Memories [16/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

********************

Ia akan mati. Ya! Ia mungkin akan mati sesaat lagi. Ketika menginjakkan kaki ke rumput halaman rumahnya, atau ketika membuka pintu, ketika duduk di sofa, ketika membuka kulkas, atau ketika akan tidur. Tapi mungkin juga ia takkan sempat melakukan semuanya karena nafas terakhirnya akan tiba disini. Ditengah keramaian kota.

Ia sudah bisa merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa mengekor dibelakangnya tepat setelah Allan mengajaknya pulang dan menitipkan Adam pada orang tuanya. Allan tak mengatakan apapun setelahnya. Allan hanya menatapnya selama dua detik dan itu sanggup membuatnya merasa seperti pendosa.

Seorang Jeany Hanks selalu punya banyak kekhawatiran dibalik segala keinginannya untuk melakukan banyak hal. Dan sekarang, jika tak ada yang menganggapnya berlebihan, maka ia pikir Allan akan membunuhnya.

“Diam dan nikmati semuanya.”

SHIT!!

Ada kesalahan besar disini. Ia hanya melakukan apa yang orang biasa lakukan di tengah pesta. Seperempat pria yang datang juga menari bersamanya. Sialnya Yesung adalah yang terakhir. Tapi apa bedanya pertama dan terakhir?

Ini bukan tentang urutannya. Ini tentang dengan siapa ia melakukannya dan kebodohan apa yang sudah ia lakukan. Harusnya ia menolak tawaran itu sejak awal. Tapi ia hanya ingin membuktikan pada Yesung bahwa pemikirannya itu salah.

Lantas apa yang terjadi padanya? Kenapa ia tak bisa menolak apapun yang dilakukan Yesung padanya? Ia bahkan tak menyadari itu. Yang ia tahu, ia merasa nyaman dan kekhawatiran itu perlahan menghilang. Namun, ketika membuka mata, semuanya kembali seperti semula.

Kira-kira….apa yang sedang dipikirkan Allan saat ini?

“Ada sesuatu yang perlu kau jelaskan?”

Jeany mengerjap. Ia baru sadar sudah berada di rumah, tepatnya di atas tempat tidur. Artinya, ia masih hidup dan bukan mati di halaman rumahnya.

Allan berdiri di hadapannya, kemudian berlutut sambil mengelus kepalanya.

“Atau ada yang perlu kucemaskan?”

Jeany menggeleng cepat. Ia benar-benar merasa gugup seakan jari-jari Allan yang bermain di wajahnya adalah ujung pisau. Ini aneh! Kenapa ia harus takut?

“Jeany….”

Ia membuka mata. Suara Allan nyaris tak terdengar. Begitu lembut, menenangkan….dan juga…penuh pertanyaan.

“Berapa lama kita bersama?” tanya Allan lagi. Jeany tahu ia tak perlu menjawabnya.

“Apakah selama kita bersama, aku pernah menyakitimu?”

Ia menggeleng. Tentu tidak! Allan adalah pria yang nyaris sempurna dimatanya. Allan selalu memperlakukan seorang wanita dengan baik. Allan rela berdiri selama berjam-jam sampai keram jika ada seorang wanita di dekatnya yang butuh kursi. Ia selalu merasa berharga selama bersamanya.

“Lantas…apa yang kau takutkan?”

Tidak tahu! Ia sungguh tidak tahu! Harusnya tidak ada yang perlu ia khawatirkan jika memang benar ia hanya melakukannya demi pembuktian di depan Yesung. Tapi semua seakan tak ada yang sejalan. Termasuk kedua tangannya yang kini gelisah di atas roknya.

“Jeany…” Allan meraih tangannya, memberi ketenangan hingga perasaannya membaik. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu takut. Kau mengenalku lebih baik dari siapapun dan kau pasti paham hal tadi bukanlah hal-hal yang bisa menyulut emosiku.”

Jeany juga tahu soal itu! Tapi apapun yang ia tahu benar-benar tak berpengaruh sejak tadi. Sejak  Allan menatap matanya. Itu adalah tatapan yang berbeda. Karena ia memang sangat mengenalnya, maka perasaan takut itu datang tanpa bisa dicegah.

“Sebaiknya kau lekas ganti baju. Soal Adam…..” Allan berdiri, mengelus puncak kepala Jeany dengan gemas. “Sepertinya kau lupa kalau malam ini memang jadwalnya untuk menginap disana.”

Jeany tersentak pelan. Ia pikir….Allan menitipkannya karena….

“Oh, Jeany, berhenti bersikap seakan aku siap menerkammu. Kecuali kau tidak mengganti baju, mungkin aku akan benar-benar memakanmu malam ini.”

Jeany berusaha tertawa lalu bangkit menuju lemari pakaiannya. Ia tahu Allan hanya berusaha mencairkan suasana yang ia buat menjadi tegang itu.

Sementara Allan memilih keluar kamar. Ia tersenyum sendiri sambil berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengambil botol air minum lalu langsung meminumnya hingga sisa setengah. Ia masih tersenyum setelahnya.

Ada satu hal lagi yang dillupakan oleh Jeany, bahwa ia adalah orang yang sangat peka dan bisa membaca situasi. Ia memang diam saja. Tapi sepertinya ia tidak menemukan Jeany yang biasanya belakangan ini. Ia merasa…..dibalik segala kejujuran yang mereka junjung selama ini, justru terselip banyak hal yang tidak ia ketahui.

***

Yesung hanya tersenyum membaca isi surat yang baru saja ia terima. Jika satu kali lagi ia melakukan pelanggaran yang sama, maka dipastikan karirnya disini akan berakhir. Well, ia pikir justru ini bisa lebih buruk. Bahkan ia bisa mempermudahnya kalau ia mau. Ia kira, saat atasannya memanggil, ia akan langsung dipecat. Rupanya hanya surat peringatan kedua.

“Kau adalah orang pertama yang masih bisa tersenyum seperti itu setelah nyaris dipecat,” ujar salah seorang temannya yang lewat sambil membawa secangkir kopi ke mejanya. Yesung memainkan kursinya sambil melempar surat ditangannya ke tong sampah.

“Ini hanya kertas dengan beberapa kalimat,” balasnya. Ia serobot paksa kopi pria itu tanpa wajah berdosa. “Ah, ini enak sekali. Aku tidak tahu kau pandai membuat kopi.”

Pria itu mengibaskan tangannya acuh. Ia sempat kembali tenggelam dalam pekerjaannya ketika tiba-tiba mendekatkan kursinya ke arah Yesung.

“Aku harap kau tidak tertawa mendengar ini. Tapi sejak awal aku ingin sekali mengatakannya padamu.”

Yesung memutar bola matanya, melepas kacamatanya kemudian menyilangkan kakinya dihadapan pria itu. “Oh, Crish, kau terlalu bertele-tele.”

Crish, pria yang lebih dulu bekerja di bank tersebut memandang Yesung dengan gemas. “Sifatmu ini tidak baik, kawan. Jika kau terus memeliharanya, kau akan kehilangan banyak hal.”

Secara refleks Yesung kembali memakai kacamatanya, memandang Crish dengan pandangan bingung.”Kau demam?”

Crish menyingkirkan tangan Yesung dari dahinya dengan risih. “Terserah padamu. Aku hanya ingin mengingatkan, lakukan apapun dengan sungguh-sungguh. Ini bukan taman bermain.”

“Aku hanya tak mau terlalu ambil pusing.”

“Tapi bukan berarti kau bisa sesuka hati. Kau seperti……tidak punya passion. Kau datang kemari dengan mudah dan sepertinya kau pun akan dengan mudah keluar dari sini.”

Yesung terdiam sejenak. Bekerja di bidang perbankan memang menjadi salah satu keinginannya selain menjadi seorang penyanyi. Tapi sejak dulu memang ia tak memiliki apapun yang ingin ia gapai. Ia sudah bisa bernyanyi di café Casey, itu sudah cukup. Ia diterima disini, itu pun cukup. Kalau akhirnya ia tak bisa mempertahankannya, ia sama sekali takkan menyesal.

“Hmmm…apa kau khawatir aku akan jadi gelandangan?”

“Aku bahkan hanya akan tersenyum jika kau duduk dipinggir jalan sambil bermain gitar.” Crish kembali pada layar komputer didepannya, ia gerakkan mouse, berlagak sibuk dan tak menatap lawan bicaranya. “Jika kau seperti ini, kau seperti membuka peluang bagi orang lain untuk merebut apa yang menjadi hakmu. Kau seperti memberikan jalan bagi orang lain untuk berjalan lebih dulu. Kau bisa kehilangan apapun sewaktu-waktu.”

“Aku tidak masalah dengan itu.”

Crish menghela nafas. Sepertinya ia mulai kehilangan selera untuk melanjutkannya dan sesegera mungkin ingin mengakhiri pembicaraan tak berguna ini.

“Baiklah. Setidaknya satu kali saja dalam hidupmu kau bersungguh-sungguh memperjuangkan suatu hal dan kau tidak akan menyesal.”

Yesung hanya mengangkat bahu. Menghadap komputer lalu tersenyum pada nasabah yang datang menghampirinya.

Selama ini ia merasa nyaman dengan apapun yang ia lakukan. Tak ada beban. Bebas melakukan apapun tanpa rasa takut. Jika yang dimaksud Crish adalah soal pekerjaannya, ia juga tidak begitu peduli. Keluar dari sini, mungkin itu punya efek yang bagus untuk waktu tidurnya yang bertambah banyak.

Ia pun menyelesaikan pekerjaannya hari itu dengan baik. Tak ada keluhan. Ia sengaja ingin memperpanjang masa kerjanya disini sebelum nanti menerima surat peringatan ketiga. Oh, ia memang sudah kehilangan akal sehatnya.

“Aku ingin ke De Phil bersama John dan Patrick, kau mau ikut?”

“Dunia akan berakhir jika aku berteman dengan mereka.”

Yesung tertawa, kemudian melesat bersama taksi yang sudah dipesannya menuju rumah Patrick. Ia merupakan salah satu temannya yang sering mengajaknya berpesta atau minum-minum di De Phil.

De Phil merupakan salah satu club malam yang terkenal di Liverpool. Dulu, beberapa bulan sebelum ia pindah rumah, nyaris setiap minggu Yesung meluangkan waktunya disana. Baik untuk sekedar mengobrol dengan teman-temannya, atau untuk menghilangkan stress dengan mencoba minum. Meski banyak yang berpikir bahwa ia merupakan seorang gay karena bergaul dengan John dan Patrick, ia tak peduli dan akan tetap kesana. Ia takkan memandang jijik pada mereka yang berciuman mesra di depannya. Itu bukan pemandangan aneh lagi baginya. Berbeda ketika ia muda dulu dimana ia begitu anti berhubungan dengan mereka yang sedikit menyimpang itu. Sekarang ia lebih terbuka.

“Lihat siapa yang datang!” John berdiri. Ia pikir akan menepuk bahunya atau mereka akan melakukan tos seperti biasa. Tapi ternyata John berdiri untuk memeluk Patrick.

“Kau lama sekali.”

Yesung mengibaskan tangannya acuh. Ia langsung ambil bagian dengan duduk di tengah dua orang wanita. Di depannya juga sudah tersedia botol minuman. Ah, ia rindu suasana seperti ini.

Ia bukanlah pecandu alcohol. Kadang ia kemari hanya untuk memesan segelas lemon tea yang akan langsung ditertawakan oleh yang lain. Hanya sesekali ketika ia benar-benar membutuhkannya, maka beberapa botol sekaligus akan tandas olehnya. Dan kalau sudah mabuk, baik John ataupun Patrick harus bertaruh untuk menentukan dengan mobil siapa mereka mengantarnya pulang. Yesung akan muntah-muntah di mobil mereka. Satu kali John cukup beruntung karena Yesung baru memuntahkan cairan dari perutnya setelah membuka pintu.

“Oh, aku pikir dia sedang dalam mood yang bagus.”

John menelan ludahnya melihat Yesung yang sudah menghabiskan tiga botol minuman. Yesung sudah terkulai di kursinya. Dua wanita yang tadi menemaninya juga pergi karena hanya mendengarkannya meracau tidak karuan. Untungnya kali ini mereka tidak perlu melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan mengantarnya pulang karena Casey datang seperti seorang malaikat.

“Casey, kau memang penyelamat kami.”

Casey tak pernah begitu peduli dengan dua orang pria tersebut. Sejak awal ia tak suka kalau Yesung bergaul dengan mereka. Tapi ia tak pernah mengutarakannya karena merasa tak punya hak untuk melarangnya. Yesung adalah orang yang bebas. Ia tak suka di atur oleh orang lain.

“Jika kalian terlalu tidak rela dengan mobil kalian yang mahal itu, sebaiknya jangan bawa dia kemari lagi,” ujar Casey tegas sambil menarik lengan Yesung.

“Oh, Casey!!” seru Yesung dengan gembira. “Kau datang? Hey, hey, kau membawaku kemana? Ah, pasti ke rumah Jeany Hanks.”

Casey mencengkram kerah baju Yesung lalu menariknya lebih kuat. Selama menuju parkiran, Yesung terus bersenandung. Ia bernyanyi seperti orang gila.

“Sudah kubilang kau sangat merepotkan jika sedang mabuk.”

“Hoek…”

Benar saja! Baru juga mereka masuk ke dalam mobil, Yesung sudah mengeluarkan isi perutnya. Casey hanya bisa menggelengkan kepala melihat kondisinya. Kalau sudah mabuk, Yesung sama sekali tidak bisa mengontrol diri.

“Besok, kau harus kuberi pelajaran karena menambah pekerjaanku. Sudah kubilang jangan minum-minum lagi!”

Yesung tersenyum. Ia yang duduk di belakang langsung memajukan tubuhnya mendekatin Casey. “Apa kau sedang merayuku?”

Sepertinya Yesung mulai tertular sifat-sifat kedua temannya yang menyimpang itu. Sadar omongannya takkan ada yang berefek, ia tutup mulut, menginjak gas lebih kencang lalu mengantarnya pulang. Ia pikir tugasnya akan segera berakhir begitu ia membopongnya dari mobil. Tapi kemudian Yesung melepaskan pegangannya. Matanya tertuju Jeany yang baru keluar dari rumahnya sambil membawa sekantong sampah.

“Hay Jeany Hanks!!”

Casey tak bisa melakukan apa-apa. Yesung memaksakan dirinya berjalan meski gontai untuk mendekati Jeany. Beberapa kali ia nyaris mencium rumput, tapi ia bisa kembali menyeimbangkan tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini, huh?”

Jeany berpandangan sejenak dengan Casey. Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh. Ia tidak pernah tahu kalau Yesung menyukai alcohol. Setahunya Yesung sulit sekali berhubungan dengan minuman yang memabukkan.

“Yesung, kau mabuk. Sebaiknya kau masuk.”

Belum sempat Jeany berjalan, Yesung sudah menarik pergelangan tangannya.

“Kenapa kau meninggalkanku waktu itu?”

Jeany berbalik, berusaha melepaskan pegangan Yesung yang semakin kuat.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

“Yesung, jangan disini!”

“Kenapa? Kau takut suamimu yang baik hati itu melihat kita? Kenapa? Kau berbohong apalagi padanya, huh?”

Yesung melepaskan pegangannya. Ia mendekati Jeany lagi dengan tertarih hingga Jeany harus mundur beberapa langkah. Jeany sungguh berharap Allan tak mendengar atau melihat semua ini. Dan ia lebih berharap Casey sudi membantunya. Tapi melihat reaksi pria itu yang tetap pada tempatnya, sepertinya ia hanya bisa mengandalkan dirinya saat ini.

“Kau adalah orang yang sangat terencana.” Yesung kembali bersuara. Sesekali ia akan batuk atau berhenti sekedar untuk menggelengkan kepalanya.

“Kau bukan orang yang gegabah. Biasanya kau akan mengaturnya dengan baik. Kau sangat detail. Kau ingin segala sesuatunya sempurna tanpa cacat. Apa bisa ku artikan jika kau juga sudah merencanakan kepergianmu kala itu?”

Jeany menatapnya cepat. Sekali lagi ia mencoba lari tapi Yesung kembali mampu menahannya.

“Kurasa alasanmu untuk pergi tidak begitu kuat. Harusnya kita masih bisa memperbaikinya saat itu. Ah, atau mungkin ini hanyalah pengaruh Mr.Hanks yang terhormat itu?”

“Jangan membawa nama ayahku!”

“Aku hanya ingin memastikan.” Yesung maju selangkah.”Kau tidak tahu rasanya ketika aku ke rumah sakit dan kau tidak ada. Kau juga tidak ada di apartemen. Kau tidak kutemui dimanapun. Kau tahu rasanya saat orang yang kau cintai menghilang tanpa kata-kata? Aku bahkan tak sempat mempersiapkan diri. Hanya dalam sekejab semuanya berubah dan kau…………tidak ada di hadapanku.”

Jeany mundur. Ia berusaha keras menahan tangisnya. Yesung sendiri sudah kehilangan akal sehatnya. Bahkan ia sama sekali tak peduli jika Allan mendengar semua ini. Dan ketika ia melihat ke belakang Jeany, pria itu memang ada disana.

“Oh, kau disini rupanya. Aku ingin menjemput…. Yesung?”

“Hey, Dokter Allan!!” sapa Yesung dengan sangat riang. Allan memandangnya bingung. Ia juga bisa mencium bau alcohol yang sangat menyengat dari tubuhnya.

“Kau..”

“Kau ingin menjemput Adam? Sepertinya aku ingin ikut,” potong Jeany sebelum Allan sempat bertanya pada Yesung. Ia sungguh tak yakin Yesung akan meloloskannya lagi kali ini.

”Kupikir kau mau membereskan pakaian Adam yang berantakan.”

“Itu bisa kukerjakan nanti. Aku juga ingin membeli sesuatu di luar.”

Yesung terus memperhatikan gelagat Jeany yang sungguh membuatnya muak. Ia tetap disitu sampai akhirnya Allan kembali menyadari kehadirannya.

“Yesung, bagaimana harimu? Kau….” Allan memandangnya dari bawah hingga atas. “Kau mabuk?”

Ia tersenyum. “Hari yang menyenangkan. Cukup indah dengan surat peringatan kedua dan nyaris dipecat,” jawabnya dengan gembira seakan sedang menyampaikan berita bahwa ia menang lotre. Ekor matanya dapat menangkap ekpresi Jeany yang sepertinya memintanya jangan bicara lagi. Ia justu semakin ingin buka mulut karena itu.

“Kau tidak terlalu baik. Sebaiknya kau istirahat.”

“Ah, kau sangat baik hati. Jeany sangat beruntung memilikimu. Tapi…maukah kau kuberitahu sebuah rahasia?”

Jeany mulai merasa ia akan dibunuh sesaat lagi. Ia berpandangan dengan Casey dan ia berharap Casey segera bertindak.

“Rahasia?”

“Jangan terlalu memikirkan kata-katanya. Ia sedang tidak waras,”sambar Casey cepat.

“Maksudmu aku gila?” Yesung tertawa bahagia. “Dokter Allan, apa kau tahu kalau aku dan Jeany pernah me-“

“Cukup!” Casey memutar tubuh Yesung dengan cepat lantas menatapnya tajam. “Cukup disini! Kau benar-benar mabuk!” Ia lalu menatap Allan dan Jeany dengan ramah. “Maafkan dia. Aku sudah memperingatinya supaya tidak terlalu banyak minum. Tapi dia sangat penasaran ingin mencobanya.”

Allan mengangguk maklum. Sementara Jeany tanpa sadar memeluk lengannya setelah dipandang oleh Yesung.

“Kita masuk!” Casey lagi-lagi harus menyeret Yesung dengan paksa. Ia harap Yesung tak berulah lagi. Namun, sebelum ia berhasil membawanya masuk, Yesung berseru pada Jeany, “Sampaikan salamku pada Mr.Hanks!! Aku merindukannya!!!”

Allan memandang Jeany cepat, sementara Casey benar-benar ingin mencekik pria yang kini sudah jatuh tertidur itu.

“Dia juga mengenal ayahmu?”

***

Yesung berdiri di depan cermin dengan malas. Ia benar-benar tak percaya apa yang sudah diperbuatnya semalam. Casey sudah menceritakan segalanya. Dan kedengarannya ia tak lebih dari seorang pengacau.

“Apa kau ingin merusak rumah tangga mereka? Oh, Yesung, bangunlah! Ini sudah sangat berlebihan. Kau harus melupakannya!”

Tidak! Bukan itu yang ia inginkan. Rasanya ia tak punya niat untuk membuat Jeany dan Allan berpisah. Memang benar ia ingin Allan mengetahuinya tapi tidak melalui mulutnya sendiri dan dalam kondisi mabuk berat. Itu bisa menimbulkan persepsi berbeda dari Allan. Yang membuatnya terus menekan Jeany hanyalah agar Jeany jujur pada Allan tentang hubungan mereka dimasa lalu. Ia juga ingin dengar langsung dari mulut Jeany alasannya pergi kala itu. Dan satu lagi mungkin ia ingin mendengar lebih detail soal Adam.

Tapi apa yang ia harapkan dari semua ini? Apa keuntungan baginya jika Jeany mengatakan semuanya pada Allan? Ia tidak tahu. Ia hanya menginginkan itu terjadi.

Sekarang ia tak yakin akan muncul dihadapan Allan. Besar kemungkinan Allan akan mencegatnya, menanyakan perihal perkataannya yang semalam terputus. Kalau itu terjadi, apa yang bisa ia lakukan?

Maka sebelum bertemu Allan ataupun Jeany, ia bergegas keluar. sebelumnya ia sudah memesan taksi yang akan mengantarnya ke rumah Leeteuk. Dari sana, setelah bicara dengan Leeteuk baru ia meminta diantar ke bank.

Sepertinya semua berjalan seperti rencana. Ia keluar dari rumah, mengunci pintu dan menuruni teras. Taksi sudah menunggunya dan ia hanya perlu berjalan lebih cepat lagi. Tapi sebelum berhasil menggapai pintu taksi, ia mendengar suara ribut di belakangnya. Ia tahu itu adalah suara Allan yang berdebat dengan Jeany. Oh, apakah…

“Ah, Yesung!”

Yesung menggeram. Ia membuka pintu taksi dan meremas pegangannya. Semoga Allan bukan akan bertanya soal semalam.

“Yesung! Kau mendengarku?”

Suara itu semakin dekat. Sepertinya Allan mendekatinya dan ia akan sangat bodoh jika berpura-pura tidak mendengarnya. Maka ia berbalik setelah menarik nafas panjang.

“Allan? Kau memanggilku?”

Allan tersenyum padanya –hal yang sangat kontras dengan apa yang ia bayangkan. Ia pun balas tersenyum. Dilihatnya Jeany dan Adam mengekor di belakang.

“Kau ingin berangkat kerja? Aku rasa kau dan Adam searah. Bisa kau mengantar mereka? Maksudku, Jeany juga ingin pergi. Aku tidak bisa mengantar mereka karena aku harus segera ke rumah sakit. Kau jangan khawatir soal ongkos taksi. Jeany akan membayarnya.”

Permintaan macam apa itu? Jika ia masih dalam keadaan mabuk, mungkin sekarang ia akan tersenyum sambil melebarkan kedua tangannya. Ia akan menarik Adam bersama Jeany dalam pelukannya lantas berterima kasih pada Allan. Tapi melihat situasinya, ia tahu Jeany sedang berharap ia akan menolaknya. Maka ia pun menggeleng.

“Maaf, kawan. Aku buru-buru dan-“

“Kumohon, kali ini saja. Aku benar-benar tidak sempat mengantar mereka apalagi menelpon taksi lain. Dan aku yakin kau bisa diandalkan. Aku akan merasa lebih nyaman jika itu kau.”

Tidak, kawan. Kau salah besar. Kau memberikan Jeany padaku mungkin sama halnya seperti membiarkannya berdiri di tengah jalan dan menunggu sebuah truck pengangkut batu melindasnya. Aku tak sejahat itu, tapi Jeany mungkin sedang berpikir begitu.

Sayangnya Yesung tak bisa mengatakan semua itu. Ia hanya menelan semua kata-kata itu bersama dengan ludah dan menatap Allan. Melihat wajah Allan yang sepertinya tidak sedang berakting, ia tak bisa berbuat apa-apa. Meski Jeany terus memohon tanpa suara di balik punggung Allan, ia takkan bisa lagi menolak permintaan Allan.

“Baiklah.”

Allan tersenyum cerah. Tanpa basa basi ia kecup puncak kepala Adam dan Jeany lalu bergegas pergi dengan mobilnya. Begitu mobil Allan tak terlihat, Yesung memandang Jeany yang sepertinya berubah pikiran.

“Allan adalah pria yang luar biasa. Ia selalu meyakinkan segala sesuatu yang berhubungan denganmu dan Adam berjalan baik, baru ia memikirkan dirinya.”

Jeany tak menanggapi. Ia hanya memperhatikan anaknya yang masuk ke dalam taksi lebih dulu.

“Jika kau memang punya urusan penting diluar, sebaiknya kau lupakan apa yang kau pikirkan dan masuklah ke dalam. Aku akan duduk di depan jika itu akan membuatmu merasa lebih nyaman.”

Yesung membiarkan pintu terbuka sementara ia masuk menyusul Adam. Ia tepati janjinya dengan duduk di depan. Dan setelah menunggu sekitar satu menit, akhirnya Jeany ikut masuk.

Diam-diam Yesung tersenyum melihatnya. Sepertinya perlahan-lahan ia bisa bersikap biasa-biasa saja pada Jeany. Tapi suasana di dalam taksi tak senyaman yang ia harapkan. Jeany begitu dingin dan sama sekali tak tertarik membangun suatu obrolan dengannya. Ia juga melirik Adam yang sibuk dengan psp ditangannya. Telinganya juga disumpal earphone. Ia sudah tidak berminat mengatakan apapun saat tanpa sengaja Adam menatapnya melalui spion.

“Oh, kau disini?”

Yesung mengernyit. Kepalanya dimiringkan sedikit untuk menatap Adam. “Apa maksudmu dengan aku disini?”

“Aku tidak melihat dan mendengar apa-apa sejak tadi,” jawab Adam sambil menunjuk earphonenya yang sudah dilepas dan dimasukkan ke dalam tas.

“Ayahmu menitipkan kalian karena ia tidak bisa mengantar.”

Adam hanya membulatkan mulutnya lalu kembali tenggelam dalam permainannya sendiri. Tapi  beberapa detik kemudian tubuhnya tegak.

“Yesung, kau ingat dengan teman-temanku yang waktu itu?”

“Maksudmu yang gendut, bermata besar dan….ah, yang sok jagoan itu?”

Adam mengangguk. “Benar! Apa kau percaya jika kukatakan mereka bahkan tak berani menatapku setelah kejadian itu? Aku juga-oh..oops!!” Adam membekap mulutnya sendiri begitu menyadari ekspresi Yesung dan juga kesalahan yang ia buat. Sekarang ia bisa merasakan aura tak menyenangkan di sebelahnya yang tak lain berasal dari ibunya.

“Mom…”

“Ada yang tidak kuketahui?” selidik Jeany dengan mata memicing. Yesung kembalikan pandangannya ke jalan. Tapi ia menjawab mewakili Adam. “Bukan apa-apa. Waktu itu aku hanya kebetulan lewat sekolah Adam dan melihat teman-temannya hendak menyerangnya. Aku datang dan mereka semua kabur.”

Adam mengutuk kebodohannya sendiri. Ia yang dulu mewanti-wanti Yesung supaya  tak buka mulut, tapi sekarang justru ia yang membongkarnya dengan begitu mudah.

“Untuk seorang Yesung, aku rasa ada hal yang lebih dari itu. Kau pasti melakukan sesuatu pada mereka.”

Yesung diam. Suasana yang semula sedikit membaik justru bertambah buruk. Ia tak mengerti kenapa Jeany mengatakannya seolah-olah tidak ada orang lain disana.

“Kau masih mengingatnya? Saat itu aku hanya melakukan sesuatu yang pantas kulakukan dan tidak ada yang terjadi pada teman-teman Adam. Mereka masih anak-anak, kenapa aku harus melakukan sesuatu yang lebih?”

Jeany baru akan menyahut lagi saat Adam menyerukan nama temannya. Mereka sudah tiba di depan sekolah Adam. Dengan singkat Adam mengecup pipi ibunya kemudian melompat dari taksi. Ia segera bergabung dengan teman-temannya.

Jeany sendiri terdiam sambil memegangi pipinya. Rasanya Adam tidak pernah berpamitan dengan cara seperti itu. Biasanya jika ia ingin mencium, justru anak itu akan mundur sambil berkata bahwa ia sudah mulai dewasa, jangan perlakukan seperti anak kecil.

Jeany pun melambai padanya. Tapi pandangannya tiba-tiba terhalang oleh tubuh Yesung yang tahu-tahu duduk di sebelahnya.

“Kau? Apa yang kau lakukan?”

“Ada yang salah? Bersikaplah dengan normal maka kau tidak akan merasa gelisah.”

“Aku tidak gelisah.”

“Kalau begitu duduklah dengan tenang. Aku akan turun sebelum tikungan lampu merah di depan.”

“Yesung, sebaiknya aku turun disini.”

Belum sempat itu terjadi, Yesung sigap menahan pergelangan tangannya. “Duduk atau aku akan mengatakan semuanya pada Allan.”

“Katakan saja! Allan sama sekali tidak akan masalah dengan itu.”

“Benarkah?” Yesung melonggarkan pegangannya. Ditatapnya mata Jeany yang baginya tak sepaham dengan perkataannya. “Kalau begitu kenapa kau begitu takut setiap aku bicara dengannya seakan aku punya kunci rahasia yang bisa menenggelamkanmu?”

“Aku hanya…”

“Aku justru semakin yakin ada yang kau sembunyikan dariku. Kalau memang semuanya sudah berakhir, tidak ada yang perlu kau khawatirkan karena aku pun pasti akan bisa melupakanmu.”

Dengan sendirinya Yesung melepaskan pegangannya. Kali ini ia yakin Jeany tidak akan melawan atau mengancam akan turun lagi. Maka setelah berlalu beberapa saat, Yesung memerintah kepada supir untuk kembali menjalankan mobil.

Selama perjalanan Yesung sesekali mencuri pandang ke arah Jeany. Ia pun masih tak habis pikir kenapa Jeany tak pernah bisa berlaku normal di dekatnya. Demi Tuhan, ia hanya seorang Kim JongWoon, bukan pelaku pembunuhan sadis yang bisa menarik ususnya keluar. Hal paling konyol yang dilakukannya mungkin adalah kebodohannya semalam. Kecuali bagi Jeany itu adalah tragedi, maka ia sekarang mengerti akan ketakutan tersebut.

“Aku minta maaf untuk kejadian semalam. Casey menceritakannya dan aku sebenarnya tak punya niat untuk mengatakan itu.”

“Dan akhirnya aku harus menghadapi Allan semalam. Ia terus bertanya. Aku terpaksa mengarang alasan baru untuk itu.”

Yesung menoleh cepat padanya. “Alasan apalagi yang kau buat? Kau cukup mengatakannya maka semua akan selesai.”

“Tidak akan semudah itu. Bisa kau bayangkan jika kau mendapati mantan suami  istrimu tinggal di sebelah rumahmu?”

“Jika hanya itu aku tidak akan melakukan apapun. Aku justru akan berhubungan baik dengannya. Kecuali ada hal lain yang kau hindari. Dan aku belum menikah lagi, jadi aku tidak punya istri yang dulunya sudah bersuami.”

Perkataan Yesung menyulut emosi Jeany lebih tinggi. “Bisa kau berhenti menuduhku? Tidak ada yang kusembunyikan lagi selain masalah status kita.”

“Lantas apa yang kau takutkan? Allan adalah pria baik-baik. Dia pantas untuk mengetahuinya.”

“Kau tidak perlu ikut campur. Dan sebaiknya kau turun sekarang!”

Yesung melihat keluar hingga menyadari bahwa taksi mereka sudah berhenti tepat di depan tempatnya bekerja, Llyods Bank. Tapi dengan cueknya ia menyuruh supir taksi itu untuk melanjutkan perjalanan.

“Yesung! Apa yang kau lakukan? Kau bilang kau akan turun disini!”

“Aku berubah pikiran. Aku hanya akan dipecat jika tidak datang hari ini.”

Jeany memutar bola matanya lalu menghempas punggungnya ke kursi. “Kau tidak pernah berubah. Kapan terakhir kali kau serius dengan hal yang kau kerjakan?”

“Aku sendiri tidak yakin kau berubah. Setelah sepuluh tahun, kau masih suka menyimpan beberapa hal sendirian. Dan kau menikmatinya seakan kau adalah orang paling jujur sedunia.”

“Kau tidak tahu apapun tentangku!”

“Kalau begitu katakan semuanya! Katakan juga padaku apa yang terjadi saat itu!”

“Bisa kalian turun?”

Debat itu terpaksa berhenti karena interupsi dari supir taksi yang sepertinya gerah karena terus mendengar pertengkaran yang sama sekali bukan menyangkut dirinya. Dipandangnya Yesung dan Jeany bergantian, kemudian menunjuk argo mobilnya.

“Aku tidak berminat dengan apapun yang sedang kalian ributkan. Aku peduli pada apa yang harus kalian bayar. Sekarang, bayar dan turun dari taksiku.”

Dengan cepat Jeany membuka dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang. Lalu ia keluar sambil membanting pintu.

“Jeany! Hey! Jeany!!”

Yesung mengejarnya. Ditariknya lengannya hingga berhenti.

“Sampai kapan kau akan lari seperti ini?”

“Lepaskan aku!”

Ia tak mengindahkannya. Ia justru menambah kekuatan pegangannya. “Aku ingin bicara baik-baik denganmu. Aku ingin mendengar semuanya dari mulutmu! Aku ingin kejujuran!”

Susah payah Jeany melepaskan pegangan Yesung hingga akhirnya berhasil. Ia perlu mengurangi nyeri ditangannya lalu menjawab, “Apa yang kau harapkan dariku? Apa yang kau dapatkan dengan kejujuranku? Tidak ada, Yesung! Masalahmu hanyalah kau terlalu munafik untuk mengakui semuanya.  Kau mengatakan tak ingin merusak apapun tapi kehadiranmu jelas sudah merusak segalanya. Kau akan segera merusaknya!”

“Oh, kau pikir aku yang memilih untuk tinggal di dekatmu? Sebagai informasi, aku memang mencarimu, aku memang berharap kau masih ada disekitar sini. Menurutmu apa yang membawaku kembali ke kota sialan ini? Tapi jika sejak awal aku tahu kau sudah memiliki Allan, keadaannya pasti berbeda. Ini adalah kebetulan!”

“Ya! Dan kau harus memperbaikinya. Berhenti mengganggu hidupku dan keluargaku. Kau sudah cukup menghancurkanku saat itu!”

Yesung tak tahan. Ia sudah tak peduli jika mereka sedang ada dipinggir jalan dengan keadaan banyak orang yang berjalan kaki disekitar mereka. Ia takkan membiarkan Jeany pergi lagi. Mereka menuntaskan segalanya detik ini juga.

“Kau sebut aku sudah menghancurkanmu?” Yesung menarik bahunya, diremasnya dengan kuat. “Katakan padaku siapa yang sudah berbohong padaku! Siapa yang tidak sudi mengakui keberadaanku! Siapa yang pergi lebih dulu dan siapa yang sudah menyebabkan ayahku meninggal!”

Jeany menatapnya terkejut. Ia bekap mulutnya yang tak bisa berkata apa-apa.

“Kau Jeany! Kau! Kau yang dulu selalu mengatakan bahwa tidak boleh ada yang ditutupi tapi kenyataannya aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Kau menghilang sebelum aku sempat membela diri. Kau membuatku berpikir selama sepuluh tahun kesalahan macam apa yang sudah kuperbuat sampai Tuhan menghukumku dengan menjaga perasaan ini!”

“Sekarang katakan padaku apa yang terjadi saat itu!” Yesung nyaris berteriak. Kedua tangannya semakin kuat meremas bahu Jeany hingga wanita itu meringis pelan.

“Kau mau tahu jawabannya? Kau yakin? Bukankah kau sudah tahu pasti alasanku saat itu?”

Tanpa sadar Yesung kini mencengkram bahunya. Jika tak ada kain yang menutupinya, Jeany hampir yakin kuku Yesung akan menancap pada kulitnya.

“Cepat katakan!”

“Karena kau telah membunuh anakku!”

Yesung terdiam. Namun kekuatan cengkramannya tak juga berkurang. Ia bisa merasakan serangan itu melalui mata tajam Jeany. Jeany mengingatkannya lagi akan hal yang paling dibencinya itu dan sialnya disaat ia berharap bahwa itu tidak benar. Karena ia pikir…Adam…

“Kau lupa? Kau yang sudah menyebabkanku keguguran dan aku ragu kau sudah bisa menahan emosimu saat ini. Kau mau alasan kedua? Lihat apa yang sedang kau lakukan padaku dan bagiku itu cukup menjawab segalanya.”

Yesung menatap kedua tangannya dan secara refleks ia membebaskan Jeany. Hingga kejadian-kejadian itu berputar kembali dikepalanya. Ketika ia dan Jeany bertengkar hebat. Ketika ia hampir menghabisi Siwon. Dan ketika pukulannya justru mengenai Jeany yang tak lain adalah istrinya sendiri.

“Kau tidak bisa menyamakan semua orang. Jika menurutmu itu sederhana, maka tidak bagiku. Jika kau benar tidak ingin merusak apapun, kau hanya perlu pergi dan tidak menampakkan wajahmu lagi di depanku.”

Tanpa menunggu jawaban Yesung, Jeany sudah berbalik sambil mengalungkan syalnya kembali. Diam-diam ia usap air matanya dan ia juga berdoa semoga setelah ini masalahnya akan selesai.

***

Adam mendribling bola disepanjang koridor sekolahnya di lantai 2. Kalau saja ada guru yang melihat apa yang ia lakukan, bolanya pasti akan diambil. Lapangan besar sudah disediakan di halaman belakang, kau tidak perlu pamer kemampuan disini. Begitu kata Miss.Matilda beberapa hari lalu saat ia menendang bola dan mengenai loker lalu memantul ke kepala salah seorang temannya. Untungnya Adam yakin semua guru sudah pulang. Siswa yang lain juga sudah pulang sejak sepuluh menit lalu dan hanya menyisakan beberapa orang saja di halaman yang menunggu jemputan. Ia cukup senang bukan hanya ia yang terlambat pulang, bukan hanya ia yang menahan lapar karena belum bisa menyantap makan siang di rumah. Tapi hanya ia yang harus menunggu lebih lama.

Ia sendiri bingung kenapa akhir-akhir ini orang tuanya lebih sibuk sampai untuk urusan menjemputpun tidak lagi sesuai jadwal. Ia bisa saja berjalan kaki seperti saat bersama tetangganya saat itu. Tapi itu tidak lebih baik jika setelahnya ia akan diomeli. Orang tuanya benar-benar lupa kalau ia bukan balita lagi.

Tiba-tiba saja ia teringat dengan tetangga barunya itu. Pasti menyenangkan kalau pria itu ada disini. Ia ingin sekali bermain bola bersamanya. Kemampuan Yesung sepertinya lumayan, tidak seperti ayahnya yang bisa ia kalahkan dengan mudah. Sepertinya akhir pekan ini ia akan mengajaknya bertanding saja. Ayahnya lebih bagus menjadi wasit dibandingkan lawan. Dan ibunya menjadi penyemangat dipinggir lapangan.

“Lihat siapa yang ada disini. Sepertinya ada bayi yang takut pulang sendirian.”

Adam menoleh ke samping dan menemukan anak-anak yang waktu itu mencoba mengeroyoknya sedang berdiri di ujung tangga. Setelah peringatan Yesung, secara aneh mereka semua tidak lagi muncul dihadapannya. Sekalipun mereka berpapasan, Adam menyadari bagaimana raut wajah mereka berubah drastis kemudian menghindar. Ia tak menyangka kalau nyali mereka seburuk itu. Tapi ia sama sekali tidak bangga kalau mereka takut karena Yesung, bukan karena sadar sudah berbuat salah.

“Apa kau lupa mengganti popokmu? Hahaha.”

“Siapa yang kau maksud? Dirimu sendiri?” Adam meraih bolanya, lalu berjalan mendahului mereka dan dengan sengaja menubruk bahu mereka. Sepertinya mereka semua hanya berani ketika ia sedang sendirian. Payah sekali.

“Hey sipit! Apa kau akan mengadu pada bodyguardmu yang bodoh itu? Kalian satu spesies, bukan? Pantas saja sangat kompak.”

Adam berusaha keras tak mendengarkannya. Meski bola ditangannya harus jadi pelampiasan, ia tetap menahan diri dan terus berjalan, menuruni tangga kemudian menuju halaman belakang. Tapi sepertinya kali ini ia tak bisa lolos dengan mudah. Mereka tahu-tahu muncul dihadapannya, berjejer seperti pasukan tentara yang siap menembaknya. Jujur saja, ia sama sekali tidak takut. Tapi sungguh ia sedang tak punya semangat untuk berkelahi. Ia hanya ingin bermain bola disini sambil menunggu jemputannya.

“Apa yang kalian inginkan? Aku rasa masalah kita sudah selesai.”

“Bagiku belum. Kau sudah mempermalukan kami saat itu.”

“Bagian mana yang kau maksud? Bukankah saat itu aku yang kalian keroyok?”

“Iya sebelum bodyguardmu datang dan mengacaukan semuanya. Aku tahu kau pasti mengadu pada sekolah sehingga orang tua kami menghukum kami semua.”

Adam memandang lima wajah itu satu persatu. Ia yakin seribu persen ia tak mengadukan apapun pada sekolah soal kejadian itu. Hanya masalah kecil dan ia tidak suka memperpanjang masalah. Ia bukan pengadu.

“Jangan berakting seperti anak polos. Wajahmu memang bisa menipu semua orang, tapi tidak dengan kami.”

“Baiklah.” Adam menghela nafas. Sepertinya ini tidak akan selesai sebelum ia menuntaskan apa yang mereka inginkan. “Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya kalian bisa senang? Asal kalian tahu aku sedang malas berkelahi.”

Anak yang berdiri ditengah dan bertubuh paling besar tersenyum. Ia memberikan kode pada ke empat temannya dan beberapa menit kemudian Adam paham maksudnya.

“Kita bertanding.”

Adam tak tahu kenapa orang tuanya belum juga datang. Ini sudah terlalu lama untuk ukuran terlambat dalam kamus mereka. Kalau saja mereka datang, ia pasti tak harus menerima tantangan ini. Tapi ia sudah bersiap berdiri di depan gawang dengan sarung tangan. Kelima anak-anak menyebalkan itu menyusun lima bola berderet di depannya dan siap menendang.

Ini bukan permainan sulit. Ia hanya perlu menangkap sebanyak mungkin bola yang di arahkan ke gawangnya. Nantipun sigempal itu akan dapat bagian setelah ia selesai dengan tantangannya. Jika ia berhasil menahan lebih banyak bola, maka ia akan mendapat ketenangan karena mereka berjanji untuk tidak lagi mengganggunya.

Untuk beberapa saat ia bingung kenapa mereka memilih permainan gampang seperti ini yang jelas-jelas ia kuasai. Tapi kemudian ia mulai sadar bahwa ada sesuatu yang mereka rencanakan. Ini lebih dari sekedar pertandingan.

“Kenapa? Ragu?”

Adam menatap anak itu. Meski benar ia mulai ragu, akhirnya ia melakukan peregangan dengan menggerakkan kepala, tangan, pinggang lalu melompat-lompat kecil. Setelah siap, ia pun pasang badan.

“Aku siap.”

Anak itu tersenyum. Adam merentangkan kedua tangannya sambil berusaha membaca kemana bola akan di arahkan. Ketika anak itu melangkah mundur hingga mengayunkan kaki kanannya, ia pun sudah bisa menebak. Bola ditendang ke kiri lalu ia melayang ke arah yang sama hingga bola berhasil ia tepis. Kepercayaan dirinya pun meningkat. Namun, sebelum ia sempat tersenyum, bola kedua datang mengenai bahu kanannya.

“Argh. Apa yang kau lakukan? Aku belum siap!”

BUG

Bola ketiga mengenai bahu kirinya.

“Hey! Ini diluar kesepakatan.”

Adam tak sempat berbuat apa-apa ketika secara bertubi-tubi bola dari kaki-kaki mereka meluncur ke tubuhnya. Ada yang mengenai kepalanya, kakinya, lengannya, perutnya hingga wajahnya. Ia tak diberi kesempatan untuk menyeimbangkan tubuh apalagi berlari. Bahkan ketika ia tersungkur dan merasa pusing, ada yang menariknya bangun lalu mengikatnya ditiang gawang.

Ia berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat apa lagi yang akan ia hadapi, tapi sekali lagi bola-bola itu datang padanya. Ia bisa merasakan nyeri dimana-mana dan darah mengalir dari hidung serta telinganya. Ini tidak main-main. Mereka semua bukan sedang mengajaknya bermain bola!

Pandangannya mulai tidak jelas. Ia juga enggan melihat ke depan jika setelahnya wajahnya menjadi sasaran lagi. Ia pasrah sambil berharap ayah, ibu atau Yesung atau siapapun yang masih ada di sekolah datang kemari. Tapi semakin lama, ia hanya terus merasakan sakit dan suara tawa dari mereka. Bukan suara dari orang-orang yang ia harapkan.

“Sebaiknya kita selesaikan saja. Ini sudah cukup.”

Adam ingin tersenyum. Mereka sepertinya akan segera pergi.

“Biarkan aku menyelesaikan semua ini.”

Ia pun dengan yakin mengangkat wajahnya. Tapi salah satu diantaranya yang sudah tak mampu ia kenali justru kembali mengambil  bola. Dan sebelum ia sempat memohon, kaki anak itu sudah terayun mengenai bola yang meluncur tepat ke dadanya.

BUG

Semuanya pun berhenti.

“Kau gila? Kau bisa membunuhnya!!!

****

2 Comments (+add yours?)

  1. ShikshinCloud
    Jul 14, 2015 @ 20:03:35

    poor adam, jahat banget temen2 nya

    Reply

  2. Novita Arzhevia
    Jul 15, 2015 @ 10:42:03

    wow daebakkk, jeany ya ampun kamu tdk pernah memikirkan sedikitpun perasaan Yesung pas dia pergi. . Ya ampun Yesung biar gw, buat dia bhagia thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: