Angel’s Call [7/?]

angels call

Author : Sophie Maya

Title     : Angel’s Call (007)

Cast     : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC), Choi Siwon, Lee Sungmin, Henry, Zhoumi, etc

Genre  : School-life, romance

Rating : G

Length : chapter

Note    : original fanfiction was published on my personal blog: www.sophiemorore.wordpress.com

 

“Out of sight, close to the heart.”

-Cho Kyuhyun-

 

 

Chae Won melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan besar menyerupai aula dengan lantai berbentuk trap yang berfungsi pula sebagai kursi. Di ujung ruangan yang menceruk ke bawah terdapat sebuah panggung besar, dengan piano grand berwarna hitam, berdiri di sana.

Chae Won melihat punggung Sungmin dari salah satu tingkat trap, Sungmin tengah menekan-nekan tuts piano, menghasilkan alunan nada yang indah di atas panggung. Chae Won tak mengerti musik apa itu, yang pasti terdengar begitu menenangkan. Chae Won terpaku beberapa saat, tak menyadari di mana dirinya berada, sampai Siwon lalu menarik tangannya agar mendekat pada Sungmin.

“Ayo… kita lihat sang pianis dari dekat,” bisik Siwon sambil tersenyum tipis.

Chae Won menatap Siwon dan mengangguk kecil. Meniti satu persatu trap penuh hati-hati, nyaris seperti balita yang baru belajar jalan, dia selalu mengalami sedikit kesulitan jika menaiki atau menuruni undakan. Siwon memandangi Chae Won tanpa banyak bicara, namun semakin mengeratkan genggaman tangannya tiap kali Chae Won hampir oleng.

Beruntung sekali, akhirnya mereka sampai di podium tepat ketika permainan Sungmin selesai.

“Kalian datang juga?” Sungmin menoleh dan menatap antusias ke arah Siwon dan Chae Won.

“Tentu saja, Siwon sudah begitu gencarnya mempromosikan permainan pianomu hingga membuatku penasaran.” Chae Won tersenyum.

“Benarkah?” Sungmin memandang Siwon sejenak. “Kukira dia hanya bisa bertengkar denganku.”

“Yah, tidak untuk saat ini Sungmin. Tidak untuk saat ini.” Siwon tertawa.

“Chae Won, duduk di sebelahku sini.” Sungmin menggeser tubuhnya sedikit.

Chae Won mengangguk, menaruh tas sekolahnya di lantai, dan duduk di samping Sungmin. Kedua bola matanya memandang tuts-tuts piano dengan kagum.

“Kau ingin memainkannya?” tawar Sungmin.

“Aku tidak bisa bermain piano,” elak Chae Won halus.

“Kau sudah punya dasarnya, Chae Won. Kau kan dulu memegang bagian pianika.” Sungmin menuntun tangan Chae Won untuk memencet beberapa tuts. “Ini sama saja dengan pianika, ada do… re… mi…” terdengar alunan nada dari do hingga si yang dipencet oleh Chae Won.

Chae Won mengangguk-angguk antusias. “Tidak terlalu sulit.” Chae Won kembali memencet-mencet tuts, memainkan lagu anak-anak yang diingatnya dan meskipun lupa beberapa nada, Chae Won cukup puas mengetahui kemampuan mengingat tangga nadanya masih cukup baik.

“Tentu tidak. Aku bisa, kau pasti bisa. Apa kau mau daftar les di sini? Jadi kita bisa bermain piano tiap hari?” ujar Sungmin semangat.

Chae Won menoleh pada Siwon yang ikut menganggukkan kepala dan terlihat sama bersemangatnya dengan Sungmin. Kemudian Chae Won kembali beralih menatap Sungmin. “Akan aku pertimbangkan, sungguh.”

Sungmin bersorak kegirangan.

“Hei, Sungmin… Kyuhyun mana? Dia seharusnya sudah datang, kan?” tanya Siwon saat melihat dua tiga murid les yang baru datang ke ruangan dan mengucapkan salam pada Sungmin.

Sungmin menelan ludah dengan canggung. “Maaf sekali teman-teman, hari ini Kyuhyun bolos sekolah dan aku tidak bisa menghubunginya sama sekali.”

Chae Won memandang Sungmin. “Kyuhyun… bolos?”

“Iya…” Sungmin menggaruk-garuk kepalanya. “Tadi aku sempat ke rumahnya sepulang sekolah dan yang kudengar dari tetangganya, kemarin Kyuhyun bertengkar hebat dengan ayahnya. Lalu sepertinya… Kyuhyun kabur dari rumah. Ibu tiri Kyuhyun juga tidak terlihat di mana pun, sepertinya ibu tiri Kyuhyun juga kabur dari rumah.”

“Ya Tuhan…” Chae Won memandangi Sungmin tak percaya. Dia tak menyangka kehidupan Kyuhyun lebih buruk dari yang dikiranya. Mendengar cerita Sungmin tempo hari tentang kematian ibu kandung Kyuhyun dan sikap Kyuhyun yang berubah, Chae Won tidak pernah berpikir dampaknya bisa begtiu besar. “Lalu kau sudah bertanya pada ayahnya?

“Ya, dan ayahnya justru masih di kantor, aku tidak enak untuk menyusul beliau dan menanyakan kabar Kyuhyun. Hubungan mereka memang sedikit renggang.”

Sorot mata Chae Won berubah sedih. “Berarti belum ada kabar sama sekali dari Kyuhyun?”

Sungmin menggelengkan kepala lemas. “Aku berharap Kyuhyun tidak berpikiran bodoh, aku harap dia baik-baik saja, aku harap apapun yang sedang dilakukan Kyuhyun, ada seseorang yang tetap menjaganya untuk berpikir dan membuat keputusan rasional.”

“Amin, semoga saja.” Siwon ikut terlihat prihatin. “Jika almarhumah ibu guru kita tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun, dia pasti sedih sekali.”

Chae Won semakin merasa sedih pada nasib Kyuhyun.

“Ya, tentu saja. Pasti dia sedih.”

“Tapi apa kau sudah mengabarkan pada Kyuhyun soal reuni kita dua hari lagi?” tanya Siwon.

Sungmin menggeleng. “Belum sempat, Siwon. Aku jarang sekali bertemu Kyuhyun… dia seperti lenyap, susah dicari…”

Tiba-tiba ponsel Chae Won berbunyi. Chae Won berdiri dan berjalan agak menjauh ke sudut podium sementara Siwon dan Sungmin masih terus berbicara membahas masalah reuni. Chae Won sempat melirik layar ponsel dan nama malaikat tertera di sana.

“Hei, tebak-tebak… apa menurutmu makan ikan mentah hasil tangkapan lima menit lalu itu enak?”

Chae Won membulatkan mata mendengar suara riang di ujung sana dan refleks tersenyum kecil. “Enak, coba saja. Meski ini kali pertama kau memakannya, tapi dari suapan pertama akan membuatmu ketagihan.”

“Hei! Dari mana kau tahu ini pertama kalinya aku makan ikan mentah?” suara Malaikat terdengar penuh kekagetan. Dan itu membuat Chae Won larut dalam tawa kecilnya. “Kau ini sungguh-sungguh cenayang rupanya… apa kau buka praktik ramalan masa depan?”

Chae Won kembali tertawa sampai harus menutup mulutnya karena Siwon dan Sungmin sempat melirik bingung padanya. “Tidak, aku tidak begitu…” bisik Chae Won pelan.

“Aku baru saja pergi memancing bersama ibuku dan aku dipaksa memakan ikan mentah. Sungguhan kan ucapanmu itu, rasa ikan mentah itu enak?” suara diseberang terdengar penuh khawatir.

“Ya, aku jamin seratus persen rasanya enak sekali.”

Terdengar bunyi krasak-krusuk di seberang. Chae Won memejamkan mata. Telinganya bisa mendengar jelas hembusan angin kencang, suara mesin kapal, dan teriakan-teriakan seorang wanita yang sedang menghitung jumlah ikan “satu… dua… tiga… empat… tangkapan kita hari ini banyak!”. Chae Won tersenyum. Logat Busan terdengar begitu kental dari dari suara samar-samar sang wanita.

“Bidadari…”

Suara Malaikat memanggil Chae Won membuat gadis itu kembali membuka matanya.

“Aku merasa bahagia.”

Hening sejenak.

“Aku senang kau merasa bahagia,” ucap Chae Won tulus.

Hening lagi, hanya terdengar pertukaran helaan napas dari Chae Won maupun Malaikat di seberang. Chae Won menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan mata. Tak ada satu pun dari mereka yang kembali berbicara, hanya sama-sama menikmati alunan napas yang terdengar begitu jelas mengalahkan suara apapun.

“Kurasa ibu sudah memanggilku, aku harus memutus sambungan. Aku akan meneleponmu lagi nanti.” Malaikat akhirnya angkat bicara.

“Ya, baiklah,” ujar Chae Won.

“Terimakasih…” kemudian, terdengar lagi terdengar helaan napas lembut, “…untuk tetap membuatku berpikir dan membuat keputusan rasional, Bidadari.”

Chae Won tersenyum. “Sama-sama, Malaikat…”

.

.

.

.

.

.

“Sama-sama, Malaikat…”

Kyuhyun memandangi layar ponselnya dengan pandangan penuh arti. Dadanya menghangat dan kepalanya terasa lega, dia tidak tahu jika Gadis Bidadari memberikan nama juga padanya, dan itu membuatnya merasa senang.

Malaikat? Kyuhyun tidak merasa sesuci itu, namun entah mengapa saat Bidadari memanggilnya “Malaikat”, semua terasa benar.

Kyuhyun merasa dia bisa menjadi “seseorang” di detik gadis itu menyebutnya “Malaikat”.

Kyuhyun berbalik badan dan melihat Nyonya Bae sedang menarik jaring untuk yang kesekian kalinya. Beberapa ikan menggelepar-gelepar di balik jaring itu, mencipratkan beberapa percik air yang membasahi lantai kapal. Kyuhyun mendekat ketika Nyonya Bae melambaikan tangan dan menyuruhnya mendekat. Bibi Han, tetangga mereka, sedang menaruh beberapa potong ikan tipis-tipis yang ditaruh di atas pemanggang. Asap mengepul-ngepul, bergelung ke atas, sebelum akhirnya hilang tertelan angin laut.

“Kyu! Ayo, makan sushi-nya!” teriak Nyonya Bae melambaikan tangan semakin cepat karena Kyuhyun tak juga beranjak mendekat.

Kyuhyun mengangguk, sedikit ragu. Dia melangkah sembari memegangi tiang-tiang  kapal agar tidak terjatuh. Kapal bergoyang ke kiri dan kanan dipermainkan ombak, Kyuhyun merasa tubuhnya juga ikut dipermainkan ombak. Perutnya bergejolak dan kepalanya berputar-putar, tapi dia berusaha tak menunjukkan sikap lemahnya di depan Nyonya Bae.

Sedari pagi, Nyonya Bae mengajak Kyuhyun pergi mendulang ikan di tengah laut. Kata-kata “mendulang” sedikit tidak tepat, karena Kyuhyun berpikir ikan tidak sebegitu berharganya selayak intan. Tapi saat dia mengatakan itu pada Nyonya Bae, dia justru kena marah. “Saat kau di Busan, jangan mengatakan ikan itu tidak berharga! Kau ingin diarak massa keliling Busan?”

Mendengar celotehan ibu tirinya, Kyuhyun langsung membungkam. Dia tahu Busan terkenal dengan laut dan mata pencaharian utama masyarakat adalah nelayan. Tapi yang tidak disangkanya, ikan sebegitu berharga sampai-sampai ibu tirinya kembali memarahinya sepanjang perjalanan ke kapal. Dan yang lebih tidak disangka Kyuhyun, selama delapan tahun dia hidup dengan Nyonya Bae, untuk pertama kalinya Kyuhyun tak merasa marah sedikit pun mendengar ceramah dari ibu tirinya itu.

Kyuhyun melakukan lompatan terakhir sebelum sampai ke lantai yang sedikit lebih rendah, tempat Nyonya Bae berada. Dia mengambil sebuah tusukan besi yang telah dipenuhi daging-daging ikan. Kyuhyun menggigitnya, mengunyahnya, dan tersenyum.

Gadis malaikat itu benar.

Rasa ikan ini seratus persen enak.

Kyuhyun kembali mengunyah daging-dagingnya. Sementara Nyonya Bae memperhatikan dengan tersenyum. Dia menyodorkan sebotol air mineral kepada Kyuhyun, mencegah kalau-kalau anaknya itu tersedak saking semangatnya mengunyah.

“Kau terlihat lebih manis,” celetuk Nyonya Bae pelan.

Kyuhyun berhenti makan dan memperhatikan ibunya dengan kedua alis  bertaut. “Mm?”

Nyonya Bae memandangi Kyuhyun lekat-lekat. Bibir keringnya mengulas senyum lembut. “Aigoo, anakku, Cho Kyuhyun… kenapa tidak dari dulu-dulu kau terlihat bersemangat seperti hari ini? Kau tadi ketakutan setengah mati saat kusuruh mencoba ikan, tapi begitu selesai menelepon, kau mendadak jadi bertingkah seperti anak kecil yang melihat hujan. Ibu juga jadi ingin melihat hujan dan menanyakan resep bagaimana dia menghadirkan pelangi yang indah.” Nyonya Bae terkekeh geli. Sementara Kyuhyun memandangi ibu tirinya semakin tak mengerti.

“Maksud Ibu apa?” tanya Kyuhyun.

Bibi Han ikut menoleh dan terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun yang begitu polos. “Ya ampun, anak jaman sekarang tidak tahu perumpamaan saja. Ibumu itu sedang bertanya siapa nama pacarmu yang sedang kau telepon itu, Kyuhyun?”

Kyuhyun tersedak. Daging ikannya nyangkut di tenggorokan. “Si-siapa…. pacar… s-siapa…”

Bibi Han dan Nyonya Bae hanya tertawa menanggapi tingkah Kyuhyun. Dan Kyuhyun sibuk menenangkan diri dari rasa tersedaknya. Dia menenggak air banyak-banyak agar bisa bicara dengan baik. Dia berusaha menjelaskan bahwa orang yang diteleponnya itu bukan pacarnya. Astaga, sadis itu bukan pacarnya. Sungguh, gadis itu bukan pacarnya. Ya ampun, gadis itu…

Kyuhyun memandangi Nyonya Bae yang terbahak-bahak. Garis matanya tenggelam dibalik pipi bulat yang terangkat ke atas. Angin mempermainkan anak-anak rambut Nyonya Bae, membuatnya terlihat seperti lukisan di tengah laut.

Mendadak, Kyuhyun mengurungkan ucapannya.

Dia tidak ingin menjelaskan kesalahpahaman itu.

Dia tidak ingin mengganggu tawa ibunya.

Dia ingin diam dan menikmatinya.

.

.

.

.

.

.

Chae Won menutup teleponnya dan berjalan menuju Sungmin serta Siwon. Lalu dia mendengar Sungmin menawarkan agar Chae Won tetap berada di sini sampai jam les selesai. Setelah itu Sungmin ingin mengajak Chae Won dan Siwon jalan-jalan.

“Aku yang traktir. Aku masih kangen sama kalian, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama lebih banyak,” ujar Sungmin.

“Ehm, maksudmu menghabiskan waktu bersama Chae Won lebih banyak?” goda Siwon.

Sungmin meninju lengan Siwon cepat, hanya pura-pura. Tapi Siwon juga dengan over aktingnya meringis dan mengaduh-aduh seolah tinjuan Sungmin telah meremukkan tulang-tulangnya.

“Idemu boleh juga. Apa guru les mu boleh aku dan Siwon tetap disini?” tanya Chae Won.

“Tentu saja boleh. Kalau tidak boleh, apa perlu aku menceritakan kisah pertemuan kembali kita bertiga yang begitu mengharukan?” Sungmin menunjukkan cengiran lebar.

Chae Won tertawa. Siwon memasang wajah mual.

“Baiklah, tapi aku yang pilih restorannya,” ujar Chae Won lagi.

As your wish…” Sungmin membungkuk ala pangeran eropa. “Kau mau makan di mana?”

Chae Won bergumam sebentar, menimbang-nimbang tempat yang enak. Dan kemudian dia tersenyum lebar saat sebuah tempat menyembul di pikirannya. “Di mana pun, asal bisa makan sushi.”

“Setuju!” seru Siwon.

Sungmin mengangguk. “Oke. Setuju. Sushi, ya? Daging ikan mentah? Boleh juga.” Sungmin menggeliat sebentar, lalu bangun dari duduknya. “Andai Kyuhyun ada di sini, pasti seru. Dia belum pernah makan sushi sebelumnya.”

“Oh, ya?” Chae Won membulatkan mata.

Sungmin mengangguk. “Yup, katanya dia tidak suka sushi. Dia tidak suka ikan mentah. tapi bukan karena alergi atau apa, dia hanya takut mencoba sesuatu yang baru. Ck, anak payah satu itu…”

Chae Won dan Siwon tertawa.

“Kalau ada Kyuhyun, aku akan membujuknya makan ikan mentah,” ujar Chae Won.

Sungmin mengerling ke Chae Won. “Aku tidak yakin kau akan berhasil. Selama ini tidak ada yang berhasil memaksa Kyuhyun makan sushi. Tidak aku, tidak juga teman-temanku.” Sungmin memberi jeda sesaat. “Mungkin kalau ada keajaiban, barulah Kyuhyun mau makan sushi. Keajaiban seperti bidadari jatuh dari langit misalnya—“

“Hahaha, itu sih tidak mungkin!” tawa Siwon berderai. Sungmin ikut tertawa. Chae Won juga. Ketiganya akhirnya berkesimpulan bahwa tidak mungkin seorang Kyuhyun makan daging ikan mentah.

Sayangnya, mereka tidak tahu. Di sudut Busan sana, Kyuhyun sedang menyantap daging ikan mentah dengan lahapnya.

Dan itu karena, seorang bidadari memang telah jatuh dari langit.

.

.

.

.

.

.

Langit benar-benar gelap ketika Chae Won dan Siwon sampai di rumah. Bunyi sikat terdengar samar-samar saat mereka sampai di halaman depan. Keduanya saling bertukar pandang sesaat. Seolah telah mencapai pemikiran yang sama, keduanya langsung berjalan memutar ke halaman samping.

Di sana, Ibu sedang mencuci baju-baju kotor. Merendamnya di bak-bak berisi air yang telah ditaburi diterjen.

“Ibu…” Chae Won memanggil Ibu dengan nada cemas. Hari telah malam dan Chae Won tahu Ibu baru pulang kerja. Kenapa malah mencuci baju? Tentu tubuhnya bisa amat kelelahan.

Ibu menoleh ke arah Chae Won dan tersenyum. Kemudian menyadari kehadiran Siwon. “Siwon, kau baru selesai jalan-jalan dengan Chae Won?”

“Iya, Bi…” Siwon memasang tampang sama cemasnya dengan Chae Won. “Bibi, ini sudah malam… kenapa tidak pagi saja mencucinya?”

“Ya ampun, kalau pagi-pagi, Bibi sibuk sekali. Harus pergi ke kantor dan menyiapkan sarapan. Bisa terlambat nanti.”

Siwon dan Chae Won kembali saling berpandangan.

“Ibu, biar aku yang mencuci baju bagaimana?” tawar Chae Won.

Ibu menggeleng tegas. “Tidak, Chae Won! Kamu tidak boleh menyentuh air dingin malam-malam begini!”

Chae Won terdiam. Wajahnya berubah sedih. Tubuh Ibu terlihat jelas sedang kelelahan. Chae Won sungguh tak tega melihat bagaimana punggung ringkih itu menyikat tumpukan baju yang tak ada habis-habisnya.

“Bibi, biar aku yang bantu mencuci bagaimana? Aku terbiasa melakukan itu di rumah bersama ibuku…” Siwon berjalan mendekati Ibu dan membujuk wanita paruh baya itu untuk menyerahkan urusan cucian pada Siwon. “Bibi istirahat saja…”

“Aduh, Siwon… tidak perlu melakukan itu…”

“Bi…” Siwon memasang wajah memelas. “Ya…?”

Ibu memandangi Siwon luluh. Wanita itu menganggukkan kepala dan berat hati menyerahkan cucian kepada Siwon. “Tapi jangan biarkan Chae Won menyentuh cucian ini…” Ibu melirik Chae Won yang langsung mengajukan protes padanya.

“Ibu… itu tidak adil!”

Siwon tertawa untuk meredakan perseteruan kecil antara ibu dan anak tersebut. Siwon berjanji akan menjaga Chae Won dan menyuruh bibinya kembali ke dalam rumah karena hari semakin dingin. Siwon juga sempat menyuruh Chae Won masuk ke dalam, tapi gadis itu bersikeras. Dia seolah telah menancapkan sepatunya pada tanah sehingga tidak bisa bergerak sama sekali.

Siwon hanya tersenyum.

Ibu masuk ke dalam rumah setelah memberi instruksi sederhana apa saja yang harus dilakukan Siwon. Sepenuhnya telah dipahami pemuda itu karena mencuci adalah tugas yang biasa dilakukannya di rumah.

Malam semakin larut. Siwon justru menyingkap jaketnya dan duduk di kursi kecil, dia menarik sikat dan sabun yang tergeletak agak jauh darinya. Siwon mulai menyikati baju-baju itu dalam diam. Suara angin yang bergesekan dengan daun terdengar pun dengan suara sikat baju yang terus menggerus kain-kain di hadapannya.

Chae Won terus menatap Siwon dari tempatnya. Dia ingin membantu Siwon, sungguh ingin membantu. Dia tidak enak hati. Baju-baju yang Siwon cuci adalah baju miliknya, milik ibunya, dan bagaimana mungkin dia bisa diam membiarkan sepupu tersayangnya membersihkan semua ini tanpa bantuannya?

Tetapi Chae Won tahu, jika selangkah saja dia mendekati Siwon, Ibu bisa marah besar. Chae Won telah dilarang menyentuh cucian itu, jika melanggar, akibatnya akan besar sekali. Besar bagi dirinya. Karena Chae Won juga paham benar tubuhnya akan bereaksi berlebihan atas hal-hal kecil yang menjadi pantangannya. Hal itu tak bisa dicegah, sekeras apapun berusaha tetap tak bisa dicegah.

Chae Won menundukkan kepala. Mulai terisak. Mula-mulai hanya pelan tanpa suara, namun kemudian isakannya bertambah keras. Bahunya terguncang kencang. Dia berusaha menutup wajahnya, mengusap air matanya, meredam isakannya, namun yang ada dia justru semakin terpukul. Dia semakin tersiksa.

Isakan Chae Won membuat Siwon menoleh ke belakang, mendapati sepupunya menangis, Siwon benar-benar terkejut. Dia berdiri, menatap Chae Won yang menutupi wajah dengan kedua tangan. Siwon memandangi Chae Won lekat, ekspresi wajahnya berubah khawatir.

“Chae Won…”

Chae Won menggelengkan kepala. “Aku tidak apa-apa.”

Siwon mendekat selangkah. “Kau…”

“Aku tidak menangis,” tegas Chae Won.

Siwon menelan ludah susah payah. Chae Won jelas sedang kenapa-kenapa. Dia jelas sedang menangis. Siwon cukup peka dan punya mata yang normal untuk bisa merasakan serta melihat itu semua.

Siwon melangkah lagi, pelan-pelan. Namun Chae Won justru mundur teratur.

“Kembali mencuci sana,” ujar Chae Won dengan suara bergetar.

Siwon menggeleng, dia semakin melangkah dengan cepat hingga tiba di depan Chae Won.

“Aku tidak marah pada diriku sendiri,” kata Chae Won.

Kau jelas marah pada dirimu sendiri, sepupuku. Siwon memandang Chae Won kasihan.

“Aku menerima semuanya dengan lapang dada,” ujar Chae Won lagi.

Kau jelas memberontak dengan takdirmu, sepupuku sayang. Siwon mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Jangan khawatir, aku tidak menangis…”

Chae Won terdiam saat menyadari Siwon mencipratkan busa sabun ke wajahnya. Gelembung-gelembung busa itu menempel di kening, pipi, dan dagunya.

“Ada busa di wajahmu…” ujar Siwon tenang. Kemudian mencipratkan lagi busa itu di rambut dan pundak Chae Won. “Sekarang, ada busa di pundak dan kepalamu.”

Chae Won diam, menatap Siwon tak mengerti.

“Sini, biar kubersihkan.”

Siwon mengusap lembut wajah Chae Won hingga busa-busa itu menghilang, pun dengan air mata yang membasahi wajah Chae Won. Semua diusapnya hilang hilang tak berbekas. Siwon menepuk kepala Chae Won pelan seolah sedang menenangkannya dan mencengkeram bahunya seperti ingin berkata semua baik-baik saja.

“Aku tidak khawatir padamu, aku hanya membersihkan busa-busa ini…” ucap Siwon lirih. Tangan besar Siwon menyentuh wajah Chae Won penuh kehati-hatian.

Chae Won menggigit bibir. Dadanya menghangat mendengar ucapan Siwon. Dia menatap Siwon dengan pandangan penuh terimakasih. Siwon sengaja mencipratkan busa di wajahnya agar bisa menghapus tangisannya. Dan pemuda itu juga sengaja mencipratkannya di kepala dan pundak untuk membuat Chae Won merasa lebih baik.

Ya, Siwon bukan hanya membersihkan busa-busa, namun juga menghilangkan sedikit banyak sesak di dadanya.

“Te… te…terimakasih…” ujar Chae Won terbata.

“Apa perlu aku mencipratkan busa di punggungmu? Agar aku bisa memelukmu?” kata Siwon lagi.

Chae Won tersenyum manis, sepertinya air matanya ingin kembali keluar. “Silahkan…” ujar Chae Won lembut, “…dengan senang hati.”

Chae Won memejamkan mata saat Siwon menariknya dalam dekapan hangat. Tangan pemuda itu menepuk-nepuk punggungnya dan membisikkan kata-kata bahwa semua akan baik-baik saja. Yakinlah, semua akan baik-baik saja. Dia berjanji, semua akan baik-baik saja. Maka tenang sajalah, semua akan baik-baik saja.

Chae Won mengangguk pelan mengamini kata-kata Siwon.  Dia tak bisa berkata apa-apa selain merasa bahwa dirinya butuh dekapan yang lebih erat.

 

.

.

.

.

.

.

To be continued

 

2 Comments (+add yours?)

  1. blackjackelfsone
    Jul 14, 2015 @ 20:22:04

    Huah siwon chaewon jgn smpe jatuh cinta dong~ oppa dongsaeng aja~ cie kyu gebet aja jd pacar , sukses tuh si caewon bujuk kyu makan ikan mentah :p

    Reply

  2. lieyabunda
    Jul 16, 2015 @ 04:16:21

    kapan mereka ketemunya,,,,,,,
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: