Gloomy Lily

Author : Aryn
Judul : Gloomy Lily
Tag (tokoh/cast) : Kim Jong-Woon, Jung Ji-Mi
Genre : Sad, Romance
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

Gloomy Lily

***

I’m holding back the tears
I walk trying to lessen the weight of my heart
To a place that is neither close nor far
Where a different me stands
I will not cry

***

“Dulu kau selalu suka musim gugur, kan?” Laki-laki tinggi itu tidak berniat menambah luka, sungguh tidak demikian. Ia hanya rindu tawa gadis yang duduk termangu di sebuah bangku panjang taman sore itu, rindu ketika ia bercerita tentang kisahnya. “Tapi sekarang tidak lagi.”

“Musim gugur itu mimpi buruk,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangan. “Mimpi burukku.”

Jung Han-Soo tahu benar bahwa adik perempuannya menderita, Han-Soo sungguh ingin membawa tawa adik kembarnya itu kembali, tapi apa daya? Sekarang ia hanya bisa melihat tawa adiknya sesekali, dan hampir tidak pernah ketika musim gugur tiba.

“Aku membawa krep, ini masih hangat ada gulanya juga, untukmu.”

Jung Ji-Mi menoleh dan tersenyum kecil, tidak, sebenarnya ia tidak tersenyum, hanya saja wajahnya lebih hangat.

“Terima kasih,” katanya sembari meraih Krep pemberian Jung Hee-Yeol, adik laki-lakinya.

Akhirnya mereka bertiga duduk hening di bangku taman itu. Mereka bertiga bersaudara, Jung Han-Soo adalah kakak tertua yang lahirnya berbeda tiga menit dengan Ji-Mi, sementara Hee-Yeol lahir tiga tahun setelah mereka. Ibu mereka meninggal dunia tiga tahun lalu dan Ayah mereka menjadi polisi di kota. Di desa kecil ini, di desa damai perbatasan ini, Ji-Mi dan saudaranya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.

“Bagaimana sekolahmu?”

“Baik,”

Ji-Mi tersenyum kecil pada Hee-Yeol, terkadang Ji-Mi iri pada adiknya itu. Dia begitu ceria, jiwanya bebas dan ia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Ji-Mi sebenarnya bisa saja melakukannya, namun setiap kali ia mencoba melakukannya, hatinya menolak.

“Kalian akan meninggalkanku sendiri,” nada suara Ji-Mi sedih, namun wajahnya datar. “Kabari aku kalau sudah tiba di Seoul.”

Han-Soo dan Han-Yeol akan ke Seoul besok subuh naik kereta. Han-Soo akan menemui ayah mereka dan mengikuti wajib meliter yang telah ia persiapkan sepanjang tahun ini, selain untuk menjalankan kewajiban sebagai pria korea, ia melakukannya agar bisa mendapatkan pekerjaan, hidupnya dan adik-adiknya harusnya bisa lebih baik dari ini. Sementara Han-Yeol, ia memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya dan melanjutkan kuliah.

“Ikutlah bersama kami, hidup di kota dan temani ayah. Tidak ada yang bisa diharapkan di tempat ini.”

Ada.

Jung Ji-Mi selalu punya harapan di desa kecil ini.

“Aku punya banyak kenangan ibu di sini,” katanya pelan. “Aku punya kenangan kita di sini.”

Kalau Ji-Mi telah berkata demikian, Han-Soo dan Han-Yeol tidak bisa mengelak. Ji-Mi adalah orang yang paling terpukul karena kepergian ibu mereka, Ji-Mi setelah kepergian ibunya menjelma menjadi gadis yang kuat, namun bisa sangat rapuh ketika mengingat ibunya. Setiap hari Han-Soo dan Han-Yeol bisa melihat sosok ibu di dalam diri Ji-Mi, gadis itu menggantikan posisi ibu di rumah.

“Hubungi aku kalau sudah tiba di Seoul,” Ji-Mi mungkin lupa bahwa ia telah mengatakan itu berulang kali, tapi apalagi yang bisa ia katakan? Ia sedih ditinggal sendirian, tapi ini adalah pilihan. Ji-Mi juga tidak sanggup meninggalkan desa ini, dan lebih tidak sanggup untuk menginjakkan kaki di Seoul, di sana, terdengar mengerikan.

***

Setelah kereta api tua itu menghilang dibelokan rel, Ji-Mi mendorong sepedanya menjauh. Lambaian tangannya memelan lalu berhenti, wajahnya berangsur-angsur sendu. Ia melihat seseorang berdiri di seberang rel kereta, memakai pakaian sekolahan, usianya kira-kira enam belas tahun… Ji-Mi ragu dengan apa yang ia lihat, ternyata bukan hanya seorang, ada dua orang anak sekolah yang sedang berpegangan tangan sembari menjajaki rel kereta. Anak laki-laki itu memainkan daun-daun kering di tanah dengan kakinya sementara anak perempuan menatap anak laki-laki itu dengan geli. Tanpa banyak bicara, Ji-Mi tahu bagaimana bahagianya kedua anak itu, mereka hanya berpegangan tangan, tapi mereka sungguh bahagia.

“Kenapa harus lewat sini?”

“Diam dan tunggu saja.”

“Tunggu kereta datang dan menabrak kita?”

“Lihat, itu di sana.”

Ji-Mi mengikuti angin dan menatap ujung rel, matahari terbit dengan indahnya di sana. Muncul dengan semangat baru dan sinar yang hangat. Seperti anak itu, yang selalu menjadi selamat pagi bagi hari-harinya dulu.

“Kim Jong-Woon, kau tahu dari mana tempat ini?”

“Hanya kebetulan lewat pagi itu, dan aku mengingatmu.”

Ji-Mi tersenyum kecil dan air matanya jatuh. Kim Jong-Woon-nya itu… sekarang masihkah ia mengingat Ji-Mi setiap matahari terbit di pagi hari?

***

I bring my two hands together once again
In a place I live the present life instead of the memoriesThough it seems stupid, we’re always together
The pain that I want to let go
Dries the tears that flows through my body

***

Musim gugur bertahun-tahun yang lalu.

“JI-Mi-ya, meja nomor empat ya,” Jung Ji-Mi terlihat sibuk. Musim gugur yang dingin membawa begitu banyak pelanggan di kedai Ramyun kecil tempatnya bekerja.

Ketika telah memastikan semua Ramyun selesai diantar, Ji-Mi duduk di ujung ruangan, dan menoleh ketika bel kedai berbunyi nyaring, pertanda ada pelanggan lagi yang kelaparan.

“Oh, kau datang?”

“Hmm,”

Senyum Ji-Mi melebar ketika melihat laki-laki yang tidak terlalu tinggi itu masuk ke kedai dan duduk di kursi pada meja paling ujung di dekat jendela. Kim Jong-Woon, wajahnya tidak bersahabat, dia tidak suka tertawa, tapi sekali tertawa ia mampu membuat napas Ji-Mi pergi entah kemana. Ji-Mi mencintainya sepenuh hati, begitu pula sebaliknya. Mereka saling mengenal ketika masuk sekolah menengah atas, dan Jong-Woon mengatakan bahwa ia menyukai Ji-Mi tiga tahun yang lalu dan mereka bersama hingga sekarang.

“Berhentilah bekerja di sana, kau terlihat lelah.”

Ji-Mi menatap Jong-Woon dengan tatapan sayu. Ada sebuah tempat minum di desa yang baru buka dan Jong-Woon bekerja di sana hingga larut malam. Keadaan keluarga mereka memang tidak jauh berbeda. Tidak jauh lebih baik. Mereka hidup dengan segala kesederhanaan di desa.

“Aku ini kuat,” sela Jong-Woon sembari menuliskan menu Ramyun yang ingin ia santap. “Lebih baik kau perhatikan jam kerjamu, kau sulit sekali ditemui akhir-akhir ini. Kau tidak tahu kalau aku rindu padamu?”

Wajah Ji-Mi merekah dan ia tersenyum. Pria datar itu memang selalu tahu bagaimana cara membuatnya berdebar. Kim Jong-Woon selalu tahu caranya.

“Malam ini ada pameran, ingin pergi denganku?”

“Aku bekerja, Jong-Woon-a, aku tidak bisa pergi. Maafkan aku.”

“Ya sudah,” Ji-Mi tidak melihat kekesalan di wajah Jong-Woon, pria itu menatapnya datar sambil mengacungkan menu makanan.

“Apanya yang ‘ya sudah’?”

“Ya sudah sana kerja.”

Alis Ji-Mi menyatu. “Lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Aku lapar. Ya aku akan makan.”

Ji-Mi menggaruk tengkuknya. “Setelah makan, maksudku.. aku tidak bisa pergi bersamamu malam ini, jadi kau akan pergi sendiri?”

Joing-Woon hanya memerhatikan sekitar tanpa ingin menjawab Ji-Mi. “Apa yang kau tunggu?” Jong-Woon menyuruh Ji-Mi pergi dengan tangannya sementara gadis itu memeluk nampan dengan bingung. “Aku akan di sini saja.”

“Kenapa kau di sini?”

“Aku mau makan.”

“Setelah makan?”

“Aku akan tetap di sini.”

“Untuk apa?”

“Menunggumu.”

“Jangan menunggu. Aku akan terlambat pulang. Pelanggan sedang ramai.”

“Kalau begitu cepat bekerja.”

“Dan kau?”

“Akan di sini.”

“Untuk apa?”

“Melihatmu.” Kim Jong-Woon hanya tersenyum sekilas. Dan Ji-Mi baru tersadar bahwa ia begitu merindukan laki-laki itu. “Aku lelah, dan aku benar-benar ingin melihatmu Jung Ji-Mi.”

Ji-Mi memberengut. Harusnya Jong-Woon pulang ke rumahnya dan tidur kalau ia lelah, bukan melihatnya. Seakan dapat membaca pikiran Ji-Mi, Jong-Woon berkata dengan suara seraknya yang khas. “Tidak usah banyak berpikir, Ji-Mi-ya, aku sedang lelah dan kau tahu dengan melihatmu saja aku merasa jauh lebih baik.” Jong-Woon tersenyum lebar, lalu wajahnya datar kembali. “Omong-omong, kau sudah boleh menyiapkan pesananku sekarang.”

***

“Kau harusnya tidak perlu membeli ini. Harganya mahal.”

Jong-Woon sibuk mengatur sumpit Jajangmyeon milik Ji-Mi sementara gadis itu menggerutu sambil memerhatikan setangkai lili putih di tangannya.

“Satu tahun sekali, dan kenapa kau masih saja cerewet?”

Ji-Mi memerhatikan Jong-Woon yang wajahnya cerah, sejak mengenal Kim Jong-Woon bertahun-tahun lalu dan tinggal di sisinya, Ji-Mi mulai mensyukuri hidup. Melalui Jong-Woon dan karena dia, Ji-Mi belajar mandiri dan berbagi. Sosok Jong-Woon-nya bukan hanya kekasih idaman, namun juga pendamping yang sangat di idam-idamkan Ji-Mi.

“Selamat ulang tahun, Jung Ji-Mi.”

Suara rendah Jong-Woon itu membuat Ji-Mi berpaling padanya. Dan laki-laki itu tersenyum lemah.

“Maaf tidak bisa memberikan apa-apa selain ini, maaf belum bisa menjadi yang terbaik. Semoga kau selalu sehat, selalu menjadi Jung Ji-Mi yang ceria, yang bahagia dan yang mencintai Kim Jong-Woon selamanya.”

Walau hari itu hujan, Jong-Woon tetap datang ke rumah kecil Ji-Mi dengan setangkai lily putih dan dua mangkuk Jajangmyun hangat. Jong-Woon tetap datang walau ia harus menghadapi atasannya yang galak setelah ini. Untuk Ji-Mi, Jong-Woon tetap datang.

“Kau telah memberiku begitu banyak, Jong-Woon-a, bagaimana aku membalas kebaikanmu nanti?”

Jong-Woon tersenyum kecil. Membanggakan diri sekaligus merendah. Khas dirinya yang aneh. “Tetaplah mencintaiku.”

“Apa?”

“Jangan pernah menyerah denganku. Tolong bertahanlah apapun yang terjadi pada kita nanti. Begitu caramu membalasku. Kau mampu?”

Senyum Ji-Mi melebar. “Walau sulit, aku pasti mampu.”

“Jangan terlalu percaya diri,”

“Aku berani bertaruh kalau kau tidak akan mendapatkan gadis lain yang mampu menghadapi tingkah anehmu.”

“Hmm, benar juga.” Kim Jong-Woon tidak mampu menahan diri untuk tidak menyantap Jajangmyunnya, Ji-Mi terlalu lama. Setelah melihat hujan yang terus turun gadis itu malah memutar-mutar lily pemberian Jong-Woon. “Kelopaknya bisa rontok kalau kau menatapnya terus.”

“Harusnya uangnya bisa kau pakai untuk makan, Jong-Woon-a, untuk dua hari.”

Jong-Woon mendengus. “Kau masih memikirkan harganya? Oh ya ampun, sekali setahun, Ji-Mi-ya.”

“Tapi tetap saja mahal.”

“Kalau begitu tahun depan aku akan membawakanmu rerumputan saja, ya?”

“Rerumputan?”

“Ya, rumput yang sering dimakan domba paman Lee itu. Itu kan gratis.”

Ji-Mi memberengut, “Kau sedang menyamakanku dengan domba?”

“Kau bilang menyukai Lily, sekarang aku membawakannya kau malah sedih. Ya sudah jangan menyalahkanku kalau aku memberimu rumput tahun depan.”

Ji-Mi tertawa, “Dasar pelit.”

Jong-Woon ikut tertawa, “Kau tidak makan Jajangmyunmu? Untukku?”

Ji-Mi menarik mangkuknya dengan gerakan cepat. “Ini milikku!”

“Dasar pelit.”

Ji-Mi tersenyum simpul, tanpa sengaja ia melihat tubuh Jong-Woon yang semakin kurus. Daripada laki-laki itu mengomel lebih baik, “Kemarilah,”

“Apa?”

“Makan bersamaku.”

“Kau akan membaginya?”

“Tentu.” JI-Mi tersenyum manis, ia meletakkan sumpit ditangan Jong-Woon dan menatap laki-laki itu. “Aku juga ingin berbagi,” katanya. “Seperti yang selalu Kim Jong-Woon lakukan untukku.”

***

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

“Aku bahkan sempat berpikir untuk tidak memberitahumu.”

Rasanya ingin sekali Ji-Mi menjambak rambut Jong-Woon ketika laki-laki itu dengan tanpa dosanya tersenyum padanya. Suasana pagi itu sepi, musim gugur diminggu-minggu terakhir yang dingin.

“Apa yang akan kaulakukan di Seoul?”

Lima belas menit lagi Jong-Woon akan naik kereta menuju Seoul, kalau Ji-Mi tidak melewati toko bunga kecil di dekat tempat kerja Jong-Woon, mungkin ia tidak akan pernah tahu.

“Bibi penjual bunga yang memberitahuku,” kata Ji-Mi sambil menangis. “Kau tidak membeli bunga lily itu, kan? Kau bekerja mengangkat pot selama dua hari untuk mendapatkan bayaran, tapi kau memilih menukarnya dengan setangkai lily. Kenapa kau bodoh sekali? Badanmu kecil, pot-pot itu berat dan kau sok kuat mengangkatnya. Kenapa kau begitu bodoh?”

Jong-Woon tersenyum dan mengelus rambut Ji-Mi. “Kau yang terlihat bodoh sekarang. Kenapa menangis?”

“Kau akan meninggalkanku. Kau akan pergi…”

Jong-Woon maju selangkah, ia meligkarkan tangannya di sekitar tubuh Ji-Mi dan memeluk gadis yang sedang terisak itu. “Aku akan kembali padamu, percayalah.”

Ji-Mi tidak percaya. Dulu ibunya bilang ia akan selalu di samping Ji-Mi, tapi ibunya pergi dan tidak pernah kembali lagi. Jadi Ji-Mi tidak akan percaya.

“Kau bohong.”

Jong-Woon terkekeh, ia juga berusaha mengusir sesak di dadanya. “Apakah Kim Jong-Woon pernah berbohong padamu?”

Ji-Mi menggeleng.

“Kalau begitu percayalah bahwa aku akan kembali padamu lagi.”

Ji-Mi memeluk Jong-Woon erat-erat. Ia tahu ini salam perpisahan. Dan Ji-Mi benci salam perpisahan. Ji-Mi terus menangis tanpa sadar ketika bibir tipis itu telah berada di atas bibirnya. Kim Jong-Woon juga menangis, pipinya basah. Ini pertama kalinya Ji-Mi melihat laki-laki itu menangis.

“Jung Ji-Mi,” panggil Jong-Woon. “Berjanjilah kau akan menungguku.”

Ji-Mi menangis keras dan menggeleng. Ia sungguh tidak sanggup berjanji. Ia ingin Kim Jong-Woonnya di sini. Jangan pergi. Jangan pergi kemana-mana…

“Ketika aku pulang nanti, aku tidak ingin melihat ada air mata, ya, Jung Ji-Mi. Berdandanlah yang cantik dan kupastikan kita akan menikah.” Jong-Woon menghapus air mata Ji-Mi. “Aku suka melihatmu mengenakan gaun putih, kau cantik.”

Ji-Mi terisak kecil ketika ia melihat wajah Jong-Woon. Ia akan sangat merindukan lai-laki ini.

“Kau akan menungguku, kan?”

Ji-Mi menunduk, ia menatap kedua sepatunya. Kim Jong-Woon akan meninggalkannya. Sebentar lagi.

“Ji-Mi-ya,” panggil Jong-Woon pelan. Dan Ji-Mi mengangkat wajah, ia menatap Jong-Woon dan hatinya seakan diremas-remas. “Tolong berjanjilah. Untukku, untuk kita. Tolong berjanjilah.”

***

Jung Ji-Mi berjanji.

Tapi Kim Jong-Woonnya itu tidak pernah kembali.

Hingga hari ini.

Kim Jong-Woon tidak datang, lily darinya telah layu dan hampir mati.

Musim gugur tiga tahun yang lalu paman pengantar surat datang memberikan sesuatu untuk Ji-Mi. Mimpi buruknya dimulai dengan datangnya surat itu.

Itu adalah surat dari Jong-Woon. Katanya dia tidak akan pulang, katanya ia tidak akan kembali, katanya ia tidak bisa bersama Ji-Mi lagi, dan dia meminta Ji-Mi untuk melupakannya. Dia meminta Ji-Mi untuk berhenti menunggu.

Karena Kim Jong Woon sudah memiliki kehidupannya sendiri, tanpa Jung Ji-Mi.

Melalui surat itu Jong-Woon bilang dia sudah menikah, istrinya sedang hamil empat bulan ketika itu. Mereka hidup bahagia dan sangat berkecukupan di Seoul.

Tidak ada harapan bagi Ji-Mi, namun ia tetap menunggu. Dia menunggu Kim Jong-Woon pekerja keras itu pulang, turun dari kereta dan memeluknya. Lalu mereka akan menikah, hidup bahagia sampai nanti, seperti janji laki-laki itu padanya dulu.

Dulu.

Jung Ji-Mi menatap langit sore itu. Langit sama sekali tidak indah, langit sore itu mendung dan hitam. Hujan akan turun sebentar lagi. Hari ini tepat enam tahun Jong-Woon berjanji akan kembali. Tiga tahun setelah Ji-Mi menerima kabar itu dan tiga tahun ia sekarat menunggu laki-laki itu. Walau tahu Jong-Woon tidak akan datang, tapi Ji-Mi tetap menunggu.

Jong-Woon pernah bilang padanya, tidak ada usaha yang sia-sia.

Namun ada usaha yang memang tidak memerlukan hasil.

Misalnya kisah mereka, mungkin.

Ji-Mi tersentak ketika kereta datang. Kereta itu berhenti dan satu persatu penumpangnya turun dengan teratur. Tidak banyak karena memang kereta itu adalah kereta yang kecil, dan siapa yang akan datang ke desa kecil itu selain orang-orang yang memang tinggal di sana?

“Jung Ji-Mi?”

Ji-Mi mengangkat wajah ketika suara lembut itu menembus pendengarannya. Ia menoleh, dan orang itu tanpa permisi duduk di bangku kosong tepat di sampingnya.

“Kau Jung Ji-Mi, bukan?”

Ji-Mi mengangguk. Ia tahu siapa gadis ini. Pakaiannya sangat modis, tubuhnya terawat dan wajahnya bersinar-sinar bagai dewi bulan. Dia adalah istri Jong-Woon. Jong-Woon sendiri yang mengirimkan foto mereka bersama surat terkutuk itu beberapa tahun lalu. Mengapa gadis ini datang padanya?

“Ternyata kau sangat cantik,” gadis itu tersenyum manis. Sekarang Ji-Mi tahu mengapa Jong-Woon berpaling, gadis ini sempurna. Bahkan lebih dari sempurna. “Aku Hyora. Shin Hyora.”

“Aku tahu,” Ji-Mi tersenyum kecut. Ji-Mi tahu nama istri Jong-Woon ini mengingat begitu sering Jong-Woon menyebutnya dalam surat yang Ji-Mi terima.

“Aku melihat Hee-Yeol kemarin sore.”

Ji-Mi menoleh cepat. “Kau bertemu dengan Hee-Yeol?”

Shin Hyora itu mengangguk.

“Bagaimana bisa?”

Shin Hyora tersenyum, “Sebenarnya bukan aku yang bertemu dengannya. Dia melihatku dan Jong-Woon sedang berjalan bersama di salah satu pusat perbelanjaan. Dia langsung menarik Jong-Woon pergi.”

Ji-Mi masih belum mengerti, ia menatap Shin Hyora lekat. Apa maksudnya?

“Dan setelah itu aku belum melihat Jong-Woon hingga hari ini.”

“Kau pikir Hee-Yeol memaksa Jong-Woon pulang oleh karena itu kau datang ke sini?” Ji-Mi sudah terbawa emosi, baginya yang orang kecil tindakan Hyora ini termasuk berani. Tapi seharusnya memang begitu. Istri mana yang rela suaminya dibawa pergi dan menemui mantan kekasihnya? “maafkan aku jika adikku membuat kekacauan dengan menemui Jong-Woon, tapi ini salah paham. Sesungguhnya aku sama sekali belum melihat Jong-Woon. Dan, tidak ingin melihatnya lagi.”

Shin Hyora menoleh sekilas. Ia tahu Ji-Mi tidak benar-benar yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Tapi dia merindukanmu.”

Dada Ji-Mi bergetar sakit. Kalau Jong-Woon merindukannya, harusnya ia pulang! Harusnya ia tidak menikahimu!

“Tapi dia suamimu.”

“Aku bukan istrinya,” kata Hyora datar dan dada Ji-Mi malang melonjak. “Aku tahu kisah kalian. Jong-Woon pemuda baik. Dia bekerja di bar milik ayahku dan menolongku ketika aku mabuk berat dan jatuh pingsan.”

Lalu kalian dekat dan saling jatuh cinta, bukan?

“Jong-Woon membawaku ke rumah sakit dan menemaniku hingga ayahku datang,” Hyora menghela napas berat. “Ini semua salahku, salahku jika hubungan kalian berakhir seperti ini.”

Ji-Mi tidak bisa menahan diri, ia mungkin tidak bertanya, tapi air matanya jatuh.

“Aku sakit. Pola hidupku sangat buruk dan dalam dua hari salah satu ginjalku harus diangkat, namun Dokter bilang aku tidak akan mampu bertahan dengan satu ginjal. Saat itu Jong-Woon menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalnya. Ayahku memberinya uang dan bertanya mengapa ia mau melakukannya.”

Ji-Mi menahan napas saat Hyora menatapnya dalam-dalam dan gadis itu menangis.

“Dia bilang dia ingin membahagiakan seseorang.”

“Apa maksudmu?”

Hyora menghapus air matanya, “Jong-Woon itu begitu baik, ya? Setelah operasi kami menjadi teman dekat. Dia bilang padaku bahwa dia punya seseorang yang ia cintai, dan ia berjanji akan kembali dan membahagiakan orang itu. Saat itu aku sangat mengangumi Jong-Woon, jujur saja, aku menyukainya. Tapi Jong-Woon begitu mencintaimu.

“Jong-Woon bekerja dengan satu ginjal sementara ginjalnya yang lain ada dalam tubuhku. Namun semakin hari tubuhnya melemah. Ia mengundurkan diri dari tempat kerja ayahku dan mulai bisnis restorannya sendiri dengan uang pemberian ayahku, juga membangun rumah untukmu.

“Kami masih berteman baik hingga hari itu Jong-Woon meminta bantuanku. Dia bilang hanya pura-pura, untuk meyakinkanmu bahwa ia hidup dengan baik dan untuk meyakinkanmu agar berhenti menunggunya. Kupikir saat itu adalah kesempatan baikku untuk mendekatinya, ternyata tidak sama sekali. Keadaan Jong-Woon memburuk dan ia menolak melakukan pengobatan, katanya uangnya lebih baik dipersiapkan untuk istrinya nanti. Jadi Jong-Woon hidup sendirian, hingga Hee-Yeol datang kemarin…”

“Dia berbohong padaku.” Ji-Mi terisak dan membakap mulutnya dengan telapak tangan. “Kim Jong-Woon, dia berbohong padaku.”

“Dia mencintaimu, Jung Ji-Mi.”

“Di mana dia sekarang?”

Hyora menatap Ji-Mi cemas. “Aku datang padamu untuk menjelaskan semuanya dengan harapan agar Jong-Woon kembali padamu dan melakukan pengobatan. Dia begitu bodoh, katanya tidak ingin menjadi beban bagimu. Jadi dia merahasiakan segalanya. Kupikir kurang bijaksana jika aku ikut menyembunyikannya darimu. Kau berhak tahu.”

Satu-satunya yang ada di kepala Ji-Mi adalah Jong-Woon, jadi ia berlari pulang ketika hujan mulai turun. Ia meninggalkan Hyora tanpa peduli apa yang terjadi pada gadis itu. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah menghubungi Han-Soo atau Hee-Yeol dan menanyakan keberadaan laki-laki bodoh itu.

“Jong-Woon-a,” Ji-Mi tidak percaya apa yang ia temukan ketika membuka pintu rumah kecilnya. Kim Jong-Woon yang suka mengenakan pakaian serba hitam itu duduk di ruang tengah dan tersenyum padanya. “Apa yang kau lakukan?”

Jong-Woon tidak banyak bicara, Ji-Mi masih sibuk menyadarkan dirinya sendiri. Apakah ini mimpi atau bukan, setelah sekian lama, Jong-Woonnya datang.

“Kau memakai gaun putih, dan kau cantik.”

Ji-Mi menghambur memeluk Jong-Woon, dadanya sudah penuh sesak dan siap meledak dalam pelukan laki-laki itu. Ia menangis meraung-raung di sana, betapa ia merindukan laki-laki ini. Bertahun-tahun ia menunggu matahari terbit dan menunggu kereta datang membawa laki-laki ini kembali padanya. Hari ini dia kembali. Dan Ji-Mi tidak akan membiarkannyapergi lagi.

“Kenapa baru datang sekarang? Kenapa… kenapa meninggalkanku begitu lama?”

Jong-Woon terkekeh walau napasnya putus-putus. “Karena aku baru bisa datang sekarang.” Jong-Woon menarik Ji-Mi keluar dari pelukannya, ia menatap gadis itu dan menghapus air matanya. “Aku membawa bunga lily. Lihat, sekarang dua puluh satu tangkai. Bukan hanya satu tangkai. Kau suka?” Jong-Woon berusaha tersenyum namun Ji-Mi yang melihatnya terus menangis.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau melakukannya? Kau pucat sekali, Jong-Woon-a,”

“Aku tidak apa-apa.” Kim Jong-Woon tersenyum. Lagi-lagi. “Kau terlihat sangat cantik sekarang, kenapa belum menikah? Bukankah aku menyuruhmu menikah dan hidup bahagia? Lihat aku, Ji-Mi-ya. Aku sudah menikah dan punya anak… aku bahagia sekarang dan kau juga harusnya begitu.”

Ji-Mi menggeleng, ia kesulitan benapas. “Kenapa berbohong padaku?”

Jong-Woon menatap kedua mata Ji-Mi dan ia mengerti segalanya. Entah apa yang terjadi dan bagaimana itu terjadi, gadisnya sudah tahu. Jong-Woon merasakan sesak yang tak tertahankan menjalari dadanya. Matanya memanas dan memerah ketika harus menahan sakit di depan Ji-Mi. Gadis itu masih menangis, jadi ia tidak boleh mengeluarkan air matanya. Rasa sakit itu menjalar hingga ke seluruh tubuh Jong-Woon. Rasa sakit itu membuatnya ingin berteriak keras, membuatnya lelah dan ingin tidur.

“Ji-Mi-ya, boleh aku meminta satu permintaan padamu?”

Ji-Mi yang masih terisak menghapus air matanya daan menatap Jong-Woon. Apa saja. Asal jangan tinggalkan aku.

“Bisa peluk aku tiga menit?”

Sebuah isakan kecil Ji-Mi melompat keluar ketika Jong-Woon memeluknya erat-erat. Pria itu memeluknya dengan begitu hangat. Pelukan ini hanya milik seorang Kim Jong-Woon, bukan yang lain. Dan pelukan ini sungguh tiada duanya.

“Kau bisa tinggal di sini, Jong-Woon-a, tidak perlu ke Seoul lagi. Tidak perlu memberiku apa-apa lagi.” Ji-Mi mengelus rambut Jong-Woon, dan menepuk-nepuk lembut punggungnya. “Sekarang aku yang akan memberikanmu segalanya. Aku yang akan bekerja, aku yang akan membahagiakanmu. Kau hanya perlu tinggal di sisiku dan aku akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja. Kita akan bahagia.”

Hujan yang turun disore yang gelap itu menjadi saksi janji Ji-Mi pada Jong-Woon. Menjadi saksi betapa indah dan betapa pilunya kisah mereka yang berakhir hari itu.

Dalam pelukan Ji-Mi, Jong-Woon menutup matanya. Ia tidak sanggup lagi melawan sakit. Jong-Woon menutup matanya dan bernapas untuk terakhir kalinya di dalam pelukan Jung Ji-Mi, gadisnya.

Dan Hujan dimusim gugur kelabu itu menjadi saksi tangis dan isak pilu Ji-Mi karena kehilangan Jong-Woon.

***

Hee-Yeol datang padaku, dia sama sekali tidak marah padaku. Tapi baru kali ini aku melihat bocah nakal itu menangis. Ji-Mi-ya… apa aku begitu menyakitimu?

Aku ingin meminta maaf, tapi aku sadar walaupun aku mati sekarang tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku padamu.

Jung Ji-Mi, kau tahu? Kata orang Lily putih itu adalah lambang ketegaran dan kerja keras. Aku bekerja keras karena aku punya seseorang yang ingin kulihat selalu tawanya. Jung Ji-Mi yang ceria, gadisku yang kucintai. Kalau suatu hari nanti kita bertemu lagi, berikan aku lily-lily yang cantik agar aku bisa terus bisa mensyukuri hidup dan mengingatmu. Mengingat kenangan kita.

Sebuah nama bukanlah penyebab mengapa seseorang selalu tinggal di hati kita, namun kenangan, yang membuatnya selalu ada.

Begitu pula denganmu, suatu hari nanti aku mungkin akan melupakanmu. Tapi hatiku, tidak akan bisa menghapusmu.

Terima kasih banyak, penyelamat dan pelindung Kim Jong-Woon, Jung Ji-Mi.

Aku menyayangimu.

***

I’m holding back the tears
I run adding to the weight of my faith
To a place that is neither high nor low
Where a different me stands again
With a small smile I can laugh

 

3 Comments (+add yours?)

  1. keunin
    Jun 28, 2015 @ 20:12:47

    oh my god. ini bener bener mengharukan

    Reply

  2. teukieduck
    Jun 30, 2015 @ 04:08:52

    duh baca nya sambil mewek Thor😥

    Reply

  3. centiasyafira
    Jul 05, 2015 @ 16:34:14

    kereeennn!!>< tapi sayangnya sad ending TTT____TTT

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: