Memories [8/?]

memories 17

Author : Rizki amalia

Cast : Yesung (SJ)

        Jeany Hanks (OC)

        Heechul (SJ)

        Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*********************

Mereka saling memunggungi. Yesung sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu, tepat pukul enam pagi. Seperti kebiasaannya, ia akan memeluk Jeany, memberinya satu kecupan selamat pagi, atau sebaliknya. Setelah itu barulah ia punya semangat untuk memulai hari itu. Tapi kali ini ritual itu ditanggalkan. Ia tak beranjak. Hanya memainkan lampu meja tanpa berbalik. Ia tahu Jeany juga sudah bangun dan melakukan hal yang sama. Tapi ia enggan bertanya kenapa istrinya itu belum juga bersiap-siap ke kantor.

“Aku hanya ada satu jadwal sore ini.” Jeany buka suara. Yesung tetap diam dengan lampunya.

“Aku bisa membuatkanmu roti bakar.”

Yesung tak menanggapi. Ia memilih menggulung tubuhnya dalam selimut. Tak lama, ia bisa merasakan pergerakan di sampingnya. Jeany bangkit, lantas keluar dari dalam kamar. Setelah itu, barulah ia menyibak selimutnya.

Mungkin ini akan terasa kekanakan. Tapi ia belum mau bicara dengan Jeany jika istrinya belum berubah pikiran.

Semalam, untuk pertama kalinya mereka bertengkar hebat. Setelah Jeany mengutarakan keinginannya untuk menunda rencana mereka sebelumnya, Yesung keluar kamar sambil membanting pintu. Ia tak paham kenapa Jeany tiba-tiba berubah.

“Yesung, kenapa kau begitu marah? Ini masalah sepele. Kita hanya perlu menundanya. Aku juga menginginkan seorang anak, tapi tidak harus sekarang.”

“Oh, tapi jauh sebelum ini kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan menundanya. Dan saat itu kau begitu bersemangat.”

“Tapi kali ini aku punya alasannya.”

“Aku rasa aku tahu alasanmu. “ Yesung mengancing kemejanya dengan benar, lalu menatap istrinya tajam. “Kau takut karirmu terganggu, benar?”

“Aku….”

“Katakan saja bahwa kau memang tidak mau karirmu yang sedang bagus itu rusak. Mau tahu pendapatku? Itu sangat konyol!!!”

Setelah terus berdebat tanpa ujung, akhirnya Yesung keluar. Mencari udara segar sampai tengah malam dan baru kembali sekitar pukul tiga pagi. Ia tak menyapa istrinya, tak mengatakan apapun termasuk ketika Jeany menyajikan dua potong roti bakar di atas meja. Ia tetap makan, tapi seakan tidak ada siapa-siapa disana, ia terus makan tanpa bicara.

Jeany sendiri sudah berusaha untuk meminta maaf dan bicara baik-baik sekali lagi. Tapi Yesung tak memberinya kesempatan. Padahal, khusus hari ini ia punya waktu luang di rumah. Setelah hari ini, ia tak yakin akan ada waktu lagi.

“Kau mau kemana?” Jeany menahan lengannya. Yesung sudah bersiap mengambil jaket tebalnya, lalu memakai sepatu setelah melepaskan tangan Jeany.

“Kau tidak perlu tahu.”

Kemudian Yesung benar-benar pergi. Ia tak tahu mau kemana sedangkan jadwal pekerjaan barunya akan dimulai sore nanti. Masih jam sembilan pagi. Mungkin ia akan ke rumah makan Gege, entahlah. Yang jelas ia tak mungkin ke rumah ayahnya. Tanpa berkata-kata, ia yakin ayahnya langsung tahu bahwa ia sedang ada masalah. Akhirnya, ia putuskan untuk berhenti di tepi sungai Han, tepat di bawah jembatan **** sambil menelpon Casey.

“Ya! Kau menelponku lagi? Bukankah dulu aku sudah bilang kau harus bisa mandiri dan tidak mencariku lagi jika sedang ada masalah?”

Yesung mengernyit. Bahkan Casey sudah tahu sebelum ia bicara.

“Kalau kau tidak mau mendengarku lagi, akan kumatikan.” Ia sudah siap mematikan sambungan saat suara Casey menginterupsi. “Childish!!”

Ia menghela nafas, menyandarkan punggungnya pada tiang jembatan.

“Jadi, apa yang kali ini akan kudengar?”

“Aku dan Jeany bertengkar.”

“Lalu?”

“Aku keluar. Dan aku tidak menyapanya sejak tadi.”

“Aku turut berduka.”

“Casey!!!!!!!!!!!”

Terdengar tawa kecil disana. Dan meski samar, sepintas ia mendengar suara perempuan. Tapi tak ia hiraukan. Tanpa diminta, ia menjelaskan duduk persoalannya pada Casey. Begitu ia selesai, tanpa diduga Casey justru berkata, “Kau sangat egois!”

“Kenapa kau tidak membelaku? Aku pikir dengan menelponmu, perasaanku bisa sedikit tenang.”

“Pembelaan bukan akan membuatmu tenang. Coba kau pikir lagi, dimana letak kesalahan Jeany? Kalian masih sangat muda dan Jeany masih bisa punya anak sepuluh atau lima belas tahun lagi.”

“Tapi sebelumnya kami sudah sepakat. Kau tahu aku tak suka kalau ia berubah-ubah. Apa yang sudah kita tentukan, harusnya tetap seperti itu.”

Perdebatan terhenti sejenak. Ia mendengar suara air dan suara-suara lain yang cukup berisik. Ia perlu menjauhkan handphonenya lebih dulu.

“Kau masih hidup?” Casey kembali. Yesung berjalan pelan dipinggiran sungai tanpa kehilangan fokusnya.

“Kau tidak bisa seenaknya. Kau harus ingat siapa Jeany. Dia terbiasa hidup bebas, dan apa yang ia inginkan bisa ditolerir. Kau lupa pengorbanannya? Ia melepaskan karirnya yang sedang bagus disini demi mendampingimu. Dan silahkan kau koreksi jika aku salah. Kau pernah mengatakan bahwa setelah menikah kalian akan saling mendukung karir masing-masing.”

Yesung diam, menyerapi kata demi kata dari mulut Casey. Sepintas ia melihat ke tengah sungai. Airnya begitu tenang dan tak lama lagi salju akan membekukan semuanya.

“Kalau dia ingin fokus pada karirnya lebih dulu, apa salahnya? Aku belum menikah, tapi aku tahu yang kau lakukan itu tidak benar!”

Ia berhenti berjalan. Perasaannya mengatakan, tak ada yang salah dengan perkataan Casey. Tapi ia juga bukan mau membenarkan Jeany. Entah kenapa ia masih kecewa.

“Yesung yang kutahu bukan orang yang buru-buru. Kupikir kau dan Jeany punya banyak waktu untuk itu. Dan sangat aneh mendengar ceritamu. Kurasa jiwa kalian tertukar. Aku setuju dengan Jeany bahwa ini hanya masalah sepele. Dan kau justru menganggapnya begitu serius. Apa jiwa Mr.Hanks merasukimu? Aku baru tahu kau begitu ingin punya anak. Bukankah kau bilang itu merepotkan?”

Ia benci jika Casey terus mengatakan kebenaran. Casey selalu bisa membuatnya tak bisa berkutik dengan kata-katanya. Dan sekarang kepalanya seperti diketuk. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia begitu emosi? Rasanya ini bukan dirinya. Apa yang ia lakukan pada Jeany sudah berlebihan.

“Merasa lebih baik? Pulang dan minta maaf padanya.”

Ia menuruti Casey dengan segera pulang. Ia sempatkan untuk singgah di toko bunga membeli setangkai mawar sebagai ganti bunga semalam yang rusak tak sengaja ia injak. Agar lebih cepat sampai, ia menaiki bis. Sepanjang perjalanan ia terus menciumi bunga mawarnya, membayangkan wajah  Jeany yang memerah setelah menerimanya. Ia baru berhenti melakukannya saat tak sengaja melihat gadis pelayan baik hati yang kemarin mengembalikan handphonenya.

“Hey, kau pelayan itu, kan?” tanyanya to the point sambil berpindah tempat duduk. Gadis itu tampak terkejut.

“Kurasa kemarin aku belum mengucapkan terima kasih,” ujarnya lagi.  Tapi gadis itu tetap diam, hanya tersenyum kecil tanpa bicara.

“Terima kasih karena sudah mengembalikan handphoneku. Istriku bisa marah kalau aku tak mengangkat teleponnya lagi.”

Sekilas ia melihat ada perubahan ekspresi dari gadis itu setelah ia mengatakannya. Tapi setelah itu kembali menunduk atau melihat keluar jendela. Ia benci diacuhkan dan ia benci jika harus bicara dengan manusia patung, jadi ia raih tangan gadis itu lantas memaksanya untuk melihatnya.

“Kau harus menghargai orang yang sedang bicara denganmu. Namaku Yesung dan mulai sore ini aku akan bernyanyi di café itu. Siapa namamu?”

“Aku……….”

Gadis itu tampak risih melihat tangan mereka masih berjabatan. Yesung segera melepasnya. “Maaf.”

“Tidak apa-apa. Ah, sepertinya aku sudah sampai. Maaf.”

Gadis itu sudah berdiri dan turun dari bis dengan beberapa kantong belanja ditangannya, tanpa tahu bahwa Yesung mengekor di belakangnya. Ia sempat terkejut saat berbalik dan menemukan Yesung tersenyum lebar.

“Hehe, maaf. Tapi kau belum memberitahu namamu.”

“Apakah begitu penting?”

Yesung malah tersenyum lebih lebar, tak sadar bunga mawar ditangannya ia masukkan ke saku celana belakangnya.

“Kita bekerja ditempat yang sama dan aku ingin mengenal semua orang disana. Saat bekerja nanti, aku tidak yakin kau mau bicara.”

Untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum. Yesung tak tahu kenapa, tapi ia suka melihat senyum gadis itu.

“Jadi, siapa namamu?”

“Namaku Lee Hyerin.”

“Oke, kurasa kau lebih muda dariku. Tapi aku takkan menyuruhmu memanggilku oppa. Aku terbiasa dipanggil dengan nama saja. Jadi kau bisa memanggilku Yesung. Setuju?”

Hyerin tersenyum sebagai tanda setuju. Dan untuk kesekian kalinya ia dibuat takjub dengan sikap Yesung yang tiba-tiba dan tak terduga. Yesung tahu-tahu sudah mengambil semua kantong belanjanya.

“Kau tampak kerepotan. Biar kubantu.”

“Tidak perlu. Rumahku sudah dekat.”

“Oh, jadi kau mau pulang? Tak masalah. Sekarang cepat jalan dan aku mengikuti.”

Hyerin memandangnya ragu. Dengan cepat Yesung mengerti maksudnya.”Kau jangan khawatir. Aku tidak punya maksud apa-apa. Bahkan nanti aku tidak akan masuk ke dalam rumahmu. Aku hanya ingin membantu.”

Setelahnya, mereka mulai berjalan menyusuri pinggir jalan. Yesung mungkin tak pernah sadar bahwa ia juga menuruni sifat ayahnya. Ia lupa. Ia lupa akan hal penting yang harusnya ia lakukan.

****

Yesung membuka matanya. Ia baru saja selesai menyanyikan sebuah lagu dan melanjutkan ceritanya. Tak sengaja ia melihat Casey dan ia merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan.

“Jangan bilang kalau kau tertarik pada gadis itu!” seru seorang pelanggan. Yesung terperanjat dan tak bisa menahan senyumnya. Saat itu ia sama sekali tidak punya perasaan apapun seperti yang orang pikirkan. Satu-satunya yang terlintas dikepalanya adalah bahwa sangat tidak baik jika ia meninggalkan seorang gadis yang kesusahan. Lagipula ia memang tak melakukan apa-apa selain mengantarnya sampai ke rumah. Yah, meski pada akhirnya ia ditawari masuk hingga minum teh, ia hanya tak bisa menolak semua kebaikan Hyerin. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu andai saja ia ingat bahwa ada hal lebih penting yang harus ia lakukan. Nyatanya ia tak ingat, bahkan sepulang dari rumah Hyerin, ia justru mengunjungi Gege, baru setelah itu ke café untuk memulai tugasnya sebagai penyanyi.

“Mungkin aku keterlaluan karena bisa melupakan hal sepenting itu. Tapi aku benar-benar lupa. Aku melakukan pekerjaan pertamaku hari itu dengan baik tanpa berpikir bahwa di rumah sedang ada seseorang yang menungguku, menunggu kata maaf dariku.”

Saat itu………….kesalahannya bertambah satu. Ketika mengingatnya lagi, ia merasa begitu jahat bisa tertawa selama berada di café. Dengan mudah ia bisa bergaul dengan semua pekerja disana. Ia bahkan nyaris ikut dengan teman-teman barunya untuk pergi ke club kalau saja ia tidak melewati sebuah toko bunga yang akan tutup.

Seketika matanya melebar dan rentetan kejadian selama seharian itu datang tanpa jeda.

***

“Ada apa?”

Yesung memeriksa saku celananya, mencari bunga mawar yang tadi ia selipkan disana.

“Apa yang kau cari?”

“Bungaku.”

“Maksudmu…kau ingin membeli bunga?”

Yesung acuh. Ia periksa semua sakunya seolah ia hanya mencari sebuah koin. Jelas bunganya sudah tidak ada dan mustahil terselip ke saku hingga bagian dalam. Ia coba ingat-ingat, kemana kiranya ia menjatuhkannya atau meletakkannya. Tapi……..ia tidak ingat.

“Yesung, kita sudah terlambat.”

Ia tak peduli lagi dengan mereka. Dan tak penting lagi soal bunga. Ia berlari, bergegas pulang ke apartemen untuk menemui Jeany. Jeany bilang ia hanya punya jadwal di sore tadi, artinya sekarang istrinya itu sudah ada di rumah. Jeany pasti sedang menunggunya. Jeany pasti belum tidur meski ia harusnya sudah tidur mengingat buruknya waktu istirahat yang ia miliki belakangan ini.

Ia tak bisa berpikir lagi sampai-sampai tak menyetop taksi. Ia hanya terus berlari, berlari sekencang mungkin dan sempat melepas jaketnya untuk mengurangi beban.

Tuhan….kenapa aku bisa lupa?

Larinya semakin kencang. Ia tak tahu berapa lama yang ia butuhkan untuk sampai. Meski ia harus sesekali berhenti untuk menghela nafas, ia tetap melanjutkannya. Hingga tak berapa lama, ia bisa melihat gedung apartemennya berdiri. Ia segera masuk, menaiki lift dan menekan angka tujuh. Berlari lagi ketika sudah tiba dan langsung mendorong pintu apartemennya.

“Jeany!”

Hening menyergapnya. Lampunya mati, hanya ada cahaya yang sepertinya berasal dari dapur.

“Jeany?”

Tak ada sahutan. Ia pun berjalan pelan-pelan ke dapur hingga ia menemukan Jeany duduk membelakanginya di depan meja makan. Ia sudah akan memeluk wanita itu kalau saja tak melihat apa-apa saja yang ada di atas meja. Ia tertegun, dan rasa bersalah itu semakin menjadi.

Semua yang ada disana, persis seperti apa yang semalam ia siapkan. Tanpa ragu ia merengkuh tubuh Jeany. Membenamkan wajahnya dileher putih itu.

“I’m sorry. I’m really really sorry,” bisiknya yang kemudian dibalas dengan tangan Jeany yang tak mau melepaskan tangannya. Untuk sejenak mereka hanya diam. Yesung ingin menikmatinya tanpa kata. Ia lalu memutar tubuh Jeany, memegang dagunya lembut.

“Aku tidak akan menentang keinginanmu lagi. Aku mendukung apapun yang kau lakukan.”

“Kau tidak marah?”

Yesung menggeleng. Ia memang sempat kecewa, tapi sekarang kekecewaan itu tak beralasan.

“Aku yang kekanakan. Maaf.”

Sekali lagi mereka berpelukan. Ia tak tahu kenapa, tapi Jeany menangis dibahunya. Isakannya terdengar begitu jelas ditelinganya dan itu justru menyakitinya. Namun, ia tak menanyakan apapun. Ia biarkan Jeany tenang dengan sendirinya, dengan caranya. Ia tahu bahwa Jeany selalu butuh waktu lebih lama. Ia hanya berpikir bahwa Jeany menangis karena merasa sangat bersalah akan keputusannya. Jauh setelah hari itu, ia baru tahu alasan sebenarnya dibalik tangis tersebut.

****

“Kau sudah siap?”

“Aku dijalan. Tunggu aku.”

“Ok.”

“Wait!!”

“Ya?”

“Hm…….I love you…”

Setelah hari itu, mereka memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang belakangan ini. Hampir setiap hari, mereka mengusahakan untuk makan siang bersama. Karena dimalam hari hal itu sedikit mustahil, jadi mereka sepakat untuk menyempatkan diri, khususnya Jeany.

Mereka juga kembali seperti diri mereka sebelumnya dimana kejujuran begitu dijunjung tinggi. Yesung menceritakan semua kegiatannya selama di café, mulai dari yang menyenangkan seperti pelanggan yang menyukai penampilannya, sampai pada hal buruk dimana ia menumpahkan minuman dua kali ke baju atasannya. Ia bahkan melaporkan lagu apa yang ia nyanyikan saat itu.

Jeany juga melakukannya. Saat mereka sedang berdua, ia menceritakan apa yang terjadi selama siaran. Yesung baru tahu kalau ternyata pemimpin redaksi ditempat itu merupakan pria muda yang sangat tampan. Ia belum pernah melihatnya, tapi Jeany sendiri yang mengatakan bahwa pria itu sangat tampan dan berkarisma. Meski Yesung tak suka cara Jeany memujinya, ia hargai sikap istrinya yang tidak menutupi apapun darinya. Jeany juga menceritakan bahwa ia telah memperlihatkan pertumbuhan pesat selama empat bulan ini. Untuk seorang pendatang baru, kini ia punya satu program regular dan posisinya tak tergantikan.

Yesung senang mendengarnya. Senang bisa menjadi bagian dari perjuangan istrinya hingga kini semakin dekat dengan impiannya.

“Siapa nama pemimpin redaksimu itu? Aku tidak bisa mengingatnya.”

“Namanya Choi Siwon. Dia juga sangat baik. Aku banyak belajar darinya.”

“Kedengarannya begitu sempurna.”

Jeany hanya mengangkat bahu sambil terus menyuapi mulutnya dengan spagethi. Kali ini mereka makan tak jauh dari kantor Jeany karena ia punya banyak pekerjaan. Ia baru berhenti mengunyah saat sadar Yesung terus menatapnya.

“Ada yang salah?”

Yesung memandangnya serius. Lalu meletakkan garpu serta sendoknya.”Kau menyukainya?”

Jeany terkejut.”Siapa? Siwon?”

“Aku tak menyebut namanya.”

“Are you kidding me?”

Yesung tersenyum, lantas mencondongkan tubuhnya. “Jangan terlalu dekat dengannya. I’m a scary person.”

Jeany tak kuasa menahan tawanya. Ia cubit hidung suaminya itu dengan gemas lalu mengecupnya.”Jika aku terbukti menyukainya, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menghukummu!”

Sebuah hukuman langsung diterima oleh Jeany. Tak peduli jika ada seorang pelayan di samping mereka yang baru akan meletakkan pesanan kedua Yesung, mereka terus berciuman. Nampaknya kebiasaan mereka dari Eropa belum bisa hilang.

“Omong-omong, kemarin kami melakukan sebuah taruhan. Yang kalah harus melakukan aegyo tepat sebelum siaran. Dan aku kalah!”

“Kau melakukannya? Maksudku……kau mengerti apa itu aegyo?” Yesung antusias sekali mendengarnya. Ia lupakan makanannya yang hampir habis itu lalu menunggu Jeany melanjutkan ceritanya.

“Setelah mereka memberikan contoh padaku bagaimana yang dimaksud dengan beraegyo, aku hampir muntah. Tentu saja aku menolak.”

“Kenapa kau menolak? Itu lucu!”

“Are you crazy?”

“Oh, kau tidak memerlukan harga diri yang tinggi untuk melakukannya. Itu sudah biasa disini.” Yesung memperbaiki cara duduknya, “Aku bukan tipe lelaki yang menyukai hal-hal seperti itu. Tapi tak ada salahnya jika kau menunjukkannya padaku sekarang.”

“Tidak mau!” tolak Jeany tegas. Ia habiskan pastanya hingga tak bersisa. Ia jadi menyesal sudah menceritakan kejadian memalukan kemarin. Dibanding melakukannya, ia lebih sudi mentraktir semua orang makan siang. Kantongnya dirampok. Namun, sepertinya Yesung tak membiarkannya lepas begitu saja. Suaminya itu masih memandangnya dengan mata berbinar-binar seperti bocah 5 tahun yang minta permen.

“Please, jangan memandangku seperti itu.”

“Ayolah…lakukan untukku. Sekali saja.”

“Yesung! Aku malu!”

“Kenapa harus malu? Aku suamimu. Ayolah, lakukan demi suamimu yang tampan ini.”

Jeany bersikeras menggelengkan kepalanya. Tunggulah sampai dunia kiamat dan hal itu dibutuhkan untuk membuatnya selamat, baru ia sudi.

“Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu, setelah itu giliranmu.”

“Hey, aku tidak memintamu.”

Yesung acuh. Ia tersenyum lucu sekali lantas mengepalkan kedua tangannya lalu melakukan gerakan aegyo. “Buing…buinggg…”

Sontak Jeany tertawa sambil menutup wajahnya. Tak beda jauh, Yesung sendiri langsung menghentikan aksinya dan merasa malu sendiri meski tak ada orang yang peduli. Tapi ia merasa harga dirinya runtuh dihadapan sang istri.

“God, kau sangat menjijikkan!” tawa Jeany menyembur keras. Ia sampai memukul meja dan barulah perhatian beberapa pengunjung restoran tertuju pada mereka.

“Jangan senang dulu. Sekarang giliranmu!”

Wajah Jeany pucat pasi. Ia ingin sekali pura-pura ingin buang air tapi Yesung takkan menginjinkan. Dan sepertinya ia memang tak punya kesempatan untuk menghindar. Yesung tampaknya takkan bisa tenang sebelum ia merealisasikan keinginan konyol itu. Mungkin tak harus menunggu kiamat untuk melakukannya.

“Siap?”

Jeany menarik nafas.  Dengan kaku ia tirukan tangan suaminya lalu meletakkannya disekitar pipi. Ia pejamkan mata terlebih dahulu, lantas berhitung dalam hati.

1

2

3

…..

“Buingggg….buingggg….”

“BWAHAHAHA”

Jeany tak bisa menahan malu ditertawakan sekeras itu oleh Yesung. Ia sudah berdiri, bermaksud enyah dari tempat itu. Namun saat ia berbalik, dua orang teman kantornya tiba-tiba muncul.

“Jeany?”

“Kalian?”

“Dengan siapa kau makan siang?”

Yesung berhenti tertawa begitu melihat dua orang wanita bicara dengan istrinya. Ia sudah akan berdiri, memperkenalkan diri. Tapi Jeany buru-buru menarik mereka lantas melambai sambil memberinya kode bahwa nanti ia akan menelpon. Ini bukan kali pertama Jeany bersikap aneh. Namun, Yesung tak lagi mempermasalahkannya. Ia percaya seratus persen pada Jeany. Mungkin istrinya hanya terburu-buru. Dan benar saja. Tak lama setelah itu, ia menerima pesan singkat darinya.

“Aku buru-buru. Maafkan aku.”

Ia tak membalasnya. Bergegas ke café karena sebelumnya ia sudah diberitahu untuk datang lebih awal karena ada hal yang ingin dibicarakan. Ia sendiri hal penting macam apa yang perlu diberitahukan padanya. Ia hanya penyanyi biasa disana. Rasanya urusan gaji dan sejenisnya sudah menjadi urusan nona Jihye. Jadi, ia sama sekali tak bisa menebak apa kiranya yang membuat bos besar ingin bertemu dengannya.

“Duduklah.”

Ia duduk di depan bosnya. Untuk pertama kalinya sejak dua bulan bekerja, ia baru tahu kalau ruangan itu sangat kosong. Dalam benaknya, ruangan itu pasti berisi sofa, lemari, atau cermin, atau pajangan lainnya. Nyatanya, ia tak menemukan apa-apa disana selain meja kerja, seperangkat computer serta kulkas mini disudut ruangan.

“Ini bonus untukmu.”

“Hm?” Yesung memandang amplop coklat yang disodorkan padanya. Ia belum menerimanya.

“Bonus?”

“Ya, banyak pengunjung yang menyukaimu. Tak bisa dipungkiri, jumlah pengunjung yang meningkat belakangan ini juga karena andilmu. Jadi, tak ada salahnya aku membayar atas semua itu.”

“Tapi aku sudah digaji. Itu cukup.”

“Jangan banyak bicara didepanku! Cukup dengarkan dan terima.”

Yesung lupa dengan siapa ia bicara. Jadi ia tak banyak bertanya lagi dan hanya menerima amplop tersebut. Setelah dicek, ia terkejut dengan jumlahnya. Ia bahkan ragu apakah itu harga yang pantas untuknya?

“Kenapa?” Eunhyuk, salah satu pelayan bertanya padanya. Mereka sudah cukup akrab. Yang pertama kali memuji suaranya adalah Eunhyuk. Saat itu pria itu menepuk bahunya dan berkata dengan semangat, “Ya! Kau yang terbaik sejauh ini. Aku suka sekali.”

Yesung menggeleng, duduk di salah satu kursi sambil menimbang-nimbang amplop ditangannya. Sepertinya ia akan menyetornya ke bank. Lagipula untuk saat ini ia dan Jeany sedang tidak ada keperluan apapun. Ini bagus untuk tabungan mereka.

“Kudengar kau mendapat bonus. Kau harus traktir minum malam ini.”

“Tau darimana?”

Eunhyuk mendekat, berbisik padanya,”Tidak ada yang tidak kuketahui disini. Bahkan apa yang ada dibalik saku celana bos sekalipun. Atau kau mau tahu warna celana dalam yang dipakai Nona Jihye?”

Yesung lupa kalau Eunhyuk adalah pusat dari segala informasi disini, mulai dari hal penting sampai yang paling tidak penting sama sekali. Eunhyuk lah yang memperkenalkannya pada semua pekerja disini dua bulan lalu. Ia jadi ingin menanyakan satu hal.

“Jadi, apa kau juga tahu siapa kekasih Hyerin?”

Eunhyuk berhenti mengelap gelas, memandangnya dengan curiga.”Ya! Kau berniat mengencaninya? Kuberitahu. Ia bukan gadis seperti itu. Kurasa sampai semua makhluk didunia berubah jadi laki-laki, ia tetap tidak akan tertarik.”

“Aku hanya bertanya.”

“Aish, jangan banyak alasan. Aku tahu apa yang ada dikepalamu.”

Yesung membalik badan, lebih tertarik menonton televisi. Meski dalam beberapa hal Eunhyuk selalu benar dan paling tahu segala sesuatu disini, pria itu juga punya kesalahan. Ia benar-benar sok tahu. Tadinya Yesung hanya asal bertanya.

“Nah, kau lihat penyiar itu? Aku rasa aku menyukainya.”

Matanya menyipit. Dilihatnya breaking news yang dibawakan oleh seorang reporter wanita yang tak lain adalah Jeany. Ia tersenyum bangga.

“Apa aku belum memberitahumu kalau dia adalah istriku?”

“Ya! Belum semenit kau menanyakan Hyerin dan sekarang kau mengaku sebagai suami wanita itu. Kau sudah gila?”

“Tapi dia benar-benar istriku!”

“Berhentilah bermimpi!”

Begitulah seterusnya. Tak ada satu orangpun yang percaya bahwa ia merupakan suami dari reporter berita yang sedang naik daun itu. Eunhyuk menyebutnya gila. Pelayan lain ada yang menyentuh dahinya. Pemain drum yang selalu mengirinya hanya menaikkan alis. Sedang bosnya memandangnya dengan tampang tidak tertarik. Bahkan Hyerin hanya tersenyum lantas berlalu dari hadapannya. Apakah ia dan Jeany tak tampak serasi? Sepertinya sesekali ia harus menarik Jeany kemari, memperlihatkan status mereka. Kalau perlu ia akan mencium Jeany di depan semua orang. Tapi itu tak pernah terjadi. Saat diminta, Jeany selalu menolak dengan alasan sibuk. Jika ia tidak sedang ada pekerjaan, ia akan beralasan sangat lelah dan ingin istirahat.

“Ayolah, sayang. Hanya sebentar. Mereka harus tahu siapa istriku.”

“Aku sangat lelah. Dan aku juga harus membersihkan apartemen karena tak setiap hari aku bisa melakukannya. Coba kau lihat! Siapa yang sudah membuat semuanya berantakan?”

“Aku,” jawabnya dengan santai. Ia lalu kembali membujuk Jeany supaya menemaninya bekerja malam ini, atau paling tidak mampir beberapa menit saja, lebih syukur lagi kalau sempat berkenalan dengan Eunhyuk.

“Jeany, please…….”

“Yesung, sebenarnya apa tujuanmu memperkenalkanku?”

“Tentu saja supaya mereka tahu bahwa kau adalah istriku. Kau sedang digemari oleh para pria belakangan ini.”

“Kalau itu tujuanmu, aku tidak mau.”

Yesung diam sejenak. Tak paham apa mau istrinya itu. Ia langsung putar otak, memilah alasan yang tepat.

“Jeany, aku hanya ingin memperkenalkanmu pada teman-teman baruku, tidak lebih.”

“Apapun itu, aku lelah dan aku tidak akan meninggalkan apartemen dalam keadaan seperti ini. Ah, satu lagi.” Jeany memutar tubuhnya tepat sebelum Yesung maju selangkah. “Aku tidak tahu kalau kebiasaanmu menaruh barang-barang sehabis pakai sembarangan kambuh lagi.”

Oh, tidak saat ini. Yesung sedang tak berminat mendengar ocehan istrinya itu soal apa yang sudah ia lakukan pada apartemen mereka. Ia memang sudah membuatnya berantakan dengan menaruh piring dan gelas kotor sembarangan. Pakaian habis pakai di lantai, sepatu di depan pintu, belum lagi botol-botol minuman yang berserakan. Ada pula kotak pizza. Ia akui ia salah. Tapi telinganya tak kuat jika harus berdiri dengan jarak setengah meter dengan Jeany hanya untuk diceramahi.

Ia cepat menyingkir, memakai jaket, sarung tangan, sepatu, dan terakhir menutup pintu. Suara Jeany masih terdengar sayup-sayup, tapi ia takkan kembali hanya untuk mengabulkan permintaan itu.

***

“Secangkir teh? Tidak baik melamun dipojok seperti ini.”

Yesung tersentak saat secangkir teh muncul dihadapannya. Ia menoleh ke kanan dan menemukan Hyerin tersenyum padanya. Sepertinya ini adalah kesekian kalinya ia ingin mengatakan bahwa ia suka senyum gadis itu. Sangat lugu.

Ia pun meraih cangkir tersebut, menghirupnya hingga setengah. Rasanya enak dan sedikit berbeda, membuatnya ingin terus meminumnya hingga habis.

“Wow, kenapa rasanya berbeda? Ini enak sekali.”

Hyerin tidak menjawab. Gadis itu memilih duduk pada kursi disebelahnya sambil menatap podium yang kosong. Mereka sudah tutup sejak setengah jam yang lalu dan ia baru selesai dengan tugasnya membereskan meja.

“Kau lelah?”

“Tidak. Aku hanya membayangkan jika aku bisa duduk disitu, bisa bernyanyi sepertimu.”

Yesung langsung memandangnya. “Kau suka bernyanyi juga? Astaga, kenapa kau tak pernah mengatakannya?”

“Aku tidak punya kepercayaan diri sepertimu.”

“Ah, kenapa harus malu kalau kau memang mampu? Bagaimana kalau sekarang kau bernyanyi untukku? Aku ingin mendengarnya.”

“Untukmu?”

“Hm, jika kau tidak nyaman, maka anggaplah tidak ada siapa-siapa disini dan bernyanyilah sesukamu.”

“Tapi aku tidak bisa melakukannya. Bagiku, selamanya itu hanya akan jadi impian, bukan kenyataan. Berada disini, melihat orang lain bernyanyi saja sudah membuatku senang.”

Seketika Hyerin tersentak dan baru menyadari bahwa ia sudah terlalu banyak bicara. mengatakan beberapa kalimat pada orang lain sudah menjadi sesuatu yang aneh baginya.

“Maaf, aku tak seharusnya mengatakan itu.” Gadis itu langsung berdiri, buru-buru meninggalkannya ke dapur. Yesung pun tak ambil pusing. Ia rasa sudah saatnya ia pulang. Namun saat berbalik, Eunhyuk sudah muncul dihadapannya, nyaris mengenai wajahnya.

“Ah, kau mengagetkanku.”

Eunhyuk memicingkan matanya, mengelus dagunya bak seorang detektif.

“Kenapa kau?”

“Hm, aku semakin ragu padamu.”

“Maksudmu?”

“Kau semakin gencar mendekati Hyerin. Bagaimana bisa kau masih mengotot punya istri secantik Jeany Hanks? Kau hanya salah satu fansnya.”

Yesung menepuk dahinya pelan. Temannya ini konyol sekali.

“Terserah apa katamu. Mungkin malam ini aku tak bisa membawanya kemari. Tapi kau hanya perlu menunggu waktu sampai ia mengatakan di tv kalau aku adalah suaminya yang sangat tampan.”

“Yeah, saat itu terjadi, pastilah hanya ada dalam mimpi burukku.”

Yesung sudah tak perduli lagi dengan anggapan teman-temannya. Yang jelas ia dan Jeany tahu kebenarannya. Seluruh isi dunia tidak perlu tahu kalau mereka adalah suami istri. Meski ia mulai tak menyukai kepopuleran istrinya itu diimbangi dengan jumlah pria yang mengagumi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang diinginkan Jeany sejak dulu. Menjadi seorang reporter handal dan dikenal banyak orang. Bahkan kalau tak ada halangan, rencananya dimalam tahun baru nanti istrinya itu akan berangkat ke Jepang untuk melakukan liputan.

Mereka juga sempat berdebat soal rencana tersebut.  Yesung jelas tak setuju. Baru saja hubungan mereka membaik. Dan malam itu adalah malam tahun baru pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Mereka harus merayakannya, setidaknya malam itu mereka berpijak di atas tanah yang sama. Tapi Jeany tetap pada pendiriannya bahwa ia tak mungkin untuk menolaknya. Selama perdebatan itu, Yesung akan mendengar kalimat semacam, ‘itu bagus untuk karirku. Aku tak mungkin melewatkan kesempatan ini. Lagipula ini adalah perintah Siwon. Dia tahu yang terbaik untukku.’

Yesung merasakan ada asap mengepul dibalik kepalanya mendengar istrinya menyanjung pria itu berlebihan. Tak ada kesempatan baginya memaksa Jeany untuk berubah pikiran dan sepertinya Jeany memang akan tetap pergi dengan atau tanpa ijinnya.

Ia duduk sebentar ditepi jalan. Melamun sendirian sambil memandang langit. Setelah setengah tahun berjalan begitu cepat, rasanya mereka lebih banyak bertengkar dibanding bermesraan. Meski setelahnya mereka akan berbaikan kembali, tetap saja itu bukanlah rumah tangga yang ia dambakan. Mereka memang tak tahu apa-apa soal hidup berumah tangga. Namun yang dulu melintas dalam benaknya sebelum menikah hanyalah sebuah kenyataan bahwa ia ingin hidup berdua dengan Jeany. Semua pasti baik-baik saja pikirnya. Mereka sama-sama mengejar impian mereka, lalu punya anak dan begitu seterusnya berjalan. Kenyataannya, ia bukan sedang menggambar di atas kertas dengan pensil saja, melainkan melangkah dijalan yang sebelumnya tak pernah mereka lewati. Banyak lubang dan tikungan tak terduga.

Saat masih berkencan, ia sudah tahu apa yang disuka dan tak disuka oleh Jeany. Ia tak melupakannya hingga saat ini. Jadi ia bisa menghindari beberapa hal untuk tidak dilakukan supaya tidak ada pertengkaran lagi dihari itu. Tapi, selalu saja ada satu hal kecil terlewat yang pada akhirnya suara Jeany kembali menggema ditelinganya. Ia tidak ragukan lagi keinginan Jeany untuk menjadi seorang wanita karir. Kalau Jeany menjadi ibu rumah tangga biasa, bisa dipastikan setelah pulang kerja ia takkan mendapat sambutan yang baik. Namun untuk malam ini, tanpa harus menunggu itu terjadi, sambutan tak menyenangkan itu sudah ia dapatkan.

Jeany berdiri diambang pintu. Yesung tak mau bermain tebak-tebakan, tapi ia tidak merasa baik saat ini. Tubuhnya cukup lelah, ditambah dengan ia pulang berjalan kaki. Ia sungguh ingin langsung menyelam ke dalam mimpi tanpa harus disambut wajah seperti itu. Jeany sama sekali tak tersenyum. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.

“Sejak kapan?”

Yesung mendengus. Bisakah ditunda dulu?

“Sejak kapan kau merokok?”

“Aku ingin tidur.”

Tubuhnya tak sempat melewati Jeany karena Jeany langsung menahan lengannya. “Jelaskan dulu. Kau tahu kalau aku-“

“Kalau kau benci orang yang merokok? Aku masih mengingatnya.”

Yesung melepas pegangannya lantas melucuti jaket serta bajunya. Ia ingin segera mandi lalu pergi tidur. Tapi ia bisa rasakan Jeany masih mengekornya, seakan tak puas dengan satu kalimat saja. Ia paham bagaimana sifat wanita itu yang selalu menginginkan penjelasan yang lebih detail. Tapi, apa tidak bisa ditunda? Apa Jeany tak melihat kalau suaminya sedang kelelahan?

“Yesung! Tunggu! Kau belum menjawabku.”

Akhirnya ia menyerah. Ia berdiri memandang Jeany dengan tenang. “Aku tidak menkonsumsinya secara rutin. Aku hanya mencobanya kemarin. Berhenti bersikap seperti ini. Jangan menganggap semua hal begitu serius.”

“Karena ini berbahaya! Untuk apa kau mencobanya? Ini sama sekali tak bagus untuk kesehatan. Aku pernah membacanya dimajalah dan tujuh puluh persen dari pemakai rokok akan……………”

Sementara Jeany mengeluarkan ingatannya yang luar biasa itu, Yesung hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia tak membentaknya, sebenarnya itu adalah berita bagus. Jangan dikira ia tak bisa bersikap tegas.

“Oke, Jeany, cukup, cukup! Aku mengerti. Aku sangat mengerti.”

“Tapi….”

“Aku minta maaf. Aku salah. Aku hanya bermain-main dan mencobanya, aku minta maaf. Sekarang…………..aku mohon biarkan aku mandi lalu istirahat.”

Jeany nampak belum puas dan hendak buka suara lagi saat Yesung buru-buru memberikan isyarat untuk mengunci mulutnya. Ia pun langsung meninggalkannya. Tepat sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, ia mendengar suara Jeany yang begitu pelan. “Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu.”

Ingin sekali ia merasa tersentuh mendengarnya. Tapi untuk saat ini, perasaannya sedang beku. Yang muncul dalam pikirannya saat ini adalah sebuah pertanyaan. Begitukah cara menunjukkan perhatian?

***

“Mereka tidak sekompak dan semesra yang kubayangkan.”

Jordan sibuk bolak balik membuatkan kopi pelanggan. Saat tak ada yang memesan, ia akan mengelap gelas atau mengelap meja di depannya, sesekali ia juga mendengarkan Yesung. Tapi sekarang ia tertarik melihat Marcus yang duduk di balik meja. Untuk pertama kalinya sejak ia bekerja disini, ia melihat pria itu duduk tenang dan tidak mondar mandir. Apalagi sejak ia naik pangkat minggu lalu, rasanya Marcus semakin sok sibuk seolah tidak punya jeda untuk menarik nafas. Lalu sekarang pria itu sedang ikut mendengarkan cerita Yesung, tak sadar bahwa Casey yang tadi bersamanya sudah pergi setengah jam lalu. Ia terus berkomentar seakan Casey mendengarnya.

Ia akui kisah Yesung memang menarik untuk diikuti. Dan Yesung sendiri bisa menggambarkannya dengan baik sehingga pendengar tidak bosan. Ia rasa tak pernah menemukan hal seperti ini di café lain. Biasanya orang kemari untuk minum, makan, berkumpul dengan teman atau berkencan, tapi sebagian pengunjung disini datang justru untuk mendengar kelanjutan kisah itu.

Sepintas ia melihat ke lorong sebelah kirinya. Ada Casey yang berjalan pelan seakan tak punya semangat. Matanya bergerak ke arah lain hingga menemukan sesuatu yang menarik. Ada sebuah foto besar di dinding tepat disamping deretan menu. Sejak kapan ada foto besar Casey disana?

“Mereka berdua belum cukup dewasa untuk menikah. Buktinya selalu bertengkar karena hal sepele.”

Jordan tersenyum mendengar perkataan Marcus. “Kau tahu sedang bicara dengan siapa?”

Marcus menoleh ke kiri dan kanannya dan ia terkejut tak menemukan Casey. Ia lalu memutar kursi, melupakan sejenak kisah Yesung yang sebenarnya sedang menarik.

“Dimana Casey?”

“Dia sudah pergi sejak tadi. Sepertinya kau sangat menikmati cerita Yesung.”

Marcus mendengus. “Setidaknya ini jauh lebih menarik dibanding ceritamu yang tak pernah sukses menarik perhatian gadis manapun.”

Ia kembali pada kegiatannya, mendengarkan Yesung bercerita. Entah sudah beberapa bagian yang ia lewatkan. Tapi setelah didengarkan, sepertinya tak begitu banyak.

“Setelah malam itu, harusnya kami akan bersikap seolah sebelumnya tak ada hal aneh yang terjadi. Kami sudah biasa seperti itu. Berbaikan setelah bertengkar. Tapi entah kenapa atmosfer antara kami sedikit berubah setelahnya. Ia tetap melakukan tugasnya. Namun kami tak saling bicara. Saat aku ingin memulainya, aku merasa kaku. Ia juga tetap sibuk membersihkan apartemen yang menurutku tidak begitu penting. Kami hanya tinggal berdua. Waktu kami lebih banyak dihabiskan ditempat kerja dibanding disana. Jadi, kenapa begitu kerepotan? Tapi nampaknya ia sama sekali tak sependapat. Aku bahkan sudah tak mau membahasnya untuk menghindari pertengkaran berikutnya. ”

Yesung ingat benar hari-hari menjelang tahun baru saat itu sangatlah tidak menyenangkan baginya. Kalau dipikir-pikir tak ada masalah berat antara mereka, tapi entah kenapa ia masih enggan bicara dengan Jeany. Dengan kenyataan Jeany tetap pergi ke Jepang, ia benar-benar kecewa. Namun, tiba-tiba saja semua rencana itu berubah. Dua malam sebelum pergantian tahun, tepatnya saat ia hanya menonton Jeany menyusun pakaian ke dalam koper, Jeany mendapatkan telepon yang mencurigakan.

Ia yang tadinya ingin bertanya langsung beringsut, menyembunyikan tubuhnya lalu mencuri dengar.

***Memories***

“Apa maksudmu? Aku tidak mungkin melakukannya!”

Yesung berdiri dibalik pintu kamarnya. Ia bisa dengan jelas mendengar Jeany sedang berbebat dengan seseorang ditelepon. Ia tahu ini tidak pantas dan harusnya ia tak perlu bersembunyi. Cukup tanyakan pada Jeany dan Jeany pasti akan mengatakan yang sejujurnya. Namun, melihat situasi antara mereka belakangan ini, ia rasa apa yang ia dengar tidak bisa dibilang sebuah kejujuran.

“Hyosun, tapi Siwon sudah memberikan tugas itu padaku. Semuanya sudah siap dan kami akan berangkat malam ini. Sangat tidak masuk akal kalau aku membatalkannya.”

Siwon? Mereka pergi bersama? Tak sadar kedua tangannya mengeras dan memukul dinding dengan tertahan. Ia tidak boleh gegabah dan mengambil kesimpulan sendiri. Tapi kenapa Jeany tak pernah bilang jika ia pergi dengan pria itu?

“Please, kau boleh meminta apapun, tapi tidak untuk tugas ini. Aku sangat menginginkannya.”

Ia benar-benar penasaran apa maksud perkataan istrinya itu. Terdengar seperti sebuah ancaman.

“Jangan! Jangan katakan itu pada semua orang. Kau harus tutup mulut!”

“Kumohon jangan menekanku seperti itu.”

Yesung tak tahan. Ia sudah tegak dan memiringkan tubuhnya. Ia harus masuk dan bertanya secara langsung. Namun sebelum ia melangkah, ia mendengar suara Jeany melemah.

“Baiklah. Aku setuju. Aku tidak akan pergi malam ini.”

Dan belum sempat ia mencerna maksud perkataan itu, Jeany sudah lebih dulu muncul dihadapannya. Mereka bertemu pandang. Jeany menarik nafas kemudian mengatakan, “Pada akhirnya kau akan menang. Aku tidak jadi pergi.”

Jeany berlalu dari hadapannya sementara ia sibuk bertanya-tanya, apa yang terjadi? Ia seperti tak mengenali wanta itu. Caranya bicara, caranya menatapnya, tak seperti biasa. Setelahnya Jeany memang terlihat sibuk dengan segala pekerjaan rumahnya. Tapi Yesung bisa melihat ada sesuatu yang ditahan dan disimpannya sendiri. Bukankah harusnya ia selalu jadi orang pertama yang mendengar keluh kesahnya? Mendengarkannya menumpahkan segalanya hingga tuntas? Sayangnya tak ada lagi sesi curhat panjang lebar itu. Jeany bungkam. Begitupun dengannya yang entah kenapa kesulitan untuk bertanya. Hingga malam pergantian tahun itu tiba, mereka tak kemana-mana. Yesung menolak tawaran bosnya untuk merayakannya di luar dengan seluruh pekerja cafe. Jeany juga sempat mengatakan bahwa ia tak ikut perayaan dengan teman-teman kantornya.

Dipusat kota nyaris seluruh orang berkumpul. Berdiri dengan terompet dan menunggu parade kembang api, lalu bersiap menghitung mundur. Sedang mereka hanya berdiri di balik jendela, memandang kembang api yang melesat ke atas dan menghiasi langit. Mereka sudah memasuki tahun 2002. Dan harapan pertama Yesung ditahun ini adalah…..melihat Jeanynya kembali seperti dulu.

Ia selalu berharap bahwa masalah apapun yang mereka hadapi bisa diselesaikan dengan tenang, tak perlu begitu serius hingga tak menjadi beban. Tapi setelah berjalan sejauh ini, ia rasa sudah tak bisa bersikap demikian lagi.

“Maafkan aku.” Ia buka suara lebih dulu. Ia bisa rasakan Jeany memandangnya.

“Mungkin aku belum bisa menjadi seseorang yang kau inginkan. Mungkin…..aku belum cukup membuatmu nyaman untuk kau bisa jadikan sandaran seperti saat kita berkencan. Aku tak berguna.”

Mereka sama-sama diam setelahnya. Yesung pikir….inilah saatnya mereka berhenti bersikap seakan tak peduli. Ia harus menyelesaikannya. Ia harus mengetahui masalah yang ditutupi istrinya.

“Jeany…” Ia menarik kedua tangan wanita itu, menyatukan jari-jari mereka hingga bertautan erat. Ia lalu mendekatkan wajahnya, dengan perlahan memberikan satu ciuman padanya. Ia sudah tak mendengar suara letusan kembang api serta tiupan terompat diluar. Yang ia dengar hanya detak jantung istrinya.

“Sekarang….aku ingin mendengar semuanya. Katakan apa yang harus kau katakan. Jelaskan apapun yang harus kau jelaskan.”

Jeany menarik nafas. Yesung pun demikian. Ia harap ia siap mendengarnya karena tiba-tiba saja ia punya firasat bahwa itu bukan sesuatu yang baik.

“Sebenarnya……aku……”

****TBC****

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Novita Arzhevia
    Jun 28, 2015 @ 07:31:27

    Kelanjutan selalu bikin penasaran. Daebaak thor!! Ditunggu next part nya. .

    Reply

  2. spring
    Jun 28, 2015 @ 07:44:53

    jgn jeany tdk mengakui statusnya sama orang2 tv. ditunggu lanjutannya

    Reply

  3. sssaturnusss
    Apr 30, 2016 @ 01:21:12

    Tambah sini, tambah cepet menemukan TBC wkwkwk aku bener-bener udah kebawa cerita ini mah kekekeke

    Pertama baca dimana Jeany bilang betapa tampan, berkharisma, lalu terlihat sempurna .. Entah kenapa pikiran aku langsung tertuju pada sosok Choi Siwon ? Hahahahaha dan ternyata memang Om Choi wkwkwk

    Aegyo ~ aku ikut ketawa hahahahahaha udah berasa aku ada bareng mereka aja 😦 wkwk

    Nah kan tambah curiga ajh sama Jeany! Aku yakin dia nutupin statusnya yg udh menikah -_- makin rumit yah aku pikir kehidupan rumah tangga mereka dari hari ke hari .. Kadang aku kesel sama Jeany ~ kadang aku juga gemes sama Yesung ~

    Selama mereka di Liverpool. Disana ada Dennis (Leeteuk), Chesy (Heechul), Donghae (Aiden. Tapi tetep Donghae disana hehe), Marcus (Kyuhyun?), Jordan (Kangin?), Nathan (Ryeowook?), Vincent (Sungmin?) Aku pikir hanya akan ada mereka .. Tapi saat Hangeng muncul, lalu Siwon, dan skrang Eunhyuk ? Ahhh jadi mereka terpisah dengan perannya masing masing hihihi dan satu lagi. Lee Hyerin (klo gak salah nama) dia bukan sesuatu yang di khawatirkan’kan ? Takut salah nebak aku. Taunya Yesung yang selingkuh wkwkwkwk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: