Memories [17/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Leeteuk (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

*************

Hari yang buruk. Diantara hari buruk dalam minggu-minggu ini, inilah yang paling tidak ia inginkan. Meski kegagalan operasi ini bukan yang pertama, ia tak pernah berharap akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Dulu pernah suatu hari ia bangun kesiangan hingga tak mengikuti rapat para dokter. Lalu ia harus menghadapi seorang nenek yang merengek tidak mau menerima pengobatan apapun. Rambutnya yang sudah sedikit dijambak, nenek itu melempar nampan ke arah suster. Sialnya suster itu secepat citah menghindar hingga mangkuk dan gelas plastik yang malang itu justru menghantam bahunya. Beberapa jam kemudian ia sadar dompet dan handphonenya ketinggalan hingga tak bisa membeli makan siang. Eddy tak berjaga saat itu, sedang ia segan untuk pinjam uang pada dokter lain. Lalu setelahnya ia harus pulang dengan taksi karena mobilnya tiba-tiba mogok. Sampai di rumah, bukannya disambut baik, Jeany mengacuhkannya karena lupa kalau mereka punya janji makan malam. Belum lagi Adam yang meminta bantuannya untuk mengerjakan PR, padahal ia sangat mengantuk. Semua semakin bertambah buruk karena ia bermimpi menikah dengan pasien nenek-nenek di rumah sakit yang tidak mau diobati itu.

Ia pikir serentetan kesialan itu sudah cukup untuk membuat harinya kacau balau. Tapi semua itu seakan tak ada apa-apanya dibanding dengan satu kegagalannya menyelamatkan nyawa seseorang hari ini.

Kepalanya terasa berat sejak keluar dari ruang operasi bersama Eddy. Karena Eddy memahaminya, maka Eddy mengambil alih tugas untuk menyampaikan berita buruk itu pada teman-temannya yang menunggu di kursi tunggu. Tak banyak yang Eddy katakan. Seingat Allan, Eddy hanya mengatakan bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasil berkata lain. Beruntung –jika masih ada yang bisa disebut keberuntungan- bukan mereka yang akan menyampaikan berita itu pada keluarganya langsung. Mereka sudah sering menghadapinya, menemui orang-orang yang langsung berdiri begitu melihat mereka keluar seakan mereka adalah malaikat pembawa kebahagiaan. Dan ketika apa yang disampaikan bukan sesuatu yang ingin didengar, rasanya kau akan bersumpah tidak ingin lagi menghadapi situasi serupa.

Allan memijit kepalanya. Pasien kali ini merupakan seorang karyawan sebuah perusahaan berita online yang terkena peluru nyasar dari polisi yang sedang melakukan pengejaran pada sejumlah perampok bank. Naasnya, peluru tersebut menembus jantungnya.

“Allan, kau mendengarku?”

Allan tersentak. Ia benar-benar terkejut menemukan Eddy sudah duduk di hadapannya memegang dua cangkir kopi. “Oh, sejak kapan kau masuk?”

Eddy menggelengkan kepalanya lalu menyerahkan secangkir kopi. “Akan sangat jarang kau menemukanku membuat hingga membawakan ini untukmu. Maka yakinlah ini sangat nikmat dan menenangkan.”

Allan tersenyum kemudian meraih cangkirnya. Ia hirup perlahan-lahan karena masih sangat panas.

“Aku tadi bertanya, kenapa kau tidak menjemput Adam?”

“Aku sudah mengirimi pesan pada Jeany. Biar ia saja yang menjemputnya.”

Jawaban Allan yang begitu datar membuat Eddy paham bahwa kawannya itu sedang tidak mau diajak bicara. Nampaknya hasil operasi barusan masih membekas. Ia pun memilih mengaduk-aduk kopinya. Membiarkan suasana menyepi untuk beberapa saat. Namun, tangan kirinya yang menganggur tak sengaja menyentuh figura di atas meja kerja Allan. Ada foto Jeany dan Adam disana. Ia jadi teringat masalah yang sempat dibahas oleh Allan tempo hari.

“Hm…soal Jeany, apa kau sudah bicara dengannya?”

“Maksudmu?”

“Beberapa hari lalu kau mengeluhkan sikapnya yang berubah. Kau sudah tahu alasannya?”

Allan menggeleng. Sikap Jeany yang belakangan nampak sedang punya masalah memang membuatnya tidak tenang. Meski berkali-kali Jeany meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja dan bisa menyelesaikannya, ia merasa keadaannya tidak seperti itu. Dan lagi, apapun itu…kenapa ia tidak boleh tahu?

“Aku tidak punya saran apa-apa untukmu dan silahkan tertawakan aku. Tapi aku merasa perubahan sikap Jeany ada kaitannya dengan kedatangan pria itu.”

“Pria itu?” tanya Allan tanpa melirik Eddy seakan ia penasaran siapa yang dimaksud.

“Kau tahu siapa yang kumaksud. Bukankah saat pertama kali ia ke rumahmu, ia juga terkejut dan-“

“Mereka saling mengenal meski Jeany tak begitu mengingatnya.”

“Apa kau masih mengingat wajah dari pengantar koran di daerah rumahmu sepuluh tahun lalu secara jelas?”

Allan kembali menghirup kopinya, mendadak AC ruangannya tak terasa.

“Bukankah Jeany tak pernah kembali ke Korea lagi sejak sepuluh tahun? Maksudku….aku bahkan tak mengingat siapa pasien yang paling sering cek up denganku selama bertahun-tahun disini kecuali aku membuka daftarnya lalu mencoba untuk mengingatnya.”

“Yesung sudah mengatakan bahwa dulu Jeany dan keluarganya merupakan pelanggan setianya. Mereka berteman, lebih dari sekedar pembeli dan penjual,” sanggah Allan cepat sebelum Eddy melanjutkan analisisnya. Tapi seberapapun ia berusaha membantah, ada setitik persetujuan dalam dirinya akan semua yang dikatakan oleh Eddy.

Ia mulai gelisah. Pulpen ditangannya ia ketuk-ketukkan ke pinggir cangkir hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Sepertinya ia takkan bisa tenang sebelum mendapatkan kebenarannya. Ia ingin sekali mendengar pernyataan keduanya bahwa apa yang ada dipikirannya adalah salah besar. Tapi ia takkan buang tenaga untuk bertanya pada Jeany. Jika Jeany berkata tidak ingin bercerita, maka tidak akan ada yang bisa ia harapkan. Satu-satunya yang bisa memperjelas semua ini hanyalah…

“Dokter!!”

Seorang suster masuk dengan tergesa. Belum sempat Allan bertanya, handphonenya lebih dulu berdering. Jeany menelpon.

“Hallo?”

“Allan..”

Ada yang aneh dengan suara Jeany. Ia seperti sedang menangis.

“Jeany? Apa yang terjadi?”

“Adam….dia…”

“Ada apa dengan Adam?” seru Allan sambil berdiri. Eddy berusaha bertanya padanya dan suster yang tadi masuk pun seakan ingin menginterupsi, tapi ia mengarahkan telunjuknya pada mereka agar tenang dulu.

“Jeany, katakan ada apa!”

Suara Jeany semakin berat. Samar-samar ia mendengar suara orang lain disana yang sedang menenangkannya.

“Adam ada disini.”

“Disini? Maksudmu…”

Dilihatnya Eddy berbicara  dengan suster tersebut. Sejurus kemudian, raut wajah Eddy sama paniknya. Allan sudah akan mengacuhkannya kalau saja Eddy tak langsung berseru, “Adam ada di ER! Ia terluka parah!”

Seperti mesin yang tak mau menyala, butuh beberapa detik bagi Allan untuk memahami maksud kalimat sederhana itu. Begitu Eddy menariknya, ia sadar apa yang baru saja ia dengar. Handphonenyapun jatuh begitu saja, kemudian ia tak menyadari apapun setelahnya, termasuk ketika ia nyaris menjatuhkan makanan yang didorong oleh seorang perawat. Yang ia tahu, menit berikutnya ia sedang berlari menuju ruang emergensi bersama Eddy. Ia pun dapat melihat Jeany berdiri disana bersama………….Yesung.

“Apa yang terjadi?”

Jeany menghambur dalam pelukannya. Ia bertemu pandang dengan Yesung dan ia bisa melihat dengan jelas terdapat noda darah dilengan serta pakaiannya.

“Jeany, tenanglah.”

Ia lalu menuntun Jeany yang sedang menangis untuk duduk di sebelah Yesung, sedang ia berjongkok tanpa melepaskan pegangan ditangannya. Ia berusaha agar Jeany bisa mengatur nafasnya lebih dulu. Tapi intruksinya hanya bertahan beberapa detik. Begitu bibirnya terbuka, tak ada kata yang keluar selain nama Adam dan tangis yang lebih kencang.

“Ssstt…tenanglah. Aku akan masuk ke dalam dan menanganinya.”

Sebelum masuk bersama Eddy, ia kembali berpandangan dengan Yesung. Dan kali ini …….ia merasa kecurigaannya semakin beralasan.

***

Kedua tangannya gemetar. Ia basuh mukanya berkali-kali hingga bajunya sedikit basah terkena percikan air.

Kumohon jangan katakan ini kenyataan! Bangunlah! Ini hanya mimpi buruk! Ini hanya mimpi buruk!

Yesung pun membuka mata. Sayangnya tak ada yang berubah. Ia masih ada di toilet sambil menatap dirinya sendiri dicermin. Dan noda-noda itu masih tersisa.

Ia meninggalkan Jeany seorang diri disana. Ia tahu Jeany belum berubah dan tak butuh siapapun untuk meredakan kepanikannya. Tak ada yang bisa menenangkannya begitu mudah selain Jeany sendiri. Lagipula….ia sendiri mengalami hal yang sama.

Ia masih tak percaya apa yang dialaminya hari ini. Setelah berdebat dengan Jeany pagi tadi, ia memutuskan tetap bekerja meski setelahnya ia harus berurusan lagi dengan atasannya. Lalu ia keluar dijam makan siang bersama Crish. Crish kembali lebih dulu sementara ia memutuskan singgah di sekolah Adam.

Ini memang aneh. Tak ada alasan pasti kenapa ia melakukannya. Ia hanya mengikuti naluri. Begitu melihat segerombolan anak nakal yang waktu itu sempat mengganggu Adam berlari dari dalam sekolah, kedua kakinya langsung melangkah hingga melewati pagar. Dan belum sampai sepuluh detik, ia mendengar suara teriakan yang terdengar cukup jauh. Ia pun berlari sambil ikut berteriak agar orang itu memberitahu lokasinya.

Butuh beberapa menit baginya untuk mengelilingi gedung sekolah itu hingga akhirnya sesuatu yang sama sekali jauh dari bayangannyapun ia temukan.

Adam tak sadarkan diri dengan kedua tangan terikat.

Sekarang ia tak bisa menjelaskan perasaan macam apa yang sedang melingkupinya. Ia cemas dan khawatir lebih dari yang seharusnya. Ini  tak wajar tapi ia tak bisa menolaknya.

Ia pernah menolong anak tetangganya sewaktu muda dulu yang tertabrak mobil. Lukanya parah dan mengalami koma selama berhari-hari. Saat itu ia juga khawatir, tapi ia masih bisa tersenyum, mengelus bahu kedua orang tuanya lalu berpamitan pulang untuk kembali ke akiftas semula. Ia iba, namun dalam batasannya. Sedang sekarang……

Ketakutan sudah menguasai dirinya sampai ia tak mau kembali kesana untuk mendengar pemberitahuan Allan. Ia tak mau mendengar hal buruk. Melihat dan menggendongnya beberapa saat lalu sudah cukup membuatnya hilang tenaga.

Apakah pantas ia merasakan semua ini setelah apa yang dikatakan oleh Jeany pagi tadi?

“Kau sudah membunuh anakku!”

Jeany sudah menegaskannya dan rasanya ia tak punya alasan untuk berharap lagi. Tapi perasaan ini…benar-benar tak ia mengerti. Wajar ia memikirkannya, tapi yang ia rasakan jauh lebih besar dari sekedar khawatir. Saat menggendong tubuh lemah itu, saat tidak merasakan nafasnya, dan saat melihatnya terbaring, seluruh energi dalam dirinya tersedot hingga nyaris habis.

Dan ketika ia memutuskan untuk keluar, tulang-tulangnya serasa lepas begitu melihat Jeany menangis histeris dalam pelukan Allan. Ia tak mendengar apa-apa, tapi sekarang ia semakin tak punya kekuatan untuk mendengarnya.

**

Leeteuk tak pernah berniat untuk turut campur dalam masalah Yesung. Sejak awal Yesung memutuskan untuk menikahi Jeany, ia hanya memberikan sedikit nasehat serta hal-hal standar yang disampaikan seorang kakak pada adiknya yang akan menikah. Bahkan setelah segala hal yang terjadi pada mereka belakangan ini, ia hanya sedang berusaha menjadi saudara yang baik, bukan berniat mencampuri urusannya. Ia meluangkan lebih banyak waktunya untuk mengunjungi Yesung dan bertanya apakah  semua baik-baik saja. Ia tidak mau jika kejadian beberapa waktu lalu terulang.

Meski kadang ia sadar bahwa Yesung merasa risih dengan sikapnya, ia tetap berusaha tak melampaui batas. Posisinya hanya ingin menjadi pendengar dan sandaran bagi Yesung agar tidak menjadikan gelas atau benda-benda lain lagi sebagai pelarian. Lagipula ia sama sekali tak punya bakat dalam hal percintaan. Ia tak berbakat untuk urusan yang dipusingkan oleh Yesung. Tapi apa yang ia dengar beberapa detik lalu membuatnya mau tak mau harus ikut dalam masalah ini. Ia sudah mengetahuinya. Ia sudah dengar semuanya.

Apakah Tuhan sudah mengatur segalanya? Ia tak begitu percaya akan hal-hal semacam itu. Namun, yang dialami Yesung dan dirinya belakangan ini seakan mementahkan segala pandangannya. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak hal tidak masuk akal yang benar-benar terjadi.

Yesung memutuskan pindah. Yesung tinggal hanya beberapa meter dari Jeany. Dan sekarang tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang mengetahui sesuatu. Ini benar-benar aneh. Mereka saling mengenal untuk waktu yang cukup lama, tapi berita ini baru ia dengar.

“Apa kau yakin dengan yang kau katakan?”

“Aku hanya menceritakan hal yang memang terjadi. Ada yang salah? Aku adalah dokter yang menangani persalinannya kala itu. Aku juga yang mengangkat rahimnya.”

Leeteuk menggeleng. Ia berpandangan dengan Casey yang sebenarnya memang menjadi tujuannya minum kopi disini. Sejenak mereka tak mengatakan apa-apa kemudian sama-sama mengangguk.

“Tunggu, apa terjadi sesuatu pada Jeany dan anaknya? Kalian membuatku berpikiran yang tidak-tidak.”

Spontan Leeteuk berdiri sambil menjentikkan jarinya. Sudah lama sekali ia tak merasa begitu bersemangat seperti ini seakan ditangannya terdapat kunci dari peti harta karun. Ia menatap pria yang duduk dihadapannya itu.

“Tidak. Kami justru merasa beruntung bertemu denganmu hari ini. Dan kalau Jeany bertemu denganmu, dia pasti akan sangat senang. Tapi sebelum bertemu dengannya, ada baiknya kau kupertemukan dengan adikku.”

Pria itu nampak kebingungan. Leetuk yang begitu bersemangat dan Casey yang tetap duduk tenang sambil menyesap kopi. Tapi keduanya kompak memandangnya dengan serius.

“Sebenarnya apa yang sudah kuperbuat pada kalian? Dan….kenapa aku harus bertemu dengan adikmu, Dennis?”

Casey dan Leeteuk memandang pria setengah abad itu sambil menjabat tangannya. Meski merasa aneh dan tak paham, pria itu tetap menyambutnya.

“Karena kau punya informasi penting untuknya,” jawab Leeteuk dengan gembira. Ia lalu beralih pada Casey.“Kita harus sampaikan ini pada Yesung.”

Casey tak mengangguk ataupun berkata tidak karena Leeteuk sudah mengeluarkan handphonenya tanpa menunggu persetujuannya.

“Hallo? Yesung? Kau dimana? Apa kau punya waktu? Aku rasa kau harus mendengar ini. Ini tentang-“

“Aku ada di rumah sakit.”

“Apa?”

Leeteuk menatap Casey dan pria itu bergantian. Yesung terdengar  sangat kelelahan.

“Kau terluka? Atau…”

“Adam yang ada disini. Adam yang sedang terluka.”

Leeteuk duduk dengan perlahan. Ia menunggu-nunggu Yesung melanjutkan perkataannya. Tapi suara Yesung tak kunjung terdengar. Ia pun berpikir untuk memutuskan sambungannya dan pergi ke rumah sakit sekarang juga saat tiba-tiba suaranya terdengar lagi.

“Aku akan segera pulang, hyung. Aku akan segera pulang.”

Ia tahu ini bukan hal biasa. Dari suaranya, dari nada bicaranya, seperti ada sederet duri yang menyumbat ditenggorokannya. Ia bisa merasakan itu. Maka ia biarkan sambungan terputus setelahnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Casey yang kembali menarik kursi dan duduk disampingnya. Leeteuk tak langsung menjawab, dipandangnya handphonenya yang akan mati karena kehabisan daya. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya.

“Sepertinya ini bukan saat yang tepat.”

***

Adam kritis. Sesuatu yang keras menghantam dadanya yang bukan hanya mencederai tulang rusuknya, tapi juga menyebabkan gangguan pada fungsi jantungnya. Saat Allan menyampaikannya, Jeany nyaris pingsan. Padahal Allan belum menjelaskan detailnya. Ia tahu Jeany takkan peduli apapun yang akan ia jelaskan selain garis besarnya. Dan hal yang paling jujur serta realistis adalah bahwa kondisinya memang kritis.

Jeany tidak berhenti menyalahkan diri sendiri karena terlambat menjemputnya. Ia mengumpat. Ia menyebutkan kata-kata kasar yang bahkan tak dipercayai oleh Allan akan keluar dari mulutnya.

Setelah sembilan jam berlalu dan hari semakin larut, Jeany belum juga mau melepaskan tangan Adam dari genggamannya. Ia setia duduk di sebelahnya, mengusap tangannya dan mulai memperdengarkan lagu-lagu kesukaannya.

Ketika sedang sakit, dulu Adam selalu ingin didengarkan lagu-lagu dari Nirvana, U2 hingga Rolling Stones dibanding minum obat.  Meski Jeany akan menurutinya, ia selalu punya cara supaya obat masuk ke dalam perutnya. Tak banyak yang tahu hal tersebut selain ia dan Allan. Menurut Adam, entah bagaimana caranya suara keras gitar, drum dan bass dari lagu-lagu itu mampu membunuh virus-virus dalam tubuhnya. Dan secara ajaib esoknya ia pasti akan merasa sehat. Ia dan lagu-lagu rock itu seperi dua senyawa yang sulit dipisahkan. Seperti api yang hanya pada jika disiram oleh air. Lalu dengan bangga ia akan berkata bahwa ia tak pernah butuh minum obat jika sakit. Ia hanya tidak tahu apa yang sudah dilakukan ibunya.

Selera Adam memang berbeda dengan orang tuanya. Ia mendapatkan itu dari kakeknya yang dulu mengenalkan jenis musik tersebut sejak ia balita. Adam tumbuh bukan bersama lagu anak-anak dari serial anak semacam Barney, melainkan dengan suara dari Kurt Cobain dan Bono. Di umur 5 tahun, ia sudah punya video sendiri yang di upload oleh kakeknya ke youtube yang memperlihatkan kemampuannya menyanyi serta menirukan gaya dari Kurt Cobain. Bahkan dulu saat Adam masih sangat kecil, ia tak mau mendengarkan lagu ‘are you sleeping brother John’ dari Jeany.

“Kau sangat lelah. Tidurlah.”

“Dia sedang kesakitan. Dia lebih lelah dariku. Bagaimana aku bisa tidur?”

Allan menunduk. Diusapnya bahu Jeany perlahan-lahan sambil mentransfer kekuatan yang masih tersisa dalam dirinya. Ini pun bukan hari yang mudah baginya. Ia belum lupa apa harapannya siang tadi setelah gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi kenyataan sedang membawanya ke atas kapal ditengah ombak. Belum selesai penyesalannya, ia justru harus menghadapi hal lebih buruk lagi. Bukan tentang nyawa orang lain, melainkan anaknya sendiri.

Adam memang mampu bertahan sampai detik ini. Tapi ia tak mengatakan apapun pada Jeany jika keadaannya jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan semua orang. Dan ia sendiri tak mau menyiapkan diri untuk menghadapi situasi terburuk karena ia yakin Adam mampu bangkit. Adam adalah anak yang menyebalkan. Ia tahu itu. Tuhan pasti akan berpikir dua kali untuk mengambilnya. Ini pasti hanya hukuman untuk mereka karena akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

“Kapan ia akan bangun?” tanya Jeany lirih. Allan sampai tak tega mendengarnya. Ia lalu mengecup puncak kepalanya sambil menindih tangannya dan juga Adam untuk menyatukan kekuatan mereka.

“Ia pasti akan bangun. Bagaimanapun juga…ia tidak akan tahan berdiam diri sambil mendengar ibunya menangis. Ia justru ingin kau tidur. Dan begitu kau membuka mata, ia sedang tersenyum sambil memohon perhatianmu. Kau tahu dia bisa jadi sangat manja,” bisik Allan tepat ditelinga Jeany. Jeany pun tersenyum sambil menangis. Allan menguatkan pegangannya dan sekali lagi mengecup kepalanya.

“Kau memang harus istirahat. Aku akan pulang sebentar mengambil pakaian dan perlengkapan lain. Ada yang ingin kau titipkan?”

Jeany menggeleng. Tak ada yang ia inginkan selain kesadaran anaknya. Allan pun  mengerti hingga tidak menanyakannya lagi. Setelah dirasa aman dan Jeany meletakkan kepalanya disisi tempat tidur, ia keluar perlahan-lahan. Dan ketika ia sudah melewati pintu, air matanya nyaris jatuh.

Ia tak merasa menginjak apapun. Ia tak sadar sejauh apa langkahnya, apakah ia salah jalan atau tidak, ia sendiri tidak tahu. Panggilan Eddy diacuhkannya. Sapaan dari beberapa dokter lain juga tak digubrisnya. Tapi sambil berjalan menunduk, ia tetap sampai ke tempat parkir mobilnya.

Kepalanya langsung dihempaskan ke kursi. Ia hantupkan pula ke stir berkali-kali hingga kekesalannya terlampiaskan. Rasa kantuknya sudah lenyap. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanya satu. Adam.

Sejak melihat keadaannya sore tadi, ia bersumpah akan mencari siapa pelaku kekerasan ini. Adam masih kecil. Hal buruk macam apa yang bisa diperbuat anak usia 9 tahun sampai harus dihukum seperti itu?

Ia tahu anaknya bukan anak lugu yang akan selalu mengangkat tangan saat guru butuh sukarelawan yang ingin membersihkan papan tulis. Anaknya bukan anak penurut yang mengerjakan PR tepat waktu. Adam kadang mengerjakannya  dipagi hari, di dalam mobil sambil makan roti sosis buatan Jeany. Adam juga baru-baru ini menjahili teman-teman perempuannya. Tapi semua itu masih dalam batas wajar kenakalan anak-anak. Sedang apa yang terjadi pada anaknya saat ini adalah kekerasan.

Sekarang ia berusaha untuk tenang di depan Jeany. Ia tahu Jeany adalah orang yang paling merasa bersalah disini. Jeany benar-benar lupa siapa sebenarnya biang dari apa yang dialami oleh Adam. Tapi Jeany tak butuh pendapat orang lain. Apa yang ia pikirkan adalah kebenaran dimatanya.

Hari benar-benar sudah larut saat ia tiba di rumah. Ia pun baru akan turun dari mobil ketika sadar siapa yang sedang duduk di teras rumah sebelahnya.

Ia tersenyum samar.

Pria itu…ia belum sempat bertanya apa-apa padanya.

**

Yesung menyipitkan matanya melihat sebuah mobil baru masuk ke halaman rumah Jeany. Sudah hampir dua jam duduk di teras rumahnya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kondisi seperti sekarang. Padahal sebelumnya ia pulang agar bisa istirahat. Tapi yang ia lakukan setelah mandi hanyalah duduk menyendiri, melihat ke halamannya yang beberapa hari ini sering dipakai Adam bermain.

Sebetulnya ia ingin tetap di rumah sakit. Ia bahkan belum sempat melihat keadaan anak itu. Tadi ia langsung berpamitan pulang seakan ia hanya tetangga biasa yang punya banyak pekerjaan di rumah hingga tak bisa berbuat lebih untuk mereka. Tapi jika ia memberanikan diri berada disana lebih lama, ia merasa itu agak berlebihan. Apalagi setelah bertemu Allan, entah perasaannya saja atau memang benar Allan menatapnya dengan cara yang berbeda. Bukan Allan yang pernah berkata padanya bahwa ia adalah tetangga yang menyenangkan.

“Hari yang berat,” ujar Allan setelah turun dari mobilnya. Yesung langsung berdiri lalu berjalan mendekatinya dan berhenti di pekarangan rumahnya.

“Bagaimana keadaan Adam? Dia baik-baik saja?” sambarnya tanpa basa basi. Ia mungkin tidak ingat bahwa beberapa detik lalu ia berpikir untuk tidak bertingkah aneh agar Allan tak curiga.

Allan pun tersenyum mendengarnya. Ia gerakkan kepalanya ke kanan sebagai kode, kemudian masuk ke dalam rumah. Yesung, tanpa ragu mengekor di belakang. Ia ikut masuk, lalu langsung duduk disofa.

“Aku pulang untuk mengambil pakaian Adam dan Jeany.”

Yesung mencoba rileks di tempatnya. Tapi ia penasaran kenapa Allan tak menjawab pertanyaannya. Dan sekarang pria itu bukan sedang mengumpulkan pakaian-pakaian Jeany ataupun Adam, melainkan ke dapur, membuka lemari lalu mengambil botol minuman.

“Allan…”

“Temani aku minum.”

Yesung menerima segelas minuman dari tangan Allan. Ia tidak mengerti, tapi setelah melihat Allan menenggaknya begitu mudah, ia mulai paham bahwa Allan pun sedang dalam suasana hati yang tak menyenangkan. Yang mana bisa ia artikan bahwa keadaan Adam tidaklah baik.

Akhirnya ia ikut minum. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan Allan yang sedikit melorotkan tubuhnya. Kepalanya bersandar pada punggung sofa.

“Bagaimana caranya kau ada disana?” tanya Allan dengan mata terpejam. Yesung sudah menduga kalau pertanyaan itu akan ia dengar.

“Aku hanya kebetulan lewat dan melihat anak-anak yang dulu pernah mengganggu Adam berlari keluar. Lalu aku mendengar suara teriakan dan…yah, aku menemukannya.”

“Aku juga sudah dengar soal itu.” Allan sedikit mengangkat kepalanya, meminta Yesung menuangkan minuman lagi kemudian meminumnya. “Maksudku…soal anak-anak nakal itu.”

“Sudah kuduga Adam takkan menyimpannya sendiri.”

“Tidak ada rahasia apapun diantara kami berdua.”

Yesung mengingat kembali saat ia datang ke sekolah Adam dan berhasil mencegah kenakalan anak-anak itu yang hampir mencelakainya. Terlambat sedikit saja, mungkin akan lain ceritanya.

“Apakah keduanya memang cuma kebetulan?” tanya Allan dengan seulas senyum. Yesung memperhatikan wajah itu dan ia ragu untuk menebak maksud pertanyaan tersebut.

“Mungkin Tuhan hanya menempatkanku di tempat dan waktu yang tepat,” jawabnya dengan tenang meski ia sendiri tak yakin dengan jawabannya.

“Kenapa itu kau?” tanya Allan lagi yang kali ini mulai membuat Yesung tak nyaman. Jika tebakannya benar dan Allan memang sepandai yang ia bayangkan, sepertinya ada sesuatu yang tercium oleh Allan.

“Aku tidak tahu.”

Lama keduanya sibuk dalam diam. Yesung memilih membuang pandangannya ke seluruh ruangan dan ia baru menyadari bahwa rumah ini sangat mewakili seorang Jeany. Wanita itu tak pernah berubah rupanya. Secara iseng ia menyolek salah satu bagian pinggir meja dan ia tak menemukan debu sedikitpun.

Ia bisa melihat tidak ada satu kaos kaki atau benda sekecil apapun yang tercecer dilantai seperti kondisi apartemen mereka kala itu. Baunya harum. Ada banyak replika motor jenis Harley Davidson dari kayu yang berdiri rapi di atas meja dekat televisi. Tepat diatasnya, terdapat pajangan-pajangan berupa sesuatu yang dibingkai. Jika tebakannya benar, itu semacam piagam yang mungkin merupakan milik Adam dan Jeany. Ia tak bisa membacanya. Dan setelah semua itu, tanpa bisa ditahan ingatannya melayang ke masa dimana ia dan Jeany bertengkar hanya karena ia yang sangat berantakan.

Jika ia pulang dengan melempar sepatu dan kaosnya, Jeany akan marah. Jika ia melempar handuk sembarangan, Jeany juga marah. Jika ia membiarkan gelas bekas minumnya diatas meja, Jeany pasti akan marah. Bahkan hanya karena ia tidak membuang botol bekas sampo yang sudah habis, Jeany tetap marah. Selalu ada hal sekecil apapun yang bisa menyulut kemarahan Jeany, dan hanya ada satu cara bagi Yesung untuk membungkamnya.

Menciumnya.

Tak sadar ia tersenyum sendiri. Ia lalu meraih gelasnya, menuangkan minumannya setengah.

“Aku sangat menyayanginya,” ujar Allan tiba-tiba. Yesung yang hendak minum menunda gerakannya. “Adam?”

Allan mengangguk. “Aku sangat menyayanginya meskipun ia bukan darah dagingku.”

Yesung terbatuk. Gelasnya nyaris jatuh kalau saja ia tak cepat-cepat meletakkannya. Ia lalu menoleh cepat pada Allan yang sedang tersenyum.

“Allan…kau…”

“Aku bertemu dengan Jeany saat Adam berusia dua tahun. Aku langsung jatuh cinta padanya.”

Yesung memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja dadanya sakit. Jadi….Adam…

“Adam adalah anak yang lucu. Pertama melihatku, ia langsung mengarahkan tangannya padaku. Saat itu sebenarnya aku masih tidak terbiasa. Aku tak pernah berurusan dengan anak kecil seumur hidupku. Tapi setelah menggendongnya, semuanya terasa nyaman. Kamipun bisa dekat dengan mudah.”

Ia merasa kepanasan meski diluar cuacanya lumayan dingin. Dan sekarang ia yakin wajahnya sudah sepucat mayat. Cara Allan mengatakan semuanya berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Semua seakan sedang berputar-putar di sekelilingnya. Allan yang masih duduk di sampingnya dan semua perabotan yang tersusun disana, semua seperti bergerak-gerak tidak karuan sementara cerita itu terus berlanjut.

Mereka berhubungan, tinggal serumah dan baru memutuskan menikah ketika Adam sedikit lebih besar. Allan menceritakan semuanya dengan detail tanpa diminta. Dan dalam kisah itu, mereka bertiga adalah keluarga kecil yang sangat bahagia. Tapi ada satu bagian yang membuat nafasnya terhenti.

“Adam adalah anak dari pernikahan Jeany yang terdahulu.”

Kabut-kabut yang berdiri di depannya mulai berhamburan. Celahnya terus terbuka seiring dengan Allan yang terus berdongeng untuknya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia tak pernah membaginya dan aku pun merasa tidak perlu tahu. Yang aku tahu, aku sangat menyayangi mereka. Jeany dan Adam. Mereka telah membuat hidupku sempurna.”

Yesung berdiri. Ia belakangi Allan dan perlu berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh. Semuanya pun semakin jelas dalam penglihatannya. Kenapa Jeany panik melihatnya. Kenapa Jeany begitu ingin Adam menjauh darinya. Dan kenapa ia merasakan sesuatu saat pertama melihat Adam.

Sifat anak itu…caranya bicara, gaya berjalannya, lalu wajahnya…matanya…

“Kau yakin mereka tidak meminta syarat apa-apa?”

“Kau sudah meminum susunya?”

“Ah, kau kemari untuk meminta tanda tangan Jeany?”

“Jeany sudah menikah? Kau bisa mati berani mengatakan itu di depan Siwon.”

“Kau sudah membunuh anakku!”

Satu kebohongan lagi ia temukan dari Jeany.

“Sepertinya aku malah membuang waktumu, maaf.”

Dilihatnya Allan berdiri dengan sedikit lunglai. Belum juga sampai ke dalam kamar, Allan berhenti untuk mengangkat handphonenya.

“Hallo? Jeany?”

Ia kembali berpaling. Lebih baik ia segera pulang lalu ke rumah sakit besok sore setelah bekerja. Sekarang ia butuh udara segar, dan itu tidak akan pernah ia dapatkan disini, di tempat dimana orang yang sudah membuatnya seperti orang bodoh tinggal.

“Apa?”

Langkahnya tersendat sebelum ia menggapai pintu. Suara Allan begitu jelas sampai ia harus kembali ke dalam dan menemuinya. Tapi Allan lebih dulu muncul lalu tergesa-gesa menarik kunci mobil.

“Aku harus ke rumah sakit. Kondisinya semakin menurun.”

Tidak! Tidak boleh terjadi apa-apa pada anaknya! Dan ia tidak bisa disini saja jika disana anaknya sedang membutuhkannya.

“Allan!” panggilnya keras sesaat sebelum Allan menyalakan mobil.

“Aku ikut.”

***

Mereka membelah jalan ditengah malam. Kendaraan sudah tidak padat. Mudah bagi Allan untuk berpacu dengan waktu. Tapi tak mudah bagi Yesung untuk diam di sampingnya.

Allan baru saja menjelaskan apa yang disampaikan oleh Jeany. Bukan Jeany tepatnya, karena Jeany sibuk menangis hingga telepon harus diambil alih oleh Eddy. Allan sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya Eddy ada disana dan bicara dengannya sedang harusnya Eddy baru kembali besok pagi. Jadwalnya sudah selesai. Tapi itu bukan menjadi fokus mereka.

“Dia akan selamat! Dia akan baik-baik saja!” Tanpa sadar Yesung mengucapkannya tanpa jeda. Ia tak memikirkan apa-apa lagi selain terus berdoa. Ia memejamkan mata, mengatupkan kedua tangannya lalu sekali lagi merapal kalimat-kalimat itu.

Ia memang bukan umat yang taat. Tapi setidaknya ia akan menyempatkan ke gereja di saat natal dan hari paskah. Dan ia juga bukan orang jahat. Ia selalu berbuat baik. Jika Tuhan semurah hati yang ada dalam benak semua orang, maka ia harap Tuhan sudi mengabulkan doanya, tepatnya doa Allan dan Jeany juga.

Dan begitu mobil berhenti, Yesung berlari lebih kencang dari Allan. Ia nyaris terpeleset karena licinnya lantai. Beberapa detik kemudian, ia melihat Jeany menangis dalam pelukan Eddy. Ketika akhirnya mereka menyadari kehadirannya dan Allan, Jeany langsung berlari memeluk suaminya itu.

“Adam….dia…”

Yesung mengepalkan kedua tangannya. Tangis Jeany bisa mengartikan banyak hal, dan salah satunya adalah kemungkinan paling buruk dari semua ini. Tapi ia tak mau meyakini apapun, tak mau bermain tebak-tebakan. Siapapun yang bisa menjawabnya, katakan bahwa Adam sudah sadar!

Namun, yang kemudian ia lihat justru isyarat yang bertolak belakang. Eddy dan Allan berpandangan. Eddy menggeleng dan Allan pun menyusul Jeany dengan menangis. Ia lalu ikut menatap Eddy. Ia tak mengenalnya, tapi dari wajahnya, pria itu bukan orang yang suka membuat lelucon.

“Apakah dia…baik-baik saja?”

Eddy menunduk. Jeany berteriak memanggil nama Adam lalu jatuh pingsan dalam dekapan Allan. Yesung pun memutuskan menerobos pintu masuk ruang ICU. Ia sudah akan memanggil Adam juga saat seorang suster menarik kain putih dari batas perutnya menuju kepalanya.

Tidak!

Jangan!

Jangan lakukan itu!

“Adam!!!”

Ia singkirkan tangan suster itu, lalu menangkup wajah Adam.

“Adam! Kau harus bangun! Bangunlah! Buka matamu!”

Aneh, matanya tertutup rapat. Kulitnya yang putih jadi semakin putih dan terasa dingin.

“Adam, kau mendengarku? Dengar! Kau harus kembali. Jangan pergi!”

Air matanya jatuh ke pipi Adam. Ia tepuk-tepuk pipi itu lalu mencium dahinya. Mungkin Adam hanya kehilangan detak jantungnya selama beberapa saat seperti yang pernah dilihatnya dalam film. Tidak ada yang mustahil. Bisa saja Adam secara tiba-tiba akan meresponnya lalu merajuk karena pipinya ditepuk.

“Hey, kau harus membuka matamu. Kita akan bermain bola bersama. Aku akan mengajakmu menonton pertandingan Liverpool akhir pekan nanti. Kau suka pemain yang mana? Aku akan menemuinya dan kita bisa berfoto dengannya.”

“Tuan, dia sudah pergi.”

Persetan dengan suster-suster itu. Ia terus melakukan segala usaha agar Adam sadar.

“Adam, bangunlah! Aku ayahmu! Kau harus tahu aku adalah ayahmu!!!”

“Tuan…”

“Menyingkir kalian semua! Jangan ada yang mendekatinya!!” Ia berteriak. Ia tak peduli apapun saat ini selain anaknya. Anaknya harus bangun dan melihatnya. Tapi semakin keras ia berusaha, semua hanya tampak sia-sia. Memar diwajah itu masih ada. Kulitnya sudah berubah pucat. Dan tidak ada satu tarikan nafas atau detak jantungnya saat ia menempelkan telinga ke dadanya.

“Adam! Kumohon…”

Anak itu tetap tak merespon. Sekali lagi Yesung mencium dahinya lalu mencoba mengatakan sesuatu. Namun, bibirnya sudah tak bisa bekerja.

“Adam….tolong….”

Ia jatuh bersimpuh tanpa melepaskan tangan Adam. Dan dadanya semakin sesak saat merasakan tangan itupun sangat dingin.

“Adam…bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku. Aku bahkan belum sempat memelukmu. Kau belum sempat memanggilku sebagai ayahmu.”

Tangisnya tak tertahan lagi. Ia remas telapak tangan yang semakin dingin itu. Ia tak mau melepasnya. Jangan suruh ia melepasnya.

“Tuan…maafkan kami.”

Akhirnya ia menyerah. Ia biarkan dirinya ditarik lalu suster sialan itu melanjutkan tugasnya hingga seluruh tubuh Adam sudah tertutup kain putih.

Kali ini ia tak menangis. Matanya menatap kosong pada tubuh itu yang sudah tak terlihat. Ia jatuh lagi kelantai dan tak sadar siapa yang berdiri di belakangnya.

Allan…mendengar semuanya.

***TBC***

4 Comments (+add yours?)

  1. hilma nugraheny
    Jul 16, 2015 @ 15:37:12

    Uwaaa…..chapter ini sedih bgt… knp adam hrs meninggal???
    Kasihan jeany, dia udh gk pny rahim lagi😦
    Kasihan yesung, dia baru tahu kenyataan saat adam udh pergi… huwaaaaa… smg aja itu cuma mimpi, atau cuma kebetulan.. tba2 ada mukjizat, trs si adam kmbli lagi..
    Msh brhrp endingnya si jeany kembali sma yesung..
    Semangat ya thor lanjutin ff nya… fighting~~

    Reply

  2. ShikshinCloud
    Jul 16, 2015 @ 20:20:52

    oh.. my.. god..
    kenapa adam.. hufft
    author kenapa chapter ini sedih banget? T_T
    allan udah tau semua nya sekarang, oh my.. bikin tambah penasaran >w<

    Reply

  3. Mauleeda65
    Jul 17, 2015 @ 00:15:48

    Huaaa thor ini seru banget!!! Duh jadi gak sabar pengen liat kelanjutnnya, adam nya hidup lagi kek, kasian yesung TT NEXT THOR!! KEREN :v

    Reply

  4. sssaturnusss
    May 03, 2016 @ 02:52:34

    Temen yg keroyok adam itu kriminal !!! Aku emosi deh -_- harusnya laporin ke polisi .. Ada adegan laporin polisi ngga ? Aku pengen hajar ajh itu anak anak !!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: