Angel’s Call [2/?]

angels call

Author : Sophie Maya

Title     : Angel’s Call (002)

Cast     : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC), etc

Genre   : School-life, romance

Rating  : G

Length : chapter

Note     : original fanfiction was published on my personal blog: www.sophiemorore.wordpress.com

 

 

“That voice may contained feeling and caring things.”

Moon Chae Won

 

Cho Kyuhyun biasanya tak menyimpan nomor telepon sembarang orang di ponselnya, bahkan Kyuhyun tak menyimpan nomor ayahnya karena berpikir dirinya tak akan pernah punya alasan untuk menghubungi pria itu. Kini Kyuhyun menyimpan nomor gadis yang semalam dihubunginya, gadis yang menjawab dua tebak-tebakannya dengan tepat.

Bibir Kyuhyun mengulas senyum, Kyuhyun ingin menanyakan bagaimana gadis itu bisa menebak sedemikian tepatnya? Cenayangkah dia? Atau dia punya indera keenam? Kyuhyun terus menebak-nebak sambil memberi nama pada nomor sang gadis.

Walau sebenarnya, lebih daripada itu, Kyuhyun amat senang karena untuk pertama kalinya ada orang yang meladeni tebakannya. Setelah sekian lama, ada orang yang menjawab pertanyaannya. Kyuhyun sulit untuk melupakan momen-momen dimana gadis itu menjawab dengan suara halusnya, dan Kyuhyun terkesiap dibuatnya. Momen itu terlihat sepele namun sungguh berharga baginya.

Bidadari.

Kyuhyun menatap layar ponselnya dan mengangguk menyetujui gerakan tangannya yang mengetik nama “Bidadari”. Gadis itu punya nomor digit 1004 di ponselnya. Gadis itu Bidadari.

Siapapun gadis itu, dan bagaimanapun Kyuhyun menamainya, Kyuhyun sudah bertekad untuk menyimpan nomor gadis itu di ponselnya. Kyuhyun punya firasat dirinya akan menghubungi gadis itu lagi.

“Kenapa pipimu terluka?”

Sebuah suara membuyarkan pikiran Kyuhyun. Kepalanya menengadah dan menatap sesosok ayahnya berdiri di depan pintu.

Kyuhyun beranjak turun dari tempat tidur dan menyambar handuk yang tergantung di kursinya.

“Kau bertengkar lagi?”

Ayahnya masuk ke dalam kamar dan segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pria itu jarang sekali masuk ke kamar Kyuhyun jika tanpa ada urusan penting. Dan Kyuhyun sudah menebak hal (yang menurut ayahnya penting) yang selanjutnya akan dikatakan.

“Guru lesmu bilang, kemarin kau bolos?”

Kyuhyun memutar bola mata dan tetap melangkah menuju kamar mandi.

“Kamarmu berantakan sekali, Cho Kyuhyun. Kau tak pernah bisa merapikannya barang sedikitpun?”

Kyuhyun terus berjalan ke kamar mandi, memutar kenopnya, dan masuk ke dalam kamar mandi. Dan membanting pintunya keras-keras.

“Cho Kyuhyun!!!”

Kyuhyun memejamkan mata. Suara ayahnya memaki-maki terdengar dari luar, berisik sekali. Lalu, terdengar langkah kaki terpogoh-pogoh menuju ke dalam kamarnya dan suara seorang wanita bergema mendominasi ruangan. Ada kalimat-kalimat yang samar terdengar di telinga Kyuhyun seperti “anak pembangkang!”, “kurang diajar!”, dan “aku tak tahu lagi bagaimana harus menghadapinya!”. Kemudian, semuanya berangsur sunyi.

Kyuhyun menebak sudah tak ada orang lagi di kamarnya. Kyuhyun menggantungkan handuknya di pintu dan menyalakan shower. Kucuran air yang begitu deras keluar, menendang-nendang lantai kamar mandi. Suaranya terdengar nyaring. Kyuhyun memutar keran shower sampai maksimal kemudian tanpa membuka baju, Kyuhyun beringsut ke bawah shower demi membasahi tubuhnya.

Dia harap air bisa merontokkan penat di kepalanya.

.

.

.

.

.

.

Cho Kyuhyun tak pernah ingat kapan terakhir dia melempar senyum kepada ayahnya. Mungkin tujuh tahun lalu? Delapan? Atau justru tak pernah sama sekali? Saat ayahnya memutuskan untuk menikah lagi tujuh tahun lalu, Kyuhyun tak pernah benar-benar ingat apakah dia merasa bahagia begitu melihat sosok ayahnya, yang ditemani wanita berwajah bulat dan bertubuh gempal, ibu tirinya itu.

“Aku tahu aku ayahmu. Tapi itu bukan berarti aku tak boleh mencari kebahagiaan lain kan, Cho Kyuhyun?” kata ayahnya saat pertama kali mengenalkan calon ibu tirinya.

“Aku tahu kau ayahku. Kau boleh mencari kebahagiaan lain.” Kyuhyun menggeser kursinya dan bangkit berdiri. “Tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

Kyuhyun memandangi calon ibu tirinya dan ayahnya bergantian dengan ekspresi dingin. “Kau tak boleh lagi melarangku menggapai kebahagianku sendiri.”

Ayahnya berpikir sesaat, lalu berkata santai, “tentu saja. itu terserah kau. Sebagai seorang ayah, aku justru senang kalau kau mau mencari kebahagiaan.”

Kyuhyun berdeham kecil, dan menyembunyikan seringai sinisnya.

“Memang seperti apa kebahagiaan yang kau inginkan?” tanya ayahnyanya lagi.

“Aku akan melakukan apapun, sesukaku.”

Ayah memandanginya lurus-lurus.

“Kebahagiaanku, saat aku tak lagi menganggapmu sebagai ayah.”

Ayah dan calon ibu tirinya terkesiap.

Kyuhyun tak menunggu jawaban dari ayahnya, dia langsung berbalik dan kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Dia menahan emosi yang bergerombol di dalam dadanya. Dia meremas tangannya kuat-kuat sampai kuku-kukunya menancap di telapak.

Ayahnya sungguh bodoh, jika ingin mencari kebahagiaan bagaimana mungkin Kyuhyun tak boleh diikutkan ke dalamnya? Jika ayahnya ingin menikah lagi, mengapa Kyuhyun tak boleh bersuara mengatakan setuju atau tidak atas keinginan ayahnya itu?

Kyuhyun tahu, pria itu adalah ayahnya. Tapi semenjak pria itu memilih mencari kebahagiaan baru dengan meninggalkan kenangan lama, Kyuhyun juga berpikir untuk mencari kebagiaan baru… dengan meninggalkan ayahnya.

Kyuhyun memencet speed dial nomor 1 di ponselnya. Sebuah nomor yang familiar baginya. Nomor yang tak pernah menjawabnya, yang tak pernah mengangkat teleponnya, dan juga tak pernah memakinya.

“Tebak-tebak,… aku ada dimana?” Kyuhyun bersandar pada pohon di halaman sekolah. Beberapa anak sedang bermain bola di depannya, tertawa-tawa dan sibuk berteriak meminta jatah lemparan bola. “Ada lapangan bola di depanku, beberapa anak menginginkan jadi penyerang padahal posisi mereka adalah bertahan. Aku merasa ngantuk sekali…”

Suara dering telepon masih terus terdengar.

“Tadi pagi aku bertengkar lagi dengan Ayah, dia melihat luka lebam di wajahku, tapi aku justru masuk ke kamar mandi dan tak mengindahkan teriakannya. Kemudian wanita itu, dia datang untuk menenangkan ayah yang berteriak-teriak marah.” Kyuhyun memandang langit biru, dua-tiga burung parkit berterbangan lalu hinggap di dahan pepohonan, tapi kemudian terbang lagi ke langit untuk bergabung dengan kelompok mereka. “Tebak-tebak, apa yang sedang kulakukan?”

“Telepon yang anda tuju tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut…”

Suara operator menghentikan ucapan Kyuhyun sejenak, tubuhnya bergetar hebat meski sudah ditahannya mati-matian. “I-ibu… ibu…” Kyuhyun menutup wajahnya, napasnya menderu penuh panas. “Ibu… ibu… tebak-tebak, apa yang sedang kulakukan?”

Kyuhyun berharap Ibu mengangkat teleponnya, menjawab tebakannya. Tapi sampai kapanpun Kyuhyun berharap, hal itu tak akan kunjung terkabul.

.

.

.

.

.

.

Sungmin datang tergesa kea rah Kyuhyun ketika dilihatnya dari jauh pemuda itu sendirian di bawah pohon. Sungmin tahu Kyuhyun baru saja menangis, Sungmin tahu itu. Dia hanya berusaha untuk pura-pura tak tahu dan menepuk bahu Kyuhyun dengan keras.

Bel istirahat telah selesai dari tadi dan Sungmin tak melihat Kyuhyun berada di kelas. Kyuhyun pasti bolos, begitu tebak Sungmin. Dan spekulasinya terbukti benar saat melihat Kyuhyun terduduk sambil memegangi ponsel di bawah pohon beringin belakang sekolah, tempat favorit Kyuhyun untuk menenangkan diri.

“Kyu!”

Kyuhyun berbalik dan menoleh pada Sungmin. Diusahakannya agar wajahnya tak terlihat sembab. “Apa?” tanyanya galak.

“Tidak masuk kelas?” tanya Sungmin.

“Kenapa aku harus masuk kelas?” balas Kyuhyun.

Sungmin mengangkat bahu. Dia selalu kalah jika mengajak Kyuhyun berdebat, dan baginya sia-sia saja jika terus memaksa Kyuhyun melakukan sesuatu yang tak disukai pemuda itu. Jadi lebih baik dia mengalihkan dengan topik pembicaraan lain.

“Mereka masih berulah lagi, Kyu.” Sungmin membuang sisa-sisa abu rokok yang lagi dihisapnya. Mata Sungmin jelalatan kesana kemari, memastikan tak ada guru yang menangkap basah apa yang sedang dilakukannya.

“Pelajaran kemarin malam belum selesai?” Kyuhyun memasukkan ponselnya ke saku.

Sungmin menggeleng. “Mereka bodoh dalam memilih lawan.”

“Mereka bodoh karena masih juga tak mau mengalah.” Kyuhyun membuang ludah, lalu berdiri dari duduknya. “Ayo!”

Sungmin mengernyit heran. “Kemana?”

“Menemui mereka.”

Sungmin melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sekarang?”

“Memang kapan lagi?” Kyuhyun menoleh pada Sungmin. “Hubungi Henry dan Zhoumi, suruh mereka bolos kelas.”

“Tapi Kyu, sebentar lagi jam pulang sekolah. Bagaimana kalau nanti sore, saja?”

Alis Kyuhyun saling bertaut. “Apa bedanya sore atau sekarang? Lebih cepat justru lebih baik.”

“Ta-tapi, Kyu…” Sungmin menahan tangan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun berhenti melangkah dan kembali menoleh padanya.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“Kau kan ada les piano setelah pulang sekolah…” ujar Sungmin takut-takut. “Kau… kemarin sudah bolos… kalau sekarang bolos lagi…”

Kedua mata Kyuhyun menyipit. Dipandanginya Sungmin cukup lama, hingga membuat Sungmin resah sendiri. Kyuhyun menghela napas berat, lalu meninggalkan Sungmin seorang diri.

Kyuhyun sudah bisa menebak, ayahnya, atau wanita yang menjadi ibu tirinya, telah meminta pada teman-temannya untuk mendorong Kyuhyun agar tak bolos les lagi. Kyuhyun menyeringai sebal, baginya Ayahnya sama saja dengan orang-orang congkak yang suka memutus sambungan teleponnya.

.

.

.

.

.

.

Chae Won mengusap matanya kemudian memandangi sekeliling ruangan tempatnya tidur. Hanya ada ranjang kecil, meja rias, dan cermin berbentuk oval yang terpajang di dinding. Selebihnya, ruangan ini masih dipenuhi kotak-kotak kardus yang belum terbuka.

Jam menunjukkan pukul sembilan, dan sepertinya pagi, karena Chae Won melihat seberkas sinar matahari menyambar dari celah tirai yang tak tertutup rapat. Bola mata Chae Won bergerak memandangi baju yang dikenakannya. Piyama putih yang dipakainya semalam sudah berganti dengan sweater biru muda dan training berwarna senada. Sweater dan training itu memberikan rasa hangat di tubuhnya.

Kemudian, pintu kamarnya diketuk dua kali, dan tanpa menunggu Chae Won menjawab, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring bubur.

“Kau sudah bangun, Chae Won…?” wanita itu menyapa sembari tersenyum manis.

Wanita itu meletakkan nampan di meja rias samping tempat tidur. Lewat lirikan mata, Chae Won melihat wanita itu mengelap sejumput debu yang masih lengket di permukaan meja. Chae Won menundukkan kepala dan menatap selimut beludru di pinggir ranjang ketika wanita itu menoleh ke arahnya.

“Mau susu?” tanya wanita itu.

Chae Won mengangguk kecil.

Wanita itu membawakan segelas susu ke hadapannya. “Minumlah, pelan-pelan… jangan terburu-buru.”

Chae Won mengangguk lagi. Dan mengambil gelas itu. Rasa susu begitu manis di tenggorokannya, dan sedikit sakit karena sudah hampir seharian memang Chae Won tak memasukkan apapun ke dalam kerongkongannya yang mengering.

“Maaf,” ucap Chae Won pelan dan nyaris tak terdengar. “Maafkan aku atas kejadian semalam.”

Wanita itu memandangi Chae Won dengan sorot mata sedih. “Aku senang kau kembali ke rumah.”

Suara lembut wanita itu membuat Chae Won semakin bersalah. Gadis itu menggenggam gelas ditangannya yang separuh kosong dengan gemetar.

Semalam, dia hampir saja melakukan hal bodoh tanpa pikir panjang.

Semalam, dia hampir saja bunuh diri, melompat dari atas jembatan Sungai Han.

Semalam, dia hampir saja menyerah atas kehidupannya…

Air mata mengalir membasahi wajah Chae Won. “Maafkan aku, Ibu… aku anak yang durhaka, kau pasti menyesal melahirkanku… maafkan aku… aku sudah membuatmu malu…”

Chae Won merasakan tangan wanita itu, ibunya, merengkuhnya dalam pelukan.

“Chae Won, sayangku, buah hatiku… tidak pernah ada ibu yang menyesal melahirkan anak sepertimu,” ucap ibunya.

Chae Won memejamkan matanya, napasnya tersendat-sendat. “Ta-tapi… kau pasti khawatir karena kemarin aku tiba-tiba kabur dari rumah dan tak kunjung kembali …”

“Tapi yang terpenting, kau sekarang sudah kembali, kan?” potong ibunya cepat. Pelukannya  semakin bertambah erat. “Oh, Sayang… ibu mencarimu kemana-mana dan Ibu bersyukur kau kembali dalam keadaan sehat. Kau tahu kan, Nak… Seoul begitu luas. Ibu pikir kau tersesat atau ketakutan tak menemukan jalan pulang, tapi Ibu lega pikiran buruk itu tak terbukti.”

Chae Won hanya diam.

Ibunya tidak tahu apa yang dilakukan Chae Won tadi malam. Ibu hanya tahu Chae Won pulang tengah malam setelah seharian menghilang. Saat kemarin pulang, Chae Won langsung berlari memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu. Dia meminta maaf karena kabur dari rumah dan tak memberi kabar. Dia hanya merasa begitu sedih dan ingin melarikan diri, sejauh mungkin.

Tapi kemudian Chae Won sadar dia tidak begitu kesepian seperti yang dikiranya. Dia punya orang yang masih memikirkannya, masih memperhatikannya. Dia masih punya Ibu.

Ibu tak mengatakan apapun selain ikut menangis. Ibu memeluknya menciumi pipinya, puncak kepalanya, matanya, lalu kembali ke pipi. Mereka terus bertangisan sampai Chae Won akhirnya tertidur. Mungkin ibu juga lah yang menggantikannya baju. Piyama putih yang dipakainya saat kabur ke jembatan kemarin benar-benar tipis dan membuatnya demam. Pakaian yang dipakaikan Ibu sekarang jauh lebih hangat.

“Ibu tidak akan marah padaku?” tanya Chae Won.

Ibu menggeleng. “Tidak akan pernah, buah hatiku.”

Chae Won tersenyum tipis, bebannya sedikit terangkat. Meski tak sepenuhnya, namun ucapan Ibu sudah cukup membuatnya merasa lega sekarang. “Ibu, terimakasih.”

Chae Won balas memeluk Ibu dan terus merapalkan kata “terimakasih” tanpa suara. Chae Won sungguh bersyukur memiliki Ibu yang menyayanginya, menerima kondisinya apa adanya, dan terus berharap Chae Won kuat menjalani semuanya.

Chae Won menatap tumpukan kardus di sudut ruangan. Hari ini dia akan membantu Ibu membongkar barang-barang. Hari ini mereka mulai menata kehidupan baru di Seoul.

.

.

.

.

.

.

Chae Won dan ibunya baru pindah dari Mokpo ke Seoul sudah sejak dua hari lalu. Banyak sekali barang yang harus mereka bongkar ulang di dalam kardus dan rasa-rasanya akan sulit jika dilakukan oleh dua orang wanita. Saudara mereka yang menetap di Seoul, Tante Ji Hyun dan anaknya, Siwon, datang sore hari untuk membantu membongkar dan menyusun barang-barang.

Siwon pemuda cekatan, badannya besar dan dia begitu baik hatinya membantu Chae Won merapikan kamarnya, dan memasangi poster-poster bergambar kucing—poster favoritnya yang dilungsur langsung dari rumah lamanya di Mokpo. Siwon seumuran dengan Chae Won dan mereka bisa akrab dengan cepat. Bahkan Siwon berkata, jika Chae Won masuk ke sekolahnya nanti, pemuda itu dengan senang hati akan menjadi pemandu bagi Chae Won.

“Kau sebegitu yakinnya aku akan sekolah di sekolahmu?” tanya Chae Won sambil melempar senyumnya pada Siwon yang sedang memasang biji-biji korden.

“Jelas yakin. Ibuku bilang, ibumu sudah mendaftarkanmu di sekolahku.” Siwon menyeringai, membuat lesung pipitnya terlihat.

Chae Won membalas seringai itu dengan tersenyum manis. “Wah, menyenangkan kalau begitu. Aku dan kau akan bersekolah di tempat yang sama. Kau jangan malu ya punya sepupu dari kampung.”

“Mana mungkin aku malu jika sepupuku sepertimu!” kelakar Siwon. “Kalau kau mau, aku juga bisa jadi pemandu saat kau ingin berkeliling Seoul.”

Siwon selesai memasangkan biji korden terakhirnya. Pemuda itu turun dari tangga sambil mengelap tangannya yang kotor dengan handuk. Siwon memperhatikan Chae Won sesaat, saat gadis itu mencelupkan kaki ke dalam baskom berisi air hangat yang baru diantarkan oleh Ibu ke dalam kamar. Siwon menghentikan langkahnya dan memandangi rambut lembut Chae Won terurai sampai menutupi wajah saat gadis itu menunduk untuk memijit-mijit kakinya. Siwon menahan napas tanpa sadar dan matanya menatap Chae Won iba.

Chae Won mengangkat wajahnya. Siwon buru-buru memasang ekspresi biasa dan berkata dengan nada berkelakar, “kakimu kenapa, tuh? Bengkak?”

Bahu Chae Won terangkat sedikit. “Iya, nih. Semalam kelamaan di luar rumah, tulang kakiku ngilu.”

“Ngilu biasa atau pakai ‘sangat’?” Siwon tak bisa menutupi ekspresi khawatirnya. Dia bergerak mendekat.

Tawa kecil keluar dari bibir Chae Won. “Ngilu biasa.”

Ibu kembali masuk kamar dan membawakan beberapa tablet obat untuk Chae Won. “Chae Won, ini obatmu.”

Chae Won mengangguk. Lalu menoleh pada Siwon. “Bisa kau keluar sebentar? Aku mau mandi dan berganti baju, keringatku banyak sekali.”

Siwon mengangguk patuh dan keluar dari kamarnya. Ibu mengatakan pada Chae Won akan menyiapkan air panas agar Chae Won bisa mandi sore.

Saat ibu sedang membuka lemari pakaian Chae Won, dan Chae Won sendiri sedang menikmati hangatnya air baskom di kakinya, tiba-tiba ponselnya berdering.

Diliriknya layar ponselnya. Telepon dari nomor disembunyikan. Chae Won meraih ponselnya dan menekan tombol berwarna hijau.

“Tebak-tebak, aku sedang dimana?”

Chae Won mengerjapkan mata mendengar suara berat di seberang.

Dia mengenal suara itu.

Suara pria yang semalam meneleponnya!

“Aku berada di tempat yang menjengkelkan dan membuatku mengantuk. Seharusnya, jika jam sekolah sudah selesai, aku pulang saja. bukan begini…”

“Tempat les.”

Ucapan Chae Won membuat Ibu menoleh dan menatapnya bingung.

Mungkin Ibu bingung siapa yang sedang menelepon Chae Won sekarang.

“Hampir tepat, tempat les piano, itu yang lebih tepat,” ujar suara di seberang.

Senyum tersungging di bibir Chae Won.

“Tebak-tebak, apa yang sedang kulakukan?”

“Menunggu giliran tampil?”

Sunyi sesaat. Kemudian, terdengar helaan napas berat. “Kau ini cenayang, ya?”

Chae Won terkekeh pelan dan bisa dipastikan di sudut kamar, Ibu menatapnya dengan raut super penasaran.

“Hei, kau tertawa…” ujar suara itu lagi. Kemudian sepi sesaat, hanya terdengar dentingan piano samar-samar, entah alunan apa yang sedang dimainkan, Chae Won tak begitu paham. “Hei, mmm… aku yang semalam lho.”

“Aku tahu,” jawab Chae Won.

“Mm… sudah dulu, ya. Aku harus tampil. Terimakasih.”

“Sama-sama.”

Klik. Sambungan terputus. Chae Won menaruh ponselnya kembali ke atas bantal. Serentak dengan itu, Ibu sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran di bathub. Chae Won mengangkat kakinya dari baskom dan mengeringkannya di karpet. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi sedikit tertatih.

“Tadi siapa?” tanya Ibu dalam posisi memunggungi Chae Won.

“Seseorang,” jawab Chae Won.

“Siapa?”

“Tidak tahu…” Chae Won menatap punggung Ibu. “… mm, belum tahu,” ralat Chae Won kemudian.

.

.

.

.

.

To be continued

7 Comments (+add yours?)

  1. Novita Arzhevia
    Jul 05, 2015 @ 04:08:31

    Ceritanya bikin penasaran. . .ditunggu next partnya

    Reply

  2. fify endah
    Jul 05, 2015 @ 14:08:53

    suka sama ceritanya
    manis banget
    chae won cocok jg untuk peran ini thor
    sip laaah😀

    Reply

  3. natasya
    Jul 05, 2015 @ 14:12:31

    apa yang terjadi sama chae won?
    dan aih lucunya liat telepon2an sama kyu

    Reply

  4. elmaaaa
    Jul 05, 2015 @ 15:01:12

    chae won sakit apa ?
    ditunggu kelanjutannya

    Reply

  5. lieyabunda
    Jul 06, 2015 @ 05:05:55

    seru,,,
    lanjut

    Reply

  6. esakodok
    Jul 08, 2015 @ 23:16:35

    hahahaha…
    feel anak SMAnya kerasa bangettt
    penuh dengan les yg menyebalkan walo sebenrnya bergun

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: