Naughty

Naughty

naughty

 

 

Cast: Kim Kibum, Lee Hyukjae, Hwang Rise (OC)

 

Genre: Romance

 

Length:

 

Rating: PG-17

 

————–

 

Pergi bersama ke tempat yang jauh, selama berhari-hari…

 

Bukankah hal itu terlalu indah untuk dibayangkan?

 

Tak cuma sekedar indah, bahkan indahnya terasa menyakitkan…

 

Ah, hampir lupa. Hidup ‘kan, memang sarat dengan duka dan luka.

 

—————–

 

Dia kakakku. Calon kakak ipar, lebih tepatnya. Namanya…

 

” Kibumie-hyung. ”

 

Ah. Ada yang mendahului aku menyebutkan namanya.

Ya. Namanya Kibum. Kim Kibum.

 

” Eo Hyuk-ah. ”

 

Tunanganku, Lee Hyukjae, adik angkatnya. Berdiri di sampingku dan memandang Kim Kibum dengan sorot mata gembira. Ia menghambur memeluk kakaknya, meninggalkanku di belakangnya yang tengah tersenyum getir.

 

———————-

 

Hari ini hari pertama kami–aku dan Hyukjae–liburan bersama ke Swiss. Kami menyewa satu flat rumah tinggal sederhana di Bern. Bukannya kami kurang uang untuk menyewa yang lebih nyaman, tapi, begitulah Hyukjae. Ia tak terlalu suka mengeluarkan uangnya meski itu perlu.

 

Namun aku tak protes. Flat ini tak jelek. Ada dua kamar tidur, dapur kecil yang tersambung dengan ruang makan, juga teras yang nyaman di samping rumah.

 

” Kau lelah, Rise-ya? ” tanyanya. Kami sedang menikmati kopi hangat di teras, dengan pemandangan cantik di penghujung musim gugur memanjakan mata. Aku menggeleng.

 

” Pemandangan ini mengobati semua lelahku. ” kataku santai.

 

Tunanganku ini–Lee Hyukjae–meski irit tapi ia perhatian. Ia tahu aku kelelahan. Dua buah koyo hangat ia tempelkan ke telapak kakiku, lalu tangannya mulai memijat betisku yang rasanya seperti mau meledak.

 

” Sudah baikan? ”

 

Aku tersenyum dan mengelus rambutnya yang ia cat jadi merah tembaga.

 

” Mm. Tak buruk. ” jawabku. ” Oh ya, kita perlu ke supermarket. Beli beberapa bahan untuk masak makan malam dan sarapan selama di sini. Kudengar ada satu supermarket 24 jam di sekitar sini. ”

 

Hyukjae mengangguk.

 

” Boleh. Lagipula, kita juga agak lama liburannya. ”

 

Dan kami pun menarik diri dari kursi teras, menuju kamar masing-masing.

 

Aku melapisi bajuku dengan selembar coat tebal berwarna navy, syal dari serat kapas yang hangat, juga sarung tangan berbahan kulit buaya. Ah, omong-omong, sarung tangan ini oleh-oleh dari Hyukjae saat ia dinas ke Yogyakarta. Mengunjungi salah satu anak perusahaan di sana.

 

Sarung tangannya hangat sekali. Kualitas nomor wahid, terlihat jelas dari teksturnya. Aku tersenyum. Hyukjae pintar memilih barang yang bermutu bagus.

 

Kulangkahkan kakiku ringan seraya bersenandung kecil. Lagu yang tak jelas. Hahaha.

 

Dan…

 

.

 

Perasaan damai yang barusan, hilang entah ke mana.

 

.

 

Ada dia di sini. Untuk apa?

 

” Eo, Ricchie-ya. ” katanya. Ia menatapku dalam. Aku hampir tak bisa bergerak. ‘ Ricchie-ya’ , panggilan khusus darinya. Hanya dia yang memanggilku begitu.

 

” Op.. Oppa. Wasseo? ”

 

Aish! Bodoh!

 

” Maksudku, kenapa Oppa di sini? ”

 

Kibum Oppa tak menjawab. Masih menatapku melangkah mendekat. Aku tergeragap. Aduh! Apa ini? Tolong aku!

 

” Hyung! ”

 

Suara Hyukjae. Kulihat ia muncul dari balik pintu kamarnya. Oh Tuhan, terima kasih!

 

” Hyukie! ”

 

Aku mencoba bersikap wajar. Aku tak mau Hyukjae berpikiran negatif tentangku.

 

” Kibumie Oppa baru saja datang. Katanya ia mencarimu, Hyukjae-ya. ” ucapku. Hyukjae mengangguk paham.

 

” Eomma menyuruhku memberikan ini padamu. Aku menyusul ke sini karena tak ada pilihan lain. ” ucap Kibum Oppa. Ia mengangsurkan tas belanja bertuliskan ‘ Armani Exchange ‘. Hyukjae tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.

 

” Gomawo. ”

 

Kibum tak menyahut. Suasana hening. Hyukjae sibuk mengeluarkan isi tas tersebut, yang rupa-rupanya coat tebal nan elegan, khas Armani.

 

Ia mengenakannya dengan segera, atau kalau tidak memang bisa parah sekali akibatnya. Hyukjae punya trauma dengan salju, makanya kami–aku dan keluarga besarnya–selalu khawatir saat musim dingin tiba. Dan musim dingin memang sebentar lagi menyapa bumi.

 

” Untung kau mau ke sini mengantarkannya. Ini benar-benar jaket favoritku! ”

 

Kibum Oppa tersenyum lagi, sepertinya senang karena kedatangannya tak sia-sia. Aku jadi tersenyum juga.

 

Namun perlahan senyum itu lenyap. Dia kembali memandangiku. Matanya serasa menembus ke dalam jiwaku, mencoba membaca hatiku, mungkin. Dan sialnya aku tak bisa berkutik.

 

KRINGGGG! KRIIIINGG!

 

Hyukjae kelabakan mengangkat telfonnya, dan kurasa itu dimanfaatkan Kibum Oppa untuk lebih mendekat ke arahku. Ya Tuhan! Apa yang mau dia lakukan?

 

” Ricchie-ya. Kau kelelahan. ” bisiknya. Suara bass nya, serta intonasinya membuatku bergidik. Hiii!

 

” Hyung! Rise-ya! ” panggil Hyukjae. Dan aku selamat.

 

Kami berdua menoleh.

 

” Aku harus pulang sekarang. Bosku menyuruh menunda cuti. ”

 

” Apa? Lalu bagaimana liburan kita? ” tanyaku tak percaya. Yang benar saja! Kami baru saja sampai beberapa jam yang lalu, lantas kami harus pulang lagi?

 

” Mianhe Rise-ya. ” sesalnya. ” Ah! Bagaimana kalau Hyung menemanimu liburan di sini? Ide bagus, ‘kan? ”

 

” Tapi Hyuk… ”

 

” Aku bukan tempat penitipan barang, Hyukie. ”

 

Ap… Jadi aku ini barang? Dasar pria sialan!

 

” Jebal Hyung! Aku harus segera berangkat! ”

 

———————-

 

Pada akhirnya kami terpaksa menuruti Hyukjae. Kami mengantarnya ke stasiun kereta agar ia bisa segera ke Zurich untuk pulang ke Korea. Dia melambai riang. Namun dari sorot matanya kelihatan sekali ia merasa bersalah padaku. Tentu saja! Memang harus begitu! Liburan macam apa ini? Baru datang langsung pulang? Sungguh lucu!

 

Ini gara-gara bosnya Hyukjae–si Siwon Super Unfabulous itu–yang seenak dengkulnya membatalkan cuti dan memanggil Hyukjae untuk bekerja lagi. Huh! Nanti aku akan beli boneka voodoo untuk mengutuknya!

 

” Ayo kita kembali. ” suara Kibum Oppa menyadarkan lamunanku. Tanpa kusadari tangannya sudah menyelip ke telapak tanganku, menggandengnya erat. Membuat dag dig dug. Aduh! Kosa kataku jadi amburadul!

 

Kami kembali ke flat. Memang benar yang tadi dia bilang. Aku kelelahan. Aku tak peduli lagi dengan keadaan aneh ini, dan langsung tidur di kamarku.

 

———————-

 

Apa ini? Apa ada maling? Berisik!

 

.

 

Ya ampun! Bisa gawat kalau ada maling betulan!

 

.

 

” Hei! ”

 

Teriakanku bergema, tapi tak menimbulkan respon panik dari seseorang–entah siapa–yang kini ada di kamarku.

 

Sebentar.

 

.

 

Itu artinya, orang itu bukan maling?

 

.

 

” Kenapa kau? Bangun-bangun kau langsung teriak. ”

 

Suara bass itu lagi.

 

” Oppa… ”

 

Bukan hanya suaranya, parfumnya kini juga turut menyerangku.

 

Harum. Maskulin. Segar. Memabukkan.

 

Aish! Ada apa denganku?

 

” Kenapa ada di kamarku? ”

 

Bodoh! Mulutmu tak bisa ya kalau tak frontal?

 

” Ck kau ini. Apa kau tak bisa basa-basi? ” katanya agak pedas. Aku hanya meringis. ” Menata baju. Apa lagi? ”

 

Baju?

 

” Ap… Hah? Punya siapa? ”

 

” Milikku. Toh hanya sedikit. ”

 

Kibum Oppa menyeringai jahil. Dia bangkit dan berjalan mendekati ranjangku. Aku merapatkan selimut, agak takut dengan apa yang hendak ia lakukan.

 

” Kasurmu cukup besar. Terlalu besar untuk kau tempati seorang diri. ” ucapnya, masih dengan seringaian jahilnya.

 

Ia mendekat lagi. Makin dekat. Makin dekat.

 

Dan makin dekat.

 

” Aku akan menemanimu. ”

 

Apa… Apa.. Maksudnya?

 

” Kau tak akan kedinginan seperti biasanya lagi. ”

 

Bagaimana ia tahu kalau aku sering kedinginan saat aku tidur?

 

.

 

Hei. Jangan bilang…

 

.

 

” Oppa mau tidur di sini? Oppa gila? ”

 

———–

 

Kibum Oppa… Rupanya kau benar-benar mau membunuhku.

 

” Jangan acuhkan aku. ” lagi, kau berbisik lirih di telingaku.

 

” Oppa. Ini tempat umum. Tak bisakah kau bersikap tenang? ” pintaku. Padahal, jantungku sendiri tak kalah hebohnya.

 

Bagaimana tidak?

 

Saat ini kami sedang belanja sayur dan bahan makanan lain di supermarket 24 jam di dekat flat. Dan ketika aku sibuk memilah selada dan tomat, ia melingkarkan tangannya erat ke perutku.

 

Apa dia mau membunuhku? Aku bisa kena serangan jantung mendadak gara-gara ini!

 

Ia melepaskan pelukannya, membuatku lega. Sesaat. Sebelum ia membalik tubuhku menghadap ke arahnya, dan mendekatkan pinggangnya ke pinggangku. Aish!

 

” Oppa! ” tegurku. Kujadikan tanganku sebagai tameng agar badan kami tak semakin merapat. ” Lepaskan. Apa maksudmu begini padaku? ”

 

” Kau masih tak mengerti? ”

 

Aku tahu aku berdebar menggila karena ini, dan aku mulai bisa membaca apa tujuan Kibum Oppa.

 

” Oppa! Jangan gila! Aku adik iparmu! ”

 

” Belum! ”

 

Troli belanja terabaikan. Sayur dan yang lain tak jadi kami bawa pulang. Kibum Oppa menyeretku paksa keluar dari supermarket, dan aku terpontang-panting berlari di belakangnya, menahan sakit di pergelangan tanganku.

 

” Lepaskan aku, Oppa! ” teriakku. Kukibaskan lengan kananku agar genggamannya terlepas, tapi nihil.

 

” Tidak akan pernah. ”

 

Aku mulai menangis. Kenapa ia tak mengerti? Tanganku sakit sekali dan ia tak berhenti menyeretku.

 

” Sakit, Oppa! ” teriakku lagi.

 

Isakanku berhasil menghentikannya rupanya. Dia melepaskanku, dan kurasa ia mendengar aku terisak. Hening sesaat, kemudian ia mengecup pergelangan tanganku berkali-kali sambil meminta maaf.

 

” Mianhe. Mianhe Ricchie-ya. ”

 

Air mata… Dia menangis?

 

” Oppa… Oppa… Kau.. Kau tak apa? ”

 

Kibum Oppa mendongak. Menatapku masih dengan air mata berjatuhan dari sudut-sudut matanya. Ah…

 

” Aku menyakitimu. Maafkan aku. ”

 

Aku tak mampu bicara.

 

” Tak akan kuulangi. Maaf, Ricchie-ya… Ayo kita pulang. ”

 

Aku diam, sementara dia merangkul lenganku mesra, seolah ingin melindungiku. Seolah tak ada yang boleh menyentuhku seujung jari pun.

 

Hyukjae…

 

Dia tak pernah begini…

 

Satu kali pun.

 

.

 

.

 

.

 

Dia masih saja meminta maaf. Juga sekarang, ketika aku bersiap hendak tidur.

 

” Ricchie-ya… Masih sakit? ”

 

Ia berjongkok di pinggir kasur, mengelus tanganku dengan lembut dan hati-hati.

 

Aku menggeleng.

 

” Oppa… Kenapa hari ini kau aneh sekali? ” tanyaku.

 

Aku sudah menyusun beberapa spekulasi tentang anehnya sikap Kibum Oppa hari ini, tapi aku tak mau sembarangan. Belum tentu spekulasiku benar.

 

” Tak ada apa pun. Sudah. Tidurlah. Sudah malam. Besok kau mau jalan-jalan, ‘kan? ”

 

——————

 

A few days later…

 

Pagi ini aku senang sekali! Salju mulai turun semalam, dan begitu aku bangun, pemandangan serba putih menyambutku dari balik jendela. Ah! Aku benar-benar suka salju!

 

” Ricchie-ya, kau sudah bangun? ”

 

Aish! Aku baru saja menikmati masa tenang, dan laki-laki ini mengacaukannya begitu saja!

 

Apa ia tak bisa membiarkanku menenangkan diri? Dia selalu saja begini!

 

” Oppa! ” aku memberengut.

 

Dia diam. Lalu ia mendekat dan duduk di ranjang.

 

Aku masih kesal. Jadi aku mengomel sebisa-bisaku.

 

” Aku baru bangun. Aku belum ingin pergi ke luar, Oppa. Jadi jangan ganggu ak… ”

 

.

 

Chuu~~

 

.

 

Apa tadi?

 

.

 

” Morning kiss. ”

 

Apa… Apaan….

 

” Sudah selesai ngomel? Kita akan pindah hari ini. ”

 

.

 

Pindah?

 

.

 

” Aku sudah bosan, dan aku ingin liburan di tempat lain. ” katanya lagi. ” Aku sudah reservasi hotel di Belgia. Aku juga sudah pesan tiket untuk penerbangan pertama dua jam lagi. Kita harus sudah di airport satu jam sebelum take off, jadi berkemaslah. ”

 

.

 

Ya Tuhan! Pria ini benar-benar sudah gila!!

 

.

 

Kami tiba di airport, check in, lalu menunggu selama sekitar setengah jam. Setelahnya kami langsung menuju pesawat begitu panggilan untuk penerbangan kami terdengar.

 

Kibum Oppa menggandeng tanganku lembut, menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Hyukjae tak terlalu suka hal seperti ini, terutama bila di tempat umum. Jadi aku tak pernah tahu rasanya.

 

Kini aku tahu bagaimana rasanya bila seorang pria menggenggam tangan kita. Berdebar-debar. Gugup. Malu. Tapi juga senang.

 

Hanya saja, ada satu hal yang kusadari.

 

Debaran ini. Rasa senang ini. Juga gugup dan malu ini. Semuanya terlarang.

 

Tak boleh.

Tak boleh.

 

Aku tahu.

 

Namun kenapa masih juga aku melanggarnya?

 

 

Kami tak langsung ke hotel yang sudah direservasi Kim Kibum Oppa. Setelah landing di Bruxelles Airport, kami mampir sebentar di beberapa toko coklat di Bruxelles, ibukota Belgia, sekaligus ibukota Benua Eropa.

Di toko pertama kami mencicipi hot chocolate, lumayan untuk menghangatkan badan. Memang toko ini tak memproduksi coklat dengan kualitas premium, tapi coklat Belgia tetaplah coklat Belgia. Legit dan manisnya berbeda dengan yang biasa kubeli di Korea.

 

Kibum Oppa mengajakku mampir ke toko lain. Godiva Chocolatier. Tokonya berdesain simpel tapi terlihat mewah. Ugh. Pasti harganya selangit.

 

Jadi kucoba memastikan. Kuamati harga coklat yang ditempel di kaca depan, di mana beberapa coklat didisplay. Woah. Betul ‘kan yang tadi kubilang!

 

Harganya benar-benar mahal!

 

Lalu Kibum Oppa bilang begini, ” Aku tak sempat mentraktirmu di Swiss kemarin. Padahal aku tahu beberapa kali kau melirik pintu masuk Sprungli. Benar, ‘kan? ”

 

Aku masih bingung.

 

” Anggap saja aku sedang melunasi hutangku padamu. Ayo masuk. ”

 

Aku mengerjap. Godiva sebagai ganti Sprungli? Tak salah?

 

—-

 

Akhirnya sampai juga aku di hotel. Kau tanya aku lelah? Pasti. Tapi lelah yang kurasakan tak sebanding dengan perasaanku yang luar biasa senang saat ini.

 

Kim Kibum Oppa membelikanku sekotak truffles dan dua kotak praline di Godiva tadi. Dia juga mentraktirku Chocolixir untuk diminum di hotel. Wah! Bayangkan saja! Seorang penggila coklat sepertiku mendapatkan coklat-coklat mahal secara cuma-cuma? Bisa dibilang, aku bahagia tingkat dewa!

 

Hmm. Sepertinya harus kucoba Chocolixir nya. Minuman coklat dingin milik Godiva ini terlalu menggiurkan kalau hanya dianggurkan tanpa dihabiskan.

 

.

 

Enak. Enak sekali.

 

.

Lebih enak daripada ice chocolate yang biasa jadi langgananku di Korea. Kenapa ya? Apa karena aku meminumnya di kampung halaman coklat mewah dunia? Ah entahlah~

 

.

 

Oh! Aku harus segera tidur sebelum Kibum Oppa selesai mandi!

 

Kau tahu kenapa?

 

Dia lelaki terpintar sekaligus terbodoh yang pernah kukenal! Bagaimana bisa ia hanya reservasi satu kamar saja di hotel ini? Sudah begitu, semua kamar lain sudah penuh! Lalu, apa kami harus tidur berdua di satu kamar?

 

Dan masalahnya tak berhenti di situ saja. Kamar ini memang suite room, tapi, duuuh, kasurnya itu! King size, tapi cuma satu! Lantas bagaimana kami harus tidur? Satu ranjang? Jangan gila! Bisa-bisa aku pulang ke Korea dalam keadaan hamil.

 

Ngomong-ngomong, kenapa aku ngantuk sekali ya?

 

.

 

Kamarnya juga panas. Aku keringatan. Atau pemanas ruangannya terlalu tinggi suhunya?

 

.

 

Entah. Yang aku tahu, aku harus tidur sekarang.

 

——————

 

————————————-

 

Kibum tersenyum puas mendapati Rise tertidur lelap. Rencananya berhasil. Ia tinggal meneruskan plan yang sudah ia susun beberapa hari sebelumnya.

 

Sambil melepas piyama mandinya, ia menyeringai licik dan berkata, ” Maafkan aku, Ricchie-ya. Aku terpaksa melakukan ini. Bagaimana pun kau harus jadi milikku. ”

 

Perlahan ia mendekati bibir ranjang, dan memanjakan matanya dengan melihat Rise yang pakaiannya tak lagi tertutup sepenuhnya.

 

” Kau milikku, Ricchie-ya. Kau milikku. ”

 

————————-

 

Rise menggeliat pelan. Masih berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang seolah membutakannya. Silau.

 

Ia terlamun sesaat. Mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sebelum memulai lagi liburannya bersama Kim Kibum.

 

” Aish… ” rutuknya pelan seraya mengacak kepalanya sendiri. Perlahan ia bangun. Namun gerakannya terhenti saat ia menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal.

 

Kok aneh?

 

.

 

Seingatnya, semalam ia tak mengganti bajunya.

 

.

 

Bukankah setelah minum Chocolixir ia langsung tidur?

 

.

 

Lagipula, ini baju siapa? Kedodoran?

 

.

 

Tunggu.

 

Baju ini bahkan tak ia kenakan. Baju ini cuma menempel di atas tubuhnya!

 

.

 

Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Kenapa dia jadi telanjang begini?

 

.

 

” Aigoo… Apa yang terjadi? ” keluhnya. Dia bergegas mengenakan baju tadi. Tak peduli itu bajunya atau bukan. Yang jelas ia harus membungkus tubuhnya.

 

Belum selesai bingung, Rise merasakan perih di kemaluannya.

 

” Auwww…. ”

 

Sambil mendesis kecil, Rise menyingkapkan selimut yang masih menutupi perut dan kakinya.

 

” Eomma! ” cicitnya.

 

Bercak darah mengotori seprai hotel yang putih. Dan Rise langsung tahu bahwa ia semalam telah kehilangan miliknya yang paling ia jaga.

 

Rise menangis. Ia menoleh ke samping. Sedari tadi ia sudah menahan lehernya agar tak sembarang bergerak. Takut dengan kemungkinan yang ada di otaknya.

 

Kim Kibum sedang tidur nyenyak di situ!

 

” Ya Tuhan! ” racaunya lagi.

 

Bisa ia lihat sekilas, Kibum juga tak berpakaian di balik selimut tebal yang mereka pakai. Jadi, tak perlu tanya lagi siapa pelakunya.

 

Terpukul. Ia sungguh-sungguh terpukul.

 

Bagaimana jika Hyukjae tahu hal ini?

 

” Eomma… Hiks… ” isaknya.

 

.

 

Rise masih terisak saat Kibum terbangun dan mendapati gadis itu duduk di tepian ranjang. Seketika ia merasa berdosa.

 

Kibum bangun perlahan, lalu turun dan beranjak mendekati Rise. Dia berjongkok, menatap Rise dengan hati campur aduk.

 

” Ricchie-ya… ” katanya pelan.

 

Tangis Rise terdengar pilu.

 

” Kenapa Oppa? ”

 

Dan ia tak bisa menjawab.

 

” Kenapa kau lakukan ini? ”

 

” Ricchie-ya, mianhe… Jeongmal mianhamnida… Ak… Aku… ”

 

Rise terisak-isak, lebih kencang dari sebelumnya.

 

” Oppa jahat sekali… Apa yang harus kukatakan pada Hyukie? Kau membuatku jadi seperti seorang pengkhianat, Oppa… ”

 

Kibum tak menjawab, bingung harus bilang apa. Sementara Rise masih menangis dan beberapa kali menyebut-nyebut nama Hyukjae.

 

” Ricchie-ya uljima. Jebal… ” lirih Kibum lagi. ” Aku… Aku… ”

 

Rise menatapnya sedih.

 

” Oppa yang membuatku jadi begini. Bagaimana bisa Oppa bilang ‘uljima’ padaku? Aish Oppa! Huhuhu… ”

 

Kibum bukanlah pria cengeng. Meski ia hampir menangis melihat Rise, tapi itu karena rasa bersalah yang menekan hatinya. Lagipula, siapa sih, yang tahan melihat gadis pujaan hati berurai air mata? Terlebih dia juga penyebab si gadis menangis tak kunjung henti.

 

” Jebal, Ricchie-ya. Uljimarayo. ”

 

Dipeluknya Rise erat-erat. Mencoba menenangkan gadis itu. Mencoba menyalurkan rasa sayangnya. Kenapa gadis ini tak juga mengerti? Kenapa susah sekali menyadarkan gadis ini akan perasaannya yang sesungguhnya?

 

” Oppa… ”

 

Kibum melepas pelukannya, dan menatap Rise dengan lembut. Dielusnya pipi pualam Rise–yang selalu membuatnya teringat dengan Gadis Kumala dalam kisah klasik Cina dan ia merasa jadi Pemuda Emas, pasangan abadi si Gadis Kumala–penuh kasih.

 

” Cara apalagi yang harus kupakai agar aku bisa bersamamu? ” kata Kibum akhirnya, sedikit putus asa.

 

Rise masih bingung.

 

” Apa kau tak mengerti? Aku sudah berusaha keras agar kau menatapku. Agar kau mengikuti kata hatimu. Aku tahu kau, Ricchie-ya. Aku kenal kau sejak kecil. ”

 

Kibum meletakkan tangannya di dada Rise.

 

” Sampai kapan kau akan mengingkari debaran ini? Sampai kapan? ”

 

Rise termenung. Kibum tahu? Dari mana? Ia tak pernah cerita pada siapa pun tentang ini.

 

” Oppa, neo ara? ”

 

” Nan ara. ”

 

Mereka berdua lantas terdiam cukup lama. Rise mengusap wajahnya kasar. Kibum tak berkata apa pun, hanya memeluk Rise dari belakang. Barangkali dengan begitu gadis ini bisa tenang, pikirnya.

 

” Oppa… ”

 

” Hmm.. ”

 

” Bgaimana kalau aku hamil? ”

 

” Itu berita bagus. ”

 

” Oppa! Aku tak sedang bercanda! ” rajuknya. Kibum tersenyum kecil. Dia senang Rise tak panik lagi seperti tadi. Yah, setidaknya begitu.

 

” Aku pun serius. Aku benar-benar senang kalau kau hamil anak kita. ” ujarnya jujur.

 

Kibum tersenyum lagi. Entah kenapa, ia jadi berbunga-bunga mendengar kata ‘anak kita’. Padahal itu kata-katanya sendiri.

 

” Wae? Harusnya kau panik, Oppa! Aneh sekali kalau kau senang! ” protes Rise. ” Aku bahkan pusing sekali memikirkan ini. Aku juga takut. ”

 

Kibum masih tersenyum lebar.

 

” Oppa! Bagaimana ini? Hari ini juga masa suburku! Aku benar-benar bisa hamil! Huhuhu… Ayah pasti membunuhku kalau ia tahu hal ini… Aah eottokhae? ”

 

” Ayo kita tinggal di sini dua atau tiga bulan lagi. Kita perpanjang masa berlaku visa kunjungan ke kedutaan. ”

 

” Oppa gila? Hyukjae juga pasti mencari kita! Huhuhu… Hyukjae… Maafkan aku… Huhuhu… ”

 

” Ssh… Sudah. Sudah. Ada aku, Ricchie-ya. Tak usah cemas. ”

 

Rise hampir saja menangis lagi. Namun Kibum lebih cepat bertindak. Ia melumat bibir Rise dengan lembut. Gadis Kumala-nya ini memang harus dibeginikan sepertinya, atau bisa-bisa dia mati cemburu mendengar nama adik angkatnya berkali-kali disebut.

 

Aish! Bikin kesal saja! Dia memang harus dihamili!

 

” Kau harus hamil, Ricchie-ya. Kau harus mengandung anakku. ” ujarnya seduktif. ” Tak boleh gagal. Ayo lakukan lagi. ”

 

Rise bermaksud protes, tapi ia terlambat. Kibum sudah menguasai dirinya.

 

—End—

 

Eotte eotte? Terlalu frontal, kah?

 

Huaaaa ini gara2 aku kangen sama Kibummie… Huhuhu… Pelampiasannya cuman bikin ff, buka google img, sama nonton attack on the pinup boys…. Suka banget ama Kibum di situ… Huhuhu Oppa… Buruan balik ke SJ napa…. TT~TT #curcol

 

Rcl nya duung readers… Lanjot apa segini aja niiih?? Hayooo jawab! Siders! Sekali-kali ngasi pendapat!

5 Comments (+add yours?)

  1. ichu,
    Jul 13, 2015 @ 22:38:46

    suka sama gaya nulis author yg langsung, ngalir dan seru…
    sequel juseyooo
    Keep writing^^

    Reply

  2. Angelica SparKyu Sakurada
    Jul 13, 2015 @ 22:42:23

    kibum kok gitu:/ tega dia nikung adik sendiri >:O
    kejam >_<

    Reply

  3. Gaemotional Cho
    Jul 14, 2015 @ 15:50:01

    Harus ada sequel nya thor >_< Nasib Hyukje tergantung/? soalnya :3

    Reply

  4. Isti
    Sep 03, 2015 @ 22:03:33

    Ehmmmm… jdi kangen kibum… T,T

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: