Memories [15/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*********************

“Siapa Adam sebenarnya?”

Piring ditangannya nyaris saja jatuh kalau ia tidak segera meletakkannya. Tangannya kehilangan rasa. Ia tak berani menghadap ke belakang untuk memastikan bahwa Yesung ada disana.

“Jeany Hanks, aku bertanya padamu.”

Jeany memejamkan mata. Tapi yang didapatinya justru bayangan-bayangan kelam itu. Ia seperti ditarik kembali ke masa-masa yang selama ini sudah ia lupakan.

Debat itu. Pertengkaran mereka yang tak berkesudahan. Penolakan yang diterimanya pada beberapa perusahaan. Kehamilannya, kebohongannya, tekanan yang ia dapatkan selama berkerja dan segala hal yang ia benci itu terus bermain-main dalam kepalanya.

Ia tak mau mengingatnya, tapi ini diluar kendalinya. Semuanya datang bertubi-tubi hingga luka itu ikut kembali. Bahkan ia masih bisa merasakan sakitnya.

Ia sentuh pipinya. Ia rupanya masih ingat dimana letak memar itu. Ia lalu meraba perutnya dimana disitulah semuanya berawal.

“Kau yakin akan melakukannya?”

“Aku yakin.”

Ia membuka mata. Dalam gerakan cepat ia berbalik dan nyaris terjatuh saat Yesung sudah ada dihadapannya.

“Aku tahu ini kedengarannya mustahil. Tapi aku rasa……”

Jeany diam. Sadar tak ada celah untuk lari, ia pun buka mulut.

“Aku..”

“MOM!!! Bisa kau kemari?”

Kompak mereka menoleh ke arah suara itu yang sepertinya berasal dari kamar Adam di lantai dua. Tak sadar Jeany menghembuskan nafasnya lega. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas mencuci tangan, mengelapnya dengan tisu kemudian pergi.

“Tidak ada yang perlu kau dengar ataupun kujelaskan. Sebaiknya kau pulang.”

Ia terus berjalan menaiki anak tangga tanpa menoleh ke belakang. Ia tak sadar langkahnya semakin cepat seakan ada sekumpulan harimau di belakangnya. Begitu masuk ke dalam kamar Adam, ia tutup rapat pintu lalu menguncinya.

“Mom? Apa yang terjadi?”

Jeany tak menyahut. Ia perlu mengatur nafasnya lebih dulu sebelum akhirnya bisa duduk di dekat anaknya. Ketika Adam hendak bertanya lebih jauh, Ia lebih dulu memeluk anak itu dengan sangat erat.

“Ada apa ini?”

Jeany tak tahu perasaan macam apa yang sedang melingkupinya saat ini. Tapi ia benar-benar tak bisa tenang.

“Adam, apa kau menyayangiku?”

Meski bingung, Adam tetap menjawab dengan tegas, “Of course, Mom.”

“Kau tidak akan meninggalkanku?”

“Aku..”

“Kau harus berjanji padaku.” Jeany melepas pelukannya, menangkupkan kedua tangannya di wajah polos anak itu. “Kau harus berjanji, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku.”

“Tapi…”

“Berjanjilah Adam!”

Adam tersentak melihat kelakuan ibunya yang sangat aneh. Namun, pada akhirnya ia mengangguk, membiarkan tubuhnya dipeluk sekali lagi. Diam-diam ia bisa merasakan bahwa bahu ibunya bergetar hingga tak lama terdengar sebuah isakan pelan. Ia tidak tahu kenapa. Tapi ia takkan bertanya dan memilih mengelus bahunya dengan lembut.

***

Yesung berputar-putar di sekeliling kamarnya. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sepuluh tahun silam lantas menghubungkannya dengan apa yang baru saja ia alami.

Saat itu ia memang tidak mendengarnya langsung dari mulut dokter. Si brengsek itu yang menyampaikannya. Apakah ia dibohongi? Jika Siwon melakukannya demi merusak hubungannya dengan Jeany, oke itu memang berhasil tapi kenyataannya Siwon pun tak mendapat keuntungan apa-apa karena Jeany memilih kembali ke London. Lagipula Jeany sendiri yang saat itu mengatakan bahwa ia kehilangan bayinya.

Lalu sekarang ia melihat Adam. Anak itu sudah ada sebelum Jeany dan Allan menikah. Apa mereka sudah memiliki anak sebelumnya? Jika melihat dari tubuh anak itu, artinya Adam lahir hanya berselang beberapa bulan setelah perpisahan mereka. Apa benar Jeany mengandung secepat itu? Apa yang membuatnya begitu mudah berpaling pada Allan sedang ia sendiri sampai sekarang tidak pernah mengubah perasaannya?

Ia pun mengenal Jeany dengan sangat baik. Ia tahu Jeany tidak suka berbohong. Apa yang dilakukannya dimasa pernikahan mereka mungkin adalah satu-satunya kebohongan dan kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya. Jeany tidak mungkin membuat satu kebohongan lain dan kehilangan akal sehatnya.

Argh..

Ia nyaris menghambur barang-barangnya yang ada di atas meja nakas. Tapi kemudian ia sadar sudah bukan saatnya untuk bertindak demikian. Tak ada gunanya dan hanya akan menambah pekerjaannya esok pagi. Maka sebelum emosinya kembali naik, ia hanya bisa memukul udara.

Drrrt…drrrtt

Handphonenya berdering. Ia tidak menghiraukannya dan kembali berkutat dengan segala pertanyaan itu.

Drrrttt…drrtt..

Kesal, ia lihat nama pemanggil di layar handphonenya yang ternyata hanya panggilan dari kakaknya. Ia pun kembali mengacuhkannya. Tapi panggilan itu terus berulang meski ia sudah mmematikannya berkali-kali. Dan terakhir, ia benar-benar marah. Ia angkat panggilan tersebut, tanpa basa basi langsung berujar keras.

“BERHENTI MENGHUBUNGIKU UNTUK HAL-HAL YANG TIDAK PENTING!! JIKA KAU MASIH MELAKUKANNYA, AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH MENGINJAK RUMAHMU LAGI!!”

***

Leeteuk menjauhkan handphonenya dari telinga. Ia garuk-garuk telinganya yang mendadak gatal

“Apa anak ini sudah gila?”

Casey yang duduk di sebelahnya tersenyum.“Menurutmu apa yang akan terjadi jika ia hanya berada dalam jarak lima meter dengan Jeany tapi tak bisa mendekatinya?”

Leeteuk menutup handphonenya dengan bingung.”Maksudmu?”

“Apa aku belum bilang kalau Yesung bertetangga dengan Jeany?”

“APA??” Leeteuk melompat dari duduknya, lantas menatap Casey dengan serius. “Bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

“Itu masalahmu!”

Leeteuk kembali duduk setelah bisa mengendalikan keterkejutannya yang berlebihan. Ia kemudian mengambil minum yang sebenarnya dimaksudkan Jordan untuk Mickey. Tapi ia tak peduli.

“Apa Yesung sengaja membeli rumah itu karena ia ingin bertemu Jeany?”

“Tidak, ia tidak tahu sama sekali. Ia baru menyadarinya beberapa hari yang lalu. Dan celakanya adalah Jeany sudah bersuami bahkan memiliki satu anak.”

“Oh, itu kenapa ia menginap di rumahku selama dua hari?”

Casey mengangguk. Berbicara dengan Leeteuk, sama halnya dengan berolahraga mulut. Leeteuk sebenarnya lebih banyak bicara dibanding Yesung. Lidahnya tidak pernah lelah sebelum mendapat jawaban yang memuaskan. Dan sesungguhnya ia sedikit gerah dengan sikap Leeteuk yang berubah terhadap Yesung. Dulu bahkan Leeteuk tak pernah menanyakan kabar adiknya, sekarang pria itu seperti seorang ibu yang harus tahu apa yang dilakukan anaknya.

“Hm, menurutmu apa yang baru saja terjadi sampai ia marah-marah padaku ditelepon? Apa ia bertengkar dengan Jeany? Atau ia melihat Jeany berciuman dengan suami barunya?”

“Kau terlalu banyak bertanya. Adikmu sudah dewasa. Kalian berdua sama-sama sudah tua, jadi berhenti bersikap seperti ini!”

“Kau menyebutku sudah tua? Kurasa usia kita sama,” ujar Leeteuk tak mau kalah. Ia sudah akan mengambil kembali gelas minuman dari tangan Jordan saat Mickey lekas menyambutnya. Mickey memandangnya dengan tidak suka kemudian pergi.

“Aku memang sudah tua, tapi aku memilki keluarga. Sedangkan kau? Aku lelah berhitung. Jumlah wanita yang kau bawa kemari selalu berganti.”

“Aku tidak memintamu untuk menghitungnya. Aku senang dengan keadaanku. Aku bebas melakukan apapun. Tidak seperti seseorang yang harus minja ijin terlebih dahulu hanya untuk pergi ke suatu tempat.”

Casey meliriknya dan ia tahu Leeteuk alias Dennis sedang tertawa dengan penuh kemenangan. Ia biarkan saja pria itu berbangga dengan pikirannya sendiri. Ia memilih pergi setelah menghabiskan kopi susunya. Sambil memakai jas mantelnya, ia memberi kode pada Marcus bahwa ia harus segera pulang. Dan ketika ia berada di ambang pintu, ia bisa dengar Leeteuk berseru, “Kau pulang karena takut tidak akan dibukakan pintu oleh istrimu?”

Ia acuh saja. Leeteuk memang lebih menyebalkan dibanding Yesung. Ia bisa saja beradu mulut dengannya dan menjelaskan bahwa ia melakukan semua ini karena ia sudah terlalu beruntung bisa mempunyai istri serta anak seperti Alie dan Alex. Ia tidak punya alasan lagi untuk terlalu sering berada diluar rumah. Surganya adalah rumahnya sendiri dimana ada istri serta anaknya yang menunggunya pulang. Tapi ia takkan menjelaskannya hanya untuk membuat urat lehernya bermunculan. Sekarang….yang penting ia segera tiba di rumah lantas bersenang-senang dengan keluarganya.

***

Adam mengambil handphonenya lantas mendengus kesal. Ia sudah menelpon ayah dan ibunya untuk minta dijemput. Tapi panggilannya tak ada yang digubris. Maka ia mengirimkan mereka berdua pesan dengan huruf besar.

“AKU AKAN MATI KELAPARAN!! MOM!! DAD!!! CEPAT JEMPUT AKU!!!”

Plung

“Argh..”

Ia tak sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia memilih duduk di sebuah batu besar di depan gerbang sekolahnya sambil melihat-lihat ke jalan. Ketika ia hendak mengeluarkan PSPnya untuk menghilangkan jenuh, sesuatu menghantam kepalanya.

“Aw…”

Kepalanya nyeri. Ia mengusap-usapnya sambil mencari siapa yang dengan pintarnya melakukan hal itu.

“Sakit?”

Ia menoleh ke kanan dan menemukan beberapa orang temannya di sekolah sedang menatapnya dengan tidak ramah. Ah, salah! Mereka bukan teman-temannya. Mereka bahkan baru berkelahi dua minggu lalu di belakang sekolah hingga kakinya memar.

“Kalian punya masalah denganku?” tanyanya dengan cuek. Salah satu diantara anak-anak itu mendekat sambil memantulkan bola basketnya.

“Apa tangan dan otakmu tidak bersinggungan dengan baik sampai kau lupa kau baru saja melempar kaleng itu ke kepalaku?”

Adam memandang kaleng minuman yang tergeletak tak jauh darinya. Ia tak merasa sudah melakukan apa yang dituduhkan itu. Maka ia mengabaikan mereka, menarik tasnya kemudian berjalan menjauh. Ia sudah melangkah cukup jauh saat ada yang berseru di belakanganya.

“Apa semua orang berkulit putih itu pengecut?”

Langkahnya terhenti. Untuk kesekian kalinya ingin sekali ia berteriak bahwa ia benci disebut seperti itu. Ia tidak merasa berbeda! Namun, emosinya masih berusaha ia redam karena ia teringat perkataan ibunya untuk tidak menghiraukan kicauan seperti itu. Ia pun berniat melanjutkan langkahnya tapi sebuah kaleng lagi-lagi hinggap dikepalanya.

“Hahaha…lihat! Kepalanya berasap! Hey, apa dia akan berubah menjadi pahlawan bertopeng?”

Adam memejamkan mata. Suara tawa anak-anak itu berebut dengan nasehat-nasehat ibunya. Ia sungguh ingin dan bisa merontokkan gigi anak-anak menyebalkan itu, tapi jika itu ia lakukan, maka ia sudah melanggar janjinya. Lalu…apa ia harus membiarkan mereka bicara sesuka hati?

“Oh…dia akan menangis! Dia akan mengadu pada ibunya lalu menangis seperti bayi, hahaha.”

Oke, cukup! Adam kehilangan kesabarannya. Ia membuka mata.“Maafkan aku, Mom.”

Ia berbalik, memungut kaleng yang menjadi biang masalah itu kemudian menendangnya hingga tepat mengenai salah satu diantaranya. Ia tersenyum puas melihat reaksi anak itu. Siapa namanya? Nama itu bahkan tidak cukup bagus untuk diingat.

“Beraninya kau!!”

“Kenapa? Ingin bermain-main denganku? Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu, tapi jika kau memaksa….” Adam tersenyum licik. Ia bisa melihat anak-anak itu tampak panas dengan perkataannya. Ia pun bersiap. Ketika salah satu diantaranya maju, ia menyiapkan bolanya yang selalu ia bawa, lantas menendangnya tepat ke bahu anak itu. Ia puas. Ia benar-benar senang bisa memberi mereka pelajaran.

Namun, sebelum ia sempat tertawa, tiba-tiba saja keadaan berbalik. Entah bagaimana caranya sekarang ia sudah dikepung. Kedua tangannya dipegang erat dan ia di dorong ke batang pohon.

“Kau benar-benar menyebalkan! Kau sudah berani meremehkanku dan sekarang akan kubuat kau menyesal!”

Adam tersentak. Kedua tangan dan kakinya sama sekali sulit digerakkan sedang kepalan tangan anak yang bertubuh lebih besar darinya itu sudah terangkat. Apakah kali ini malaikat pelindung sedang tidak berada didekatnya?

Dalam gerakan cepat, tangan itu melayang ke arahnya, ia pun memejamkan matanya. Ia berhitung sampai tiga dan berpikir hidupnya akan segera berakhir, atau mungkin ibunya akan memarahinya habis-habisan begitu sampai rumah karena menemukan anaknya babak belur. Namun, ketika hitungannya sudah melebihi tiga, ia tak merasakan apa-apa. Tidak ada yang memukulnya. Tubuhnya baik-baik saja.

Dengan hati-hati ia membuka mata dan nafasnya tercekat begitu menemukan ada sebuah tangan lagi di depan wajahnya yang menahan tangan anak itu. Oh, ia benar-benar punya malaikat pelindung?

“Seorang pria tidak akan main keroyokan.”

Adam mendongak dan ia baru sadar bahwa ada orang lain didekatnya. Orang dewasa yang jauh lebih tinggi darinya.

“Kau? Tetangga baru itu?”

Yesung tersenyum. Dengan cueknya mendorong tangan anak itu dan memberikan tatapan mematikan untuk mengusir mereka semua.

“Lain kali, pastikan tidak akan ada yang memukul bokong kalian jika perbuatan ini ketahuan. Mungkin aku akan mengadukan masalah ini ke pihak sekolah besok.”

Mendengar itu, mereka semua kompak berlari, mungkin akan menjadi anak baik-baik di rumah dan mengambil hati orang tua mereka.

“Well, apa aku perlu mengucapkan terima kasih padamu? Sebenarnya kalau kau tak datang, aku masih bisa mengatasi mereka semua,” ujar Adam dengan sangat percaya diri. Namun Yesung mengabaikannya. Ia menarik lengan Adam lantas mengajaknya berjalan kaki  menjauh dari sana.

“Apa yang kau lakukan di sekitar sini? Ku dengar kau bekerja di sebuah bank. Lalu kenapa kau ada disini? Kau membolos kerja? Apa orang dewasa bisa bolos sesuka hati?”

“Hey! Aku tak menyangka  kau secerewet ini.”

Adam merengut. Ia kembali mengayunkan kakinya dan berjalan mendahului Yesung. Yesung sendiri diam-diam sedang mengamatinya. Tidak diragukan lagi anak itu mewarisi sifat ibunya yang sangat cerewet. Dan kekhawatirannya akan banyak hal semakin mempertegas darimana ia berasal.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dalam diam hingga sudah memasuki kawasan kota yang cukup ramai. Sesekali Adam akan mengecek handphonenya dan ia tersenyum menemukan ada satu balasan dari ibunya.

“Tunggu disitu!”

Ia pun membalasnya dengan singkat.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

“Siapa?”

Adam meletakkan kembali handphonenya ke dalam saku jaketnya. “Bukan urusanmu. Eh, tunggu dulu!” Ia mengerem langkahnya tiba-tiba. Yesung mau tak mau mengikutinya.

“Ada apa?”

Adam memperhatikan Yesung dari ujung rambut hingga ujung sepatu. “Kenapa kita berjalan bersama? Apa sebelumnya kita sudah membuat kesepakatan? Apa kau bermaksud mengantarku?”

Yesung mengernyit heran. Adam benar-benar sulit dimengerti. Butuh beberapa detik baginya untuk berpikir kemudian menjawab, “Hm, oke, kita tidak membuat kesepakatan apapun. Aku hanya kebetulan lewat di depan sekolahmu, aku melihatmu, aku mem-ban-tu-mu menyingkirkan badut-badut itu dan kurasa tak ada salahnya kalau kita pulang bersama. Yah, meski hanya berjalan kaki.” Yesung menyelesaikan penjelasannya dengan memberi penekanan pada kata membantu. Tapi Adam nampaknya belum cukup puas. Ia masih memandang Yesung dengan sebuah tanda tanya.

“Oke, oke, jika kau keberatan, aku bisa meninggalkanmu disini. Atau kau mau kupanggilkan taksi?”

Adam menggeleng. Posisi tubuhnya kembali normal lantas merapikan tasnya dibahu. “Tidak perlu. Aku percaya padamu. Aku hanya memastikan kau tidak punya maksud jahat. Aku selalu membutuhkan alasan yang detail. Dari film yang kutonton, banyak sekali tetangga baru yang sok akrab, padahal mereka akan menculik anak kecil disekitarnya, mengurungnya di dalam gudang lalu mencincangnya menjadi beberapa bagian. Aku merinding membayangkannya. Tapi jika itu terjadi padaku, aku pikir aku bisa mengatasinya. Otakku sangat encer. Bagaimanapun itu, aku pasti akan menemukan cara untuk melumpuhkannya. Kau tahu film Home Alone, kan? Ayahku pernah memperlihatkan film lama itu dan aku sangat takjub melihat ide-ide dalam film itu untuk melumpuhkan orang-orang jahat.”

Sementara Adam sudah kembali berjalan, Yesung terpaku di tempat. Bahkan ia tak sadar sedang menahan nafas selama beberapa detik. Ia benar-benar tak menyangka akan mendengar Adam bicara seperti itu tanpa jeda. Rasanya Jeany tidak separah itu. Kecuali….

Ia menggeleng pelan lantas berjalan cepat menyusul anak itu.

“Hm…apa kau sering berkelahi di sekolah?” tanyanya untuk memulai percakapan baru. Meski aneh, tapi ia senang bisa mengobrol dengannya. Sudah lama sekali ia tidak menemukan lawan bicara yang sama cerewet dengannya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Jadi aku benar?”

Adam merengut lagi. Sepertinya ia menyesal sudah mengakuinya. “Jangan beritahu pada ibuku. Nanti dia tidak memperbolehkanku bermain diluar lagi. Setelah itu aku akan seperti putri kecil yang akan mendapatkan makan siang dan makan malam di dalam kamar.”

Yesung tersenyum mendengarnya. Cara Adam bicara benar-benar lucu. Mengingatkannya pada seseorang yang ia sendiri lupa. Tapi semuanya nampak begitu familiar.

“Aku adalah orang yang pandai menjaga rahasia.”

“Kupegang janjimu.”

Untuk sesaat tidak ada topik pembicaraan lagi. Adam sibuk melihat-lihat deretan toko di sekitarnya dan sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik seperti poster besar film Iron Man yang terbaru di depan sebuah bioskop.

“Kenapa? Kau belum menontonnya?”

Adam mengangguk.”Ibuku akan sangat marah kalau aku menonton film seperti ini.”

“Seperti apa? Kurasa ini film yang menarik.”

Adam berjalan dengan kepala tertunduk lesu. Yesung menyamakan langkah mereka.

“Ibuku tidak suka aku menonton film seperti itu. Menurutnya, itu hanya akan membangun daya imajinasiku menjadi berlebihan. Dia takut aku meniru adegan-adegan yang ada disana, seperti melompat dari gedung yang tinggi dan juga berkelahi.”

“Kurasa kau sudah mempraktekannya tanpa sepengetahuan ibumu. Dan ibumu itu pikirannya kolot sekali.”

Adam tersenyum. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman dan cocok mengobrol dengan Yesung.

“Sebenarnya aku tidak terima kau mengatainya seperti itu. Tapi sepertinya aku setuju padamu.”

Mereka tertawa bersama. Adam jadi membayangkan bagaimana reaski ibunya jika tahu bahwa anaknya yang tampan ini baru saja menyetujui perkataan Yesung soal dirinya.

“Tunggu dulu!”

Ketika mereka melewati sebuah kedai eskrim, Yesung berinisiatif untuk membelikan Adam. Tanpa bertanya, ia membeli eskrim rasa coklat dengan taburan kacang diatasnya, lalu menyerahkannya.

“Kau suka?”

Adam menerimanya dengan gembira. “Kau tahu aku suka coklat kacang?”

“Oh? Ini kesukaanmu?”

Adam tak banyak bicara lagi begitu ia mejilati eskrim tersebut. Ia hanya mengangguk dan kembali berjalan. Sesekali ia akan mengoceh lagi tentang alasan kenapa ia sangat menyukai eskrim rasa coklat kacang. Ketika ia terus bicara sendiri dan menoleh ke samping, ia baru menyadari Yesung tak ada di sebelahnya. Ia menoleh ke belakang dan ia heran melihat pria itu berdiri seperti orang bodoh.

“Hey! Kupikir kau berniat untuk mengantarku sampai rumah.”

Yesung tersentak kemudian menyusulnya. Mereka berjalan bersisian hingga kembali larut dalam obrolan panjang. Ada banyak hal yang mereka bicarakan meski Adam tak lagi merespon dengan panjang dan cepat karena konsentrasinya terpusat untuk menghabiskan eskrimnya. Tepat setelah ia menghabiskannya lalu membuangnya ke tong sampah, sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depannya.

“Adam!”

Jeany muncul dibalik pintu lantas langsung memeluknya erat. Adam sampai limbung dan hampir jatuh.

“Mom?” Adam melirik Yesung yang masih berdiri di sebelahnya, bermaksud untuk bertanya apa yang terjadi pada ibunya. Namun, Yesung hanya mengangkat bahu. Ia sendiri tidak tahu kenapa.

“Aku menjemputmu tapi kau tidak ada disana. Sudah berapa kali kukatakan jangan pulang sendirian!”

“Mom….jangan membuatku malu! Aku bukan anak kecil lagi!”

“Tentu saja kau masih kecil, sayang.” Jeany mengelus rambutnya dan Adam langsung menyingkirkannya sambil menghentakkan kaki. Itu membuat Yesung tertawa kecil. Dan setelah itu, barulah ia bertemu pandang dengan Jeany.

Dahinya mengernyit begitu Jeany menarik Adam dengan cepat. Apakah ia melakukan sesuatu yang salah? Apa tampangnya seperti penculik anak-anak yang tadi Adam ceritakan?

“Adam, kita pulang sekarang.”

Adam mengangguk dengan lesu. Ia menoleh pada Yesung, “Kau ikut bersama kami?”

“Jangan!”

Kompak Yesung dan Adam menatap Jeany yang baru saja mengatakannya begitu cepat. Yesung mulai merasakan ketidaknyamanan itu dan ia rasa itu sangat berlebihan. Tapi ia takkan berdebat untuk melawannya.

“Mom, dia juga akan pulang dan kurasa tidak ada salahnya kalau kita pulang bersama.”

“Tapi..”

“Tidak perlu. Aku masih ada urusan di sekitar sini. Kalian duluan saja.”

“Kau dengar sendiri kan? Sebaiknya kita segera pulang.”

Tanpa basa basi lagi Jeany langsung meraih tubuh Adam lalu mengajaknya masuk ke dalam taksi. Yesung hanya memperhatikan gerak gerik Jeany yang begitu gelisah dan nampak alergi berdekatan dengannya. Dan tepat sebelum Jeany masuk, ia menahan lengannya.

“Yesung, kau..”

“Kau semakin membuatku curiga,” potong Yesung dengan segera. Diliriknya Adam yang sepertinya sudah sibuk dengan PSP nya.

“Jika kau terus begini, itu hanya akan semakin menambah alasanku untuk percaya pada apa yang kupikirkan tentang Adam.”

Jeany berontak pelan. Ia lepaskan tangan Yesung dan langsung menutup pintu dengan kuat.

Yesung tersenyum memperhatikan taksi tersebut yang mulai mengecil. Ada banyak hal yang ia temukan hari ini dan ia akan mencatatnya.

****

“Adam, apa saja yang kau lakukan dengannya?”

Adam menoleh padanya dengan bingung. “Yesung? Tadi dia…” Ia teringat dengan perkelahiannya yang nyaris terjadi dengan musuh-musuhnya itu. Ia tak mungkin menceritakan bagian itu kalau masih mau berkeliaran sampai taman kompleks.

“Tidak ada. Dia hanya kebetulan lewat dan aku mengajaknya pulang bersama. Dari pada aku menunggu sendirian di depan gerbang, besar kemungkinan aku akan jadi sasaran empuk para penculik anak.”

Jeany tak tenang. Duduknya gelisah dan sesekali menghela nafas. Ia sendiri tidak paham dengan dirinya. Sulit  baginya untuk mengendalikan perasaan takut yang menghinggapinya begitu tadi tak sengaja ia melihat Adam bersama Yesung. Tak ada yang salah dengan itu, bahkan….

Ah, tapi tetap saja ia tak suka melihat anaknya akrab dengan Yesung.

“Bisa kau jauh-jauh darinya?”

Sekali lagi Adam menoleh padanya dengan tak mengerti. Kali ini ia letakkan PSP nya ke dalam tas. “Oke, aku akan melakukannya asal Mom punya alasan yang jelas.”

Jeany menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kencang. Ia lupa kalau anaknya ini tidak akan mau menerima sebuah permintaan atau pernyataan yang tak jelas.

“Aku hanya ingin kau tidak begitu dekat dengannya. Kita baru mengenalnya. Kita tidak tahu bagaimana sifatnya. Mungkin saja dia…” Jeany menyerah. Ia menghentikan ucapannya begitu menyadari bahwa Adam sama sekali tak puas dengan penjelasan itu.

“Baru beberapa menit aku bersamanya, tapi aku tahu dia orang baik. Dia mungkin tidak akan seperti tuan Holdney yang sering membuat keramaian, dia juga mungkin tidak seperti Nyonya Clark yang sering mengantarkan kue kacang andalannya pada sore hari. Tapi dia adalah teman bicara yang menyenangkan.”

Melihat raut wajah Adam, serta bagaimana anak itu membicarakannya, perasaan posesif itu semakin menjadi. Dengan liarnya pikiran-pikiran bodoh itu berkembang dan bertambah dengan ide-ide untuk membuat mereka tidak menjadi lebih dekat. Tapi sebelum ia menemukan caranya, suara Adam menginterupsi.

“Ah, omong-omong soal Nyonya Clark, bukankah dia akan mengadakan pesta ulang tahun malam ini? Kita harus kesana! Pasti akan ada banyak makanan lezat dan anak gadis cantik!”

Perhatian Jeany teralihkan. Ia baru ingat jika kemarin salah satu tetangganya yang bernama Nyonya Clark mengundangnya sekeluarga untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Meski hanya di adakan di halaman belakang rumahnya, biasanya pesta itu akan berlangsung meriah. Dan meski usia wanita itu sudah melebihi separuh abad, para tamunya justru kebanyakan adalah kawan dari anak serta cucunya yang masih muda.

Ketika ia sudah sampai di rumah, ia pun segera menghubungi Allan dengan telepon rumahnya.

“Allan, kau sibuk?” Ia jepit telepon itu di bahunya karena kedua tangannya sibuk membereskan tas serta sepatu Adam yang berserakan di depan pintu.

“Tidak apa, aku hanya ingin mengingatkan kalau malam ini Nyonya Clark mengundang kita ke pesta ulang tahunnya. Kau akan pulang lebih awal?”

Ia terus mondar mandir di rumahnya dan sesekali harus melotot pada Adam yang hari ini susah sekali diatur. Bolanya, mainannya, pakaian kotornya, semuanya berhamburan. Padahal biasanya Adam selalu meletakkannya dengan benar. Dan belum selesai kegiatannya itu, ia menarik nafas kecewa.

“Oh, jadi kau tidak bisa ikut? Tidak masalah, aku akan pergi berdua saja dengan Adam. Kau tahu Adam tidak mungkin melewatkan kue-kue yang ada disana.”

Jeany sudah akan meraih PSP Adam yang tergeletak di atas sofa saat ia mendengar permintaan Allan di ujung sana.

“Apa? Yesung? Kau sudah gila? Ah, bukan, bukan itu maksudku! Aku hanya…maksudku aku…aku tidak mungkin mengajaknya. Mungkin saja dia sedang sibuk.”

Setelah mendengarkan Allan dan membalasnya dengan lebih tenang, sambungan telepon pun terputus. Ia benar-benar tak habis pikir dengan suaminya yang punya ide supaya ia pergi ke pesta itu bersama Yesung. Sebenarnya apa yang sudah dicekoki oleh Yesung pada anak dan suaminya? Kenapa dengan mudah mereka menjadi akrab?

Ia tersenyum lemah. Rasanya pertanyaan itu tak perlu dijawab lagi. Ia pun sudah tahu bagaimana sikap Yesung dan mungkin hanya orang bisu yang tidak mau berdekatan dengannya.

“Mom, apa Dad akan ikut?”

Jeany menggeleng. “Tidak, kita akan pergi berdua saja.”

***

Belum genap satu bulan ia tinggal di kompleks perumahan ini, tapi sekarang ia bahkan sudah sibuk membantu mempersiapkan pesta salah satu tetangganya.

Yesung mondar mandir dengan celemek ditubuhnya. Ditangannya ia membawa Loyang berisi kue yang baru saja ia buat bersama keluarga Ny.Clark. Mereka bahkan baru bertemu dua hari yang lalu dan sekarang ia sudah seperti bagian dari keluarga itu.

“Yesung, apa aku tidak akan masuk rumah sakit setelah mencicipinya?” tanya Bobby, salah satu anak Ny.Clark yang sejak tadi sibuk menata halaman belakang. Jika informasi ini penting, maka sebenarnya Bobby dan Yesung baru berkenalan pagi tadi.

“Kau bisa menuntutku ke pengadilan jika kue ini membuatmu bolak balik toilet.”

Mereka tertawa. Ada banyak orang disana. Yesung dan dua anak perempuan Ny.Clark yang membuat kue, sedang para pria sibuk mendekorasi ruangan dan halaman. Karena ini adalah ulang tahun ke enam puluh, maka ada lampu kecil warna warni berbentuk angka enam puluh di halaman.

Ny.Clark sendiri merupakan wanita yang disukai di kalangan para tetangga. Selain karena sikapnya yang ramah pada semua orang, kebiasaannya membuat pesta juga menjadi salah satu daya tarik. Siapa yang mau menolek pesta meriah seperti ini? Yang jelas Yesung tak termasuk di dalamnya. Dengan cueknya ia datang kemari dan menawarkan bantuan karena bank tempat ia bekerja sedang tutup hari ini. Ada beberapa masalah disana yang tidak ia ketahui.

“Ny.Clark, sepertinya aku harus pulang dulu. Nanti malam aku akan kesini.” Yesung mendekati wanita itu dengan tampang sedikit menyesal. Sebenarnya ia masih ingin membantu, tapi langit sudah mulai gelap dan ia belum menyiapkan diri.

“Kau tidak akan terlambat?”

“Tentu. Jangan mulai pestanya tanpa aku.”

Ny.Clark tersenyum. Ia biarkan Yesung mengecup pipinya singkat hingga beberapa orang disana tertawa.

“Oke, aku pergi. Sampai jumpa nanti malam!”

Yesung melangkah cepat keluar. Jarak antara rumahnya dan rumah tersebut lumayan jauh. Setidaknya ia butuh lima menit berjalan kaki. Ia berencana untuk mengajak Leeteuk. Jika itu berurusan dengan pesta dan minum-minum, kakaknya pasti tidak akan menolak. Maka begitu ia tiba di rumah dan selesai mandi, ia segera menelponnya.

“Kau menelponku untuk marah-marah lagi?”

Ia tersenyum geli mengingat apa yang sudah ia katakan pada kakaknya beberapa hari lalu. Saat itu ia sedang kalut dan terbawa emosi sampai lupa bahwa perkataannya itu bisa membuat kakaknya semakin khawatir.

“Aku tidak akan minta maaf soal itu. Sekarang aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahun tetanggaku. Kau mau bergabung?”

“Pesta?”

Meski tak melihat, Yesung bisa merasakan keceriaan dari suara itu.

“Hm, apa yang berulang tahun adalah seorang gadis?”

“Ya, dia gadis berusia enam puluh tahun.”

“Apa???”

Yesung tertawa. Ia lalu mengeringkan rambutnya. Melepas handuknya kemudian mulai memilih pakaian. Ia bisa dengar keterkejutan kakaknya disana.

“Kau gila? Untuk apa pergi ke pesta para lansia?”

“Kau bertanya seakan kita masih berusia dua puluh tahun.”

“Aku tidak mau! Kalau kau ingin mencari wanita dewasa yang berpengalaman, silahkan. Jangan repot-repot mengajakku.”

Leeteuk sudah akan menutup teleponnya, tapi Yesung buru-buru menahan. “Ya! Hyung! Jangan dimatikan!”

“Apa lagi? Aku tidak mau ikut denganmu.”

“Kau harus ikut. Ini berbeda. Ny.Clark punya banyak anak gadis yang masih muda. Ia juga lebih banyak mengundang teman-teman anaknya dibanding temannya sendiri yang seusia. Percayalah padaku, kau tidak akan pulang dengan tangan hampa.”

Terdengar nada berpikir dari Leeteuk. Yesung mengambil kesempatan untuk mengenakan kemejanya dan celana. Ia bercermin. Dilihatnya kacamatanya yang jarang ia gunakan. Ia pun mengenakannya dan sepertinya cocok.

“Jadi?”

“Ah, baiklah. Tunggu aku dalam lima belas menit.”

“Apa? Lima belas menit?”

Sambungan sudah terputus tanpa membiarkannya bertanya maksud dari lima belas menit itu. Jarak rumah mereka tidak dekat. Belum lagi urusan berdandannya. Lima belas menit bukan waktu yang cukup bagi seorang Leeteuk dalam menyiapkan diri di depan cermin.

Tapi ya sudahlah. Yang penting Leeteuk bersedia ikut. Karena sebenarnya ia ingin sekali mempertemukannya dengan seseorang yang ia yakini juga akan hadir dalam pesta itu.

***

Tepat pukul delapan malam, Jeany dan Adam tiba di kediaman Ny.Clark. Suasananya sudah sangat ramai. Ada beberapa mobil parkir di depan. Lampu-lampu menyala dan bergantung mulai dari teras hingga pintu masuk. Jeany pun bertemu dengan tetangga sekitarnya. Ia menyalami mereka satu persatu.

“Kau tampak semakin cantik, Jeany. Dimana suamimu yang tampan itu?” Melanie, salah satu tetangga Jeany yang sudah tidak bersuami itu memanjangkan lehernya mencari keberadaan Allan. Adam yang sepertinya tidak suka dengan wanita ittu memilih untuk menyingkir dan mencari kesenangan sendiri.

“Allan sangat sibuk di rumah sakit. Sayang sekali dia tidak bisa ikut,” ucap Jeany sedikit menyesal. Tapi ia sama sekali tidak risih dengan sikap Melanie yang lumayan agresif itu. Ia tahu Melanie hanya bercanda dan bermaksud menggodanya.

“Dimana Ny.Clark? Aku belum mengucapkan selamat untuknya.”

Jeany mencari penampakan pemilik rumah tersebut. Melanie sendiri ikut melihat-lihat sekitarnya. Ketika wanita yang dicarinya terlihat, ia melambai-lambai.

“Ny.Clark, Jeany mencarimu!!”

Jeany tersenyum. Ia berpamitan pada Melanie kemudian menghampiri Ny.Clark. Ia sempat takjub melihat penampilannya malam ini. Dengan gaun merah menyala yang dihiasi batu berlian di sekitar pinggang dan lengan, wanita itu terlihat segar dan jauh lebih muda.

“Oh, Jeany, kau datang.”

Mereka berpelukan singkat. Jeany sempat melirik ke belakang Ny.Clark untuk mengawasi gerak gerik anaknya yang sepertinya sudah tenggelam di depan meja makan.

“Selamat ulang tahun. Aku harap kau akan tetap sehat dan terus membuat pesta setiap tahunnya.”

Ny.Clark tertawa pelan. “Tentu. Bahkan kalau nanti aku sudah tidak mampu berjalan dan harus ada di rumah sakit, pesta ulang tahunku tidak boleh terlewatkan begitu saja.”

“Melihatmu seperti ini, sepertinya rumah sakit terdengar mustahil bagimu.”

“Kau suka penampilanku? Rene bilang ini terlalu norak, tapi menurut suamiku ini seksi.”

Jeany tertawa lagi. Bicara dengan Ny.Clark benar-benar mampu memperbaiki suasana hatinya yang kurang baik sejak siang tadi.

Obrolanpun terus merembet ke hal lain. Ny.Clark juga mengajak Jeany untuk mencicipi kue-kue yang sudah tersusun rapi di halaman. Adam yang berdiri tak jauh darinya memutuskan untuk mendekat dan menyalami Ny.Clark.

“Selamat ulang tahun, Ny.Clark. Semoga kau panjang umur dan tidak bosan mengantar kue kacang ke rumahku.”

Ny.Clark mengelus rambutnya. “Terima kasih, Adam. Silahkan kau nikmati makanannya. Ah, Jeany, coba kau cicipi ini.” Ny.Clark menyuapkan sepotong kue ke mulut Jeany. Jeany mengunyahnya beberapa detik dan langsung tersenyum puas.

“Wow, ini enak sekali. Tapi aku tidak akan terkejut jika kau yang membuatnya.”

“Salah, ini semua buatan tetangga baru kita yang tampan itu, Yesung.”

Uhuk…

Jeany terbatuk. Adam sigap menyerahkan segelas sirup jeruk padanya.

“Kau baik-baik saja?”

“Ibuku tidak menyukai pria itu. Ibuku akan langsung alergi jika mendengar namanya.”

Jeany melotot pada Adam hingga anak itu berlari kecil dan kembali sibuk memilih makanan. Sepertinya ia lupa bahwa salah satu tujuannya kemari adalah juga untuk mencari gadis cantik.

“Jeany, kau sungguh tidak menyukai pria itu? Bukankah rumah kalian bersebelahan? Dia bahkan sudah membantuku menyiapkan pesta ini sejak pagi. Ah, itu dia!”

Belum sempat Jeany menenangkan diri dan menyiapkan jawaban, Ny.Clark sudah melambai-lambai ke arah belakangnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk membalik badan apalagi beramah tamah dengan pria itu. Dikepalanya justru muncul ide untuk pergi dari sini dengan alasan tidak enak badan. Namun, sebelum itu terjadi, Ny.Clark nampak tersenyum semakin lebar, menarik lengan seseorang dan setelahnya ia merasa sudah tak punya waktu untuk merealisasikan ide konyol itu.

“Yesung, kau sudah berkenalan dengannya, bukan? Kalian bersebelahan.”

Jeany memaksakan senyumnya. Entah perasaannya saja atau bukan, sepertinya Yesung sangat menikmati ketidaknyamanannya saat ini.

“Tentu, kami sudah berkenalan dan aku juga sudah diundang oleh Allan makan malam di rumahnya.”

Ny.Clark tersenyum, seakan baru saja mendengar bahwa anaknya melakukan sesuatu yang membanggakan.

“Jeany, kau harus tahu bahwa separuh dari kue yang ada disini adalah buatannya. Dia sangat handal.”

Jeany mengernyit heran. Ia tidak pernah tahu kalau Yesung punya keahlian dalam soal membuat kue yang enak. Jangankan berurusan dengan perkakas dapur, untuk dirinya sendiri saja Yesung sangat payah. Tapi ia mengabaikannya. Apapun itu, yang jelas ia ingin segera menyingkir dari hadapan Yesung.

“Kulihat kau bersama seorang pria. Siapa dia?”

Yesung mencari-cari keberadaan kakaknya yang sejak tiba langsung beraksi dengan berkenalan pada beberapa gadis. Begitu melihatnya, ia langsung memanggilnya.

“Hyung! Kemarilah!”

Sementara Yesung dan Ny.Clark tersenyum menunggu kedatangan Leeteuk, Jeany justru mengutuk dirinya yang memutuskan kemari tanpa sedikitpun berpikir bahwa ini akan terjadi. Oh, harusnya ia sadar bahwa Yesung pasti sudah akrab dengan semua tetangga dan akan hadir di pesta ini. Dan ia sudah cukup gelisah dengan kemunculan Yesung tanpa harus dipertemukan dengan orang lain dari masa lalunya.

“Ny.Clark, dia Dennis, kakakku.”

“Oh, kau sangat tampan.”

Leeteuk menyalami Ny.Clark. Tapi senyumnya langsung memudar begitu melihat siapa wanita lain yang berdiri dihadapannya.

“Hyung, kau masih ingat dengannya?” tanya Yesung dengan santainya. Itu membuat Jeany dan Leeteuk kompak menatapnya. Tapi Jeany tak mau Yesung semakin merasa menang. Ia coba kendalikan dirinya. Ia berusaha bersikap biasa saja karena memang harusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bertemu dengan Yesung ataupun kakaknya, kenapa harus takut? Ia tak punya alasan untuk  itu. Ia pun tersenyum, mengulurkan taangannya pada Leeteuk.

“Apa kabar, Dennis?”

Leeteuk tak langsung menerimanya. Ia bahkan berpikir untuk menepisnya. Tapi ia sadar sedang berada dimana dan di depan siapa. Rasanya tak enak kalau ia harus bersikap demikian di depan Ny.Clark yang tidak tahu apa-apa. Akhirnya ia menerima jabat tangan itu.

“Aku sangat baik. Senang bertemu denganmu lagi.”

“Oh, jadi kalian semua sudah saling kenal sebelumnya?”

Sebelum ada yang menjawab, Ny.Clark sudah ditarik pergi oleh beberapa kawannya.

“Maafkan aku. Silahkan nikmati pestanya.”

Setelah kepergian Ny.Clark, afmosfer disekitar Jeany berubah mendung. Ia bisa merasakan Dennis tak lagi ramah menatapnya.

“Tak kusangka akan bertemu denganmu disini. Kelihatannya kau sangat baik, berbeda sekali dengan adikku.”

Yesung tersenyum memperhatikan raut wajah kakaknya. Kalimat itu terdengar seperti ia tak terima adiknya diperlakukan demikian. Sangat aneh mendengarnya bicara begitu sedangkan dulu bahkan Leeteuk tak begitu peduli dengan perceraiannya. Sepertinya Leeteuk benar-benar sudah berubah.

“Maaf, aku harus mencari Adam.” Jeany memaksakan senyum kemudian menyingkir dari situ. Ia benar-benar tidak bisa bernafas dengan normal selama berhadapan dengan mereka. Rasanya seperti akan diinterogasi oleh polisi atas kejahatan yang ia buat.

“Jadi kau mengajakku kemari bukan untuk membuatku bertemu gadis-gadis cantik?” tebak Leeteuk sepeninggal Jeany. Yesung hanya mengangkat bahu.

“Kau sulit kumengerti. Ku dengar kau dan dia bertetangga dan dia sudah berkeluarga. Apa yang kau pikirkan? Harusnya kau pindah saja.”

“Tadinya juga seperti itu. Tapi…” Yesung memperhatikan Jeany yang kini sedang bercengkrama dengan tamu lain. Ekspresi wajahnya jauh berbeda dengan saat mereka bicara tadi.

“Aku rasa Jeany menyembunyikan sesuatu dariku. Kau lihat sikapnya? Dia sudah begitu gelisah sejak pertama kali bertemu. Jika dia sudah melupakanku, tentu bukan hal sulit sekedar menyapaku dan berbincang-bincang.”

“Mungkin dia merasa bersalah.”

Yesung memandang kakaknya cukup lama, seakan memberitahunya bahwa itulah kalimat yang ingin ia dengar.

“Jika benar ia merasa bersalah, bukankah artinya ia menyesal dan masih memiliki perasaan padaku?”

Kali ini giliran Leeteuk yang tersenyum. “Jangan berpikiran bodoh! Kau sudah hampir gila dan kau tidak perlu menjadi benar-benar gila dengan mengharapkannya meninggalkan suaminya lantas kembali padamu.”

Yesung kembali memperhatikan Jeany yang masih asyik berbincang. Matanya lalu beralih pada Adam yang sedang duduk di kursi sambil menikmati sepiring puding.

“Apapun itu, aku tetap yakin Jeany menyembunyikan sesuatu dariku. Itulah kenapa dia tak berani menatapku.”

Leeteuk mengibaskan tangannya. Matanya mulai berpencar mencari objek yang menyenangkan.

“Terserah kau saja. Yang jelas jangan lagi mengajakku bertemu dengannya. Entah kenapa aku merasa alergi melihatnya.”

Yesung hanya diam. Ia biarkan kakaknya pergi dan benar-benar menikmati pesta. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia sudah bisa melihat bagaimana reaksi Jeany begitu bertemu dengan kakaknya. Dan ia pun semakin yakin, bahwa ada yang ditutupi oleh Jeany.

***

Dengan ekor matanya, Jeany bisa merasakan Yesung sedang mengawasinya. Meski ia sedang tertawa dengan teman-temannya, sebenarnya ia masih tidak bisa tenang. Ia rasa tatapan Yesung kali ini berbeda. Ia bahkan tak berani untuk balas menatapnya.

“Perhatian semuanya.”

Jeany dan para tamu memusatkan perhatian pada Ny.Clark yang sudah berkumpul dengan keluarganya. Kue ulang tahun yang cukup besar di dorong oleh anak-anaknya ke tengah.

“Aku mengucapkan terima kasih karena kalian bersedia datang ke perayaan ulang tahunku yang ke enam belas.”

Semua tertawa mendengarnya. Tak terkecuali suaminya yang langsung menghadiahinya sebuah ciuman dipipi kanan.

“Aku bersyukur karena Tuhan masih membiarkanku berkeliaran di bumi ini. Aku juga senang karena kalian tidak bosan meski aku selalu mengadakan pesta ini setiap tahunnya. Aku pun…”

Jeany tak lagi mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ny.Clark. Matanya membulat sempurna ketika melihat Adam sudah bersama Yesung dan mereka berbincang dengan gembira. Rasa takut itupun kembali muncul. Perasaan itu menjalar cepat ke seluruh tubuhnya dan dengan cepat ia berjalan ke sana untuk menjemput Adam. Namun, belum juga ia sampai, semua orang tiba-tiba mengerumuninya di tengah-tengah. Ia mengedarkan pandangannya hingga menyadari bahwa semua orang sedang berdansa.

“Mau berdansa denganku?”

Jeany mengerjap dan tak sempat menolak ketika salah satu anak dari Ny.Clark meraih tangannya. Ia pun di tarik ke tengah dan mau tak mau berbaur bersama pedansa yang lain.

“Hey, nikmatilah musiknya.”

Ia tersentak. Perlahan-lahan, ia pun mulai merasakan hentakan musik salsa yang sedang diputar itu. Dilihatnya pasangan lain yang sangat bersemangat hingga akhirnya ia pun larut didalamnya.

Ia mulai lincah menggerakan kaki dan pinggulnya. Pasangan dansanya bisa menari dengan sangat baik sehingga ia harus bisa menyesuaikannya. Sesekali ia akan menoleh ke arah lain dimana Yesung sedang menari dengan Ny.Clark. Orang-orang bertepuk tangan untuk pasangan itu. Tapi kemudian Jeany mengacuhkannya. Ia sudah tak mau ambil pusing. Ia memilih untuk benar-benar menikmati tariannya.

Ia pun terus berganti pasangan. Setiap ia berputar, maka ia akan bertukar pasangan dengan yang lain. Semakin nyaring musiknya, semakin semangat ia menggerakan seluruh anggota tubuhnya. Sudah lama sekali ia tidak merasa bersemagat seperti ini. Untuk sejenak juga ia lupa akan segala hal. Ia terus menari, menari, mendengar tepuk tangan orang yang mungkin ditujukan padanya dan membiarkan tubuhnya ditarik oleh pria lain yang ingin berdansa dengannya. Terakhir, ia berpasangan dengan Bobby. Dan ketika Bobby membiarkannya berputar, tubuhnya ditangkap oleh seseorang.

“Biarkan aku memperlihatkan kemampuanku.”

Jeany tersentak kaget. Dengan cepat ia mendongak dan sadar bahwa kedua tangannya sedang bersandar didada Yesung.

“Kau…”

“Nikmati saja.”

Belum sempat ia berontak, Yesung sudah meraih pinggulnya, menariknya lebih dekat lantas menyatukan tangan mereka. Jeany masih terpaku sampai akhirnya ia sadar bahwa lagu pun sudah berubah. Ia bisa melihat hanya tersisa beberapa pasangan di sekitarnya dan kali ini musiknya mengalun dengan indah, hanya berupa dentingan piano yang membuat suasana mendadak menjadi romantis. Ia juga bisa menemukan Ny.Clark sedang dipeluk oleh suaminya.

“Ingin seperti mereka?”

Ia kembalikan tatapannya ke depan, bermaksud untuk melepaskan pegangan Yesung tapi sia-sia. Yesung mengunci tubuhnya dengan kuat.

“Rileks dan jangan bersikap seakan kau mengiyakan perkiraanku bahwa kau masih menyimpan perasaan itu untukku.”

Tak terima, Jeanypun berusaha tenang. Pasangan lain yang sedang berdansa juga kebanyakan bukan merupakan pasangan sebenarnya, tapi mereka nampak biasa saja. Maka Jeany mulai meregangkan tubuhnya. Dicarinya posisi yang nyaman kemudian mulai menatap Yesung.

Yesung sendiri menyambutnya dengan baik. Ia dan Jeany dengan pelan mengikuti irama dan perlahan-lahan tenggelam dalam melodinya. Tanpa sadar ia mendekatkan tubuh mereka lebih erat. Tangan kanannya meraih pinggang Jeany seakan wanita itu adalah miliknya. Sedang jari-jari tangan kirinya mulai menelusup ke jari-jari Jeany hingga bertautan.

Yesung bisa merasakan Jeany mulai tenggelam dalam permainannya. Jeany tak menolak. Jeany tak melawan ketika ia kini meletakkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Dan ia merasa menang ketika Jeany kembali meletakkan kedua tangan didadanya lantas merebahkan kepalanya.

Ia bawa tubuh Jeany untuk bergerak-gerak pelan. Matanya terpejam. Ia mulai enggan membuka mata dan mendapati kenyataan bahwa ini hanya satu diantara imajinasinya yang sering terjadi selama ini. Ia tak mau membuka mata jika setelahnya Jeany menjauh. Untuk satu kali ini saja, biarkan ia menikmati semuanya.

Jeany sendiri sudah lupa akan segala hal. Tanpa bisa dimengerti, ia merasa nyaman dan tentram saat ini. Ia bisa bernafas dengan tenang dan tidak mendengar apa-apa selain lantunan musik serta deru nafas pria itu.

Ia merasa sedang berada tepat di bawah bulan dan bintang. Tidak ada siapapun di sekitar mereka. Suara – suara orang lain yang sebelumnya terdengar pelan kini menghilang tanpa sisa.

Hening seketika. Jeany merapatkan tubuhnya dan merasa tidak akan pernah bangun dari perasaan ini. Hanya ada ia dan Yesung saat ini. Namun, ketika ia akhirnya membuka mata, ia sadar bahwa ada orang lain yang sedang berdiri menatap mereka di ujung sana.

“Allan…”

***TBC***

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. ShikshinCloud
    Jul 14, 2015 @ 12:18:06

    jeany kalang kabut, yesung stay cool
    hahahaha suka banget nih sikap nya yesung di chapter ini

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: