One Confession

Author : Aryn
Judul : One Confession
Tag (tokoh/cast) : Cho Kyu-Hyun, Park Ni-Young
Genre : Sad, Romance, Friendship
Rating : PG-15
Length : Oneshoot

You can visit My Personal blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

Words that I couldn’t bear to say

***

“Tidak Kyu, aku suka warna putih. Jadi warna putih saja, bagaimana menurutmu?”

Waktu seakan berhenti ketika ia tersenyum padaku, ketika matanya itu menatapku. Bagi sebagian orang gadis di hadapanku ini mungkin biasa saja. Tapi sebagian orang itu pasti akan menyesal ketika tahu betapa lembutnya dirinya.

“Baiklah, yang putih saja.”

“Hmm, gaunnya cantik, ya?”

Aku mengangguk, “Gaunnya cantik.” Cantik sepertimu.

***

Lalu di sinilah aku berada. Berdiri aneh menatapnya mengenakan gaun yang kami pilih berdua. Gaun pendek berwarna putih itu melekat pas di tubuhnya yang mungil. Permata di sekitar gaun itu membuatnya bersinar-sinar di mataku walau aku tahu dia memang selalu bersinar setiap pagi setiap kali kami bertemu. Tapi malam ini, dia adalah yang terindah. Aku jamin itu.

“Hey, kenapa diam di sana?”

Aku gelagapan ketika mata kemi bertemu, dengan penuh senyum ia berjalan dan mendekatiku yang berdiri aneh di depan pintu. Ia meraih tanganku, tangannya masih saja hangat seperti aku menggenggamnya dulu. Dia mengajakku memasuki ruangan putih dan hangat yang sepi itu, lalu ia meminta salah satu staff yang ada di sana untuk mengambil gambar kami berdua.

“Tolong berikan aku gambar yang bagus bersamanya. Dia Cho Kyu-Hyun. Sahabat baikku.”

***

Dari tempatku berdiri, aku melihatnya banyak tersenyum. Sejak dulu aku memang sudah tahu bahwa dia banyak tersenyum, tapi malam ini aku baru menyadari betapa aku merindukan senyum itu.

Delapan tahun yang lalu ketika kami masih bersekolah aku menemukannya di luar gerbang sekolah yang terkunci. Dia tidak bisa masuk karena terlambat. Bukannya sok pahlawan atau apa, hari itu aku mengambil kunci gerbang dan membukanya, gadis itu masuk sementara aku keluar melewati gerbang sekolah. Aku benci di sekolah. Aku butuh hiburan, pergi bermain game misalnya.

Dua hari kemudian aku yang terlambat. Aku ingat dia sedang mengikuti jam olahraga ketika melihatku berdiri di luar seperti orang bodoh. Dia mengikuti langkahku, dia mengambil kunci gerbang dan membukanya. Bedanya dia tidak bolos kelas sepertiku saat menolongnya. Saat itu dia mengucapkan terima kasih padaku dan aku tahu namanya. Park Ni-Young, itu katanya sambil menjabat tanganku dan kami bersahabat baik hingga sekarang.

Seiring berjalannya waktu kami terus bersama,dia tahu segala kebiasaanku. Kecintaanku terhadap game, ketidaksukaanku pada sayur atau kesenanganku bolos kelas. Tapi semakin kami dewasa, aku semakin sadar bahwa perasaanku terhadapnya mulai berbeda. Maksudku, aku sayang padanya. Tapi dia tidak pernah tahu. Saat duduk di bangku kuliah, banyak pria yang datang mendekatinya, dia selalu meminta pendapatku tentang pria-pria itu. Aku sudah menjelaskannya, tapi pada akhirnya pendapatku diabaikan.

Ada satu orang pria. Kim Jong-Woon namanya. Pria itu adalah pria yang paling Ni-Young cintai, juga yang paling sering membuatnya menangis. Mereka telah menjalin hubungan selama tiga tahun, hingga hari ini. Ni-Young sering bercerita padaku ketika ia sedih, ketika ia tidak sanggup lagi dengan kelakuan Jong-Woon yang workholic. Ni-Young yang terabaikan datang dan mencariku, lalu dia menangis dan tertidur dalam pelukanku.

Dia tidak pernah tahu betapa sakitnya aku melihatnya menangis.

Memang salahku karena tidak pernah berusaha untuk menggapainya, hingga ketika ia datang padaku hari itu, aku sadar bahwa aku telah membiarkan seorang gadis yang begitu hebat, begitu kuat dan begitu kubutuhkan melangkah keluar dari hidupku.

“Aku akan menikah, Kyu.”

Aku tahu tampangku sangat bodoh kala itu. Kami berdua baru bertemu setelah sekian lama, kami duduk di bangku taman kampus yang biasanya menjadi tempat kami makan siang saat kuliah dulu.

“Menikah?” ulangku dengan tololnya.

“Ya,” ujarnya kecil. Saat itu aku tidak tahu, dia bahagia atau tidak. Karena matanya tidak bersinar seperti biasanya. “Kau harus datang, ya?”

Aku menundukkan kepala. Aku menunggunya kembali untuk melihat wajahnya ketika aku mengungkapkan isi hatiku. Bukan melihatnya mengumumkan pernikahan.

“Tentu,” kataku dan dia tersenyum getir. “Kapan?”

Ni-Young menghela napas. “Dua minggu lagi.”

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu. Gadis ini akan meninggalkanku lagi. Sekali lagi ia akan pergi, bedanya kali ini dia tidak akan kembali ke sisiku lagi.

“Kau carilah pacar, kenapa kau masih sendiri?”

Karena aku menunggumu.

“Aku baik-baik saja seperti ini.”

Dia tersenyum getir. “Kau bohong. Kau terlihat kurus.”

Aku tersenyum. Park Ni-Young memang selalu mengerti aku jauh lebih baik dari diriku sendiri.

“Tapi aku masih tampan, bukan?”

Dia tertawa. Oh betapa aku merindukan tawa itu.

Dia memberengut, lalu mencubit pipiku. “Kau memang tampan,” katanya lalu menatapku. “Ajak kekasihmu saat pesta pernikahanku nanti ya. Aku mau lihat seperti apa gadis pilihanmu.”

Kau.

Aku memilihmu.

“Kau… bahagia?” tanyaku bodoh. Tentu dia bahagia. “Youngie, kau bahagia?”

Matanya bersinar sayu. “Aku bahagia.”

Aku memeluknya. Dan dia menangis dalam pelukanku. Entah mengapa.

“Kyu-Hyun-a, kau tidak datang bersama kekasihmu.”

Aku tersadar dari segala lamunan masa lalu. Ni-Young yang cantik telah berdiri di hadapanku dengan menggenggam seikat Baby’s Breath putih bersih. Kesukaannya masih sama, aku ingat dia pernah bilang jika menikah nanti ia akan memegang Baby’s breath di tangannya.

“Nyanyikan sebuah lagu untuk sahabatmu ini,” katanya sambil menyenggol lenganku. “Itu hukuman karena kau tidak menepati janjimu membawa kekasih.”

Aku tidak tahu apa yang membuatku bisa duduk di belakang piano di ruangan besar itu. Kini aku sadar ratusan pasang mata terarah padaku. Tapi siapa peduli? Aku hanya ingin melihat sepasang mata indah milik Park Ni-Young, gadisku yang telah menjadi milik orang lain itu.

Ruangan besar serba putih yang hangat itu menjadi hening ketika satu-dua nada tercipta dariku. Aku menatap tuts piano dengan ragu. Lalu mendongak lagi. Ni-Young berdiri tepat di hadapanku. Dan dia menggandeng lengan prianya.

Harusnya ia mengandeng lenganku. Harusnya aku yang mengucap janji sehidup semati bersamanya di hadapan Tuhan. Harusnya aku yang memilikinya. Bukan pria itu.

When I quietly look at you
I remember all those countless days

The mornings and nights that were all about you
Now it’s become a habit

I’m getting colored with you
Even your pain is becoming mine
Words that I couldn’t bear to say
I love you so much that I have to hide those words

Even if you cry, I’ll embrace you
Even if it’s because of that guy

Because I know the pain of waiting for someone
Better than anyone else

I’m getting colored with you
Even your pain is becoming mine
Words that I couldn’t bear to say
I love you so much that I have to hide those words

Maybe it’s a good thing that it’s me who is wiping your tears
Even if you never know how I feel, even if you’re just taking a break and leaving again

I’ll be there, one step behind
As if I’m just going my way, I’ll slowly walk
I’m not trying or waiting
I can’t help it, I was placed here,

Sepanjang lagu itu mengalun, aku menatap Ni-Young yang juga menatapku. Aku menutup mataku ketika lagu itu hampir berakhir. Dan saat itu aku merasa diriku terlempar ke masa lalu. Ke masa-masa milik kami. Bagaimana aku melihat wajahnya setiap pagi saat kami berjalan berdua ke kampus, bagaimana ia tersenyum dengan bangga ketika aku berkata bahwa makanan buatannya terasa enak ketika kami makan siang berdua di salah satu bangku di bawah pohon, aku masih ingat bagaimana pertama kali ia bilang kalau ia sangat menyukai Baby’s breath, bahwa ia juga menyukai buku-buku sejarah. Bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang Dokter. Aku ingat bagaimana tatapan hangatnya ketika aku bernyanyi di hadapannya. Dan aku hampir gila ketika merindukan suara merdunya memanggil namaku seperti biasa.

Aku tidak tahu bagaimana mengatasi perasaanku setelah ini. Dulu Ni-Young selalu ada di dekatku. Ni-Young adalah obat penenang Cho Kyu-Hyun. Sekarang aku bukanlah apa-apa tanpanya. Aku hanyalah seorang pengecut. Pengecut yang akan mati pelan-pelan dengan cinta yang tidak akan pernah tersampaikan.

“Kenapa kau melakukannya?”

Aku melihatnya menangis di hadapanku, pesta mewah itu telah selesai dan aku melarikan diri ketika selesai menyanyikan lagu itu.

“Kenapa kau begitu jahat?” Ni-Young terisak dan aku meraihnya. Aku memeluknya erat-erat dan mencium rambutnya. “Kenapa kau melakukannya?”

Aku sesak napas. Dan aku menangis.

Ni-Young masih terisak di pelukanku. Ia terus bergumam sesuatu yang mampu membuat hatiku seakan diremas-remas.

“Kau tahu kalau aku paling tidak suka melihatmu menangis, kan? Youngie?” kataku berusaha tegar. Walau aku tahu aku akan mati sebentar lagi karena kehilangannya. “Kau harusnya bahagia…”

“Bagaimana caranya aku bahagia?”

Ia keluar dari pelukanku dan menatapku dalam-dalam. Tatapan itu penuh luka. Tolong jangan menatapku seperti itu, youngie…

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

Aku menunduk. Karena aku adalah seorang pengecut. Pengecut yang tidak berani berharap terlalu tinggi untuk memilikimu.

“Aku mencintaimu.”

Hanya itu yang dapat kuucapkan padanya bersama embusan angin. Dia terlihat terkejut, lalu air matanya berjatuhan. Ia terisak, tapi tidak mau memelukku. Tidak ingin kupeluk.

Akhirnya Park Ni-Young menghapus air matanya. Jemarinya mengusap wajahku. Merapikan rambutku dengan lembutnya. Ia maju selangkah, mengecup keningku, mengecup kedua mataku. Lalu ia mengecup bibirku lama. Bibirnya bergetar, dan dingin. Lalu air matanya mengenai wajahku.

“Cho Kyu-Hyun, andai kau datang lebih dulu, aku pasti akan memilihmu.”

Setelah mengatakannya dengan begitu pilu, Park Ni-Young meninggalkanku.

Aku seorang diri dan menyesali kebodohanku.

Selama ini gadis itu menungguku.

Aku yang tidak menjemput cintaku.

Sekarang semuanya telah terlambat dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku hanya bisa berharap segala yang terbaik untuknya.

Cintaku, semoga kau bahagia.

 

5 Comments (+add yours?)

  1. esakodok
    Jun 30, 2015 @ 19:00:54

    arghhh…..nyesek bamget bacanya..mesti kyuhyun bener2 menyesal…huaaa… knapa sesuatu yg kurang selangkah aja bisa didapatkan gagal didapatkan karena kita kurang berani mengambil keputusannnnnn

    Reply

  2. gyun
    Jun 30, 2015 @ 19:29:17

    kyuhyun jgn kuatir pasti akan waktunya dirimu bahagia bersamaku hahaha

    Reply

  3. ghefirasaras010298
    Jun 30, 2015 @ 19:57:06

    Ceritanya nyedihin banget, sesuai arti lagunya, hehehe. Good job!

    Reply

  4. uchie vitria
    Jul 01, 2015 @ 08:11:30

    menyesal pun percuma kyuhyun
    salahmu sendiri yang lambat dalam bertindak
    dan akhirnya na young harus merelakan hatinya dimiliki pria lain

    Reply

  5. wiwiex lee
    Jul 01, 2015 @ 14:30:54

    kayak pernah baca, tp dimana aq lupa….bener deh, ga boong. atw ide ceritanya aja yg mirip ya??

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: