Memories [13/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*************************

“Allan, kemana dia?”

Suara itu…

Ia belum melupakannya. Ia masih bisa bedakan mana suaranya dan mana suara orang lain. Ia tidak mungkin melupakan suara yang pertama kali menyapa telinganya tiga belas tahun lalu itu. Ia tidak akan lupa suara yang selama sepuluh tahun ini masih terngiang dan menemaninya setiap hari. Jeany ada didekatnya. Jeany hanya berjarak beberapa meter di belakangnya dan sangat mudah untuk dijangkau. Ia bisa saja berbalik, menariknya dalam pelukan dan bersumpah tidak akan melepaskannya lagi, bahkan untuk satu detik saja. Tapi ini adalah kali pertama ia tak bisa melakukan sesuatu yang begitu gampang.

Ini sungguh sulit dipercaya. Ia kemari bukan untuk melihat kenyataan ini. Jeany harusnya berdiri di depannya dengan seulas senyum, menyambutnya dengan sebuah pelukan, bukan dengan sebuah fakta bahwa Jeany sudah memiliki orang lain. Apa selama ini ia hanya menantikan harapan kosong? Atau ia memang sangat tolol karena berpikir bahwa semua akan berjalan sesuai keinginannya dan Jeany juga masih mencintainya setelah sepuluh tahun?

Ia tidak bisa menemuinya untuk saat ini, termasuk Allan. Ia belum bisa berhadapan dengan seorang pria yang kenyataannya sudah menggantikan posisinya dihati Jeany. Dan ia juga tak bisa melihat Adam yang membuatnya sadar bahwa hubungan antara Jeany dan Allan melebihi apa yang ia pikirkan. Dan melihat Adam…sepertinya sangat mudah bagi Jeany melupakannya.

Ia tidak membukakan pintu ketika Allan mengetuk pintunya pagi tadi. Ia sengaja terlambat ke kantor dan hanya menatap interaksi keluarga kecil itu dari balik jendela ruang tamunya. Ia tahu harusnya ia tidak perlu repot-repot mengintip jika sudah tahu itu hanya akan menyakitinya. Tapi semua terjadi begitu saja. Setelah Allan lelah mengetuk dan memencet bel rumahnya, ia buru-buru ke jendela, melihat Allan mendekati Jeany dan Adam. Jeany mencium bibir Allan singkat, lalu mencium puncak kepala Adam. Tak lama, Allan dan Adam pergi dengan mobilnya yang cukup mahal itu. Diam-diam ia berharap ialah yang berada diposisi Allan saat ini. Ia berharap ciuman pengantar itu diberikan untuknya, tapi dimasa lalu bahkan Jeany tak menginjinkan itu terjadi ketika ia mengantarnya sampai ke depan kantor. Ia berharap ialah yang ada di depan Jeany dan mendapat senyum hangat itu. Tapi rasanya dimasa lalu, Jeanylah yang berangkat pagi-pagi untuk bekerja. Dan yang paling nyata diantara segalanya, ia hanyalah seorang Yesung. Orang yang hanya mampu berdiri disini, dan ia adalah orang yang sudah dilupakan oleh Jeany.

Untuk beberapa detik, ia bisa menyaksikan Jeany masih berdiri disana. Jeany juga menatap rumahnya dan terdiam seperti memikirkan sesuatu. Apakah ini saat yang tepat untuk keluar? Namun, pada akhirnya ia tak melakukan apa-apa sampai Jeany kembali ke dalam rumahnya. Ia tutup tirai jendela kemudian kembali menggulung tubuh dalam selimut. Ia sudah akan tidur kalau saja tak ingat ia bisa dipecat kalau tak segera ke kantor. Namun, sepertinya ia memang benar-benar akan dipecat. Sepanjang hari ia tak bisa konsentrasi. Nasabah yang datang padanya tak merasa puas, bahkan salah satunya mengadu secara langsung dengan atasannya.

Tak ada hal benar yang ia lakukan sampai ia mendapat peringatan keras dari atasannya. Tapi sebenarnya ia tak menyediakan ruang ditelinganya untuk mendengar hal lain. Apapun yang dikatakan atasannya, ia tak benar-benar mendengarkan. Yang ia pikirkan hanya Jeany, Jeany dan Jeany. Kalau saja minggu lalu ia tidak mengambil ijin selama dua hari untuk keperluan pindah rumah, sekarang ia pasti akan melarikan diri sebelum selesai mendengar kemarahan atasannya. Ia butuh udara segara diluar. Udara di dalam bank yang penuh sesak oleh banyak orang membuat dadanya semakin sesak.

Ia pun baru bisa pulang pukul 5 sore. Dan untuk menghindari kemungkinan untuk bertemu dengan Allan, apalagi Jeany, ia pulang ke rumah kakaknya. Disini, ia bisa langsung tidur tanpa mendapat banyak pertanyaan dari Leeteuk. Jika ia ke rumah sakit menjenguk Eunhyuk, bukan tidak mungkin ia justru menyerahkan diri pada Allan. Kalau ia ke rumah Casey, maka bukan ketenangan yang ia dapatkan dari keluarga itu.

“Eh? Kau?” Leeteuk terheran-heran melihatnya seenaknya masuk, melempar sepatu lalu naik ke kamar atas.

“Yesung! Ada apa dengan rumahmu?”

Yesung menutup telinga. Jika biasanya ia akan mencari siapapun untuk menceritakan masalahnya, tidak untuk kali ini. Bibirnya beku. Tidak ada satu patah kata yang ia keluarkan sejak keluar dari tempat ia bekerja. Dan begitu tiba di dalam kamar lamanya, ia langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur.

“Yesung! Kau ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku. Atap kamarmu bocor? Penghangat ruanganmu rusak? Atau kau menyesal sudah pindah?”

Pertanyaan terakhir terdengar sangat ceria. Ah, Yesung melupakan satu hal. Sejak kecelakaan kecil itu, kakaknya berubah perhatian padanya. Apapun akan ditanyakan seakan ia anak kecil umur lima tahun yang selalu butuh bantuan. Tapi ia tak melakukan apapun untuk membungkam mulut pria itu. Ia cukup menyumpal telinganya dengan earphone, menaikkan volume musik sampai maksimum lalu pergi tidur. Jangan suruh ia menjelaskan apapun. Ia harap ketika ia membuka mata esok pagi, ini semua hanya mimpi buruk.

***

“Adam, kau yakin tidak melakukan apapun padanya?” Allan bertanya pada anaknya saat mereka dalam perjalanan pulang. Allan baru saja menjemput Adam dari lapangan sepakbola di dekat gedung sekolahnya. Hari sudah hampir malam, kalau Allan tidak menjemput, anak itu pasti akan bermalam disana. Dan sekarang ia menanyakan perihal tetangga barunya yang aneh itu. Sudah dua hari berlalu sejak makan malam gagal itu, mereka belum lagi bertemu. Jeany mengatakan ia mengawasi rumah itu dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang di dalamnya.

“Mungkin kau…mengatakan hal yang kurang sopan, atau….”

“Dady, apa yang bisa dilakukan anak umur 9 tahun sepertiku?”

Allan mengangkat bahunya. Ia tahu perangai anaknya, jadi rasanya wajar kalau ia berprasangka buruk. Ia terus berusaha mengingat apa kiranya yang terjadi pada malam itu sampai Yesung tiba-tiba pergi. Pria itu memang terlihat pucat, atau lebih tepatnya ia shock. Dari pakaiannya, pria itu nampak sangat senang menerima jamuan makan malamnya. Dan dari wangi parfumnya, ia yakin semuanya baik-baik saja. Yang artinya semua berjalan sesuai rencana sampai akhirnya ia menyapanya dan menunjukan foto Jeany.

Ah!

Jeany?

Apakah mungkin……

“Dady? What’s wrong?”

Allan tidak menjawab. Ia menginjak gas mobilnya. Sedikit melaju agar segera sampai di rumah. Ia fokus menyetir. Begitu tiba di rumah, ia tidak menunda untuk langsung bertanya pada Jeany.

“Kau mengenal seseorang yang bernama Yesung?”

Jeany membeku. Ia sedang berdiri di meja dapur, sibuk membelah ikan untuk persiapan makan malam. Tapi kemudian pertanyaan Allan yang secara tiba-tiba itu memaksanya untuk berhenti.

“Jeany? Kau mendengarku?”

Jeany belum berbalik. Ia menelan ludah dan berdoa semoga Allan hanya bercanda. Darimana suaminya dapatkan nama itu? Kenapa….tiba-tiba menanyakannya?

“Jeany?”

Ia tahu Allan mendekatinya. Maka ia berbalik lebih dulu dengan harapan kemampuan suaminya yang paling pandai membaca situasi sedang tak bekerja hari ini.

“Kau menanyakan sesuatu?” tanya Jeany dengan santai.

“Aku bertanya apa kau mengenal seseorang yang bernama Yesung? Mungkin….temanmu selama di Seoul, atau….”

“Tidak!”

Allan memandangnya bingung. Dan Jeany pun perlu menarik nafas. Ia menjawab terlalu cepat seakan tak butuh waktu untuk mengingatnya lebih dulu.

“Maksudku…kurasa…aku tidak mengenal siapapun yang bernama Yesung.”             Ada sesuatu yang menusuk dadanya begitu nama itu keluar dari mulutnya. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menyebutnya. Sudah terlalu lama. Kenapa…harus mengingatnya lagi?

“Kau yakin?”

Jeany mengangguk yakin.”Memangnya….ada apa?” Jeany berusaha menyembunyikan kedua tangannya yang bergerak gelisah dibalik tubuhnya yang menyandar pada meja dapur. Ia berharap Allan hanya mengatakan bahwa ini bukan sesuatu yang penting. Ini bukan tentang sebuah pertemuan yang terjadi antara mereka.

Allan lalu meninggalkannya, duduk di sofa sambil melepas kancing kemejanya hingga tubuhnya terekspos.

“Kau baik-baik saja?” Jeany duduk di sisinya. Allan memijit pelipisnya dengan pelan.

“Bukan apa-apa. Aku hanya terlalu lelah.”

Jeany menawarkan diri untuk memijit punggungnya tapi ditolak oleh Allan. Dan selama beberapa detik kemudian, Jeany masih berharap Allan akan membahas masalah nama itu. Ia belum bisa tenang sebelum Allan mengatakan apa sebenarnya yang membuatnya tiba-tiba menyebut nama Yesung.

“Apa hari ini kau tidak melihatnya lagi?”

Jeany menggeleng. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Allan dan Ia seharian berada di rumah, tidak pergi dengan teman-temannya. Dan ia masih belum melihat ada orang yang masuk atau keluar dari rumah itu.

“Aneh, aku tadinya berpikir kalau dia mengenalmu, maka dari itu dia tiba-tiba pergi karena terkejut.”

“Mengenalku?”

Allan melepas kemejanya. Sambil berdiri, ia menjelaskan, “Ya, tapi ternyata kau tak mengenalnya.”

Allan lalu berjalan pelan menuju kamar mandi. Sedang Jeany terdiam di sofa. Tak sadar kedua tangannya meremas roknya sendiri. Apa maksud perkataan suaminya? Apakah…

“Adam!”

Anak itu yang baru melintas di depannya langsung berhenti. Jeany langsung bertanya, “Kau mengenal tetangga baru kita?”

“Yesung?”

Jeany menahan nafasnya cukup lama. Bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Ia pasti berkhayal. Ini pasti efek karena ia terlalu khawatir. Ini pasti akibat ia yang terlalu tidak ingin mendengar nama itu.

“Kenapa menanyakannya? Namanya Yesung dan berasal dari Korea. Aku benci mengatakannya tapi dia orang korea yang menyenangkan,” ujar Adam dengan datar seakan ia bukan berasal dari tempat yang sama.

Jeany diam, masih tak bisa menjawabnya. Ia biarkan anaknya berlalu dan membiarkan dirinya memahami pelan-pelan. Dan ketika suara Adam terdengar sekali lagi, barulah ia bisa menghembuskan nafasnya.

“Dia datang!”

Tanpa sadar ia bergerak lebih cepat dari Adam. Ia berdiri di balik jendela, memperhatikan seorang pria yang sedang berjalan menuju rumah tersebut. Kakinya pun lemas. Oksigen disekitarnya seakan menipis dan pelan-pelan habis tak bersisa. Ia memang tak melihat wajahnya. Tapi ia belum lupa. Postur tubuhnya….cara berjalannya, dan semua yang dilihatnya sudah cukup membuktikan bahwa tebakan Allan sebelumnya seratus persen benar. Allan benar sekali. Ia memang mengenal pria itu. Ia…sangat…mengenal…pria itu.

***

“Yesung sudah menghubungimu?” Alie bertanya pada Casey saat mereka baru masuk ke dalam mobil. Casey menggeleng, lalu menyalakan mobil. Alex mereka titipkan pada orang tua Casey di Sefton karena sebelum ini mereka ada urusan penting di sekitar Cavern Walks untuk rencana mereka membuka cabang café baru di daerah sana. Tadinya mereka berniat langsung menjemput Alex kalau saja telepon dari Dennis tidak datang.

Dennis mengatakan bahwa sudah dua hari  Yesung menginap di rumahnya dan baru pulang sore kemarin. Yesung mendadak pendiam, tidak mengatakan apa-apa dan langsung tidur begitu pulang bekerja. Ditambah dengan kenyataan bahwa Yesung tidak menghubunginya sama sekali, ia jadi berpikir bahwa mungkin Yesung sudah mengetahuinya.

“Menurutmu kita harus mengatakannya?” tanya Alie sekali lagi dengan nada ragu. Casey diam sejenak, fokus menyetir saat berbelok ke kanan.

“Kita tidak perlu repot melakukannya kalau dia sudah tahu.”

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai. Sebelum turun, Casey memastikan apakah ini adalah rumah yang sama yang ia kunjungi minggu lalu. Auranya berbeda, lampu di beranda masih menyala seakan tidak ada penghuni di dalam yang mematikannya. Ia sudah berpikir untuk pergi kalau saja pintu rumah di sebelahnya tidak terbuka hingga mereka melihat tiga orang keluar dari sana. Salah satunya seorang pria, memegang tas kerja berwarna hitam dan ada jas putih dilengan kirinya. Lalu ada anak kecil yang sedang memantulkan bolanya di tanah sambil berjalan memasuki mobil.

“Dia…Jeany?”

Casey mengangguk tanpa mengindahkan tatapannya. Ia memang sudah mengetahuinya sejak lama. Dan malam itu ia juga melihat mereka. Tapi inilah pertama kali ia melihatnya dengan begitu jelas. Sangat jelas sampai ia sendiri tak bisa bayangkan bagaimana perasaan Yesung saat mengetahuinya.

“Sebaiknya kita turun dulu. Siapa tahu dia ada di dalam.”

Alie turun dari mobil. Ia tekan bel berkali-kali dan terus memanggil namanya.

“Kau mencarinya?”

Casey ikut turun dari mobil, tapi tidak beranjak dari sisi mobilnya saat pria yang ia ketahui merupakan suami Jeany itu mendekat.

“Kalian mengenalnya?” tanya Allan sekali lagi. Casey mengulurkan tangannya. “Casey, dan dia Alie, istriku. Kami adalah sahabat Yesung. Apa dia ada di dalam?”

Allan menoleh sebentar pada Alie untuk tersenyum. “Aku Allan. Dan itulah Itulah masalahnya. Tiga hari lalu aku bermaksud menjamunya makan malam. Tapi tiba-tiba dia pulang dan aku tak pernah melihatnya lagi setelah itu.”

Casey memainkan kunci mobilnya ditangan lalu diam-diam memandang Jeany yang berdiri mematung di dekat tiang rumahnya. Ia yakin Jeany belum pikun untuk sekedar mengingat wajahnya yang dimasa lalu cukup eksis berada diantara mereka. Dan melihat ekspresinya, sepertinya ia bisa menebak apa yang terjadi malam itu.

“Ah, tapi semalam anakku mengatakan melihatnya sudah pulang.”

Mendengar itu, Alie mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Yesung. Sementara Allan yang sudah dikejar waktu terpaksa harus pergi. Casey melihatnya berpamitan pada Jeany lalu pergi bersama anaknya dengan mobil yang ia perkirakan harganya dua kali lipat dari mobilnya.

Setelah Allan tak terlihat, Casey sempat berpikir ia akan mendekati Jeany, bertanya atau mengatakan apapun itu. Ia bisa saja marah, atau mengumpat dengan kemampuannya yang sudah lama terlupakan. Oh, ia sangat pandai mengatakan kata-kata kasar sama seperti Yesung kalau saja ia tidak bertemu dengan Alie beberapa tahun lalu. Tapi ia tak menemukan alasan untuk marah. Itu adalah masalahnya dengan Yesung, ia tidak berhak ikut campur.

Tapi Ia pun mengurungkan niatnya, memilih mendekati istrinya. Ia juga bisa melihat dengan ekor matanya kalau Jeany memilih untuk masuk ke dalam rumah. Casey tidak bisa bayangkan bahwa dua orang yang saling mengenal itu kini hanya berjarak sekian meter, tapi terhalang oleh sesuatu dan tidak bisa bertemu.

“Hallo? Yesung? Ah, akhirnya kau mengangkat teleponku. Aku dan Casey ada diluar. Bisa kau bukakan pintu?”

Tak ada jawaban dari sana. Alie sudah akan menimpali saat Yesung tiba-tiba bertanya, “Apa diluar tidak ada siapa-siapa?”

Alie menarik nafas setelah menatap ke rumah Jeany dan ia tidak melihat siapa-siapa disana. “Tidak ada siapapun. Hanya aku dan Casey.”

Tak lama pintu terbuka dari dalam. Dan Casey bersama Alie kompak memekik saat menemukan siapa yang berdiri di hadapan mereka.

“Jangan mengatakan apapun!” sela Yesung sebelum Casey angkat bicara. Ia tahu ia sangat berantakan saat ini. Ia lalu menyembulkan kepala keluar. Setelah yakin, ia menarik lengan keduanya ke dalam.

“Well, ini lebih buruk dari yang kubayangkan,” komentar Casey ringan setelah ia duduk di ruang tengah. Ia hanya tersenyum melihat keadaan Yesung yang kacau balau. Yesung masih memakai pakaian kerja yang kusut. Kancingnya terbuka sebagian dan ada noda saus di bagian dada. Rambutnya acak-acakan, terdapat lingkaran hitam disekitar matanya. Dan ia bisa menebak kapan terakhir kali pria itu menyikat giginya mengingat aroma tak menyenangkan  tercium saat Yesung bicara di depannya barusan.

“Yesung! Kau hanya makan pizza? Tidak ada apa-apa di kulkasmu selain air minum dan jeruk.”

Sementara Alie sibuk geleng-geleng kepala memandang kekacauan di ruang tamu sampai ke dapur, Casey berusaha menarik perhatian Yesung.“Jadi kau sudah mengetahuinya?”

Yesung membuka matanya yang sempat terpejam. “Apa maksudmu?”

“Kau tahu maksudku.”

Lama Yesung memandangnya. Ia sudah bisa menebak dengan cukup cepat tapi ia masih berusaha menyangkalnya. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Alie yang juga menatapnya dengan cara yang sama seperti Casey.

“Jadi…kalian??”

Casey menghela nafasnya. “Maaf, kawan. Tapi aku dan Alie sudah mengatahuinya.”

Yesung berdiri, berjalan sedikit menjauh dari dua orang itu. Ia tak percaya Casey menyembunyikan hal sepenting ini padanya. Ia selalu mengatakan apapun pada Casey tanpa ada yang tertinggal. Dan Casey tahu benar bagaimana sepuluh tahun ini ia seperti orang gila memikirkan Jeany, berharap suatu saat mereka akan bertemu dan bisa kembali.

“Sejak kapan?” suaranya lirih. Casey memberikan kode kepada Alie yang kemudian duduk disisinya.

“Sudah cukup lama sampai aku hampir melupakannya,” jawab Casey dengan lebih berani dan sangat jujur. Ia memang sudah mengetahui fakta ini beberapa bulan lalu atau bahkan nyaris satu tahun. Saat itu ia tidak yakin untuk menyampaikannya pada Yesung. Maka ia menyimpannya sampai akhirnya bulan lalu ia baru teringat kembali tentang Jeany dan mengatur rencana supaya Yesung bisa berbagi cerita kepada para pengunjung café.

“Aku tidak percaya.” Yesung menggeleng lemah. Ia masih akan terus mundur kalau saja punggungnya tak menubruk dinding. Ia menoleh ke belakang dan menemukan foto pernikahannya dengan Jeany yang sengaja ia pajang disana. Bingkai foto itu yang dulu sempat rusak sudah ia ganti. Dan Jeany masih tersenyum lebar di foto itu.

“Yesung, aku dan Alie sama sekali tidak bermaksud…Argh, bukan begitu! Aku hanya berpikir bahwa mungkin kau tidak perlu mengetahuinya. Kau tahu aku sudah melihat kehancuranmu sepuluh tahun ini. Aku tak mau melihatmu hancur lagi.”

“Tapi sekarang aku sudah mengetahuinya. Aku melihatnya dengan kedua mataku yang masih sehat lalu kau datang padaku, bertanya apakah aku sudah mengetahuinya semudah kau bertanya tentang makan siangku. Menurutmu itu lebih baik?”

Yesung menggeram. Kedua tangannya mengeras dan ia siap menghantam dinding sebelum akhirnya ia bisa mengendalikan diri. Ia menarik nafas kencang, berpegangan pada  pinggiran meja makannya.

“Andai…..” Yesung memelankan suaranya. Ia juga berusaha keras agar tidak menangis. “Andai aku mengetahuinya lebih dulu…mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.”

Casey berdiri, melangkah pelan lalu berhenti tepat di belakangnya.”Tapi kau harus menerima kenyataan. Kemarin atau hari ini tidak ada bedanya.”

“Mudah bagimu untuk mengatakannya.” Yesung tersenyum kecil, lalu tertawa pelan seperti menertawai dirinya sendiri. Ia pukul meja makan dengan keras hingga Casey harus menghentikannya.

“Jangan bersikap konyol! Ini juga tidak mudah bagiku dengan melihatmu selama sepuluh tahun. Aku sangat mengenalmu.”

Yesung menyingkirkan tangan Casey dari lengannya dengan kasar. Seperti orang mabuk, ia berjalan lunglai lalu naik ke kamarnya di lantai dua. Baru dua anak tangga ia naiki, ia berbalik dengan seulas senyum sinis. “Kau sangat mengenalku? Katakan itu saat kau memutuskan untuk merahasiakannya.”

Dan setelahnya Casey tak pernah bertemu lagi dengannya selama beberapa hari.

***

Jeany melamun. Matanya tertuju pada luar jendela dan tidak sadar sudah berapa banyak kalimat yang diucapkan Allan sejak tadi.

“Kau baik-baik saja?” Ia tersentak saat merasakan Allan menyentuh punggung tangannya. Ia perhatikan sekelilingnya dan ia cukup terkejut saat menemukan dirinya ada di sebuah cafe. Melihat dekorasinya, ia tahu ini bukan tempat favorit mereka.

Sejak kapan mereka ada disini? Ia masih ingat sore tadi Allan menelponnya dan menyuruhnya bersiap-siap. Ia masih ingat menghabiskan satu jam untuk merias diri dan menitipkan Adam pada orang tuanya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Tapi ia tak mengingat apa-apa setelah mendengar satu nama yang samar-samar ia dengar dari arah rumah tetangga barunya itu.

Saat itu ia sedang menunggu Allan pulang. Ia sudah siap dengan dressnya  ketika mendengar suara mobil dan suara seseorang yang menyerukan sebuah nama.

“Yesung!! Aku tahu kau di dalam!”

Dadanya terasa dihimpit. Ia bahkan tak berani menoleh ke kanan untuk memastikan semuanya. Ia tahu pemilik suara itu. Tapi ia lebih terkejut lagi bahwa ia ternyata masih mengingat semuanya setelah ia yakin benar-benar sudah melupakannya.

Ia sudah mati-matian melenyapkan kegelisahan yang melandanya akhir-akhir ini. Ia terus mensugestikan dirinya bahwa ia baik-baik saja, bahwa masalah ini tidak akan berpengaruh apa-apa. Namun kenyataannya, ini sangat menganggu. Ia tidak bisa tidur dimalam dimana ia mengetahui pemilik rumah itu. Ia hampir salah menyebut nama kalau saja kesadarannya tak bersisa. Ia benar-benar kacau belakangan ini dan sepertinya Allan merasakannya.

“Kau tahu alasanku membawamu kemari?”

Jeany tersenyum sambil menghirup Iced Coffee yang ada dihadapannya dengan sedotan. Ia bahkan tak pernah merasa memesan minuman itu. Tapi ia tetap meminumnya hingga setengah gelas.

“Aku tahu. Kita selalu melakukannya sebulan sekali,” jawabnya dengan tenang. Ia tahu itu. Mereka selalu meluangkan satu waktu dalam sebulan untuk berkencan seperti remaja. Hanya berdua dan Adam mereka titipkan pada orang tua mereka. Semua sudah berlangsung sejak awal pernikahan mereka dan belum ada yang berubah. Allan meyakini bahwa itu adalah salah satu cara efektif untuk membuat hubungan mereka selalu romantis. Allan adalah orang yang suka membuat kejutan. Tak jarang Jeany merasa seperti muda kembali ketika Allan memberinya banyak hadiah dan sesuatu yang rasanya janggal dilakukan untuk pasangan seusia mereka.

Dan Jeany yakin ia menjawab dengan benar. Tapi tatapan Allan padanya menyiratkan bahwa ia salah.

“Bukan itu.”

“Lalu? Kupikir kita sedang berkencan,” ujar Jeany dengan berusaha melucu dan tersenyum. Tapi kemudian ia sadar bahwa tawanya bahkan terdengar hambar dan setengah hati.

“Kau tidak akan bisa menyebutnya kencan jika kau sadar apa yang kau lakukan sejak tadi.”

Jeany menunduk sesaat, lalu kembali mengaduk minumannya yang hampir habis itu. Setelah terkejutnya ia dengan ingatannya yang luar biasa seputar masa lalu, harusnya ia juga tidak lupa bahwa suaminya punya insting yang kuat. Allan sangat peka. Allan tahu saat ia menyembunyikan luka kecil dilengannya dua bulan lalu karena irisan pisau. Allan tahu saat ia sedang gelisah dan punya masalah. Allan tahu bahwa moodnya sedang buruk dan tidak berminat untuk bercinta. Allan tahu semuanya. Dan pasti sekarang Allan sudah bisa merasakan bahwa sejak tadi ia hanya berkencan dengan segelas coklat hangat.

“Maaf.”

“Kau juga tahu bukan kata maaf yang ingin kudengar.”

Jeany memalingkan wajahnya sejenak. Apakah ia harus mengatakannya? Tak ada rahasia antara mereka. Allan benci kebohongan. Tapi mengakui tentang hal yang menganggunya belakangan ini sama saja dengan mengatakan bahwa ada satu nama yang sejak awal pernikahan tak pernah disebutkannya. Dan ia belum siap menyebut nama itu lagi, tidak didepan Allan, tidak saat ini.

Jeany menggeleng lemah. “Aku hanya merasa tidak sehat beberapa hari ini.”

Allan tersenyum geli. “Dan kau lupa bahwa di depanmu sekarang, atau yang tidur di sebelahmu itu adalah seorang dokter? Jeany, kau tidak bisa membohongiku.”

Benar. Susah sekali mengarang alasan pada Allan.

“Aku memang punya masalah. Tapi…aku bisa mengatasinya.”

Alis Allan terangkat. Jeany balas menatapnya kemudian menyentuh tangannya lembut. “Aku tahu kau mengkhawatirkanku. Tapi kau harus percaya kalau kali ini aku segera menyelesaikannya dan tidak ada yang perlu kau takutkan.”

Setelah mengatakannya, Jeany merasa sebagai seorang pembual handal. Ia baru sekali membohongi suaminya tapi rasanya ia sudah bisa disebut professional karena Allan nampak mempercayainya. Bagaimana mungkin ia mengatakan bisa menyelesaikannya sedang ia sendiri tidak mengerti apa yang perlu diselesaikan. Satu-satunya masalahnya disini adalah ia terusik dan tak tenang dengan kehadiran Yesung. Harusnya ini tak menjadi masalah kalau ia memang sudah melupakannya. Tapi saat mendengar nama itu dari mulut suami dan anaknya, dan saat melihat penampakannya waktu itu, ada sesuatu yang menyeruak dalam dadanya. Ia sendiri belum bisa memastikan. Tapi ia harap ini tak lebih dari keterkejutan dan kekhawatiran bahwa Yesung akan melakukan sesuatu yang sama pada Allan seperti yang dilakukannya pada Siwon dimasa lalu.

“Baiklah, aku percaya padamu. Tapi sebaiknya kau mengatakan itu sebelum pergi. Makan malam romantis kita jadi berkurang.”

Jeany merasa bersalah. Ia pun menarik nafasnya berkali-kali, melupakan sejenak masalahnya kemudian menyuapkan memandang Allan lekat.

“Akan kubuat romantis mulai detik ini. Bagaimana?”

Allan tersenyum. Ia kecup punggung tangan Jeany dan mulai mengabaikan perasaannya yang mengganjal sejak tadi. Untuk beberapa saat mereka mengobrol ringan. Jeany pun perlahan-lahan melupakan hal yang sempat mengganggunya. Ia tidak mau mengecewakan Allan malam ini.

***

“Apa Yesung akan datang? Kudengar kalian bertengkar.” Jordan bertanya setelah menyerahkan segelas kopi pada Casey. Ini adalah jadwal Yesung untuk mengisi panggung, tapi sudah jam delapan malam, batang hidungnya belum terlihat.

“Aku tidak tahu dan kami tidak bertengkar,” sanggah Casey dengan malas. Ia berdiri, mengambil gelas kopinya bermaksud untuk masuk ke ruangannya saat matanya tak sengaja melihat ke salah satu meja yang diisi pengunjung cafenya.

Matanya menyipit. Ia perhatikan dengan lebih jeli sepasang pria dan wanita itu. Dan belum selesai keterkejutannya, ia sudah melihat Yesung tiba-tiba muncul dari balik pintu utama. Pria itu berjalan mendekatinya, melewati meja yang tadi sempat jadi perhatiannya.

“Kau…” Casey bukannya terkejut karena Yesung sudi datang ke cafenya, melainkan kenyataan bahwa sekarang mereka semua ada di ruangan yang sama.

“Maaf atas sikapku beberapa hari yang lalu.”

Casey tak begitu mendengarkan. Pikiran dan matanya sibuk melihat ke belakang Yesung. Ia terus berpikir bagaimana kira-kira situasi ini akan berlanjut. Apakah…mereka…

“Dan aku akan melakukan tugasku malam ini.”

Tanpa menunggu jawaban Casey, Yesung sudah berjalan menuju podium. Disana sudah ada Donghae yang baru selesai mengiringi Vincent bernyanyi.

Sedang Casey masih terpaku di tempat. Ia perhatikan tiga orang itu yang masih belum menyadari kehadiran masing-masing.

“Kau kenapa?” Marcus menyenggol bahunya hingga kopinya nyaris tumpah. Ia nyaris saja marah kalau saja Yesung tidak buka suara. Ia pandang sekali lagi tiga orang itu dan akhirnya ia putuskan untuk tidak melangkah terlalu jauh. Mereka bukan sekumpulan anak TK dan ia hanyalah salah satu penonton disini. Ia kemudian hanya tersenyum dan masuk ke dalam ruang pribadinya sementara suara Yesung masih bisa ia dengar.

“Selamat malam semuanya.”

Yesung memperbaiki letak duduknya. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia putuskan untuk datang malam ini dan menunaikan tugasnya seperti biasa. Ia tidak bisa menambah pekerjaan Casey hanya karena masalah yang terjadi antara mereka. Ia tahu Casey punya maksud baik. Dan ia juga tidak mungkin selamanya mengurung diri di dalam rumah hanya karena tak siap bertemu orang-orang itu.

“Sebenarnya…..aku hampir tidak akan datang malam ini. Ada sesuatu terjadi dan……..ah, lupakan! Aku hanya akan bernyanyi malam ini.” Yesung menghela nafasnya. Menundukkan kepalanya sejenak lalu kembali menatap semua pengunjung yang ada. Dan saat itu lah matanya tertuju pada seorang pria dan wanita yang duduk di barisan belakang berdekatan dengan pintu.

Tubuhnya tersentak. Bibirnya kaku dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Wanita itu juga sedang menatapnya. Dan itu adalah pertama kalinya mereka saling bertatapan setelah sepuluh tahun.

Apakah…lagi-lagi ia sedang berkhayal? Apa ini salah satu imajinasinya seperti hari-hari yang lalu saat ia melihat Jeany ada di depan pintu café menunggunya pulang? Tapi saat itu hanya ada ia dan Jeany, tidak ada pria lain. Tidak ada Allan yang sekarang duduk di dekat Jeany.

“Kupikir kau akan bernyanyi,” seru salah seorang pengunjung yang membuat Yesung tersadar. Ia tidak tahu dari kursi mana suara itu berasal. Tapi ia mengenalnya, suara seorang wanita yang dulu pertama kali memintanya menceritakan sebuah kisah cinta.

Ia pun mempersiapkan diri. Sebisa mungkin menghirup oksigen di sekitarnya yang sempat terasa menipis. Ia berusaha bernafas dengan normal. Melupakan segala masalah yang mengganggu konsentrasinya lalu fokus pada satu hal. Dan ketika Donghae memetik gitarnya, ia mulai larut dalam lagu.

Matanya terpejam. Setiap lirik yang dinyanyikannya terasa begitu dalam dan menyentuh. Ia menumpahkan segala emosinya dalam nyanyian tersebut dan membebaskan beberapa tetes air matanya jatuh. Meski dadanya perih, ia tidak menghentikannya. Ia terus melanjutkannya seakan hanya itulah cara supaya perasaannya membaik. Bernyanyi adalah hidupnya. Dengan bernyanyi ia bisa membagi apa yang dirasakannya. Dan dengan bernyanyi, ia bisa menyampaikan rasa sakitnya pada seseorang yang sedang membuang muka di sana.

Ketika petikan gitar tak terdengar lagi, ia membuka mata. Semua pengunjung bertepuk tangan untuknya, memandangnya dengan puas dan itu adalah harga yang mahal baginya.

“Terima kasih.”

Ia ingin sekali kembali bernyanyi tapi dadanya masih berdebar hebat. Sesekali ia melirik ke arah yang sama seperti sebelumnya dan mereka belum juga pergi, justru sekarang pria itu sedang menatapnya dengan penuh pertanyaan.

Ia mulai memikirkan cara bagaimana supaya ia bisa melarikan diri dari sini. Tapi posisinya tidak memungkinkan. Ia baru menyanyikan satu lagu. Akan sangat konyol pula jika ia melewati mereka dengan acuh seakan tidak melihat sedangkan baru saja mereka bertatapan. Keadaan benar-benar tak mendukung untuk sembunyi lagi. Atau memang…..sudah saatnya ia berhenti sembunyi?

“Kurasa Donghae bisa menghibur kalian dengan suaranya. Aku akan kembali nanti.”

Ia turun dari podium dan belum memutuskan apa yang akan ia lakukan setelah itu. Namun melihat jarak antara mereka menipis, dan wajah mereka semakin jelas di depan matanya, ia sadar bahwa kedua kakinya bahkan tak bisa menolak dan bergerak dengan sendirinya.

Ia sudah berdiri di depan mereka, menyadari bahwa ia tidak punya celah untuk lari. Ia harus hadapi, apapun itu.

“Ini luar biasa. Aku tidak tahu kau menyimpan suara malaikat seperti itu,” ujar Allan yang dianggap Yesung agak berlebihan. Tapi ia hargai itu.

“Jadi sekarang kau tidak bisa lari. Katakan padaku, apa yang terjadi malam itu?”

Yesung tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok wanita yang berdiri di sebelahnya dengan menundukkan kepala.

“Ah, aku lupa. Kenalkan, dia Jeany, istriku.”

Hatinya terasa miris menerima kenyataan bahwa kalimat itu bukan keluar dari mulutnya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia begitu menantikan momen dimana ia bisa memamerkan Jeany di depan semua orang, memeluk pinggangnya lantas mengenalkannya sebagai istrinya. Ia sangat bangga saat bisa mengucapkannya. Ia sangat senang ketika semua orang tahu bahwa wanita cantik  dan hebat itu adalah istrinya. Tapi sekarang….ia bahkan tak pantas lagi menyebutnya.

Ia melihat tangan Jeany terulur ke arahnya. Ia bisa merasakan bahwa Jeany tak cukup berani untuk melakukan itu dan untuk beberapa saat ia senang akan kenyataan itu. Jeany tidak benar-benar melupakannya kalau sekarang ia tak bisa bersikap normal.

Sekali lagi ia perhatikan tangan itu kemudian menolaknya. “Tidak perlu. Kami sudah saling mengenal.”

“Apa?”

Yesung tak memperhatikan Allan sedikitpun. Ia cukup menikmati raut wajah Jeany yang seperti baru saja mendengar berita kebakaran rumahnya. Maaf, tapi ia tak suka berakting.

“Jeany? Kau bilang kau tidak mengenalnya sama sekali.”

Ia tersenyum pahit sekali lagi. Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini, ia mendapat serangan bertubi-tubi. Ia tak menyangka Jeany bisa mengatakan itu pada Allan. Tapi kemudian ia berhasil mengendalikan diri. Senyumnya masih setia mengembang lalu ia menjawab dengan tenang. “Tentu saja ia tak mengingatku. Karena aku…..”

Sementara ia membiarkan kalimatnya menggantung, ia terus memperhatikan gerak gerik Jeany dan sepertinya wanita itu sedang berusaha keras untuk tidak nampak gelisah. Ia jadi ingin bertanya pada Allan, jika Allan benar-benar mengenalnya, apakah tidak bisa merasakan hawa kekhawatiran dalam diri Jeany?

Ia juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang mengganggu Jeany. Jika semua sudah selesai dimata Jeany, kenapa harus takut berhadapan dengannya? Selama satu minggu ini ia menghindar karena punya alasan yang jelas. Ia sudah mencari dan menunggu Jeany selama sepuluh tahun. Ia punya alasan yang kuat untuk menenangkan diri dan menyiapkan diri berani berdiri di hadapannya seperti ini.

Jeany tidak banyak berubah. Sikapnya masih nampak mudah panik dan begitu serius. Rambutnya masih hitam dan panjang. Tapi sekarang Jeany menggulungnya ke atas, membuatnya nampak lima tahun lebih tua dari usianya. Jika bisa, ia akan menarik ikatannya dan membiarkannya terurai. Lalu ia akan tunjukkan pada Allan seperti apa Jeany yang sesungguhnya.

“Jadi kalian sudah saling mengenal? Jeany? Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Yesung bisa merasakan nada tak terima dari pertanyaan itu. Dan ia sama sekali tak berniat untuk menyiksa Jeany seperti ini. Ia pun segera melanjutkan perkataan sebelumnya.

“Ya, kami memang sudah mengenal sejak lama. Sangat…lama.”

Ia menunggu-nunggu sampai Jeany berani menatapnya dan buka suara lebih dulu. Tapi hingga beberapa saat, sepertinya Jeany sudah pasrah akan apa yang hendak ia katakan.

“Wajar kalau Jeany sudah lupa. Karena kami dulu adalah…..”

***

Tanpa sadar Jeany sedang menahan nafasnya. Ia tidak tahu kenapa ia tak berani menatap pria di hadapannya itu. Ia tidak mengerti kenapa sangat sulit baginya untuk bersikap normal.

Sekarang ia pasrah. Jika Yesung mengakui hubungan macam apa yang pernah terjalin antara mereka dimasa lalu, ia tidak akan membantah. Namun yang didengarnya bukan apa yang ia pikirkan.

“Karena Jeany dulu adalah salah satu pelanggan setiaku.”

Ia mendongak, menatap Yesung dengan penuh tanya. Tapi ia justru menemukan seulas senyum yang menenangkan. Pria itu tampak tak terbebani sama sekali dengan apa yang ia ucapkan.

“Pelanggan?”

Jeany melihat Yesung berpindah pada Allan dan dengan santainya menjawab, “Dulu sekali, saat aku masih sangat muda, aku bekerja sebagai pengantar pizza dan Jeany adalah pelanggan setiaku. Mungkin Jeany sudah lupa. Tapi aku selalu mengingat siapapun orang yang pernah kukenal. Aku bukan tipe orang yang bisa dengan mudah melupakan seseorang.”

Ia merasa pipinya sedang ditampar. Ia merasa Yesung sedang menenggelamkannya ke dasar lautan dengan perlahan.

“Jeany, kau sungguh tidak mengingatnya? Ini luar biasa. Yesung mengenal pasienku dan ternyata dia juga mengenalmu.”

Sementara Allan dan Yesung mulai membicarakan banyak hal, Jeany diam-diam menarik diri untuk mencari toilet. Ia membasuh mukanya, tidak peduli dengan make upnya yang berantakan.

Seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia mungkin tidak akan sanggup berdiri kalau saja tak berpegangan pada sisi wastafel. Ia benar-benar belum siap untuk bertemu dengan Yesung. Ia sangat tidak siap harus berhadapan dengan pria itu. Ia pikir ia sudah cukup lihai menyembunyikan diri selama ini.

Tapi sebenarnya apa yang ia takutkan? Yesung terlihat baik-baik saja. Yesung tak terlihat akan menjadi ancaman dan bisa menjaga mulutnya. Meski ia tidak merasakan suatu keramahan dari caranya menatapnya, tapi ia bisa merasakan bahwa Yesung tidak punya niat jahat. Lagipula, bagaimana mungkin ia berpikiran bahwa Yesung akan melakukan hal gila seperti pada Siwon?

Ini sudah berlalu sekian tahun dan bukan tidak mungkin Yesung sudah berubah. Ia juga bisa melihat perubahan itu. Yesung nampak jauh lebih dewasa. Dan harusnya ia merasa lega akan hal itu. Tapi tetap saja. Masih ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.

Jika memang Yesung takkan melakukan hal yang ia khawatirkan, apalagi yang menahannya?

Apakah….ini berkaitan dengan perasaannya sendiri?

Atau ini….hanya ketakutan akan kehilangan Adam?

***TBC***

 

6 Comments (+add yours?)

  1. serina
    Jul 07, 2015 @ 20:17:50

    Huwaaaa!! Tuh kan bener tetangga’an sama jeany. Knapa jeany takut ketemu sama yesung?? Jgn2 masih ada perasaan. Knapa jeany takut kehilangan adam?? Jgn2 adam anaknya jeany sama yesung, tp kan jeany udah keguguran. knapa masalahnya makin ribet!!!
    Tuh TBC ganggu amat, next nya jgn lama2 ya thor…

    Reply

  2. spring
    Jul 07, 2015 @ 21:44:59

    q yg pertama!!
    hug yesung oppa.
    lihat dia jeany!! tdakkah kau kasihan padanya? harusnya yesung yg menjadi suami sprt allan kn?
    sikap jeany berbeda bget waktu jadi istri yesun sama jdi istri allan.
    oya ini ada di blog pribadi author ya? sdh tamat? boleh q minta blognya? ga sabar baca lanjutannya.

    Reply

  3. Novita Arzhevia
    Jul 07, 2015 @ 21:45:01

    wahh, berarti benar Adam anak Yesuh ah sudah ku duga. Penasaran sama endingnya, kurang brapa part lg thor. Kagak sabar, ditunggu next partnya . (y)

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Jul 08, 2015 @ 18:57:29

    Waw sdh ada kelanjutannya, senang bgt sama ff ini, ternyata Yesung oppa justru bertemu Allan dan Jeany di kafe tempat ia bernyanyi, ia sdh berusaha u menenangkan hatinya dan menerima bhw Jeany yg msh ia cintai 10 thn ini sdh bkn miliknya lg dan ternyata sgt sakit saat th Jeany sdh jd istri org lain, sabar ya Yesung oppa, daebak ff chingu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: