. Tidak perlu sok kuat begitu. Sini, peluk aku!”

Dia tidak juga bergerak saat aku merentangkan tangan dan menyediakan tubuhku untuk ia peluk. Gadis itu hanya diam di tempatnya dan memandang wajahku. Ah, aku benci salam perpisahan. Aku benci wajah sedihnya itu.

“Kau akan baik-baik saja, kan?”

Dia bertanya dan aku baru akan menjawab ketika pengumuman agar para penumpang masuk ke pesawat.

Gadis itu menangis. Hatiku sakit melihat wajahnya yang basah.

Ia berdiri, aku juga melakukan hal yang sama tanpa mampu berkata banyak. Ternyata perpisahan memang semengerikan ini, ya? pantas saja dia tersedu-sedu setiap menonton drama tentang perpisahan, kematian, pokoknya drama yang menyajikan cerita dimana para pemainnya tidak bisa bersama. Menyedihkan. Aku dulu menertawainya karena terlalu cengeng. Tapi sekarang aku merasa aku yang cengeng. Kasihan.

“Emm, sudah waktunya.”

Dia berbalik sekali lagi, kedua matanya yang bersinar-sinar tegas itu menatapku, dan aku sesak napas.

“Bunga ini, aku mencurinya dari Kyu-Hyun. Dia membawanya dari Indonesia, katanya dia memetik langsung dari puncak tertinggi di pulau jawa—walau aku tidak percaya—tapi aku senang karena dia membawa pulang bunga ini sesuai janjinya padaku.”

Aku mengangguk, tenggorokanku terasa sakit, jadi suaraku terdengar agak serak. “Kau sedang membanggakan bunga curianmu?”

Dia terkekeh dan mengangguk. “Ini pesananku, jadi aku hanya mengambil apa yang menjadi hak milikku.”

Aku ingin sekali berlari keluar dari bandara dan menyeret gadis ini. menguncinya di rumah agar dia tidak bisa pergi kemana-mana.

“Apa kau benar-benar harus menyusul Kyu-Hyun? Sejauh itu?”

“Eomma bilang Kyu-Hyun tidak bisa mengurus diri,” katanya. Matanya bersinar lembut saat menatapku. “Walau dia menyebalkan, dia tetap kakakku. Kakak satu-satunya yang terlampau manja. Dua tahun hidup sendiri katanya tidak enak, jadi dia merengek pada Eomma agar aku dikirim ke sana. Jadi… beginilah.”

“Jadi kau meninggalkanku.”

“Aku sekalian melanjutkan sekolah, kau baik-baiklah di sini, ya.”

“Kau akan kembali?”

Ada kesedihan disorot matanya, tapi dia berusaha tersenyum. “London tidaklah jauh,” katanya dengan suara kecil karena menahan tangis. “Berdoalah agar Kyu-Hyun cepat menikah agar aku tidak perlu mengurusnya lagi.”

Aku berusaha mengusir air mataku. “Kau itu adiknya atau pesuruhnya?”

“Aku adik yang baik merangkap menjadi pesuruh tuan muda Kyu-Hyun yang menyebalkan.” Dia maju selangkah, berdiri di hadapanku dan tersenyum. “Ini, simpanlah. Aku mungkin sudah gila karena memberikan ini padamu, biasanya ini untuk seorang kekasih, tapi karena aku menyayangimu lebih dari apapun, jadi kau simpan saja.”

Aku menyentuh seikat kecil Edelweis yang ia genggam sejak tadi. “Untukku?”

“Ya, bunga yang tak lekang oleh waktu. Lambang kesetiaan, kesucian dan cinta abadi. Kuharap persahabatan kita juga akan seperti itu—tak lekang oleh waktu. Tahu tidak? Aku punya mimpi untuk tinggal di Indonesia dan mendaki gunung untuk melihat langsung bunga ini. Aku telah merencanakan kegiatan mendaki gunung yang menyenangkan bersama suami dan anak-anakku kelak.”

“Kau pikir gadis galak sepertimu akan mendapatkan suami?”

“Hey!”

Dia baru akan memukulku ketika pengumuman panggilan penumpang menyebalkan itu terdengar lagi.

“Aku pergi, ya?” dia mengucapkannya dengan bibir yang bergetar. Setetes air matanya turun dan aku merasa lututku lemas. “Jaga kesehatanmu, jelek! Berhenti main perempuan!”

“Sun-Ae-ya…”

Aku menatapnya yang membalik tubuh. Aku punya pilihan. Memeluknya, menciumnya, menyeretnya pulang atau membiarkannya pergi.

“Ini, simpanlah.”

Dia menatap kantung lusuh berwarna coklat yang kusodorkan. Lalu tersenyum dan menerimanya tanpa bertanya.

Lalu dia memelukku. Empat detik ketika ia memelukku aku merasa utuh kembali. Tapi ketika ia berlari-lari kecil menuju pintu penumpang itu, sebagian napasku ikut menghilang entah kemana.

Aku tersenyum kecil dan membalik tubuh meninggalkan tempat itu. Sun-Ae mungkin telah duduk tenang di dalam pesawat. Semoga dia tiba dengan selamat. Dan semoga aku tiba dengan selamat sampai di rumah. Aku khawatir aku tidak bisa selamat karena nyawaku baru saja di bawa pergi oleh gadis itu. Gadis menyebalkan itu bisa saja membuatku rindu bahkan belum sampai sepuluh menit aku tidak melihatnya.

“Hey, bodoh!”

Aku menoleh dan Sun-Ae telah memelukku erat. Dia menangis dalam pelukanku tanpa suara. Tubuhnya gemetar. Aku memeluknya dan mengusap kepalanya.

“Hmm, lihat siapa yang rindu padaku?” godaku sambil menepuk punggungnya.

Dia mengangkat wajah dan memukul kepalaku dengan keras. Aku pusing sesaat lalu tertawa seperti orang tidak waras. Aku melihatnya. Dia mengenakannya. Sebuah benda kecil sederhana terlihat indah saat melingkari jari manisnya.

“Kita akan mendaki gunung itu, kan? siapkan dirimu!”

Aku tersenyum. Dia menerimaku. Menerimaku! Aku ingin terbang saat gadis itu mengecup kilat bibirku.

“Kalau begitu kau juga harus bersiap.”

“Tentu,” katanya bersemangat. “Aku kan sudah bilang kalau aku sudah merencanakan pendakian gunung yang menyenangkan bersama suami dan anak-anakku kelak. Aku baru mengatakannya tadi! Masa kau lupa? Bodoh!”

Aku tertawa dan melumat cepat bibirnya. “Bukan itu,” kataku dan dia bingung. “Bersiaplah untuk melahirkan anak-anakku. Karena aku tidak hanya ingin punya satu anak, bagiku, minimal empat. Kau harus kuat. Aku ini pria yang ingin punya banyak anak!”

Dia tertawa dan menampar kepalaku sekali lagi. Lalu tersenyum dan aku mengecup keningnya. Lalu dia benar-benar pergi. Dia berhenti sebelum pintu di tutup, dia melambaikan tangan padaku dan tersenyum. Aku memandanginya dengan perasaan berkecamuk. Itu dia, Han Sun-Ae. Sahabatku. Gadisku. Calon istriku. Calon ibu dari anak-anakku. Calon pendamping dimasa tuaku. Kenangan masa muda terindahku dan cinta sejatiku.

Cincin putih sederhana yang sempat ia pilih saat kami pergi berdua itu melingkar pas di jari manisnya. Ketika itu aku berkata bahwa aku akan mendekati seorang gadis. Alasan kuno, dan dia mengomel, tapi masih bersedia menemaniku memilih cincin. Cincin itu putih bersih, satu permata kecil di puncaknya dan ukiran yang sederhana. Harganya cukup mahal untuk seorang sepertiku, tiga bulan menghilang dari peredaran aku bukannya pergi bermain dengan gadis-gadis. Aku pergi bekerja. Aku belajar bekerja dan belajar memberi. Karena aku tahu kelak aku akan memberi dan berbagi bersamanya, bersama Han Sun-Ae. Aku mengumpulkan uang hasil bernyanyi untuk membeli cincin itu, juga menyiapkan rumah untuk keluarga kecil kami nanti.

Kantong lusuh yang diterimanya itu bukanlah hal istimewa. Di sana hanya ada foto kami berdua pada saat kelulusan. Aku suka foto itu. Di sana Sun-Ae terlihat bahagia karena berhasil membuat orang-orang yang menyayanginya bangga karena ia keluar dengan nilai terbaik. Aku, yang mencintainya, bangga padanya dan ingin hidup dengannya. Beruntungnya aku, dia mengenakan cincin itu. Berarti dia bersedia menjalani hidup bersamaku. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Sampai saatnya tiba Sun-Ae akan kembali padaku dan aku tidak akan melepasnya lagi.

Kyu-Hyun, pria menyebalkan yang dulu selalu protektif pada Sun-Ae tidak lagi mampu menjadi alasan untuk menghalang-halangi kebersamaan kami kelak. Aku akan menanamnya hidup-hidup kalau berani mengganggu kami. Hanya untuk sekarang, aku mengalah. Aku sadar aku belum punya cukup banyak untuk kuberi dan bagi bersamanya. Karena hidup tidak cukup hanya dengan cinta, aku juga berkewajiban membuatnya bahagia. Dan aku akan berusaha keras untuk itu.

Aku, Lee Dong-Hae, akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan gadis hebat itu. Gadisku yang manja dan cerewet. Han Sun-Ae, si rubah ekor sembilan yang kucintai dengan segenap jiwa dan ragaku. Han Sun-Ae.

***

 

2 Comments (+add yours?)

  1. fuzi98
    Jun 28, 2015 @ 11:31:53

    Ya ampuun.. jdi Sun-Ae tu gumiho ?hehhe ^^
    pnya anak minimal 4 ?? biar pnduduk korea lbih padet ya bang .. 😀

    Reply

  2. Angelica SparKyu Sakurada
    Jul 01, 2015 @ 11:59:25

    so sweet <3<3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: