Memories [18/?]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Heechul (SJ)

Genre : Romance, family

Rate : PG -1 5

****************

Sudah lama sekali tidak hujan. Yesung sangat mengharapkannya segera datang. Ia suka hujan, tapi tidak dengan petir dan kilatnya. Dulu sewaktu kecil, kata ayahnya ia suka duduk di pinggir jendela, melihat kaca yang ditetesi air hingga meninggalkan bekas seperti kumpulan berlian. Sejujurnya Yesung tak begitu ingat apa hal-hal semacam itu terjadi padanya, tapi ia percaya ayahnya bukan seperti ibunya yang suka menambah-nambah cerita agar lebih menarik. Pada kenyataannya, meski tidak ingat, ia memang merasa memiliki ketertarikan lebih dengan hujan.

Namun, ia sama sekali tidak berharap hujan akan datang pagi ini. Kondisinya tidaklah tepat. Jika ia sedang menonton sebuah drama, ia pasti berpikir bahwa hujan ini hanyalah bagian dari efek dramatis yang dibuat sutradara. Penonton suka menangis di depan televisi hanya karena hal konyol itu. Tapi yang ia alami saat ini bukan ulah skenario atau sutradara, melainkan kenyataan.

Hari yang awalnya cerah tiba-tiba mendung yang disusul dengan hujan rintik-rintik. Sekarang, hujan semakin deras sementara ia dan beberapa orang masih berdiri di belakang Jeany dan Allan. Jeany belum berhenti menangis. Air matanya bahkan masih bisa terlihat meski bercampur dengan air hujan. Allan baru saja menaunginya dengan payung, tapi ditepisnya hingga mereka berdua basah kuyup.

Tepat di belakang mereka, Eddy yang juga memakai pakaian hitam-hitam berinisiatif memayungi. Namun, Allan menoleh padanya, memberikan isyarat padanya agar meninggalkannya berdua dengan Jeany. Setelah melihat keadaan Jeany yang jatuh dalam pelukan Allan, barulah Eddy mengangguk kemudian mulai berjalan pergi.

Setelahnya, satu persatu orang-orang di sekitar mereka ikut pergi. Sebagian berlari untuk menghindari hujan, sedang sebagian tetap berjalan dengan tenang sambil sesekali menoleh ke belakang. Beberapa juga memperlihatkan ekspresi iba.

“Kasihan sekali Adam.”

“Dia anak yang aktif. Aku ingat bagaimana pertama kali ia melihatku dan menarik ujung rokku untuk menarik perhatianku.”

“Tapi aku juga tidak bisa membayangkan apa yang Jeany dan Allan rasakan saat ini.”

“Mereka pasti akan segera melaluinya. Tuhan bersama kita.”

Ditengah guyuran hujan, percakapan itu sampai ke telinganya. Ia sempat berpandangan dengan Ny.Clark yang mengelus bahunya kemudian ikut pergi bersama rombongan yang lain. Dan setelah beberapa menit kemudian, hanya mereka bertiga yang tersisa.

Yesung memilih berdiri agak jauh dari Allan dan Jeany. Di bawah pohon, ia melihat gundukan tanah yang baru terbuat itu. Ia tak bisa melihat nisannya karena terhalang oleh tubuh besar Allan.

Tak ada yang begitu memperhatikannya sejak tadi. Ia bahkan sangsi kalau Allan sadar akan kehadirannya. Sejak semalam, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Pagi-pagi sekali tahu-tahu ia melihat Casey dan Leeteuk di kamarnya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka tak mengatakan apa-apa, tapi raut wajah mereka sudah cukup menjelaskan segalanya.

Adam…sudah tidak ada.

Anaknya…sudah pergi.

Adam adalah anaknya.

Ia benar-benar punya seorang anak.

Dan ia tak pernah tahu akan hal itu.

Dimasa awal pernikahannya dengan Jeany, ia yang tidak pernah memikirkan masa depan justru bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya ia dan Jeany mengurus anak mereka. Mereka akan bergantian menjaganya jika menangis ditengah malam. Mereka akan belajar menggantikan popok bayi, belajar memandikan, hingga mengajarkannya menyebut berbagai benda yang ada di rumah.

Ia tahu bahwa apa yang akan terjadi tidak akan sesederhana itu. Mereka yang punya banyak perbedaan pasti akan memberikan perkenalan yang buruk pada anak mereka tentang bagaimana mereka bertengkar setiap saat. Dan lagi kenyataan kerap tak sejalan dengan bayangan. Tapi ia merasa bahwa ini semua jauh lebih buruk dari itu. Ia bahkan tak pernah tahu bahwa ada seorang anak yang sangat tampan dan pintar yang merupakan darah dagingnya sendiri.

Ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana berisiknya suara tangis bayi yang akan membangunkannya dari tidur malam. Ia tak pernah merasakan betapa jengkelnya ketika pakaiannya basah karena anaknya buang air. Ia bahkan tak sempat dipanggil ‘dad’ oleh anaknya. Ia hanya baru tahu bahwa ia punya anak dan anak itu sudah terbaring tanpa nyawa.

Sepulang dari pemakaman ia masih tak bisa merasakan apa-apa pada kedua kakinya. Kerja indera-inderanya berhenti setelah tangan Adam terlepas dari pegangannya. Hal terakhir yang diingatnya adalah segelas air putih yang disodorkan padanya oleh seseorang. Entah, mungkin Casey, kakaknya, Alie, atau siapapun. Ia tak tahu. Namun, sebelum ia jatuh tertidur, ia baru menyadari satu hal. Kenapa mereka semua bersikap seperti itu? Bukankah ia belum mengatakan apapun sejak semalam?

Saat ia terbangun mereka semua tidak ada di rumahnya. Lampu ruang tengahnya mati. Begitu ia menyalakannya, ia menemukan keadaan ruang tamunya yang begitu bersih. Sebelumnya ia masih ingat meninggalkan ruangan itu seperti gudang yang dihuni puluhan tikus. Ada banyak bungkus makanan di lantai. Jejak sepatunya yang kotor hingga tangga. Pakaian kotornya juga berserakan dimana-mana. Itu semua adalah sisa dari mabuknya yang tempo hari nyaris membongkar rahasianya pada Allan.

Ia lalu melihat keluar dan menyadari bahwa hari sudah malam. Di atas meja makan terdapat omellet dan tumis jamur. Ada memo di dekat piring yang ia tebak merupakan pesan dari Alie.

“Aku yang menulis ini tapi ini semua masakan Alie. Besok, ketika kau sudah merasa lebih baik, datanglah ke rumah. Aku akan mengatakan sesuatu padamu.”

Ia tersenyum setelah membacanya. Pesan dari Leeteuk ini terdengar manis sekaligus menggelikan. Kakaknya memang seperti itu. Disatu sisi sangat cuek. Tapi disisi lain sebenarnya sangat perhatian. Meski ia suka risih dengan sikap perhatiannya yang kadang melebihi perhatian seorang kekasih, ia tetap menerima semua perlakuan itu. Lagipula tak setiap saat Leeteuk menunjukkannya.

Namun, pesan ini lagi-lagi membuatnya penasaran apakah mereka sudah mengetahui masalah Adam atau belum. Jika belum, rasanya mereka tak perlu melakukan semua ini seperti dulu saat ia mengetahui keberadaan Jeany.

Dan bicara soal Jeany, ia jadi ingin melihat keadaannya. Ia juga mendengar suara mobil dari rumah Jeany. Ia mendekat ke jendela. Ada sebuah mobil yang menyala. Allan nampak memaksakan senyumnya pada seorang pria tua bertubuh besar yang sedang menuntun seorang wanita tua di sampingnya. Setelah ia perhatikan dengan jeli, ia tahu siapa yang dilihatnya.

Mereka adalah orang tua Jeany. Mr.Hanks dan istrinya.

Ia tak tahu apakah mereka datang ke pemakaman atau tidak. Jika rumah mereka belum berubah, maka mereka tinggal di London yang pasti membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba disini. Tapi rasanya ia tak pernah melihat mereka bahkan sejak Adam dirawat di rumah sakit. Jika mereka datang dan bertemu dengannya, itu pasti akan jadi pesta reuni yang hebat sekaligus kejutan yang luar biasa bagi Allan.

Sesaat setelah mobil itu pergi, akhirnya ia memutuskan untuk menyambangi rumah itu. Tepat sebelum Allan menutup pintu, ia berhasil menahannya.

“Kau?”

“Maaf. Aku…aku kehabisan kopi dan aku sedang tidak ingin keluar.”

Lama Allan memandangnya. Yesung sendiri tak yakin Allan akan percaya  pada yang dikatakannya. Ia pun tak punya tujuan jelas kemari. Tiba-tiba saja ia merasa harus berada disini, disisi Jeany.

“Masuklah. Kita bisa minum kopi bersama.”

Ia kemudian masuk menyusul Allan. Ia bisa merasakan aura yang berbeda begitu memasuki rumah tersebut. Jauh berbeda dengan terakhir kali ia masuk kemarin malam. Ia justru seperti melihat rumahnya berpindah kemari. Maksudnya…ia melihat Allan sibuk memunguti pakaian yang berserakan dilantai. Ia tak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tak dengar apa-apa sebelumnya selain suara mobil Mr.Hanks. Tapi ia juga takkan bertanya pada Allan.

“Jeany mengamuk dan…yah..seperti yang kau lihat.”

Yesung memilih berdiri sambil menyandar pada kulkas. Allan tetap melanjutkan kegiatannya seakan tak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan. Sesekali ia mampu menangkap pergerakan Allan yang diam-diam mengelap ujung matanya. Jika ia yang baru beberapa saat bersama Adam sudah merasa serapuh ini, ia tak bisa bayangkan bagaimana dengan mereka yang terbiasa menjalani hari-hari bersamanya. Terbiasa dengan suaranya, terbiasa dengan kehadirannya, lalu tiba-tiba semua tak ada dalam sekejab mata. Seperti percakapan mereka kemarin, ia tahu bagaimana Allan sangat menyayangi Adam. Mereka semua yang ada disini, sama-sama menyayangi anak itu.

“Maaf, bukankah kau ingin kopi? Biar kubereskan ini lebih dulu.”

Yesung tersenyum. Ia memilih tak menyela dan membiarkan Allan selesai dengan segala benda yang ada ditangan dan kakinya itu. Begitu selesai, ia duduk di meja makan.  Allan memberikannya segelas kopi yang sebenarnya sama sekali tidak ia inginkan malam ini. Namun, ia tetap menerimanya, lalu meniup-niupnya.

Ia melihat-lihat ke sekitar dan tak menemukan Jeany dimanapun, termasuk di kamar pribadi mereka berdua yang sekarang pintunya terbuka lebar. Ia ragu jika Allan lupa menutupnya atau sengaja membiarkannya terbuka. Ia melihat kamar itu yang dua kali lipat lebih memperihatinkan dengan beberapa kaca yang pecah dilantai.

“Ia di atas, di kamar Adam,” kata Allan lagi yang kembali bisa membaca pikirannya.

“Aku tidak bertanya.”

“Tapi kau ingin menanyakannya.”

Yesung diam. Ia hirup kopinya dan ia hampir memuntahkannya karena rasanya pahit sekali.

“Kau baik-baik saja? Apakah kopiku tidak enak?” tanya Allan cepat yang kemudian langsung mencoba kopi buatannya sendiri. Dan hal yang sama terjadi padanya.

“Maaf, sepertinya aku menaruh terlalu banyak kopi dan lupa menaruh gula. Akan kubuatkan yang baru.”

Allan sudah berdiri dan akan menarik gelasnya saat Yesung segera menahan lengannya. Mereka bertatapan, kemudian Yesung menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya perlu duduk dan aku pergi. Aku datang bukan diwaktu yang tepat.”

Allan kembali ke kursinya tapi ia membantah apa yang Yesung katakan. “Tidak. Kau sama sekali tidak salah. Kau justru datang diwaktu yang sangat tepat.”

Yesung tak bertanya apa maksudnya. Ia hanya berpikir bahwa Allan hanya sedang berada dalam masa-masa yang tak pernah dibayangkannya. Masa dimana ia ingin mengelak kenyataan, tapi tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya. Dan sekarang, secara mengerikan Allan menelan kopinya yang pahit itu hingga hanya tersisa ampasnya.

“Allan, kau tidak perlu melakukan ini.”

Allan tersenyum pahit. Yesung enggan mencegahnya lagi melihat bagaimana sekarang pria itu sedang memegang kepalanya dan tak henti tersenyum.

“Kebanyakan orang berpikir bahwa wanita lebih butuh waktu untuk menghadapi kenyataan yang tak diinginkannya. Kalian tak sadar bahwa seorang lelaki mungkin sedang merasakan hal yang sama atau bahkan lebih buruk karena harus menyembunyikan rasa sakit itu.”

Yesung tak bisa mengatakan apapun. Allan tampak sangat emosional dan Ia tahu bukan hiburan yang dibutuhkan oleh Allan saat ini. Seorang pendengar rasanya juga kurang tepat. Mungkin…ia memang benar-benar harus pergi dan membiarkan Allan menumpahkan segalanya seorang diri. Tapi Allan lebih dulu berdiri lantas menarik jasnya yang tersampir dipinggir sofa.

“Aku ingin mencari udara segar.”

“Allan, tapi Jeany….”

Tak ada lagi yang sempat ia lakukan karena Allan sudah lebih dulu pergi. Setelah berlalu beberapa menit, akhirnya ia sadar hanya ada ia dan Jeany di rumah ini. Mungkin….jika ia melirik sebentar ke atas, tak ada salahnya.

Begitu yakin Allan sudah benar-benar pergi, ia beranikan diri naik ke atas. Hanya ada dua pintu disana yang salah satunya terbuka. Dari posisinya, ia sudah bisa melihat Jeany yang duduk diujung ranjang.

Ia sadar bahwa tindakannya ini tidak benar dimata sebagian orang. Masuk ke kamar orang tanpa sepengetahuan pemilik rumah, ia bisa saja dituntut. Tapi ia tahu Allan takkan tahu apa yang akan ia lakukan, kalaupun tahu, Allan pasti tidak akan buang waktu untuk menuntutnya. Lagipula sejak kapan ia begitu memikirkan pandangan orang lain? Yang ia tahu ia sudah berada disini, di depan pintu dan pantang baginya untuk mundur.

Jeany benar-benar ada disana. Dan kehadirannya belum disadari. Maka situasi itu dimanfaatkan olehnya untuk memperhatikan isi kamar Adam.

Ada banyak poster band-band rock didindingnya –selain poster pemain Liverpool. Ada lemari kecil yang memajang piala dan piagam yang sudah diberi figura. Ia dekatkan wajahnya untuk membaca tulisan yang tertera pada pialan-piala itu. Isinya sungguh mengejutkan.

Ada piala sebagai pencetak gol terbanyak dikompetisi antar sekolah, ada piala sebagai pemain terbaik, ada juga piala sebagai pemain muda berbakat yang tanda tangani oleh walikota. Apakah semua ini milik Adam? Sayangnya tak ada foto Adam sendiri disana. Dan setelah berputar-putar, ia memang tak menemukan foto anak itu bahkan di atas meja belajarnya.

“Ia tak pernah suka difoto. Hanya Allan yang selalu berhasil membujuknya untuk itu.”

Yesung terdiam ketika Jeany bersuara. Perlahan-lahan ia berbalik dan menemukan Jeany masih  membelakanginya, duduk sambil memeluk sesuatu. Jika tebakannya benar, maka yang dipeluk itu adalah satu-satunya foto Adam yang ada di kamar ini.

“Ia anak yang sangat aktif. Ia selalu ingin mencoba hal-hal baru. Ia suka mendengar lagu rock. Tapi Ia benci sup buatanku, ia bahkan pernah memuntahkan nasi gorengku.”

Yesung mulai bisa membayangkannya. Ia  juga semakin yakin bahwa semua fakta yang ia ketahui kemarin adalah benar. Jeany mungkin tak pernah tahu bahwa ia dulu tidak mau makan sup ibunya sendiri.

“Setiap pagi, ia akan berteriak karena tidak menemukan jadwal pelajarannya. Ia selalu lupa kalau Allan sudah menempelnya didinding. Kadang, ia akan marah-marah sendiri karena belum mengerjakan tugas rumahnya. Sambil memakai sepatu dan jaket, ia turun dari sini, mengambil bekalnya lalu menarik baju Allan agar lekas mengantarnya.”

Semuanya semakin jelas dalam benaknya. Namun, bukan Allan yang ada disana, melainkan dirinya. Pasti rasanya sangat menyenangkan mengalami itu semua setiap pagi. Ia tak pernah suka sendiri. Ia suka keramaian. Sedang sepuluh tahun ini, setiap pagi ia hanya mendengar suara kicau burung tetangganya.

“Aku akan menjawab semua pertanyaanmu selama ini,” ujar Jeany lagi yang kembali mampu membungkam mulut Yesung. Ia tak yakin dengan apa yang didengarnya. Sedetik kemudian ia sadar sudah duduk disisi Jeany, hanya berjarak beberapa senti meter hingga ia bisa mendengar setiap tarikan nafasnya.

“Saat itu…dokter mengatakan ada sesuatu yang salah dengan rahimku. Aku harus menjalani beberapa pemeriksaan untuk meyakinkan perkiraannya. Tapi sebelum semua itu kusetujui, aku memintanya untuk melakukan sesuatu. Aku tahu kau akan berpikir aku sangat jahat. Aku pun tidak mengerti kenapa saat itu aku meminta dokter untuk menyampaikan kebohongan padamu dan Siwon. Tapi aku memang melakukannya. Dengan cerita baru yang kubuat, dokter itu bersedia berbohong.”

Yesung tersenyum. Ia kembali mengingat yang terjadi dihari itu saat ia nyaris kembali menghantam Siwon.

“Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang sudah aku lakukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak merencanakannya dan hanya mengikuti suara dalam kepalaku. Yang terpikir olehku saat itu adalah aku ingin berpisah denganmu. Aku tidak sanggup ada didekatmu lagi.”

“Semuanya terasa berat. Aku terbiasa bisa melakukan apapun tapi pergerakanku terbatas. Aku harus terbiasa dengan hal-hal baru yang menurutku sangat aneh. Bahkan aku harus membungkuk ribuan kali dalam sehari. Kau dan kehidupanmu disana tidak cocok denganku. Dan kau sendiri semakin hari tidak bisa mengontrol emosimu. Aku….” Jeany menghentikan sejenak ucapannya. Sedangkan Yesung ingin sekali bertepuk tangan untuknya.

Hebat sekali. Ketika ia berpikir untuk memperbaiki semuanya, Jeany justru ingin memutuskan tali yang mengikat mereka. Padahal saat itu ia benar-benar merasa bersalah. Ia juga tak berniat untuk mengadukan kelakuan Jeany pada Mr.Hanks. Ia tak mau memperkeruh masalah.

“Aku mencintaimu, tapi kita tidak bisa menjadi dua orang yang hidup bersama. Aku tidak bisa mengikuti semua kemauanmu dan kau tidak bisa mengerti apapun tentangku. Saat itu, tiba-tiba saja aku percaya pada perkataan ayahku sebelumnya.”

Yesung melirik foto yang masih berada dalam pelukan Jeany. Disaat bersamaan Jeany juga menatapnya hingga ia menemukan sebuah permintaan maaf yang dalam disana.

“Ayahku mengatakan bahwa kau hanya datang dan pergi seperti sebuah musim.”

“Lalu kau meyakininya?” tanya Yesung pelan. Jeany sudah kembali meluruskan pandangannya, pada jendela yang dibiarkan terbuka hingga ranting dan batang-batang pohon yang tumbuh di halaman belakang rumahnya terlihat.

“Aku tidak tahu. Aku melakukan semuanya secara spontan lalu aku mengikuti ayahku untuk pulang.”

Yesung menghela nafasnya. Udara di ruangan itu jadi tak terasa.

“Aku kembali kesini dengan harapan aku akan memulai mimpiku lagi setelah melahirkan. Tapi sesuatu yang ditakutkan dokter itu terbukti. Ada kanker dirahimku yang harus segera diangkat. Dokter juga menyarankan agar aku menggugurkan kandunganku. Jika aku mau egois, aku akan dengan mudah membuangnya. Tapi aku tidak bisa. Aku mempertahankannya dan secara ajaib ia selamat. Kami berdua selamat.”

Duduknya semakin tidak tenang. Cerita Jeany membawanya naik turun dengan cepat. Ada batang pohon yang sedang berusaha melubangi dadanya hingga perlu meremas sprai tempat tidur Adam dengan kuat.

“Setelah itu, rahimku diangkat. Dan begitu melihat wajah Adam, aku sadar bahwa aku tak butuh apapun lagi selain senyumannya. Aku memutuskan untuk melupakan semua yang pernah ingin aku lakukan dan fokus merawat Adam.”

Adam…

Yesung teringat saat pertama kali mereka pertama kali bertemu. Senyumnya, matanya, suaranya, gaya bicaranya. Tak ada alasan lain kenapa mereka seperti pinang dibelah dua selain karena mereka memilki ikatan yang begitu kuat.

“Jadi…Adam…”

Jeany lekas mengangguk. Ia peluk lebih erat fotonya lalu membiarkan tangisnya pecah sekali lagi.

“Saat melihatmu, aku benar-benar takut kau akan mengetahuinya lalu merampas Adam dariku. Setiap saat kau bicara dengan Allan, aku takut kau mengatakan semuanya. Aku takut Allan akan membenciku. Aku takut kehilangan semua yang selama ini aku perjuangkan.”

“Kau takut kehilangan sementara aku sudah kehilangan segalanya sejak dulu.”

Jeany menunduk, tak sanggup mengatakan apapun lagi. Hingga perlahan-lahan, tanpa bisa dikendalikan ia jatuhkan tubuhnya ke pelukan Yesung.

“Adam adalah anak kita. Adam adalah darah daging kita. Dan Tuhan sudah mengambilnya karena kebodohanku.”

Yesung menengadah. Ia harap tak ada satupun lagi air matanya yang jatuh. Cukup dihadapan Adam malam itu. Tidak dipemakaman, di rumah, atau pun disini. Tapi ia gagal. Tangisnya ikut pecah bersamaan dengan permintaan maaf Jeany yang datang tanpa henti.

“Maafkan aku. Maafkan aku karena menyembunyikan semua ini.”

“Kau hanya menganggapku sebagai sebuah fase, sedangkan aku menganggapmu sebagai peganganku. Kau tidak membiarkanku tahu bahwa dihadapanku, saat itu, ada anakku. Kau tidak membiarkanku tahu bahwa aku bukan hanya berdiri dekat dengan orang yang masih aku cintai, tapi juga dengan anakku. Kau tidak membiarkanku melakukan apa yang harusnya aku lakukan pada anakku. Kau memisahkan kami. Apa kau pantas untuk dimaafkan?”

Mereka menangis bersama. Jeany terus meminta maaf sedang Yesung membiarkan tubuhnya menjadi sandaran wanita itu. Untuk sejenak ia ragu, tapi kemudian ia mulai mengangkat tangannya. Dengan hati-hati ia meletakkannya dibahu Jeany. Dan setelah beberapa detik, ia beranikan diri mengelusnya hingga akhirnya ia benar-benar mendekapnya. Semakin detik semakin erat. Erat dan tak terlepaskan.

***

Allan berdiri di balik pintu. Kepalanya dihantupkan pelan pada dinding dan tak sadar ia sedang mengepalkan kedua tangannya.

Ia tak benar-benar pergi. Ia masih berada di sekitar sini sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Dan seperti yang ia pikirkan sebelumnya, ia melihat sesuatu yang tersembunyi selama ini.

Ia melihat segalanya tanpa terlewatkan satu detikpun. Tiap huruf yang keluar dari Yesung dan Jeany, semua sampai ke telinga dengan jelas, bahkan merobek pertahanannya yang ia pikir masih ia punya.

Sekarang, semuanya sudah terbuka. Diposisi mana ia pantas menempatkan diri? Apakah ia masih bisa berada diantara keduanya?

***

“Aku pikir ia akan melanjutkan ceritanya suatu saat nanti, tapi jika benar apa yang kau katakan itu, aku rasa ceritanya sudah berakhir.” Marcus menenggak beer yang baru saja diantarkan oleh Jordan. Leeteuk dan Casey duduk dihadapannya. Leeteu baru saja menceritakan alasan kenapa Yesung sudah lama tak ke café. Kalau dihitung-hitung, ini sudah nyaris sebulan sejak pertemuan terakhir mereka.

Casey sendiri sebenarnya merasa tak perlu untuk membagi-bagi apa yang terjadi pada Yesung. Tapi tidak akan ada yang bisa menahan pergerakan mulut Leeteuk. Sama seperti Yesung, Leeteuk akan mengatakan apapun yang ingin ia sampaikan.

“Jadi, apa ia masih mengurung diri?” tanya Marcus. Sebelum Leeteuk menjawab, Casey lebih dulu menyela,”Sejak kapan kita suka bergosip seperti wanita? Dia laki-laki dewasa berusia tiga puluh empat tahun, bukan anak TK yang perlu kalian khawatirkan.”

Marcus mengabaikannya. Ia lalu menarik Leeteuk untuk keluar dari ruangan Casey. Sejak mendengar cerita Yesung, ia memang tertarik dan ingin mengetahui lebih bagaimana kelanjutannya. Tak ada yang tahu bahwa ia ingin sekali menuangkan kisah itu dalam sebuah tulisan. Oh, bahkan tidak ada yang tahu ia suka menulis dan sudah menelurkan dua buku fiksi bergenre drama romantis. Selama ini ia menggunakan nama samara dan melarang pihak penerbit untuk membocorkan identitasnya. Ia lebih suka seperti ini. Dikenal sebagai mantan mahasiswa ekonomi yang sekarang mengurusi keuangan café terkenal milik Casey. Sebagai informasi tambahan, dua bukunya selalu menjadi best seller di London.

“Jadi, bisa kau lanjutkan yang tadi?”

Mereka sudah duduk di kursi yang kosong. Namun, Leeteuk tak menjawabnya. Ia diam. Matanya terarah pada pintu, lalu perlahan-lahan bergerak hingga berhenti pada podium. Marcus yang mengikuti arah pandangnya terkejut menemukan Yesung sudah duduk disana.

“Dia?”

Yesung tersenyum pada semua orang. Rasanya lama sekali ia tidak kemari. Berhari-hari ia tidak keluar rumah selain untuk pergi ke bank. Ia bangun seperti mayat hidup, lalu mandi, tidak sarapan atau minum kopi. Pergi kerja kemudian pulang sore hari. Setelahnya…tak ada yang melihatnya keluar dari rumah hingga pagi lagi. Polisi sampai belum bisa memintainya keterangan karena tak bisa bertemu. Ia juga belum pernah mengunjungi makam anaknya selain dihari pemakaman waktu itu. Ia belum siap. Ia belum siap.

Namun, ada sesuatu yang terjadi pagi tadi yang mendorongnya ikut tersenyum. Meski merupakan hal kecil yang mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain, baginya itu adalah suntikan semangat untuknya.

Pagi tadi, saat ia mengunci pintu dan ingin berangkat kerja, ia melihat Jeany berdiri di teras rumahnya, melambai-lambai pada Allan yang akan ke rumah sakit. Jika tebakannya benar, maka itu adalah kali pertama Jeany melihat sinar matahari diluar. Ia tahu dari Allan bahwa kondisi Jeany jauh lebih buruk dari yang mereka pikirkan.  Ia pun bisa melihatnya dengan jelas.

Saat Jeany mengangkat tangannya, Yesung melihat bahwa lengan itu tampak sangat kurus. Tulang-tulangnya nampak jelas, seakan kulit putihnya hanya seperti kain  yang menyelimutinya. Tubuhnya juga terlihat tipis, tak bertenaga seperti tak pernah diberi makan. Rupanya…mereka sama.

Lalu hal yang tak disangkanya terjadi. Saat ia sudah siap untuk melangkah, suara Jeany terdengar menyapanya.

“Aku sudah siap menghadapi kenyataan.”

Ia menoleh padanya. Jeany berdiri menatapnya dengan lembut. Untuk beberapa detik ia hampir tak percaya jika itu adalah seorang Jeany Hanks yang ia cintai. Wajahnya tirus, ada bulatan hitam disekitar matanya yang sayu. Jika ia tidak mengenalnya, ia pasti akan berpikir jika itu adalah orang lain.

“Bukankah kita hanya hidup dan mati satu kali? Aku tak akan menyia-nyiakannya. Aku tak mau mengecewakan Adam.”

Yesung tak tahu harus merespon apa padanya. Tapi kemudian perlahan-lahan ia menemukan seulas senyum yang begitu tulus dari Jeany. Senyum pertama yang ia dapat dari Jeany setelah sepuluh tahun. Dan itu adalah alasan baginya untuk ikut tersenyum.

“Hari ini, ada yang mengatakan padaku bahwa kita hidup dan mati hanya satu kali. Apakah ada yang percaya bahwa akan ada kehidupan kedua bagi kita?”

Tak ada yang menyahut. Yesung memandang semua pengunjung yang tanpa disadarinya cukup ia rindukan. Ada beberapa wajah yang sudah ia hapal sebagai pelanggan setia.

“Kurasa ia benar. Kita hanya diberi kesempatan hidup satu kali dan kita tidak tahu kapan Tuhan mengambil kita. Mungkin setelah keluar dari sini, ada mobil menabrakku. Mungkin juga ada preman yang memukulku hingga mati. Siapa yang tahu?”

Yesung tersenyum sendiri membayangkan jika perkataannya jadi kenyataan. Tapi ia tidak sedang bercanda.

“Jika itu terjadi, aku tidak ingin mati dengan penyesalan.”

Matanya menewarang jauh. Tanpa bisa dikendalikan bayangan akan senyuman Adam melintas – lintas dalam benaknya. Adam melempar bola padanya, Adam bermain dengannya. Semua yang Adam lakukan kemarin sudah terekam dalam ingatannya.

“Apakah ia akan bunuh diri? Aw..”

Celetukan Nathan langsung dihadiahi jitakan oleh Jordan. “Akan kureset otakmu sepulang dari sini.”

Mereka semua lalu memperhatikan Yesung yang kini berpindah tempat duduk, yakni dibelakang piano yang biasa jadi pekerjaan Vincent. Yesung mendekatkan micnya, sekali lagi tersenyum pada semua orang.

“Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk anakku yang berada di surga. Meski ia tidak mengetahuinya, aku yakin sesuatu dalam diri kami sudah terikat. Adam…ini untukmu.”

Ia mulai menekan tuts piano. Nadanya terdengar lembut dan mendamaikan. Dan tanpa menunggu lama suaranya memenuhi seisi café. Sesekali ia merasa tenggorokannya tercekat lalu mengusap air matanya diam-diam. Kemudian ia tersenyum seakan tak ada yang terjadi. Tapi mata penonton masih awas. Mereka melihat dan merasakan apa yang hendak disampaikan oleh Yesung. Lukanya, sakitnya, perihnya, semuanya tersampaikan.

Suaranya terasa mengiris nadi. Air matanya memaksa beberapa orang ikut menangisi hal yang sebenarnya tak mereka ketahui. Malam ini…Yesung menunaikan tugasnya dengan sangat baik.

***

“Aku bangga padamu,” ujar Leeteuk sambil menepuk bahu Yesung sesaat setelah Yesung selesai bernyanyi. Hasilnya luar biasa. Beberapa orang berdiri sambil bertepuk tangan untuknya.

“Jangan mulai lagi, hyung.”

Leeteuk mengerem kedua tangannya yang hampir menarik Yesung dalam pelukannya. Sebenarnya ia juga bingung sejak kapan ia mulai gemar memeluk adiknya. Padahal sebelumnya ia paling geli jika harus berdekatan dengan seorang pria, bahkan adiknya sekalipun. Jika ia berada di Korea, pasti tidak akan jadi masalah. Tapi jika disini, dalam sekejab akan ada beberapa pasang mata yang memandangnya.

Mereka mengobrol santai di depan meja milik Jordan sebelum akhirnya Yesung berpamitan pulang. Leeteuk menawarkan tumpangan padanya tapi Yesung menolak. Ia rindu sekali berjalan kaki dari café ke rumahnya. Apalagi musim gugur akan segera berakhir. Ia ingin menikmati angin dan dedaunan yang ada disekelilingnya malam ini. Karena ia ragu kalau ia bisa merasakannya lagi tahun depan.

Ia juga sengaja melintasi daerah Rocky Ln, lalu melewati bekas rumah Jeany. Seperti menonton sebuah film, ia bisa melihat dirinya yang duduk diteras rumah Jeany sambil memakan pizza. Lalu Jeany keluar, merampas pizza dari tangannya. Mereka beradu mulut hingga akhirnya ia berlari keluar melompati pagar. Ia juga bisa melihat dirinya yang mengetuk jendela kamar Jeany. Ia yang mencuri ciuman dipipi Jeany. Dan ia yang berdiri di depan rumah Jeany dengan setelan jas rapi. Ditangannya terdapat seikat bunga hasil berhutang pada teman.

Saat itu ia tak jadi masuk ke dalam. Sesuatu yang ia dengar dari dalam cukup untuk menarik semangatnya lalu pergi dari sana. Namun, Jeany keluar lantas memeluknya. Mereka kembali terlibat adu mulut yang semakin diperkeruh oleh kemunculan Mr.Hanks.  Jika ia berjalan sedikit menjauh, maka ia akan berdiri pada titik dimana dulu ia telah menyelamatkan nyawa mereka.

Semua sudah berlalu sangat lama, tapi ia masih bisa mengingatnya, mengurutkan kejadiannya, juga membayangkannya dengan begitu jelas, termasuk kata-kata yang ia dengar dibalik pintu kala itu.

“Jangan bicarakan masalah cinta didepanku. Semua orang pernah jatuh cinta dan itu hanya akan berlalu seperti musim panas yang akan segera berakhir.”

“Dad, sebenarnya apa masalahnya? Aku pikir hubungan kalian membaik akhir-akhir ini. Dan dia akan kemari untuk…”

“Untuk melamarmu? Kau sudah mengatakannya dan aku hampir terkena serangan jantung. Dengar! Aku menerimanya bukan berarti aku merestui rencana pernikahan kalian.”

“Mom, kau setuju dengan kami kan? Kau menyukainya kan?”

“Sayang, aku memang menyukainya. Tapi untuk sebuah pernikahan…………”

“Lihat dirinya! Dari bagian mana kau yakin dia bisa menjadi suamimu?”

“Dad, berhenti mengatakan apapun tentangnya. Aku tak peduli. Kami akan tetap menikah!”

“Oh, dan dia berhasil membuatmu kehilangan jati diri. Jeany Hanks bukan orang bodoh seperti ini! Kau menolak bekerja di perusahaanku demi karir jurnalismu. Tapi sekarang kau melepas semuanya hanya demi seorang tak berguna sepertinya?”

“Dady, STOP!!”

Ia melanjutkan perjalanan pulangnya dengan sedikit lebih cepat. Jika ia ingin menarik benang ini ke belakang, sebenarnya justru Jeanylah yang sejak awal serius pada hubungan mereka. Karena Jeany ia jadi ikut berpikir untuk melanjutkannya ke tahap yang lebih serius. Tapi pada akhirnya, Jeany pula yang menyelesaikannya.

Setengah jam kemudian ia sampai di rumahnya. Dari kejauhan ia melihat seseorang turun dari mobil. Dari postur tubuhnya, jelas itu bukan Allan.

“Jeany, kau baik-baik saja?”

Langkahnya terhenti sejenak. Itu adalah Mr.Hanks. Orang yang sebenarnya sangat ia ‘rindukan’.

Mr.Hanks dan Jeany berpelukan erat. Saat itulah Jeany menyadari kehadirannya hingga Mr.Hanks ikut menatapnya.

“Kau?”

Mata sayu pria itu seketika membulat begitu menatapnya. Ia lanjutkan langkahnya, tapi kali ini mendekati mereka berdua. Ia takjub melihat Mr.Hanks. Setelah sepuluh tahun, tak banyak yang berubah darinya selain rambutnya yang memutih. Tubuhnya tetap kokoh meski ada tongkat ditangannya. Rautnya masih dingin dan angkuh persis saat dulu mereka pertama bertemu. Melihatnya, ia yakin Mr.Hanks belum pikun. Lagipula, siapa yang bisa melupakannya begitu mudah? Ia adalah anak muda nekat yang berani dan masih mencintai putri satu-satunya.

“Apa kabar, Mr.Hanks yang terhormat?”

Ia mengulurkan tangannya. Namun, Mr.Hanks hanya menatapnya, lalu menatap Jeany dengan penuh pertanyaan.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Kurasa kau tidak tahu kalau aku adalah tetangga Allan dan Jeany. Dan menurut Allan aku adalah tetangga yang menyenangkan,” jawabnya setelah menarik kembali tangannya. Ia beradu pandang dengan Jeany dan ia cukup lega karena Jeany menunjukkan ekspresi yang berbeda. Tak seperti dulu saat ia berbincang dengan Allan, Jeany nampak jauh lebih siap dan tidak ketakutan.

“Kau merencanakan sesuatu?”

Yesung mengibaskan tangannya. “Lucu sekali Mr.Hanks. Tapi aku sedang tidak ingin melucu. Aku ingin pulang dan tidur. Kau tahu bukan hanya kau yang belakangan ini punya beban pikiran yang berat.”

Tanpa memperpanjangnya, Yesung memutar tubuhnya. Namun, baru satu langkah ia sudah berhenti. Ia menoleh sedikit ke samping untuk melihat bayangan tubuh besar itu.

“Jika aku bertemu dengan orang yang sangat kubenci setelah bertahun-tahun, aku mungkin juga akan berpikiran buruk tentangnya. Wajar jika kau berpikir aku sedang merencanakan sesuatu. Tapi dalam beberapa hal, aku tidak sama denganmu. Tidak akan pernah.”

Ia lalu berjalan ke rumahnya, membuka pintu kemudian menguncinya. Sementara di luar Mr.Hanks sibuk bertanya pada anaknya.

“Ceritakan padaku, ada apa ini? Kenapa dia ada disini?”

Jeany menghela nafas dan dengan tenang menuntun ayahnya untuk masuk ke dalam. Tak ada siapa-siapa di dalam. Allan belum pulang dari rumah sakit. Ia menelpon masih ada satu operasi yang harus dilakukannya malam ini.

“Jeany, aku bertanya padamu.”

Sambil membuat teh, Jeany menjawab, “Dia memang tinggal disini sejak tiga bulan lalu. Dan jika tidak ada dia, mungkin Adam pergi lebih cepat.”

Mr.Hanks gusar. Ia berdiri, berjalan tertatih ke dapur mendekati Jeany. “Ada apa denganmu? Kenapa kau begini tenang?”

“Karena dia memang tidak melakukan apapun yang aku takutkan sebelumnya.”

“Tapi kau harus berhati-hati dengannya! Bagaimana jika Allan mengetahuinya?”

“Apa yang membuatku harus berhati-hati?” teriak Jeany setelah tak mampu menahan kesabarannya. Mr.Hanks terpaku di tempatnya, tepat menyandar pada pinggiran meja makan.

“Kau selalu berkata hati-hati. Kau selalu mengatakan hal buruk tentangnya bahkan setelah kami menikah saat itu. Dan kau juga yang memaksaku pulang. Sebenarnya apa yang kau takutkan darinya? Aku bukan lagi anak gadismu yang harus kau tuntun setiap saat. Aku adalah istri dari dr.Allan dan aku tidak menuruti perkataan siapapun lagi yang bertentangan dengan keinginanku.”

“Jeany….”

Jeany mengatur nafasnya seakan ia baru saja berlari sejauh puluhan kilometer. Apa yang ia tahan sudah ia tumpahkan.

“Kau menyesal?”

Jeany menangis. “Apa gunanya aku menyesal? Semua sudah terjadi. Aku bersama Allan dan Adam sudah pergi. Sekarang aku hanya ingin memperbaiki semuanya dengan melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan itu bukan dengan membencinya!”

Mr.Hanks terduduk di kursi. Tongkatnya ia remas dengan kuat.

“Untuk kedua kalinya dia berhasil mempengaruhimu. Dia berhasil lagi kali ini.”

“DAD!! Berhenti mengatakan itu!”

Teriakan Jeany yang kedua mampu membungkam mulut ayahnya. Kali ini, Mr.Hanks tak bisa menyela atau membela pendapatnya.

“Jika ada yang pantas dibenci diantara kami berdua, maka akulah orangnya. Aku yang meninggalkannya, aku berbohong dan aku tidak memberitahunya lebih cepat soal Adam. Kau masih mau berkata aku harus berhati-hati padanya? Justru dia yang harus hati-hati karena bisa saja aku berbohong lagi.”

Tubuh Jeany ikut duduk dihadapan ayahnya. Kepalanya mulai pusing hingga wajah ayahnya tak lagi jelas.

“Aku sudah kehilangan anakku. Setidaknya berikan aku kesempatan memperbaiki kesalahanku. Aku hanya ingin bersikap baik padanya.”

Suasana menyepi untuk waktu yang lama. Jeany berusaha meredakan tangisnya meski nampak sama sekali tak berhasil. Ia tak mau jika Allan pulang dan kembali mendapati dirinya dengan mata bengkak seperti kemarin-kemarin. Ia sudah berjanji untuk bangkit.

“Kau benar,” ujar Mr.Hanks tiba-tiba. Ia berdiri dengan berpegangan erat pada tongkat serta pinggiran meja.

“Kau benar, Jean. Aku sudah terlalu tua untuk mengurusi anakku dan kau terlalu dewasa untuk mendengarkanku. Tapi sebenarnya, aku hanya tidak mau menyesal karena tak sempat melakukan yang terbaik untuk anakku.”

Tangis Jeany semakin kencang setelah perkataan itu sampai ke telinganya. Bukan hanya telinga, tapi juga berhasil menghujam jantungnya. Ia harap Allan takkan pulang malam ini. Allan tidak boleh melihatnya hancur lagi.

***

“Kau yakin?”

“Kali ini aku sudah memikirkannya. Benar-benar memikirkannya dan tidak melintas dikepalaku secara tiba-tiba.”

“Tapi justru tindakan spontanmu kadang lebih benar dibanding apa yang kau rencanakan.”

Yesung teringat percakapannya dengan Casey sore tadi sepulang dari bank. Ia ke rumah Casey, memberikan kado ulang tahun untuk Alex sekaligus menceritakan niatnya yang sudah ia pikirkan sejak kemarin. Ia belum memberitahukan ini pada kakaknya. Ia yakin dalam hitungan menit kakaknya akan menelpon lalu marah-marah padanya. Informasi apapun akan sampai dengan cepat ke telinganya karena ia punya indera pendengar dimana-mana.

Benar saja, handphonenya berdering. Panggilan dari kakaknya.

“Hyung.”

“Apalagi kali ini? Kau sudah cukup berpetualang.”

Yesung duduk dipinggir jendela kamarnya, menatap rumah di sebelahnya yang nampak sepi.

“Ini adalah akhir dari petualanganku, hyung.”

“Kau bisa menghentikannya disini.”

“Tidak akan sama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.”

“Tapi…”

“Sudah malam, tidurlah. Aku harap kau akan segera menikah.”

“Apa? Apa yang kau katakan? Kenapa tiba-tiba mengatakannya?”

Ia matikan sambungan telepon lalu menutup jendela. Ia menatap sekeliling kamarnya yang sudah bersih tanpa barang apapun selain lemari dan tempat tidur. Tekadnya sudah bulat. Ia takkan mengubahnya lagi.

Tak lama, suara belnya berbunyi. Setelah menyingkirkan koper-kopernya ke pojok kamar, ia lekas turun lantas membukakan pintu. Dan ia tersenyum lebar melihat siapa tamunya dijam segini.

“Hay.”

Jeany berdiri dihadapannya dengan sepiring kue.

“Kau sudah makan malam? Aku punya pencuci mulut yang enak.”

Yesung tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jeany. Tapi ia senang bisa melihatnya tersenyum seperti ini. Apalagi dengan sepiring bonaffee cake ditangannya. Tiba-tiba saja ia merasa lapar.

“Sebenarnya Allan mengatakan akan pulang terlambat lagi sedangkan aku terlanjur membuat banoffee. Jika kau tak keberatan, aku ingin-“

“Aku sangat suka banoffee.”

Mereka tersenyum kemudian Jeany masuk ke dalam. Ini adalah pertama kali bagi Jeany memasuki rumah Yesung. Ia cukup terkejut karena tak menemukan kondisi ruang tengah yang berantakan. Yesung cukup rapi.

“Kau terkejut?”

Jeany meletakkan cakenya di atas meja makan lalu sibuk memperhatikan seisi rumah. Sebelum ditempati oleh Yesung, dulu Jeany sering kemari karena cukup akrab dengan istri pemiliknya. Semuanya jauh berbeda. Ia ragu kalau ini pilihan Yesung.

“Dekorasinya pilihan Alie, istri Casey.”

“Oh, dia sudah menikah?”

“Dan punya satu anak yang sangat lucu.”

Jeany mengangguk lagi. Ia tak sadar Yesung sudah mencicipi cakenya karena ia masih mengitari ruangan itu. Ia suka dan sepertinya ia akan betah disini.

“Kau kemari bukan untuk memberikan cake ini saja, kan?” tebak Yesung yang membuat Jeany berhenti berkeliling. Jeany berbalik, menarik kursi lalu duduk di depannya.

“Kau benar. Aku kemari karena rumah rasanya sepi sekali. Biasanya Adam sedang mengajakku menonton video penampilan terbaru dari band favoritnya di youtube.”

Meski perih, Yesung semakin lega karena tak ada satu tetespun air mata yang keluar dari mata Jeany dan dirinya saat mendengar nama Adam. Sepertinya waktu perlahan mampu menyembuhkan luka mereka.

“Kulihat Ny.Clark sering ke rumahmu.”

“Ya, dia sering berkunjung dan menghiburku. Tapi malam ini tidak ada siapa-siapa yang datang.”

“Lalu bagaimana dengan kasusnya? Apa polisi sudah menangkap mereka?”

Jeany perlu beberapa detik sebelum akhirnya punya kekuatan untuk menjawab. Ia dan Yesung sudah memberikan keterangan dan kesaksian pada polisi tadi pagi. Ia tidak tahu apakah polisi bergerak cepat untuk langsung menangkap anak-anak nakal itu atau masih membutuhkan bukti lagi. Tapi ia harap besok ia sudah bisa mendengar kabar baik dan bisa bertemu dengan mereka. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu.

“Aku tidak tahu. Pengacaraku belum menghubungi.”

Yesung memutar otak. Sepertinya ia punya ide bagus.

“Kalau begitu ceritakan padaku tentang Adam.”

Yesung memajukan sedikit tubuhnya dan dengan antusias Jeany mulai bercerita. Ada banyak hal yang baru diketahui oleh Yesung soal Adam. Anak itu suka bermain kembang api dan tangannya pernah terluka dimalam tahun baru. Adam punya guling kesayangan yang tak boleh dicuci selama bertahun-tahun. Pernah Jeany diam-diam mencucinya lalu meletakkannya kembali ke atas ranjang, tapi dari baunya, Adam tahu ia kecolongan. Adam juga suka dengan anjing. Allan pernah berjanji untuk membelikannya satu di ulang tahunnya beberapa bulan lagi. Adam bermimpi diusia enam belas tahun ia sudah punya band sendiri dengan ia sebagai vokalis merangkap gitaris. Bahkan ia sudah membayangkan ia akan memakai boots dengan besi-besi tajam dipinggirnya, rantai dicelana, rambut yang sedikit panjang dan berantakan, juga baju tanpa lengan berwarna hitam bergambar wajahnya sendiri yang sedang menjulurkan lidahnya. Banyak hal yang diceritakan oleh Jeany hingga Yesung tak peduli jika hari sudah semakin larut.

Sejak dulu, Yesung tak pernah jenuh untuk mendengar Jeany bercerita. Apalagi kali ini yang ia dengar adalah hal-hal menyenangkan tentang Adam. Ia seperti mendengar ibunya menceritakan tentang dirinya waktu kecil. Bedanya, ia tidak begitu suka musik rock. Bukan membencinya, hanya tidak begitu menggemarinya. Mr.Hanks sudah menularkan anaknya hal-hal aneh.

“Aku melewatkan banyak hal,” kata Yesung pelan setelah mereka meredakan tawa mengingat kelakuan Adam.

“Aku minta maaf.”

Yesung menghembuskan nafasnya, lalu tanpa aba-aba menindih telapak tangan Jeany yang ada di atas meja. “Aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu dan memaafkan diriku sendiri. Tapi semua sudah terjadi. Apa yang bisa kita lakukan?”

Jeany tak membalas pegangannya. Namun, ia berusaha tersenyum lagi. “Kau berhak untuk marah dan aku tidak meminta kau akan memaafkanku. Setidaknya, sekarang kita bisa saling berhadapan tanpa rasa takut lagi. Aku cukup lega.”

“Bisa ku artikan jika Allan sudah mengetahuinya?”

Seketika itu juga Jeany menarik tangannya lalu meletakkannya di atas pahanya. Ia teringat kembali saat kemarin Allan pulang dan mendapati dirinya menangis keras. Ia pun mengangguk. “Ya, aku sudah mengatakannya semalam.”

“Kau mengatakannya?”

“Aku menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, termasuk bagaimana aku meninggalkanmu. Hebatnya dia bisa menerimanya dengan lapang. Dia sama sekali tidak marah. Dan kau percaya? Sebenarnya dia juga yang menyuruhku kemari dan memberikan ini padamu.”

Yesung memperhatikan wajah Jeany yang tidak menampakkan ada kebohongan baru disana. Tapi entah kenapa, ia merasa ragu dengan apa yang baru saja ia dengar. Allan sudah tahu dan tidak marah? Maksudnya, ia tahu Allan adalah pria baik. Tapi menyembunyikan masalah ini untuk waktu yang cukup lama, rasanya Allan punya alasan untuk sedikit kecewa. Kecuali, apa yang Jeany sampaikan bukan lagi kejutan untuknya.

“Aku sudah menerima hukumanku, jadi dia tidak merasa perlu untuk menambahnya.”

“Allan benar-benar luar biasa,” pujinya dengan tulus. Sulit menemukan pria sepertinya dijaman sekarang. Tampan, penyayang, sabar. Tidak ada alasan bagi Jeany untuk tidak bahagia.

“Sebaiknya kita ubah topik ini. Aku lelah menangis.”

Yesung menyodorkan segelas air putih padanya. Jeany meminumnya lalu mereka menghabiskan bonaffee bersama. Setelah itu Jeany kembali melihat-lihat ruang tengah Yesung hingga matanya menemukan sesuatu yang menarik didekat tangga.

“Hm…itu…sebuah lukisan?” tunjuk Jeany pada sebuah benda besar persegi panjang yang disandarkan terbalik ke dinding. Yesung ikut memperhatikan benda itu lalu menatap Jeany. Ia gerakkan kepalanya ke samping. “Kau bisa melihatnya sendiri.”

Tanpa disuruh lagi, Jeany berdiri lantas mendekati benda tersebut. Ia pegang ujungnya lalu menariknya sedikit. Dan ia melihat wajah orang yang ia kenal dibalik benda itu.

“Kau masih menyimpannya.”

“Aku akan terus menyimpannya,” sahut Yesung yang sudah berdiri di belakangnya.

“Sebaiknya kau tidak melakukan itu jika hanya-“

“Menyakitiku?”

Jeany menunduk. Yesung berjalan mendekatinya, lalu membalik benda itu hingga apa yang dilihat Jeany bisa mereka lihat lebih jelas.

Itu adalah foto pernikahan mereka tiga belas tahun lalu.

“Kau sangat cantik saat itu. Kau ingat kalau seminggu sebelumnya kita berdebat karena kau mengotot ingin merayakannya dengan meriah?”

Jeany menengadah, meniupkan udara dari mulutnya agar ia benar-benar kuat kali ini. Ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh menangis.

“Dan kau ingin pestanya sederhana. Akhirnya, kita hanya mengundang keluarga dan teman dekat,” sambung Jeany setelah berusaha keras menguatkan hatinya.

“Hari itu adalah hari yang sangat penting bagiku. Aku menikahi seseorang yang kucintai dan juga mencintaiku. Tidak ada hari yang lebih indah dari itu.”

“Kenapa kau mengatakannya?”

Yesung diam. Ditatapnya  wajah Jeany dalam foto itu yang sedang tersenyum lebar. Foto itu pernah rusak. Namun, ia memperbaikinya dan berjanji akan menjaganya.

“Kau tahu jawabannya. Kau tahu bahwa aku akan tetap menjaga semuanya tanpa ada yang berubah.”

Tak ada yang berkata-kata setelahnya. Detak jarum jam tiba-tiba terdengar begitu jelas dan diam-diam Yesung berdiri lebih dekat dengannya. Yesung tak mengerti dengan jalan pikirannya. Ia merasa Jeany sedang menatapnya seakan menunggu ia melakukan hal yang sama. Mereka kemudian berhadapan. Yesung tak tahu siapa yang memulai, tapi detik berikutnya mereka sudah berciuman dan ia ragu ia bisa menghentikannya.

***TBC***

2 Comments (+add yours?)

  1. spring
    Jul 18, 2015 @ 13:29:48

    sbnrnya q sdh baca fic ini di blog author. fic ter angst, di arsip super junior manapun, yg prnh kubaca. jeany jahat banget. bhkan dia lbh jahat dri tokoh antagonis. dia jahat dg caranya sndiri.
    #nangisbareng yesung

    Reply

  2. rizzzkiii
    Jul 18, 2015 @ 14:29:23

    Oh, really? Kkk, hampir smua ffku emang gt. Para tokoh dibuat menderita sepanjang cerita.
    Makasi udh mampir k blog ku.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: