Angel’s Call [4/?]

angels call

Author : Sophie Maya

Title     : Angel’s Call (004)

Cast     : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC), Choi Siwon, Lee Sungmin, Zhoumi, Henry, etc

Genre   : School-life, romance

Rating  : G

Length : chapter

Note     : original fanfiction was published on my personal blog: www.sophiemorore.wordpress.com

 

He’s crying and the rain starts to pour

Moon Chae Won

 

Pesanan segelas es lemon tea Chae Won datang ketika gadis itu menutup flip ponselnya. Siwon menyodorkan gelas itu ke depannya, karena pelayan tak menaruh gelas itu langsung di depan Chae Won.

“Terimakasih,” ucap Chae Won.

Siwon tersenyum.

“Lihat, hujan turun!” seru Siwon menatap kea rah jendela. “Ini musim panas dan hujan turun, tumben sekali.”

Chae Won menatap kea rah jendela kaca. Air hujan mengetuk-ngetuk jendela dan turun pelan ke tanah aspal. Bau hujan ikut masuk ked ala restoran. Chae Won menyesapnya, bau tanah bercampur dedaunan yang selalu disukainya.

Sungmin juga baru selesai menelepon dan pemuda itu memandangi Chae Won dan Siwon dengan raut bersalah. “Maaf, apa tadi aku mengobrol di ponsel kelamaan?” cengirnya sambil menggaruk kepala. “Tadi temanku menelepon dan menanyakanku dimana. Persis seperti menginterogasi dibanding menanyakan.”

“Apa temanmu polisi?” celetuk Chae Won. Dan saat Sungmin menatap bingung padanya, Chae Won melanjutkan dengan nada geli, “menginterogasi… seperti polisi?”

Sungmin tersedak, pemuda itu tertawa renyah. “Tidak, Chae Won. Dia bukan polisi, dia anak SMA juga seperti kita. Memakai seragam sekolah, terkadang membolos pelajaran dan ketahuan mencontek.”

Chae Won dan Siwon kompak tertawa.

“Tak masalah, Sungmin. Chae Won juga tadi sibuk ditelepon temannya dan lama sekali. Entah apa yang mereka bicarakan tapi terlihat serius bahkan aku melihat air mata hampir keluar dari kelopak matanya,” ujar Siwon jahil.

Chae Won meninju dada Siwon pelan. “Hei, aku tak menangis!”

“Kau menangis, jangan bercanda. Kau tadi sesegukan.” Siwon menyeringai. “Kau tadi ditelepon siapa? Kau baru beberapa hari di Seoul tapi sudah mendapat teman untuk curhat selain aku, ya? Aku merasa tersaingi, nih!”

Chae Won melempar senyum kea rah Siwon. “Hanya… seseorang… yang butuh pendapat. Sudahlah, lupakan masalah itu. Bagaimana dengan rencana reuni kita?” Chae Won memalingkan wajah kea rah Sungmin yang sepertinya memang sudah bersiap menjelaskan segala sesuatunya.

“Mm, begini… sebenarnya tak cocok juga disebut reuni karena hanya akan ada sepuluh orang saja nantinya. Oke, sebenarnya tiga belas, tapi dua orang lainnya—Bo Eun dan Jonghyun—tinggal di luar negeri dan tak bisa kembali karena kerjaan mereka cukup padat. Dan satu orang lainnya, dia sedang koma…”

“Koma?” Chae Won terperanjat. Begitu pula dengan Siwon.

Sungmin mengangguk pelan. “Iya, kalian tahu Kibum? Dulu di binamusika dia pegang drum. Dia kecelakaan mobil seminggu lalu saat mau pergi berlibur dengan keluarganya. Kedua orang tua dan adiknya meninggal, sementara Kibum tak sadarkan diri dan koma. Dokter bilang belum ada perubahan berarti akan kondisinya. Dan jika pun sadar…” Sungmin menggigit bibirnya, “aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kibum melihat seluruh keluarganya meninggal dalam kecelakaan itu.”

Chae Won merasakan tangan Siwon meremas pundaknya pelan. Chae Won menoleh dan mendapati Siwon memandanginya dengan tatapan beda. Chae Won menundukkan kepala. Dia mengerti arti pandangan Siwon itu. Siwon ingin menguatkannya, Siwon ingin memberi energi lebih pada Chae Won.

“Aku… aku ingin menjenguk Kibum…,” ujar Chae Won dengan suara serak.

“Aku bisa mengantarmu besok kalau kau mau,” tawar Sungmin. Chae Won menyetujuinya langsung.

“Oke… sekarang bisa kita kembali ke topik? Karena jujur aku jadi sedikit sentimental membahas masalah Kibum,” ujar Siwon.

“Ya, ya, ya, tentu…” Sungmin dan Chae Won mengangguk setuju.

“Jadi akan ada sepuluh orang—aku, Siwon, Chae Won, Ji Eun, Hye Na, Hyuk Jae, Jung Soo, Ryeowook, Shindong, dan Kyuhyun.” Sungmin mendikte satu persatu nama. Lalu menatap Chae Won. “Kau masih ingat mereka semua, kan?”

Chae Won berpikir sebentar. “Hm… tak terlalu.”

“Ji Eun konduktor; Hye Na, Hyuk Jae dan Jung Soo suling;  Ryeowook biola, Shindong drum, dan Kyuhyun pianika.”

Chae Won mengangguk-angguk seiring dengan mulai diingatnya satu persatu wajah teman-temannya dulu. “Ah, Kyuhyun, kau, dan aku… kita bertiga pianika kan?”

“Ya, benar!”

“Oh, aku ingat… Kyuhyun… Kyuhyun…” Chae Won tersenyum kecil. “Ibunya wali kelas kita.”

Sungmin terdiam sebentar. “Ya.”

“Ibunya wali kelas favoritku.” Chae Won tersenyum semakin lebar. “Beliau benar-benar orang yang baik, penyayang, dan… dan…” Chae Won menarik napas panjang. “Dia sudah seperti ibu kedua bagiku.”

Sungmin dan Siwon mengangguk kecil, ekspresi kedua pemuda itu mendadak berubah murung. Dan Chae Won menyadari hal itu.

“Hei, kenapa?”

“Chae Won… sepupuku…” Siwon meraih tangan Chae Won dan meremasnya lembut. “Aku minta maaf, sepertinya… lagi-lagi… ada yang lupa kuceritakan padamu.”

Chae Won memandangi Siwon bingung. Lalu memandang Sungmin yang juga menatapnya dengan raut gelap.

“Ada… apa?”

“Ibu Kyuhyun… wali kelas kita…” Sungmin menarik napas panjang. “Sudah meninggal…”

Chae Won terdiam. “Yang benar…?”

Sungmin mengangguk. “Dua tahun setelah kepindahanmu.”

Tangan Chae Won menutup mulutnya yang terbuka lebar. Dia menatap Sungmin dan Siwon bergantian, berharap kedua temannya sedang berbohong. Tapi Chae Won sama sekali tak menemukan apa yang diinginkannya. Justru, semakin melihat wajah Sungmin dan Siwon, Chae Won semakin tahu, bahwa orang yang dulu dikaguminya kini benar-benar sudah pergi jauh.

“Ta-tapi… bagaimana…”

“Jantung,” ujar Siwon.

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Chae Won. Tubuh gadis itu bergetar pelan. Siwon menarik Chae Won dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggung gadis itu pelan.

“Chae Won… Chae Won… tenanglah…”

“Kenapa banyak sekali yang kulewatkan disini?” Chae Won menangis kecil.

Sungmin menggelengkan kepala. “Tidak, Chae Won. Kau tak melewatkan apapun disini. Jangan menangis, kumohon… aku ingin kau di Seoul ini bahagia, Chae Won. Aku ingin kau tak bersedih lagi. Kau kembali ke Seoul untuk memulai kehidupan yang lebih baik, kan?”

Chae Won menatap Sungmin lekat. Tampaknya, pemuda itu sudah tahu apa yang terjadi dengan Chae Won. Tampaknya, Siwon telah menceritakan itu pada Sungmin.

“Ya, kau benar… aku harus hidup lebih baik lagi.” Chae Won menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Hal itu membuatnya sedikit merasa baikan. Dia mengusap sisa-sisa airmatanya. Sungmin dan Siwon telah merencanakan banyak hal untuk reuni ini, Chae Won tidak tega memperlambat kinerja mereka. “Huff, baiklah… hhh… mari kita teruskan…”

Sungmin dan Siwon saling berpandangan sejenak.

“Oke, begini. Aku sudah bicara pada sebagian besar mereka dan responnya positif sekali. Mereka bilang aku tinggal mengatur waktu dan mereka akan mengusahakan datang.” Sungmin memperbaiki posisi duduknya.

“Hm, bagaimana keadaan Kyuhyun? Apa kau tahu dia dimana?” tanya Chae Won tiba-tiba. “Aku hanya ingin tahu, bagaimana keadaannya… setelah ibunya… meninggal…”

Sungmin menatap Chae Won selama beberapa detik, sebelum akhirnya menatap kea rah lain. “Kyuhyun… satu sekolah denganku.”

Chae Won mendengarkan penuh minat.

“Ayahnya sudah menikah lagi, jadi Kyuhyun punya ibu tiri. Kyuhyun adalah salah satu anak pintar di sekolah, dia selalu dapat peringkat sepuluh besar pararel, sepertinya itu menurun dari kepintaran almarhum ibunya…”

Chae Won tersenyum tanpa sadar mendengar cerita Sungmin.

“Mmm… Kyuhyun dan aku sebenarnya amat dekat, terutama kami memang selalu bersama-sama selepas SD, SMP, bahkan SMA ini. Kyuhyun juga satu tempat les denganku, les piano.”

“Lalu kenapa dia tidak datang bersamamu kesini?” tanya Chae Won.

Sungmin menggaruk kepalanya. “Sejujurnya, hari ini Kyuhyun bolos les.”

Chae Won mengangguk-angguk mengerti. “Sungmin-ah,” ujar Chae Won menyentuh lembut tangan Sungmin.

“Ya?”

“Titip salam buat Kyuhyun.”

Sungmin mengangguk dan tersenyum. “Pasti kusampaikan.”

“Baiklah, kalau begitu… sekarang kita tentukan tempat pertemuan kita nanti,” kata Siwon mengarahkan mereka kembali ke fokus pembicaraan. “Aku ada dua usul, Kim’s atau Aldante… bagaimana?”

.

.

.

.

.

.

Hei, ini aku.

Hm, orang yang akhir-akhir ini kurang kerjaan memberimu tebak-tebakkan.

Ini nomorku, kuharap kau menyimpannya. Terserah kau mau menamaiku apa, ‘si pengganggu’ atau ‘tukang tebak-tebakkan’ aku terima.

Oh ya, apa aku boleh meneleponmu lagi?

 

Chae Won membaca pesan singkat di ponselnya, dari pemuda itu. Pemuda asing yang selalu meneleponnya belakangan ini dengan nomor disembunyikan. Chae Won baru saja akan membalas pesan itu, ketika tahu-tahu layar ponselnya berkedap-kedip. Dari nomor yang sama dengan nomor yang baru saja mengiriminya pesan.

“Hei, aku tidak akan mengajakmu bermain tebak-tebakkan dulu.” Suara itu terdengar cepat dan terburu-buru.

“Ya, aku mengerti,” kata Chae Won.

Terdengar dehaman di seberang. “Kau sudah menerima pesanku?”

Chae Won mengangguk. “Sudah… tapi aku belum memutuskan akan menamai nomormu atau tidak.”

“Kenapa?”

Chae Won bisa merasakan nada kecewa dalam suara pemuda tersebut dan itu membuatnya mengerjapkan mata lucu.

“Karena aku tidak tahu namamu,” ujar Chae Won.

“Aku juga tidak tahu namamu tapi aku sudah menyimpan nomormu dengan sebuah nama.”

“Oh, ya?”

“He-em. Namanya ‘Bidadari’.” Terdengar suara kresek-kresek sebentar. “Karena empat digit terakhir nomormu 1004.”

Chae Won tertawa ringan. “Oh, nama yang bagus. Terimakasih.”

“Jadi… kau akan menamaiku apa? Tukang tebak-tebakan?”

Chae Won tertawa sambil menggelengkan kepala. “Tidak tahu.”

“Kurasa ini menyenangkan,” ujar pemuda di seberang. “Heran, aku merasa nyaman berbicara denganmu dan sebenarnya, aku ingin berterimakasih karena kau sudah memberikan usul yang keren sekali kemarin.”

“Oh, ya?”

“Aku sudah bicara pada ayahku. Responnya tidak terlalu bagus, tapi herannya, aku merasa lega sesudahnya. Terimakasih sudah mendorongku untuk bicara dengan ayahku.”

“Sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya mengatakan sesuatu yang kupikirkan saat itu juga.”

“Tapi itu berguna sekali bagiku. Terimakasih banyak, sungguh sepertinya aku harus menulis berlembar kertas terimakasih untukmu.”

Chae Won tertawa renyah.

“Kau tahu, aku memikirkan ini…” pemuda itu berdeham sebentar. “Maukah kau berteman denganku?”

Kedua bola mata Chae Won mengerjap.

“Aku tahu kita tak saling mengenal. Aku tak tahu kau ada dimana, bagaimana rupamu, apa aku pernah berpapasan di bus denganmu atau tidak, tapi kurasa aku akan senang jika memberimu status seorang teman. Mengobrol denganmu sungguh menyenangkan.”

Chae Won mendengarkannya dalam senyum. “Teman adalah ide bagus.”

“Ya, ide bagus, kan?” pemuda itu berseru senang. “Tapi mungkin kita bisa menamai status hubungan kita lebih spesifik… teman di telepon? Kita hanya berbicara di telepon saja, kan? Aku tidak berpikir kita perlu tahu nama satu sama lain atau bertemu tatap, tapi kita bisa menceritakan apapun yang kita inginkan.”

Chae Won mengetuk-ngetukkan bibirnya. Tawaran itu terdengar menarik. Teman di telepon. Teman yang hanya berbicara melalui telepon, berhubungan melalui sinyal dan koneksi jaringan. Dan sejujurnya, Chae Won juga mulai menyukai kebiasaan unik pemuda yang sering meneleponnya ini.

Chae Won belum pernah bertemu dengan pemuda itu, tapi dia merasa sanggup berjam-jam bicara dengannya.

“Baiklah. Friends on the phone. Aku setuju.”

“Sungguh?”

“Ya.”

“Terimakasih.”

Chae Won mengangguk. “Sama-sama.”

“Aku… harus menutup telepon ini dulu. Aku harus mengerjakan tugas sekolah dan kupikir kau juga ada tugas, kan?”

“Iya, ada tugas Matematika tentang faktorial.”

“Matematika terdengar mudah.”

“Oh, apa aku sedang bicara dengan pemuda pintar disini?”

“Hahaha.”

Chae Won sedikit terkesiap ketika didengarnya sebuah tawa kecil di ujung sana. Untuk pertama kalinya, dia mendengar pemuda ini tertawa. Dia sudah mendengar helaan napas pemuda itu, kalimat penuh keputusasaan, dan bahkan tangisannya. Kini, ditambah mendengar tawanya.

Sejenak, Chae Won merasa dia bisa melihat langsung sang pemuda seolah berada di hadapannya. Tengah memegang ponsel dan tertawa lepas.

“Selamat malam, Bidadari…” ucap pemuda itu mengakhiri sambungan teleponnya.

“Selamat malam juga…” Chae Won menatap layar ponselnya yang berbunyi ‘tutt tutt tutt’, dan kemudian gadis itu berbisik pelan, “…malaikat.”

Ya, Chae Won menyimpan nomor pemuda itu dengan nama: Malaikat.

Bidadari dan Malaikat, sebuah sinonim. Karena Chae Won merasa pemuda itu adalah sinonim dari dirinya.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun baru bangun ketika dirasakannya sebuah tangan menyentuh jidatnya. Kyuhyun ingin membuka mata, tapi dia tahu siapa yang sedang menyentuh kepalanya saat ini, dan itu membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya.

Itu ibu tirinya.

Harum jasmine yang lembut tercium di hidungnya, parfum ibu tirinya.

“Kyuhyun Sayang…” suara pelan ibu tirinya memanggil. “Aku pamit.”

Kyuhyun tetap meneruskan akting pura-pura tidurnya.

“Aku perlu menenangkan diri, atas tawaran ayahmu.”

Kyuhyun bisa mendengar desahan napas yang berat dari bibir ibu tirinya.

“Meski kau bukan putera kandungku, meski aku bukan ibu kandungmu, dan tak akan pernah bisa menjadi ibu kandungmu… aku tetap menyayangimu, Kyuhyun…”

Lalu Kyuhyun tak mendengar apapun lagi setelah itu. Semua sunyi, benar-benar sunyi. Menit demi menit berlalu dalam kelengangan. Dan ketika akhirnya Kyuhyun membuka mata, ibu tirinya sudah tak ada lagi di kamar.

.

.

.

.

.

.

.

Ayah mengatakan akan menceraikan ibu tirinya. Ayah mengatakan itu saat Kyuhyun sarapan di ruang makan dan itu membuat Kyuhyun tersadar alasan kenapa pagi ini meja makan hanya tersedia roti tawar dan selai strawberry.

Kyuhyun menegakkan kepalanya dan memandang Ayah seolah memandang orang asing.

“Ayah melakukan ini karenamu,” ujar Ayah. “Kamu sudah meyakini kebahagiaan sejati yang salah selama ini dan kamu tetap ingin kehadiran Ayah dalam kehidupanmu. Lalu, Ayah akan melakukan sesuai keinginanmu. Ayah akan ada di hidupmu.”

“Tapi itu bukan alasan ayah untuk menceraikannya, kan?!” Kyuhyun melotot marah. Dia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. Tempo hari Kyuhyun memang berkata pada Ayah bahwa dia mencabut kata-katanya tentang konsep kebahagiaan idamannya dan akan menjalani hidup apa adanya. Kembali ke keadaan normal. Tapi, itu bukan berarti Ayah harus menceraikan ibu tirinya.

“Kau membuang kebahagianmu, dan Ayah juga akan melakukan hal yang sama. Sehingga kehidupan kita bisa kembali ke titik semula. Tanpa adanya wanita itu. Kita bisa kembali menjadi ayah dan anak yang utuh.”

Mata Kyuhyun terpicing tajam. “Ayah, dia punya nama dan dia istri ayah! Apakah itu tidak keterlaluan memanggilnya dengan sebutan ‘wanita itu’?”

“Kau ini kenapa, Kyuhyun? Dulu kau selalu menekuk wajah saat aku ingin menikahinya. Kini begitu Ayah akan menceraikannya, kau malah marah-marah?”

“Karena Ayah tak pernah mau berusaha benar-benar mengerti ucapanku!” Kyuhyun mendobrak meja keras. Dia berdiri cepat dan menggeram kesal. “Ayah tidak pernah mau memahami maksud ucapanku! Ayah salah memahami apa yang aku ucapkan!”

Ayah menatap Kyuhyun tak mengerti.

“Ayah, apa Ayah pikir dengan menceraikan ibu tiriku, kita akan kembali seperti semula? Apa Ayah pikir begitu?” Napas Kyuhyun tersendat-sendat ketika pemuda itu berusaha menahan emosinya mati-matian. “Egoisme Ayah itu! Selalu berpikir semua adalah kesalahan orang, semua hal cacat karena orang lain. Apa ayah pernah berpikir, bahwa ini semua gara-gara Ayah?!”

Kyuhyun berjalan meninggalkan ruang makan dengan cepat, dia berlari ke luar rumah dan mengabaikan teriakan makian Ayah. Kyuhyun mengambil motor di garasi dan menyalakan mesinnya. Kyuhyun menggas motornya dengan kecepatan penuh. Kyuhyun tak peduli langit mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jalanan aspal. Dia justru memacu motornya lebih kencang lagi, sekencang yang bisa dicapai motor itu.

 

Ibu… Ibu… Ibu… tebak-tebak aku sedang dimana?

 

Kyuhyun memejamkan mata.

 

…aku sedang berada di dunia tanpa ujung.

 

Dadanya terasa tercabik-cabik. Dia merasa kesal dan marah luar biasa.

 

Ibu, tebak-tebak apa yang sedang kulakukan?

 

Motor Kyuhyun berhenti. Pemuda itu menelungkupkan kepala di atas stang, kemudian berteriak sekencang-kencangnya.

 

…Ibu, aku sedang mencari ujung dari dunia tanpa ujung.

.

.

.

.

.

.

To be continued.

7 Comments (+add yours?)

  1. Roro Gusti Dero
    Jul 08, 2015 @ 15:20:02

    huaaa ga sabar sm kelanjutannya tapi ini kependekan thor 😦 tapi tetep semuanya keren kok 😉

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Jul 08, 2015 @ 16:12:49

    Ah. Baru mau baikan. Masa berantam lg, 😥 sedih banget. Aku suka alurmya. Ditunggu next partnya thor

    Reply

  3. cici
    Jul 08, 2015 @ 17:49:42

    bru pertma baca..mungkinkah yg di mnlpn chae won adlh kyuhyu

    Reply

  4. elfishyvil
    Jul 08, 2015 @ 18:12:10

    Huh….
    Bari baikan udah mulai bertengkar lagi…
    Aish…

    Reply

  5. onter28
    Jul 08, 2015 @ 21:36:18

    Walaupun rada pendek tapi aku suka bgt sama ceritanya, seorang ank yg hanya ingin dimengerti oleh ayahnya, huhuhuhuhuhh

    Reply

  6. esakodok
    Jul 08, 2015 @ 23:33:18

    ayahnya gegabah banget..kalo kaya gini kasihan juga ibu tiri kyu.

    Reply

  7. lieyabunda
    Jul 10, 2015 @ 04:11:30

    baru juga mau baikan,,,, udah berantem lagi….. huhuhuhuhu
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: