RYEOWOOK’S ENLISTMENT

RYEOWOOK’S ENLISTMENT

 

 

AUTHOR : Septia08880 (@septia08880)

 

JUDUL : RyeoWook’s Enlistment

 

MAIN CAST : –   Kim RyeoWook (SJ)

  • Shim SeoRin (OC)

 

GENRE : AU, ER, Romance.

 

RATING : G

 

LENGTH : Vignette.

 

A/N: Maaf banget kalian mungkin akan menemukan banyak banget Typo di sini heheheh:D Sudah di Post di Blog aku sendiri disini . Selamat membaca dan sempatkan untuk meninggalkan jejak, ya J Terimakasih^^

 

.

.

.

“Aku penasaran akan tampangmu dengan rambut plontos, apakah kau akan tampan layaknya kebanyakan pria?” –Shim SeoRin–

.

.

.

 

 

Langkah perempuan itu dipercepat ketika penglihatannya menangkap sebuah pintu bercat hitam abu. Ia berusaha mengambil napas banyak-banyak membangun suasana hati baik dengan melihat berbagai tanaman indah di halaman sesaat sebelum tangannya memegang kenop pintu. Seperti biasa tempat tinggal ini selalu bersih, rapi dan menenangkan, benar-benar rumah dalam artian sebenarnya bukan tempat berteduh yang malah menyerupai gedung elit menyeramkan sebagai ajang gengsi. Ukuran rumah ini amat sangat sederhana, dari tempat SeoRin berdiri sekarang ia hanya perlu berbelok ke kiri untuk menemukan ruang tengah, dua kali belok untuk menemukan dapur, ruang makan juga kamar kecil, di belakang ruang tengah terdapat tangga yang menghubungkan kamar tidur dan ruang lainnya. Adakalanya  SeoRin teringat sesuatu pada waktu ia melihat sekilas ruang makan, sebelumnya tiga kursi berada di sana. Namun saat sang empunya rumah memperkenalkannya pada orang tuanya, si ibu empunya rumah menambahkan lagi kursi tersebut menjadi empat. ‘Sebagai tanda selamat datang,’ katanya.

 

Ia meletakkan sepasang sepatu miliknya sejajar dengan alas kaki lain yang sudah terletak teratur. Refleks ia menyunggingkan senyum lembut manakala terlihat sosok pria bertubuh mungil tengah santai duduk di sofa berwarna abu, menatap layar teve. Si pria adalah RyeoWook, seseorang yang menjadi tambatan hatinya dua tahun belakang sekaligus sang empunya rumah.

 

“Aku dengar kau telah mendaftarkan waib militermu,” tutur SeoRin kala ia sudah duduk di sebelah RyeoWook.

 

“Iya, memangnya kenapa?”

 

“Tidak. Hanya saja, aku mengetahui hal ini dari orang lain.” SeoRin tersenyum getir mendengar perkataannya sendiri. Antara kesal dan sedih dirasakan olehnya sekarang, “Bukan langsung dari mulutmu.”

 

“Kau tahu darimana?”

 

“Dari ibumu. Sekitar empat puluh menit lalu ia meneleponku, dan aku bergegas ke sini menemuimu.”

 

“Jadi kau anggap ibuku adalah orang lain?”

 

Dahi SeoRin mengerut heran, terasa janggal ia rasakan. Daritadi matanya hanya menatap bagian wajah sebelah kiri RyeoWook bukan muka penuh apalagi sepasang mata sang kekasih. Memang RyeoWook membalas ucapan SeoRin, tapi tatapannya masih menghadap layar teve.

 

Ah, kau ini. Aku tidak menganggap begitu, maksudku–”

 

“Baguslah! Bila Ibuku memberitahumu terlebih dahulu, biasanya juga kau tak acuh kalau mendengar apa-apa dariku.”

 

“Siapa bilang aku tak memedulikanmu? Andai benar, aku tak perlu menghabiskan waktuku untuk datang menemuimu dan menanyakan kepergianmu sekarang. Kau kenapa? Hari ini seperti remaja perempuan yang  sudah patah hati saja. Dasar!”

 

Dengan sikap menjijikan RyeoWook, SeoRin bisa saja terbawa menjadi labil. Habis-habisan ia mengubah suasana hatinya sebaik mungkin. Sekarang yang bisa ia lakukan ialah menjaga tetap tenang, mengalah daripada harus membuat RyeoWook menjadi lebih menjijikan.

 

“Iya-iya, aku minta maaf. Aku salah karena tak memberitahumu lebih dulu.”

 

‘Dia benar-benar berhati remaja labil tingkat dewa sekarang.’

 

Cih! Makhluk macam apa kau?! Baru disindir begitu saja sudah kalah.” SeoRin bergumam kecil.

 

“Aku mendengarnya, Nona Shim SeoRin.” Perempuan ini tak menahu bagaimana gambaran wajah RyeoWook kini, ia hanya mendengar nada suaranya saja. Terdengar sangat dingin. SeoRin lebih memilih menatap layar teve berukuran 32 inch dibanding harus menebak raut wajah RyeoWook. Layar tersebut menampilkan tayangan variety show yang mana ia tak mengetahui nama acara yang ia lihat.

 

“Membosankan! Cepat pindahkan salurannya.”

 

Satu detik…

 

Menjadi tiga puluh detik…

 

Dan berakhir enam puluh detik…

 

Oke, sudah semenit berlalu setelah SeoRin memerintah RyeoWook. Namun, indra penglihatannya masih menangkap acara yang menurutnya membosankan itu. RyeoWook menulikan telinga dan membisukan bibir. Padahal remote teve tersebut berada di genggaman tangannya.

 

SeoRin mencoba menggapai benda yang sangat dibutuhkan olehnya dengan menggerakkan setengah tubuh bagian atas mendekati RyeoWook, mempersempit jarak. Dengan satu gerakan pasti tangan kiri SeoRin mencoba merebut remote berwarna hitam tersebut. Sayangnya, dewi keberuntungan tak memberinya ijin akan hal ini, sesuatu yang tak disangka terjadi. Bukan remote yang didapat, entah mengapa tubuhnya hilang kendali hingga kepala milik SeoRin mendarat sempurna di paha RyeoWook. Bagus! Sungguh memalukan.

 

Hahaha… rasakan.”

 

***

 

SEORIN POV

 

Sial! Sial! Sial!

 

Walau posisiku tak bisa melihat wajah RyeoWook secara keseluruhan, namun aku tetap menatapnya dengan tajam. Seenaknya dia berbuat begini padaku, tak terlintas sama sekali di pikiranku bahwa ia akan mengangkat tangannya ke atas sehingga remote itu tak berhasil aku gapai lalu aku pun kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Dan kali ini dia sedang menertawakan kecerobohan diriku.

 

Semakin lama aku menatap leher putihnya, entah mengapa kemarahanku berkurang perlahan. Apalagi melihat jakun kecilnya yang bergerak naik-turun. Tak sadar dan tak diperintah, aku meneguk air liurku sendiri tanpa tahu alasannya.

 

“Bangun-bangun. Pahaku geli karena rambutmu. Minggir!”

 

Ah, aku harus bersyukur terlebih dahulu pada Tuhan, mempunyai otak yang isinya rencana jahat semua. Aku mengangkat sudut kanan bibir. Ha! Sungguh balas dendam yang indah. Mari kita bermain-main sebentar, Tuan Kim.

 

“Aku tidak mau, RyeoWook-Sshi.”

 

Aku menggelengkan kepala dengan pelan tanpa jeda, respon pun muncul. Bunyi kekeh geli mulai terlontar dari mulut RyeoWook dan bahagianya terdengar hingga telingaku. Dalam hati aku berpuas diri tertawa keras, makin cepat aku menggerakkan kepala. Kali ini aku sukses membuat bahunya bergidik ngeri. Walapun sudah tak bisa dihitung oleh ke dua tangan kelakuanku yang sangat gila, tapi bila dengan RyeoWook tak ada kata bosan rasanya. Sekali lagi, makan ini, Tuan Kim.

 

Aw, SeoRin hahaha… geli. Hahaha… ampun, tolong hentikan. Hahaha.”

 

“Pindakan dulu saluran televisinya.” Aku memelankan gerakan kepalaku. RyeoWook hanya terkekeh saja tidak tertawa geli hebat seperti barusan.

 

“Baiklah! Tapi kau harus mengentikan gelengan kepalamu dulu, aku tak bisa menekan tombol remote dengan benar. Tanganku benar-benar lemas seperti kesemutan,” bujuknya.

 

“Alasan.”

 

“Aku tak berbohong, SeoRin.”

 

Aku percaya padanya, tanpa menjawab lagi aku menghentikan aksi balas dendamku. Tak lama, aku kembali menatap layar teve yang sekarang menampilkan acara yang berbeda. Hanya saja tayangannya masih membosankan, aku mengerucutkan bibir kesal.

 

“Pindahkan lagi! Acaranya tak seru.”

 

Tanpa harus memerlukan suatu argumen lagi, RyeoWook melakukan perintahku.

 

“Ganti!”

 

“Tayangan apa ini?! Aku tak tahu, ganti!”

 

“Pindah, lanjut.”

 

“Gan–tunggu. Ya Tuhan, Park SiHoo! Kekasihku!!!” Sontak aku berteriak kaget diakibatkan pemandangan indah yang tak sengaja aku lihat, tubuhku bergerak kegirangan, masih di atas paha RyeoWook tentunya. Lelaki ini bergerak gelisah lagi –aku rasa–. Maafkan aku.

“Kau jangan coba-coba untuk menggantikan saluran televisinya.” Desahan napas lelah terdengar kelura dari mulur RyeoWook, ia takkan menggangguku.

 

***

 

Alice in Cheongdam-dong merupakan nama drama yang tengah SeoRin dan RyeoWook lihat sekarang, kekasihnya eum… maksudku idolanya yaitu Park SiHoo menjadi pemeran utama pria. Ya, walau hanya tayangan ulang juga mungkin ia sudah melihat drama ini sebanyak lima kali ulangan namun masih senyum malu terbentuk begitu saja di bibir SeoRin ketika penglihatannya menangkap wajah memesona Park SiHoo memenuhi layar teve, bagaikan raut wajah remaja perempuan yang sedang jatuh cinta. Ah, sungguh betapa menyedihkan seorang Kim RyeoWook. Rasa-rasanya, SeoRin tak pernah memasang wajah seperti itu padanya.

 

Pesona Park SiHoo benar-benar dahsyat bagi SeoRin, dia lupa akan posisi duduknya sekarang. Kepalanya masih betengger di paha sang kekasih, tenang tanpa ada gerakan apapun. Sudah terlanjur nyaman ternyata.

 

“Menurutmu, siapa yang lebih tampan? Aku atau pria itu?” tanya RyeoWook, jujur SeoRin terinterupsi melihat teve gara-gara pria ini.

 

“Namanya Park SiHoo, bukan orang itu. Hm, lebih tampan siapa, ya? Aku pikir kau dan dia sama-sama tampan.” Dia berkata seperti itu berharap penyakit kekasihnya –ingin tahu segala– tak kambuh, agar RyeoWook dapat menutup mulutnya dan ia pun dapat ketenangan untuk menonton drama kembali.

 

“Terimakasih.”

 

Mendengar Kim RyeoWook berucap hanya terimakasih saja, ia kira semua sesuai rencana. Sayang, rencana hanya rencana karena tak lama kemudian RyeoWook bersuara lagi.

 

“Tapi, memangnya kami benar-benar sama tampan? Tampan yang sama, begitu? Ah, aku pikir berbeda. Ey, kau bohong, Rin-ah.”

 

“Kau ini mengganggu saja. Biar kuperjelas dan kau dengar! Wajah tampan Park SiHoo termasuk tipe pria dewasa dan kekar, kau kebalikannya. Kau masuk kategori pria imut dengan keelokan diambang batas sehingga kau malah terlihat cantik daripada tampan.” Tempo bicara SeoRin pada awalan kasar namun lambat laun menjadi pelan bagai orang malas. Kekasihnya memang benar-benar.

 

“Jadi, jika diurutkan. Siapa yang mendapat peringkat pertama?”

 

“Sangat jelas, Park SiHoo.”

 

“Kau yakin?”

 

“Iya.”

 

“Benar-benar yakin?” SeoRin mengangguk, mengiyakan.

 

“Seratus ribu persen aku yakin.” Dia sengaja menjeda ucapannya.

 

“Baiklah,” sahut RyeoWook.

 

Tak disadari oleh SeoRin, ibu jari pria bermarga Kim ini bergerak pelan di atas tombol remote di genggamannya. Kini ibu jarinya menempel di tombol berwarna merah, hanya menempel. Suara hatinya menghitung mundur dari tiga.

 

Tiga…

 

Dua…

 

Satu…

 

“KIM RYEOWOOK!!! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?!” teriakan SeoRin terucap keluar ketika melihat layar televisi menjadi hitam. Erangan kesal didengar RyeoWook, setelah itu ia merasakan beban di pahanya menghilang. SeoRin telah mengubah posisinya.

 

“Aku kesal padamu. Sebentar lagi aku akan wajib militer, kau malah memuja pria lain di hadapanku.” RyeoWook menatap nyalang SeoRin, hatinya diselimuti perasaan iri, kesal, kecewa dan membuat semuanya tak adil. Orang menyebutnya cemburu.

 

“Pencemburu!” SeoRin melipat ke dua tangan di dada juga mata yang membalas tajam RyeoWook. Ke dua bibir mereka diam membisu tak berdesis sekalipun menghasilkan sebuah keheningan sunyi menyeramkan di ruang ini. Mata dibalas mata. Tak memedulikan rasa perih mulai terasa, mereka sama-sama keras kepala tak mau mengalah. Kompak ke dua mata mereka tertuju pada satu objek, hanya saja pikiran mereka melayang di udara.

 

“Pantaslah bila aku cemburu ketika melihat kekasihku membentuk paras mabuk kepayang gara-gara pria lain.” Akhirnya, RyeoWook berani membuka suara sekaligus memecah keheningan yang tercipta barusan.

 

“Kau mengapa menjadi sensitif sehari ini? Bagai perempuan tengah datang bulan saja. Kau juga daritadi terus saja mengungkit tentang keberangkatanmu wajib militer, memangnya berapa lama lagi, hah?! Tiga bulan? Satu bulan? Niatku tadinya hanya bertemu kau di sini, menanyakan kewajibanmu sebagai warga negara dan menemanimu,” jujur SeoRin panjang lebar. Bukannya bertindak sesuatu, RyeoWook malah mengalihkan pandangannya menatap lavar teve. SeoRin dipusingkan dengan ungkapan kekasihnya yang keterlaluan. Di matanya, pria ini benar-benar menjelama seperti sosok perempuan tengah PMS–Pre-Menstruasi Syndrom–.

 

“Dua minggu lagi, SeoRin.”

 

Dirinya bertanya-tanya, ‘apanya yang dua minggu lagi?’

 

“Apa?”

 

Perasaannya mulai tak enak.

 

“Empat belas hari lagi aku akan melaksanakan kewajibanku.” Guratan sendu kental sekali di dalam mata RyeoWook tapi bibirnya tersenyum. Sungguh raut wajah yang membuat merinding.

 

Hati SeoRin terperenyak mendengar perkataan RyeoWook, jantungnya perih bagaikan ditohok sebuah belati tajam. Empat belas hari bukanlah waktu lama bagi SeoRin untuk menghabiskan waktu dengan sang kekasih. Bagaimana ini? Ia hanya punya waktu dua minggu sedang dua puluh bulan lamanya ia takkan melihat wajah RyeoWook.

 

Rasa khawatir menyerang diri SeoRin. Khawatir dengan kehampaan jiwanya akibat orang yang membuatnya bersemangat akan jauh di sana. Khawatir dengan tersiksanya dia nanti. Khawatir dengan perasaan rindu di lubuk hatinya. Khawatir dengan arti kesepian yang sebenarnya.

 

“Jangan berbohong, kau Kim RyeoWook. Bukan waktu yang tepat untuk bercanda.”

 

“Haruskahku memerlihatkan kertas jadwalku padamu?”

 

SeoRin bagai disambar petir di siang bolong. Ingin rasanya ia menarik kembali waktu agar ia bisa menahan ucapan berisi pertanyaan pada RyeoWook kapan ia akan pergi. Ingin sekali. Kejadian manis sebelum ia mendengar kenyataan menyakitkan dari RyeoWook berterbangan menghilang jauh. Yang ada di benaknya ialah bagaimana keadaan dirinya dan kekasihnya nanti.

 

“Andai kau pergi, siapa yang akan rela masak makananku?” nada suara SeoRin parau. Sangat.

 

“Aku sudah meminta ibuku, masakanku hampir sama dengannya. Dia juga setuju.”

 

“Lalu yang membangunkanku di akhir minggu?”

 

“Kau harus belajar mandiri. Waktu itu aku pernah mencoba dengan memakai alarm dan kau bangun.”

 

“Terus, siapa yang akan memarahiku karena aku tak melaksanakan membersihkan diri sebelum dan sesudah tidur?”

 

“Aku kira temanmu Han IlJin cukup baik dengan sikap kebersihannya. Dia juga bagus dalam urusan menceramahi. Hatiku akan sangat tenang apabila dia menemanimu tinggal di rumah selagi aku wajib militer.”

 

Percayalah, kegiatan berdialog ini terjadi tanpa adanya kontak mata sekalipun. Ke duanya lebih memilih untuk melihat objek lain daripada menatap paras teman bicara. RyeoWook memandang layar televisi yang berwarna hitam sedang SeoRin menunduk menatap ubin yang terbuat dari kayu.

 

“Kau benar-benar jahat, Kim RyeoWook. Tak kusangka.” Hembusan napas gusar sebanyak tiga kali keluar dari mulut kecil milik SeoRin.

 

“Jahat bagaimana? Bukankah aku sudah mempersiapkan segalanya agar kau tak uring-uringan ketika aku pergi?” suara RyeoWook juga sedikit kasar karena SeoRin mencap dirinya jahat. Bukannya apa-apa namun hal itu terdengar seperti kekasihnya tak menghargai apa yang telah ia siapkan.

 

“Menurutmu? Apa aku harus sebutkan satu-satu?” napas SeoRin memburu, ke dua tangannya mengepal kuat. “Sebelumnya, aku sangat kaget dan berterimakasih karena kau telah memikirkan bagaimana hidupku nanti saat kau pergi. Kau hanya melewatkan satu poin yang cukup fatal, apakah kau memikirkan juga dengan perasaan ku ketika kau tiada di sini? Aku akan mempersilakanmu untuk menjawab pertanyaanku yang satu ini. Sekarang aku hanya ingin menyebutkan kejatahan-kejahatanmu, ku harap kau mau mendengarkanku.”

 

“Pertama, aku mengetahui kau akan wajib militer dari ibumu dan kau seenaknya memakai alibi sikapku yang tak acuh padamu. Dua, empat belas hari lagi? Bukankah kau sangat tidak memikirkan diriku hingga menyisakan dua minggu untuk menghabiskan waktu denganmu? Tiga, aku takkan melihatmu selama dua puluh bulan. Eman ratus hari bukanlah sekejap, sekilat kedipan mata, RyeoWook. Empat, kau sukses menyiksaku membiarkan terbelunggu dalam rindu. Dan lima–”

 

Secepat kilat SeoRin menghentikan kicauan panjangnya, setelah ia merasakan aliran kehangatan mendera tubuhnya. Napasnya tercekat manakala sepasang tangan melingkar indah di pinggangnya. Sangat pas. Bahunya mendapat alunan napas yang tak bisa disebut tenang pun boleh ditebak adalah napas dari seorang RyeoWook.

 

“Maaf.” Dekapan RyeoWook makin erat ditubuh SeoRin. “Aku minta maaf, SeoRin.” Penyesalan memenuhi suaranya dan sangat jelas terdengar di telinga SeoRin. “Sungguh,” lanjutnya.

 

Entah atmofer seperti apa yang menyelimuti ruangan ini. Begitu kacau rasanya. Mata milik perempuan bermarga Shim itu mengabur terhalang oleh cairan bening yang memenuhi area matanya. Tak harus menunggu lama, air mata jatuh begitu saja mengalir pelan di pipinya. Isak  tangis semakin deras saat tangan RyeoWook mengusap lembut pundak lembut SeoRin. Gumam kata ‘Maaf’ masih terus keluar dari bibir RyeoWook. Ia benar-benar menyesal dan sedikit kecewa pada diri sendiri.

 

“Sudahlah. Mengapa Shim SeoRinku yang tangguh menjadi cengeng begini? Aku tak menemukan cantikmu lagi, kau jelek sekarang. Kau tahu? Dan ternyata bukan matamu saja yang berair, hidungmu juga.” Mencoba menghilangkan rasa sedih sang pacar, Kim RyeoWook menghibur dengan ejekan pun ditambah  bahunya mengangkat jijik. Membuatnya sangat realistis. Jemari tangannya membersihkan air mata yang masih mengalir dari mata indah SeoRin.

 

Senyum terpaksa dibentuk dikedua sudut bibir perempuan ini, walau hati masih ingin menangis sejadi-jadinya. “Dan kejahatanmu terakhir adalah, kau membuatku menjadi jelek gara-gara menangis.” Wajah SeoRin membentuk raut kesal menggemaskan juga bibirnya mengerucut jangan lupa tubuhnya masih bergetar akibat tangisannya hingga membuatnya tersedu-sedu. Entahlah, sangat manis dipandangan RyeoWook.

 

“Kau masih mau mendengar jawabanku dari pertanyaanmu tadi?” RyeoWook sedikit menundukkan wajah, menyejajarkan dengan wajah SeoRin. Ia bisa melihat kondisi mengenaskan dari muka kekasihnya.

 

“Iya,” jawab SeoRin dengan napas masih tersedan.

 

“Sebenarnya, sebelum aku memikirkan apa yang terjadi di hari-harimu saat aku pergi jauh aku telah memikirkan perasaanmu dulu. Bukan hanya kau saja yang tersiksa, aku juga sama. Hanya waktu yang dapat meredakan secara perlahan rasa rindu atau apapun itu. Bahkan tadinya aku ingin memberitahumu seminggu sebelum aku wajib militer, kau mungkin akan sangat kecewa dan menyesal. Tapi aku berpikir bila memberitahumu seperti itu rasa sedihmu akan terganti dengan pikiran bagaimana dalam kurun waktu yang amat sebentar kau dan aku bisa melakukan sesuatu yang mengesankan. Berkencan sehari tiga kali, mungkin. Atau aku mengajarkanmu agar bisa memasak sendiri.” Jawaban menenangkan yang diakhiri oleh senyum menawan yang sangat tampan.

 

Sekali lagi mereka berpelukan, SeoRin menjadi yang pertama melakukannya. Ia menyembunyikan senyuman lega dari RyeoWook. Respon tubuh SeoRin memang selalu begini apabila tangan sang kekasih mengusap punggungnya, bergetar juga sedikit tersentak karena merasakan jutaan aliran listrik menjalar seluruh tubuh. Bila memang niat awal RyeoWook seperti ini, ia tak bisa apa-apa lagi. Tak langsung, ia juga akan berpikir sama.

 

“Satu lagi, mau janji padaku?”

 

“Janji apa?”

 

“Kau tak akan menangis karena aku pergi wajib militer. Seperti yang kau bilang tadi, aku tengah mengerjakan tugas sebagai warga negara yang baik. Jangan cengeng! Aku tak bisa fokus kalau kau menyedihkan. Saat aku kembali nanti, kau harus sudah mandiri dan jangan coba-coba untuk berpaling dariku. Bagaimana?” RyeoWook melepaskan dekapan SeoRin, jari kelingking ia acungkan sejajar dagu sempurna SeoRin. Dengan mata merahnya ia menatap diam jari RyeoWook.

 

“Baiklah, aku janji padamu.” Jari kelingking ke duanya saling bertaut, mata saling betatapan merekam wujud keagungan Tuhan dalam benak. Senyum tulus merekah di bibir masing-masing.

 

“Kau tahu, Kim RyeoWook? Aku sangat penasaran dengan wajahmu nanti ketika rambutmu dipangkas. Melihat pria lain dipotong rambutnya saat akan wajib militer, ketampanan mereka semakin terpancar. Aku harap kau juga begitu, karena aku belum melihat kau tampan seperti kebanyakan pria.”

 

Hahaha… benarkah? Kalau begitu mari kita lihat sepuluh hari lagi.” RyeoWook menarik tubuh SeoRin bersandar di dada miliknya, mencium kening perempuannya dengan penuh kelembutan.

 

 

THE END

RABU, 15/04/2015 – SABTU, 25/04/2015 22:41:59

@Septia08880

 

 

6 Comments (+add yours?)

  1. wookpil
    Jul 10, 2015 @ 00:34:49

    Kyaaa ini bagus banget.
    feelnya dapet banget ,sweet pula.
    aku suka ^^

    Reply

    • SeptiaTrie
      Jul 10, 2015 @ 17:03:34

      Holla Wookpil~~
      Terimakasih atas komentar nya, alhamdulillah kalau feelnya udah ngena padahal aku kira FF ini ngebut banget >.<
      Oh iya salam kenal^^

      Reply

  2. spencertomato
    Jul 13, 2015 @ 01:01:45

    Suka bgt kalo cast nya Ryeowook
    Jadi ngebayangin kepala semi plontosnya gimana >.<

    Reply

  3. Ul
    Jul 23, 2015 @ 12:04:14

    owww so sweet~~~^^ bukan Seorin aja yg penasaran ama rambut wookie oppa kalo mau wamil, saya juga! suka sama kalimat yang ini “Hanya waktu yang dapat meredakan secara perlahan rasa rindu atau apapun itu.” eaaa… kata2nya… Keep Fithing Author!!!

    Reply

  4. Septia08880
    Jul 27, 2015 @ 14:19:38

    Kalau sama rasa penasarannya tos dulu dong *tos!* hahaha. Makasih ya udah mengomentari FF ini 😀 Untuk kamu juga Fighting^^ Salam kenal juga ya 🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: