Hurt Happiness in the End [2/3]

 

Author : Syoocachoi

Title : Hurt Happiness in the End ‘Part 2’

Cast : Kim Saeyoon ‘OC’

           Han Yaerim ‘OC’

           Kim Jungyoung ‘OC’

           Others

Genre : Sad, Hurt, Angst, Married Life

Rated : PG15

Lenght : Threeshoot

 

selamat membaca… jangan lupa tinggalin jejak…

 

 

Suara ketukan pintu memecahkan konsentrasi Kyuhyun pada dokumen-dokumen di depannya. Awalnya ia hendak marah karena sang pengetuk pintu tadi langsung masuk tanpa seizinnya terlebih dahulu, tapi itu semua meluap entah kemana saat melihat wajah yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya. Wajah Jungyoung.

 

“Kyuhyun-ah… terimakasih, aku baru melihat Saeyoon tidur nyenyak seperti semalam, jadi kapan kau akan bercerai dengan istrimu?”. Tanya Jungyoung yang langsung duduk di hadapan Kyuhyun sambil tersenyum lebar.

 

“Bercerai?”. Jungyoung mengangguk.

 

“Tentu saja, kau telah kembali pada adikku bukan sejak semalam? Tidak mungkin kan kalau kau tidak segera bercerai dengan istrimu itu”. Semua jelas bagi Kyuhyun. Jungyoung tidak tahu apa-apa.

 

“Aku tidak kembali padanya, aku hanya mempertegas perpisahan kami semalam… aku mencintai istriku, maaf…”. Mendengarnya Jungyoung sangatlah kaget dan sangat murka. Ia berdiri menghampiri Kyuhyun dan melayangakan satu tinjuan ke wajah Kyuhyun.

 

BUKK

 

“LEBIH BAIK KAU TIDAK USAH MENEMUINYA SEMALAM!! LEBIH BAIK KAU LANGSUNG MENGHILANG KEPARAT!!”. Kyuhyun ganya menerima pukulan demi pukulan dari tangan Jungyoung.

 

“KAU TAHU? KAU HANYA MENAMBAH KESAKITAN DEMI KESAKITAN YANG IA DERITA!! KAU HANYA MEMPERCEPAT PROSES KEMATIAANYA KAU TAHU ITU?”. Seketika Kyuhyun kaget dengan apa yang Jungyoung ucapkan. Apa maksudnya. Kyuhyun segera menghentikan Jungyoung yang memukuli wajahnya.

 

“Apa maksudmu dengan kematian?”. Tanya Kyuhyun.

 

“Tidak… kau tidak perlu tahu, aku permisi…”. Seketika Jungyoung juga sadar ia hampir memberitahukan perihal penyakit adiknya pada Kyuhyun. Ia beranjak meninggalkan Kyuhyun tapi Kyuhyun menarik lengannya.

 

“Apa maksudmu dengan mempercepat kematiannya? JAWAB AKU!!”. Kali ini Kyuhyun lah yang berteriak pada Jungyoung. Jungyoung geram.

 

“Sekarang adikku adalah penderita Alzheimer… kau puas Bukan!? KAU PUAS KAN??”. Kyuhyun tercengang mendengarnya. Bagaimana bisa penyakit itu menyerang Saeyoon.

 

“Adikku terkena penyakit mematikan dan tidak dapat disembuhkan, apa kau puas?”. Kyuhyun terduduk lemas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia sangat merasa bersalah telah menambah penderitaan Saeyoon kemarin.

 

Jungyoung pergi meninggalkan Kyuhyun yang sudah sangat frustasi mendengar keadaan mantan wanitanya. Haruskah ia kembali pada Saeyoon?. Tapi ia sangat mencintai istrinya, dan jika ia kembali pada Saeyoon itu hanya akan menyakiti istrinya saja. Sebenarnya Kyuhyun sendiri tidak tahu kenapa ia harus memikirkan Saeyoon, toh mereka sudah berakhir dan artinya mereka telah selesai. Tapi semua ini benar-benar membuat Kyuhyun gila.

 

“AARRGGHHH”. Teriak Kyuhyun frustasi.

 

———-

 

“Saeyoon… kenapa kau harus mengundurkan diri?”. Tanya Yejin sambil memeluk Saeyoon.

 

“Aku hanya merasa sangat tidak pantas lagi berada disini, aku sudah mengacaukan pekerjaan kita terus menerus”. Ujar Saeyoon.

 

“Tapi kita bisa memperbaiki itu semua…”. Ujar Yejin yang disetujui dengan anggukan Hwangmi, Daekwon dan Youngsoo.

 

“Tidak… kita harus bekerja dengan benar, dan aku tidak bisa lagi, jadi siapapun penggantiku nanti, aku harap kalian bisa bekerjasama dengan baik”. Ujar Saeyoon sambil tersenyum.

 

“Eonni…”. Hwangmi langsung memeluk Saeyoon disusul dengan yang lain.

 

 

Saeyoon keluar dari kantornya, namun ia kembali menemui kendala. Ia lupa tujuannya, jadi apakah ia harus menuju ke kanan atau ke kiri. Pada akhirnya Saeyoon memutuskan untuk berjalan ke kanan.

 

Tidak jauh dari sana, seseorang di dalam mobil melihat dan mengetahui dengan jelas kebimbangan Saeyoon, dan ia tahu Saeyoon memilih jalan yang salah. Seharusnya ia ke kiri untuk menuju halte bus. Akhirnya ia memutuskan turun dari mobilnya meninggalkan supirnya dan mengikuti mantan wanitanya dari belakang. Kyuhyun, tadinya ia ingin langsung bertemu dengan Saeyoon, tapi ia takut jika mantan wanitanya akan menolak berbicara dengannya.

 

Cukup jauh Saeyoon berjalan dan Kyuhyun masih setia mengikuti dibelakangnya. Ia sangat sedih melihat bahu Saeyoon yang bergetar. Ia tahu Saeyoon menangis. Dan Kyuhyun tahu penyebabnya adalah karena ia tidak bisa menemukan jalan pulangnya. Bahkan sekarang mereka sudah berada di kawasan pinggiran Sungai Han yang terletak cukup jauh jika berjalan kaki dari kantor Saeyoon.

 

Saeyoon memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya di bangku taman di pinggir Sungai Han. Ia meluruskan kakinya dan memijat-mijatnya sedikit.  Tiba-tiba sebotol air mineral terpampang di depan wajahnya. Saeyoon langsung menoleh pada tangan yang menyodorkan air itu.

 

“Kyuhyun?”. Kaget Saeyoon. Kyuhyun langsung duduk di sebelah Saeyoon dan membuka botol itu. Ia langsung menyuruh Saeyoon meminumnya. Dengan ragu Saeyoon meminumnya sambil memandangi Kyuhyun yang menatap ke arah depan.

 

“Gomawo”. Ujar Saeyoo stelah ia menyelesaikan minumnya.

 

“Kenapa kau tidak bilang?”. Tanya Kyuhyun masih menatap lurus kedepan.

 

“Apa?”.

 

“Kau sakit”. Akhirnya Kyuhyun berani menatap mata Saeyoon. Saeyoon menegang mendengar pernyataan Kyuhyun.

 

“Kalau aku beri tahu, apa pengaruhnya untukmu?”. Tanya Saeyoon masih dengan menatap Kyuhyun. Kali ini Kyuhyun yang menegang. Ia memang belum terpikir apa yang akan ia lakukan.

 

“Sudahlah Kyuhyun-ssi, jangan mengasihaniku..”.

 

“Aku tidak mengasihanimu!”. Tegas Kyuhyun. Mereka saling bertatapan.

 

“Lalu apa namanya?! Apa kau masih mencintaiku hah?!”. Kyuhyun terdiam.

 

“Lupakan saja!”. Ujar Saeyoon dan langsung mengalihkan tatapan ke Sungai Han.

 

“Ceritakan hubunganmu dengan istrimu, aku ingin mendengarnya”. Kyuhyun menatap lekat pada Saeyoon.

 

“Tidak! Kau tidak akan pernah mendengarnya!”.

 

“Kenapa? Bukankah sama saja aku mendengarnya atau tidak, lambat laun aku pasti melupakannya”.

 

“Sae-ah..”. Akhirnya panggilan khusus Kyuhyun pada Saeyoon terlontar kembali. Kyuhyun menarik Saeyoon ke dalam pelukannya. Saeyoon menangis di dalam pelukan Kyuhyun. Ia mencurahkan segala penderitaannya.

 

———–

 

“Alzheimer?”. Kyuhyun menceritakan semua yang dialami Saeyoon pada Yaerim.

 

“Apa sudah parah?”. Tanya Yaerim pada Kyuhyun.

 

“Lumayan, dia mulai melupakan hal-hal yang lumayan penting”. Yaerim tertunduk lesu.

 

“Nikahi dia Oppa…”. Pinta Yaerim pada Kyuhyun secara tiba-tiba. Kyuhyun langsung menatap lekat pada Yaerim. Ia menggeleng.

 

“Tidak, aku mencintaimu Yaerim-ah”. Yaerim terdiam ini pengakuan pertama Kyuhyun padanya, dan dalam kondisi yang sama sekali tidak romantis. Mereka berada di tengah kekalutan.

 

“Bantu dia sembuh Oppa…”.

 

“Dia tidak bisa sembuh”. Ujar Kyuhyun frustasi.

 

“Kalau begitu temani hari-hari terakhirnya berapa lamapun itu”.

 

“Tapi aku mencintaimu…”.

 

“Aku mengerti, dan aku akan setia menunggumu kapanpun kau ingin kembali padaku, jadi kumohon nikahi dia”. Mohon Yaerim pada Kyuhyun. Kyuhyun menangkup wajah Yaerim dan menciumnya dalam. Ia mencurahkan segala kekalutannya.

 

————

 

“Ada apa kau memanggilku ke ruanganmu?”. Tanya Jungyoung sinis.

 

“Izinkan aku menikahi Saeyoon”.

 

“Apa?, kau gila!”.

 

“Tidak, aku waras, izinkan aku menikahi Saeyoon”.

 

“Tidak!”.

 

“Jungyoung-ah.. aku mohon…”.

 

“Kau benar-benar gila! Tidak perlu kasihani adikku, urusi saja istrimu itu!”.

 

“Lupakan soal istriku!, aku tidak kasihan pada Saeyoon, aku berjanji akan membahagiakannya”. Ujar Kyuhyun penuh harapan. Sejenak Jungyoung terdiam dan memikirkan penawaran Kyuhyun. Mungkin dengan menikahkan mereka Saeyoon bisa mendapatkan kebahagiaannya lagi.

 

“Baiklah, nikahi dia dan…. ceraikan istrimu!”. Sejenak Kyuhyun menelan ludahnya berat. ‘Aku akan menikahinya, tapi maaf aku tidak bisa menceraikan Yaerim’ batin Kyuhyun.

 

“Terimakasih”.

 

———-

 

“Aku bersedia”. Dengan terucapnya janji itu dari mulut Saeyoon, makan resmi sudah ikatannya dengan Kyuhyun, orang yang sangat di harap-harapkan Saeyoon. Awalnya tentu saja Saeyoon menolak mentah mentah tawaran menikah dengan Kyuhyun, tapi kakaknya membuatnya berat.

 

‘Aku juga ingin menikah dengan Soojin, aku mohon kau menikahlah dengan Kyuhyun, setidaknya kurangi beban pikiranku untuk menjagamu’

 

Tentu saja tidak ada alasan untuk Saeyoon menolak pernikahan itu. Dia hanya akan terus menyusahkan kakaknya jika terus menolak menikah. Lagipula Kyuhyun telah meyakinkannya bahwa ia kembali mencintainya.

 

———

 

“Ingat! Jangan keluar rumah tanpa aku, kau akan dijaga oleh Han Ahjuma disini, katakan apapun keinginanmu padanya, aku akan terus berusaha pulang cepat”. Ujar Kyuhyun sambil menangkup pipi Saeyoon.

 

“Arraseo, aku mencintaimu”. Ujar Saeyoon. Kyuhyun memandangi wajah wanita yang dulu pernah mengisi seluruh bagian hatinya. Ia tidak menyangka, wanitanya bisa terserang penyakit seperti itu. Kyuhyun mencium kening Saeyoon lalu pergi meninggalkan Saeyoon.

 

 

“Nyona, bahan makanan sudah habis, aku hanya memasak Kimbap untuk anda, nanti saat aku pulang aku akan berbelanja, ada yang nyonya inginkan? Nyonya bisa tulis disini”. Ujar Han Ahjuma memberikan Saeyoon yang sedang duduk santai di sofa sebuah keratas dan pulpen.

 

Saeyoon menerimanya dengan tersenyum. Saat ia selesai memikirkan apa yang ia inginkan Saeyoon mulai mencoba menuliskannya. Tapi kendala lagi-lagi muncul. Ia lupa harus menulis menggunakan tangan apa.

 

“Ahjuma, aku harus menulis dengan tangan apa?”. Tanya Saeyoon bergetar. Ia frustasi dengan ingatannya sendiri. Han Ahjuma yang telah diberitahukan soal ini oleh Kyuhyun hanya menghela napas dalam kasihan dengan nyonyanya.

 

“Tangan kanan nyonya”. Saeyoon mulai mencoba menulis, lagi dan lagi, ia lupa bagaimana tulisan barang-barang yang akan ia pinta. Saeyoon sangat kesal dan frustasi, akhirnya ia melemparpulpen dan kertas itu kedepan. Ia mengangkat kakinya naik ke atas sofa dan menyembunyikan tangisannya dengan memeluk lututnya. Ia terisak kencang. Melihatnya Han Ahjuma benar-benar tidak tega. Bagaimana penyakit itu bisa menggeerogoto hidup nyonyanya.

 

“Sudah nyonya, jangan menangis, katakan saja apa yang nyonya mau aku akan mengingatnya”. Ujar Han Ahjuma sambil menenangkan Saeyoon dari samping.

 

 

“Aku pulang….”.

 

“Kyuhyun kau sudah pulang?, kalau begitu aku pulang dulu, aku sudah menyiapkan semua makanannya, dan… jaga nyonya muda Kyu…, kau harus tahu, dia benar-benar sudah parah”. Kyuhyun hanya mengangguk sedih. Ia berjalan mencari keberadaan Saeyoon hingga Kyuhyun menemukan istrinya yang berada di kamar mereka. Tepatnya Saeyoon sedang tertidur di ranjang mereka.

 

Kyuhyun menghampiri Saeyoon yang tertidur pulas di ranjang mereka. Kyuhyun memposisikan tubuhnya tertidur menyamping berhadapan dengan Saeyoon. Dipandanginya wajah istri keduanya ini. Ya mungkin untuk beberapa waktu Saeyoon akan menjadi istri satu-satunya Kyuhyun. Dibelainya wajah Saeyoon. Dulu wajah ini selalu memberi keteduhan padanya, selalu dapat membuat jantungnya berdebar dan mampu membuat Kyuhyun serasa akan mati merindukannya, tapi sekarang wajah itu sudah tergantikan oleh wajah lain. Tapi dengan memandangu wajah Saeyoon kembali Kyuhyun merasakan kerinduan pada wanitanya dulu. Wanita yang dengan sabar mendampinginya dan mendukung segala yang dilakukannya. Ia mulai mengingat lagi bahwa betapa mirisnya nasib wanitanya ini. Mulai dari ditinggalkan dirinya, terkena penyakit yang sangat sulit diterima, dan sekarang harus terjebak dalam kepura-puraan cinta mantan kekasihnya. Bahkan pernikahannya pun hanya di hadiri Jungyoung serta tunangannya dan juga kakak Kyuhyun Cho Ahra. Cho Ahra adalah satu-satunya keluarga Kyuhyun yang tahu tentang pernikahan Kyuhyun dan Saeyoon. Ia juga membantu Kyuhyun untuk menyembunyikan pernikahannya dari keluarga Cho.

 

Kyuhyun terus memandangi wajah polos Saeyoon. Terlihat disana guratan penderitaan. Terlihat sembab dimatanya. Kyuhyun dibuat terkejut oleh mata Saeyoon yang mulai membuka.

 

“Kyuhyun?”.

 

“Hi, apakah kau mimpi indah sayang?”. Tanya Kyuhyun sambil mengusap pipi Saeyoon. Saeyoon beranjak duduk dan diikuti oleh Kyuhyun.

 

“Kyu, ajari aku membaca dan menulis”. Seketika Kyuhyun terkejut dengan permintaan Saeyoon. Air matanya berlinang namun harus ia tahan. Sudah separah itukah?.  Kyuhyun mengangguk sambil menahan kesedihannya sambil tersenyum pilu.

 

 

Mereka mulai belajar menulis di ruang kerja Kyuhyun. Saeyoon duduk di kursi kerja Kyuhyun dan Kyuhyun dibelakangnya memegangi tangan Saeyoon yang sesang berlatih menulis.

 

“Aku bisa! Aku bisa menulis lagi!”. Kyuhyun melepaskan tangan Saeyoon, diam-diam dia tersenyum. Lalu seperti mwndapat dorongan Kyuhyun mendekap tubuh Saeyoon dari belakang.

 

“Jangan sungkan mengatakan deritamu”. Mendengarnya Saeyoon merasa sedih.

 

“Jangan khawatir Kyu, aku tidak ingin menyusahkanmu”. Ujar Saeyoon sambil mengusap tangan Kyuhyun yang tengah memeluknya dari belakang.

 

“Aku sangat mencintaimu Kyu”. Kyuhyun tersenyum miris.

 

“Aku juga”. Kyuhyun merasa sangat hina karena mengobral kata cintanya tanpa perasaan. Tapi itulah yang harus ia lakukan demi membahagiakan Saeyoon.

 

 

Kyuhyun mengajak Saeyoon ke taman tempat pertama kali mereka bertemu. Mereka berjalan beriringan mengitari taman itu. Meski masih berpakaian kantor, Kyuhyun tetap menikmati suasana senja di taman itu. Ia menoleh pada Saeyoon di sebelahnya. Kemarin wanitanya itu sudah mulai melupakan cara membaca dan menulis, apakah akan terus bertambah apa yang ia lupakan?. Merasa hening Saeyoon menoleh pada Kyuhyun dan mendapati Kyuhyun yang sedang menatapnya. Karenanya suasana menjadi canggung.

 

“A..ada apa Kyu?”. Pertanyaan Saeyoon seolah menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

 

“Tidak, tidak apa-apa”.

 

“Kyu, kau tahu penyakitku bukan?”. Kyuhyun mengangguk.

 

“Semakin lama, ini akan semakin parah, mungkin suatu saat nanti aku akan mulai melupakanmu, jadi mungkin sekarang aku harus mulai meminta maaf padamu atas semua kesalahanku selama 10 tahun ini”. Saeyoon hanya memandangi Saeyoon. Menatap mata Saeyoon lekat dan tanpa terasa air mata Kyuhyun meluncur.

 

“Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka!”. Ujar Kyuhyun.

 

“Tapi itu semua akan menjadi nyata nanti Kyu, janganlah menangis! Aku percaya pada saat itu kau akan terus di sampingku”. Kata-kata Saeyoon tidaklah menenangkan Kyuhyun justru itu membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah.

 

“Mungkin nanti aku sendiri akan lupa penyakitku, dan mungkin pada saat itu aku akan sangat menyusahkan, jadi tetaplah disampingku”. Kyuhyun sudah tidak ingin mendengar apapun, ia mendekap tubuh Saeyoon erat. Ia tidak sanggup jika harus mendengar kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

 

 

Saeyoon sedang duduk di mini bar rumah barunya dengan Kyuhyun. Ia memandangi susu hangat di depannya. Di sentuhnya cangkir yang terasa menghangatkan serta menenangkan pikiran. Setelah lelah bernostalgia di taman dengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun melihat Saeyoon yang melamun. Ia berjalan menuju kursi tinggi di sebelah Saeyoon. Saeyoon sedikit terkejut oleh kehadiran Kyuhyun di sebelahnya, namun sebisa mungkin Saeyoon bersikap tenang.

 

“Kau yang membuatnya?”. Tanya Kyuhyun sambil menunjuk susu di hadapan Saeyoon. Saeyoon menggeleng.

 

“Han Ahjuma sudah menyiapkannya di termos dan aku hanya tinggal menuangkannya saja”. Jawab Saeyoon. Sejenak mereka hening.

 

“Kyu, tiba-tiba aku merasa ingin memiliki… anak”. Kyuhyun tertegun mendengar pernyataan Saeyoon.

 

Kyu, aku mohon bahagiakan adikku, turuti semua permintaannya.

 

“Kau bisa memilikinya, kau mau sekarang?”. Tanya Kyuhyun sambil tersenyum membuat Saeyoon menatap kaget Kyuhyun.

 

“T..t..tapi…”. Tanpa aba-aba Kyuhyun langsung mencium bibir Saeyoon. Ia melumat dalam bibir Saeyoon. Sudah berapa lama Kyuhyun tidak bertemu bibir itu? Dia rasa dua bulan atau lebih?. Rasanya jantung Kyuhyun bertalu cepat. Ia tidak menyangka akan ada perasaan seperti ini lagi. Rasa terbakar gairah pada wanitanya ini. Dengan tidak sabar Kyuhyun menggendong Saeyoon bridal dan membawa Saeyoon ke kemar mereka. Kyuhyun menjatuhkan Saeyoon ke ranjang dan segera menindihnya. Ia menciumi seluruh wajah Saeyoon dari kening, kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, dagunya dan yang terakhir bibirnya. Kyuhyun kembali melumat bibir Saeyoon. Semua terus berlangsung hingga malam itu benih Kyuhyun resmi tertanam pada rahim Saeyoon. Bahkan Kyuhyun belum pernah sampai ke tahap ini dengan istri pertamanya,  Yaerim.

 

“Terimakasih Kyu”.

 

“Terimakasih Sae-ah”.

 

———

 

Cicit burung menjadi peringatan untuk kedua insan yang baru saja menghabiskan malam panjang penuh gairah untuk bangung. Perlahan Kyuhyun membuka matanya dan terkejut mendapati Saeyoon yang sedang menatapnya lekat-lekat. Ia menjadi lebih terkejut ketika menemukan tubuhnya tidak terbalut sehelai benangpun serta berpelukan dengan wanitanya.

 

“Pagi Kyu, bagaimana tidurmu?”. Kyuhyun hanya terus memandangi wajah lelah Saeyoon.

 

“Sangat baik”. Ujar Kyuhyun sambil mengecup kening Saeyoon dan segera beranjak bangun. Kyuhyun memakai pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi. Sementara Saeyoon hanya terus memperhatikannya sampai punggung Kyuhyun hilang dari pandangannya.

 

Setelah kejadian malam itu keadaan terus berjalan dengan baik. Kebahagiaan terus dirasakan Saeyoon dari perhatian-perhatian Kyuhyun.

 

Meski begitu, kondisi Saeyoon malah semakin menurun. Ia mulai melupakan lebih banyak hal. Saeyoon sangat beruntung karena Kyuhyun dan Han Ahjjuma selalu ada untuknya dan dia akan pulang ketika Kyuhyun datang.

 

Saat ini Kyuhyun dan Saeyoon sedang berada di ruang makan. Mereka duduk berhadapan dengan banyak hidangan di depan mereka.

 

“Kyu, maaf karena aku sudah tidak bisa lagi memasak untukmu”. Kyuhyun menatap pada Saeyoon.

 

“Tidak apa-apa, Han Ahjuma masih bisa melakukannya kau tidak perlu khawatir”. Ujar Kyuhyun asal.

 

“Bukan, aku bukan khawatir, aku hanya… ingin berusaha menjadi istri yang baik, yang sempurna untukmu, aku ingin membuatmu tidak menyesal telah menceraikan istrimu”. Kyuhyun tertegun. Seketika ia menyesal tidak mengetahui arah pembicaraan Saeyoon. Dan mendengar mengenai perceraian Kyuhyun menjadi sangat merasa bersalah. Kyuhyun meraih satu tangan Saeyoon dan menggenggamnya erat di atas meja.

 

“Dengarkan aku! Kau saat ini adalah istri yang baik, kau tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi baik dimataku, karena kau adalah wanita  paling sempurna yang pernah aku temui”.

 

Kyuhyun POV

 

Kau adalah wanita yang sempurna Sae-ah, kau adalah satu-satunya wanita yang paling sabar menghadapi segala ujianmu. Tapi maaf, aku tidak bisa lagi sepenuhnya menyayangimu, karena sekarang aku mencintai istriku yang sama sempurnanya denganmu. Tapi kau jangan khawatir karena aku akan terus berusaha untuk membahagiakanmu.

 

“Terimakasih Kyu, aku mencintaimu”. Tolong jangan katakan kalimat-kalimat itu lagi padaku Sae-ah.

 

“Aku juga”. Maaf, maaf, maaf.

 

 

Ku lihat sejak tadi belum satupun makanan masuk kedalam mulutnya. Ia hanya memandangi piringnya. Ada apa sebenarnya.

 

“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?”. Saeyoon menatapku penuh tanda tanya.

 

“Kyu… bagaimana…. cara memotong daging ini?”. Lagi? Kenapa penyakit itu sangat sialan?. Bahkan hal itu tidak penting untuk kau lupakan. Aku beranjak dari kursiku dan mengambil posisiku di belakangnya. Aku memegangi kedua tangannya dan menggerakannya untuk memegang pisau dan garpu.

 

“Seperti ini caranya”. Aku mulai menggerakan tangannya untuk memotong daging itu dan perlahan aku melepasnya.

 

“Kyu… ini mudah! Jeongmal gomawo Kyu! Woah”. Amat sangat membahagiakan melihat kebahagiaanya. Diam-diam aku menitihkan air mata. Entahlah, setiap melihat kondisinya yang semakin parah air mataku terus mendesak keluar.

 

——–

 

Author POV

 

Saat makan malam sedang berlangsung tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.

 

“Biar aku saja”. Ujar Kyuhyun sambil berjalan untuk membuka pintu. Saat ia membuka pintu terlihatlah sosok wanita paruh baya berdiri dengan wajah yang sangat cemas.

 

“Bibi Jung?”.

 

“Tuan… Nyonya Tuan… Nyonya!”. Mendengar kata nyonya seketika Kyuhyun langsung tegang.

 

“Apa? Ada apa bi? Cepat katakan?”. Tanya Kyuhyun panik.

 

“Nyonya demam dan tidak sadar sejak tadi sore”.

 

“Apa?! Tunggu!”. Kyuhyun berbalik dan menemukan wajah Saeyoon. Ia berpikir sebentar, tidak mungkin ia meninggalkan Saeyoon sendiri di rumah ini.

 

“Saeyoon-ah, cepat bersiap dan ikut aku!”. Saeyoon hanya memandang bingung pada Kyuhyun.

 

“Ada apa Kyu? Siapa yang di maksud wanita itu?”. Tanya Saeyoon penasaran.

 

“Tidak ada waktu ayo”. Kyuhyun segera melewati Saeyoon dan mengambil kunci mobilnya. Kemudian ia menarik tangan Saeyoon untuk mengikutinya.

 

 

Mereka berhenti di salah satu rumah yang Saeyoon tidak ketahui. ‘Siapa nyonya yang dimaksud? Ibunya? Atau kakaknya?’ Batin Saeyoon.

 

“Kau tunggu disini bersama bibi Jung”. Saeyoon mengangguk cepat di kursi penumpang depan. Sementara Bibi Jung memandang khawatir pada Tuannya yang masuk kedalam rumah itu dari kursi penumpang belakang.

 

Lama mereka menunggu akhirnya Kyuhyun keluar dengan menggendong seorang Yeoja yang familiar di ingatan Saeyoon. Ia berusaha mengingat yeoja itu tapi ingatannya tidak dapat bekerja sama dengannya. Ia terus berpikir hingga Kyuhyun sudah berada di kursi kemudi di sampingnya.

 

———–

 

Kyuhyun berjalan mondar mandir di hadapan Saeyoon yang tengah duduk bersama bibi Jung.

 

“Apa dia salah makan bi?”. Tanya Kyuhyun pada Bibi Jung.

 

“Sepertinya tidak Tuan, aku sudah melihat nyonya pucat sejak tiga hari lalu”.

 

“Tiga hari? Kenapa kau tidak menelponku?”.

 

“Maaf tuan”.

 

Seseorang keluar dari ruang pemeriksaan. Dengan cepat Kyuhyun menghampirinya.

 

“Apa yang terjadi dengan Yaerim dok?”. Tanya Kyuhyun cepat. ‘Yaerim, sepertinya aku tidak asing’ batin Saeyoon.

 

“Tenang, maaf apa hubungan anda dengan nona Yaerim?”. Tanya dokter itu membuat Kyuhyun terdiam. Sebentar Kyuhyun menatap ke arah Saeyoon.

 

“Aku….. suaminya”. Saeyoon tampak terkejut. Sekilas Kyuhyun kembali melirik Saeyoon. Kyuhyun ingin melihat seperti apa ekspresi Saeyoon. Namun saat mata mereka bertemu, Saeyoon dengan cepat menundukan wajahnya.

 

“Syukurlah tidak terjadi sesuatu yang parah terhadap Nyonya Yaerim, hanya saja mungkin anda butuh lebih banyak memperhatikannya karena Nyonya Yaerim banyak pikiran, itu yang menyebabkan kondisi tubuhnya mudah terserang penyakit”. Sebentar Kyuhyun menarik napas lega. Lalu ia langsung masuk dan melihat keadaan istrinya. Di dalam Yaerim tengah berbaring sambil tersenyum lemah melihat Kyuhyun berjalan ke arahnya.

 

“Oppa? Kenapa kau disini?”.

 

“Tentu saja aku disini, bagaimana bisa aku membiarkan istriku sakit tanpa siapapun disampingnya”. Tanpa mereka sadari Saeyoon melihat dan mendengar semuanya di ambang pintu.

 

“Ya, aku percaya, kau juga disamping istrimu yang sedang sakit itu”. Ujar Yaerim sambil tersenyum. Mendengarnya Kyuhyun sadar akan sesuatu. Istrinya, Saeyoon masih berada di luar.

 

“Tunggu sebentar, beristirahatlah, aku harus mengurus sesuatu”. Ujar Kyuhyun sambil mengusap kening Yaerim dan mengecupnya. Kyuhyun keluar dan tidak menemukan siapapun kecuali bibi Jung.

 

“Dimana Saeyoon bi?”. Tanya Kyuhyun panik.

 

“Baru saja Nyonya Saeyoon pergi”. Kyuhyun terkejut. Ia takut kalau Saeyoon akan tersesat. Ia takut jika Saeyoon melupakan hal-hal penting yang dapat membahayakannya. Dengan cepat Kyuhyun berjalan menuju arah luar rumah sakit.

 

“Tuan!, tadi Nyonya berjalan ke arah sana”. Ujar Bibi Jung menunjuk arah yang berlawanan dengan Kyuhyun. ‘Bukankah itu arah halaman belakang rumah sakit? Apa Saeyoon melupakan arah keluar?’ Batin Kyuhyun dan langsung berjalan cepat ke arah yang di tunjuk bibi Jung.

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ketika ia telah berada di ujung pencariannya, di taman belakang rumah sakit. Ini menjadi lebih sulit mengingat cahaya gelap di malam hari. Namun ternyata Saeyoon memudahkan Kyuhyun untuk mencarinya dengan duduk di bangku taman terdekat. Kyuhyun bisa dengan cepat mengenali punggung Saeyoon. Punggung yang sudah sering dilihatnya selama 10 tahun lebih. Dilihatnya bahu Saeyoon bergetar. Saeyoon menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangnnya. Kyuhyun berjalan dan duduk di samping Saeyoon dengan gugup.

 

“Maaf”. Dengan cepat Saeyoon menghapus air matanya dan memandang lurus kedepan.

 

“Kenapa tidak mengatakan belum bercerai?”. Kyuhyun diam.

 

“Sudah kubilang tidak perlu mengasihaniku…”. Ujar Saeyoon lagi.

 

“Tidak! Aku tidak mengasihanimu! Sudah kubilang aku tidak pernah mengasihanimu, jika aku mengatakan belum bercerai dengannya aku tentu tidak bisa membahagiakanmu…”.

 

“Membahagiakanku? Untuk apa? Membahagiakanku sebelum ajal menjemputku? Jadi kau menunggu kematianku?”. Hati Kyuhyun tertohok. Bagaimana bisa pemikiran wanitanya sampai pada hal itu.

 

“Demi Tuhan Saeyoon… jangan berpikiran seperti itu…”.

 

“Aku melihat dan mendengarnya, sepertinya kalian masih saling mencintai. Kau tidak menceraikannya berarti kau mencintainya, kau juga terlihat baik baik saja”. Kyuhyun terdiam mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Saeyoon tentang satu hal yang ia sendiri tidak tahu apa.

 

“Kau tidak bercerai dengannya, berarti kau menginginkan dia terus berada disampingmu. Secara tidak sadar kau sedang menunggu kematianku Kyu, kau menunggu hingga kalian bisa bersatu”.

 

“Tidak! Tidak Saeyoon tidak seperti itu!”.

 

“Lalu apa? Jika aku hidup sampai 100 tahun lagi apa kau akan tetap disampingku? Atau jika dokter mengatakan kalau hasil pemeriksaanya terhadapku salah, apa kau akan tetap bertahan dengan pernikahan kita?”. Kyuhyun benar-benar terdiam kali ini. Ia tidak bisa menjawabnya.

 

“Satu lagi yang ingin aku tahu darimu, apa kau mencintaiku? Katakan cinta! Bukan aku juga!”. Kyuhyun benar-benar terdiam.

 

“Terimakasih, bolehkah aku membeli rumahmu? Aku tidak mungkin kembali pada Jungyoung Oppa, dia sudah berbahagia dengan Soojin Eonni, kau bisa kembali ke rumahmu dengan Yaerim”. Hati Kyuhyun benar-benar sakit.

 

“Tidak! Kau akan tetap tinggal disana bersamaku!”.

 

“Sampai aku mati?”. Tanya Saeyoon sambil tertawa.

 

“Saeyoon…”.

 

“Jika tidak bisa tidak apa-apa, aku akan cari rumah sendiri”.

 

“Saeyoon… kau tidak bisa tinggal sendiri!”.

 

“Jangan anggap aku lemah!”.

 

“Tetaplah tinggal bersamaku”.

 

“Tidak, ini keputusanku”.

 

“Baiklah… aku yang akan pergi dari rumah itu, tapi kau tetap tinggal disana”.

 

“Terimakasih…”. Ujar Saeyoon dengan tersenyum. Kembali hidup tanpa Saeyoon. Kyuhyun seolah kembali pada masa-masa dimana ia meninggalkan Saeyoon untuk menikah.

 

“Kau tahu? Akan tiba saatnya kita akan berhenti mencintai seseorang… bukan karena seseorang itu berhenti mencintai kita melainkan… kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. Aku merasakan kedua alasan itu sekarang. Kau berhenti mencintaiku, dan aku menyadari bahwa kau akan lebih bahagia jika kulepaskan, jadi… selamat berbahagia”.

 

“Saeyoon…”.

 

“Selama pernikahan kita, aku selalu berpikir, bagaimana cara mempertahankanmu dalam ingatanku, maaf, tapi aku selalu memandangimu ketika tertidur. Aku hanya ingin merekam wajahmu di otakku, tapi sekarang sepertinya aku tidak memerlukan itu, kita akan berpisah, dan melupakanmu itu penting”. Kyuhyun terdiam. Bagaimana bisa ia menghancurkan perasaan wanita sebaik dan sesetia Saeyoon.

 

“Kau tahu, aku mencintaimu, sangat. Tapi aku berharap, ketika aku bangun tidur esok hari, aku sudah melupakan cintaku padamu, dan semua kenanganku denganmu. Atau mungkin langsung melupakanmu?, ya itu baik”.

 

“Saeyoon aku…”.

 

“Kalau kau meminta perceraian, maaf, aku tidak bisa, aku tidak ingin membuat kakakku kecewa, tapi kau bisa tenang karena perpisahan kita akan tetap terjadi, kau tidak perlu menemuiku lagi”.

 

“Saeyoon, dengarkan aku! Sekali saja dengarkan aku!”. Pinta Kyuhyun dengan sedikit bentakan. Kali ini Saeyoon terdiam.

 

“Aku, dulu sangant mencintaimu, aku mencintaimu sampai aku tidak pernah ingin melihatmu menangis. Tapi nyatanya sekarang aku malah membuatmu menangis. Untuk itu aku minta maaf. Aku juga minta maaf karena lebih mencintai Yaerim. Tapi kau tahu? Aku tidak ingin kau melupakanku, aku jahat memang, tapi aku mau kau mengingatku. Aku ingin kita mempunyai hubungan baik setelah ini”. Sebisa mungkin Kyuhyun menahan tangisnya.

 

“Kau tahu? Ketika aku mendengarmu terserang Alzheimer aku benar-benar hancur. Kau begitu terhormat untuk penyakit murahan seperti itu. Dan saat itu aku hanya ingin kau bahagia. Aku menikahimu karena ingin membahagiakanmu. Dan semua terbayar saat kau tersenyum dan tertawa di hadapanku. Tapi melihatmu seperti ini rasanya sakit, tapi sekali lagi maaf, mungkin memang bukan aku yang harus membahagiakanmu, aku sudah mencintai orang lain, dan aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri”. Ujar Kyuhyun. Air mata Kyuhyun sudah tidak dapat terbendung lagi. Begitupun dengan Saeyoon.

 

“Ya, aku akan bahagia dengan caraku sendiri, terimakasih Kyuhyun-ssi”.

 

————

 

Sebulan sudah Saeyoon tinggal sendiri di rumah itu. Tidak sebenarnya ia tidak sendiri, Kyuhyun menyuruh Han ahjjuma menjaganya 24 jam.

 

“Huekk Hueek”. Saeyoon berlari ke kamar mandi dan memuntahkan air bening ke wastafelnya. Han Ahjjuma hanya diam memandangi Saeyoon dengan miris.

 

“Apa kau pernag berhubungan badan dengan Tuan Kyuhyun Saeyoon-ah?”. Sekarang Han Ahjjuma tidak lagi memanggil Saeyoon Nyonya, sekarang mereka menjadi lebih akrab layaknya ibu dan anak. Saeyoon menoleh pada Han Ahjjuma.

 

“Apa maksud Ahjjuma?”. Tanya Saeyoon panik.

 

“Kau hamil sayang…”. Saeyoon diam memandang lurus pada cermin di depannya.

 

“Hamil??”.

 

TBC

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. Nam Hyunchan ELF
    Jul 03, 2015 @ 19:30:16

    kasian saeyoon..hiks..
    kyu oppa jahat,saeyoon hamil paa ditinggal kyu oppa..aigoooo
    pasti berat tuh nanggung sendirian dgn penyakit seperti itu..

    untung han ajhumma baik,kalau nggk mungkin saeyoon pasti sendirian dirumah itu..
    hiks
    next part author ditunggu

    Reply

  2. aryanahchoi
    Jul 03, 2015 @ 21:21:19

    biasanya klo cast cwex punya penyakit hamil pasti yg diselametin bayinya tapi utk ini gx tau mkn sama ff nya bagus tapi msh ada yg kurang mkn mnrt ku aja kli

    Reply

  3. meivhw88
    Jul 04, 2015 @ 12:44:52

    Sumpah keren bngt, ditunggu2 bngt ff yg sad nya kaya gini.. bikin nangis beneran..
    Next chapnya jangan lama2 jebaalll

    Reply

  4. MAltamyra
    Jul 05, 2015 @ 04:55:15

    Kereen. Bgt . Bgt. bgt

    Reply

  5. lieyabunda
    Jul 05, 2015 @ 07:42:10

    dalam keadaan hamil, berpisah dengan suami lagi…. huhuhuhu
    lanjut

    Reply

  6. tusikka
    Jul 05, 2015 @ 09:11:01

    next

    ceritanya menyedihkan😥😥

    Reply

  7. syooca
    Jul 05, 2015 @ 12:03:42

    Woahh terimakasih ternyata sudah di post, makasih juga buat comment2nya salam kenal Syooca.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: