Memories [9/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*****************

“Sebenarnya….aku…”

Yesung merasa gugup mendengar kata-kata itu hanya terus diulang oleh Jeany. Hal itu membuatnya semakin khawatir. Ia yang sebelumnya betul-betul siap justru mulai dilingkupi ketakutan.

“Aku….”

“Katakan saja, apapun itu.” Yesung meminta sekali lagi. Ia pegang erat kedua tangannya, berpikir bahwa itu akan menyalurkan kekuatan dan kata-kata yang ia tunggu itu bisa keluar semulus lantai yang mereka injak.

“Aku………….”

“Ya?”

“Aku tidak-“

“Happy new year!!!!”

Mereka menoleh bersamaan ke arah pintu. Dan ternyata….

“Appa?”

“Selamat tahun baru!!!! Ah, Kebetulan sekali kalian tidak keluar.”

Yesung menelan ludahnya. Kenapa ayahnya harus datang disaat Jeany hampir mengatakannya?

“Sepertinya kita punya kontak batin,” ujar ayahnya lagi sambil menariknya ke sofa. “Jeany, kemarilah.”

“Appa, kenapa appa kemari?”

“Kau bertanya kenapa? Kau tidak suka aku datang? Apa aku mengganggu?”

“Bu..bukan begitu. Tapi…”

“Ah, jangan dengarkan dia. Jadi, apa isi kotak itu? Aku tebak….pasti makanan!” Jeany mengambil alih situasi dan pada akhirnya Yesung takkan tega merusak kebahagiaan ayahnya. Ia tak tahu kenapa, tapi dari gelagatnya, ayahnya sedang dalam mood yang baik. Itu adalah berita bagus mengingat pertemuan terakhir mereka dimana ayahnya marah-marah dan mengeluh nyeri pada punggungnya. Tapi ini juga sedikit aneh. Biasanya, ayahnya paling pintar membaca situasi, ayahnya tahu betul apa yang ia dan Jeany sembunyikan dibalik senyum mereka sehingga mereka akan diberikan waktu untuk berdua. Sedangkan sekarang, ayahnya seolah tak mau tahu apapun yang sedang terjadi.

“Diluar ramai sekali. Kalau aku naik taksi, pasti mahal. Semua kursi bis juga penuh, aku tidak mungkin berdiri. Jadi aku berjalan kaki kemari untuk membawakan kalian makanan.” Kotak yang sejak tadi dibawanya langsung dibuka yang ternyata berisi kue beras, Yesung menerima sepotong kue tersebut lalu memberikannya pada Jeany.

“Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di rumah, jadi aku membuat kue beras untuk kita makan bersama. Pas sekali kalian tidak keluar. Ayo cicipi. Aku membuat ini sendiri.”

Yesung menatap kue beras buatan ayahnya. Ia sungguh sangat ingin mencicipinya. Pasti sangat enak. Namun pikirannya masih tertinggal pada pengakuan Jeany yang menggantung. Ia melempar pandangan pada wanita itu dan ia hanya mendapatkan sebuah gelengan kepala.

“Kenapa kalian diam saja? Jangan bilang kalian sedang bertengkar! Ayo cepat makan!”

Jeany mulai mencicipinya. Yesung pun demikian dan terpaksa menelan segala pertanyaannya bersamaan dengan kue tersebut. Tidak untuk saat ini, tidak didepan ayahnya. Ia rasa ada sesuatu yang terjadi. Jika tidak, mustahil ayahnya kemari.

“Dulu, saat tahun baru, ibumu pasti akan membuatkanku kue ini meski pada akhirnya hanya kau dan Leeteuk yang menghabiskannya.”

Gerakan tangannya yang hendak mengambil sepotong lagi terhenti. Ia dan Jeany kembali berpandangan dan sekarang mereka paham apa yang membawa ayah mereka kemari. Mereka tak punya alasan untuk menolak, apalagi mengeluh. Masalah mereka bisa dilupakan untuk sementara.

“Ibumu, kira-kira sedang apa ia di sana? Dan Leeteuk, apa dia ingat bahwa sudah hampir tujuh tahun dia pergi?”

Yesung semakin tak bisa berkata apa-apa. Setidaknya untuk beberapa menit, ia dan Jeany hanya mengunyah kue itu dengan sangat pelan dan berharap situasi ini akan membaik.

“Ah, lupakan. Jadi bagaimana rasanya? Enak, kan?”

Yesung dan Jeany mengangguk bersamaan. Memang sangat enak, tapi akan jauh lebih enak jika dimakan di situasi yang berbeda. Sesekali Yesung menatap ayahnya yang sama sekali tidak menyentuh makanannya. Ayahnya hanya tersenyum seakan begitu gembira melihat anak serta menantunya nampak akur. Ayahnya memang tak mengatakan apapun. Tapi seperti biasa, ayahnya tak pandai menyembunyikan apapun darinya. Ayahnya sedang merindukan masa-masa itu. Masa dimana keluarga mereka masih utuh dan haram baginya untuk merusak itu semua. Ia masih merasa cukup bersalah karena jarang berkunjung ke rumah ayahnya sekalipun hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit dengan bus untuk kesana. Dan sekarang, sejujurnya ia ingin memeluknya, tapi itu takkan pernah terjadi. Ya, ia dan ayahnya sama-sama tahu itu tidak akan terjadi, setidaknya untuk saat ini.

“Kalau kalian suka, aku bisa membuatnya lagi dan kapan-kapan membawanya kemari.”

Sayangnya Yesung sangsi jika waktu seperti ini akan ada lagi. Mudah bagi ayahnya untuk datang, tapi sulit untuk menemukan anak serta menantunya bersamaan.

Diam-diam Yesung memperhatikan Jeany. Ia harap setelah ini percakapannya dan Jeany akan berlanjut di atas tempat tidur saat tidak ada siapapun lagi. Tapi hingga ayahnya tidur dan jam menunjukkan hampir jam dua malam, tidak ada percakapan lanjutan. Jeany bilang ia sangat mengantuk. Saat Yesung menahan tangannya dan bertanya, Jeany justru mengatakan, “Tidak ada yang perlu kujelaskan. Aku baik-baik saja. Trust me.”

Ingin rasanya ia percaya. Ingin rasanya ia bersikap normal kembali seakan memang semua baik-baik saja. Tapi ia tak bisa mengindahkan pikiran itu. Ia masih yakin ada yang ditutupi oleh Jeany. Dan ia rasa ini ada hubungannya dengan pekerjaannya.

Maka malam itu…………..mereka kembali saling memunggungi.

***

Casey berjalan pelan dilorong café miliknya. Harusnya ia sudah berhenti, masuk ke ruang kerjanya lantas mengunci pintu. Tapi ia terus berjalan dan baru berhenti saat sadar ia berada dimana. Ia lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Dari posisinya, ia masih bisa mendengar suara Yesung. Suara Yesung yang tak seceria sebelumnya. Suara Yesung yang terus melemah setiap detik.

Ia hentak pelan kepalanya ke dinding. Rasanya ia begitu jahat sudah menyembunyikan ini darinya. Ia tahu sesuatu. Ia jelas tahu semuanya dan baru saja mendapatkan bukti didepan mata. Harusnya saat dulu Yesung bertanya apakah ia mengetahui sesuatu, ia akan mengatakannya, tapi hingga saat ini, dimata Yesung ia tetaplah tidak tahu apapun.

Disatu sisi ia pikir Yesung tak perlu tahu soal ini. Tak ada gunanya. Yesung harus segera melangkah lebih maju sama seperti wanita itu yang sudah sangat berada didepan. Tapi dilain sisi ia juga merasa bersalah sudah berbohong padanya. Mungkin dengan Yesung melihat sendiri kenyataan yang sebenarnya…….Yesung bisa benar-benar melupakannya.

“Hubungan kami membaik beberapa bulan setelahnya. Tapi tetap tidak sebaik yang kuharapkan. Kami sama-sama semakin sibuk. Ia dengan pekerjaannya yang menanjak dan sering keluar kota atau keluar negeri, sedang aku tetap menjadi seorang penyanyi café. Seorang penyanyi yang tak lagi berusaha meyakinkan orang bahwa wanita yang mereka lihat ditv itu adalah miliknya. Meski Jeany juga sering membatalkan kepergiannya tanpa alasan jelas, Jeany tetaplah sibuk. Kami hanya bertemu dipagi hari saat sarapan bersama. Sesekali makan siang atau makan malam berdua. Namun ada satu hal paling berbeda. Ada kata-kata yang tak lagi kami ucapkan. Secepat anak panah menuju sasarannya, kata-kata itu sudah tak terdengar gaungnya meski kami baru melewati waktu yang singkat.” Yesung menunjuk dadanya. “Ada yang berbeda. Sudah tidak sama.”

Casey mendengarkan kalimat demi kalimat dari Yesung. Ia sudah tahu pilihannya. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

***

Yesung melihat kalender. Tak terasa usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun pertama. Ia pikir akan ada perayaan malam nanti. Mereka sama-sama suka pesta, dulu bahkan mereka pernah merayakan hari jadi mereka yang ke tiga puluh hari meski sebenarnya mereka tak yakin kapan tepatnya hari jadi itu.

Karena kesibukan masing-masing, Yesung pikir pesta paling meriah meriah mungkin hanya makan malam bersama teman-teman. Jeany akan mengeluarkan kemampuannya membuat masakan khas Italia, mereka akan berpesta hingga larut malam, lalu minum sampai mabuk. Tapi itu adalah kemungkinan paling mustahil karena tak ada istilah teman-teman dalam lingkaran mereka. Yesung tak mengenal siapa saja teman-teman istrinya, ia hanya tahu nama-namanya. Begitupun dengan Jeany, ia tak pernah mau diajak ke café bahkan hanya untuk sekedar tersenyum didepan Eunhyuk ataupun Hyerin. Dan menilik sikap Jeany pagi tadi yang pergi begitu saja, sepertinya istrinya bahkan tak mengingat hari penting ini. Maka kemungkinan paling masuk akalnya adalah bahwa mereka akan melewatkan malam ini seperti biasanya. Pulang, makan, lalu tidur.

Tahun lalu, ia masih sangat ingat bagaimana tiba-tiba ia ingin menikahi Jeany, tak peduli apapun itu, ia hanya ingin menikah dengan Jeany. Ia nekat melamar gadis itu didepan banyak orang, dipinggir jalan disaksikan warga Liverpool. Rasanya saat itu ia tak pernah berpikir bahwa pernikahan mereka sudah berada dalam titik ini hanya ditahun pertama.

“Sebaiknya kau pulang.”

Hyerin mendekatinya. Yesung melihat sekitarnya dan ia baru sadar bahwa suasana café sangat sepi sore ini. Ia pun sejak tadi tak berminat untuk bernyanyi.

“Aku tahu ada sesuatu. Dan sebaiknya kau pulang saja.”

“Pulang tidak terdengar menyenangkan lagi bagiku.”

Hyerin duduk disebelahnya. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi apapun itu, kurasa tak ada salahnya jika kau tidak tampil malam ini. Kau tidak terlihat baik sejak tadi. Kalau kau memang sedang sakit, lebih baik kau istirahat saja di rumah. Atau jika ada hal yang harus kau kerjakan diluar, aku yakin bos tak masalah jika kau tidak tampil satu malam saja.”

Yesung menatapnya heran. Hubungan mereka semakin dekat akhir-akhir ini. Ia bahkan sudah merasa seperti memiliki adik baru disini. Tapi inilah kali pertama Hyerin bicara hingga beberapa kalimat serta bersikap begitu perhatian padanya.

“Kau sudah bekerja hampir setahun dan kau tidak pernah absen. Kurasa itu berlebihan.”

Mungkin perkataan Hyerin ada benarnya. Ia memang harus pulang dan menyelesaikan sesuatu. Ia juga ingat bahwa hari ini jadwal istrinya hanya ada di sore hari, tepatnya setengah jam lalu. Jika tebakannya tak meleset, maka saat ini Jeany bersiap untuk pulang. Dan jika Jeany belum mengubah kebiasaannya, maka masih ada waktu baginya untuk menyusul.

“Ah, kau benar. Aku harus pulang!”

Jika Jeany melupakan hari penting mereka, jika Jeany terlalu sibuk untuk mengingatnya, maka ia yang akan membuatnya ingat. Ia tidak boleh membiarkan situasi ini berlanjut. Ia tidak boleh berdiam diri.

“Yesung, tunggu!”

Langkahnya tertahan di ambang pintu. Hyerin tersenyum padanya. “Sampaikan salamku pada Jeany!”

Yesung tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak setahun belakangan, ada yang percaya padanya. Ia kembali berjalan cepat, membeli bunga mawar kesukaan istrinya lantas menaiki taksi menuju kantor Jeany. Ia akan memberikan kejutan untuknya. Ia akan menjemputnya. Entah apa yang akan ia lakukan nantinya, ia sendiri tidak tahu dan tidak merencanakan apa-apa. Yang penting, sekarang ia sudah sampai di depan kantor Jeany, masuk ke dalam lift dan menekan angka 4. Setahunya, jika tak ada yang berubah, ruang kerja dan studio dimana Jeany biasa membawakan berita ada dilantai 4.

Dan sepertinya ia tak salah masuk tempat. Kesibukan langsung menyambutnya. Ada banyak meja yang bersekat dan semua orang yang ada dibaliknya sibuk didepan komputer. Beberapa orang bolak balik sambil membawa lembaran kertas. Ia bahkan harus mengeluarkan kemampuannya menghindar jika tak mau membuat kekacauan dengan menubruk mereka. Ia juga sempat berhenti didepan sebuah studio. Ada beberapa kamera menyala yang menyorot seorang wanita. Wanita itu berdiri dibalik sebuah meja. Ia bisa simpulkan bahwa sedang ada syuting berita dimana semua nampak sempurna kalau saja matanya tak melirik ke bawah wanita itu. Tawanya hampir menyembur melihat wanita itu tak mengenakan sepatu dan berdiri di atas sebuah kotak. Ia jadi tak bisa bayangkan jika Jeany melakukan hal yang sama. Tapi melihat sifat istrinya, pasti Jeany tidak akan mau tampil jika tidak sempurna. Sekalipun bagian kakinya tidak diekspos, ia pasti akan tetap mengenakan sepatunya yang bermerk dari London. Dan untuk urusan kotak itu, rasanya Jeany tidak membutuhkannya. Tingginya sudah cukup proporsional.

“Ada yang bisa kubantu?”

Yesung tersentak. Seorang wanita tiba-tiba menyapanya.

“Ah, maaf. Aku…..ingin bertemu dengan Jeany Hanks.”

“Kau mencari Jeany? Ada urusan apa?”

Yesung berdehem. Kalau pertanyaan itu tak ditujukan sekarang, ia takkan sadar kalau ia sangat menantikannya. Ia begitu bangga akan memperkenalkan diri sebagai suami dari Jeany. “Aku suaminya dan aku ingin menjemputnya.”
Wanita itu tersenyum lebar, seakan kalimat barusan begitu ditunggu. Ia pun mengulurkan tangannya. “Namaku Hyosun, aku salah satu rekan kerja Jeany disini.”

Yesung menerima jabat tangannya lantas membungkukkan badan, “Namaku Yesung. Senang bertemu denganmu.”

“Kebetulan Jeany masih ada diruangannya. Tapi……ah, sebenarnya aku cukup terkejut karena bahkan kami tidak tahu kalau …………………..maksudku kami tidak tahu kalau suami Jeany setampan dirimu. Jeany benar-benar handal menyembunyikanmu. Apa dia takut kami merebutmu?”

Yesung tersenyum penuh kebanggaan. Sebenarnya itu adalah pujian pertama yang ia terima. Jeany sendiri bahkan tak pernah mengatakan kalau ia sangat tampan.

“Kau berlebihan. Hm, boleh aku ke ruangannya?”

“Tentu. Kau suaminya, bukan?” tanya Hyosun dengan penuh penakanan pada kata suami. “Jeany pasti senang dan terkejut melihatmu disini.”

Yesung sepaham dengannya. Itulah yang ia inginkan, yakni memberi kejutan pada Jeany. Maka setelah wanita itu menunjukkan ruang kerja istrinya, ia segera menuju kesana. Sesekali ia memperbaiki bunganya, takut kalau tampak berantakan dan tak lagi wangi. Namun beberapa meter sebelum ia tiba, ia melihat pintu ruang kerja Jeany terbuka dari dalam. Ia sudah akan mempercepat langkah dan menyerukan namanya kalau saja tak melihat siapa yang keluar dari ruangan itu. Jeany…bersama seorang pria.

Ia belum buta. Ia masih bisa bedakan mana interaksi antara teman kerja dan mana teman spesial. Mereka tertawa bersama. Jeany memukul pelan bahu pria itu. Kemudian dengan tenangnya pria itu meletakkan tangannya dibahu Jeany, bahkan mengelusnya mesra. Jeany pun tak berusaha menolak. Dan yang lebih parah dari itu saat dengan mudahnya pria itu mengecup pipi Jeany.

Dadanya memanas. Ia sudah melangkah maju saat menyadari kondisinya. Ia bisa saja memukul pria itu disini, dihadapan Jeany juga semua orang. Tapi ia tahu diri. Jeany bekerja disini dan akan sangat memalukan jika ia menumpahkan emosinya. Maka ia berbalik, membuang bunganya ke tong sampah lantas pergi begitu saja. Tak ia jawab pertanyaan Hyosun saat mereka berpapasan. Ia akan segera pulang, menunggu Jeany di apartemen dan bertanya.

BRAKKKKK

Ia tutup pintu dengan sangat kasar. Ia lempar jaketnya, menendang kaki sofa hingga kakinya nyeri lalu melempar lampu meja ke dinding hingga hancur. Jadi itu alasan Jeany yang selalu melarangnya ke kantor? Jadi pria itu alasan Jeany selama ini bersikap aneh?

“Namanya Choi Siwon, dia sangat baik padaku.”

Oh, apakah pria itu yang bernama Choi Siwon? Pria itu memang tampan, terlihat gagah dengan jas dan sepatu mahalnya. Dan mereka juga tampak mesra. Tapi pria itu bukan siapa-siapa yang berhak melakukan hal seperti tadi di depan banyak orang. Apa Jeany tak berpikir bagaimana pandangan orang terhadapnya?

Pintu tiba-tiba terbuka dan Jeany muncul dihadapannya. Tanpa buang-buang waktu Yesung mendekat.

“Kau sudah pulang? Aku pikir kau akan sampai larut malam di café.” Jeany bertanya padanya sambil meletakkan sebuah kotak ke atas meja. Yesung mulai muak melihat wajah Jeany yang seolah tak punya salah apa-apa. Ia maju lagi dan hampir mengangkat tangannya.

“Kau baik-baik saja?”

Ia berusaha bernafas dengan tenang. Tapi suara Jeany yang kontras dengan apa yang sedang ia rasakan membuat emosinya kembali memuncak. Saat tangan Jeany mengelus bahunya, langsung ia tepis dengan kasar.

“Berhenti bertanya!”

“Yesung, apa yang terjadi?”

“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan pria itu? Mungkin aku baru melihat satu ciuman, tapi sepertinya ada hal yang lebih dari itu.”

Jeany membekap mulutnya dan Yesung semakin tak tahan untuk tidak mengatakannya.

“Kau selalu melarangku menjemputmu. Kau melarangku muncul di hadapan teman-temanmu dan kau tak mau tampil didepan teman-temanku. Dan ternyata inilah yang kau sembunyikan dariku.”

“Yesung, aku….”

“Kau pikir aku tak melihatnya?”

Jeany menangis. Dan Yesung sedang tak menyisakan perasaannya untuk kasihan melihat air mata itu. Ia terlanjur emosi. Sekali lagi ia hambur semua perabotan yang ada di atas meja di belakang Jeany membuat wanita itu menangis semakin keras. Terakhir, ia pukul dinding hingga jari-jarinya berdarah.

Jeany sendiri tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tak pernah tahu kalau suaminya bisa semarah ini. Ia tak pernah melihat sisi suaminya yang seperti ini.

“Ini tak seperti yang kau lihat. Dia hanya…”

“Dia hanya mencium pipimu? Atau dia hanya mengelus bahumu? Kurasa kau sudah cukup dewasa untuk tahu batasannya. Kau harusnya tahu mana yang bisa kau lakukan dan tidak kau lakukan sebagai seorang istri. Kecuali kau lupa kalau kau punya suami.”

“Tidak seperti itu. Sungguh. Aku dan Siwon…”

“Oh, jadi namanya Siwon? Jadi dia yang bernama Siwon? Kau mau ku apakan dia supaya tidak lancang menyentuhmu lagi?”

“Jangan! Jangan lakukan apapun! Ini hanya salah paham.”

“Kenapa kau melarangku?”

Jeany tak mampu menjawab. Yesung semakin yakin masih ada yang disembunyikan oleh Jeany.

“Kau menyukainya?”

Jeany mengernyit. “Kau gila? Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu?”

“Kenapa tidak? Buktinya sudah jelas!”

Giliran Jeany yang mendekatinya. Perdebatan itu terus berlanjut tanpa ujung. Sama seperti pertengkaran mereka yang lalu, tak ada yang mau mengalah. Mereka akan saling beradu argumen dan mencari pemenangnya meski pada akhirnya takkan ada yang menang dan kalah.

“Dengar! Kau bisa menilai apapun tapi berani kupastikan bahwa kami tidak punya hubungan apa-apa. Dan aku tidak pernah lupa dengan statusku sebagai istrimu!”

“Lalu kenapa kau biarkan dia menyentuhmu? Kau menikmatinya, benar? Oh, dia memang kaya raya, dia tampan, dia sempurna, dia punya segalanya sedangkan aku hanya pria biasa yang terlalu mencintaimu.”

“Aku tak pernah memandangmu seperti itu. Kau sendiri yang terus merendahkan dirimu sendiri!”

“Aku? Kau yang tidak pernah menganggapku! Kau tahu ini hari apa? Ini adalah ulang tahun pernikahan kita. Aku kesana bermaksud untuk memberikanmu kejutan dan ternyata justru aku yang dibuat terkejut.”

Jeany diam.

“Kenapa? Baru ingat? Sudah merasa menyesal?”

“Yesung, aku…”

“Cukup! Kau tak perlu mengatakan apapun.”

Yesung keluar dengan membanting pintu. Jika ia terus berada didalam, bukan tak mungkin tangannya akan melayang dan itu akan sangat ia sesali nantinya. Bagaimanapun itu, Jeany tak boleh menerima perlakuan kasarnya. Ia hanya ingin Jeany sadar akan kesalahannya. Jeany harus tahu posisinya.

Ia berjalan keluar di sekitar apartemen. Tak ada siapapun yang ia hubungi. Tidak ayahnya, tidak Casey, apalagi teman-teman barunya. Ia hanya memikirkannya sendiri diluar sambil berusaha meredam emosi. Ia perlu bernafas dengan tenang tanpa membayangkan lagi apa yang ia lihat di kantor Jeany.

“Apapun itu, ingatlah bahwa kalian saling mencintai.”

Yesung teringat perkataan ayahnya. Apakah cinta masih berguna disaat seperti ini? Disaat emosi menguasai?

“Buat hari-hari kalian seolah kalian adalah pengantin baru.”

Sekali lagi ia tersenyum. Bukankah sebenarnya mereka masih tergolong pengantin baru? Rumah tangga macam apa yang sedang mereka bangun?

Dibukanya handphonenya. Ia terkejut menemukan dua pesan dan miscall dari Jeany. Jika melihat waktunya, pesan itu dikirim dua jam lalu, tepatnya sebelum ia tiba di kantor Jeany.

“Apa kau akan pulang malam? Aku harap kau bisa cepat pulang karena ada sesuatu yang harus kita rayakan. Kau tidak melupakannya, kan?”

Ia terdiam. Apa maksud pesan ini?

“Tapi kau tidak perlu memaksakan. Jam berapapun kau pulang, aku akan menunggu. Aku mencintaimu.”

Ia berdiri dari duduknya lantas kembali ke apartemen. Ia berlari tergesa-gesa lalu menerobos masuk lift yang hampir tertutup. Begitu tiba, ia langsung mendorong pintu dan memanggil istrinya.

“Jeany!”

Ia tertegun. Keadaan ruang tamu tampak rapi. Pecahan lampu dilantai sudah hilang, perabotan yang tadi ia hambur sudah tersusun kembali pada tempatnya. Dan noda darahnya didinding sudah hilang.

“Jeany?”

Tak ada sahutan. Ia pun masuk ke dalam kamar dan menemukan istrinya itu sudah tertidur. Ia lalu mendekat, perlahan-lahan bersimpuh disisi tempat tidur hingga bisa melihat wajah Jeany. Hatinya sakit. Ada sisa air mata dipipi itu.

“Kau menangis?” bisiknya nyaris tanpa suara.

“Maafkan aku.”

Matanya lalu tertuju pada sebuah kotak yang tadi dibawa oleh Jeany. Ia raih kotak itu lantas membukanya. Dan apa yang ada didalamnya membuat dadanya bertambah sesak.

Kue ulang tahun pernikahan mereka….. lengkap dengan foto pernikahan mereka setahun lalu. Dan ada sebuah memo disana.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita. Tak terasa, sudah satu tahun berlalu yang artinya sudah dua tahun kita bersama. Aku takkan melupakan hari penting itu. Meskipun akhir-akhir ini hubungan kita tidak begitu baik, aku harap kau mau mengerti dan berusaha memperbaikinya denganku. Aku mencintaimu, tetaplah mencintaiku.
Istrimu, Jeany.

Kakinya lemas. Tuhan benar-benar sedang mempermainkannya.

***

“Selesai.”

Yesung tak merasakan apa-apa pada punggung tangannya. Lukanya sudah kering sejak semalam. Tapi Jeany datang padanya, mengambil kotak obat lantas mengoleskannya dengan krim pencegah infeksi. Jeany tak mengatakan apa-apa. Saat mereka bertemu pandang di dapur, Jeany hanya langsung mengobatinya.

Diam-diam Yesung memperhatikan wajah istrinya itu. Jeany tak tersenyum. Tak ada ucapan selamat pagi seperti yang biasa ia terima seburuk apapun hubungan mereka. Wanita itu hanya melakukan tugasnya dengan benar dan sudah akan pergi kalau saja Yesung tak menahan lengannya.

“Duduklah.”

Jeany bergeming. Ia tetap berdiri dengan kotak obat ditangannya.

“Jeany…” Yesung menarik nafas, berusaha menggenggam tangan Jeany yang langsung ditolak.

“Aku minta maaf.”

Jeany tak menjawab.

“Aku hanya terbawa emosi dan….”

“Dan kau melupakan sesuatu,” potong Jeany tiba-tiba. Lalu Jeany menatapnya sekitar dua detik, tapi langsung berpaling. “Dulu ada yang pernah mengatakan padaku bahwa aku hanya bisa melihat apa yang aku lihat. Aku hanya menggunakan mata dan telinga, bukan dengan perasaan.”

Yesung terpaku ditempat.

“Tapi sekarang justru orang itu sudah melupakan perkataannya.”

Jeany pergi. Setelahnya, Yesung hanya mendengar suara – suara yang membuat kepalanya pusing. Suara pemanggang roti, suara kulkas yang terbuka, suara tumpahan air ke dalam gelas dan gesekan piring di atas meja. Terakhir, ia mendengar suara air dari kamar mandi dan tak lama Jeany muncul dihadapannya lengkap dengan pakaian kerja.

“Mungkin aku akan pulang lebih awal. Semoga harimu menyenangkan,” ucap Jeany dingin kemudian pergi. Entah bagaimana Jeany mengartikan ucapannya itu. Jika dipikirkan, mereka memang akan melewati hari yang menyenangkan. Bukankah mereka baru saja merayakan hari jadi pernikahan yang pertama?

Ayahnya pernah bercerita dan Yesung masih sangat mengingatnya. Di ulang tahun pertama pernikahan, ayahnya meminjam mobil sahabatnya dan tiba-tiba muncul didepan agar sekolah. Ibunya dulu adalah seorang guru di sekolah dasar. Dengan klakson yang berbunyi tanpa henti, semua murid berlarian keluar kala itu. Semua berbisik dan bertanya, siapa yang dengan lancang membuat keributan di saat jam sekolah masih menyisakan satu jam lagi? Tapi Ibunya bahkan tak butuh berpikir karena yang paling suka membuat kekacauan atau suka menarik perhatian orang hanyalah satu yang dikenalnya. Apalagi kaca mobilnya tipis. Ia bisa melihat ke dalam hingga menemukan pria yang tidak begitu tinggi itu sedang menyisir rambutnya.

“Wow, bukankah dia…..” Seorang guru tak dapat melanjutkan perkataannya saat si pengemudi sinting itu turun dari mobil lantas mendekati sang istri. Rasanya itu bukan ungkapan kekaguman, melainkan sebuah ejekan.
Ibunya tertawa keras kala itu. Ayahnya memang tampan, tapi selera pakaiannya tidak begitu bagus. Dengan mencampurkan banyak warna dan model, pria itu dengan sangat percaya diri mengulurkan tangannya.

“Sudah jam dua belas, nona. Saatnya kau kembali.”

Ibunya tersenyum, menerima tangan ayahnya lantas melambai pada semua murid serta guru yang lain. Mereka bukan akan makan siang atau makan malam romantis. Romantis dalam kamus mereka adalah berdua. Cukup hanya berdua. Apapun yang mereka lakukan, sekalipun hanya makan mie rebus di pojok dapur, bagi mereka itu sudah romantis.

Jadi hari itu mereka habiskan dengan mengelilingi kota, seperti turis yang baru berkunjung ke Korea dan menghabiskan bensin dimobil kemudian minum sampai mabuk. Mereka pulang berjalan kaki, esoknya barulah mereka kebingungan karena meninggalkan mobil pinjaman itu dijalanan. Mereka bahkan lupa memarkirnya dimana.
Setiap tahunnya, selalu ada perayaan. Baik kecil, ataupun besar. Dan Yesung iri mengingatnya. Ayah dan Ibunya juga menikah di usia muda, karena memang ditahun-tahun itu banyak orang melakukannya. Tapi mereka baik-baik saja. Mereka juga bertengkar, tapi hanya keributan kecil seperti kenapa tidak mau membuat SIM saat mereka sudah punya mobil sendiri. Pertengkaran paling besar hanya saat ibunya dilarang bekerja oleh ayahnya karena sedang mengandung.

Ingin rasanya ia pulang dan bertanya pada ayahnya. Namun, ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menambah beban. Ayahnya sudah cukup tua untuk ikut memikirkan masalahnya. Untuk usia ayahnya, harusnya hanya duduk di kursi goyang, menonton tv, mendengarkan musik klasik sambil menimang cucu.

Yesung tak tahu apa yang ia lakukan seharian itu. Ia tidak menyentuh sarapan buatan Jeany. Ia hanya menenggak satu gelas air putih lalu keluar. Ia tidak ke rumah makan Gege, ataupun ke café. Ia sudah mengirimkan pesan pada Hyerin bahwa ia tidak akan datang malam ini. Meski setelahnya ia akan menerima teguran pertama, ia tak peduli. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah cara supaya hubungannya dengan sang istri membaik. Ia tak ingin muluk-muluk. Cukup mendapatkan kata maaf serta dapat saling bertegur sapa, rasanya itu jauh lebih baik dibanding tak mengatakan apapun seakan mereka tidak menyadari kehadiran masing-masing.

Apapun yang terjadi kemarin, ia akan melupakannya. Ia sudah memaafkan Jeany dan berusaha memahaminya. Mungkin ia hanya salah paham. Mungkin hanya pria itu yang menyukai istrinya. Mungkin…Jeany hanya tak sempat mengantisipasi perbuatan pria itu.

Pagi tadi sengaja ia tak menahan Jeany lebih lama. Ia sudah sangat mengenal perangainya yang selalu membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir sendiri. Apapun yang akan ia katakan takkan berefek jika tadi ia memaksa bicara.
Jadi saat langit mulai gelap, ia berjalan kaki ke kantor Jeany. Ia cukup mengerti bahwa sebaiknya ia tidak lagi menginjakkan kaki disana jika tak mau melihat wajah pria itu hingga emosinya naik lagi. Jadi ia hanya berdiri di ujung jalan, beberapa meter sebelum gedung bertingkat itu berdiri.

Ia terus menunggu. Berdiri dalam diam sambil menonton pertunjukan musik sederhana dipinggir jalan. Beberapa menit kemudian saat ia melihat Jeany keluar dari gedung itu, ia segera mempersiapkan diri.

Jeany sedang memperbaiki letak tasnya. Ia melingkarkan syal dilehernya, lantas mulai melangkah. Dan tepat saat itu Yesung menyerukan namanya.

“Jeany!”

Ia menahan nafasnya beberapa detik begitu Jeany berhenti melangkah. Jantungnya berdetak cepat. Untuk beberapa detik kakinya tak bisa bergerak. Namun, segera ia bisa menguasai diri. Ia mulai berjalan pelan, tapi tetap membuat jarak antara mereka sekitar tiga meter. Ia tak ingin memulai masalah baru dan tidak yakin tidak akan ada pertengkaran lanjutan jika mereka begitu dekat.

Sampai detik ini, ia sendiri tak tahu apa yang akan ia katakan dan lakukan. Sampai detik ini, yang melintas dalam benaknya hanyalah bahwa ia harus berada disini, bukan di tempat lain. Dan hingga ia berhenti melangkah, ia baru menyadari betapa ia sangat merindukan istrinya.

“Mau makan malam denganku?”

Ia yakin Jeany mendengarnya meski Jeany tak juga berbalik. Sekalipun di sekitar mereka ada beberapa orang yang bicara dan sedikit menyamarkan suaranya, ia yakin Jeany tidak akan pergi.

“Aku masih punya 10.000 won didompetku!”

Jeany bergeming.

“Aku bisa membawakanmu pizza dan kau tidak perlu membayarnya.”

Ia tak tahu sejak kapan air matanya jatuh. Tapi sekarang ia bisa merasakan ada yang mengalir dipipinya, membuat tenggorokannya mendadak kering dan tidak bisa lagi mengatakan sesuatu. Tak sadar ia meremas jaketnya saat melihat Jeany mulai menggerakkan tubuhnya. Jeany sudah menghadap padanya. Dan sepertinya bukan hanya ia yang menangis. Pipi istrinya itu sudah basah. Ia pun semakin kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Dan seperti apa yang pernah ia sampaikan dimasa lalu, kata-kata tetaplah hanya akan menjadi kata-kata. Hanya dengan melihat matanya, ia sudah mengerti apa yang sejak kemarin tidak tersampaikan.

***

Yesung menengadah. Ia merasa malu jika mengingat ini bukan kali pertama ia menangis ditengah cerita. Tapi cukup terkejut saat ia menemukan seorang wanita dipojok kanan yang juga sedang mengelap ujung matanya dengan tisue.

“Aku tak tahu bagaimana malam itu terus berjalan tanpa suara. Aku mendekatinya. Kuraih tangannya lalu kami berjalan pulang. Sepanjang jalan kami tak mengatakan apapun. Aku hanya terus mengeratkan peganganku seakan aku tak mau ia melepaskannya. Kurapatkan tubuh kami saat merasakan angin berhembus kencang. Dan aku semakin tak bisa bersuara saat ia bersandar dibahuku sambil membelai lenganku.”

“Aku merasa waktu berjalan seribu kali lebih lambat. Aku bisa merasakan semuanya. Tarikan nafasnya, sentuhan jari-jarinya, juga gerakan kepalanya dibahuku untuk mencari kenyamanan. Setiap langkah seolah berlangsung selama beberapa menit. Aku sampai bisa merasakan bagaimana angin menyapu pelan pipiku dengan begitu lembut. Hingga kami tiba di rumah, aku merasa seperti kami baru saja selesai dari petualangan yang panjang.”

Yesung memandang jauh keluar. Ada bus melaju pelan. Ada dua orang anak kecil laki-laki yang saling dorong. Ada pula seorang wanita tua yang sedang berdiri tanpa bergerak didepan sebuah toko CD. Begitu banyak hal yang sedang dan terus berlangsung dalam hidupnya, tapi ia hampir tak menyadarinya. Selama sepuluh tahun ia hidup dalam dunianya sendiri, dalam pikirannya sendiri yang hanya penuh dengan satu nama. Ia melakukan semuanya dengan normal tapi orang tak melihatnya sebagai manusia normal. Ia melalui semuanya tapi ia nyaris tak menyadarinya.

Sekarang, setelah sekian lama, ia merasa benar-benar hidup. Meski sakit, tapi ia sangat berterima kasih pada Casey yang membuatnya bisa mencurahkan semua ini. Karena setelah mengatakannya, sesakit apapun itu, ia merasa lega. Setelah terus menerus menceritakannya, ia merasa ada yang meniupkan roh dalam tubuhnya hingga benar-benar merasa seperti seorang manusia.

Ia lalu teringat akan malam itu. Salah satu malam terbaik yang tak pernah ia lupakan. Saat Jeany menahan kedua tangannya, Jeany menatapnya, serta cara Jeany mengatakannya. Ia membalas kedua tangan Jeany yang berada pada wajahnya. Dikecupnya tangan itu berkali-kali hingga Jeany sendiri yang menghentikannya dengan sebuah kalimat.

“Aku menginginkanmu malam ini.”

***

Eunhyuk bersiul. “Ada yang baru menang lotre,” serunya pada teman-temannya. Ia, Yesung dan tiga orang pelayan café sedang minum di sebuah kedai. Secara mendadak hari ini mereka diliburkan dan café ditutup. Itu berita bagus sekaligus membingungkan. Tapi mengingat sifat bos mereka yang tak mau dengar banyak pertanyaan, mereka hanya menerima pemberitahuan itu dan memanfaatkannya untuk jalan-jalan.

“Siapa yang kau maksud?” tanya Yesung. Eunhyuk memandangnya dengan nakal. “Aigo, jangan berlagak bodoh. Wajahmu itu tidak bisa berbohong. Sejak tadi kau seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.”

Yesung tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Eunhyuk. Ia memang sedang dalam mood yang bagus beberapa bulan belakangan. Bahkan sekarang ia sedang mentraktir teman-temannya dengan gaji yang baru diterimanya dua hari lalu.

“Apa Hyerin menerima cintamu sampai kau bersikap seperti ini? Kalian semakin akrab.”

“Sudah berapa kali kukatakan aku hanya menganggapnya sebagai adik. Dan yang paling penting adalah bahwa aku sudah punya istri.”

Eunhyuk melipat tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya membuat nafasnya yang beraroma alkohol itu berhembus ke wajah Yesung. “Maksudmu…istrimu yang reporter itu?” Eunhyuk terkikik geli seolah ia baru saja membuat lelucon. Awalnya Yesung tak peduli. Tapi ia baru menyadari satu hal, bahwa sangat langka ia dan Eunhyuk punya waktu luang seperti ini. Ia bisa membawanya ke apartemen. Memperlihatkan banyak bukti pernikahannya dengan Jeany.

“Mau ikut denganku? Aku rasa ini akan membuatmu menyesal sudah tidak mempercayaiku selama ini.”

“Ikut kemana?” tanya Eunhyuk yang sepertinya mulai mabuk. Yesung langsung berdiri, lalu meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja untuk tiga temannya yang lain. Ia lalu menarik tangan Eunhyuk keluar.

“Ya! Mau kemana?”

“Ke apartemenku.”

“Mwo? Kau mau apa?” Eunhyuk menutup dadanya, menjauh dari Yesung. Langsung saja Yesung menjitak kepalanya.

“Kau sudah sinting? Sekalipun aku gay, bukan kau pria yang akan kutiduri!”

Mereka lalu berjalan ke apartemen Yesung. Ia tahu Jeany sedang tidak ada di sana karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Tapi bukti yang ada di apartemen rasanya sudah cukup untuk membungkam mulut Eunhyuk. Foto pernikahan yang terpampang besar di ruang tengah? Foto saat mereka berciuman di depan pendeta? Atau foto resepsi sederhana dimana semua keluarga Jeany berkumpul?

“Dengan siapa kau tinggal disini?” tanya Eunhyuk saat mereka baru keluar dari lift. Eunhyuk hanya mengekor di belakang Yesung yang sedang mengambil kunci untuk membuka pintu. Merasa kepalanya mulai pusing akibat minum, ia sandarkan tubuhnya ke dinding.

“Ugh, sepertinya aku akan pingsan.”

“Silahkan saja. Tapi kau harus melihat dulu apa yang ada didalam apartemenku.”

Yesung memutar kunci, tapi sebelum ia menggerakkan handle pintunya, pintu lebih dulu terbuka dari dalam.

“Jeany?”

Yesung terkejut melihat istrinya membukakan pintu. “Bukankah kau masih ada di kantor?”

“Maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku merasa kurang enak badan, jadi aku pulang lebih awal.”

Yesung segera mendekat, menyentuh dahi Jeany.”Kau sakit? Kenapa kau tidak menelponku?”

“Aku tidak apa-apa, aku hanya….” ucapan Jeany terputus saat menyadari ada orang lain di belakang Yesung. Pria itu mengucek matanya berkali-kali.

“Dia….”

“Oh, dia temanku. Aku pikir kau tidak ada, jadi kubawa dia kemari. Dan sepertinya dia mabuk. Kau tidak masalah?”

Jeany tak menjawab. Matanya melebar saat Eunhyuk berdiri tegak, berjalan mendekatinya lantas masuk begitu saja dengan tubuh sempoyongan.

“Jeany? Kau tidak masalah?” Yesung menyentuh bahunya dan barulah Jeany sadar.”Ah, maaf. Aku….”

“Sepertinya kau memang sakit. Ku antar ke kamar.”

Yesung menuntun Jeany untuk masuk ke kamar. Tak ia pedulikan Eunhyuk yang sudah telentang di atas sofa.

“Dia…..temanmu?” tanya Jeany saat ia sudah berbaring di atas tempat tidur. Yesung duduk di sisi kanannya.

“Dia Eunhyuk. Kau ingat? Aku sering menceritakannya padamu. Kenapa? Kau tidak suka?”

“Bukan begitu. Aku….”

“Dia tidak akan membuat kekacauan, aku tahu kau tak suka ada orang asing disini, tapi dia adalah teman yang baik dan aku tidak mungkin menyuruhnya pulang dalam keadaan seperti itu. Dan sebenarnya aku punya tujuan lain membawanya kemari.”

Jeany diam. Yesung bisa melihat kedua tangan istrinya itu meremas ujung selimut dan sepertinya Jeany sama sekali tidak mendengarkannya bicara.

“Kau sungguh tidak apa-apa? Kau pucat sekali.”

Jeany menggeleng, kemudian menyentuh punggung tangan Yesung.

“Tidurlah disampingku.”

Permintaan itu terdengar aneh mengingat mereka selalu tidur bersebelahan. Tapi Yesung tak ambil pusing dan hanya merasa bahwa itu adalah efek dari tubuhnya yang sedang tidak baik. Ia lalu berdiri, melepas jaketnya lalu merebahkan tubuhnya disamping Jeany. Ia biarkan Jeany mencari kenyamanan didadanya, sedangkan ia memberinya kehangatan dengan memeluknya. Ia usap-usap punggungnya hingga perlahan-lahan ia merasakan deru nafas Jeany yang teratur.

“Tidurlah yang nyenyak.”

***

Yesung terbangun saat tak merasakan kehadiran Jeany di sampingnya. Ia buka mata, melihat keadaan sekitarnya yang sudah sangat terang. Matahari menyilaukan pandangannya, memaksanya untuk bangun dan keluar kamar.
Ia baru akan memanggil Jeany saat ia melihat suatu pemandangan janggal di dapur. Ia picingkan mata, berpikir bahwa itu akan menormalkan penglihatannya dan apa yang ia lihat hanya halusinasi. Tapi begitu ia bisa melihat dengan jelas, tak ada yang berubah.

Jeany…sedang bicara dengan Eunhyuk.

Tak ada yang salah. Tapi itu menjadi aneh karena sebelumnya Jeany tampak kurang menerima kehadiran Eunhyuk. Dan kenyataannya mereka adalah dua orang asing yang belum pernah bertemu. Eunhyuk hanyalah salah satu dari sekumpulan orang yang menyukai Jeany dari layar kaca. Sedangkan ini adalah kali pertama Jeany melihat Eunhyuk. Rasanya sedikit aneh jika sekarang mereka sedang berhadapan dan terlibat dalam suatu pembicaraan serius. Dari apa yang ia lihat, mereka tampak sedang membicarakan hal yang begitu penting. Ia memutuskan untuk mendekat.

“Ada apa ini?”

Jeany berpaling, pura-pura sibuk dengan sayurannya di atas meja yang belum dipotong. Sedangkan Eunhyuk memutar tubuhnya, mencoba menghindari kontak mata dengan Yesung.

“Sesuatu terjadi?”

Jeany berhenti memotong wortel. Ia berbalik dan siap buka mulut saat Eunhyuk menginterupsi. “Tidak apa-apa. Aku hanya mengatakan padanya bahwa aku tak percaya perkataanmu selama ini. Ternyata kau benar.”

Yesung tersenyum simpul. Langsung ia peluk Jeany dari belakang lantas menaruh dagunya di bahu Jeany.”Sudah kubilang kau akan menyesal. Kami memang sudah menikah.”

Yesung hendak mendaratkan ciuman dipipinya untuk membuat Eunhyuk semakin percaya. Namun, Jeany membekap mulutnya, buru-buru lari ke toilet.

“Jeany!”

Yesung tak berhasil mengejar karena pintu toilet langsung ditutup oleh Jeany. Ia dan Eunhyuk hanya mendengar suara muntahnya disertai suara air.

“Jeany, buka pintunya!”

Tak ada sahutan. Suara muntah itu kembali terdengar dan membuatnya semakin khawatir. Ia ketuk pintu berkali-kali, terus memanggilnya, meminta supaya segera dibiarkan masuk.

“Jeany, please….”

Yesung terus memohon. Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah pintu terbuka dan Yesung langsung mengusap pipinya.“Kau baik-baik saja? Kita harus ke dokter.”

“Tidak perlu.”

Yesung memandang Jeany bingung. Ia tahu Jeany keras kepala tapi ini menyangkut kesehatannya sendiri dan membiarkannya seperti ini adalah tindakan bodoh. Ia sudah melangkah dan tidak peduli larangan Jeany saat tiba-tiba ia baru menyadari satu hal. Ia pun berhenti. Pelan-pelan menatap Jeany dan Eunhyuk bergantian.

“Kapan terakhir kali kau datang bulan?”

Jeany nampak terkejut dan gelisah. Yesung mengulang pertanyaannya lantas mendekat. “Kapan terakhir kali kau datang bulan?”

Jeany menunduk, kelihatan tak nyaman dengan pertanyaan tersebut. Yesung lalu memegang bahunya erat. Ia menunggu dengan tidak sabar sambil menghentak-hentak kakinya sementara Jeany tampak ragu mengatakannya. Ia pun hampir bertanya untuk yang ketiga kalinya saat tiba-tiba Jeany menjawab dengan sangat pelan.”Dua bulan lalu.”

Yesung terdiam beberapa saat. Ia belum bereaksi apa-apa. Tiga kata itu berputar-putar dikepalanya, terhubung dengan kejadian beberapa menit lalu, hingga terhenti pada peristiwa beberapa bulan lalu ketika mereka melakukannya tanpa pengaman. Matanya melebar. “Ya Tuhan. Kau hamil!”

Yesung segera memeluknya. Ia angkat tubuh itu lalu berputar-putar seperti orang gila. Sesekali ia akan berhenti untuk menatap wajah Jeany, menggelengkan kepalanya seolah masih tak percaya, tapi kemudian ia kembali menggendongnya. Ia betul-betul bahagia. Ia beri kecupan bertubi-tubi di wajah Jeany, dan terakhir tentu saja pada perut yang masih rata itu. Ia usap dengan lembut, kemudian tersenyum simpul. “Hallo sayang. Selamat datang!”

Ia berdiri, kembali mengecup bibir istrinya dan kali ini lebih lama. “Kita harus memastikannya ke dokter.”
Ia membawa Jeany dalam pelukannya seakan tidak ada orang lain di belakangnya. Ia begitu gembira dan ia tak menemukan ada hal yang mampu merusak moodnya saat ini. Ia lupa tentang janji yang pernah mereka buat soal penundaan itu. Ia lupa semua hal.

Yang bisa ia rasakan adalah Jeany sedang menangis dibahunya. Jeany pasti terharu dan terlalu bahagia. Ya, Jeany pasti terlalu bahagia.

***ToBeContinue***

 

7 Comments (+add yours?)

  1. hilma nugraheny
    Jun 29, 2015 @ 20:29:56

    Aku baru baca ff ini… dri chap 1, sorry baru ksh komen d chap ini..
    Aku suka ceritanya, bahasanya bagus, konfliknya sederhana, tp cukup kompleks… pokoknya oke deh😉

    Reply

  2. spring
    Jun 29, 2015 @ 23:17:36

    padahl fic ini bagus, tpi yg komen kok sdkt ya? q dag dig dug bacanya. jgn bilang itu bukan anak yesung? #hugyesungoppa

    Reply

  3. rizzzkiii
    Jun 30, 2015 @ 03:11:10

    Ckckk. .makasih y. Siap2 lebih dag dig dug di chap2 berikutnya.

    Reply

  4. Novita Arzhevia
    Jun 30, 2015 @ 07:03:59

    huuh tbcnya bikin penasaran. . Sebenarnya ceritanya juga bikin penasaran. Yesunggg kerenn. Ditunggu next partnya

    Reply

  5. ShikshinCloud
    Jul 01, 2015 @ 20:01:47

    curiga jeany bukan hamil tapi kaya ada penyakit gitu.. tapi semoga salah tebak deh.
    kalo gini tuh pengennya mereka bahagia terus, kenapa ya yesung-jeany harus pisah? penasaran ><

    Reply

  6. sssaturnusss
    Apr 30, 2016 @ 09:53:45

    Hahahaha gak tau lah aku kok punya firasat buruk yah wkwkwkwkwk aku punya firasat itu bukan anak yesung -_-
    Makin sini, chapter makin bikin degdegan wkwkwkwk
    Dan baru di chapter ini yg koment lebih dr 3😦 padahal ini FF bagus loh .. Apa kebanyakan silent reader ? T_T

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: