Memories [14/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*************************

Yesung kembali ke tempat duduknya setelah Donghae dan Vincent selesai bernyanyi. Ia baru saja bercakap-cakap dengan Allan saat Jeany diam-diam menyelinap pergi. Tapi sekarang ia bisa melihat wanita itu sudah kembali pada Allan, nampak berusaha mengajak pulang yang sepertinya ditolak.

Ia tersenyum. Ia punya sebuah lagu untuk mereka.

“Malam ini…aku akan menyanyikan salah satu lagu favoritku.” Ia menoleh pada Allan dan Jeany bergantian sambil melempar senyum. “Dan lagu ini kupersembahkan untuk sepasang suami istri yang sangat romantis di sebelah sana.”

Sontak semua mata tertuju pada Allan dan Jeany. Pengunjung lain bertepuk tangan kemudian kembali menatap Yesung.

“Aku harap kalian menyukainya.”

Yesung menarik nafasnya, memamerkan senyumnya yang lebar seakan menegaskan pada semua orang khususnya wanita yang duduk di sebelah Allan itu bahwa ia baik-baik saja. Bagaimanapun sakitnya, bagaimanapun dadanya seperti dikoyak-koyak oleh cakar tajam saat ini, ia bisa mengatasinya. Ia…baik-baik….saja.

Kali ini hanya Vincent yang mengiringinya dengan piano. Ketika Vincent mulai menekan tutsnya, Yesung memejamkan mata, lalu mulai membuka mulutnya.

I cant sleep, i just cant breathe

When your shadow  is all over me baby

Dont wanna be a fool in your eyes

Cause what we had was built on lies

And when our love seems to fade away

Listen to me hear what i say

 

I dont wanna feel the way that i do

I just wanna be right here with you

I dont wanna see, see us apart

I just wanna say it straight from my heart.

 

I miss you…..

 

***

Jeany menatap keluar jendela. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu saat Yesung menyanyikan sebuah lagu untuknya dan juga Allan. Ia akui Yesung belum kehilangan kemampuan itu. Suaranya masih luar biasa dan ia akan sangat bodoh kalau berkata tak menyukai suaranya. Namun, entah kenapa ia tak bisa menikmati pertunjukan kecil itu.

Yesung sesekali menatapnya, tersenyum padanya, bahkan menunjuknya sehingga Allan tertawa seakan itu hanya sebuah lelucon. Seluruh tubuhnya sulit bergerak saat telunjuk itu diarahkan padanya seakan ia adalah seorang tertuduh. Ia merasa tersudut meski ia tidak melakukan kesalahan apapun. Apa Yesung masih memiliki perasaan yang sama? Apa Yesung sedang menakut-nakutinya? Atau Yesung akan mengganggu rumah tangganya?

Ia sadar jika ketakutan itu mungkin tak beralasan. Akan sangat jahat jika ia punya pikiran seperti itu. Harusnya bahkan pikiran itu tak perlu terbesit karena ia mengenal bagaimana watak Yesung yang sebenarnya. Emosi yang dulu selalu meluap-luap dan berlebihan terlihat sudah ditanggalkan. Yesung nampak jauh lebih bisa mengendalikan sikapnya saat ini.

Drrrt

Drrtt

Ia tersentak kaget saat benda dalam tas tangannya berdering. Ia perlu menetralkan kerja jantungnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

“Hallo?” sapanya pelan saat ekor matanya menemukan Allan sedang menatapnya kebingungan. Mungkin karena reaksinya barusan.

“Mom? Ya, aku dan Allan sedang dalam perjalanan ke sana. Apa Adam sudah tidur?” Ia mengangguk-angguk mendengarkan perkataan ibunya di ujung sana. Sesekali ia akan menatap Allan yang masih fokus menyetir.

“Hm…baiklah, besok sore Allan akan menjemputnya.”

“Kenapa?” tanya Allan setelah Jeany mematikan sambungan. Jeany menghela nafas.”Kita tidak perlu menjemputnya. Dia ingin menginap disana.”

Allan hanya menganggukkan kepalanya. Karena batal ke rumah orang tua Jeany, ia pun membelokkan stir ke kiri menuju rumah mereka. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sampai.

Jeany masuk lebih dulu. Tanpa mengatakan apa-apa, ia melepas sepatu hak tingginya, menentengnya ke dalam kamar kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Saat ia keluar dengan handuk kecil dibahunya, Allan sudah ada di depan pintu.

“Ada apa?”

“Kau sangat aneh.”

Jeany mengelap wajahnya yang basah dengan handuk kecil itu. Dengan canggung ia melewati Allan lalu duduk di pinggir tempat tidur.

“Aku sudah mengatakannya.”

“Bukan itu yang ingin kudengar.”

“Allan, apa yang ingin kau dengar? Aku hanya lelah.”

Allan menghela nafas panjang. Ia duduk di samping Jeany tanpa mengindahkan tatapannya.“Aku khawatir padamu,” ujarnya pelan. Jeany tak enak hati mendengar Allan berkata seperti itu. Tapi ia juga tak mau mengatakan apa yang sebenarnya pada Allan. Ia harus meyakinkan hatinya lebih dulu sebelum akhirnya berani jujur pada Allan.

Perlahan-lahan ia genggam tangan Allan sebagai obat penenang. “Ada hal yang tidak bisa kukatakan padamu. Aku perlu waktu dan akan kupastikan ini tidak lama.”

“Kau yakin?”

Jeany tersenyum, kemudian memperat pegangannya ditangan Allan sampai Allan membalasnya dengan sebuah senyuman. Ia sangat suka senyum itu. Senyum yang pertama kali menyapanya beberapa tahun lalu saat ia berpikir untuk tidak mengurus perasaannya sendiri.

Ia masih ingat bagaimana cara mereka bertemu di masa lalu. Saat itu ia tak berpikir apa-apa, tak melihat ke jalan, hanya terus melangkah seperti orang linglung. Hingga tiba-tiba ia merasa ditarik ke belakang dan terjaga dalam pelukan seseorang. Setelah melihat sebuah bangunan yang hancur karena sebuah truk, ia sadar apa yang hampir menimpanya.

Allan telah menyelamatkan hidupnya. Dan ia tak pernah lupa tatapan mata serta senyuman itu saat ia menatap Allan untuk pertama kalinya.

“Are you okay?”

Meski saat itu ia merasa syok dan hendak menggeleng, kepalanya justru mengangguk seakan semuanya menjadi baik-baik saja. Saat Allan mengelus kedua bahunya dengan pelan, saat Allan tersenyum memperlihatkan perasaan leganya, ia merasa aman.

Dan sekarang pria itu mendekatinya, menipiskan jarak antara wajah mereka. Sebelum ia memejamkan mata, ia bisa melihat pria itu memiringkan wajahnya masih dengan seutas senyum yang begitu ia banggakan.

Ia pun terpejam, merasakan bibir mereka menempel selama beberapa detik. Awalnya ia yakin lampu di ruangan itu masih menyala. Namun, saat ia membuka mata, semua sudah gelap dan semuanya berlanjut begitu saja.

******

Yesung menghapus air matanya. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya disini. Tapi sejak tiba di rumahnya, bukannya masuk, ia justru berdiri menatap rumah Allan dan Jeany. Ketika ia baru saja melangkah, lampu di salah satu ruangan nampak mati. Langkahnya pun terhenti.

Seketika ia merasa disedot oleh rumput yang ia injak dan terkubur hidup-hidup. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan kebodohannya berlanjut dengan tetap berdiri disana menatap salah satu jendela di rumah itu. Dadanya benar-benar sakit. Dan kali ini ia tidak menahannya lagi.

Ia berbalik. Segera masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa lantas membanting pintu. Ia lelah berpura-pura tersenyum. Apa yang ia tahan sejak seminggu lalu ia tumpahkan. Ia hambur semua barang-barang yang ada di ruang tengahnya lantas mengambil foto pernikahannya dengan Jeany kemudian melemparnya begitu saja. Hingga tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia terduduk di lantai.

Tangisnya pecah. Ia tak melarang air matanya yang sejak tadi mengancam. Ia lemah. Ia hanya seorang pria lemah saat ini.

Tangannya terangkat untuk meremas dadanya. Rasanya sangat sakit. Ini bahkan lebih sakit dibanding saat ia pulang dan tidak menemukan Jeany dimanapun saat itu.

“Sudah sejauh ini, sebaiknya kau merelakannya. Mungkin dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru.”

Ia teringat salah satu perkataan Casey beberapa bulan lalu. Sekarang ia mengerti maksudnya. Casey sudah memberinya peringatan sejak awal yang terlambat ia sadari. Casey sudah mengajaknya bersiap-siap kala itu. Tapi ia tak mau menurutinya karena ia yakin Jeany pun masih menunggunya. Namun setelah melihat kenyataannya, ia sama sekali tak bisa menerapkan apa yang Casey pinta  kala itu.

Bagaimana ia bisa merelakannya sedang rasanya baru kemarin ia masih membayangkan Jeany ada di sampingnya?

Ia terpuruk sendirian. Ia peluk tubuhnya sendiri dan sekali lagi membiarkan air matanya keluar tanpa henti.

******

Casey berjalan dideretan toko Matthew Street. Alie baru saja menelponnya, dengan cueknya memintanya belanja kebutuhan rumah yang rupanya mulai menipis. Biasanya mereka belanja bersama. Tapi sejak pagi Alie sudah pamit pergi untuk reuni kecil dengan teman – teman semasa kuliahnya yang kebetulan sedang ada di Liverpool. Padahal tujuannya kemari karena ingin menemui temannya yang beberapa hari lalu mengajaknya kerja sama.

“Ini kesempatan langka dan kalau kau tidak belanja hari ini, kau tidak akan makan apapun!”

Casey bergidik membayangkan perintah Alie beberapa menit lalu. Mungkin ia bisa saja memesan makanan  di luar, tapi itu sama saja membuat Alie semakin marah. Alie selalu memasak untuknya, tak pernah membiarkan mereka memesan makan dari restoran. Kalau Alie tidak masak, nikmati saja.

Sambil menggerutu, Casey memasuki sebuah supermarket. Ia mengambil troli, mendorongnya ke bagian peralatan mandi. Meski Alie sudah memberikan catatannya melalui sms, ia tidak membacanya dan secara asal mengambil barang-barang yang sekiranya perlu. Sabun mandi, sampo, sikat gigi, pasta gigi, dan pengharum toilet. Lalu ia berpindah ke semua bagian sambil melihat dan menimbang apalagi kiranya yang diperlukan oleh Alie. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya ia harus membuka daftar dari Alie. Ia sempat mengernyit setelah membacanya. Ternyata Alie bahkan mencantumkan merknya dan harus sesuai. Ia baru menyadari itu. Biasanya, jika menemani Alie berbelanja, ia sibuk sendiri dan tidak perhatikan apapun yang diambil wanita itu.

“Keju, saos tomat, buah kaleng, nanas, melon, telur, ikan salmon, brokoli dan…tidak ada peralatan mandi?”

Ia menatap barang-barang yang ada di dalam trolinya. Sepertinya ia salah besar. Tapi ia malas harus mengembalikannya. Lagipula tidak ada salahnya ia membeli semua ini.

Ia lalu berkeliling, mencari apa-apa saja yang diminta istrinya. Yang membuatnya kesulitan adalah saat merk yang tersedia tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dan ketika ia menemukan satu-satunya keju dengan merk pesanan Alie, ia langsung meraihnya. Namun, nampaknya bukan hanya ia yang menginginkannya. Tangan lain terjulur ke arah yang sama.

“Maaf, hanya sisa satu dan…” ucapannya terhenti ketika ia menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelahnya dan hendak mengambil keju incarannya.

“Jeany?”

Wanita itu menurunkan tangannya, menunduk kemudian nyaris pergi saat secara refleks Casey menahan pergelangan tangannya.

“Apa aku terlihat menakutkan?”

Jeany menarik nafasnya dan itu sangat kentara dimata Casey. Ia lalu melepaskan pegangannya, membiarkan Jeany merasa yakin untuk menatapnya tanpa rasa takut.

“Kurasa dulu kita cukup mengenal satu sama lain dan aku tidak pernah punya niat untuk memakanmu.”

Jeany berusaha tersenyum. Tapi dimata Casey, wanita itu masih gugup. Ia pun berusaha membuat suasana menjadi lebih santai.

“Well, kau menginginkan ini? Ambil saja.”

“Tidak perlu, kau saja.”

Casey berpikir. Jarang-jarang ia mau mengalah seperti ini. Dan sebenarnya ia malas kalau harus ke supermarket lain untuk mencari keju dengan merk yang sama. Maka kalau Jeany menolak, ia takkan memaksa. Ia lalu memasukkannya ke dalam troli.

“Hm..bagaimana kabarmu?” Ia kembali membuka percakapan. Jeany nampak mulai tenang dan sesekali menatapnya.

“Aku baik-baik saja.”

“Kelihatannya juga sangat bahagia. Seorang suami yang baik dan seorang anak yang tampan, apalagi yang kurang?”

Casey sama sekali tidak punya niat untuk menyindirnya. Ia mengatakan itu dengan tulus karena untuk tahap ini ia melihat Jeany tidak salah memilih. Allan kelihatan baik. Anak mereka juga tampan dengan mata sipitnya. Tapi kalau boleh berpendapat, ia merasa anak itu lebih mirip Yesung dibanding Allan.

“Ya, aku bahagia.”

“Baguslah.” Casey mengangguk pelan. Ia melihat-lihat barang-barang dihadapannya sambil berpikir apalagi kiranya yang bisa mereka bicarakan. Entah kenapa ia belum mau membiarkan Jeany pergi. Namun sebelum ia menemukan topik yang tepat, Jeany lebih dulu bertanya,”Apakah dia baik-baik saja?”

Aneh. Apakah yang ditanyakan adalah Yesung?

“Kau masih peduli padanya?”

“Tidak! Tidak! Jangan salah paham. Aku hanya…”

“Jadi kau sudah tidak peduli padanya?” tanya Casey sekali lagi dengan seulas senyum yang seketika membuat Jeany mati kutu.

“Kurasa suatu kepedulian bukan hal yang salah.”

Jeany melihat-lihat ke arah lain seperti sedang mengatur nafasnya. Casey diam-diam memperhatikannya dan ia bingung sendiri kenapa ia senang melihat ekspresi itu.

“Aku hanya ingin memastikan ia baik-baik saja setelah……..”

“Setelah kau tinggalkan begitu saja?” potong Casey yang meski diucapkan dengan tenang, namun terasa lebih menekan.

“Aku..”

“Kau tahu bagaimana dia menangis padaku saat itu?”

Tiba-tiba saja kepalanya terasa panas dan ia ingin mengeluarkan uneg-unegnya pada Jeany. Ia ingin mengatakan bagaimana Yesung menelponnya semalaman sampai pagi hanya untuk memperdengarkan tangisan dan penyesalannya. Bagaimana Yesung mati-matian menolak perceraian meski pada akhirnya ia tak bisa melawan. Dan bagaimana Yesung melewati sepuluh tahun ini dengan harapan besar. Yesung seperti orang tolol dan Jeany harus tahu itu!

Namun, perlahan-lahan ia mengendalikan diri. Ia merasa tidak berhak menceritakan apa yang dialami Yesung saat itu. Ia tidak perlu membuat Yesung tampak lemah di depan Jeany. Biarlah nantinya mereka bicara sendiri dan Jeany tahu apa yang terjadi pada Yesung. Ia tahu batasannya disini. Dan apa yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan Jeany.

“Lupakan saja. Semua sudah terjadi. Apa gunanya kau mengetahui semua itu? Yang penting, kalian sudah berada dalam jalur masing-masing. Dan…………” Ia menggantung kalimatnya, menatap Jeany sebentar untuk meyakinkan bahwa apa yang ia katakan ini adalah bagian yang paling penting. “Sebaiknya kau cukup meyakinkannya bahwa kau sudah bahagia.”

Jeany mengernyit. Sebelum sempat bertanya, Casey lebih dulu meninggalkannya, mendorong trolinya ke meja kasir. Ia lupa membeli barang dan bahan makanan yang lain. Biarlah malam ini ia harus makan malam dengan menu sepiring omelan dari Alie.

********

Untuk pertama kalinya sejak peristiwa malam itu, Yesung kembali menginjakkan kakinya di rumah sakit. Ia sudah tak punya alasan untuk menghindari Allan. Ia mulai membiasakan diri melihat senyum ramah Allan yang selalu membuat dadanya perih. Lagipula ia tidak enak dengan Eunhyuk yang terus menelpon.  Eunhyuk pikir ia sudah tidak peduli lagi dan enggan bertemu dengan Hyerin.

Maka saat ini ia sedang berjalan di lorong, menuju kamar Eunhyuk. Begitu pintu terbuka, senyum Eunhyuk dan Hyerin menyambutnya.

“Lihat siapa yang datang,” ujar Eunhyuk sambil memberikan kode pada Yesung agar masuk. Hyerin yang duduk di ujung tepat tidurnya langsung berdiri lantas memeluk Yesung singkat.

“Apa kabar, Hyerin?”

Hyerin tersenyum. Yesung senang masih bisa melihatnya. Dan sebenarnya ia masih tak habis pikir kenapa wanita sebaik dan secantik Hyerin harus jatuh ke tangan pria macam Eunhyuk. Eunhyuk bukan pria yang buruk, tapi tidak terlalu baik untuk wanita seperti Hyerin.

“Tidak terlalu baik. Tapi aku baik-baik saja.”

“Dia tidak pernah merasa begitu baik,” sambung Eunhyuk sebelum Hyerin bertanya lagi. Mereka lalu duduk di kursi yang tersedia. Eunhyuk dan Hyerin mulai menceritakan asal mula mereka berhubungan sampai akhirnya menikah. Sesekali Yesung harus menahan tawa karena ternyata perjuangan Eunhyuk tidaklah mudah.

“Aku harus berdiri di depan pintu rumahnya sampai ibunya sendiri kebingungan melihatku. Aku juga pernah menggantikan tugasnya saat ia tidak bisa kerja karena tangannya terluka. Aku yang memohon pada bos agar mau mendengarkan Hyerin bernyanyi agar ia punya kesempatan bernyanyi di depan banyak orang. Dan yang paling menyedihkan, aku menyatakan perasaanku dua kali padanya di depan semua pengunjung yang keduanya berakhir dengan penolakan.”

Yesung nyaris bertepuk tangan mendengarnya. Tapi ia lekas-lekas menahannya begitu melihat ekspresi Eunhyuk yang siap menerkamnya hidup-hidup. Well, ini kisah yang menarik. Ia tahu memang tidak mudah untuk mendapatkan Hyerin. Bahkan Eunhyuk sendiri yang dulu mengatakan itu. Ia masih ingat bagaimana dulu Eunhyuk memperingatinya agar tidak usah repot mengejar Hyerin yang sepertinya tidak mengenal makhluk bernama pria. Semua dianggap sama olehnya.

“Lantas bagaimana bisa kalian menikah?”

Eunhyuk dan Hyerin tersenyum. “Tidak ada batu yang tidak bisa terkikis.” Kali ini Hyerin yang menjawabnya. “Setelah apa yang ia lakukan, pada akhirnya aku tak bisa menolaknya saat ia menyatakan perasaannya untuk yang ketiga kali di depan ibuku. Ia berlutut, memperlihatkan cincin dan memohon ijin pada ibuku agar boleh menikahiku.”

Yesung senang mendengarnya. Meski dulu ia sama sekali tak terpikir untuk melihat Eunhyuk dan Hyerin berpasangan, sekarang mereka justru nampak serasi.

“Jadi, kalian sudah memiliki anak?”

“Tentu saja. Usianya empat tahun. Tapi sekarang ia tak bisa ikut kemari. Ia harus dititpkan pada orangtuaku.”

Percakapan itu semakin seru saat pintu terbuka dan Allan datang bersama seorang suster. Yesung sempat tersenyum melihatnya. Lalu membiarkannya memeriksa keadaan Eunhyuk. Setelahnya ia tidak dengar apa-apa. Ia tidak tahu apa yang dikatakannya pada Eunhyuk ataupun Hyerin. Pikirannya terfokus pada gerak gerik Allan.

Ia akui, secara fisik ia kalah telak dengan pria itu. Dan dari kepribadiannya, Allan adalah pria yang sangat baik. Banyak orang baik  yang tersebar di dunia ini,  tapi ia bisa melihat bahwa Allan memang benar-benar orang baik. Pria itu berbeda. Dan sepertinya………….Jeany tidak punya alasan untuk tidak bahagia dengannya.

“…..bagaimana?”

Hm? Yesung tersadar saat Allan sudah ada di hadapannya. Ia menggeleng sebentar lalu kembali menatapnya. “Apanya yang bagaimana?”

Allan tersenyum. “Kau tidak mendengarku? Aku mengajakmu makan malam di rumahku. Anggap sebagai ganti malam itu. Kau tidak sedang sakit lagi, bukan? Aku tidak mau masakan Jeany sia-sia lagi karena sakit kepalamu yang datang tiba-tiba.”

Yesung tak langsung menjawab. Entah kenapa ia juga merasa nyaman berbicara dengan pria ini, seakan mereka adalah kawan lama. Padahal, belum genap sebulan mereka bertetangga. Allan begitu terbuka dan menyenangkan.

“Jadi? Kau setuju? Sebaiknya aku tidak mendengar penolakan.”

Yesung tersenyum. “Aku tidak punya alasan untuk bilang tidak. Katakan pada Adam untuk tidak perlu menjemputku lagi.”

Ia tidak tahu apa motifnya menerima ajakan itu tanpa berpikir panjang. Tapi rasanya ia tidak mungkin menolak. Tak ada yang salah. Mereka bertetangga. Hanya karena Jeany adalah orang yang dicintainya, akan sangat konyol jika ia menolak. Mungkin ini juga baik untuk hubungannya dengan Jeany. Ia tidak mau bertemu lagi dengan Jeany dalam situasi canggung seperti kemarin. Ia harus terbiasa. Ia harus belajar untuk rela.

“Kutunggu nanti malam.”

Sepeninggal Allan, Eunhyuk tak menunda untuk bertanya padanya. Sepertinya ia penasaran kenapa mereka saling mengenal dan nampak akrab. Padahal seingatnya, Yesung baru pertama bertemu Allan saat menjenguknya beberapa waktu lalu. Dan dari cara mereka bicara, mereka tidak tampak seperti orang yang baru mengenal.

“Bagaimana caranya kalian seakrab itu?”

Yesung menatapnya, kembali duduk di kursi. “Dia tetangga baruku. Aku belum mengatakan kalau aku baru pindah rumah?”

“Begitu?”

Ia mengangguk. Menoleh sebentar ke arah pintu yang sudah tertutup lalu kembali menatap mereka satu persatu. Sepertinya ia akan lebih lama disini.

“Dan dia adalah suami Jeany.”

“Apa?”

***

Yesung masih punya jadwal di café malam ini. Tapi ia sudah menelpon Casey dan meminta ijin untuk datang terlambat atau malah tidak datang. Ia terlanjur menerima ajakan Allan. Dan disinilah ia berdiri. Di depan pintu rumah Allan dan Jeany. Sudah jam delapan malam dan ia sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Tapi ia masih tak bisa menahan senyumnya saat mengingat reaksi Eunhyuk saat ia menjelaskan keadaannya.

“Kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau bisa bersikap seperti itu pada orang yang sudah merebut Jeany?”

“Dia tidak merebut apapun dariku. Apapun yang terjadi padaku dan Jeany, adalah urusan kami berdua. Allan tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu Jeany dulunya adalah pelanggan setiaku.”

“Issh…kau memang sudah gila. Lantas untuk apa kau menerima jamuan makan malamnya?”

Ia menarik nafas panjang. Ia tahu malam ini mungkin tidak akan berjalan mudah baginya. Ia sendiri tak yakin bahwa ia siap melihat kebersamaan keluarga kecil itu di depan matanya. Tapi ia juga akan sangat pengecut jika terus bersembunyi ataupun menghindar. Apapun yang akan ia rasakan, seperih apapun itu, ia akan coba.

“Kau sudah datang?” Allan menyambutnya. Ia langsung masuk dan sekali lagi harus melewati ruangan itu yang beberapa waktu lalu membuat nafasnya mendadak sesak. Rak sepatu, coat hanger stand, dan deretan foto itu masih berada pada tempatnya, bahkan tidak ada yang bergeser sedikitpun. Foto Jeany yang waktu itu membuatnya terasa mati juga masih ada.

Kali ini ia masuk lebih dalam. Untuk menuju meja makan, ia harus melewati ruang keluarga dimana Adam duduk disana sambil membaca sebuah majalah olahraga bersampul Radamel Falcao. Dan ketika ia meluruskan pandangannya, ia tidak lagi perhatikan keadaan sekitarnya.

Jeany ada disana. Berdiri di dapur dengan celemek motif bunga-bunga yang menempel di tubuhnya. Rambutnya kali ini digerai dengan sebagian dijepit dibalik telinga, sedang sisanya menjuntai dengan indah. Tak sadar ia tersenyum. Jeany nampak sibuk bolak-balik antara dapur dan meja makan untuk menghidangkan masakan. Wanita itu sudah menyadari kehadirannya, tapi ia bisa bersikap sangat normal dengan hanya tersenyum simpul padanya, kemudian mempersilahkannya duduk. Saat itulah Yesung sadar…bahwa ada rasa kecewa dalam dirinya melihat reaksi Jeany.

“Yesung? Kau tidak mau duduk?”

Ia tersentak pelan. Buru-buru duduk di kursi yang sudah disediakan.

“Sepertinya kau terlalu tergiur dengan masakan Jeany.”

“Sepertinya begitu. Kelihatannya lezat sekali. Dan…..” Ia terdiam beberapa saat. Dilihatnya sekali lagi menu makan malam itu dan untuk beberapa detik ia merasa gembira.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya Jeany tahu masakan kesukaanku.”

Jeany tampak kehilangan senyumnya. Berbanding terbalik dengan Allan. “Benarkah? Ini adalah masakan kesukaanku dan aku meminta Jeany untuk memasakannya.”

Yesung tersenyum pahit. Ia harus menelan kembali kegembiraannya yang tak beralasan itu. Bodoh! Bagaimana mungkin Jeany menyiapkan ini karena dirinya?

“Adam, kemarilah!”

Suara Jeany terdengar ke telinganya dan untuk beberapa detik ia tak bisa bernafas dengan normal. Ia gelengkan kepala guna melenyapkan perasaan kecewa itu.

Aku tidak boleh lemah. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Rapalnya dalam hati seperti menghapal mantra.

Makan malam pun berlangsung hangat. Ia dan Allan tak henti-hentinya melempar candaan dan cerita yang mengocok perut. Sesekali Jeany akan menimpali dan membuat suasana semakin menyenangkan. Allan berbagi cerita tentang pengalamannya sebagai seorang dokter. Sedikit aneh. Namun kenyataannya, lebih banyak hal lucu yang dialaminya dibanding hal menegangkan. Allan pernah tertipu oleh pasiennya yang berpura-pura gila hanya karena takut disuntik. Pernah juga ia disangka seorang bintang film oleh sekumpulan wartawan yang saat itu sedang memburu berita. Tidak bisa dipungkiri, Allan memang sangat tampan untuk ukuran seorang dokter. Bahkan sepintas ia seperti Ryan Gosling dalam versi yang lebih berotot. Sepertinya Allan menjaga tubuhnya dengan sangat baik.

Lain lagi dengan Yesung. Ia menceritakan sifat kakaknya yang dulu cuek dan sekarang berubah over protektif. Ia mengatakan bahwa orang-orang pernah salah kaprah dengan hubungan mereka karena sifat kakaknya itu.

“Di Korea, hubungan akrab sesama lelaki dianggap biasa. Dan dia tidak pernah menyukai itu. Katanya menggelikan. Tapi beberapa waktu lalu dengan tenangnya dia mencium pipiku di depan banyak orang. Bisa kalian bayangkan?”

Semua tertawa, tak terkecuali Adam yang tadinya terlihat bosan.

“Sepertinya sudah banyak yang berubah.”

Suasana mendadak tenang. Yesung dan Allan menatap Jeany setelah perkataan itu terlontar. Jeany sendiri baru menyadarinya setelah beberapa detik mendapatkan tatapan heran itu.

“Kau mengenal kakaknya?”

Jeany gelagapan. “Ah, itu…maksudku…aku tiba-tiba saja mengingatnya. Aku ingat kalau dulu Dennis, maksudku kakaknya yang……”

“Maksudmu kau sudah mengingat Yesung dan kau juga mengenal kakaknya?”

Tak mau Jeany semakin terpojok, Yesung buru-buru memotong. “Kau sudah mengingat Dennis?” Ia berpindah pada Allan. “Jadi dulu selain pelanggan setiaku, sebenarnya ia lebih dulu mengenal Dennis. Mungkin tidak begitu akrab. Tapi ia dan teman-temannya sering meminta jasa Dennis untuk dipotret.”

“Benarkah?”

Yesung memberi kode pada Jeany supaya mengangguk saja. Lagipula tak ada salahnya mengakui kalau mereka saling mengenal.

“Begitulah. Kurasa aku mulai mengingatnya.”

Allan mengangguk, nampak tak lagi ingin membahasnya. Hingga akhirnya obrolan terus berlanjut dan harus terhenti saat Allan mendapat telepon mendadak dari rumah sakit.

“Sebentar,” katanya buru-buru lalu menjauh dari mereka. Tak lama, Adam menyusul dan ikut meninggalkan meja makan dengan alasan sudah kenyang. Tapi karena makanannya belum habis, Jeany menahannya selama beberapa saat untuk menghabiskannya lebih dulu. Begitu selesai, suasanapun berubah sepi.

Hanya ada Yesung dan Jeany dimeja makan. Secara bersamaan mereka meletakkan sendok dan garpu lantas berucap, “Kau……”

Yesung menghela nafas. Dilihatnya Allan yang masih berbicara di telepon dan membelakangi mereka. Baru juga ia hendak buka suara, Jeany lebih dulu berdiri.

“Kau sudah selesai? Aku akan merapikannya.”

Jeany tidak menatapnya. Wanita itu sibuk menumpuk piring kotor lantas membawanya ke tempat pencucian. Yesung masih duduk ditempatnya saat secara refleks ia menahan tangan Jeany yang hendak pergi lagi.

“Yesung…apa yang…”

“Apa kau bahagia?”

Ia bisa merasakan tangan itu menegang. Tapi ia tak berniat untuk melepaskannya.

“Apa kau mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan saat itu?”

“Yesung, aku…”

“Aku harus ke rumah sakit!” Seruan Allan membuat Yesung lekas melepaskan pegangannya. Allan kelihatan sibuk mondar mandir. Pria itu mengambil kunci mobilnya di atas meja, memakai jaket kulitnya kemudian mendekati Jeany lalu mengecup puncak kepalanya.

“Ada pasien yang harus ku tangani. Eddy dan yang lainnya membutuhkanku. Kau tidak perlu menungguku dan kunci saja pintu. Aku mungkin akan menginap.”

Yesung memejamkan matanya dan meraba dadanya yang sakit mendengar itu semua. Allan begitu perhatian. Allan begitu sempurna sebagai seorang suami. Masih perlukah ia mengulang pertanyaan itu?

“Yesung, maafkan aku. Aku harus pergi. Mengobrollah dengan Jeany.”

Ia mengangguk paham. Dalam hitungan detik Allan sudah tak terlihat lagi dan menyisakan mereka berdua di sana.

“Aku….sebaiknya…”

“Aku baik-baik saja,” ucapnya cepat sebelum Jeany selesai dengan ucapannya. Ia merasa matanya mulai berair. Tapi ia tak menahannya dan masih duduk di depan meja makan. Ia tidak beranjak sedikitpun.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Kau tidak perlu bertanya apa yang terjadi padaku saat itu. Meski aku menangis, meski aku merasa tidak bisa bernafas, kau tidak perlu memikirkannya. Kau tidak usah takut menatapku. Anggap aku hanya orang lain yang kebetulan pernah mengenalmu. Jangan pandang aku dengan tatapan kasihan. Aku sanggup melewati ini.”

Air matanya jatuh beberapa tetes dan ia memang tidak mau menahannya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana semua pengakuan itu keluar dari mulutnya. Ia tidak merencanakannya. Semua mengalir begitu saja bersamaan dengan rasa sakitnya.

“Yesung…kau…”

“Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu.”

Jeany yang masih berdiri di sebelahnya juga tak mampu berkutik. Ia diam menunggu pertanyaan itu.

“Apakah…..aku terlalu brengsek saat itu? Apa kau begitu terluka sampai kau tak sempat berpamitan padaku? Apa aku tidak berhak untuk memberikan pembelaan?”

Jeany berbalik, berpegangan pada meja dapurnya. Yesung sendiri hanya bisa meremas celananya sambil menengadah berharap air matanya berhenti mengalir. Akan sangat memalukan jika Adam muncul dan melihatnya seperti ini.

“Lupakan! Itu bahkan lebih dari satu pertanyaan. Tidak ada yang perlu aku tanyakan dan tidak ada yang perlu kau jawab. Bukankah sudah tidak ada pengaruhnya?”

Ia pun berdiri. Ia tidak ingin membuat Jeany terganggu dengan kata-katanya yang mungkin akan semakin kacau jika dibiarkan.

“Sampaikan salamku pada Adam.”

Ia beranjak pergi. Tanpa menoleh ke belakang, ia terus melangkah dan berharap pintu segera muncul di hadapannya. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba. Sebuah foto pernikahan yang dipajang di ruang tengah menarik perhatiannya.

Jeany nampak cantik di foto itu. Gaunnya sangat mewah. Allan juga tampan dengan tuxedonya. Mereka tampak seperti pasangan ideal dan sempurna. Bagaimana mungkin ia berpikir untuk berdiri diantara keduanya? Tapi…memang ada seseorang yang berdiri disana.

Tak sadar kakinya mendekat. Di foto itu…ada seorang anak kecil berdiri ditengah mereka. Wajahnya sangat mirip dengan Jeany. Dan setelah ia perhatikan….ia yakin jika anak itu adalah Adam.

Ia menoleh ke belakang saat menemukan anak itu berjalan menaiki anak tangga dengan malas-malasan. Ia lalu kembali pada foto itu dimana pada bagian pojok kiri bawah terdapat tanggal pernikahan tersebut.

London, 19 Januari 2009.

Matanya melebar. Dengan cepat ia kembali ke dapur dan menemukan Jeany masih ada disana.

“Siapa Adam sebenarnya?”

****TBC****

4 Comments (+add yours?)

  1. yurika
    Jul 09, 2015 @ 18:51:37

    Woww , tkut adam anaknya yesung dh \o/

    Reply

  2. shikshincloud
    Jul 09, 2015 @ 23:41:19

    tuh kan adam anaknya yesung!! kyaaa
    kok bisa? o_o
    semoga yesung-jeany bisa balikan karna adam ya, tapi kasian allan sih kalo gitu.
    hm.. tapi yesung-jeany kayanya masih saling cinta, semoga mereka bisa bersatu.

    Reply

  3. sssaturnusss
    May 01, 2016 @ 13:15:58

    Menurut aku sih ngga adil buat Yesung .. Bener kata dia, apa gak ada kesempatan buat dia kasih pembelaan ?? Mengingat memang sih Yesung tempramen bgt. Gampang obrak abrik ancurin barang klo emosi .. Tapi kan semua berawal dr Jeany. Dengan segala kebohongan, apa yg dia liat, walaupun Jeany ngga pernah khianatin dia. Tapi sah sah aja klo dia semurka itu di kantor. Pukulin siwon .. Dan gak adil Jeany ninggalin dia gitu ajaa -_-

    Di part sebelumnya setelah jeany tau keberadaan yesung bilang klo dia takut kehilangan adam .. Trus Chasey bilang adam lebih mirip yesung daripada allan .. Dan di ending part ini ~ firasat aku yang mengatakan adam anak mereka kayaknya bener hmmmm

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: