Memories [10/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

**********Part 10************

“Aku melihat diriku dicermin. Wajahku tak berubah. Masih ada satu jerawat yang muncul sekitar dua hari lalu. Rambutku masih kubiarkan memanjang dan menutupi dahiku. Saat itu sedang trend, jadi aku hanya akan memotongnya sedikit setiap bulan. Semua masih sama. Tapi aku merasa berbeda. Saat itu, detik itu, aku resmi menjadi calon ayah di usia 24 tahun.

Bayangkan? Saat usiaku tujuh belas tahun, aku pikir baru akan menikah di ujung dua puluhan dan tidak ingin buru-buru punya anak. Tapi hidupku ternyata tak pernah berhenti memberikan kejutan. Jeany dipastikan hamil oleh dokter setelah aku membawanya ke rumah sakit dekat apartemen. Bukan hanya aku yang seperti orang gila mendengar itu. Ayahku bahkan langsung datang ke apartemen dan memasak banyak makanan untuk Jeany. Leeteuk hyung, yang kupikir tidak begitu tertarik justru berteriak saat ditelepon. Casey sendiri dengan tenang mengatakan bahwa ia belum berubah dengan keinginannya yakni memiliki sebelas keponakan dariku, bukan satu saja.”

Yesung menceritakan bagian yang membuat beberapa orang disana tersenyum. Tapi sekarang ia justru merasakan bahwa air matanya yang sempat ia hapus justru datang lagi. Ia menghela nafas, memperluas pandangannya hingga menemukan Casey yang kembali muncul setelah beberapa saat lalu menghilang. Casey berdiri menyandar pada dinding, menatapnya dengan datar.

“Aku teringat jika beberapa tahun sebelum itu, aku begitu tak menyukai anak kecil. Mereka hanya akan merepotkan. Mereka akan membuatku tidak bisa tidur tenang dengan tangisnya ditengah malam, mereka akan membuatku terpaksa menyisihkan gaji perbulan, mereka pasti akan menyita banyak waktuku. Aku tidak bisa bergerak leluasa dan aku tidak menginginkannya. Namun setelah bertemu dan berniat menikahi Jeany, entah kenapa semuanya berubah. Aku jadi terus berpikir dan membayangkan betapa menyenangkannya jika ditengah kami berdua ada beberapa anak kecil. Aku pernah memimpikannya. Dan itu membuatku tertawa sendiri saat mengingatnya.”

“Aku sendiri tak pernah mengatakan bahwa itu sangat luar biasa sampai aku merasakannya sendiri. Sampai berita itu datang, aku baru menyadari bahwa aku begitu bahagia dan menginginkannya. Namun, saat itu aku terlalu bahagia sampai tak bisa melihat bahwa ada satu orang yang belum juga tersenyum setelah mendapatkan kabar gembira itu. Dia adalah….”

Marcus mendekati Casey. “Jadi dia sudah punya anak? Apa anaknya bersama Jeany saat ini?”

Casey memandang Marcus dengan bingung. “Sejak kapan kau begitu ingin tahu urusan orang? Dan kurasa sejak tadi kau tidak melakukan pekerjaanmu. Kau hanya duduk dan mendengarkannya.”

“Oh, jangan berlebihan. Tidak ada yang perlu kulakukan saat ini. Jadi cepat beritahu aku dimana anaknya saat ini!”

Casey kembali melihat Yesung yang menggantung ceritanya. Ia takkan mengatakan apapun pada Marcus atau siapapun sampai Yesung sendiri yang mengatakannya, karena ia sendiri ragu kalau Yesung sanggup mengatakannya.

***

“Duduklah,” Yesung menuntun Jeany untuk duduk di sofa. Sejak mengetahui kondisi istrinya, ia berubah jadi orang yang over protective. Ia melarang Jeany memakai high heels, ia melarang Jeany menerima pekerjaan yang mengharuskannya pulang larut malam. Tidak boleh menerima pekerjaan diluar kota. Ia juga akan menanyakan kondisinya setiap jam melalui pesan singkat.

“Kau sudah makan?”

“Kau baik-baik saja?”

“Apa kau merasa ingin muntah?”

“Apa kau ingin kujemput?”

Untuk pertanyaan terakhir, Jeany tak pernah mengiyakannya. Jeany selalu menolak dengan berbagai alasan. Tapi untuk menjaga emosinya, Yesung tak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Apapun keinginan Jeany, akan ia turuti asalkan istrinya itu senang yang pasti akan berimbas baik pada janinnya.

Yesung sendiri sudah mengumumkan pada semua orang di café bahwa istrinya tengah hamil. Ia hanya menyebut istri, bukan namanya karena ia yakin orang-orang masih tak percaya.

“Kau ingin sesuatu? Atau kau….ingin makan makanan yang tidak ada disini?” Yesung sibuk bertanya sambil bersimpuh disisinya. Jeany segera menindih telapak tangannya.

“Aku tidak menginginkan apa-apa.”

“Tapi bukankah biasanya seperti itu saat sedang hamil muda? Kau tidak perlu merasa tidak nyaman. Apapun itu, kapanpun itu, bahkan saat tengah malam sekalipun, aku akan mencarikannya. Kau tahu aku punya Gege yang bisa ku andalkan.”

Jeany kembali menggeleng. Wajahnya terlihat lelah dan sama sekali tidak bersemangat. “Aku hanya ingin tidur.”

Saat itu Yesung hanya berpikir bahwa sikap Jeany yang seperti itu diakibatkan karena kehamilannya. Jeany sering murung akhir-akhir ini, berbeda jauh dengannya yang begitu bersemangat.  Maka ia membelikan banyak vitamin serta susu untuk ibu hamil. Ia banyak bertanya pada ayahnya bagaimana cara menghadapi wanita hamil karena tentu ayahnya sudah berpengalaman. Dan yang paling sering ia lakukan diantaranya adalah terus pamer kebahagiaan pada teman-temannya di café. Hyerinlah yang paling suka mendengar ceritanya. Sedang lainnya masih juga berpikir bahwa ia tukang khayal.

Tapi Yesung beruntung karena ditiga bulan pertama, Jeany tidak menampakkan tanda-tanda ibu hamil yang selayaknya ia dengar selain dengan sikapnya yang murung. Jeany tidak pernah membangunkannya tengah malam untuk meminta makanan yang hanya akan didapatkan saat matahari terbit. Jeany tidak pernah menyuruhnya mencari ini dan itu seperti yang dialami oleh ayah dan ibunya dulu. Jeany tidak terlalu sering mual dipagi hari. Kehamilan Jeany sama sekali tidak merepotkan. Sepertinya bayi mereka paham benar bahwa ayah dan ibunya masih muda dan akan kebingungan jika terlalu banyak disodori permintaan.

“Ah, aku tak pernah merasa sebahagia ini. Kau tahu? Ini seperti mimpi. Kami sudah sepakat untuk menundanya, tapi yang terjadi justru berbeda.”

Yesung terus mencurahkan isi hatinya pada Eunhyuk ketika mereka sedang berjalan kaki sepulang dari café. Setelah akhir-akhir ini ia kerap pulang lebih cepat dan terlalu bersemangat sampai ke rumah, kali ini Eunhyuk menahannya dan mengajaknya pulang bersama.

“Apa Jeany……belum mengatakan sesuatu padamu?”

“Sesuatu?” Yesung berpikir, mengetukkan jari ke dagunya. “Kurasa tidak ada. Sesuatu yang bagaimana yang kau maksud?”

Eunhyuk memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Ia membuang pandangannya ke depan sambil menghembuskan nafas hingga uap dari mulutnya keluar. Musim dingin memang sudah tiba. Dan ini adalah musim favorit kebanyakan orang, termasuk mereka berdua.

“Tidak ada. Lupakan saja.”

Yesung tak membiarkannya lolos begitu saja. “Tapi sebenarnya aku penasaran kenapa akhir-akhir ini kau tampak tak bersemangat jika aku menceritakan Jeany. Apa kau begitu patah hati mengetahui fakta bahwa aku adalah suaminya?” Yesung tertawa begitu puas sampai memukul dinding sebuah toko yang mereka lewati. Eunhyuk sendiri hanya tersenyum, tak begitu menanggapi.

“Kau harus belajar menerima kenyataan. Jeany Hanks adalah milikku. Dulu, sekarang dan selamanya.”

Mereka berpisah di persimpangan. Yesung tak pernah menanggapi sikap Eunhyuk dengan serius. Ia pikir Eunhyuk hanya masih terlalu sulit menerima kenyataan. Ia bergegas pulang dan senang karena menemukan Jeany sudah ada di apartemen. Tapi ia tak begitu suka melihatnya masih duduk di depan komputer, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 12.

“Sudah malam, sebaiknya kau istirahat,” ujarnya sambil melepas jaket, melemparnya sembarangan dan membiarkan sepasang sepatunya tercecer di depan pintu.

“Aku akan memewancarai seorang narasumber besok siang, acaranya live. Jadi aku harus mempelajari profilnya terlebih dahulu.”

Melihat Jeany yang begitu fokus, Yesung mendekatinya, meletakkan dagunya dibahu Jeany. Ia juga berusaha melihat apa yang sedang dikerjakannya. Ia melihat foto seorang pria berkacamata di layar computer Jeany, lengkap dengan biodata serta materi yang tak begitu membuatnya tertarik. Ia lebih tertarik mengecup pipi Jeany.

“Kau terlalu bekerja keras. Apa Siwon belum tahu kalau kau sedang mengandung? Dia harus mengurangi kegiatanmu.”

Yesung sudah akan mendaratkan ciuman kedua saat menyadari Jeany tiba-tiba tak bergerak. Jeany tak menggerakan mousenya lagi dan terpaku.

“Ada apa?”

Jeany menghela nafas. Memutar kursi kerjanya kemudian mengelus wajahnya.”Aku akan menyelesaikannya. Kau mau mandi dulu? Akan kusiapkan air panas.”

Yesung tak sempat menjawabnya saat Jeany langsung menutup file yang tadi ia baca lantas mematikan komputernya. Begitu Jeany berbalik, matanya langsung melebar.

“Yesung, please….mau sampai kapan kau seperti ini?”

Jeany bergegas memungut jaket serta sepatunya lalu meletakkannya ke tempat yang seharusnya. Yesung tak ambil pusing dan langsung ke kamar mandi. Tidak lagi menunggu Jeany menyiapkan air panas segala. Rasanya air dingin lebih menyegarkan. Selama mengandung, sifat menyebalkan Jeany yang begitu peduli akan kerapian dan kebersihan semakin menggila. Kalau tak ingat Jeany sedang hamil, ia pasti akan marah hingga mereka akan ribut lagi dengan masalah sepele. Tapi saat ini, ada hal yang memicu kemarahannya tanpa sebuah keributan.

Saat Jeany ke dapur dan ia baru keluar dari kamar mandi, ia melihat handphone Jeany menyala. Ada dua pesan masuk atas nama Choi Siwon. Mendengar nama itu, mau tak mau moodnya yang semula baik kembali memburuk. Diam-diam ia ambil handphone itu dan membawanya ke kamar. Pesan pertama berisikan pesan yang masih berada dalam tahap normal.

“Apa kau sudah mempelajari semuanya? Jangan lupa besok jam dua belas kau sudah harus ada di kantor.”

Namun pesan kedua, rasanya itu sedikit berlebihan.

“Jangan terlalu lelah, sesebaiknya kau tidur. Jangan lupa mimpikan aku.”

Tak sadar ia meremas benda itu. Kalaupun pesan itu berisikan hal-hal wajar, tetap menjadi tidak wajar karena dikirimkan pada waktu tengah malam. Apa pria itu benar-benar tak perduli dengan status Jeany yang sudah bersuami? Bahkan tak lama lagi mereka akan punya anak, apa pria itu masih berani?

“Kau melihat handphoneku?” Jeany muncul dari luar dan secepat kilat Yesung menghapus dua pesan tersebut.

“Ah, ini, aku bermaksud menyimpannya.”

Jeany meraih handphonenya, terlihat mengeceknya lalu menyimpannya ke dalam laci. Yesung memakai piyamanya sambil terus memperhatikan gerak gerik istrinya itu yang kini menarik selimut sebatas perutnya.

“Ada yang perlu kau katakan padaku?”

Pada akhirnya ia tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya. Jeany diam lagi, persis seperti reaksi sebelumnya saat di depan computer tadi. Ia lalu mendekat, ikut merebahkan tubuhnya di samping Jeany.

“Jika ada yang perlu kau katakan, aku akan mendengarnya.”

Ia berusaha menyelami dan membaca arti tatapan Jeany. Namun, ia seperti melihat banyak hal yang tertutupi. Banyak hal yang tertahan hingga ia tak bisa mengerti.

“Untuk saat ini, aku hanya bisa meminta maaf.”

“Maaf?”

Jeany mengangguk, memiringkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.

“Ada hal yang harus ku pikirkan terlebih dahulu. Setelah yakin, aku akan menyelesaikannya lalu akan kuberitahu padamu.”

“Kenapa kau tak bisa mengatakannya sekarang?”

“Tidak saat ini. Tapi percayakan saja padaku. Aku akan menyelesaikannya…secepatnya.”

“Tapi harusnya kita…”

“Percaya padaku.”

Yesung tak tahu harus bersikap bagaimana lagi terhadap kemisteriusan Jeany akhir-akhir ini. Ia lebih suka Jeany yang dulu, yang berlari memeluknya lalu menumpahkan segala isi hatinya. Tapi apapun itu, ia berharap itu bukan sesuatu yang buruk. Semoga Jeany bisa menyelesaikannya, karena ia pun punya hal yang harus ia selesaikan. Ia harus menyelidiki hubungan istrinya dengan Siwon.

***

“Kau yakin tidak ingin kuantar ke dalam?” tanya Yesung setelah Jeany turun dari taksi yang mengantarnya ke tempat kerja. Yesung beralasan ingin mengunjungi ayahnya sehingga mereka pergi bersama.

“Tidak usah. Aku sudah ditunggu dan setelah ini aku dan yang lain harus ke lokasi.”

Yesung hanya mengangguk lantas melambai pada Jeany. Setelah yakin Jeany tak melihatnya, ia hanya menyuruh supir taksi itu membawanya sedikit menjauh dan parkir dipinggir jalan. Ia sudah merencanakan ini sejak semalam, ia akan mengikuti istrinya itu. Sepengetahuannya, Jeany hanya akan berada di dalam selama beberapa menit lalu pergi ke lokasi interview bersama rekan-rekannya. Dan benar saja, sekitar sepuluh menit kemudian ia bisa melihat Jeany dan seorang wanita keluar bersamaan. Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Dari posisinya, ia tak dapat melihat siapa yang mengemudi. Tapi ia bisa melihat ada dua orang lagi di dalam mobil itu selain Jeany dan teman wanitanya.

“Ikuti mobil itu.”

Ia mengikuti kemanapun mobil itu melaju. Ia tahu ini kelewatan karena ia tak bisa mempercayai perkataan istrinya sendiri. Namun ia terpaksa mengambil jalan ini karena Jeany begitu tertutup padanya. Sejak awal bekerja disini, Jeany sudah banyak berubah dan ia yakin memang ada yang ditutupi olehnya.

Begitu mobil yang membawa Jeany berhenti, ia ikut juga memerintahkan supirnya untuk berhenti. Kepalanya mendongak hingga menemukan tulisan besar yang terpampang pada bagian depan bangunan besar tersebut. Shinsegae. Setahunya, itu adalah toko serba ada yang tengah bersaing dengan Lotte Shopping dan Hyundai Departemen Store. Ia sering membaca beritanya dikoran akhir-akhir ini. Tapi bukan itu pointnya.

Mobil yang tadi membawa Jeany sudah memasuki halaman parkir. Semua nampak baik-baik saja sampai akhirnya ia melihat siapa orang lain yang ikut dalam mobil tersebut. Jeany, bukan hanya bersama seorang teman wanita, melainkan ada dua orang pria dimana salah satunya adalah Siwon. Tak lama ada mobil lain dan tiga orang yang membawa peralatan serta kamera tiba.

Ia tak tahu sejak kapan seorang pemimpin redaksi bisa terjun terlalu jauh hanya untuk ikut sebuah interview. Tapi dari cara Siwon memperlakukan Jeany, ia semakin merasa ada yang salah disana. Siwon turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Jeany lantas mereka berjalan bersamaan.

Yesung tidak merasa yakin dengan penglihatannya. Tapi Jeany tampak tak menolak apapun perlakuan Siwon persis ketika dulu ia melihat Siwon mencium pipinya. Bahkan dengan mudahnya Siwon meraih pinggang Jeany saat mereka masuk ke dalam gedung itu.

Ia bisa mendengar si supir taksi didepannya mendecak seakan mengejeknya.

“Apa yang kau tertawakan?”

Supir itu menatapnya sekilas. “Tidak. Aku hanya tidak mengerti apa yang kita lakukan disini. Dan aku tidak mau kau terkejut melihat tagihannya.”

“Kau tidak usah memusingkan uang. Aku akan bayar berapapun. Sekarang kita harus tunggu mereka sampai selesai.”

Pria itu melepas topinya lantas mulai mengetuk-ngetukkan jarinya ke stir mengikuti irama dari radio. Yesung tak suka melihatnya dan ingin sekali mematikan radio itu, tapi handphonenya buru-buru berbunyi, menampilkan nama bosnya di café.

“Yobeseyo.”

“Bisa ke café sekarang? Aku ingin bicara.”

“Aku…” Yesung memberi kode pada supir itu untuk mengurangi volume. “Apa ada sesuatu yang penting? Ku rasa masih ada waktu beberapa jam sebelum café dibuka.”

“Pernah aku menerima penolakan?”

Yesung menghela nafas. Akhirnya ia harus pergi dan melupakan niatnya yang ingin menghajar Siwon jika saat keluar nanti Siwon masih lancang menyentuh Jeany. Ia suruh supir itu membawanya ke café.

“Hey, bukankah wanita yang kita ikuti tadi adalah seorang reporter?” tanya supir itu lagi saat mereka dalam perjalanan menuju café. Yesung sebenarnya malas meladeni karena moodnya sedang buruk. Tapi saat pria itu menyebut bahwa Jeany dan Siwon tampak serasi, ia tak bisa diam lagi.

“Dia istriku. Kau lupa tadi dia duduk disini? Di sampingku?”

“Kau bercanda? Dia masih muda.”

“So what? Ada masalah kalau dia masih muda?” Yesung semakin tak suka dengan gaya bicara supir itu. Terlebih dengan fakta bahwa mereka tampak tak berbeda jauh usianya, ia sangat ingin menginterupsinya dengan agak kasar.

“Kalau dia memang istrimu, kenapa kau justru menguntitnya? Dan kenapa tadi dia begitu dekat dengan pria itu? Ah, kalian bertengkar?”

Yesung menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia terpaksa meremas bajunya sendiri supaya tangannya tidak melayang ke mulut supir itu. Moodnya benar-benar buruk. Ditambah dengan kenyataan bahwa sms mesra itu terus berlanjut dihari berikutnya. Saat Jeany lengah, ia akan diam-diam mengambil handphonenya lalu mencari pesan dari Siwon. Dari seluruh pesan masuk yang diterima Jeany dalam satu hari, separuhnya merupakan pesan dari Siwon. Sebagian membahas pekerjaan sedang sebagian hanya berisi pesan yang seakan memperlihatkan betapa dekatnya hubungan mereka dan seolah-olah mereka tidak bertatap muka di kantor.

Anehnya, ia tak pernah menemukan pesan balasan dari Jeany. Apa Jeany enggan membalasnya? Karena tak sanggup menahannya lagi, ia putuskan untuk bertanya. Saat itu Jeany masih sibuk dibalik meja kerjanya dengan computer menyala. Beberapa kertas berhamburan dan ada secangkir kopi yang sudah hampir habis di dekat segelas susu yang masih utuh.

Yesung mendekat, bermaksud langsung bertanya saat matanya tertuju pada susu yang ia buatkan sekitar sepuluh menit lalu yang sepertinya belum tersentuh.

“Kau belum minum susunya?”

“Akan ku minum,” jawab Jeany sekedarnya tanpa menatapnya.

“Akan lebih baik kalau kau langsung meminumnya.”

“Aku sibuk.”

Yesung menghela nafas lagi. Ini bukan kali pertama Jeany nampak cuek dengan kesehatan tubuh dan bayi dalam kandungannya.

“Bisa kau sedikit perhatian pada bayi kita?”

Jeany meletakkan pulpennya, melupakan sejenak layar computer yang sejak tadi ditatapnya. “Kalau hanya karena susu yang rasanya tidak enak itu kau berpikir demikian, aku akan menghabiskannya.”

Jeany meraih gelas susunya lantas meminumnya dengan sekali tenggak. Yesung yang melihatnya langsung menghentikannya.

“Cukup! Kau tidak perlu berbohong lagi.”

“Apa lagi sekarang? Aku sudah meminumnya setiap malam, aku sudah meminum vitamin yang kau berikan itu. Aku tidak memakai high heels dan aku tidak pulang larut. Adalagi yang terlewatkan?”

Yesung menutup matanya sejenak. Setelah akhir-akhir ini ia selalu berusaha berpikir positif, akhirnya ia mendengar kalimat itu juga. Ia bisa merasakannya.

“Sejak awal aku memang merasakan bahwa kau tidak suka dengan kehamilanmu.”

“Yesung, please, jangan memulai pertengkaran lagi. Aku masih punya banyak pekerjaan. Aku harus menyelesaikannya sebelum aku-“

“Kau tidak menginginkannya, benar?”

Jeany menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil sebuah map. Yesung sudah berdiri dengan kedua tangan berpegangan pada pinggir meja. Dan dari cara Yesung menatapnya, ia tak suka.

“Kau tidak mengharapkannya karena hanya akan menghambat karirmu. Bukan begitu?”

“Yesung…”

“Aku pikir kau sudah lupa dengan kesepakatan itu. Aku pikir kehadirannya bisa membuatmu lupa.”

“Aku..”

“Sejak awal hanya aku terlalu bersemangat. Sejak awal hanya aku yang senang menyambutnya, sedang kau? Yang ada dikepalamu hanya pekerjaan dan pekerjaan.”

“Yesung, cukup!!!”

“Kenapa? Kenapa kau tidak mau mendengarnya? Kau merasa tersudut karena aku mengatakan kebenaran?”

Jeany menggebrak meja dengan kuat. Ia tak peduli saat perutnya tiba-tiba terasa keram. Ia tak hiraukan sakitnya dan memutari meja hingga berhadapan langsung dengan Yesung.

“Sudah kubilang aku tidak mau ribut. Tapi kau memulainya hanya karena masalah sepele. Sekarang siapa yang berlebihan? Bukankah kau selalu bilang aku yang berlebihan dan suka membesarkan masalah?”

“Yang kubicarakan sejak tadi bukan masalah sepele. Kecuali benar memang dimatamu ini bukan apa-apa.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku membicarakan sikapmu! Kau berubah, Jeany. Aku tidak mengenalmu. Kau tertutup. Kau tidak mengatakan semuanya. Kau tidak tampak bahagia dengan kehamilanmu sendiri. Kau terlalu mementingkan karirmu!”

“Aku….arrgh…” Jeany meremas perutnya. Ia sudah tak bisa menahan rintihannya lagi.

“Jeany? Kau..”

“Lepaskan aku.”

Jeany menepis kasar tangan Yesung yang hendak membantunya berdiri. Dengan hati-hati ia berjalan ke sofa untuk merebahkan tubuhnya. Meski sakitnya sudah berkurang, tubuhnya seakan menolak untuk bangun lagi.

“Jeany, kau tidak apa-apa?”

Sekali lagi Jeany menyingkirkan tangan Yesung dari perutnya. Ia miringkan tubuhnya memunggungi Yesung yang kini bersimpuh di pinggir sofa.

“Apa kau butuh sesuatu? Atau kau ingin minum?”

Yesung mengurangi volume suaranya. Tapi sepertinya Jeany terlanjur marah hingga hanya satu kalimat yang ia dengar.

”Aku ingin sendiri.”

***

Yesung berdiri di balik jendela untuk melihat salju yang mulai turun. Semakin dekat dengan natal dan hubungan mereka bukannya membaik malah memburuk. Tadi pagi bahkan ia tak menemukan Jeany di tempat tidur. Ia hanya menemukan sepiring nasi goreng di atas meja dan segelas teh. Ada sebuah pesan di dekat piringnya.

Aku sudah minum susu, vitamin dan aku akan pulang jam delapan hari ini.

Ia tahu kelakuan Jeany yang tidak begitu bersahabat mungkin dikarenakan bayi mereka. Tapi ia harap masa-masa itu bisa dilewatinya dengan perasaan yang lebih menyenangkan. Kenyataannya, ia dan Jeany seperti kembali ke masa-masa beberapa bulan lalu saat mereka suka bertengkar.

Hari ini rencananya ia akan ke rumah ayahnya. Semalam ayahnya menelpon dan meminta bantuannya untuk menagih beberapa penyewa kontrakannya yang belum juga membayar setelah dua bulan menunggak. Ia tahu sekali alasan ayahnya menyuruhnya karena ayahnya tidak tega untuk menagih secara langsung. Ayahnya terlalu sensitif dan kadang tak bisa bedakan mana seseorang yang patut dikasihani, mana yang hanya pura-pura agar dikasihani. Dan setelah menyelesaikan tugasnya disana, ia berencana untuk mengunjungi Jeany di kantornya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah ayahnya, ide itu terlintas begitu saja. Ia pikir sudah saatnya ia menampakkan diri dan menegaskan di depan semua orang terutama Siwon bahwa ia adalah suami Jeany. Dengan begitu, ia akan membuat Siwon mati kutu. Kalaupun setelahnya Siwon masih berulah, terpaksa ia meminta Jeany berhenti bekerja.

“Wah, kau hebat!!” seru ayahnya saat mereka duduk di ruang tengah dan Yesung memberikan sejumlah uang yang ia dapatkan.

“Appa harus bisa melihat dengan jeli. Mereka berbohong. Appa bilang mereka kekurangan uang karena biaya rumah sakit anak mereka? Aku sudah mengeceknya dan anaknya sangat sehat. Bahkan suaminya baru mendapat bonus dari tempatnya bekerja. Lalu tuan Jung, ternyata uangnya hanya disimpan di bawah bantal. Ia menghabiskan gajinya hanya untuk berjudi.”

Ayahnya nampak tak begitu mendengarkan, hanya sibuk menghitung uangnya lalu di masukkan ke dalam celengan di bawah tempat tidur.

“Baiklah, bulan depan kalau mereka berulah lagi, biar kau yang menagih. Bagaimana?”

Yesung mengangguk sekenanya, lantas meninggalkannya menuju halaman belakang. Kalau sedang dalam mood yang seperti ini, ia merasa akan mendapatkan sedikit penyegaran dengan berdiri ditengah tanaman yang selalu dirawat ayahnya. Sayangnya dimusim salju begini, tanaman itu tidak menawarkan pesona dan aromanya. Semuanya sama saja. Putih dan beraroma salju.

“Kau dan Jeany bertengkar lagi?”

Yesung menoleh sebentar pada ayahnya yang sudah duduk di salah satu kursi. Ia heran bukan karena ayahnya bisa membaca air mukanya. Tapi karena kata ‘lagi’ yang didengarnya. Sebelumnya ia tak pernah mengatakan bahwa ia dan Jeany kerap bertengkar.

“Aku tidak akan bertanya kenapa. Tapi kalau sekarang kau ingin pergi, pergilah.”

Yesung memainkan salju yang sedikit mengenai kakinya. Ia memang ingin pergi. Tapi…

“Aku ingin minta maaf padanya. Apa ia akan memaafkanku?”

“Aku tidak tahu. Tapi mungkin kau bisa melakukan sesuatu supaya ia luluh.”

“Sesuatu?”

Ayahnya mengangguk, segera masuk ke dalam dan Yesung bisa melihat ayahnya sibuk membuka kulkas.

“Ayo kita memasak! Kita buatkan makan siang untuknya!”

Yesung tersenyum. Ayahnya memang paling tahu cara sederhana untuk menaklukan kerasnya hati perempuan. Mereka pun sepakat untuk membuat Ogokbap, salah satu hidangan yang wajib disantap saat musim dingin begini. Apalagi menurut kepercayaan orang Korea, menyantap Ogokbap sama seperti memberikan harapan keberuntungan di tahun depan. Dan dilihat dari bahan-bahannya, sepertinya Jeany akan sangat suka. Sebelumnya mereka sempat berbelanja bahannya dulu disupermarket. Begitu jadi, Yesung akan membawanya langsung ke kantor Jeany. Selain sebagai permintaan maaf, ia juga ingin memamerkan status mereka di depan Siwon.

Ia bisa bayangkan wajah Siwon yang tampan itu akan merah seperti kepiting overcook. Siwon akan sangat malu dan akhirnya tidak lagi mengganggu Jeany.

“Nah, jadi begitu sampai disana, kau cari Jeany. Kalau perlu di depan semua orang kau berlutut dan meminta maaf padanya.”

“Berlutut dengan menyodorkan rantang makanan ini?”

Ayahnya tertawa. Yesung sendiri agak sangsi membayangkan dirinya melakukan hal itu. Ah, tapi demi maaf dari Jeany, ia akan lakukan apapun. Ia lalu memeluk ayahnya, bergegas pergi menggunakan taksi kesana. Tak lupa ia singgah membeli bunga mawar yang tak pernah absen terselip di benda atau sesuatu yang akan ia berikan pada Jeany.

Saat ia melihat ke jalan, ia merasa sejagat raya sedang melambai dan menyemangatinya. Ia merasa butiran salju yang mengetuk jendela taksinya juga ikut menyerukan namanya. Begitu ia tiba di depan gedung bertingkat yang menyembunyikan tubuh Jeany itu, ia merasa orang-orang yang lalu lalang disana sedang mengucapkan selamat datang padanya.

Baiklah, Yesung, ini saatnya mengubur impian pria tidak tahu malu itu.

Ia melangkah masuk ke dalam, menaiki lift, lalu menekan angka 4. Dadanya berdebar selama berada di dalam lift. Seakan ia akan melamar Jeany untuk yang kedua kalinya. Padahal dulu saat melamar Jeany rasanya tak setegang ini.

Ting

Pintu lift terbuka. Tak seperti saat pertama kali ia kemari dimana ia hampir menubruk seseorang setelah keluar dari lift, kali ini tidak ada kesibukan berarti. Semua orang nampak berkumpul ditengah-tengah mengerubuni sesuatu. Kebetulan sekali semua orang sedang berkumpul. Ia bisa langsung mendekati Jeany, merangkul pinggangnya lantas memperkenalkan diri. Semangatnya semakin menjadi kala dari posisinya ia melihat Siwon berdiri diantara mereka. Siwon tersenyum dan ia tak sabar meruntuhkan senyuman itu.

Sepertinya ada perayaan. Ia bisa melihat Siwon mengangkat gelas minumnya lalu semua orang bersulang. Sambil berjalan, ia bisa melihat wajah Siwon semakin jelas. Dan semakin jelas pula siapa orang yang berdiri di samping Siwon itu.

Jeany…

Langkahnya semakin lama semakin pelan. Jeany tersenyum lebar di depan semua orang dan tentu juga pada Siwon. Tangan Siwon merangkul mesra pinggang Jeany. Entah apa yang mereka katakan. Ia hanya merasakan semua orang sedang bertepuk tangan. Hingga beberapa menit kemudian, tanpa sengaja Jeany menyadari kehadirannya.

Rantang yang ada ditangannya seketika terjatuh hingga isinya berceceran. Saat itu semua mata langsung tertuju padanya. Sedang dirinya, matanya hanya tertuju pada satu titik, yakni tangan Siwon yang belum lepas dari tubuh istrinya.

Tubuhnya membeku. Ingin sekali ia langsung berlari dan menghantam wajah pria itu. Tapi sebuah pertanyaan lebih dulu sampai ke telinganya.

“Kau mencari seseorang?”

Ia bisa melihat Jeany menyingkirkan tangan Siwon dari pinggangnya. Entah kenapa ia seperti melihat orang lain didepannya. Bukan istrinya, bukan lagi Jeany Hanks yang dikenalnya.

“Aku….ingin bertemu dengan Jeany Hanks,” ucapnya pelan namun tegas. Ia bisa rasakan suasana sekitarnya sedikit kaku dan semua orang menunggunya bicara lebih jelas.

“Aku adalah….”

“Ah, kau ingin minta tanda tangannya?”

Tak sadar tangannya sudah menegang. Tak ia lewatkan sedetik pun pergerakan Jeany meski pertanyaan itu terasa menohok dan meruntuhkan harga dirinya.

“Kurasa begitu, Jeany bilang dia adalah salah satu penggemarnya. Aku pernah melihatnya di restoran.”

“Aku mulai muak melihat ada banyak pria kemari hanya untuk bertemu dengannya. Siapa yang lebih lama bekerja disini?”

Ada banyak suara yang sedang berbisik di dekatnya. Satu persatu suara itu menari-nari di kepalanya hingga ia hampir tak sanggup mendengarnya lagi.

“Yesung, aku…” Jeany coba bicara. Tapi Yesung tak lagi berharap Jeany akan menyelesaikannya mengingat saat ini mereka sedang jadi pusat perhatian.

“Kalian jangan begitu. Dia adalah suami Jeany. Benar, kan?”

“Kau bercanda? Sejak kapan Jeany menikah? Mana mungkin dia ada disini kalau dia sudah berkeluarga.”

“Jeany sudah menikah? Kau bisa mati berani mengatakan itu di depan Siwon.”

Lantai tempat ia berpijak seakan runtuh. Ia benar-benar tak percaya apa yang didengarnya. Jadi…selama ini…Jeany….

“Kau mencari Jeany? Maaf, kami sedang ada pesta kecil. Kurasa kau bisa menunggu di lobi jika ingin meminta tanda tangannya.” Siwon bicara dengan senyum terbaiknya dan sekali lagi merangkul tubuh Jeany.

Yesung merasa kehadirannya tak ada lagi gunanya. Ia memungut makanannya yang ia buat bersama ayahnya, juga bunga mawarnya yang sudah rusak. Dan sebelum ia berbalik, ia sempatkan menatap mata Jeany.

“Maaf sudah mengganggu kalian. Lanjutkan saja pestanya.”

Ia tak berharap Jeany akan mengejarnya atau sekedar menyerukan namanya. Percuma. Samar-samar ia malah mendengar Siwon bertanya pada Jeany. “Tadi kau menyebut namanya? Apa dia benar-benar penggemarmu?”

Cukup! Ia pergi. Ia benar-benar pergi dan bersumpah tidak akan menginjakkan kaki kemari lagi. Namun sesaat sebelum ia masuk ke dalam taksi, suara Jeany terdengar di belakangnya.

“Yesung, wait! Listen to me.”

“Tidak ada yang perlu kudengar.”

“Kau bisa ikut ke dalam, akan ku perkenalkan kau pada semua orang dan…”

“Untuk apa? Bukankah aku hanya penggemarmu?”

“Kau harus dengar penjelasanku. Aku-“

“Kau sudah berubah, Jeany. Aku tak mengenalmu lagi.”

BLAMMM

Yesung menutup pintu taksi dengan sangat keras. Meski Jeany menggedor-gedornya, ia tak peduli. Hingga taksi yang membawanya sudah melaju, ia masih bisa lihat Siwon muncul dan mengajak Jeany untuk masuk. Bagus. Ia memang tak mengharapkan Jeany akan mengejarnya. Yang ia harapkan saat ini lekas sampai ke apartemen dan melampiaskan semuanya. Tapi ia tak sanggup menahannya. Ia berteriak dan memukul jendela hingga supir taksi di depannya terkejut.

“Argh!”

***

Semua mata tertuju padanya. Tak ada yang bersuara. Ada seorang wanita yang membekap mulutnya tak percaya. Ada pula yang menarik nafas dengan berat.

Yesung berusaha tersenyum meski yang ia ceritakan bukan kisah yang menyenangkan. Dengan perlahan ia perluas pandangannya dan menatap semua mata yang fokus padanya. Ia juga sempat melihat jam. Tak terasa sudah tiga jam ia disini. Sudah sangat larut dan harusnya ia tunda hingga waktu yang tidak tentu. Tapi tidak. Ia akan menyelesaikannya malam ini juga.

“Saat itu….aku merasa seperti sampah. Aku selalu membanggakannya di depan semua orang, di depan teman-temanku. Kukatakan pada mereka bahwa aku punya istri yang luar biasa. Istriku pandai memasak makanan eropa. Istriku sangat cantik. Dan betapa aku sangat beruntung dapat menikahinya. Tapi bagi Jeany…..”

Yesung menghembuskan nafasnya. “Jeany adalah orang yang membuatku merasa begitu berharga. Tapi saat itu….Jeany pula yang membuatku merasa sangat tidak berharga. Aku hancur.”

Marcus menatap Casey yang sejak tadi diam. “Casey. Aku tak percaya Jeany melakukan itu.”

Casey tak menghiraukannya. Ia rapikan jasnya lantas segera masuk ke ruangannya. Ia harus segera pulang untuk menemui anak serta istrinya. Ia rasa….ia tak ingin mendengar cerita itu untuk yang kedua kalinya.

***

“Yesung, aku…”

Ia menekan dadanya yang sakit. Di ujung sana, Casey sedang mendengarnya dan mungkin sekarang berusaha merangkai kata-kata untuk menghiburnya. Tapi ia tak butuh kata-kata itu.

“Aku tidak tahu kenapa semuanya jadi begini. Aku….”

Ia mengacak-acak rambutnya dengan gila dan hampir saja melempar handphonenya ke dinding.

“Yesung, tenangkan dirimu. Tunggu sampai Jeany pulang dan kalian harus bicara empat mata. Ingat dia sedang hamil. Jangan bertindak kasar.”

Yesung sudah kehilangan kesabarannya. Ia matikan handphonenya lantas menghambur semua benda yang ada di dapur. Foto pernikahannya ia hempas ke lantai hingga pecah. Dan terakhir…komputer Jeany ia banting juga. Inilah yang ditakutkan oleh Casey sejak mendengar cerita itu. Casey tahu Yesung akan kehilangan kontrol jika berada dalam situasi seperti ini.

Sudah jam sembilan malam dan Jeany belum juga pulang. Keadaan apartemen mereka sudah berantakan, Yesung semakin menggila seorang diri. Hingga tak lama, ia bisa mendengar derap langkah memburu yang semakin dekat. Lalu pintu terbuka dan Jeany berdiri di depannya.

Yesung segera bertepuk tangan menyambut kedatangan istri tercintanya. Ia bertepuk tangan keras sekali seakan sedang menyambut seorang bintang.

“Selamat datang, tuan putri.”

Jeany tak menjawab. Matanya menatap tak percaya pada keadaan apartemen mereka yang kacau balau.

“Ah, maaf. Aku sedang gila, keadaannya jadi begini. Aku tahu kau sangat membencinya. Tapi apa boleh buat. Kau sendiri yang memaksaku melakukannya.”

Jeany yang masih berada di ambang pintu hanya mampu meremas pinggiran pintu dengan kuat. Yesung mendekatinya.

“Sekarang, terserah apapun yang ingin kau lakukan. Aku tak peduli. Lakukan sesuka hatimu. Siapa aku? Aku hanya orang bodoh disini.”

“Yesung, kau harus mendengarku.”

Yesung berbalik, bermaksud ke kamar mandi dan tidak ingin terlibat pembicaraan apapun untuk saat ini. Tapi Jeany menahannya.

“Jangan bersikap kekanakan! Kita harus bicara!”

“Siapa yang kekanakan? Aku?”

“Ya, kau! Kau pikir dengan begini masalah akan selesai? Kita perlu bicara dengan tenang. Akan kukatakan semuanya.”

Yesung diam sejenak. Ditatapnya Jeany dengan pandangannya tak percaya. “Kau tahu siapa yang seharusnya marah disini? Kau tahu siapa yang seharusnya berhak membentak disini?”

“Ak-“

“AKU!!!”

Jeany tersentak oleh teriakan Yesung yang tepat mengarah padanya. Refleks ia tutup perutnya dengan kedua tangannya.

“KAU KETERLALUAN JEANY!!”

Yesung berputar-putar di sekitar Jeany. Kakinya berbenturan dengan berbagai benda yang sudah berhamburan dilantai. Lalu ia tendang sebuah vas bunga yang sudah tidak utuh hingga Jeany perlu mengelus dadanya.

“Aku….aku banggakan kau didepan teman-temanku. Aku seperti orang gila yang mereka pikir hanya sedang berkhayal. Sedangkan kau?” Yesung menunjuk wajah Jeany. “Kau keterlaluan. Kau tidak menganggapku. Kau tidak mengakuiku sebagai suamimu dan kau tampak sangat nyaman dengan pria itu.”

“Jangan begitu cepat menilai hubungan kami. Aku terpaksa berbohong pada mereka karena aku sangat menginginkan pekerjaan itu.”

“Dan menurutmu aku akan membenarkan alasanmu? Apapun itu, tidak seharusnya kau berbohong! Bukan hanya pada mereka, tapi padaku. Kau sudah membuatku merasa begitu bodoh.”

“Yesung, dengarkan aku. Aku tahu aku salah. Maka dari itu saat Siwon menawarkan jabatan baru padaku, aku justru-“

“Jabatan baru? Oh, jadi kau juga memanfaatkan ketidaktahuannya dengan menggodanya dan berharap kau mendapat posisi yang bagus? Apa gunanya kau mendapatkan semua itu jika hanya dengan cara membangun banyak kebohongan?”

Jeany menangis. Tapi Yesung sama sekali tidak terpengaruh.

“Kau pikir aku sepicik itu?”

“Picik kau bilang? Itu kenyataan. Memang itulah yang kau incar, bukan? Kau ingin jabatan dan karir yang terus menanjak dan aku hanya akan jadi suami yang selalu berpikir bahwa semua baik-baik saja. Aku tahu kau pintar. Kau adalah gadis dari keluarga terpandang dan pasti ingin terus berada di posisi atas. Tak sepertiku yang tadinya hanya seorang pengantar pizza dan sekarang hanya jadi penyanyi café.”

“Kenapa kau membawa masalah itu? Berhenti merendahkan dirimu sendiri!”

“Kau yang merendahkan dirimu sendiri dengan begitu mudah menyerahkan dirimu pada pria itu!”

Plak

Yesung menyentuh pipinya yang baru saja ditampar keras oleh Jeany. Ia tersenyum. Rasanya panas sekali. Sekarang, ia benar-benar sedang melihat orang yang berbeda.

“Kau bisa menyebutku apapun tapi aku tidak serendah itu. Aku sadar aku sudah berbuat salah. Tapi pernah kau berikan aku kesempatan untuk bicara?”

Tangis Jeany semakin tidak bisa ditahan, sementara Yesung hanya terpaku ditempatnya berdiri.

“Kau tidak tahu apa yang aku alami selama setahun ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang asing yang berusaha mengejar impiannya ditempat yang berbeda. Kau tidak tahu bagaimana aku hampir putus asa karena semua tempat menolakku hanya karena aku sudah menikah. Aku harus beradaptasi dengan kehidupan keras disini dan kau tidak pernah tahu itu. Aku dan semua yang ada di negara ini jauh berbeda. Kau melupakan satu hal. Kau lupa siapa aku.”

Jeany terduduk di sofa, ia remas perutnya yang kembali didera rasa sakit. Tapi ia takkan menghentikannya. Ia akan mengatakan semuanya.

“Sejak kecil aku punya impian dan kau berjanji akan mendukungku. Tapi kau bahkan sempat tak terima saat aku hanya ingin menunda kehamilanku. Aku begitu memimpikan ini dan aku terpaksa melakukannya. Aku terpaksa berbohong.”

Yesung terdiam. Ia tak tahu harus melakukan apa. Kepalanya pusing.

“Jika kau pikir aku menikmatinya, kau salah. Aku seperti orang paling berdosa didunia karena terus membohongimu. Jika kau pikir aku puas dengan hasilnya, kau juga salah. Dan jika kau pikir aku tidak menginginkan bayi ini, kau benar! Awalnya aku memang tidak menginginkannya. Aku sangat tidak mengharapkan kehadirannya. Tapi aku sudah berubah pikiran. Aku sudah memutuskan akan mempertahankannya dan mengorbankan karirku.”

Yesung segera menatapnya. Dan ia baru sadar kalau Jeany sedang meremas perutnya.

“Aku sudah berniat untuk menyelesaikan semuanya dan secepat mungkin mengundurkan diri. Aku menolak tawaran Siwon. Aku akan menunda semua mimpiku dan hanya memikirkan bayi kita. Aku…argh..”

“Jeany….”

Jeany meremas bantalan sofa dengan kuat. Tak ia hiraukan Yesung yang sudah berlutut di depannya.

“Jangan dilanjutkan lagi. Kita ke dokter sekarang.”

Sekali lagi Jeany menolaknya. “Aku…sssttt….Aku sadar kesalahanku dan kau pantas marah padaku. Tapi setidaknya dengarkan aku. Aku akan berhenti. Aku juga tidak punya hubungan apa-apa dengan Siwon. Aku ingin berusaha menebus kesalahanku..sssttt….”

“Jeany, cukup, berhenti menyakiti dirimu sendiri.”

“Aku menyayangi bayi ini. Aku juga sangat menginginkannya. Aku juga…”

Yesung langsung meraih tubuh Jeany. Ia kurung tubuh itu dan membiarkan Jeany menangis sepuasnya dibahunya. Meski Jeany memukul dadanya, meski Jeany coba berontak, ia takkan melepaskannya.

“Aku minta maaf atas kesalahanku. Aku menyesal.”

Tangis Jeany terasa mengiris dadanya. Ia sendiri tak yakin tidak sedang menangis saat ini. Lidahnya kering. Pandangannya mulai tak jelas dan telinganya hanya bisa mendengar rintihan Jeany.

Sekarang semuanya sudah terbuka. Sekarang ia takkan mengatakan apa-apa. Jeany pun harusnya berhenti meracau yang tidak lagi jelas. Mereka butuh waktu tenang sebelum nanti kembali membicarakannya. Tapi sebelum ia sempat mengajak Jeany ke kamar, ia baru sadar tangan Jeany terjuntai ke bawah.

“Ya Tuhan, Jeany!”

****

7 Comments (+add yours?)

  1. inggarkichulsung
    Jul 01, 2015 @ 13:37:15

    Aigoo ternyata Jeany berbohong akan statusnya yg sdh menikah, Yesung oppa yg begitu antusias krn kehamilan Jeany justru disambut dgn kemurungan Jeany, Yesung oppa th bhw Jeany ingin menyelesaikan masalahnya dulu dan meminta suaminya tetap percaya tp yg selama ini Yesung oppa banggakan di depan teman2nya justru disambut dgn rangkukan mesra bos nya Jeany dikantor dan blg bhw yesung oppa hny penggemarnya, ditunggu kelanjutannya chingu

    Reply

  2. hilma nugraheny
    Jul 01, 2015 @ 15:20:04

    Chapter ini bikin sedih😭 gk nyangka jeany bakal ngakuin yesung sebagai penggemarnya…
    Dri chapter sebelumnya sih mmg udh berpikir klau jeany awalnya gk mau hamil karna takut menghambat karir.. secara dia wanita independent dgn segudang mimpi…
    Ckckck… berharap bayi nya gpp deh… kasihan bgt klau smpe kenapa2
    Ditunggu kelanjutannya ya thor😉🙌💪

    Reply

  3. Novita Arzhevia
    Jul 01, 2015 @ 15:29:52

    Wow daebakk, ff ini selalu menajubkan. .aku selalu suka disetiap partnya seru, terkadang juga bikin menangis. .ahh pokoknya ditunggu next partnya thor, fighting

    Reply

  4. spring
    Jul 01, 2015 @ 16:26:03

    aduh pusing pala barbie.
    di chap sebelumnya, q yakin bget kalo jeany selingkuh & itu bukan anak yesung. tapi chap ini bikin q tmbh bingung knp mereka berpisah??

    Reply

  5. ShikshinCloud
    Jul 01, 2015 @ 20:30:37

    oh my god nyesek banget.
    udah nebak klo jeany ngerahasiain statusnya. complicated ya… dua-dua nya salah sih menurut aku. jeany bohong dan yesung ga bisa ngertiin.
    semoga jeany dan bayinya baik-baik aja

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: