Let it Kyu

Author : Aryn
Judul : Let it Kyu
Tag (tokoh/cast) : Cho Kyu-Hyun, Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae
Genre : Sad, Romance, Friendship, Family
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

LET it KYU

***

We come into the world like brother and brother ;

And now let’s go hand in hand,

not one before another.

***

“Kenapa langit warnanya biru?”

“Atmosfer bumi mengandung molekul gas kecil dan partikel debu. Sinar matahari yang memasuki atmosfer tersebut bertemu dengan molekul gas dan partikel debu tadi. Warna sinar yang punya gelombang sinar lebih panjang seperti merah dan kuning bisa melewati molekul gas dan debu tadi. Tetapi warna biru yang memiliki gelombang sinar paling pendek dipantulkan kembali ke atas atmosfir. Itulah mengapa langit warnanya biru. Begitu juga dengan air laut atau danau y

ang warnanya biru.”

“Lalu kenapa langit kuning kemerahan saat senja?”

“Posisi matahari ketika terbenam membuat jarak cahaya terlihat berbeda dibanding siang hari. Saat matahari terbenam maka jarak lintasan cahaya matahari harus melalui atmosfer lebih jauh dimana posisi kita melihatnya. Lintasan sinar harus melalui atmosfer lebih panjang lagi dibanding waktu siang, maka warna merah, kuning dan ungu juga membias.”

“Kenapa mereka membias? Kenapa warna-warna itu bisa ada? Kenapa masuk ke bumi dan kenapa hilang ketika malam?”

“Kenapa kau terus bertanya?”

“Karena aku penasaran.”

“Kenapa kau tidak duduk diam di perpustakaan dan membaca?”

“Aku punya kau yang bisa kutanyai, lalu untuk apa aku membuang waktu di perpustakaan?”

Hari ini cukup terik dan melelahkan. Jalan setapak yang di sisi kanan terdapat ladang rumput hijau dan sisi lain terdapat sungai jernih itu tetap teduh seperti biasa ketika Dong-Hae dan Kyu-Hyun melewatinya. Bedanya sore ini Dong-Hae terus saja ribut, atau tidak, dia memang selalu ribut dan mampu membuat Kyu-Hyun mengeluarkan tanduk.

“Pertanyaanmu itu sama seperti saat kau bertanya mengapa kau lahir. Mengapa kau menjadi saudaraku. Mengapa kau hanya seratus tujuh puluh lima senti sementara aku seratus delapan puluh senti meter.”

Dong-Hae, yang merasa tersinggung dengan bibir pedas Kyu-Hyun menarik rambut cokelat pria itu. “Kau meledekku, ya?!”

“Itu kenyataan. Dan kau tidak punya jawabannya, bukan? Kalau begitu diamlah.”

“Kau itu, berhenti menganggapku bodoh. Aku ini jenius, tahu?”

“Kalau begitu, beritahu aku berapa IQ Einstein? Berapa pulau yang ada di Indonesia, bunga dari Rusia yang mematikan itu apa namanya? Siapa nama kakek buyut dari kakek buyut kita? Kapan dia lahir? Kapan Hanbok pertama dijahit, mengapa teokkpokki pedas lebih gurih dari pada yang tidak pedas? Mengapa ada empat musim di negara kita dan mengapa Seoul harus Seoul namanya, juga yang paling penting, mengapa kau begitu pendek dan menyebalkan?”

Walau sama sekali tidak cocok, namun yang publik tahu bahwa Dong-Hae dan Kyu-Hyun adalah saudara. Dong-Hae memiliki wajah terlampau manis, seperti bocah kecil polos yang menggemaskan. Dong-Hae adalah sosok yang hangat, mudah tertawa dan pintar bergaul. Dia disenangi banyak orang, pria maupun wanita banyak yang dekat dengannya, Dong-Hae adalah sosok yang terbuka dan sangat mencintai seni juga olahraga. Kyu-Hyun, sekilas melihatnya jarang yang berani menatap langsung ke matanya. Wajahnya dingin dan kedua matanya setajam elang. Rahangnya tegas, karena itulah ia terkesan angkuh dan berwibawa. Dia jarang tersenyum. Dia hanya tersenyum miring saat bahagia melihat Dong-Hae menderita. Kyu-Hyun mencintai buku-buku, rumus matematika dan game. Matematika dan game adalah kekasihnya, itu kata Dong-Hae. Sementara kata Kyu-Hyun, sepak bola dan gitar adalah simpanan Dong-Hae. Mana lebih baik? Kekasih atau simpanan? Pokoknya mereka sama tergila-gilanya dengan hobby masing-masing. Dan itu telah berlangsung selama dua puluh tahun mereka hidup.

“Dan kenapa pula gadis-gadis itu terus memandang ke sini?”

Dong-Hae tertawa kecil dan menepuk bahu Kyu-Hyun, mungkin ia tidak sepintar adiknya yang telah menginjak Amerika dan membawa medali emas karena otaknya yang cemerlang, tapi Dong-Hae rasa ia dapat menjawab pertanyaan terakhir Kyu-Hyun.

“Karena mereka mengagumiku.”

Sambil tertawa bangga, Dong-Hae melangkah ringan menuju gerombolan gadis sekolah menengah yang menyambutnya hangat. Kyu-Hyun berdiri mematung melihat kakaknya memberi tanda tangan dan berfoto bersama gadis-gadis itu. Kakaknya jelek, itu yang Kyu-Hyun pikirkan. Dan pendek! Mengapa gadis-gadis menyukainya? O-oh… sepak bola. Jangan lupa kalau Dong-Hae adalah bintang lapangan. Dan ya, si kaki pendek itu pintar main gitar. Sementara Kyu-Hyun tidak bisa, sial!

“Aku lebih tampan, juga pintar… mengapa mereka lebih memilih si bodoh itu?”

“Hey, kau…”

Senyum Kyu-Hyun melebar. Benar, kan? Dia juga tampan, dan ayolah… dia lebih tinggi! Apa gadis-gadis itu sekarang sadar siapa yang lebih pantas dielukan namanya?

“Tolong ambil gambarku dengan Dong-Hae Oppa, ya? Lakukan dengan benar.”

Kyu-Hyun, walaupun mendidih tetap menurut untuk mengambil gambar Dong-Hae yang diperebutkan gadis-gadis sementara Dong-Hae mati-matian menahan tawanya dan akhirnya ia menjulurkan lidah tanda mengejek. Kyu-Hyun mendesah pasrah, oh astaga jatuh harga dirinya. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu. Para gadis itu buta atau apa, eh? Sial.

***

“Kau harus banyak makan sayur. Lihat kulitmu pucat begitu. Makan yang banyak!”

Kyu-Hyun mengerutkan hidung melihat Dong-Hae yang menambahkan bersendok-sendok sayur ke atas piringnya. Kenangan sore tadi saat mereka pulang kampus begitu menyebalkan.

“Harusnya kau yang makan sayur biar cepat besar.”

Dong-Hae tersenyum jahil, “Aku kecil saja penggemarku sudah banyak. Bagaimana kalau aku tumbuh besar dan memesona? Wah, kau mau jadi tukang potretku? Atau kau mau jadi managerku?”

“Mimpi saja kau!”

“Makanlah dengan tenang, kalian bersaudara hanya berdua tapi Eomma merasa punya dua belas anak setiap kalian bertengkar.”

Untung saja di rumah ada ibu, kalau tidak ada mereka pasti bisa ribut hingga besok pagi. Ayah mereka sudah tiada ketika berumur sepuluh tahun. Dong-Hae dan Kyu-Hyun, walaupun mereka selalu bertengkar tapi mereka menjadi anak-anak yang baik untuk ibu mereka.

“Eomma, besok aku ingin makan ikan,” kata Dong-Hae ketika mereka bertiga telah menyantap makan malam. “Aku sedang ingin ikan laut.”

“Besok Eomma akan masak daging. Aku sudah pesan duluan, jadi kau makan saja daging bersamaku. Tidak usah membantah.”

“Daging lagi?”

Ibu mereka tersenyum dan memandang Dong-Hae. “Bukannya besok kau ada janji dengan temanmu itu, Dong-Hae-ya? Kalian tidak jadi pergi bersama?”

Alis Dong-Hae berkerut. “Janji?”

Kyu-Hyun mengangguk dua kali. “Dengan gadis berwajah dingin itu, siapa namanya? Sun sun atau apa itu.”

“Sun-Ae, Kyu. Namanya Han Sun-Ae.”

“Eomma mengenalnya?”

Ibunya mengangguk sambil menuangkan air untuk Kyu-Hyun. “Eomma bertemu dengannya kemarin. Dia gadis yang manis.”

“Kau dengar? Eomma sudah merestuimu.”

Dong-Hae memberengut. “Kami tidak saling mencintai, ini adalah cinta sepihak, tahu?”

“Tahu. Kasihan sekali kau.”

“Aku masih punya cadangan gadis-gadis lain kalau dia menolakku, sementara kau tidak ada sama sekali.” Dong-Hae menyindir Kyu-Hyun, adiknya itu memang aneh. “Apa jangan-jangan kau…”

“Aku bukan gay.”

“Oke.”

Mata Kyu-Hyun menyipit menatap Dong-Hae yang tertawa. “Apa kau?”

“Kau tidak ingin punya pacar?”

Kyu-Hyun tidak menjawab, ia hanya sibuk menjejalkan sayuran ke dalam mulutnya. Masakan ibunya adalah yang terbaik, Kyu-Hyun tahu itu, tapi yang namanya sayuran, kenapa dimana-mana rasanya sangat pahit dan menjengkelkan? Sama menjengkelkannya seperti Dong-Hae yang mengolok-oloknya sekarang.

“Hentikan Dong-Hae-ya, kenapa kau senang sekali mengejek adikmu? Hidup tidak akan berhenti walau kau tidak punya kekasih kan, Kyu?” Ibu mereka menepuk punggung tangan Kyu-Hyun dan tersenyum amat manis padanya. “Eomma bertemu Appa satu tahun sebelum kami menikah. Sebelum itu Eomma tidak pernah berpacaran dengan pria mana pun. Appa kalian adalah yang pertama, juga yang terakhir.”

Kyu-Hyun tersenyum memandang ibunya. Betapa wanita itu penuh dengan cinta. Alasan Kyu-Hyun belum ingin memiliki kekasih? Karena ia belum pernah menemukan sinar mata seindah sinar mata ibunya. Senyum setulus milik ibunya. Kyu-Hyun bahagia hidup seperti ini. Pusing karena game atau ocehan Dong-Hae dan terobati dengan senyum milik ibunya yang ia cintai.

“Terima kasih banyak, Eomma.”

“Apa yang kau katakan, Kyu?”

“Mata Eomma indah.”

Kyu-Hyun berlalu meninggalkan meja makan, Dong-Hae menatapnya bingung lalu akhirnya mengangkat bahu sambil menatap ibunya.

“Dia memang aneh.”

***

Kyu-Hyun duduk sendiri di bangku taman di dekat sungai Han, malam ini begitu dingin karena musim dingin baru saja datang belum dua minggu yang lalu. Sama seperti tahun sebelumnya, Kyu-Hyun memang selalu datang dan melihat langit musim dingin di tepi sungai Han. Biasanya si ribut itu akan selalu menganggunya. Tapi kini dia sedang berkencan. Mungkin dia lupa. Padahal dulu pria pendek itu tidak pernah lupa. Walaupun Kyu-Hyun sering dibuat sebal, tapi si Dong-Hae itu adalah kakak terbaik.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

“Kenapa kau terus mengikutiku?”

“Aku tidak mengikutimu, aku hanya kebetulan lewat.”

“Ah, aku lapar. Ayo makan,” Dong-Hae membuka rantang yang ia bawa, tanpa peduli dengan wajah Kyu-Hyun yang sebal sekaligus bingung melihatnya tiba-tiba berada di tempat itu.

“Bukankah kau ada kencan dengan si Sun itu?”

“Namanya Sun-Ae, kenapa kau tidak pernah menyebut namanya dengan baik?”

Karena aku harus membagi perhatianmu dengannya.

“Aku tidak suka dia.”

Dong-Hae menatap Kyu-Hyun. “Kenapa?”

“Wajahnya terlalu angkuh.”

Dong-Hae terkekeh, “Seperti wajahmu tidak begitu saja.” Ketika selesai, Dong-Hae menyelipkan sendok ke tangan Kyu-Hyun. “Selamat makan!”

Kyu-Hyun yang sama sekali tidak ingin menanggapi mau tidak mau menolehkan kepala. “Sup rumput laut?”

“Hm’mm,” Dong-Hae mengangguk. “Ayo makan sebelum dingin.”

Kyu-Hyun menurut dan langsung meneguk sup rumput laut dengan bahagia. “Masakan Eomma memang terbaik.”

Dong-Hae menatap Kyu-Hyun dengan senyum yang sulit diartikan. “Selamat ulang tahun, Kyu. Semoga kau selalu sehat.”

Kyu-Hyun menoleh, menatap Dong-Hae dan terheran-heran. “Kau ingat?”

“Bagaimana bisa aku melupakan hari ulang tahun adikku yang menyebalkan ini?”

Kyu-Hyun tertawa, lalu membuat lingkaran kecil dengan ibu jari dan jari telunjuknya. “Otakmu kan hanya sekecil ini.”

“Dasar kau, harusnya kau berterima kasih padaku.” Dong-Hae merangkul Kyu-Hyun. Pria itu memberontak dan berteriak hingga akhirnya Dong-Hae memerangkap leher Kyu-Hyun dengan lengannya, lalu kakak beradik itu tertawa berdua di langit malam tanggal tiga pada musim dingin kala itu.

Sejak ayah mereka meninggal, Kyu-Hyun adalah orang yang paling sedih. Yang paling merasa kehilangan. Walau terkesan dingin, jauh di lubuk hatinya Kyu-Hyun sangat merindukan sosok ayah mereka yang dulu selalu mengajaknya pergi memancing sementara Dong-Hae bermain sepak bola di lapangan.

Kalau Dong-Hae pergi latihan sepak bola dan Kyu-Hyun diam di rumah, Kyu-Hyun terkadang bosan dan ayahnya menemani Kyu-Hyun untuk bermain game, saat itu, saat Kyu-Hyun kecil Kyu-Hyun tidak pernah menang melawan ayahnya bermain game dan sebagai hukuman ia harus menyelesaikan soal-soal matematika di buku pelajarannya.

Dulu Kyu-Hyun tidak suka menghitung, tapi karena ayahnya, Kyu-Hyun menghitung. Dulu Kyu-Hyun tidak suka main game,tapi karena berjanji akan mengalahkan ayahnya main game, Kyu-Hyun berusaha keras untuk berlatih dan mengumpulkan point dengan bermain game, tapi hari ini, ketika Kyu-Hyun telah berhasil mendapatkan point tertinggi yang pasti bisa mengalahkan point ayahnya, ayahnya tidak di sini lagi.

“Aku rindu Appa,” kata Kyu-Hyun setelah mereka duduk menghadap sungai.

“Aku juga.”

“Aku sudah mengalahkan Appa, dulu Appa bilang kalau aku menang aku akan di ajak menaiki perahu dan dibelikan es krim.”

“Sekarang kau masih mau es krim?”

“Tentu.”

“Kau ini, kau kan sudah besar!”

“Tapi Appa berjanji padaku…”

“Baiklah, setelah ini kita beli es krim.”

Kyu-Hyun menatap Dong-Hae. “Tapi kau bukan Appa,” katanya sedih. “Kau adalah Dong-Hae.”

Dong-Hae tersenyum lemah dan ia menatap Kyu-Hyun. “Benar katamu, aku ini Dong-Hae,” ujarnya pelan. “Dan aku kakakmu.”

Dong-Hae merangkul Kyu-Hyun. Walau terkadang ia cerewet, namun itu adalah cara Dong-Hae menyayangi Kyu-Hyun. Dan Kyu-Hyun pun sadar betul bahwa Dong-Hae benar-benar menjalankan perannya sebagai kakak dengan sangat baik, sebagai yang tertua, Dong-Hae juga menjalankan peran sebagai pemimpin keluarga pengganti ayah mereka. Dulu ayah mereka pernah berpesan pada Kyu-Hyun untuk menjaga Dong-Hae baik-baik, tapi Kyu-Hyun sangat sadar jika selama ini Dong-Hae-lah yang selalu menjaganya.

Saat mereka masih kecil dan bersekolah, ketika Kyu-Hyun tidak membawa buku, Dong-Hae rela memberi buku pelajarannya pada Kyu-Hyun dan rela dihukum karena hal itu. Dong-Hae pernah menggantikan Kyu-Hyun untuk mengepel kamar mandi sekolah karena Kyu-Hyun terlambat masuk kelas. Dong-Hae membawa Kyu-Hyun dipunggungnya ketika kakinya terkilir karena sok ingin main sepak bola. Dong-Hae rela makan daging untuk Kyu-Hyun padahal dia tidak suka daging. Dong-Hae walaupun menyebalkan selalu melakukan apa saja yang bisa ia lakukan untuk Kyu-Hyun.

“Terima kasih, ya. Dong-Hae.”

Dong-Hae menepuk-nepuk bahu Kyu-Hyun dan Kyu-Hyun memejamkan matanya. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan ayah mereka kalau Kyu-Hyun tidak bisa tidur.

“Terima kasih untuk apa, eh?”

“Karena telah sayang padaku.”

Dong-Hae tersenyum, lalu tertawa. “Kau aneh sekali saat berkata seperti itu, Kyu. Aku geli mendengarnya.”

Kyu-Hyun memberengut, rasanya ia ingin menangis karena merindukan ayah. “Bodoh! Aku serius.”

Dong-Hae berhenti tertawa dan mengelus rambut Kyu-Hyun. “Aku sangat menyayangimu, Kyu. Dan aku juga serius.”

Kyu-Hyun memeluk Dong-Hae, mereka terdiam beberapa saat lalu suara sengau Dong-Hae kembali terdengar.

“Kau benar-benar ingin aku meninggalkan Sun-Ae?”

Kyu-Hyun mengerutkan alis. “Meninggalkannya? Seperti kau sudah melamarnya saja.”

“Memang sudah.”

“Apa?”

Kyu-Hyun menegakkan tubuh dan melotot pada Dong-Hae. “Kau serius?”

Dong-Hae nyengir bocah dan menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Tadi… itu… sebelum ke sini aku melamarnya dulu.”

Kyu-Hyun menggeleng. “Dasar kau ini. Sebegitu bernapsunya kau, Dong-Hae? Kau ingin cepat-cepat menikah?”

Wajah Kyu-Hyun yang nyolot itu terasa menggemaskan bagi Dong-Hae. Dong-Hae mencubit pipi Kyu-Hyun dan memajukan bibirnya, berniat meledek. “Makanya carilah kekasih… jangan seperti orang susah begitu, kaubilang kau tampan, pintar dan seratus delapan puluh centi, mana pacarmu? Aku saja yang seratus tujuh puluh lima centi akan segera bertunangan. Haha. Bilang saja kalau kau tidak laku!”

Kyu-Hyun terus berteriak mengutarakan seribu satu alasan mengapa ia belum memiliki kekasih sampai dengan saat ini. Dan tentu saja Dong-Hae tidak percaya. mereka terlibat adu mulut panjang dan merasa taman di pinggir sungai Han itu adalah milik mereka berdua. Mereka tidak memedulikan orang-orang yang lewat atau terganggu karena kebisingan yang mereka timbulkan. Kalau mereka belum puas adu mulut atau belum ada yang mengalah, maka pertengkaran kakak beradik itu bisa berlanjut sampai besok pagi.

“Mereka memang seperti itu,”

“Tapi mereka berdua terlihat manis…”

“Dan nantinya kau harus terbiasa dengan keributan yang mereka timbulkan, Sun-Ae-ya. Kedua bocah itu tidak pernah dewasa jika bertemu, tidak ada yang ingin mengalah.”

Sun-Ae yang berdiri berdampingan dengan ibu Dong-Hae tersenyum melihat Dong-Hae yang memaksa Kyu-Hyun untuk memeluknya.

“Aku harus terbiasa,” kata Sun-Ae bercanda. Jika Dong-Hae telah melamarnya, berarti ia akan menjadi bagian keluarga pria itu, yang harus menerima baik-buruknya, yang berarti juga harus menerima Kyu-Hyun. “Aku tahu betapa Dong-Hae sangat menyayangi Kyu-Hyun. Dong-Hae tidak membiarkanku membantunya membuat sup rumput laut, dia cepat-cepat pergi setelah mengantarku pulang untuk menemui Kyu-Hyun. Katanya Kyu-Hyun bisa menangis kalau dia tidak datang, lucu sekali mereka itu.”

Ibu Dong-Hae tersenyum dan mengangguk bangga. “Bibi senang karena Dong-Hae memiliki Kyu-Hyun, dan sangat tenang karena Kyu-Hyun mempunyai Dong-Hae yang selalu ada untuknya. Dong-Hae sudah memberitahunya padamu, kan, Sun-Ae-ya?”

“Aku sudah tahu Bibi.”

“Tapi anak itu melarangku untuk memberitahu Kyu-Hyun.”

Sun-Ae tersenyum dan memandang Dong-Hae yang terlihat sangat tampan dan dewasa, juga beralih menatap Kyu-Hyun yang terlihat kekanakan dalam rangkulan Dong-Hae namun penuh kasih sayang.

“Itu karena Dong-Hae ingin melindungi Kyu-Hyun, Bibi. Dong-Hae sangat menyayangi Kyu-Hyun dan tidak ingin ada batas di antara mereka.” Sun-Ae mengenang bagaimana wajah tulus Dong-Hae saat mengatakan rahasia itu padanya. “Saat itu Dong-Hae bilang, sejak Kyu-Hyun datang ke rumah, Dong-Hae akan menjaganya walau nyawa yang menjadi taruhannya.” Sun-Ae melihat kakak beradik itu yang belum juga tenang, ia tersenyum haru, lalu menatap Ibu Dong-Hae. “Hari itu dengan mata berbinar-binar, Dong-Hae bilang padaku bahwa hari dimana ia mendengar Kyu-Hyun kecil memanggilnya ‘Hyung’ saat itulah ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga Kyu-Hyun, selalu melindungi Kyu-Hyun apapun yang terjadi dan akan selalu menyayangi Kyu-Hyun seperti adiknya sendiri.

“Dong-Hae bilang, ia akan membuat Kyu-Hyun lupa kesedihan masa kecilnya karena tidur di emperan toko ketika malam berhujan datang, Dong-Hae bilang ia akan membuat Kyu-Hyun lupa saat ia kelaparan karena tidak mendapat jatah makanan di panti asuhan, Dong-Hae bilang ia akan membuat Kyu-Hyun lupa bahwa ia tidak memiliki ayah dan ibu, dan Dong-Hae pernah bilang, bahwa ia bersumpah akan membuat Kyu-Hyun lupa bahwa dirinya adalah anak angkat, Dong-Hae berkata padaku kalau ia juga ingin lupa bahwa mereka bukan saudara kandung yang tidak memiliki hubungan apapun.”

“Bibi rasa Dong-Hae berhasil melakukannya.”

Sun-Ae tersenyum manis. “Tentu. Dia itu Lee Dong-Hae. Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Karena itulah aku memilihnya. Memilih Lee Dong-Hae. Kita semua menyayanginya.”

“Menyayangi Kyu-Hyun juga.”

“Tentu.”

 

12 Comments (+add yours?)

  1. setia
    Jun 30, 2015 @ 14:45:20

    Ya ampun. Kadang saling bertengkar itu cara yg paling manis menunjukkan kasih sayang

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Jun 30, 2015 @ 15:23:05

    Aduh sweet amat nih family~
    Terharu deh bacanya

    Reply

  3. changtaeupy
    Jun 30, 2015 @ 15:45:47

    N0 c0men, bgus,.

    Reply

  4. esakodok
    Jun 30, 2015 @ 19:12:21

    ahhhhh…hae oppa emang angel banget dah..pantas mendapatkan sunAe….
    need sequel ini…hahahaha
    q bener2 suka sama suasana kekeluargaanya
    bahkan donghae memberikan perhatian melebihi kakak kandung pada adiknya sendiri

    Reply

  5. johee
    Jun 30, 2015 @ 23:43:23

    awalnya juga bingung sama perbedaan2 yang diceritakan jelas diawal cerita. ternyata kyuhyun anak angkat ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ aku mewek…

    Reply

  6. JiHae
    Jun 30, 2015 @ 23:43:40

    Paling suka pas adegan Kyu n Hae bertengkar…suka banget sm ff nya…

    Reply

  7. Angelica SparKyu Sakurada
    Jul 01, 2015 @ 08:39:14

    so sweet bgt :’) aku sampe terharu
    KyuHae saranghae ❤

    Reply

  8. wiwiex lee
    Jul 01, 2015 @ 14:39:05

    lucu pas bayangin donghae berantem ama kyu…

    Reply

  9. imey
    Jul 02, 2015 @ 01:34:51

    bgus bgt ceritanya.. jd kangen ma adek aku yg udh jauh.. 😥 pling sering berantem dri pda akur’ny. miss u my sist.

    Reply

  10. QALITA!
    Jul 02, 2015 @ 19:28:48

    Oh ternyata kyuhyun anak angkat.. donghae itu kakak yg baik bgt, sayang sm ibu nya, pengen deh jdi sun ae >.<

    Reply

  11. yusnitaa
    Jul 10, 2015 @ 22:39:26

    oooooowwww sweet^^ aku sempat ragu sebenernya mau baca atau nggak yaa takut kalo ini cerita `Gay` karna jujur aku suka sama cerita brothership atau friendship antar member suju tapi aku benci -bencibanget- sama ff gay/yaoi/atau apa lah itu.. karna menurutku mereka bukan gay *curcol dan fanfic iniiiii aaaaaa aku sukaaa kekeluargaannya!!! aish melting lah pokoknya^^ Fighting!
    ah satu lagi bahasanya juga bagus!! suka suka dikembangkan lagi yaa!!!

    Reply

  12. i'm2IP
    Jul 23, 2015 @ 17:27:45

    Uwahaaaa uwahhaa.. hiks.. hiks.. ff nya menyedihkan.. mengharukan.. menyentuh perasaan banget.. kakak yg tulus sama adiknya dab adik yg sangat menyayangi kakaknya.. pokonya nih ff daebak bangettt.. lanjut thor.. ini mah harus lanjut ff nya.. pokonya harus!!! Hehehe.. good job thor^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: