Angel’s Call [8/?]

angels call

Author : Sophie Maya

Title     : Angel’s Call (008)

Cast     : Cho Kyuhyun, Moon Chae Won (OC), Choi Siwon, Lee Sungmin, Henry, Zhoumi, etc

Genre  : School-life, romance

Rating : G

Length : chapter

Note    : original fanfiction was published on my personal blog: www.sophiemorore.wordpress.com

 

“Every girl has a reason to smile.”

-Moon Chae Won-

 

Chae Won datang ke rumah Siwon sepuluh tahun lalu. Saat itu Siwon sedang bermain tanah becek bersama teman-temannya di halaman belakang. Sebekas hujan tadi siang, suasana sore itu sedikit lembab dan berangin. Siwon memakai jas hujan milik ayah yang kebesaran, lalu berpura-pura menjadi boneka pemanggil hujan yang menggemaskan. Semua orang berpendapat sama, bahwa si gembul Siwon dengan kepala pelontosnya adalah bocah kecil yang imut-imut. Teman-temannya juga berpendapat sama. Mereka menggandeng tangan Siwon dan mengajaknya berlari mengitari halaman, lalu terlentang penuh kelelahan di atas tanah becek sembari tertawa-tawa. Terkadang sembari mencubiti pipi Siwon dan memanggilnya dengan sebutan “aigo, lucu!” dengan nada menggemaskan.

Siwon sedang bergulat dengan Yesung saat itu, ketika tahu-tahu, ibunya memanggilnya masuk ke dalam rumah.

“Masuklah! Ada tamu!” perintah ibu.

“Ya, Bu…” jawab Siwon. Tetapi masih berlari mengejar Yesung, Eunhyuk, dan Leeteuk.

“Siwooonnn!!” teriak Ibunya lagi, selang sepuluh menit Siwon tak kunjung masuk rumah.

“Ugghh…” Siwon membulatkan bibirnya. Dia menatap ketika teman kecilnya—Yesung, Eunhyuk, Leeteuk—dengan pandangan tak rela. “Aku harus masuk dulu, Ibu memanggilku.”

“Kau disuruh mandi mungkin,” ujar Leeteuk menatap langit yang mulai gelap.

Siwon menggeleng. “Tidak, Ibu tadi pagi bilang ada sepupuku yang datang dari Mokpo.”

“Mokpo? Apa dia bawa oleh-oleh?” celetuk Yesung dengan mata berbinar. “Apa dia bawa Piranha?”

“Ngasal kau!” senggol Eunhyuk gemas. “Pilanha mana ada di Mokpo. Adanya di lual negeli.”

Siwon menyeringai. Eunhyuk cadel, sudah kelas empat masih belum bisa melafalkan ‘r’ dengan baik. Sehingga tiap Eunhyuk bicara, Siwon harus siap-siap menahan tawa.

“Tidak tahu juga, kata ibuku, sepupuku akan tinggal di Seoul untuk beberapa waktu,” cerita Siwon dengan raut bosan. “Dia perempuan, ugh, pasti dia membosankan.”

“Ugh, pastinya,” sembur Eunhyuk dan Leeteuk dengan ekspresi bosan yang sama.

Siwon mengangguk malas. Anak perempuan biasanya tidak seru, itu anggapan Eunhyuk dan Leeteuk. Di kelas mereka, mayoritas adalah perempuan dan mereka kerjaannya bergosip, kadang tertawa-tawa, kadang menangis tanpa sebab. Kalau anak laki-laki nakal, guru akan langsung menghukum lari keliling lapangan. Coba kalau anak perempuan yang nakal, mereka dibentak saja sudah langsung menangis. Cengeng sekali.

Siwon pernah sebangku dengan Yoona semester lalu dan dia sampai bolos dua minggu karena Yoona bilang tidak suka duduk sama orang gendut, jelek, dan tukang kentut seperti Siwon (Siwon punya masalah dengan perutnya, maka sebentar-sebentar dia suka kentut). Mereka pun tiap hari selalu berdebat.

Yoona selalu mengeluh dan menyindir Siwon, apalagi saat waktu itu tanpa sengaja Siwon kentut di kelas dan sungguh bau, Yoona langsung meledek Siwon habis-habisan. Siwon kira awalnya hanya candaan saja, tapi tiap hari Yoona mengungkit hal itu dan meledeknya tanpa henti.

Siwon masih bocah kelas empat, awalnya dia memang bisa tertawa dan hanya menggaruk kepala pelontosnya, tapi lama-kelamaan dia menangis juga diledek begitu sama Yoona. Dia pun memutuskan bolos sekolah sampai akhirnya sang wali kelas memisahkan Siwon dan Yoona.

“Kalau dia menyebalkan, kerjai saja dia!” ujar Yesung. “Masukkan kodok ke tasnya!”

“Atau cicak!” seru Leeteuk.

“Betul, betul, betul….” Eunhyuk mengangguk setuju.

Siwon menggaruk kepalanya. “Ide bagus,” katanya senang.

“Siwwooooooonnnn!!!” teriakan Ibu kembali terdengar.

Kali ini Siwon harus benar-benar masuk rumah daripada Ibu nanti mengamuk dan tidak mau membuatkan omelete kesukaannya lagi. Siwon berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Yesung, Eunhyuk, dan Leeteuk melompati pagar tanaman yang memisahkan halaman belakang rumah Siwon dengan jalan raya. Rumah ketiganya tak jauh dari rumah Siwon, hanya selang beberapa blok.

Siwon memikirkan saran Yesung dengan baik-baik, mulut kecilnya berkomat-kamit, berjanji kalau nanti sepupunya seperti Yoona, dia akan memasukkan hewan-hewan mengerikan ke dalam tas sekolahnya.

Air hujan menetes dari jasnya, mengotori lantai rumah. Ibu menyuruh Siwon mandi dulu baru bertemu sepupunya. Siwon patuh, mandi dan berganti baju yang wangi. Dia melangkah ke ruang tamu dengan wajah tertekuk, tidak terlalu bersemangat. Saat kakinya tiba di ruang tamu. Ibu bilang sepupunya sedang duduk di sana bersama Paman dan Bibi.

Pertama-tama Siwon melihat dua orang yang sedikit familiar baginya. Sang wanita mirip sekali dengan ibunya, hanya punya wajah lebih tirus dan lebih muda. Sementara sang pria tampak berwibawa dan tegas. Keduanya pasti Paman Moon dan Bibi Kim. Siwon membungkuk hormat.

“Siwon, titip Chae Won di sini sebentar ya. Kalau nakal, Chae Wonnya dijewer saja,” kelakar Paman Moon.

Bibi Kim dan ibunya Siwon tertawa.

“Ayaahhh… Chae Won tidak akan nakal,” ujar sebuah suara.

Siwon melirik ke arah seorang perempuan yang melontarkan kalimat barusan. Perempuan itu punya rambut panjang sepunggung, matanya bulat besar, dan pipinya juga bulat. Dia sedang duduk sopan di sofa, dengan kedua tangan dipangku di lutut dan kepala tegap ke atas. Perempuan itu menatap Siwon sesaat dan tersenyum lebar, matanya tenggelam di balik pipi bulatnya dan terlihat lucu di mata Siwon.

“Siwon, ini Chae Won. Chae Won, ini Siwon…” ibunya memperkenalkan kedua bocah itu, setengah memaksa mereka bersalaman karena Siwon tampak ogah-ogahan sedangkan Chae Won sedikit kebingungan menghadapi perilaku Siwon.

Chae Won tinggal di kamar atas, di dekat balkon. Sementara Ibu, Ayah, dan Siwon tidur di kamar bawah seperti biasa. Ibu bilang Chae Won itu mandiri, dia tidak perlu tidur ditemani orang tuanya, tidak seperti Siwon yang penakut. Siwon hanya menggembungkan pipi mendengarnya. Ngambek mendengar Ibu memuji anak lain.

Besoknya Chae Won berangkat bersama Siwon ke sekolah, mereka sekelas dan karena Chae Won sepupu Siwon, wali kelas memutuskan mereka sebangku.

Lalu saat itu datang. Ketika perut Siwon mulai bermasalah. Dia kentut tanpa mengeluarkan suara. Baunya menyebar dengan cepat. Semua orang langsung menutup hidung dan berteriak mencari siapa yang buang gas. Kelas jadi riuh tak terkendali.

Siwon menggaruk kepalanya. Dia menyiapkan diri untuk mengakui perbuatannya.

“Hehehe, maaf teman-teman… aku yang kentut.”

Siwon terdiam. Bibirnya belum bersuara sedikitpun, tapi siapa barusan yang mengaku kentut?

Kemudian Siwon melihat tangan Chae Won terangkat tinggi-tinggi. Anak perempuan itu tersenyum lebar. “Perutku lagi sakit, jadinya…. kentut… hehehe….”

Siwon terdiam. Menatap Chae Won tanpa berkata-kata. Sepupunya… mengakui perbuatan yang tak dilakukannya?

“Idiiihhh.. Chae Won jorok!” teriak anak-anak perempuan sambil berjengit jijik. Mereka yang duduk di sekitar Chae Won langsung berdiri dan berlari heboh ke depan kelas.

“Chae Won nyebelin ih!” teriak Sulli.

“Chae Won kau kan perempuan kok kentut di kelas! Ihhh!!” bahu Jessica bergidik.

Semua murid perempuan kompak menyalahkan Chae Won. Mereka ramai dan tak bisa diam.

“Aduh, aduh, aduh, perutku sakit nih…” Chae Won memegangi perutnya sembari meringis. “Kayaknya mau kentut lagi…”

“AAAA!!!!” murid-murid perempuan langsung berlarian keluar kelas, ketakutan. Seolah-olah kentut itu adalah bom atom yang bisa membuat tubuh mereka bermutasi.

Para murid laki-laki yang melihat kejadian itu malah tertawa. Mereka senang melihat para perempuan pontang-panting ketakutan seperti itu. Mereka kompak menoleh ke arah Chae Won dan mengacungkan jempol.

“Chae Won, kau keren!” celetuk Suho.

“Lihat anak-anak perempuan itu, dasar manja! Kayak nggak pernah kentut aja!” Jinki tertawa-tawa puas.

Chae Won ikut tertawa.

Mereka tampaknya tak mempermasalahkan soal kentut itu, justru senang karena Chae Won membuat anak-anak perempuan berjengit seperti tadi. Bahkan Yesung, Leeteuk, dan Eunhyuk ikut memuji-muji Chae Won.

Siwon menatap Chae Won dengan perasaan campur aduk. Dia senang melihat Yoona, salah satu anak perempuan tadi, ikut ketakutan. Tapi dia bingung dengan kejadian ini. Dia mendekatkan tubuh ke arah sepupunya dan berbisik pelan, “kau… tahu kan yang kentut itu aku?”

Chae Won melirik Siwon sekilas. “Tau.”

Siwon mengerjap bingung. “Terus… kok…”

“Kok…?” Chae Won menoleh ke Siwon dan tersenyum lebar. “Jangan mengatakan ‘kok’ atau kalimat tanda bingung lainnya saat saudaramu tengah membantumu. Sebagai sesama saudara, kita harus saling membantu kan, tanpa perlu alasan.”

Siwon terdiam. Ditatapnya Chae Won yang kini kembali tenang menulis catatan. Mendadak Siwon merasa bersalah selama ini mengira Chae Won sepupu yang menyebalkan. Kenyataannya, Chae Won justru rela berbuat bodoh demi dirinya. Mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Dan tampil keren sekali saat membelanya di depan seluruh anak-anak.

Chae Won baru sehari di Seoul, baru sehari tinggal di rumahnya, dan baru beberapa jam duduk sebangku dengannya. Tapi entah kenapa Siwon merasa seperti sudah mengenalnya beratus-ratus tahun.

“Ihhh… Chae Won tukang kentut,” bisik Siwon bercanda.

Chae Won menggeram gemas. “Ihhh… Siwon juga sama!”

Siwon menjulurkan lidah.

Chae Won juga ikut menjulurkan lidah.

Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.

“Kayaknya aku nggak bakal naruh kodok ke tas mu,” gumam Siwon.

“Eh, apa?” Chae Won tak mendengar jelas ucapan Siwon.

“Nggak… nggak…” Siwon terkekeh.

Sejak saat itu Siwon tidak pernah lagi menganggap Chae Won menyebalkan, sepupunya justru keren, keren sekali. Chae Won selalu tersenyum dan membuatnya gembira. Mereka bukan sekedar sepupu, mereka nyaris seperti elemen yang tak terpisah. Ketika Chae Won kembali ke Busan, Siwon adalah satu-satunya orang yang menangis paling keras. Dia memeluk Chae Won dan meminta-minta Chae Won agar tetap tinggal disisinya.

Chae Won berkata dia berjanji suatu saat akan kembali ke Seoul dan mereka bisa bermain kembali. Tertawa bersama lagi.

“Janji?” kata Siwon. “Kau akan kembali ke Seoul?”

“Janji…” Chae Won mengaitkan kelingkingnya dan kelingking Siwon.

“Aku akan merindukan tawamu,” kata Siwon.

“Kalau aku kembali ke Seoul, aku akan tertawa yang banyak deh,” kelakar Chae Won. Siwon jadi tertawa mendengarnya.

“Oke, asal jangan ketawa banyak-banyak. Aku pengin sepupuku yang datang ke Seoul, bukannya orang gila.”

“Ihhh… Siwon…”

“Hahaha bercanda…”

….

…….

………..

……………

Dan, Chae Won menepati janjinya. Dia kembali ke Seoul. Dia kembali tertawa dan membuat banyak orang lain bahagia, sama seperti sepuluh tahun lalu.

Tapi, bagi Siwon tawa Chae Won tak sama dengan tawa-tawa sebelumnya. Tak lagi terdengar bahagia dan bersemangat, terkadang tawa Chae Won terdengar dipaksakan. Sejauh ini belum pernah didengarnya Chae Won tertawa dengan tulus. Siwon tahu benar itu.

Jadi, meski Chae Won sudah kembali ke Seoul dan tampaknya tertawa hampir tiap hari, Siwon masih merindukan tawa Chae Won.

.

.

.

.

.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sementara Chae Won masih duduk di pinggir ranjang dengan pandangan kosong ke depan. Tangannya memasukkan buku-buku ke dalam tas sekolah. Tidak ada tugas dari guru sehingga dia tidak perlu mengerjakan apapun malam ini. Chae Won menarik selimut dan menepuk-nepuk bantalnya. Dia merasa harus tidur cepat, meski setelah dicoba untuk memejamkan mata, rasa kantuk justru semakin menghilang.

Chae Won menyentuh kancing-kancing piyamanya. Menghitungnya satu-persatu dan berharap kantuk segera menyergapnya. Dia biasa melakukan itu jika belum bisa tidur juga.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Chae Won meliriknya dan tahu benar itu adalah telepon dari Malaikat. Untuk beberapa saat, tanpa Chae Won sadari, dia tersenyum melihat layar ponsel. Sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.

“Tebak-tebak…”

Chae Won menjauhkan jari-jari dari kancing bajunya. Mendadak, dia berharap agar kantuk justru pergi jauh-jauh darinya.

“Tebak-tebak… kau sedang di mana?”

“Hm?” Chae Won sedikit bingung dengan kalimat yang dilontarkan Malaikat.

“Kau sedang di mana, Bidadari?”

“Kau ingin menanyakan keberadaanku atau bermain tebak-tebakan?”

“Aku sedang memasang alibi bermain tebak-tebakan padahal aku hanya ingin menanyakan keberadaanmu.”

Chae Won terkekeh kecil. “Lucu.”

“Kau berada di tempat yang lucu?”

“Bukan…” Chae Won memutar bola mata dan tersenyum geli. “Kau. Lucu. Kau sungguh lucu.”

“Seperti pelawak?”

“Bukan, seperti balon kuning.”

“Eh?”

“Setiap aku melihat balon kuning, aku selalu tertawa. Dan kau membuatku tertawa, jadi kau seperti balon kuning.”

“Aku baru tahu ada orang yang tertawa hanya karena melihat balon,” kata Malaikat.

“Balon kuning,” ralat Chae Won.

“Ya, ya, ya… balon kuning. Kenapa balon kuning? Oh, ya… pertanyaanku yang tadi belum dijawab. Kau di mana?”

“Yang mana yang harus kujawab duluan?”

Malaikat terdengar menimbang-nimbang.

“Terserah,” katanya.

Chae Won menatap sekeliling kamarnya yang masih terang benderang. “Di kamar, mencoba tidur, tapi tidak bisa. Dan balon kuning… itu benda kesukaan almarhum ayahku. Dia selalu membelikanku balon kuning jika aku sedang sedih dan itu membuatku kembali senang.”

Ada jeda panjang di antara keduanya.

“Ayahmu… sudah meninggal?” tanya Malaikat hati-hati.

Chae Won mengangguk. “Ya.”

“Maaf…”

“Tidak masalah.”

Samar-samar terdengar suara lagu trot di seberang sambungan, penyanyinya memakai logat Busan yang kental. Dan kemudian suara sang Malaikat berteriak kencang, “Ibu!! Kecilkan suara radionya!!”.

Lalu disusul dengan celotehan panjang, “ini penyanyi favorit ibu! Ibu tak akan mendengar siaran lokal ini kalau di Seoul! Sudah sana tidur! Tadi katanya kau mengantuk! Tapi sekarang malah menelepon pacarmu!”

Chae Won tersedak mendengar rentetan kalimat dari seorang wanita di seberang sana. Kalimat itu terdengar jelas karena wanita itu bicara sambil teriak-teriak.

“Ya ampun… ya ampun… aduh duh duh, maafkan ibuku… aduh… dia suka bicara asal…. aduh…” suara Malaikat terdengar gugup.

Tawa Chae Won meledak. “Hahaha, tidak masalah. Ibumu mengira aku pacarmu?”

“Aku akan menjelaskan padanya nanti,” ujar Malaikat lagi. Kemudian terdengar suara teriakan sang Malaikat. “Ibuuu!! Ini bukan pacarku!”

“Baiklah, bukan pacar! Kekasihmu kan??!!” balas suara sang wanita.

Terdengar suara kaki berderap-derap dan suara pintu digeser. Chae Won bisa menebak Malaikat sedang menghampiri ibunya di luar kamar. Tebakannya bisa jadi benar karena kemudian dia kembali mendengar suara sang Malaikat berteriak gemas.

“IBUUU!!! KAU MEMBUATKU MALU!”

“Dari dulu kau memang sudah memalukan, anakku!”

Chae Won tertawa terpingkal-pingkal. Dia mendengar perdebatan antara ibu dan anak di seberang sambungan. Meski keduanya sama-sama bicara dnegan nada tinggi dan berteriak-teriak, namun Chae Won bisa menilai keduanya saling menyayangi. Ada bentuk-bentuk perhatian dalam tiap pertengkaran antara sang Malaikat dengan ibunya.

Kemudian suara-suara pertengkaran itu lama-kelamaan tak terdengar. Sang Malaikat tampaknya telah kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Ada rentetan gumaman tak jelas yang diucapkan sang Malaikat sebelum akhirnya menjawab telepon Chae Won lagi.

“Maaf kau harus mendengar pertengkaran tadi.”

“Itu tak terdengar seperti pertengkaran bagiku,” senyum Chae Won. “Justru seperti istilah lain dari kasih sayang.”

Chae Won bisa merasakan sang Malaikat tengah tersenyum di seberang sana.

“Aku sengaja tak mematikan teleponku tadi, soalnya kalau kumatikan, aku tak tahu lagi alasan apa yang kugunakan untuk meneleponmu kembali,” ujar Malaikat.

“Aku tahu,” jawab Chae Won.

“Iya, kau kan cenayang.”

Keduanya kompak tertawa.

“Jadi, sampai di mana kita? Oh, ya… karena kau bilang kau sedang ada di kamar, tentu di sekitarmu ada buku The Winner Stand Alone. Aku ingin membaca sambungannya.”

“Maksudmu, ingin ‘mendengar’?”

Malaikat itu tertawa renyah. “Yup. Tentu saja.”

Chae Won mengambil novel yang sebenarnya sudah ditamatkannya itu. Membuka halaman yang sudah ditandainya dengan sticky note, halaman terakhir yang dibacakannya untuk Malaikat. Dia membacakannya dengan hati-hati. Dan Malaikat mendengarnya tanpa menyela sedikitpun meski malam semakin larut saja.

.

.

.

.

.

.

“Reuni?”

Kyuhyun mengernyitkan dahi mendengar kata itu keluar dari bibir Sungmin. Sepagi ini pemuda itu meneleponnya. Biasanya Kyuhyun sengaja tidak mengangkat telepon dari teman-temannya, tapi moodnya sedang baik sehingga dia memutuskan untuk menjawab telepon yang sebenarnya sudah dilayangkan Sungmin ratusan kali.

“Yup, Kyuhyun… fiuh… aku harus menjelaskan panjang lebar sepertinya. Kau sih tidak pernah mengangkat telepon dariku!” dumel pemuda itu.

Kyuhyun hanya mengangkat bahu cuek. Dia hanya tidak ingin Sungmin bertanya macam-macam soal masalah keluarganya. Sungmin adalah sahabatnya dan Sungmin begitu baik, tapi sebagai sesama pria, Kyuhyun risih jika harus berbagai segalanya dengan pemuda itu.

“Yah, kau tahu aku sibuk.”

“Buh, sibuk apa?” decak Sungmin. “Aku perduli dengan masalahmu, tapi tetap ada amanat yang harus kusampaikan padamu. Kau ingat Chae Won? Moon Chae Won? Teman SD kita dulu yang asalnya dari Mokpo dan cuma setahun tinggal di Seoul?”

Kyuhyun mengoleskan mentega di rotinya sembari mengingat-ingat. “Oh… sepupunya Siwon?”

“Yup, yang pegang pianika di grup bina musika.”

Kali ini Kyuhyun tersenyum. Grup bina musika. Ah, dia ingat benar grup itu. Anggota bina musika adalah anak yang seru dan asyik diajak bergaul. Mereka sering mengadakan acara jalan sama-sama mengitari sungai Han atau bermain di taman bermain.

“Ah, ya ya ya… Chae Won…. aku ingat,” ujar Kyuhyun.

“Dia ada di Seoul sekarang.”

“Hah?” Kyuhyun terkejut mendengar kabar itu. “Chae Won di Seoul?”

“Yup, betul! Sekarang dia tinggal di Seoul!” seru Sungmin bersemangat.

Kyuhyun jadi ikut bersemangat. Mendadak ingatannya soal Chae Won kembali bermunculan. Siapa yang tak kenal Chae Won? Dia gadis paling keren di kelas saat itu. Tidak seperti murid perempuan lain yang cengeng dan cerewet, Chae Won nyaris tak pernah menangis ataupun memaki orang. Dia disukai semua murid laki-laki di kelas dan sebagian besar murid perempuan sirik padanya.

Kyuhyun ingat betul, hari pertama gadis itu datang ke sekolah, dia kentut di kelas. Seisi kelas heboh luar biasa. Chae Won berhasil membuat ketakutan murid-murid perempuan. Hari kedua, Chae Won berhasil mengalahkan catatan waktu seluruh murid laki-laki dalam lari jarak pendek. Hari ketiga, Chae Won mengajak teman-teman sekelas bermain ke rumah Siwon dan mereka membuat es buah yang enak sekali. Hari keempat, Chae Won membuat guru matematika terpana karena kepintarannya menyelesaikan soal yang begitu rumit. Dan hari-hari seterusnya setelah itu, Chae Won selalu berhasil memberi kejutan pada semua orang.

Gadis itu luar biasa. Gabungan antara sifat lucu, unik, pintar, atletis, dan menarik. Kyuhyun senang jika sudah berbicara dengan Chae Won. Gadis itu tak pernah kehabisan bahan obrolan. Gadis itu selalu tersenyum dan tertawa. Gadis itu dipuja dan disayang semua orang.

Sungmin pernah naksir pada Chae Won dan Kyuhyun juga ikut naksir padanya. Naksir-naksiran ala anak SD. Cinta monyet yang konyol. Tapi acara naksir-naksiran itu jugalah yang membuat Sungmin dan Kyuhyun akhirnya masuk ke grup bina musika saat tahu Chae Won memilih klub itu. Bergabung dengan grup yang akhirnya seperti keluarga kedua bagi mereka.

“Wah, apa dia ke Seoul dalam rangka ikut lomba lari? Kau ingat kan, dulu Chae Won bilang dia ingin jadi atlet lari setelah tahu bisa mengalahkan catatan waktu kita semua!” ujar Kyuhyun. “Jangan-jangan sekarang dia beneran jadi atlet?”

Sungmin tertawa sedikit aneh. “Kyu… ada hal yang tak kau ketahui soal Chae Won… mm… keadaannya sekarang sudah berbeda. Kau tahu, waktu berlalu… mm… dan tidak ada sesuatu yang tetap seperti semula…”

Kyuhyun memiringkan kepala tak mengerti.

“Aku akan menjelaskannya nanti ketika kau sudah di Seoul, atau kau bisa tanya sendiri pada anaknya nanti kalau sudah bertemu di acara reuni nanti.” Sungmin memberi jeda beberapa saat. “Chae Won yang mengusulkan kita reuni.”

“Aaahh… Chae Won ternyata.” Kyuhyun mengangguk-angguk. “Kapan?”

“Empat hari lagi.”

“Aku belum tentu bisa pulang,” ujar Kyuhyun ragu.

“Usahakan dong!”

Kyuhyun melirik Ibu yang baru muncul dari dapur dan menaruh gelas berisi susu hangat. Tanpa suara, Ibu menyuruh Kyuhyun meminum susu tersebut.

“Aku… akan pulang ke Seoul jika sudah bisa memastikan Ibu akan ikut ke Seoul,” bisik Kyuhyun berharap agar Ibu tak mendengarnya.

“Kyu…”

“Aku ingin berbaikan dengan Ibu, Sungmin. Selama ini aku salah menilainya. Dia ibu yang baik dan aku menyayanginya. Aku ingin keluargaku kembali seperti semula.”

Sungmin menarik napas. “Apa itu berarti kau tidak akan datang saat reuni nanti?”

Kyuhyun bimbang. “Entahlah…” Kyuhyun berdeham tak enak. “Aku titip salam saja pada Chae Won.”

“Kyu…” Sungmin menarik napas lagi. “Baiklah, aku tak memaksa. Aku akan sampaikan salammu pada Chae Won. Tapi… aku berharap kau datang, Kyu. Usahakan ya, dalam empat hari ini kau bisa pulang ke Seoul. Kumohon…”

“Ya…” Kyuhyun menundukkan kepala. “Berdoa saja masalah keluargaku bisa kelar dalam empat hari.”

.

.

.

.

.

.

Sorakan penyemangat terdengar dari tribun. Sorak-sorai yang riuh dan memekakkan telinga. Hari ini tim bisbol sekolahnya mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim bisbol sekolah lain. Hanya pertandingan persahabatan, tetapi gegap gempitanya mengalahkan pertandingan tingkat nasional.

Chae Won duduk di bangku yang disediakan di bagian paling depan tribun. Minho menyuruhnya duduk di bagian depan karena Chae Won termasuk suporter resmi klub mereka. Ternyata ucapan pemuda itu kemarin tak main-main, hari ini Chae Won diberikan kaos, pin, dan peralatan pendukung lainnya. Changmin bahkan langsung menghampiri Chae Won ke tribun untuk memberikannya selembar kertas berisi yel-yel klub serta sebuah I-pod untuk mendengarkan rekamannya agar Chae Won bisa hapal. Chae Won memakai headset dan mulai mendengarkan yel-yel itu, namun keadaan stadion benar-benar ramai, dia tidak bisa mendengar rekaman dengan jelas.

“Aku tak bisa mendengarnya,” ujar Chae Won sambil menunjuk headset sembari menggelengkan kepala.

“Coba dikeraskan volumenya!” seru Changmin. Pemuda itu masih berdiri di depan Chae Won.

Chae Won menurut. Namun tetap saja rekaman itu tak terdengar jelas. Dikalahkan dengan suara gegap gempita di sekelilingnya.

“Tidak bisa!” seru Chae Won.

Changmin mengembuskan napas. Dia mengisyaratkan Chae Won untuk berdiri. Chae Won menurut lagi. Dia berdiri hingga berhadap-hadapan dengan Changmin.

Kemudian kedua tangan besar milik Changmin terjulur ke arahnya, menutupi kedua telinga Chae Won erat-erat.

“Begini sudah bisa dengar?” tanya Changmin.

Chae Won mengerjapkan mata. Changmin berada amat dekat dengannya. Tangan pemuda itu terasa hangat. Mata Chae Won beredar ke tribun-tribun lain dan dia bisa melihat seluruh tatapan suporter tertuju padanya.

Chae Won menatap Changmin lagi. Pemuda itu tersenyum padanya. Chae Won mengalihkan pandangannya ke kertas.

Chae Won berusaha fokus mendengar rekaman di Ipod. Tangan besar Changmin membuat suara-suara sorakan tidak terdengar lagi. Kini hanya ada lantunan yel-yel yang menggema di telinganya. Chae Won menghapalkannya dengan cepat, mengingat iramanya, dan chorus yang harus diulang-ulang. Itu bagian pentingnya.

“Sudah…” gumam Chae Won setelah merasa cukup hapal dengan yel-yel itu. Dia punya ingatan diatas rata-rata dalam mengingat sesuatu.

Changmin menarik tangannya dari telinga Chae Won. “Baiklah, aku kembali ke lapangan.”

Chae Won mengangguk.

Changmin berlari menuruni tribun disambut sorakan suporter yang menyemangatinya. Pertandingan sebentar lagi dimulai. Pemain harus kembali masuk ke dalam sebuah ruangan sebelum komentator memanggil nama mereka satu persatu.

Chae Won masih terus menatap Changmin ketika pemuda itu berlari menyusul teman-temannya. Lalu, seolah sadar Chae Won tengah memandanginya, Changmin menoleh tepat ke arah Chae Won dan mengatakan sesuatu tanpa suara.

“Ter-se-nyum.”

Chae Won mengerjapkan mata.

“Ter-se-nyum-lah.” Changmin kembali menggerak-gerakkan bibirnya.

Chae Won menangkap pesan itu. Dia yakin Changmin tengah bicara padanya. Jadi, meski ragu-ragu, dia tersenyum juga.

Changmin mengacungkan jempol padanya. “Te-ri-ma-ka-sih.”

“Sa-ma-sa-ma.” Dan Chae Won tersenyum semakin lebar serta ikut mengacungkan jempol. Chae Won masih terus tersenyum dan mengusahakan agar terus tersenyum sepanjang pertandingan.

Chae Won harus ingat bahwa dia lulus kualifikasi suporter bisbol karena bisa tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued

4 Comments (+add yours?)

  1. blackjackelfsone
    Jul 18, 2015 @ 20:17:38

    Wah harus bisa ketemu tuh shae won kyuhyun. Aduhhhh gasabar deh mereka ketemu. Bagus thor ffnya. Ditunggu next partnya

    Reply

  2. frog1
    Jul 20, 2015 @ 01:16:49

    huee…belum juga terungkap kenapa chaewon bisa kehilangan keceriaanya

    Reply

  3. lieyabunda
    Jul 20, 2015 @ 06:01:07

    kyu ternyata pernah sukan sama chae won, walaupun cinta monyet…
    lanjut

    Reply

  4. elfishyvil
    Jul 23, 2015 @ 19:03:58

    Darbak…
    Ceritanya makin keren…8

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: