Birthday Present

Tittle : Birthday Present

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Hyo Jin

Author : snfelf

Genre : Sad, Life

Rating : Pg-15

Length : Oneshot

Note :

Fanfiction ini terinspirasi dari film Kangin yang berjudul cat funeral. Tapi alur dan selebihnya murni hasil pemikiran sendiri. Kritik saran amat terbuka lebar. Jadi, enjoy! Hehehe

Fanfiction ini juga udah di publish di wordpress aku jadi kalau yang mau main silahkan kunjungi www. marugurl90.wordpress.com

Thankyou~~

 

Birthday Present

 

Suatu pagi yang cerah di musim semi. Kim Hyo Jin tersenyum. Meyakinkan dirinya sendiri dan akhirnya membuka pintu kafe dihadapannya. Lonceng berbunyi. Menyapanya. Begitu juga dengan aroma kopi yang menusuk penciuman dan senyuman hangat salah satu pegawai.

“Hot Chocolate dengan sedikit bubuk vanilla diatasnya, benar kan?”  Hyo Jin hanya tersenyum kecil. Lalu mengeluarkan selembar uang dan mengabaikan pegawai tampan itu tanpa minat sama sekali.

“Juga Vanilla latte, dengan bubuk kayu manis. Sedikit.” Pegawai itu memandangnya. Bingung. Tapi tersenyum akhirnya.

Barang lima menit minuman pesanannya jadi. Hyo Jin mengambil dua cangkir itu dan berjalan menuju tempat duduk yang berada disudut ruang dekat pintu masuk. Gadis itu meletakan cangkir minumannya diatas meja. Melepaskan coat merah marunnya dan menduduki kursi dengan tenang. Ia sempat tersenyum getir, lalu membuang nafas dan menggulung rambut panjangnya dengan rapi keatas.

Tak ada yang dilakukan. Ia hanya terdiam sedang tangannya menggenggam erat kedua sisi  salah satu cangkir hangat itu. Raut wajahnya gugup, gelisah, begitu juga dengan ekor matanya yang terus menelisik pemandangan luar kafe dengan tidak tenang.

Lonceng berbunyi, sontak ia tersenyum. Menoleh, tapi lagi berakhir dengan helaan nafas kecewa karena tak mendapat objek yang dimaksudkan dengan hatinya. Dengan sedikit gemetar, Hyo Jin menyesap minuman itu yang asap kecilnya mulai menghilang.

 

February, 17th 2015

“Kau yakin tidak lelah?” Cho Kyuhyun meletakan plastic belanjaannya diatas pantry. Mengeluarkan isi sebagiannya dan dimasukannya kedalam lemari pendigin. Sesekali juga ia menatap Hyo Jin yang dengan apiknya sedang memasak dua hidangan sekaligus dalam satu waktu. Pria itu tersenyum.

“Harusnya aku yang bertanya, kau tidak apa-apa kan datang kemari? Manager Hyung tidak akan marah kan?” Pekerjaan Kyuhyun selesai. Pria itu menepukan tangannya beberapa kali dan berjalan menghampiri Hyo Jin. Ia menatap gadis itu. Senang. Lalu ia mengambil selembar tissue dari tempat tak jauh darinya dan dengan cepat mengelap peluh yang menghiasi dahi mulus Hyo Jin.

Hyo Jin terkekeh. “Tidak, aku kan sudah menjalankan jadwal ku dengan baik. Manager juga pasti mengerti kalau aku ingin memiliki waktu berdua denganmu. Seperti biasa.”

Kyuhyun dengan cepat memeluk tubuh Hyo Jin. Membuat gadis itu berjengit merasa terkejut. “Seperti baru pertama kali saja.”

Hyo Jin terkekeh lagi. Lalu ia tersenyum. Tangannya cepat mematikan pemantik kompor dan berbalik menghadap Kyuhyun. “Kau kenapa huh? Tak biasanya seperti ini. Biasanya juga kau lebih memilih memainkan psp mu”

Kyuhyun mengecup bibir gadis itu sekilas. Membuat Hyo Jin menatapnya kesal. “Kalau aku bertanya itu tandanya aku butuh jawaban, bukan kecupan bodoh”

“Kalau aku mengecup mu itu tandanya kau tak boleh bertanya lagi. Karena apa? Karena kalau kau akan bertanya lagi aku akan memberi jawaban ku yang sama”

Hyo Jin mendesis. Lalu, ia mendorong tubuh Kyuhyun dan berjalan ke sisi lain. Mengambil dua piring dan menuangkan hasil masakannya keatas sana. “Ayo, hampir semuanya siap. Kau bisa siapkan kue ulang tahun mu sendiri kan? Cepat ambil di lemari pendingin”

Kyuhyun tertawa. Merasa gemas sendiri melihat tingkah kekasihnya. Tapi, setelah itu ia menuruti perkataan Hyo Jin dan mengambil kue tart berukuran sedang dari dalam lemari pendingin.

Tampak lezat. Apalagi diatasnya bertaburan keju dan coklat parut yang tampak kontras untuk dijadikan sebagai hiasan. Kyuhyun meletakan kue itu diatas meja makan. Berada ditengah diantara hidangan lain dan menjadikannya tampak mencolok sebagai hidangan utama.

“Kau yakin membuatnya sendiri?” Hyo Jin langsung menatapnya tajam.

“Cho Kyuhyun, dengar. Kau tahu? Bahkan kemampuan masakan ku satu level diatas ryeong oppa kan? Jadi.. kenapa kau meragukannya?”

Kyuhyun tertawa pelan. Ia berjalan mengambil beberapa lilin kecil dan di letakan tepat di atas kue tersebut. “Hyo..”

“Apa?”

“Saat ulang tahun nanti kau ingin hadiah apa dari ku?”

Hyo Jin melepas apron birunya. Membenahi sedikit rambutnya yang berantakan dan menarik kursi untuk didudukinya. Tersenyum, ia menatap Kyuhyun. “Menurutmu aku ingin apa?”

Kyuhyun menumpu tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja. Berpikir, pria itu membalas tatapan Hyo Jin. “Perlu Macbook baru? Atau….”

“Aku tak ingin apapun dari mu Kyu. Hanya saja satu”

“Eoh?”

“Aku ingin kau datang menemuiku. Dengan pakaian terbaikmu. Dihari yang cerah saat musim semi. Dan hari itu.. aku ingin mengabiskan waktu berdua hanya dengan mu. Tidak ada yang lain. Hanya itu Kyu. Kau bisa berjanji untuk ku kan?”

Kyuhyun tersenyum. Ia langsung menghampiri Hyo Jin dan mengucap puncak kepala gadis itu dengan sayang.

 

 

“Apa kabar?” Hyo Jin meletakan cangkirnya lagi. Sedikit mendongak, dan kini ia mampu bersumpah kalau jantungnya merasakan degupan kencang yang berlipat-lipat dari biasanya. Jika boleh… ia ingin sekali melompat kegirangan. Astaga!

Hyo Jin tersenyum. Senang. Sampai akhirnya pria itu duduk dihadapannya dan juga hanya menatap Hyo Jin dengan tatapan gugupnya. Entah kenapa… ada sesuatu yang menampar diri Hyo Jin hingga gadis itu merubat sorot matanya cepat-cepat menjadi sendu. Binaran yang sempat terpancar menghilang begitu saja.

Kyuhyun menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. Kalau boleh ia malah ingin merutuk. Kenapa bisa secanggung ini? Bukan kah dulu jika keduanya saling bertemu justru malah saling melempar senyum hangat dan membagi kehangatan lewat pelukan? Lalu sekarang… ?

“Aku sudah memesankan mu minuman kesenangan mu Kyu. Vanilla latte, kau masih suka kan?”

Baik. Hyo Jin harus membuang rasa gengsinya jauh-jauh. Ia sudah berjanji pada dirinya. Ini yang terakhir. Terakhir kalianya ia memaksa suatu keadaan. Dan setelahnya? Terserah. Terserah Tuhan ingin bagaimana.

Kyuhyun tersenyum kikuk. Ia hanya mengangguk lalu mengambil cangkir putih dihadapannya. Menyesapnya dengan pelan. “Maaf aku mengganggu waktu liburmu”

Rasa bersalah justru menyergap hati Kyuhyun. Menyingkapi hal itu, Kyuhyun malah memasukan tangannya kedalam saku mantel yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. “Aku belum sempat mencari sesuatu untuk hadiahmu Hyo, jadi maaf jika aku hanya memberikan ini” Kyuhyun menyodorkannya, dan Hyo Jin langsung mengambilnya.

Kyuhyun kira, Hyo Jin akan tersenyum senang, tapi nyatanya, pria itu malah menangkap guratan kecewa di wajah gadis itu. Tatapannya berubah. Dan senyum miring tercipta begitu saja. “Kau apa tidak….”

“Kau memang menepati janji mu untuk datang menemuiku Kyu. Tapi sepertinya kau lupa. Bukan ini yang aku harapkan untuk hadiah ulang tahun ku darimu”

Kyuhyun ingin membantah cepat-cepat, tapi terburu Hyo Jin berkata “Aku ingin pergi ku Pulau Nami Kyu. Sekarang”

 

Birthday present

 

Setelah bernegoisasi panjang dengan manager, Cho Kyuhyun berhasil mendapat izin untuk libur hari ini hinga akhirnya ia dapat mengajak Kim Hyo Jin pergi menuju pulau nami. Tapi, sedari tadi perjalanan, hanya terus menerus suasana canggung yang tercipta.

Kyuhyun berhasil memarkiran mobilnya dengan sempurna. Ia mematikan mesin mobilnya dan sudah melepaskan seat belt bersiap untuk keluar. Kyuhyun sempat menoleh, lantas ia menatap bingung kearah Hyo Jin yang malah terdiam menatapnya sendu.

Gadis ini…

Kenapa harus seperti ini? Kenapa membuat Kyuhyun merasa menjadi pria paling bodoh?

“Ayo, nanti kita bisa tertinggal kapalnya Hyo”

Hyo Jin tertunduk sesaat. “Kau tidak ingin memakai alat penyamaran mu?”

“Eoh?”

“Sepertinya aku tidak lagi ingin pergi ke Pulau Nami. Aku ingin disini saja” Kyuhyun menghela nafas. “Hyo…”

“Tapi aku tidak bermasalah jika kau ingin menolaknya”

Kyuhyun mengacak rambut Hyo Jin. “Sudahlah ayo keluar”

 

Birthday Present

“Sudah dua puluh tujuh tahun dan kau masih belum bisa naik sepeda? Astaga Kim Hyo Jin” Cho Kyuhyun kesal. Ia lelah. Jadi ia tak lagi memperdulikan Hyo Jin yang kini juga menatapnya kesal.

“Kau berjanji mengajariku naik sepeda”

“Tapi aku sudah mengajarimu kan? Tepat ditempat ini juga. Apa kau lupa? Aku bahkan mengingat dengan jelas kalau kau sudah dapat mengayuh sepedamu sendiri, lalu kenapa kau…”

“Kau melupakan bahwa kala itu aku juga terjatuh. Kau tak memperhatikan ku. Kau sibuk menerima panggilan dari……. Sudah lah”

Hyo Jin turun dari sepeda. Mengabaikan tatapan sendu Kyuhyun dan menggeletakan sepedanya begitu saja di hadapan pria itu. Demi Tuhan, Kyuhyun rasa-rasanya ingin segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. “Hyo….”

“Ne?”

“Aku….”

“Kyu, bisa kau ambil lollipop dari tas ku?” Hyo Jin duduk disamping Kyuhyun. Tersenyum dan merubah posisinya memunggungi pria itu. Sebenarnya, Hyo Jin hanya menghindar. Menghindar dari suatu pembicaraan yang dipastikan dapat merusak hari bahagianya. Jadi… tidak apa-apa kan?

“Tidak ada Hyo”

“Benarkah?” Hyo Jin membenarkan letak duduknya. Melepaskan tas punggungnya dan membawanya keatas pangkuannya. “hah, Hyukjae sialan! Jadi ia benar-benar mengambil semua lollipop ku?”

Kyuhyun tersenyum miris. Ada besitan sakit hati saat nama Hyungnya meluncur bebas begitu saja dari mulut Hyo Jin. “Kau… apa hubungan mu dengan Hyukjae hyung masih sedekat itu?”

Hyo Jin menghela nafas. Ia meluruskan kakinya dan menatap sungai han yang tenang itu dengan menerawang. “Bahkan lebih dekat”

“Eoh?”

“Karena ia bukan hanya sahabatku. Hyukjae… juga kakak ku. Sekarang, ia yang hanya ku percayai untuk melindungi ku. Tidak ada yang lain”

Jikalau ia tidak tahu diri, sudah pasti Kyuhyun akan segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. Memeluknya erat. Berjanji kalau ia tidak akan melepaskannya. Tidak akan membiarkannya pergi. Tapi…..

“Bersama Hyukjae hyung kau lebih bahagia bukan?”

“Cho, aku sedang tidak ingin membahas ini okey?” Kyuhyun menoleh. Menatap wajah Hyo Jin lekat-lekat. Tanpa sadar ia tersenyum. Cho. Hyo Jin memanggilnya dengan sebutan itu lagi. Sebutan kesenangannya.

“Setidaknya dengan begitu aku bisa lebih tenang”

Hyo Jin tertawa miris. Ia juga menolehkan wajahnya. Dan jadilah. Kedua mata mereka saling bertemu. Berkomunikasi. Saling melempar rindu. Namun, Hyo Jin memutus kontak keduanya cepat-cepat. Membuat Kyuhyun tersenyum kecewa. “Ku mohon aku hanya ingin bahagia di hari ulang tahunku. Jangan merusaknya hanya karena kita membahas hal ini Cho”

Kyuhyun mengangguk. Benar. Tanpa Hyo Jin ketahui ia juga merasakan perasaan-perasaan aneh yang menghimpit paru-paru. Sesak.

“Bisa kau tunggu disini?”

“Eoh?”

“Lima belas menit saja. Lima belas menit aku akan kembali dan kau tak boleh kemana-mana”

 

Birthday Present

 

Cuaca sedang tidak bersahabat. Dan Kyuhyun merutuk akan hal itu. Perasaannya cemas. Gelisah. Khawatir. Pasalnya kini ia sudah melewati batas waktu janjinya dengan Hyo Jin. Di tambah lagi dengan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur.

Dengan payung hitam hasil pinjaman pemilik toko di sebrang jalan sana, Kyuhyun berlari. Menghalau hujan dan berharap agar ia cepat sampai di tempat Hyo Jin. Dan benar…

Gadis itu masih disana. Menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu kebelakang dan malah mengadahkan kepalanya keatas menikmati hujan. Matanya terpejam. Kedua telinganya tersumpal dengan earphone kesayangannya yang Kyuhyun berikan dua tahun lalu.

Terburu Kyuhyun menghampirinya. Memayunginya.

“kenapa malah diam di bawah hujan?” Nada suaranya tinggi. Begitu juga dengan kilatan matanya yang terlihat marah. Hyo Jin membuka kedua matanya. Menegakkan tubuhnya dan hanya tersenyum menatap Kyuhyun.

“Kau selalu menepati janjimu”

Kyuhyun mendecak. “Ayo berteduh. Kembali saja ke mobil”

Hyo Jin menggeleng. “Kau selalu menepati janjimu. Kau selalu kembali lagi kesini. Menemuiku. Tapi.. tapi.. kenapa kau tak kembali di malam itu? Kenapa kau……”

Masa bodoh dengan payung. Tak perduli dengan kotak kue yang sudah terguyur hujan. Cho Kyuhyun, saat itu juga menarik Hyo Jin kedalam pelukannya. Memeluknya erat. Sesekali juga ia menciumi puncak kepala Hyo Jin dengan sayang. “Kau dulu pernah sehangat ini. Kau selalu hangat sekalipun saat itu musim dingin. Tapi… tapi… “

“Hyo maafkan aku”

“Sejak malam itu kau berubah. Kau menjadi orang lain. Yang tak ku kenal. Dingin. Menutup diri. Segala macam hal apapun itu. Kau tak lagi membagi senyum dengan ku lagi. Kau melepaskan genggaman tangan ku. Saat itu aku bertanya, ada apa? Apa masalahnya? Aku meminta maaf padamu.. namun apa yang kau katakan?”

Hyo Jin terisak. Dan Kyuhyun hanya terus memeluknya sambil terus mendengarkan. Mungkin… ini saat yang tepat untuk ia mendengarkan semua keluh kesah apa yang dirasakan gadis itu. Karena apa? Karena sekeras apapun Kyuhyun menyangkal, letak kesalahannya memang ada pada dirinya.

“Kau hanya mengatakan kalau aku tak bersalah. Dan tak seharusnya aku meminta maaf. Tapi jika aku memang tak melakukan kesalahan kenapa kau tiba-tiba meninggalkan ku seperti ini?”

Persetan dengan harga diri. Hyo Jin sudah tidak perduli lagi. Yang ia pikirkan kini adalah bagaimana caranya agar apa yang semua ia rasakan dapat ia sampaikan pada pria bernama Cho Kyuhyun. Bukan bermaksud memintanya kembali. Namun, paling tidak, dengan begitu Hyo Jin dapat merasa bebas. Dan Hyo Jin dapat pergi dengan tenang.

“Hyo….”

“Cho Kyu, aku punya satu permintaan lagi. Kau dapat mewujudkannya untuk ku kan? “

Hyo Jin memaksa melepaskan pelukan mereka. Tersenyum. Menatap Kyuhyun dengan penuh harap. Sedang Kyuhyun akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. “Apa?”

Hyo Jin menyodorkan tangan kirinya. Membuat Kyuhyun menatapnya bingung. Namun, setelah di lihat, Kyuhyun paham. Ada sesuatu yang sebenarnya sudah mengganggunya sejak tadi. “Kau ingat ucapan ku tiga tahun yang lalu? Dihari jadi kita, di Busan tower. Kau ingat?”

Sebelum menyelesaikan ucapannya, sebenarnya Kyuhyun sudah ingat dengan jelas. Tapi pria itu akhirnya hanya diam dan membalas tatapan Hyo Jin dalam-dalam.

“Aku tak akan mengucapkan ulang itu semua Kyu. Tapi…. Tolong lepaskan cincin ini dari jari manis ku” padahal sudah berhenti menangis. Tapi entah kenapa mengucapkan itu masih membuat Hyo Jin merasa tercekat.

Kyuhyun tersenyum miris. Dengan ragu ia menggenggam tangan Hyo Jin yang mulai mendingin itu. Memainkan cincin bermata disana. Ia tak sanggup. Benar-benar tak sanggup. Tapi kenapa ia harus melakukan ini semua? “Kau harus baik-baik saja. Apapun yang terjadi Hyo. Jangan telat makan. Jangan tidur larut. Dan lagi, jangan memaksakan dirimu untuk bekerja terlalu keras”

Hyo Jin mengangguk. Lalu ia merasakan tangannya telah menggenggam benda kecil itu. “Terimakasih karena telah memberikan ku hadiah ulang tahun terbaik untuk ku”

“Tidak. Aku ….”

“Sekalipun ini adalah suatu hal yang menyakitkan setidaknya aku akan tetap menganggapnya hadiah terbaik. Bahkan terindah. Kenapa? Karena hari ini jelas. Aku bisa mengucapkan selamat tinggal untuk mu”

“Hyo Jin-ah”

“Jika kemarin kau yang melepasku, kali ini biarkan aku yang melepaskan mu”

Hyo Jin tertunduk sesaat. Menghela nafas dan menatap Kyuhyun dengan tatapan sendunya. Setidaknya, biar begitu sorot matanya memang memancarkan suatu kelegaan. Hyo Jin tersenyum. Beriringan dengan air matanya yang terlihat saru akan air hujan. Kyuhyun sudah berniat untuk menghapus air matanya. Tapi, Hyo Jin buru-buru menepis lengan pria itu dan mundur beberapa langkah. “Kau harus hidup jauh lebih baik dengannya. Jangan berikan cintamu seperti kau berikan padaku. Kau harus memberinya lebih. Dan lagi.. jangan sakiti ia seperti kau menyakiti ku”

Kyuhyun tertohok. Dadanya merasa sesak begitu saja. Ia ingin berucap, tapi lebih dulu Hyo Jin melanjutkan ucapannya. “Aku harap Tuhan masih mengizinkan ku untuk menemuimu lagi lain waktu. Bukan esok. Bukan lusa. Bukan juga bulan atau tahun yang akan datang”

Baik. Berbagai aspekulasi negative mulai penuh memenuhi pikiran Kyuhyun. Apa maksud dari ucapan Hyo Jin?

“Hyo…”

“Cho Kyuhyun. Boleh aku meminta satu pelukan lagi darimu?”

Tanpa ragu Cho Kyuhyun langsung menariknya lagi. Memberikan pelukannya. Lagi. Dan Kyuhyun kira Hyo Jin akan membalas pelukannya. Ternyata tidak. Gadis itu hanya diam. Tak melakukan apa-apa. Sampai akhirnya ia mendorong pelan tubuh Kyuhyun dan memeluknya lagi. “Aku harus pergi sekarang. Terimakasih Cho Kyuhyun”

Tanpa menunggu respon pria itu, Hyo Jin berbalik. Berlari dibawah guyuran hujan. Meninggalkan Kyuhyun yang hanya diam termangu menatap punggung Hyo Jin yang perlahan menghilang. Seolah ditenggelamkan oleh air hujan yang makin deras. Dan Kyuhyun tersenyum sedih setelahnya. “Jadi semua sudah berakhir ya?” Gumamnya lirih.

6 Comments (+add yours?)

  1. Nam Hyunchan ELF
    Jul 04, 2015 @ 12:15:50

    sequel please.. hks…
    kenapa hubungan mereka harus berakhir.. aigooooo nex

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Jul 04, 2015 @ 14:35:40

    Yakkk! Babo kyu,!! Aduh nyesek menyayat hati bacanya!! Kenapa bisa sih kyu~ tega u yah… Aduh daebak ffnya thor

    Reply

  3. Nikyu
    Jul 04, 2015 @ 15:15:49

    Jahat lu kyu,menghianati hyo d hari ulang tahunnya😥

    Reply

  4. lailynurfauziyah
    Jul 04, 2015 @ 17:14:04

    Ugh, kyuhyun..

    Reply

  5. esakodok
    Jul 04, 2015 @ 22:04:14

    knapa mereka harus brakhir? tp g ada tanda tanda org ke tiga kok…
    ahhh….
    tanda tanya besarvsaengi mengenai konflik yg sebenernya terjadi

    Reply

  6. changtaeupy
    Jul 07, 2015 @ 19:56:17

    Sequel d0nk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: