Forgetten

forgotten

Nama: Nadhea Rain

Judul: Forgetten

Tag (tokoh/cast):       Lee Donghae

                                    Song Min Seo

                                    Seo In Young

Genre: Romance, Angst, AU

Rating: PG-15

Length: Oneshoot

Catatan Author: Annyeonghaseyo ^^ ini FF pertama yang ku kirim di SJFF dan semoga kalian suka. Alur dan cerita mungkin pasaran, mian jika gak dapet feel atau kurang bikin nangis. FF ini pernah dipublish di fb author Nadhea Rain. Inspired by “Super Junior – Daydream’s Unofficial MV”. Its not Songfict! This idea pure mine. Thankyou for reading and don’t forget to RCL ~^^ lot of typos dan penuh kegajean/? Dont be Silent Readers Please! Thankyou admin yg udah post FF ku ^^ thankyou readers^^
~~~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Story Begin.. 

 

Lee Donghae POV

Aku merasakan pelipisku berdarah saat mataku terbuka. Otakku belum sempat mencerna apa yang tengah terjadi.
Ku lihat seorang gadis yang tergeletak tak jauh dari mobil hitam setengah terbakar itu merintih. Memanggil namaku dengan samar-samar

Ku dekati dia. Dan membawa tubuh kecilnya ke pangkuanku. Air mataku terdesak keluar melihat gadis ini mengeluarkan banyak darah di kepalanya.
“Siapapun tolong kami!” teriakanku pecah seiring derai air mata yang tak kunjung berhenti

“Tolong kami, tolong!”

Sekali lagi aku berteriak. Tapi tangannya tiba-tiba bergerak membelai pipiku. Menghentikanku yang berusaha berteriak lebih kencang lagi

“Saranghae.. Jeongmal saranghae oppa” ucapnya tegar dengan selintas senyuman yang mengembang.

Ia menutup matanya. Meninggalkanku sendirian dalam kebisuan. Aku kembali berteriak keras mengetahui tak ada denyut nadi di tangannya.

Dia telah tiada..

Author POV 

“Donghae-ya.. Ireona.. Ireona..” seorang wanita paruh baya menepuk-nepuk pipi Donghae sesaat setelah teriakan kencang pria itu berhenti

Donghae membuka matanya. Mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali sebelum menyadari jika ibunya menatapnya heran

“Eomma”

“Ye? Kenapa berteriak keras seperti itu Hae-ya? Apa kau mimpi buruk lagi?”

Donghae mengangguk pasti “Mimpi yang sama seperti mimpi-mimpiku sebelumnya eomma”

“Sudahlah. Itu hanya mimpi, tak perlu dipikirkan. Mandilah. Kau ada rapat direksi pagi ini”

###

Lee Donghae menatap malas dokumen-dokumen di hadapannya. Sebenarnya pekerjaannya cukup mudah mengingat ia adalah pewaris tunggal Haru Corporation. Hanya membaca dan membubuhkan tanda tangan. Tapi entahlah, hari ini pekerjaan itu terasa sangat-sangat berat baginya.

Seseorang mengetuk pintu ruangan Donghae cukup keras. Membuat Donghae terhenyak karenanya

“Masuk” ucap Donghae

Sosok pria dengan beberapa dokumen di tangan kanannya itu masuk ke ruangan Donghae. Dan dengan segera mengambil duduk di depan meja kerjanya.

“Laporan yang belum kau tanda tangani, Sajangnim” ucap pria itu formal

“Oh hyung, bisakah kau tak menambahi bebanku hari ini? Rasanya aku ingin muntah mendengarmu berbicara formal denganku”

“Lalu? Aku harus memanggilmu Fishy-Donghae begitu?”

Kelakar tawa keduanya pecah. Sesaat mengisi keheningan yang tercipta

“Oo.. Bagaimana bisa dokumen sebanyak ini belum kau kerjakan Donghae-ya?”

“Seperti yang ku katakan padamu Jong Woon hyung, aku tidak bisa berkonsentrasi”

“Wae?”

Donghae menghembuskan nafasnya kasar “Kau mau minum apa?”

“Apapun asal bukan minuman beralkohol”

Donghae beranjak dari kursinya. Membuka kulkas kecil di sudut ruangannya, mengeluarkan dua botol soft drink lalu memberikannya pada Jong Woon.

“Kau ini kenapa? Wajahmu sangat tidak enak dipandang” ucap Jong Woon setelah membuka penutup kaleng soft drinknya

“Ada suatu hal yang mengganjal pikiranku hyung”

Jong Woon menegak setengah isi soft drinknya “Mwoya?”

Donghae menghela nafasnya sebelum menceritakan mimpi yang kerap kali menghampirinya. Seperti ada pesan tersirat yang ingin disampaikan mimpi itu padanya.

“Apa kau mengenal gadis di mimpi itu hyung? Apakah gadis itu ada hubungannya denganku?”

“Ya! Mana ku tau siapa gadis yang kau maksud. Memangnya aku juga ikut bermimpi sama sepertimu? Aish. Sudahlah Donghae-ya, mimpi itu hanya bunga tidur. Hanya kebetulan saja kau mengalaminya secara berulang-ulang”

“Kau dan eommaku sama saja” Donghae meminum soft drinknya “Hyung.. Apa kau yakin aku tidak melupakan sesuatu setelah kecelakaanku waktu itu?”

“Melupakan apa? Kau bahkan mengingat semua keluargamu termasuk juga mengingatku dan teman-temanmu. Tapi.. Sebenarnya ada satu yang kau lupakan”

“Jinjja? Apa?”

“Aish. Pekerjaanmu itu ikan tengik. Sudahlah, tak ada yang perlu kau pikirkan. Yang perlu kau pikirkan adalah dokumen-dokumen di mejamu itu. Aku pergi dulu. Masih banyak yang harus ku kerjakan. Aku tidak mau dipecat hanya gara-gara melalaikan pekerjaanku” ucap Jong Woon berlalu dari ruangan Donghae.

Setelah pintu ruangan itu ditutup kembali Donghae mendengus kasar

“Hahh. Jika benar aku melupakan sesuatu pasti aku akan segera mengingatnya”

Sekali lagi diteguknya soft drink yang tersisa di tangannya. Baru kemudian diambilnya satu per satu dokumen-dokumen itu. Setidaknya beban pikirannya sudah sedikit berkurang

###

Haru Corporation’s Cafe
12:07 a.m KST

Gadis dengan blazer soft purple tengah mengaduk milkshake strawberry kesukaannya. Sementara di hadapannya pria berjas hitam itu tengah menyantap makanannya

“Ada nasi yang tertinggal di bibirmu oppa” ucap gadis itu tersenyum manis setelah mengambil sebutir nasi di bibir Donghae “Kau tau, ibuku selalu mengajarkan untuk makan dengan bersih. Tidak ada remah-remah ataupun satu saja nasi yang tersisa di mangkok. Jadi jika kita menjatuhkan sebutir nasi saja kita harus memungutnya. Atau jika tidak melakukannya hewan yang kita pelihara akan mati”

“Jinjja? Ada hal seperti itu? Aigoo aku tidak mau Bada mati”

Gadis itu tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan Donghae. Seperti anak kecil yang didongengi orang tuanya

“Aish tentu saja tidak ada oppa. Itu hanya mitos”

“Hahh. Syukurlah Bada tidak akan mati hanya karena aku menjatuhkan sebutir nasi” Donghae mengambil minumannya. “Kenapa tidak makan In Young-ah?”

“Melihatmu makan aku sudah merasa kenyang oppa”

“Aish. Tidak bisa begitu. Ku pesankan makanan arra”

“Anni oppa.. Aku sedang diet agar gaun yang kita pesan untuk pertunangan kita bulan depan tetap muat. Yuri mengatakan padaku bahwa aku bertambah sedikit gemuk. Aku tidak mau itu” In Young menggembungkan pipinya “Bahkan lihatlah pipiku sudah bertambah chubby”

“Aish. Gadisku benar-benar sangat memperhatikan penampilannya. Arrasso”

***

Seo In Young merebahkan diri di kamar pribadinya. Wajahnya nampak begitu segar setelah bertemu kekasihnya.

Matanya menyapu seluruh isi kamarnya yang telah mendapat renovasi beberapa kali. Dan berhenti pada satu foto berbingkai cantik di arah jam dua. Foto yang diambilnya lima tahun lalu bersama seseorang yang dikenalnya semasa sekolah. Song Min Seo

“Harusnya kau tak pergi secepat itu Min Seo-ya” gumamnya menatap foto itu

###

Donghae masih berkutat dengan laptopnya saat jam telah menunjukkan pukul 23:29 KST. Berusaha mengumpulkan bukti-bukti terkait kecelakaannya tiga tahun lalu.

Dibukanya mesin pencari yang ada di laptopnya lalu mengetik beberapa keyword disana

“Bukankah aku adalah orang yang terkenal? Tidak mungkin berita kecelakaanku tidak sampai tersebar” gumam Donghae menyemangati dirinya sendiri

Beberapa artikel di barisan pertama tak juga menyelesaikan rasa penasarannya. Setidaknya dia benar. Berita kecelakaannya ada di mesin pencari.

Tak puas membaca beberapa artikel yang ia temukan, ia kembali menelusuri gambar-gambar terkait dengan kecelakaannya. Ia sangat ingat Mobil BMW Z4 Coupe hitam miliknya hampir terbakar ketika kecelakaan itu berlangsung.

“Mobil yang ku kendarai berwarna hitam?” Donghae menggumam lagi. Mencoba mengingat kronologis kecelakaan yang begitu abstrak di otaknya

Tiba-tiba ia merasakan sakit yang sangat luar biasa di kepala belakangnya. Semakin ia berusaha mengingat kejadian itu, rasa sakit yang di deritanya akan bertambah parah.

Donghae memekik. Mencoba meredakan rasa sakit itu dengan membaringkan tubuhnya.

“Donghae-ya. Gwaenchanayo?” eommanya terlihat panik melihat putranya sudah memegang erat kepalanya

***

“Donghae hyung tidak apa Mrs. Lee. Hanya saja menurutku dia sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu. Apa sampai sekarang ia tidak tau tentang amnesianya?” dr. Cho menemui Mrs. Lee setelah memeriksa keadaan Donghae

“Tidak ada yang pernah memberitahunya dr. Cho Kyuhyun. Aku tau ini akan menyakiti putraku jika ia sudah mengingatnya. Tapi aku juga tak bisa untuk tidak mengabulkan permintaan terakhir gadis itu”

“Jadi selama ini Donghae hyung tak pernah tau gadisnya sudah meninggal?”

Mrs. Lee mengangguk

###

Haru Corporation
Seoul, South Korea
10:46 a.m KST

Donghae tersenyum menepuk pundak namja dihadapannya. Namja itu segera merangkul Donghae. Menyalurkan rasa rindunya pada Presdir Haru Corporation, sahabat terbaiknya di Korea.

“Hangeng hyung. Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Kau makin tampan semenjak menetap di negaramu lagi” Donghae melakukan ritual jabat tangan khusus yang dibuatnya bersama namja itu

“Empat tahun dan rasanya aku begitu merindukanmu”

“Haha. Merindukanku atau merindukan Jung Hwa Young?” goda Donghae

“Ya! Haha. Apa kabar gadis itu? Sudah lama aku tak berkomunikasi dengannya semenjak aku pindah ke China lagi”

“Aku tidak tau pasti tapi yang ku dengar dari Jong Woon hyung sekertarisku tahun ini dia akan menikah”

“Ah jinjja? Lalu kau sendiri bagaimana Donghae-ya? Apa kau sudah menikah dengan Song Min Seo? Lalu dimana dia sekarang?”

Donghae mengerutkan keningnya mendengar nama asing yang diucapkan sahabatnya “Song Min Seo?”

“Ne. Aish kau ini jangan pura-pura melupakan kekasihmu sendiri. Bagaimana? Kau bilang padaku ingin melamarnya saat ulang tahunnya. Kau pasti sudah menikah dengannya kan? Atau kau ditolak?” ucap Hangeng menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi

“Song Min Seo siapa hyung? Bukankah sejak dulu kekasihku hanya Seo In Young? Kami akan bertunangan bulan depan”

Hangeng tercengang mendapat jawaban Donghae. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Tidak mungkin jika ia melupakan gadis yang sangat dicintainya begitu saja” gumamnya masih meneliti wajah kebingungan Donghae

“Katakan padaku apa aku telah melupakan sesuatu hyung?”

“Apa kau benar tak tau tentang gadis yang ku maksud?”

Donghae menggeleng cepat. “Setahuku, Song Min Seo itu nama sahabat Seo In Young yang pergi ke Jepang”

###

Donghae menjatuhkan tubuhnya di bed king size di kamarnya. Mencoba memejamkan matanya mengatasi rasa lelah yang menyerangnya. Tapi otaknya masih mencoba menggali memori tentang satu nama yang terasa begitu asing baginya. Song Min Seo.

Kenapa sahabatnya begitu paham tentang nama itu dan mengaitkannya dengan Donghae? Lalu sebenarnya siapa kekasihnya?

Pasca kecelakaan itu yang ia tau Seo In Young lah yang begitu perhatian padanya. Yang membuatnya menjatuhkan hatinya hanya pada gadis itu. Yang ia tau juga sejak dulu gadis itu mencintainya.

Lalu, adakah yang salah dengan ingatannya selama ini? Atau mungkin sahabatnya yang lupa nama kekasihnya sehingga ia menyebutkan nama Song Min Seo bukan Seo In Young?

Donghae menekan angka satu pada telepon di nakas samping kanan ranjangnya

“Bisakah kau ke kamarku sekarang juga ahjussi?” ucap Donghae setelah telepon tersambung

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan cukup keras dari pintu kamar Donghae. Setelah Donghae mempersilahkan masuk, pria paruh baya itu membungkuk memberikan hormat pada tuan mudanya.

“Apa yang bisa saya kerjakan untuk anda Tuan Muda?” pria itu berbicara formal pada Donghae.

“Temani aku main catur. Aku tak bisa tidur”

Pria itu membungkuk lagi. Lalu mengambil papan catur di lemari kamar Donghae. “Ye tuan muda”

Donghae melihat pria itu menata pion putih dan hitam itu di kedua sisi. Pria itu kemudian mempersilahkan tuan mudanya memulai permainan itu terlebih dahulu.

Donghae memajukan pion di depan benteng sebelah kanannya satu langkah. Pria itu melakukan hal yang sama. Begitu pula seterusnya selama beberapa kali

“Gong ahjussi, berapa lama kau mengabdi di keluarga ini?” Donghae memakan pion milik pria itu dengan kudanya

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pria paruh baya yang dipanggil Gong ahjussi itu. Dengan satu langkah kuda hitam miliknya gantian memangsa kuda putih Donghae yang berhasil merebut pion miliknya “Satu tahun setelah tuan muda lahir saya sudah mengabdi pada keluarga ini menggantikan mendiang ayah saya”

“Kau tau semua tentang diriku kan ahjussi?” Donghae menatap pria itu lekat. Menghentikan pria itu yang ingin menggerakkan pion-pionnya

“Ye tuan muda”

“Siapa Song Min Seo?” Donghae masih menatap lekat pria di hadapannya. Memastikan pelayan yang sudah dianggap ayahnya sendiri itu memberikan jawaban yang bisa memuaskan dirinya

“Dia adalah sahabat tuan muda sejak kecil. Gadis yang lahir tiga tahun dibawah tuan muda. Putri dari Presdir Song Jae Young pemilik resort ternama di Korea Selatan” ucap pria itu tanpa ragu. Kemudian kembali menggerakkan pion nya

“Sahabatku? Fakta apa lagi ini” gumam Donghae menggerakkan sang Ratu mundur satu petak. Menghindari siasat yang sudah diatur pria itu “Apakah aku pernah mencintainya?”

“Kalian berdua saling menyayangi sejak kecil. Tuan muda selalu berusaha untuk melindunginya setiap saat. Dan akan sangat marah apabila ada yang mengganggu nona Min Seo”

Donghae berdecak. Sepertinya ia memang benar-benar lupa masa kecilnya bersama Song Min Seo itu “Lalu saat aku remaja, kemana dia?”

“Saya menang tuan muda” pria itu dengan mudah memangsa Raja putih Donghae dengan strateginya

“Hahh. Aku tau aku pasti akan kalah darimu Gong ahjussi”

Pria itu tersenyum. Setelah memasukkan ulang pion-pion itu ia baru menjawab pertanyaan terakhir yang Donghae berikan “Dia tetap bersama tuan muda”

“Sekarang? Kenapa aku tak mengingat Song Min Seo?”

“Tuan muda akan segera mengingatnya”

###

“Apa yang Donghae tanyakan padamu semalam?” Mrs. Lee menginterupsi Paman Gong yang sedang melihat beberapa jadwal Donghae untuk minggu depan

“Tentang Nona Song Min Seo Nyonya”

“Lalu kau mengatakan apa?”

Paman Gong mengangkat wajahnya menatap Mrs. Lee “Saya mengatakan yang sejujurnya nyonya. Tapi saya tidak menyebutkan hubungan khusus yang dimiliki tuan muda dengan nona Min Seo”

“Apa menurutmu Donghae sudah mulai mengingat Min Seo?”

“Saya rasa belum nyonya. Tapi kemungkinan besar tuan muda akan giat mencari informasi tentang nona Min Seo”

“Aku takut dia akan membenciku ketika mengetahui yang sebenarnya terjadi Gong Dae Jin”

***

Seo In Young mengalungkan tangannya ke lengan Donghae. Saat ini mereka sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul.

“Kau mau gaun itu chagi?” Donghae menunjuk gaun yang terpajang di salah satu manequin

“Pasti kau sangat cocok mengenakannya” ucap Donghae lagi kali ini menatap wajah In Young

“Anni. Tidak usah oppa. Kau sudah banyak membelikanku gaun” tolak In Young mengembangkan senyuman di bibirnya

Sekelebat bayangan gadis cantik yang sedang mengenakan gaun berwarna peach melintas di pikiran Donghae. Gadis berambut hitam lurus yang sedang mematut dirinya di hadapan sebuah cermin besar. Wajahnya samar di bayangan Donghae, tapi jelas terlihat dibelakangnya Donghae tengah tersenyum memperhatikan gadis itu

“Kau sangat cantik mengenakannya”

“Jinjjayo?”

“Ne. Tolong bungkuskan gaun itu”

Donghae tersadar dari lamunannya ketika In Young mulai mengguncang-guncang bahunya

“Gwaenchanayo oppa?” tanyanya khawatir

“Gwaenchana. Bagaimana? Jadi ke toko buku?”

In Young mengangguk ceria. “Kajja”

***

Lee Family’s House
16:19 KST

Donghae membuka semua lemari yang ada di kamarnya. Berharap menemukan benda-benda yang diyakininya ada kaitannya dengan sebuah memori hidupnya yang ia lupakan

Dengan tergesa diambilnya semua benda yang ada di lemari paling atas. Membuka satu per satu buku-buku usang miliknya. Dan beberapa kotak kecil yang masih terawat itu. Nihil.

Beberapa lemari lagi ia geledah tapi tetap saja hasilnya nihil. Apakah dugaan pertamanya benar? Tak ada hubungannya antara ia dan gadis di mimpinya dengan anggapannya?

Ia berjalan keluar. Menemui ibunya yang sedang bersantai di balkon rumah mereka

“Eomma”

“Hmm. Ada apa Donghae-ya?”

“Aku hanya.. Ingin menanyakan sesuatu”

“Geurae” Mrs. Lee menatap wajah putranya.

“Berapa kali aku dirawat di rumah sakit sejak kecil eomma?”

“Selain kecelakaanmu tiga tahun lalu kau tidak pernah dirawat di rumah sakit sayang”

“Lalu, saat aku berumur delapan tahun bukankah aku meminta untuk dirawat di rumah sakit?” Donghae berbalik menatap ibunya

“Itu karena kau ingin merasakan bagaimana rasanya disuntik dan diberi infus karena seseorang yang kau sukai sedang sakit”

Seorang gadis kecil terbaring di salah satu kamar rumah sakit. Wajahnya sangat pucat dengan selang infus di tangan kirinya. Di samping kanannya seorang wanita cantik senantiasa membelai rambut gadis cilik itu

Anak laki-laki seumurannya tiba disana. Dengan menarik-narik tangan ibunya, ia berusaha untuk mengajak wanita itu berjalan lebih cepat.

Pria kecil itu menatap gadis yang terbaring disana lekat.

“Apa rasanya disuntik itu sakit Minnie?” ucap pria kecil itu

Gadis itu mengangguk “Aku takut disuntik. Karena itu kata ibuku rasanya akan terasa lebih sakit”

“Eomma. Aku ingin dirawat juga sama seperti Minnie”

“Kenapa begitu Donghae-ya?”

“Karena aku tidak mau membiarkan Minnie merasakan rasa sakit sendirian eomma. Ijinkan aku dirawat disini dan diberi infus juga. Jebal”

Mrs. Lee menghapus air bening yang tercipta di sudut matanya. Donghae perlahan mengingat hal itu. Hari dimana ia meminta permintaan aneh yang hampir tak dikabulkan oleh pihak rumah sakit jika saja ia tidak terus-terusan merengek.

Ia tersenyum lalu menggumam “Minnie, siapa sebenarnya kau?”

###

Seo In Young mengemudikan mobilnya sendirian. Menembus padatnya lalu lintas Kota Seoul menuju Kota kecil Mokpo. Mengambil jalan pintas paling mudah yang mengantarnya langsung ke sebuah kompleks pemakaman.

Ia memakai kacamata hitamnya dan membetulkan letak selendang yang menutupi rambutnya. Mengambil sebuah bucket mawar putih di jok sampingnya lalu berjalan keluar dari mobil.

Ia sampai pada makam indah bertuliskan hangeul nama Song Min Seo

Diletakkannya bucket mawar putih itu di atas nisannya. Nisan yang terawat apik tanpa ada rerumputan liar di sekitarnya.

“Min Seo-ya, aku mengunjungimu lagi. Hari ini ulang tahunmu, harusnya sekarang kau sudah berusia dua puluh tujuh tahun” In Young menghembuskan nafasnya berat

“Kau pernah mengatakan padaku untuk mencintai Donghae oppa kita sepenuh hati jika kau tak ada. Dulu aku pikir kau menyerah dan merelakan Donghae oppa untukku”

In Young mengusap pelan nisan itu. Seolah dapat merasakan kehadiran Min Seo di sampingnya

“Aku dan kau tau dulu kita sama-sama menyukai pria itu. Hanya saja kau yang lebih beruntung. Selain sejak kecil tumbuh dan dilindungi dia, kau juga mendapatkan cintanya”

“Sementara aku hanya bisa mencintainya dari kejauhan. Tapi aku senang, kau bahkan tidak marah saat aku berkata aku menyukai kekasihmu”

“Min Seo-ya, apakah kau tak merindukannya? Apakah keputusanmu untuk menghilangkan identitasmu darinya akan berdampak baik?”

In Young menengadah menatap hamparan langit cerah di atasnya. “Jika saja hari itu tidak terjadi, kau pasti sekarang sudah menjadi Nyonya Lee.. Dan memiliki putra kecil bernama Lee Haru. Seperti yang kalian impikan”

***

“Ada angin apa pagi-pagi kau sudah memandangi laptopmu?” tanya Jong Woon meletakkan dokumen ke meja Donghae

“Mencari tau masa kecil Presdir Haru Corporation”

“Ne? Ya! Bukankah itu kau sendiri? Kenapa mencari tau lagi? Memangnya kau tak mengingatnya?”

Donghae mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap Jong Woon “Aku ingat. Hanya saja ada seseorang yang sepertinya aku lupakan. Dan itu berhubungan dengan masa kecilku”

“Oo.. Sayang saat masa kecilku aku tak mengenalmu. Baiklah. Aku permisi dulu”

“Chankkan..”

“Ne? Ada apa lagi?”

“Song Jae Young? Presdir Haebaragi Resort? Benar?”

Jong Woon melipat tangannya di dada. “Ya. Itu semua benar”

***

“Song Jae Young memiliki dua anak masing-masing bernama Song Min Seo dan Song Min Ho” gumam Donghae membaca salah satu artikel di mesin pencari.

Ia mengambil ponselnya. Mencari semua nama yang tersimpan di kontaknya. Dan berhenti ketika menemukan nama Song Min Ho disana.

“Kenapa aku lupa jika menyimpan nomor Min Ho?”

Pintu ruangannya kembali diketuk. Membuatnya mengurungkan niat untuk mendial nomor yang ia temukan.

“Tuan muda, ada rapat direksi yang menunggu anda” Gong ahjussi membungkuk hormat pada Donghae

“Ah. Hampir saja aku lupa ahjussi”

###

Haebaragi Office
Seoul, South Korea

Seorang pria bertubuh tinggi memandang ke luar jendela. Di belakangnya laki-laki paruh baya itu masih sibuk menuliskan sesuatu di buku agendanya

“Calon menantumu akan segera melangsungkan pertunangannya dua minggu lagi appa” ucap pria tinggi itu masih memandang ke jendela.

Pria paruh baya itu menghentikan aktivitasnya. Menjatuhkan tubuhnya ke bantalan kursi “Aku tau itu. Nyonya Lee menemuiku beberapa waktu lalu”

Pria tinggi itu menoleh “Menemui appa?”

“Ne. Dia berkata Donghae sudah mulai mencari tau informasi tentang kakakmu” pria paruh baya itu menghela nafasnya “Kado itu masih kau simpan?”

Pria tinggi itu mengangguk “Tentu saja”

###

Park Chan Hee dan Yuri membantu mengepaskan gaun In Young. Hari ini adalah fitting terakhirnya sebelum acara pertunangannya dilaksanakan.

In Young mematut dirinya pada cermin besar di hadapannya. Bergerak ke kanan, kiri, memutar memastikan semuanya tak ada yang mengecewakan.

“Bagaimana? Masih ada yang perlu dirubah In Young-ah?” ucap Chan Hee memperhatikan client nya

“Ku rasa tidak. Ini adalah rancangan terbaik yang pernah aku pesan. Aah, aku sangat berterimakasih pada kalian”

Yuri dan Chan Hee saling berpandangan. Satu lagi karya hebat dengan pujian dan senyuman kepuasan pelanggan mereka dapatkan

***

“Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu Minnie lagi” pria umur lima belas tahun dengan seragam musim panas khas Junior High Schoolnya memegangi tangan gadis cantik itu

“Ne? Waeyo?”

“Karena aku akan memanggilmu chagi”

“Ya! Kenapa memanggilku chagi? Memangnya aku menerimamu untuk menjadi kekasihku? Kalau nyatanya aku menolakmu bagaimana oppa?” gadis itu menyilangkan tangannya di dadanya

“Yaa! Bukankah kau bilang jika kita sudah besar nanti kau mau menjadi kekasihku?”

Gadis itu terkekeh geli melihat Donghae menggembungkan kedua pipinya. “Aigoo.. Oppa neomu kyeopta”

Donghae terbangun dengan sedikit sakit di kepalanya. “Mimpi itu..” gumamnya

Donghae memegangi kepalanya. Ingatan-ingatan kecil itu mulai muncul dan memutar abstrak di otaknya. Wajah gadis kecil yang dipanggilnya Minnie itu sudah mulai jelas.

Donghae kembali menekan angka satu di telepon. Berniat meminta Gong ahjussi memanggil dokter keluarganya.

**

“Bagaimana hyung? Apa sakit kepalamu sudah mendingan?” ucap dr. Cho setelah memeriksa keadaan Donghae

Donghae hanya mengangguk. Otaknya masih terus saja memproses bayangan-bayangan tentang gadis kecil itu.

“Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat sesuatu jika kau tak mau jatuh sakit hyung” nasehat Cho Kyuhyun sebelum berlalu dari kamar Donghae

“Tuan Muda harus menjaga kesehatan. Bukankah minggu depan tuan muda akan melangsungkan pertunangan?” pria paruh baya berjas hitam itu memberikan bubur yang masih mengepul uapnya pada Donghae

Donghae tersenyum mengambil mangkuk itu “Gomawo ahjussi”

“Rasanya baru kemarin saya menggendong tuan muda, mengajak tuan muda bermain dan mengantar-jemput tuan muda. Sekarang tuan muda sudah akan memiliki pendamping hidup” Gong ahjussi menerawang jauh ke depan

“Aku tetap Lee Donghae kecilmu ahjussi”

Gong ahjussi tersenyum “Setelah tuan muda menikah nanti mungkin saya akan mengambil pensiun”

“Yaa! Jika ahjussi pensiun siapa yang akan mengingatkan semua jadwalku?”

Pria paruh baya itu mengusap kepala Donghae “Saya hanya bergurau tuan muda”

###

Donghae pergi ke gereja sore itu. Beberapa orang nampak khidmat memanjatkan do’a. Ia mengambil duduk di deretan kedua paling depan disana.

“Jika aku melupakan sesuatu, tolong biarkanlah aku mengingatnya kembali Tuhan” gumam Donghae mengakhiri do’anya

Ia menatap ke samping kiri deretan bangku yang ia tempati. Samar-samar bayangan sepasang remaja yang sedang berdo’a itu melintas di pikirannya

Gadis itu menangkupkan tangannya ke wajahnya. Lalu menatap remaja pria itu intens.

“Jangan menatapku seperti itu terus chagi. Aku tak bisa berkonsentrasi dengan do’aku” protes namja itu memejamkan matanya

“Memangnya oppa ingin meminta apa pada Tuhan?”

Remaja pria itu baru menangkupkan tangannya ke wajahnya “Aku meminta pada Tuhan agar kita berjodoh dan akan saling mencintai sampai akhir hayat kita”

“Bukankah sudah terlambat untuk meminta berjodoh? Jika nyatanya oppa bukan jodohku bagaimana?”

Pria itu tiba-tiba menarik gadis remaja tadi. Membawanya ke dekapan hangat pria itu “Tak akan ada yang pernah memiliki Song Min Seo kecuali Lee Donghae. Dan tak ada yang pernah memiliki Lee Donghae kecuali Song Min Seo. Apa kau sudah mengerti nona Song?”

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. Memastikan apa yang diingatnya barusan adalah sepotong kecil memori yang ia lupakan. Song Min Seo?

“Permisi, bolehkah aku ikut duduk denganmu?” seorang pria berambut cokelat tua itu menginterupsi Donghae

Donghae mengangguk. Mempersilahkan pria itu mengambil duduk di sampingnya.

###

Haru Corporation
Seoul, South Korea
Two Weeks Later..

Gadis cantik itu memasuki ruangan Donghae saat empunya tak ada disana. Ia meletakkan kotak makanan di meja kerja Donghae. Kemudian mengambil duduk di sofa ruangan itu memainkan ponselnya.

“Kau sudah datang chagi” Donghae yang baru masuk langsung menghampiri gadis itu. Gadis yang telah resmi menjadi tunangannya satu minggu lalu.

“Ne. Aku sengaja datang lebih awal oppa” senyuman gadis itu mengembang “Oppa belum sarapan kan? Chaa aku buatkan sarapan untukmu”

“Jinjja? Kau memang calon istri yang baik”

Seo In Young mengambil kotak makan yang ia letakkan di meja. Membukanya, menyuapkan telur gulung itu ke mulut Donghae

Tangan Donghae terangkat ke atas. Menunjukkan jempolnya pada In Young. Mewakili komentar yang dikeluarkannya untuk masakan gadisnya

“Oppa, tanggal lima belas nanti kau harus mengosongkan jadwalmu arra”

Donghae menelan makanannya “Wae?”

“Mmm.. Rahasia”

“Yaa! Kalau begitu aku tidak mau mengosongkan jadwalku” Donghae beranjak mengambil minuman di kulkas kecilnya

“Aish. Hari itu kan ulang tahunmu Presdir Fishy. Memangnya kau masih ingin bekerja di hari ulang tahunmu hm?”

Donghae melipat tangannya “Mungkin tidak jika tak ada jadwal dadakan”

###

Lee Family’s House
October 15, 2015
09:07 KST

Semua pelayan nampak sibuk dengan dekorasi pesta ulang tahun yang disiapkan untuk Donghae. In Young pun tak ketinggalan mengambil bagian. Dengan dibantu calon mertua dan beberapa juru masak Keluarga Lee ia membuat kue tart spesial untuk tunangannya

“Hahh. Anak itu keras kepala sekali. Padahal Gong Dae Jin sudah membatalkan beberapa jadwalnya hari ini tapi tetap saja dia dia pergi ke kantor. Dia tak jauh beda dari mendiang ayahnya” keluh Mrs. Lee terhadap calon menantunya

In Young tersenyum “Tapi kita sedikit diuntungkan eommonim, dengan begitu oppa tidak akan tau pesta yang sedang kita siapkan”

***

“Ada paket untuk anda sajangnim” resepsionis itu menghentikan Donghae dan Jong Woon yang akan kembali ke ruangannya

“Terimakasih” ucapnya mengambil paket itu

“Saengil chukkhae hamnida, sajangnim”

Resepsionis itu membungkuk. Donghae mengembangkan senyuman di bibirnya. Hari ini banyak sekali yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya

“Paket dari siapa?” Jong Woon meneliti kotak yang barusan Donghae terima “Apa aku perlu mengambil alat pendeteksi bom?”

“Ya! Tidak usah hyung. Aku akan membukanya di ruanganku”

Donghae menutup pintu ruangannya lalu berjalan menuju sofa. Dengan segera merobek kertas pembungkus kotak itu

Jas hitam dan dasi berwarna dark blue bermotif garis-garis kecil terlihat ketika ia membuka kotak itu. Sebuah kepingan DVD terselip di bawah jas hitam itu.

“Untuk kekasih yang sangat ku cintai, Lee Donghae” gumamnya membaca huruf hangeul yang ditulis di kertas yang ditempelkan di tempat kepingan DVD itu.

Ia memencet tombol open di samping kanan laptopnya. Memasangkan kepingan DVD itu. Setelah data tersebut terbaca, ia mengklik sebuah file berformat video yang ada disana.

Lagu ucapan ulang tahun mengawali tampilan video itu. Donghae tersenyum, pikirnya tunangannya benar-benar mempersiapkan kejutan untuknya hingga mengirimkan kado seperti ini ke kantornya.

Setelah lagu itu selesai, seorang gadis cantik terlihat di video itu. Donghae mengernyit tak mengerti. Siapa dia?

“Saengil chukkhae hamnida.. Saengil chukkhae hamnida.. Saranghaneun Donghae oppa. Saengil chukkhae hamnida” gadis itu memulai ucapannya

“Aigoo oppa, neomu bogoshipeo. Sekarang kau sudah berusia tiga puluh tahun eoh. Tapi bisa ku tebak kau pasti masih tetap tampan. Hehe”

“Apa kau masih suka merengek pada Gong ahjussi untuk membelikanmu bakso ikan di pinggir jalan? Atau apakah kau masih belum bisa tidur sebelum eommonim mengantarkan susu murni hangat untukmu?”

Donghae mengerutkan dahinya. Bagaimana gadis di video ini tau semua kebiasaannya?

“Aku ingat kau pernah memberikanku dokumentasi video seperti ini saat ulangtahunku. Dan aku sudah membuktikan janjiku untuk membalasnya juga kan?”

“Mianhae. Oppa pasti tak akan menyukainya karena aku membalas kadomu sangat-sangat lama” gadis itu tertawa kecil

Siluet-siluet itu muncul. Perlahan tapi pasti otaknya sudah mulai merecall memori itu

“Ah. Untuk jas itu, pakailah saat kau pergi ke kantor. Kau pasti akan terlihat sangat tampan. Karena kau adalah Lee Donghae ku yang tampan”

Deg. Siluet gadis kecil itu terlihat jelas. Bayangan gadis yang tumbuh dewasa itu juga semakin jelas. Ditekannya tombol stop di laptopnya

Kepalanya merasakan sakit yang luar biasa. Semua kenangan kebersamaan itu muncul satu per satu.

Hari dimana ia menyatakan perasaannya pada gadis itu, ciuman pertama yang diberikannya pada gadis itu, semuanya. Hingga hari dimana kecelakaan itu berlangsung pun terekam jelas di ingatannya.

Tangan Donghae bergetar. Ia menekan tombol play kembali, mempercepat video itu hingga sampai pada menit terakhir.

“Saranghae.. Jeongmal saranghae oppa” gadis itu membentuk tanda hati dengan tangannya

“Minnie.. Song Min Seo.. Aarrggh..” Donghae mengusap lelehan air matanya yang keluar

###

Haebaragi Office
Seoul, South Korea

“Abeonim..” Donghae memeluk pria paruh baya yang ditemuinya di kantor itu “Mianhaeyo abeonim.. Aku.. Aku..”

“Tak ada yang perlu kau sesalkan Donghae-ya” pria itu mengelus punggung Donghae

Donghae menatap pria itu “Sekarang dimana Min Seo abeonim? Aku ingin menjelaskan semua ini padanya”

Pria paruh baya itu berbalik menatap Donghae. Bagaimanapun juga ia tidak mungkin menyimpan rahasia ini selamanya pada Donghae.

Ia menghela nafasnya “Min Seo meninggal di tempat kecelakaan kalian Donghae-ya”

Deg. Donghae menggeleng cepat. Liquid bening itu sudah mengalir dari sudut matanya

“Tidak.. Tidak mungkin abeonim. Dia baru saja mengirimkan kado untukku. Tidak mungkin dia sudah meninggal”

“Kado itu dibuat seminggu sebelum kalian mengalami kecelakaan. Ia menitipkannya pada Min Ho dan berpesan untuk memberikannya di ulang tahunmu yang ke tiga puluh”

Lutut Donghae lemas. Ia menangis sejadinya

###

Donghae berlari menuju ruangan kosong tidak terawat itu. Tempat dimana hanya ia dan Min Seo yang mengetahuinya. Tempat terbaik kedua yang biasa mereka gunakan untuk bertukar pikiran.

Ia membalikkan badannya. Menatap sekeliling ruangan usang itu. Sebuah foto menyita perhatiannya. Foto yang tak pernah diubah tata letaknya semenjak pertama kali dipasang.

Ia berjalan lagi ke arah meja yang ada di ruangan itu. Merecall memorinya bersama Min Seo. Donghae menundukkan kepalanya. Sekali lagi lelehan air matanya lolos begitu saja

***

“Hubungi resepsionis Jang. Donghae-ya kemana kau..” Mrs. Lee menginterupsi Gong ahjussi

“Akan ku coba menghubunginya lagi eommonim” In Young menekan nomor Donghae kembali

Nihil. Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara operator yang menyuruhnya meninggalkan pesan

“Resepsionis Jang berkata setelah menerima paket tak lama setelah itu tuan muda pamit pulang nyonya”

“Nyonya.. Tuan Muda sedang menuju kemari” salah seorang satpam tergopoh-gopoh setelah melihat mobil Donghae memasuki pelataran rumah mewah itu.

Mrs. Lee tersenyum kemudian mengangguk singkat. Mereka bersiap di balik kue ulang tahun dengan lilin angka tiga puluh. In Young menatap calon mertuanya dengan senyum merekah.

‘Kau akan menyukai kejutan ini oppa’ gumamnya menanti tunangannya.

Pintu kayu itu terbuka. Menampilkan sosok yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi pagi. Pria itu berjalan pelan, masih terlihat jelas bekas air mata mengalir di pipi hingga bibirnya.

“Saengil chukkhae hamnida.. Saengil chukkhae hamnida.. Saranghaneun uri Donghae.. Saengil chukkhae hamnida” Mrs. Lee, In Young, Gong ahjussi, teman-teman dan semua pelayan yang berkumpul disana bernyanyi dengan kompak.

Donghae menghentikan langkahnya beberapa meter dari mereka. Mematung disana. Memasang senyum kecut

“Ya! Donghae-ya, kemarilah cepat tiup lilinmu” celetuk Mrs. Lee menginterupsi Donghae

Ia tetap tak bergeming. Ada sorot kebencian di tatapannya. Semua saling berpandangan heran.

“Donghae-ya” Mrs. Lee kembali berbicara

“Bagus. Bahkan selama ini aku tak pernah tau ada rahasia yang kalian simpan dariku. Kekasihku meninggal saat kecelakaan itu dan tak satupun dari kalian yang mengatakannya padaku? Apa kalian puas?” suara Donghae yang terdengar bagaikan petir yang menyambar mereka.

“Aku amnesia tapi tak ada yang mencoba membantuku mengingat kembali Min Seo? Ck”

“Eomma.. Aku membencimu!”

Setelah mengatakan itu Donghae menaiki tangga dengan tergesa. Membanting pintu kamarnya keras.

Disingkirkannya semua benda yang ditemukannya di meja. Menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring

Mrs. Lee terduduk lemas. Rasa bersalah pada putra kesayangannya itu menyeruak di dadanya. Ia menitikkan air mata

###

Donghae berteriak frustasi. Kedua tangannya terkepal sempurna. Urat-urat tergambar jelas di lehernya. Nafasnya naik turun tak beraturan

Beberapa kali tembok di hadapannya menjadi sasaran empuk kemarahannya. Kekesalannya terhadap dirinya sendiri.

Air bening itu tak juga surut dari pelupuk matanya. Ia merasakan dirinya adalah orang paling bodoh sedunia.

Dibantingnya nampan berisi makanan itu. Ia menjambaki sendiri rambutnya yang terlihat semakin kusut.

Ia kehilangan dirinya, bahkan hatinya. Rasa bersalahnya pada gadis yang dicintainya itu terus terbayang. Ini adalah kesalahan terfatal yang pernah ia lakukan. Membunuh seorang yang sangat diinginkannya secara tidak langsung.

Kamar yang ditempatinya sudah tak berbentuk. Sprei menjuntai ke bawah, bantal yang bulunya sudah beterbangan kemana-mana, tembok dengan goresan darah segar dari jarinya, makanan yang sudah tak layak disebut makanan. Ornamen-ornamen yang hanya tinggal puing-puing kecil. Semua nampak menyedihkan.

Seseorang di luar mengetuk pintu kamarnya cukup keras. Namun Donghae tak berniat untuk meninggalkan posisinya. Sekali lagi ketukan itu terdengar. Kali ini lebih pelan dari sebelumnya.

Ia mendengar suara decitan pintu dengan lantai. Yang ia yakini seseorang membuka pintunya dengan kunci duplikat.

“Oppa..” pekik gadis itu terkejut melihat kamar yang sudah tak layak ditempati itu.

Tanpa menoleh pun Donghae tau siapa yang datang mengunjunginya. Gadis yang telah menyita perhatiannya, yang membuatnya lupa jika ia mencintai Min Seo.

Baginya, gadis itu sedang memanfaatkan keadaan untuk mengejar cintanya. Cinta yang sebenarnya hanya ia pelihara untuk Min Seo.

“Oppa ku mohon berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Berhenti menyalahkanku, menyalahkan eommonim dan menyalahkan semuanya” pintanya menggenggam tangan Donghae

Ia masih terdiam menatap lurus ke satu titik. Membisu.

“Aku tidak mau melihatmu seperti ini oppa. Sudah cukup”

“Bagaimanapun juga kau adalah tunanganku” gadis itu menunduk. Ia mengatakannya dengan suara lirih. Tapi meskipun begitu Donghae mampu mendengarnya.

“Tolong.. Untuk sekali saja dengarkan penjelasanku oppa”

Donghae mengangkat wajahnya masih dalam kebisuannya. Menunjukkan reaksi bahwa ia bersedia mendengarkan gadis itu.

“Eommonim melakukan hal ini karena permintaan terakhir Min Seo. Ia mengatakan pada eommonim dua hari sebelum kecelakaan itu berlangsung” In Young menatap mata Donghae yang basah “Dia berkata jika ia tak ada, jangan pernah katakan pada Donghae oppa tentang identitasnya. Ia seolah bisa menebak jalan takdir yang Tuhan gariskan”

“Dia juga memintaku untuk mencintaimu sama seperti yang ia lakukan. Dan berjanji untuk ada disisimu selama ia tidak ada” In Young mulai menitikkan air mata mengingat pesan yang Min Seo katakan.

“Kau tau oppa, saat itu aku memprotesnya. Mengatakan padanya bahwa kau hanya mencintainya, dan kalian tidak akan mungkin bisa terpisahkan hanya karena kehadiranku”

Donghae menelan ludahnya. Krystal bening itu berjatuhan semakin banyak. Membanjiri pipinya.

“Dengan tersenyum ia menjawab jika ia mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu. Tapi ia juga berkata tak bisa selamanya bersamamu”

In Young bergerak mendekap Donghae. Menghapus jarak yang tercipta di antara mereka. Melingkarkan tangannya ke pinggang pria itu.

“Meskipun aku tak bisa bersama Donghae oppa setiap saat, tapi di hatiku hanya ada namanya. Dan kemanapun aku pergi nantinya, tak akan ada yang pernah menggantikannya”

In Young merasakan pundak Donghae terguncang. Isakan-isakan pria itu menimbulkan sesak tersendiri baginy “Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum kecelakaan kalian berlangsung”

“Ia takut jika oppa mengetahuinya sejak awal oppa tidak akan bisa melanjutkan hidup dan akan terus menyesali hal itu”

In Young menepuk pundak Donghae. Memberi sedikit kekuatan untuk pria yang dicintainya itu.

###

Jarum spedometer mobilnya mengarah ke angka 120. Pikirannya kacau. Bahkan ia tidak bisa berpikir jernih tentang tujuan utamanya mengemudikan mobil ini.

Kilasan tentang Song Min Seo muncul kembali. Dimulai dari masa kecilnya yang manis bersama gadis itu. Tiada hari yang terlewatkan tanpa kehadiran Min Seo di sampingnya. Semua yang muncul hanya potongan-potongan kecil kejadian hidupnya dengan Min Seo sebagai tokoh utamanya.

Pandangan Donghae mulai tidak fokus. Tangannya tergerak menjambak rambut cokelat tua miliknya frustasi.

“Percayalah semua yang kami lakukan atas permintaannya oppa. Bukan berdasarkan kepentinganku atau lainnya” suara In Young terngiang di telinganya

Ia menginjak pedal gas nya lebih dalam lagi. Dalam sejarah hidupnya ia tak pernah menyetir sekencang ini mengingat ia begitu anti dengan kebut-kebutan.

“Ketika rasa itu kembali ku rasakan,
rasa kehilangan yang sangat mendalam.
Tak ada yang dapat membendung keadaan. Hingga aku tak dapat mengenali diriku sendiri.
Siapa aku?”

Ia mengumam di antara decitan rem nya

“Ketika aku hanya termenung sendiri menghadapi keadaan yang kosong..
Aku sendiri tanpa apa-apa.
Tanpa siapa-siapa..
Tanpa tujuan
Tanpa harapan
Tanpa angan”

Ia membanting setirnya ke kanan

“Roda yang seolah berhenti di bawah dan enggan untuk berputar kembali.
Menyudutkan pikiran pada sebuah kehampaan.
Warna yang seharusnya cerah kini kusam dan hanya tinggal hitam..
Entah ganjalan, atau memang tak dapat berputar untuk kembali mendapatkan warna yang cerah itu..”

Decitan rem itu semakin terngiang. Gesekan antara roda dan aspal menimbulkan kepulan asap dan bau yang menyengat.

Jantung Donghae berdetak tidak normal. Nafasnya terengah-engah seperti selesai melakukan lari marathon.

Ia turun menelusuri jalan setapak yang di kanan-kirinya terdapat banyak nisan. Mengabsen nama yang tertera di batu itu satu persatu. Mencari keberadaan peristirahatan terakhir gadisnya.

“C.. Chagi” bibir Donghae tergerak mengeluarkan suara lirih. Di hadapannya, sebuah nisan apik dengan tulisan hangeul nama Song Min Seo itu menyita perhatiannya.

Tanggal lahir yang sama dengan gadis itu. Dan hari kematiannya, juga sama dengan hari dimana kecelakaan itu berlangsung.

Bibir Donghae bergetar. Perlahan tubuhnya merosot, lututnya menekuk menyentuh tanah. Tangannya tergerak membelai nisan itu. Mengusap tulisan hangeul yang sengaja dibuat lebih tinggi dibanding bagian nisan lainnya.

“M.. Mianhae aku baru mengunjungimu chagi”

Donghae terbata. Ia tak bisa lagi menahan linangan air matanya.

Ia menunduk dalam. Tak mampu berkata-kata lagi selain do’a yang diucapkannya dalam hati.

“Maafkan aku tak bisa menjagamu dengan baik chagi. Aku melalaikan tugasku..”

Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia berbalik, mendapati gadis cantik dengan balutan mini dress putih itu tersenyum padanya.

Ia hafal pakaian itu. Gaun yang terakhir kali dikenakan Min Seo sebelum kecelakaan itu berlangsung.

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. Memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.

Gadis itu merunduk, mensejajarkan diri dengan Donghae. Tangannya menghapus air bening di sudut mata pria itu.

“Lee Donghae yang ku kenal tidak pernah menangis ketika di hadapan gadisnya” ucap gadis itu. Suara yang sama yang Donghae rindukan. Suara manja yang dulu setiap saat terdengar di telinganya.

“Chagi.. Aku tau kau belum meninggal. Semua orang berusaha memisahkan kita bahk-”

Gadis itu mengarahkan telunjuknya ke bibir Donghae. Menghentikan pria itu yang ingin berbicara lebih panjang lagi

“Tak ada yang berusaha memisahkan kita oppa.. Karena aku selalu hidup disini.. Di dalam hatimu” ia menggerakkan tangannya lagi. Kali ini menunjuk letak jantung Donghae

“Tap-”

“Sstt..”

Gadis itu mendekati Donghae. Mengecup bibir pria itu. Rasanya masih sama seperti dulu.

Donghae melingkarkan tangannya ke pinggang ramping gadis itu. Mencari kehangatan atas tautan yang kini mereka lakukan. Menuntut lebih dalam sebagai balasan dari kecupan tadi.

“Kau harus terbiasa tanpa diriku oppa. Karena tugasku untuk mencintaimu sudah selesai” gadis itu berkata lagi setelah tautan mereka terlepas

“Apa itu artinya kau akan meninggalkanku lagi Minnie?”

Gadis itu mengangguk “Ada Seo In Young yang juga mencintaimu sama sepertiku oppa. Kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Hidup barumu bersama In Young”

“Jangan terpuruk hanya karena kehilanganku oppa. Seperti yang ku katakan tadi, aku tetap hidup dalam hatimu. Dalam kenangan kita..”

Gadis itu membelai pipi Donghae “Aku tak mau melihatmu bersedih lagi. Kau tau, aku selalu melihatmu dari atas sana. Dan aku bahagia jika kau bersama In Young”

“Minnie..” Donghae memegang tangan gadis itu. Menatap dalam mata indahnya

“Sekarang pejamkan matamu oppa”

“Untuk?”

“Pejamkan saja. Setelah itu hitung mundur mulai dari lima”

Donghae masih tak mengerti. Tapi tubuhnya memproses apa yang diperintahkan gadis di hadapannya. Ia menutup matanya.

“Setelah selesai menghitung kau baru boleh membuka kembali matamu”

Donghae mengangguk. Ia mulai menghitung mundur. Perlahan pegangan tangan gadis itu mulai terlepas. Setelah menyebutkan kata satu, ia membuka matanya.

“Chagi..” teriaknya mendapati sosok Min Seo sudah tak ada di depannya

###

“Eomma..” Donghae menginterupsi ibunya yang tengah memandang ke luar jendela.

Ia berlari ke arah wanita paruh baya itu. Membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Ia bisa mendengar isakan tangis ibunya pecah

“Mianhaeyo Donghae-ya.. Ini semua-”

“Eomma tak perlu merasa bersalah. Maafkan aku telah menuduh eomma yang tidak-tidak”

**

In Young tersenyum ke arah Donghae yang tiba-tiba muncul di apartemennya. Keadaan pria itu sudah jauh lebih baik dibanding saat terakhir gadis itu melihatnya

“Wae? Kau tak mempersilahkan tunanganmu ini masuk hm?”

Donghae mendekatkan wajahnya pada In Young. Membuat gadis itu menitikkan air matanya

“O.. Oppa”

“Ne? Aish. Jangan menangis. Kau tidak menarik sama sekali jika menangis”

Gadis itu semakin terisak. Membuat Donghae mengernyit tak mengerti

“Ya! Apa aku salah hm? Uljimman..” Donghae mendekapnya. Menepuk-nepukkan tangannya ke punggung gadis itu

“Tidak mau berhenti menangis juga eoh? Apa aku harus menciummu sekarang juga?”

In Young menjauh dari Donghae “Yaa! Anniyaa”

“Hahaha”

Donghae mengusap rambut gadis itu. Mendekapnya kembali, menyalurkan rasa sayangnya

###

Pada akhirnya sesuatu yang telah pergi akan jadi kenangan indah. Sebuah memori yang tak akan pernah bisa kita hapuskan. Yang melekat.. Tersimpan baik dalam ingatan kita.

-FIN-

 

3 Comments (+add yours?)

  1. meynininx90
    Jul 16, 2015 @ 20:16:24

    Hmhmhm…….akhrny ma in young….

    Hae tk prlu trpruk dg msallu….mski brat tp te” hdpi hdp ne…

    Reply

  2. ElizElfishy
    Jul 30, 2015 @ 18:05:31

    Cerita yg mengharukan. I like it

    Reply

  3. nurul asb
    Aug 07, 2015 @ 20:35:33

    Inti nya mah kita kudu move on dri kenyataan hidup*apaansie??*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: