Memories [11/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

        Jeany Hanks (OC)

        Heechul (SJ)

        Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

**************

Yesung menatap foto pernikahannya yang bingkainya sudah rusak. Ukurannya sangat besar, hampir sama dengan ukuran tubuh mereka yang sebenarnya. Ia sendiri yang memilih modelnya saat itu. Warnanya putih dengan garis hitam ditengahnya. Dan ia pikir….foto itu akan bertahan sampai mereka tua nanti.

Ia duduk di sofa menatap keadaan apartemennya yang berantakan. Saat dokter pribadi Jeany datang satu jam lalu, ia bisa melihat wajah dokter tersebut yang terkejut melihatnya. Sambil menepuk bahunya, dokter itu berpesan, “Aku tahu ini bukan hari yang menyenangkan. Tapi cobalah mengerti. Dan jika kau belum tahu, terakhir kali dia memeriksakan kandungannya dia terlihat sangat bahagia.”

Terlalu banyak hal yang tidak ia ketahui. Ia diberi banyak kejutan hari ini. Jeany pingsan. Meski dokter tak mengatakan hal yang serius, ia tetap merasa bersalah. Untuk kesekian kalinya, ia tidak bisa mengontrol diri. Jeany terlalu sering menangis. Jeany terlalu sering mengeluarkan tenaga dan emosinya akhir-akhir ini. Ini kali kedua ia menghambur serta menghancurkan ruang tamu saat terlibat pertengkaran dengan Jeany. Dan ia tahu, itu bukan cara yang benar.

Kepalanya terasa sangat berat. Pengakuan Jeany terus berulang. Ia seperti mendengar kembali segala perkataan Jeany tanpa jeda, makin cepat, makin kuat dan sangat nyaring.

Sekarang sudah jam satu malam. Jeany sudah siuman sejak tadi dan mereka belum bicara lagi. Jeany tak mengatakan apapun, sedang Yesung tidak mau mengganggu istirahatnya. Dari posisinya ia bisa melihat Jeany yang memiringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pintu sengaja ia biarkan sedikit terbuka agar mudah baginya untuk memantau. Saat secara tiba-tiba, Jeany mengubah posisi tubuhnya hingga mata mereka bertemu untuk beberapa saat.

Yesung tahu ia salah. Tapi sejujurnya….ia juga masih kecewa. Ia masih tak percaya bahwa Jeany sudah sejak lama membohonginya.

***

“Well, kalau ada yang ingin pulang sekarang, aku persilahkan. Tapi jangan memintaku untuk berhenti.” Yesung berusaha tersenyum dan mengubah suasana menjadi lebih ringan. Tapi kemudian ia sadar bahwa itu tidak berpengaruh sama sekali. Pengunjung yang masih bertahan ditempat duduknya begitu serius. Tidak ada yang ikut tersenyum sepertinya. Yang artinya percuma saja ia pura-pura tersenyum.

Lama ia menunggu reaksi dari pengunjung yang mungkin akan memutuskan untuk pulang atau memintanya berhenti. Ternyata setelah beberapa menit diam dan memandangi wajah itu satu persatu, ia hanya menemukan satu orang yang pergi.

“Baiklah. Sepertinya kalian masih ingin mendengarnya. Ini tidak akan memakan waktu lebih lama. Aku hampir menyelesaikannya.”

Ia sudah akan buka suara lagi saat menyadari Casey keluar dari ruangannya lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, Casey berhenti kemudian menatapnya. Tanpa ekspresi, Casey menghilang begitu saja.

“Jadi bagaimana akhirnya? Jeany berhenti bekerja?”

Sebuah pertanyaan menyadarkannya. Yesung terkesiap. Ia buang pandangan dari luar lalu memperbaiki cara duduknya. Setelah menarik nafas panjang, ia melanjutkan. “Setelah kejadian itu….kami…”

***

Yesung berjalan tergesa-gesa. Ia baru saja bertemu dengan Eunhyuk di rumahnya. Dan ia tak pernah berpikir bahwa kedatangannya kesana akan membawanya pada satu kejutan baru. Eunhyuk ternyata sudah mengetahui soal kebohongan Jeany, jauh sebelum dirinya.

“Beberapa bulan lalu, aku dipertemukan dengan Jeany oleh temanku yang bekerja dibidang yang sama dengannya. Saat itu aku harus menunggu Jeany selama beberapa jam sampai akhirnya ia bersedia menemuiku. Tak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya mengaku sebagai orang yang suka melihatnya ditelevisi. Bodohnya aku tak ingat untuk meminta foto bersama. Yang kuingat saat itu hanyalah bertanya padanya apakah dia sudah menikah atau belum. Aku ingin membuktikan perkataanmu. Dan jawabannya adalah…..”

Eunhyuk butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan, “Jawaban yang sama dengan yang kau dapatkan. Untuk itu aku terkejut saat ke apartemenmu dan menemukannya ada disana. Aku sempat marah padanya meski rasanya aku tidak berhak melakukan itu. Tapi sebagai sahabatmu, sebagai orang yang setiap hari melihatmu membanggakannya, aku tidak terima.”

“Lalu kenapa kau diam saja?”

“Aku sudah terlalu jauh melangkah dengan berani membentaknya kala itu. Aku tak mau melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakannya lebih dulu. Bagaimanapun, kau harus tahu dari mulut Jeany.”

“Tapi pada akhirnya aku tahu dari mulut orang lain. Aku dipermalukan didepan banyak orang.”

Yesung menendang tong sampah di dekatnya. Sekarang Ia berjalan cepat. Menyerobot taksi orang lain dan menyuruh supir mengantarnya ke kantor Jeany. Ia memang sudah bersumpah untuk tidak pernah kembali kesana. Tapi keadaan memaksanya. Ada sesuatu yang membuatnya harus kesana.

Ditengah-tengah pembicaraan tadi, ia terpaksa pergi setelah handphone Jeany berdering dan memperlihatkan dua pesan dari Siwon. Isinya benar-benar tak bisa ditolerir lagi. Siwon sudah keterlaluan.

Ia tak menyesal sudah begitu lancang mengambil handphone Jeany sejak kejadian beberapa hari lalu. Mereka belum bicara sama sekali setelah hari itu selain percakapan sederhana seperti untuk memberitahu bahwa sarapan dan makan malam sudah siap. Maka ketika ia memutuskan untuk menyita sementara handphone tersebut, Jeany tak berkomentar sama sekali.

“Berhenti.”

Ia langsung turun setelah memberikan beberapa lembar uang. Ia tak peduli jumlahnya lagi. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanya segera tiba di lantai empat, mencari keberadaan Siwon dan memberinya pelajaran yang mungkin tak pernah didapatkannya dimanapun.

Ia langsung masuk begitu saja. Berlari secepat kilat dan nyaris saja meneriakkan nama Siwon kalau saja tak menemukan Jeany disana.

Ia terdiam tepat setelah keluar dari lift. Jeany harusnya masih istirahat, Jeany belum boleh kembali melakukan kegiatan yang berat. Dan Jeany tidak mengatakan apa-apa padanya saat ia pergi tadi. Lalu, apa yang dilakukannya disini?

Ia maju beberapa langkah. Ia bisa melihat semua orang berdiri di depan Jeany. Jeany sendiri hanya diam dengan kepala menunduk. Sebuah kardus kecil berada dipegangannya.

“Aku minta maaf.”

Jeany mengangkat kepalanya. Yesung bisa menemukan setetes air mata dipipinya meski wajah itu berusaha untuk tegar. Ia maju lagi, mencoba untuk mendengar lebih jelas, melihat lebih dekat.

“Aku sudah membohongi kalian semua. Aku membohongi semua orang.”

Yesung berhenti. Diperhatikannya wajah Jeany yang membuat dadanya berdenyit.

“Aku datang kemari dengan harapan bahwa inilah tempat dimana aku memulai perjuanganku. Tapi aku salah. Aku memulainya dengan cara yang salah. Bahkan aku merasa malu dengan diriku.”

Jeany berusaha keras menahan tangisnya. Yesung ingin sekali kesana, memeluknya. Tapi kedua kakinya terpaku, tak bisa kemana-mana.

“Diatas segalanya, aku merasa malu dengan suamiku. Suami yang selalu menyayangiku, suami yang percaya sepenuhnya kepadaku. Dia sebenarnya sangat menyebalkan. Dia suka sekali meletakkan sepatunya sembarangan. Dia suka sekali membiarkan bau kaos kakinya menyebar ke seluruh ruangan.”

Jeany menangis dan tertawa bersamaan. Yesung ikut tertawa pelan meski setelahnya ia juga menangis.

“Dia adalah orang yang spontan. Dia cukup romantis dan aku tetap mencintainya sekalipun dia juga sangat pemarah.”

Yesung tersenyum mendengarnya. Ia tak pernah melihat sisi Jeany yang seperti ini.

“Aku kemari untuk minta maaf sekaligus untuk berpamitan pada kalian semua. Aku mengundurkan diri. Aku tidak berharap kalian memaafkanku. Hak kalian jika setelah ini kalian merasa tidak lagi mengenalku. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas kerja samanya selama ini.”

Jeany mengelap pipinya yang basah. Yesung tetap berdiri ditempatnya. Dilihatnya Jeany yang membungkukkan badannya cukup lama. Setelah itu, barulah Jeany menyadari kehadirannya dan sekarang berjalan ke arahnya.

Mereka berhadapan. Jeany mencoba tersenyum namun tak mengatakan apa-apa. Dan belum sempat ia menahannya, suara Siwon lebih dulu terdengar.

“Jeany! Tunggu!”

Dengan sigap ia menahan tubuh Siwon, ia biarkan Jeany terus berjalan dan masuk ke dalam lift.

“Jeany!” Siwon terus memanggil Jeany seakan didepannya tidak ada seorang pria yang merupakan suaminya.

“Apa yang mau kau lakukan?”

Siwon tampak tak peduli. Ia dorong tubuh Yesung lalu mengejar Jeany tepat sebelum lift tertutup.

Sial! Yesung langsung bangkit dan masuk ke dalam lift di sebelahnya. Begitu tiba di bawah, ia melihat Siwon terus mengejar Jeany. Langsung ia menarik kerah baju pria itu, melayangkan pukulannya dengan keras.

BUG

“Brengsek!”

Siwon tersungkur. Yesung menindih tubuhnya dan memukulnya dengan membabi buta.

“Berhenti menggangu Jeany! Apa kau tidak punya mata?”

Cuih!! Siwon meludah tepat mengenai wajahnya. “Kau sendiri suami macam apa, huh? Aku tahu Jeany tidak bahagia menikah denganmu.”

“Tahu apa kau soal rumah tangga kami?”

Tangan Yesung sudah terangkat lagi saat Jeany berusaha menahannya.

“Yesung, jangan. Kita pulang sekarang.”

Tapi Yesung seakan tak mendengarnya. Ia terus memukuli Siwon hingga yang tadinya melawan perlahan-lahan menjadi tak berdaya. Siwon tak melakukan apa-apa, hanya diam menerima pukulan demi pukulan diwajahnya. Ujung bibirnya sudah berdarah, pipinya pun membiru.

Yesung kehilangan kendali atas dirinya. Ia benar-benar melampiaskan semuanya. Seperti orang kesetanan, ia terus menghajar pria itu. Ia tak peduli apapun. Tak peduli dengan permohonan Jeany, tak peduli beberapa orang yang berusaha melerainya.

“Yesung, please…..stop it!”

“Berhenti mengganggu istriku!”

“Yesung!”

“Lepaskan!!!”

BUG

“Argh…”

Ia berbalik. Jeany sudah terduduk dengan memegangi perutnya.

“Jeany!!”

Ia tak mengerti. Tapi tubuhnya mendadak kaku. Ia hanya merasa didorong hingga jatuh dan melihat Siwon berlari mendekati Jeany. Ia tak mampu bergerak. Ia hanya seperti orang bodoh melihat istrinya mengerang kesakitan. Dan ada cairan merah kental yang mengalir dari selangkangan istrinya itu.

“Jeany, bertahanlah.”

Siwon mengangkat tubuh Jeany. Ia bisa melihat Siwon membawa istrinya dengan mobil lalu pergi begitu saja. Lama setelah itu, baru ia sadar apa yang sudah terjadi. Ditatapnya kedua tangannya yang baru saja melakukan hal gila.

Ya Tuhan, apa yang sudah ia perbuat?

***

“Jadi begini cara kerja pengantar pizza? Memakannya hanya karena pintu terlambat terbuka?”

“Kau mengajakku kencan?”

“Kau mengajakku ke pertunjukan itu? Asal kau tahu, aku sudah pernah menontonnya dan aku tertidur sepanjang acara. Jadi………aku rasa itu bukan tempat yang tepat untuk kita.”

Yesung menghantupkan kepalanya ke dinding putih itu. Sudah dua jam ia duduk di tempat yang sama, memikirkan segalanya yang sudah terjadi.

“Aku sudah pernah magang di DLB. Dan nanti aku akan melamar pekerjaan lagi disana. Dengan fakta bahwa aku pernah bekerja disana dan aku cukup mengenal para karyawannya, kurasa itu adalah modal yang menjanjikan.”

“Jeany adalah putriku satu-satunya. Aku tidak mau ia salah jalan, aku tidak mau ia disakiti. Aku mau ia bahagia. Hanya itu.”

Saat itu Mr.Hanks menantangnya dan ia terima demi mendapat restu. Dan saat itu ia berjanji bahwa ia bahkan takkan membiarkan seekor nyamuk hinggap dikulitnnya.

“Tebakanku tak pernah meleset dan aku tidak punya firasat yang bagus untukmu.”

“Ya, aku tahu itu. Aku sadar kami punya banyak perbedaan. Kami sering bertengkar bahkan kami baru saja berbaikan, tapi aku yakin kami bisa melaluinya. Mr.Hanks, aku akan buktikan padamu aku tidak main-main.”

“Kurasa aku ingin menikah.”

Ia meremas rambutnya. Tak habis pikir semuanya jadi begini. Jeany tak sadarkan diri. Sudah dua jam dokter menanganinya dan belum juga keluar.

“Sudah kubilang aku tidak mau ribut. Tapi kau memulainya hanya karena masalah sepele. Sekarang siapa yang berlebihan? Bukankah kau selalu bilang aku yang berlebihan dan suka membesarkan masalah?”

“Kau tidak tahu apa yang aku alami selama setahun ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang asing yang berusaha mengejar impiannya ditempat yang berbeda. Kau tidak tahu bagaimana aku hampir putus asa karena semua tempat menolakku hanya karena aku sudah menikah. Aku harus beradaptasi dengan kehidupan keras disini dan kau tidak pernah tahu itu. Aku dan semua yang ada di negara ini jauh berbeda. Kau melupakan satu hal. Kau lupa siapa aku.”

Matanya tak lepas dari pintu ruang itu. Tadi ia hampir memukul seorang perawat karena tak diperbolehkan masuk kalau saja Siwon tak menariknya. Pria itu sendiri tidak pergi, masih berdiri di depan pintu dengan sesekali memegangi pipinya yang lebam. Untuk hal tersebut, Yesung sama sekali tidak menyesal. Siwon pantas mendapatkannya. Satu-satunya yang ia sesali adalah perbuatannya terhadap Jeany.

“Dokter!”

Lekas ia berdiri begitu suara Siwon terdengar. Ia berlari-lari kecil untuk mendekati mereka. Namun, sebelum ia tiba, dokter itu sudah berlalu setelah menepuk bahu Siwon.

“Apa yang terjadi? Jeany baik-baik saja?”

Siwon menunduk, menarik nafasnya kemudian tersenyum licik. “Kau bangga setelah melakukannya? Sekarang aku semakin yakin kau tidak pantas untuk Jeany!”

Dengan cepat ia tarik kerah kemejanya lalu mendorongnya ke dinding. “Apa maksudmu?”

“Untuk apa kau bertanya? Apa kau masih peduli?”

“Cepat jawab apa yang terjadi!”

Siwon memegangi tangannya, lantas melepaskannya dengan kuat. “Jeany keguguran dan kaulah penyebabnya!!!”

Untuk beberapa saat ia tak bereaksi. Ia harap saat ini merupakan tanggal 1 april dimana biasanya orang-orang membuat lelucon konyol. Atau ia harap ia merupakan seorang tuna rungu. Ia tak dengar apa-apa. Ia tuli. Siwon sendiri memang tak mengatakan apapun. Siwon tidak mengatakan apa-apa soal Jeany dan bayi mereka.

Tapi semakin keras ia menolaknya, maka semua semakin terasa nyata. Semakin ia berpikir bahwa ia sedang bermimpi, maka semakin kuat kenyataan itu berdiri didepannya.

Tidak mungkin!

Jeany baik-baik saja. Kondisinya memang buruk sebelum ini, tapi bayi mereka kuat. Dokter sendiri yang mengatakan bahwa bayi mereka sangat hebat dan akan tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Apa dokter itu hanya menghiburnya? Apa dokter juga bertugas untuk membohongi pasiennya?

“Kau tahu? Kau tampak sangat menyedihkan dimataku.” Siwon berlalu dari hadapannya, membiarkannya seorang diri seperti pesakitan. Perlahan-lahan ia menoleh, melihat ke dalam ruangan dimana Jeany berada. Satu yang berputar dalam benaknya saat ini.

Apa benar ia tak pantas untuk bersama Jeany?

***

Casey berjalan tergesa. Ia tak menggunakan mobil malam ini. Dan sepertinya berada disini memang merupakan sesuatu yang ia butuhkan. Ia butuh untuk menghirup udara yang lebih segar. Berada beberapa jam di dalam sana dan mendengar cerita Yesung, sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik.

Ia tahu Yesung justru merasakan hal yang sebaliknya karena Yesung sangat menunggu momen tersebut. Yesung sangat senang bisa berbagi. Yesung senang jika semua orang tahu tentang kisahnya karena ia harap akan ada sesuatu yang bisa dipetik. Tapi tidak baginya.

Ia rapatkan jaketnya lebih kuat. Dalam kepalanya terus berputar peristiwa satu jam lalu saat ia menemukan Jeany bersama orang lain. Ia harusnya tak perlu begitu terkejut karena ia sudah mengetahuinya jauh sebelum ini. Tapi inilah kali pertama ia melihatnya secara langsung yang artinya semua harapannya bahwa itu hanya rumor pun jadi berantakan. Apa yang ia dengar selama ini ternyata benar. Jeany…sudah mendapatkan kehidupannya yang baru.

“Dady!!!”

Ia tersenyum. Anaknya yang baru berusia tiga tahun itu melompat lantas berlari kepelukannya.

“Hey, apa yang terjadi? Kenapa kau begitu gembira?”

Alex hanya terus tersenyum sambil memainkan rambutnya. Anak itu baru diadopsi bulan lalu. Setelah menikah selama 5 tahun, ia dan istrinya belum juga dikaruniai seorang anak meski dokter mengatakan bahwa mereka berdua tidak memiliki masalah apapun dengan kesuburan mereka. Tapi karena istrinya sangat menginginkan seorang anak, maka akhirnya mereka putuskan untuk mengangkatnya di panti asuhan.

Alex sangat lucu. Rambutnya pirang dengan mata biru. Dia sangat lincah dan sangat suka berceloteh, persis seperti Casey. Pertama kali melihatnya, Casey langsung jatuh cinta dan tidak berpikir dua kali untuk membawanya segera pulang.

“Kenapa kau pulang malam sekali? Alex tidak mau tidur kalau kau tidak ada.”

“Café sangat ramai, jadi aku sangat sibuk.”

Casey mencium bibir istrinya singkat kemudian membiarkan jaketnya dibuka tanpa melepaskan gendongannya pada Alex. Anak itu ternyata memang sudah mengantuk. Setelah tadi begitu terlihat gembira, sekarang ia menguap sangat lebar lalu memeluk lehernya.

“Jadi, apa pangeran kecilku ini sudah siap berlayar dengan kapalnya?”

Alex mengangguk dan mereka melakukan tos. Casey membawa anaknya itu ke kamar, merebahkannya kemudian ikut berbaring di sebelahnya. Ia dan istrinya rutin membacakan dongeng setiap malam secara bergantian. Dan kali ini adalah gilirannya. Satu kali saja mereka tidak melakukan itu, maka Alex akan sangat marah. Persis seperti apa yang pernah terjadi beberapa waktu lalu saat Casey tidak pulang karena menunggui Yesung di rumah sakit, semalaman Alex menangis karena tidak ada ayahnya disampingnya.

“Baiklah, sekarang kita akan melanjutkan ceritanya.”

Casey mencari posisi yang nyaman. Alex memeluk tubuhnya lalu mulai menutup mata saat ceritanya sudah berjalan. Sesekali Casey akan mengecek apakah anaknya sudah benar-benar tertidur atau belum. Istrinya sendiri hanya memperhatikannya dari pintu.

“Dia sudah tidur?” tanya Alie, istrinya. Casey hanya mengangguk karena perhatiannya teralihkan pada sesuatu yang  ia temukan di dapur.

“Honey, apalagi ini?” Casey mengenduskan nafasnya keras. Lagi-lagi ia melihat tumpukan pakaian di tong sampah.

“Alex berulah lagi. Padahal aku sudah yakin tidak ada gunting atau silet di sekitarnya. Aku menyimpannya ke tempat paling aman. Tapi kau tahu, dia dan gunting-gunting itu seperti punya kontak batin. Pada akhirnya…yah, seperti yang kau lihat.”

Casey hanya bisa tersenyum lalu membuka kulkas untuk membasahi tenggorokannya. “Kurasa anak itu akan menjadi seorang designer.”

“Atau mungkin dia akan punya perusahaan fotokopi.”

Mereka tertawa bersama. Setelah mandi dan berganti pakaian menjadi piyama, Casey langsung meluncur ke atas kasurnya.

“Bukan hari yang baik? Wajahmu jelek sekali.”

Istrinya yang bernama Alie itu bersandar manja di dadanya.”Apa ada masalah di café?”

Casey menggeleng. “Ini soal Yesung.”

“Oh, dia datang?”

Casey mengangguk lagi, kali ini ia belai lembut rambut Alie.

“Dia datang dan memutuskan untuk menyelesaikan ceritanya. Mungkin sekarang ceritanya sudah selesai.”

“Tapi kurasa……cerita itu belum berakhir. Cerita itu akan berlanjut.”

Terdengar tarikan nafas panjang dari Casey, diikuti dengan berhentinya gerakan tangannya dirambut Alie.

“Aku rasa justru ceritanya memang sudah berakhir. Tidak akan ada kelanjutannya.”

“Maksudmu?” tanya Alie sambil sedikit mendongak untuk menatapnya.

“Aku melihat Jeany. Dan sepertinya….info yang kita dapatkan itu benar. Bahwa ia sudah memiliki seseorang.”

Alie hanya membulatkan mulutnya, tidak lagi bisa berpendapat. Padahal sebelumnya ia begitu yakin bahwa kisah Yesung akan berlanjut. Mereka akan bertemu dan akhirnya Yesung bisa memperkenalkan Jeanynya didepan semua pengunjung café. Tapi ternyata…

“Ah, sudahlah. Dia bisa besar kepala kalau tahu kita terus memikirkannya.”

“Bukankah kepalanya memang sudah besar?”

Suara tawa terdengar hingga ke kamar sebelah dimana sikecil sedang terlelap. Tidurnya begitu nyenyak. Sekarang, petualangan panjang sedang dihadapinya.

***

Sudah berlalu dua hari sejak kejadian itu, dan Jeany belum pulang dari rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah. Natal kemarin terasa berbeda dan hambar. Natal kedua mereka sebagai suami istri terlewat begitu saja seperti hari biasa. Yesung hanya berdiri di depan pintu ruang rawat Jeany, menatap beberapa pasien yang dikunjungi oleh kerabatnya. Mereka membawa beberapa kado. Suasananya sangat hangat malam itu. Ada santa clause yang diketahuinya merupakan salah satu dokter membagikan hadiah bagi pasiennya, termasuk Jeany. Ia bisa melihat Jeany senang menerima kado itu. Dan itu adalah senyum pertama yang dilihatnya setelah pertengkaran hebat mereka.

Ia sendiri tak punya cukup muka untuk berhadapan langsung dengan Jeany. Ia hanya berdiri dibalik pintu, dengan bodohnya melihat interaksi antara Jeany dan Siwon yang sialnya selalu datang lebih dulu. Ia ingin sekali masuk, mengusir Siwon dan melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Tapi mengingat akibat dari emosinya yang tak terkontrol dua hari lalu, rasanya bukan pilihan tepat untuk masuk.

Tapi disaat tidak ada Siwon pun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk minta maaf, untuk berdiri lebih lama didepan pintupun ia tak bisa. Ia terlalu merasa bersalah.

Namun untuk hari ini, ia bertekad untuk menemuinya. Ia sudah membuatkan makan siang untuk Jeany. Ia dan ayahnya membuat bubur. Meski di rumah sakit Jeany sudah sering mendapatkannya, ia yakin bubur buatannya berbeda.

Saat berada di depan pintu, ia harus berkali-kali menarik nafas sebelum kemudian berani mengetuknya.

“Masuk.”

Dengan segala keberanian, ia dorong pintu tersebut. Bisa dilihatnya Jeany sedikit terkejut melihatnya. Mungkin Jeany juga tak menyangka bahwa yang akan masuk adalah dirinya. Awalnya sangat canggung, tapi kemudian ia berusaha bersikap biasa saja.

“Hey, kau….sudah makan?” Ia bertanya dengan pelan. Tak mendapatkan respon, ia menarik kursi kemudian duduk disana. Ia hampir menangis melihat tanda biru dipipi itu. Wajahnya tampak lebih tirus dibanding terakhir kali mereka bertemu.

“Aku minta maaf,” ucapnya dengan volume lebih pelan dari sebelumnya. Mangkuk berisi bubur ditangannya sudah ia letakkan kembali ke atas meja. Ia berusaha lebih dekat lagi dengan Jeany dan bermaksud menggenggam tangannya namun Jeany langsung menolak.

“Jeany, aku tahu kau pasti kecewa. Tapi saat itu….aku….aku sedang kalut.”

“Kecewa kau bilang?” Jeany menatapnya sambil mengusap pipinya. “Bagaimana mungkin kau melakukannya?”

“Jeany, aku..”

“Bagaimana mungkin kau melakukannya?” tanya Jeany sangat pelan. Suaranya bergetar.

“Aku mengetahuinya dari mulut dokter. Aku mendengarnya seorang diri. Aku mengandungnya, aku yang merasakannya dan saat aku kehilangannya pun aku menanggungnya sendirian. Dan kau pikir aku hanya kecewa? Kau pikir kekalutanmu adalah alasan yang bisa kubenarkan? Sudah berapa kali kau kehilangan kontrol seperti itu?” Jeany tak sanggup lagi menahan tangisnya. Yesung tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mendengarkannya.

“Aku harap kau datang saat itu. Minta maaf dan berada disini. Tapi…”

Yesung hanya bisa diam dan tidak berusaha membela diri. Kalaupun sempat terpikir olehnya untuk membalas perkataan Jeany dengan mengingatkannya tentang kebohongan itu, ia segera menepisnya. Membahasnya sama saja dengan kembali menyalakan api yang sudah mulai mati. Mereka akan mulai saling serang dan masalah takkan pernah selesai. Ia tak mau memperpanjang masalah mereka.

“Kau sulit kumengerti.”

Sekali lagi Yesung berusaha menyentuh telapak tangannya. Tapi baru beberapa detik kulit mereka bersentuhan, Jeany sudah menjauh.

“Tinggalkan aku sendiri.”

Yesung menunduk. Segala sesuatunya memang takkan menjadi lebih baik dari ini. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menerimanya dengan hati lapang. Tapi Yesung takkan bisa mengatakan itu pada Jeany dalam keadaan seperti ini. Jeany takkan menerimanya selogis apapun itu. Jeany tak pernah butuh nasehat orang lain. Jeany hanya butuh didengarkan hingga semua perasaannya tumpah.

Pada akhirnya ia takkan bisa mematahkan apapun yang ada dikepala Jeany. Ia tak bisa menyentuh tangannya untuk menyalurkan kekuatan. Ia tak bisa memeluknya untuk mengurangi beban itu. Ia juga tak bisa membelai pipinya untuk saling berbagai rasa sakitnya. Ia hanya bisa berdiri, berjalan pelan lalu membuka pintu. Dan tepat saat itu juga, seseorang yang tak pernah terbayangkan dalam benaknya tiba-tiba muncul.

“Mr.Hanks?”

***

Mereka duduk di taman rumah sakit. Udaranya begitu dingin, tapi tidak ada salju pagi itu. Natal yang baru saja lewat membuat suasana sekitar mereka nampak hangat dengan pohon natal kecil yang berdiri dipojok lorong.

Yesung duduk di kursi. Ia tidak tahu kapan tepatnya Mr.Hanks tiba dan apakah Mr.Hanks sudah menemui anaknya. Tapi melihat sikapnya sejak tadi, ia yakin mereka sudah bertemu dan Jeany sudah menceritakan semuanya.

Saat diajak kemari, ia mempersiapkan diri untuk mendengar segala nasehat dan mungkin caci maki. Ia tahu mereka punya satu persaman yang mencolok, yakni takkan segan untuk menyuarakan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Meski terdengar frontal, Mr.Hanks akan tetap mengatakannya. Tapi setelah berlalu hampir tiga puluh menit, tak ada percakapan yang terjadi.

Yesung terus menunduk, menatap sepatunya yang dihiasi salju sisa semalam. Ia tak punya cukup nyali untuk mendongak dan mendapati kenyataan bahwa Mr.Hanks sedang menatapnya. Tapi ketika ia memberanikan diri untuk melihatnya, Mr.Hanks masih membelakanginya. Dan setelah ia perhatikan, ia sadar bahwa Mr.Hanks sedang menunggunya bicara.

Ia masih mengira-ngira apa kalimat yang tepat untuk ia katakan. Jika hanya sebuah permintaan maaf, mungkin hanya akan terasa menggelitik ditelinga Mr.Hanks. Ia bukan anak kecil lagi. Ia adalah pria yang dua tahun lalu berani datang ke rumahnya untuk membawa anak gadisnya pergi. Kata maaf bukan mungkin bukan kata yang ingin didengarnya untuk pertama kali.

“Aku memang bersalah.”

Ia tak yakin apakah suaranya terdengar atau tidak. Nyaris berupa bisikan, hanya kalimat itu yang bisa ia katakan. Sekalipun ada banyak hal yang bisa ia sampaikan, tapi ia berusaha menahan diri. Membahas masalah kebohongan Jeany, atau berdalih bahwa perlakuan kasarnya terhadap Jeany diawali dari sikap Jeany sendiri tidak akan memperbaiki keadaan. Ia lelaki, ia tidak bisa menyalahkan orang lain.

“Kau masih ingat janjimu padaku saat itu?”

Sejak dulu Mr.Hanks memang memilki sesuatu dalam dirinya yang membuat orang-orang disekitarnya mati kutu. Yesung sudah pernah merasakannya dimasa lalu. Tapi saat itu ia masih merasa cukup percaya diri untuk mengatasinya. Berbeda dengan sekarang dimana keadaannya tidak lagi sama. Ia takkan menemukan satu ayahpun di dunia ini yang rela melihat anak gadisnya terluka. Ia baru mendengar satu pertanyaan pendek, tapi rasanya ia sudah diinterogasi sebanyak dua ratus pertanyaan.

“Aku menyerahkannya padamu bukan untuk melihatnya menangis. Aku percaya padamu saat itu.”

Suara Mr.Hanks tak setegar sebelumnya. Yesung bisa merasakan bahwa pria itu sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu yang tidak mudah. Dalam benaknya, ia punya beberapa kemungkinan. Mungkin Mr.Hanks akan memukulnya sebagai ganti, menamparnya seperti yang dilakukan Jeany saat itu, atau berusaha mendamaikannya dengan Jeany. Tapi setelah Mr.Hanks mengatakannya, ia hampir tak percaya. Tak banyak yang Mr.Hanks  katakan sejak tadi. Dan kalimat terakhirnya sebelum pergi sanggup menenggelamkannya ke dalam tanah.

“Aku akan membawa Jeany kembali ke London.”

London….London….

Ia masih tak mau menganggapnya serius sampai akhirnya ia mengejar Mr.Hanks dan menanyakannya sekali lagi. Dan jawaban yang ia dapatkan tidak berubah. Jeany akan kembali ke London. Hanya Jeany, bukan dirinya.

Kakinya lemas. Tiba-tiba saja London terdengar seperti nama tempat yang sangat jauh dan tidak terjangkau. Ia seperti mendengar dua perbandingan langit dan bumi. Dan jika begitu, apakah artinya….

Ia tidak mau membayangkan hal terburuk. Kemungkinan paling buruk yang ia pikirkan sejak tadi hanyalah tidak bicara dengan Jeany selama seminggu. Setelah itu semua akan membaik seperti pertengkaran sebelumnya. Ia hanya perlu bersabar sampai Jeany merasa tenang lalu mereka berbaikan. Ia yakin masih bisa mengatasinya. Mr.Hanks atau Siwon atau siapapun itu tidak perlu ikut sampur. Tapi ia tahu Mr.Hanks tak pernah main-main dengan perkataannya. Saat ia berusaha untuk menemui Jeany, pintu tidak terbuka untuknya. Sudah ada dua orang pria berbadan tegap yang berjaga. Jangankan masuk, untuk melewati dua orang itu saja ia kewalahan.

“Jeany, aku tahu kau tidak menginginkannya. Kita harus bicara! Argh, lepaskan aku! Jeany!! Kita harus bicara!!!”

Ia ditarik mundur. Dua orang itu menyeretnya dengan kasar lantas mendorongnya keluar.

Ini kelihatan aneh baginya. Ia dan Jeany hanya ribut seperti biasa. Ini normal dialami bagi pasangan suami istri. Ia dan Jeany hanya bertengkar hebat. Ia hanya kecewa karena Jeany berbohong. Ia kecewa karena Jeany tak mengakuinya sebagai suami. Ia hanya terlalu cemburu melihatnya bersama Siwon. Jeany sendiri tidak apa-apa. Jeany hanya kesulitan beradaptasi. Jeany hanya tidak lagi nyaman untuk membagi apapun dengannya. Jeany hanya kehilangan pekerjaannya. Dan Jeany hanya…………kehilangan bayinya.

Ia terduduk di atas tanah putih itu. Sekarang ia sadar betapa bodohnya ia. Semakin kuat ia mengelak, maka semakin nyata apa yang sudah terjadi diantara mereka. Dan itu bukan sesuatu yang kecil. Tapi ia tak pernah menyerah begitu mudah. Ia tak pernah mau dikalahkan oleh situasi. Maka beberapa jam setelahnya ia kembali ke rumah sakit, berusaha menjajaki kemungkinan untuk menemui Jeany. Ia sudah menyusun beberapa rencana untuk mengalihkan perhatian dua orang bodyguard itu. Tapi sebelum salah satu rencananya berjalan, ia terkejut saat tak menemukan siapapun yang berdiri disana.

Apa mereka sedang istirahat?

Yesung tersenyum. Ia melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ia yakin ini adalah waktu yang tepat untuk menemui Jeany. Ia pun mempercepat langkahnya. Ia menggapai handle pintu lalu mendorongnya. Tapi yang ia temukan didalam sana hanyalah sebuah tempat tidur yang sudah rapi. Tidak ada Jeany, tidak ada Mr.Hanks apalagi dua bodyguard berbadan besar itu.

Ia mulai panik. Dengan cepat ia turun ke bawah, bertanya pada suster tentang Jeany.

“Jeany Hanks sudah pulang satu jam yang lalu.”

SHIT!!!

Ia terlambat. Tanpa pikir panjang ia berlari, menyetop banyak taksi yang sialnya tidak ada yang mau berhenti untuknya. Ia kemudian menyeberang jalan hingga sempat membuat kekacauan. Mobil-mobil membunyikan klakson untuknya. Ia tak peduli. Ia berlari sekuat tenaga. Ia lepaskan jaketnya lalu membuangnya karena sedikit mengganggu. Saat dari kejauhan ia melihat sebuah taksi lagi, ia melambaikan tangannya.

Selama dalam perjalanan ia terus berdoa semoga apa yang ia takutkan tidak terjadi. Begitu ia tiba di apartemen nanti, Jeany pasti ada disana, tersenyum menyambut kedatangannya. Bahkan kalaupun itu tak terjadi dan Jeany masih tak mau bicara, tak masalah. Asalkan apa yang dikatakan oleh Mr.Hanks tadi tidak menjadi kenyataan. Tidak saat ini, tidak nanti dan tidak sampai kapanpun juga.

Saat taksi sudah berhenti, ia melompat turun. Tangannya gemetar dan sempat beberapa kali salah menekan tombol di lift.

“Argh,…”

“Yesung, apa yang terjadi?”

Ia sempat berpapasan dengan salah satu penghuni apartemen di lantai yang sama. Tapi tak ia hiraukan dan langsung berlari lagi.

“Jeany!!!”

Tangannya berusaha mendorong pintu apartemennya. Sadar bersikap konyol, Ia lalu keluarkan kunci yang ia miliki lantas segera mendorongnya.

“Jeany!!” Yang pertama kali dimasukinya adalah kamar mereka. Namun, tetap tak ada Jeany disana. Ia sudah akan keluar saat menyadari satu hal. Ia segera membuka lemari pakaian dan ternyata tidak ada sehelai benang pun disana. Lemari itu kosong. Hanya ada sebuah kotak kecil berwarna merah yang ketahui sebagai salah satu kotak perhiasan Jeany.

Ia tak sadar tangannya gemetar saat berusaha membuka kotak tersebut. Begitu terbuka, ia tahu bahwa ia sudah terlambat.

Ia pukul tembok hingga tangannya berdarah. Kemudian ia keluar, terus memanggil nama Jeany meski ia sendiri tahu takkan ada yang menjawabnya lagi.

“Jeany, kumohon, keluarlah. Aku tahu kau akan marah kalau aku melempar sepatu dan jaketku sembarangan. Kau harus keluar. Marahi aku. Tegur aku. Atau kau ingin aku sendiri yang menemukanmu?”

Seperti orang tolol ia bicara sendiri sambil memasuki semua ruangan yang ada. Dapur, toilet, kamar tamu dan balkon. Jeany tetap tidak ada.

“Kita masih bisa membicarakannya. Kita masih bisa memperbaikinya.”

“Jeany, please…. We need to talk!”

Ia terus berputar-putar di tempat yang sama sambil berharap Jeany akan menampakkan batang hidungnya. Tapi semakin lama tempat itu semakin sepi. Ia tak dengar suara apa-apa. Tak ada siapapun disana.

Akhirnya ia menyerah dan terduduk di depan pintu kamarnya. Tangannya memegang handphone Jeany yang sejak beberapa hari lalu masih disimpannya. Benda itu menyala, menampakkan wajah Jeany yang tersenyum sambil menunjukkan foto USG bayinya. Bodohnya, ia baru menyadari foto itu setelah benda itu beberapa hari ada padanya.

Ia lalu mengambil handphonenya, mencari kontak seseorang lantas menghubunginya.

“Hallo. Ada apa kau menghubungiku lagi?”

Matanya terpejam. Rasanya terlalu sakit. Ia bahkan tak menangis lagi. Air matanya sudah kering.

“Yesung? Kau baik-baik saja.”

Ia menatap foto itu sekali lagi. Senyum Jeany di foto itu membawanya pada suatu kenyataan.

“Dia sudah pergi. Dia benar-benar sudah pergi.”

***

Semua pengunjung terdiam. Yesung memejamkan matanya cukup lama sejak tadi. Dibibirnya tersungging seulas senyum yang sulit diartikan oleh mereka.

“Setelah hari itu….aku tak pernah melihatnya lagi.”

Ia membuka matanya. Ia tak lagi melihat dan menghitung ada berapa orang yang masih bertahan. Ia hanya menatap lurus, melihat ke arah pintu dimana Jeany sedang tersenyum padanya. Ia tahu ia sedang berkhayal. Tapi dalam beberapa situasi, ia merasa semuanya begitu nyata. Jeany kerap datang padanya. Kadang membuatkannya kopi dipagi hari. Kadang mengomelinya karena tidur dengan sepatu yang masih melekat dikakinya. Kadang juga mengecup bibirnya sebelum tidur.

“Kau….tidak berusaha menyusulnya?”

Akhirnya ia sadar bahwa ia masih berada di cafe. Ia tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Menurutmu…apa yang membuatku ada disini? Aku sudah melakukannya tapi ia terlalu pandai menyembunyikan diri. Saat aku kemari untuk proses ceraipun, aku tak bisa menemuinya.”

Ia menghela nafas. Ceritanya sudah selesai. Tak ada yang menarik memang. Hanya kisah cinta yang berakhir tidak begitu bahagia. Hanya kisah pernikahan anak muda yang belum cukup kuat menghadapi badai dalam rumah tangga.

“Tapi aku tak pernah benar-benar marah padanya. Aku tak bisa menyalahkan Jeany sepenuhnya. Dan setelah berlalu sepuluh tahun sejak kejadian itu…..aku masih menjaga perasaan ini untuknya. Aku masih yakin jika Tuhan akan mempertemukan kami suatu hari nanti.”

Ia menunduk sejenak, tersenyum kemudian bangkit sambil merapikan jaketnya. Setelah turun dari podium, tak ia pedulikan pandangan beberapa orang yang dilewatinya, termasuk Marcus yang entah sejak kapan begitu agresif dan sempat bertanya lebih detail.

Ia hanya berlalu. Berjalan cepat untuk segera tiba di rumahnya. Rasanya memang melegakan. Dan ia suka itu. Apakah Jeany juga masih mengingatnya?

Tak seperti beberapa waktu lalu ketika ia kembali ke rumah dalam keadaan berantakan, kali ini ia pulang dengan perasaan yang berbeda. Kakaknya yang kebetulan juga baru pulang hanya tersenyum melihatnya.

“Kau darimana saja? Bertemu seorang gadis?”

Yesung tersenyum lagi. Ia lepas sepatu serta jaketnya. Tapi ia menaruhnya ke tempat yang tepat seakan Jeany akan langsung memarahinya jika itu tidak ia lakukan. Ia lalu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba ia berhenti. Beberapa detik ia terdiam, memikirkan sesuatu yang tiba-tiba terlintas dikepalanya.

“Yesung? Kau baik-baik saja?”

Ia berbalik, menatap kakaknya dengan seulas senyum.

“Aku rasa aku ingin pindah. Aku ingin tinggal sendiri.”

“Apa?”

Ia kembali menaiki anak tangga tanpa memperdulkan reaksi kakaknya. Begitu berada di dalam kamar, ia membuka laci lemarinya untuk mengambil sebuah kotak kecil yang warna merahnya mulai buram.

Ia duduk di sisi tempat tidur, memandang kotak itu dengan teliti. Perlahan-lahan ia buka hingga menampakkan sebuah cincin berlian yang sangat sederhana. Ia masih ingat bagaimana ia harus membongkar celengannya untuk membeli cincin tersebut. Ketika menyematkannya ke jari manis Jeany, ia berharap cincin ini tidak akan terlepas dan akan selamanya ada di jari itu. Sayang, kenyataan berkata lain.

Ia kembalikan cincin itu ke tempat semula, lalu berdiri di depan jendela. Ada sepasang kekasih yang sedang berjalan bergandengan tangan di bawah sana. Sepintas ia seperti melihatnya dan Jeany dulu saat berjalan di depan Anfield setelah menonton Liverpool dan saat mereka berjalan di tepi sungai Mersey. Itu sudah berlalu sangat lama, tapi baginya….ia baru mengalaminya beberapa saat lalu sampai suara tawa Jeany saat itu masih terngiang-ngiang.

Sekali lagi ia menghembuskan nafasnya. Mungkin kisahnya sudah selesai dimata pendengarnya hari ini. Tapi hingga saat ini, selama ia belum melihatnya….ia masih yakin bahwa kisah itu akan berlanjut.

Ia yakin kisah itu belum benar-benar berakhir. Dan cincin itu….akan kembali menemukan pemiliknya.

****TBC****

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. inggarkichulsung
    Jul 03, 2015 @ 21:51:27

    Aigoo kasihan bgt Jeany ternyata ia keguguran jg dan itu tdk sengaja terjadi krn dorongan dr Yesung oppa td yg mengenai perut Jeany, meskipun Jeany berusaha u menyelesaikan mslh nya dgn Siwon oppa tp tdk dibenarkan jg bahwa ia terlihat seperti berselingkuh dan tdk mengakui suaminya sama sekali, ditunggu kelanjutannya chingu

    Reply

  2. shikshincloud
    Jul 03, 2015 @ 21:52:06

    sediiiiiihhh T_T
    kecewa banget sama yesung yang ga bisa ngertiin dan ga bisa ngontrol emosi.

    Reply

  3. Novita Arzhevia
    Jul 04, 2015 @ 12:19:44

    Daebakkk, ceritanya selalu bikin aku nangis bombay bacanya. Jujur ff ini beda dari ff lain yg pernah aku baca, ceritanya logis, masalahnya kompleks dan dekat dg kehidupan nyata. . .pok0nnya daebakk!! Ditunggu next partnya

    Reply

  4. Lalala
    Jun 26, 2016 @ 06:43:08

    Yesung emosian bgt sih ckckc…
    Sedih bgt hubungan mereka
    author makasihh

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: