Angel’s Call [5/?]

Author : Sophie Maya

Title     : Angel’s Call (005)

Cast     : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC), Choi Siwon, Lee Sungmin, Henry, Zhoumi, etc

Genre   : School-life, romance

Rating  : G

Length : chapter

Note     : original fanfiction was published on my personal blog: www.sophiemorore.wordpress.com

 

She’s put the softness and affection through her lines”

-Cho kyuhyun-

 

Poni Chae Won telah memanjang, melewati alisnya, dan sedikit menusuk matanya. Dia menyibak helaian poni-poni itu ke atas bermaksud untuk menjepitnya, namun helaian itu dengan mulusnya jatuh meluncur kembali ke bawah, kembali menusuk matanya. Membuat matanya refleks mengerjap dan menyipit.

“Aduh…” ringis Chae Won pelan. Dia memandangi bayangan dirinya melalui cermin, poni itu terlihat seperti ingin memakan kedua bola matanya.

Dari luar terdengar suara piring dan sendok berdentingan, Ibu tengah menyiapkan sarapan, begitu tebak Chae Won. Dan kemudian tebakannya betul karena harum roti bakar cokelat tercium masuk ke lubang hidungnya. Tak ayal membuat perut Chae Won berbunyi.

Chae Won meletakkan jepit warna merah bergambar kupu-kupu di atas meja rias dan mulai berpikir untuk menyerah dalam hal menjepit-jepit poni. Untuk hari ini dia akan membiarkan penampilannya seperti Sadako dengan poni mengganggu begini. Tapi nanti sore, setelah urusannya selesai, Chae Won akan memastikan dirinya mampir ke salon untuk memotong poninya.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dan muncul sosok Ibu yang berbalut seragam kantor lengkap.

“Sarapan, Chae Won?” ujar Ibu.

Chae Won menatap Ibu melalui cermin. “Ya, Bu. Ibu mau ke kantor hari Minggu begini?”

“Iya, hanya sebentar. Ada janji dengan klien soal ekspansi ke Singapura.”

Chae Won mengangguk. Ibu bekerja sebagai Public Relation perusahaan susu terbesar di Korea Selatan, Milkѐ. Pabriknya ada di Mokpo tetapi pusat kantornya di Seoul. Meskipun Ibu sudah tinggal di Seoul sekarang, dia masih sering bolak-balik ke Mokpo, tentu tanpa mengikutsertakan Chae Won.

Kemarin Ibu baru saja kembali dari Mokpo dan sampai di rumah jam sebelas malam. Chae Won hanya bisa mendengar pintu pagar terbuka dan suara derum mobil masuk ke halaman. Dia tak sanggup membuka mata menyambut kepulangan Ibu karena terlampau mengantuk.

“Roti bakar dan susu ada di meja makan. Ibu baru beli yogurt di toko depan, dan rasanya segar sekali, kau bisa membawanya dalam perjalanan nanti.” Ibu berdeham sebentar. “Ibu sudah memesankan taksi untukmu, jadi jangan naik bus. Naik taksi saja, Ibu sudah berpesan pada sopirnya untuk mengantarmu seharian kemana pun.”

Chae Won menoleh ke belakang. “Bu… tidak perlu sampai begitu.”

Ibu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Ibu hanya tidak ingin kau menghilang seperti hari pertama kita di Seoul, Chae Won…”

Chae Won terdiam. Dia berusaha mengusir rasa bersalah yang merayap di dadanya. “Baiklah, Bu… aku akan pakai taksi.”

“Baiklah.”

Ibu menghilang dari balik pintu. Telinga Chae Won bisa mendengar hak pantofel berantuk dengan lantai keramik, kemudian suara pintu pagar terbuka. Chae Won menoleh kembali ke cermin dan meraih spon bedak, dia melapisi wajah bulatnya dengan bubuk bedak tipis, dan menambahkan lipgloss berwarna plum. Kemudian Chae Won mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja, keluar kamar, dan menyentuh menu di meja makan.

Bersamaan dengan itu, ada sebuah telepon masuk dari Malaikat.

“Chae Won! Taksinya sudah datang!” teriak Ibu.

Chae Won buru-buru menoleh dan berteriak, “ya, Bu! Aku ke depan sekarang!” tangannya yang hendak menyentuh ponsel jadi urung. Chae Won berlari ke depan rumah dan tak lupa mengunci pintu depan. Ibu sudah berada di dalam mobil dan mengobrol sebentar dengan sang supir taksi.

Mungkin Ibu lagi memberi nasehat panjang lebar agar menjaga Chae Won baik-baik dan mengantarnya dengan selamat, jangan mengebut ataupun menerobos lampu merah. Chae Won memperhatikan Ibu sambil menahan senyum. Ibu tak berubah dari dulu, selalu mengkhawatirkannya.

“Selamat pagi, Nona Chae Won,” sapa sopir taksi ketika menyadari kehadiran Chae Won. Pria gembul dengan mata sipit dan pipi bulat itu tersenyum ramah menyapanya. “Saya Pam, Nona Chae Won panggil saya ‘Pam’ saja tanpa embel-embel ‘Paman’, biar lebih akrab. Hari ini Nona Chae Won mau diantar kemana?”

“Ke makam, Pam.” Chae Won tersenyum lebar.

Ibu menatapnya sebentar namun tak bertanya lebih lanjut. Mobil Ibu bergerak meninggalkan perkarangan rumah sementara Chae Won masuk ke dalam taksi yang terparkir di luar rumah. Dia kembali mengunci pagar pintu agar tak seorang pun yang berniat jahat bisa masuk.

“Makam teman Nona Chae Won?” tanya Pam begitu mereka sampai di taksi.

Chae Won menggeleng. “Makam guruku saat SD dulu, Pam.”

Raut Pam berubah sedikit simpati. “Oh, begitu…”

Taksi meluncur tenang di atas jalanan Seoul. Dering telepon masih berbunyi, dan kali ini Chae Won punya waktu untuk mengeceknya. Masih dari orang yang sama, dari Malaikat. Chae Won menempelkan ponselnya di telinga.

Hanya desahan napas terdengar tanpa ada kata-kata. Chae Won memandangi bangunan-bangunan tinggi Seoul hingga kepalanya benar-benar menengadah ke atas. Malaikat belum mengeluarkan sepatah kata pun, namun sekarang Chae Won bisa mendengar bunyi pengumuman tentang jadwal keberangkatan yang menggema.

Dimenit kesepuluh, pemuda Malaikat mengeluarkan suaranya. “Tebak-tebak…, aku ada di mana? Aku baru saja menitipkan motorku di parkiran dan duduk menunggu sambil memegang tiket.”

Chae Won terdiam sebentar. Suara wanita di speaker pengumuman semakin kencang terdengar. “Stasiun kereta api,” jawab Chae Won kemudian.

“Benar,” jawab pemuda Malaikat.

Kembali terdengar helaan napas panjang sebelum akhirnya sunyi kembali. Sudut mata Chae Won melihat tangan gempal Pam memasukkan sebuah kaset dan beberapa detik kemudian musik klasik mengalun pelan memenuhi taksi.

“Suara apa itu?” tanya pemuda Malaikat kembali angkat suara.

Chae Won melirik kea rah Pam. “Musik klasik.”

“Kau suka musik klasik?”

“Lumayan,” jawab Chae Won. “Kau?”

“Tidak. Musik klasik mengingatkanku pada latihan musikku yang tak berkembang-kembang.”

Chae Won terkekeh, lalu dia menyuruh Pam mematikan musiknya.

“Kenapa musiknya berhenti?” tanya suara di seberang heran.

“Aku menyuruh sopir taksi mematikannya. Kau bilang tidak suka.”

Pemuda itu terdiam sebentar. “Karena aku tidak suka, kau mematikannya?”

Chae Won mengangguk. “Ya.”

Terdengar helaan napas lagi. Chae Won menyandarkan punggung di jok. Chae Won sudah mulai tahu kebiasaan pemuda Malaikat ini, dia suka sekali menghela napas. Dan suara napasnya yang berat itu seperti irama unik yang disukai Chae Won.

“Terimakasih, Bidadari.”

“Sama-sama.”

Hening lagi.

“Kau sedang di taksi? Mau kemana?”

“Ke makam.”

“Oh…”

Hening lagi.

“Aku mau ke Busan,” ujar suara itu lagi. “Ibu tiriku kabur dari rumah karena kesalahpahaman dan aku harus menjelaskan sesuatu padanya.”

Chae Won memiringkan kepala. Dia tahu satu lagi informasi tentang pemuda ini. Ibu tiri? Berarti dia broken home?

“Ayahku menikah dengan wanita ini, delapan tahun lalu. Dan aku tidak menyetujui pernikahan mereka. Hubunganku dengan ibu tiri tidaklah bagus, sama tidak bagusnya seperti hubunganku dengan Ayah. Waktu aku akhirnya mengatakan pada Ayah bahwa konsep kebahagiaan yang kuyakini salah, Ayah justru mengartikan bahwa semuanya harus dimulai dari nol. Ayah berpikir kalau aku kebencianku padanya disebabkan oleh ibu tiriku. Lalu… lalu… lalu… Ayah memutuskan akan menceraikan ibu tiriku. Sekarang Ibu tiriku pulang ke kampung halamannya di Busan. Aku marah saat mengetahui hal itu, dan aku… berpikir untuk menjelaskan semua pada ibu tiriku agar tak ada salah paham yang jauh lebih dalam.”

Terdengar desahan napas lagi.

Chae Won hanya diam.

“Kau… apa menurutmu ceritaku sulit dipercaya?” tanya pemuda itu.

“Aku percaya dengan ceritamu,” jawab Chae Won tenang.

Dan Chae Won bisa menebak pemuda Malaikat itu tersenyum mendengar jawabannya.

“Terimakasih, Bidadari.”

Chae Won mengangguk. “Sama-sama.”

Chae Won kembali mendengarkan cerita pemuda itu dengan serius. Sebenarnya, Chae Won merasa heran karena dia selalu saja tenggelam dengan cerita pemuda yang bahkan belum pernah ditemuinya sekalipun. Tapi Chae Won, dengan keyakinan hatinya, tahu bahwa pemuda ini tak pernah mengarang cerita dan masalahnya.

Nada suara pemuda itu, tak pernah menunjukkan sebuah kebohongan. Hanya, menunjukkan kesepian yang teramat dalam. Yang membuat Chae Won tak mampu untuk tak mengindahkannya.

“Jadi… menurutmu, apa yang harus kulakukan? Kau punya saran? Aku yakin… mm… kau punya saran… sebagai seorang teman yang hanya berhubungan melalui telepon…?”

“Pernahkah kau mengatakan pada ibumu, kalau kau menyayanginya?” Chae Won balik bertanya.

“Ibuku… yang mana? Almarhum ibuku atau ibu tiriku?”

Chae Won terdiam. Dia kembali mendapat informasi baru, ibu kandung pemuda ini sudah meninggal. Diam-diam Chae Won menaruh simpati padanya.

“Ibu tirimu, tentu saja.” Chae Won mencoba agar suaranya terlihat normal.

“Mmm… tidak pernah.”

“Kenapa tidak pernah? Kau menyayanginya.”

“Ti-tidak, a-aku…” pemuda itu terdiam sejenak, “…apa aku menyayanginya?”  suaranya terdengar ragu.

Bibir Chae Won mengulas senyum kecil. “Kau mengkhawatirkannya, kau rela menyusulnya ke Busan, kau ingin menjelaskan semua padanya… kau tak ingin dia menderita… itu berarti kau sayang padanya.” Chae Won mendengar pemuda itu tak menjawab meski semenit telah berlalu, maka Chae Won melanjutkan ucapannya. “Aku tak akan membujukmu untuk melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Akan tetapi, coba pikirkan apakah selama ini kau menyayangi ibu tirimu atau tidak? Apa kau merasa nyaman dengan keberadaannya atau tidak? Jika kau telah menemukan jawabannya, kau bisa memutuskan apakah nantinya kau hanya akan menjelaskan kesalahpahaman ini saja, atau sekalian membawanya kembali dalam kehidupanmu.”

Tiba-tiba taksi yang ditumpanginya berguncang perlahan. Chae Won menoleh ke depan, ternyata mereka sudah sampai di pemakaman umum.

“Nona Chae Won, kita sudah sampai…” Pam mengumumkan.

Chae Won mengangguk dan beranjak turun dari taksi. Aroma dedaunan kering langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya.

“Kau benar, Bidadari… aku akan memikirkan saranmu.” Suara di seberang kembali terdengar. “Aku senang kau mau mendengar ceritaku dan memberiku saran. Aku akan melakukannya, dan aku harap aku bisa menemukan jawaban yang tepat.”

“Kuharap juga begitu.” Chae Won menjejakkan kakinya di jalan setapak yang berujung pada sebuah bangunan putih tinggi nan megah. Columbarium, disini tempat makam Guru Lim. Guru kesayangannya, guru favoritnya.

“Terimakasih.” Suara di seberang menyahut, membuyarkan lamunan Chae Won.

Chae Won mengangguk. “Sama-sama.”

Klik. Sambungan terputus bersamaan dengan Pam yang mendekati Chae Won dan memberikan sebuket bunga ke tangan gadis itu.

“Aku membelinya di depan gerbang, Nona Chae Won. Bunga dengan warna yang sesuai pesananmu tadi.”

Chae Won melayangkan tatapan penuh terimakasih pada Pam. Tapi kemudian teleponnya kembali berbunyi. Dari Malaikat lagi dan Chae Won mengangkatnya sebelum Tiffany SNSD selesai menyanyikan satu baris lagu.

“Hei, keretaku belum datang juga dan mungkin terlambat. Mmm… aku merasa bosan dan kupikir, sambil mengusir kebosananku, aku bisa mendengarkan cerita tentangmu. Aku pikir selama ini aku yang lebih banyak cerita, kini aku memberimu giliran bercerita.”

“Oh, maaf… aku sebenarnya ingin, tapi aku sudah sampai di makam.” Chae Won memandang bangunan putih yang semakin lama tampak semakin jelas di depannya.

“Kau sudah sampai? Mm… baiklah… kapan-kapan saja.” suara itu terdengar penuh kekecewaan.

Chae Won berhenti melangkah. “Sebentar, aku akan menceritakan satu hal tentangku.” Jemari Chae Won mendekap bunga di dadanya. Angin semilir menggoyangkan rambutnya dan Chae Won bisa mencium serbuk-serbuk bunga yang berterbangan. Chae Won menarik napas panjang sekali dan berkata pelan-pelan, “kau ingat hari pertama kau menghubungiku?”

“Ya, aku ingat?”

“Kau bisa menebak apa yang sedang kulakukan saat itu?”

“Apa ini giliranmu bermain tebak-tebakkan?” tanya pemuda Malaikat setengah geli.

Chae Won menggeleng kecil meski dia yakin pemuda Malaikat tak bisa melihatnya. “Saat kau meneleponku untuk pertamakalinya, saat itu aku ada di atas  jembatan… berdiri di besi penyangganya… malam menggoyangkan rambutku dan sekujur kakiku membeku kedinginan…”

Chae Won menggigit bibirnya sejenak, kenangan itu kembali berputar dan membuat dadanya sedikit sesak.

Chae Won tidak pernah menyangka dia akan menceritakan kejadian itu pada siapapun. Dia tak pernah membicarakannya pada Ibu maupun Siwon. Tapi kini, dia disini, dia menceritakan pengalaman buruk itu… pada seseorang yang hanya dikenalnya melalui telepon.

“…saat itu aku sedang berniat bunuh diri.”

.

.

.

.

.

.

Sambungan terputus.

Kyuhyun terlompat berdiri dari duduknya, sementara matanya membulat lebar-lebar, dan sekujur tubuhnya menegang.

Dengung ‘tuutt tuutt tuutt’ memenuhi gendang telinga Kyuhyun. Seiring dengan dada Kyuhyun yang berdesir pelan. Kyuhyun berusaha memastikan apa yang didengarnya barusan bukanlah lelucon atau sebuah kebohongan. Tapi Kyuhyun yakin, gadis Bidadari tak mungkin berbohong. Kyuhyun tidak pernah bertemu dengannya, tapi Kyuhyun tahu dia adalah gadis yang pintar dan jujur, gadis yang mengatakan sesuatu tanpa berlebihan, gadis apa adanya.

Pikiran Kyuhyun berputar pada kejadian di malam itu, saat dia melakukan kegiatannya yang biasa, memencet tombol sembarangan. Saat tangannya tanpa sengaja menelepon nomor Bidadari.

Gadis itu… saat Kyuhyun meneleponnya… dia akan bunuh diri?

Panggilan di speaker peron kepada penumpang jurusan Busan, membuat pikiran Kyuhyun buyar. Suara derak rel kereta api yang bergesekan dengan roda mendekat cepat. Keretanya telah tiba. Kyuhyun tergesa maju demi bergabung dengan rombongan calon penumpang.

Ketika sepatu ketsnya berhasil menginjak gerbong kereta, Kyuhyun kembali teralih pada ponsel di tangannya. Dia menimang-nimang sesaat untuk menghubungi Bidadari lagi. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat.

 

Hei, ini aku.

Hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau kau belum menyimpan nomorku.

Dan hanya ingin menawarkan sesuatu yang menarik,

Mm… jika kau butuh tempat untuk cerita perihal masalahmu, atau alasan kenapa kau ingin bunuh diri waktu itu, kau bisa meneleponku. Kapanpun, telepon aku. Dimanapun, telepon aku. Mungkin tak bisa memberi pencerahan seperti yang sering kau lakukan padaku, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik.

 

Seseorang menyenggol bahu Kyuhyun membuat pemuda itu mendongak, dan segera tersadar bahwa ada banyak orang mengantri dibelakangnya, kesulitan untuk melintas dan mencari tempat duduk karena Kyuhyun menghalangi jalan mereka. Kyuhyun membungkuk meminta maaf dan mempersilahkan oran-orang itu untuk lewat. Dia memasukkan ponsel ke dalam kantung celananya kemudian mencari tempat duduk sesuai nomor tiket.

.

.

.

.

.

.

“Guru Lim, lama tak berjumpa…” Chae Won menatap bingkai foto di salah satu rak dalam columbarium. Wajah wanita dengan senyum seperti seorang peri, masih sama dengan senyum yang terus diingat Chae Won  dalam kepalanya. “Maaf baru datang sekarang, delapan tahun setelah kau meninggal aku baru mengetahui hal ini… maafkan aku…”

Seorang penjaga columbarium sedang mengelap kaca-kaca rak dan bergerak mendekati Chae Won. Dia berhenti ketika tiba di rak Guru Lim. Chae Won menoleh ke arahnya dan mengangguk sopan.

“Apa anda akan mengelap kaca rak ini?” tanya Chae Won lembut.

Penjaga itu mengangguk. “Tapi aku akan menunggumu sampai selesai. Tenang saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Chae Won menganggukkan kepala. Dia bergerak maju untuk menaruh kembang yang dibawanya, sesaat menyadari bahwa ada sebuket bunga lain yang diletakkan di dekat kendi abu. Kepala Chae Won menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada seorang pun disini selain dirinya dan penjaga columbarium. “Ada bunga lain di sini…” gumam Chae Won.

“Ah, itu bunga dari anaknya,” ujar sang penjaga seolah tahu apa yang dipikirkan Chae Won. “Dia memang sering ke sini, tadi dia juga baru dari sini.  Satu jam lalu kalau tak salah.”

“Oh, ya?” mata Chae Won membulat lebar.

“Ya… tapi tadi dia buru-buru. Katanya mau pergi ke luar kota. Dia titip pesan agar aku mengelap foto ibunya dan memberikan wewangian di raknya.” Penjaga itu tertawa kecil. “Dia selalu cerewet jika menyangkut columbarium ibunya. Dasar anak itu, jarang sekali masih ada anak yang seperti dia.”

Senyum haru mengembang di bibir Chae Won. Dia menoleh ke arah foto Guru Lim dan memandangi wajah teduh itu lamat-lamat. “Ibu Guru… anda beruntung sekali punya anak yang menyayangi anda seperti ini.”

Chae Won melihat bunga pemberian anak Guru Lim. Mawar berwarna merah muda, warna kesukaan Guru Lim.

Warna yang sama dengan warna kembang yang dibawakan Chae Won.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun turun dari kereta. Palang selamat datang di Busan menyambut dirinya bersamaan dengan rintik hujan yang mendadak turun. Kyuhyun berlari cepat untuk mencari tempat berteduh. Heran dia, musim panas tetapi kenapa hujan seringkali turun akhir-akhir ini.

Dan Kyuhyun lebih kesal lagi karena dia sama sekali tak membawa persiapan baju, payung, ataupun jaket. Kini tubuhnya menggigil kedinginan di bawah kanopi teras kafe. Kyuhyun tak punya cukup uang untuk membeli payung karena uangnya pas-pasan untuk membei tiket bus ke rumah ibu tirinya.

Kyuhyun memejamkan mata. Entah kenapa dia mengharapkan kehadiran ibu tirinya.

Wanita itu selalu cerewet soal kesehatan Kyuhyun. Pemuda itu ingat betul, bagaimana ibu tirinya memaksa-maksa memasukkan payung ke dalam tas saat dirinya masih SMA. Ibu tirinya juga pintar memasak, meja makan selalu penuh dengan menu berbeda tiap harinya. Kyuhyun suka juga dengan kastangel buatan ibu tirinya, rasanya hangat dan renyah. Kyuhyun selalu membawanya ke kelas dan menggerutu panjang pendek jika Sungmin dengan santai merebut kastangelnya.

Tak pernah ada percakapan-percakapan panjang terbentuk diantara keduanya. Hanya ada kalimat seperti: “Kyuhyun, jangan lupa bawa payung!”, “Kyuhyun, bekalmu di atas meja!”, “Kyuhyun mandi!”, yang kesemuanya memakai tanda seru. Kyuhyun suka sebal dan menganggap ibu tirinya suka perintah-perintah sembarangan. Dan Kyuhyun akan menghadiahi wanita itu tatapan kesal, geraman panjang pendek, namun pada akhirnya melakukan persis yang diperintahkan.

Tetapi kini, jika diingat lagi, semua itu adalah bentuk perhatiannya. Meski mereka tak pernah saling berpelukan dan mengucap kata sayang, itu adalah interaksi antara dua orang yang saling menyayangi.

 

“Kau mengkhawatirkannya, kau rela menyusulnya ke Busan, kau ingin menjelaskan semua padanya… kau tak ingin dia menderita… itu berarti kau sayang padanya.”

 

Kata-kata Bidadari di telepon kembali terngiang di kepala Kyuhyun.

 

“Aku tak akan membujukmu untuk melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Akan tetapi, coba pikirkan apakah selama ini kau menyayangi ibu tirimu atau tidak? Apa kau merasa nyaman dengan keberadaannya atau tidak? Jika kau telah menemukan jawabannya, kau bisa memutuskan apakah nantinya kau hanya akan menjelaskan kesalahpahaman ini saja, atau sekalian membawanya kembali dalam kehidupanmu.”

 

Kyuhyun memejamkan mata, mengingat-ingat semua kenangannya bersama ibu tirinya. Mulai dari awal kedatangan wanita itu di kehidupannya, sama detik terakhir wanita itu ada di kamarnya.

Kyuhyun menarik napas panjang.

“Bidadari, sepertinya aku sudah menemukan sebuah jawaban…”

.

.

.

.

.

.

To be continued

4 Comments (+add yours?)

  1. elfishyvil
    Jul 10, 2015 @ 12:43:11

    Next thor…
    Penasaran..
    Kapan ya kyuhyun dan chae woon ketemu?

    Reply

  2. Nam Hyunchan ELF
    Jul 10, 2015 @ 13:57:52

    next thor…
    kalu chaewon datang kemakamnya satujam lebih cepat,mungkin pasti ketemu kyuhyun….
    apa ya pilihan kyuhyun…
    kapan chaewo sm kyu ketemu..
    huwaaaa penasaran.. next palli thor

    Reply

  3. esakodok
    Jul 10, 2015 @ 19:43:29

    g sabarnunggu kyuhyun ketemu sama ibu tirinya. hahahaha
    perkembangan kisahnya agak lama y sengi
    tiap part ada 1 hal yg dilakukan
    tp g papa.

    Reply

  4. lieyabunda
    Jul 12, 2015 @ 03:44:13

    kyu berubah lebih baik setelah kenal dengan bidadarinya,,,,,,
    kapan mereka ketemu…..
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: