Memories [12/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

************

“Aku kenal dokter bedah yang bagus. Mau coba? Dia pasti akan menemukan benda aneh dalam kepalamu itu.”

Yesung tertawa mendengarnya. Alex yang duduk dipangkuannya ikut tertawa seakan mengerti apa yang ayah serta pamannya katakan.

“Apa salahnya? Aku hanya ingin tinggal sendiri.” Yesung menerima secangkir teh yang disodorkan Alie. “Thanks, Alie.”

“Tapi kau tidak pernah suka sendirian.”

“Kurasa ini salah satu ide terbaik yang pernah muncul dalam pikiranku.”

“Apa kalau kau terpikir untuk melompat dari atas Big Ben maka kau akan langsung melakukannya?”

Alex memainkan mobil-mobilannya di atas meja. Ditabrakannya pelan ke cangkir teh ayah serta pamannya. Tak ingin minumannya tumpah atau mengotori meja, Yesung menyerahkan Alex pada Alie.

“Aku masih ingin melihatmu menari telanjang dada di café, jadi aku belum mau mati.”

“Kau masih mengingat janji itu?”

Yesung tertawa pelan mengingat janji konyol yang pernah mereka buat beberapa tahun lalu saat café Casey dibuka. Saat itu mereka duduk di kursi pengunjung, menunggu tamu pertama untuk datang. Casey berjanji jika usahanya tersebut sukses dan  berhasil membuat cabangnya di tempat lain, ia akan menghibur pengunjung satu malam penuh dengan menari sambil bertelanjang dada. Tapi hingga sekarang ia sudah sangat sukses dengan usaha itu, ia sama sekali belum menepatinya dengan alasan Alie tidak suka.

“Oke, jadi dimana kau akan pindah?”

“Aku sudah mendapatkan tempat yang bagus, dekat dengan kantorku. Lusa kau harus membantuku membereskan barang-barangku dan kau akan tahu bahwa pilihanku tidak salah.” Yesung menoleh pada Alie yang baru saja mendudukkan Alex di lantai. Alie tampak sibuk bolak balik dengan keranjang cuciannya. “Alie, kau juga harus membantuku.” Alie hanya tersenyum lalu hilang kembali.

“Apa Dennis setuju?”

Untuk pertanyaan ini, Yesung harus menahan tawanya sejenak. Ini benar-benar lucu.

“Kau pasti tidak percaya kalau dia bahkan hampir menangis setelah semalam aku menjelaskan maksudku padanya.”

Casey membelalakkan matanya. “Kau bercanda?”

“Aku pikir dia adalah orang yang paling bahagia mendengar berita ini. Dia pasti akan merasa merdeka lagi. Tapi jauh dari perkiraanku, dia justru memintaku untuk memikirkannya kembali.”

“Mungkin dia baru benar-benar merasakan punya saudara.”

“Kami sudah cukup tua untuk seperti itu.”

Casey mengangguk. Memang benar. Mereka sudah terlalu dewasa kalau tak mau disebut tua untuk tinggal bersama dan terlalu memikirkan satu sama lain. Dennis harus segera menikah. Begitupun dengan Yesung yang harus memulai hidup baru. Sepintas ia berpikir bahwa ini adalah cara Yesung untuk melupakan masa lalunya. Ia pun tersenyum. Kalau itu alasannya, ia setuju seratus persen. Yesung butuh perubahan suasana.

“Paman, bagaimana menurut paman? Bagus, kan?”

Pertanyaan Alex mengalihkan pembicaraan mereka. Awalnya Yesung hanya menoleh sekilas saja. Namun sedetik kemudian matanya melebar.

“Alex? Apa yang kau lakukan?”

Casey ikut melihatnya dan untuk kesekian kalinya ia ingin memusnahkan benda yang bernama gunting di rumahnya itu.

“Alex, kalau kau ingin bereksperimen, jangan gunakan baju dari dalam lemari. Alie!!! Sudah kubilang kunci semua lemari pakaian. Jangan biarkan terbuka!!”

Alex terkekeh. Ia tak peduli dengan pendapat ayahnya. Ia malah mendekati Yesung, memamerkan hasil karyanya. Ia baru saja menggunting dress ibunya. Ia bentuk menjadi bagian kecil dan tampak seperti gaun perempuan untuk anak kecil seusianya.

“Bagaimana? Bagus? Aku juga bisa membuat jas sendiri,” ujarnya dengan pengucapan yang belum jelas sambil bersiap untuk masuk ke kamar lagi. Dan sebelum terjadi sesuatu pada koleksi jasnya, Casey segera merampas gunting dari tangan anak itu. Menyimpannya ke atas kulkas.

“Sepertinya kita harus pergi belanja. Kita lihat benda apa yang bisa kau gunakan untuk melampiaskan hobi anehmu itu.”

Yesung tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Tak mau ikut campur, ia melangkah pergi setelah menghabiskan tehnya. Hari ini ia ada janji dengan pemilik rumah yang akan ia tempati. Minggu lalu ia sudah kesana untuk melihat-lihat. Setelah mengeceknya, ia setuju dan langsung melakukan transaksi pembayaran saat itu juga. Dan hari ini ia kesana untuk mengecek apakah permintaannya agar toilet serta kamar tamunya diperbaiki sudah selesai atau belum. Jika sudah siap, maka lusa ia akan langsung pindah.

Ia menggunakan taksi. Mobil antik peninggalan ayahnya nyaris tak pernah ia pakai lagi. Sehari-hari ia bekerja menggunakan taksi atau bus. Dan setelah pindah nanti, sepertinya ia bisa lebih berhemat dengan berjalan kaki. Jaraknya hanya satu kilometer. Sangat dekat.

“Ah, good evening, Mr.Han.” Yesung turun dari taksi, menyapa sipemilik rumah yang sudah lebih dulu tiba. Pria berkepala plontos itu menjabat tangannya singkat.

“Hari yang menyenangkan? Kau terlihat sangat gembira.”

Yesung tersenyum. “Sepertinya aku hanya terlalu bersemangat. Aku tak sabar ingin segera pindah.”

“Baiklah, kupastikan kau tidak akan menarik uangmu kembali.”

Mereka tertawa lantas berjalan bersamaan. Ia menatap taman depan dimana terdapat susunan batu sebagai pijakannya. Ia lalu memperhatikan beberapa rumah yang berdiri tepat di sebelah rumah barunya. Ia suka suasananya. Sepertinya kekhawatiran Casey bahwa ia akan kesepian disini tidak akan terbukti. Belum apa-apa, ia bisa merasakan bahwa ia punya tetangga yang sangat berisik. Ia suka itu.

“Mom…..aku pergi!!”

“Adam!! Kau tidak boleh pergi sebelum menghabiskan susumu!!”

Langkahnya terhenti tepat sebelum masuk ke dalam rumah. Lekas-lekas ia menoleh ke samping kanannya untuk menemukan sumber suara. Dan pintu di rumah sebelahnya itu terbuka, menampakkan anak kecil yang berlari sambil membawa bola. Di luar, dua temannya sudah menunggu. Entah kenapa matanya masih tertuju pada pintu yang sudah tertutup itu, seakan ia menunggu siapa lagi yang akan keluar.

“Tuan? Ada masalah?”

Yesung tersadar.”Ah, maaf.”

Ia lalu masuk, segera menuju toilet serta kamar tamu.

“Bagaimana? Puas? Atau masih ada yang kurang?”

Yesung berdiri di depan pintu. Langit-langit kamar itu sudah dicat putih dimana sebelumnya berwarna coklat muda. Dindingnya sudah ditambah wallpaper bermotif sesuai pilihannya. Lampu-lampu yang rusak sudah diganti.

Ia mengelilingi kamar itu lalu berhenti di depan jendela. Ia sibak tirainya, ia angkat kacanya ke atas dan ia bisa melihat tanaman  yang berjejer rapi sebagai pembatas. Ia sudah akan berbalik saat melihat bayangan seseorang pada rumah di sebelahnya. Jika tebakannya benar, maka rumah itu dihuni oleh sebuah keluarga. Dan yang dilihatnya sedang mondar mandir itu adalah seorang wanita atau ibu dari bocah yang tadi.

Ia tersenyum. Tanpa alasan pasti, ia ingin segera berkenalan dengan tetangga barunya itu.

“Jadi?”

Yesung membalik badannya, baru sadar bahwa ada orang yang sedang menunggu jawabannya.

“Well, aku tidak punya alasan lagi untuk menolaknya. Lusa aku akan pindah.”

***

“Bagaimana keadaannya?”

Pria itu menggeleng. “Kau adalah orang ketiga yang menanyakannya setelah dua polisi itu,” jawabnya sambil menunjuk dua orang pria berseragam polisi yang berjaga di depan sebuah pintu ruang rawat pasiennya.

“Kudengar pelaku perampokannya sudah ketemu. Dia ditangkap saat mencoba kabur ke California.”

“Maksudmu di bandara? Tidak terdengar seperti perampok.”

“Kau harus tahu berapa uang yang dikumpulkannya dari merampok si asia itu.”

Mereka terus berjalan dengan pelan. Allan, nama pria yang berjalan disisi kiri itu memijit kepalanya. Saat ia menunduk, ia merasa lantai tempat ia berpijak berbayang-bayang.

“Kau baik-baik saja?”

Allan berganti memijit bahunya. Sepertinya ia terlalu memforsir tenaga dan pikirannya hari ini. Tiga korban kecelakaan berbeda, salah satunya meninggal dunia, lalu ada korban keracunan masal dari sebuah perusahaan, ditambah dengan kondisi pasien asianya itu yang sempat menurun. Semua diperparah dengan ia yang belum memakan apapun sejak pagi.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Eddy, pria yang merupakan rekannya di rumah sakit itu menepuk bahunya pelan. “Perlu kuantar? Aku juga ingin bertemu dengan Adam.”

“Dan kau yang akan membawa mobilku?”

“Sure. Aku tidak mau kau mengemudi dalam keadaan seperti ini,” jawabnya dengan begitu tenang. Allan mengabaikannya lalu berjalan lebih dulu menuju ruangannya. Ia tak merasa perlu diantar oleh Eddy. Selain karena Ia tak menemukan sedikitpun rasa kepedulian dari cara Eddy mengatakannya, ia juga belum mau menyerahkan nyawanya pada malaikat. Mempercayai Eddy mengendarai mobil, sama halnya dengan merelakan dirinya berada dalam titik antara hidup dan mati. Eddy belum punya SIM. Ia tak pernah lolos tes mengemudi di usia tiga puluh empat tahun. Bagaimana Allan bisa mempercayai nyawanya yang hanya satu ini untuk seorang Eddy Robhin?

“Hey, Allan. Kau belum mempercayaiku? Minggu depan aku akan ikut tes lagi dan kali ini aku pasti lulus.” Eddy menyamakan langkah mereka, ikut masuk ke dalam ruangan Allan. Saat Allan terlalu sibuk menyiapkan tasnya, ia segera menahan gerakannya dan menutup aksesnya untuk keluar.

Allan menarik nafasnya. Ia mulai mencium bau tak sedap disini.

“Apa yang membuatmu begitu ingin mengantarku?”

“Aku hanya ingin menginap. Aku pernah berjanji pada Adam akan battle dengannya, kurasa ini saat yang tepat.”

Allan mengecek jam tangannya. “Sudah jam sepuluh. Adam pasti sudah tidur. Kalaupun ia belum tidur, aku tidak akan membiarkannya bermain game denganmu.”

Eddy tersenyum dan akhirnya Allan mulai paham apa yang disembunyikan oleh pria itu. Ia melipat kedua tangannya didada. “Hm, ada yang perlu kuketahui?”

“Tidak ada. Aku hanya…”

“Kalau begitu pulanglah,” potong Allan  dan segera menyingkirkan lengan Eddy dari pandangannya. Ia berjalan cepat sambil menenteng tasnya tanpa peduli  panggilan Eddy.

“Allan, please, biarkan aku menginap di rumahmu malam ini.”

“Kalian ada masalah lagi? Rumahku bukan penampungan suami-suami yang sedang bermasalah dengan istrinya.”

Eddy berhenti, membiarkan Allan terus berjalan. Saat Allan akan masuk ke dalam lift, ia bisa mendengar Eddy berteriak, “Tunggu sampai Jeany tidak mau bicara denganmu!!!”

Allan hanya tersenyum menanggapinya. Ia masuk ke dalam lift, berbalik dan melambai dengan senang pada Eddy. Saat apa yang dikatakan oleh Eddy itu terjadi, pastilah hanya ada dalam mimpi. Ia dan istrinya kadang juga bertengkar. Tapi mereka tak pernah saling berdiam diri. Mereka selalu menyelesaikannya saat itu juga. Bagi mereka, jika ada masalah, langsung selesaikan dan jangan menunda untuk membicarakannya. Pernah mereka menghabiskan satu malam penuh untuk mendebatkan sesuatu yang sebenarnya tidak cukup penting. Meski lelah dan mengantuk, mereka lega karena berhasil menemukan solusi. Dan ia juga bangga karena istrinya itu bukan tipe istri yang akan mencurigai kelakukan suaminya.

Beberapa waktu lalu saat ikut dengan Eddy ke rumahnya, sambutan yang diterima Eddy dari Terry bukanlah sebuah sambutan hangat. Terry justru bertanya, “Sejak kapan kau mengganti parfummu? Noda apa ini? Kau yakin tidak melakukan apa-apa? Allan, kau melihatnya melakukan sesuatu yang mencurigakan? Ah, bukankah kau temannya? Tentu kau akan melindunginya.”

Kalau itu terjadi pada istrinya, mungkin ia akan berpikir dua kali untuk langsung pulang ke rumah. Ia harus meyakinkan segala hal sempurna sebelum akhirnya berani menekan bel.

“Kau pulang?” Ia tersenyum. Jeany yang membukakan pintu. Ia disambut satu kecupan manis dibibir dan senyuman hangat. Ia tahu Jeany pasti bosan selama menunggunya, tapi ketika ia pulang, tak pernah sekalipun Jeany mengeluhkannya.

“Kenapa malam sekali?”

“Kondisi si asia itu sempat menurun. Jadi aku..”

“Bisa kau berhenti menyebutnya begitu? Aku tidak pernah suka kau mengatakannya seakan kami berbeda.”

Allan melepas jasnya lalu melempar tubuhnya di sofa. Ia lupa kalau istrinya juga berasal dari tempat yang sama dengan pasiennya. Dan istrinya itu sangat sensitive. “Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Hm, dimana Adam?”

“Sudah tidur, aku baru saja mengeceknya. Tapi tadi dia sempat berulah dengan mengganggu teman wanitanya di sekolah. Ibu dari anak itu bahkan datang kemari.”

“Memangnya apa yang dilakukan Adam?”

“Dia dan temannya mengambil tas dan sepatu anak itu lalu digantung di atas pohon. Anak itu sampai menangis.”

“Hanya itu?”

Jeany mendekati Allan yang sibuk merenggangkan otot-ototnya. “Hanya itu kau bilang?”

“Oke, aku tahu itu tidak benar. Tapi itu masih dalam tahap wajar bagiku.”

“Tidak wajar dimataku. Dia harus bisa bersikap lebih baik. Dan sekarang….” Jeany menarik tangan suaminya itu ke meja makan, memperlihatkan bahwa banyak menu yang belum tersentuh akibat ia yang menunggu kedatangannya.

“Aku tahu kau belum makan. Lekas mandi lalu kita makan bersama.”

“Oke, sepertinya aku terlalu berselera untuk melewatkan makan malam ini.”

“No. Kau harus mandi dulu.”

Jeany mendorong dada Allan. Ia lempar handuk dan menyuruhnya masuk ke kamar mandi. Ia tak suka aroma tubuh Allan jika sedang berkeringat.

“Apa yang akan kau berikan setelah aku mandi?” tanya Allan sesaat sebelum masuk ke kamar mandi.

“Tentu saja makan malam.”

“Hanya itu?”

Jeany menyipitkan matanya yang memang sudah sipit itu. Ia raba dada suaminya lalu melepaskan dua kancing kemejanya dengan pelan.

“Setelah makan, aku akan mengajarimu cara meneriakkan namaku dengan benar.”

Allan tersenyum seduktif. Sebelum nafsunya menggila, ia jauhkan kedua tangan Jeany lantas melangkah mundur melewati pintu kamar mandi. Namun baru juga ia berbalik, ia bertanya lagi. “Ah, kudengar kita punya tetangga baru.”

“Mr.Han sudah menemukan penjual yang tepat. Kudengar rumah itu akan ditempati besok,” jawab Jeany sekedarnya sambil sibuk merapikan meja makan. Ia ke dapur, mengambil air lalu menuangkannya ke dalam gelas.

“Dan kudengar dari Mr.Han, dia juga orang Korea.”

Tubuh Allan yang sudah masuk sepenuhnya kembali keluar. “Korea?”

Jeany mengangguk. “Kenapa?”

“Pasienku itu berasal dari Korea. Aku punya istri orang Korea dan aku akan punya tetangga baru juga dari Korea. Sepertinya kalian bertiga harus kupertemukan.”

Sebelum sendok ditangan Jeany melayang, Allan lebih dulu masuk dan mengunci pintu. Jeany lalu berbalik, berdiri mendekati jendela  lantas menyibak gordennya. Dipandangnya rumah tetangganya itu yang masih nampak gelap.

Ia tidak tahu alasannya, tapi sepertinya ia juga penasaran dengan pemilik baru rumah itu.

***

“Kau berniat mengangkut semua barang-barang disini?” Leeteuk sama sekali tidak membantu. Ia hanya berdiri, berkacak pinggang memperhatikan Yesung bersama Casey serta Alie mengangkut banyak barang.

“Lalu kau pikir aku harus membeli yang baru? Kau sudah dapat hak penuh atas mobil itu. Aku hanya membawa kulkas, lemari dan sofa.”

Leeteuk geleng-geleng kepala. Saat Yesung mengatakan keinginannya untuk tinggal sendiri, sama sekali tak terpikirkan olehnya kalau Yesung akan melakukan ini. Namun pada akhirnya ia tetap membantu dengan mengangkat kardus berisi barang pribadi milik Yesung ke dalam mobil pick up yang sudah parkir sejak pagi di depan rumah.

“Perlu dihibur? Bermainlah dengan Alex,” saran Casey sambil berlalu membawa salah satu kardus bersama Alie. Saat itulah Leeteuk baru sadar bahwa Alex, si bocah super kreatif itu sedang beraksi dengan gunting dan jasnya.

“Astaga!! Alex!!”

Yesung tertawa. Diacuhkannya kelakuan kakaknya itu kemudian meletakkan kardus terakhir ke  dalam bak mobil.

“Tidak ada yang tertinggal?”

Yesung menatap semua barang bawaannya. “Tidak ada.” Ia lalu menatap Casey dan Alie bergantian. “Thanks. Kalian sangat membantu.”

“Sangat aneh mendengarmu berkata seperti itu.”

“Sebaiknya kita langsung berangkat. Aku penasaran bagaimana rumah barumu. Biarkan aku mengatur semuanya,” seru Alie yang sepertinya menemukan hobi baru akhir-akhir ini, yakni menata ruangan. Minggu lalu ia bereksperimen dengan mengubah posisi semua property rumahnya, mengubah warna cat dinding, serta menambah ornamen-ornaman yang dibenci Casey seperti meletakkan replica bunga kaktus besar di sudut ruang tamu.

“Leeteuk hyung! Kita berangkat sekarang!”

Terdengar suara Leeteuk yang masih sibuk dengan jas mahalnya. Padahal Alex sudah tiba diluar, digendongan ibunya.

“Kita tinggalkan dia?”

Yesung mengangguk. Tak akan ada yang didengar Leeteuk jika itu menyangkut dengan barang berharga miliknya,. Maka mereka langsung meluncur ke lokasi. Yesung ikut dengan mobil pick up yang membawa barang-barangnya sedang Casey beserta keluarga naik mobil pribadi, mengekor di belakang. Begitu tiba, Yesung bisa melihat Casey dan Alie yang sepertinya terpana. Ia tak menyangka reaksi mereka akan seperti itu. Rumah ini memang bagus, tapi tidak sebagus rumah mereka.

“Kenapa? Terlalu besar untukku?”

Casey menggelang, ia menoleh pada Alie dan Yesung merasa ada yang tidak beres.

“Oke, apa yang kalian pikirkan?”

“Ini….kenapa kau memilih tempat ini?”

Yesung memperhatikan keadaan sekitar rumahnya. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang spesial. Sama seperti kawasan perumahan lainnya.

“Aku tidak memilih karena alasan yang spesifik. Aku hanya suka dan harganya cocok, jadi kubeli. Sebenarnya kenapa?”

Belum sempat Casey menjawab, perhatian Yesung teralihkan kala Alex berlari ke halaman depan dan bermain-main dengan sebuah bola.

“Alex sangat bersemangat. Well, apapun itu, saatnya bekerja!”

Casey dan Alie melupakan niatan mereka untuk mengatakannya dan bergegas membantu Yesung menurunkan semua barang-barangnya. Sofa dan kulkas menjadi barang yang cukup sulit untuk dipindahkan. Casey sampai menyesal karena sempat melarang Yesung menyewa jasa orang lain untuk membantu. Tahu begini, lebih baik ia tidak usah membantu. Casey terus menggerutu, mengeluhkan banyak hal seperti masalah punggungnya yang sakit belakangan ini.

“Akan kubelikan kau alat terapi yang kulihat di tv. Sepertinya cocok untukmu yang sudah cukup umur.”

Casey mendelik. “Tua? Lihat tanda pengenalmu lalu kau bisa menyinggung masalah umurku.”

Pekerjaan itu berlangsung nyaris seharian. Yesung terpaksa mengambil ijin untuk hari ini dan tidak masuk kerja. Ia sendiri tak menyangka bahwa pindah rumah bisa menyita waktu dan tenaga seperti ini. Alie pun terlihat paling sibuk. Saat yang lain berisitirahat di sofa, menikmati sirup jeruk buatannya, ia masih mondar mandir untuk menata semuanya. Yesung tak ambil pusing. Ia percayakan kondisi rumah barunya. Ia hanya berharap semoga selera Alie tidak payah seperti Casey.

“Apa yang kau lihat?” Yesung memperhatikan Casey yang sejak tadi terus berusaha melihat keluar jendela. “Ada sesuatu?”

Casey menggeleng.”Tidak, aku hanya ingin tahu apa kau sudah berkenalan dengan para tetangga disini.”

“Tentu saja belum. Tapi sepertinya aku akan betah disini. Suasananya ramai.”

Casey sudah akan menanggapinya saat secara tak sengaja matanya melirik ke arah koran bekas yang tadi digunakan untuk membungkus barang-barang Yesung. Ia mengambilnya lalu memandangnya dengan teliti. Rasanya ia pernah melihat wajah dari orang yang ada dalam koran tersebut.

“Yesung, koreksi jika ingatan dan penglihatanku buruk. Tapi….bukankah ini Eunhyuk? Sahabatmu di Korea yang pernah kau perlihatkan fotonya padaku?”

Yesung segera merebut kertas koran itu. Dan matanya seketika melebar.

***

“Dimana pasien yang bernama Eunhyuk? Ah, maksudku Lee Hyukjae. Yang ini…ya, ya, yang ini.” Yesung menunjuk wajah Eunhyuk yang ada dalam koran ditangannya. Setelah mendapatkan nomor ruang rawatnya, ia segera berlari, memasuki lift dan menekan tombol enam.

Tangannya gemetar saat sekali lagi membaca kalimat demi kalimat dalam koran itu. Ia berusaha menemukan suatu kesalahan tapi tidak ada yang keliru disana. Semuanya tepat. Lee Hyukjae alias Eunhyuk merupakan korban perampokan di sebuah hotel tiga hari lalu. Ia tertembak dan belum ada seorang pun pihak keluarga yang bisa dihubungi. Ini sangat mustahil baginya. Eunhyuk disini. Eunhyuk ada ditanah yang sama dengannya. Tapi, kenapa situasinya justru seperti ini?

“Eunhyuk!!”

Semua mata mengarah padanya. Yesung berdiri di depan pintu, menatap seorang pria yang tengah menatapnya. Tanpa menundanya, ia langsung berlari ke dalam, nyaris memeluk pria itu kalau saja tak menyadari bahwa ada tiga orang lagi disana. Tapi kemudian ia kembali mengabaikan itu.

“Ini sungguh kau? Eunhyuk?”

Pria itu mengedipkan matanya dua kali. Hingga Yesung melepas kacamatanya, barulah ia bersuara,”Yesung???”

Yesung mengangguk cepat. Eunhyuk tersenyum dan akhirnya ia yakin bahwa ia tidak salah mengenali orang.

“Maaf, kau mengenal pria ini?” salah seorang yang ada di ruangan itu bertanya. Yesung tersenyum padanya.

“Ya, aku adalah temannya. Kami berteman saat masih berada di Korea,” jawab Yesung sekedarnya. Ia lalu kembali pada Eunhyuk, “Kau sendiri? Apa yang terjadi padamu? Apa yang membawamu kemari?”

Sadar takkan mendapat jawaban memuaskan, akhirnya kedua orang berseragam polisi disana mengundurkan diri. Mereka yakin takkan mendapat tempat diantara dua orang yang sedang melakukan reuni itu.

“Ehem..”

Yesung dan Eunhyuk menoleh bersamaan. Dan ternyata masih ada seorang lagi didekat mereka.

“Dokter, maaf. Perkenalkan, dia temanku, Yesung.”

Yesung mengulurkan tangannya yang langsung disambut ramah. “Allan. Aku dokter yang menangani Eunhyuk selama disini.”

Mereka berjabatan singkat kemudian memberikan ruang untuk Yesung dan Eunhyuk berbincang lebih lama. Ia hanya menyarankan agar Eunhyuk tidak terlalu bersemangat sebab luka diperutnya yang belum sembuh benar. Yesung dan Eunhyuk memang menganggukkan kepala, tapi begitu dokter tersebut tak menampakkan batang hidungnya, mereka langsung lupa.

“Oke, jadi ceritakan padaku apa yang terjadi padamu! Kau harusnya memberitahuku kalau akan kemari. Ini Liverpool, kawan. Ini bukan salah satu negara yang ingin kau kunjungi jika kau sudah punya uang.”

Eunhyuk tertawa pelan kemudian meringis karena luka diperutnya itu. Ia tak menyangka bahwa Yesung masih mengingat perkataannya.

“Jadi, darimana aku harus memulai? Dari bagaimana aku mendapatkan banyak uang? Atau…dari cerita pernikahanku dengan Hyerin?”

“Ah, kau bisa me…tunggu!! Siapa kau bilang?”

Eunhyuk tersenyum simpul. Yesung segera menarik kursi dan duduk dengan nyaman. “Kau dan Hyerin????”

“Ya, sekarang pasti dia sangat khawatir padaku.”

“Ya Tuhan, bagaimana bisa?”

Yesung sepertinya terlalu excited sampai lupa bahwa harusnya Eunhyuk belum boleh banyak bicara dan bergerak. Ah, tapi Eunhyuk sendiri tak masalah. Maka selama rasa penasarannya belum terpenuhi, ia akan terus bertanya.

“Jangan lewatkan apapun. Aku akan menginap disini untuk mendengarmu.”

***

Leeteuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah baru Yesung. Dengan sedikit terburu ia turun dari mobil sambil mengecek jam ditangannya. Dan ketika ia mencoba mendorong pintu, ternyata pintunya terkunci.

“Yesung!!” Ia tekan belnya satu kali. “Yesung!!”

Tidak ada jawaban.

“Jerome!!! Buka pintunya!!” Ia tekan sekali lagi, tetap tidak ada yang menjawabnya.

“Yesung! Jerome! Kau lupa namamu, huh?”

“Kau mencari si sipit itu?”

Ia menoleh ke sebelah kiri dan ia menemukan seorang anak lelaki kisaran usia sembilan atau sepuluh tahun sedang mendribling bola. Saat anak itu menatapnya, mau tak mau ia mendekat.

“Kau tahu dimana dia?”

“Kurasa pintunya belum terbuka sejak tadi.”

Leeteuk mendesah berat. Ia tahu ini hari minggu, Yesung semalam mungkin menghabiskan waktunya dicafe, tapi bukan alasan untuk tidur sepanjang hari dan melupakan janjinya.

Ia sudah akan melangkah pergi saat menyadari satu hal. “Kau orang asia juga?”

Anak itu menghentikan permainannya, mendekati Leeteuk dengan pandangan yang tak lagi bersahabat. “I’m liverpudlian.

Leeteuk membulatkan mulutnya. Sepertinya ia mengajukan pertanyaan yang salah. “Oh, oke.”

Ia pun kembali ke rumah Yesung untuk menghubunginya. Butuh waktu sekitar lima menit barulah pintu dibuka dari dalam.

“Ah, kau membuatku menunggu dan terpaksa bercengkrama dengan anak tetanggamu itu.”

Leeteuk masuk ke dalam rumah, Yesung menengok sebentar keluar untuk memastikan. Ia yang masih dengan kondisi setengah sadar hanya menggaruk kepalanya.

“Ada apa kau kemari pagi-pagi, hyung?”

“Kau yakin ini masih pagi?” Leeteuk berdiri di depan kulkas. Ia hampir emosi mendengar pertanyaan polos Yesung. “Kau sudah berjanji padaku akan ikut ke pesta Harry siang ini.”

Seakan tak tertarik sama sekali, Yesung malah merebahkan tubuhnya disofa. Dengan cepat suara dengkurannya terdengar.

“Yesung, please….jangan kecewakan aku lagi. Kau akan menemukan banyak gadis disana. Harry bahkan secara spesial mengundang semua teman wanitanya.”

“Aku sama sekali tidak merasa terhormat mendengarnya.”

Yesung kembali membenamkan wajahnya di bantalan sofa. Ia masih ingin tidur. Kalau perlu seharian ini akan menghabiskan waktunya dengan tidur saja.

“Aku tidak mau tahu, kau harus ikut. Kalau kau tidak bangun juga saat aku kembali dari toilet, kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan.”

Yesung acuh. Ia sudah bersiap untuk berpetualang dengan mimpinya. Tapi suara berisik dari luar mengganggu ketengannya. Sejenak ia mencoba cuek, menutup telinga dengan bantal atau tangan, tapi sepertinya percuma. Ia sudah kehilangan rasa kantuknya.

Ia kemudian bangkit. Sepertinya ia ditakdirkan untuk bergabung dengan pria-pria bujangan tak laku di pesta teman kakaknya itu. Ia berdiri, memutar pinggangnya ke kanan lalu berjalan ke halaman rumahnya. Ia pejamkan mata sambil menghirup udara. Ternyata memang sudah tidak bisa disebut pagi lagi.

“Tony, ayo, kejar bolanya.”

Ia menoleh ke samping. Terlihat seorang anak kecil sedang bermain dengan seekor anjing. Anjing itu sepertinya sudah terlatih. Ia bisa mengejar bola seperti mengejar tulang.

Tak sadar kakinya mendekat. Ia terus berjalan tanpa mengedipkan mata melihat anak itu. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik meski sepintas tak ada yang istimewa selain kenyataan bahwa secara fisik mereka sepertinya berasal dari tempat yang sama.

“Hey, kembalikan bolaku.”

Ia terkesiap, memandang bola yang menyentuh kakinya.

“Ini bolamu?”

Anak itu mengangguk. Sebelum anjing tersebut mengambil bolanya, Yesung lebih dulu memainkannya sedikit, melakukan trik bola sederhana lalu menendangnya pelan tepat ke kaki anak itu.

“Wow, kau lumayan juga. Kau bisa seperti ini?”

Yesung tersenyum memperhatikan anak itu yang berusaha membalasnya. Setelah bola kembali di oper padanya, ia memperlihatkan trik lain dengan mempertahankan bola di antara kepala serta punggungnya selama beberapa detik.

“Well, kau tidak buruk,”ujar anak itu seteleh battle selesai. Ia menjulurkan tangannya.”Adam.”

“Yesung. Aku tetangga barumu.”

“Aku tahu.”

“So…kau suka sepak bola? Kopite?”

Adam memainkan bola itu ditangannya. “Ya, kau sendiri? Jangan bilang kau fans the red devils,”ujarnya dengan senyum meremehkan. Yesung suka melihatnya. Benar-benar mirip dirinya.

“Sayangnya aku memang manchunian.”

“Adam…kau sudah siapkan semuanya?”

Bersama-sama mereka menoleh ke asal suara. Seorang pria dengan kemejanya keluar dari rumah di belakang Adam. Untuk sedetik, Yesung yakin ia tak mengenalnya. Namun setelah pria itu juga menatapnya, ia jelas telah salah menebak. Ia mengenalnya.

“Kau?”

“Kau?”

Mereka saling menunjuk, kemudian tertawa.

“Dokter Allan?” tanya Yesung lebih dulu. Pria itu tersenyum sekali lagi. “Ya, aku yang kemarin bertemu denganmu di rumah sakit. Tidakkah dunia ini begitu sempit, Mr.Yesung?”

Mereka berjabat tangan singkat. Adam yang sepertinya tidak merasa punya kepentingan lagi langsung masuk ke dalam rumah. Diam-diam Yesung terus memperhatikan langkah anak itu.

“Jadi…kau tetangga baru itu?” Allan bertanya. Yesung mengangguk ramah.”Seperti yang kau lihat. Aku baru pindah dua hari yang lalu. Ah, jangan panggil aku seperti itu lagi. Cukup panggil aku Yesung.”

“Dan kau bisa memanggilku Allan. Hm..Kau tinggal sendiri?”

“Ak..”

“Yesung!! Alasan apalagi yang mau kau buat untuk menolak ajakanku??” Suara Leeteuk menginterupsi. Kepalanya menyembul sebentar dari balik pintu kemudian menghilang begitu saja. Sadar maksud tatapan Allan yang bertanya-tanya, ia pun menjelaskan. “Dia Le…ah, maksudku Dennis, dia kakakku. Tapi aku tinggal sendiri disini. Dia kemari untuk memaksaku ke pesta temannya.”

“Kedengarannya menyenangkan. Aku sendiri akan pergi dengan istri dan anakku. Ah, kau pasti penasaran melihat Adam. Benar?”

Yesung melihat sekilas ke belakang Allan dimana Adam keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil bersama anjingnya. Ia memang sebenarnya ingin tahu kenapa Adam terlihat sama dengannya dan jauh berbeda dengan Allan yang berambut pirang, mata coklat dan tubuh yang tinggi besar. Allan adalah gambaran warga Liverpool asli. Sedang Adam…

“Istriku juga berasal dari Korea. Kau harus bertemu dengannya.” Allan sudah berbalik dan siap memanggil istrinya saat suara Leeteuk sekali lagi terdengar.

“Yesung!!!”

Yesung menghela nafas. Allan hanya memandangnya maklum. “Well, sepertinya bukan saat yang tepat.”

Yesung hanya mengangkat bahu. Ia berpamitan dan berjalan kembali ke rumahnya. Namun, sebelum ia tiba di depan pintu, Allan memanggilnya.

“Yesung!!”

“Iya?”

“Kau punya waktu nanti malam? Istriku akan membuat pie daging dan aku akan sangat senang kalau kau mau mencicipinya.”

Yesung tersenyum. Ia tak janji akan menyanggupinya mengingat hari ini ia menjadi milik kakaknya. Dan pergi ke pesta teman kakaknya sama halnya dengan menghabiskan waktu seharian sampai tengah malam. Tapi pie daging kedengarannya sangat menggiurkan.

“Aku pasti akan menghabiskannya.”

***

Leeteuk bersulam dengan teman-temannya yang tidak bisa disebut muda lagi. Di sampingnya, duduk seorang gadis seksi yang hanya mengenakan celana pendek jins ketat dan baju tanpa lengan. Leeteuk merangkulnya mesra.

“Apa kau yakin tidak ada satu gadispun yang menarik perhatian adikmu? Dia hanya duduk dan menghabiskan  soft drink tanpa mengajak satu gadispun berdansa.”

Leeteuk menyerah melihat kelakuan adiknya. Sejak dibawa kemari, Yesung hanya duduk, memisahkan diri dari yang lain seperti orang bodoh. Ada beberapa gadis yang sudah disuruhnya untuk menggoda Yesung, tak ada satupun yang berhasil. Gadis berambut hitam dengan tubuh penuh tato yang pertama mencoba hanya mendapat satu senyum ramahnya. Gadis pirang yang tampak lebih dewasa menjadi yang kedua, dan hasilnya tetap sama. Gadis terakhir yang mendekatinya hanya berhasil mengobrol selama dua menit dengannya. Setelah itu, ia tak cukup menarik untuk didekati para gadis lagi.

Leeteuk merasa Yesung sudah benar-benar berubah. Ia memang tak begitu mengenalnya dimasa muda. Tapi berpesta dan berbaur dengan banyak orang seperti ini bukan hal yang aneh baginya. Ia tahu dulu Yesung sering pergi ke club dengan Casey. Yesung adalah orang yang sangat terbuka dan selalu mudah menyatu dengan suasana baru. Duduk menyendiri di balik meja seperti itu hanya membuat dirinya terlihat tidak menyenangkan untuk diajak mengobrol.

Kesal, akhirnya melepaskan pelukan gadisnya kemudian mendekati Yesung. Sepertinya ia harus turun tangan.

“Bagaimana? Sudah ada yang membuatmu tertarik?”

Yesung hanya berdecak pelan.”Mereka semua cantik dan seksi. Mereka juga baik, bahkan ada yang mau menemaniku mengobrol disini.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Sudahlah, hyung. Sudah kubilang percuma. Apapun yang ada dikepalamu saat ini, sebaiknya musnahkan.”

Leeteuk merebut gelas minuman milik Yesung dengan kesal. Ia sudah susah payah mengajaknya kemari, meminta Harry mengundang semua kenalan wanitanya dan ternyata mereka akan pulang dengan tangan hampa.

“Kau sendiri tidak merasa malu ada disini? Kau seperti paman dari semua yang ada disini,” ledek Yesung yang sukses membuat Leeteuk menyemprotkan minumannya.

“Apa kau bilang?”

Yesung tertawa, ia berdiri lantas merapikan pakaiannya. “Aku harus pergi, hyung. Silahkan lanjutkan pestanya.”

“Hey, hey, kau mau kemana? Kita belum selesai! Aiss…”

Yesung tak peduli. Ia terus berjalan, melewati sekumpulan wanita yang memperhatikannya dan hanya menebar senyum. Sudah jam lima sore, ia baru ingat ada janji dengan tetangga barunya itu. Tanpa tahu pasti, ia begitu tak sabar untuk segera tiba di rumahnya, berganti pakaian lantas masuk ke dalam rumah dokter tersebut. Tadinya ia pikir ia hanya merasa excited karena mendapat tetangga yang menyenangkan, tapi kemudian ia sadar ini semua lebih dari itu. Ia….seperti menunggu untuk bertemu dengan seseorang. Tapi siapa? Istri Allan?

Begitu tiba di rumah, senyumnya mengembang melihat mobil Allan terparkir di halaman rumahnya. Ia lalu turun, masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Ia benar-benar tak paham apa yang terjadi dengan dirinya. Semakin dekat waktunya, ia merasa gugup sekaligus senang. Ia bahkan memilih salah satu kemeja terbaiknya, yakni kemeja yang dulu dibelikan oleh Jeany sebagai hasil dari gaji pertamanya. Tubuhnya tak mengalami banyak perubahan, dan pakaian itu selalu tersimpan rapi dari dalam lemari. Warnanya tidak begitu pudar. Masih muat ditubuhnya dan ia masih merasa setampan dahulu meski sudah berlalu sepuluh tahun sejak terakhir kali ia mengenakannya.

Ia berdiri didepan cermin, menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Jika ada Casey, ia pasti akan dikira akan pergi kencan. Ia sendiri merasa begitu. Padahal ia hanya akan menerima undangan makan malam tetangga barunya, kenapa ia harus seperti ini?

Tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Ia keluar dan menemukan Adam ada di depan pintu rumahnya.

“Adam?”

“Dady menyuruhku untuk memanggilmu.” Adam memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hidungnya juga bergerak kembang kempis saat mencium aroma parfumnya. “Kau pikir rumahku adalah gedung resepsi pernikahan?”

Yesung mengacak rambutnya. Gaya bicara Adam benar-benar lucu dan blak-blakan.

“Baiklah, aku sudah siap. Ayo!”

Ia mengunci pintu, berjalan di belakang Adam lalu mulai memasuki pekarangan rumah Adam yang lebih terawat. Ia semakin bingung. Kenapa dadanya berdegup semakin kencang? Terlebih saat sudah berada di ambang pintu. Ia merasa perlu menarik nafas sejenak sebelum akhirnya membiarkan kedua kakinya berada di dalam.

Ia pun sudah tiba. Tidak diikutinya Adam yang sudah melenggang ke dalam. Ia hanya berdiri, memandang ruang tamu rumah itu yang tampak sangat rapi dan tertata. Ada rak sepatu di sebelah kirinya. Semua sepatu tersusun dengan baik disana. Lalu ada coat hanger stand di sebelah kanannya. Pada jarak sekitar satu meter setelahnya, ada deretan lukisan manusia terpajang didinding. Semuanya berukuran besar. Di sisi kanannya, terdapat sebuah lemari kecil dimana di atasnya tersusun figura-figura kecil yang membingkai kebersamaan pemilik rumah ini.

Ia tersenyum menemukan foto Adam yang berdiri paling depan. Disitu Adam sedang tertawa lebar sambil mengangkat pialanya. Ia tidak tahu itu piala apa, tapi dari seragam yang dipakai Adam, sepertinya itu adalah piala untuk sebuah kompetisi sepakbola. Lalu di sebelah foto itu, terdapat foto Adam dan Allan bersama pesepakbola legendaris Liverpool, Jamie Carragher. Senyumnya masih mengembang setelah itu. Sampai akhirnya ia tiba pada foto ketiga, dan senyum itu tiba-tiba menghilang.

“Bagaimana? Dia sangat cantik, bukan?”

Allan berdiri di sebelahnya. Yesung membuang muka sejenak dan menetralkan kerja jantungnya. Tidak! Ini pasti hanya mimpi!

“Kau lihat wanita di foto ini?” Allan mengambil foto tersebut, memandangnya dengan segaris senyum yang sulit Yesung artikan. Ia tahu ini mustahil, tapi ia berharap ia tidak akan mendengar apapun dari Allan. Ia harap Allan tidak melanjutkannya. Allan hanya akan mengatakan bahwa wanita dalam foto itu yang merangkulnya dengan mesra adalah…

“Dia istriku, Jeany Hanks.”

Tidak!

Allan berbohong!

Dia pasti…

“Dia sudah membuatkan makan malam yang spesial. Sebaiknya kita ke dalam dan.. Yesung? Kau baik-baik saja?”

Kepalanya pusing. Semuanya mendadak gelap dan ia tidak melihat apa-apa.

“Hey, kau sakit?”

Yesung melangkah mundur. Ia tidak mau berada disini. Dadanya sesak. Ia tidak bisa bernafas.

“Maafkan aku. Aku harus pulang.”

“Tapi..”

Yesung sudah melangkah pergi. Diusapnya wajahnya dengan cepat, berharap dengan begitu semuanya tiba-tiba berubah dan tidak ada sesuatu yang baru saja ia dengar. Semua baik-baik saja, ia hanya sedang bersiap untuk dijamu makan malam. Tapi….

“Allan, kemana dia?”

Suara itu…

Yesung mempercepat langkahnya. Ia tutup kedua telinganya dengan kuat. Jangan sekarang! Tidak disini. Bukan dalam keadaan seperti ini!

Brakkk

Ia tutup pintu lantas menguncinya. Tubuhnya seketika merosot ke lantai. Ini diluar kendalinya. Apakah Tuhan kembali mempermainkannya?

Argh!!!

Kenapa….harus seperti ini?

Dan kenapa…….harus Jeany?

***TBC***

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. Yulia
    Jul 05, 2015 @ 13:07:08

    Jangan2 asam anak yesung… Jeany ga keguguran… makin penasaran thor…

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Jul 05, 2015 @ 22:23:06

    Makin seruu. . .selalu bikin penasaran. Ditunggu next partnya

    Reply

  3. shikshincloud
    Jul 06, 2015 @ 01:31:32

    oh.my.god.

    kayanya iya deh adam anaknya yesung.. tapi kok bisa ya? kan keguguran.. ah! penasaran!

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Jul 06, 2015 @ 16:38:33

    Sabar ya Yesung oppa, td nya ingin tenang hidup sendiri justru skrg bertetangga dgn mantan istri yg sdh menikah lg dgn org yg lbh mapan dr kondisi nya dulu saat menikahi Jeany, seperti Casey dan Alie sdh tahu mengenai hal ini shg saat mengantar Yesung oppa pindahan rumah mereka sgt gelisah, penasaran bgt kisah apa yg selanjutnya akan terukir dikehidupan yesung oppa, ditunggu kelanjutannya chingu

    Reply

  5. spring
    Jul 06, 2015 @ 20:05:43

    kasihan bget oppaku satu ini. dia tdk sesering si magnae embul untk jadi pemeran utama di ff , sekalinya jadi dia tersiksa gini.
    sdah oppa, kalo jeany ga bisa sama qmu, q menerimamu apa adanya kok oppa🙂

    Reply

  6. sssaturnusss
    Apr 30, 2016 @ 21:06:10

    Sulit di percaya .. Sulit di tebak .. Aku gak tau harus komentar apaaaa ….

    Ini ff keren abiiiiisssssssss !

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: